Home Blog Page 21

Menggugat Keunikan Manusia Terhadap Spesies Lain

0

Semacam ada keengganan, jika bukan malah penghinaan, kala manusia disamakan dengan spesies lainnya. Kecerdasan adalah satu-satunya hal yang selalu dianggap unik dan sekaligus menjadi pembeda di antara manusia dan spesies lainnya. Pada manusia, kecerdasan dipahami sebagai bentuk kesadaran dalam tindak dan perilaku, sedang spesies lain seperti hewan dan tumbuhan dianggap tidak memiliki kesadaran[1] dalam tindak dan perilaku mereka, semua yang dilakukan hanya dianggap sebagai instingtif semata, yakni pemahaman bahwa hewan dan tumbuhan hanya bisa bereaksi tanpa kesadaran. Penalarannya bahwa kesadaran hanya dimiliki oleh spesies yang miliki otak yang kompleks, dan menolak tumbuhan sebagai spesies yang memiliki kesadaran, sebagaimana yang dipahami oleh ilmu neurosains.

Ungkapan semacam itu mungkin sangat wajar untuk ditemukan dan didengar. Akan tetapi, hal itu memicu timbulnya berbagai pemahaman yang keliru atas manusia dan spesies lain, bahkan dengan tumbuhan yang sering dinafikkan keberadaannya. Pertanyaan yang sangat wajar untuk diajukan adalah, mengapa demikian? Upaya untuk memisahkan dan memberi batas garis tegas antara manusia dan spesies lain hanya berdasar pada bentuk kecerdasan merupakan keputusan yang amat terburu-buru, sebab beberapa temuan studi lanjut mengungkapkan bahwa beberapa spesies menunjukkan berbagai tindakan dan perilaku yang tergolong kreatif. Upaya kreatif tersebut tentu sudah menggugurkan klaim bahwa kesadaran hanya dimiliki oleh spesies manusia, sebab upaya kreatif bergaris lurus dengan keberadaan kecerdasan, sebagaimana halnya perilaku adaptif[2].

Kecerdasan sebagai Bentuk Kemampuan

Barangkali, Aristotle dahulu, pada pemahaman tentang spesies yang masih sangat muda, sempat mengungkapkan bahwa manusia sebagai hewan yang mampu berpikir rasional. Akan tetapi, terlalu keliru untuk menerima pemahaman seperti itu sekarang ini, khususnya dalam ilmu hayati, klaim Aristotle tidak terbukti, dan bahkan terbantahkan. Kecerdasan bukanlah kemampuan yang unik yang hanya dimiliki oleh manusia, melainkan juga dapat ditemui pada mamalia, reptil, aves, fungi, dan spesies lainnya. Setiap spesies memiliki kecerdasannya masing-masing, atau yang mungkin dapat dipahami secara sederhana sebagai kemampuan untuk berpikir dan bertindak. Mengutip salah satu klaim Marchesi[3] tentang konsep universalitas antar spesies, bahwa setiap spesies dan makhluk hidup memiliki sensivitas dan kecakapan tersendiri untuk merasakan dan menghindari rasa sakit, mempelajari dan merepetisi tindakan yang dapat memberikan rasa menyenangkan, dan kecapakan-kecapakan lainnya.

Bahkan, argumentasi lain, klaim bahwa manusia seutuhnya spesial karena faktor kecerdasan (unik) yang dimiliki, sangat sulit untuk dipertahankan, sebab dalam studi lanjut mengungkapkan bahwa sekelas tumbuhan yang seringkali diabaikan oleh manusia, juga memiliki kecerdasannya sendiri[4]. Semisal tanaman rumput teki. Rumput teki sewaktu dipangkas akan mengeluarkan bau khas, yang memiliki fungsi: 1) sebagai bentuk pertahanan diri dengan memformulasikan sel-sel baru di bagian yang terluka agar tidak menyebabkan infeksi; 2) memberitahu tanaman di sekitar bahwa ada sesuatu yang dapat menjadi sebuah ancaman bagi kehidupan tanaman lain.

Atas temuan tentang rumput teki seperti di atas, apakah kemampuan tumbuhan untuk mempelajari dan bertindak bukan termasuk sebagai kategori kecerdasan yang manusia pahami? Pemahaman spesies lain selain manusia yang tidak dimungkinkan untuk memiliki kecerdasan boleh jadi sangat keliru, terlebih bila memakai sudut pandang zoosentris. Pada zoosentris[5] jelas dipahami bahwa hewan dan tumbuhan termasuk dalam kategori kelas sentient atau kategori makhluk yang memiliki kesadaran untuk merasakan, sedang manusia diberikan tempat yang berbeda yakni kategori sapient atau kategori makhluk yang memiliki kesadaran untuk berpikir. Definisi berpikir yang dimaksudkan adalah merujuk pada upaya kreatif di luar dari pemenuhan dasar.

Akan tetapi, pada posisi ini, peneliti memiliki ketidaksetujuan terhadap pemahaman dan pemisahan yang disebutkan dalam pandangan zoosentrisme. Ketidaksetujuan tersebut didasarkan pada tesis bahwa setiap spesies memiliki kesadarannya sendiri-sendiri, akan tetapi keliru bila memaknai bahwa hewan dan tumbuhan hanya dianggap mampu memiliki kecerdasan merasakan. Pada studi beberapa spesies hewan ditemukan beberapa pemahaman dan tingkah laku yang menunjukkan upaya kreatif di luar pemenuhan dasar. Semisal pada beberapa spesies semut dan tanaman Pisonia.

  • Beberapa spesies semut diketahui memiliki pemahaman dan kemampuan di bidang agrikultur sederhana dengan melakukan proses domestifikasi jamur dan beberapa serangga lain, yakni Aphids dan Mealybugs[6]. Selain bentuk agrikultur sederhana, semut diketahui memiliki pengetahuan untuk menggunakan pestisida alami yang ditujukan untuk membunuh hama yang menyerang pertanian jamur miliknya[7]. Pestisida tersebut merupakan cairan kimiawi yang dihasilkan secara alami dalam tubuh semut. Secara keseluruhan, spesies semut juga diketahui memiliki pengetahuan mengenai pembangunan toilet dan tempat pembuangan sampah yang terpisah dari tempat tinggal mereka, dan mengenai pembangunan ventilasi udara yang ditujukan untuk membuang emisi gas yang dihasilkan dari pertanian jamur yang dibuat khusus di bawah tanah[8].

 

  • Tanaman Pisonia memiliki buah berbentuk biji berukuran panjang. Biji tersebut memiliki lapisan getah tipis yang sangat lengket sebagaimana layaknya lem perekat[9]. Tentu saja, serangga-serangga awam yang memutuskan untuk rehat sejenak di dekat biji tersebut akan menghadapi nasib yang naas dan terjebak pada lapisan getah lengket yang ada. Di saat yang bersamaan, serangga-serangga yang telah terjebak menjadi umpan hidup bagi burung-burung di sekitar tanaman Pisonia[10]. Bagi burung-burung awam, tentu saja nasibnya tiada beda dengan sang serangga, lapisan getah lengket tersebut akan melingkupi beberapa bagian tubuh sang burung dan menyebabkan burung kesulitan untuk bergerak atau terbang. Dapat untuk dipastikan, bahwa burung tersebut akan terjebak di sekitar tanaman Pisonia berada. Dari studi yang dilakukan, dengan terjebaknya burung-burung di dekat tanaman Pisonia, membuat tanaman Pisonia mendapatkan keuntungan besar. Keuntungan pertama, melalui hasil sekresi burung yang terjebak, tanaman Pisonia akan mendapat sebagian nutrisi alami[11]. Keuntungan kedua, jika burung tersebut mati, maka tanaman Pisonia akan mendapatkan nutrisi yang melimpah dari bangkai sang burung[12]. Keuntungan ketiga, bagi burung yang terjebak namun sempat berhasil bergerak menjauhi tanaman Pisonia, kelak tanaman-tanaman Pisonia baru dimungkinkan untuk tumbuh di tempat yang berbeda dari indukannya, tergantung pada di mana burung yang terjebak tadi mati dan menjadi bangkai[13].

Tentu dari dua studi atas kasus hewan dan tumbuhan di atas, membuktikan bahwa beberapa spesies hewan dan tumbuhan memiliki kecerdasan yang mungkin tergolong sama seperti manusia, yakni pemahaman dan tingkah laku yang menunjukkan upaya kreatif di luar pemenuhan dasar. Pada kasus tanaman Pisonia, meski tumbuhan tersebut bukan tergolong sebagai karnivora, namun tanaman Pisonia mampu membuktikan bahwa di luar dari proses pemenuhan dasarnya yakni memperoleh makanan melalui fotosintesis, tumbuhan Pisonia dapat memahami dan melakukan tindakan yang dapat memberikan kontribusi besar dalam kehidupan spesiesnya dengan berperan aktif dalam alam. Pada posisi ini, peneliti meyakini yang dapat dipertahankan adalah tesis bahwa setiap spesies memiliki kecerdasannya sendiri, namun kecerdasan tersebut terbagi dalam kedalamnnya masing-masing. Pemisahan atas kemampuan untuk merasakan dan kemampuan untuk berpikir terbantahkan melalui dua studi kasus di atas.

Kecerdasan sebagai Bentuk Aspek Spiritualitas

Argumentasi lain yang umum untuk diungkapkan adalah bahwa manusia menjadi spesial karena tidak ditemukannya aspek spiritualitas pada spesies lain. Aspek spiritualitas yang dimaksud merujuk pada sebuah keyakinan akan suatu kekuatan eksternal yang memiliki peran terhadap kehidupan suatu spesies. Sebagaimana yang tertera dalam sajak-sajak kitab, bahwa manusia merupakan makhluk yang tercipta sesuai gambaran yang Mahaghaib. Bila berkaca pada aspek spritual manusia masa sekarang, dalam kehidupan spesies lain, tentu tidak mungkin ditemukan, oleh sebab sudah terlampau kompleksnya perkembangan aspek spiritual yang telah manusia lalui. Plato pernah mengungkapkan kritiknya dalam anekdot tentang Thales, bahwa Thales, sebagai manusia, teramat sibuk berusaha mempelajari bintang-bintang di angkasa sampai tidak melihat tanah yang dipijakinya dan hal-hal lain yang ada di sekitarnya, sehingga membuatnya terjatuh pada sumur.

Dari penalaran atas anekdot tersebut, jika manusia hanya berusaha melihat apa yang di atas dan mengabaikan apa yang ada dan dekat di sekitarnya, manusia mungkin tidak pernah mampu untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini manusia ajukan, yakni tentang keunikan manusia sebagai spesies[14]. Kemudian, dengan menggunakan anekdot tersebut, peneliti berupaya untuk mematahkan tesis keunikan manusia terhadap spesies lain melalui bentuk aspek spiritualitas, dengan apa yang mungkin terlewat dari perhatian manusia, sebagaimana anekdot tadi. Peneliti akan coba untuk mengajukan tesis lain dengan menggunakan satu studi kasus yang telah dilakukan, yakni mengenai pemahaman dan tingkah laku simpanse, khususnya di daerah Afrika Barat[15] dan sebagian Afrika Timur.

Umum diketahui bahwa simpanse yang tergolong sebagai kera besar[16] dan kera lain secara umum memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menggunakan batu sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, semisal seperti upaya untuk memecahkan biji-bijian yang nampak pada spesies Kera Kapusin Brazil dan Kera Ekor Panjang Thailand[17]. Akan tetapi pada kasus tertentu, kawanan simpanse di Afrika Barat memperlihatkan bentuk tindakan lain dalam menggunakan batu. Kawanan simpanse tersebut terlihat memukul-mukul dan melempar bebatuan pada suatu pohon tertentu yang memiliki rongga alami di tengahnya, sehingga menyebabkan menumpuknya bebatuan di rongga pohon tersebut[18]. Secara sederhana dapat ditanyakan, untuk apa simpanse tersebut berusaha melempar dan menumpuk batuan di pohon, bila tidak ditujukan selain dari upaya memenuhi kebutuhan dasar mereka? Apa yang ingin mereka capai dengan perilaku tersebut?

Meninjau dari pola perilaku manusia, batuan memiliki arti dan peran khusus dalam peradaban manusia, seperti membuat bangunan semisal tempat pemujaan dan pekuburan[19]. Upaya menumpuk batu, bagi peradaban manusia adalah hal yang sangat dasar bagi peletakkan fondasi kepercayaan, sebagaimana yang tercatat pada perilaku masyarakat asli Afrika Barat, yakni ritual mereka untuk mengumpulkan batuan pada pohon yang dianggap keramat[20]. Indikasi yang sangat mungkin adalah bahwa tumpukan batuan yang berada di pohon merupakan tempat pemujaan sederhana oleh para kawanan simpanse[21]. Indikasi tersebut diperkuat oleh adanya repetisi perilaku yang dilakukan oleh kawanan simpanse dengan terus menumpuk bebatuan pada beberapa pohon memiliki rongga di dalamnya. Upaya repetisi hanya dimungkinkan pada sesuatu hal yang memberikan umpan balik baik bagi suatu spesies. Jika asumsi tujuannya bukan terletak pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar yakni makanan, maka jelas upaya repetisi tersebut dapat membuka kemungkinan untuk dipahami sebagai bentuk ritus sederhana yang dilakukan oleh kawanan simpanse tersebut. Selain ritus sederhana menumpuk batuan pada pohon berongga tersebut atau yang mungkin dapat dipahami sebagai upaya membangun kuil sederhana, beberapa observasi yang dilakukan di Afrika Barat dan di sebagian Afrika Timur juga menemukan indikasi ritus sederhana lain, yakni tarian khusus terhadap hujan dan api.

Kawanan simpanse yang memiliki ritus sederhana berupa tarian sewaktu hujan turun. Observasi tersebut menemukan bahwa simpanse memiliki pola tarian yang ditujukan kepada hujan meliputi: 1) ketika petir menyambar di langit, simpanse pejantan akan berdiri dan begerak secara berirama dari kaki ke kaki, yang diikuti dengan duduk terdiam beberapa waktu; 2) dua simpanse pejantan lain akan berusaha menyusul simpanse tersebut dengan berlari[22] dan membawa ranting besar, menyeret ranting tersebut ke tanah dan kemudian di lempar ke arah depan; 3) empat simpanse penjantan lain akan menyusul, dan berdiam diri di antara cabang rendah pohon di dekat simpanse pertama tersebut; 4) tiga simpanse pejantan lain dan beberapa simpanse betina dalam suatu kawanan akan berlari menyusul dan melalukan tindakan mengulang dari simpanse pertama, sedang simpanse betina hanya akan duduk dan melihat dari dekat, seiring dengan hujan yang turun kian lebat dan sambaran petir silih berganti dan bersautan di langit. Upaya berlari dengan kekuatan penuh tersebut tentu aneh, sebab tidak ditemukannya musuh atau subjek lain yang ingin ditakhlukan dan didominasi, sebagaimana umumnya perilaku primata lain[23]. Pemahaman yang mungkin diterima adalah bahwa sambaran petir dan hujan bukan dianggap sebagai subjek yang ingin ditakhlukan dan didominasi, melainkan sebagai bentuk ritus atas kekaguman[24] atas fenomena alam yang tidak terkuasai[25][26].

Observasi lain yang dilakukan di Taman Nasional Gombe[27] di Tanzania, menemukan hal serupa, yakni sebuah ritus yang ditujukan pada elemen air. Keberadaan air terjun di Lembah Kakombe, menjadi tempat terbaik bagi kawanan primata yang tinggal di Taman Nasional Gombe. Berdasar observasi yang dilakukan, kawanan simpanse terlihat sering bermain di dekat air terjun. Beberapa simpanse pejantan sering terlihat mendekati air terjur dan melalukan teriakan kuat, yang disusul dengan larian berirama di air, dan mengambil dan melembar batuan serta ranting yang ada di sekitarnya ke arah air terjun[28]. Perilaku tersebut berlangsung selama sepuluh sampai lima belas menit, setelah itu simpanse tersebut akan menjauh dan duduk terdiam di tepian sungai dengan tatapan penuh ke arah permukaan aliran sungai, dan sesekali terlihat menyentuh dan membelai permukaan air sungai[29]. Manusia hanya dapat menerka-nerka, apa yang simpanse tersebut pikirkan? Apakah simpanse tersebut memikirkan bagaimana semua air yang ada dihadapannya tersebut selalu berasal dari puncak atas? Mengapa tidak pernah habis? Apakah air itu hidup?

Indikasi ritus sederhana terhadap elemen air tersebut, memungkikan untuk memahami bahwa simpanse mempunyai kepekaan untuk merasakan kehidupan[30] yang mengalir pada air sungai. Pola perilaku terdiam dan memandang dengan tatapan penuh kepada aliran sungai dan sesekali menyentuh dan membelai aliran sungai tersebut, seakan memberikan pemahaman bahwa simpanse sedang merasakan kekagumannya dan berusaha untuk memahami perasaan dan keadaan yang dirasakan dan alami[31]. Pola perilaku tersebut tentu sangat aneh bila dibandingkan dengan primata lain, karena hanya kawanan simpanse saja yang terlihat berperilaku seperti itu di kawasan Taman Nasional Gombe[32].

Observasi yang dilakukan pada kawanan simpanse di wilayah Kedougou di Senegal[33], menunjukan adanya indikasi ritus sederhana dengan melakukan tarian khusus terhadap api. Pada observasi yang dilakukan di Senegal, ditemukan bahwa Alpha Male dalam satu kawanan akan melakukan tarian khusus dihadapan kobaran api yang menyala di antara sabana[34]. Pola tingkah laku tersebut tentu sangat aneh bila dibandingkan dengan spesies hewan pada umumnya. Spesies hewan pada umumnya justru lebih memilih untuk panik dan menghindari kobaran api[35], namun tidak dengan temuan kawanan simpanse di Senegal. Alpha Male kawanan simpanse tersebut justru mampu meredam kepanikan yang timbul, dan mulai melakukan tarian khusus terhadap kobaran api untuk beberapa waktu sebelum memutuskan untuk menuntun kawanannya menjauh dari kobaran api[36].

Tentu tidak ada yang dapat sepenuhnya menjamin bahwa kawanan simpanse tersebut telah menemukan konsep yang Mahaghaib, namun dengan adanya repetisi perilaku dan tindakan yang tidak ditujukan pada pemenuhan atas kebutuhan dasar, tindakan tersebut setidaknya dapat menjadi indikasi adanya aspek spiritual. Indikasi tersebut dibuktikan pada pemahaman mengenai ritus-ritus sederhana yang pernah peradaban manusia lalui, bagaimana elemen batuan, api, air, dan kayu menjadi faktor penting di dalamnya. Upaya untuk mempelajari dan memahami lebih lanjut studi terhadap kawanan simpanse, memungkinkan manusia untuk dapat menemukan muasal lahirnya kepercayaan terhadap yang Mahaghaib atau aspek spiritualitas dalam diri spesies[37]. Atas tesis tersebut, jika temuan lanjutan atas studi kawanan simpanse ini lebih mendukung, maka dapat dipastikan tesis manusia sebagai spesies yang unik oleh keberadaan aspek spiritualitasnya dapat terbantahkan secara penuh[38]. Pada posisi ini, tentu tesis aspek spiritualitas yang hanya ada dalam manusia dapat terbantahkan.

Kecerdasan sebagai Bentuk Aspek Kultural

Argumentasi lain yang umum digunakan sebagai pembeda antara manusia dan spesies lainnya adalah dalam aspek kultural. Aspek kultural yang dimaksudkan merujuk pada pengertian kecakapan dalam membangun dan menjaga sebuah tradisi dan kebudayaan. Manusia dipahami sebagai satu-satunya spesies yang memiliki kecakapan atas aspek kultural, semisal tradisi-tradisi tertentu dalam meyambut kelahiran, kematian, perkawinan, dan tradisi lainnya. Berdasar pemahaman tersebut, peneliti berusaha untuk menguggat bahwa beberapa spesies lain pun memiliki aspek kulturalnya sendiri, yang tentu tesis ini dibangun berdasarkan beberapa temuan studi lanjut. Sama halnya pada aspek spiritualitas, spesies simpanse merupakan spesies yang paling banyak dilakukan studi, oleh karena anggapan kedekatannya dengan manusia. Akan tetapi, tesis anggapan tersebut tidak mengubah apapun, karena peneliti berkeyakinan bahwa spesies lain memiliki aspek kulturalnya masing-masing, hanya saja yang menjadi kendala adalah kuatnya temuan penelitian lanjutan di spesies selain simpanse.

