Home Blog Page 24

Epidemiologi[ka]: Sebuah Pengantar Filsafat Kesehatan

0

Asumsikan bahwa manusia adalah bagian dari proses hidup yang mengandaikan vitalitas tertentu, dan hal itu merupakan nilai paling penting, jika bukan satu-satunya, yang menentukan tipe dari seorang manusia. Sementara, seandainya vitalitas melulu merupakan persoalan daya hidup dari suatu organisme, dengan demikian hanya ada dua penilaian yang sah untuk membedakan manusia satu dengan yang lain, yakni lemah atau kuat.

Tentu, daya hidup kemudian sangat erat kaitannya dengan perkara kesehatan dari seorang manusia sejauh ia merupakan suatu organisme. Seandainya kesehatan diartikan sebagai suatu kondisi fisiologis seseorang, maka dapat dikatakan bahwa manusia selalu berada dalam suatu kondisi tertentu yang tidak dapat dijustifikasi secara arbitrer dengan kerangka nalar yang biner. Karena kesehatan pada dasarnya merupakan nilai gradual di mana manusia memiliki ukurannya masing-masing yang bertalian erat dengan elan vital –nya.

Sekalipun banyak terdapat obat untuk mengatasi kondisi-kondisi tertentu dari kesehatan kita yang tidak kita inginkan, kita tetap tidak dapat menghianati seluruh proses fisiologis ini. Proses pengobatan itu sendiri justru menegaskan kondisi seseorang; semakin banyak obat yang ia butuhkan, semakin parah pula kondisi fisiologisnya. Dari kasus semacam itu, kita dapat menariknya lebih jauh ke dalam pertanyaan, “bukankah kemudian itu mengartikan bahwa kondisi fisiologis selalu menentukan suatu kebutuhan tersendiri yang harus dipenuhi, setidaknya untuk menahan rasa sakit atau harapan akan kesembuhan?”

Dalam hal inilah kita dihadapkan pada suatu proposisi yang pernah diajukan oleh Nietzsche bahwa jika filsafat merupakan cara seseorang memandang kehidupan, “bukankah filsafat kemudian hanyalah sebuah interpretasi dari tubuh dan kesalahpahaman atas tubuh!”

Nietzsche adalah pemikir yang pertamakali, dalam sejarah filsafat Barat, mencurigai adanya korelasi positif antara kondisi fisiologis seseorang dengan bagaimana cara ia berpikir. Dan kecurigaan terbesar ini menjadikan Nietzsche sebagai pemikir yang mau tidak mau harus diterima atau ditolak, tetapi tidak dapat diabaikan.

Epidemiologi: percobaan awal

 Seluruh proposisi Nietzsche tentang relasi filsafat dengan kesehatan dapat diterima sejauh kita berpijak pada satu kerangka ontologis bahwa manusia merupakan entitas yang tersusun dari materi sepenuhnya. Dengan asumsi yang demikian, maka mau tidak mau kita harus menerima proposisi Nietzsche bahwa seluruh pemikiran kita tidak lebih merupakan suatu interpretasi atas keberhasilan atau kegagalan proses fisiologis.

Dengan menariknya lebih jauh ke dalam pengamatan yang lebih luas, maka kita dihadapkan pada satu kemungkinan untuk menjelaskan bagaimana kemudian relasi kesehatan masyarakat dengan alam pikiran yang ada dalam masyarakat tersebut. Seberapa jauh keterkaitan antara kerangka pikir yang berkembang dalam masyarakat dengan kondisi patologis kejiwaan dalam masyarakat tersebut, sejauh kejiwaan dianggap sebagai proyeksi keadaan fisiologis. Dalam hal inilah kemudian epidemiologi menjadi penting untuk dipertimbangkan dan didefinisikan kembali sebagai epi-demio-logics, yakni studi tentang logika yang ada di [antara] masyarakat.

Logika adalah instrumen paling penting yang dimiliki manusia setelah naluri, atau bahkan dapat dikatakan bahwa logika adalah salah satu instrumen dari naluri itu sendiri. Mengingat bahwa logika hanyalah instrumen, maka ia tidak dapat kita semati nilai benar atau salah dalam setiap premisnya, kita hanya dapat menilai ketepatan pengambilan kesimpulan dari premis yang diajukan.

