Home Blog Page 18

Cuplikan Surat Cinta Para Filsuf

0
suratcintafilsuf

Suatu hari, saya berpikir bahwa filsuf itu seorang arogan yang kelewat kesepian dan suka melabeli orang lain. Saya bayangkan mereka itu orang-orang yang tidak ikut bergosip di warung kopi. Sebaliknya, merekalah yang jadi omongan tetangga. Sekalinya mengirim surat cinta, atau surat putus, terbukalah kedoknya, mereka hanya orang biasa yang tekun berpikir, bahkan tentang orang miskin dan benda-benda luar angkasa. (Bukankah kita juga melakukan hal semacam itu?). Mungkin juga sebagian dari mereka ada yang berpikir seperti saya, “bagaimana jika meteor kecil jatuh menimpa rumah-rumah orang jahat yang gila kekuasaan? Bukankah urusannya akan mudah?”. Mungkin. Barusan saja saya membayangkan itu tidak akan terjadi dan itu bukan pertanyaan filsafat. Jika saja pertanyaan di liang lahat bukan “man robbuka?” melainkan “apa itu kenyataan?”, saya yakin mereka semua khusnul khatimah. Berikut saya terjemahkan parodi surat cinta para filsuf. Sisanya bisa Anda kembangkan sendiri. Bukankah sebagian dari Anda kehabisan candaan receh untuk membuat diri Anda terlihat lebih menarik di dalam chat room? Kelucuan-kelucuan dalam satu dekade terakhir yang Anda alami tentu telah mengasah cara menulis Anda. (Artikel asli berjudul “Excerpts from Philosophers’ Love Letters” ditulis oleh Julia Edelman untuk rubrik humor di New Yorker, November 2016).

—–

Satu hal yang kutahu bahwa aku tidak tahu apa-apa. Kita berjumpa beberapa kali di agora dan berbincang soal penghormatan kita untuk dewa-dewa, tapi aku tak tahu apapun tentangmu! Apakah kau seorang bidan selama ini? Apakah kau lebih mengejar keutamaan dibanding kemewahan material? Aku sangatlah lugu melihat banyak hal, tapi aku paham sesuatu soal seni mencinta: terlalu banyak bertanya hingga orang yang ditanya terlalu capek untuk membalas. Apakah aku harus teruskan ini? —Socrates

*

Sebelum kita bersua, aku terjebak jauh ke dalam sebuah gua, tanpa jalan pulang. Tapi kaulah cahayaku, dan menuntunku keluar dari kegelapan. Aku bakal gembira jika kita bisa lepas dari gua ini suatu saat nanti, lalu  merangkul diri kita yang tercerahkan ini selagi makan malam. Karibku Diogenes akan memainkan harpanya saat matahari mulai terbit nanti, barangkali kau tertarik bergabung. —Plato

*

Nampaknya bagiku lebih penting menghilangkan keraguan dan menentukan kepastian. Jadi aku harus bertanya: Ketika aku melirikmu saat kau menata jubah Ratu Christina dari Sweden itu, kau balas melirikku, apakah itu semacam lirikan kesemsem, ataukah kau memang punya sesuatu di matamu? Aku sangat maklum jika kau tak begitu ingin membalas. Lagi pula, ketakpastian adalah kepastian yang sesungguhnya. —Descartes

*

Aku harus mengakui, dukunganmu pada hak asasi perempuan memang menggugah. Itulah yang terlihat di matamu ketika kau mendesak bahwa perempuan harus terdidik. Juga caramu mengepalkan tangan ketika berteriak pada perempuan lain bahwa kita seharusnya tidak diperdagangkan seperti barang-barang. Dan senyummu itu. (Sejujurnya, begitu indah dengan gigimu yang rampak.) Haruskah kita berjumpa untuk protes di luar National Assembly saat fajar tiba? —Mary Wollstonecraft

