Seperti yang telah dipaparkan pada tulisan sebelumnya, yang membuat Sapiens (manusia seperti anda dan saya) dapat bertahan hidup dan menempati posisi tertinggi dalam rantai makanan seperti sekarang ini adalah karena kemampuan daya pikir imajinatif untuk membuat narasi yang hidup dalam pikiran banyak Sapiens lainnya sehingga memudahkan dalam memobilisasi/bekerja sama untuk satu tujuan. Narasi imajinatif ini berubah-ubah dalam sejarah Sapiens, namun intinya selalu sama yaitu untuk mendorong batas-batas yang ada dari tujuan narasi tersebut. Seperti mitos tentang humanisme, yaitu pandangan yang memosisikan manusia pada pusat segala sesuatu, hanya ada untuk mendorong sejauh mana manusia memiliki tempat yang spesial dalam tata kosmos alam semesta ini.

Dalam sejarah Sapiens, ada tiga hal yang selalu membayangi eksistensi Sapiens: Perang, Penyakit dan Kelaparan (War, Plague, and Famine). Ketiganya membawa dampak yang sama yaitu kematian. Kematian telah menjadi ikon yang menakutkan sehingga sedikit banyak disadari atau tidak, kematian memiliki posisi yang istimewa dalam narasi imajinatif Sapiens. Kematian sebagai dinding yang tidak dapat ditembus adalah batas dari segala usaha Sapiens. Tak heran jika setiap agama menganjurkan untuk berdamai dengan kematian daripada melawannya. Manusia terbatas dan ditindas oleh kematian.

Perkembangan sains dalam kurun waktu lima abad terakhir ini telah mengubah posisi Sapiens dari sekedar penonton menjadi pemain dalam percaturan alam. Perlahan tapi pasti Sapiens bisa menghambat dan memberikan perlawan sengit kepada ketiga agen kematian tersebut. Penyakit yang umum menyerang dan bisa membunuh manusia dengan cepat di zaman dahulu, seperti kolera, pox, flu dan lain-lain, kini telah dan hampir bisa dimusnahkan. Perkembangan ilmu kedokteran yang pesat membuat penyakit yang lebih sulit disembuhkan seperti kanker atau AIDS bisa ditunda efek mematikannya dalam waktu yang relatif lama. Dengan mempertahankan tempo peningkatan ilmu kedokteran, mungkin satu atau dua abad lagi manusia bisa bebas dari penyakit tersebut.

Pola yang sama juga terlihat pada masalah pangan. Meskipun masih ada daerah di dunia ini yang mengalami kelaparan, namun dalam satu abad terakhir ini, peningkatan ketersediaan pangan untuk masyarakat dunia sebenarnya cukup pesat. Dengan sains, Sapiens telah mengembangkan tanaman rekayasa dan juga berbagai jenis hewan (domestikasi) yang memiliki sifat-sifat unggul untuk keperluan pangan manusia. Kedua hal tersebut menyebabkan populasi Sapiens naik eksponesisal dalam kurun waktu 50 tahun ini menjadi tujuh miliar. Perbubahan cara pandang Sapiens dari religius-imperialis kepada humanis–begitu pula dengan demokrasi dan kapitalis–telah membuat pendekatan kemanusiaan sebagai penyelesaian masalah sebagai pusat segala-galanya. Salah satunya adalah dibidang etika dan moral. Karena nyawa manusia itu begitu sakral dalam pandangan humanis, kita melihat betapa peranan narasi imajinatif HAM mengambil seluruh sendi kehidupan. Oleh karenanya kita melihat penurunan yang signifikan terhadap perang sejak perang dunia kedua yang berakhir tahun 1945 yang lalu.

Sains menempatkan Sapiens dalam posisi yang istimewa dewasa ini. Sapiens kini berada pada titik yang krusial. Bukan hanya sebagai pemain saja, Sapiens juga berada di batas dan akan menyeberang ke posisi perekayasa, pengontrol, pengendali. Secara tidak sadar, kekuatan yang Sapiens berikan/nisbahkan kepada entitas adialami yang mereka sebut Tuhan itu kini satu persatu mereka cabut dan ambil untuk diri mereka sendiri.