Dengan pengertian yang demikian, kajian mengenai keterkaitan alam pikir dan kesehatan dalam suatu masyarakat hanya mungkin dilakukan terhadap premis-premis yang diajukan sebagai data untuk mengambil kesimpulan, bukan terhadap proses untuk menjadi logis itu sendiri. Karena pada dasarnya semuanya dapat bernilai logis, bahkan Tuhan sebagai sesuatu yang seringkali dianggap paling tidak logis dari suatu keyakinan masyarakat, ia lahir dari penalaran yang sangat logis:

Premis 1: Semua yang ada (eksis) pasti ada yang meciptakan.

Premis 2: Alam semesta ini ada (eksis).

Kesimpulan: Alam semesta ini ada yang menciptakan.

Secara logika, kesimpulan semacam itu sahih. Akan tetapi, kita tidak akan berbicara tentang kesahihan suatu penalaran, melainkan dari mana premis-premis yang diajukan itu muncul sebagai premis yang dapat diterima sebagai kebenaran umum.

Endemisme: wabah dan tentang kuasa ide

Mengapa seseorang dapat meyakini suatu kebenaran umum tertentu, seperti sains, agama, atau ideologi? Foucault mungkin telah menjelaskan pertanyaan ini dengan meminjam ide kuasa Nietzschean untuk menelusuri bagaimana pengetahuan sebagai bentuk relasi kuasa itu menjadi kunci satu-satunya yang menuntun cara seseorang berpikir dan bertindak. Akan tetapi Foucault gagal dalam menjelaskan mengapa selalu ada anomali dalam suatu masyarakat yang lepas dari jeratan relasi kuasa.

Dalam Selfish Gene, Richard Dawkins telah menawarkan satu penjelasan bagaimana ide itu bisa berkembang dari satu manusia ke manusia lain. Dawkins menyebutnya meme, dan manusia tidak lain adalah kendaraan meme tersebut. Ide tentang kebenaran dalam pengertian Dawkins tidak lain adalah meme, yang dapat menyebar dari manusia satu ke manusia lain. Akan tetapi, yang tak terjelaskan dari Dawkins adalah tentang mengapa ada satu orang yang dapat menerima meme tersebut, dan ada yang tidak.

Dalam hal inilah epidemiologi berbicara tentang imunitas. Tidak hanya persoalan fisiologis saja, imunitas juga berlaku pada proses penalaran berpikir seseorang. Dalam beberapa kasus endemik yang ada, seseorang tidak akan lagi dapat tertular suatu penyakit yang pernah ia derita sebelumnya, karena sistem imunitas orang tersebut telah berkembang dan lebih kebal terhadap virus yang pernah menyerangnya. Begitupula dengan pemikiran, seseorang tidak lagi akan menerima suatu pemikiran jika sebelumnya ia pernah meyakininya, dan kemudian mampu lepas dari pemikiran tersebut. Itulah mengapa orang yang dari kecil sudah banyak menelan doktrin agama dari orang tua, saat ia dewasa lebih mudah lepas daripada orang yang dari kecil tidak mengenal agama, dan baru mengenalnya saat dewasa. Kasus yang demikian dapat kita lihat dalam perkembangan Islam konservatif saat ini yang sangat memegang kuat doktrin agama, karena ia baru mengenalnya. Akan tetapi, yang perlu diingat adalah bahwa semua itu hanyalah simtom saja. Ada begitu banyak proses psiko-fisiologis yang turut menentukan wabah pemikiran apa yang dapat menjangkiti seseorang.

Kegagalan Foucault mungkin terletak dalam sikap abainya terhadap ide Nietzsche tentang relasi antara psiko-fisiologis dengan pemikiran seseorang, yang dalam beberapa hal kemudian banyak diadopsi oleh psikoanalisis Freudian dan Lacanian. Akan tetapi, saya tidak akan berbicara tentang psikoanalisis di sini, melainkan lebih dari itu.

Saya akan berbicara tentang bagaimana lingkungan mempengaruhi model kesehatan seseorang dan juga bentuk interaksi sosial, dan bagaimana kemudian kesehatan dan interaksi sosial tersebut dapat mempengaruhi cara berpikir seseorang. Hal ini menjelaskan tentang mengapa dalam banyak kasus, beberapa kampung nelayan di pesisir pantai utara Jawa yang identik dengan kepadatan penduduk yang cukup signifikan, menciptakan suatu gaya berpikir yang jauh berbeda dengan beberapa kampung yang ada di daerah pegunungan. Kepadatan penduduk dan interaksi sosial yang berlebihan, membuat orang-orang pesisir identik dengan gengsi yang tinggi, dan seluruh gaya berpikirnya selalu dibawa ke arah pemenuhan gengsi tersebut. Dan gengsi tersebut berpengaruh besar terhadap segala keputusan hidup yang diambil seseorang dalam lingkup sosial tersebut. Kasus semacam ini, saya sebut dengan sosio-endemik, yakni suatu wabah yang muncul dari keniscayaan yang ada dalam suatu masyarakat dengan bentuk relasi tertutup.

