More

    Realisme Tanpa Kebenaran: Tinjauan Singkat atas Buku Realisme dan Kebenaran

    Banin D. Sukmono
    Banin D. Sukmonohttp://zenocentre.org
    Direktur dan Head of Metaphysics of Science di Ze-No Centre for Logic and Metaphysics

    Artikel Terbaru

    Realisme dan Anti-realisme dalam Pemikiran Martin Heidegger

    Pemikiran Martin Heidegger masih terasa pengaruhnya hingga hari ini. Ketika perkembangan teknologi dan sains semakin maju, manusia terasing di dalam sistem...

    Where Is God in a Coronavirus World?

    This year's coronavirus pandemic has truly shaken the world's citizens both physically and mentally. People are required to self-isolate to prevent...

    Waktu: Jejaring Peristiwa dan Relasinya (Bagian 2)

    Penjelasan bagian pertama sedikit banyak telah “meruntuhkan” konsepsi waktu awam yang biasa kita kenal. Mulai dari keumuman, ketakgayutan, serta kesetangkupan (simetris)...

    Pengakuan Dunia-Kehidupan yang Sakramental: Pembunuhan Tuhan dan Ekonekrofilia

    Edmund Husserl, dalam fenomenologinya, memperkenalkan istilah “dunia-kehidupan”. Ia mempopulerkannya dengan istilah lebenswelt atau lifeworld (leben: hidup dan welt: dunia). Istilah ini...

    Beberapa Catatan Tak Tuntas Tentang Kegilaan

    Konsep kegilaan, atau penyakit mental, mengacu pada deviasi dari pemikiran, penalaran, perasaan, attitude, dan perbuatan normal, yang oleh subjeknya, atau orang...

    Telah menjadi sebuah pra-asumsi yang menonjol dan luas bahwa realisme niscaya membutuhkan sebuah doktrin kebenaran yang mendukungnya, lebih spesifik doktrin kebenaran korespondensi. Sebuah justifikasi terhadap dunia yang mandiri dari mental seakan harus dimulai dari kemampuan pengguna bahasa mengakses dan menampilkan objek-objek dengan kalimat yang benar secara tepat. Tendensi ini dapat dilihat baik pada para realis maupun anti realis; sebagai contoh Dummett dan Papineau yang tanpa putus mengkritisi dan mempertahankan realisme dalam domain kebenaran atau semantik yang sedikit banyak epistemologis.[i] Namun, harus diakui bahwa anti realisme mengambil keuntungan dari rute ini. Karena teori kebenaran epistemik seperti verikasi, perspektif, akurasi, dan kepercayaan tetap mensyaratkan kehadiran pengamat sebagai bagian yang niscaya dan karenanya dapat mendiskreditkan doktrin tegas seperti realisme.

    Mempertimbangkan hal tersebut, akan berbeda jika kebenaran ternyata tidak memiliki peran penting dalam isu realisme. Para realis akan dapat mempertahankan dan mengamankan dua tesis utama mereka, yakni kemandirian dan eksistensi, agar tetap bersemayam di domain metafisik tanpa bocor ke domian semantiko-epistemologis. Dalam persinggunan inilah tulisan ini akan menyaji-ulangkan klaim seorang filsuf Australia, Michael Devitt, dalam bukunya, yang sebenarnya sudah menjadi klasik, Realisme dan Kebenaran (R&T)(1997, versi kata penutup). Kita akan melihat satu tesis yang menegaskan bahwa pembuktian ketidakesensialan teori kebenaran korespondendsi, pengetahuan, dan bahasa, terhadap doktrin realisme adalah hal yang niscaya dan konsekuen.

    Kita dapat memulai dari klaim pertama Devitt bahwa realisme tidak membutuhkan doktrin kebenaran. Bagi Devitt, Realisme dapat hidup dengan teori kebenaran korespondensi maupun deflasioner.[ii] Sebagai contoh, menggunakan teori kebenaran deflasioner, yang diakui secara umum sebagai lawan teori kebenaran korespondensi, kita dapat mengeksekusi suatu penaikan semantik (semantic ascent)yang tidak mempengaruhi konten realis:

    1) Sebagian besar[iii] eksistensi terbaru[iv] yang dipahami secara umum (common sense)[v] dan fisikal ilmiah[vi] adalah benar (secara deflasioner) secara objektif dan mandiri dari pikiran.