Pada studi kawanan simpanse yang tersebar di wilayah Gombe dan Mahale di Tanzania, Hutan Taï di Pantai Gading, beberapa kebun binatang, menunjukan kesamaan pola dari tradisi menyambut kematian pada salah satu kawanan spesiesnya. Pada observasi yang dilakukan di Kebun Binatang Burgers, simpanse betina akan meratap dan menangis kuat ketika mengalami keguguran kandungan[39]. Pola serupa juga terjadi ketika salah satu simpanse betina bernama Oortje mati, yang disusul oleh tangisan para simpanse betina lainnya beberapa saat sampai kemudian berganti menjadi hening di seluruh kandang[40]. Observasi lain yang dilakukan di Taman Nasional Gombe di Tanzania menunjukan, ketika salah satu simpanse pejantan bernama Rix mati akibat terjatuh dari pohon, kawanan simpanse mengalami kehebohan besar yang diikuti dengan teriakan dan laku agresif pejantan lain yang ditujukan pada lingkungan sekitar seperti memukul pohon dan merusak tanaman[41]. Pola perilaku tersebut berlangsung beberapa waktu, kemudian seluruh kawanan simpanse datang mendekati mayat simpanse Rix, menatapinya dan terdiam selama beberapa jam, dan berjalan menjauhi mayat simpanse Rix beriringan.

Observasi lain yang dilakukan di Hutan Taï simpanse berumur dua tahun bernama Bambou mati akibat terjatuh dari sang indukan bernama Bijou[42]. Sang induk kemudian terhuyung mendekati sang anak dan menggendongnya di dada dan disusul dengan teriakan kuat selama beberapa saat. Kemudian, sang Alpha Male, bernama Kendo mendekat dan mengendus-endus mayat simpanse Bambou, yang kemudian pola tindakan tersebut diikuti oleh kawanan simpanse lain untuk beberapa saat. Kendo, sang Alpha Male, kemudian memutuskan untuk berjalan pergi dan diikuti oleh kawanan simpanse lain, namun tidak dengan Bijou yang masih terdiam dekat mayat anaknya. Sampai lima simpanse betina lain kembali dan mendekat simpanse Bijou untuk beberapa saat, sampai kemudian enam simpanse tersebut memutuskan untuk berjalan mengikuti kawanannya yang telah lebih dulu di depan.

Dari temuan studi tersebut, didapatkan bahwa simpanse memiliki ikatan emosi yang kuat di antara kawanan spesiesnya, yang dapat diwujudkan melalui pemahaman dan pola menyambut kematian sebagaimana berbagai kasus di atas. Proses tradisi menyambut kematian tersebut diungkapkan melalui tangisan dan teriakan kuat, meratapi dan terdiam sebagai bentuk penghormatan terakhir sebelum memutuskan untuk meninggalkan yang sudah mati[43]. Temuan studi ini, tentu mematahkan apa yang pernah diungkapkan oleh René Descartes, bahwa selain manusia hanyalah hewan kejam dan kasar[44] yang tidak memiliki kesadaran dan kecerdasan, serta dianggap layaknya mesin atau automata[45]. Atas penalaran akan bantahan tersebut, tentu dipahami bahwa spesies lain selain manusia, seperti simpanse, memiliki kehidupan dan ikatan emosional yang kuat, yang diwujudkan melalui berbagai pola tradisi, sebagaimana salah satunya adalah tradisi menyambut kematian. Tindakan agresif, seperti teriakan kuat dan memukul-mukul benda lain secara umum dipahami sebagai bentuk dominasi, namun pada temuan studi lanjut terhadap kawanan simpanse tersebut membuktikan indikasi lain, bahwa tindakan agresif yang tidak ditujukan kepada sesama spesiesnya mungkin saja bukan pemahaman mutlak sebagai bentuk dominasi[46]. Salah satunya sebagai bentuk meyakinkan bahwa fenomena yang terjadi dan dihadapi saat ini tidak terelakkan[47].

Pada studi kawanan simpanse di Pusat Penelitian Primata Daerah Yerkes di Atlanta[48] temuan observasi menunjukan bahwa seluruh kawanan simpanse mendekati salah satu simpanse betina bernama Mai, yang sedang mengandung dan diketahui akan melahirkan di hari itu[49]. Seluruh kawanan simpanse terdiam dan terlihat memperhatikan simpanse Mai dari dekat. Sampai seketika, simpanse Mai melakukan setengah berdiri, dan mulai meregangkan kedua kakinya, dengan salah satu tangannya yang menahan di antara kedua kaki yang meregang. Perilaku simpanse Mai tersebut kemudian disusul oleh salah satu kawanan simpanse betina yang lebih tua. Sampai beberapa menit kemudian, bayi simpanse mungil mulai nampak dan berlabuh di dekapan simpanse Mai, dan simpanse Mai mulai memakan sisa-sisa paskakelahiran. Seluruh kawanan simpanse yang berada di dekat simpanse Mai mulai berteriak kuat beriringan, dan beberapa di antara kawanan simpanse tersebut terlihat saling memeluk simpanse lain. Beberapa di antara kawanan simpanse tersebut, seperti simpanse Atlanta, bahkan terlihat menemani simpanse Mai dan bayi simpanse mungilnya untuk beberapa minggu paskakelahiran.

Atas temuan studi tersebut, pola perilaku yang dilakukan oleh kawanan simpanse di pusat penelitian primata di Atlanta, memungkinkan untuk dipahami sebagai bentuk perasaan bahagia atas kelahiran salah satu spesies simpanse dalam suatu kawanan, yang diwujudkan melalui tindakan berteriak kuat dan upaya untuk memeluk satu sama lain[50]. Sikap diam saat menyaksikan proses kelahiran tersebut, dimungkinkan untuk dipahami sebagai bentuk empati dan simpati yang dirasakan, serupa halnya dengan upaya salah satu simpanse betina yang menirukan tindakan simpanse Mai sewaktu melahirkan[51]. Upaya menirukan tersebut memungkinan untuk dipahami sebagai tindakan komunikasi fisik untuk menenangkan simpanse Mai[52]. Kedua temuan studi di atas, tradisi menyambut kematian dan kelahiran, merupakan perilaku yang memiliki pola khusus yang saling berurutan, sehingga memungkinkan untuk digolongkan sebagai bentuk tradisi dan kebudayaan. Pola khusus yang saling berurutan tersebut meliputi[53]: 1) teriakan kuat yang berfungsi untuk menyampaikan perasaan atau keadaan; 2) keadaan diam dan tidak bersuara yang berfungsi untuk menyampaikan penghormatan, dedikasi, dan rasa sayang yang kuat; dan 3) teriakan kuat lanjutan yang berfungsi untuk menyampaikan umpan balik atas suatu perasaan dan keadaan.

Simpulan Akhir

Atas temuan studi tersebut dan beberapa indikasi dan penjelasan berbagai aspek kecerdasan yang dimiliki oleh spesies lain, seharusnya dapat menyadarkan manusia, bahwa manusia sebagai predator puncak atau Apex, memiliki kontribusi besar terhadap alam sekitar. Selama ini manusia selalu meyakini bahwa manusia adalah spesies yang unik berkat kecerdasannya, dan label tersebut kemudian dipergunakan untuk mengeksploitasi alam. Setidaknya, melalui temuan studi tersebut dan beberapa indikasi dan penjelasan berbagai aspek kecerdasan yang dimiliki oleh spesies lain, manusia dapat mulai memahami, keunikan atas kecerdasan tersebut adalah fana, oleh sebab kecerdasan dan potensi atas kecerdasan tentu dimiliki oleh semua spesies. Melalui pemahaman dan penalaran tersebut, dihadapkan setidaknya manusia dapat mengembangkan empati, simpati, rasa hormat, dan upaya melindungi berbagai spesies yang berpartisipasi dalam perjalanan evolusi kehidupan.

Kemudian, temuan atas studi lanjut ini juga kembali memicu pertanyaan, jika manusia menyadari bahwa seluruh spesies lain memiliki potensi untuk menjadi seperti manusia, satu spesies yang dianggap memiliki kecerdasan paling tinggi di antara spesies lain dan dianggap sebagai Apex, apakah temuan ini dapat berimplikasi dengan bagaimana manusia seharusnya bersikap dan bertindak kepada spesies lain di alam, terlebih pada spesies yang memiliki hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan manusia? Melalui temuan studi ini, apakah masih mungkin untuk menerima berbagai tindakan uji coba atau suatu eksperimentasi terhadap spesies lain, atau bahkan mengurung spesies lain dalam tempat khusus bernama kebun binatang? Mengingat, bila spesies-spesies lain atau bahkan yang terdekat tersebut mengalami kepunahan, tentu akan memiliki implikasi langsung terhadap peradaban manusia, seperti terputusnya rantai pengetahuan yang mungkin dapat menjawab segala pertanyaan mendasar manusia: bagaimana manusia bisa hadir di alam; dari mana lahirnya kecerdasan manusia; dari mana lahirnya keyakinan beragama, dsb..

Daftar Rujukan

[1] Istilah “kesadaran” tentu berbeda dengan istilah “sadar”. Kesadaran memiliki tingkatan kualitas, dan kesadaran selalu berimplikasi pada tindakan yang memang sudah dipahami dan memiliki tujuan. Semisal pada kasus manusia, manusia sadar akan api, tetapi kesadaran manusia atas api dapat menuntun manusia untuk mempergunakan api.

[2] Istilah “perilaku adaptif” dapat dipahami sederhana dalam perandaian manusia. Manusia merupakan salah satu hewan yang memiliki perilaku sangat adaptif, dibuktikan dengan spesies manusia yang tidak membutuhkan secara mutlak tempat yang menguntungkan bagi mereka hidup. Manusia dapat melakukan perburuan ke manapun dan wilayah manapun, tidak terikat satu macam lingkungan tertentu, semisal pantai, sabana, stepa, hutan, lembah, pegungungan, dsb., sebagaimana spesies lain yang pada umumnya hanya terikat di satu macam lingkungan tertentu saja.

[3] Lih. Roberto Marchesini, 2015, “Against Anthropocentrism. Non-human Otherness and the Post-human Project”, Jurnal Nanoethics, Vol. 9., hal. 78.

[4] Lih. Compound Interest, 2015, “Aroma Chemistry: The Aroma of Fresh-Cut Grass”, Info Grafis.

[5] Lih. iGEM Valencia Team 2010, 2010, “The Ethics of Terraforming Mars: A Review” Artikel Ilmiah, hal. 2–3.

[6] Lih. SciShow, 2015, “How Ants Take Care of Their Farms”, Video Youtube.

[7] Lih. Ibid.

[8] Lih. Ibid.

[9] Lih. Josh Davis, 2017, “Two New Species Of Sinister Bird-Catching Trees Discovered In The Caribbean”, Artikel IFLSCIENCE.

[10] Lih. Ibid.

[11] Lih. Jason Bittel, 2017, “This Tree Lures Birds with a Free Lunch and then Kills Them”, Artikel The Washington Post.

[12] Lih. Ibid.

[13] Lih. Ibid.

[14] Lih. Ibid.

[15] Lih. Hjalmar S. Kühl, Ammie K. Kalan, dkk., 2016, “Chimpanzee Accumulative Stone Throwing”, Laporan Ilmiah Nature.

[16] Istilah “kera besar” merujuk pada kategori “Great Apes” yakni Orangutan, Bonobo, Gorila, dan Simpanse.

[17] Lih. Hjalmar S. Kühl, Ammie K. Kalan, dkk., 2016, “Chimpanzee Accumulative Stone Throwing”, Laporan Ilmiah Nature.

[18] Lih. Ibid.

[19] Lih. Ibid.

[20] Lih. Ibid.

[21] Lih. Ibid.

[22] Istilah “berlari” merujuk pada terjemahan yang dirasa paling mendekati dari “charging display”.

[23] Lih. Harrod, James B., 2014, “The Case for Chimpanzee Religion”, Jurnal for the Study of Religion, Nature and Culture, Vol. 8 No. 1, hal. 29.

[24] Istilah “kekaguman” merujuk pada terjemahan yang dirasa paling mendekati dari “reverence”.

[25] Istilah “tidak terkuasai” merujuk pada terjemahan yang dirasa paling mendekati dari “indomitable”.

[26] Lih. Harrod, James B., 2014, “The Case for Chimpanzee Religion”, Jurnal for the Study of Religion, Nature and Culture, Vol. 8 No. 1, hal. 29.

[27] Istilah “Taman Nasional Gombe” merujuk pada terjemahan yang dirasa paling mendekati dari “Gombe Stream National Park”.

[28] Lih. Harrod, James B., 2014, “The Case for Chimpanzee Religion”, Jurnal for the Study of Religion, Nature and Culture, Vol. 8 No. 1, hal. 29.

[29] Lih. Ibid, hal. 29.

[30] Istilah “kehidupan” merujuk pada terjemahan yang dirasa paling mendekati dari “aliveness”.

[31] Lih. Harrod, James B., 2014, “The Case for Chimpanzee Religion”, Jurnal for the Study of Religion, Nature and Culture, Vol. 8 No. 1, hal. 30.

[32] Lih. Ibid, hal. 30.

[33] Lih. Jill D. Pruetz; Thomas C. LaDuke, 2009, “Brief Communication: Reaction to Fire by Savanna Chimpanzees (Pan troglodytes verus) at Fongoli, Senegal: Conceptualization of “Fire Behavior” and the Case for a Chimpanzee Model”, American Journal of Physical Anthropology, Vol. 141, hal. 647.

[34] Lih. Ibid, hal. 647–648.

[35] Lih. Ibid, hal. 647.

[36] Lih. Ibid, hal. 648–649.

[37] Lih. Harrod, James B., 2014, “The Case for Chimpanzee Religion”, Jurnal for the Study of Religion, Nature and Culture, Vol. 8 No. 1, hal. 9–10.

[38] Istilah “terbantahkan secara penuh” merujuk pada pengertian tidak lagi berada pada tingkat indikasi dan kecurigaan.

[39] Lih. Harrod, James B., 2014, “The Case for Chimpanzee Religion”, Jurnal for the Study of Religion, Nature and Culture, Vol. 8 No. 1, hal. 16.

[40] Lih. Ibid, hal. 16.

[41] Lih. Ibid, hal. 17.

[42] Lih. Ibid, hal. 18.

[43] Sederhananya, temuan studi tersebut menjelaskan pola tradisi bahwa pengabaran berita kematian dalam spesies simpanse. Tradisi tersebut dilakukan oleh pengamat pertama atau sosok yang berada di dekat yang mengalami kematian melalui teriakan kuat. Berita tersebut ditangkap oleh Alpha Male dan kawanan lainnya, dan mengungkapkan kesedihannya melalui berbagai tindakan dan teriakan, yang kemudian disusul dengan perilaku meratap dan terdiam untuk beberapa saat. Lih. Ibid, hal. 21–22.

[44] Istilah “hewan kejam dan kasar” merujuk pada terjemahan yang dirasa paling mendekati dari “brute animals

[45] Lih. Harrod, James B., 2014, “The Case for Chimpanzee Religion”, Jurnal for the Study of Religion, Nature and Culture, Vol. 8 No. 1, hal. 19.

[46] Lih. Ibid, hal. 22–23.

[47] Lih. Ibid, hal. 23.

[48] Istilah “Pusat Penelitian Primata Daerah Yerkes di Atlanta” merujuk pada terjemahan yang dirasa paling mendekati dari “Yerkes Regional Primate Research Center, Atlanta”.

[49] Lih. Harrod, James B., 2014, “The Case for Chimpanzee Religion”, Jurnal for the Study of Religion, Nature and Culture, Vol. 8 No. 1, hal. 25.

[50] Lih. Ibid, hal. 25.

[51] Lih. Ibid, hal. 25.

[52] Lih. Ibid, hal. 25.

[53] Lih. Ibid, hal. 25–26.

Kita dalam Belantara Fiksi

0

Berapa banyak orang berkumpul di Monas dan sekitarnya pada Aksi Bela Islam 212? Sangat banyak. Ada yang menyebut lima ratus ribu orang. Ada yang menunjuk angka tujuh juta orang. Banyak orang saling ribut dan berebut angka.

Satu hal yang juga menyita perhatian banyak orang adalah kampanye partai politik, calon kepala daerah, atau calon presiden. Ribuan atau puluhan ribu orang berkumpul di satu tempat, seperti lapangan atau alun-alun kabupaten atau kota. Selain itu, pengajian-pengajian keagamaan dan demonstrasi-demonstrasi di pelbagai daerah Indonesia juga banyak diramaikan oleh para jemaah dan sejumlah aksi massa. Namun, di sini kita tidak hendak memastikan jumlah, melainkan hendak mengajukan pertanyaan: apa yang membuat (menarik) orang dalam jumlah banyak berkumpul pada satu tempat?

“Adalah fiksi,” kata Yuval Noah Harari dalam Sapiens (KPG, 2017). Dunia yang dikhayalkan, tatanan yang diimpikan dan diharapkan, dan (keberlangsungan) masa depan yang dicita-citakan, memungkinkan manusia berkumpul dalam jumlah banyak di suatu tempat. Fiksi mampu mempersatukan individu sekaligus menggerakkan massa. Ada keyakinan pada dalil-dalil agama yang dinodai. Ada yang menaruh harapan pada demokrasi sebagai sistem dan pada calon pemimpin dalam politik elektoral; bahwa kehidupan publik akan menjadi lebih baik. Tak sekadar menarik orang dalam jumlah banyak, tetapi juga turut mempengaruhi kehidupan personal.

Fiksi dapat berupa mitos-mitos, kepercayaan akan dewa-dewi, ataupun keyakinan akan akhirat seperti diajarkan oleh agama-agama. Keyakinan juga dapat diarahkan pada ide-ide politik untuk kehidupan bersama yang lebih baik; pada demokrasi, republik, kesejahteraan dan keadilan, kesetaraan dan kesamaan hak, kemanusiaan dan hak asasi manusia, gender, toleransi, perdamaian dan lain sebagainya. Kita hidup dalam belantara fiksi.

Jika kita hidup dalam belantara fiksi, mengapa kita akhir-akhir ini justru menyumpah-serapah dan memberi label buruk pada fiksi? Apabila fiksi dimaknai sebagai rekaan dan khayalan serta tidak berdasarkan kenyataan, lalu apa yang salah dan buruk dari rekaan dan khayalan itu? Kita sejak kecil diajarkan untuk bermimpi setinggi langit, membangun harapan dan berproses mengejar cita-cita. Kita diperkenalkan perihal kesuksesan dan kebaikan yang selalu sepaket dengan keburukan. Kita sejak kecil diajarkan untuk mengejar fiksi dengan pelbagai rekaan dan khayalan itu. Kita digerakkan dan diarahkan oleh dan pada suatu fiksi. Selain itu, masyarakat, negara, dan tatanan global pun dibangun di atas impian dan harapan. Dibangun di atas fondasi fiksi. Oleh karena itu, mengutuk fiksi berarti mengutuk hidup itu sendiri.

“Fiksi memungkinkan manusia bukan hanya mengkhayalkan ini-itu, melainkan juga melakukannya secara bersama-sama,” kata Harari (hlm. 29).

Fiksi tak sekadar imajinatif, ia memiliki ‘kekuatan’ yang memungkinkan orang, baik individu ataupun kelompok, berkumpul dan bergerak, dengan meneriakkan ‘mantra-mantra’ yang dipercayainya. Fiksi menubuh dalam keseharian dan gerak-gerik manusia.

Orang-orang mempertahankan fiksi-fiksi mereka masing-masing, dan memilih bertahan dalam fiksi tersebut. Kerap kali persaingan dan pertentangan antar fiksi tak dapat dihindarkan, yang tak jarang berujung pada konflik bahkan peperangan. Pertentangan tersebut dapat berbentuk imajinasi, harapan dan masa depan, juga masa silam.

Sebagai gambaran, kolonialisme disokong oleh fiksi-fiksi peradaban Eropa; tentang rasionalitas, humanisme, kemajuan, modernitas dan lain sebagainya. Sehingga, konon Eropa tidak menjajah, melainkan memberadabkan non-Eropa; menyebarkan peradaban Eropa, mengajarkan laku modern, menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, tradisi ilmiah, dan rasionalitas.

