Home Blog

Dilema Diskursif Demokrasi

0
Ilustrasi oleh Rée

Demokrasi adalah sistem pengaturan hidup bersama yang menjadikan suara rakyat (demos) sebagai basis pengambilan keputusan. Karenanya, prosedur formal pembuatan keputusan dalam demokrasi sering kali bersifat mayoritarian atau bahkan super-mayoritarian: keputusan yang didukung suara rakyat terbanyak sama dengan keputusan kolektif. Meskipun demokrasi tidak bisa diidentikkan dengan mayoritarianisme, bahkan beberapa orang berpendapat demokrasi juga perlu dilengkapi dengan prosedur deliberatif, prosedur mayoritarian ini menjadi sesuatu yang rutin dalam banyak sistem demokrasi: mulai dari pemilihan kepala negara hingga kepala desa, mulai dari sidang DPR hingga rapat RT.

Sayangnya, meskipun sangat penting dalam demokrasi, prosedur mayoritarian ini tidak selalu menghasilkan keputusan kolektif yang rasional. Hal ini terjadi ketika sebuah kelompok dihadapkan pada sebuah agenda yang mengandung kebenaran fungsional. Agenda dalam prosedur pengambilan keputusan adalah sekumpulan proposisi yang bisa diafirmasi atau dinegasi. Sebuah agenda disebut mengandung kebenaran fungsional jika ia mengandung proposisi yang kebenarannya ditentukan oleh nilai kebenaran proposisi-proposisi lain. Semisal, agenda dengan tiga proposisi seperti berikut: {a, b; a ∧ b}; {a, b; a ∨ b}; {a, b; a → b}; dan {a, b; a ↔ b}. Nilai kebenaran (a ∧ b), (a ∨ b), (a → b), dan (a ↔ b) ditentukan oleh nilai kebenaran (a) dan (b) pada masing-masing agenda. Dalam agenda seperti ini, mungkin muncul apa yang disebut sebagai “dilema diskursif” (Pettit, 2001).

Sekarang coba andaikan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terdiri dari 15 orang mengadakan sidang soal program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah melaksanakan program ini dengan tujuan mengatasi masalah gizi nasional dan sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. Setelah berjalan selama setahun, program ini dievaluasi oleh DPR dan harus dihentikan (p) jika memenuhi dua syarat berikut sekaligus: (a) terbukti tidak efektif mengatasi masalah gizi nasional dan juga (b) terbukti gagal menggerakkan ekonomi lokal. Dengan kata lain, penghentian MBG adalah fungsi dari konjungsi dua proposisi (p = a ∧ b), sementara konjungsi (a ∧ b) ditentukan oleh nilai kebenaran (a) dan (b). Masing-masing anggota dewan diminta pendapat apakah terjadi (a) dan (b) untuk dapat memutuskan apakah (p). Dalam agenda seperti itu, sangat mungkin terjadi skenario berikut:

Anggotaaba b
1IyaTidakTidak
2IyaTidakTidak
3IyaTidakTidak
4IyaTidakTidak
5IyaTidakTidak
6TidakIyaTidak
7TidakIyaTidak
8TidakIyaTidak
9TidakIyaTidak
10TidakIyaTidak
11IyaIyaIya
12IyaIyaIya
13IyaIyaIya
14IyaIyaIya
15IyaIyaIya
MayoritasIyaIyaTidak
Tabel 1: Dilema diskursif tentang MBG

Semua anggota DPR secara individual membuat putusan yang konsisten dan rasional. Namun, jika menggunakan prosedur mayoritarian, sidang tersebut akan menghasilkan putusan kolektif yang inkonsisten dan tidak rasional. Sidang akan memutuskan terjadi (a) sebab 10 anggota berpendapat begitu dan juga akan memutuskan terjadi (b) sebab hanya 5 anggota yang berpendapat sebaliknya. Berdasarkan putusan kolektif soal (a) dan (b), sidang tersebut seharusnya memutuskan bahwa MBG harus dihentikan. Namun, aturan mayoritarian akan memaksa sidang tersebut untuk memutuskan bahwa MBG tidak perlu dihentikan, sebab mayoritas anggota berpendapat tidak terjadi konjungsi (a ∧ b).

Ketika dihadapkan pada dilema diskursif seperti di atas, prosedur demokratis menjadi kurang menarik secara epistemik dan kita menemukan harapan pada prosedur oligarkis. Di dalam prosedur oligarkis ini, kita membiarkan hanya segelintir anggota DPR yang menentukan keputusan sidang, anggota lainnya dianggap tidak relevan. Prosedur oligarkis ini memiliki satu aturan tambahan: proposisi yang ada dalam putusan dasar (default judgement) dapat menjadi putusan kolektif hanya jika diterima oleh setidaknya satu anggota oligarki; sedangkan proposisi yang tidak ada dalam putusan dasar dapat menjadi putusan kolektif hanya jika diterima oleh semua anggota oligarki. Putusan dasar ini diperoleh dari komposisi logis agenda yang sedang dipertimbangkan. Agenda {a, b; a ∧ b}; {a, b; a ∨ b}; {a, b; a → b} masing-masing memiliki putusan dasar berikut: {¬a, ¬b; ¬(a ∧ b)}; {a, b; a ∨ b}; {¬a, b; a → b}. (Nehring & Puppe, 2008).

Prosedur oligarkis ini akan menghindarkan sidang MBG tersebut dari keputusan kolektif yang inkonsisten. Andaikan bahwa dari 15 anggota dewan, hanya 3 orang yang termasuk pada kelompok oligarki:

Anggotaaba b
Oligarki 1IyaTidakTidak
Oligarki 2IyaTidakTidak
Oligarki 3IyaTidakTidak
4IyaTidakTidak
5IyaTidakTidak
6TidakIyaTidak
7TidakIyaTidak
8TidakIyaTidak
9TidakIyaTidak
10TidakIyaTidak
11IyaIyaIya
12IyaIyaIya
13IyaIyaIya
14IyaIyaIya
15IyaIyaIya
Kelompok OligarkiIyaTidakTidak
Tabel 2: Solusi oligarkis untuk dilema diskursif 1

Semua anggota oligarki memutuskan (a), (¬b), dan {¬(a∧b)}. Hasil keputusan kolektifnya konsisten dan rasional: {a,¬b;¬(a∧b)}. Bahkan meskipun kelompok oligarki ini memiliki komposisi putusan yang sama dengan komposisi putusan yang menghasilkan dilema diskursif, prosedur oligarkis ini akan tetap menghasilkan keputusan kolektif yang konsisten dan rasional:

Anggotaaba b
Oligarki 1IyaTidakTidak
Oligarki 2TidakIyaTidak
Oligarki 3IyaIyaIya
4IyaTidakTidak
5IyaTidakTidak
6TidakIyaTidak
7TidakIyaTidak
8TidakIyaTidak
9TidakIyaTidak
10TidakIyaTidak
11IyaIyaIya
12IyaIyaIya
13IyaIyaIya
14IyaIyaIya
15IyaIyaIya
Kelompok OligarkiTidakTidakTidak
Tabel 3: Solusi oligarkis untuk dilema diskursif 2

Proposisi (a) tidak ada dalam putusan dasar oligarki, sehingga ia secara kolektif ditolak meski didukung oleh dua anggota oligarki. Demikian juga dengan proposisi (b) dan (a∧b). Hasil keputusan kolektifnya adalah {¬a,¬b;¬(a∧b)}. Konsisten dan rasional!

Sejauh ini, prosedur oligarkis jauh lebih konsisten secara logis daripada prosedur demokratis. Namun, dalam agenda yang nonkonjungtif, prosedur oligarkis pun juga gagal. Sebuah agenda disebut bersifat konjungtif jika dan hanya jika untuk setiap kesimpulan p, entah p atau ¬p bisa ditulis ulang sebagai konjungsi. Misal, {a, b; a ∧ b}; {a, b; a ∨ b}; {a, b; a → b}. Kesimpulan p = a ∧ b jelas konjungsi. Sementara kesimpulan p = a ∨ b, meski terlihat sebagai disjungsi, negasinya bisa ditulis ulang sebagai konjungsi: ¬p = ¬(a ∨ b) = ¬a ∧ ¬b. Demikian juga dengan kesimpulan p = a → b. Negasinya, ¬p = ¬(a → b), bisa ditulis ulang menjadi konjungsi a ∧ ¬b.

Contoh agenda nonkonjungtif adalah {a, b; a ↔ b}. Baik p atau ¬p dari agenda ini sama-sama tidak dapat ditulis ulang sebagai konjungsi: p = a ↔ b = (a ∧ b) ∨ (¬a ∧ ¬b) dan ¬p = ¬(a ↔ b) = (a ∧ ¬b) ∨ (¬a ∧ b). Keduanya adalah disjungsi dua konjungsi. Dalam agenda nondisjungtif seperti ini, prosedur oligarkis pun gagal, sebab ia tidak punya satu putusan dasar. Ketiadaan putusan dasar dalam agenda nonkonjungtif ini disebabkan oleh putusan dasar itu sendiri yang diperoleh dari negasi atas hasil penulisan ulang kesimpulan agenda konjungtif menjadi konjungsi. Karena kesimpulan agenda nonkonjungtif tidak bisa ditulis ulang menjadi konjungsi, maka ia tidak punya putusan dasar yang bisa dihasilkan. Konsekuensinya, satu-satunya prosedur yang berhasil menjaga konsistensi keputusan kolektif dalam agenda seperti ini adalah prosedur kediktatoran: putusan satu orang untuk semua proposisi dalam agenda tersebut menentukan keputusan kolektif (Nehring & Puppe, 2008).

Namun, meski terbukti lebih andal dalam menghasilkan keputusan kolektif yang konsisten daripada prosedur demokratis, prosedur oligarkis dan kediktatoran ini sangat tidak menarik secara politis. Dalam leksikon politik tanah air, dan saya kira juga di banyak tempat yang lain, oligarki dan kediktatoran selalu dipandang secara negatif. Jika oligarki dan kediktatoran ini merupakan maksiat politik yang mesti dihindari, memangnya masih ada kemungkinan menerapkan prosedur demokratis tanpa risiko menghasilkan keputusan kolektif yang inkonsisten? Menurut Christian List dan Philip Pettit (2011), ada! Mereka menawarkan empat kemungkinan prosedur (List & Pettit, 2011, pp. 55–57).

Empat prosedur tersebut hanya dapat dilakukan dengan melanggar ketentuan sistematisitas dalam agregasi putusan: bahwa putusan kolektif tentang sebuah proposisi harus bergantung hanya pada putusan individu tentang proposisi tersebut, bukan proposisi lain, dan pola kebergantungan ini mesti berlaku untuk semua proposisi. Artinya, dengan melanggar ketentuan ini, kita membuat putusan kolektif tentang sebuah proposisi tanpa bergantung pada putusan individu tentang proposisi tersebut. Prosedur pertama yang dapat dilakukan dengan melanggar ketentuan ini adalah prosedur agregasi berbasis premis (ABP).

Di dalam ABP, putusan kolektif yang bergantung pada putusan individu hanya dalam soal premis. Kesimpulannya dibiarkan ditentukan secara logis oleh putusan kolektif yang sudah terbentuk dalam soal premis. Ingat kembali sidang MBG oleh DPR:

Anggotaaba b
1IyaTidakTidak
2IyaTidakTidak
3IyaTidakTidak
4IyaTidakTidak
5IyaTidakTidak
6TidakIyaTidak
7TidakIyaTidak
8TidakIyaTidak
9TidakIyaTidak
10TidakIyaTidak
11IyaIyaIya
12IyaIyaIya
13IyaIyaIya
14IyaIyaIya
15IyaIyaIya
ABPIyaIyaIya
Tabel 4: Solusi ABP terhadap dilema diskursif MBG

Kesimpulan (a ∧ b) tidak ditentukan oleh putusan mayoritas anggota DPR, tetapi oleh premis (a) dan (b) yang sudah terbentuk secara kolektif melalui prosedur demokratis. Artinya, meski mayoritas anggota DPR secara individual menolak MBG harus dihentikan, prosedur ABP tetap akan memutuskan MBG harus dihentikan, karena ia diimplikasikan oleh premis yang sudah terbentuk secara kolektif melalui prosedur demokratis bahwa MBG terbukti tidak efektif mengatasi masalah gizi nasional dan gagal menggerakkan ekonomi lokal.

Kemungkinan kedua adalah prosedur agregasi berbasis kesimpulan (ABK). Sementara ABP memberlakukan prosedur demokratis pada premis dan membiarkan kesimpulan ditentukan oleh premisnya, ABK memberlakukan prosedur demokratis langsung pada kesimpulan dan tidak membuat putusan apa pun tentang premis.

Anggotaaba b
1IyaTidakTidak
2IyaTidakTidak
3IyaTidakTidak
4IyaTidakTidak
5IyaTidakTidak
6TidakIyaTidak
7TidakIyaTidak
8TidakIyaTidak
9TidakIyaTidak
10TidakIyaTidak
11IyaIyaIya
12IyaIyaIya
13IyaIyaIya
14IyaIyaIya
15IyaIyaIya
ABK  Tidak
Tabel 5: Solusi ABK terhadap dilema diskursif MBG

Sementara prosedur ABP menghasilkan putusan sidang bahwa MBG harus dihentikan, prosedur ABK menghasilkan putusan sebaliknya. MBG tetap harus lanjut karena mayoritas anggota DPR yang sudah membuat putusan secara konsisten berkesimpulan bahwa dua syarat yang mengharuskan penghentian MBG tidak terpenuhi.

Kemungkinan ketiga adalah prosedur agregasi berbasis premis terdistribusi (ABPD). Pada dasarnya, ABPD ini sama dengan ABP. Namun, dalam prosedur ABPD ini, tidak semua anggota DPR berhak membuat putusan tentang setiap premis. Mereka akan dibagi ke dalam dua kelompok: anggota yang ahli soal gizi akan membuat putusan hanya soal premis (a) dan putusan kolektif tentang (a) akan ditentukan oleh putusan mereka, sedangkan anggota yang ahli soal ekonomi akan membuat putusan hanya soal premis (b) dan putusan kolektif tentang (b) akan ditentukan oleh putusan mereka. Sebagaimana dalam prosedur ABP, kesimpulannya akan ditentukan oleh putusan kolektif tentang premis (a) dan (b):

Anggotaaba b
Ahli GiziIya  
Ahli GiziIya  
Ahli GiziIya  
Ahli GiziTidak  
Ahli GiziTidak  
Ahli GiziTidak  
Ahli GiziTidak  
Ahli Ekonomi Iya 
Ahli Ekonomi Iya 
Ahli Ekonomi Iya 
Ahli Ekonomi Iya 
Ahli Ekonomi Iya 
Ahli Ekonomi Tidak 
Ahli Ekonomi Tidak 
Ahli Ekonomi Tidak 
ABPDTidakIyaTidak
Tabel 6: Solusi ABPD terhadap dilema diskursif MBG

Kemungkinan terakhir adalah prosedur agregasi berbasis jarak (ABJ). Dalam prosedur ini, putusan kolektif ditetapkan berdasarkan kedekatannya dengan putusan individu dalam satu agenda. Kedekatan putusan kolektif dengan putusan individu ini ditentukan oleh jumlah perbedaan yang ada di antara keduanya: semakin sedikit perbedaannya berarti semakin dekat jaraknya. Ingat lagi agenda sidang MBG {a, b; a ∧ b}. Ada empat kombinasi putusan konsisten yang mungkin dimunculkan sebagai putusan kolektif dalam agenda itu (1 berarti afirmasi, sedangkan 0 berarti negasi): {1,1;1}, {1,0;0}, {0,1;0}, dan {0,0;0}. Sekarang coba kita hitung jumlah perbedaan antara putusan individu di bawah ini dengan empat kombinasi tersebut:

AnggotaPutusan IndividualPutusan Kolektif
aba b{1,1;1}{1,0;0}{0,1;0}{0,0;0}
11002021
21002021
31002021
41002021
51002021
60102201
70102201
80102201
90102201
100102201
111110223
121110223
131110223
141110223
151110223
ABJTotal Perbedaan20202025
Tabel 7: Solusi ABJ terhadap dilema diskursif MBG 1

Putusan kolektif {1,1;1} memiliki 2 perbedaan dengan putusan anggota 1-10 dan tidak memiliki perbedaan sama sekali dengan putusan anggota 11-15, sehingga total perbedaannya adalah 20. Putusan kolektif {1,0;0} tidak memiliki perbedaan sama sekali dengan putusan anggota 1-5 tetapi memiliki 2 perbedaan dengan putusan anggota 6-15, sehingga perbedaannya adalah 20. Putusan kolektif {0,1;0} memiliki 2 perbedaan dengan putusan anggota 1-5 dan 11-15 tetapi sama persis dengan putusan anggota 6-10, sehingga total perbedaannya juga 20. Putusan kolektif {0,0;0} berbeda dengan semua putusan anggota: terdapat 1 perbedaan dengan putusan anggota 1-10 dan 3 perbedaan dengan putusan anggota 11-15, sehingga total perbedaannya adalah 25. 

Dengan demikian, putusan kolektif yang paling dekat dengan putusan individu adalah {1,1;1}, {1,0;0}, {0,1;0}, karena ketiganya memiliki jumlah perbedaan paling sedikit. Artinya, dalam skenario Tabel 7, prosedur ABJ menghasilkan tiga putusan kolektif sekaligus. Inkonsistensi dapat dihindari, tapi dengan ongkos kebimbangan (indecision) di antara tiga putusan tersebut. Namun, dalam kasus dilema diskursif yang lain, prosedur ABJ ini dapat menghasilkan keputusan kolektif yang pasti (decisive) seperti pada tabel 8 berikut:

AnggotaPutusan IndividualPutusan Kolektif
aba b{1,1;1}{1,0;0}{0,1;0}{0,0;0}
11002021
21002021
31002021
41002021
50102201
60102201
70102201
80102201
91110223
101110223
111110223
121110223
131110223
141110223
151110223
ABJTotal Perbedaan16222229
Tabel 8: Solusi ABJ terhadap dilema diskursif MBG 2

Putusan kolektif {1,1;1} hanya memiliki total 16 perbedaan dengan putusan individu, sementara putusan kolektif yang lain memiliki perbedaan lebih dari itu. Dengan demikian,  ABJ akan secara pasti menjadikan {1,1;1} sebagai keputusan kolektif (Pigozzi, 2006). Tak ada inkonsistensi dan kebimbangan di situ.

Pelajaran politik dan epistemik yang bisa kita ambil dari dilema diskursif ini adalah bahwa demokrasi tidak bisa selalu dijalankan dengan memberikan kesempatan yang sama kepada semua individu untuk membuat putusan. Ada kalanya sekelompok individu hanya boleh membuat putusan dalam satu soal, tapi tidak dalam soal lainnya. Ada kalanya juga bahkan individu tak perlu membuat putusan apa pun terkait satu pokok soal yang sedang dipertimbangkan; ia cukup membuat putusan pada soal lain yang terkait. Tanpa kebijaksanaan dinamis seperti ini, demokrasi akan kalah andal pada prosedur oligarkis dan kediktatoran!

Bahan Bacaan

List, C., & Pettit, P. (2011). Group Agency: The Possibility, Design, and Status of Corporate Agents. Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/acprof:oso/9780199591565.001.0001

Nehring, K., & Puppe, C. (2008). Consistent judgement aggregation: The truth-functional case. Social Choice and Welfare, 31(1), 41–57. https://doi.org/10.1007/s00355-007-0261-0

Pettit, P. (2001). Deliberative Democracy and the Discursive Dilemma. Philosophical Issues, 11(1), 268–299. https://doi.org/10.1111/j.1758-2237.2001.tb00047.x

Pigozzi, G. (2006). Belief merging and the discursive dilemma: An argument-based account to paradoxes of judgment aggregation. Synthese, 152(2), 285–298. https://doi.org/10.1007/s11229-006-9063-7

Evolusi Memetis Agama

0
paganism

Dalam tulisan “Penjangkitan Pikiran dan Konsep yang (Sengaja) Diadakan”, Tuhan saya bingkai sebagai ide yang bekerja menyerupai virus: untuk bertahan, ia harus menyebar. Ia tidak cukup sekadar diwariskan secara pasif dari generasi ke generasi, tapi aktif menjangkit dari satu inang ke inang lain, mengembangkan strategi penyebaran dan terus bermutasi seirama dengan perkembangan zaman. Dengan kerangka yang sama, pembahasan kini bukan lagi sekadar bagaimana konsep Tuhan bertahan, tapi bergeser pada pertanyaan lain: bagaimana dan mengapa tradisi keyakinan kuno—yang kerap disebut pagan—tetap bisa bertahan serta mewujud dalam lanskap religius kontemporer yang telah didominasi agama-agama besar? Sebagaimana mengapa, jejak-jejak animisme, politeisme lokal, pemujaan roh leluhur, serta beragam ritus berbasis kosmologi kuno yang kerap dianggap sebagai residu masa silam ini masi dapat ditemukan dan bahkan hidup berdampingan dengan teologi monoteistik, seperti tradisi Abrahamik (Yahudi, Kristiani, Islam) maupun Hindu?

Jika dilihat dari kacamata evolusioner yang linier, sebagaimana dipahami dalam teori evolusi biologis, hal ini tampak ganjil: yang usang semestinya tergantikan, yang tersisih semestinya lenyap. Tetapi asumsi itu justru perlu dipersoalkan, alih-alih menghilang, residu-residu itu bertahan, meski dalam rupa yang berbeda. Di sini saya mengajukan sudut pandang lain—sebut saja secara provokatif, memetika agama—sebuah pendekatan untuk membaca keberlangsungan tradisi-tradisi tersebut, dengan segala risiko perdebatan yang melekat pada istilah itu.

Memetika Agama

Istilah “memetika agama” saya gunakan untuk merujuk pada kerangka evolusioner di ranah gagasan: bagaimana sebuah konsep dan sistem kepercayaan berkembang, menyebar, dan bertahan. Pembicaraan ini sepenuhnya berada pada level memetis, bukan biologis; ia dibatasi pada perkembangan budaya dan keagamaan. Sebagaimana organisme bertahan melalui adaptasi terhadap lingkungannya, demikian pula sistem kepercayaan dan praktik ritual hanya dapat terus hidup jika mampu menyesuaikan diri dengan ekosistem budaya yang senantiasa berubah. Bila tidak, ia akan tersingkir oleh ide-ide lain yang lebih adaptif. Di titik ini, konsep meme dari Richard Dawkins menyediakan jangkar epistemik untuk memahami mengapa dan bagaimana ide-ide keagamaan dapat bertahan, berubah, atau pun punah.

Secara ringkas, Dawkins menjelaskan meme sebagai unit informasi yang bereplikasi dari satu inang ke inang lain melalui imitasi dan transmisi, dengan prinsip yang analog terhadap gen dalam biologi. Dalam kerangka ini, gagasan tentang Tuhan, surga-neraka, mitos, dan doktrin bukan sekadar hasil rasionalitas atau pengalaman spiritual, melainkan entitas informasi yang “hidup” dengan memanfaatkan pikiran manusia sebagai medium reproduksi—mereplikasi, menjangkit, bahkan membajak demi keberlangsungannya. Meme agama, dengan demikian, dapat dipahami sebagai semacam “virus” yang menyebar sejauh ia mampu menginfeksi dan bertahan dalam struktur budaya. [1] Gagasan serupa diperdalam oleh Richard Brodie, yang mengajukan bila sebagian struktur kepercayaan dapat dipahami sebagai virus pikiran. [4] Misalnya, konsep surga-neraka dapat dipahami bukan semata sebagai janji atau ancaman atas yang transenden, tapi sebagai mekanisme yang memperkuat daya replikasi dari agama itu sendiri. Jika ancaman dan janji tersebut efektif membuat orang bertahan dalam sistem kepercayaan dan menyebarkannya, maka secara memetis ia berhasil lolos dari seleksi kultural. Sebab itu, keberhasilan meme agama tidak selalu berkaitan langsung dengan kebenarannya, melainkan efektivitasnya dalam mereplikasi diri. Bahkan, di era modern, pola transmisinya pun bergeser: dari yang semula vertikal (orang tua ke anak) menjadi semakin horizontal dan masif melalui internet dan media sosial.

