More

    Kematian dan Perjalanan Antar Bintang (Sebuah Obituari Singkat untuk Hawking)

    Risalatul Hukmi
    Risalatul Hukmi
    Post-Nietzschean free thinker

    Artikel Terbaru

    Socrates dan Martin Luther King: Pelajaran dalam Ketidaktaatan Sipil

    Pada pembukaan "Crito", sebuah dialog karya Plato, Socrates telah dipenjarakan. Dia tengah menunggu eksekusinya atas dugaan kejahatan karena merusak para pemuda...

    Populisme Kiri: Sebuah Pengantar

    Akhir-akhir ini, ruang publik demokratik kita terkungkung dalam jurang cemoohan dan celaan—demonisasi—terhadap orang-orang atau kelompok yang disinyalir anti-demokratik. Mereka ialah orang-orang...

    Apa Arti Menjadi Pluralis Ilmiah?

    Apa yang akan kita lakukan jika kita berhadapan dengan dua atau lebih pandangan berbeda secara politik? Ada dua jawaban umum. Kita...

    Realisme dan Anti-realisme dalam Pemikiran Martin Heidegger

    Pemikiran Martin Heidegger masih terasa pengaruhnya hingga hari ini. Ketika perkembangan teknologi dan sains semakin maju, manusia terasing di dalam sistem...

    Where Is God in a Coronavirus World?

    This year's coronavirus pandemic has truly shaken the world's citizens both physically and mentally. People are required to self-isolate to prevent...

     

    Kematian adalah misteri paling menakutkan yang menghantui manusia. Demikianlah kemudian ia mendorong manusia untuk membuat bagaimana kematian akan menjadi lebih mudah, atau setidaknya menyenangkan untuk dihadapi, diterima, dan dirangkul sepenuhnya. Namun Stephen Hawking adalah sebuah antitesa. “Aku tidak takut akan kematian,” kata Hawking, “meski demikian, aku pun tak terburu-buru untuk menjemputnya; karena ada banyak hal yang harus aku lakukan terlebih dahulu.”

    Hawking (1942-2018) adalah cermin sosok ilmuan sejati. Kondisi fisiknya yang jauh dari normal tak lantas membuatnya lemah dan membaptiskan diri pada kredo agama mana pun untuk mengakui keberadaan Tuhan. Sebaliknya, Hawking justru dengan tegas menyatakan bahwa, “aku adalah seorang ateis […] Tuhan hanyalah nama yang orang berikan untuk alasan mengapa kita di sini. Tapi ku pikir alasannya adalah ‘hukum fisika’, bukan sebuah Tuhan impersonal yang memiliki hubungan personal dengan manusia.”

    Lubang Hitam dan Teori Segala Sesuatu

    Dalam The Grand Design, Hawking menegaskan bahwa kita adalah makhluk yang penuh rasa-ingin-tahu (curious), itulah mengapa kita selalu bertanya; “dapatkah kita memahami dunia? Bagaimana alam-semesta bergerak? Apa hakikat realitas? Dari mana semua ini berasal? Apakah alam-semesta membutuhkan pencipta? Sebagian dari kita memang tidak ingin menghabiskan waktunya untuk mengkhawatirkan pertanyaan-pertanyaan itu, namun sebagian besar sangat peduli.”[i]

    Hawking menganggap bahwa pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang sejak lama telah diperdebatkan dalam filsafat. “Namun filsafat sudah mati,” kata Hawking. Filsafat, bagi Hawking, tidak lagi reliabel untuk menjawab semua pertanyaan semacam itu. Satu-satunya yang dapat menjawabnya adalah sains modern, terutama, fisika.

    Theory of Everything adalah bukti bagaimana Hawking meyakini bahwa sains adalah satu-satunya penjelas yang adekuat atas segala hal. Hawking percaya bahwa gravitasi telah menjelaskan segalanya; bagaimana black hole lahir, bagaimana big-bang terjadi, dan bagaimana perjalanan ruang-waktu itu mungkin. Tentu, yang paling utama, gravitasi telah menjelaskan bagaimana alam-semesta ada sampai saat ini.

    Memang tidak ada yang paling menarik dari Hawking selain gebrakan besarnya mengenai ‘lubang hitam’ (black hole). Meskipun teori ‘lubang-hitam’ pertama kali diperkenalkan oleh John Michell dan Pierre-Simon Laplace yang kemudian dikembangkan oleh Karl Schwarzschild dengan konstruksi teori relativitas umum Einstein, namun yang baru dari Hawking adalah ketika ia menerapkan perhitungan matematis ‘lubang-hitam’ untuk seluruh semesta dan menunjukkan bahwa singularitas, sebuah wilayah kelengkungan tak terbatas dalam ruang-waktu, berada di masa lalu kita yang amat jauh, yakni titik di mana terjadinya ‘ledakan besar’ (big-bang).

    Begitulah teori Hawking tentang lahirnya alam-semesta (universe); habisnya bahan-bakar bintang untuk melakukan fusi, mengakibatkan tingkat radiasi ke luar melemah dan tidak dapat menahan gravitasi ke dalam, sehingga mengakibatkan bintang kolaps dan menciptakan sebuah supernova. Dan salah satu kemungkinan hasil dari supernova tersebut adalah lubang hitam. Sementara, residu dari ledakan tersebut menghasilkan benda-benda angkasa, termasuk bumi, dan dari sana pula kita (manusia) dilahirkan. Singkat kata, kita tidak tercipta dari tanah, namun kita lahir dari ledakan bintang.

    Kematian: sebuah perjalanan interstellar

    Tepat hari ini, 14 Maret 2018, Hawking berpulang kepada semesta yang melahirkannya. Namun ia tak akan pernah mati, ia akan hidup abadi bersama bintang, bersama “lubang hitam yang tak pernah benar-benar hitam”. Jika memang benar bahwa kita lahir dari supernova, kematian, dengan demikian adalah sebuah perjalanan antar bintang; lahir, tumbuh, meledak, lahir kembali.

    “Dus, ke manakah kau pergi tuan? Bukankah kau tak pernah percaya kehidupan setelah kematian?” tanya seorang anak kecil.

    “Aku tak pernah pergi ke mana-mana. Aku masih di sini, di dunia, di serpihan sejarah umat manusia. Bukankah ‘ketiadaan’ hanyalah perkara ‘dilupakan’ oleh dunia?”, begitulah mungkin Hawking menjawab.

    Selamat jalan Hawking!

    *Ditulis untuk mengantar kepergian Hawking (Yogyakarta, 14-03-2018)

    [i] Hawking, The Grand Design, edisi digital (New York: Bantam Books, 2010) hal. 1

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here