Hari akhir ke-aku-an

Narasi imajinatif humanis berpusat pada pentingnya diri (self) manusia. Sapiens memiliki hal unik yang tidak dimiliki oleh makhluk lain yang disebut kehendak bebas (free will). Menurut narasi ini, manusia memiliki kemampuan untuk mengambil dan menentukan pilihan yang tidak bersifat ditentukan (deterministic) maupun acak (random). Namun, sepertinya Sapiens perlu memikirkan tentang konsep kehendak ini kembali. Sebab sains memberikan jawaban yang berbeda tentang masalah ini. Di dalam sains segala sesuatu yang terjadi pada diri, selalu melalui proses yang terjadi di dalam otak. Ada proses biologis kompleks yang mendahului segala sesuatu yang dilakukan. Dengan demikian kita tidak pernah bebas pilihan. Ada impluls yang mendahalui diri untuk melakukan sesuatu. Impuls ini membuat kita melakukan sesuatu. Memberikan sensasi palsu dari kehendak bebas.

“I don’t choose my desires. I only feel them, and act accordingly” (YNH, 287)[1]

“Saya tidak memilih keinginan saya. Saya hanya merasakannya, dan berkelakuan sesuai dengannya”

Emosi, perasaan juga merupakan proses biokimia yang terjadi di otak. Sapiens menggangap emosi dan perasaan merupakan hal yang membuat Sapiens berbeda. Namun dari sudut pandang evolusi, emosi dan perasaan merupakan misteri sebab kedua hal ini tidak berdampak signifikan untuk sintasnya (survive) suatu Sapiens. Sains lebih jauh telah memasuki area untuk memanipulasi proses biokimia di otak. Tujuannya adalah untuk memudahkan usaha manusia mencapai keinginan tertentu. Jika dahulu, seseorang yang depresi diberikan petuah oleh ahli agama atau ahli psikologi, maka solusi sekarang adalah meminum obat yang memang menyerang proses biokimia yang terkait dengan depresi di otak. Depresi bisa dihentikan dan seketika itu pula, orang tersebut menjadi tidak depresi lagi. Hal ini membuka peluang bagi sains untuk memanipulasi emosi yang lain. Yang paling utama adalah rasa bahagia. Bukankah semua Sapiens mengagung-agungkan kebahagiaan? Dalam rentang masa depan yang bisa terlihat, produsen farmasi didunia akan menciptakan obat yang dapat menginduksi rasa bahagia. Sekali lagi atribut diri dari Sapiens bukanlah hal yang fundamental seperti yang diklaim humanis/liberalis.

Yang terakhir, ciri dari narasi humanis adalah semua Sapiens itu unik, berbeda atau individual. Artinya Sapiens itu unik karena memiliki ke-aku-an yang unik dan berbeda dari Sapiens lainnya. Apakah seperti itu? Ternyata tidak, sebab sains membuktikan bahwa satu Sapiens itu dividual. Ada dua “aku” yang mengontrol satu tubuh. Otak kanan dan otak kiri ternyata bekerja sendiri-sendiri. Mereka hanya dihubungkan dengan selaput kecil diantara keduanya. Otak kanan bertanggung jawab bagi bagian badan sebelah kiri, dan otak kiri bertanggung jawab pada bagian sebelah kanan. Lebih jauh, otak kanan bertanggung jawab pada pengalaman spasial dan otak kiri bertanggung jawab atas logika dan perkataan. Otak kiri bertanggung jawab dalam memberikan pikiran, narasi dan penjelasan. Tangan kiri yang dikendalikan otak kanan bisa bergerak sinkron dengan tangan kanan, karena informasi dari otak kanan diketahui oleh otak kiri melalui selaput tipis di antara keduanya. Apa jadinya ketika selaput tipis ini dihilangkan? Yang terjadi adalah pada satu tubuh, ada dua individu (dividual). Dalam satu eksperimen ditunjukkan bahwa pasien yang mengalami hal ini ditunjukkan dua gambar yang dibatasi oleh sekat sehingga mata sebelah kanan melihat gambar kanan dan mata kiri melihat gambar kiri. Ketika di tanya gambar apa yang disebelah kanan, pasien tersebut dapat menjawabnya, namun ketika di tanya gambar di sebelah kiri, pasien tersebut tidak bisa menjelaskannya. Malah ia membuat deskripsi yang tidak masuk akal. Namun ketika tangan kiri diberikan alat tulis, dan di tanya gambar apa yang dilihat di sebelah kiri, sembari mengatakan hal yang tidak masuk akal, tangan kirinya bergerak dan menggambarkan apa yang dia lihat. Ketika dia ditanya mengapa meggambar seperti itu, sekali lagi dia mengatakan hal yang tidak masuk akal.