Tentu saja, tidak semua meme mampu bertahan. Dalam ruang yang kompetitif, hanya yang adaptif yang lolos dari seleksi; melalui modifikasi, perubahan bentuk, atau berasosiasi dengan meme lain. Susan Blackmore menyebut konfigurasi ini sebagai memeplex: gugus meme yang saling menopang demi keberlangsungan replikasi sebagai satu kesatuan. [2] Dengan demikian, agama-agama besar dapat dipahami bukan semata entitas spiritual, melainkan mesin memetis yang efisien. Ia ditopang tradisi, larangan, dogma, dan ritual yang saling menguatkan. Pertanyaannya, jika agama-agama dominan berfungsi sebagai mesin replikasi yang kuat, bagaimana mungkin fragmen tradisi pagan yang lebih tua tetap bertahan dan bahkan menyusup ke dalam struktur yang sama?

Dalam kerangka “memetika agama”, sebagaimana saya konsepsikan, tradisi-tradisi pagan tidak lagi eksis dalam bentuk aslinya, melainkan berulang kali menjadi bagian dari formasi baru melalui adaptasi dan asimilasi. Itu bukan kegagalan, melainkan konsekuensi seleksi dalam lingkungan yang tak lagi menopang akar awalnya. Alih-alih melawan agama dominan, ia menyusup, berkompromi, bahkan mendefinisikan ulang dirinya agar tetap relevan. Dawkins menyebut strategi ini sebagai “menumpang” pada memeplex yang lebih besar demi keberlangsungan replikasi. [3]

Contohnya tampak pada sejumlah hari raya Kristiani yang berakar pada perayaan pagan Eropa kuno: Yule—perayaan musim dingin—yang berkelindan dengan Natal, Imbolc—perayaan dewi kesuburan—yang kerap diasosiasikan dengan “Pesta kelahiran Santa Perawan Maria”, serta Samhain—perayaan batas antara hidup (musim panas) dan mati (musim dingin)—yang beresonansi dengan “Hari Raya Semua Orang Kudus”. Ini adalah bentuk simbiosis memetis: fragmen pagan bertahan dengan menyamar sebagai bagian dari struktur yang lebih besar, sejauh tidak menimbulkan gesekan serius dengan otoritas dan kanon agama dominan.

Melalui kerangka ini, yang dipertaruhkan bukan soal kebenaran, melainkan efektivitas replikasi: sejauh mana suatu gagasan mampu membuat orang percaya dan bersedia menyebarkannya. Tradisi-tradisi pagan yang bertahan dalam tubuh agama besar cenderung mengadopsi bentuk yang tidak berkonfrontasi langsung dengan dogma utama; ia menjadi pasif, bukan subversif. Upaya sabotase justru mengancam keberlangsungannya di dalam “inang”. Karena itu, ia memilih berfungsi sebagai lapisan penebal melalui simbol, ritus, dan narasi yang memperkaya, bukan menyaingi, struktur dominan. Dengan cara ini, fragmen tradisi tersebut bisa diterima, direplikasi, dan diwariskan, baik kepada generasi berikut maupun kepada mereka yang berpindah keyakinan.

Keberhasilan Memetis

Dalam Virus of the Mind (2009), Brodie berargumen bahwa agama-agama besar berkembang bukan terutama kebenaran ajarannya, melainkan karena keberhasilan memetis unsur-unsur pagan yang memperkaya simbol, ritus, dan narasi mereka, sehingga daya jangkau serta daya jangkitnya meluas. [4] Karena itu, tradisi pagan yang hendak bertahan tidak dapat hanya mengandalkan otentisitas historis, tapi harus meniru logika memetis: beradaptasi dan berasimilasi. Dalam biologi, organisme yang mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan; begitu halnya dunia ide dan kepercayaan, sistem yang lentur akan lebih tahan terhadap tekanan kompetisi. Sebaliknya, tradisi yang menolak menyesuaikan diri berisiko ditinggalkan generasi baru dan lenyap dari memori kolektif; kerap dengan label tidak suci, menyimpang, atau berbahaya dalam kerangka kemurnian agama dominan.

Pelabelan semacam itu merupakan bagian dari mekanisme pertahanan meme agama mapan terhadap ancaman kompetitor. Konflik antaragama, pelarangan praktik leluhur, atau stigmatisasi kepercayaan lokal dapat dibaca sebagai strategi imunisasi memetis untuk menjaga dominasi dan koherensi internal. Dengan demikian, tindakan-tindakan tersebut bukan semata ekspresi komitmen iman, melainkan mekanisme bertahan dalam kompetisi ide. Setiap memeplex yang telah dominan cenderung membatasi penetrasi gagasan luar demi mempertahankan integritas dan kapasitas replikasinya; resistensi terhadap ide eksternal pun perlahan dilembagakan sebagai bagian dari kesalehan itu sendiri.

Dalam kerangka ini, konflik tidak lagi dibaca sebagai benturan teologis tentang kebenaran, apalagi yang absolut, melainkan sebagai kompetisi memetis untuk merebut ruang kognitif dan pengakuan sosial. Setiap individu berfungsi sebagai medium replikasi; setiap komunitas sebagai habitat budaya. Maka, ketika agama-agama Abrahamik melarang praktik pagan atau ritus leluhur tertentu, larangan itu bukan semata konsekuensi doktrin monoteistik terhadap politeisme, tapi juga strategi membatasi sirkulasi meme pesaing yang berpotensi menumbuhkan loyalitas ganda dalam tubuh inangnya. Loyalitas ganda berbahaya bagi memeplex dominan karena membuka kemungkinan mutasi yang tak terkendali, mengganggu koherensi internal serta stabilitas daya replikasinya.

Karena itu, stigma negatif terhadap praktik pagan atau kepercayaan lokal biasanya dilekatkan pada bentuk-bentuk yang dianggap mengancam. Dengan label “primitif”, “tidak suci”, atau “menyimpang”, memeplex dominan membangun narasi superioritas untuk menguatkan identitas internalnya. Tentu ini bukan anomali moral, melainkan konsekuensi seleksi alam memetis. Dalam konteks agama besar, setiap upaya pelabelan negatif terhadap praktik pagan atau kepercayaan lokal dibaca sebagai respons imunologis terhadap ancaman yang menganggu integritas memeplex mereka. Bagi tradisi pagan atau lokal, pilihannya menyempit: punah atau terserap ke dalam struktur yang lebih besar melalui subordinasi. Tradisi yang menolak beradaptasi atau menutup diri terhadap perubahan menghadapi ancaman nyata ditinggalkan oleh generasi baru, bahkan berpotensi menghilang dari memori kolektif.

Tetapi ada mekanisme imunisasi yang membuat proses ini menjadi tidak mudah. Generasi baru ditanamkan doktrin yang membatasi deviasi; misalnya ajaran bahwa meninggalkan iman adalah dosa besar, pengkhianatan terhadap keluarga atau Tuhan, dengan konsekuensi ketidakselamatan atau pun hukuman kekal. Doktrin semacam itu berfungsi sebagai pengunci: mempersempit ruang kemungkinan mutasi memetis yang dianggap berisiko, sekaligus menjaga stabilitas dan kesinambungan memeplex dominan.

Tentu saja, pola imunisasi itu tidak pernah absolut. Seperti terlihat pada Yule, Imbolc, dan Samhain, unsur-unsur pagan tidak berhenti sebagai relik masa silam. Alih-alih punah, ia mencari celah kompromi, dengan menyesuaikan dan mendefinisikan ulang dirinya agar dapat terserap ke dalam agama besar. Di sisi lain, agama dominan melihat pelunakan ini sebagai peluang: memperkaya memeplex-nya sekaligus memperluas daya jangkau pengaruhnya.

Di sinilah paradoksnya. Memeplex dominan berupaya menjaga batas kemurnian, tapi demi keberlangsungan jangka panjang kadang harus berkompromi dengan unsur yang sebelumnya asing. Respons keras muncul terhadap meme yang dianggap mengancam inti doktrin; sebaliknya, penerimaan terjadi dan dirayakan sebagai bagian dari tradisi ketika unsur tersebut justru memperkuat legitimasi dan stabilitas internal. Dalam hal ini, kebertahanan tidak diperoleh hanya melalui penolakan, melainkan juga melalui seleksi dan asimilasi terukur; menerima yang kompatibel tanpa merusak inti memeplex-nya.

Demikianlah, dalam kerangka “memetika agama”, konflik serta pelabelan terhadap praktik pagan atau lokal tidak lagi dipahami semata sebagai anomali atau intoleransi, melainkan sebagai gejala evolusi memetis. Gagasan keagamaan hidup dalam ekosistem kompetitif: ia membangun mekanisme pertahanan, menegaskan batas identitas, serta menyingkirkan atau menetralkan pesaing. Seperti organisme, ia berjuang mempertahankan ruang hidupnya. Karena itu, yang bertahan bukan selalu yang paling benar, melainkan yang paling efektif menjaga replikasi dan koherensi internalnya dari ancaman fragmentasi dalam lanskap religius yang terus berubah.

Sisa-sisa paganisme bertahan bukan sebagai mukjizat pelestarian, melainkan sebagai hasil tekanan seleksi dari lingkungan agama besar. Dalam dunia di mana agama berfungsi sebagai sistem simbol, ia tidak selalu menantang secara frontal, tapi menjangkit, menyusup, dan memberi warna pada tubuh tradisi dominan. Seperti virus yang bermutasi agar tetap menular, ia hidup dalam ruang kompromi: pada altar gereja, dalam doa berbahasa lokal, pada arsitektur lama, serta dalam kisah-kisah tentang masa silam yang terus dipelihara. Karena itu, lanskap keagamaan kini tidak lagi menampilkan pertarungan terbuka antara pagan dan agama besar; hanya yang masih tersisa (lestari) justru menandakan keberhasilan adaptasi, agar tetap hidup di tengah zaman yang tak pernah berhenti bergerak.

Referensi

Blackmore, Susan J. The Meme Machine. Oxford University Press, 1999.

Brodie, Richard. Virus of the Mind: The New Science of the Meme. Hay House, 2009.

Dawkins, Richard. The Selfish Gene. 30th Anniversary Ed. Oxford University Press, 2006.

Lynch, Aaron. Thought Contagion: How Belief Spreads Through Society. Repr. BasicBooks, 1997.

McGrath, Alister E. Dawkins’ God: From The Selfish Gene to the God Delusion. Second edition. Wiley Blackwell, 2015.

Nurcahyo, Fajar. “Penjangkitan Pikiran dan Konsep yang (Sengaja) Diadakan.” LSF Cogito, 27 November 2017. https://lsfcogito.com/penjangkitan-pikiran-dan-konsep-yang-sengaja-diadakan/.


[1] Lih. McGrath, Dawkins’ God, hal. 126.

[2] Lih. Blackmore, The Meme Machine, hal. 22.

[3] Lih. Dawkins, The Selfish Gene, hal. 198-199.

[4] Lih. Brodie, Virus of the Mind, hal. 186-190.

Mengadili Kembali Object-Oriented Ontology

0
timbangan
Illustration by Reé

Perdebatan tentang Object-Oriented Ontology (OOO) dan flat ontology tidak seharusnya dipahami sebagai soal selera intelektual. Taruhannya lebih mendasar, yakni bagaimana menentukan batas rasional bagi komitmen ontologis. Kapan sebuah ontologi memang memerlukan kekayaan entitas untuk menjelaskan fenomena, dan kapan ia berubah menjadi penambahan daftar yang tidak produktif? Ukuran yang relevan di sini bukan jumlah entitas, melainkan koherensi dan daya penjelasnya. Bertolak dari situ, dua sikap ekstrem sama-sama bermasalah: ontologi yang menumpuk entitas tanpa fungsi penjelasan, dan ontologi yang terlalu disederhanakan hingga miskin sumber konseptual.

Dalam konteks Indonesia, perdebatan semacam ini kerap terjebak dalam dua sikap ekstrem: mengagungkan konsep kontinental sebagai penanda kecanggihan atau menolaknya sebagai pseudosains. Tulisan ini berusaha menghindari keduanya. Saya tidak menulis sebagai penganut OOO, melainkan memperlakukan OOO sebagai seperangkat alat analitis yang berguna untuk membaca realitas non-manusia, teknologi, dan ekologi—sekaligus terbuka terhadap kritik. Saya juga mengakui pentingnya disiplin Quine mengenai komitmen ontologis agar metafisika tidak kehilangan standar rasional. Namun, ketika dijadikan satu-satunya horizon, pendekatan tersebut berisiko terlalu membatasi, dan pada titik inilah tradisi kontinental kerap menyediakan sumber konseptual yang tidak dapat digantikan oleh penghematan inventaris semata.

Dalam dua tulisannya, Risalatul Hukmi mengajukan peringatan metodologis yang patut dipertimbangkan. Intinya, OOO dicurigai mewarisi kemurahan ontologis ala Meinong, sehingga apa pun yang dapat dipikirkan atau dinamai otomatis diperlakukan sebagai entitas. Konsekuensinya, daftar entitas membengkak tanpa kontribusi eksplanatoris yang jelas. OOO juga dianggap gagal melampaui problem Kantian: jika realitas “pada dirinya” tidak terakses, maka konsep withdrawal (objek menarik diri) tampak hanya mengulang kutukan itu—bahkan dengan versi yang lebih buruk. Selain itu, perangkat seperti quadruple object dan klaim kausalitas OOO kerap tampak retoris, sukar diuji, dan karenanya perlu dibatasi oleh prinsip parsimoni. Dalam hal ini, saya sepakat pada tuntutan “tanggung jawab metafisik”, namun tidak dengan kesimpulan bahwa OOO gagal memenuhinya.

Persis dalam konteks inilah saya akan mengajukan tesis tanggapan. Keberatan Hukmi tepat sebagai peringatan, karena ia menekankan bahwa “kaya ontologi” tidak otomatis berarti “kaya penjelasan.” Namun, ia keliru sebagai diagnosis terhadap OOO setidaknya karena dua hal. Pertama, analogi Meinong itu paralel OOO terlalu terburu-buru. Sebab, OOO tidak beroperasi dengan prinsip “setiap deskripsi melahirkan objek”, dan banyak yang tampak seperti “inflasi entitas” sebenarnya adalah cara OOO menata ulang perbedaan antara jenis-jenis keberadaan dengan cara-cara hadirnya sesuatu. Kedua, parsimoni yang digunakan untuk menilai OOO perlu dibaca sebagai efisiensi penjelasan, bukan sekadar pengurangan inventaris. Apabila yang kita ukur hanya jumlah entitas, kita bisa menyelesaikan diskusi dengan cara paling mudah: menyatakan dunia ini miskin.

Namun, dunia—sayangnya bagi para pecinta kesederhanaan—sering tidak kooperatif dengan sikap tersebut. Berdasarkan itu, saya akan mengembangkan dua argumen: (1) menunjukkan apa bedanya OOO dari kemurahan Meinongian, dan (2) menunjukkan kegunaan OOO sebagai tata bahasa metafisik untuk agensi non-manusia, mediasi kausal, dan skala ekologis yang tidak ramah terhadap intuisi reduksionistik manusia.

Parsimoni dan Komitmen Ontologis

Agar diskusi ini tidak jatuh menjadi moralizing (mubazir!), kita perlu menggeser medannya ke persoalan metodologi. Prinsip Quine tentang komitmen ontologis memang sangat membantu: pertanyaan “apa yang harus ada agar teori benar?” adalah pertanyaan yang sehat karena memaksa metafisika menunjukkan kartu-kartu rasionalnya. Akan tetapi, prinsip demikian sering disalahpahami sebagai etika asketis, seakan-akan metafisika yang baik adalah metafisika yang hidup hemat dan makan sedikit entitas. Padahal, apa yang dituntut Quine bukan puasa ontologis, melainkan alasan teoretis, yaitu entitas apa yang diperlukan agar sebuah teori bekerja dalam menjelaskan fenomena.

Sampai di sini, saya perlu mengingatkan pentingnya membedakan dua hal: membahas sesuatu (secara semantik, naratif, atau pragmatik) tidak sama dengan berkomitmen pada keberadaannya dalam ontologi. Quine sangat berguna dalam proyek regimentasi bahasa ilmiah, namun ia tidak otomatis menjadi hakim tunggal untuk seluruh metafisika, terutama ketika objek perdebatan mencakup artefak, institusi, teknologi, estetika, dan pengalaman ekologis yang nyata secara kausal meski tidak selalu pas dengan model bahasa ilmiah yang disterilkan.

Pada titik ini, saya kira kita perlu merapikan istilah parsimoni itu sendiri, karena ia sering dipakai seperti palu godam untuk semua paku. Ada parsimoni numerik: sedikit entitas lebih baik daripada banyak entitas. Ini berguna sebagai rem terhadap mitologi—tetapi bisa menjadi dangkal bila dijadikan satu-satunya standar filosofis. Ada juga parsimoni teoretis: sedikit prinsip dasar, jangkauan penjelasan luas, dan minim tambalan ad hoc. Kerap kali, teori yang tampak “gemuk” secara ontologi justru hemat secara prinsip; sebaliknya, teori yang tampak “kurus” bisa menyelundupkan banyak asumsi terselubung. Dengan demikian, debat ini akan buntu ketika parsimoni dipersempit menjadi slogan “sedikit entitas sama dengan lebih rasional”. Menurut saya, apa yang lebih relevan adalah rasio beban komitmen terhadap daya eksplanatif. Teori boleh kompleks bila kompleksitas itu bekerja. Itu artinya, yang mubazir bukanlah kekayaan, melainkan surplus yang tidak melakukan pekerjaan penjelasan apa pun.

Mengapa Meinong tidak sama dengan OOO?

Meinong bergerak dari describability menuju “objek”: ketika sesuatu bisa dipikirkan atau dideskripsikan, maka—kurang lebih—ada “sesuatu” yang menjadi objeknya. OOO, setidaknya dalam formulasi yang paling serius, bergerak dari arah yang berlawanan, yaitu dari kosmos menuju tata bahasa yang lebih jujur, bukan sebaliknya. Objek tidak lahir karena kita punya kata benda atau karena kalimat kita membutuhkan subjek. Kontras dengan itu, objek ditandai oleh ketahanan dan kesatuan—ia adalah unit yang tidak habis oleh relasi. Sehubungan dengan ini, rumus praktis Harman saya kira akan cukup membantu, bahwa sebuah objek lebih dari bagian-bagiannya dan kurang dari total efeknya. Dengan kata lain, OOO tidak mengajak kita mengadakan “bonus entitas” demi kenyamanan gramatika. Sebaliknya, ia justru curiga pada kebiasaan reifikasi semantik itu.

Di titik inilah kekhawatiran Russell tentang kontradiksi sering diseret masuk dengan cara yang terlalu serampangan: “apabila anda mengakui objek apa pun, berarti kalian juga harus mengakui persegi bundar, dan itu intolerable.” Tapi, OOO tidak harus bermain di papan yang sama dengan Meinong. Dalam OOO, ada pembedaan penting—meski bentuknya bervariasi antar para penggagasnya—antara objek sebagai artefak representasi (yang hidup di ranah intensi, bahasa, narasi, atau konsep) dan objek-riil yang punya koherensi kausal. “Persegi bundar” bisa hidup dengan damai sebagai konstruksi dalam sistem representasi—sebagai teka-teki logika, gambar absurd, atau lelucon metafisika—tanpa harus naik pangkat menjadi real object yang berdiri dengan daya kausal mandiri di alam. Kontradiksi tetaplah kontradiksi. Sementara itu, apa yang kita jelaskan adalah di mana kontradiksi itu beroperasi, yakni di dalam mekanisme representasi kita, bukan sebagai entitas riil yang mengacak-acak hukum non-kontradiksi dari dalam.

Hal yang sama juga berlaku untuk fiksi, tetapi dengan keuntungan tambahan: fiksi tidak hanya merupakan permainan bahasa—ia punya efek, dan efek itu nyata. Kita tidak perlu mengakui Sherlock Holmes sebagai entitas subsisten ala Meinong agar kalimat-kalimat tentang Holmes bermakna. OOO sanggup membaca Holmes sebagai objek-sensual yang stabil dalam praktik interpretasi—figur yang “hadir” dalam pengalaman membaca, diskusi, dan imajinasi kolektif. Pada saat yang sama, OOO juga bisa menunjuk objek yang lebih keras dan kausal: korpus teks Conan Doyle, institusi penerbitan, tradisi kritik sastra, adaptasi film, bahkan algoritma rekomendasi yang membuat Holmes muncul di beranda kita. Semuanya merupakan artefak budaya yang jelas bekerja di dunia nyata. Jadi, makna dan efek fiksi bisa dijelaskan tanpa perlu menambah “makhluk metafisik baru.” Dalam ungkapan lain, apa yang ditambahkan OOO bukan populasi entitas gaib, melainkan ketelitian dalam menamai apa yang sebenarnya sudah beroperasi.

Pada titik ini, sering muncul salah paham yang kedua: “ontologi datar berarti semua setara dalam nilai, daya, atau skala.” Kesalahpahaman itu lantas mengubah ontologu menjadi pamflet moral, lalu menghukum OOO karena tidak memenuhi pamflet itu. Padahal “datar” di sini bukan klaim etis bahwa batu harus dipilih jadi Gubernur, atau bahwa tuyul harus diberi hak suara (kendatipun imajinasi tentang ini menghibur). “Datar” berarti sesuatu yang lebih teknis, yaitu menolak privilese ontologis a priori bagi manusia sebagai pusat realitas (subject oriented ontology). Setelah privilese itu dipangkas, perbedaan justru bisa dibahas secara lebih jernih: ada objek yang rapuh dan sebentar, ada yang tahan lama dan menyebar; ada yang daya kausalnya besar, ada yang kecil; ada yang bisa dihancurkan dengan palu, ada yang perlu kebijakan global. Status ontologis tidak sama dengan bobot normatif. Hemat kata, OOO memotong antroposentrisme, bukan memotong evaluasi epistemik.

Apabila hutan liar Meinongian lahir dari reifikasi deskripsi—bahwa setiap bentuk kebahasaan otomatis melahirkan entitas—maka OOO justru berusaha menahan reifikasi semacam itu. Ia tidak mengundang semua kata benda ke dalam party ontologi. Kontrasn dengan itu, ia justru mengingatkan bahwa yang kita sebut “objek” mesti dipahami sebagai sesuatu yang tidak habis oleh reduksi dan tidak habis oleh relasi. Jadi OOO bukan ontologi kemurahan hati yang sentimental, melainkan ontologi “ketakterhabisan” dan “mediasi”; suatu ontologi yang mengakui bahwa dunia penuh entitas yang berinteraksi tanpa pernah saling menelanjangi esensinya. Dan, di sini kita tiba pada isu Immanuel Kant: apakah “ketakterhabisan” itu hanya cara lain untuk berkata “kita tidak bisa mengakses yang an-sich”?

Kant, Korelasionisme, dan Withdrawal

Salah satu poin terpenting dari proyek kritik Kant adalah menguji batas-batas pengetahuan bagi subjek manusia. Baginya, kita hanya dapat mengenal fenomena, bukan noumena. Sementara itu, dunia “pada dirinya” (das ding an sich) berada di luar jangkauan struktur epistemik kita. OOO menggeser pusat demikian dengan langkah yang, ironisnya, lebih anti-antroposentris: ketakterjangkauan tidak terbatas pada nasib manusia semata, melainkan struktur relasi dunia. Setiap relasi—bukan hanya relasi manusia dengan benda, tetapi juga relasi benda dengan benda—selalu parsial. Oleh karenanya, OOO berkata “realitas tidak pernah habis diketahui—oleh siapa pun, termasuk oleh objek lain.” Di sini, saya ingin mengeksplisitkan bahwa withdrawal adalah pembalikan fokus, bukan pengulangan terhadap Kant. Maksudnya, apa yang menjadi pusat adalah “ketakterhabisan objek”, bukan “batas kita”. Itulah sebabnya mengapa OOO merasa berhak berbicara tentang dunia tanpa harus selalu mengawalinya dari tribunal subjek.

