Dalam tulisan “Penjangkitan Pikiran dan Konsep yang (Sengaja) Diadakan”, Tuhan saya bingkai sebagai ide yang bekerja menyerupai virus: untuk bertahan, ia harus menyebar. Ia tidak cukup sekadar diwariskan secara pasif dari generasi ke generasi, tapi aktif menjangkit dari satu inang ke inang lain, mengembangkan strategi penyebaran dan terus bermutasi seirama dengan perkembangan zaman. Dengan kerangka yang sama, pembahasan kini bukan lagi sekadar bagaimana konsep Tuhan bertahan, tapi bergeser pada pertanyaan lain: bagaimana dan mengapa tradisi keyakinan kuno—yang kerap disebut pagan—tetap bisa bertahan serta mewujud dalam lanskap religius kontemporer yang telah didominasi agama-agama besar? Sebagaimana mengapa, jejak-jejak animisme, politeisme lokal, pemujaan roh leluhur, serta beragam ritus berbasis kosmologi kuno yang kerap dianggap sebagai residu masa silam ini masi dapat ditemukan dan bahkan hidup berdampingan dengan teologi monoteistik, seperti tradisi Abrahamik (Yahudi, Kristiani, Islam) maupun Hindu?
Jika dilihat dari kacamata evolusioner yang linier, sebagaimana dipahami dalam teori evolusi biologis, hal ini tampak ganjil: yang usang semestinya tergantikan, yang tersisih semestinya lenyap. Tetapi asumsi itu justru perlu dipersoalkan, alih-alih menghilang, residu-residu itu bertahan, meski dalam rupa yang berbeda. Di sini saya mengajukan sudut pandang lain—sebut saja secara provokatif, memetika agama—sebuah pendekatan untuk membaca keberlangsungan tradisi-tradisi tersebut, dengan segala risiko perdebatan yang melekat pada istilah itu.
Memetika Agama
Istilah “memetika agama” saya gunakan untuk merujuk pada kerangka evolusioner di ranah gagasan: bagaimana sebuah konsep dan sistem kepercayaan berkembang, menyebar, dan bertahan. Pembicaraan ini sepenuhnya berada pada level memetis, bukan biologis; ia dibatasi pada perkembangan budaya dan keagamaan. Sebagaimana organisme bertahan melalui adaptasi terhadap lingkungannya, demikian pula sistem kepercayaan dan praktik ritual hanya dapat terus hidup jika mampu menyesuaikan diri dengan ekosistem budaya yang senantiasa berubah. Bila tidak, ia akan tersingkir oleh ide-ide lain yang lebih adaptif. Di titik ini, konsep meme dari Richard Dawkins menyediakan jangkar epistemik untuk memahami mengapa dan bagaimana ide-ide keagamaan dapat bertahan, berubah, atau pun punah.
Secara ringkas, Dawkins menjelaskan meme sebagai unit informasi yang bereplikasi dari satu inang ke inang lain melalui imitasi dan transmisi, dengan prinsip yang analog terhadap gen dalam biologi. Dalam kerangka ini, gagasan tentang Tuhan, surga-neraka, mitos, dan doktrin bukan sekadar hasil rasionalitas atau pengalaman spiritual, melainkan entitas informasi yang “hidup” dengan memanfaatkan pikiran manusia sebagai medium reproduksi—mereplikasi, menjangkit, bahkan membajak demi keberlangsungannya. Meme agama, dengan demikian, dapat dipahami sebagai semacam “virus” yang menyebar sejauh ia mampu menginfeksi dan bertahan dalam struktur budaya. [1] Gagasan serupa diperdalam oleh Richard Brodie, yang mengajukan bila sebagian struktur kepercayaan dapat dipahami sebagai virus pikiran. [4] Misalnya, konsep surga-neraka dapat dipahami bukan semata sebagai janji atau ancaman atas yang transenden, tapi sebagai mekanisme yang memperkuat daya replikasi dari agama itu sendiri. Jika ancaman dan janji tersebut efektif membuat orang bertahan dalam sistem kepercayaan dan menyebarkannya, maka secara memetis ia berhasil lolos dari seleksi kultural. Sebab itu, keberhasilan meme agama tidak selalu berkaitan langsung dengan kebenarannya, melainkan efektivitasnya dalam mereplikasi diri. Bahkan, di era modern, pola transmisinya pun bergeser: dari yang semula vertikal (orang tua ke anak) menjadi semakin horizontal dan masif melalui internet dan media sosial.