Namun, setelah kolonialisme Eropa runtuh karena nilai-nilai yang diyakini dan disebarluaskannya sebagai dalih memberadabkan itu, bangsa terjajah pun menuntut kesetaraan Eropa dan non-Eropa. Harari menuturkan (hlm. 239-241) bahwa:

“Orang-orang India, Tiongkok, Asia dan Afrika mempelajari kebudayaan Barat, mempercayai hak asasi manusia dan asas penentuan nasib sendiri, menganut ideologi-ideologi Barat semisal liberalisme, kapitalisme, komunisme, feminisme dan nasionalisme, dan pada akhirnya menuntut status yang setara dengan orang-orang Barat sesuai dengan nilai-nilai itu.”

Kolonialisme dan anti-kolonialisme dibangun dan dipupuk serta digerakkan di atas fiksi-fiksi.

Apabila hendak dikalkulasi, kita bukan sekadar dipengaruhi oleh fiksi, melainkan lebih banyak berinteraksi dan bersentuhan dengan fiksi daripada hal-hal konkret, seperti relasi kekeluargaan dan kekerabatan, relasi kerja, otoritas, kebaikan dan keburukan beserta pembalasannya di akhirat, cinta dan rindu, nilai nominal uang (bukan intrinsik), status sosial, dan pada fiksi-fiksi lain di sekitar kita.

Begitu pula dalam kehidupan bernegara, kita dilingkupi oleh fiksi-fiksi. Bahkan, negara pun didirikan, diikat, dan dibangun dengan fiksi-fiksi, termasuk Indonesia. Indonesia didirikan dengan impian dan cita-cita, dan dibangun dengan impian dan cita-cita pula. Impian tentang keadilan sosial, kesejahteraan rakyat, kebebasan dan kemerdekaan, serta demokrasi.

Jelasnya, apa yang termaktub dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 adalah fiksi yang menggerakkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Adakah sebuah rezim dalam sejarah republik ini yang sebenar-benarnya dan senyata-nyatanya menerapkan Pancasila dalam kebijakannya? Adanya klaim dan label; demokrasi Pancasila, ekonomi Pancasila, dan lain sebagainya. Sampai hari ini pun, Pancasila masih dijadikan cita-cita, ideologi dan falsafah berbangsa dan bernegara. Pancasila masih diperdengarkan kepada jutaan rakyat Indonesia sebagai upaya untuk mengikat persatuan, mengikat imaji tentang kebangsaan dan keutuhan negara.

Demikian juga nasionalisme yang mengikat jutaan rakyat Indonesia. Benedict Anderson menyebut nasionalisme sebagai imagined community (komunitas terbayang), karena berisi orang-orang yang tidak benar-benar mengenal satu sama lain, tetapi diikat oleh imaji tentang persatuan; masa lalu bersama, kepentingan bersama dan masa depan bersama. Dengan nasionalisme, orang tak sekadar mengikat imaji persatuannya, melainkan juga rela mati demi membelanya.

Jika kita hidup dalam belantara fiksi, mengapa kita mengutuk keras orang yang menyandarkan pernyataan Indonesia bubar pada novel fiksi dan marah sekaligus melaporkan orang yang mengatakan ‘jika fiksi adalah mengaktifkan imajinasi, maka kitab suci adalah fiksi’? Bukankah kitab suci memang berisi fiksi-fiksi tentang kebaikan dan keburukan, keadilan dan kezaliman, masyarakat, kemanusiaan, toleransi dan perdamaian?

Barangkali kita lupa dengan impian dan cita-cita kita sewaktu waktu kecil.

Perennialisme dan Menyoal Kebangkitan Agama

0
Perennialism

Bangunnya aliran filsafat abadi (perennial) dari lelap tidur panjangnya, seolah memberi harapan baru bagi kebangkitan agama di penghujung abad ini. Agama yang sebelumnya mengalami ketertenggelaman seusai renaisans, dengan demikian tampak memiliki semangat yang berbeda demi memperoleh kejayaannya kembali. Tetapi apakah kebangkitan tersebut memberi jaminan bahwa agama benar-benar dapat diterima kembali sebagai jalan untuk mewujudkan tatanan hidup yang lebih baik?

Kebangkitan agama yang diusung oleh para perennialis pada dasarnya berangkat dari kekecewaan atas modernisme yang gagal mengantarkan peradaban manusia menjadi lebih baik. Demikian sebaliknya, modernisme telah menciptakan berbagai krisis; kemanusiaan sampai ekologis. Para perennialis memberi klaim mereka bahwa modernisme telah salah dalam segala metode berpikirnya. Dengan metode berpikir analitis yang diinspirasi dari Descartes, mengantarkan gaya berpikir manusia modern yang cenderung memecah-mecah realitas. Dengan asumsi tersebut, perennialisme beranggapan bahwa manusia modern hidup hanya di pinggir lingkaran eksistensi (Hidayat, 1995:xvi).

Titik berangkat lain perennialisme juga dapat dijelaskan melalui persoalan intrik dalam agama itu sendiri. Perennialisme beranggapan bahwa seluruh persoalan tersebut pada prinsipnya muncul dari problem pemahaman atas agama yang parsial. Dengan demikian, perennialisme mencoba memberi perspektif baru dalam memahami agama dengan membedakan agama secara esoterik dan eksoterik. Apa yang dilihat sebagai perbedaan dari setiap agama menurut perennialisme merupakan dimensi eksoterik agama. Sedangkan secara esensial atau dalam dimensi esoteriknya, semua agama memiliki kebenaran yang sama. Para perennialis yang menawarkan keberagamaan semacam ini, barangkali kita dapat menyebutkan di antaranya yang paling besar, adalah Aldous Huxley, Hossein Nasr, Frithjof Schuon, dan Huston Smith.

Selain beberapa nama tersebut, saya melihat Karen Armstrong, meski tidak pernah masuk ke dalam lingkaran diskursus filsafat perennial secara langsung, juga membawa semangat yang sama. Armstrong dengan sangat berani memberikan sebuah penawaran mengenai penempatan agama yang disamakan dengan posisi seni. Sebagaimana seni, agama seharusnya dipahami sebagai tempat berekspresi secara kreatif. Penjelasan tentang kosmologi dan berbagai persoalan tentang kebenaran tidak seharusnya diletakkan tanggungjawabnya pada agama, karena bagi Armstrong persoalan tersebut adalah persoalan logos. Agama hanyalah cara manusia berkreasi dan memaknai kehidupan yang kadang sangat menyedihkan (Armstrong, 2013:505).

Namun kenyataannya, pemahaman semacam ini pun menuai banyak kritik dari para umat beragama itu sendiri, mulai dari sangkaan murtad, sampai vonis sesat (heresy) atas tuduhan penistaan melalui pluralisme agama. Hal tersebut mengartikan bahwa agama yang diyakini oleh banyak orang tidaklah sesederhana itu; bukan hanya perkara etis ataupun tuntunan moral dalam memaknai hidup. Agama bagi sebagian besar pengikutnya lebih dari sekadar pemberi makna atas kehidupan manusia saat ini, melainkan juga kepastian atas kehidupan setelahnya. Dan mau tidak mau, hal itu berkait erat dengan persoalan teologi dan eskatologi.

Dalam hal lain, para perennialis memang mengakui bahwa setiap agama secara teologis berpotensi melahirkan bentuk-bentuk keberagamaan yang bersifat fundamentalis, yang mengarah pada kultisme, yang bentuk terparahnya dapat membawa kepada rusaknya tatanan. Menurut perennialisme, hal ini terjadi ketika seseorang yang beragama berhenti pada agama itu sendiri, yang menurut para perennialis ini tidak lebih adalah sebuah kemusyrikan. Bentuk keberagaman yang fundamentalis hanya mengarahkan kepada intoleransi antar umat beragama, karena dengan mudahnya akan mengkafirkan orang yang iman teologisnya berbeda. Bagi mereka yang memiliki sikap beragama semacam ini, agama menjadi segalanya, mereka dapat berperang dan membunuh banyak manusia demi agama (Hidayat, 1995:95).

Tampak ada penalaran yang cacat ketika perennialis menawarkan sebuah toleransi mutlak dalam sikap beragama. Apa yang para perennialis sebut dengan toleransi ketika mereka mengatakan bahwa para fundamentalis adalah salah dalam beragama, bahkan mereka menyebut sebagai bentuk kemusyrikan? Sialnya, kesalahan penalaran ini masih dalam intrik umat beragama, belum lagi di luar agama itu sendiri. Lantas bagaimana kemudian perennialisme menempatkan toleransi mereka terhadap orang atheis yang tidak meyakini Tuhan, atau bahkan membunuh-Nya demi menyelamatkan manusia?

Seruan perennialisme untuk kembali pada hakikat agama yang toleran, sampai pada titik ini tidak memberi jaminan apapun. Karena jika dilihat kembali dalam alur sejarahnya, sikap toleransi atau pluralisme agama adalah hal yang baru dalam kajian para agamawan modern. Agama dalam sejarahnya memanglah bersifat eksklusif. Dengan tidak memungkiri banyaknya persoalan politis di dalamnya, agama selalu diwarnai oleh perang kebenaran antar agama. Musa, dengan agamanya mengantarkannya pada peperangan melawan Fir’aun, Isa dengan agama yang dibawanya, mengantarkannya pada tiang salib, Muhammad dengan agamanya mengantarkan perang berkepanjangan dengan orang-orang kafir Quraisy.

Sejauh perennialisme sendiri meyakini bahwa salah satu tugas agama adalah membebaskan umat manusia dari ketertindasan dan penderitaan sosial (Hidayat, 1995:96), maka dalam artian apa agama secara hakikatnya dapat dikatakan memiliki toleransi mutlak? Agama merupakan bentuk perlawanan atas hal yang tidak diinginkan oleh sekelompok penganut agama tersebut. Dengan begitu, boleh jadi bentuk fundamentalisme dalam agama adalah sah ketika mengatasnamakan agama dalam perjuangan mereka untuk mewujudkan tatanan kehidupan sosial yang mereka idealkan. Karena paham perennialisme sendiri dalam perjuangan wacana keagamaannya tidak lain hanyalah perjuangan untuk mewujudkan tatanan kehidupan sosial yang mereka idealkan pula. Lalu dalam hal mana idealitas tatanan yang berbeda tersebut dapat dipertemukan dengan toleransi mutlak?

Disposisi agama: melihat kembali retakan-retakan

Dalam banyak hal, kesalahan atas pemahaman agama sebagai jalan keselamatan adalah bermula dari penempatan agama sebagai satu-satunya jalan yang memberi jaminan akan sampainya pada tujuan yang diandaikan oleh para penganut agama tersebut. Pemahaman semacam itu dengan demikian menutup jalan-jalan lain yang ada. Penutupan jalan inilah yang kadang memicu kompleksnya persoalan yang tak kunjung selesai.

Pemahaman yang final mengenai agama secara tidak langsung memberi dampak buruk terhadap kecenderungan psikologis seorang penganut agama. Kecenderungan psikologis tersebut menjadikan seseorang selalu membela mati-matian apa yang ia yakini benar. Karena dengan mengakui bahwa dirinya salah, hal itu sama saja menjatuhkan harga dirinya ke jurang paling dalam.

Hal inilah yang terjadi pada kaum agamawan saat ini. Mereka cenderung selalu mencari pembelaan-pembelaan atas keyakinan mereka, yang dalam perkembangannya mulai mengalami ketersempalan pada ranting-rantingnya, atau bahkan ketercerabutan pada akar-akarnya. Para agamawan bukannya tidak menyadari hal tersebut, tetapi mereka lebih memilih untuk melakukan ‘tambal-sulam’ dengan berbagai macam upaya yang dapat menyelamatkan apa yang diyakini oleh mereka.

Ambil saja contoh tentang kritik para feminis kepada beberapa agama yang dalam banyak teks-teks sucinya cenderung bernada misoginis. Dalam rangka untuk bertahan dari banyak kritik tersebut, para intelektual-religius mulai beramai-ramai mengkaji ulang tentang teks-teks suci mereka, dan menawarkan sebuah cara pembacaan baru, yang lain dari sebelumnya. Tentu pembacaan yang semacam itu adalah sah menurut kaum feminis yang religius, tetapi tidak demikian bagi mereka yang masih meyakini cara pembacaan lama yang menurut mereka merupakan kebenaran final.

Kasus lain adalah mengenai kebenaran iman yang menjadi dasar pokok dalam setiap agama. Klaim kebenaran yang memicu banyak konflik antar maupun dalam agama itu sendiri, memaksa para intelektual-religius berusaha merumuskan cara pandang yang baru dalam beragama, yakni tentang kebenaran yang absolut-relatif dan relatif-absolut. Dengan pembacaan semacam ini, mereka berharap dapat menyelesaikan konflik berkepanjangan tentang klaim kebenaran antar agama maupun dalam intrik agama itu sendiri. Akan tetapi, banyak dari upaya semacam ini justru menuai banyak kecaman dari para penganut agama yang lain. Karena menyalahi keyakinan ortodoks tentang keselamatan yang diyakini hanya terdapat dalam agama atau bahkan aliran dalam agama yang mereka anut.

Dari banyak pertentangan wacana dalam agama itu sendiri menandakan bahwa apa yang diupayakan oleh banyak intelektual-religius demi menyelamatkan agama mereka dari gerus arus zaman hanyalah bentuk kecenderungan psikologis yang cacat. Tidak ada dasar yang kuat tentang mengapa agama tetap harus diperjuangkan keberadaannya, selain hanya dengan argumen keyakinan final, yang kadang boleh jadi merupakan bentuk fundamentalisme lain dalam menjalani kehidupan.

Penutup

Pada akhirnya, pertanyaan tentang apakah kebangkitan agama benar-benar memberi jaminan bahwa agama dapat diterima kembali sebagai jalan untuk mewujudkan tatanan hidup yang lebih baik, jawabannya adalah sama sekali belum. Karena apa yang ditawarkan oleh kebangkitan agama dalam pendekatan perennialisme lebih bersifat filosofis. Dan pendekatan tersebut tidak bisa tidak, harus dirundingkan kembali dengan seluruh doktrin dalam agama itu sendiri. Namun dapat dipastikan, persesuaian ini hanya akan menuai kegagalan karena perbedaan iman ontologis, dan konsekuensinya dapat memicu konflik-konflik yang tidak jauh berbeda dari konflik-konflik dalam intrik agama seperti sebelum-sebelumnya.

Referensi

Armstrong, Karen. Masa Depan Tuhan: Sanggahan Terhadap Fundamentalisme dan Ateisme. Bandung: Mizan, 2013.

Hidayat, Komaruddin, dan M. Wahyuni Nafis. Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial. Jakarta: Paramadina, 1995.

Proses Penciptaan Tata Surya Menurut Kaidah Sains

0

Pertanyaan tentang [setidaknya] bagaimana proses penciptaan tata surya kita, adalah sebuah pertanyaan yang seharusnya lazim untuk hampir setiap orang. Ini bukan pertanyaan yang ekstrim seperti halnya terbuat dari apakah alam semesta ini. Tetapi pertanyaan tersebut sudah menunjukkan [sedikit] ciri bahwa kita – sebagai salah satu makhluk bumi – mau berpikir sesuatu yang lebih dari sekedar yang tampak di sepanjang perjalanan menuju aktivitas kita. Menjawab pertanyaan dalam masalah ini berarti mengetahui atau menemukan bagaimana awan antarbintang raksasa (giant interstellar cloud) yang dikenal sebagai nebula matahari melahirkan tata surya kita dan semua yang ada di dalamnya.

Giant Interstellar cloud
Perjalanan matahari kita melalui ruang angkasa membawa kita melalui sekelompok awan antar bintang dengan desitas yang sangat rendah. Saat ini Matahari berada di dalam awan (awan lokal) yang sangat lemah sehingga gas antar bintang yang terdeteksi oleh IBEX sama tipisnya dengan segenggam udara yang membentang di atas kolom yang panjangnya ratusan tahun cahaya. Awan ini diidentifikasi melalui gerakan mereka, ditunjukkan dalam grafik ini dengan panah biru. NASA. Sumber: fthmb.tqn

Tata surya memiliki cerita yang cukup panjang untuk dapat menjadi yang seperti kita lihat saat ini. Tata surya seperti yang kita ketahui saat ini memulai kehidupan panjangnya sebagai awan gas dan debu yang berputar, berputar-putar di alam semesta tanpa arah atau bentuk.

Sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu, awan raksasa ini menjelma menjadi Matahari kita. Proses tersebut diikuti dengan munculnya tata surya, lengkap dengan delapan planet, 181 bulan, dan asteroid yang tak terhitung jumlahnya. Secara khusus, seorang peneliti bidang fisika yang mempelajari tentang tata surya menjelaskan bagaimana semua itu dapat terjadi.

Penciptaan Tata Surya – Pertama Runtuhnya Awan Raksasa Akibat Supernova

Sebelum terbentuk menjadi serangkaian planet yang rapi dalam tata surya kita, setiap bagian atau potongan materi di tata surya adalah bagian dari nebula raksasa, yakni awan antarbintang yang mengambang. Awan raksasa ini terdiri dari debu, hidrogen, dan gas-gas lainnya. Awan raksasa tersebut mulai runtuh dengan sendirinya setelah menjadi tidak stabil secara gravitasi. Keruntuhan yang berakibat ketidak stabilan secara gravitasi tersebut disinyalir karena adanya supernova di dekatnya – bintang yang meledak – yang mengirim gelombang kejut yang beriak menembus angkasa hingga melewati awan raksasa tersebut.

Supernova
Foto Chandra X-ray ini menunjukkan Cassiopeia A (Cas A), sisa supernova termuda di Bima Sakti.. Sumber: img.purch

Kelanjutan dari runtuhnya awan raksasa ini adalah gravitasi menyebabkan debu dan gas terus menerus tertarik ke pusat awan, sehingga membuat inti awan sangat panas dan padat.

Kejadian melalui proses seperti ini menjadi semacam efek bola salju. Semakin banyak materi yang ditarik, bagian inti semakin padat, sehingga meningkatkan gravitasi dan menarik lebih banyak debu lagi ke dalamnya. Sekitar 99,9% materi jatuh ke pusta awan dan selanjutnya Matahari terbentuk. Setelah inti awan (matahari) menjadi panas dan cukup padat memicu fusi nuklir. Kemudian cahaya tampak membanjiri tata surya untuk pertama kalinya. Sisa dari materi awan tersebut yakni 0,1% materi tetap mengorbit pada Matahari, terus mengelilingi matahai, menyebabkan awan gas berbentuk acak ini membentuk pola cakram datar. Cakram datar ini, yang disebut cakram protoplanet, adalah tempat planet terbentuk.

Penciptaan Tata Surya – Kedua Terciptanya Planet-planet

Selama cakram berputar mengelilingi Matahari, cakram mulai mendingin dan membentuk berbagai jenis material padat. Bagian cakram yang dekat dengan Matahari, temperaturnya sangat tinggi, sehingga mineral dan logam terbentuk. Dan di tepi piringan, jauh dari Matahari, lebih sedikit padatan yang mudah menguap seperti es dan amonia yang terbentuk. Saat cakram terus mendingin, padatan yang berputar ini saling menempel membentuk kelompok massa yang besar. Perlahan-lahan mereka menjadi lebih besar dan lebih besar lagi, menyapu semua debu yang tersisa, sampai mereka tumbuh menjadi planet yang kita kenal hari ini.

Penciptaan Tata Surya
Sebuah ilustrasi air di Tata Surya kita melalui waktu dari sebelum pembentukan Matahari hingga penciptaan planet-planet. Sumber: cdn

Material panas, berbatu di dekat pusat tata surya terbentuk menjadi planet-planet terestrial dengan inti logam: Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars. Sementara itu yang berada di tepi, raksasa gas dan es lahir: Saturnus, Jupiter, Neptunus, dan Uranus. Dengan demikian lengkaplah ke-8 planet yang mengelilingi matahari hingga saat ini.

Penciptaan Tata Surya – Ketiga Terbentuk Sabuk asteroid

Sementara itu, batu yang lolos dari tarikan planet, tersisa sebagai asteroid, tersebar melalui tata surya tanpa rumah permanen.