Taruhan metafisik dari withdrawal adalah dua penolakan sekaligus. Pertama, penolakan reduksionisme, bahwa objek tidak identik dengan bagian-bagiannya, entah bagian itu atom fisik, fitur fungsional, atau variabel ilmiah. Kedua, penolakan relasionalisme total, bahwa objek tidak identik dengan total efeknya, total relasinya, atau total cara ia tampak dalam jaringan. Rumus “lebih dari bagian, kurang dari total efek” kembali bekerja di sini. Dalam konteks itu, ide kausalitas yang termediasi—yang sering disindir “tak teruji”—sebetulnya muncul sebagai deskripsi umum. Bahwa,  sebab-akibat di dunia hampir selalu bekerja lewat medium, lewat perantara, lewat terjemahan. Api tidak menyentuh kayu sebagai esensi telanjang; ia bekerja melalui suhu, kelembapan, struktur serat, aliran oksigen—dan seterusnya. Kalau itu “tak teruji”, maka yang tak teruji adalah kenyataan sehari-hari kita sendiri. Pendek kata, apa yang dipersoalkan semestinya terkait bagaimana mediasi itu dipahami tanpa jatuh ke mitologi atau ke reduksi.

Dari Akrobatik ke Tata Bahasa Metafisik

Bertolak dari eksposisi di atas, tuduhan Hukmi bahwa OOO itu “akrobatik” perlu diuji melalui output penjelasan. Mari kita ambil contoh awal Harman melalui Heidegger, yakni tool-being. Benda dan sistem teknis itu paling menentukan justru ketika ia tidak hadir sebagai objek kontemplasi; ia surut dalam praktik. Palu yang bekerja menghilang dalam tangan; jalan tol yang lancar menghilang dalam rutinitas; birokrasi yang “normal” menghilang dalam prosedur; platform digital yang stabil menghilang dalam kebiasaan scroll. Ia muncul sebagai “objek” justru ketika macet: saat palu patah, jalan banjir, server down, atau aturan berubah dan kita baru sadar kita selama ini hidup di dalam sistem. Poin krusial yang mesti saya tegaskan adalah bahwa premis ini bukanlah pernyataan mistik. Sebaliknya, ia merupakan fenomenologi yang diberi bobot ontologis, di mana terdapat mode keberadaan yang tidak setara dengan “hadir di depan mata sebagai daftar sifat.” Dari sini pula, kita mengerti mengapa banyak struktur paling berkuasa justru beroperasi sebagai latar yang tidak kita sadari.

Levi Bryant menambah satu perangkat yang membuat OOO lebih dari sekadar slogan, yaitu pembedaan antara virtual proper being dan local manifestation. Sederhananya, objek memiliki kedalaman disposisional (struktur daya, potensi, cara-cara ia bisa bereaksi) yang tidak identik dengan, dan tidak terbatas dalam, manifestasi aktualnya di satu situasi. Karena itu, satu objek dapat menampilkan sifat yang berbeda lintas konteks tanpa harus larut menjadi sekadar efek relasi. Penegasan ini memberi kita objektivitas tanpa esensi beku, bahwa sesuatu itu stabil sekaligus adaptif. Secara ilmiah, ia sejalan dengan cara kita memahami sistem kompleks (dari bahan kimia sampai organisme): perilaku aktual tergantung kondisi, tetapi ketergantungan itu tidak membuat entitas menjadi ilusi. Secara sosial-teknologis pun sama: institusi “yang sama” bisa memproduksi manifestasi berbeda ketika regulasi, teknologi, atau insentif berubah—tanpa harus kita simpulkan bahwa institusi itu hanya nama kosong.

Selanjutnya, Morton datang dengan uji stres ekologis yang membuat banyak ontologi tradisional tampak seperti peta kota untuk membaca samudra, melalui konsep hyperobjects. Pemanasan global, plastik, radiasi nuklir, bahkan kapitalisme fosil sama sekali bukanlah benda yang bisa kita pegang sebagai satu unit lokal; ia nonlokal, lengket, dan berdurasi ganjil—hadir sebagai jejak yang tersebar dalam ruang-waktu. Morton menyebut ciri-cirinya sebagai viscosity, nonlocality, temporal undulation, phasing, interobjectivity. Pada intinya, objek-objek ini membunuh kenyamanan konsep “Nature” sebagai latar yang rapi, dan memaksa kita mengakui agensi non-manusia pada skala yang tidak ramah bagi intuisi kita. Tatkala ontologi dibatasi pada kuantifikasi “apa yang ada” ala katalog, kita akan terus terjebak pada pertanyaan yang terlalu kecil untuk objek yang terlalu besar. OOO (dan ekstensinya pada hyperobjects) memberi kosakata untuk mengatakan bahwa kitalah yang kekurangan ontologi yang memadai untuk skala dan mediasi yang sedang kita hidupi.

Catatan Penutup

Saya harus mengakui bahwa OOO memang tampak “gemuk” bila ukuran yang dipakai adalah timbangan sensus: berapa banyak objek yang berhasil kita daftarkan, dari planet sampai playlist, dari bakteri sampai “tim sepak bola” (yang entah bagaimana bisa lebih real daripada sebagian debat di Twitter). Namun, “gemuk” di sini bisa menipu karena yang perlu dinilai itu efisiensi prinsip, bukan jumlah entitas. Beberapa tesis dasar—withdrawal, mediasi kausal, anti-reduksi—membuka cara membaca lintas teknologi, seni, dan ekologi tanpa menambah entitas ad hoc untuk menambal lubang bukti. Tentu saja, hal tersebut berada di kelas yang berbeda dengan penjelasan “bangunan roboh karena jin marah” atau “karena Tuhan menghendaki”—yang memasukkan agen gaib justru untuk mematikan penyelidikan. OOO tidak mengajukan jin baru; ia menawarkan kerangka untuk memahami entitas yang sudah kita hadapi sehari-hari, tetapi selama ini kita perlakukan sebagai latar. Parsimoni yang sehat, bagi saya, adalah yang menolak surplus yang tidak bekerja, bukan yang menolak kompleksitas.

Hal penting yang harus saya eksplisitkan di sini adalah bahwa membela reliabilitas OOO bukan berarti menutup mata dan lalu bergabung dalam ordo rahasia para pemuja palu, meja, dan withdrawal. OOO punya risiko internal yang nyata. Pertama, ia kadang tergoda menjadikan metafor sebagai tesis: “menarik diri”, “gelap”, “berkedip”. Saya sadar bahwa bahasa semacam ini memang produktif. Betapapun demikian, ia tidak boleh menggantikan struktur inferensial yang ketat. Di sini, kita perlu distingsi yang jelas dan tegas terhadap deskripsi fenomenologis (cara sesuatu tampak dalam pengalaman atau praktik) dari klaim metafisik (cara sesuatu ada, terlepas dari pengalaman). Kedua, withdrawal tidak boleh jadi sapu serbaguna: tidak semua problem filosofis selesai dengan kalimat “objek selalu menarik diri” seperti mantra penutup sidang. Dan karena Harman, Bryant, Morton punya aksen berbeda, saya ingin kita semua bersikap jujur untuk memperlakukan OOO sebagai keluarga alat—bukan “teori final segala-galanya” yang kebal revisi.

Sampai di sini, dua hal tampaknya sudah cukup jelas. Pertama, OOO bukan Meinongianisme versi baru yang memproduksi entitas dari gramatika; ia justru curiga pada reifikasi semantik dan lebih tertarik pada ketahanan objek yang tidak akan pernah habis oleh reduksi maupun relasi. Kedua, OOO tidak mengulang Kant dalam mode baru, mengingat bahwa “yang tak habis” bukan hanya batas epistemik manusia, melainkan struktur relasional dunia—yang berlaku juga antar-objek. Dengan demikian, kritik yang menyamakan OOO dengan inflasi ontologis melewatkan inti taruhannya dalam mengembangkan realisme non-antroposentris dengan perangkat penjelasan tentang mediasi, skala, dan agensi non-manusia. Apabila OOO terkadang berlebihan, itu masalah yang dapat dikritik dari dalam—bukan alasan untuk membuang seluruh proyeknya sebagai mubazir.

Di sisi lain, saya juga tidak ingin “mengalahkan” Quine dengan cara mengusirnya dari ruangan. Quine memberi disiplin yang sangat dibutuhkan: komitmen ontologis harus punya alasan teoretis, bukan karena kita jatuh cinta pada kata benda. Akan tetapi, ketika Quine dijadikan horizon tunggal, ia mudah mengeringkan pertanyaan-pertanyaan ontologis yang justru hidup dan dirayakan dalam tradisi kontinental: tentang mediasi, struktur pengalaman, cara benda-benda membentuk dunia sosial-teknis, dan—yang paling mendesak—krisis ekologis sebagai krisis skala.

Daftar Pustaka

Bryant, L. (2011). The Democracy of Objects. Open Humanities Press.

Harman, G. (2002). Tool-Being: Heidegger and the Metaphysics of Objects. Open Court.

Harman, G. (2011). The Quadruple Object. Zero Books.

Harman, G. (2017). Object-Oriented Ontology: A New Theory of Everything. Pelican Books.

Hukmi, R. (2025). Ontologi yang Mubazir dan Akrobatik. Antinomi. https://antinomi.org/ontologi-yang-mubazir-dan-akrobatik/

Hukmi, R. (2025). Soal Kesederhanaan Ontologis. Antinomi. https://antinomi.org/soal-kesederhanaan-ontologis/

Morton, T. (2011). Here Comes Everything: The Promise of Object-Oriented Ontology. Qui Parle, 19(2), 163–190. https://doi.org/10.5250/quiparle.19.2.0163

Morton, T. (2013). Hyperobjects: Philosophy and Ecology after the End of the World. University of Minnesota Press.

Mungkinkah Masalah Filsafat Terpecahkan?

1
Puzzle Photo by Giorgia Barabaschi on Unsplash
Photo by Giorgia Barabaschi on Unsplash

Perdebatan antara ontologi boros Meinong dan ontologi sederhana Quine yang terjadi belakangan ini di Antinomi merupakan gambaran kecil dari ketidaksepakatan akut yang amat gampang dijumpai dalam filsafat. Ketidaksepakatan akut berbeda dengan ketidaksepakatan biasa. Ketidaksepakatan akut tak pernah membawa orang-orang yang bersitegang di dalamnya ke mana-mana, di situ-situ saja. Karena itu, jika ditanya adakah jawaban yang benar atas persoalan filsafat, setidaknya setelah filsafat terbentang hampir tiga milenium, maka jawabannya tidak ada! Para filsuf masih sibuk bersitegang. Jawaban-jawaban itu masih dalam polemik panjang.

Ketidaksepakatan akut itu membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar ketimbang, misalnya, ikut tenggelam dalam kolam perdebatan Meinongian-Quineian, yakni apakah persoalan metafisika itu sendiri dapat dipecahkan? Lebih jauh lagi, apakah persoalan filosofis itu sendiri dapat dipecahkan? Ini disebut problem metafilosofis. Esai ini akan membabarkan beberapa jawaban yang telah disuguhkan oleh beberapa filsuf.

Van Inwagen (2009: 274) dalam bab terakhir Metaphysics menampilkan kecenderungan skeptisisme. Menurutnya, persoalan metafisika kemungkinan besar mustahil dipecahkan. Namun, dunia, yang merupakan objek persoalan metafisika, bukan pada dirinya sendiri (an sich) takterpahami, melainkan takterpahami oleh orang-orang yang berusaha memahaminya: kita! Klaim ini mudah diterima, meski argumen yang dihadirkan van Inwagen cukup retoris.

Rata-rata kadar kecerdasan intelektual (KI) negara maju 100 s.d 106 dan anggap ini rata-rata KI filsuf. Pertanyaannya mengapa kita yakin bahwa kadar demikian sanggup menyelesaikan persoalan metafisika? Cukup jelas kadar di bawah itu, seperti 50, 60, atau 70, kita dapat memastikan tidak akan sanggup. Mengapa kita tidak mematok 160, 200, atau lebih tinggi lagi? Sekali lagi cukup jelas kian tinggi kadar IK, maka kemungkinan untuk sanggup memecahkan makin naik.

Skeptisisme ini juga disampaikan oleh McGinn (1993: 150) di bab akhir bukunya Problems in Philosophy. Ia membuat istilah naturalisme transendental, pandangan bahwa ada “keterbatasan struktural” pada kecerdasan manusia yang membuatnya kesulitan berfilsafat; “nalar tidak didesain agar sensitif pada kebenaran filosofis.” Kesulitan dalam berfilsafat terjadi, karena kita memaksa pikiran mengerjakan sesuatu yang tak sanggup ia kerjakan. Ini sama seperti memaksa orang buta paham konsep warna atau manusia terbang.

Mengapa naturalisme transendental perlu diterima? Ia, kata McGinn (1993: 152), merupakan “posisi paling jelas dan alamiah.” Ia hadir sebagai perwujudan kondisi filsafat yang stagnan: terjadi perdebatan, ketakpastian, yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Filsafat telah berlangsung hampir tiga alaf tanpa ada satu kesepakatan besar tentang jawaban atas semua persoalan filsafat. Sementara itu, bidang pengetahuan lain, terutama sains, mengalami kemajuan pesat.

McGinn (1993: 151) mendasarkan naturalisme transendental pada, pertama, prinsip pemisahan tegas epistemologi dan ontologi, dan kedua, pandangan naturalistik tentang kecerdasan manusia. Karena keterbatasan saya perihal temuan negatif ilmiah atas kecerdasan manusia dan McGinn memang tidak mengutip temuan negatif ilmiah untuk meneguhkan klaimnya ini, jadi mari fokus pada bagian pertama belaka.

Lagi pula, bagi McGinn, bukti empiris apa pun yang dihadirkan akan selalu terbuka atas berbagai tafsiran dan karena itu tak meyakinkan. Bukti empiris juga bersifat partikular. Ia selalu berubah seiring waktu, seiring ditemukan piranti dan teori yang lebih memadai. Ia menuju cara pembuktian yang general. Di sinilah bagian pertama tadi berperan untuk meneguhkan naturalisme transendental.

Pemisahan tegas antara apa yang kita tahu tentang sesuatu sebagai satu hal (epistemologi) dan keberadaan sesuatu sendiri sebagai hal lain (ontologi) berdasarkan pada common sense global—kata global perlu ditambahkan lantaran common sense berarti sesuatu yang diyakini banyak orang yang ini kerap berbeda tergantung tempat, budaya, dan seterusnya. Baiklah, mari ikuti uraian berikut.

Bayangkan Anda punya koin yang ditaruh di sebuah tempat di kamar Anda yang tidak ada seorang pun tahu kecuali Anda. Akan tetapi, pada suatu hari ketika Anda sedang berusaha menyeberang jalan, mobil dengan kecepatan tinggi menubruk dan nafas terakhir Anda saat itu juga lunas. Sekarang tak ada seorang pun di dunia ini yang tahu keberadaan koin tersebut. Pertanyaannya, apakah lantaran tak ada seorang manusia pun di muka bumi yang mengetahui koin itu, maka ia menjadi tidak ada?

Jelas jawabannya koin itu tetap ada. Keberadaannya tak mensyaratkan keberadaan pengamat atau entitas selain koin yang mengetahuinya, bahkan tanpa ia sendiri menyadari dirinya sebagai sebuah koin. Bagaimana koin itu sebetulnya tak ada, tapi seluruh orang di bumi ini percaya bahwa Anda menyimpannya di tempat tersembunyi di kamar rumah Anda? Apakah koinnya, dengan begitu, menjadi ada? Jelas tidak. Prinsipnya sama seperti sebelumnya.

Dalam kasus metafisika, objeknya buka koin yang tampak kasat mata dan dapat digenggam, tapi objek dan struktur fundamental. Segala pengindraan tak berguna di hadapannya. Jadi, bagaimana dengan keberadaan bulatan persegi? Kita bisa bilang bahwa ia ada karena ia terdiri dari bagian-bagian yang dapat dibayangkan, yakni bulatan dan persegi. Kita bisa bilang sebaliknya bahwa ia tak ada, karena tidak mungkin sesuatu tanpa sudut sekaligus punya sudut, sama tidak masuk akalnya dengan sesuatu ada sekaligus tak ada.

Perdebatan ini tidak akan pernah khatam, karena pikiran (epistemologi) tidak sama dengan realitas (ontologi). Itu pertama. Kedua, kita tidak punya cara mengakses objek fundamental. Dengan begitu, sekalipun sebuah penjelasan konsisten, tampak begitu rasional, dapat dibuat tentang keberadaan objek, itu tidak menjamin ia benar-benar meringkuk dalam realitas. Sampai di sini dapat diamati prinsip pemisahan epistemologi-ontologi menjadi dasar kokoh bagi naturalisme transendental.

Apakah ini berarti akhir dari metafisika? Boleh jadi iya. Paling tidak, saya punya alasan kuat. Coba ikut eksperimen pikiran naga di garasi Sagan (2023). Saya mengajak Anda buat melihat naga di garasi saya. Anda mau. Di garasi, tak tampak sebatang hidung naga pun. “Di mana naganya?” sergah Anda. “Naganya jelas di hadapan kita, tapi ia tak kasatmata.” Anda pun melangkah maju dan meraba-raba dengan tangan terlentang ke depan.

Saya kemudian menambahkan bahwa selain tak kasat mata, sang naga juga tak berbentuk. Anda menaburkan tepung ke lantai. Saya menambahkan sang naga mengapung, tepatnya melayang, di udara. Anda mengambil sensor panas. Setidaknya suhu nafas api sang naga akan terlihat. Tapi, nafasnya tak panas. Intinya, setiap cara apa pun buat membuktikan keberadaan naga, selalu saja ada kondisi pada naga yang bikin cara itu mentah.

Bagaimana kita, tanya Sagan, membedakan naga yang tak kasat mata, tak berbentuk, tak terdeteksi sensor panas dengan ketiadaan naga sama sekali? Itulah yang terjadi ketika membuat klaim perihal objek metafisik: kita tak pernah bisa membedakan antara objek metafisik yang sungguh ada dan tak ada, atau jika mau dirinci lagi antara objek metafisik yang ada dan mungkin diketahui, yang ada tapi tak mungkin diketahui, dan yang sungguh tak ada. Bermetafisika berarti selalu berarti berada di perbatasan ada dan ketiadaan.

Karena kita tidak tahu mana yang ada dan tak ada di luar data fisik, maka menolak segala klaim metafisik secara tentatif sembari terbuka pada berbagai kemungkinan data fisik di masa depan adalah sikap paling rasional. Itulah yang disarankan Sagan ketika berhadapan dengan objek metafisik. Apakah yang di luar fisik tak ada? Tentu tidak. Ia amat mungkin ada. Tapi, sikap paling rasional yang dapat diambil ialah percaya pada hal-hal yang jelas ada, daripada mencoba bertaruh pada spekulasi.

Bagaimana dengan kasus bulatan persegi? Filsuf bisa berdalih bahwa ia ada (baca juga: being) karena terdiri dari bagian-bagian yang dapat dipikirkan, yakni bulat dan persegi. Filsuf menyangkal, sebab mustahil sesuatu bulat (tak punya sudut) sekaligus persegi (punya sudut). Ini sama mustahilnya sesuatu ada sekaligus tak ada atau panas sekaligus tak panas. Selama tak ada akses langsung terhadap objek fundamental, keduanya akan terus berkompetisi, beberapa dekade ke depan atau satu juta tahun lagi.

Meski tak ada cara mengakses langsung objek fundamental sehingga dapat memperoleh jawaban yang benar atas persoalan metafisika, kita tetap perlu bermetafisika. Namun, tujuannya bukan lagi pengejaran jawaban yang benar. Hal ini berlaku juga pada semua cabang filsafat lain sehingga pertanyaannya buat apa berfilsafat bila semua persoalan menolak untuk dipecahkan?

Russell (1998) di bagian penutup The Problems of Philosophy bergerak mencari tujuan lain dari berfilsafat selain untuk mendapatkan jawaban yang benar. Tujuan berfilsafat, baginya, adalah demi pertanyaan filsafat itu sendiri. Penyelidikan filosofis, meski tak berbuah hasil, masih memberikan guna begitu besar pada kehidupan; berfilsafat membuat orang terbuka pada berbagai kemungkinan, memperluas daya kreativitas, terhindar dari sikap dogmatik, dan menyatu dengan semesta—ini tampak aneh.

Sebagai penutup, kita memang tidak sanggup memecahkan persoalan metafisika, tapi bukan berarti harus berhenti. Selama ia punya kegunaan, bahkan sekadar memberikan kepuasan estetik seperti melukis, menyimak musik, atau membaca komik, maka masuk akal untuk terus melakukannya.


Daftar Rujukan

McGinn, C. (1993). Problems in Philosophy. Blackwell Publishers.

Russell, B. (1998). The Problems of Philosophy. Oxford University Press.

Sagan, C. (2023). The Demon-Haunted World: Sains Penenerang Kegelapan (D. T. W. Palar, Penerj.). Kepustakaan Populer Gramedia.

Van Inwagen, P. (2009). Metaphysics. Westview Press.

Sebuah Proposal untuk Kekacauan Ontologi

0
Messy books
Photo by Gustavo Alejandro Espinosa Reyes on Unsplash

Perjalanan kita sebelumnya menelusuri gurun Hukmi, oasis buatan Arkhano, hutan liar Khasri-Meinong, hingga omong kosong mistis OOO-Afif, akhirnya bermuara pada satu titik simpul puing-puing reruntuhan. Dari puing-puing reruntuhan itu, pada tulisan ini, kita akan melihat apakah kita bisa membangun sesuatu yang lain yang bukan sekadar kompromi jalan tengah.

Bagi saya, keempatnya berbagi satu kegagalan yang sama. Mereka semua gagal melihat hubungan yang tepat dan intuitif antara Bahasa, Pikiran, dan Realitas. Kegagalan ini bermanifestasi dalam bentuk yang berbeda-beda, namun akarnya tunggal: ketidakmampuan untuk menempatkan “Objek” pada koordinat yang tepat.

Hukmi (2025a & 2025b) melihat bahwa bahasa kita lebih luas daripada realitas fisik. Reaksinya adalah panik dan mencoba memangkas bahasa agar pas dengan ukuran realitas fisik yang sempit. Hasilnya adalah reduksionisme naif dengan embedding seenak sendiri: menjangkarkan makna begitu saja pada referensi fisik melalui operator yang arbitrer dan tidak jelas. Terlebih, sampai memaksa alam semesta untuk tunduk pada prinsip Parsimoni yang, apabila diperhatikan, tidak lebih dari preferensi estetis saja.

Khasri (2025) dengan Meinongnya melihat hal yang sama, tapi bereaksi sebaliknya. Karena bahasa bisa menyebut “Gunung Emas”, maka realitas harus diperluas untuk menampungnya. Hasilnya adalah inflasi tanpa batas. Ia menghancurkan batasan antara “mendefinisikan-menyebutkan” dan “mengadakan”. Akibatnya, peta realitas menjadi sama kacaunya dengan imajinasi, penuh dengan paradoks seperti “Gunung Emas yang Eksis”.

OOO-Afif (2025) mengambil langkah paling radikal. Ia memutus hubungan sama sekali. Objek “menarik diri” dari bahasa, dari pikiran, bahkan dari relasi dengan objek lain. Hasilnya adalah mistifikasi. Dengan menolak relasionalitas (yang dibuktikan oleh Yoneda Lemma), ia mengubah semua objek menjadi hantu yang tak terjangkau. Ini bukan penjelasan tentang realitas, melainkan penolakan terhadap kemungkinan penjelasan terkait realitas itu sendiri.

Sementara Arkhano (2025) mencoba menengahi dengan teknik formal. Ia mengubah aturan main logika agar kita bisa bicara tentang Pegasus tanpa berkomitmen pada eksistensinya. Sayangnya, ini hanyalah penghindaran. Ia menciptakan “ruang tunggu” (Outer Domain) bagi objek fiksi, tapi tidak pernah menjelaskan status ontologis ruang tunggu tersebut. Ia memperbaiki pipa saluran (logika), tapi tidak menjernihkan airnya (ontologi). Masalah filosofis hanya digeser menjadi masalah teknis.

