Home Blog Page 22

Hossein Nasr dan Kritik atas Modernisme

0
Hossein Nasr

Seperti sebuah dendam, barangkali demikianlah yang menjadikan modernisme berkembang demikian cepatnya melampaui segala macam batas-batas norma kehidupan. Dengan senjata sains dan teknologi yang pada masa lalu pernah di kubur dalam-dalam oleh sebuah norma religius yang diwakili oleh gereja, Copernicus dan kawan-kawan telah membongkar kembali kuburan tersebut dan mengangkat senjata untuk mengibarkan bendera perang terhadap segala macam dogma yang merantai perkembangan sains dan teknologi dalam peradaban manusia.

Perjuangan Copernicus dan kawan-kawan sementara ini tampak telah berhasil mengantarkan peradaban modern dalam berbagai pencapaiannya. Akan tetapi sejauh ini, banyak yang mulai menyadari bahwa segala pencapaian tersebut tidaklah benar-benar bermakna dan berguna. Selalu ada celah yang kosong dalam segala keadaan, sehingga manusia hanya akan tersibukkan untuk mencari penyumbat atau segala hal yang dirasa mampu untuk mengisi kekosongan tersebut. Dengan demikian modernisme mulai dianggap telah gagal mengantarkan manusia kepada suatu peradaban yang benar-benar indah dan bermakna.

Dalam keadaan seperti inilah, banyak sekali para pemikir yang mencoba mencari sebuah jalan keluar yang menjanjikan daripada sebuah kehidupan nihil orang-orang modern. Salah satu pemikir tersebut adalah Seyyed Hossein Nasr. Nasr merupakan pemikir tradisionalis berkebangsaan Iran, dengan latar belakang kehidupan yang religius dan ilmiah, tentu memberi pengaruh yang besar terhadap berbagai pemikirannya.

Nasr seringkali disebut sebagai pemikir perennial karena pandangannya yang tradisionalis, yang itu mengartikan bahwa ia sangat konsen pada persoalan hikmah abadi dalam setiap tradisi, yang nantinya dianggap sebagai sebuah kebenaran yang Suprim. Tentu seluruh pemikiran Nasr tidak dapat dilepaskan secara penuh dari aspek historis kehidupannya. Bahwa pemikirannya merupakan respon terhadap realitas kehidupan modern pada masanya, itu merupakan hal yang sangat mungkin.

Setidaknya anggapan tersebut dapat didasarkan pada beberapa karya Nasr yang sebagian besar selalu menyinggung modernitas dan modernisme sebagai objek pembahasannya, bahkan ada beberapa judul bukunya yang jelas-jelas mencantumkan kata ‘modern’. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam proses berpikirnya, Nasr adalah seseorang yang termasuk responsif terhadap fenomena yang dihadapinya.

Desakralisasi Pengetahuan: Awal Segala Disharmoni

Merujuk kembali pada apa yang telah diterangkan oleh Al-Qur’an, bahwa seluruh keberadaan realitas merupakan perwujudan dari Kun fayakun, yakni ‘jadi, maka jadilah!’. Pada awal ‘kemenjadian’ tersebut, menurut Nasr yang ada secara serentak adalah wujud, pengetahuan, dan kebahagiaan (qudrah, hikmah, dan rahmah).[1] Tiga hal yang hadir dalam permulaan tersebut saat ini lebih sering disebut sebagai realitas.

Dalam pandangan Nasr, pengetahuan yang ada sebagai satu kesatuan realitas wujud dan kebahagiaan tersebut senantiasa memiliki hubungan dengan Realitas primordial dan prinsipal, yang merupakan Kesucian dan sumber dari segala yang suci. Melalui aliran ‘sungai waktu’, kesatuan tersebut mengalami residu dan berbagai refraksi, baik manifestasi makrokosmos maupun mikrokosmos, pengetahuan kemudian menjadi terpisah dengan wujud dan kebahagiaan.[2]

Keterpisahan antara pengetahuan, wujud, dan kebahagiaan menurut Nasr merupakan akibat dari hilangnya sakralitas pengetahuan yang pada gilirannya lebih dekat kepada kompleksitas eksternal, khususnya di antara segmen-segmen ras manusia yang telah tergerus oleh proses modernisasi. Kaitan antara hilangnya sakralitas dengan keterpisahan pengetahuan dan kebahagiaan tersebut menurut Nasr adalah karena kebahagiaan sendiri merupakan buah penyatuan dengan Yang Esa dan aspek yang suci. Dengan demikian, Nasr berpandangan bahwa hilangnya kesucian dalam sebuah pengetahuan akan menghambat manusia untuk mencapai kebahagiaan.[3]

Tentu justifikasi Nasr terhadap pengetahuan modern yang telah melemparkan diri jauh dari kesucian bukan semata-mata argumen dogmatis, Nasr berpandangan bahwa hal tersebut terkait dengan pendefinisan manusia sebagai makhluk yang rasional oleh para filosof sejak zaman Yunani Kuno sampai abad modern. Pendefinisian tersebut menurut Nasr tidaklah salah, tetapi terkesan mereduksi karena kemampuan rasional yang sekaligus perluasan dan refleksi Intelek dapat menjadi suatu kekuatan dan instrumen jahat, jika dipisahkan dari Intelek dan wahyu, yang dengan sendirinya memberikan kualitas kesucian pada pengetahuan. Dalam artian lain dapat dipahami bahwa pengagungan terhadap rasio tidak memiliki suatu batas yang nyata dalam sebuah realitas, rasio akan cenderung menuntun manusia pada rasa ketidakpuasan akan pengetahuan, sehingga mengantarkan manusia pada hilangnya sense of wonder sebagai batas kesucian dari pengetahuan.[4] Oleh karena itu, Nasr mengandaikan pendefinisian manusia dalam suatu cara yang lebih prinsipal, tidak hanya sebagai makhluk rasional, melainkan sebagai makhluk yang diberkahi dengan suatu intelegensi penuh, berpusat pada Yang Absolut dan diciptakan untuk mengetahui Yang Absolut. [5]

Penggunaan rasio yang berlebihan, menurut Nasr adalah tidak berkesesuaian dengan kebijaksanaan kuno (sapiensial), karena rasionalitas bagi Nasr tidak lebih hanyalah perpanjangan eksistensi,[6] yang kemudian dapat dipahami bahwa rasionalitas hanya mampu memberi kesimpulan logis pada suatu persoalan kecil atau dapat dikatakan hanya bagian dari perpanjangan eksistensi tersebut.[7] Kemampuan rasional manusia tidak mampu menarik suatu kesimpulan logis dalam sebuah kompleksitas alam, dengan anggapan demikian Nasr mengkhawatirkan penggunaan rasio yang berlebih ini akan memberi dampak negatif yang besar terhadap persoalan hubungan manusia dan alam, terlebih jika sakralitas alam tersebut tidak lagi bernilai bagi rasio manusia modern.

Desakralisasi Alam: Sebuah Krisis Ekologis Manusia Modern

Dalam rangka menyoal krisis manusia modern, Nasr mengandaikan bahwa kehidupan modern syarat dengan sebuah urbanisasi besar-besaran, di mana kebanyakan dari manusia modern berbondong-bondong untuk tinggal di sebuah lingkungan artifisial. Secara tidak langsung, kehidupan seperti ini pada saat tertentu akan mengantarkan manusia yang religius menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang dari mereka, yakni rasa spiritual (sense of spiritual) dari alam. Terlebih, kehidupan dalam lingkungan artifisial tersebut menjadikan sesuatu tanpa makna, dan di saat yang sama kehampaan tercipta karena hilangnya aspek vital dari eksistenis manusia untuk melanjutkan hidup dengan jiwa yang seringkali penuh dengan kekerasan hidup dan keputusasaan.[8]

Persoalan lebih lanjut dalam kehidupan modern kemudian muncul kembali saat ledakan populasi terjadi dalam sebuah kawasan tujuan urbanisasi, kurangnya lahan, ruang bernafas, dan segala implikasi lain dari meledaknya penduduk dalam suatu wilayah tertentu.[9] Kemudian bahaya terbesarnya adalah ketika manusia merasa bahwa dirinya adalah makhluk istimewa yang mendominasi dari pada alam, dengan rasio, sains dan teknologi mereka, memberi jaminan akan eksploitasi alam besar-besaran dan menciptakan manipulasi-manipulasi berbasis teknologi guna memenuhi segala kebutuhan manusia atau boleh jadi hanya untuk memuaskan beberapa manusia serakah yang ada.

Desakralisasi adalah inti dari segala persoalan yang dihadapi manusia modern saat ini dalam pandangan Nasr. Hilangnya sakralitas pengetahuan mengantarkan manusia modern pada penggunaan rasio yang berlebih, sehingga menjadi sebuah keniscayaan jika posisi alam berada di garis bawah dominasi rasio. Dominasi seperti ini telah memberi sebuah gambaran tentang ketidakseimbangan antara manusia modern dengan alam sebagai objek yang dianggap memberi tantangan dari pada sesuatu yang dapat diajak untuk bekerja sama.[10]

Keseimbangan antara manusia dan alam yang telah hancur adalah fakta yang diakui oleh banyak orang, tak terkecuali manusia modern. Tetapi Nasr lebih jauh menilai bahwa tidak ada satupun orang yang menyadari ketidakseimbangan tersebut merupakan akibat dari hilangnya keselarasan manusia dengan Tuhan.[11] Hal itu terkait erat dengan persoalan perhatian sebuah pengetahuan, yakni tentang hilangnya orientasi sains modern yang tidak lagi memiliki batas perkembangannya untuk menguasai alam. Itulah mengapa Nasr beranggapan bahwa kita membutuhkan sebuah analisis baru tentang hubungan sains dan alam dan juga perhatian yang lebih terhadap berbagai macam persoalan filosofis dan teologis sebagai kontrol dari perkembangan sains yang berbasis pada rasionalitas.[12]

Pada akhirnya Nasr menyimpulkan bahwa, seluruh persoalan ekologis pada era modern ini bukan hanya tanggung jawab manusia modern (dalam artian orang-orang yang cora pemikirannya condong pada rasionalitas yang lebih unggul), akan tetapi segala persoalan di bumi adalah tanggung jawab bersama seluruh penduduk bumi. Hanya satu hal yang ditekankan oleh Nasr, bahwa manusia butuh untuk mengakui bahwa Alam semesta memiliki aspek yang sakral atau suci. Kosmos berbicara pada manusia melalui seluruh fenomena yang terjadi, dengan demikian segala fenomena tersebut memiliki makna yang berarti bagi manusia.[13]

Scientia Sacra: Pembebas Modernisme

“Dan engkau mengetahui kebenaran, maka kebenaran akan membebaskanmu” (Gospel of John)[14]

Dengan mengutip salah satu pasal dari Gospel John, yang merupakan salah satu kanon dari empat gospel yang ada, Nasr menekankan bahwa kebenaran hanya dapat diperoleh melalui pengetahuan suci, dan pengetahuan suci sendiri akan membawa pada kebebasan dan keselamatan dari semua kungkungan dan penjara, karena Yang Suci itu tidak lain adalah Tak Terbatas dan Abadi, sementara semua kungkungan menurut Nasr adalah hasil dari kelalaian yang mewarnai realitas akhir dan tak dapat direduksi menjadi keadaan yang kosong sama sekali dari kebenaran dengan sendirinya.[15]

Dalam rangka pembebasannya, scientia sacra sendiri bukanlah sebuah penemuan kebebasan, melainkan merupakan pengetahuan yang selalu berusaha menemukan kembali terhadap apa yang telah diketahui tetapi dilupakan, karena Logos yang pada awalnya memiliki prinsip-prinsip pengetahuan dan kekayaan pengetahuan itu berada tersembunyi di dalam jiwa manusia yang ditemukan melalui rekoleksi.[16]