    Menurut Devitt, kemudian, hal tersebut juga terjadi pada teori kebenaran korespondensi:

    2) Sebagian besar eksistensi terbaru yang dipahami secara umum (common sense) dan fisikal ilmiah benar secara objektif dan mandiri dari pikiran jika dan hanya jika hal tersebut korespon dengan fakta bahwa sebagian besar eksistensi yang dipahami secara umum (common sense) dan fisikal ilmiah terbaru benar secara objektif dan mandiri dari pikiran.

    Dua contoh tersebut jelas dihidupi oleh doktrin kebenaran, tetapi mereka tidak merubah atau mendukung seluruh klaim realisme: tesis eksistensi dan kemandirian.

    Bahkan untuk kasus korespondendsi, meskipun mereka membutuhkan dimensi kemandirian, realisme tidak hanya bergantung pada dimensi tersebut. Lebih jauh, realisme menegaskan tidak hanya bahwa X mandiri dan eksis di luar mental manusia tetapi juga entitas-entitas apa saja yang eksis dan eksistensinya tidak berada dalam entitas supra mental seperti ‘otak dalam panci’ atau ‘tuhan Berkeley’. Teori kebenaran  korespondensi, dalam arti ini, hanya menyediakan X mana yang benar tanpa masuk lebih jauh pada pertanyaan untuk mengakui entitas mana yang eksis dan menutup kemungkinan mental super lainnya. Ini mengapa teori kebenaran korespondensi dapat hidup bahkan di sistem filsafat idealis.

    Secara tentatif, Devitt mencurigai pencampuradukkan tersebut dibawa oleh tren ‘balikan linguistik” (linguistic turn) yang terjadi di dunia filsafat pada awal abad ke-20. Hal itu tidak mengagetkan mengingat sepanjang sejarah filsafat, teori kebenaran korespondensi selalu menjadi bagian substantial dari argumen realisme. Sebagai contoh adalah gagasan tentang penggambaran (picturing). Dengan argumen tersebut, Realisme lama berpendapat bahwa pikiran manusia dapat menggambarkan atau mencerminkan (mirroring) dunia, entah secara penuh, sebagian besar, atau kurang lebih.

    Namun, realisme lama jelas gagal mengangkap hubungan realisme dan korespondensi karena apakah sebuah teori mungkin untuk menggambarkan elektron, sebagai contoh, tidak berhubugan dengan masalah apakah elektron mungkin eksis. Yang pertama secara penuh adalah tentang apakah sebuah kalimat mempersembahkan sebuah fakta tanpa secara serius mengasumsikan sebuah gagasan tentang hakikat dunia. Sebaliknya, yang terakhir, yang sering dilupakan, benar-benar membangun asumsi tersebut.

    Masalah utama yang dimulai dari kelompok penggambar dunia tersebut, yang menyebar dari Descartes hingga para empirisis awal, adalah penekanannya bahwa komintemen terhadap, sebagai contoh, anjing disebabkan oleh X, atau entitas, yang menyerupai ide tentang anjing. Jadi, validitas diukur dengan seberapa mirip objek-objek di luar pikiran menyerupai idea yang kita punya. Padahal, komitmen kita terhadap anjing hanya membuthkan komitmen terhadap anjing.

    Penjelasan terakhir tentu saja memantik sebuah tantangan karena komitemen ontologis, bagi beberapa orang, harus dibawa ke pertimbangan bahasa-meta (metalanguage) dan semantik sehingga mengancam klaim Devitt tentang relasi semantik dan metafisika. Namun, bagi Devitt, komitmen ontologis justru harus dikerjakan di level bahasa-objek karena jika tidak, komitmen tersebut juga tidak bisa diselesaikan di level bahasa-meta.[vii] Menjawab tantangan tersebut, Devitt memisahkan dua kemungkinan pra-asumsi tentang komitmen, pertama, seseorang yang berkomitmen terhadap objek a atau F dan menyatakan S jika a dan F eksis; kedua, seseorang berkomitmen terhadap objek a atau F karena dengan mengatakan S dia mengatakan bahwa a dan F eksis. A dan F adalah singkatan untuk objek sedangkan S adalah kalimat konkret-spesifik (token sentence) seperti “Momo adalah Anjing”.