Jika kita perhatikan, kekacauan ini bermula dari ambiguitas kata “Ada” (Existence). Bagi Hukmi, “Ada” berarti menempati ruang-waktu melalui embedding. Bagi Khasri, “Ada” berarti dapat dipikirkan atau disebut. Bagi OOO-Afif, “Ada” berarti substansi mandiri di luar relasi. Bagi Arkhano, “Ada” berarti sub-himpunan $E$, apapun itu.

Mereka bertengkar memperebutkan satu kata ini, seolah-olah “Ada” adalah properti tunggal yang monolitik. Padahal, “Ada”-nya sebuah atom berbeda dengan “Ada”-nya angka 7, berbeda dengan “Ada”-nya Sherlock Holmes, dan berbeda dengan “Ada”-nya Tuhan.

Kita tidak bisa menyelesaikan masalah ini dengan memilih salah satu. Kita tidak bisa membuang fiksi karena fiksi punya kekuatan kausal tersendiri di dunia manusia. Kita tidak bisa menerima semua fiksi sebagai realitas karena itu menciptakan kekacauan pemetaan. Kita tidak bisa pula memutus relasi begitu saja karena terdapat identitas yang relasional.

Untuk menyelesaikan kekacauan ini, saya mengajukan sebuah proposal. Kita harus berhenti bertanya pertanyaan biner yang menjebak seperti “Apakah X ada?”, dan mulai bertanya “Di koordinat mana X berada dan bagaimana demikian?”.

Dengan demikian, kita membutuhkan sebuah model yang mengakui Realitas Aktual, mengakui Realitas Konstruktif, mengakui Batas Bahasa, dan yang terpenting, memetakan Relasi, Interaksi, atau Morfisme di antara ketiganya tanpa mencampuradukkannya. Solusi yang saya tawarkan adalah Model Dinamis. Model ini tidak mencoba membuang entitas begitu saja, melainkan memberikan “alamat” yang tepat bagi setiap entitas dalam peta realitas yang kompleks. Ini adalah upaya untuk memberikan “rumah” yang tepat bagi setiap jenis objek, dari atom hingga unicorn, dari angka hingga Tuhan.

Tentang Model Dinamis

Langkah pertama adalah redefinisi. Kita definisikan “objek” secara netral sebagai “hal yang dapat dirujuk”. Apa pun yang bisa ditunjuk oleh simbol, bahasa, atau pikiran adalah objek, atau setidaknya kandidat objek. Ini adalah batas semesta pembicaraan kita, yang saya sebut sebagai Domain Semesta/Diskursus $D$. $D$ adalah kelas sejati yang berisi semua hal yang dapat dirujuk, yakni objek atau kandidat objek. Jadi, di dalam $D$ adalah objek, sebab ia berarti dapat dirujuk. Sementara di luar $D$ adalah bukan objek, sebab ia berarti tidak dapat dirujuk. Sesuatu yang dapat dirujuk bukan berarti rujukannya ada.

Di dalam semesta $D$, terdapat dua himpunan yang saling beririsan. Pertama adalah Himpunan Aktual $A$, berisi segala sesuatu yang memiliki eksistensi mandiri, fisik, atau kausal, terlepas dari apakah kita mengetahuinya atau tidak. Kedua adalah Himpunan Konstruktif $K$, berisi segala sesuatu yang dapat dikonstruksikan secara konseptual oleh semua agen kapabel dan rasional, yakni yakni Intersubjective Constructibility. Perlu dicatat, $K$ bukan sekadar apa yang bisa dibayangkan secara mental atau visual, melainkan apa saja yang bisa dibangun secara logis-matematis. “Segi-seribu” (Chiliagon) mungkin tak terbayangkan baik secara mental maupun visual, tapi ia terkonstruksi secara geometris, sehingga ia adalah elemen sah dari $K$.

Perpotongan kedua himpunan ini menghasilkan empat wilayah ontologis yang berbeda. Pertama, Realitas Terjangkau ($A \cap K$). Ini adalah wilayah irisan di mana objek-objek di dalamnya adalah aktual dan dapat dikonstruksi secara bersamaan. Laptop atau HP di depanmu, Matahari yang bersinar, virus influenza; semua yang seperti itu ada di sini. Ini adalah zona nyaman sains normal dan pengalaman sehari-hari.

Kedua, Realitas Tak Terjangkau ($A \setminus K$). Ini adalah wilayah objek aktual yang belum dikonstruksi konsepnya oleh siapa pun. Planet di galaksi nan jauh di sana yang belum tertangkap teleskop, atau partikel sub-subatomik yang belum diteorikan, berdiam di sini. Wilayah ini adalah jangkar bagi Realisme; ia membuktikan bahwa dunia tidak bergantung pada pikiran kita. Terdapat hal-hal yang “ada” di luar sana, diam dan dingin, menunggu untuk ditemukan.

Ketiga, Realitas Murni Konstruksi ($K \setminus A$). Ini adalah wilayah objek yang dapat dikonstruksi secara konseptual namun tidak memiliki tubuh aktual. Sherlock Holmes, Kuda Terbang, Angka 7, dan Konsep Keadilan tinggal di sini. Wilayah ini menyelamatkan Matematika dan Fiksi dari eliminasi dan embedding sembarangan Hukmi. Mereka “ada” di $K$, valid sebagai konstruksi, memiliki struktur internal yang tidak perlu dipaksakan menjadi fisik.

Keempat, Ekses Bahasa ($D \setminus (A \cup K)$). Ini adalah wilayah terluar, tempat bagi “sampah bahasa”. Di sini bersemayam objek-objek yang bisa dirujuk oleh kata-kata namun mustahil ada di $A$ dan mustahil dikonstruksi di $K$. Contohnya adalah “Segitiga-Kotak” atau “Bujangan yang Menikah”. Objek-objek ini semacam instruksi yang gagal dalam programming. Kita bisa mengucapkannya, menuliskannya, merujuknya, tapi tidak ada konstruksi koheren di baliknya maupun wujud aktualnya. Ini menjawab masalah Meinongian; tetapi saya pikir kita tidak perlu memberi status “ada” pada inkoherensi.

Diagram Model Dinamis
Diagram Model Dinamis

Hal yang perlu ditekankan adalah, peta di atas bukanlah museum benda mati. Realitas adalah sebuah proses. Objek-objek tidak sekadar diam di kuadrannya; mereka bergerak dan berinteraksi melalui morfisme.

Morfisme adalah dinamika yang menghidupkan model ini. Sederhananya, morfisme adalah abstraksi dari relasi antar-objek dalam bentuk apapun: bisa berupa fungsi, predikat, jalan, transformasi-deformasi, proses, atau apapun itu sehingga ia bisa berupa sebuah relasi begitu saja hingga sebuah vektor. Untuk memudahkan penjelasan, kita gunakan $[X]$ untuk mewakili objek arbitrer $x$ pada himpunan $X$. Ketika api membakar kayu, itu adalah instansiasi morfisme fisik atau kausalitas $f: [A] \to [A]$, yakni morfisme dari objek aktual ke objek aktual. Ketika seorang penulis mengembangkan plot novel dari dari satu cerita ke cerita selanjutnya, itu adalah instansiasi dari morfisme konstruktif $g: [K] \to [K]$, yakni morfisme dari objek konstruktif ke objek konstruktif. Bagaimanapun, yang paling menarik adalah morfisme yang melintasi batas kuadran.

Bayangkan Einstein memprediksi Black Hole. Itu adalah sebuah Hipotesis, sebuah loncatan spekulatif dari wilayah pikiran $K \setminus A$ menuju realitas yang belum diketahui $A \setminus K$; yakni, $f: [K \setminus A] \to [A \setminus K]$. Puluhan tahun kemudian, teleskop menangkap cahaya Black Hole. Itu adalah Penemuan, sebuah morfisme/proses yang menarik objek dari kegelapan $A \setminus K$ masuk ke dalam terang pemahaman fisik kita $A \cap K$; yakni, $g: [A \setminus K] \to [A \cap K]$. Gabungan keduanya adalah salah satu bentuk Penelitian Ilmiah; yakni, $g \circ f: [K \setminus A] \to [A \cap K]$.

Seorang insinyur bisa menarik ide dari $K \setminus A$ dan mewujudkannya menjadi benda fisik di $A \cap K$; itulah Proses Realisasi atau Produksi, yakni, $p: [K \setminus A] \to [A \cap K]$. Atau, kita bisa mengambil tokoh nyata di $A \cap K$ dan mengubahnya menjadi tokoh novel di $K \setminus A$; itulah Proses Fiksionalisasi-Abstraksi, yakni, $q: [A \cap K] \to [K \setminus A]$.

Diagram Morfisme dalam Model Dinamis.

Saya pikir, salah satu kekuatan model ini terletak pada netralitasnya sampai di titik tertentu. Ia tidak memaksa kita untuk berdogma ekstrem-spesifik; sebuah bentuk modesty saja cukup. Model ini juga merupakan alat navigasi yang mampu memetakan berbagai pandangan ontologis serta perdebatannya.

Ambil contoh studi kasus teologis. Seorang Ateis akan menempatkan Tuhan di wilayah Ekses Bahasa $D \setminus (A \cup K)$, sebagai objek kosong yakni objek yang bisa dirujuk, namun rujukannya kosong/inkoheren. Seorang Teis Transenden akan menempatkan Tuhan di $A \setminus K$, sebagai Eksistensi Mutlak yang melampaui kapasitas konstruksi sebagai The Great Unknown. Konsep Wahyu bisa dipahami sebagai morfisme dari $[A \setminus K]$ ke $[A \cap K]$, di mana Yang Tak Terjangkau “turun” memberikan informasi yang bisa dipahami agen kapabel dan rasional.

Dengan Model Himpunan Dinamis, kita tidak perlu lagi berdebat kusir ontologis tentang “Ada” atau “Tidak Ada”. Kita cukup bertanya: “Di mana entitas yang dibicarakan layak ditempatkan?” dan “Morfisme apa saja yang menghubungkannya dengan entitas lain?”. Ini adalah salah satu jalan keluar dari jebakan omong kosong ontologis.

Dari pemetaan ini, kita bisa melihat bagaimana perdebatan muncul antara Hukmi, Arkhano, Khasri, dan Afif. Hukmi ingin mengembed $K \setminus A$ ke dalam $A \cap K$. Arkhano hanya memetakan $D$ dengan $E \subseteq D$ di mana $E$ masih ambigu apakah ia $A$, $K$, atau $A \cup K$ dan menganggap ini menjustifikasi Meinongian. Khasri melalui Meinong memetakan $K \setminus A$ dan $D \setminus (A \cup K)$ tanpa adanya morfisme yang jelas. Sementara Afif melalui OOO membuang semua “objek real” ke $A \setminus K$ yang kemudian mengklaim terdapat morfisme/relasi dari objek-objek di sana ke $[K \setminus A]$ dengan himpunan $A \cap K = \emptyset$ sebab segala yang terakses hanyalah “objek sensual” di $K$.

Posisi saya jelas, peta itu sendiri secara umum sudah cukup menjelaskan pembagian realitasnya, dengan morfisme yang menjelaskan relasi dan dinamikanya. Terdapat objek di realitas aktual, terdapat objek di realitas konstruktif, terdapat objek yang tumpang-tindih aktual dan konstruktif, serta terdapat objek yang hanya merupakan ekses bahasa. Mereka berempat berhubungan serta berdinamika dengan relasi dan morfisme tertentu. Sebab model ini dinamis, objek-objek di dalamnya tidak mutlak-statis selalu demikian: mereka bergerak dan berubah dalam dinamika morfisme mereka.

Dapat dipahami bahwa mungkin saja terdapat objek di $K \setminus A$ yang memiliki morfisme transformatif ke objek di $A \cap K$. Tetapi menginginkan morfisme ini selalu ada sehingga kita dapat mengembeddingnya, saya pikir absurd. Bagaimana kita meng-embedding konten dari objek geometri berdimensi $n>3$ ke dalam $A \cap K$? Hal yang bisa kita lakukan hanyalah morfisme dalam bentuk menuliskan konstruksinya dalam tulisan. Tetapi kontennya tetap tidak termaterialisasi, dan tulisan tersebut hanya bertindak sebagai objek di $A \cap K$ yang membantu kita memahami konstruksinya melalui morfismenya ke $K \setminus A$. Namun, saya tidak menutup kemungkinan untuk suatu saat nanti kita menemukan morfisme yang mematerialkan tersebut. Bagaimanapun, mengklaim bahwa morfisme tersebut ada sedari sekarang, atau bahkan selalu ada, berarti itu hanyalah harapan kosong dan dogma saja.

Sebenarnya, masih banyak lagi yang bisa dijelaskan melalui model tersebut. Semisal, terdapat ruang bagi kita untuk melakukan analogi atau metafora sebab ada functor dari dan ke $K$ atau $A$ yang menghubungkan objek-objek serta relasi-relasinya ke hal lain. Contoh, “si Fulan mencari uang seperti singa menerkam rusa” berarti analogi ini adalah functor $F$ sehingga dari relasi/morfisme “mencari” $f: \text{si Fulan} \to \text{uang}$ dianalogikan menjadi relasi/morfisme “menerkam” $F(f): F(\text{si Fulan}) \to F(\text{uang})$ di mana $F(\text{si Fulan}) = \text{singa}$ dan $F(\text{uang}) = \text{rusa}$; dan untuk memahami analogi tersebut kita tinggal mencari functor $G$ yang meresolve/menetralkan $F$ sehingga komposisi $(G \circ F)(f) = f$, semisal dalam konteks analogi ini $G$ adalah terkait keganasan singa yang melakukan segala cara untuk mendapatkan rusa sehingga si Fulan mencari uangnya seganas singa tersebut, yakni $(G \circ F)(\text{si Fulan}) = G(\text{singa}) = \text{si Fulan}$ beserta komposisi $(G \circ F)(f) = f$. Dengan senang hati saya bisa bilang bahwa kita bisa mengakses $A \setminus K$ melalui konsep functor ini, sehingga semakin memperkuat posisi Realisme; meski tentu tidak akan seekstrem itu sebab masih terdapat ruang untuk mengakomodir kedinamisan realitas. Terkait konsepsi-konsepsi lanjutan seperti ini, mungkin akan saya bahas di lain waktu saja.

Kemungkinan Keberatan

Bagaimanapun, Model Dinamis ini tentu bukan tanpa celah potensial. Setidaknya terdapat 5 kemungkinan serangan yang dapat saya bayangkan. Saya akan coba mengantisipasinya satu per satu.

Serangan pertama adalah tuduhan terkait dualisme terselubung. Argumennya berangkat dari Kategori $K$ (Konstruktif) yang dibuat terpisah dari $A$ (Aktual), padahal setiap pikiran pada dasarnya adalah aktivitas otak. Otak adalah benda fisik, sehingga $K$ sebenarnya hanyalah bagian kecil dari $A$. Tidak ada ‘wilayah fiksi’ $K \setminus A$: Sherlock Holmes hanyalah pola neuron yang menembak di otak Arthur Conan Doyle dan pembaca novelnya. Serangan dari prinsip Parsimoni muncul kembali sebab ini berarti menggandakan entitas tidak perlu.

Problem serangan seperti ini adalah mencampuradukkan medium dengan konten. Memang benar bahwa salah satu medium dari sebuah pikiran (thought) adalah objek fisik yang berdiam di $A$ seperti neuron, sinyal listrik, dan tinta di atas kertas. Namun, konten dari pikiran tersebut sama sekali tidak selalu merujuk pada objek fisik apa pun di $A$, semisal sosok detektif yang tinggal di Baker Street; paling jauh adalah terinspirasi dari sosok tertentu di dunia aktual. Jika kita memaksa $K$ menjadi bagian mutlak dari $A$ ($K \subset A$), kita akan sampai pada kesimpulan yang absurd: saat saya memikirkan/mengonstruksikan “Kuda Terbang”, harus ada kuda terbang fisik yang mewujud di dalam batok kepala saya berupa struktur neuron. Ini komitmen yang terlalu kuat. Model Dinamis menghormati perbedaan status ontologis ini. Pola neuronnya nyata (fisik), tapi objek intensionalnya fiktif. Adalah absurd untuk menyamakan “memikirkan tentang ‘sesuatu terbakar oleh api’” dengan “sesuatu terbakar oleh api”.

Serangan kedua menunjuk pada wilayah $A \setminus K$ yakni Realitas Tak Terjangkau. Argumennya berangkat dari kritik atas wilayah di luar konstruksi untuk mempertahankan realisme. Saat menyebut ‘Planet Asing’ atau ‘Unknown Reality’, kita baru saja membuat ‘konsep’ tentangnya. Sehingga, pada detik itu juga, ‘Planet Asing’ sudah masuk ke dalam $K$. Akibatnya, wilayah $A \setminus K$ secara epistemologis akan selalu kosong. Anda tidak bisa membicarakan apa yang ada di luar pikiran tanpa memikirkannya.

Ini adalah jebakan klasik Korelasionis. Counter-argumennya sederhana: perlu pembedaan antara Konsep Formal dan Konsep Spesifik. Kita bisa menunjuk sebuah kategori tanpa mengetahui isinya. Saya bisa menunjuk sebuah peti tertutup dan berkata “Terdapat sesuatu di dalamnya,” tanpa tahu apakah itu emas atau bangkai tikus. Wilayah $A \setminus K$ berisi objek yang konten detailnya belum dikonstruksi, meskipun kategori keberadaannya bisa kita tunjuk secara formal; ini sifatnya lebih ke prediktif. Kita tahu “terdapat sesuatu di sana” (formal), tapi kita belum tahu “apa itu” (spesifik). Saya pikir, penunjukan formal ini cukup untuk menjaga realisme yang cukup moderat tanpa terjebak paradoks.

Serangan ketiga mempertanyakan tentang kepemilikan $K$. Himpunan $K$ ini milik siapa? Jika $K$ adalah pikiran individu, maka ontologi ini solipsistik. Jika $K$ adalah pikiran kolektif manusia, bagaimana dengan alien atau AI? Lalu, apakah Teorema Pythagoras tidak ada sebelum manusia memikirkannya?

Jawabannya, $K$ bukanlah “apa yang sedang dipikirkan”, melainkan “apa yang dapat dikonstruksi” seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya yakni Intersubjective Constructibility. Objek masuk ke dalam $K$ bukan karena sedang dipikirkan oleh si A atau si B saat ini, melainkan karena ia dapat dikonstruksi oleh agen kapabel dan rasional mana pun yang mengikuti runtutan nalar tertentu. Teorema Pythagoras sudah “ada” di $K$ jauh sebelum Pythagoras lahir, dalam arti bahwa struktur logis-matematisnya sudah tersedia untuk ditemukan. Ia bukan sekadar invensi psikologis subjektif, melainkan sebuah kemungkinan objektif dalam ruang logis-matematis.

Lantas, subjektivitas ada di mana? Subjektivitas adalah subset dari $K$. Pikiranku adalah subset $K$, pikiranmu juga subset $K$. Pikiranku dan pikiranmu bisa bersinggungan, tumpang tindih, atau beririsan, bisa jadi juga ada konstruksi yang berbeda. Bisa jadi pula ada konstruksi yang belum terpikirkan oleh siapapun. Pikiran ini juga ada dinamika dan morfismenya, subset ini juga tumpang-tindih dengan $A$ sebagai sebuah pikiran-kesadaran akan kenyataan yang dialami.

Serangan keempat adalah perihal waktu. Di mana posisi iPhone 50 yang akan rilis tahun 2050? Barangnya belum ada di $A$, namun konsepnya sudah bisa dibayangkan di $K$. Berarti dia ada di $K \setminus A$, sama seperti Sherlock Holmes. Apakah masa depan atau masa lalu itu statusnya sama fiktifnya dengan cerita/dongeng?

Di sini pentingnya Vektor Morfisme. Sherlock Holmes adalah objek di $K \setminus A$ yang statis; tidak ada proses yang sedang berjalan untuk membuatnya menjadi nyata. Sebaliknya, iPhone 50 adalah objek di $K \setminus A$ yang sedang mengalami Morfisme Penciptaan yang aktif bergerak menuju $A$ melalui riset, pengembangan, dan akumulasi modal. Status ontologis sebuah entitas tidak hanya ditentukan oleh posisinya saat ini, tapi juga oleh morfisme, relasi, tranformasi, dan arah pergerakan (vektor) dalam proses realitas. Masa depan adalah hal yang bergerak menjadi fakta, dan masa lalu adalah fakta yang berjalan menjadi konstruksi di $K$ yang menyisakan jejak-jejaknya di $A$.

Serangan kelimaadalah paradoks $D$ (Domain Semesta). Bagaimana dengan $D$ (Domain Semesta) itu sendiri? Apakah $D$ memuat dirinya sendiri ($D \in D$)? Jika jawabannya “Ya”, kita membuka pintu bagi Paradoks Russell yang bisa meruntuhkan seluruh sistem. Jika “Tidak”, maka definisi $D$ sebagai “segala sesuatu yang bisa dirujuk” menjadi cacat.

Jawaban saya adalah ketegasan konstruktif: seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya $D$ adalah Kelas Sejati (Proper Class), bukan Himpunan. Dalam teori himpunan, Kelas Sejati adalah wadah yang terlalu besar untuk menjadi anggota dari apa pun. Secara filosofis, $D$ bisa dibilang sebagai Cakrawala atau Horizon, bukan Objek. Ini seperti Mata yang tidak bisa melihat dirinya sendiri kecuali lewat cermin, dan seperti papan catur yang tidak berdiri di atas salah satu kotak catur. Saat kita membicarakan $D$, kita sedang berbicara secara Meta-Linguistik tentang sistemnya, bukan secara Ontologis yakni di dalam sistemnya. $D$ adalah latar belakang yang memungkinkan segala sesuatu yang lain untuk tampil. Dengan demikian, Paradoks Russell terhindarkan dan tidak ada kecacatan dalam definisinya. Pun apabila mau dipaksakan sebagai objek, secara sederhana ia akan memenuhi skema inclosure (baca Priest, 2002); dan ku pikir, terkait ini, tidak ada masalah yang berarti juga, dengan senang hati saya akan menerimanya sebab $D$ itu sendiri adalah limit dari realitas bahasa-rujukan kita, limit dari horizon diskursus kita.

Penutup

Sampai titik ini, kita tidak lagi berdiri di dalam parit dengan saling melempar granat argumen. Kita kini berdiri di atas bukit, memegang sebuah peta Model Dinamis.

Tulisan ini, pada intinya, adalah sebuah upaya merapikan. Kita telah melihat bagaimana kita dapat terjebak dalam perangkap bahasa, berputar-putar dalam pseudo-problem karena gagal menyepakati di mana garis batas antara kata, pikiran, dan benda harus ditarik. Kita menolak kemiskinan ontologis yang membuang makna demi efisiensi. Kita menolak anarki ontologis yang membuang kewarasan demi merayakan imajinasi tanpa batas. Kita juga menolak mistisisme yang memutus relasi demi memuja substansi yang tak terjangkau. Sebagai gantinya, terdapat sebuah jalan tengah yang radikal namun bukan kompromi yang lemah.

Model Dinamis mengajak kita untuk menjadi Realis yang rendah hati sekaligus Humanis yang Kritis. Kita mengakui bahwa ada dunia keras di luar sana ($A$) yang tidak peduli pada apa yang kita pikirkan, ini adalah pengakuan yang menjaga kita tetap waras dan ilmiah. Pada saat yang sama, kita menghargai kekuatan dari matematika, ide, dan fiksi ($K$) yang membentuk peradaban manusia, tanpa harus menipu diri bahwa mereka memiliki tubuh fisik. Kita juga menghormati batas-batas bahasa ($D$) agar tidak tergelincir menjadi pembual yang merayakan inkoherensi dan omon-omon.

Tentu saja, Model ini ini bukanlah “Teori Segalanya” yang final. Ia hanyalah sebuah alat navigasi, sebuah kompas untuk mengarungi samudra realitas yang luas. Dengan membedakan secara tegas antara Bahasa, Pikiran, dan Realitas, serta memahami bagaimana Morfisme menghubungkan ketiganya secara dinamis, kita bisa berhenti berdebat tentang hantu dan mulai menjelajahi dunia.