Penciptaan Tata Surya
Sabuk asteroid untuk beberapa planet di tata surya kita. Sumber: i.ytimg

Banyak dari bebatuan ini mengorbit Matahari di daerah antara Mars dan Jupiter yang dikenal sebagai sabuk asteroid. Sabuk asteroid dapat berukuran sangat besar – yang terbesar, Ceres, memiliki diameter hampir 965.6 km. Lebih jauh dapat dikatakan bahwa asteroid adalah puing-puing berbatu yang tersisa dari era pembentukan planet, 4,5 miliar tahun lalu.

Asteroid-asteroid tersebut sangat berharga bagi para ilmuwan, karena mereka mengandung material yang Bumi dan planet-planet lain pada awalnya terbuat dari, membeku seiring waktu. Studi tentang batuan ini dapat memberi tahu para ilmuwan banyak tentang kondisi seperti apa di dalam cakram, ketika planet masih terbentuk.

Penciptaan Tata Surya – Padatan pertama

Banyak asteroid di tata surya mencair sejak awal dalam sejarah mereka untuk membentuk inti besi dan mantel berbatu. Selama melelehkan material yang lebih berat, logam, tenggelam ke tengah sementara batu yang lebih ringan mengapung membentuk kerak. Benda yang tidak meleleh adalah sejenis meteorit yang dikenal sebagai chondrites – batuan sedimen yang terbentuk di nebula matahari awal.

Karena mereka tidak meleleh, mereka adalah sampel asli dari padatan asli yang terbentuk dalam piringan protoplanet pendingin. Bagi para ilmuwan mereka adalah beberapa bahan sisa paling berharga yang dimiliki. Mereka juga jenis meteorit yang paling umum yang jatuh ke Bumi.

Chondrites mengandung padatan pertama yang terbentuk di tata surya. Dengan menganalisa mereka para ilmuwan dapat mengetahui berapa lama tata surya. Para ilmuwan dapat membongkar perjalanan 4,5 miliar tahun dari nebula matahari, ke piringan protoplanet, ke tata surya yang kita lihat hari ini. Bumi terbentuk dari nebula ini, jadi perjalanan kita, tentu saja terutama para ilmuwan, untuk memahaminya juga merupakan perjalanan penemuan diri. Ini memungkinkan kita memahami rumah kita sendiri di luar angkasa.[]

Manusia: Mereka yang Dikutuk antara Kehilangan Demi Kehilangan

0
Darwin Charles

Apakah kita (manusia dan hewan), itu benar-benar setara? Kita tentu sering mendengar ungkapan bahwa manusia adalah binatang yang berakal; pembeda manusia dan hewan hanyalah pada kemampuan akalinya. Tapi bagaimana kita mengetahui hal semacam itu, terlebih untuk dapat menjawab pertanyaan pembuka di atas, apakah kita, manusia dan hewan, benar-benar setara tentu perlu menyandarkan diri pada sejarah bagaimana semua pengetahuan tentang evolusi dimulai. Tulisan ini memuat pengenalan singkat sejarah teori evolusi Charles Darwin dalam sebuah serial garapan BBC bertajuk Darwins Dangerous Idea.

Pada bagian pertama, Body and Soul, mengisahkan bagaimana mula Darwin dalam menemukan teori evolusi yang begitu fenomenal sampai sekarang ini. Darwin menemukan berbagai macam referensi teorinya berdasar pada ekspedisi yang dilakukan di Kepulauan Galapagos, namun ternyata dalam jurnalnya sendiri, Darwin mengatakan di kepulauan tersebut ia hanya tinggal selama satu minggu untuk melihat dan mencatat berbagai macam tumbuhan dan binatang lokal. Sedang hampir bertahun-tahun lamanya ia habiskan masa ekspedisinya di pulau terasing di ujung Amerika Selatan, salah satunya Tierra del Fuego. Di sana ia mengambil tiga penduduk lokal (natives) untuk dibawa ke Inggris dan diberi pendidikan serta ajaran Kristiani. Setelah dirasa beradab (civilized), ketiga penduduk lokal yang telah beradab tersebut dibawa kembali ke Tierra del Fuego untuk mengajarkan adab kepada penduduk lokal lain di sana.

Namun setelah sepuluh hari kemudian, saat Darwin kembali ke sana, hasilnya benar mengejutkan. Ketiga penduduk lokal yang dianggap telah beradab itu mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan dari kelompoknya, dan ketiganya menunjukan perubahan yang cukup signifikan dengan perlahan kembali ke sifat dan perilaku aslinya. Setelah kembalinya Darwin ke Inggris, barulah di sana Darwin merenungkan kembali tentang ekspedisi dan percobaannya tersebut. Apakah sebenarnya yang membedakan para penduduk lokal tersebut dengan mereka yang beradab di tanah Eropa, dan dari manakah asali kita sebenarnya?

Pada Mulanya…

Ada suatu cerita di Inggris ketika Darwin mengunjungi satu kebun binatang. Di sana Darwin mengamati seekor Orang Utan, yang sedang dipertunjukkan di kebun binatang tersebut. Orang Utan tersebut merengek meminta apel yang dibawa oleh sang penjaga seperti layaknya anak kecil, namun sang penjaga mengatakan bahwa Orang Utan tersebut akan diberi apel jika ia mampu tenang dan bersikap baik. Seolah mengerti apa yang dikatakan oleh penjaganya, Orang Utan tersebut tenang dan bersikap baik, sehingga penjaga memberikannya apel sebagai hadiah. Kepandaian Orang Utan tersebut membuat Darwin terkesima dan ingin mempelajarinya lebih lanjut. Hingga pada akhirnya Darwin merasakan hubungan batiniah dengan sang Orang Utan, dan mulai mempertanyakan kembali dengan apa yang terjadi di Tierra del Fuego. Orang Utan dengan penduduk lokal tersebut secara fisik memang lah berbeda jauh, namun secara sikap dan perilaku hampir menunjukkan kesamaan. Sehingga dari sana, Darwin merasa adanya garis hubung (link) antara kedua makhluk tersebut, dan berawal dari titik tersebut pendalamannya mengenai teori evolusi dimulai secara tajam.

Tentu di masanya, teori evolusi adalah hal yang berbahaya dan mungkin dapat dikatakan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin manusia memiliki kesamaan dengan sejenis kera. Pastilah tidak ada yang menginginkan manusia disamakan dengan sejenis kera, sehingga Darwin sadar dan mulai melakukan penelitiannya secara hati-hati dan rahasia. Kemudian Darwin perlahan-lahan mulai menggambarkan garis hubung tiap hewan-hewan yang dirasa memiliki kesesuaian dan kemiripan, atau yang disebut dalam biologi sebagai kerabat. Sampai akhirnya Darwin menemukan bahwa Tuhan tidak menciptakan manusia secara terpisah sebagaimana yang terdapat dalam kitab suci (bible), namun manusia dapat menjadi seperti sekarang adalah hasil dari evolusi. Akan tetapi Darwin kembali terpukul dalam pertanyaan tentang bagaimana mungkin manusia dapat berevolusi sejauh ini, sedang Orang Utan tidak, apa faktor yang membedakannya?

Kemudian Darwin mendapatkan jawaban tersebut melalui pengamatan sederhana, dengan mengunjungi suatu peternakan kuda. Di sana ia mengetahui bahwa setiap kuda memiliki ciri khas dan kemampuan yang berbeda. Kuda-kuda banyak yang dikawin silangkan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan sang pemilik, sehingga Darwin merasa bahwa sifat-sifat (traits) dan keadaan dibentuk berdasarkan perkawinannya. Semisal pada kuda, ada yang berkaki panjang, dan pada anjing, ada yang bertelinga jatuh atau naik, atau pada burung, ada yang berbuntut lurus tipis atau lebat melengkung. Semua tergantung dari mana mereka dikawinkan. Satu jawaban mungkin terjawab, namun tanpa disadari jawaban tersebut menimbulkan pertanyaan lain, kekuatan macam apa yang terdapat pada alam yang mampu melakukan itu. Darwin menemukan jawaban itu dari buku seorang ekonom Inggris bernama Thomas Robert Malthus, berjudul Essay on the Principle of Population (1798).

Malthus menyatakan bahwa pertumbuhan manusia setiap harinya jauh lebih pesat ketimbang ketersediaan pangan yang ada. Kelaparan membunuh mereka yang lemah. Setiap hari merupakan perjuangan bertahan hidup (survival). Malthus menganggap bahwa fenomena tersebut adalah cara alam untuk menjaga keseimbangan. Namun Darwin berhasil mengubah klaim tersebut ke dalam teorinya sendiri mengenai evolusi, semua makhluk di dunia ini terus berkembang demi mempertahankan kehidupannya di alam, dan umumnya pernyataan tersebut kita kenal dengan hukum seleksi alam, di mana yang kuat adalah yang bertahan. Pada akhirnya Darwin tidak membutuhkan Tuhan, Adam, dan Hawa dalam menjelaskan mengenai manusia. Untuk menjawab mengenai keberadaan manusia dapat dijawab dengan teori evolusi.

Dibalik teori liarnya itu, Darwin sadar bahwa teorinya tersebut dapat membawa keruntuhan masyarakat dan kekacauan penganut agama Kristiani, dan juga dapat mengancam jiwanya bila ia tidak muncul dengan berbagai fakta pendukung yang kuat, sehingga kemudian Darwin memulai pencarian atas fakta secara hati-hati. Sampailah dua puluh tahun kemudian, tepat pada tanggal 24 November 1856, matanglah buah karyanya tersebut yang bertajuk The Origin of Species. Buku tersebut nantinya menjadi dasar bagi Karl Marx dalam membahas mengenai perlawanan kelas, kemudian penalaran Friedrich Nietzsche yang mengukuhkan seleksi perjuangan bertahan hidup (survival of the fittest) dalam konsepsinya tentang pertentangan moral tuan-budak, dan Sigmund Freud yang mendasarkan sifat naluriah manusia sebagai hubungan seksual.

Tentu dalam perkembangannya, teori evolusi menjadi hal tersendiri dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Ilmuwan mulai bertanya-tanya bagaimanakah perubahan evolusi dapat terus menurun dari generasi ke generasi berikutnya? Pertanyaan tersebut dapat terjawab pada tahun 1920, melalui penemuan gen dan nantinya mengoreksi kesalahan Darwin tentang seleksi alam. Bahwa dalam gen terdapat rekam jejak setiap spesies, dan dalam seleksi alam yang bertahan bukanlah semata-mata soal yang terkuat secara individual atau mampu beradaptasi terhadap lingkungannya, melainkan ada hal lain, yakni kemampuan genetik untuk menurunkan hasil dari adaptabilitas ke generasi berikutnya. Penemuan ini nantinya akan menginspirasi Richard Darwkins dan menelurkan teorinya The Selfish Gene.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1950, sebagian gereja mulai mampu beradaptasi dengan teori evolusi. Paus Saleh (Pope Pious The Twelve) mengatakan jika tubuh manusia sekarang adalah hasil dari apa yang sebelumnya ada (dengan kata lain mengandaikan teori evolusi), maka jiwa spiritual manusia hadir secara langsung dari Tuhan. Namun Paus mengingatkan pada para ilmuwan, bahwa tetap ada garis batas yang harus dijunjung dalam ilmu pengetahuan dan keyakinan. Para ilmuwan berhak untuk mengejar secara penuh ilmu pengetahuan tentang dunia ini, namun tidak untuk menyerang urusan keyakinan umat Kristiani terhadap Tuhannya. Jika diandaikan dalam tubuh dan jiwa, maka ilmuwan boleh mempunyai tubuh, sedang jiwa diperuntukkan bagi pengikut agama.

***

Pada bagian kedua, Born Equal. Pada bagian ini, dijelaskan bahwa tidak dapat dipungkiri bahwa pengaruh teori evolusi ini kian merambah ke pelbagai bidang lainnya, seperti budaya dan politik. Sebagaimana yang terjadi pada perang dunia pertama, praktik seleksi perjuangan bertahan hidup kian diberlakukan untuk menjustifikasi suatu kaum, mendukung imperialisme, dan pembenaran atas pembunuhan masal. Mungkin Darwin tidak pernah berpikir bahwa teori ini akan menjadi dasar penalaran terkejam untuk memberangus manusia (holocaust) pada masa perang dunia pertama oleh seorang politikus Jerman, Aldof Hitler. Ada pun sebab yang memudahkan Hitler dalam menafsirkan demikian adalah karena Darwin sendiri tidak tegas menjelaskan dalam jurnalnya mengenai seleksi alam yang terjadi. Darwin dalam pemahamannya tentang seleksi alam sendiri, tidak pernah menyebut hal-hal seperti kebebasan, rasa sama rata, dan ikatan yang didasarkan pada tujuan bersama sebagaimana yang banyak digaungkan sekarang ini, sehingga sangat memungkinkan adanya tafsir seleksi alam terjadi melalui hal-hal yang berbau kekerasan, kompetisi, dan kejamnya perjuangan untuk mempertahankan hidup, bila memang asumsinya didasarkan pada pengamatannya terhadap hidup binatang.

Kemudian, sekembalinya Darwin ke Inggris. London saat itu sedang dalam huru-hara. Penyebabnya tidak lain adalah karena krisis pangan yang terjadi akibat peningkatan pertumbuhan penduduk secara besar-besaran. Penduduk London kian bergejolak dan tingkat depresi melonjak tajam. Jauh sebelum itu, Malthus telah memerediksi akan terjadinya fenomena peningkatan penduduk di Britania Raya. Malthus melihat revolusi industri sebagai titik permulaan dari terbukanya peluang hidup bagi masyarakat desa untuk melakukan migrasi ke kota. Dibukanya pabrik-pabrik besar membutuhkan banyak tenaga dan sumber daya alam. Dengan peluang kerja yang besar, lonjakan kelahiran dapat dipastikan terjadi. Lonjakan kelahiran bagi Malthus merupakan ancaman terhadap ketersediaan pangan jangka panjang. Ancaman tersebut Malthus prediksikan dengan bentuk kelaparan masal, penderitaan hidup, sampai tingginya kematian.

Di masa itu, tepatnya pada abad ke delapan belas di Britania Raya, khususnya di kota London, pemerintah sangat memerhatikan kelayakkan hidup masyarakatnya. Sebagaimana dibentuk peraturan pemberian ransum. Upaya tersebut ditujukan agar penduduk dapat tetap produktif. Akan tetapi bagi Malthus, kebijakan tersebut merupakan kesalahan fatal, sebab tidak ada kompetisi di sana. Penduduk merasa hidup mereka begitu aman dan nyaman diperhatikan oleh pemerintah. Akibat yang ditimbulkan adalah melonjaknya angka kelahiran. Pada akhirnya, kota London mengalami huru-hara, akibat dari tidak seimbangnya permintaan kebutuhan dasar dan penawaran yang ada. Dalam pengamatannya tersebut, Malthus mengatakan bahwa hidup ini adalah soal perjuangan tanpa akhir, yang dapat diartikan dalam mempertahankan hidup.

Klaim dari Malthus tersebut kembali menyadarkan Darwin bahwa perjuangan bertahan hidup adalah kunci utama dalam hidup, sehingga diperlukan kemampuan-kemampuan terbaik dalam menghadapi tantangan di alam. Sebagaimana paruh yang besar, kulit yang keras, atau kemampuan untuk berkamuflase dengan lingkungan sekitar dapat menjadi faktor penentu dalam meningginya tingkat kemampuan bertahan hidup. Pada akhirnya Darwin menganggap mereka yang tidak mampu beradaptasi pada lingkungan yang terus berubah ini hanya akan tertinggal dan lama-kelamaan mengalami kepunahan.

Setelah lahirnya The Origin of Species, tokoh lain yang menyambut hangat buah pikir tersebut adalah Herbert Spencer. Spencer begitu semangat dalam mengubah pemahaman perjungan bertahan hidup dan seleksi alam ini ke dalam manifesto politiknya, yakni hidup ini adalah tentang perjuangan dan tidak mungkin menolaknya, yang bisa manusia lakukan hanyalah berjuang sebaik mungkin. Sebab ganjaran besar menanti pada yang kuat, dan penindasan hanya ada untuk yang lemah. Bagaimanapun juga, disadari tafsir Spencer berbeda dengan apa yang telah dikemukakan Darwin, bahwa yang bertahan adalah mereka yang mampu beradaptasi dengan baik di alam, dan yang kuat tidak memberi jaminan atas apapun. Tapi tentu Darwin tidak mampu mengelak hasil yang ditimbulkan dari buah karyanya. Sebab kemudian, pemahaman seleksi perjuangan bertahan hidup ini menjadi dasar utama dalam kolonialisasi bangsa Eropa ke tanah jajahannya, meski Darwin sendiri sangat mengecam praktik perbudakkan. Bangsa Eropa saat itu percaya bahwa mereka adalah manusia yang telah beradab, dan manusia yang beradab memiliki posisi lebih tinggi dari mereka yang masih primitif atau barbar.

Evolusi: Sebuah Polemik dan Perkembangan

Beralih pada tokoh lain, buah karya Darwin kembali berhasil menaklukkan dan membius Francis Galton dalam mengembangkan teorinya dalam meningkatkan mutu dan kualitas manusia. Galton sendiri terinspirasi dari pemaparan Darwin tentang selektifitas yang dilakukan oleh para peternak dalam mencari dan mengembakan varietas unggul baru dari berbagai hewan ternak dan peliharaan seperti anjing. Atas keobsesian itulah, Galton berusaha mempraktikannya terhadap manusia, agar dapat meningkatkan potensi dan mutu produksi, serta dapat menunjang kehidupan manusia ke arah yang lebih baik. Asumsi yang dikembangkan oleh Galton adalah bahwa memori, daya pikir, dan kecerdasan itu merupakan sesuatu yang diturunkan atau hasil hereditas, sebagaimana sifat dan bentuk fisik pada hewan ternak. Atas asumsi tersebut, Galton mulai meneliti secara mendalam silsilah keluarga dari para hakim, pemerintah, ilmuan, dan penyair sebelum benar-benar mengeksekusi teori gilanya itu yang dikenal dengan nama eugenics. Galton juga mempercayai bahwa manusia yang memiliki kecerdasan tinggi adalah mereka yang memiliki ukuran kepala yang besar. Sampai akhirnya Galton berhasil menelurkan buah penelitiannya yang bertajuk Hereditary Genius. Namun dalam upaya untuk mempraktikkannya, buah pikir gilanya itu menuai berbagai kecaman, bahkan dari saudaranya sendiri, yakni Charles Darwin.

Teori eugenics pun menjadi hal yang terlewatkan hampir selama tiga puluh tahun lamanya. Sampai pada tahun 1899, ketika perang Boer meletus, para petinggi militer Inggris menjadi panik karena banyak pemudawan Inggris memiliki kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk berperang. Dimulai saat itulah, teori evolusi Darwin mengalami pergeseran demi tujuan politik negara. Winston Churchill mengungkapkan bahwa tidak ada salahnya untuk mempertimbangkan usulan atas praktik dari eugenics, dan Churchill menganggap bahwa ini adalah langkah yang harus dibayar untuk masa depan bangsa yang lebih baik lagi.

Seorang novelis berkebangsaan Inggris, Herbert George Wells, mengungkapkan kesetujuannya pada eugenics dalam novelnya yang bertajuk The Time Machine, di mana manusia di masa depan berevolusi menjadi dua spesies. Wells mengungkapkan bahwa manusia harus mampu menaklukkan teori evolusi, dan jika manusia telah mampu maka manusia dapat berkembang menjadi generasi yang lebih baik. Wells meyakini bahwa di masa depan, manusia semakin lama semakin terdegradasi dan ini adalah bahaya laten, pun telah dibuktikan oleh pemudawan London sewaktu perang Boer meletus.

Akan tetapi pemahaman ini tentu menuai pro dan kontra. Beberapa menganggap bahwa pengategorisasian si dungu (feeble-mindedness) dalam masyarakat adalah sesuatu yang tidak saintifik dan berbahaya. Kemudian pada tahun 1912, British Eugenics Education Society, mengadakan konferensi pertama mengenai eugenics di London. Meyisakan pengajuan atas kewajiban strerilisasi terhadap benih cacat untuk mengurangi tingkat si dungu di London. Mulailah di awal abad ke dua puluh, ketika Amerika mulai disibukkan oleh para pendatang, Charles Davenport, seorang Biolog asal Harvard mengajukan program sosial skala besar, yakni Upaya Pelestarian Kualitas Manusia (Preservation of Human Qualities), yang tidak lain adalah meneruskan program eugenics.