    Menurut Devitt, pilihan kedua lebih fundamental karena pilihan itulah yang membentuk kriteria semantik di tahap selanjutnya. Dengan kata lain, tanpa menginterpretasikan komitmen pada asumsi kedua, seluruh kalimat tidak akan dimengerti. Untuk menjelaskan asumsi kalimat tersebut, kita hanya harus memahami S. Mari ambil 3) “Momo adalah Anjing” (a is F) sebagai contoh kalimat konkret-spesifik. Ini mengimplikasikan:

    4) 3) adalah benar jika dan hanya jika eksis sesuatu seperti “Momo” yang menunjuk hal tersebut dan “Anjing” yang berlaku pada hal tersebut;

    5) Jika “Momo” menunjuk, hal tersebut menunjuk Momo;

    6) Jika “Anjing” berlaku, hal tersebut berlaku pada anjing.

    Keniscayaan mengafirmasi pertimbangan kedua tentang komitmen ditunjukkan oleh 4), 5) dan 6) yang secara jelas adalah pernyataan tentang eksistensi. Konsekuensinya, orang yang mengatakan hal tersebut secara implisit mengakui kommitmen ontologis bahwa:

    7) Anjing eksis.

    Menyatakan 3) tanpa mengakui 7), bagi Devitt, tidak masuk akal. Untuk diparafrase, dengan demikian “Momo adalah anjing adalah benar jika dan hanya jika anjing eksis”, yang berarti sebuah komitmen ontologis yang eksplisit (dalam arti ini, secara personal, jika kata benar terlalu kuat, kita dapat menggantinya dengan kata masuk akal). Lebih jauh, mengakui makna “eksis” hanya berarti dalam semantik sebagai eksistensi juga tidak tepat karena jika hal tersebut benar-benar tidak terjadi, bahwa “eksis” itu non-komitmen, hal tersebut tetap berisi komitemen ontologis terhadap anjing dengan bentuk:

    7*) Anjing eksiso.

    Oleh karenanya, mendemonstrasikan eksistensi entitas dapat dikomitkan dalam semantik sejauh hal tersebut berkomitmen pada kriteria non-semantik. Devitt menunjukkan bahwa teori semantik dan kebenaran tidak niscaya dibutuhkan untuk memahami komitmen eksistensi.

    Masalah akan berbeda jika kita tinggal di dalam bahasa-objek regional tanpa sebuah ide tentang eksistensi. Bahasa-meta secara jelas dapat menyingkap komitmen onotologis yang tersembunyi di sana. Cukup penting dikatakan juga bahwa apa yang menjadi perhatian Devitt di kasus ini bukanlah hakikat dari eksistensi. Sebaliknya, ia hanya perhatian pada hakikat komitmen eksistensi karena, dia berargumen, eksistensi telah jelas secara intuititf. Kebutuhan atas eksplanasi yang berlebihan akan mengarahkan siapa saja untuk  jatuh ke penjelasan remeh atau masuk ke masalah epistemologis.

    Tentu saja, hal tersebut belum membuktikan klaim realis apapun. Itu hanya membuktikan relasi minor semantik terhadap komitemen eksistensial. Devitt sadar motede yang dibahas sebelumnya dapat digunakan oleh para universalis untuk mengganti peran objek dengan pelembagaan (instantiation). Dengan kata lain, preferensi untuk mengaktifkan antara objek dan pelembagaan didasarkan oleh preferensi metafisik. Ini adalah alasan mengapa Devitt mengharuskan problem metafisika untuk diselesaikan terlebih dahulu sebelum semantik dan epistemologi. Sekarang, kita akan masuk ke pembelaan Devit, bahwa dunia itu eksis dan mandiri tanpa memasukkan doktrin semnatik yang ketat.

    Tentang pembuktian Devitt, kita dapat melihat Devitt menggantungkan argumennya pada aras abduksi, yang berarti, daripada mengabsolutkan realisme, dia memilih untuk mengkritisi bagian-bagian lain sehingga menyebabkan realisme menjadi teori terbaik dari teori yang ada. Dalam pendapat saya, kritiknya tidak jauh berbeda dari pendekatan realis pada umumnya, termasuk kritiknya atas ketidakmampuan inderawi untuk menentukan dunia eksternal, penerjemahan datum fisikal ke indera, dan pengetahuan a priori, serta misteruisitas noumena. Namun, argumen postif Devitt persuasif dan patut dilihat.