*

Alam pikirmu seperti sebuah batu tulis yang masih kosong, kasihku, aku di sini untuk mewarnainya dengan pengetahuan. Kau hanya butuh sosok lelaki dewasa yang bisa memaknai diri lewat sebuah aliran kesadaran dan mampu bertahan dalam Wabah Besar. Aku telah melalui keduanya. Sekarang, aku takut cintamu merembet seperti penyakit menular, senyummu menjangkiti bagai lalat busuk. Maaf, wabah ini telah merasukiku. Bila kita mampu bertahan, aku berharap berjumpa denganmu lagi. —John Locke

*

Seiring waktu kau selesai membaca surat ini, kau akan menyadari bahwa di sana tak ada konsepsi diri. Tak ada “kau” dan “aku”. Yang ada hanya, segepok sensasi yang kita alami: hari di mana kita bertemu di luar rumah tinggal keluargaku di Berwickshire, caramu menangis tersedu-sedu ketika kau tahu aku seorang ateis, begitu jijiknya kau menatapku setelah tahu aku ini hina. Aku mencintaimu, dan momen-momen ini membentuk siapa kita sesungguhnya. Bisa saja aku menyelipkan “Hume” dalam kata humor, tapi ini bukan candaan. —David Hume

*

Sayangku Frank, tiba-tiba saja aku tenggelam karenamu. Bukan hanya karena visaku lekas basi tapi juga karena kau terlalu tampan untuk seorang Amerika. Objektivisme mengklaim bahwa kebahagiaan adalah tujuan moral hidup ini, dan aku begitu yakin dengan mengobjekkan dirimu akan membuat aku bahagia. Kehidupan yang kau jalani hasil perjuanganmu sendiri. Kau menghargai dan menghormati pencapaian. Tetaplah kau di sisi kasur di mana kau berada. Hanya itu yang kupinta. —Ayn Rand

*

Oh Émilie du Châtelet, kau layaknya mimpi!

Aku harap kau suka pria tajam dengan kepercayaan diri rendah.

Satu hal yang ku cintai lebih dari pemisahan gereja dan negara,

Adalah pada akhirnya mengajakmu kencan.

Lagakmu menimba ilmu fisika membuat hatiku lunglai;

Ketika kau menerjemahkan “Principia Mathematica,” aku tak bisa berucap.

Bersama, marilah merumuskan elemen-elemen api,

Dan kemudian siapa tahu akan jadi nyata!

Pemerintah Perancis bisa saja menekan pandanganku,

Tapi kau akan tetap jadi lamunanku.

Ijinkan aku belajar dari pikiranmu yang luar biasa,

Dan sesekali melirik yang indah itu ke belakang. —Voltaire

*

Izinkan aku untuk mendeduksi penalaran mengapa kita harus bersama. Jika Aristoteles adalah seorang lelaki, dan semua lelaki menikmati hubungan seksual, maka Aristoteles pasti akan menikmati hubungan seksual. Sekarang, aku tahu apa yang kau pikirkan — kau takut aku memanfaatkanmu sebagai hiasan saja. Tapi kau tak bisa menyalahkanku jika pada akhirnya adalah kebahagiaan. Singkatnya aku akan menemuimu pada pukul sembilan. — Aristoteles

*

Kita menghasrati makna, dan kita masih tak bisa merengkuhnya. Sebagai gantinya, kita terperangkap untuk menjalani kehidupan yang tragik, mencoba membuat dunia yang masuk akal di mana aku dipaksa menulis enam surat untukmu dalam sebaris saja. Ya, enam. Apakah kau paham? Aku menghasratimu, dan masih saja tak bisa mendekapmu. Kenapa yang Absurd begitu niat mengolokku? Apakah gara-gara ucapanku? Sungguh, kau bisa memberitahuku. Aku tak bisa menahan kebengisan ini begitu lama, keacuhan semesta yang bisu. Mungkin, sebuah balasan akan terasa menyenangkan. Tahukah kau? Aku bahkan sudah tak peduli lagi. Jangan pergi denganku lagi. Lagipula aku akan segera mati,dan hidup lebih baik jika tak ada artinya. Dengan cara itu aku tak akan pernah dikecewakan. —Albert Camus