Keterkaitan antara konsep scientia sacra dengan kebebasan dan penyelamatan menurut Nasr adalah karena ia menghubungkan prinsip pengetahuan dengan intelek, tidak hanya dengan nalar, dan melihat pengetahuan suci selaras dengan Realitas, yang sekaligus Wujud dan pengetahuan, tidak dengan proses akumulasi fakta dan konsep melalui waktu dan didasarkan atas pertumbuhan dan perkembangan yang bertahap.[17] Lebih lanjut lagi, Nasr menjelaskan bahwa agar pengetahuan bisa menyelamatkan, maka ia harus direalisasikan oleh semua orang dan mengikut-sertakan semua penegakan mikrokosmos manusia. Intuisi intelektual, meskipun merupakan pemberian yang berharga dari Tuhan, tidak direalisasikan. Kebenaran yang terikat dalam akal, walaupun merupakan kebenaran dan dengan demikian pada nilai yang tertinggi, adalah satu hal dan realisasinya adalah hal lain.[18]

Keterpenjaraan dan ketidakbebasan manusia sendiri menurut Nasr adalah karena nafsunya sendiri, yang biasanya mencegah intelegensi dari fungsunya yang normal menurut sifat primordial manusia, atau apa yang disebut Islam sebagai fitrah.[19] Dengan demikian dapat dipahami bahwa pembebasan oleh scientia sacra yang dimaksudkan oleh Nasr adalah pembebasan dari sebuah kesalahan manusia dalam memilih jalan yang melenceng jauh dari fitrah manusia itu sendiri. Perspektif kebijaksanaan kuno (sapiensial) dalam melihat kesalahan ini tidak hanya dari titik pandang moral yang berhubungan dengan kehendak manusia, tetapi juga dari titik pandang ontologi yang berkaitan dengan wujud dan pengetahuan. Manusia tidak seharusnya membanggakan diri dengan memuja rasionalitas mereka, karena Tuhan memiliki kesempurnaan lebih yang tidak dimiliki manusia.[20]

Titik Temu antara Tradisional dan Modern

Kritisisme melawan dunia modern dan modernisme merupakan sebuah kenyataan faktual yang tidak dapat ditampik kebenarannya. Sebagaimana telah banyak diketahui kemunculan posmodernisme sendiri merupakan suatu kritik atas modernisme. Kemudian apakah tepat bila dikatakan bahwa tradisionalisme dilawankan pula dengan modernisme? Menurut Nasr, perlawanan tradisionalisme terhadap modernisme yang secara total dan sempurna sejauh prinsip-prinsipnya diperhatikan, tidak ditemukan dalam fakta-fakta dan fenomena.[21]

Anggapan yang berkembang selama ini adalah bahwa dunia-dunia tradisional secara esensial adalah baik dan secara aksiden jahat, dan sebaliknya bahwa dunia modern secara esensial jahat dan secara aksiden baik. Dengan anggapan-anggapan seperti itu maka kemudian tradisi dilawankan secara prinsip dengan modernisme. Tradisi dianggap hendak menghancurkan dunia modern, agar tercipta suatu kehidupan yang normal. Tujuannya bukanlah untuk menghancurkan yang positif, tetapi menghilangkan bahwa kejahatan dan pengabaian yang membolehkan ilusi muncul sebagai yang nyata, negatif sebagai positif dan salah sebagai benar.[22]

Bagi Nasr, modernisme bukanlah sebuah sistem yang benar-benar salah. Semangat keilmiahan modern menurut Nasr adalah sesuatu yang positif, akan tetapi perkembangan yang lebih jauh terhadap berbagai aspek modernisme mulai mereduksi realitas, salah satu aspek tersebut yang paling dominan menurut Nasr adalah fenomena sekularisasi. Fenomena tersebut tidak lain  adalah sebuah pemisahan atau bahkan penghilangan akan Yang Kudus dari alam kehidupan dan pengetahuan manusia. Hasil dari proses sekularisasi ini adalah munculnya ilmu-ilmu modern sekular yang ‘berlagak’ mampu menjawab segala kebutuhan hidup manusia modern. Tapi senyatanya kebutuhan tersebut selalu muncul seperti lubang yang tertambal menekan bagian lain yang berpotensi bagi terciptanya lubang baru.[23]

Lubang Realitas: Sebuah Pembacaan dan Pertimbangan

Selalu ada hal yang tak sempurna dalam realitas dunia sebagaimana yang direpresentasikannya. Tentu sesuatu yang ideal selalu hanya berlaku dalam sebuah pemikiran manusia. Dengan demikian sebuah pertimbangan akan pengandaian manusia akan yang dianggap ideal merupakan sebuah keniscayaan tersendiri.

Tak terkecuali Nasr dengan segala konsep dalam pemikirannya tentang pengetahuan, kesucian, tradisi, dan hikmah keabadian tidak lain adalah sesuatu yang benar-benar indah dan sempurna dalam pemikirannya, akan tetapi tidak sebegitunya dalam realitas yang ada. Tentu Nasr memiliki jawaban tersendiri dalam hal ini, yakni bahwa ketidaksempurnaan tersebut tidak lain adalah dikarenakan keterbatasan realitas untuk merepresentasikan sebuah kesempurnaan. Tentu hal ini seharusnya memicu pertanyaan kembali tentang kegunaan konsepsi Nasr tentang segala idee fixe tersebut. Jika realitas dunia sudah dianggap terbatas untuk merepresentasikan kesempurnaan itu, maka di mana konsepsi Nasr dapat terwujud? Seandainya jawaban dari pertanyaan tersebut adalah alam akhirat, maka hal ini bukanlah suatu persoalan filosofis yang dapat diperdebatkan.

Seluruh konsepsi Nasr boleh saja dianggap sangat indah dan sempurna, akan tetapi satu hal lain yang dilupakan oleh Nasr adalah pretensinya untuk menciptakan sebuah dunia yang harmonis dengan mengandaikan seluruh manusia dapat kembali pada sebuah tradisi, dan merealisasikan segala konsep sintesa antara pengetahuan dan kesucian secara bersama-sama, pertanyaannya adalah apakah menjadi mungkin untuk membuat seluruh umat manusia turut serta dalam sebuah tatanan kehidupan yang diandaikan oleh Nasr? Tentu pengalaman tentang segala macam tatanan baik akan kehidupan yang telah ada, sudah memberikan jawaban pada kita.

 

[1] Lih. Nasr, Pengetahuan dan Kesucian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), h. 1

[2] Lih. Nasr, Ibid., h. 1

[3] Lih. Nasr, Ibid., h. 1

[4] Lih. Nasr, Ibid., h. 2

[5] Lih. Nasr, Ibid., h. 3

[6] Lih. Emanuel Wora, Perennialisme: Kritik atas Modernisme dan Posmodernisme, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), h. 68

[7] Lih. Nasr, Man and Nature, (London: Unwin Hyman Limited, 1990), h. 18

[8] Lih. Nasr, Ibid., h. 17

[9] Lih. Nasr, Ibid., h. 18

[10] Lih. Nasr, Ibid., h. 20

[11] Lih. Nasr, Ibid., h. 20

[12] Lih. Nasr, Ibid., h. 20

[13] Lih. Nasr, Ibid., h. 21

[14] Lih. Nasr, Ibid., h. 357

[15] Lih. Nasr, Ibid., h. 357

[16] Lih. Nasr, Ibid., h. 357

[17] Lih. Nasr, Ibid., h. 358

[18] Lih. Nasr, Ibid., h. 359

[19] Lih. Nasr, Ibid., h. 359

[20] Lih. Nasr, Ibid., h. 360

[21] Lih. Nasr, Ibid., h. 95

[22] Lih. Nasr, Ibid., h. 96

[23] Lih. Emanual Wora, Op. Cit, h. 71

On Epistemology: Falsification

0
karl popper

According to Popper, a methodology of science is one of falsification in the sense, rather than doing inductive inference to get a general argument, one needs to state the general (bold) argument first then try to falsify them. By doing this, one can avoid a problem of induction and change the process into a deductive process. And as stated before, the conclusion of inductive inference even tough can be legitimately accepted if one can provide a premise that contains large numbers of data and a regularity of the claim still cannot be justified due to the problem of induction. In other hands, in deductive inference, the conclusion always entails to the premises. If the premises are true, then the conclusion must be true. A conclusion that is obtained by this procedure is said to be a valid argument.

We can use the previous example to get more grip on Popper method of falsification. Remember in the case of inductive inference we have a case where a claim that based on a large number and diverse data about planetary bodies and stars, scientists always find their shape to be round so it must be a likely argument to state that in general all planetary bodies and stars have a round shape. Now, instead start from such premise, we start from the conclusion as the premise.

Premise 1: All planetary bodies and stars have a round shape.

Now, according to Popper in order to justify this premise, one needs to find whether there is a way to falsify it or not. The obvious answer is one needs to find if there exists even one of the planetary bodies or stars that does not have a round shape. Suppose this is the case.

Premise 2: There has been observed by a group astrophysicists that there exists a planetary body in a solar system in certain part of Milky Way galaxy, that based on its physical behavior and data from satellites do not have a round shape.

Premise 2 falsify premise 1, it gives us a valid conclusion: Conclusion: Not all planetary bodies and stars have a round shape.

This conclusion is not just merely likely but must be right, since it entails to the falsification of the bold argument that is given in the premise 1. Like explanation before, the line of thought that has been presented is a deductive inference.

Popper method of falsification is indeed an interesting way to live with the problem of induction that plagues knowledge in science. Especially in my specialty, which is theoretical (particle) physics. Rather than proving the truth of a theory, it is easier to prove its falsehood. Because no matter how many number experiments that have been done to prove one’s theory, the theory will never be assumed to be right. It is due to the infinite number of possibility to come up with different theories that can explain the same results. In general in my opinion, a good theory is the one that can give a prediction that can be tested its falsehood through experiment. If a theory does not have this trait, then that theory cannot be tested hence it is not a good candidate to represent the natural processes.

Baca juga: On Epistemology: Skeptical Hypothesis and Skeptical Arguments

There was a famous case of falsification in Physics made by Einstein when he first released his bold claim that due to the gravity (spacetime curvature) of stars, the trajectory of light will be curved in the vicinity of the stars due to the gravity field of the star. His theory was so complicated to understand but he gave a prediction that can be used to implement Popper’s falsification method. A couple years later, Eddington (British experimental physicist) took action and put Einstein’s theory to a test. He set an experiment to measure the trajectory of light from far away star around the gravitational field of the Sun when the Solar eclipse happened. If the trajectory is curved around the Sun then Einstein’s theory is survived but if it is not, Einstein’s claim and his theory must be false. The result of the experiment proved Einstein’s theory of relativity not yet wrong.

It is widely used in Physics community that to justify a claim of a theory is to find a way to falsify it. And I personally agree with this. Even if we extend Popper falsification method in further to distinguish science and non-science subject, I will be on board with this. Because in my opinion, the purpose of science is to gather knowledge. And we know from the start that knowledge is justified true beliefs. The most important point in identifying beliefs as knowledge, therefore, is a justification method. We can argue and have a discussion in different perspectives and point of views about how to do a justification of beliefs and may not find the right way to do it. But for me, at the end of the day, I will argue that the justification method for science is the one that can clear the doubt (not completely of course) as good as possible and as simple as possible. And this is the Popper falsification method. It gives us a way to deal with the disaster of inductive inference and at the same time gives us a most practical way to actually justify claims in science. Any claim that passes this test will be considered as a knowledge. Any subject that cannot give a clear way to justify mere beliefs and knowledge, is not a science.

Although I personally admit that, falsification has some issues like mentioned by (Pritchard, 105), such as the valid knowledge that we actually know is the one that has been falsified. And the bold argument used as premise remains likely to be true because of the inductive inference, i.e. all the experiments that cannot falsify the shape of planetary bodies and stars to make the argument all planetary bodies and stars have a round shape is likely true. But there is a difference here. While in inductive inference arguments, we generalize the conclusion from representable observations, and in case of the bold arguments that pass the falsification process also seems like inductive inference, I can argue that the later has a strong sense of justification than the previous one. It is because the former doesn’t seem to represent our best inquiry than the later. So, in my opinion any bold argument that has not been falsified (provide there is a way to falsify it) must be considered as our best opinion that we got from “the best ground available for believing what we do” (Pritchard, 184) -which refers to the falsification itself-, hence this is an anti-realist point of view.

In anti-realist point of view, any truth (thus knowledge) is just our best opinion. It is derived from considering weak objectivism that “we believe about the world right now could be false” (Pritchard, 183) but once we got a way to form our best opinion about that false belief, it cannot be false anymore.