Kita tidak perlu lagi memilih antara sastra atau penelitian. Kita bisa menikmati keduanya. Kita bisa merayakan keindahan cerita Sherlock Holmes di “dunia”-nya, sambil tetap percaya pada hukum gravitasi yang mengikat kaki kita di tanah.

Catatan penutup: saya berterima kasih pada kawan-kawan yang telah mentraktir di Trakteer Intuisionistik ID, terutama Akbar Rafsanjani, Aldo Fern, Pnd Prsty, Afif Anggito, Anas Al Masyhudi, Muhammad Naffan, Jong Alexander, serta enam belas hamba Allah lainnya yang namanya tidak ingin disebutkan. Artikel ini salah satunya merupakan bentuk terima kasih saya. Intuisionistik ID mencoba untuk mempopulerkan logika formal dan filsafat analitik, salah satunya melalui konten sosial media, kelas-kelas, hingga buletin mingguan; dan teman-teman dapat mengaksesnya atau mungkin traktir kami melalui tautan berikut: <teer.id/intuisionistik>. Terima kasih atas support teman-teman semua!

Referensi

Afif, Fakhri, 2025, “Object Oriented Ontology: Sebuah Pengantar”, Antinomi.org, URL =
<https://antinomi.org/object-oriented-ontology-sebuah-pengantar/>.

Arkhano, R. Aquila, 2025, “Kikir Ontologi Berimplikasi Kerobohan Bangunan Metafisika”, Antinomi.org, URL =
<https://antinomi.org/kikir-ontologi-berimplikasi-kerobohan-bangunan-metafisika/>.

Hukmi, Risalatul, 2025a, “Ontologi yang Mubazir dan Akrobatik”, Antinomi.org, URL =
<https://antinomi.org/ontologi-yang-mubazir-dan-akrobatik/>.

Hukmi, Risalatul, 2025b, “Soal Kesederhanaan Ontologis”, Antinomi.org, URL =
<https://antinomi.org/soal-kesederhanaan-ontologis/>.

Khasri, M. Rodinal Khair, 2025, “Meinong dan Hutan Belantara Ontologis”, Antinomi.org, URL =
<https://antinomi.org/meinong-dan-hutan-belantara-ontologis/>. Priest, G., 2002, Beyond the Limits of Thought, Oxford: Clarendon Press.

Objek dan Eksistensi

0
Image by Emmanuel Lefebvre from Pixabay
Image by Emmanuel Lefebvre from Pixabay

Melalui artikel ini, saya akan merespons kritik Quinean Risalatul Hukmi terhadap artikel saya sebelumnya. Namun, penting dicatat bahwa artikel ini tidak berambisi untuk membela mati-matian tuduhan Quinean tentang pemborosan ontologis Meinongian. Tugas utama artikel ini adalah melacak sumber kebuntuan dialog Meinongian-Quinean dengan menyoroti bagaimana keduanya memahami eksistensi. Pemahaman ini penting untuk memperjelas perbedaan mendasar dan kemungkinan titik temu keduanya dalam hal menyikapi objek.

Akar Permasalahan

Jika being identik dengan eksistensi—sebagaimana pandangan umum Quinean—bagaimana pertanyaan ‘apa saja yang eksis?’ dapat dijawab? Bagi Quine, “segala sesuatu eksis”, sedangkan menurut Meinong, “beberapa objek tidak eksis.” Bagi Meinong, objek seperti persegi bundar merupakan objek yang dapat dirujuk meskipun tidak eksis. Quine menolak hal ini, karena baginya persegi bundar secara logis mustahil benar.

Keberatan tersebut dibangun di atas dua asumsi:

  1. Menyamakan being dengan eksistensi
  2. Karena being  atau eksistensi dapat dijelaskan secara cukup melalui simbol kuantor eksistensial ($\exists$)

Melanjutkan keberatan Quine di atas, catatan van inwagen berikut cukup membantu, terutama untuk memperjelas poin argumen Quinean tentang kontradiksi teori objek Meinong. Karena ekspresi “beberapa” secara adekuat dapat dijelaskan oleh ($\exists x$) maka pernyataan seperti there is an $x$ such that $x$ is f,” “there exists an $x$ such that $x$ is f,” dan “some $x$ are $f$” adalah setara secara logis (van Inwagen, 1998). Implikasinya, mengatakan “beberapa objek tidak eksis” sama dengan mengatakan “di sana ada objek yang tidak eksis” atau “di sana ada objek, tapi objek semacam itu tidak benar-benar ada” atau “ada objek yang—pada saat yang sama—tidak ada.” Parafrase semacam inilah yang membuat teori objek Meinong secara logis terlihat sungguh kontradiktif. Sampai di sini, saya melihat pandangan Quinean semacam van Inwagen lahir dari kesalahpahaman dalam menafsirkan teori objek Meinong. Kesalahpahaman ini akan saya elaborasikan di bagian selanjutnya.

Sebagian besar Neo-Meinongian (Berto, Castañeda, Jacquette, Parsons, Paśniczek, Priest, Rapaport, Routley, Zalta) tidak setuju dengan prinsip kesetaraan antara being dan eksistensi. Contohnya, gunung emas adalah objek, dan tidak ada satu pun orang yang pernah melihat atau berjumpa dengan objek semacam itu sebab ia tidak eksis secara konkret. Namun ia tetap objek. Buktinya, ia bisa dipikirkan dan bisa dijadikan objek rujukan dalam tindak tutur. Ilustrasi ini menjadi salah satu argumen penting Meinongian bahwa being tidak sama dengan eksistensi. Ada objek yang tidak memiliki sifat eksistensi. Objek yang eksis hanyalah sebagian (proper subset) dari semua objek yang mungkin ada (the universal domain of objects). Artinya, tidak semua objek itu eksis.

Menjembatani Meinongian-Quinean

Perihal jembatan yang dimaksud, mari tengok pembelaan Maciej Sendłak, salah satu neo-meinongian yang menurut saya cukup optimis dengan dialog konstruktif Meinongian-Quinean. Baginya, tidak ada kontradiksi dalam tesis meinongian (Sendłak, 2023). Menariknya, optimismenya itu dimotivasi oleh pandangan van Inwagen, yang notabene adalah Quinean totok.

Menurut van Inwagen, bisa jadi Meinongian dan Quinean punya pemahaman yang berbeda tentang being, namun keduanya sepakat tentang “segala sesuatu”. Perbedaan keduanya terdapat pada sikap mengenai domain objek yang eksis. Taruhlah segala sesuatu adalah objek. Namun, dalam standar kuantor ($\exists$), $x$ sebagai objek diletakkan pada domain kuantifikasi di mana domain tersebut hanya berisi objek yang eksis.   Adapun kebuntuan muncul karena kerangka Meinongian dipaksakan untuk dijelaskan atau diukur dengan standar ($\exists$). Merespons hal itu, Sendłak mengajak kita untuk beralih dari kuantor eksistensial ($\exists$) ke kuantor universal (∀). Dengan cara inilah kita bisa mengurai kebuntuan dialog Meinongian dan Quinean, sekaligus memperjelas koherensi logis teori objek Meinong.

Kuantor ($\forall$) dalam teori objek Meinong digunakan untuk menjelaskan bahwa objek mencakup yang eksis maupun yang tidak eksis, sebagaimana hal berikut:

($\forall x) (\exists(x) \vee \neg\exists(x))$

($\forall x$) Objek($x$) : “Untuk setiap $x$, $x$ adalah objek.”

Misal, $x$ = gunung emas

($\forall x$) ($\exists$(gunung emas) $\vee$ $\neg\exists$ (gunung emas))

Artinya, untuk objek gunung emas, berlaku bahwa ia eksis atau tidak. Dengan kata lain, gunung emas adalah objek, entah ia eksis atau tidak. Dalam hal ini jelas bahwa being dan eksistensi tidaklah sama, sebab eksistensi diposisikan sebagai sifat objek. Meskipun suatu objek tidak eksis dalam realitas konkret, ia tetap sebagai objek, objek subsiten yang tidak memiliki sifat eksistensi.

Lalu, bagaimana kuantor universal bisa menjadi titik temu meinongian dan Quinean? Mari kita lihat penjelasan van Inwagen (2008). Kritiknya tentang inkonsistensi teori objek Meinong justru bisa menjadi solusi pemecah kebuntuan Meinongian-Quinean. Untuk menjelaskan inkonsistensi tersebut, van Inwagen mengasumsikan adanya titik temuantara keduanya. Van Inwagen sepakat dengan Meinongian perihal prinsip unrestricted universal quantifier (UUQ) bahwa ruang lingkup (∀) tidak dibatasi oleh jenis atau domain apa pun. Singkatnya, Meinongian dan Quinean sama-sama meyakini kebenaran kuantor universal. Sebagai contoh, U: “semua unicorn tidak eksis” atau “setiap unicorn adalah non-eksis”. Quinean akan memparafrase U sebagai berikut:

(UQ): $\forall x \neg$ ($x$ adalah unicorn)

Kebenaran (U) didasarkan pada kebenaran “Segala sesuatu adalah bukan unicorn” atau “tidak ada yang merupakan unicorn.” Meinongian setuju dengan (U) namun tidak setuju dengan parafrase Quinean terhadap U (UQ): “Untuk setiap $x$, tidak benar bahwa $x$ adalah unicorn” atau “tidak ada satupun objek yang merupakan unicorn.” Sebagai gantinya, Meinongian menawarkan (UM), bentuk parafrase mereka atas (U).

(UM): $\neg \forall x \neg$($x$ adalah unicorn)

Tidak benar bahwa untuk setiap $x$, $x$ bukan unicorn. Dikarenakan teori objek Meinong tidak mengikat kuantor pada eksistensi, maka unicorn ada sebagai objek yang tidak eksis, atau setidaknya ada satu unicorn yaitu objek yang bisa diaksesdipikirkan, dibayangkanmelalui komponen sifat penyusunnya. Berbeda dengan itu, bagi Quinean, mengatakan “unicorn ada” sama artinya dengan mengklaim bahwa ia eksis, dan itu jelas salah karena unicorn tidak eksis. Ini sekaligus menjadi argumen Quinean bahwa Meinongian terjebak dalam pemborosan komitmen ontologis.

Lebih lanjutnya, berikut adalah konsekuensi perbedaan (UQ) dan (UM):

  1. Setiap unicorn adalah non-eksis
  2. Setiap unicorn mempunyai sifat bahwa semua hal bukanlah dia.
  3. $\forall x$[$x$ adalah unicorn → $(\forall y) \neg(y = x)$]
  4. $\forall x \neg$($x$ adalah unicorn)

Karena Meinongian sepakat dengan 1, mereka juga harus sepakat dengan 4. Namun 4 kontradiksi dengan (UM). Bagaimana Meinongian bisa menyepakati secara sekaligus 1 dan 4, padahal 4 kontradiksi dengan (UM)? Di situlah letak kontradiksinya. Untuk menghindari kontradiksi ini, Meinongian menafsirkan eksistensi dengan cara berbeda dari pemahaman Quinean. Mereka memahami eksistensi sebagai sifat non-trivial, di mana beberapa objek mempunyai sifat semacam itu sedangkan yang lainnya tidak.

Meskipun stance tersebut dapat menyelamatkan Meinongian dari inkonsistensi dengan menghalangi inferensi (1) ke (2), hal itu justru membuat tesis Meinongian menjadi terlihat tidak jelas. Menariknya, Meinongian menghindari inkonsistensi dengan mengorbankan ketidakjelasan tesis kunci mereka, yakni ketidakjelasan makna dan batasan apa yang dimaksud sebagai “eksistensi.” Menurut saya, definisi Meinongian tentang eksistensi menjadi objek kritikan—terutama dari Russell dan Quine—karena Meinongian memposisikan eksistensi sebagai sifat yang tidak mendeterminasi objek. Dengan kata lain, $x$ tetaplah objek meskipun tidak memiliki sifat eksistensi (E). Hal itu pula yang saya sadari sebagai penjelas hutan belantara Meinongian. Maka, pada poin ini saya cukup sepakat dengan gugatan Hukmi (2025) bahwa Meinongian tidak bisa membela diri dari tuduhan pemborosan ontologis. Pada dasarnya, mereka boros karena pemborosan itulah yang menjadi ongkos untuk menghindari inkonsistensi yaitu meletakkan E pada hutan belantara tak bertepi.

Sama dengan Meinongian, Quinean memperjelas definisi eksistensi menggunakan notasi sederhana berikut.

  1. Unrestricted universal quantification ($\forall$)
  2. Negation ($\neg$)
  3. Identity (=)

Mengelaborasi ketiga notasi di atas, Meinongian dan Quinean—konteks van Inwagen— mengklaim bahwa:

“$x$ eksis” =def  $\neg \forall y \neg (x=y)$

“$x$ eksis” didefinisikan sebagai “tidak benar bahwa untuk setiap $y$, $x$ tidak sama dengan $y$.” Ini adalah poin prinsip identitas yang sangat penting dalam proyek dialog ini. Dengan kata lain, $x$ eksis jika dan hanya jika ada sesuatu (setidaknya satu $y$) yang identik dengan $x$, sebab jika tidak benar bahwa x berbeda dari semua hal, maka ada sesuatu yang identik dengan $x$.

Dalam kasus Meinongian, jika unicorn tidak identik dengan apa pun di dunia nyata, maka:

$\forall y \neg$(unicorn = $y$), atau unicorn tidak eksis. Sedangkan, unicorn punya sifat-sifat yang membuatnya identik dengan minimal satu objek yang ada secara aktual di dunia nyata ($\neg \forall y \neg$ (unicorn = $y$))

Kekeliruan Quinean

Merujuk pada argumen Sendłak, kekeliruan Quinean dapat dilihat pada asumsi mereka bahwa Meinongian setuju dengan pernyataan beberapa objek bukanlah objek atau beberapa objek tidak identik dengan dirinya sendiri. Padahal, Meinongian sepakat bahwa domain objek tidak mencakup objek-objek yang tidak identik dengan dirinya sendiri, dengan demikian objek harus self-identical. Artinya, suatu objek—being an object— harus dapat diidentifikasikan dengan sesuatu. Meskipun demikian, hal ini membawa kita kembali kepada permasalahan: “Bagaimana menerapkan prinsip identitas itu pada objek-objek Meinongian?”

Bagi Quinean, sikap Meinongian justru kerap melanggar prinsip identitas yang telah dijelaskan sebelumnya. Ini adalah bentuk inkonsistensi Meinongian yang paling jelas. Pada kasus persegi bundar, Quinean menegaskan bahwa mustahil ada objek yang sekaligus bundar dan persegi. Menurut Quinean, persegi bundar adalah not self identical, dengan demikian bukanlah objek. Alasan lainnya, persegi bundar—sebagai agregasi sifat— bukanlah persegi dan juga bukan bundar. Sebut saja keberatan Quinean ini sebagai tesis QRS: “Setiap objek yang bundar pasti bukan persegi.

Bagi Meinongian, QRS keliru karena terjebak pada simplifikasi objek, yaitu memahami objek sebatas sebagai agregasi sifat. Meinongian menolak itu, karena meskipun objek adalah kumpulan sifat, namun kumpulan itu bukan berarti peleburan (fusion), melainkan relasi antar subset yang berjejaring membentuk objek dengan segala konsekuensi penggambarannya dalam pikiran manusia: Ada yang mungkin untuk tergambarkan, dan ada yang tidak. Maka, persegi bundar adalah objek yang bundar sekaligus persegi, terlepas dari apakah kita dapat membayangkannya atau tidak.

Justifikasi Quinean atas QRS berlanjut menjadi QRS*: Setiap objek bundar yang eksis adalah bukan persegi. Tesis QRS* menekankan “eksistensi.” Menariknya, Quinean dan Meinongian sepakat dengan QRS*. Keduanya tidak meyakini eksistensi objek mustahil seperti persegi bundar. Artinya “domain objek yang eksis” tidak mencakup persegi bundar. Namun, pertanyaan utama kita bukanlah “Apakah ia adalah objek yang eksis?—berdasarkan ($\exists$)” melainkan “Apakah persegi bundar itu adalah objek—berdasarkan ($\forall$)?” Karena jika berhenti pada pertanyaan ($\exists$), maka persegi bundar akan tertolak secara logis, dieksklusikan dari domain objek, dan dengan demikian bukanlah objek.  Peralihan pertanyaan inilah yang menjadi titik terang proyek dialog Meinongian-Quinean ke depannya.

Referensi

Sendłak, M. (2022). From the Meinongian Point of View. Logic and Logical Philosophy, 32(2), 243–251. https://doi.org/10.12775/LLP.2022.028

van Inwagen, Peter. 1998. “Meta-Ontology.” Erkenntnis 48(2): 233–50. https://doi.org/10.1023/A:1005323618026. van Inwagen, Peter. 2008. “McGinn on Existence.” The Philosophical Quarterly 58(230): 36–58. https://doi.org/10.1111/j.1467-9213.2008.534.x.

Carut-Marut Ontologi

0
Benang merah
Photo by Nastia Petruk on Unsplash

Debat filosofis sering kali menyerupai perang parit yang melelahkan. Dua kubu menggali posisi masing-masing sedalam mungkin, menanam ranjau argumen, dan sesekali melemparkan granat jargon ke seberang, namun jarang sekali ada pergerakan maju yang berarti. Tulisan-tulisan sebelumnya merepresentasikan salah satu “perang parit” dalam metafisika: tarik-menarik antara Inflasionisme dan Deflasionisme.

Di satu sisi parit, berdiri kubu Deflasionis yang diwakili oleh Hukmi (2025a & 2025b), tampak seperti seorang pengikut setia jejak W.V.O. Quine dan Bertrand Russell. Mereka adalah birokrat ontologi yang terobsesi dengan efisiensi. Bagi mereka, realitas haruslah ramping, bersih, dan steril. Mereka memegang “Pisau Occam” dan siap memangkas apa saja yang dianggap “lemak berlebih”. Fiksi, objek imajiner, dan entitas yang tidak memiliki korespondensi fisik dianggap sebagai sampah yang harus disapu bersih. Semboyannya adalah Parsimoni: jangan menggandakan entitas melebihi keperluan.

Di seberang parit, berkumpul kubu Inflasionis yang diwakili oleh Afif (2025), Khasri (2025), dan Arkhano (2025), yang membawa panji-panji Alexius Meinong dan Graham Harman. Mereka adalah para penjelajah yang murah hati, atau mungkin, anarkis yang merayakan kekacauan. Bagi mereka, membatasi “ada” hanya pada apa yang fisik atau ilmiah adalah bentuk tirani intelektual yang picik. Mereka ingin memberikan hak warga negara ontologis kepada segalanya: mulai dari atom dan meja, hingga kuda terbang, dan bahkan objek yang kontradiktif seperti segitiga kotak. Semboyannya adalah Kesuburan: biarkan seribu bunga bermekaran.

Konflik ini tampaknya tak terdamaikan. Dilemanya, jika kita mengikuti Hukmi, kita kehilangan kemampuan untuk menjelaskan kekayaan pengalaman subjektif. Namun, jika kita mengikuti Khasri dan Afif, kita kehilangan pegangan pada realitas dan kewarasan. Seakan kita dipaksa memilih antara menjadi robot yang logis tapi buta rasa, atau menjadi penyair yang kreatif tapi halusinatif.

Bagi saya, kedua belah pihak sebenarnya salah. Mereka terjebak dalam kesesatan representasionalis dan ambiguitas bahasa. Perdebatan sengit mereka sebenarnya adalah pseudo-problem, yakni masalah semu yang muncul karena mereka menggunakan kata “Objek” dan “Ada” dengan definisi yang berbeda tanpa menyadarinya. Mereka tidak sedang berdebat; mereka sedang berbicara melewati satu sama lain: talking past each other.

Tujuan tulisan ini bukan untuk memenangkan salah satu pihak, melainkan untuk membongkar pondasi rapuh dari kedua kubu tersebut. Kita akan membedah kegagalan metodologis Deflasionisme, dan lalu menelanjangi kekacauan Inflasionisme.

Metode-metodean

Mari kita mulai dengan Hukmi. Dalam usahanya membersihkan ontologi dari “sampah” metafisika, Hukmi membayangkan dunia yang bersih dan rapi. Namun, membayangkan bahwa rapi dan bersih itu murah adalah sebuah kekeliruan. Kebersihan dan kerapian juga datang dengan harga yang tidak murah dan usaha yang tidak kecil: jangan dikira tukang bersih-bersih itu gratis dan tidak berusaha, kecuali memang isi pikiran si penilai mendukung perbudakan dan merendahkan peran tukang bersih-bersih. Pun usaha ini tidak selalu berhasil, dan lagi pula, tidak ada jaminan bahwa tukang bersih-bersih akan berhasil membersihkan realitas carut-marut ini.

Inti dari argumen Hukmi adalah bahwa kalimat yang mengandung nama fiksi seperti “Sherlock Holmes” merupakan deskripsi yang menyamar. Proposisi $P :=$ “Sherlock Holmes tinggal di Baker Street” harus diterjemahkan menjadi: “Ada satu dan hanya satu $x$ (di dunia aktual), sehingga $x$ bernama ‘Sherlock Holmes’, dan $x$ tinggal di Baker Street.” Karena tidak ada $x$ yang memenuhi syarat tersebut di dunia aktual, maka proposisi $P$ bernilai salah. Secara sederhana, $P$ disebut proposisi dengan objek fiktif.

Untuk menyelamatkan $P$ agar tidak selalu bernilai “Salah”, Hukmi (2025b) menggunakan strategi menambahkan operator implisit: “Dalam cerita Conan Doyle, Sherlock Holmes tinggal di Baker Street.” Dengan operator “Dalam cerita Conan Doyle…”, proposisi $P$ menjadi benar. Ini terlihat masuk akal, tapi sebenarnya licik.

Solusi ini bergantung pada asumsi meta: kita harus tahu sebelumnya bahwa itu adalah cerita fiksi karangan Conan Doyle. Bayangkan kita menemukan tulisan yang hanya berbunyi “Detektif Fulan memecahkan kasus pembunuhan kemarin.” Pertanyaannya, operator seperti apa yang mau ditambahkan? Apakah operator “dalam tulisan Ahnaf, …”? Sebab, jelas tulisan tersebut tertulis dalam tulisan ini yang merupakan tulisan Ahnaf, iya kan? Kalau iya, ini lebih meta lagi, non-sense, berbelit-belit, tidak sederhana. Kita memahami makna kalimat ini seketika, tanpa perlu tahu apakah ini fakta laporan polisi, atau potongan novel fiksi, atau tulisan Ahnaf, atau Conan Doyle, atau si Fulan, atau siapapun itu. Makna kalimat tersebut berdiri sendiri secara semantik sebelum status ontologisnya ditentukan.

Solusi Hukmi intinya adalah mengembedding fiksi ke dalam dunia aktual dengan operator implisit arbitrer. Dengan strategi ini, tidak ada jalan lain selain mengklaim bahwa operator ini selalu ada; dan ini sangat tidak berdasar dan tidak sederhana. Solusi ini gagal menjelaskan secara sederhana terkait intuisi kita tentang bagaimana kita dapat memahami proposisi secara langsung saat membaca teks. Saya pikir, kita tidak membaca dengan operator “Dalam cerita…” di kepala kita. Kita justru “masuk” ke dalam dunia di dalam teks tersebut, dan memahami proposisinya. Mengabaikan dunia di dalam teks dengan mengambeddingnya dalam dunia aktual tidak memberikan insight apa-apa perihal bagaimana kita memahami proposisi.

Lebih lanjut, menggunakan Parsimoni untuk memangkas entitas fiksi tidak pula intuitif. Jika memang Parsimoni dipakai sebagai metodologi, maka ini lebih merupakan prinsip heuristik, bukan prinsip ontologis. Secara intuitif, Alam semesta tidak punya kewajiban untuk menjadi sederhana demi kenyamanan atau kewarasan nalar manusia. Memaksakan kesederhanaan pada realitas yang kompleks dengan dalih metodologis merupakan bentuk arogansi epistemologis.