Mengapa hal seperti ini bisa terjadi? Hal ini karena otak kiri lah yang bertanggung jawab atas kemampuan untuk berkomunikasi dan logika. Otak kiri adalah diri yang selalu berusaha menjelaskan (the narrating self) dan diri ini berbeda dengan diri yang selalu sadar (the experiencing self). Ketika anda mengalami kecelakaan. Anda mengalami setiap detik rasa sakit tersebut dengan sadar. Namun ketika anda berusaha menjelaskannya, diri anda yang satunya akan berusaha menutupi pengalaman rasa sakit anda sehingga anda akan kebingungan menjelaskannya. Bahkan anda lupa benar bagaimana sakitnya. Evolusi telah menggunakan trik ini selama jutaan tahun pada Sapiens perempuan. Melahirkan adalah proses yang sangat menyakitkan. Namun Sapiens perempuan bisa melahirkan lebih dari sekali. Hal ini karena ketika mereka berusaha mengingatnya, diri yang menjelaskan tadi akan menanamkan ingatan palsu (false memories) yang membuat Sapiens perempuan tersebut merasa pengalaman itu bukanlah pengalaman yang buruk.

Dengan runtuhnya fondasi dasar dari humanis yaitu manusia itu istimewa dan unik, sehingga berposisi unik dalam alam semesta apakah Sapiens akan berani meninggalkan humanis sama seperti ketika Sapiens meninggalkan agama, dan mendeklarasikan kematian Tuhan?

Kebangkitan Mesin

Sapiens mengembangkan sains. Sains melahirkan teknologi. Teknologi pada awalnya dikembangkan dengan motif humanis, untuk mempermudah manusia. Juga bagi para kapitalis, mesin dan teknologi ada untuk memaksimalkan produksi dan keuntungan. Teknologi/mesin mengambil posisi mengerjakan sesuatu yang tidak efisien dikerjakan oleh manusia. Namun sekarang, teknologi telah berada jauh dari kegunaan mereka sebelumnya. Sapiens selalu berfikir bahwa selalu ada batas bagi mesin. Bahwa Sapiens itu memliki hal yang tidak bisa dilakukan oleh mesin. Ketika pabrik-pabrik di masa lampau sebagian proses produksinya diambil mesin, Sapiens selalu menemukan peluang pekerjaan baru untuk dirinya. Namun sampai kapan Sapiens akan terus berlari dari kejaran mesin?

Dewasa ini, sains telah mengembangkan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dalam bentuk algoritma yang menyerupai manusia. Hal ini karena pada penjelasan sebelumnya dibuktikan bahwa Sapiens itu tidak lain adalah algoritma yang dibangun oleh seleksi alam selama jutaan tahun. Sapiens bukanlah algoritma yang baik sebab tidak ada satu agen yang mengontrol (ada dua -aku- dalam diri Sapiens) dan yang terakhir adalah Sapiens memiliki emosi dan perasaan serta faktor lingkungan yang banyak mengganggu pengambilan keputusannya. Jadi, apakah salah untuk membangun algoritma yang lebih baik dari Sapiens? Tentu saja tidak.

Algoritma yang bebas dari itu semua tentu bukan hanya tidak mustahil tapi akan lebih baik dari manusia itu sendiri. Sebagai contoh, algorithma yang dapat memetakan dan memahami proses yang terjadi di otak secara komprehensif, secara teori mampu memberikan saran yang lebih baik kepada Sapiens itu sendiri tentang hal apa yang baik untuk dirinya. Tentang keputusannya. Jika algoritma ini bisa bukan hanya memetakan dan mengambil kesimpulan melainkan mengolah dan memprediksi, maka tidak mungkin algoritma tersebut akan menentukan apa-apa yang penting dan tidak penting bagi tuannya. Hidup tuannya adalah kendalinya.

“… An algorithm that monitors each of the systems that comprise my body and my brain could know exactly who I am, how I feel and what I want. Once developed, such an algorithm could replace the voter, the customer and the beholder. Then the algorithm will know best, the algorithm will always be right, and beauty will be in the calculations of the algorithm.” (YNH, 334) [2]

“…Sebuah algoritma yang mengawasi setiap sistem dalam tubuh dan otakku bisa mengetahui aku dengan tepat, bagaimana perasaanku dan apa keinginanku. Sekali dikembangkan, algortima semacam itu dapat mengganti para pemilih, pelanggan dan pengagum (seni). Algortima akan mengetahui yang terbaik, algortima akan selalu benar dan keindahan akan ada pada hitungan algortima.”