The other problem with falsification explained by (Pritchard, 106) is even if we do get a falsification of the bold claim, not immediately everyone will abandon it. In our case, if someone truly finds a planetary body or star that does not have a round shape, we will not immediately abandon our argument that all planetary bodies and stars have a round shape. Instead, we will do more experiments to duplicate the result with different way until it is proven to be true or not. To be honest, I did not see any problem in doing this, since even if falsification does work and we have doubts about it, it does not mean we do not follow it. We just need to do the same to such claim (Not all planetary bodies and stars have a round shape), we have to check it by falsification again. And when we get our best opinion about it, let’s say we agree that it is true not all planetary bodies and stars have a round shape, we have to consider it as a truth (anti-realist) until a new claim appears again.

Science, in my opinion, is like a fluid, changing shape and moving, not a hard-rock stone. If we insist that knowledge (gathered by science) has to be justified true beliefs (in the sense of it cannot be true in one time and be false in other time), then we might not be knowing anything at all. We need to relax our claim, find a best way to look at the world (not too skeptical, strong objectivism, etc.) judge our beliefs in the best way we can, and in the end, whatever remains uneliminated by all the possibilities of our justification method (falsification in science-at least for me), is our best opinion, (the closest thing to) the truth (knowledge).

 

 

Asal-usul Islam dalam Teori Skeptis

0
Asal-usul islam

Sejarah adalah selalu tentang sumber. Sebagian besar kita telah meyakini sepenuhnya bahwa sejarah Islam yang kita pahami selama ini berasal dari sumber yang sangat terpercaya. Akan tetapi, kita lupa bahwa akses sumber sejarah kita tentang asal-usul Islam hanya sampai pada kisaran dua abad setelah wafatnya Muhammad. Jelas itu sangat bermasalah. Di sinilah kemudian teori skeptis tentang asal-usul Islam muncul dalam rangka mempertanyakan kembali sumber-sumber yang digunakan dalam narasi Islam tradisional.

Pada tahun 1977, Patricia Crone dan Micahel A. Cook telah mengawali perdebatan serius perihal teori kemunculan Islam melalui buku Hagarism: The Making of the Islamic World. Dalam buku tersebut, Crone dan Cook mengatakan bahwa Islam sebenarnya lahir dari tradisi mesianik Yahudi dalam rangka penaklukan Palestina (Crone dan Cook, 1977: 6). Inilah mengapa kemudian Crone dan Cook menyandingkan kisah kenabian Muhammad dengan Musa yang membawa pengikutnya keluar dari Mesir menuju tanah yang dijanjikan (Crone dan Cook, 1977: 8). Dengan demikian kisah tentang hijrah yang diriwayatkan oleh sumber-sumber tradisional dari Mekah ke Madinah pada tahun 622 M, sebenarnya adalah perpindahan dari Arab menuju tanah yang dijanjikan seperti halnya kisah eksodus Musa, yakni menuju Palestina (Crone dan Cook, 1977: 9).

Pada masa perpindahan tersebut, menurut Crone dan Cook, Islam masih merupakan gerakan keagamaan monoteistik yang ajaran-ajarannya tidak lain merupakan ajaran-ajaran agama Yahudi dengan nama Hagarism/Hajarisme yang dinisbatkan pada nama Hagar/Hajar sebagai istri Ibrahim yang membu- ahkan putra Ismail, yang kemudian diyakini sebagai rantai silsilah bangsa Arab untuk sampai pada Ibrahim. Dalam penguatan argumentasi, Crone menyandingkan beberapa istilah untuk dipahami secara genealogis sebagai bukti keterkaitan antara Magaritai, Mahgre, Mahgraye, Hagar, hijra, muhâjirûn (Crone dan Cook, 1977: 9). Setelah perpindahan ke Palestina inilah, menurut Crone dan Cook, Islam baru mulai terbentuk semenjak memutuskan tali keterkaitan dengan tradisi mesianik Yahudi, dan memilih untuk membangun komunitas sendiri (Crone dan Cook, 1977: 10).

Tentu sudah ada banyak sarjana, termasuk di antaranya para revisionis sendiri, yang mengkritik teori Crone dan Cook tersebut. Sebagian juga menolak mentah-mentah apa yang dikemukakan oleh Crone dan Cook tentang kemunculan Islam, dan menganggap teori tersebut tidak lebih merupakan akrobat intelektual. Demikian pula, John Wansbrough, sebagai dosen Crone sendiri, juga mengkritik bahwa penggunaan sumber-sumber berbahasa Suryani yang ditulis oleh non Muslim adalah tidak reliabel (Sirry, 2015: 91-93).

Dalam perdebatan teori tersebut, ada yang menarik dari posisi yang ditawarkan oleh Mun’im Sirry dalam menyikapi temuan Crone dan Cook. Mun’im Sirry secara saksama, beranggapan bahwa kesimpulan Crone dan Cook merupakan konsekuensi logis dari pendekatan yang digunakan. Dalam pengantar, Crone dan Cook sebenarnya juga telah mengatakan bahwa apa yang dikemukakan dalam buku Hagarism tersebut tidak lebih merupakan sudut pandang baru yang mengandaikan pertanyaan, “bagaimana seandainya Islam dipandang dari literatur-literatur di luar tradisi Islam sendiri?” (Crone dan Cook, 1977: vii). Dalam pengandaian inilah, Crone dan Cook menafikan seluruh sumber-sumber Muslim kemudian mengantarkan pada kesimpulan teoritis semacam itu (Sirry, 2015: 92).

Pendekatan lain yang tidak kalah radikal dari Crone dan Cook juga dilakukan oleh Nevo yang berusaha untuk merekonstruksi sejarah Islam dengan hanya menggunakan data-data arkeologis. Sebelum proyek besar tersebut selesai, Nevo meninggal terlebih dahulu pada tahun 1992, dan proyek tersebut kemudian dilanjutkan oleh Judith Koren. Inti dari teori Nevo dan Koren adalah pada penaklukan Islam yang dikenal dalam narasi tradisional sebagai penaklukan atas Byzantium, menurut Nevo dan Koren, Byzantium sebenarnya telah terlebih dahulu meninggalkan wilayah kekuasaannya di bagian timur, termasuk Suriah, sebelum orang-orang Arab datang. Nevo dan Koren berpendapat bahwa tidak ada indikasi apapun yang menunjukkan bahwa orang-orang Arab yang datang tersebut memiliki agama yang berbeda dengan penduduk Suriah. Dari tulisan prasasti yang ditemukan di Negev, orang-orang Arab merupakan penganut pagan, bukan Muslim. Selanjutnya, Nevo dan Koren mengatakan bahwa justru di Suriah lah orang-orang Arab mengenal tradisi monoteisme dari agama Kristen dan Yahudi (Sirry, 2015: 95).

Dalam hal penyatuan bangsa-bangsa Arab, Nevo dan Koren beranggap- an bahwa bukan Muhammad yang melakukan itu, melainkan Muawiyah yang berhasil mengonsolidasikan kekuatan Arab di bawah kepemimpinannya, meskipun tidak ada indikasi yang menunjukkan bahwa Islam saat itu sudah muncul sebagai identitas keagamaan. Baru pada masa kepemimpinan Abd al-Malik ibn Marwan (687-705 M), nama Muhammad muncul sebagai sebagai sifat dari Na- bi (yang terpuji) yang diimpikan, bukan sebagai nama orang (proper name). Dengan demikian Muhammad dalam teori Nevo dan Koren tidak lebih merupakan figur fiktif (Sirry, 2015: 95). Pertanyaan besar yang diajukan oleh para pengkritik Nevo dan Koren adalah bagaimana mungkin kekaisaran Byzantium meninggalkan daerah kekuasaannya begitu saja? Penjelasan tentang alasan ter- sebut, memang luput dari narasi yang diberikan oleh Nevo dan Koren.

Teori selanjutnya datang dari kalangan sarjana Jerman yang membentuk lembaga bernama Inarah: Institut zur Erforschung der frühen Islamgeschichte und der Koran (Inarah: Lembaga Riset Sejarah Islam Awal dan al-Qur’an), yang kemudian untuk mempermudah, disebut Mun’im Sirry dengan mazhab Inarah (Sirry, 2015: 94). Sebagian besar perdebatan Islam awal dalam mazhab ini terangkum dalam buku yang berjudul Die dunklen Anfänge: Neue Forschungen Zur Entstehung un Frühen Geschichte Des Islam (2005) yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi The Hidden Origins of Islam: New Research into Its Early Hisroty (2010) (Sirry, 2015: 98).

Baca juga: Asal-usul Islam: Sejarah dan Kebenaran

Dalam buku yang sebenarnya merupakan kumpulan tulisan tersebut, menurut Mun’im Sirry (2015: 99), argumen utama yang digunakan adalah perihal tidak adanya konfirmasi dari sumber-sumber di luar tradisi Islam, terutama yang ditulis para penulis Kristen dalam bahasa Suryani, bahwa ada agama yang dibawa oleh orang-orang Arab sebelum awal abad kesembilan. Secara singkat, dikatakan oleh Mun’im Sirry (2015: 98), teori kemunculan Islam dalam mazhab Inarah lebih merujuk pada bentuk Kristen tertentu di Suriah sebagai cikal-bakal terbentuknya Islam. Kelompok Kristen tersebut dapat dilacak jauh ke sejarah awal perdebatan doktrin Kristen tentang Trinitas yang dirumuskan pada Konsili Pertama di Necea pada 325 M. Menurut mazhab Inarah sebagaimana dijelaskan kembali oleh Mun’im Sirry (2015: 98-99), orang-orang yang tidak sependapat dengan doktrin Trinitas tersebut secara bertahap memisahkan diri dari Gereja Bizantium, dan membentuk komunitas sendiri sebagai kelompok Kristen Arab yang berlawanan dengan paham resmi Gereja.

Selanjutnya, mengenai temuan koin Arab di bagian timur Mesopotamia yang berasal dari tahun 660 M dengan huruf m-h-m-d (dapat dibaca Muhammad), mazhab Inarah berasumsi bahwa kata tersebut bukanlah merujuk pada figur manusia, melainkan mengarah pada sifat Yesus ’yang terpuji’ (arti dari nama Muhammad). Asumsi yang demikian tidak lebih didasarkan pada gambar salib yang juga terdapat dalam koin yang ditemukan tersebut, sehingga mengartikan bahwa kata Muhammad merupakan kata yang merujuk pada keyakinan Kristen. Lebih dari itu, kalimat ’Muhammad Rasulullah’ yang terdapat dalam prasasti kubah Shakhrah di Yerusalem dapat dipahami sebagai bentuk keyakinan Kristen non-Trinitarian, dengan mengartikan kalimat tersebut menjadi ’Utusan Allah (Yesus) yang sangat terpuji’ (Sirry, 2015: 99).

syria-686-87
A coin from Syria 686-87 (from “Did Muhammad Exist?” by Robert Spencer). https://thehistoryofbyzantium.com/2014/12/04/sale-episode-on-the-origins-of-islam/

Perdebatan tentang nama Muhammad juga terjadi dalam penerjemahan dari Song of Solomon 5:16: “Hikko Mamtakkim Dhekhullo Muhammadim, Zeedodi Vezer’i Benoq Yerussalam” (Mulutnya adalah kelembutan itu sendiri; ia adalah [muhammad/yang terpuji]. Dia adalah kekasihku, dia adalah temanku hai putri Yerusalem). Orang-orang Islam dengan teguh menafsirkan kata muhammad di situ sebagai nama (person), sementara orang-orang Nasrani menerjemahkan muhammad sebagai ‘yang terpuji’. Terlepas dari ketepatan penerjemahan kata m-h-m-d dalam Lagu Solomon tersebut, jelas bahwa sangat lemah untuk mengatakan bahwa Injil sudah meramalkan kedatangan Muhammad hanya berdasarkan satu baris lagu saja. Toh, senyatanya lagu-lagu tersebut bukanlah firman Tuhan, melainkan pujian-pujian yang ditulis oleh Solomon untuk memuji ‘cintanya’, besar kemungkinan kata ganti Dia (His) dalam lagu tersebut merujuk pada Tuhan, bukan pada manusia, apalagi manusia bernama Muhammad, yang belum lahir pada masa penulisan lagu tersebut.