Tentu saja, selalu ada pengecualian, dan saya menyebutnya sosio-outbreak. Pengecualian semacam ini biasanya terjadi karena ada pengaruh dari luar yang diterima oleh seseorang yang menjadikannya berpikir tidak semestinya orang berpikir dalam lingkungan sosialnya. Dan sosio-outbreak ini suatu saat berpotensi menjadi epidemi ketika ia menjadi kuat dan terus menular, tetapi ia bukan lagi merupakan endemik.

Wabah yang menyerang suatu masyarakat tentu kemudian mengartikan kondisi kesehatan dari masyarakat itu sendiri. Hal ini dapat menjelaskan mengapa viralitas suatu hal hanya terjadi di beberapa wilayah dan beberapa kelas masyarakat tertentu saja, karena selalu ada keterkaitan erat antara jenis viralitas dengan tipe seseorang yang merayakan euphoria dari viralitas tersebut; artinya, viralitas yang remeh dan konyol hanya akan dirayakan oleh orang yang remeh dan konyol juga.

Simpulan

Seluruh proposisi Nietzsche dapat kita tolak sejauh kita meyakini bahwa manusia tidaklah tersusun dari materi. Akan tetapi, keyakinan tentang adanya immaterialitas sangatlah rapuh karena konsep tersebut hanyalah merupakan penegasian dari apa yang ada sebelumnya, yakni materialitas itu sendiri. Negasi dari sesuatu tidak mengartikan bahwa entitas negasi tersebut eksis.

Mengingat bahwa yang kita ketahui hanyalah materi, dengan demikian, penerimaan atas seluruh proposisi Nietzsche adalah satu-satunya kemungkinan yang dapat dilakukan. Bahkan, dalam kerangka epidemiologis, pengandaian akan suatu immaterialitas sebagai pemenuhan akan kekurang-butuhan atas materialitas adalah simtom dari penyakit tertentu yang membutuhkan kesembuhan dengan segera.[]

Subgrid: Alam Semesta dan Pemetaannya

0

Alam semesta merupakan keseluruhan materi (dan non materi) yang terjangkau maupun belum terjangkau oleh manusia dari zaman purba hingga suatu waktu kemudian hari. Awam akan menyakini bahwa bintang adalah yang tampak oleh mata ketika malam hari dan matahari adalah salah satunya. Tetapi, benarkah demikian?

Untuk kita ketahui bersama terdapat ratusan miliar bintang di galaksi Bima Sakti[1] kita sendiri. Perkiraan menunjukkan jumlah galaksi serupa di alam semesta yang sanggup diamati oleh para ahli, masing-masing dengan kumpulan bintang-bintangnya yang besar, banyak dengan sistem serupa “tata surya” mereka masing-masing. Di luar dan di antara bintang-bintang dan galaksi ini terdapat berbagai macam materi yang sangat beragam dalam berbagai fase, seperti gas dan debu. Bentuk materi lainnya, materi gelap[2], ada dalam bentuk yang sangat berbeda dan misterius,yang keberadaannya tidak secara langsung melainkan hanya melalui efek gravitasi yang dimilikinya saja.

Alam semesta semacam inilah yang digunakan oleh Salman Habib[3] untuk merekonstruksi, struktur demi struktur, melalui pengamatan yang sangat teliti menggunakan teleskop yang dikombinasikan dengan analisis data generasi mendatang (next-generation data) dan teknik simulasi yang saat ini sedang dipasarkan untuk komputasi exascale, yakni super komputer tercepat di dunia saat ini yang memiliki kemampuan menghitung hitungan tiap detik.

“Kami mensimulasikan semua proses dalam struktur dan formasi yang membentuk alam semesta. Ini seperti halnya memecahkan teka-teki fisika yang sangat besar,” kata Habib, seperti dilansir melalui sciencedaily.

Habib memimpin proyek “Computing the Sky at Extreme Scales” atau “ExaSky,” salah satu proyek pertama yang baru dibentuk dengan pendanaan dari Excomale Computing Project (ECP), sebuah upaya kolaborasi antara DOE’s Office of Science dan National Nuclear Security Administration.