Pada tahun 1910, Davenport mendapatkan sokongan dana besar dari Carnegie Institute untuk membantu organisasi saintifiknya dalam melahirkan manusia-manusia superior secara mutu dan kualitas. Davenport melakukan penelitiannya di Cold Spring Harbor, selain daripada kecacatan, tindak kriminalitas juga merupakan sesuatu yang dapat diturunkan, sehingga hal-hal semacam itu harus ditumpas secara segera agar tidak mewabah di masyarakat nantinya, dan sterilisasi eugenics adalah satu-satunya jalan atas hal-hal semacam itu. Sterilisasi eugenics merupakan langkah yang paling dirasa aman dan manusiawi ketimbang harus membunuh atau pun memenjarakan mereka-mereka yang dianggap dungu atau cacat (imbecile), dengan begitu mereka tidak akan meneruskan kecacatannya ke generasi berikutnya, atau dalam artian mereka tidak akan melahirkan keturunan.

Dalam sejarah Amerika tercatat mulai 1907 sampai dengan 1970 terdapat lebih dari 60.000 orang dipaksa melakukan sterilisasi. Tidak hanya Inggris dan Amerika saja, rusaknya teori Darwin ini kian berlanjut sampai ke Jerman. Tepatnya pada tahun 1921, sekolompok ilmuan Jerman, yakni Erwin Baur, Fritz Lenz, dan Eugen Fischer mendalami teori Darwin dan ilmu genetik yang berkembang saat itu untuk membenarkan keyakinan mereka bahwa ras Aryan (Nordic German) adalah yang pantas disebut sebagai ras unggul. Atas dasar asumsi bahwa masing-masing ras memiliki superioritasnya sendiri terhadap ras lain, dan sebab itulah mereka ingin membuktikan bahwa ras Aryan adalah ras ter-superior yang ada di muka Bumi.

Setelah Nazi berkuasa pada 1933, seleksi perjuangan bertahan hidup menjadi semboyan nasional Jerman, atas dasar itulah Nazi berusaha untuk memberagus mereka-mereka yang dirasa tidak layak (unfit) menjalani hidup. Bersamaan di tahun 1933 pula, Hitler menempatkan Eugen Fisher sebagai rektor dari Berlin University. Pada pengukuhannya, Fisher mengungkapkan bahwa ia bersama dua kawannya berhasil melakukan apa yang Darwin tidak dapat lakukan, dan ini menjadi terobosan teori baru dalam ilmu genetik. Di mana genetik mampu mengkoyak-koyak teori rasa sama rata (equality) dalam kehidupan manusia yang beradab.

Berlanjut pada tahun 1935, Heinrich Himmler, komandan dari Schutzstaffel (SS) memperkenalkan program pengembang biakkan eugenics demi memperkuat ras Aryan yang diberi nama Lebensborn, sehingga di masa itu para serdadu Jerman digiatkan untuk menghamili perempuan-perempuan ras lain. Annifrid Lyngstad yang lahir pada 1945 adalah salah satunya. Kelahirannya berpapasan dengan berakhirnya peperangan yang diletuskan oleh Jerman, dan anak-anak yang lahir dari serdadu Jerman kala itu menjadi bulan-bulanan masyarakat. Dianggap sebagai hinaan, banyak dari mereka yang memilih kabur meninggalkan negara asalnya, seperti Annifrid Lyngstad yang memilih pergi ke Swedia untuk memulai hidup baru. Program Lebensborn ini adalah hanya salah satu program yang dibentuk oleh Nazi dalam mengupayakan ras Aryan menjadi ras yang benar-benar unggul.

Setelah kekalahan Jerman, pada tahun 1963, program sterilisasi kembali diberlakukan untuk segenap penduduk Jerman. Tercatat lebih dari 70.000 penduduk Jerman dipaksa untuk mengikuti sterilisasi, hal ini dimaksudkan agar mencegah lahirnya bibit-bibit Nazi berikutnya. Nazi merupakan ancaman mengerikan bagi berbagai ras lain di Bumi, sebab Nazi secara terang-terangan pernah mengumpulkan orang-orang cacat dan tidak waras dalam satu wilayah di pinggiran taman Berlin, lalu memaksanya masuk ke ruang gas beracun untuk dieksekusi, dan program ini dinamakan sebagai T4. Antara 1939 sampai 1945 tercatat sekitar 250.000 orang telah menjadi korban dari keganasan Nazi. Seleksi perjuangan bertahan hidup telah berganti tafsir sepenuhnya, bukan lagi suatu upaya untuk mempertahankan hidup melainkan menjadi upaya membasmi yang lemah. Lalu alasan lain mengapa kaum Yahudi menjadi bulan-bulanan Jerman tidak lain adalah bentuk ketakutan Jerman sendiri terhadap beberapa kaum Yahudi yang berhasil bertahan dalam kamp konsentrasi. Atas dasar seleksi alam, menurutnya perlahan mempengaruhi evolusi kaum Yahudi tersebut, dan ketika mereka dibebaskan, kaum-kaum Yahudi tadi dapat berubah menjadi kuat dan membangkitkan kembali semangat patriotik Yahudi baru untuk menumpas ras Aryan Jerman. Maka sesuai protokol, kaum-kaum Yahudi harus diberangus hingga ke akarnya.

Pemberangusan masal menjadi tragedi yang paling memilukan dalam sejarah awal abad ke dua puluh, dan ketika negara-negara di Eropa dan Amerika mulai merenungkan atas tragedi tersebut, mereka sadari kejahatan dan kebaikan terus berubah-ubah bentuk. Dalam perubahan yang terus berubah itu, mereka mulai mencari suatu tatanan baru yang dapat melawan tafsir teori Darwin buruk ala Jerman, dan seketika itu muncul lah tasfir baru atas teori Darwin yang dirasa pantas dalam memeranginya, bahwa setiap manusia memiliki hak-hak hidup yang patut diperjuangkan sebab manusia berawal dari muasal (origin) yang sama. Hal tersebut lantas menjadi dasar dari terbentuknya Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations). Dalam deklarasinya, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa manusia memiliki hak-hak hidup dan kebebasan yang patut diperjuangkan dan setiap negara memiliki kewajiban untuk mematuhi serta mengakui deklarasi tersebut, tanpa ada kesenjangan ras, kelamin, bahasa, maupun keyakinan.

Pada tahun 1950, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengumumkan pernyataan terbuka, bahwa ilmuwan-ilmuwan dunia sepakat bahwa manusia sekarang bermuasal dari spesies yang sama, yakni homo sapiens. Mulai saat itu, penampakkan perbedaan ditunjukkan melalui kebudayaan, bukan lagi keturunan. Dalam pernyataan terbukanya pula Perserikatan Bangsa-Bangsa mengakui dan meberikan penghargaan tersendiri bahwa Charles Darwin merupakan seorang biolog besar (great biologist) yang merekognisi kesatuan umat manusia (unity of mankind), dan kesamaan di antara manusia jauh lebih banyak ketimbang perbedaannya. Semenjak dari sana, banyak kebijakan sosial yang memusatkan diri pada kesejahteraan sosial dan ajakan untuk berkembang ketimbang mendasarkan diri pada keadaan alamiah untuk memperbaiki kehidupan.

Tepat tiga tahun setelahnya, di tahun 1953, para ilmuwan Amerika dan Inggris yang terlibat dalam asosiasi besar suatu proyek penelitian di Cambridge berhasil menemukan deoxyribonucleic acid atau DNA, yakni suatu molekul yang membawa stuktur genetik, dan ini ada dalam diri setiap makhluk hidup. DNA inilah yang mengonfirmasi teori Darwin, bahwa semua makhluk hidup memiliki keterkaitan hubungan dari muasal yang sama, termasuk manusia di dalamnya. Penemuan DNA ini tentu berhasil menutupi garis hubung yang hilang (missing link) dalam teori evolusi melalui seleksi alam sebelumnya, dan DNA berhasil menunjukkan bahwa sifat yang dimiliki dapat menurun dari generasi satu ke generasi berikutnya. Itulah fakta yang memperkuat dasar bahwa manusia bermula dari muasal yang sama. Tanpa kita sadari, teori evolusi milik Darwin ini seiring masa mengalami perkembangan bahkan menimbulkan banyak tafsir di dalamnya, tidak jarang juga ada yang menyalah gunakan tafsir buruk seperti genosida dan eugenics demi kepentingan pribadi dan golongan tertentu saja. Namun sebagaimana yang selalu kita yakini bahwa pada masanya kebaikan akan berhasil menumbangkan kejahatan.

Kini, teori Darwin pun dapat menggagas hal kreatif juga positif sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Yahudi di Brooklyn. Di mana para kaum Yahudi tersebut mulai mengembangkan penelitian lanjutan dari ilmu genetika dalam mengeleminasi penyakit genetik yang fatal seperti tay-sachs. Rabbi Ekstein, salah seorang yang selamat dari pemberangusan masal. Tentu ia mengalami luka yang mendalam atas tragedi tersebut. Namun dari tahun 1965 sampai 1983, Ekstein mengalami luka yang baginya lebih mendalam ketimbang tragedi pemberangusan masal yang menjemput ajal banyak keluarga dan kerabatnya, yakni kehilangan empat anaknya oleh penyakit genetik tay-sachs. Setelah kehilangannya itu, Ekstein memutuskan untuk membangun suatu yayasan yang bergerak dibidang pengumpulan amal untuk penderita penyakit genetik, Dor Yeshorim. Yayasan tersebut banyak dibantu oleh para kaum Yahudi.

Ekstein juga mendukung mereka yang menderita penyakit genetik untuk tetap melakukan pernikahan dan meneruskan keturunannya. Dor Yeshorim menyediakan pemeriksaan lab tanpa dipungut biaya sepeser pun. Dengan penyuluhan dan uji lab, para penderita penyakit genetik tidak perlu khawatir mengenai keturunannya kelak, sebab dalam studi lanjutan didapati, kemungkinan seorang penderita penyakit genetik yang bersifat carrier menurunkan penyakit genetiknya hanya berkisar 1:4. Temuan tersebut menjadi titik bagi Ekstein untuk tetap tidak memupuskan harapan mereka penderita penyakit genetik dan menggagalkan impiannya menikah dan meneruskan keturunan.

Apa yang dilakukan oleh Ekstein dan yang lain di Dor Yeshorim seolah membuktikan bahwa teori evolusi Darwin ini tidak hanya serta merta dilakukan untuk kejahatan saja, namun juga dapat memberikan kebaikan terhadap sesama. Memang di masa lalu, sejarah mencatat bahwa manusia telah menyalahgunakan pengetahuannya tentang teori evolusi ini untuk kepentingan pribadi dan golongan. Namun sejarah kembali membuktikan bahwa orang-orang seperti Ekstein mampu menebus dosa yang terjadi di masa lalu untuk menjustifikasi kejahatan terhadap manusia dengan berjuang memperbaiki dan membantu kehidupan sesama manusia, sebab tentang kejahatan dan kebaikan adalah suatu pilihan, baik untuk diyakini ataupun dilakukan. Benar yang dikatakan Darwin, manusia bermuasal dari spesies yang sama, namun tidak dibenarkan bila kita (semua manusia) adalah sama. Dunia dan alam terus berubah, beberapa dari manusia berhasil beradaptasi, beberapa tidak, dan inilah seleksi alam yang tidak terbantahkan.

Pada akhirnya apakah kita, manusia dan hewan, benar-benar hidup setara tentu sesuatu yang utopis. Evolusi berhasil membuktikan bahwa manusia adalah mamalia terunggul dan mampu bertahan dari ganasnya seleksi alam. Kemampuan akali inilah yang menjadikan bukti bahwa manusia telah mencapai taraf tertinggi atau puncak dari rantai makanan yang ada di alam, sehingga sebagaimana yang telah dipahami sebelumnya, kesetaraan hanya berlaku pada sesama manusia, atau makhluk yang berakal. Sebab itu manusia berhak untuk melindungi dan mengeksploitasi mereka yang posisinya berada di bawah rantai makanan dari manusia.

“Barangkali manunia, adalah mereka yang dikutuk untuk menemukan, antara kehilangan demi kehilangan.”

 

Referensi Data

Marr, Andrew. 2009. Darwins Dangerous Idea. BBC Two. United Kingdom.

Realisme Tanpa Kebenaran: Tinjauan Singkat atas Buku Realisme dan Kebenaran

0
Devitt

Telah menjadi sebuah pra-asumsi yang menonjol dan luas bahwa realisme niscaya membutuhkan sebuah doktrin kebenaran yang mendukungnya, lebih spesifik doktrin kebenaran korespondensi. Sebuah justifikasi terhadap dunia yang mandiri dari mental seakan harus dimulai dari kemampuan pengguna bahasa mengakses dan menampilkan objek-objek dengan kalimat yang benar secara tepat. Tendensi ini dapat dilihat baik pada para realis maupun anti realis; sebagai contoh Dummett dan Papineau yang tanpa putus mengkritisi dan mempertahankan realisme dalam domain kebenaran atau semantik yang sedikit banyak epistemologis.[i] Namun, harus diakui bahwa anti realisme mengambil keuntungan dari rute ini. Karena teori kebenaran epistemik seperti verikasi, perspektif, akurasi, dan kepercayaan tetap mensyaratkan kehadiran pengamat sebagai bagian yang niscaya dan karenanya dapat mendiskreditkan doktrin tegas seperti realisme.

Mempertimbangkan hal tersebut, akan berbeda jika kebenaran ternyata tidak memiliki peran penting dalam isu realisme. Para realis akan dapat mempertahankan dan mengamankan dua tesis utama mereka, yakni kemandirian dan eksistensi, agar tetap bersemayam di domain metafisik tanpa bocor ke domian semantiko-epistemologis. Dalam persinggunan inilah tulisan ini akan menyaji-ulangkan klaim seorang filsuf Australia, Michael Devitt, dalam bukunya, yang sebenarnya sudah menjadi klasik, Realisme dan Kebenaran (R&T)(1997, versi kata penutup). Kita akan melihat satu tesis yang menegaskan bahwa pembuktian ketidakesensialan teori kebenaran korespondendsi, pengetahuan, dan bahasa, terhadap doktrin realisme adalah hal yang niscaya dan konsekuen.

Kita dapat memulai dari klaim pertama Devitt bahwa realisme tidak membutuhkan doktrin kebenaran. Bagi Devitt, Realisme dapat hidup dengan teori kebenaran korespondensi maupun deflasioner.[ii] Sebagai contoh, menggunakan teori kebenaran deflasioner, yang diakui secara umum sebagai lawan teori kebenaran korespondensi, kita dapat mengeksekusi suatu penaikan semantik (semantic ascent)yang tidak mempengaruhi konten realis:

1) Sebagian besar[iii] eksistensi terbaru[iv] yang dipahami secara umum (common sense)[v] dan fisikal ilmiah[vi] adalah benar (secara deflasioner) secara objektif dan mandiri dari pikiran.

Menurut Devitt, kemudian, hal tersebut juga terjadi pada teori kebenaran korespondensi:

2) Sebagian besar eksistensi terbaru yang dipahami secara umum (common sense) dan fisikal ilmiah benar secara objektif dan mandiri dari pikiran jika dan hanya jika hal tersebut korespon dengan fakta bahwa sebagian besar eksistensi yang dipahami secara umum (common sense) dan fisikal ilmiah terbaru benar secara objektif dan mandiri dari pikiran.

Dua contoh tersebut jelas dihidupi oleh doktrin kebenaran, tetapi mereka tidak merubah atau mendukung seluruh klaim realisme: tesis eksistensi dan kemandirian.

Bahkan untuk kasus korespondendsi, meskipun mereka membutuhkan dimensi kemandirian, realisme tidak hanya bergantung pada dimensi tersebut. Lebih jauh, realisme menegaskan tidak hanya bahwa X mandiri dan eksis di luar mental manusia tetapi juga entitas-entitas apa saja yang eksis dan eksistensinya tidak berada dalam entitas supra mental seperti ‘otak dalam panci’ atau ‘tuhan Berkeley’. Teori kebenaran  korespondensi, dalam arti ini, hanya menyediakan X mana yang benar tanpa masuk lebih jauh pada pertanyaan untuk mengakui entitas mana yang eksis dan menutup kemungkinan mental super lainnya. Ini mengapa teori kebenaran korespondensi dapat hidup bahkan di sistem filsafat idealis.

Secara tentatif, Devitt mencurigai pencampuradukkan tersebut dibawa oleh tren ‘balikan linguistik” (linguistic turn) yang terjadi di dunia filsafat pada awal abad ke-20. Hal itu tidak mengagetkan mengingat sepanjang sejarah filsafat, teori kebenaran korespondensi selalu menjadi bagian substantial dari argumen realisme. Sebagai contoh adalah gagasan tentang penggambaran (picturing). Dengan argumen tersebut, Realisme lama berpendapat bahwa pikiran manusia dapat menggambarkan atau mencerminkan (mirroring) dunia, entah secara penuh, sebagian besar, atau kurang lebih.

Namun, realisme lama jelas gagal mengangkap hubungan realisme dan korespondensi karena apakah sebuah teori mungkin untuk menggambarkan elektron, sebagai contoh, tidak berhubugan dengan masalah apakah elektron mungkin eksis. Yang pertama secara penuh adalah tentang apakah sebuah kalimat mempersembahkan sebuah fakta tanpa secara serius mengasumsikan sebuah gagasan tentang hakikat dunia. Sebaliknya, yang terakhir, yang sering dilupakan, benar-benar membangun asumsi tersebut.

Masalah utama yang dimulai dari kelompok penggambar dunia tersebut, yang menyebar dari Descartes hingga para empirisis awal, adalah penekanannya bahwa komintemen terhadap, sebagai contoh, anjing disebabkan oleh X, atau entitas, yang menyerupai ide tentang anjing. Jadi, validitas diukur dengan seberapa mirip objek-objek di luar pikiran menyerupai idea yang kita punya. Padahal, komitmen kita terhadap anjing hanya membuthkan komitmen terhadap anjing.

Penjelasan terakhir tentu saja memantik sebuah tantangan karena komitemen ontologis, bagi beberapa orang, harus dibawa ke pertimbangan bahasa-meta (metalanguage) dan semantik sehingga mengancam klaim Devitt tentang relasi semantik dan metafisika. Namun, bagi Devitt, komitmen ontologis justru harus dikerjakan di level bahasa-objek karena jika tidak, komitmen tersebut juga tidak bisa diselesaikan di level bahasa-meta.[vii] Menjawab tantangan tersebut, Devitt memisahkan dua kemungkinan pra-asumsi tentang komitmen, pertama, seseorang yang berkomitmen terhadap objek a atau F dan menyatakan S jika a dan F eksis; kedua, seseorang berkomitmen terhadap objek a atau F karena dengan mengatakan S dia mengatakan bahwa a dan F eksis. A dan F adalah singkatan untuk objek sedangkan S adalah kalimat konkret-spesifik (token sentence) seperti “Momo adalah Anjing”.

Menurut Devitt, pilihan kedua lebih fundamental karena pilihan itulah yang membentuk kriteria semantik di tahap selanjutnya. Dengan kata lain, tanpa menginterpretasikan komitmen pada asumsi kedua, seluruh kalimat tidak akan dimengerti. Untuk menjelaskan asumsi kalimat tersebut, kita hanya harus memahami S. Mari ambil 3) “Momo adalah Anjing” (a is F) sebagai contoh kalimat konkret-spesifik. Ini mengimplikasikan:

4) 3) adalah benar jika dan hanya jika eksis sesuatu seperti “Momo” yang menunjuk hal tersebut dan “Anjing” yang berlaku pada hal tersebut;

5) Jika “Momo” menunjuk, hal tersebut menunjuk Momo;

6) Jika “Anjing” berlaku, hal tersebut berlaku pada anjing.

Keniscayaan mengafirmasi pertimbangan kedua tentang komitmen ditunjukkan oleh 4), 5) dan 6) yang secara jelas adalah pernyataan tentang eksistensi. Konsekuensinya, orang yang mengatakan hal tersebut secara implisit mengakui kommitmen ontologis bahwa:

7) Anjing eksis.

Menyatakan 3) tanpa mengakui 7), bagi Devitt, tidak masuk akal. Untuk diparafrase, dengan demikian “Momo adalah anjing adalah benar jika dan hanya jika anjing eksis”, yang berarti sebuah komitmen ontologis yang eksplisit (dalam arti ini, secara personal, jika kata benar terlalu kuat, kita dapat menggantinya dengan kata masuk akal). Lebih jauh, mengakui makna “eksis” hanya berarti dalam semantik sebagai eksistensi juga tidak tepat karena jika hal tersebut benar-benar tidak terjadi, bahwa “eksis” itu non-komitmen, hal tersebut tetap berisi komitemen ontologis terhadap anjing dengan bentuk:

7*) Anjing eksiso.