Dengan demikian, dapat disimpulkan dari teori mazhab Inarah bahwa Islam pada mulanya adalah kelompok Kristen anti-Trinitas (yang menolak Yesus sebagai anak Tuhan) yang keluar dari doktrin resmi Gereja, dan Muhammad tidak lebih merupakan predikat bagi Yesus yang kemudian secara bertahap berubah menjadi figur manusia dengan biografi yang cukup lengkap.

Referensi

Crone, Patricia dan Michael A. Cook. Hagarism: The Making of the Islamic World. New York: Cambridge University Press, 1977.

Sirry, Mun’im. Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis. Bandung: Mizan, 2015.

On Epistemology: Skeptical Hypothesis and Skeptical Arguments

0
skepticism

A skeptical hypothesis is centered around an assumption that we will never know anything that we experience whether it is a truth or falsehood since there is always a possibility that everything we experience, encounter and believe it turned out to be a deception. This deception is manufactured so that one experiences of the world would be as genuine as if one had not been deceived.

The problem with a skeptical hypothesis is “we seem unable to know they are false” (Pritchard, 170)[1]. This raises an alarm since we will never know how to differentiate our real experience with the world and with the illusory one. Furthermore, a skeptical hypothesis is used in the construction of the skeptical argument. Sceptical hypothesis plays a role as a premise that entails the validity of the conclusion. And because of the contradictory nature of the skeptical hypothesis, the skeptical argument thus becomes a paradox. To understand it better, one can give an example. One of the famous examples about skepticism is brain-in-a-vat argument.

Imagine the possibility that at this very moment you are actually a brain hooked up to a sophisticated computer program that can perfectly simulate experiences of the outside world. Here is the skeptical argument. If you cannot now be sure that you are not a brain in a vat, then you cannot rule out the possibility that all of your beliefs about the external world are false. Or, to put it in terms of knowledge claims, we can construct the following skeptical argument. Let “P” stand for any belief or claim about the external world, say, that snow is white.

§ If I know that P, then I know that I am not a brain in a vat

§ I do not know that I am not a brain in a vat

§ Thus, I do not know that P.

The Brain in a Vat Argument is usually taken to be a modern version of René Descartes’ argument (in the Meditations on First Philosophy) that centers on the possibility of an evil demon who systematically deceives us. The hypothesis has been the premise behind the movie The Matrix, in which the entire human race has been placed into giant vats and fed a virtual reality at the hands of malignant artificial intelligence (our own creations, of course). [2]

Another more sophisticated example is given below.

Physics is one of a most relevant subject to describe nature. the triumphant of physics cannot be separated with the use of mathematics as the fundamental tools in developing and explaining physics. It is widely used that no one cannot deny the importance of Mathematics in Physics. Both have a mutual relationship that cannot be separated. More sophisticated development in Physics can only happen if Mathematics develops into a new area/new realm and development in Mathematics can happen if new Physics is discovered through experiment and observation. All basics technologies nowadays once at one time just a series of logical argument using mathematics formula in hand of physicists.

Now, if all events in nature can be explained through Physics and Mathematics by extension, how can we be sure that Mathematics/Physics (that we have) is true (globally/objectively)?

To answer this question, we need to go deep in the heart of Mathematics. Modern Mathematics is built by series of postulates, theorems, and axioms. Whereas we know the object of mathematics such as numbers, sets, maps and all the operations don’t exist physically in the material world. They are built by series of arguments that inherently consistent with the law of logic. Loosely speaking, Mathematics is built on basic agreements/assumptions/postulates that can be added or subtracted and believed to be true (without doing this, Mathematics cannot be explained). Mathematics would be totally different if we start from the different set of postulates and will also impact the Physics that we believe in, while nature always has been, and will be in their state. The apple will always fall to the ground (on Earth) regardless the law of gravity is true or not.

Baca juga: On Epistemology: The Problem of Induction

The problem arises when we realize that there is no way to verify that our description of nature through the current Physics supported by Mathematics is a justified true belief or not. Let me illustrate. The only known method by Physicist to justify their beliefs is through a method called an experiment. But since the experiment itself based its fundamental principles in measurement that is built by using Mathematics and must obey set of rules that are called the law of Physics, implies that the tool of justification itself will be a-kind-a-circular reasoning and would be vastly different if we had different sets of basic postulates in Mathematics.

One can think: if Physics and its experiments can change when “Mathematics changes” while the world we experience always the same, then is our explanation of nature in Physics true or not?

This becomes a skeptical hypothesis. Because whatever explanation we come up in Physics about how Nature behaves, we can always come up with entirely different Physics to explain it and verify it through experiment (because the nature of the experiment is artificially built through that Physics and Mathematics). Physicists can never be sure that mathematical/physical description of laws of nature is true or false.

Now we can apply the skeptical argument:

Premise 1: Physicists are unable to know the denials that Physics (that they have) is not the true representation of nature. (by true we mean one and only way of representing natural processes in mathematical language and formulation)

Premise 2: If Physicists are unable to know the denials that Physics that they have is not the true representation of nature then they are unable to know anything about nature at all

Conclusion: Physicists are unable to know anything about nature at all.

If one wonders what the sceptical arguments in general are made, one can refer to (Pritchard, 170).

This line of thought using the very logic that entails the notation of knowledge itself giving the sceptical conclusion shows the paradox properties of sceptical argument. And paradox is largely produced by sceptical hypothesis as its premise.

Furthermore, the strong claim of premise 2 is the characteristic of so called radical sceptical arguments. To feel its “radical sense” one can apply the closure principle.

Closure Principle: If Physicists know nature behaves as their formulation of Physics and is verified by experiment, then their formulation of Physics must be right. If their formulation is right, then it cannot be false.

But because of the Physicists cannot rule out the possibility of their physics is not the only physics and experiments are loosely based on their interest by manipulating mathematics, they are unable to claim that nature behaves like their physics, hence they are unable to know anything about nature at all. This is the conclusion above, again.

Referensi

[1] Pritchard, D. (2014). What is this thing called knowledge?. 3rd ed. Oxon: Routledge, p.23, p.55, pp. 105-106, p.170, pp.183-184

[2] http://www.iep.utm.edu/brainvat/ (partially taken)

Asal-usul Islam: Sejarah dan Kebenaran

0
islam2

<< Baca artikel sebelumnya

Musuh terbesar filsafat adalah sejarah, sejauh dipahami sebagai sains tentang ’yang ada’ dan ’yang telah ada’ (Al-Fayyadl, 2016: 23). Sejarah berpotensi memberhalakan realitas yang kemudian dapat memberi legitimasi terhadap segala bentuk tindakan apapun. Itulah mengapa kemudian muncul sebuah adagium yang cukup populer dari dunia kepenulisan sejarah yang kurang lebih dinyatakan demikian, “history has been written by the victors”, yang artinya “sejarah telah dan selalu ditulis oleh para pemenang”. Melalui asumsi sejarah yang demikian, maka filsafat sejauh dimengerti sebagai suatu bentuk keraguan metodis (skeptical method) dalam artian filsafat Cartesian, harus selalu diposisikan dalam kerangka kecurigaan besar terhadap bentuk sejarah apapun yang dihadirkan oleh suatu subjek, entah itu individu, komunal, ataupun institusional.

Pada peralihan abad 20 dan 21, persoalan tersebut nampaknya hadir dalam perdebatan sejarah Islam awal yang diperbincangkan secara serius oleh para pemikir Islam maupun orientalis barat yang memiliki perhatian (concern) lebih pada ihwal Islam. Setidaknya ada dua alasan utama tentang mengapa kemudian sejarah Islam awal tersebut menjadi wacana yang sangat penting untuk didiskusikan kembali dalam porsi yang cukup besar. Pertama, sebagaimana diungkapkan oleh Mun’im Sirry (2015: 11) bahwa umumnya periode Islam awal selalu diidealkan sebagai generasi terbaik (khayr qurun) yang sering juga disebut dengan salaf as sholih, meskipun masih banyak yang berbeda pendapat tentang siapa atau sampai batas mana periode itu dapat dikatakan sebagai salaf as sholih, sebagian besar umat Islam bersepakat bahwa kehidupan pada periode tersebut merupakan standar ideal kehidupan Islam.

Tidak dapat dipungkiri memang, bahwa Islam sejauh dipahami sebagai jalan hidup (ad dîn) haruslah memiliki suatu standar nilai yang dapat dijadikan ukuran kehidupan yang lebih baik, sehingga penghadiran sejarah semacam itu dibutuhkan sebagai bentuk legitimasi atas nilai yang diyakini tersebut. Persoalannya, sudah benarkah pancang nilai yang dibentangkan tersebut? Dalam hal tiga generasi awal yang selalu dijadikan tolak ukur nilai hidup yang ideal sendiri, sampai saat ini masih menuai perdebatan panjang tentang kebenaran sejarahnya yang banyak dinilai memiliki kesan seperti dongeng tentang kota tuhan (civitas dei) yang pernah hadir di masa lalu (Wahid, 1981: 11). sehingga dari kesan tersebut, yang diperoleh dari pembacaan sejarah tentang Islam awal hanyalah semacam mitos, yang sebagian besar akan banyak ditemukan di beberapa periwayatan sejarah Muslim tradisional. Salah satu misalnya adalah seperti apa yang diriwayatkan oleh Ibn Ishaq bahwa:

Saat mengandung Rasulullah Shalallahu ’alaihi wa Sallam, ia (Aminah) melihat cahaya keluar dari perutnya yang dengannya dia bisa melihat istana-istana Bushra di wilayah Syam (Ishaq, 2012: 97).

Tentu riwayat tersebut hanyalah salah satu dari sekian banyak riwayat yang menjadi kerangka acuan penulisan sejarah Islam, yang kemudian mengartikan bahwa untuk menerima kebenaran sejarah semacam itu, hanya dibutuhkan satu faktor yang tidak lain adalah iman bahwa kejadian seperti itu memang bisa saja terjadi kepada orang-orang suci seperti Muhammad. Inilah yang kemudian mengantarkan beberapa sarjana modern seperti Goldziher, Schacht dan Wansbrough menganggap bahwa sumber-sumber muslim yang selama ini menjadi satu-satunya sumber sejarah terbentuknya Islam, sangatlah bermasalah (Donner, 1998: 10).

Asumsi yang demikian setidaknya kemudian menjadi dasar alasan kedua mengapa wacana Islam awal cukup penting diperbincangkan kembali. Alasan tersebut adalah terkait dengan minimnya catatan sejarah Islam awal yang benar- benar ditulis sebagaimana apa yang terjadi, melainkan lebih mengarah pada penulisan sesuatu yang diinginkan untuk terjadi, sehingga menurut Mun’im Sirry (2015: 19) potret Islam yang ditulis tersebut sebenarnya lebih merefleksikan apa yang terjadi pada masa penulisan kitab-kitab sejarah muslim, daripada apa yang sesungguhnya terjadi di masa yang hendak diceritakan. Dengan demikian, asumsinya adalah bahwa sangatlah mungkin suatu periwayatan sejarah tentang Islam awal selalu diwarnai kepentingan-kepentingan tertentu.

Dari dua kerangka alasan tersebut, menjadi sangat wajar jika kemudian muncul pelbagai pertanyaan skeptis tentang kebenaran Islam yang diimani banyak umat muslim saat ini. Kecurigaan terbesar perihal ini adalah tentang pertanyaan apakah Islam yang ada saat ini benar-benar merupakan agama yang dibawa Muhammad? Asumsinya, jika pembacaan sejarah tentang Islam hanya dapat diperoleh dari riwayat-riwayat yang muncul jauh setelah Muhammad wafat, maka ada suatu kemungkinan bahwa Islam boleh jadi muncul pada saat-saat penulisan riwayat-riwayat tersebut. Karena sebagaimana diungkapkan oleh Armstrong (2012: 223), Muhammad tidak pernah berniat membangun sebuah agama baru yang universal, melainkan keyakinan kuno yang mengajarkan tentang keesaan Tuhan kepada kaum Quraisy. Armstrong bahkan dengan tegas menyatakan bahwa pada awalnya, Muhammad tidak pernah berpikir harus berdakwah kepada suku-suku Arab selain penduduk Makkah dan sekitarnya, apalagi untuk menjadikan ajarannya sebagai agama seluruh umat manusia. Dengan demikian, pertanyaannya adalah apa yang sebenarnya disebut dengan Islam yang hadir sampai saat ini?