Dari penentuan penyebab awal fluktuasi primordial untuk mengukur jumlah semua massa neutrino, tujuan sains proyek ini mewakili daftar pertanyaan-pertanyaan, misteri, dan tantangan terbesar yang saat ini membingungkan para ahli kosmologi maupun para pengagum alam semesta.

Ada pertanyaan tentang energi gelap, penyebab potensial percepatan ekspansi alam semesta, yang disebut inflasi. Pertanyaan lain adalah sifat dan distribusi materi gelap di alam semesta. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan besar yang menuntut kekuatan komputasi yang sangat besar untuk menjawabnya. ECP menyiapkan kode sains untuk sistem exascale, workhorses baru dari komputasional dan big data science.

Didasari untuk mendorong pengembangan ekosistem “exascale” dari arsitektur dan kode kerangka kerja mutakhir dan berperforma tinggi, ECP akan memungkinkan para peneliti untuk mengatasi tantangan data dan komputasi yang intensif seperti simulasi ExaSky dari alam semesta yang dikenal saat ini. Selain besarnya tuntutan komputasi yang diminta, proyek ECP dipilih berdasarkan pada apakah mereka memenuhi wilayah strategis tertentu, mulai dari keamanan energi dan ekonomi sampai penemuan ilmiah dan juga perawatan kesehatan.

“Penelitian Salman tentu saja memandang pentingnya pertanyaan ilmiah dan mendasar, namun juga memiliki manfaat sosial yang sangat besar,” kata Paul Messina, Argonne Distinguished Fellow. “Manusia cenderung (bahkan seharusnya) bertanya-tanya dari mana asalnya, dan keingintahuan itu sangat dalam.”

Langit Malam versi HACC

Bagi Habib, ECP menghadirkan tantangan berlipat ganda – bagaimana Anda memimpin penelitian pada bidang sains mutakhir pada peralatan yang mutakhir?

Tim Argonne lintas-divisi telah bekerja di bidang sains selama bertahun-tahun di Argonne Leadership Computing Facility (ALCF), sebuah DOE office of Science User Facility. Tim ini menjalankan simulasi kosmologis untuk mensurvei langit berskala besar pada high-performance computer 10-petaflop, Mira. Simulasi tersebut dirancang untuk bekerja dengan data observasional yang dikumpulkan dari teleskop survei khusus, seperti Instrumen Spektroskopi Energi Gelap (Dark Energy Spectroscopic Instrument /DESI) yang akan datang dan Teleskop Survei Sinoptik Besar (Large Synoptic Survey Telescope/LSST).

Teleskop ini memiliki kemampuan untuk menjangkau langit lebih luas dari yang lainnya – sampai setengah langit, pada titik tertentu – dibandingkan dengan Teleskop Luar Angkasa Hubble sekalipun, misalnya, yang lebih berfokus pada objek individual. Suatu malam berkonsentrasi pada satu bidang, bidang yang lain pada malam berikutnya, instrumen survei secara sistematis mengamati langit untuk mengumpulkan rekam pemetaan alam semesta (kosmos), begitu dijelaskan oleh pimpinan proyek ini.

Kode utama mereka, yang dikembangkan Habib, sudah termasuk kode produksi sains tercepat yang digunakan. Disebut HACC (Hardware / Hybrid Accelerated Cosmology Code), kerangka kosmologi berbasis partikel ini mendukung berbagai model dan algoritma pemrograman.

Keunikan di antara kode yang digunakan dalam proyek komputasi exascale lainnya, semuanya dapat berjalan di semua arsitektur prototipe yang ada saat ini, mulai dari chip dasar X86 yang digunakan di kebanyakan PC/laptop rumahan, hingga unit pemrosesan grafis, hingga chip Knights Landing terbaru yang ditemukan di Theta, sistem super komputer terbaru ALCF.

Sama kuatnya dengan kode yang ada, tim HACC terus mengembangkannya lebih jauh, menambahkan kemampuan baru yang signifikan, seperti hidrodinamika dan model subgrid terkait.

“Bila Anda menjalankan simulasi alam semesta yang sangat besar, Anda tidak mungkin melakukan semuanya, karena ini terlalu rinci,” Habib menjelaskan. “Misalnya, jika kita menjalankan simulasi di mana kita benar-benar memiliki puluhan hingga ratusan miliar galaksi, kita tidak dapat mengikuti setiap galaksi secara penuh. Jadi, kita akan mendekati pendekatan perkiraan, yang disebut model subgrid.”