Oleh karenanya, mendemonstrasikan eksistensi entitas dapat dikomitkan dalam semantik sejauh hal tersebut berkomitmen pada kriteria non-semantik. Devitt menunjukkan bahwa teori semantik dan kebenaran tidak niscaya dibutuhkan untuk memahami komitmen eksistensi.

Masalah akan berbeda jika kita tinggal di dalam bahasa-objek regional tanpa sebuah ide tentang eksistensi. Bahasa-meta secara jelas dapat menyingkap komitmen onotologis yang tersembunyi di sana. Cukup penting dikatakan juga bahwa apa yang menjadi perhatian Devitt di kasus ini bukanlah hakikat dari eksistensi. Sebaliknya, ia hanya perhatian pada hakikat komitmen eksistensi karena, dia berargumen, eksistensi telah jelas secara intuititf. Kebutuhan atas eksplanasi yang berlebihan akan mengarahkan siapa saja untuk  jatuh ke penjelasan remeh atau masuk ke masalah epistemologis.

Tentu saja, hal tersebut belum membuktikan klaim realis apapun. Itu hanya membuktikan relasi minor semantik terhadap komitemen eksistensial. Devitt sadar motede yang dibahas sebelumnya dapat digunakan oleh para universalis untuk mengganti peran objek dengan pelembagaan (instantiation). Dengan kata lain, preferensi untuk mengaktifkan antara objek dan pelembagaan didasarkan oleh preferensi metafisik. Ini adalah alasan mengapa Devitt mengharuskan problem metafisika untuk diselesaikan terlebih dahulu sebelum semantik dan epistemologi. Sekarang, kita akan masuk ke pembelaan Devit, bahwa dunia itu eksis dan mandiri tanpa memasukkan doktrin semnatik yang ketat.

Tentang pembuktian Devitt, kita dapat melihat Devitt menggantungkan argumennya pada aras abduksi, yang berarti, daripada mengabsolutkan realisme, dia memilih untuk mengkritisi bagian-bagian lain sehingga menyebabkan realisme menjadi teori terbaik dari teori yang ada. Dalam pendapat saya, kritiknya tidak jauh berbeda dari pendekatan realis pada umumnya, termasuk kritiknya atas ketidakmampuan inderawi untuk menentukan dunia eksternal, penerjemahan datum fisikal ke indera, dan pengetahuan a priori, serta misteruisitas noumena. Namun, argumen postif Devitt persuasif dan patut dilihat.

Bagi Devitt, bahasa kita tidaklah netral. Fakta bahwa bahasa-benda[viii] merasuki sebagian besar deskripsi kita terhadap fenomena menunjukan keunggulan dan kemasukakalan realisme. Dalam bahasa tersebut, asumsi ‘seolah-olah’ menubuh dalam bahasa, dan di waktu yang sama menyingkap fakta atas pengalaman yang dideskripsikan oleh bahasa. Sebagai contoh, pada kalimat konkret-spesifik realis berikut:

8) Terdapat seekor gagak di halaman.

Pada kalimat tersebut, terdapat pernyatan yang lebih berhati-hati, yaitu

9) Seolah-olah terdapat seekor gagak di halaman

Kalimat 9) adalah kondisi kemungkinan dari 8) karena kalimat tersebut tidak menawarkan data inderawi (yang menawarkan data inderawi adalah 8)) dan entitas apapun (karena seolah-olah tidak mengandaikan eksistensi, hanya kondisi hipotesis). Implikasinya, kalimat 9) tidak terjebak pada akses indera intuk membuktikan dunia luar tetapi mendorong kita untuk mengucapkan kalimat inderawi, seperti 8). Dengan dibukanya kalimat 9), penjelasan terbaik yang tersisa adalah mengakui bahwa alasan mengapa seolah-olah terdapat seekor gagak di halaman karena memang terdapat seekor gagak di halaman.

Dikombinasikan dengan komitmen ontologis di bagian sebelumnya, menurut saya, argumen ini cukup berdaya dan berhasil mengkondisikan dimensi eksistensi karena, di luar argumen ‘otak-dalam-panci’ (brains in a vat/ BIV), yang meminta standar pengetahuan terlalu tinggi tetapi kebal terhadap dirinya sendiri, setiap posisi filsafati yang mengajukan realisme lemah harus mengandaikan kata bantu ‘seolah-olah’, dan berkomitmen terhadapnya, agar sistemnya menjadi masuk akal. Ini adalah persyaratan minimun. Dengan kata lain, doktrin metafisik realisme adalah presuposisi kemasukakalan bahasa.

Argumen ini dapat diperluas menuju masalah entitas yang tidak dapat diobervasi yang menghantui realisme ilmiah, yakni apakah entitas yang tidak dapat diobervasi seperti elektron benar-benar ada. Dengan kata lain, membuktikan tesis kemandirian. Karena jika objek mandiri dari mental, mereka akan eksis tanpa perlu bisa diobservasi. Ini adalah salah satu sisi kuat dari Devitt. Saat banyak filsuf ilmu dapat setuju dengan asumsi metafisik yang menawarkan entitas konkret-spesifik yang dijelaskan oleh Devitt, karena kurang lebih hal tersebut didukung oleh peran pengalaman, mereka sangat skeptis terhadap keberlakuannya dalam dunia tanpa akses indera. Banyak anti realis hanya percaya dengan dunia yang dapat diobservasi. Namun, dua jawaban yang menyakinkan dari R&T dapat diberikan.

Pertama, dengan memperluas jangkauan entitas yang dapat diobservasi menuju entitas yang tidak dapat diobeservasi sehingga meruntuhkan pemisahan tersebut. Alasan dibalik ini adalah Devitt tidak melihat perbedaan penting antara entitas yang dapat diobservasi tetapi belum diobervasi dengan entitas yang tidak dapat diobervasi. Jika kita dapat merunut eksistensi aktor di balik sebuah vas pecah yang tak dilihat siapapun, atau, contoh dari Devitt, mengobservasi pergerakan Uranus dan menarik kesimpulan tentang eksistensi Neptunus, kita dapat menspekulasikan secara ilmiah eksistensi elektron, sebagai contoh, dari jejak yang dibuatnya dalam laboratorum. Lebih dari itu, pemisahan entitas-entitas yang dapat diobervasi dan tidak dapat diobservasi memliki resiko pengembanan nilai yang sama, mambuat pemrioritasan dan penjatuhan satu domain terlihat tidak masuk akal. Untuk menghindari argumen realis ini, jalan terakhir adalah mengadopsi skeptisisme umum, teapi, hal tersebut juga membahayakan posisi anti-realis sendiri.

Kedua, dengan mendemonstrasikan daya penjelasan entitas yang tidak dapat diobservasi. Saat kita tidak memiliki entitas yang tidak dapat diobervasi, kita hampir tidak dapat menjawab penjelasan kausal dibalik fenomena yang terindera. Dalam kasus photon, misalnya hampir tidak mungkin untuk menjelaskan transformasi potongan-potongan adegan ke dalam pesan elektronik pada televisi tanpa adanya eksistensi photon. Sebagaimana dikatakan Devitt, “dengan photon kita memiliki sebuah penjelasan kausal, tanpanya kita tidak punya sama sekali”. Dengan kata lain, menjadi skeptis atau fiksionalis terhadap entitas yang tidak dapat diobervasi akan menjatuhkan kita kepada pertanyaan yang tak dapat dijawab dan dicapai, yakni: “mengapa dunia yang diobservasi seolah-olah seperti ada entitas yang tidak diobservasi?”. Saat pertanyaan tersebut sulit dijawab oleh para anti-realis, realis dapat dengan mudah berurusan dengan hal tersebut karena mereka percaya pada eksistensi dari sebagaian besar entitas yang ditawarkan oleh ilmu. Entitas yang tidak diobervasi, oleh karenanya, niscaya dibutuhkan agar dunia menjadi masuk akal.

Mengikuti pola pikir Devitt, terlihat mungkin untuk memisahkan antara persoalan hakikat dunia, yang mana berada di dalam ruang metafisika, dan masalah-masalah tentang kemampuan pengetahuan langsung kita terhadap dunia dan relasinya dengan teori-teori bahasa. Masalah tentang akurasi, korespondensi, atau, lebih spesifik, rujukan, minor bagi realisme, walaupun perlu dikatakan bahwa masalah tersebut masih penting untuk diselesaikan dalam lingkup filsafat bahasa secara umum. Pola pikir ini ini membuat kita berpikir bahwa realisme memiliki domainnya sendiri yang mandiri dan dapat memberikan preferensi di doktrin lainnya, sehingga mungkin untuk dipermainkan dan dikombinasi dengan doktrin lain dalam domain yang lain meskipun secara terbatas. Masalah saya dengan demonstrasi Devitt hanyalah dogmatismenya terhadap problem BIV. Berbeda dari Devitt, bagi saya BIV justru konstruktif bagi realisme karena BIV justru mengandaikan adanya independensi dan eksistensi, dua sayrat realisme yang diajukan oleh Devitt, dengan pengandaian metafisiknya. Namun, di luar itu, argumen Devitt dapat menjadi pasokan debat tentang kemasukakalan realisme.[ix]

Catatan Akhir

[i] Lih. Michael Dummett, “Realism”, dalam Synthese, Vol. 52, No. 1, Realism, Part II (Jul., 1982), hal. 55-112; David Papineau, Theory and Meaning, Oxford, Clarendon Press, hal. 126. Devitt membahas beberapa contoh penekanan atas doktrin kebenaran ini di bab 4.

[ii] Pembahasan yang cukup atas tokoh, gagasan utama, jenis-jenis, dan persinggungan kedua teori ini, lih: Bradley Dowden & Norman Swartz “Truth”, Internet Encyclopedia of Philosophy, https://www.iep.utm.edu/truth/. Devitt juga membahas pemisahan ini di bab 3.

[iii] Sebagian besar di sini lebih merupakan hipotesis atas disjungsi objek-objek yang kita percayai. Pembilang ini mengakomodasi bahwa tidak semua tawaran masyarakat dan ilmuwan benar sekaligus cukup kuat menegaskan bahwa kurang lebih tawaran tersebut benar.

[iv] Pernyataan ini adalah versi realisme Devitt.

[v] Eksistensi yang dipahami secara umum adalah: batu, pohon, gedung, binatang, dan fakta konkret spesifik lain yang secara intuitif dan sehari-hari diterima sebagai objek yang mandiri dari manusia.

[vi] Eksistensi fisikal ilmiah adalah objek yang ditawarkan oleh ilmu untuk menjelaskan dunia, sebagai contoh elektron, photon, atau gravitasi.

[vii] Bahasa objek adalah bahasa yang dijadikan objek evaluasi dari bahasa-meta. Bahasa-objek dapat berupa bahasa natural ataupun formal.

[viii] Bahasa yang memiliki perspektif spasio-temporal.

[ix] Lih. https://zenocentre.org/en_US/2018/03/20/accepting-the-matrixs-scenario/

Dilema Etis Terraforming dalam ‘The Space Between Us’

0

“I want to go to Mars. Not just to visit, I want to live there. Because then I’d be living proof that life on Mars was possible. Proof that if we had to, mankind would make a fresh start. We’re in trouble, and it’s our fault. And we’re running out of time and Mother Nature doesn’t negotiate. We can’t give up, not now. Mars is a planet ripe and ready for life. Earth’s resources may be depleted, but there’s one resource we must never neglect, it’s the most valuable and it’s the one without limits, courage.”

― Nathaniel Shepard

Sinopsis

Film ini berkisah di suatu masa, di masa depan, manusia telah berhasil menemukan cara untuk tinggal dan menetap di Mars. Hingga dilakukanlah perjalanan, kelompok astronot pertama, yang dikhususkan sebagai first-trial di sana dengan kapal luar angkasa Magellan-61. Namun apa dikata, Sarah Elliot, pemimpin dari kelompok astronot tersebut ditemukan dalam keadaan hamil. Sampai waktu berlalu dan akhirnya Sarah Elliot beserta para awak lainnya berhasil mendarat di suatu kawasan settlement di Mars yang diberi nama East Texas. Tapi naas, Sarah harus menghembuskan nafas terakhirnya di saat melahirkan sang buah hati di Mars. Kematian Sarah didiagnosa sebagai bentuk tahap akhir dari pre-eklampsia, yakni eklampsia, yang umumnya menyerang di masa kehamilan. Namun berita kelahiran Sarah ini tidak turut diberitakan oleh Nathaniel kepada publik, ia khawatir, pemerintah dan organisasinya (Genesis NASA) dapat dikecam habis atas kelalaian dan tragedi yang menimpa Sarah.

Enam belas tahun kemudian, anak Sarah, yakni Gardner Elliot, tumbuh sebagai anak yang luar biasa, baik secara fisik maupun psikis. Setelah menerima barang peninggalan dari Ibunya, Gardner berkeinginan untuk kembali ke Bumi untuk dapat menemui sosok lelaki yang ada dalam peninggalan rekaman Ibunya. Di saat yang bersamaan Gardner juga memiliki kenalan via chatroom, Tulsa, seorang perempuan yang berada di Colorado. Gardner berjanji suatu saat ia akan pergi menemui si gadis dan mencari sosok lelaki yang diyakininya sebagai Ayah kandungnya Gardner.

Tentu untuk kembali ke Bumi bukan perkara yang mudah. Gardner didiagnosa mengidap ostegeneis imperfecta, atau tumbuh kembang genetis yang tidak sempurna, yang mengakibatkan segala pertumbuhan secara organ dalam dan rangka-tulang mengalami pembesaran dan pemuaian jika dibandingkan dengan manusia normal pada umumnya di Bumi. Sementara Kendra Wyndham yang bertindak sebagai sosok ibu pengganti bagi Gardner berupaya dan meminta Nathaniel serta Tom Chen untuk dapat membawa Gardner kembali ke Bumi. Namun Nathaniel menolaknya, sebab kembali ke Bumi adalah sesuatu yang berbahaya bagi Gardner, di mana ia memerlukan operasi besar yang bisa saja mengancam nyawanya. Setelah memertimbangkan dengan penuh akhirnya operasi besar itu dijalankan, Gardner melakukan operasi penanaman carbon nanotubes pada rangka-tulang untuk dapat memperkuat kepadatannya, sehingga Gardner dapat mulai beradaptasi dengan atmosfer dan gravitasi Bumi.

Meski telah dilakukan operasi besar rangka-tulang, Gardner masih belum dapat sepenuhnya beradaptasi dengan keadaan Bumi. Sebab perbedaan gravitasi Bumi mencapai 2⁄3 dari gravitasi Mars, sehingga selain tumbuh kembang rangka-tulang, Gardner juga mengalami perbedaan tumbuh kembang pada organ dalam, di mana organ jantungnya mengalami pembesaran. Secara biologis, besarnya jantung Gardner tidak mampu menyesuai dengan gravitasi Bumi yang notabene lebih rendah ketimbang gravitas Mars, dan menyebabkan pemompaan organ jantung terhambat. Sehingga langkah yang diperlukan adalah kemudian Nathaniel harus mencari pendonor untuk Gardner.

Di akhir cerita, akhirnya Gardner meski dengan bersusah payah, harus berjuang tanpa segera mendapatkan transplant jantung bertemu dengan sosok lelaki yang diyakini sebagai Ayahnya itu. Namun ternyata lelaki itu bukanlah Ayahnya, melainkan ia hanya kakak dari Sarah Elliot dan ayah kandungnya Gardner adalah Nathaniel sendiri. Persis menuju ending, Gardner diperlihatkan kembali ke Mars bersama ayahnya, Nathaniel, untuk menghabiskan masa hidupnya sebagai manusia Mars. Sedang Tulsa melakukan program pelatihan bersama NASA, di bawah bimbingan Kendra. Tulsa berharap suatu saat dapat menyusul Gardner di Mars.

“I wanted to go to Earth, not just to visit, but to live there. It turns out, people from Earth want exactly the same thing as people from Mars. And I should know, because I’m pretty I’m the only one so far. I don’t know which is better, but here’s what I do know, it’s good to be home.”

― Gardner Elliot

Diambil dari situs IMDb.

Analisis, Dilemma Etis.

Sebagaimana kita ketahui di awal, Nathaniel dalam pidatonya menyatakan bahwa Bumi saat itu dalam keadaan semakin parah. Tidak ada waktu banyak bagi manusia, sehingga manusia mulai mencari alternatif lain. Salah satunya adalah dengan media terraforming atau upaya pengerekayasaan planet lain sehingga menjadi seperti habitat alami manusia, yakni Bumi. Namun, yang menjadi titik tumpuan analisis di sini adalah bukan soal bisa atau tidaknya terraforming tersebut, melainkan persoalan jika memang dilakukan permasalahan apa saja yang nantinya akan timbul ke permukaan. Sebab pada film telah diperlihatkan bahwa manusia telah sukses melakukan kolonisasi di planet Mars.

Sebelum itu, perlu dijelaskan terlebih dulu, terraforming adalah proses perekayasaan planet lain, sehingga dapat menjadi seperti planet asal (origin), dan memungkinkan suatu makhluk (terrestrial life) hidup di sana. Dalam mencapai tujuannya, terraforming memerlukan bebagai macam proses modifikasi seperti cuaca, atmosfer, topologi, dan ekologi. Istilah ini berasal dari bahasa Latin, terra yang berarti tanah atau Bumi yang disandingkan bersama kata forming yang mengartikan pada suatu proses atau pembentukan.

Awalnya terraforming ini adalah cabang dari ilmu kebumian (geoengineering), yang dikhususkan untuk memperbaiki Bumi. Sebagaimana modifikasi melalui teknologi agrikultural, dan ini secara tidak langsung memercikkan semangat awal untuk membuat Bumi sesuai pada tujuan manusia. Namun terjadi banyak perdebatan dan sebagian ilmuan dunia merasa bahwa memperbaiki Bumi ini kembali ke asalnya memerlukan waktu yang lama dan mungkin dapat mengancam kelangsungan hidup manusia itu sendiri, krisis ekologi (ecological crisis) dan bencana maha dahsyat (catastrophic failure) misalnya. Sehingga yang dapat dilakukan adalah upaya merekayasa planet lain agar dapat ditinggali oleh sebagian manusia di Bumi.

Tentu tujuan awalnya adalah itu, namun kita tidak bisa memungkiri timbulnya tujuan lain yang justru bertentangan. Misal seperti proyek yang telah lama disusun oleh para ilmuan dunia adalah untuk mencoba membuat kolonisasi manusia di Mars. Dan ini digambarkan jelas pada film tersebut, di mana manusia telah berhasil membuat koloni di sana.

Dalam wacana upaya perekayasaan planet serta pengolonisasian tersebut, terjadi perdebatan yang serius antara antroposentris dan non-antroposentris. Masing-masing memiliki klaimnya sendiri. Antroposentris percaya bahwa segala nilai alamiah (natural value) berada di tangan manusia dan hanya untuk manusia. Sedang non-antroposentris mempercayai segala kehidupan dan semesta ini memiliki nilainya sendiri, dan ia terbebas dari segala nilai yang diberikan manusia. Namun pada tulisan ini saya tidak ingin membahas keduanya, melainkan hanya difokuskan pada klaim-klaim non-antroposentris, dan melaluinya saya berusaha untuk memberikan analisis dan kemungkinan masalah yang akan timbul nantinya.

Non-antroposentris yang mendasarkan pada segala kehidupan dan semesta ini memiliki nilainya sendiri. Sebagaimana ekosentrisme yang mengajarkan kepada makhluk hidup (living organism) untuk menghormati segala kehidupan yang ada dalam semesta raya ini, menyatakan ketidakberpihakannya pada wacana terraforming. Karena pada prosesnya terraforming adalah upaya destruktif. Sehingga mungkin saja dapat mengancam makhluk lokal (local creation) ataupun potensi keberadaannya dan bahkan merusak sektor ekologis serta keunikan pada setiap planet, baik secara morfologi dan komposisinya. Di mana dari segi komponen dan struktur setiap planet berbeda, dan tentu ia memiliki makhluk lokalnya sendiri. Makhluk lokal di sini diartikan sebagai kombinasi unsur-unsur kimiawi yang terbentuk akibat faktor alamiahnya, yang memungkinkan ia untuk mereplikasi dan mengatur molekulnya sendiri, dan hal tersebut dalam ilmu biologi dikategorikan sebagai definisi hidup.