*

Adalah penting untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kau ingin diperlakukan mereka. Dan yang tentu saja tidak aku harapkan untuk diriku sendiri adalah kencan yang mengecewakan. Bagaimana kita bisa menjalani hidup yang begitu penuh kasih ini dengan hanya pergi ke bar yang sama berulang kali? Inilah saatnya untuk berubah. Masa Keemasan berkencan belum berakhir. Tidak, ini baru saja dimulai. — Konfusius

*

Apakah lebih baik dicintai daripada ditakuti atau ditakuti daripada dicintai? Aku selalu merasa lebih aman untuk ditakuti, tetapi dengan kau sesuatu terasa berbeda. Aku menemukan diriku bisa percaya lagi, meskipun, bisakah kau benar-benar mempercayai seseorang? Ketidakjujuran dan tipu daya tentu saja berguna di ranah politik, tetapi aku ingin jujur ​​kepadamu. Mariku mulai dengan mengakui bahwa aku berteman dengan Leonardo da Vinci. Tapi aku berubah, aku janji. Lagipula ini sudah 1505. Tahun yang baru, aku juga baru! —Niccolò Machiavelli

*

Aku menatap foto lama kita, tetapi tidak bisa menerka-nerka. Kita berada di bar dan melihat ke kejauhan pada sesuatu — aku tidak ingat apa itu. Aku tahu itu sekitar lima puluh enam. Kau tersenyum dan memegang segelas anggur yang hampir kosong. Tanganmu dengan lembut ngaso di lenganku. Biasanya, aku tahu berbagai tanda. Anggur adalah penanda kita, tentu saja, dan yang ditandakan adalah cita-cita borjuis yang tidak memiliki harapan. Tapi apa artinya semua itu? Aku pikir kita cukup bersenang-senang. Namun kau tidak pernah menelepon. Mengapa? Aku pikir aku bisa menggunakan semiotika untuk memahami apakah ada yang keliru, tetapi ternyata aku harus banyak belajar. — Roland Barthes

*

Aku mencintaimu sejak kita masih kecil. Beberapa dari ingatan terindahku adalah kita bermain di jalanan Trier dan membaca liberalisme politik bersama secara sembunyi-sembunyi. Membayangkan kita berdua adalah rakyat pekerja dunia, bagaimana jika kita bersulang satu liter Krombacher nanti? —Karl Marx

*

Dear Lou,

Di bawah ini kau akan menemukan sepuluh alasan mengapa aku percaya kita harus menikah:

  1. Aku tahu aku melamar kau dua kali sebelumnya dan kau menolak, tetapi aku yakin yang ketiga kalinya bakal mengesankan.
  2. Kau psikoanalis wanita pertama, yang sangat aku hormati.
  3. Kau akrab dengan Freud, jadi aku sudah tahu kau akan mudah bergaul dengan teman-temanku.
  4. Kau anak didik intelektual favoritku.
  5. Kau suka menulis tentang sifat erotis wanita dan bagaimana perbedaan seksual berlangsung lebih mendalam dibanding soal ekonomi. Aku sangat suka itu, dan juga menikmati segala sesuatu yang erotis.
  6. Kita berdua penggemar Ibsen.
  7. Baumu selalu wangi.
  8. Aku suka rasa ingin tahu kekanak-kanakanmu dan tingkahmu yang grusa-grusu.
  9. Kita berdua berbagi gairah mengkritik penalaran dan menolak kebenaran obyektif.
  10. Aku sangat kesepian.

Friedrich Nietzsche

Sumber gambar: belmont.libguides.com

The Web of Life: A Book Review

0
web of life

The Web of Life: A New Scientific Understanding of Living Systems. Fritjof Capra. New York: Anchor Books, 1996. Xix+346

The Web of Life is a speculative idea of an attempt to read the history of the development of science portrayed in its distant possibilities. This book, as stated by Capra in the preface, is a continuation and extension of a chapter in The Turning Point (1982) entitled “The Systems View of Life.” Thus, it can be simply understood that what Capra promises through this book is nothing but an offer of a new perspective on life in the framework of systems theory. Consequently, many discussions about the intellectual tradition of systems thinking and theories of living systems will be found in this book.