Kata-kata di atas sudah cukup untuk memberikan gambaran apa yang sedang dan akan terjadi. Mungkin Sapiens benar, mereka selalu bisa menemukan hal yang tidak bisa dilakukan mesin. Namun sejauh mana Sapiens dapat berlari sebelum akhirnya mesin benar-benar seperti deskripsi di atas? Jawabannya adalah tidak lama. Coba anda lihat telepon pintar (smart phone) anda. Dan coba ketik sebuah pesan. Jika ada kata yang salah, maka akan ada pemberitahuan bagaimana tulisan yang benar. Anda tidak perlu tahu tulisan lengkap suatu kata. Pekerjaan itu diambil oleh telepon pintar anda.  Kemudian anda ingin mengirim pesan dalam Bahasa inggris, apakah anda perlu belajar Bahasa Inggris dahulu atau bertanya pada ahlinya? Anda lebih percaya pada Google Translate. Google Translate telah membuat ribuan lulusan Bahasa Inggris menjadi bingung dengan apa yang harus mereka lakukan. Kemudian anda buka aplikasi seperti prakiraan cuaca. Lengkap dengan data cuaca perjam. Secara tidak sadar anda menentukan jadwal anda sesuai dengan prediksi aplikasi tersebut. Anda siapkan payung jika memang akan hujan. Kapan aplikasi yang sama akan mengontrol apa yang anda makan, asupan gizi anda dan kesehatan anda? Tidak lama bukan?

Kemana Berjalan Setelah ini?: Tekno-Humanis dan Dataisme sebagai narasi imajinatif yang baru
Clothing-aiding-sports
http://medicalfuturist.com/wp-content/uploads/2016/11/Clothing-aiding-sports.jpg

Supremasi Sains seperti ini akan menempatkan Sapiens dalam percabangan. Setidaknya ada beberapa skenario yang mungkin bisa terjadi dalam waktu dekat ini. Dari segi perkembangan ilmu kedokteran dan obat-obatan–khususnya rekayasa genetika– , mimpi untuk mengalahkan kematian semakin dekat. Terutama pada bagian menghindari penuaan dan peremajaan sel. Sapiens bisa mati (misal karena kecelakaan), namun tidak karena sakit. Secara teori, Sapiens bisa hidup dalam waktu yang lama tanpa memikirkan penuaan. Skenario ini terutama memiliki konsekuensi yang lain, seperti pembentukan spesies Sapiens baru yang mewarisi sifat-sifat ’super’ yang sama sekali berebeda dengan Sapiens sekarang. Salah satu kunci dari Sapiens 2.0 ini adalah memancing revolusi kognitif kedua. Revolusi kognitif adalah kejadian yang diberikan oleh seleksi alam pada Sapiens yang menyebabkan Sapiens dapat membentuk narasi imajinatif dan berfikir. Tidak ada yang tahu bagaimana kapabilitas Sapiens 2.0 ketika revolusi kognitif kedua ini berhasil ditanamkan pada mereka. Bagi Sapiens hal ini seperti membayangkan segitiga bersegi empat. Mustahil. Selain itu, Sapiens 2.0 ini dihasilkan di lab dan diupgrade agar tidak membawa kekurangan Sapiens yang ada (penyakit, dan cacat lain). Ketika Sapiens 2.0 ini lahir, apa yang akan terjadi pada Sapiens? Apakah Sapiens 2.0 ini akan membabat habis Sapiens, seperti yang kita lakukan dalam waktu enam juta tahun yang lalu dengan menghabisi lima spesies manusia lainnya?

Skenario kedua adalah penyatuan Sapiens dan mesin. Tak bisa dipungkiri, mesin dan manusia sekarang lebih dekat dari sebelumnya. Lengan dan kaki buatan yang dikendalikan otak, implan jantung, implan otak hingga teknologi nano yang berenang dalam darah Sapiens untuk melakukan kerja adalah salah satu dari banyak contoh yang bisa kita lihat sekarang. Setengah Sapiens setengah robot hanya tinggal menunggu waktu. Kenapa tidak? Hal ini karena mesin bekerja lebih efisien dan dapat diganti sewaktu-waktu. Selain itu algoritma yang tidak memiliki efek samping buruk Sapiens seperti yang dijelaskan sebelumnya juga bisa diimplementasikan. Mimpi Sapiens untuk mengambil sebagian sifat Tuhan yang selalu mereka kagumi pertama kali bukan hanya sekedar mimpi.

Kedua skenario di atas masih menempatkan Sapiens pada pusat perkembangan kebudayaan. Sains ada untuk memperbaiki dan menaikkan derajat Sapiens. Ini disebut dengan tekno-humanisme (techno humanism). Sapiens hasil dari tekno-humanis akan mempertahankan sebagian sifat dan ciri dari Sapiens namun juga akan mengalami peningkatan kemampuan fisik dan mental sehingga memiliki sifat yang tidak dapat dibayangkan oleh Sapiens masa ini.