Poin serangan Arkhano (2025) terkait problem parsimoni ini sudah cukup baik, namun akan saya perjelas lagi. Jika Parsimoni memang digunakan sebagai metodologi, maka prosesnya merupakan sebuah pertimbangan atas perbandingan. Contohnya seperti ini. Semisal kita punya teori $T_1 = \{\text{Hukum Gravitasi}\}$ dan $T_2 = \{\text{Hukum Gravitasi}, \text{Tuhan}\}$, yang keduanya dapat menjelaskan fenomena $F$ yakni fenomena mendekatnya dua benda bermassa. Karena $T_1 \subseteq T_2$, maka $T_1$ lebih diutamakan. Dengan kata lain, konsep “Tuhan” itu redundan untuk kasus $F$ sehingga bisa kita buang sebab “Hukum gravitasi” saja cukup untuk menjelaskan $F$. Ini baru Parsimoni metodologis; bukan tiba-tiba menuduh sebuah pemikiran tidak sederhana demi kesederhanaan itu sendiri yang entah apapun artinya itu. Kalau mau lebih sederhana lagi, ya tinggal tidak bermetafisika atau berontologi.

Bagi saya pribadi, Parsimoni itu selalu motivasional, dalam arti memiliki motivasi tertentu. Semisal dalam contoh sebelumnya, motivasi kesederhanaannya adalah dalam menjelaskan fenomena yang sama yakni $F$. Cukup tricky untuk melakukan parsimoni pada dua teori yang dapat menjelaskan fenomena yang berbeda. Namun jelas kita tidak dapat melakukan parsimoni tanpa ada dasar perbandingan.

Dua parsimoni berbeda pun bisa sah namun saling bertolak belakang. Semisal dalam logika sendiri. Di satu sisi, Parsimoni semantik seperti logika klasik dengan dua nilai kebenaran yang sangat sederhana dibanding sistem logika lain, memberikan konsekuensi yang tidak parsimonis secara sintaksis sebab sistemnya akan membuktikan banyak proposisi yang tidak selalu intuitif dibanding sistem logika lainnya seperti prinsip ledakan. Di sisi lain, Parsimoni sintaksis seperti di logika relevan, di mana proposisi yang dapat dibuktikan dibatasi pada proposisi-proposisi yang memiliki kaitan relevan dan intuitif dibanding logika lainnya, memberikan konsekuensi yang tidak parsimonis secara semantik seperti konstruksi 8 nilai kebenaran hingga keberadaan relasi $Rxyz$ yang cukup sulit untuk dicerna dibanding sistem logika lainnya. Bagi saya pribadi, bersembunyi di balik parsimoni yang ambigu tidak memberikan kemajuan apapun dalam diskursusnya.

Untuk menggunakan Parsimoni secara tepat, kita perlu memahami motivasi dari teori yang ditawarkan. Dalam kaitan ini, untuk membuang Meinongianisme dan OOO, kita perlu memahami motivasi dari Meinongianisme dan OOO terlebih dahulu. Lalu, kita tinggal mengonstruksikan teori yang motivasinya sama namun konstruksinya lebih sederhana. Masalahnya, apakah teori dan motivasi dari Meinongianisme dan OOO yang kontinental ini bisa kita pahami atau tidak? Apabila sebuah teori tidak dapat dipahami, lebih baik didiamkan saja dan tidak perlu diberikan panggung lebih lanjut, daripada membuang-buang resource pikiran.

Tambalan Teknis

Bagi Arkhano (2025), Hukmi menawarkan gurun. Bagi saya, Arkhano menawarkan oasis, tapi oasis buatan. Menyadari kekakuan logika klasik Russell yang memusnahkan fiksi, Arkhano (2025) mengajukan solusi teknis: Logika Bebas (Untuk detail logika bebas, baca Gratzl dkk., 2025).

Arkhano (2025) berargumen bahwa kita bisa memisahkan “Kuantor Partikular” dari “Eksistensi”. Dalam logika klasik, $\exists x$ dibaca “Ada $x$” begitu saja. Sementara dalam Logika Bebas, kita bisa mengonstruksikan $\exists x$ yang hanya berarti “Untuk $x$ di domain pembicaraan”, tanpa menyiratkan $x$ itu eksis secara ontologis; dan $\exists^\mathcal{E}$ adalah kuantor bermuatan sehingga ini yang berarti “Ada $x$” dalam Logika Bebas. Eksistensi ontologis adalah predikasi $\mathcal{E}x$ yang berarti “$x$ ada” sehingga kuantor bermuatan $\exists^\mathcal{E}$ didefinisikan sebagai $\exists^\mathcal{E} x (Px) := \exists x (\mathcal{E}x \land Px)$.

Ini memungkinkan Arkhano untuk berkata: “Pegasus adalah kuda terbang” yang benar secara logis, tanpa harus berkomitmen bahwa “Pegasus itu ada” atau “kuda terbang itu ada” yang salah secara ontologis. Sebab, dari proposisi $Kp :=$ “Pegasus adalah kuda terbang”, tidak dapat disimpulkan proposisi berkuantor $\exists^\mathcal{E} x (Kx)$ yang bermuatan ontologis.

Langkah ini titik awal yang cerdas, tapi menyesatkan. Ia hanya membuktikan bahwa Meinongianisme terjustifikasi sehingga mungkin secara logis. Artinya, terdapat sistem yang lengkap (complete) dan sahih (sound) yang dapat menjelaskan Meinongianisme. Namun, Arkhano seakan melompat pada kesimpulan bahwa Meinongianisme itu tepat secara filosofis. Hanya karena semantiknya dinamai “Meinongian Semantics” bukan berarti Konsepsi Meinong tepat.

Hanya karena kita bisa membuat sistem logika di mana “Pegasus” bisa diproses tanpa “menggilakkan” (bahasa medan) penalaran kita, tidak berarti kita telah menjelaskan status ontologis Pegasus. Arkhano hanya menyelesaikan masalah penalaran ontologis, bukan masalah ontologisnya. Arkhano seperti insinyur yang memperbaiki pipa saluran air dan menganggap masalahnya selesai; padahal, permasalahan utamanya ada di airnya yang tercemar.

Untuk membedakan yang nyata dan yang fiksi, Logika Bebas membagi domain menjadi dua (Gratzl dkk., 2025). Pertama, Outer Domain $D \setminus E$, yang berisi segala sesuatu yang bisa dibicarakan (termasuk Pegasus). Kedua, Inner Domain $E$, yang berisi segala sesuatu yang “eksis” ($\mathcal{E}$).

Pertanyaannya, apa kriteria masuk ke Inner Domain? Arkhano tidak memberikan jawaban filosofis terhadapnya. Jika kriterianya sesederhana “berada di ruang-waktu”, maka konstruksi Arkhano sebenarnya bisa “di-olah-olah” sehingga collapse dengan konsepsi Hukmi/Quine. Inilah hal yang memungkinkan Hukmi (2025b) untuk menerima Logika Bebas, dengan tetap bersikukuh pada konsepsi ontologis Quine-Russell. Ini hanya menambahkan “ruang tunggu” Outer Domain untuk objek fiksi sebelum diusir dari realitas. Namun, jika kriterianya lain, apa itu?

Efeknya, pembagian ini terasa sangat Ad Hoc yang dibuat-buat begitu saja hanya untuk menyelamatkan teori Meinongianisme. Jangan salah, saya pribadi tidak ada masalah dengan solusi Ad Hoc, namun jangan seperti Insinyur yang hanya menyelesaikan masalah pinggiran dengan selotip: “yang penting it works”. Arkhano tidak memecahkan masalah utamanya tentang list/daftar keberadaan, ia hanya memindahkannya menjadi “Siapa yang boleh masuk Inner Domain?”, dan mendiamkan pertanyaan itu begitu saja.

Anggaplah Outer Domain ini adalah Subsistence, lalu bagaimana Quasisein dan Außersein dibedakan dalam outer domain tersebut? Ini juga luput, sehingga Logika Bebas di sini juga tidak menjustifikasi Meinongianisme secara utuh. Penilaian jujur saya, ini adalah tambalan teknis, bukan pondasi filosofis yang kokoh.

Hutan Belantara Demokratis

Meninggalkan solusi teknis Arkhano, kita masuk ke wilayah yang jauh lebih liar: Meinongianisme, yang dijelaskan dan diusung oleh Khasri (2025). Di sini, kita tidak lagi bermain dengan logika formal, melainkan dengan spekulasi metafisika yang berani.

Meinongianisme memegang konsep Außersein, yakni di luar Ada dan Tiada. Bagi Meinongian, “Ada objek-objek yang tidak ada.” Kalimat ini terdengar paradoks, tapi maksudnya adalah: Sifat suatu objek (Sosein) tidak bergantung pada eksistensinya (Sein). “Gunung Emas” adalah emas dan gunung, terlepas dari apakah ia ada di dunia nyata atau tidak.

Otomatis, serangan fatal Russell (1905) terhadap “the most perfect being that exists” masih berlaku. Jika objek memiliki sifat-sifatnya secara independen dari eksistensinya, apa yang mencegah kita mengungkapkan: $P :=$ “Gunung Emas yang Eksis”?

Secara definitif dalam proposisi tersebut, $P$ memiliki sifat “Eksis”. Jika $P$ tidak ada, ia melanggar prinsipnya sendiri bahwa objek memiliki sifat-sifat yang dipredikasikan. Jika $P$ ada, maka kita baru saja membuktikan keberadaan Gunung Emas hanya dengan mendefinisikannya. Kalau “Eksis” bukan predikat, kita bisa jatuh lagi pada konsepsi Quine-Russell bahwa “eksis” itu adalah kuantor; jadinya bunuh diri konseptual, atau hanya berjalan ditempat.

Argumen ini menunjukkan keliaran prinsip Meinongian. Meinongianisme memungkinkan kita menyulap apa saja menjadi nyata hanya dengan menyelipkan kata “eksis” dalam definisinya. Ini menghancurkan batasan antara definisi, proposisi, dan realitas.

Dari sini, Khasri (2025) ingin mendemokratisasi realitas. Segala yang bisa dipikirkan punya hak ontologis. Namun, demokrasi tanpa aturan hukum yang jelas tidak ada bedanya dengan Anarki, semua bisa berlaku seenaknya sendiri seperti mengutak-atik aturan agar anaknya bisa menjadi calon wakil presiden di negara konoha.

Jika setiap lintasan pikiran saya menciptakan objek yang secara ontologis valid, maka alam semesta menjadi penuh sesak secara instan. Peta realitas menjadi sama besarnya dan sama kacaunya dengan imajinasi kita. Peta yang skalanya $1:1$ dengan wilayahnya adalah peta yang tidak berguna. Ontologi Meinongian gagal memberikan tempat khusus pada realitas.

Khasri (2025) juga mencoba menempatkan Tuhan di wilayah Außersein untuk menyelamatkan-Nya dari kritik ateisme, bahwa “Tuhan (t-besar) ada di Außersein, dan gambaran kita tentang-Nya adalah tuhan Quasisein (t-kecil).” Namun, bagi saya, ini adalah blunder teologis. Außersein jugalah rumah bagi objek-objek mustahil seperti persegi-bundar atau objek fiksi yang pasif. Lantas, bagaimana hal di Außersein memiliki kekuatan kausal di dunia fisik-aktual? Saya pikir mereka tidak bisa menciptakan alam semesta atau menjawab doa.

Dengan menempatkan Tuhan di sana, Khasri secara tidak sengaja mengubah Teisme menjadi Ateisme Praktis: Tuhan yang “ada” secara konsep, tapi impoten secara kausal. Ini adalah pembelaan yang justru membunuh apa yang dibelanya.

Omong Kosong Mistis

Terakhir, kita menghadapi bentuk inflasionisme paling populer saat ini: Object-Oriented Ontology yang diwakili oleh penjelasan Afif (2025). OOO menjanjikan “Ontologi Datar” di mana semua objek setara, dan konsep misterius tentang “Withdrawal” atau Penarikan Diri.

OOO berargumen bahwa objek tidak pernah bisa direduksi ke bagian-bagiannya (Undermining) atau efek-efeknya (Overmining). Objek selalu “menarik diri” dari akses apa pun. Kita tidak pernah menyentuh “gelas”, hanya “gelas sensual” yang kita persepsi.

Bagi saya, konsep “Withdrawal” Harman adalah mistifikasi keterbatasan manusia. Fakta epistemologis sederhana bahwa “kita tidak bisa mengetahui segalanya tentang suatu objek” diubah oleh OOO menjadi properti ontologis objek yang mistis. Seolah-olah, gelas dan laptop di meja saya punya “sisi gelap” yang bersembunyi dari saya, bahkan meja dan diri saya sendiri juga demikian.

Ini bukan filsafat yang mendalam; ini sekadar membolak-balik antropomorfisme. OOO memberikan sifat “privasi” manusia praktis kepada objek. Terlebih, OOO mengklaim prinsip ini berlaku untuk semua objek. Tetapi, karena berlaku untuk semua objek, maka klaim ini layaknya juga berlaku untuk objek matematika. Maka dari itu, mari kita terapkan pada objek matematika.

Ambil bilangan 7 atau Segitiga. Apakah bilangan 7 punya “sisi gelap” yang menarik diri? Apakah ada bagian dari Segitiga yang tidak terjangkau oleh definisi dan konsekuensi geometrisnya?

Tentu saja tidak. Objek matematika didefinisikan sepenuhnya oleh aksioma dan relasinya. Segitiga adalah bangun datar bersisi sejumlah tiga. Titik. Tidak ada “inti misterius” di balik definisi itu.

Memaksakan konsep “Withdrawal” pada semua objek termasuk objek matematika adalah absurditas. OOO mencoba memaksakan metafisika benda fisik yang memang kompleks dan tak habis digali ke semua objek termasuk dunia matematis yang murni struktural.

Lebih jauh lagi, dalam Teori Kategori, terdapat teorema fundamental bernama Yoneda Lemma (untuk pengantar terkait detail-detail singkatnya, baca Stern, 2022, serta Rüd dan Ton, 2013; atas saran dari editor Antinomi, saya di sini akan menjelaskan secara ringkas-populer saja agar tidak terlalu teknis). Yoneda Lemma berbunyi terdapat bijeksi antara transformasi natural dari hom-functor $h$ atas objek $A$ di kategori $\mathcal{C}$ yang “kecil secara lokal” (yakni $\text{Hom}_\mathcal{C}(A, B)$ untuk $A,B \in \text{Obj}(\mathcal{C})$ adalah Hom-set) ke functor $F$ dengan himpunan $F(A)$:

$\text{Nat}(h, F) \cong F(A)$

Secara sederhana, $h$ merupakan “cara pandang relasional” tentang $A$, baik relasi dari $A$ maupun relasi ke $A$. $h$ merupakan hal yang mengumpulkan semua morfisme/relasi: baik dari $A$ ke semua objek lain, maupun dari semua objek lain ke $A$, di sebuah kategori. Ini dapat dipahami sebagai kumpulan semua “panah keluar” atau “aksi” dari $A$ ke semua objek lain, maupun semua “panah masuk” atau “akses” ke $A$ dari semua objek lain, di kategori yang dimaksud. 

Kemudian, $F$ adalah functor yang merupakan “cara pandang elemental”. Dalam konteks ini, $F$ secara intuitif membongkar objek $A$ di sebuah kategori menjadi himpunan $F(A)$ sehingga mengungkap elemen-elemennya secara umum, berikut dengan morfisme/relasi $f$ di kategori tersebut menjadi $F(f)$ di kategori $\mathbf{Set}$.

$\text{Nat}(h, F)$ adalah kumpulan transformasi natural dari hom-functor $h$ ke functor $F$. Transformasi Natural adalah pemetaan antar functor. Secara intuitif, jika functor adalah “Cara Pandang” atau “Kamera” yang melihat/menangkap objek menjadi objek lain, seperti dari meja menjadi foto meja, maka Transformasi Natural adalah jembatan yang menghubungkan dua “Cara Pandang” tersebut. Bayangkan dua orang fotografer memotret satu meja yang sama dari sudut berbeda sehingga menghasilkan foto meja yang berbeda, transformasi natural menghubungkan perbedaan tersebut dengan menjelaskan “transformasi” atau  pergeseran sudut pemotretan. Dengan demikian, $\text{Nat}$ adalah kumpulan berbagai transformasi seperti itu; dan dalam konteks Yoneda, transformasi ini menghubungkan “Cara Pandang Relasional” ($h$) ke “Cara Pandang Elemental” ($F$).

Inti dari teorema ini adalah adanya korespondensi satu-ke-satu atau bijeksi antara transformasi natural $\text{Nat}(h, F)$ dengan elemen himpunan $F(A)$. Artinya, setiap transformasi natural unik berpasangan dengan tepat satu elemen di $F(A)$, dan sebaliknya. Konsekuensinya, seluruh informasi tentang elemen internal $A$, yakni $F(A)$, sudah terkandung sepenuhnya dalam relasi eksternal terkait $A$ di $h$, begitu juga sebaliknya.

Ada matematikawan di mathoverflow[1] yang menjelaskan Yoneda Lemma dengan analogi ciamik: “tell me how you relate to everything else, and I will tell you who you are (up to unique isomorphism).” Bisa dibilang hal ini berhubungan langsung dengan pepatah bahwa: “tunjukkan aku semua temanmu/relasimu, dan aku akan tahu orang seperti apa kamu sebenarnya” (Stern, 2022). Saya pribadi lebih suka analogi “semua hal yang semua tentangnya adalah seperti bebek (yakni, terlihat seperti bebek, berjalan seperti bebek, membebek seperti bebek, makan/minum seperti bebek, dan seterusnya; semua tentangnya seperti bebek), maka ia tidaklah lebih dari bebek”.

Pertanyaannya, mengapa Yoneda Lemma merusak klaim OOO? OOO mengklaim bahwa semua objek real selalu menarik diri, baik dari “akses” (Withdrawal from Access) maupun “aksi” (Withdrawal from Action), yang berarti objek tidak pernah bisa diakses sepenuhnya dan juga tidak pernah bisa “beraksi” sepenuhnya (sebab ia selalu diwakili oleh objek sensual dan vicarious causation). Yoneda Lemma justru membuktikan sebaliknya, bahwa  bahwa objek matematis $A$ ditentukan sepenuhnya oleh bagaimana $A$ diakses oleh, maupun beraksi ke, semua objek lain ($h$). Sederhananya, jika kalian tahu semua cara untuk “masuk” ke, maupun “keluar” dari, $A$, yakni semua perspektif terhadap $A$ maupun semua perspektifnya $A$, maka kalian tahu segala hal tentang $A$. Tidak ada “inti gelap dari luar” maupun “inti gelap dari dalam” yang tersisa.

Jadi, semua objek matematika dalam kategori yang “kecil secara lokal” benar-benar terkepung, baik dari dalam maupun dari luar. Tidak ada ruang yang masuk akal dan intuitif bagi OOO untuk mempertahankan klaim bahwa “semua objek” selalu menarik diri dari “akses” atau “aksi”, objek matematika ini adalah bukti yang membantahnya. Satu-satunya jalan yang bisa dilakukan oleh OOO, sejauh yang bisa saya pikirkan, adalah dengan mengklaim bahwa objek matematika seperti itu tidak real atau bukan “Objek Real”; dan ini tidaklah masuk akal maupun intuitif. Objek matematika yang terkonstruksi dengan baik sesederhana aritmatika yang kita gunakan untuk menghitung uang di akhir bulan adalah hampir sama real-nya dengan kedua tangan saya yang mengetik tulisan ini daripada konsepsi “Objek Real” yang mistis di antah-berantah nan jauh di sana.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam matematika, terutama pada objek matematika dalam kategori yang “kecil secara lokal”, identitas adalah relasional. Menolak ini demi konsep “Withdrawal”, yang di klaim universal namun gagal, berarti menolak realitas matematis tersebut demi romantisme metafisika yang usang, yang cuma menyubstitusi kata dari “Das Ding an Sich” menjadi “Real Object”; dan jujur saja, tidak ada insight yang bermakna bagi saya.

Catatan penutup: saya berterima kasih pada kawan-kawan yang telah mentraktir di Trakteer Intuisionistik ID, terutama Akbar Rafsanjani, Aldo Fern, Pnd Prsty, Afif Anggito, Anas Al Masyhudi, Muhammad Naffan, Jong Alexander, serta enam belas hamba Allah lainnya yang namanya tidak ingin disebutkan. Artikel ini salah satunya merupakan bentuk terima kasih saya. Intuisionistik ID mencoba untuk mempopulerkan logika formal dan filsafat analitik, salah satunya melalui konten sosial media, kelas-kelas, hingga buletin mingguan; dan teman-teman dapat mengaksesnya atau mungkin traktir kami melalui tautan berikut: <teer.id/intuisionistik>. Terima kasih atas support teman-teman semua!

Referensi

Afif, Fakhri, 2025, “Object Oriented Ontology: Sebuah Pengantar”, Antinomi.org, URL =
<https://antinomi.org/object-oriented-ontology-sebuah-pengantar/>.

Arkhano, R. Aquila, 2025, “Kikir Ontologi Berimplikasi Kerobohan Bangunan Metafisika”, Antinomi.org, URL =
<https://antinomi.org/kikir-ontologi-berimplikasi-kerobohan-bangunan-metafisika/>.

Gratzl, Norbert, Edi Pavlović, dan John Nolt, 2025, “Free Logic”, The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Edisi Musim Panas), Edward N. Zalta & Uri Nodelman (eds.), URL =
<https://plato.stanford.edu/archives/sum2025/entries/logic-free/>.

Hukmi, Risalatul, 2025a, “Ontologi yang Mubazir dan Akrobatik”, Antinomi.org, URL =
<https://antinomi.org/ontologi-yang-mubazir-dan-akrobatik/>.

Hukmi, Risalatul, 2025b, “Soal Kesederhanaan Ontologis”, Antinomi.org, URL =
<https://antinomi.org/soal-kesederhanaan-ontologis/>.

Khasri, M. Rodinal Khair, 2025, “Meinong dan Hutan Belantara Ontologis”, Antinomi.org, URL =
<https://antinomi.org/meinong-dan-hutan-belantara-ontologis/>.

Rüd, Thomas, dan Jean-Claude Ton, 2013, “Yoneda Lemma”, dalam Practical work in mathematics, École polytechnique fédérale de Lausanne, MIT, URL =
<https://math.mit.edu/~rud/TeXthings/yoneda%20lemma%20rapport(1).pdf>

Russell, B., 1905, “On Denoting”, Mind, 14(56), pp. 479-493. Stern, Alex, 2022, “Introduction to Category Theory and The Yoneda Lemma”, University of Chicago, URL =
<https://math.uchicago.edu/~may/REU2022/REUPapers/Stern.pdf>.


[1] <https://mathoverflow.net/questions/3184/philosophical-meaning-of-the-yoneda-lemma>

Soal Kesederhanaan Ontologis

0
Minimalist bridge
Photo by Stockcake

Masalah serius yang seketika bisa ditemukan dalam tulisan “Kikir Ontologi Berimplikasi Kerobohan Bangunan Metafisika” adalah dua kata yang digunakan secara tidak hati-hati: “kikir” dan “implikasi”. Dua kata tersebut tampak bukan hanya sebagai polesan tajuk, tetapi juga menjadi logika dari keseluruhan argumentasi yang dibangun Arkhano dalam tulisannya.

Ringkasnya, tulisan tersebut dibangun di atas logika “jika p (kita kikir secara ontologis), maka q (merobohkan bangunan metafisika).” Sebab Arkhano tidak mendefinisikan kata “kikir” dalam argumennya, saya mengasumsikan kita sedang berbicara dalam pengertian bahasa sehari-hari (ordinary language). Untuk itu, jawaban ringkas saya, “sederhana atau efisien itu tidak sama dengan kikir.” Yang pertama itu “sesuai keperluan”, yang terakhir itu “enggan sekalipun perlu”.

Sampai di sini, inti argumen Arkhano gagal sebab p tidak terpenuhi, atau lebih tepatnya, tidak didefinisikan dengan baik. Sekalipun ia terpenuhi, pertanyaannya adalah “apakah ia punya implikasi terhadap kerobohan bangunan metafisika?” Saya pikir tidak.