The idea of a paradigm shift is the main interest of this book. Capra sees that dramatic changes in concepts and ideas that have taken place in the development of physics in the last few decades require a new perspective on reality. The attempts to explore the atomic and subatomic worlds has brought physicists to an unexpected reality. Difficulties in explaining and describing the phenomenon lead to an intellectual or even existential crisis. Until finally all these efforts led to a deep conclusion about the relationship of the nature of matter and the human mind (p.5).

The paradigm shift that occurred in science led Capra to generalize the definition of a scientific paradigm given by Thomas Kuhn to a social paradigm for the sake of analyzing cultural transformation. The social paradigm that is defined by Capra as “a constellation of concepts, values, perceptions, and practices shared by a community, which forms a particular vision of reality that is the basis of the way the community organizes itself” has dominated our culture during hundreds of years (p.6). The paradigm as a constellation only presupposes an alien life, separate from one another, and endless competition of existence.

Therefore, Capra states that we need a new paradigm to end the cultural crisis caused by a mechanistic view. The new paradigm is called a holistic worldview, which is “seeing the world as an integrated whole rather than a dissociated collection of parts.” However, Capra sees that the use of ‘holistic’ seems inaccurate because it only presupposes the functional unity of all parts, while the ecological view adds a perception of how unity is embedded in its natural and social environment (p.6).

Thus, Capra prefers to use the term ‘deep ecology’, which was first proposed by Arne Naess, as a new paradigm. ‘Deep ecology’ is distinguished by Naess from ‘shallow ecology’ by referring to the distinction of contemporary environmental thought. If shallow ecology places human beings above or outside of nature as the source of all values, then deep ecology sees the whole as a network of phenomena that are basically interconnected and interdependent (p.7).

With this in mind, deep ecology as explained by Capra quoting Naess can then be understood in its essence to question all aspects of the old paradigm. Not to discard entirely, but to question “the very foundations of our modern, scientific, industrial, growth-oriented, materialistic worldview and way of life.” The question will be drawn into the ecological view of the relationship with each other, future generations, and the web of life we are part of (p.8).

The main purpose of this paradigm shift is none other than for the sake of a sustainable life. Therefore, Capra then proposes some basic principles of ecology as part of what Capra calls ecological literacy in which “being ecologically literate, or ecoliterate, means understanding the principles of organizations of ecological communities and using those principles for creating sustainable human communities (p.297).”

Those principles are: 1) Interdependence, which is an interconnection of all members of the ecological community. Interdependence, according to Capra, is the essence of all ecological relations. This principle presupposes a mutual dependence on the whole process of living on one another where the behavior of each member is very dependent on the behavior of others. Therefore, understanding the principle of interdependence is about understanding relationships. That, according to Capra, presupposes a change in perception from object-oriented towards relationship-oriented. So that there is no longer a perception of separate parts, only a pattern of the whole (p.298); 2) The cyclical nature of ecological processes, that is, an ecosystem’s feedback loops that are continuously recycled. It means that everything has to work in a recycling process. With this principle we must redesign our entire business and economic systems which tend to be linear; production-consumption-waste. The only way to build a system according to this principle is to use energy and materials that are environmentally friendly so that there is no more waste left from the production and consumption process (p.299); 3) Partnership is a model of how cyclical exchanges of energy and resources in an ecosystem are sustained. This is a principle derived from the first principle on which all community members depend on each other. Metaphorically this principle can be called coevolution, which is a shared change in which the change is influenced by other changes (p.301).

There are still two more principles given by Capra, but both are consequences or derived from other principles, such as the principle of diversity which is a consequence of the principle of interdependence; without diversity, the scale of dependency becomes very narrow. The other principle is flexibility as a consequence of the principle of recycling; without flexibility the concept of recycling becomes impossible.

After deep ecology: what is the locus of existential meaning?

The Web of Life, as far as I can tell, seems to be a total affirmation of the scientific revolution theory proposed by Thomas Kuhn. Capra, with his background as a physicist, managed to explain well how the crisis of perception that occurs in the construction of physics, especially in the case of quantum physics, also occurs on a broader scale, namely in the context of cultural transformation. Apparently, this idea was later expanded again in his book, The Hidden Connection, where Capra proposed a perspective of meaning to see social phenomena.