Sekenario ketiga adalah dataisme. Dataisme adalah pandangan bahwa penyusun fundamental alam semesta adalah informasi. Informasi hanya berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dan nilai dari suatu fenomena atau entitas ditentukan oleh kontribusinya pada proses pengolahan data. Dalam dataisme, tidak ada beda makhluk biologis dan mesin. Keduanya hanya merupakan algoritma yang ditentukan oleh hukum matematika. Bagi dataisme, segala proses hidup makhluk hidup baik itu Sapiens dan yang lain serta yang mereka hasilkan seperti Simfoni Beethoven, filsafat Nietzsche atau perang minyak Bush hanya merupakan pola-pola pada data/informasi yang mematuhi hukum yang sama. Algoritma makhluk biologis menurut para datais merupakan algoritma yang buruk dan harus segera diganti dengan algoritma elektronik seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Algoritma elektronik dapat bekerja secara efisien dan memproses data berkali-kali lipat serta memberikan penarikan kesimpulan yang relatif tepat tanpa terdistraksi oleh hal-hal seperti perasaan dan emosi.

Data mengalir dalam kecepatan yang tidak tertahankan dewasa ini. Dan Sapiens lelah tergopoh-gopoh dalam mengejar ketertinggalan dari teknologi. Setiap Sapiens kini tak bisa menggantungkan hidupnya pada pengetahuan yang ia ketahui sepuluh tahun yang lalu. Sebab pengetahuan sepuluh tahun yang lalu tersebut telah dikuasai oleh mesin. Sapiens harus beradaptasi. Namun menurut para datais, mesin akan mengejar dan meninggalkan Sapiens juga pada akhirnya. Dan yang perlu dilakukan Sapiens jika itu terjadi adalah masuk ke sistem dan menyerahkan pengolahan data pada mesin. Ini berarti Sapiens tidak bisa mempercayai dirinya sendiri. Sebab segala sesuatu kini hanyalah algoritma yang dilakukan lebih baik oleh mesin. Sapiens harus berkonsultasi dengan mesin untuk segala sesuatu. Dan Sapiens harus menerima bahwa mereka hanyalah algoritma cacat hasil kebetulan dan proses jutaan tahun hasil eliminasi acak seleksi alam. Dan tentu ini bukanlah cara yang bagus untuk membuat suatu algoritma. Dataisme memberikan prospek kepada Sapiens untuk tidak perlu menghawatirkan apapun. Sebab segala sesuatu telah dikerjakan algoritma elektronik. Lalu apa yang akan terjadi pada Sapiens? Bayangan orang-orang gemuk yang tidak melakukan apa pun di film Wall-E pun datang ke dalam pikiran.

Kesimpulan

Tulisan ini bukanlah ramalan tentang masa depan. Ini adalah prediksi tentang arah mana yang bisa diambil oleh Sapiens yang kini telah berada pada ambang batas humanisme. Mungkin terjadi, mungkin tidak. Dengan melihat masukan keadaan saat ini, kita dapat memetakan kemungkinan untuk masa depan. Jenis narasi imajinatif apalagi yang akan diikuti oleh Sapiens. Kunci dari semua ini adalah Sains. Sebab Sains telah memberikan daya cipta tak terbatas bagi Sapiens. Yang membatasi daya cipta Sapiens adalah imajinasi mereka sendiri. Nilai yang mereka buat, moral yang mereka susun adalah tembok tak nyata yang menghalangi Sapiens dari peluang-peluang yang ditawarkan Sains.

Semua skenario di atas memiliki sisi positif dan negatif untuk Sapiens. Sejarah itu tidak adil. Sebagian Sapiens akan menjadi korban. Sebab ketidakadilan adalah cara lain yang tidak disadari Sapiens untuk maju. Sebagian Sapiens akan menjadi Homo Deus (Deus: Tuhan), dan sisanya akan terkapar di lantai sejarah. Begitulah adanya. Dari dulu hingga masa depan. Tapi mimpi untuk mencapai hal yang baik untuk seluruh Sapiens tidak hilang. Karena satu hal yang tidak pernah berubah dari Sapiens adalah imajinasi.

Referensi

[1][2] Yuval Noah Harari, Homo Deus: A Brief History of Tomorrow. 2017. Harper Collins Publisher. New York.

Spread the love
  • 49
    Shares
  • 49
    Shares