Tentu saja, tidak semua meme mampu bertahan. Dalam ruang yang kompetitif, hanya yang adaptif yang lolos dari seleksi; melalui modifikasi, perubahan bentuk, atau berasosiasi dengan meme lain. Susan Blackmore menyebut konfigurasi ini sebagai memeplex: gugus meme yang saling menopang demi keberlangsungan replikasi sebagai satu kesatuan. [2] Dengan demikian, agama-agama besar dapat dipahami bukan semata entitas spiritual, melainkan mesin memetis yang efisien. Ia ditopang tradisi, larangan, dogma, dan ritual yang saling menguatkan. Pertanyaannya, jika agama-agama dominan berfungsi sebagai mesin replikasi yang kuat, bagaimana mungkin fragmen tradisi pagan yang lebih tua tetap bertahan dan bahkan menyusup ke dalam struktur yang sama?
Dalam kerangka “memetika agama”, sebagaimana saya konsepsikan, tradisi-tradisi pagan tidak lagi eksis dalam bentuk aslinya, melainkan berulang kali menjadi bagian dari formasi baru melalui adaptasi dan asimilasi. Itu bukan kegagalan, melainkan konsekuensi seleksi dalam lingkungan yang tak lagi menopang akar awalnya. Alih-alih melawan agama dominan, ia menyusup, berkompromi, bahkan mendefinisikan ulang dirinya agar tetap relevan. Dawkins menyebut strategi ini sebagai “menumpang” pada memeplex yang lebih besar demi keberlangsungan replikasi. [3]
Contohnya tampak pada sejumlah hari raya Kristiani yang berakar pada perayaan pagan Eropa kuno: Yule—perayaan musim dingin—yang berkelindan dengan Natal, Imbolc—perayaan dewi kesuburan—yang kerap diasosiasikan dengan “Pesta kelahiran Santa Perawan Maria”, serta Samhain—perayaan batas antara hidup (musim panas) dan mati (musim dingin)—yang beresonansi dengan “Hari Raya Semua Orang Kudus”. Ini adalah bentuk simbiosis memetis: fragmen pagan bertahan dengan menyamar sebagai bagian dari struktur yang lebih besar, sejauh tidak menimbulkan gesekan serius dengan otoritas dan kanon agama dominan.
Melalui kerangka ini, yang dipertaruhkan bukan soal kebenaran, melainkan efektivitas replikasi: sejauh mana suatu gagasan mampu membuat orang percaya dan bersedia menyebarkannya. Tradisi-tradisi pagan yang bertahan dalam tubuh agama besar cenderung mengadopsi bentuk yang tidak berkonfrontasi langsung dengan dogma utama; ia menjadi pasif, bukan subversif. Upaya sabotase justru mengancam keberlangsungannya di dalam “inang”. Karena itu, ia memilih berfungsi sebagai lapisan penebal melalui simbol, ritus, dan narasi yang memperkaya, bukan menyaingi, struktur dominan. Dengan cara ini, fragmen tradisi tersebut bisa diterima, direplikasi, dan diwariskan, baik kepada generasi berikut maupun kepada mereka yang berpindah keyakinan.