Bahkan dengan perbaikan dan keberhasilannya ini, kode HACC masih perlu meningkatkan kinerja dan memorinya agar bisa bekerja dalam kerangka kerja exascale. Selain HACC, proyek ExaSky menggunakan kode penyesuai mesh adaptif Nyx, yang dikembangkan di Lawrence Berkeley. HACC dan Nyx saling melengkapi dengan kekhususan bidang yang berbeda. Sinergi antara keduanya merupakan elemen penting dari pendekatan tim ExaSky.

Pendekatan simulasi kosmologis yang menyatu dengan beberapa pendekatan lainnya memungkinkan proses verifikasi kosmologis yang sulit diselesaikan yang melibatkan evolusi gravitasi, dinamika gas dan efek astrofisika pada rentang dinamis yang sangat tinggi. Metode komputasi baru seperti machine learning akan membantu para ilmuwan untuk mengenali ciri-ciri secara cepat dan sistematis baik dalam data pengamatan maupun simulasi yang mewakili kejadian unik.

Satu Triliun Partikel Cahaya

subgrid alam semesta dan pemetaannyaPekerjaan yang dihasilkan oleh ECP akan mencakup beberapa tujuan, menguntungkan baik bagi masa depan pemodelan kosmologi dan pengembangan platform exascale.

Pada pemodelan akhir, komputer dapat menghasilkan banyak pengggambaran alam semesta dengan parameter yang berbeda, yang memungkinkan peneliti membandingkan model-model mereka dengan hasil pengamatan untuk menentukan model mana yang paling sesuai dengan data-data yang valid. Sebagai alternatif, suatu model dapat membuat prediksi untuk pengamatan yang harus dilakukan. Model juga dapat menghasilkan citra langit yang sangat realistis, yang penting pada saat merencanakan kegiatan observasi skala besar, seperti yang terjadi pada DESI dan LSST.

“Sebelum menghabiskan uang untuk membangun teleskop, penting juga untuk menghasilkan data simulasi yang sangat bagus sehingga orang dapat mengoptimalkan kegiatan observasional untuk memenuhi tantangan data mereka,” kata Habib.

Pekerjaan yang dilakukan tim ExaSky, bersamaan dengan tim peneliti ECP lainnya, akan membantu mengatasi tantangan ini dan tantangan yang dihadapi oleh produsen komputer dan pengembang perangkat lunak saat mereka menciptakan platform exascale yang koheren dan fungsional untuk memenuhi kebutuhan sains berskala besar. Dengan bekerja menggunakan kode mereka sendiri pada mesin pra-exascale, tim peneliti ECP dapat membantu membimbing vendor dalam desain chip, bandwidth I/O dan persyaratan memori dan fitur lainnya.

“Semua hal ini dapat membantu masyarakat ECP mengoptimalkan sistem mereka,” kata Habib. “Itulah alasan mendasar mengapa tim sains ECP dipilih. Kami akan mengambil pelajaran yang kita pelajari dalam menangani arsitektur ini kembali ke komunitas sains lainnya dan berkata, ‘Kami telah menemukan sebuah solusi”, pungkas Habib.

Referensi:

[1] Bima Sakti, tempat bernaungnya tata surya dan bumi termasuk di dalamnya, hanya salah satu dari sekitar 100 hingga 200 milyar galaksi yang diperkirakan oleh para ahli kosmologi (Space.com).

[2] Materi gelap (dark matter) adalah jenis materi hipotetis, dari para fisikawan, yang berbeda dari jenis materi baryon (materi biasa seperti proton dan neutron) dan neutrino.

[3] Salman Habib adalah salah satu anggota Divisi Fisika dan Matematika Energi Tinggi dan Komputer di Argonne National Laboratory, Anggota Senior Institut Kavli bidang Fisika Kosmologi di University of Chicago, dan Senior Fellow di Computation Institute, sebuah lembaga kerjasama antara Argonne National Laboratory dan University of Chicago.