    Bagi Devitt, bahasa kita tidaklah netral. Fakta bahwa bahasa-benda[viii] merasuki sebagian besar deskripsi kita terhadap fenomena menunjukan keunggulan dan kemasukakalan realisme. Dalam bahasa tersebut, asumsi ‘seolah-olah’ menubuh dalam bahasa, dan di waktu yang sama menyingkap fakta atas pengalaman yang dideskripsikan oleh bahasa. Sebagai contoh, pada kalimat konkret-spesifik realis berikut:

    8) Terdapat seekor gagak di halaman.

    Pada kalimat tersebut, terdapat pernyatan yang lebih berhati-hati, yaitu

    9) Seolah-olah terdapat seekor gagak di halaman

    Kalimat 9) adalah kondisi kemungkinan dari 8) karena kalimat tersebut tidak menawarkan data inderawi (yang menawarkan data inderawi adalah 8)) dan entitas apapun (karena seolah-olah tidak mengandaikan eksistensi, hanya kondisi hipotesis). Implikasinya, kalimat 9) tidak terjebak pada akses indera intuk membuktikan dunia luar tetapi mendorong kita untuk mengucapkan kalimat inderawi, seperti 8). Dengan dibukanya kalimat 9), penjelasan terbaik yang tersisa adalah mengakui bahwa alasan mengapa seolah-olah terdapat seekor gagak di halaman karena memang terdapat seekor gagak di halaman.

    Dikombinasikan dengan komitmen ontologis di bagian sebelumnya, menurut saya, argumen ini cukup berdaya dan berhasil mengkondisikan dimensi eksistensi karena, di luar argumen ‘otak-dalam-panci’ (brains in a vat/ BIV), yang meminta standar pengetahuan terlalu tinggi tetapi kebal terhadap dirinya sendiri, setiap posisi filsafati yang mengajukan realisme lemah harus mengandaikan kata bantu ‘seolah-olah’, dan berkomitmen terhadapnya, agar sistemnya menjadi masuk akal. Ini adalah persyaratan minimun. Dengan kata lain, doktrin metafisik realisme adalah presuposisi kemasukakalan bahasa.

    Argumen ini dapat diperluas menuju masalah entitas yang tidak dapat diobervasi yang menghantui realisme ilmiah, yakni apakah entitas yang tidak dapat diobervasi seperti elektron benar-benar ada. Dengan kata lain, membuktikan tesis kemandirian. Karena jika objek mandiri dari mental, mereka akan eksis tanpa perlu bisa diobservasi. Ini adalah salah satu sisi kuat dari Devitt. Saat banyak filsuf ilmu dapat setuju dengan asumsi metafisik yang menawarkan entitas konkret-spesifik yang dijelaskan oleh Devitt, karena kurang lebih hal tersebut didukung oleh peran pengalaman, mereka sangat skeptis terhadap keberlakuannya dalam dunia tanpa akses indera. Banyak anti realis hanya percaya dengan dunia yang dapat diobservasi. Namun, dua jawaban yang menyakinkan dari R&T dapat diberikan.

    Pertama, dengan memperluas jangkauan entitas yang dapat diobservasi menuju entitas yang tidak dapat diobeservasi sehingga meruntuhkan pemisahan tersebut. Alasan dibalik ini adalah Devitt tidak melihat perbedaan penting antara entitas yang dapat diobservasi tetapi belum diobervasi dengan entitas yang tidak dapat diobervasi. Jika kita dapat merunut eksistensi aktor di balik sebuah vas pecah yang tak dilihat siapapun, atau, contoh dari Devitt, mengobservasi pergerakan Uranus dan menarik kesimpulan tentang eksistensi Neptunus, kita dapat menspekulasikan secara ilmiah eksistensi elektron, sebagai contoh, dari jejak yang dibuatnya dalam laboratorum. Lebih dari itu, pemisahan entitas-entitas yang dapat diobervasi dan tidak dapat diobservasi memliki resiko pengembanan nilai yang sama, mambuat pemrioritasan dan penjatuhan satu domain terlihat tidak masuk akal. Untuk menghindari argumen realis ini, jalan terakhir adalah mengadopsi skeptisisme umum, teapi, hal tersebut juga membahayakan posisi anti-realis sendiri.