Namun, tentu saja, saya tetap perlu memberikan pembelaan atas posisi saya dengan lebih memadai. Untuk itu, pertama-tama, yang perlu saya klarifikasi adalah bahwa sikap kesederhanaan ontologis yang saya bela bukanlah dogma anti-metafisika, melainkan prinsip kerja untuk menjaga bangunan metafisika tetap rasional, efisien, dan tidak runtuh oleh beban entitas yang tidak perlu. Dalam kerangka ini, saya akan merespons dalam tiga pokok besar: (1) soal pembedaan beingexistence dan peran teori deskripsi, (2) soal logika bebas dan komitmen ontologis, serta (3) soal posisi kesederhanaan ontologis sebagai prinsip metodologis.

Pembedaan yang redundan

Arkhano berargumen bahwa pembedaan antara being dan existence penting untuk menjelaskan proposisi tentang objek fiksi. Misalnya, ketika kita mengatakan “Sherlock Holmes tinggal di Baker Street 221B,” kita seolah menyatakan sesuatu yang benar, meskipun Sherlock Holmes tidak eksis. Arkhano menyimpulkan bahwa agar proposisi tersebut masuk akal, kita perlu menerima keberadaan entitas “subsisten” di luar ranah eksistensi aktual. Benar, inilah titik pijakan utama Meinongianisme.

Namun, di sinilah letak perbedaan prinsip antara posisi Meinongian dan Quinean yang saya adopsi. Pembedaan itu bukan tidak mungkin, tetapi tidak perlu. Sejak Russell memperkenalkan teori deskripsi (1905), proposisi semacam itu dapat dijelaskan tanpa harus memanggul beban ontologis tambahan. Ketika kita mengatakan “Sherlock Holmes tinggal di Baker Street 221B,” kita tidak sedang berbicara tentang entitas yang benar-benar ada, melainkan tentang deskripsi linguistik tertentu. Kalimat tersebut dapat dipahami sebagai “dalam cerita detektif Conan Doyle, terdapat tokoh bernama Sherlock Holmes yang diasosiasikan dengan alamat tersebut.” Tidak ada keharusan untuk menambah “Sherlock Holmes” sebagai entitas subsisten dalam inventaris dunia.

Pembedaan being/existence Meinong memang tampak elegan karena ia memberikan ruang bagi objek fiksi, objek non-eksis, dan bahkan objek kontradiktif. Namun, elegansi semacam ini bersifat kosmetik. Ia tidak menambah kemampuan teoritis yang tidak dapat diperoleh dengan kerangka deskriptif Russellian atau analisis semantik formal. Sebaliknya, ia justru memperbesar daftar ontologis tanpa justifikasi epistemik yang kuat. 

Dengan kata lain, being ala Meinong hanyalah cara lain untuk menduplikasi bahasa menjadi ontologi. Setiap deskripsi atau kemungkinan dijadikan entitas. Inilah yang Quine (1948) sebut sebagai “hutan liar Meinongian”, tempat di mana kalimat linguistik otomatis memproduksi entitas metafisik. Jika kita mengikuti cara berpikir ini, kita bisa jatuh pada sesat-pikir reifikasi (fallacy of reification) atau sesat-pikir ontologis (ontological fallacy); menganggap sesuatu eksis hanya karena kita bisa membahasakannya.

Soal logika bebas

Arkhano mengajukan “logika bebas” (free logic) sebagai alternatif untuk mengatasi keterbatasan logika klasik Quinean. Dengan memisahkan eksistensi dari kuantifikasi melalui inner domain dan outer domain, logika bebas memungkinkan kita mengafirmasi proposisi tentang objek non-eksis tanpa komitmen terhadap eksistensi aktual. Misalnya, kita dapat menyatakan “Pegasus tidak eksis” tanpa kontradiksi formal.

Tentu, saya bersimpatik dan tidak punya masalah dengan “logika bebas”. Dalam hal ini, saya melihatnya sebagai cara lain untuk mengatasi masalah serupa yang ingin diselesaikan oleh Russell dan Quine. Toh, keduanya juga punya kesimpulan yang sama bahwa pembicaraan tentang objek non-eksis masih bermakna. Perbedaannya, “logika bebas” secara formal menyediakan kerangka yang lebih fleksibel untuk menangani istilah-istilah yang tidak punya rujukan (non-denoting), sementara Russell dan Quine cenderung mengandalkan teori deskripsi atau asumsi eksistensi implisit.

Namun, jika tujuannya adalah membela posisi meinongian, yakni memberikan semacam status ontologis bagi entitas fiksi, saya pikir “logika bebas” bukanlah alat yang tepat. Sebab, secara prinsip, logika bebas tidak mengharuskan—apalagi mempromosikan—komitmen ontologis terhadap entitas non-eksis. Ia hanya menata ulang struktur logis agar pernyataan tentang entitas tersebut dapat diformalkan tanpa kontradiksi, bukan untuk memvalidasi keberadaan mereka dalam ranah ontologi.

Dengan demikian, saya melihat “logika bebas” hanya sebagai alat metodologis: ia mempermudah pembicaraan tentang objek non-eksis dalam bahasa formal tanpa memaksa kita melakukan klaim ontologis tambahan. Dalam konteks ini, ia cukup membantu menjaga konsistensi logis dengan tetap mempertahankan intuisi linguistik dan semantik tanpa mengubah peta ontologi kita. Jadi, simpulannya, sikap saya terhadap logika bebas adalah positif, sebagai sarana formal, tetapi skeptis terhadap klaim ontologis yang kadang ingin dipaksakan dari pernyataan formal tersebut.

Kesederhanaan sebagai prinsip metodologis

Kritik Arkhano terhadap posisi saya berpangkal pada anggapan bahwa saya terlalu memuja kesederhanaan, sehingga saya bisa disebut “kikir” ontologis. Menurutnya, kesederhanaan hanyalah kriteria akhir dalam menilai teori metafisika, dan teori yang rumit bisa jadi lebih masuk akal jika daya penjelasnya lebih kuat. Ini argumen yang sah, tetapi keliru jika diarahkan pada posisi saya.

Saya tidak menempatkan kesederhanaan sebagai kriteria mutlak, melainkan sebagai prinsip metodologis pembatas inflasi ontologis. Dalam sains, kita tidak akan memasukkan entitas atau mekanisme tambahan kecuali ada fenomena yang tak dapat dijelaskan tanpanya. Hal yang sama berlaku dalam metafisika. Jika teori deskripsi Russell dan kerangka Quine—atau kerangka formal “logika bebas”, sebagaimana diusulkan Arkhano—sudah dapat menjelaskan proposisi fiksi dan kontradiksi, maka menambahkan entitas meinongian adalah hal yang tidak perlu. Boleh saja, tapi buat apa?

Kesederhanaan tidak berarti menolak teori rumit secara apriori. Jika teori rumit benar-benar memberi daya penjelas baru, maka ia layak dipertimbangkan. Namun, dalam kasus ini, beban tambahan yang dibawa oleh meinongianisme tidak disertai manfaat teoritis yang proporsional. Ia memperbesar “bangunan metafisika” tanpa fondasi epistemik yang kokoh.

Selain itu, kesederhanaan juga berperan menjaga konsistensi dan stabilitas teori. Semakin banyak entitas dan domain yang kita perkenalkan, semakin besar pula risiko kontradiksi, kebingungan semantik, atau kerancuan inferensial. Sekali lagi, metafisika bukan ajang untuk unjuk kelimpahan entitas, tetapi arena disiplin teoretis. Dengan begitu, kesederhanaan ontologis bukanlah bentuk kekikiran, sehingga tidak punya implikasi terhadap kerobohan bangunan metafisika.

Penutup

Jika boleh saya rangkum, argumen saya sederhana: “kesederhanaan itu berbeda dengan kekikiran. Seandainya pun demikian, ia tidak serta-merta berimplikasi terhadap kerobohan bangunan metafisika.” Klaim implikatif di sini, menurut saya, memiliki beban pembuktian yang berat. Benar bahwa ontologi adalah salah satu—untuk tidak mengatakan satu-satunya—fondasi dari metafisika, tapi jangan lupa bahwa ada logika dan integritas epistemik yang berperan memastikan apakah fondasi tersebut kuat atau rapuh. 

Dengan kata lain, kekokohan bangunan metafisika tidak hanya ditentukan oleh seberapa sederhana atau kompleks ontologinya, tetapi juga oleh ketepatan struktur logis yang mengikat konsep-konsep di dalamnya. Fondasi yang rumit sekalipun bisa runtuh jika tidak ditata dengan benar; sebaliknya, fondasi yang tampak sederhana bisa tetap kokoh bila memiliki struktur dan logika penataan yang baik. Oleh karena itu, dalam menilai kekuatan suatu bangunan metafisika, kita tidak bisa hanya menilai dari sedikit–banyaknya entitas ontologisnya, tetapi harus melihat keseluruhan struktur ontologi dan logika yang menatanya.

Kikir Ontologi Berimplikasi Kerobohan Bangunan Metafisika

0
https://www.turing.ac.uk/research/interest-groups/knowledge-graphs

Artikel ini bertujuan untuk menengahi polemik yang timbul karena sanggahan Hukmi (2025) terhadap artikel Khasri (2025). Khasri (2025) menjelaskan gagasan Meinong mengenai tiga kategori objek yaitu eksis dan subsis—serta absis. Singkatnya, kategori subsis ini mencakup segala objek intensional seperti pegasus, gunung emas, hingga objek kontradiktori persegi bundar. Kategori subsis ini dianggap sebagai objek non-eksis tapi masih memiliki sifat-sifat yang dikenali dan dianggap sebagai objek pikiran. Dengan demikian, Meinong berhasil membuka jalan untuk membicarakan objek-objek non-eksis.

Sebagai seseorang yang menyelami dunia filsafat analitik dan logika secara dangkal, saya akan mengambil posisi moderat terhadap teori objek Meinongian. Menurut saya, berbeda dari Hukmi (2025), teori Meinong sebagian tidaklah mubazir karena ia dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan filosofis. Dalam tulisan ini saya tidak akan membela OOO milik Harman. Saya akan mengarahkan teori Meinong pada gerbang common sense dan menunjukkan perannya dalam dunia logika. Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar mengenai teori objek Meinong, apalagi pemikiran filsafatnya yang dekat dengan psikologi. 

Pemahaman mengenai logika orde pertama adalah syarat wajib untuk memahami tulisan ini. Selain itu, kritik filsuf-filsuf analitik terhadap Meinong adalah topik yang wajib dipahami. Oleh karena itu, saya akan menuliskan pendahuluan logika orde pertama dan diskursus ontologi Russell dan Quine secara singkat. Bagi yang sudah memahami logika orde pertama, bagian berikut ini bisa dilewati saja.

Logika Orde Pertama

Logika orde pertama mesti dibedakan dari logika proposisional. Logika orde pertama melibatkan kuantor, predikat, dan variabel. Sesuai dengan gaya penulisan Copi (1979), penulisan simbol primitif tersebut adalah sebagai berikut

variabel Individual  : $x, x_1 , x_2, x_{3}\dots.$

konstanta Individual : $a, a_1,  a_2, a_3\dots$

variabel Predikat : $P, P_1^1, P^1_2, P_1^3, P^2_1, P^2_{2}, P^2_{3}\dots$

konstanta Predikat: $A, A^1_1, A^1_2, A^1_3, A^2_1, A^2_2\dots.$

Variabel individual bersifat arbitrer. Dalam logika proposisional variabel individual ini terikat oleh kuantor. Kuantor dalam logika klasik orde pertama dibagi menjadi ($\exists$) dan universal ($\forall$). Predikat juga dapat dianggap arbitrer sebagai abstraksi, tetapi jika predikat memiliki konsep yang telah ditetapkan, ia dapat dikatakan sebagai kostanta. Predikat dapat bersama dengan satu variabel atau lebih sebagai relasi.

Contoh penulisannya secara formal adalah seperti $\forall xPx$ atau $\forall x \forall y (x=y \rightarrow xRy)$. Selanjutnya, kuantifikasi variabel dalam logika tersebut dapat diinstansiasi menjadi konstanta. Misalnya, Kita dapat menginstansiasinya $\forall xPx$ menjadi $Pa$. Dari konstanta sendiri kita dapat menggeneralisasinya menjadi variabel. Misalnya, dari $Pa$ dapat digeneralisasi menjadi $\forall x Px$ ataupun $\exists x Px$.

Dalam bahasa sehari-hari, konstanta variabel dan predikat dianggap sebagai proper name. Contohnya, Akil makan $Ma$  adalah instansiasi dari seseorang makan $\exists xMx$  Proposisi “seseorang makan” adalah proposisi yang mengkuantifikasi secara arbitrer individual dari predikat makan. Begitupun Seorang mahasiswa filsafat $Fx$ , kita dapat menginstansiasi aqil sebagai proper name $Fa$ –karena Aqil adalah mahasiswa filsafat. 

Kebenaran dalam logika orde pertama bergantung pada ada atau tidaknya suatu variabelnya dalam domain $D$ pada suatu predikat. Misalnya, notasi $\forall x Px$, hal tersebut berarti seluruh variabel yang dianggap sebagai x mesti dianggap sebagai $P$ . Oleh karena itu, konstanta pada domain $\partial_a$, $\partial_b$ ,…..$\partial_n$ harus memenuhi predikat P.

$P$$\partial_a$$\partial_b$
$P_1$$\checkmark$$\checkmark$

Jika terdapat konstanta yang tidak memenuhi, konstanta tersebut dapat menjadi counterexample dari proposisi tersebut. Misalnya untuk $\neg \forall x Px$ , kebenarannya dapat dibuktikan dengan ketidakpenuhan setidaknya satu konstanta individual. 

$P$$\partial_a$$\partial_b$
$P_1$$\times$$\checkmark$

Dalam bahasa sehari-hari, proposisi Jika manusia maka mamalia, dapat diterjemahkan, untuk semua $x$, jika $x$ manusia maka $x$ mamalia atau secara formal dapat ditulis $\forall x (Hx \rightarrow Mx )$.  Syarat kebenaran dari proposisi ini mengharuskan seluruh individual $x$ pada $H$ mestilah ada pada $M$. Lebih detailnya mengenai logika orde pertama bisa dibaca artikel saya bersama Ahnaf (2024).

Russell dan Quine

Hukmi (2025) menggunakan dua pandangan dari Russell (1905) dan Quine (1948) untuk membabat habis hutan Meinong. Alasan illegal loging tersebut dilakukan karena ia menganggap Meinong mengandaikan bagasi metafisika yang berlebih. Akrobat metafisika yang dilakukan Meinong dianggap mengandung kontradiksi logis dan ketidaksederhanaan. Sebelum kita memperhatikan argumen Hukmi lebih lanjut ada baiknya memahami argumen dari Russell dan Quine dahulu secara ringkas.

Russell (1905) menggunakan logika orde pertama untuk menyelesaikan teka-teki bahasa melalui teori deskripsi. Proposisi seperti “Raja Perancis hari ini botak” terlihat membingungkan sebelum diubah dalam bentuk formal. Jika “Raja Perancis hari ini botak” salah, apakah “Raja Perancis hari ini tidak botak” benar? Melalui logika orde pertama, kita dapat menuliskan ulang proposisi tersebut sebagai 

$\exists x (Fx \land \forall y (Fy \rightarrow x=y) \land Bx)$

“ada $x$ yang mana $x$ adalah $F$ dan untuk semua tentang $F$ pastilah $x$, dan $x$ adalah $B$ “

Jika substitusi dengan salah satu proposisi sebelumnya, kita dapat mendapatkan kejelasan tentang kesalahan dan order kontennya. Misalnya, “Raja Perancis Hari ini Botak” dapat ditulis secara formal sebagai 

ada $x$ yang mana x adalah Raja Perancis dan untuk semua tentang Raja Perancis pastilah $x$, dan $x$ adalah Botak.

Kesalahan dalam proposisi ini ditunjukkan oleh ketiadaan eksistensi kuantor. Kita tidak membicarakan soal Raja Perancis yang botak, tetapi objek individual yang terkuantifikasi yang memiliki predikat Raja Perancis dan botak. Oleh karena itu pula, kesalahan “Raja Perancis botak” dan “Raja Perancis tidak botak” dapat dibedakan bedasarkan derajat penempatan proposisinya. Berikut komparasi proposisinya secara terurut:

(a) tidak ada $x$ yang mana x adalah Raja Perancis dan untuk semua tentang Raja Perancis pastilah $x$, dan $x$ adalah Botak

(b) ada $x$ yang mana x adalah Raja Perancis dan untuk semua tentang Raja Perancis pastilah $x$, dan $x$ adalah tidak Botak

Dalam kasus ini, kita tidak menganggap bahwa raja perancis eksis. Anggapan salah pada proposisi tersebut akan cocok dengan jawaban (a).

Metode Russell ini kemudian dianggap cukup oleh Quine (1948) dalam menyelesaikan kebingungan bahasa dan permasalahan eksistensi. Quine membawa slogan–“To be is to be the value of a bound variable”. Dalam hal ini, Quine menolak distingsi being dan exist Meinongian yang tidak sederhana–penolakan ini ia anggap sebagai pencukuran jenggot Plato. Tidak ada pembedaan lagi antara being dan exist. Pernyataan “Pegasus tidak ada” bukan berarti terdapat being pegasus sebagai referensi. Namun, Pegasus tidaklah eksis, dalam bentuk formalnya dapat dituliskan sebagai $\neg \exists a (a=Pegasus)$ (Ney, 2020). Dengan demikian, menyatakan keberadaan pada sesuatu adalah mengkuantifikasi sesuatu tersebut. Setelah kita memahami konteks dari penolakan ontologi dan metafisika Meinong, kita akan beranjak pada kritik Hukmi (2025) terhadap Khasri dan Meinong.

Keberatan atas Kritik Hukmi

Berikut saya akan menginventarisasi argumen yang saya ambil dari tulisan Hukmi (2025) untuk saya bantah satu persatu. Setidaknya, terdapat tiga poin yang saya jadikan representasi dari tulisan Hukmi. Kita cukup menyentuh fondasi bangunan untuk merubuhkan pondok religius yang rapuh.

Permasalahan Regimentasi dan Kesederhanaan Quine

”Kita tidak seharusnya menganggap entitas metafisik sebagai bonus konseptual yang bisa ditambahkan tanpa beban. Setiap entitas yang kita postulatkan dalam kerangka ontologis membawa konsekuensi teoritis yang harus ditanggung. Ketika sebuah teori menumpuk entitas yang tidak memiliki peran eksplanatoris yang jelas, maka ia hanya akan menambah beban ontologis, dan itu sebuah kemubaziran.”

Bagi saya, ketika seseorang memilih menjadi filsuf yang sederhana, ia juga memiliki konsekuensi terhadap bangunan metafisikanya. Terdapat dua permasalahan filosofis jika kita mengabaikan pembedaan ada dalam arti kuantifikasi dan eksis. Berbagai permasalahan tersebut muncul pada logika orde pertama dalam pandangan Quine (1948). Quine sendiri secara tegas mengkritik distingsi being (ada) dan eksis. Untuk menyatakan “Pegasus tidak eksis” kita cukup melakukan penulisan ulang sebagai $\neg \exists a (a=Pegasus)$. Kita tidak harus memiliki komitmen eksis pada sesuatu yang tidak eksis. Menurutnya, kita tidak perlu menyatakan ada untuk sesuatu yang tidak eksis. Dalam ontologi gurun Quine, ada dan eksis adalah hal yang tidak perlu dibedakan. Oleh karena itu, hutan belantara penuh metafisika Meinong perlu dibabat habis dan digantikan dengan ontologi yang lebih sederhana.

Pemikiran Quine yang menyamakan kuantor partikular dan komitmen ontologis membawa permasalahan filosofis lain. Simbol $\exists$ tetap dapat digunakan untuk mengkuantifikasi himpunan yang berisikan objek-objek yang tidak eksis. Saya bisa menyatakan “beberapa himpunan objek fiksi adalah objek yang dapat dipikirkan”. Penulisan formalnya adalah $\exists P \exists Q (P \subset Q)$ . Apakah saya harus memiliki komitmen terhadap himpunan objek? Jika jawabannya iya, Berarti saya bukan Quinean. 

Inti permasalahan dari teori Quine adalah kondisi kebenaran digantungkan pada eksistensi dan kuantifikasi objek. Menurutnya, objek harus dikuantifikasi eksis sehingga benar. Pertanyaannya, apakah objek fiksi tidak bisa benar? Saat saya menyatakan pegasus bewarna putih atau hantu yang di mimpi saya menyeramkan, saya tidak mempunyai komitmen ontologis terhadap mereka dan saya meyakini bahwa pernyataan saya benar. Begitupun ketika seseorang mengatakan “Sherlock Holmes tinggal di Jalan Baker 221B” saya akan mengamini kebenarannya. Lantas bagaimana saya dapat menyatakan properti positif objek-objek fiksi dalam gurun ontologi Quine?

Selain itu, mari kita asumsikan eksistensi sebagai predikat dan secara konsisten mengadopsi prinsip generalisasi logika orde pertama (Priest 2008). “Pegasus adalah objek tidak eksis” dapat ditulis secara formal sebagai

$Ta$  $\Rightarrow \exists x Tx$ “Eksis $x$ yang mana x adalah objek tidak eksis”

Tentu hal tersebut menjadi tidak masuk akal dan malah menimbulkan kontradiksi. Bagaiamana sesuatu dapat eksis dan tidak eksis secara sekaligus?

Dari beberapa permasalahan yang sudah saya sebutkan, tampaknya kesederhanaan yang diasumsikan oleh Quine (1948) dan Hukmi (2025) membawa para filsuf ke gurun ketidakmasukakalan. Hal tersebut dikarenakan postulat Quine terhadap kuantor partikular dan eksistensi ternyata juga membawa konsekuensi yang harus ditanggung berupa kebingungan makna dari kuantor itu sendiri. Ontologi Quine yang kering juga memaksa kita untuk tidak mengamini objek fiksi yang memiliki sifat positif. Keinginan untuk menyamakan ontologi dan sains itulah yang menjadi beban yang dibawa oleh santri Quine.

Logika Bebas dan Kalimat Barcan

“Yang perlu dicatat, pertama-tama, ontologi bukan melulu soal inventarisasi daftar apa saja yang “ada” laiknya kerja-kerja sensus, sehingga lebih banyak daftar yang kita miliki tidak kemudian membuat teori ontologi kita lebih baik”

Seringkali inventarisasi ontologis penting untuk menghasilkan kesimpulan filsafat yang masuk akal dan lebih baik. Teori yang lebih rumit sebaiknya dipilih jika memang lebih masuk akal dan bisa menyelesaikan masalah daripada teori yang lebih sederhana. Dalam pandangan saya, kesederhanaan adalah poin paling terakhir dalam pemilihan kerangka ontologis. Kesederhanaan dipilih jika dalam perbandingan dua teori keduanya memiliki implikasi teoritis yang sama tetapi memiliki bagasi metafisika yang tidak sepadan. Jika seseorang mengamini kesederhanaan begitu saja, ia mungkin akan terjebak pada pemikiran logika klasik yang memiliki semantik yang sederhana–seperti eyang Quine. Logika dengan semantik lain seperti truthmaker dan dunia mungkin akan ditolak begitu saja hanya alasan konyol “teori tersebut tidak sederhana”.

Inventarisasi ontologi yang berlebih dapat diperlihatkan dalam motivasi logika bebas (free logic). Logika bebas adalah logika yang membuang asumsi term dan objek dari asumsi eksistensial (Lambert, 1997 ). Untuk memisahkan asumsi terma dan objek-objek dari asumsi eksistensial, logika bebas memerlukan semantik Meinongian tambahan berupa inner domain (Gratzl dkk, 2025). Sebut saja domain ini $E$. Domain tersebut merupakan subhimpunan dari domain $D$ yang mana dapat dituliskan sebagai $E$ $\subseteq$ D. Domain $E$ berisikan objek-objek yang eksis, sedangkan domain $D$ adalah himpunan segala objek. Melalui semantik tersebut, objek yang eksis di domain $D$ tidak pasti eksis di domain $E$ . Namun, jika kita ingin kembali dengan klasik, kita dapat menyamakan $E$ dan $D$ ($E=D$). Dengan demikian objek yang memiliki predikat, tidak berarti dapat disimpulkan objek tersebut eksis karena terdapat domain $D-E$ (outer domain). 