Agama Russell: Moralitas tanpa Tuhan

0
Bertrand Russel
Bertrand Russel

Antinomi.org – Seorang pemikir besar tidak pernah begitu saja menerima beragam bentuk dogma maupun doxa dengan sederhana. Ia akan selalu memiliki gaya ataupun pemikiran sendiri entah ia dalam penerimaan atau penolakan. Seperti itulah yang tercermin dari seorang Bertrand Russell, pemikir analitik yang juga peduli dengan persoalan-persoalan kontinental seperti agama dan politik.
Dari sub judul yang tertera pada buku berjudul Russell on Religion, tentu sudah menjelaskan bahwa buku tersebut merupakan sekumpulan tulisan Russell terkait dengan pandangannya tentang agama. Buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1999 oleh Routledge, dan sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Resist Book pada tahun 2008. Secara garis besar, buku berikut mendiskusikan seluruh pandangan dan posisi Russell mengenai agama, mulai dari pernyataan keyakinan pribadinya sampai keterkaitan agama dengan sains dan filsafat.
Yang menarik dari buku ini tentu adalah mengenai pernyataan tentang keyakinan pribadinya, seperti ‘Mengapa Saya bukan Seorang Kristian?’, juga pengakuan secara implisit tentang posisinya sebagai seorang agnostik, yakni salah satu paham dalam teologi yang menganggap bahwa tidak mungkin manusia dapat mengetahui kebenaran mengenai Tuhan dan kehidupan masa depan.
Berdasar pada pemahaman itulah kemudian Rusell membangun seluruh pandangannya mengenai agama. Russell tidak percaya dengan seluruh dogma agama selain perkara moralitas. Bahkan, menurut Russell, manusia tidak membutuhkan agama untuk hanya sekedar hidup dengan baik berdasarkan suatu tatanan moral. Agama, bagi Russell, tidak pernah menghapus kejahatan dari dunia manusia, melainkan ia hanya menyematkan kesucian dalam kejahatan-kejahatan tersebut, misalnya, pembunuhan, perzinahan dan sebagainya. Fungsi keberadaan agama selama ini hanya melabeli tindakan-tindakan itu dengan atribut ‘sakral’. Kita boleh berzina dengan berapapun wanita, asalkan terikat dalam suatu upacara ‘pernikahan’ yang disakralkan, tidak peduli apakah wanita itu terluka hatinya atau tidak. Kita juga diperbolehkan membunuh manusia sebanyak apapun atas nama agama dengan dalih ‘jihad’ atau apapun yang disebut dengan ‘perang membela agama’.
Tentu, posisi Russell dalam perdebatan mengenai agama tidak lepas dari posisi politisnya sebagai seorang aktivis. Ia sangat gencar mengkampanyekan kemanusiaan yang dalam beberapa kasus selalu bertentangan dengan doktrin-doktrin agama. Sebagaimana pernyataannya yang menyangkal keyakinan atau pandangan bahwa Tuhan menciptakan dunia ini dengan begitu sempurna nan indah. Bagi Russell, keindahan macam apa yang dapat dilihat dari dunia penuh tindak makan-memakan universal, binatang yang lebih kuat memakan binatang yang lemah, manusia yang lebih kuat menindas manusia yang lemah, keindahan macam apa itu?
Secara umum, buku ini sangat membantu kita, sebagai orang yang selalu mengaku religius, untuk kembali memikirkan cara kita beragama, karena terkadang kita abai terhadap hal-hal yang terlalu dekat dengan kita, sehingga kita tidak pernah tahu kecacatan-kecacatan yang kita miliki. Dan konsekuensi logisnya, kita selalu merasa benar, dan menolak apa saja yang mencoba menjatuhkan apa yang kita yakini.[]

Membaca Dawkins: Tuhan dalam kacamata evolusi

0
The God Dellusion
The God Dellusion

Antinomi.org – Gagasan Dawkins tentang Tuhan sebagai citra atau ‘delusi’ manusia bukanlah sesuatu yang baru. Ludwig Feuerbach, seorang pemikir Jerman sudah pernah menyatakan bahwa Tuhan bukanlah apa-apa selain manusia. Maksudnya, Tuhan hanyalah sekadar representasi dari manusia, tidak lebih, dan itulah yang kemudian mengantarkan Karl Marx, sebagai pembaca Feuerbach, mengatakan bahwa “agama itu candu”.

Kesimpulan yang sama juga diberikan oleh Richard Dawkins dalam buku ini. Melalui bukunya, Dawkins ingin mengatakan bahwa Tuhan tidak lebih dari sekedar hipotesis yang diajukan oleh manusia; politeisme, monoteisme. Argumen-argumen tentang keberadaan Tuhan, dengan demikian, hanyalah suatu upaya apologetis untuk mendukung kebenaran hipotesis tersebut.

Secara garis besar, buku ini dibangun dalam suatu kerangka teori evolusi Darwinian. Sehingga dapat disimpulkan, buku ini hanya ingin mengatakan bahwa Tuhan hanyalah bagian dari proses evolusi manusia menuju makhluk yang berkesadaran. Konsep Tuhan hanyalah suatu fase dari perkembangan evolusi kecerdasan manusia sebagai spesies yang masih akan selalu dalam proses evolusi.