Keberhasilan Memetis
Dalam Virus of the Mind (2009), Brodie berargumen bahwa agama-agama besar berkembang bukan terutama kebenaran ajarannya, melainkan karena keberhasilan memetis unsur-unsur pagan yang memperkaya simbol, ritus, dan narasi mereka, sehingga daya jangkau serta daya jangkitnya meluas. [4] Karena itu, tradisi pagan yang hendak bertahan tidak dapat hanya mengandalkan otentisitas historis, tapi harus meniru logika memetis: beradaptasi dan berasimilasi. Dalam biologi, organisme yang mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan; begitu halnya dunia ide dan kepercayaan, sistem yang lentur akan lebih tahan terhadap tekanan kompetisi. Sebaliknya, tradisi yang menolak menyesuaikan diri berisiko ditinggalkan generasi baru dan lenyap dari memori kolektif; kerap dengan label tidak suci, menyimpang, atau berbahaya dalam kerangka kemurnian agama dominan.
Pelabelan semacam itu merupakan bagian dari mekanisme pertahanan meme agama mapan terhadap ancaman kompetitor. Konflik antaragama, pelarangan praktik leluhur, atau stigmatisasi kepercayaan lokal dapat dibaca sebagai strategi imunisasi memetis untuk menjaga dominasi dan koherensi internal. Dengan demikian, tindakan-tindakan tersebut bukan semata ekspresi komitmen iman, melainkan mekanisme bertahan dalam kompetisi ide. Setiap memeplex yang telah dominan cenderung membatasi penetrasi gagasan luar demi mempertahankan integritas dan kapasitas replikasinya; resistensi terhadap ide eksternal pun perlahan dilembagakan sebagai bagian dari kesalehan itu sendiri.
Dalam kerangka ini, konflik tidak lagi dibaca sebagai benturan teologis tentang kebenaran, apalagi yang absolut, melainkan sebagai kompetisi memetis untuk merebut ruang kognitif dan pengakuan sosial. Setiap individu berfungsi sebagai medium replikasi; setiap komunitas sebagai habitat budaya. Maka, ketika agama-agama Abrahamik melarang praktik pagan atau ritus leluhur tertentu, larangan itu bukan semata konsekuensi doktrin monoteistik terhadap politeisme, tapi juga strategi membatasi sirkulasi meme pesaing yang berpotensi menumbuhkan loyalitas ganda dalam tubuh inangnya. Loyalitas ganda berbahaya bagi memeplex dominan karena membuka kemungkinan mutasi yang tak terkendali, mengganggu koherensi internal serta stabilitas daya replikasinya.
Karena itu, stigma negatif terhadap praktik pagan atau kepercayaan lokal biasanya dilekatkan pada bentuk-bentuk yang dianggap mengancam. Dengan label “primitif”, “tidak suci”, atau “menyimpang”, memeplex dominan membangun narasi superioritas untuk menguatkan identitas internalnya. Tentu ini bukan anomali moral, melainkan konsekuensi seleksi alam memetis. Dalam konteks agama besar, setiap upaya pelabelan negatif terhadap praktik pagan atau kepercayaan lokal dibaca sebagai respons imunologis terhadap ancaman yang menganggu integritas memeplex mereka. Bagi tradisi pagan atau lokal, pilihannya menyempit: punah atau terserap ke dalam struktur yang lebih besar melalui subordinasi. Tradisi yang menolak beradaptasi atau menutup diri terhadap perubahan menghadapi ancaman nyata ditinggalkan oleh generasi baru, bahkan berpotensi menghilang dari memori kolektif.
Tetapi ada mekanisme imunisasi yang membuat proses ini menjadi tidak mudah. Generasi baru ditanamkan doktrin yang membatasi deviasi; misalnya ajaran bahwa meninggalkan iman adalah dosa besar, pengkhianatan terhadap keluarga atau Tuhan, dengan konsekuensi ketidakselamatan atau pun hukuman kekal. Doktrin semacam itu berfungsi sebagai pengunci: mempersempit ruang kemungkinan mutasi memetis yang dianggap berisiko, sekaligus menjaga stabilitas dan kesinambungan memeplex dominan.