Islam sejauh dipahami sebagai suatu doktrin keagamaan, menurut Othman (1981: 2) dan sebagaimana pula disepakati oleh banyak kesarjanaan Islam tradisional lainnya merupakan agama yang telah diajarkan sejak kenabian Ibrahim. Pengertian ini tidak lebih didasarkan pada pernyataan al-Qur’an (78: 22) bahwa manusia pertama yang dinyatakan sebagai ‘Muslim’ adalah Ibrahim. Artinya dengan demikian, agama Yahudi ataupun Nasrani sejauh dipahami sebagai agama Ibrahim (Abrahamic Religion), keduanya sebenarnya adalah Islam. Akan tetapi dalam pengertian lain yang dituturkan Donner (2010: 195) dalam bukunya Muhammad and the Believers: At the Origins of Islam, Islam tidak lebih dari gerakan suatu komunitas yang dipimpin oleh Muhammad, yakni gerakan Umat Beriman (Believers movement) yang meyakini keesaan Tuhan dan percaya dengan adanya hari akhir. Sedangkan menurut Donner, apa yang disebut Islam saat ini baru mulai terbentuk semenjak kekuasaan Dinasti Umayyah, yang artinya dengan demikian Islam yang ada saat ini baru terbentuk beberapa abad setelah kematian Muhammad.

Jelas bahwa apa yang dinyatakan oleh Othman merupakan pengertian yang dibangun dalam kerangka teologis, dan persoalannya adalah apakah Islam yang ada saat ini dapat dipahami hanya dalam kerangka demikian? Sedangkan, sebagian besar umat Islam sepakat bahwa Islam adalah agama yang sama sekali berbeda dengan agama Ibrahim (ahl al Kitab) sebelum-sebelumnya, karena jika memang sama, dengan demikian seorang Muslim diperbolehkan untuk berpindah-pindah agama selama masih dalam tiga agama Ibrahim tersebut. Celakanya tidak sesederhana itu, karena argumentasi yang sering muncul perihal mengapa seorang muslim tidak diperkenankan berpindah agama meskipun masih dalam rumpun Abrahamic religions adalah karena Kristen atau Yahudi yang ada saat ini telah diselewengkan oleh umat-umat terdahulu, sehingga ajaran-ajarannya pun sama sekali lain dengan apa yang diajarkan oleh Nabi pembawanya.

Perihal ketepatan pengertian dalam argumen semacam itu jelas bergantung pada kebenaran sejarah apakah memang benar penyelewengan itu terjadi, apakah Islam benar-benar merupakan penyempurna agama Ibrahim atau boleh jadi apa yang diajarkan oleh Muhammad tidak lain adalah agama Kristen dan Yahudi dalam versi berbeda, dan pertanyaan terbesarnya adalah jika agama-agama sebelumnya diasumsikan terdapat suatu penyelewengan sepeninggal para nabinya, apakah ada suatu jaminan bahwa penyelewengan tersebut tidak mungkin terjadi dalam ajaran yang dibawa Muhammad? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini pun sah untuk diajukan, karena sebagaimana telaah sejarah yang dilakukan oleh Donner, atau juga yang sebelumnya telah dilakukan Crone dan Michael Cook dalam buku Hagarism: The Making of the Islamic World, dari telaah yang berbeda dalam hal penggunaan tipologi pendekatan maupun kesimpulam akhir tersebut sama-sama sepakat bahwa Muhammad tidak pernah benar-benar membawakan agama bernama Islam yang dipahami sampai saat ini. Jika temuan tersebut diasumsikan benar, lantas persoalan besarnya kemudian adalah dari mana asal-usul Islam yang ada sampai saat ini?

Pertanyaan inilah yang kemudian mengantar historiografi Islam kepada perbincangan panjang tentang Islam awal yang banyak mempertanyakan keabsahan bentuk historiografi tradisional. Pertanyaan itupun dalam pembacaan Mun’im Sirry (2015: 56) kemudian melahirkan dua bentuk pemahaman historiografi Islam; tradisional dan modern (revisionis), yang dari kedua pemahaman itupun masing-masing memiliki klaim kebenaran sejarahnya sendiri. Sehingga pertanyaannya kemudian adalah mana yang lebih benar? Dan apa yang dapat menjamin kebenaran tersebut?

Bersambung…

Referensi

Al-Fayyadl, Muhammad. Filsafat Negasi. Yogyakarta: Aurora, 2016.

Armstrong, Karen. Sejarah Tuhan: Kisah 4000 Tahun Pencarian Tuhan dalam Agama-agama Manusia. Bandung: Mizan, 2012.

Crone, Patricia dan Michael A. Cook. Hagarism: The Making of the Islamic World. New York: Cambridge University Press, 1977.

Donner, Fred M. Muhammad and the Believers: At the Origins of Islam. London: The Belknap Press of Harvard University Press, 2010.

_____________. Narratives of Islamic Origins: The Beginnings of Islamic Historical Writing. New Jersey: The Darwin Press, 1998.

Ishaq, Ibn. Sirah Nabawiyah: Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah. Terjemahan H. Samson Rahman. Jakarta: Akbar Media, 2012.

Othman, Ali Isa. Manusia Menurut Al-Ghazali. Bandung: PUSTAKA, 1981.

Sirry, Mun’im. Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis. Bandung: Mizan, 2015.

Wahid, Abdurrahman. Muslim di Tengah Pergumulan. Jakarta: LEPPENAS, 1981.

On Epistemology: The Problem of Induction

0
induction

The problem of induction arises due to the circular reasoning that we derive when we deal with inductive inference. The notion of circularity in this statement refers to further proof the legitimacy of the inductive inference can only be gained by (another) induction. This leaves a conclusion that there is no existence of non-circular justification of induction. Hence, further plague all knowledges that obtain by induction.

One can argue why need justification for induction method in the first place. This due to nature of induction process itself, which is generalisation. The inductive inference cannot guarantee the validity of conclusion because it is achieved by generalising its premise. So, in order to justify inductive inference, one must justify the nature of generalisation which in turned can only be made sense by induction again, hence a circular process. To further cemented the understanding of the problem, one can provide an example like below:

Premise 1: every planetary bodies and stars that have been observed has a round shape (spherical symmetry)

Conclusion: all planetary bodies and stars have a round shape.

This argument clearly is an inductive inference, since the conclusion is the generalisation of its premise. If we further investigate this argument, we have an impression that even if the premise is true, the conclusion cannot be said to be true. Or in other words, the validity of the premise doesn’t entail the validity of its conclusion. Because if there exists even one planetary body or star that does not have a round shape, the conclusion is false hence not giving any knowledge.

Nevertheless, we still confidence about the conclusion because given the fact that we had observed for a long time, using astronomical apparatus such as telescope and satellite since Galilean time that indeed every planetary body and star does have a round shape. From the huge range number of data and satellite photos using the most advanced technologies in the twenty first century also confirms this premise. Maybe in reading the premise, we need to put it like this:

Premise 1*: From large amount of observational data, satellite imaging and other sophisticated apparatus that are designed to investigate the shape of planetary bodies and stars since long time proves that indeed all the observed planetary bodies and stars have a round shape.

Therefore

Conclusion: All planetary bodies and stars have a round shape.

Everything looks fine until this spot, but there is one problem left that we need to tackle: “what gives us the justification to believe we can generalise the premise to the conclusion?” Because if we examine it closely, the premise has a certain dependency on actual condition which is the round shape of planetary bodies and stars depends on whether they have been observed or not and on whether there is no mistake on all the samples that have been observed. Meanwhile, the conclusion seems to have an independent claim that all planetary bodies and stars since past time and future in any circumstances have been and will always be round.

One might think a way to justify inductive inference is by adding a premise that can become a bridge to justify the gap of the premise and the (generalised) conclusion. One of the possibilities is shown below:

Premise 2: A pattern of observing the round shape of planetary bodies and stars has been established from all previous observations involving large number of samples thus the possibility of this pattern to be repeated is justifiable and therefore it is likely to be applied in general.

By adding premise 2 above, it seems there is no problem inferring the conclusion from premise 1* since the issue is fixed in the premise 2. However, if we look closely at premise 2, one can ask “in what ground we can support our claim of premise 2?”. The only way to link between a pattern of observed-round-shape of planetary bodies and stars with the general claim of conclusion is by repeating the same claim: it is representable since it has been proved and applicable to large amount of data thus can be applied in general.

This is just repeating another inductive inference for an inductive argument or like in the earlier explanation, it is a circular reasoning (problem of induction). This method is (at least according to Hume) cannot be accepted hence there is no justification for induction way of acquiring knowledge.

Asal-usul Islam: Sebuah Persoalan Awal

0
Islam

Kerinduan akan kampung halaman memang begitu amat niscaya. Terlepas dari persoalan politis di belakangnya, gerakan khilafah Islamiyah merupakan bentuk kegelisahan. Ada semacam kerinduan nostalgie dalam diri orang-orang yang merasa dilahirkan menjadi seorang muslim untuk ingin kembali ke masa-masa Islam dilahirkan. Banyak dari mereka menganggap bahwa dunia Islam dahulu amatlah damai, tentram, dan berjaya, atau singkat kata civitas dei. Persoalannya, kerinduan semacam ini bukanlah harga yang murah untuk dibayar. Gerakan untuk mendirikan negara Islam ‘kembali’ (artinya dahulu diasumsikan memang pernah ada negara Islam ) mengandaikan dua persoalan penting: Pertama, pijakan historis tentang idealitas masa lalu, yakni kebenaran asumsi historis kita tentang asal-usul Islam; kedua, kerangka perwujudan yang realistis, yakni tentang upaya-upaya yang diperlukan untuk mewujudkan hal itu sangatlah berisiko besar, jika bukan malah memicu perang terbesar yang pernah ada.

Dalam buku Discovering Islam: Making Sense of Muslim History and Society, Akbar S. Ahmed (2002: 1) menggambarkan bagaimana pandangan dunia terhadap Islam selalu mengarah pada brutalitas, fanatisme, kebencian dan kekacauan. Seperti orang-orang Palestina yang membajak penumpang pesawat Uganda (1976), orang-orang Iran yang merampas kedutaan asing (1980), orang Libya yang membunuh polisi wanita di London (1984), orang-orang Indonesia yang meledakkan candi Borobudur (1985), seluruh rentetan sejarah tersebut telah memberikan gambaran suram dari wajah dunia Islam yang selalu diidentikkan dengan separatisme, anarkisme dan terorisme.

Seperti halnya kemudian Hughes (2013: 2), dalam buku Muslim Identities: an Introduction to Islam, menjelaskan bagaimana peristiwa 11 September 2001 telah mengawali diskusi panjang di dunia Barat perihal apakah Islam mengajarkan terorisme? Hughes juga menambahkan bahwa peristiwa yang terjadi di World Trade Center (WTC) dan Pentagon beberapa tahun silam, telah memanggil banyak dari kalangan sarjana Islam untuk kembali mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya disebut dengan Islam, apakah jihad sama artinya dengan terorisme, apakah Islam adalah agama yang tidak memiliki toleransi? Terlepas dari banyaknya teori konspirasi yang berkembang atas segala persoalan yang terjadi antara dunia Barat dan dunia Islam, satu-satunya jalan untuk memperoleh konfirmasi atas segala tuduhan, stereotipe, ataupun prasangka-prasangka yang terburu-buru perihal Islam adalah dengan kembali lagi melihat realitas keberagamaan umat Islam itu sendiri.

Senyatanya, untuk melihat realitas keberagamaan umat Islam bukanlah sesuatu yang mudah. Usaha untuk mendapatkan penjelasan atas ’apa yang sebenarnya disebut Islam?’ akan selalu terbentur pada kemungkinan reduksionistik atas Islam itu sendiri. Demikian pula upaya atas konstruksi bahwa Islam adalah ’seperti ini’ seketika akan terbantahkan ketika ternyata ada Islam yang ’seperti itu’, yang dari masing-masing ’ini’ dan ’itu’ tentu sama-sama mendaku diri sebagai Islam. Dalam pemahaman semacam inilah kebutuhan akan penjelasan seperti apa Islam awal itu menjadi demikian penting, yakni tentang “seperti apakah sebenarnya Islam yang paling autentik?”.