However, it seems to me that some of Capra’s argumentations are still problematic. For instance, Capra doesn’t realize that his argumentation about multiple feedback loops has a big consequence. He gives a strange example of temperature during the summer which does not normally make algae growth in a lake to be increased, thus making algae-eating fish also grow more. When the fish overpopulate will eventually drain the amount of algae population as a food source, and consequently many fish will die. The death of these fish then gives a place for algae to grow again. Does it make sense?

Indeed, it does make sense and I totally agree with the example given by Capra to argue about the principle of feedback loops. The problem is, such a logical framework can be drawn further in a question: what if the ecological crisis that we are experiencing and witnessing today is an obvious example of the feedback loops principle? Such rich natural resources and the discovery of ways to exploit these resources encourage overpopulation of human beings. And when these resources start to decrease and maybe even run out, a crisis occurs and humans must pay the debt. The ironic question that arises as a logical consequence of this reasoning framework is what if the global ecological crisis is one of the mechanisms and principles of ecological balance itself?

Such an implicative question is certainly valid to ask. However, I argue that such a problem does not then mean that efforts to overcome the ecological crisis are meaningless. The evidence about the interconnectivity of life that Capra has proposed at least has made us aware enough to re-assess the accuracy of the paradigm that we have been using to see the world; because in fact, such a paradigm has major consequences for the sustainability of life itself.

Deep ecology succeeded in explaining how the entire ecosystem is related to one another, but it failed to legitimize the meaningful meaning of human existence as part of the web of life. Seeing life as a network connected to one another leads us to the fatalistic view that human existence has no meaning in itself. At its extreme, deep ecology can be a legitimacy that the environmental crisis is something that is supposed to occur as a manifestation of the principle of flexibility. Human extinction due to the environmental crises may be a necessary thing in the framework of the rebalancing process. What is the locus of human existential meaning in deep ecology?

Suicidal Ideation: Keputusasaan dan Hilangnya Makna Hidup

0
suicide

Keputusasaan atau harapan negatif tentang masa depan, menjadi salah satu faktor yang memberikan pengaruh besar kepada seseorang untuk melakukan tindakan bunuh diri (suicidal ideation). Intensitas keinginan bunuh diri lebih besar disebabkan oleh keputusasaan dari pada depresi. Seseorang yang mengalami penderitaan ini, sering berada dalam dua dimensi: antara hidup dan mati. Semakin besar keputusasaan, semakin besar keinginan seseorang untuk bunuh diri.

Pada abad 21 ini, penyakit mental rupanya begitu populer di kalangan kaum milenial. Khususnya penyakit mental yang berakhir dengan tindakan bunuh diri. Seseorang yang memiliki ide bunuh diri, sering kali terjebak dalam ambang jurang antara keinginannya untuk hidup vis-a-vis keinginannya untuk mati. Dalam kasus seperti ini, ada kemungkinan bahwa stresor kehidupan menumpuk ke titik di mana seseorang merasa tidak tertahankan dan tidak dapat mentolerir tekanan yang menimpa dirinya, sehingga meningkatkan rasa putus asa.

Keputusasaan adalah perasaan akut yang melebihi penyakit depresi. Seseorang dalam keputusasaan sering kali merasakan harapan-harapan negatif yang stabil sepanjang hidupnya.  Perasaan semacam itu bersumber dari pengaruh subjektif individu dan mendasari sebagian besar perilaku bunuh diri. Ketika tekanan subyektif naik ke tingkat yang tidak bisa ditoleransi, individu menjadi putus asa karena merasa tidak bisa lagi menanggung derita yang dialaminya. Pada saat itulah perasaan-perasaan tertentu umumnya terlibat: keputusasaan, kecemasan, perasaan ditinggalkan, kesepian, egois, dan marah[1].

Secara empiris, keputusasaan bukan gagasan utama dalam memahami perilaku bunuh diri. Dalam model kognitif, skema bunuh diri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Banyak spekulasi mengenai tindakan bunuh diri, dan keputusasaan adalah salah satu faktor yang diyakini memberikan pengaruh besar. Selain itu, depresi dan pengalaman individu di masa lalunya juga menentukan apakah termasuk dalam skema bunuh diri.