Tentu saja, pola imunisasi itu tidak pernah absolut. Seperti terlihat pada Yule, Imbolc, dan Samhain, unsur-unsur pagan tidak berhenti sebagai relik masa silam. Alih-alih punah, ia mencari celah kompromi, dengan menyesuaikan dan mendefinisikan ulang dirinya agar dapat terserap ke dalam agama besar. Di sisi lain, agama dominan melihat pelunakan ini sebagai peluang: memperkaya memeplex-nya sekaligus memperluas daya jangkau pengaruhnya.
Di sinilah paradoksnya. Memeplex dominan berupaya menjaga batas kemurnian, tapi demi keberlangsungan jangka panjang kadang harus berkompromi dengan unsur yang sebelumnya asing. Respons keras muncul terhadap meme yang dianggap mengancam inti doktrin; sebaliknya, penerimaan terjadi dan dirayakan sebagai bagian dari tradisi ketika unsur tersebut justru memperkuat legitimasi dan stabilitas internal. Dalam hal ini, kebertahanan tidak diperoleh hanya melalui penolakan, melainkan juga melalui seleksi dan asimilasi terukur; menerima yang kompatibel tanpa merusak inti memeplex-nya.
Demikianlah, dalam kerangka “memetika agama”, konflik serta pelabelan terhadap praktik pagan atau lokal tidak lagi dipahami semata sebagai anomali atau intoleransi, melainkan sebagai gejala evolusi memetis. Gagasan keagamaan hidup dalam ekosistem kompetitif: ia membangun mekanisme pertahanan, menegaskan batas identitas, serta menyingkirkan atau menetralkan pesaing. Seperti organisme, ia berjuang mempertahankan ruang hidupnya. Karena itu, yang bertahan bukan selalu yang paling benar, melainkan yang paling efektif menjaga replikasi dan koherensi internalnya dari ancaman fragmentasi dalam lanskap religius yang terus berubah.
Sisa-sisa paganisme bertahan bukan sebagai mukjizat pelestarian, melainkan sebagai hasil tekanan seleksi dari lingkungan agama besar. Dalam dunia di mana agama berfungsi sebagai sistem simbol, ia tidak selalu menantang secara frontal, tapi menjangkit, menyusup, dan memberi warna pada tubuh tradisi dominan. Seperti virus yang bermutasi agar tetap menular, ia hidup dalam ruang kompromi: pada altar gereja, dalam doa berbahasa lokal, pada arsitektur lama, serta dalam kisah-kisah tentang masa silam yang terus dipelihara. Karena itu, lanskap keagamaan kini tidak lagi menampilkan pertarungan terbuka antara pagan dan agama besar; hanya yang masih tersisa (lestari) justru menandakan keberhasilan adaptasi, agar tetap hidup di tengah zaman yang tak pernah berhenti bergerak.
Referensi
Blackmore, Susan J. The Meme Machine. Oxford University Press, 1999.
Brodie, Richard. Virus of the Mind: The New Science of the Meme. Hay House, 2009.
Dawkins, Richard. The Selfish Gene. 30th Anniversary Ed. Oxford University Press, 2006.
Lynch, Aaron. Thought Contagion: How Belief Spreads Through Society. Repr. BasicBooks, 1997.
McGrath, Alister E. Dawkins’ God: From The Selfish Gene to the God Delusion. Second edition. Wiley Blackwell, 2015.
Nurcahyo, Fajar. “Penjangkitan Pikiran dan Konsep yang (Sengaja) Diadakan.” LSF Cogito, 27 November 2017. https://lsfcogito.com/penjangkitan-pikiran-dan-konsep-yang-sengaja-diadakan/.
[1] Lih. McGrath, Dawkins’ God, hal. 126.
[2] Lih. Blackmore, The Meme Machine, hal. 22.
[3] Lih. Dawkins, The Selfish Gene, hal. 198-199.
[4] Lih. Brodie, Virus of the Mind, hal. 186-190.