Meski dalam kasus planet Mars ilmuan kita masih belum ditemukan adanya makhluk hidup seperti yang ada di Bumi (terrestrial being), baik dalam kategori makhluk yang dapat merasa (sentient) atau pun makhluk yang sadar (conscious). Dalam film The Space Between Us pun tidak terlalu dibahas mengenai penelitian tersebut. Namun dalam skala tertentu bisa saja sudah terdapat mikroorganisme yang hidup di sana. Maka dengan klaim dari non-antroposentris ini tentu mengancam potensi lahirnya organisme yang lebih kompleks. Perlu diketahui bahwa dalam sejarah Bumi, mikroorganisme memainkan peranan penting. Sebab melaluinya tumbuhan, hewan, dan manusia tidak akan pernah mewujud.

Masih pada kasus planet Mars, sebagaimana kita ketahui bahwa permukaan Mars yang ada pada saat ini merupakan produk hasil jangka panjang evolusi geologis. Permukaan Mars terlahir sebagai bentuk dari kreatifitas alam. Jika memang manusia melakukan terraforminguntuk meninggikan potensi makhluk lokal menjadi organisme kompleks, tentu ini tetap merusak keindahan alamiah (natural beauty) dan nilai alamiah (natural value) yang ada dalam planet Mars. Bagaimana pun juga, itu merupakan lingkungan artifaktual dan kita tidak bisa memungkiri bahwa keindahan yang diciptakan (human-created beauty) jelas akan selalu inferior ketimbang keindahan yang tercipta secara alamiah (nature-created beauty). Tentu, jika dimisalkan dengan Bumi, Bumi menjadi unik karena di selain secara struktur dan morfologinya, manusia, hewan, tumbuhan, serta segala komponen yang ada di dalamnya. Dengan itu lah kita dapat mengenal Bumi sebagai Bumi, bukan Mars atau yang lain.

Pun Bumi sebagai habitat alami manusia, tidak tercipta semata-mata untuk melayani manusia yang berposisi sebagai being di dalamnya. Bumi dan planet lain akan tetap ada meski tanpa makhluk hidup di dalamnya. Sehingga di sini seolah menyatakan bahwa segala proses yang terjadi pada alam bersifat independen dari campur tangan makhluk, dan alam adalah sesuatu yang otonom. Bahkan senyatanya justru manusialah yang bergantung kepada alam.

Implikasi lebih lanjutnya adalah sesuatu yang naïf jika manusia merasa superior pada sesuatu hal yang sebenarnya keberadaannya si manusia ini bergantung padanya. Tentu yang dimaksud di sini adalah alam, di mana ia menjadi sesuatu yang vital dalam kehidupan manusia. Bahkan manusia tidak memiliki hak untuk mengklaim planet lain ada semata-mata untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan manusia. Sebab tanpa manusia pun, Mars tetap ada. Keberadaannya independen dan terbebas dari manusia. Manusia mungkin saja suatu saat tereleminasi atau punah dari peradaban, namun alam ini akan terus bergerak yang mungkin menuju titik baru dan equilibrium yang berbeda.

Di luar dari pemasalahan yang berdasar pada klaim Non-antroposentris sendiri, ada beberapa permasalahan lain yang mungkin menarik untuk dilihat, yakni soal adaptasi manusia dan persoalan nilai. Jika di Bumi sendiri memiliki perputaran penuh itu 365 hari dan setiap harinya adalah 24 jam. Namun bagaimana dengan di Mars?

Tabel 2. (Didasarkan dari McKay, “The Physics, Biology, and Environmental Ethics of Making Mars Habitable”) Perbandingan antara planet Bumi dan planet Mars

Parameter Earth Mars
Surface Pressure 101.3 kPa 0.5–1 kPa
Average Temperature 15°C –60°C
Temperature Range –60°C to 500° C –145°C to 20° C
Composition 78% N2

21% O2

1% Ar

95% CO2

2.7% N2

1.6% Ar

Normalized Sunlight 1 0.43
UV Light .300 nm .190 nm
Surface Gravity 1 g 0.38 g
Rotation Rate 24 h 37 m 24 h
Obliquity 23.5° 25.2°
Orbital eccentricity 0.017 0.093
Year length 365.25 days 687 days

Berdasar dari tabel tersebut bahwa setahun di Mars mampu mencapai 687 hari di Bumi, sedang untuk seharinya lebih lama tiga puluh tujuh menit ketimbang Bumi. Jika memang manusia sudah mampu merekayasa planet lain untuk dapat tinggali, adalah hal yang mungkin untuk melakukan kolonisasi di Mars dan planet lainnya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah mungkin manusia dapat menyesuaikan dengan gravitasi dan peputaran penuh planet tersebut?

Katakanlah manusia mampu beradaptasi dan berhasil melewati seleksi alam. Tentu dalam batas sepuluh hingga ratusan tahun, secara morfologis dan organ dalam manusia masih sama dan tergolong pada spesies yang sama. Namun dalam jangka waktu ribuan tahun, secara morfologis dan organ dalam manusia telah sepenuhnya beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Jika diuji secara DNA, tentu saja dapat menghasilkan fakta bahwa manusia di planet Bumi sebagai muasal dan manusia di planet Mars sebagai bentuk evolusi adalah spesies yang berbeda.

Pada film tersebut diperlihatkan bagaimana Gardner mengalami ketidaksempurnaan tumbuh kembang secara organ dalam dan rangka-tulang, yang didiagnosa sebagai ostegeneis imperfecta akibat gravitasi dan atmosfer Mars. Adapun indikasi yang diperlihatkan adalah keberadaan rangka-tulang yang rapuh, organ jantung yang besar, tinggi rangka-tulang di luar kewajaran manusia Bumi. Namun perbedaan organ jantung dan paru-paru ini dapat kita lihat jelas dalam dunia nyata. Orang-orang yang tinggal di daerah pegunungan dan pantai adalah bukti nyata dalam skala kecil kasus manusia Mars dan manusia Bumi dalam film tersebut. Oleh sebab perbedaan gravitasi antara daerah pegunungan dan pantai, memaksa manusia yang tinggal di sana harus menyesuaikan dengannya. Dan hasil yang didapatkan adalah organ jantung dan paru-paru orang yang tinggal di daerah pegunungan mengalami pembesaran ketimbang orang-orang yang tinggal di daerah pantai. Karena daerah pegunungan memiliki gravitasi yang lebih tinggi, sehingga menyebabkan organ jantung dan paru-paru harus berusaha lebih cepat untuk dapat memompa dan mengalirkan darah keseluruh bagian tubuh.

Diambil dari situs IMDb.

Permasalahan yang timbul adalah bagaimana dengan posisi struktural manusia Bumi dan manusia Mars? Apakah mereka tetap setara, atau justru manusia Mars memiliki tingkat yang lebih tinggi dari manusia Bumi karena mampu beradaptasi? Mungkinkah perpecahan antara manusia Bumi dan manusia Mars terjadi? Selain daripada itu, ketika Bumi adalah habitat asli manusia, lalu manusia hidup bergantung atas keberadaannya, dan di sini dapat dikatakan bahwa manusia adalah bagian dari spesies Bumi. Apabila memang manusia telah berhasil menjadikan Mars zona layak huni dan mulai melakukan kolonialisasi di sana, secara otomatis manusia telah mengugurkan dirinya sendiri sebagai spesies Bumi. Hal ini jelas terjadi dalam film tersebut, di mana mulai kaburnya batas manusia sebagai spesies, dan berbenturnya ras manusia menjadi dua bagian, manusia Mars dan manusia Bumi. Meski hal ini belum sampai menimbulkan gesekkan perpecahan karena pada film ini yang ditunjukkan adalah prosesi awal kolonisasi manusia di Mars.

Dan, di Bumi manusia memiliki bagian dalam rantai kehidupan. Sebagaimana Bulan dan Matahari yang memiliki peranan dalam terbentuknya manusia dan segala makhluk hidup yang ada di Bumi sekarang ini. Sebab bagaimana pun juga, Mars adalah tempat yang baru, manusia tidak memiliki rantai kehidupan dengan planet tersebut. Sehingga bisa saja manusia tidak memberikan nilai terhadap Mars atau planet lainnya. Kemudian upaya untuk melakukan terraforming dan memperdayagunakan hasil alam planet lain demi kepentingan manusia bisa saja dilegalkan. Kelak ketika planet tersebut sudah rusak dan mati, manusia tidak memiliki rasa untuk memperbaikinya kembali.

Dalam upayanya untuk merekayasa suatu planet sampai menjadi dapat ditinggali oleh manusia, tentu tidak dipungkiri akan melibatkan berbagai macam cara yang destruktif atau merusak, seperti melelehkan gunung es yang ada di planet itu; menabrakannya dengan asteroid lain yang memiliki kandungan mineral yang diperlukan agar planet tersebut stabil; atau dengan menambang mineral dari planet lain yang memang kaya akan mineral yang dibutuhkan. Meski dalam film tersebut kita diperlihatkan bahwa dalam upaya pengolonisasian manusia di sana belum sampai pada tahap membuat Mars sebagai planet layak huni.

Kemudian, di Mars sendiri terdapat berbagai wilayah yang memiliki tempat uniknya sebagaimana di Bumi. Semisal Gargantuan Canyons Mars, tiga kali jauh lebih dalam Grand Canyons Bumi. Lalu ada gunung yang tingginya melebihi tinggi pegunungan apapun di Bumi dan panasnya berkali-kali lipat dibandingkan yang ada di Bumi. Tentu saja dengan merubah kontur dan struktur planet Mars, kita bisa merusak nilai alamiah yang ada di Mars. Sehingga wacana terraforming termasuk kolonisasi planet lain adalah suatu wacana yang berani, sebab dalam posisi itu manusia sebagai Homo Sapiens mulai memainkan peranannya di bidang penciptaan.

Kemudian, setelah pemaparan analisis dan kemungkinan permasalahan yang timbul atasnya perlu adanya upaya kembali peninjuan upaya terraforming ini. Mengingat pada keadaan sekarang, nyatanya, upaya terraforming telah berjalan hampir dua puluh tahun lamanya. Dan di tahap ini, para ilmuan dunia tengah melakukan penelitian tentang pembangunan hubatau bangunan layak huni bagi koloni planet di Mars. Kelak di tahun 2030, NASA menyatakan rencananya untuk melakukan uji coba pertama manusia tinggal di Mars.

Daftar Pustaka

French, Robert Heath. 2013. Enviromental Philosophy And The Ethics Of Terraforming Mars: Adding The Voices Of Enviromental Justice And Ecofeminism To The Ongoing Debate. TesisTexas: University of North Texas.

McKay, Christopher P dan Margarita M. Marinova. 2004. The Physics, Biology, and Environmental Ethics of Making Mars Habitable. Jurnal Astrobiology. Vol. 1 No. 1 Hal. 89-109.

Pak, Chris. 2016. Terraforming: Ecopolitical Transformations and Environmentalism in Science Fiction. Liverpool: Liverpool University Press.

Schwartz, James S.J.. 2013. On The Moral Permissibility Of Terraforming. Jurnal Ethic & The Environment. Vol. 18 No.2 Hal. 1-31.

Referensi Lain

Smithson, Darlow Productions and Handel Productions Inc. 2015. Humanity From Space. The Public Broadcasting Service (PBS). Boston.

Kematian dan Perjalanan Antar Bintang (Sebuah Obituari Singkat untuk Hawking)

0
Hawking

 

Kematian adalah misteri paling menakutkan yang menghantui manusia. Demikianlah kemudian ia mendorong manusia untuk membuat bagaimana kematian akan menjadi lebih mudah, atau setidaknya menyenangkan untuk dihadapi, diterima, dan dirangkul sepenuhnya. Namun Stephen Hawking adalah sebuah antitesa. “Aku tidak takut akan kematian,” kata Hawking, “meski demikian, aku pun tak terburu-buru untuk menjemputnya; karena ada banyak hal yang harus aku lakukan terlebih dahulu.”

Hawking (1942-2018) adalah cermin sosok ilmuan sejati. Kondisi fisiknya yang jauh dari normal tak lantas membuatnya lemah dan membaptiskan diri pada kredo agama mana pun untuk mengakui keberadaan Tuhan. Sebaliknya, Hawking justru dengan tegas menyatakan bahwa, “aku adalah seorang ateis […] Tuhan hanyalah nama yang orang berikan untuk alasan mengapa kita di sini. Tapi ku pikir alasannya adalah ‘hukum fisika’, bukan sebuah Tuhan impersonal yang memiliki hubungan personal dengan manusia.”

Lubang Hitam dan Teori Segala Sesuatu

Dalam The Grand Design, Hawking menegaskan bahwa kita adalah makhluk yang penuh rasa-ingin-tahu (curious), itulah mengapa kita selalu bertanya; “dapatkah kita memahami dunia? Bagaimana alam-semesta bergerak? Apa hakikat realitas? Dari mana semua ini berasal? Apakah alam-semesta membutuhkan pencipta? Sebagian dari kita memang tidak ingin menghabiskan waktunya untuk mengkhawatirkan pertanyaan-pertanyaan itu, namun sebagian besar sangat peduli.”[i]

Hawking menganggap bahwa pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang sejak lama telah diperdebatkan dalam filsafat. “Namun filsafat sudah mati,” kata Hawking. Filsafat, bagi Hawking, tidak lagi reliabel untuk menjawab semua pertanyaan semacam itu. Satu-satunya yang dapat menjawabnya adalah sains modern, terutama, fisika.

Theory of Everything adalah bukti bagaimana Hawking meyakini bahwa sains adalah satu-satunya penjelas yang adekuat atas segala hal. Hawking percaya bahwa gravitasi telah menjelaskan segalanya; bagaimana black hole lahir, bagaimana big-bang terjadi, dan bagaimana perjalanan ruang-waktu itu mungkin. Tentu, yang paling utama, gravitasi telah menjelaskan bagaimana alam-semesta ada sampai saat ini.

Memang tidak ada yang paling menarik dari Hawking selain gebrakan besarnya mengenai ‘lubang hitam’ (black hole). Meskipun teori ‘lubang-hitam’ pertama kali diperkenalkan oleh John Michell dan Pierre-Simon Laplace yang kemudian dikembangkan oleh Karl Schwarzschild dengan konstruksi teori relativitas umum Einstein, namun yang baru dari Hawking adalah ketika ia menerapkan perhitungan matematis ‘lubang-hitam’ untuk seluruh semesta dan menunjukkan bahwa singularitas, sebuah wilayah kelengkungan tak terbatas dalam ruang-waktu, berada di masa lalu kita yang amat jauh, yakni titik di mana terjadinya ‘ledakan besar’ (big-bang).

Begitulah teori Hawking tentang lahirnya alam-semesta (universe); habisnya bahan-bakar bintang untuk melakukan fusi, mengakibatkan tingkat radiasi ke luar melemah dan tidak dapat menahan gravitasi ke dalam, sehingga mengakibatkan bintang kolaps dan menciptakan sebuah supernova. Dan salah satu kemungkinan hasil dari supernova tersebut adalah lubang hitam. Sementara, residu dari ledakan tersebut menghasilkan benda-benda angkasa, termasuk bumi, dan dari sana pula kita (manusia) dilahirkan. Singkat kata, kita tidak tercipta dari tanah, namun kita lahir dari ledakan bintang.

Kematian: sebuah perjalanan interstellar

Tepat hari ini, 14 Maret 2018, Hawking berpulang kepada semesta yang melahirkannya. Namun ia tak akan pernah mati, ia akan hidup abadi bersama bintang, bersama “lubang hitam yang tak pernah benar-benar hitam”. Jika memang benar bahwa kita lahir dari supernova, kematian, dengan demikian adalah sebuah perjalanan antar bintang; lahir, tumbuh, meledak, lahir kembali.

“Dus, ke manakah kau pergi tuan? Bukankah kau tak pernah percaya kehidupan setelah kematian?” tanya seorang anak kecil.

“Aku tak pernah pergi ke mana-mana. Aku masih di sini, di dunia, di serpihan sejarah umat manusia. Bukankah ‘ketiadaan’ hanyalah perkara ‘dilupakan’ oleh dunia?”, begitulah mungkin Hawking menjawab.

Selamat jalan Hawking!

*Ditulis untuk mengantar kepergian Hawking (Yogyakarta, 14-03-2018)

[i] Hawking, The Grand Design, edisi digital (New York: Bantam Books, 2010) hal. 1

Kitab [yang] Suci

0
kitab yang suci

Salah satu pusat kebudayaan manusia selama ribuan terakhir ini adalah agama. Diakui ataupun tidak, agama telah menjadi salah satu kekuatan yang memajukan pencapaian manusia. Agama telah menjadi salah satu faktor utama bertahannya manusia sebagai makhluk hidup di Bumi. (selengkapnya baca di artikel saya tentang Sapiens dan Homo Deus).

Agama dapat diartikan sebagai sistem budaya masyarakat yang mengatur beberapa aspek kehidupan anggotanya terkait hal-hal yang bersifat adialami (supernatural). Aspek kehidupan tersebut antara lain misalnya kelakuan, moral, etika, cara beribadah, kewajiaban, hak-hak dan lain-lain. Sedangkan hal-hal yang adialami itu seperti wahyu, malaikat, dunia gaib seperti Surga dan Neraka, Tuhan dan lain-lain.

Oleh karena itu, setiap agama punya metode untuk menyampaikan peraturan tersebut kepada para anggotanya. Yang paling jelas adalah melalui kitab suci. Kitab suci adalah kumpulan tulisan yang dipercaya kebenarannya oleh pemeluk suatu agama tertentu yang berasal dari Tuhan. Karakteristik dari suatu kitab suci selain klaim kebenaran isinya adalah bahwa ia berdiri sendiri dalam artian kitab suci tersebut langsung berasal dari Tuhan sehingga pesan yang ada didalamnya diterima tanpa dipertanyakan dan tidak diragukan. Namun ada beberapa masalah yang mungkin bisa timbul dari pemahaman seperti ini.

Pertama, sifat dari Bahasa yang selalu berubah maknanya. Bahasa merupakan alat komunikasi antar anggota dalam suatu masyarakat. Dalam keterisolasian suatu masyarakat, dalam waktu tertentu makna dari kata maupun ungkapan dapat berubah. Kata „A“ lima puluh tahun yang lalu akan bermakna sedikit berbeda dengan kata „A“ sekarang. Belum juga pergeseran makna suatu kata dalam suatu pernyataan atau ekspresi. Juga hilang dan munculnya kata-kata baru dalam pembendaharaan suatu bahasa. Memahami dan memaknai kata-kata kitab suci yang telah ada ribuan tahun lalu tentu tidak mungkin bisa sama persis seperti makna dan maksud kata-kata tersebut ketika pertama kali dikonsepsikan.

Yang kedua adalah sifat dinamis dari bahasa. Bahasa selalu bersama dengan siapapun yang mengkomunikasikannya. Tidak mungkin selamanya suatu masyarakat sosial akan terisolasi. Cepat atau lambat suatu masyarakat akan bersinggungan dengan masyarakat lainnya baik melalui perniagaan, perang, penindasan dan lain-lain. Semakin seringnya interaksi ini pasti akan terjadi pertukaran Bahasa. Akan muncul kata-kata, ekspresi dan lain-lain yang berasal dari bahasa yang lain tadi, baik utuh maupun diadopsi dalam bahasa sendiri maupun bergabung dengan kata-kata dalam bahasa yang ada dan membentuk kata baru. Kata-kata adalah jejak dari peradaban. Dengan melacak akar kata dari suatu bahasa kita bisa menarik kesimpulan secara objektif dari mana kata tersebut dan sejak kapan proses perubahan kata tersebut terjadi. Begitu pula bahasa tulisan. Kemiripan pelafalan beberapa kata dalam beberapa dokumen tertulis kemungkinan besar menunjukkan proses evolusi kata yang berasal dari asal kata yang sama. Untuk bahasa yang dianggap menjadi standar dalam suatu kitab suci dan dianggap „tidak pernah berubah“ akan menyebabkan pensakralan teks kitab suci tersebut. Pensakralan ini juga akan meliputi pensakralan makna/tafsiran kitab suci tersebut yang pada giliriannya akan mensakralkan cara pelafalan tulisan dalam kitab suci tersebut. Padahal tidak menutup kemungkinan bahwa pelafalan kata pada kitab tersebut kemungkinan bersumber dari bahasa disekitar kitab suci tersebut pertama kali muncul. Dan setelah ribuan tahun, sesuai dengan alasan pertama tidak menutup kemungkinan makna asli kata tersebut akan berubah atau bergeser, bisa masih dalam rentang kemiripan bisa saja berlainan sama sekali. Hal ini tentu berbahaya sebab jika seandainya makna kata kitab suci tersebut berbeda dari yang awalnya dimaksudkan maka akan banyak orang mengikuti penafisran atau pemaknaan yang salah. Karena pensakralan kitab suci itu sendiri, jadi susah untuk memiliki rasa untuk mengkritik dan meneliti kembali kata-kata dalam kitab suci sesuai dengan latar belakang sosial budayanya ketika itu.