Dalam buku Original Islam: Malik and the Madhhab of Madina, Dutton (2007: 1) menjelaskan bahwa untuk memahami Islam, persoalan awal yang cukup penting untuk dimengerti adalah bahwa ada dua pengertian tentang Islam yang dari masing-masing pengertian tersebut memiliki konsekuensi berbeda atas pemahaman tentang Islam secara menyeluruh. Pengertian pertama disebut dengan Islam asli (original Islam), yakni Islam yang didirikan oleh Muhammad dan diajarkan kepada para pengikutnya berdasarkan al-Qur’an sebagai wahyu yang diberikan oleh Tuhan kepada Muhammad. Kedua, Islam utama (primal Islam), yakni Islam yang diajarkan oleh Ibrahim dan nabi-nabi sebelumnya sebagai satu-satunya agama dari Tuhan. Dari dua pengertian yang diberikan oleh Dutton tersebut, Geaves dalam buku Islam Today (2010) kemudian membuat dua kerangka pemahaman atas asal-usul Islam yang jelas berbeda satu sama lain, yakni asal-usul mitos (myths of origin) dan asal-usul historis (historical origin).

Asal-usul mitos (myths of origin), sebagaimana dijelaskan oleh Geaves (2010: 2), merupakan asal-usul yang dimaksudkan sebagai penjelas dari pengertian Islam utama (primal Islam), yakni asal-usul dalam bentuk kosmogoni dan teogoni yang digambarkan berdasarkan apa yang disampaikan oleh al-Qur’an tentang Islam sebagai agama satu-satunya yang diturunkan oleh Tuhan sejak manusia diciptakan. Dalam pengertian semacam ini, maka Islam lebih dipahami sebagai tradisi perennis yang diajarkan oleh Tuhan kepada manusia melalui rantai kenabian yang kemudian berkembang menjadi bermacam-macam nama agama, dengan beberapa kategori-kategori penyelewengan oleh manusia terhadap Islam yang sebenarnya.

Dalam hal inilah kemudian Islam dalam pengertian yang asli (Islam original) muncul melalui kenabian Muhammad, yang kemudian menjadi titik berangkat pemahaman asal-usul historis (historical origin), yakni asal-usul Islam yang digambarkan dengan latar kondisi jazirah Arab dengan tradisi pagan yang kuat saat kelahiran Muhammad. Hingga akhirnya Muhammad datang membawa agama hanif yang mengajarkan keesaan Tuhan (monotheism) yang sebenarnya juga telah banyak berkembang melalui tradisi Kristen dan Yahudi sebelumnya (Geaves, 2010: 5).

Dalam rangka memahami dari mana sebenarnya Islam yang hadir sampai saat ini, sebagaimana menjadi perbincangan hangat di kalangan sarjana modern, tentu hanya dapat dipahami melalui pengertian Islam yang asli (original Islam) dengan pendekatan asal-usul historis (historical origin). Mengapa demikian? Karena sebagaimana mitos yang menjadi kerangka pemahaman asal-usul dalam pengertian Islam utama (primal Islam), tidak ada jalan lain untuk membuktikan kebenarannya selain hanya dengan iman atau keyakinan saja, sedangkan kebenaran pemahaman Islam yang autentik, sebagaimana telah diperbincangkan sebelumnya, membutuhkan telaah historis untuk mencari konfirmasi kebenaran tersebut berdasarkan pada fakta sejarah.

Dalam pemahaman yang demikian, tetap saja telaah tersebut merupakan pekerjaan yang begitu berat. Dalam buku Islamic Thought/Pemikiran Islam (2014), Abdullah Saeed, seorang profesor Islamic Studies di Universitas Melbourne, telah memberi gambaran betapa perbincangan Islam merupakan belantara tak bertepi. Islam yang hadir saat ini, yang diuraikan oleh Saeed dengan begitu panjang, bukan lagi merupakan Islam dengan sistem kepercayaan yang sederhana, dalam artian mengimani enam rukun dan juga menjalankan lima rukun saja. Islam yang hadir sampai saat ini adalah Islam yang telah termanifestasi dalam setiap seluk beluk kehidupan manusia; sosial, budaya, politik, dan pengetahuan, sehingga melahirkan beragam bentuk keberagamaan, seperti teologi, fiqh, falsafah, seni dan lain sebagainya. Dengan demikian, untuk menelusuri kembali Islam yang autentik mengartikan suatu upaya pemisahan anasir-anasir yang telah memberi warna tersendiri dalam bentuk-bentuk ke-Islam-an tersebut.

Terlepas dari begitu beratnya upaya telaah asal-usul semacam itu, tetapi memang itulah yang hendak coba dilakukan oleh para kesarjanaan Islam modern. Melalui telaah historis, para ’kesarjanaan bentuk baru’ tersebut mencoba untuk kembali merekonstruksi narasi Islam pada periode-periode awal guna mencari tahu kapan dan seperti apa sebenarnya Islam pada saat awal pembentukannya, apakah sama seperti yang hadir saat ini, atau boleh jadi sama sekali berbeda? Dalam pertanyaan inilah kemudian perbincangan asal-usul Islam menjadi kajian cukup penting dalam diskursus kesarjanaan Islam modern.

Bersambung…

Referensi

 Ahmed, Akbar S. Discovering Islam: Making Sense of Muslim History and Society. New York: Routledge, 2002.

Dutton, Yasin. Original Islam: Malik and the Madhhab of Madina. New York: Routledge, 2007.

Geaves, Ron. Islam Today. New York: Continuum, 2010.

Hughes, Aaron W. Muslim Identities: an Introduction to Islam. New York: Columbia University Press, 2013.

Saeed, Abdullah. Islamic Thought: an Introduction. New York: Routledge, 2006.

On Epistemology: Gettier Problem

0
gettier

In general, one can claim to have knowledge if one has a belief that is true or true belief. One of the oldest (classic) way to confirm the truth of one’s belief is by imposing the act of justification. Justification in this context means “being in possession of good reasons for thinking one believes is true” (Pritchard, 23). This further differentiates a mere luck and a knowledge. In short, justified true belief is a classical account of knowledge.

The problem of this kind of notion arises since there exist cases where having a justified true belief does not mean having a knowledge. Such cases are called Gettier cases. One of the examples of a Gettier case is illustrated below:

Zam is a student who comes from foreign country and doing International master in RWTH Aachen, Germany. He does not have any prior understanding in German language but nevertheless he can check the meaning of the words or sentences in Google Translate. In the first week of his studying, he founds there is a room for studying in the campus where every student can access every day. He observes that everyone that enters the room pushes a button at the side of the door before opening the door. Through rational reasoning, he concludes that button is needed to open the locked door. Apparently one needs to unlock the door first by pushing that button then opens it. His claim is strengthened by the words that are written on that button: “Tuer auf” which by Google checking means “open the door” and by the sound of mechanical machines inside the door when someone pushes the button that he associates with the sound of the unlocking process. After that, he never has any doubts that by pushing that button, the door is unlocked and he can open the door. Since in any given chance he arrives at that door, everyone does the same steps, he is convinced that the door can only be opened by pushing that button first. However, unbeknownst to him – despite having a mechanical sound and a label that says “open the door”- the door can be opened directly without push that button because the button is long broken.

From the case above, we can identify key elements of Gettier case. First, the forming of justified true belief by the agent. In the above example, the agent believes that to open the door, one needs to push the button first. The agent belief is justified by several factors, such as: the “Tuer auf” sign at the button, the mechanical sounds that are made by the door when one pushes the button (which further associates by the agent as the sign of the unlocking door), and every student that he observes enters the room always pushes the button first. All that points can be said as good reasons for the agent’s belief to be true.

Nevertheless, having a justified true belief in the sense of agent’s perception doesn’t mean he has a knowledge of the agent belief is a false belief. From the example, the agent does not have access to the knowledge that the button is in fact, broken and the door can be opened directly since his false belief is justified by all the reasons mentioned before.

It is also worth noting that the example above also gives another counter case with the reliabilism. Reliabilism changes the notation of knowledge, from mere justification of true belief to “true belief that is gained in a reliable way, where ‘reliable’ here means that, at the very least, the method used was more likely to get you the truth than not” (Pritchard, 55).

If we disregard the actions of translating the “Tuer auf “and the paying attention to the sound of the mechanical machines inside the door, then the action of the agent that simply observes people opening the door by pushing the button first already is a sufficient condition for justifying his belief: the button is for unlocking the door. The fact that the agent does more than just observing, shows that indeed the agent has a reliable way of attaining his belief which turns out to be still a false belief. Hence not a knowledge. This shows that Gettier cases can become a problem not just in classical notion of knowledge as a justified true belief but also in other notion of knowledge such as reliabilism.

The existence of Gettier cases further impacts our understanding of true beliefs and its relations to knowledge in a broader sense. If we maximally imagine a Gettier case, where all of that we beliefs are falsely justified (by justification or other means), it means we know nothing at all or know that we thought we had will be so little. Maybe we can argue that the possibility of such Gettier case is incomparably small and can be ignored, but nevertheless, it is always possible and there is no way we know about it. We fell in the realm of skepticism.

Referensi

Pritchard, D. (2014). What is this thing called knowledge?. 3rd ed. Oxon: Routledge, p.23, p.55, pp. 105-106, p.170, pp.183-184.

Alam Semesta yang Mengembang (Bagian Pertama)

0
Alam Semesta yang Mengembang (Bagian Pertama)
Sumber: https://www.sciencedaily.com/images/2016/10/161021123238_1_900x600.jpg

[latexpage]

Berbicara mengenai alam semesta atau kosmologi tidak lepas dari membicarakan sejarah tentang alam semesta yang mengembang (bagian pertama). Dimulai dari anggapan bahwa alam semesta yang statis sebelum kekuatan dari teori relativitas umumnya Einstein datang. Selengkapnya, mari simak saduran bebas dari bagian buku ‘A Universe from Nothing berikut.

Pada awal 1916, Albert Einstein baru saja menyelesaikan karya terbesar dalam sejarah kehidupannya, perjuangan intelektual yang panjang selama satu dekade untuk mendapatkan teori gravitasi baru, yang disebutnya sebagai teori relativitas umum. Teori ini sesungguhnya bukan hanya teori gravitasi baru, namun, juga merupakan teori baru tentang ruang dan waktu. Dan sekaligus sebagai teori ilmiah pertama yang sanggup menjelaskan tidak hanya bagaimana benda bergerak meski bersifat univese, tapi juga bagaimana alam semesta itu sendiri bisa berkembang.

Hanya ada satu halangan saja. Ketika Einstein mulai menerapkan teorinya untuk menggambarkan alam semesta secara keseluruhan, menjadi jelas bahwa teori tersebut tidak menggambarkan alam semesta tempat kita tinggal.

Sekarang, hampir seratus tahun kemudian, sulit untuk sepenuhnya menghargai betapa banyak gambaran kita tentang alam semesta telah berubah dalam rentang satu masa hidup manusia. Sejauh yang menjadi perhatian komunitas ilmuwan pada tahun 1917, alam semesta digambarkan sebagai sesuatu yang statis dan abadi, dan terdiri dari satu galaksi tunggal yakni Bima Sakti (Milky Way) kita, dikelilingi oleh ruang yang luas, tak terbatas, gelap, dan kosong. Bagaimanapun, ini yang Anda duga dengan melihat langit malam dengan mata telanjang, atau dengan teleskop kecil nan sederhana, dan saat itu tidak ada alasan lain untuk mencurigai hal yang sebaliknya.

Dalam teori Einstein, seperti teori gravitasi Newton sebelumnya, gravitasi adalah gaya tarik menarik antara semua benda. Ini berarti bahwa tidak mungkin memiliki sekumpulan massa yang berada di luar angkasa dalam keadaan diam selamanya. Gaya tarik-menarik gravitasi semua benda di alam semesta pada akhirnya akan menyebabkan mereka runtuh [ke dalam], pada ketidaksepakatan nyata dengan alam semesta yang tampaknya statis.