Itulah mengapa dalam bagian-bagian terakhir, Richard Dawkins menggiring pembacanya ke dalam argumen-argumen moral yang sangat mungkin diwujudkan tanpa adanya Tuhan. Moralitas dengan berdasar pada keberadaan Tuhan, yang selama ini diajarkan oleh agama, hanyalah suatu fase perkembangan menuju moralitas tanpa Tuhan yang dapat diwujudkan melalui pemikiran rasional. Artinya dengan demikian, manakala proses evolusi kecerdasan manusia sudah sampai pada tahapan yang cukup mapan, manusia sudah tidak lagi membutuhkan Tuhan sebagai dasar tindakan yang baik. Manusia hanya perlu berpikir secara rasional atas apa saja yang akan dilakukan.

Melalui buku ini, Dawkins adalah salah satu pemikir yang berani di antara pemikir lain di abad ini. Mengingat Dawkins merupakan salah satu anggota Four Horsemen, yakni gerakan ateisme baru yang mencoba membuktikan ketiadaan Tuhan secara ilmiah, maka semangat yang diusung oleh Dawkins tentu adalah semangat rasionalisme. Gerakan ‘ateisme baru’ berkeyakinan bahwa suatu saat, semua hal akan dapat dijelaskan secara rasional.

Tentu, gagasan yang diusung oleh gerakan ‘ateisme baru’ tidak lepas dari banyak komentar dan kritikan tajam. Sebagai argument pembanding, buku The Dawkins Delusion cukup penting untuk dibaca setelah membaca buku Dawkins. Buku tersebut, ditulis oleh seorang teolog, Alister McGrath, dan seorang psikolog, Joanna Collicutt McGrath. Dengan hanya membaca judulnya, sudah jelas bahwa buku tersebut merupakan tanggapan atas buku The God Delusion yang ditulis Dawkins. Tentunya masing-masing memiliki dasar argumen yang kuat dalam membangun teorinya.[]

Freemasonry dan Perkembangannya di Indonesia

0
freemasonry
Cover buku freemasonry

Antinomi.org – Buku dengan judul Freemasonry di Indonesia: Jaringan zionis tertua yang mengendalikan nusantara, memiliki judul asli “Freemasonry in Indonesia” terbit pada tahun 1976, merupakan karya Paul W. van der Veur – seorang profesor di bidang ilmu politik Universitas Ohio. Diterjemahkan oleh Jagat Purbawati pada bulan Oktober 2012 di Yogyakarta dan diterbitkan oleh UFUK PRESS, beralamat di Jakarta Selatan, dengan jumlah halaman 153 halaman ditambah dengan halaman sampul hingga halaman pengantar dari penerjemah.
Secara umum, buku ini merupakan buku yang mengungkapkan waktu, cara, dan perkembangan freemansonry di Indonesia. Lebih sederhananya dapat kita katakan bahwa buku ini adalah buku sejarah perkembangan jaringan zionis tertua yang masuk ke Indonesia hingga menguasai atau mengendalikan banyak hal di Indonesia. Memang, jaringan “semacam” ini tidak dapat dibuktikan secara ilmiah atau pun kalau bisa, akan sangat sulit untuk dilakukan. Bahkan beberapa orang berpendapat – secara tidak resmi, bahwa jaringan ini hanya merupakan “hoak” atau omong kosong bahkan dongeng yang menjadi semacam “orang-orangan sawah untuk menakuti burung pemakan padi” saja. Hal ini didasarkan pada, setidaknya, ketidakmunculan bentuk organisasi yang pergerakannya nyata dan mengatasnamakan misalnya “gerakan freemasonry” atau sangat sedikitnya buku-buku atau penelitian-penelitian baik di kalangan akademisi maupun praktisi yang menuliskan atau meneliti permasalahan semacam ini.
Dimulai dengan kata pengantar dari penerjemah, pada buku ini diulas kembali tentang sejarah masyarakat-masyarakat tersembunyi (secret societies), salah satunya dari buku karya Dr. Th. Stevans. Kemudian pada pendahuluan dijelaskan keberadaan freemasonry di Indonesia dari tahun 1762-1961 atau sejak Radermacher hingga Soekanto. Pada bagian berikutnya, pendirian freemasonry di Indonesia dijabarkan cukup mendetail beserta dengan anggota-anggota yang terlibat di dalamnya, baik warga negara asli Indonesia (pribumi) maupun yang berasal dari keturunan atau asli warga Cina yang ada di Indonesia. Pada dua bagian terakhir, van der Veur menjelaskan kegiatan-kegiatan freemasonry hingga perkembangannya setelah perang dunia II berakhir, atau lebih tepatnya awal-awal kemerdekaan republik Indonesia pada tahun 1945, hingga tahun 1960an. Meskipun buku ini penjabaran masalahnya cukup singkat, tetapi bagi para peneliti, buku ini menyajikan informasi-informasi yang sangat penting pada bagian lampiran, seperti Ekstrak anggaran dasar freemasonry di bawah majelis Agung Grand Orient Nederland yang diadobsi pada tanggal 1 Maret 1917, Mason Indonesia dan Cina, dan Loji-Loji Mason dan Keanggotaannya.
Secara umum buku ini cukup memberikan informasi menyeluruh tentang pergerakan freemasonsy di Indonesia dari awal, meskipun hanya sampai tahun 1960an. Namun untuk para peneliti di bidang kajian sejarah pergerakan freemasonry, buku ini baru merupakan tahap awal atau dapat dikatakan sebagai pintu masuk dari sebuah bangunan objek penelitian besar yang mungkin akan dapat dijangkau dalam waktu yang cukup lama. Tetapi, dengan beberapa referensi yang diberikan dan beberapa keterangan tambahan di dalam uraian, para peneliti atau yang tertarik untuk mengetahui lebih jauh, dapat menjadikan referensi-referensi tersebut sebagai bahan bacaan lanjutan. Sehingga nantinya dapat diperoleh pengetahuan yang utuh dan komprehensif terkait keberadaan dan pergerakan freemasonry di Indonesia dari awal hingga saat ini.