    Kedua, dengan mendemonstrasikan daya penjelasan entitas yang tidak dapat diobservasi. Saat kita tidak memiliki entitas yang tidak dapat diobervasi, kita hampir tidak dapat menjawab penjelasan kausal dibalik fenomena yang terindera. Dalam kasus photon, misalnya hampir tidak mungkin untuk menjelaskan transformasi potongan-potongan adegan ke dalam pesan elektronik pada televisi tanpa adanya eksistensi photon. Sebagaimana dikatakan Devitt, “dengan photon kita memiliki sebuah penjelasan kausal, tanpanya kita tidak punya sama sekali”. Dengan kata lain, menjadi skeptis atau fiksionalis terhadap entitas yang tidak dapat diobervasi akan menjatuhkan kita kepada pertanyaan yang tak dapat dijawab dan dicapai, yakni: “mengapa dunia yang diobservasi seolah-olah seperti ada entitas yang tidak diobservasi?”. Saat pertanyaan tersebut sulit dijawab oleh para anti-realis, realis dapat dengan mudah berurusan dengan hal tersebut karena mereka percaya pada eksistensi dari sebagaian besar entitas yang ditawarkan oleh ilmu. Entitas yang tidak diobervasi, oleh karenanya, niscaya dibutuhkan agar dunia menjadi masuk akal.

    Mengikuti pola pikir Devitt, terlihat mungkin untuk memisahkan antara persoalan hakikat dunia, yang mana berada di dalam ruang metafisika, dan masalah-masalah tentang kemampuan pengetahuan langsung kita terhadap dunia dan relasinya dengan teori-teori bahasa. Masalah tentang akurasi, korespondensi, atau, lebih spesifik, rujukan, minor bagi realisme, walaupun perlu dikatakan bahwa masalah tersebut masih penting untuk diselesaikan dalam lingkup filsafat bahasa secara umum. Pola pikir ini ini membuat kita berpikir bahwa realisme memiliki domainnya sendiri yang mandiri dan dapat memberikan preferensi di doktrin lainnya, sehingga mungkin untuk dipermainkan dan dikombinasi dengan doktrin lain dalam domain yang lain meskipun secara terbatas. Masalah saya dengan demonstrasi Devitt hanyalah dogmatismenya terhadap problem BIV. Berbeda dari Devitt, bagi saya BIV justru konstruktif bagi realisme karena BIV justru mengandaikan adanya independensi dan eksistensi, dua sayrat realisme yang diajukan oleh Devitt, dengan pengandaian metafisiknya. Namun, di luar itu, argumen Devitt dapat menjadi pasokan debat tentang kemasukakalan realisme.[ix]

    Catatan Akhir

    [i] Lih. Michael Dummett, “Realism”, dalam Synthese, Vol. 52, No. 1, Realism, Part II (Jul., 1982), hal. 55-112; David Papineau, Theory and Meaning, Oxford, Clarendon Press, hal. 126. Devitt membahas beberapa contoh penekanan atas doktrin kebenaran ini di bab 4.

    [ii] Pembahasan yang cukup atas tokoh, gagasan utama, jenis-jenis, dan persinggungan kedua teori ini, lih: Bradley Dowden & Norman Swartz “Truth”, Internet Encyclopedia of Philosophy, https://www.iep.utm.edu/truth/. Devitt juga membahas pemisahan ini di bab 3.

    [iii] Sebagian besar di sini lebih merupakan hipotesis atas disjungsi objek-objek yang kita percayai. Pembilang ini mengakomodasi bahwa tidak semua tawaran masyarakat dan ilmuwan benar sekaligus cukup kuat menegaskan bahwa kurang lebih tawaran tersebut benar.

    [iv] Pernyataan ini adalah versi realisme Devitt.

    [v] Eksistensi yang dipahami secara umum adalah: batu, pohon, gedung, binatang, dan fakta konkret spesifik lain yang secara intuitif dan sehari-hari diterima sebagai objek yang mandiri dari manusia.

    [vi] Eksistensi fisikal ilmiah adalah objek yang ditawarkan oleh ilmu untuk menjelaskan dunia, sebagai contoh elektron, photon, atau gravitasi.

    [vii] Bahasa objek adalah bahasa yang dijadikan objek evaluasi dari bahasa-meta. Bahasa-objek dapat berupa bahasa natural ataupun formal.

    [viii] Bahasa yang memiliki perspektif spasio-temporal.

    [ix] Lih. https://zenocentre.org/en_US/2018/03/20/accepting-the-matrixs-scenario/

    Related articles

    1 Comment

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here