Kenyataan bahwa relativitas umum Einstein tidak tampak konsisten dengan gambaran alam semesta saat itu adalah pukulan yang lebih besar kepadanya daripada yang mungkin kita bayangkan, karena alasan yang memungkinkan untuk mengeluarkan mitos tentang Einstein dan relativitas umum yang selalu mengganggu. Hal ini umumnya diasumsikan bahwa Einstein bekerja dalam isolasi di ruang tertutup selama bertahun-tahun, menggunakan pemikiran dan akal murni, dan muncul dengan teorinya yang indah, terlepas dari kenyataan (mungkin seperti beberapa ahli ‘teori string’ saat ini!). Namun, tidak ada yang bisa lebih jauh dari kebenaran.

Alam Semesta yang Mengembang (Bagian Pertama)
Sumber: https://phys.org/news/2017-07-evidence-impacts-milky-galaxy.html

Einstein selalu dipandu secara mendalam oleh eksperimen dan pengamatan. Sementara dia melakukan banyak “eksperimen pemikiran” di dalam pikirannya dan melakukan kerja keras selama lebih dari satu dekade, dia belajar matematika yang baru dan mengikuti banyak teoretis palsu dalam prosesnya sebelum akhirnya dia menghasilkan sebuah teori yang sungguh matematis. Saat yang paling penting dalam membangun hubungan intim dengan relativitas umum adalah yang berkaitan dengan pengamatan. Selama beberapa minggu terakhir saat Einstein menyelesaikan teorinya, dia bersaing dengan matematikawan Jerman David Hilbert, dia menggunakan persamaannya untuk menghitung prediksi untuk apa yang mungkin tampak sebagai hasil astrofisika yang tidak jelas: presisi “perihelion” (titik pendekatan terdekat) orbit Merkurius mengelilingi Matahari.

Para astronom telah lama mencatat bahwa orbit Merkurius sedikit bergeser meninggalkan dari yang diprediksi oleh Newton. Alih-alih menjadi elips sempurna yang kembali pada dirinya sendiri, orbit Merkurius mengalami presesi (yang berarti bahwa planet ini tidak kembali ke titik yang sama setelah satu orbit, namun orientasi elips bergeser sedikit ke masing-masing orbit, akhirnya membentuk semacam pola seperti spiral) dengan jumlah yang sangat kecil: 43 detik busur (sekitar 1/100 derajat) per abad.

Ketika Einstein melakukan perhitungan orbit dengan menggunakan teori relativitas umumnya, hasil yang diperoleh ternyata tepat. Seperti yang dijelaskan oleh seorang penulis buku Einstein, Abraham Pais: “Penemuan ini, sejauh ini saya percaya, merupakan pengalaman emosional terkuat dalam kehidupan ilmiah Einstein, mungkin sepanjang hidupnya.” Dia mengaku memiliki palpitasi jantung, seolah-olah “ada yang patah” di dalamnya. Sebulan kemudian, ketika dia menjelaskan teorinya kepada seorang teman sebagai salah satu ‘yang keindahannya tak tertandingi’, kebahagiaannya atas bentuk matematis memang nyata, namun tidak dengan palpitasinya.

Ketidaksepakatan antara relativitas umum dan pengamatan mengenai kemungkinan alam semesta statis tidak berlangsung lama. (Meskipun hal itu menyebabkan Einstein mengenalkan sebuah modifikasi pada teorinya bahwa dia kemudian menyebut kesalahan terbesarnya.) Hampir semua orang sekarang tahu bahwa alam semesta tidak statis namun berkembang dan bahwa ekspansi dimulai saat terjadinya Big Bang sekitar 13,72 miliar tahun yang lalu. Yang sama pentingnya, kita tahu bahwa galaksi kita hanyalah satu dari sekitar 400 miliar galaksi di alam semesta yang dapat diamati saat ini. Kita seperti pembuat peta terestrial awal, yang baru mulai memetakan keseluruhan alam semesta dengan skala terbesarnya. Tidak mengherankan bahwa beberapa dekade terakhir ini telah menyaksikan perubahan revolusioner dalam gambaran alam semesta kita.

Penemuan bahwa alam semesta tidak statis, melainkan berkembang, memiliki makna filosofis dan religius yang mendalam, karena ini memberi kesan bahwa alam semesta kita memiliki sebuah permulaan. Sebuah awal yang menyiratkan penciptaan, dan penciptaan memicu emosi. Meskipun butuh beberapa dekade setelah penemuan pada tahun 1929 alam semesta kita yang berkembang untuk gagasan tentang Big Bang untuk mencapai konfirmasi empiris yang independen, Paus Pius XII menggembar-gemborkannya pada tahun 1951 sebagai bukti Genesis. Seperti yang dia katakan:

[Bacaan terkait: Alam semesta 3-dimensi]

Tampaknya sains masa kini, dengan satu sapuan kembali selama berabad-abad, telah berhasil memberi kesaksian tentang detik terakhir Fiat Lux primordial [Biarlah ada cahaya], jika bersamaan dengan materi, tidak ada yang keluar dari lautan cahaya dan radiasi, dan unsur-unsur terbelah dan bergejolak dan terbentuk menjadi jutaan galaksi.[i]

Jadi, dengan konkret yang merupakan ciri bukti fisik, [ilmu pengetahuan telah mengkonfirmasi kontingensi alam semesta dan juga deduksi yang mapan mengenai zaman ketika dunia keluar dari tangan Sang Pencipta. Oleh karena itu, penciptaan berlangsung. Kita katakan: “Karena itu, ada Pencipta. Karena itu, Tuhan ada!”[]

 

[i] Gary Cox, The God Confusion: Why Nobody Knows the Answer to the Ultimate Question, Bloomsbury Academic, 2015, hal. 90.

 

Apa yang Salah dengan [Pelaku] Bunuh Diri?

0
Bunuh diri
Sumber: https://cdn-images.threadless.com/threadless-shop/products/284/636x460design_01.jpg?w=1272&h=920

Jika saya mengatakan bahwa masyarakat [dunia] ini baik-baik saja – dalam sudut pandang pribadi [ tentang bunuh diri ] – sepertinya saya berbohong terhadap diri sendiri. Memang kata ‘baik’ dapat diidentikan dengan tampilan luar yang tampak oleh panca indra. Tegur sapa (jika tidak terpaksa), tolong menolong (kebetulan ada keperluan), bersatu (bertepatan dengan kepemilikan kepentingan yang sama) adalah sedikit contoh dari ratusan bahkan ribuan keadaan masyarakat yang tampak dari luar.

Namun, apakah tampilan-tampilan yang tampak dari luar tersebut benar-benar wakilan dari keadaan sesungguhnya? Bisa ya, tetapi jawaban tidak mungkin paling banyak akan kita temui terutama di lingkungan yang serba ‘sakit’ ini. Salah satu indikator dari “sakit” [kronis] masyarakat adalah ‘penghakiman’ dari kasus bunuh diri. Masyarakat begitu benci pada korban bunuh diri atas berbagai macam alasan yang disematkan padanya. Atas nama pribadi, etik masyarakat dan moral bahkan atas nama agama dan kepercayaan. Sungguh miris, karena kita sendiri tidak tahu seberapa besar beban yang diderita oleh mereka yang berani melakukan itu semua.

Jumlah Kasus Bunuh Diri

Berdasarkan data dari WHO 2016, kasus bunuh diri di Indonesia telah mencapai 3,7 per 100.000 penduduk atau terdapat satu penduduk yang melakukan bunuh diri dari [sekitar] 27.000 penduduk. Angka ini menempatkan Indonesia pada urutan ke 8 di atas Filipina dan Malaysia. Dari semua kasus tersebut, depresi merupakan faktor yang mendominasi terjadinya bunuh diri.[1] Data ini sesungguhnya sangat memprihatinkan. Mengapa tidak, Indonesia yang terkenal dengan ramah tamah masyarakatnya, religius kelompok-kelompok masyarakatnya, gemah ripah loh jinawi buminya, ternyata tidak menjamin ketenangan masyarakatnya hingga mengakibatkan tingginya angka kasus bunuh diri di negeri tercinta ini. Sederhananya, andaikan bunuh diri itu diakibatkan karena depresi akibat, mungkin, terlilit hutang, putus sekolah, kemiskinan, dan faktor lain, seharusnya tidak akan terjadi jika melihat Indonesia semacam itu. Tetapi itulah realita, kemudahan dan keramahan justru kadang menyisakan duka mendalam di sekitarnya.

Menanggapi besarnya jumlah kasus bunuh diri di Indonesia mungkin kita dapat mangambil sebuah contoh suatu daerah. Kita ambil saja di Daerah Istimewa Yogyakarta (mengingat penulis sementara ini tinggal di Yogyakarta). Di DIY kasus bunuh diri sering disebabkan karena depresi yang diderita oleh korban. Sebagai sebuah provinsi yang terkenal dengan banyaknya kaum intelektual di dalamnya, ini seharusnya menjadi pukulan telak mengapa hal ini bisa terjadi. Salah satu kasus yakni yang dapat kita temui di kabupaten Gunungkidul. Di kabupaten yang letaknya cukup ditempuh dengan waktu 1-2 jam saja dari pusat kota Yogya ini, ditemukan fakta bahwa usia produktif yakni 25-50 tahun telah banyak melakukan bunuh diri.[2] Bagaimana dengan daerah Anda?

Bunuh diri
Sepuluh negara yang penduduknya paling banyak melakukan bunuh diri; Guyana, Japan, South Korea, Sri Lanka, Lithuania, Suriname, Mozambique, Tanzania, Nepal, dan Kazakhstan. Sumber: https://www.wonderslist.com/wp-content/uploads/2016/03/suicide-in-Nepal.jpg

Apa itu Bunuh Diri?

Bunuh diri adalah tindakan menghabisi nyawa dengan berbagai metode dan cara oleh dirinya sendiri, paling sering sebagai akibat depresi atau penyakit [jiwa] lainnya. Selain depresi sebagai faktor utama bunuh diri, terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan munculnya pikiran untuk bunuh diri, percobaan bunuh diri, dan bunuh diri sebenarnya. Faktor-faktor tersebut meliputi; penyalahgunaan obat, penahanan, riwayat keluarga, keamanan kerja yang buruk atau rendahnya tingkat kepuasan kerja, saksi atas pelecehan yang terus menerus, menghadapi kondisi medis tertentu, dan korban intimidasi serta masih banyak lagi asalan untuk dapat melakukan tindakan berani tersebut.

Bunuh diri
Sumber: http://www.mobieg.co.za/wp-content/uploads/2014/04/suicide.jpg

Mengapa sampai Bunuh Diri?

Ketika kita mendengar kejadian bunuh diri, [secara umum] sontak kita akan mengatakan umpatan ‘gila’, ‘bodoh’, ‘terlaknat’, ‘kerak neraka’, atau apalah yang itu dialamatkan pada pelaku bunuh diri. Parahnya, banyak orang membawa-bawa agama untuk menghakimi si korban bunuh diri.

Layakkah mereka [korban bunuh diri] kita caci maki dengan ungkapan satire semacam itu? Mari kita sedikit bersabar untuk setidaknya berpikir sederhana sebelum menghakimi mereka dengan sumpah serapah tersebut.

Berdasarkan beragam motivasi seorang yang melakukan bunuh diri, dapat secara umum dikatakan bahwa depresi adalah faktor utamanya. Ya depresi, yang disebabkan oleh ketidakmampuan seseorang untuk menghadapi segala macam masalah “super rumit” yang mereka miliki. Dari titik ini, kebanyakan orang berhenti, dan memutuskan untuk segera membuat keputusan terhadap dirinya sendiri. Tetapi tunggu dulu. Coba kita ajukan beberapa pertanyaan berikut. Siapakah yang membuat seorang tidak mampu menghadapi keadaan depresi? Siapakah pula yang membuat mereka mengalami depresi tersebut? Dan sudahkah kita mencoba memahami dan [apalagi] mebantu memecahkan permasalahan penyebab mereka depresi?

Pertanyaan, siapakah yang membuat seorang tidak mampu menghadapi keadaan depresi? adalah pencarian sebab terakhir seorang memutuskan untuk bunuh diri. Sebagian besar dari kita mungkin akan menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban, “korban sendirilah yang tidak mampu menghadapi keadaan depresi”. Jawaban itu menjadi benar jika kita beranggapan bahwa setiap individu memiliki dan mampu berkehendak atas apapun yang terjadi padanya di dunia ini.