Mari kita ambil contoh “Pegasus adalah objek yang tidak eksis” cukup dapat dinyatakan 

$Pa$ dan tidak dapat disimpulkan $\exists x Px$ karena objek tersebut tidaklah eksis. 

Untuk menyatakan generalisasi eksistensial, kita memerlukan eksistensi dari objek, dalam logika gratis kita anggap $\text{€}$. Dengan demikian, jika objek $a$ eksis, kita dapat menyimbolkannya sebagai $\text{€}a$ . Pegasus adalah objek tidak eksis dapat dinyatakan sebagai  $\neg \text{€}a$ . Lantas bagaimana kita menyatakan Jokowi adalah presiden ke tujuh yang eksis? Kita cukup menambahkan konjungsi sebagai berikut

$\text{€}a \land Pa$ yang mana kita dapat generalisasi sebagai $\exists x Px$ karena objek Jokowi memiliki eksistensi. 

Logika ini mungkin tidak disukai oleh Russell dan Quine karena tidak sederhana, tetapi logika ini disukai oleh Meinong karena menggambarkan bagaimana metafisikanya bekerja. Logika ini juga secara intuitif mendukung kesetujuan kita terhadap properti objek non eksis seperti “Sherlock Holmes tinggal di Jalan Baker 221B” kendati kita menolak berkomitmen pada eksistensinya. Lantas bagaimana kita menyatakan $\forall x Px$ dalam logika bebas? Asumsi dari instansi kuantor universal logika bebas dapat dituliskan  “jika objek tersebut eksis, maka objek tersebut P” atau $\text{€}a \rightarrow Pa$ . 

Solusi selanjutnya adalah dengan membedakkan kuantifikasi objek yang eksis dan tidak eksis. Jika kita ingin mengamini kuantifikasi suatu proposisi eksis, kita dapat menyatakan kuantifikasi kita “termuat” oleh eksistensi. Kuantor eksis dan universal termuat dapat dinotasikan sebaga $\exists^t x Px$ dan $\forall^t x Px$. Proposisi dengan kuantor yang tidak termuat seperti $\exists x Px$ dan $\forall x Px$ tetap dapat terinstansiasi, tetapi kita tidak perlu memiliki komitmen eksistensi pada proposisi-proposisi tersebut. Priest (2005) menyamakan “there is” dan “exists” dan mengganti kuantor partikular sebagai “some”. Untuk menyatakan adanya komitmen eksistensi, proposisi tersebut mesti mengandung “some x exists…..” (Priest, 2008). Kendati demikian, daftar jenis objek domain eksistensi yang terpisah dan distingsi kuantifikasi merupakan hal yang wajib dalam logika bebas. Oleh karena itu, logika ini tetap tidak lebih sederhana dari logika klasik ataupun asumsi Quine yang menyamakan kuantifikasi dan eksistensi. 

Logika bebas juga menjadi dasar dari logika modal berdomain variabel. Berbeda dengan logika modal domain konstan, logika modal berdomain variabel tidak menerima kalimat yang diajukan Barcan (1946) yang berbunyi: 

 $\forall x \square Px \rightarrow \square \forall x Px$ 

Contoh sederhana dari kalimat Barcan adalah “semua manusia niscaya tidak bisa tumbuh lebih dari 100 meter maka niscaya semua manusia tidak bisa tumbuh lebih dari 100 meter “. Proposisi tersebut nampak rancu, dalam dunia aktual keniscayaan tersebut didukung oleh hukum alam bahwa manusia tidak dapat tumbuh lebih dari 100 meter, tetapi dalam seluruh dunia mungkin bisa saja terdapat dunia yang memiliki manusia tinggi rata-rata 200 meter. Logika berdomain konstan tidak bisa membedakan proposisi ini karena menganggap domain $D$ dan $E$ sama. Dengan demikian, kalimat Barcan dan konversinya dapat valid. Logika modal berdomain variabel membedakan objek yang eksis dan terkuantifikasi. Dengan demikian, objek dapat terkuantifikasi dan eksis pada dunia yang berbeda.

Pentingnya pembahasan Ontologi dan Metafisika

(3) Saya tidak punya alasan untuk tidak sepakat dengan Quine; pertanyaan tentang “apa yang ada” bukanlah soal semantik atau empati ontologis, melainkan soal komitmen teoretis—“apa yang harus ada agar teori kita benar?”

Saya punya alasan untuk tidak sepakat dengan Hukmi (2025): apa yang harus ada agar teori kita benar adalah ketelitian metafisika dan membangun penyelesaian masalah yang masuk akal. Bukan malah terjebak pada alasan ideologis seperti kesederhanaan. Permasalahan ada juga merupakan permasalahan semantik, apa yang dimaksud “ada”? Apakah “ada” yang dimaksud di dunia aktual? Apakah “ada” yang dimaksud kuantifikasi?

Sebelum kita menyatakan yang “ada”, kita harus memberikan definisi apa yang dimaksud “ada”. Ketika saya nonton TV dan saya terkejut bahwa rumah spongebob ada di bawah laut, bukan berarti rumah tersebut eksis dan saya berkomitmen pada eksistensi tersebut. Ketika saya menyatakan “ada himpunan yang kardinalitasnya lebih besar daripada himpunan bilangan natural” bukan berarti saya juga berkomitmen pada himpunan tersebut. Apa yang dimaksud dengan “Ada” tetaplah permasalahan semantik, sehingga kita mesti mencari penataan atau pendefinisian ulang mengenai “apa yang kita maksud ada”. Lantas jika Hukmi (2025) bertanya “apa yang harus ada agar teori kita benar?” jawabannya adalah definisi dan teori mengenai ada–termasuk Ontologi Quine itu sendiri.

Kesimpulan

Terdapat banyak hal yang tidak sederhana tetapi memiliki kegunaan teoritis seperti logika bebas yang mengandaikan pemisahan objek seperti halnya Meinong. Terdapat pula semantik dunia mungkin dan dunia tidak mungkin yang menambah pertimbangan penalaran kita mengenai kemungkinan. Jika memiliki bagasi metafisika yang berlebih dikatakan mubazir, menolak metafisika secara berlebih dengan alasan kesederhanaan juga dapat diartikan menolak rezeki. Dapat dilihat dari ontologi kering Quine, bangunan metafisika yang sederhana tidak menjamin kekokohan konsistensi dan luas jangkauan pembahasannya. Banyak hal yang tidak bisa terjelaskan dengan ontologi yang pelit dan miskin. Oleh karena itu, jangan sampai kita kikir untuk membangun model dan konstruksi metafisika dengan ontologi yang berlebih, siapa tahu besok ia bisa roboh dan berbahaya bagi orang-orang di dalamnya.


Daftar Pustaka

Barcan, R. C. (1946). A functional calculus of first order based on strict implication. Journal of Symbolic Logic, 11(1), 1–16. https://doi.org/10.2307/2269159

Copi, I. M. (1979). Symbolic logic (5th ed.). Macmillan Publishing.

Gratzl, Norbert, Edi Pavlović, and John Nolt, “Free Logic”, The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Summer 2025 Edition), Edward N. Zalta & Uri Nodelman (eds.), URL = https://plato.stanford.edu/archives/sum2025/entries/logic-free/.

Hukmi, R. 2025, “Ontologi yang Mubazir dan Akrobatik,” Antinomi. Diakses pada 16 Oktober 2025: 

Khasri, M .R. K. 2025, “Meinong dan Hutan Belantara Ontologis,” Antinomi. Diakses pada 13 Oktober 2025: 

Priest, G. (2005). Towards non-being: The logic and metaphysics of intentionality. Oxford University Press. 

Priest, G. (2008). An introduction to non-classical logic: From if to is (2nd ed.). Cambridge University Press. 

Lambert, K. (1997). Free logic: Selected essays. Cambridge University Press.

Ney, A. (2014). Metaphysics: An introduction (2nd ed.). Routledge. 

Quine, W. V. O. (1948). On what there is. Review of Metaphysics, 2(5), 21–38.

 Russell, B. (1905). On denoting. Mind, 14(56), 479 493. https://doi.org/10.1093/mind/XIV.4.479

Ontologi yang Mubazir dan Akrobatik

0
Acrobatic man
Photo by Matt Roskovec on Unsplash

Dalam dua dekade terakhir, gagasan “ontologi datar” (flat ontology) tampaknya menjadi semacam balikan baru dalam filsafat kontemporer—setidaknya dalam tradisi kontinental. Seirama dengan semangat zamannya, ia hadir dengan janji egalitarian dan pembebasan: setiap entitas, baik manusia, batu, waifu, siti jenar, maupun tuyul dan mbakyul, memiliki status ontologis yang setara. Pemikir seperti Graham Harman dan Levi Bryant—para eksponen Object-Oriented Ontology (OOO)—menyerukan bahwa dunia bukanlah hirarki yang menempatkan manusia di posisi puncak, melainkan jaringan datar objek-objek yang saling berinteraksi tanpa pusat.

Dua artikel terakhir Antinomi tampaknya ingin memperkenalkan semangat baru ini kepada pembaca filsafat di Indonesia—meski tulisan terakhir adalah semangat lama. Namun, kita paham bahwa sebuah teori filsafat bukanlah doktrin komprehensif yang harus dipeluk erat. Oleh karenanya, dalam tulisan ini saya akan mengajukan beberapa catatan dari Russell dan Quine terhadap Meinong, lalu saya akan membangun keberatan saya sendiri terhadap OOO dengan berangkat dari kritik mereka. Keberatan-keberatan tersebut saya rangkum dalam argumen bahwa “ontologi datar—dalam wacana realisme spekulatif—dan meinongian tidak membawa kita menuju demokratisasi objek, melainkan pada kemubaziran karena beban ontologis yang begitu berat untuk ditanggung.”

Tiga masalah sistem meinongian

Salah satu ambisi besar dalam filsafat Meinong adalah membangun suatu teori tentang objek yang tidak bergantung pada eksistensi. Dalam sistemnya, setiap deskripsi yang mungkin dipikirkan menunjuk pada suatu objek, meskipun objek itu tidak ada di dunia aktual. Entah itu tentang “Pegasus”, “persegi bundar”, atau “Raja Perancis sekarang”. Pandangan ini, yang disebut “Teori Objek” (Gegenstandstheorie), dianggap memberikan dasar bagi pembicaraan yang bermakna tentang hal-hal fiktif atau bahkan kontradiktif.

Tampak sederhana, tapi Russell tidak suka. Bagi Russell, sistem semacam itu membawa dua masalah serius: paradoks eksistensial dan kontradiksi logis. Yang pertama, paradoks eksistensial, muncul dari cara Meinong memperlakukan terma yang tampak gagal memiliki rujukan. Jika setiap terma menunjuk pada suatu objek, maka kalimat seperti “Raja Perancis sekarang tidak ada” menjadi membingungkan, sebab untuk menolak keberadaannya, kita justru harus menganggap bahwa ia ada sebagai sesuatu yang dapat disebutkan. Russell melihat ini sebagai kekeliruan logis: istilah yang tidak memiliki rujukan seharusnya tidak dianggap menunjuk apa pun (Russell, 1905). 

Masalah kedua, kontradiksi logis, muncul dari tesis bahwa setiap kombinasi sifat yang dapat dipikirkan melahirkan objeknya sendiri. Jika begitu, maka kita bisa bilang bahwa “persegi bundar” adalah suatu objek, walaupun tidak mungkin eksis. Russell menganggap pandangan ini absurd karena melanggar hukum non-kontradiksi: bagaimana mungkin sesuatu sekaligus bundar dan tidak bundar? Dengan membiarkan objek-objek kontradiktif, sistem Meinong tampak menanggalkan fondasi logika klasik dan menjadikan dunia penuh dengan objek-objek absurd, dan kata Russel “… this is intolerable” (Russell, 1905:483).

Namun oleh Edward N. Zalta, seorang neo-meinongian, intuisi Meinong ini ingin diselamatkan tanpa terjerumus ke dalam jebakan Russell. Zalta membedakan dua cara suatu objek dapat memiliki sifat: exemplify dan encode. Suatu objek mengejawantahkan (exemplify) sifat ketika sifat itu benar-benar berlaku atas dirinya di dunia aktual, seperti Socrates yang mengejawantahkan sifat “manusia”. Tetapi suatu objek dapat pula menyandang (encode) sifat secara deskriptif, tanpa benar-benar memilikinya secara aktual. “Pegasus” misalnya, tidak mengejawantahkan apa pun, tetapi menyandang sifat “kuda” dan “bersayap”. Pembedaan ini memungkinkan Zalta menjelaskan mengapa kalimat seperti “Pegasus tidak ada” tetap bermakna: Pegasus memang tidak mengejawantahkan keberadaan, tetapi tetap menyandang sifat yang membuatnya dapat disebut dan dibicarakan (Zalta, 1993).

Meski Zalta tampak bisa mengatasi dua masalah yang diajukan Russell, tetap saja, Zalta tidak mampu menyelamatkan sistem meinongian ini dari masalah ketiga dari W.V.O Quine: komitmen ontologis berlebihan. Jika persoalannya hanya agar pembicaraan tentang objek non-eksisten tetap bermakna, menurut Quine, kita tidak perlu memiliki komitmen ontologis terhadap objek tersebut. “Teori Deskripsi” yang diajukan Russell, bagi Quine sudah bisa menyelesaikan masalah ini (Quine, 1948). Dalam teori Russell, frasa seperti “Raja Perancis sekarang” tidak diperlakukan sebagai nama, melainkan sebagai ekspresi kuantifikasi tersusun, misalnya, “ada tepat satu x sedemikian sehingga x adalah raja Prancis dan x botak.” Dengan cara ini, kalimat dapat dinilai salah tanpa mengasumsikan keberadaan “raja Perancis” sebagai entitas.

Saya tidak punya alasan untuk tidak sepakat dengan Quine; pertanyaan tentang “apa yang ada” bukanlah soal semantik atau empati ontologis, melainkan soal komitmen teoretis—“apa yang harus ada agar teori kita benar?”. Oleh karenanya, kita tidak perlu mengakui keberadaan entitas non-eksisten hanya karena kita dapat membicarakannya. Merancukan yang semantik dengan yang ontologis hanya mengantarkan kita pada kesesatan berpikir. Contoh kesesatan berpikir semacam ini sudah lama dikhawatirkan oleh Nietzsche dalam “Senjakala Berhala” (Götzen-Dämmerung), “Aku takut kita tidak bisa membuang Tuhan karena kita masih percaya pada gramatika.” Dengan kata lain, kita suka mengasumsikan sesuatu “ada” hanya karena kebiasaan kita dalam berbahasa—dan itu sesat pikir. Karena seperti yang Quine katakan, kita tidak otomatis berkomitmen pada keberadaan sesuatu hanya karena kita bisa menamainya.

Dari Meinong ke OOO

Semangat meinongianisme ini tampaknya tak padam hanya karena kritik Russell. Semangat ini bertransformasi dalam bentuk baru melalui Object-Oriented Ontology (OOO), yang digagas Harman, dkk.. Secara ringkas—semoga tidak terlalu menyederhanakan—kita bisa memahami klaim OOO dalam satu tarikan nafas:  “segala sesuatu, nyata atau fiktif, memiliki eksistensinya tersendiri.” Jadi, tak hanya meja dan planet, tetapi juga tokoh fiksi, algoritma, bahkan lubang hitam dianggap sama-sama “objek” dengan status ontologis yang setara. Dalam hal ini, kita bisa bilang bahwa OOO secara tidak langsung mewarisi semangat kedermawanan ontologis (ontological generosity) ala Meinong.

Tentu saja, saya tidak berniat untuk menyamakan dua teori ini—meski Wolfendale (2014) bilang Harman memang mengadopsi Husserl dan Meinong sekaligus dalam filsafatnya. Saya juga tidak akan mencoba mengajukan kritik serius terhadap konstruksi teoritis dari OOO sebab Wolfendale sudah melakukannya dengan cukup baik; bahwa itu hanya mereproduksi korelasionisme dengan versi yang lebih buruk; prinsip quadruple yang cuma retoris; kausalitas yang paradoksal dan tak dapat diuji (Wolfendale, 2014).

Alih-alih mengulang kritik serupa, saya lebih tertarik untuk mengujinya di level meta-teori: “Apa sebenarnya motivasi [filosofis] utama dari OOO? Apa keuntungan yang kita dapatkan dari teori ini tapi tidak dari teori lain? Is that even a theory at all?” Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk memastikan apakah OOO ini merupakan teori yang dibangun untuk menyelesaikan persoalan filosofis yang legit, atau hanya bentuk akrobat filosofis? Namun untuk menjawab semua pertanyaan tersebut membutuhkan uraian yang panjang, oleh karenanya saya hanya akan fokus pada pertanyaan pertama.

Jika kita merujuk Wolfendale, OOO ini lahir dari perdebatan orang-orang Speculative Realism (SR) di blog—terutama Harman dan Levi Bryant. Sepintas, motivasi utamanya cukup meyakinkan, yakni untuk melampaui kutukan korelasionisme yang diwariskan Immanuel Kant. Singkatnya, korelasionisme adalah pandangan bahwa kita tidak pernah dapat berpikir tentang keberadaan dunia tanpa relasinya dengan pikiran manusia. Artinya, kita hanya bisa memahami dunia “sebagaimana ia muncul bagi kita” (Phänomenon), bukan “sebagaimana ia ada pada dirinya sendiri” (Noumenon). Untuk itu, Harman mengusulkan supaya kita mereorientasi filsafat kita kepada pembicaraan tentang “Objek”, mengembalikan otonominya, dan meratakan ontologi. Sialnya, konsep withdrawn—bahwa objek selalu menarik dirinya—yang diusulkan Harman justru malah menegaskan sekali lagi kutukan tersebut, yang menurut Wolfendale, dengan versi yang lebih buruk. 

Saya melihat kegagalan ini sebenarnya merupakan konsekuensi dari kesalahan mendekati persoalan yang ditinggalkan oleh Kant. Jika masalahnya adalah ketidakmungkinan kita mengakses dunia an-sich, solusinya bukan bagaimana cara memberikan status ontologis baru, melainkan meninjau ulang cara kita berbicara tentang dunia dalam batas-batas epistemik kita sendiri. Begitu OOO menjawab persoalan kantian dengan menambah “lapisan realitas” yang menarik-diri, ia justru memperbanyak ontologi tanpa memperbaiki struktur pengetahuan. Akhirnya, hanya mengulang tesis lama dengan bungkus baru.

Oleh karenanya, pertanyaan yang lebih tepat seharusnya: apa yang membuat konsep kita tentang dunia bekerja, dan bagaimana ia bisa direvisi agar tetap koheren dengan pengalaman dan teori kita? Dalam kerangka ini, persoalan kantian bukan krisis ontologis, tapi masalah konseptual. Dan di titik inilah OOO tersesat; ia mengganti kerja analitis atas konsep dengan mitologi baru tentang “Objek”. Dengan kata lain, OOO gagal bukan karena terlalu spekulatif—meski memang demikian, tapi lebih karena salah mengidentifikasi jenis persoalan yang ia hadapi: yang epistemik dijawab dengan ontologi, yang konseptual dijawab dengan metafor.

Soal tanggung jawab metafisik

Tidak bisa disangkal bahwa OOO dan ontologi datar lain (dalam tradisi kontinental) membuka ruang diskursus baru dalam perdebatan etika lingkungan, teknologi, juga soal dunia non-manusia. Ia juga banyak berpengaruh dalam bidang seni, sastra, dan kajian media. Namun, pengaruh yang besar tidak kemudian membuat sesuatu menjadi bisa dipertanggungjawabkan—Sokal affair mengajarkan banyak soal ini. 

Yang perlu dicatat, pertama-tama, ontologi bukan melulu soal inventarisasi daftar apa saja yang “ada” laiknya kerja-kerja sensus, sehingga lebih banyak daftar yang kita miliki tidak kemudian membuat teori ontologi kita lebih baik. Tidak hanya klaim etis dan epistemik, klaim ontologis juga harus dipertanggungjawabkan. Setiap klaim ontologis yang kita buat juga membutuhkan penjelasan mengapa kita membutuhkan itu dan untuk apa.

Kita tidak seharusnya menganggap entitas metafisik sebagai “bonus konseptual” yang bisa ditambahkan tanpa beban. Setiap entitas yang kita postulatkan dalam kerangka ontologis membawa konsekuensi teoritis yang harus ditanggung. Ketika sebuah teori menumpuk entitas yang tidak memiliki peran eksplanatoris yang jelas, maka ia hanya akan menambah beban ontologis, dan itu sebuah kemubaziran. Metafisika bukan sekadar soal estetika teoretis, tapi soal komitmen rasional: kita hanya bisa menanggung entitas yang diperlukan (indispensable) bagi koherensi dan kekuatan penjelasan teori. Spekulasi metafisik yang tidak terikat pada keperluan eksplanasi hanya akan menambah beban ontologis tanpa justifikasi yang memadai. 

Kita bisa melihat mengapa efisiensi ontologis ini penting melalui ilustrasi berikut: “Andaikan ada bangunan yang tiba-tiba roboh dan menelan puluhan korban, lalu kita membutuhkan penjelasan tentang apa penyebabnya agar kita bisa memutuskan siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Kita bisa memberikan setidaknya tiga penjelasan: (1) bangunan roboh karena kelalaian manusia; (2) bangunan roboh karena jin marah tidak diberi sesajen sebelum pembangunan; (3) bangunan roboh karena Tuhan menghendakinya roboh. Ketiga penjelasan tersebut sama-sama mungkin secara logis karena tidak ada kontradiksi di dalamnya. Namun, penjelasan (2) atau (3) mengharuskan kita memercayai jin atau Tuhan dan akhirnya tidak ada yang bisa dimintai pertanggungjawaban. Penjelasan (1) tidak mengharuskan kita memercayai entitas baru dalam ontologi saintifik dan, dengan demikian, memungkinkan adanya sebuah penyelidikan untuk menentukan siapa yang harus bertanggung jawab.”

Untuk itu, dalam hal ini saya kira kita harus kembali lagi pada prinsip parsimoni ontologis bahwa kita tidak seharusnya mempostulatkan lebih banyak entitas daripada yang benar-benar diperlukan, atau dalam bahasa Ockham, “Entia non sunt multiplicanda praeter necessitatem—entitas tidak seharusnya dilipatgandakan melampaui yang semestinya.” 

Benar bahwa “spekulatif” memang salah satu ciri berpikir filsafat, tapi dalam metafisika, spekulasi tanpa logika yang ketat hanya menghasilkan konstruksi imajiner. Di sinilah filsafat spekulatif seperti OOO sering terjebak: ia terlalu menyandarkan konstruksi teoritisnya pada imajinasi akrobatik daripada prinsip ketahanan (robustness) dan daya eksplanatoris. Begitu kita membangun metafisika di atas spekulasi-spekulasi akrobatik semacam ini—yakni klaim yang tampak canggih secara retoris tetapi tak memiliki struktur inferensial yang memadai—maka kita tidak lagi bekerja dalam wilayah filsafat, melainkan dalam arena retorika artistik yang hanya memproduksi konsep-konsep estetik.

Kalau kita membiarkan hal yang demikian berkembang dalam studi-studi kefilsafatan kita, tampaknya kita harus mulai menerima asumsi bahwa metafisika memang adalah studi tentang alam gaib, dunia klenik, “orang pintar”, dan perdukunan. Sederhana, tapi “pesulap merah” tidak suka.

Referensi

Quine, Willard V. “On What There Is.” The Review of Metaphysics, vol. 2, no. 5, 1948, pp. 21–38. JSTOR, http://www.jstor.org/stable/20123117. Accessed 8 Oct. 2025.

Russell, Bertrand. “On Denoting.” Mind, vol. 14, no. 56, 1905, pp. 479–93. JSTOR, http://www.jstor.org/stable/2248381. Accessed 8 Oct. 2025.

Wolfendale, P. (2014). Object-oriented philosophy: The noumenon’s new clothes. Windsor Quarry: Urbanonic.

Zalta, E. N. (1993). Twenty-five basic theorems in situation and world theory. Journal of Philosophical Logic, 22(4), 385-428.