Mengenal Efek Kuantum dalam Biologi

0
Quantum Effects in Biology
Cover Quantum Effects in Biology

Antinomi.org – Buku dengan judul Quantum Effects in Biology (efek kuantum dalam biologi) ini merupakan kumpulan-kumpulan beberapa tulisan dengan penulis yang berbeda di setiap babnya. Buku ini diedit oleh empat orang yakni M. Mohseni, Y. Omar, Gregory S. Engel, dan Martin B. Plenio. Diterbitkan oleh Cambridge University Press pada tahun 2014 untuk terbitan pertamanya. Terdiri dari tiga bagian utama yakni Introduction, Quantum effects in bacterial photosynthetic energy transfer, dan Quantum effects in higher organisms and applications pada bagian terakhirnya. Semua bagian ini tertuang dalam 414 halaman yang termasuk di dalamnya halaman sampul, daftar isi, pengantar, referensi, dan juga index.

Pada bagian pertama yakni pendahuluan, diperkenalkan istilah kuantum biologi yang mencoba menjelaskan secara rinci tentang keterkaitan mekanika kuantum, dimulai dari prinsip ketidakpastian, dualisme gelombang partikel, dan beberapa konsep hukum probabilitas klasik, dengan sistem perilaku alamiah dari sudut pandang ilmu biologi. Tidak hanya sampai pada konsep dasar mekanika kuantum saja, pada bagian pendahuluan ini dibahas juga tentang sistem kuantum terbuka. Melalui sistem kuantum terbuka ini, para peneliti (penulis) mencoba menjelaskannya hingga mencapai pendekatan bagi sistem biologis menggunakan, salah satunya persamaan master kuantum (QME/Quantum Master Equations) yang diturunkan dari persamaan Hamiltonian.

Selain diperkenalkan persamaan master kuantum, masih dibagian pertama, juga diperkenalkan perumuman transfer tenaga resonansi Forster. Dimulai dari penurunan secara lengkap ungkapan laju ekspansi Forster hingga terapannya di MC-FRET (Multichromophoric Flourescence, or Forster, resonance energy transfer). Pada bagian pertama diakhiri dengan penjelasan prinsip-prinsip spektroskopi elektronik multi-dimensi.

Pada bagian kedua, buku ini menyajikan efek-efek kuantum pada transfer energi bacterial photosynthetic, pengamatan langsung quantum coherence, dan juga environment-assisted quantum transport.

Pada bagian ketiga, buku ini menghadirkan beberapa efek kuantum pada organisme-organisme tingkat lebih tinggi dan beberapa terapannya. Dimulai dengan transfer tenaga eksitasi pada higher plants – dijelaskan mengenai fotosintesis, kelestarian tenaga fotosintesis, dan light-harvesting. Selanjutnya dibahas transfer elektron pada protein. Secara pribadi, bagian ini memperkenalkan banyak sekali istilah-istilah baru yang, jujur, baru pertama kali terbaca, seperti through-bridge tunnelling, vibration quantum effects, dan beberapa istilah lain.[]