Tetapi apakah demikian adanya? Bukankah kita sendiri tidak mampu untuk mengetahui kejadian satu detik setelah detik sebelumnya. Perhatikan bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali mengikuti hukum alam yang telah tersusun sedemikian rupa. Adanya gravitasi, tata letak dan ruang alam semesta, kelahiran dan kematian mahluk, dan apapun itu yang ada di alam semesta ini. Maka tidaklah mungkin seorang mampu memutuskan kehendak untuk melakukan bunuh diri oleh dirinya sendiri. Lalu siapa yang membuat munculnya ketidakmampuan tersebut? Jika kita tidak mau membebankan masalah ini pada Sang Pencipta, boleh lah kita katakan Alam lah yang membuat seorang tidak sanggup dalam keadaan depresi. Dan Alam harusnya yang bertanggungjawab atas depresi yang diderita setiap individu.

Kita seharusnya menyadari bahwa setiap manusia lahir ke dunia tanpa mampu memilih kapan, di mana, oleh siapa, dari keluarga seperti apa, lingkungan yang bagaimana, sakit atau dalam keadaan sehatkah, dan berbagai keadaan lain yang tidak mampu kita pilih. Manusia benar-benar lemah dan tidak ada daya untuk dapat melawan kehendak Alam untuk melahirkannya ke dunia ini. Kita hanya seperti rumput liar di pekarangan yang jika tidak segera [dipaksa] mati oleh pemilik pekarangan maka akan mati karena musim kemarau yang panjang. Rumput yang tidak mampu berbuat apa-apa melainkan hanya menunggu kematian saja.

Semua ini berawal dari kejadian yang dinamakan kelahiran. Kelahiran, sebagai titik awal, dapat kita jadikan standar [kemungkinan] bentuk kehidupan di kemudian hari. Dalam perjalanan menuju remaja, dewasa, tua, dan mati, setiap individu seolah hanya mengikuti kehendak Alam. Lahir normal sampai mati normal, lahir kaya mati kaya, lahir miskin mati miskin, atau sebaliknya lahir sehat mati sakit dan sebagainya. Tidak ada yang mampu mengendalikan kehendak Alam.

Dengan keadaan demikian, maka wajarlah jika saya katakan bahwa Alam lah yang membuat seorang tidak mampu dalam keadaan depresi dan akhirnya memilih [obat mujarab] yakni bunuh diri.

Tetapi mungkin kita dapat berlaku bijak dengan mengatakan bahwa bukan salah siapa-siapa terkait hal tersebut. Bunuh diri atau bertahan dalam keadaan sakit, bukanlah suatu kesalahan, pun juga bukan suatu hal yang buruk ketika memilih salah satunya. Bunuh diri hanya merupakan sebuah kejadian alamiah yang tentu bagian dari yang seharusnya semesta ini berperilaku. Tidak ada paksaan dan tidak pula dipaksakan. Karena tidak ada satupun [secara sadar] orang ingin berada dalam keadaan depresi atau dalam kesedihan. Setiap individu menginginkan kebahagiaan dan ketenangan dalam menunggu ajalnya. Tetapi apalah daya, individu bukanlah pembuat kehendak, dan bunuh diri bukanlah sesuatu yang sebenarnya menjadi kehendaknya.

Jika yang membuat seorang tidak mampu menghadapi kedaan depresi katakanlah bukan ‘Alam’, lalu Siapakah pula yang membuat mereka mengalami depresi tersebut?

Tidak adil rasanya jika semua masalah dibebankan atas nama Alam. Jadi untuk pertanyaan tersebut, akan lebih baik jika kita membebankannya kepada sebut saja keluarga, lingkungan masyarakat, lingkungan daerah, masyarakat negara, dan bisa jadi masyarakan dunia. Apa maksudnya?

Perhatikan bahwa awal mula terdajinya depresi seseorang adalah dari lingkungan terdekatnya. Seorang anak, misalnya, akan mengalami depresi manakala kehidupan rumah tangga orang tuanya yang berantakan dengan berbagai macam masalah yang ada. Balada KDRT, ekonomi lemah, perceraian, dan masalah-masalah rumah tangga lain akan menyisakan sebagain besar anak-anak di dalam rumah tangga tersebut mengalami depresi [meski ringan].

Jika hanya sampai di dalam rumah tangga saja, itu mungkin akan dapat teratasi [ditahan] oleh si anak. Terlebih jika keluarga besar lain, dapat mengayomi , membantu, mengasihi, dan memberi kenyamanan serta suri tauladan yang baik bagi korban pertikaian kedua orang tua mereka. Tetapi jika tidak, apa jadinya? Depresi yang diterima anak akan semakin parah. Ketika sebuah keluarga yang mengalami masalah ‘broken home’ berserta anak-anak mereka ada di dalamnya, seringkali yang terjadi adalah keluarga besar yang cenderung menyalahkan keluarga tersebut. Ntah menyalahkan kepala rumah tangga (bapak) yang tidak bertanggungjawab atau menyalahkan ibu yang tidak ‘becus’ mengurus rumah tangga. Sampai-sampai masalah ‘karma’ karena tidak mengikuti ucapan keluarga besar saat mereka akan menikah. Sikap ini akan berimbas pada anak-anak yang tidak tahu menahu masalah orang-orang dewasa tersebut. Anak menjadi minder, tidak memiliki keberanian untuk berekspresi, bahkan untuk sekedar bercerita pun mereka menjadi takut. Maka depresi ‘ringan’ yang mereka terima menjadi lebih berat lagi. Jadi, siapa yang membuat anak-anak tersebut depresi? Anda dapat menyimpulkannya sendiri.

Lebih jauh, kita lihat masyarakat di sekitar kehidupan rumah tangga tersebut. Baik itu masyarakat umum maupun masyarakat akademik tempat seorang individu menempuh pendidikan formal. Jika keluarga besar saja menyelahkan adanya ‘broken home’ yang sedang terjadi, misalnya, apalagi masyarakat. Jadi mari kita lihat bagian ini dari sudut pandanag yang lain yakni pola kehidupan di masyarakat.

Di masyarakat umum, tampilan kemegahan dengan semua kemudahan sering kali lebih ditonjolkan daripada empati kepada masyarakat lain yang sesungguhnya lebih membutuhkan – termasuk saya bisa jadi. Sementara di sisi lain, upaya untuk keluar dari jerat kebodohan dan kemiskinan yang melanda individu pembawa sifat depresi hanya mampu melihat semuanya dengan penuh penyesalan dan dendam. Beruntung jika si individu kemudian mampu menghadapi keadaan semacam itu dan menyadari bahwa itu semua adalah dagelan ‘ilusi’. Sehingga ketika melihatnya, individu tersebut bukannya sedih tetapi justru tertawa terpingkal-pingkal dengan segala lelucon yang ada di depan matanya.

Tetapi kita seharusnya sadar bahwa tidak semua individu mampu bertahan dan mengambil kesimpulan semacam itu. Kecenderungan untuk minder yang menyertai depresi bawaan akan membawa mereka ke arah yang lebih rumit. Dan inilah salah satu awal petaka, ‘sepertinya saya sudah tidak mampu menghadapi dunia yang semacam ini’. Itu kalimat paling santun untuk menyatakan kegundahan hati, untuk memutuskan segera meninggalkan dunia ini atau bertahan dengan segala siksaan yang diberikan oleh masyarakat. Lalu apakah kita masih mampu mengatakan bahwa yang membuat anak-anak semacam ini depresi adalah dirinya sendiri?

Dari semua permasalahan tersebut, sikap hedonis, materalis, individualis, dan kapitalis yang menjangkiti baik masyarakat kecil hingga global cenderung memperbesar masalah ini. Oleh karena itu, wajar saja seorang anak yang membawa bibit depresi dari lingkungan kecilnya akan benar-benar depresi ketika remaja atau saat dewasa. Sehingga wajar juga, ketika terdapat para remaja  atau dewasa yang melakukan bunuh diri dengan keadaan semacam itu yang tidak mampu dia tanggung.

Bisa jadi remaja depresi ini lolos dari keinginan bunuh diri dengan berbagai kesibukan positif yang ia dapatkan. Tetapi, dapat kita lihat remaja yang mulai mengenal (menyukai) lawan jenis akan kembali menghadapi masalah yang tidak kalah mengerikan dari ketika mereka menghadapi lingkungan sebelumnya. Sikap hura-hura dan oportunis dari hampir setiap remaja menjadikan remaja dengan bibit depresi akan semakin tertekan. Tuntutan pasangan masing-masing untuk mampu menyesuaikan gaya hidup mereka adalah satu dari penyebab meningkatnya depresi yang ia terima. Belum lagi tuntutan keluarga dan handai taulan ketika hendak ingin membina rumah tangga, yang menuntut ini dan itu menambah beban berat pada remaja. Maka tidak dapat dipungkiri bahwa banyak juga yang kemudian mengakhiri hidup mereka menjelang atau setelah acara pernikahan berlangsung. Atau setidaknya mereka mengalami keretakan rumah tangga yang berakibat pada KDRT hingga pembunuhan atas pasangannya. Jadi siapa yang membuat remaja atau pasangan remaja menderita depresi berat? Lagi-lagi, Anda dapat menyimpulkannya sendiri.

Bukan hanya itu saja, jika selamat dari jerat kematian dari dalam keadaan tersebut, depresi belum tentu bisa hilang. Lagi-lagi pola kehidupan masyarakat yang menggila dan tuntutan rumah tangga yang tinggi, menjadikan tidak sedikit seorang kepala rumah tangga atau ibu rumah tangga memberanikan diri untuk meminum [obat mujarab] yang bernama bunuh diri. Sekali lagi, apakah ini salah mereka yang bunuh diri?

Dari semua alasan yang telah diuraikan di atas, tetap saja akan menyisakan suatu bagian yang memberikan celah untuk mengatakan bahwa ada [mungkin banyak] tindakan bunuh diri adalah tindakan konyol yang dilakukan oleh individu dengan alasan yang bisa jadi sangat tidak bermutu. Tetapi, apakah dengan demikian kita patut untuk melakukan satire pada mereka? Bagi saya, tidak. Apapun tindakan mereka tidak perlulah kita katakan mereka sebagai sesuatu yang rendah dibandingkan yang lain. Karena jika mau lebih jeli dan lebih membumi tentu kita akan temukan bahwa tidak ada satupun individu di dunia ini yang mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya, sesederhana apapun itu.

Langkah terbaik adalah memberikan masukan, motivasi, arahan, bahkan jika memang mampu kita bantu menyelesaikan masalah tersebut. Atau setidaknya mengikutkan mereka pada kesibukan dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan sains, agama atau keyakinan. Mungkin itu lebih baik daripada selalu mengutuki pelaku bunuh diri sebagai orang yang paling hina dina setelah mereka melakukannya. Kepedulian pada lingkungan sekitar, pada sanak saudara, pada kerabat dekat maupun jauh, atau bahkan pada orang yang sama sekali tidak kita kenal. Jika tidak mau membantu atau bertindak, diam lah. Karena diam adalah tindakan paling bijak atas segala yang diperbuat oleh siapapun itu.

Simpulan

Mengatakan ungkapan satire seketika tanpa melihat sampai ke akar masalah, pada mereka korban bunuh diri adalah kebodohan fatal. Karena bisa jadi mereka adalah korban ‘pembunuhan’ terkeji yang pernah dilakukan umat manusia. Tanpa bisa membalas tanpa bisa memberontak dan bahkan tanpa bisa meminta orang lain untuk membantu membunuhnya secara langsung. Bunuh diri, mungkin suatu hal yang hina jika alasannya adalah alasan konyol, tetapi bisa jadi itu tindakan paling mulia dari seseorang karena setidaknya menyelamatkan para ‘bajingan’ yang menghendaki kematiannya.

Jika bunuh diri dianggap sebagai kejahatan (tindakan bodoh), hanya pengecut yang bisa mendorong korban untuk melakukannya.

Referensi:

http://krjogja.com/web/news/read/27875/Bunuh_Diri_di_Indonesia_Peringkat_Delapan_di_Asia_Tenggara [1]

http://regional.kompas.com/read/2017/07/10/14440781/tren.kasus.bunuh.diri.di.gunungkidul.bergeser.ke.usia.produktif [2]