Yang ketiga adalah masalah dengan penerjemahan/alih bahasa. Hal ini terutama pada dokumen tertulis. Sebab ketika proses alih bahasa atau terjemahan dari satu bahasa ke bahasa lainnya pasti ada ketidakcocokan arti atau makna dikarenakan tidak adanya ungkapan yang tepat untuk menuliskan pernyataan yang sama dari bahasa asli ke bahasa yang diterjemahkan. Kemudian dokumen terjemahan ini lebih jauh diterjemahkan kepada bahasa lain dan seterusnya. Dari proses ini akan terjadi ketidakakuratan makna dibeberapa tempat pada dokumen terjemahan tersebut dari dokumen aslinya. Hal ini diperparah apabila dokumen terjemahan tersebut berbeda ratusan tahun dengan dokumen yang asli. Persis seperti kasus kitab suci.

Kembali menilik posisi kitab suci sebagai dokumen biasa yang bebas dari prasangka kesakralan dan kesucian, maka bisa saja salah satu atau lebih dari masalah di atas dapat terjadi. Bisa saja teks kitab suci mengalami perubahan makna untuk beberapa kata yang sama setelah sekian ratus tahun ditafsirkan dan disesuaikan dengan konteks kesejarahan yang ada. Bisa saja cara penulisan teks asli kitab tersebut mengalami perubahan. Semisal penambahan huruf atau tanda untuk mewakili bunyi yang pada awal tidak dapat diwakili. Jika penambahan atau pengurangan dan modifikasi cara menulis ini tidak didokumentasikan dengan seksama maka setelah beberapa waktu akan terjadi salah baca yang membawa petaka berupa salah tafsir dan salah arti. Hal ini akan diperparah apabila alasan kesakralan kitab suci itu mentup peluang berfikir kritis sehingga kesalahan ini dalam waktu yang lama diterima sebagai kebenaran dari Tuhan  dan tidak dipertanyakan lebih lanjut. Jika perubahan dari makna aslinya tidak terlalu jauh, masih dalam satu jalur dan positif tidak mengapa. Namun bagaimana jika perubahan tersebut jauh dari makna asli dan bersifat negatif? Maka tidak menutup kemungkinan kesalahan ini akan menyebabkan permasalahan di masa depan.

Selain itu, masalah juga bisa muncul ketika kitab suci hanya ditafsirkan dan dipelajari sebagai sistem tertutup dalam artian bahasa kitab suci tersebut dianalisis berdasarkan teknik dan perangkat yang ada dalam sistem agama tempat kitab suci tersebut berasal. Sebagai contoh semisal ditemukan suatu pernyataan yang “tidak lazim” baik sejcara tata bahasa teks kitab suci tersebut. Karena kitab suci memiliki posisi tertinggi dalam suatu agama sebagai wahyu Tuhan, maka tidak mungkin ada yang mencurigai ketidaklaziman tersebut bisa saja dihasilkan oleh tiga penyebab di atas. Akibatnya para penafsir akan mencari kedalam struktur agama itu sendiri bagaimana menafsirkan atau mengartikan dan menginterpretasikan ketaklaziman tersebut, bagaimana memberikan narasi yang “sesuai” demi kekonsistenan kata-kata Tuhan tadi.  Akibatnya adalah narasi yang cenderung tidak natural dan terkesan hanya sebagai upaya menjelaskan sesuatu yang tidak jelas.

Hal ini tentu saja sangat berbahaya sebab dikhawatirkan dengan tidak adanya usaha untuk membedah teks-teks kitab suci sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh ahli bahasa kepada dokumen non kitab suci akan menyebabkan distorsi sebagian atau beberapa bagian dari kitab suci tersebut yang tidak sesuai dengan konteks dan maksud awal kitab suci tersebut dihasilkan. Sudah saatnya kita melihat teks kitab suci melalui kacamata yang lebih kritis melalui sains sosial (ilmu bahasa) untuk memberikan pemahaman yang adil terhadap isinya. Mengingat kitab suci dijadikan panduan oleh milyaran orang di dunia, adalah hal yang wajib untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh dan komprehensif terhadap teks kitab suci. Sebab kata-kata dalam kitab suci diakui atau tidak memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan mereka yang membacanya.[]

 

Teologi Pembebasan Asghar Ali Engineer

0
Gus Dur

Ada dua hal yang begitu pokok dalam persoalan keberagamaan umat manusia saat ini: pertama, agama sebagai produk final; dan kedua, agama sebagai proses.

Dalam pengertian pertama, kita diandaikan untuk memahami bahwa agama merupakan sesuatu yang sudah final dan tak mungkin lagi kita tafsirkan dan kita perbaharui lagi apa yang sudah ada. Dalam posisi ini kita benar-benar menjadi makhluk instan yang siap pakai tanpa mempertanyakan apa, mengapa dan untuk apa. Kita hanya bisa sebatas meyakini hal itu dengan sepenuhnya keyakinan buta yang tak dapat lagi dikomunikasikan. Sedangkan pengertian kedua, kita diandaikan sebaliknya bahwa kita adalah makhluk yang dinamis, di mana kita merupakan makhluk yang berkesadaran dan memiliki kemampuan untuk berkembang dan selalu tumbuh secara jasmani maupun rohani.

Untuk sementara dalam hal ini, kita mungkin akan lebih menjadi berarti ketika kita memilih pengertian yang kedua. Di mana kita benar-benar menjadi manusia dan manusiawi. Kita menjadi makhluk yang memiliki kesadaran yang berkembang, bukan sebagai ciptaan yang benar-benar final yang telah ditanamkan memori sebagai input kesadaran yang kita miliki.

Agaknya di sinilah kita dapat melihat bagaimana teologi pembebasan memosisikan dirinya dalam dua pandangan besar manusia akan agama. Kita sebagai manusia adalah makhluk penafsir seperti yang banyak digaungkan semangatnya oleh Asghar Ali Engineer, seorang pemikir dari Pakistan yang mencoba memberi tafsiran baru tentang agama Islam yang harus selalu memahami kehidupannya sendiri sesuai dengan kapan dan di mana ia hidup saat itu. Sehingga pada akhirnya kita dapat menyimpulkan bahwa teologi pembebasan merupakan sebentuk penafsiran akan agama, di mana mereka menganggap bahwa agama harus selalu ditafsirkan mengikuti perkembangan manusia dalam peradabannya.

Engineer dan Teologi Pembebasan

Engineer mengatakan bahwa ciri utama dari teologi pembebasan adalah pengakuan terhadap perlunya memperjuangkan secara serius terhadap problem bipolaritas spiritual-materiil kehidupan manusia dengan penyusunan kembali tatanan sosial sekarang ini menjadi tatanan yang tidak eksploitatif, adil, dan egaliter.[i]

Teologi pembebasan harus mendorong sikap kritis terhadap sesuatu yang sudah baku dan harus terus berusaha secara konstan untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru. Kehidupan dengan suatu kekayaan spiritual tidak dapat terwujud dalam ‘masyarakat satu dimensi’, yang menolak usaha apapun untuk keluar dan merealisasikan kemungkinan-kemungkinan baru guna menambah dimensi-dimensi baru.[ii]

Konsep kebebasan menurut Engineer adalah unsur dasar teologi pembebasan. Kebebasan untuk memilih dan kebebasan untuk keluar (transendensi diri) menuju kondisi kehidupan yang lebih baik dan juga untuk menghubungkan dirinya dengan kondisi yang berubah-rubah secara berarti. Teologi pembebasan memberikan manusia kebebasan ini untuk melampaui situasi kekiniannya dalam rangka mengaktualisasikan potensi-potensi kehidupan yang baru dalam kerangka kerja sejarah.[iii] Dari sinilah Engineer nantinya banyak mencoba merekonstruksi sejarah sebagai dasar dari pemahaman akan teologi pembebasannya.

Tujuan utama teologi pembebasan sebagaimana pandangan Engineer merupakan perjuangan dan kerja keras terus-menerus untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Berbeda dengan teologi status-quo, teologi pembebasan bukanlah untuk pelipur lara dan pembenaran atas penderitaan dan kesengsaraan dengan menganggapnya sebagai suatu kondisi kehidupan yang niscaya. Engineer menekankan kembali bahwa teologi pembebasan bukanlah teologi lipuran lara, dengan kata lain ia bukanlah pembela konsep ‘God of gaps’, yang ditugaskan untuk mengisi kekosongan, dan keterbatasan-keterbatasan temporer teknologi dengan hipotesis metafisisnya. Ia juga menolak konsep ‘God of Alibis’, yang dibangun dengan mengatakan bahwa kegagalan manusia karena adanya intervensi-intervensi supranatural. Teologi pembebasan tidak mencari Tuhan dalam keterbatasan kekuatan manusia atau dalam kegagalannya, tetapi pada inti manusia, dalam kreativitas dan kematangannya.[iv] Dalam hal ini, Engineer menekankan bahwa teologi pembebasan itu konsen pada nilai-nilai, bukan institusi.

Rekonstruksi Sejarah

Istilah teologi sendiri sebenarnya tidak dikenal dalam Islam, ia lebih dikenal sebagai ilmu al-kalam. Tentu saja ini bukan persoalan yang prinsipil, karena pada prinsipnya sama, ia adalah ilmu tentang ketuhanan, akan tetapi istilah ilmu al-kalam ini dimaksudkan bahwa Tuhan hanya dapat diketahui melalui kalam-Nya (kitab suci), meskipun pada perkembangannya ia terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran Yunani dan Persia yang kemudian melahirkan beberapa aliran teologi; Asy’ariyah, Maturidiyah, Mu’tazilah, Isma’iliyah dan beberapa aliran yang memiliki corak dari pengaruh Yunani.

Tidak dapat dipungkiri memang bahwa pemikiran Yunani sangat berpengaruh dalam teologi Islam setelah periode ‘sahabat’.[v] Menurut Asghar Ali Engineer, periode yang memiliki signifikasi besar dalam sejarah Islam dengan pergerakan ‘teologi pembebasan’nya ialah periode Abbasiyah. Dalam hal ini Engineer mengajukan beberapa alasan: pertama, rezim Abbasiyah berdiri untuk menentang rezim Umayyah yang sudah dibenci oleh rakyat, terutama rakyat non-Arab. Hal ini terjadi karena kebijakan-kebijakannya yang eksploitatif dan menindas. Kedua, Abbasiyah meraih kekuasaan berkat dukungan orang-orang Persia yang mempunyai peradaban tinggi, Elit masyarakat Persia bersama-sama dengan orang-orang Abbasiyah dan kekuatan-kekuatan revolusioner lainnya turut berjuang melawan Umayyah.[vi]

Sebelumnya, pada periode Umayyah telah terjadi perdebatan teologi yang cukup hangat mengenai kebebasan. Di mana posisi Umayyah saat itu mendukung paham  predeterminasi (Jabbariyah) yang saya kira merupakan kepentingan politis Umayyah untuk mempertahankan rezimnya. Di sinilah gerakan perlawanan para pendukung pilihan bebas (Qadariyyah/ indeterminisme) menghebat pada saat itu. Dan posisi Abbasiyah saat itu adalah di pihak kaum Qadariyyah. Inilah mengapa Abbasiyah saat itu mendapat dukungan yang begitu besar untuk menggulingkan rezim Umayyah yang kebijakannya dianggap menindas rakyat. Tentu saya meyakini bahwa justifikasi semacam ini bukan dimaksudkan kepada Umayyah keseluruhan, melainkan pada masa-masa berakhirnya rezim Umayyah saat itu.

Di sinilah kita dapat sedikit memahami bentuk Teologi Pembebasan dalam Islam itu kemudian hadir dengan teologi rasional mereka (Mu’tazilah). Di mana aliran ini menekankan kebebasan (hurriyah) sebagai dasar pemikiran dan pandangan hidup mereka. Manusia dianggap sebagai agen-agen yang bebas, yang berhak menentukan arah kehidupan mereka sendiri. Ini juga berkaitan dengan unsur dasar Teologi Pembebasan, di mana kebebasan untuk memilih dan kebebasan untuk keluar (transendensi diri) menuju kondisi yang lebih baik merupakan pokok penting dalam semangat praksis pembebasan tersebut.[vii]

Banyaknya pertentangan dalam aliran-aliran itu sebenarnya merupakan perbedaan tafsiran atau interpretasi wahyu maupun sejarah. Di mana dalam hal ini, Ali Engineer menekankan bahwa pada masa kenabian Muhammad merupakan suatu peristiwa pembebasan masyarakat makkah dari ancaman kapitalisme yang dianggap berbahaya bagi nilai-nilai kesukuan yang ada. Yang seperti dikatakan Engineer bahwa kapitalisme ini mengandaikan kita untuk hidup individualis, memperkaya diri dan mengembangkan lembaga-lembaga kepemilikan pribadi tanpa peduli penderitaan anggota suku atau orang lain di sekitarnya.[viii]

Kontekstualisasi Wahyu

Dalam salah satu sub judul yang bertajuk ‘Metodologi Memahami Al-Qur’an’, Engineer mengatakan bahwa ada banyak penafsiran tentang al-Qur’an yang menunjukkan betapa pentingnya teks yang diwahyukan kepada Muhammad. Banyak sekali tuduhan-tuduhan yang ditujukan pada umat muslim bahwa kitab suci mereka merupakan satu hal yang membuat mereka fanatik  dan telah menumpahkan darah dimana-mana.[ix] Disinilah Engineer mengandaikan bahwa al-Qur’an harus selalu ditafsirkan dan dipahami secara dinamis.

Engineer menganggap bahwa kita perlu meletakkan ayat-ayat normatif di atas ayat-ayat kontekstual. Beberapa ayat al-Qur’an menyatakan norma serta nilai-nilai walaupun  yang lainnya memperbolehkan praktik-praktik tertentu atau institusi-institusi dalam suatu konteks yang given. Dengan kata lain, ayat-ayat normatif lebih fundamental dari pada ayat-ayat kontekstual, ayat-ayat normatif aplikasinya lebih bersifat abadi.[x]

Menurut Engineer, ketika mengembangkan metodologi pemahaman yang memadai bagi al-Qur’an, ia selalu percaya bahwa Islam lebih dari sekedar perangkat kepercayaan atau ritual. Islam menyatakan revolusi sosial, mencipta manusia yang berperadaban berdasarkan pada asas persamaan, keadilan dan martabat manusia. Ada dimensi transenden dalam ajaran Islam yang tidak bisa diabaikan, tetapi penafsiran al-Qur’an yang telah kita warisi tenggelam pada nilai-nilai abad pertengahan.[xi]

Metodologi baru dalam memahami al-Qur’an menurut Engineer akan mampu menggoncangkan struktur ketidakadilan yang ada pada masyarakat kita saat ini. Ia akan mampu melebihi situasi sosial kita untuk memberi sebuah harapan baru dan membangun sebuah masa depan baru yang humanis. Penyimpangan apapun yang berasal dari pemahaman semenjak dulu atau abad pertengahan terhadap al-Qur’an ditafsirkan sebagai perintah Tuhan. Saat ini bagi kita, penafsiran-penafsiran lama terhadap al-Qur’an mempunyai sakralitas yang lebih besar dari pada al-Qur’an itu sendiri. Biarpun kebenaran ini menyingsing pada kita lebih cepat dari pada kelak.[xii]

Sebuah Refleksi dan Pertimbangan Awal

Sebagaimana yang kita tahu, bahwa teologi pembebasan merupakan suatu interpretasi ideologi yang lebih ditekankan pada praksis. Yakni sebuah pergerakan perjuangan atas ketertindasan dengan mengacu pada dasar teologis agama yang telah ada. Akan tetapi kita menyadari bahwa upaya-upaya praksis semacam itu sangat sulit, bahkan sangat utopis. Maka dalam hal ini, kita hanya bisa mengandaikan bahwa semangat teologi pembebasan yang disuarakan Ali Engineer mungkin dapat berperan besar dalam tataran paradigma pemikiran sebuah masyarakat, khususnya Indonesia. Seperti persoalan penafsiran tentang ayat jihad misalnya, Engineer mengatakan bahwa semua ayat dalam Qur’an tidak menggunakan kata jihad dalam pengertian perang, tetapi dalam pengertian berjuang dengan kekayaan dan nyawanya.[xiii] Jihad tidak dibenarkan untuk tujuan agresif, melampaui batas, karena tindakan seperti itu merupakan egoisme individual. Sedangkan jihad yang dimaksud oleh Qur’an adalah suatu tindakan altruisme yang bersifat sosial.

Di sini dapat kita pahami bahwa upaya-upaya seperti ini adalah sulit untuk diwujudkan dalam bentuk praksis yang benar-benar nyata dalam kehidupan  bermasyarakat. Karena persoalan-persoalan seperti ini merupakan permasalahan cara pandang manusia terhadap kehidupannya.

Sebagaimana apa yang dikatakan oleh Engineer bahwa Islam yang kita pahami adalah agama yang paling membebaskan di abad 21. Qur’an menerima kesadaran hak kebebasan dalam ayat: la ikraha fiddin (tidak ada paksaan dalam beragama).[xiv] Hal ini mengartikan pada kita bahwa sebenarnya kita tak membutuhkan apa yang dinamakan dengan teologi pembebasan, karena pada dasarnya agama merupakan pembebasan itu sendiri. Yang kita butuhkan saat ini mungkin hanyalah upaya pemahaman kembali, reinterpretasi ajaran-ajaran agama yang kita rasa sudah tak lagi relevan dengan pemahaman kita sebelumnya.

Setidaknya kita tidak pernah berhenti untuk belajar, dan tidak pernah berhenti untuk membaca; membaca apa saja. Karena sebagian besar dari kita (mungkin termasuk saya) adalah orang-orang yang malas membaca, tak memiliki seni untuk membaca dan mencerna. Barangkali kita perlu untuk menjadi ‘sapi’ yang selalu mengunyah makanannya dengan penuh penghayatan, karena kita terlalu sibuk dikejar oleh waktu, maka kita selalu tergesa untuk menelan apapun yang kita makan secara bulat-bulat, tanpa mengunyahnya. Pada akhirnya kita memang harus selalu belajar dan menerima perubahan. Karena tidak ada yang abadi dan sejati melainkan Tuhan, bukankah itu yang selama ini kita yakini?[][xv]

[i]  Lih. Asghar Ali Engineer, Islam dan Pembebasan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar & Insist:2007), p. 112.

[ii]  Lih. Ibid., p. 112-113

[iii]  Lih. Ibid., p. 115

[iv]  Lih. Ibid., p. 116-117

[v]  Sahabat disini dimaksudkan pada khulafaurrasyidin, yakni empat sahabat nabi yang menggantikan kekhalifahannya. Ia adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

[vi]  Lih. Asghar Ali Engineer, Islam dan Pembebasan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar & Insist:2007), p. 102.

[vii]  Lih. Ibid., p. 115

[viii]  Lih. Ibid., p. 6-7

[ix]  Lih. Engineer, Islam Masa Kini, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004) p.21.

[x]  Lih. Ibid., p. 33

[xi]  Lih. Ibid., p. 33

[xii]  Lih. Ibid., p. 34

[xiii]  Lih. Engineer. Liberalisasi Teologi Islam, (Yogyakarta: Alenia, 2004), p. 103

[xiv]  Lih. Ibid., p. 35

[xv] Beberapa bagian dari tulisan ini pernah disampaikan oleh penulis dalam ‘Seminar Nasional Teologi Pembebasan’ di acara UGM Expo pada 21 November 2014.