Problem Kognitif

Psikiater Aaron Beck, salah satu terapis kognitif terkemuka, berpendapat bahwa seseorang yang mengalami depresi mungkin akan terfokus pada peristiwa-peristiwa negatif dan mengabaikan hal-hal positif[2]. Beck mencoba mempengaruhi pasiennya untuk mengubah pendapat mereka tentang diri sendiri dan cara mereka mengartikan peristiwa-peristiwa dalam hidup[3]. Tujuannya adalah untuk mengubah skema negatif mereka dan membuat mereka dapat memiliki harapan, bukannya keputusasaan[4].

Saya akan mencoba meninjau secara singkat model teori kognitif yang umum diterapkan di berbagai jenis gangguan jiwa atau gangguan emosional. Dengan skema yang diberikan tersebut, setidaknya kita akan mendapat gambaran bagaimana proses kerja kognisi pada individu dengan niatan bunuh diri dalam pikirannya.

Gambar 1.1 model teori kognitif umum.

Premis utama dalam teori kognitif adalah keadaan jiwa atau suasana hati yang tertekan disebabkan oleh penyimpangan dalam cara memahami berbagai pengalaman hidup[5]. Menurut teori ini, peristiwa buruk, misalnya seseorang yang kehilangan pekerjaan, tidak secara langsung menyebabkan pengalaman emosional negatif seperti depresi, kecemasan, kemarahan, dan keputusasaan. Sebaliknya, pengalaman emosional seseorang ditentukan oleh cara mereka dalam memandang, menafsirkan dan menilai situasi tersebut. Apabila reaksi emosional yang dikeluarkan adalah negatif, pada gilirannya, akan menjadi beban dan menyusahkan diri mereka sendiri. Kemudian hal itu berpotensi memperburuk suasana hati dan menjadi negatif: penyakit mental. Jika situasi ini dibiarkan terus-menerus, ia akan menciptakan perasaan kehilangan harapan-harapan hidup ke depan dan menjadi keputusasaan.

Antecedent : situasi kehilangan pekerjaan
Cognition : interpretasi negatif atas antecedent
Reaction : suasana hati menjadi buruk

Dalam kasus ini, anticedent tidak hanya berupa situasi yang sedang dialami. Bisa juga dari pengalaman yang pernah mereka alami sebelumnya. Misal seseorang yang kehilangan pekerjaan sebelumnya mengalami peningkatan emosional negatif ketika mengingat pimpinan kerjanya pernah berkata tentang kegagalannya mencapai target perusahaan dan menyebabkan dia kehilangan pekerjaannya.

Antecedent : peristiwa, ingatan-ingatan, sebuah pikiran tentang kehilangan pekerjaan
Cognition : gambaran, interpretasi, penilaian tentang pengalaman buruk yang pernah dialami
Reaction : fungsi fisiologi dan sensasi terganggu, perilaku mengarah ke negatif (penyakit mental)

Kasus berikutnya, seseorang yang pernah kehilangan pekerjaan, dan berpikir bahwa dirinya mungkin akan selalu gagal ke depannya dapat menimbulkan kognisi dan reaksi lanjutan setelahnya. Dengan kata lain, interpretasi berbeda atas kejadian yang sama dapat menghasilkan respons emosional, fisiologis dan perilaku yang sangat berbeda. Dan kondisi tersebut bisa mengarah ke perasaan tidak berharga, hilangnya harapan positif, keputusasaan, dan pada gilirannya berujung pada niatan bunuh diri. Sebaliknya, jika dia menganggap situasi tersebut sebagai makna bahwa kehidupannya akan menjadi lebih baik dengan meninggalkan pekerjaan tersebut, kemungkinan tidak akan mengalami reaksi emosional yang ekstrem dan negatif.

Skema negatif mengenai bunuh diri ini, dalam aspek keputusasaan, tidak serta merta berlaku secara umum. Seseorang dengan niatan bunuh diri, bisa juga terjadi karena telah memiliki kemampuan untuk melukai dirinya atau sudah terbiasa bersentuhan dengan rasa sakit dalam hidupnya. Sehingga orang-orang yang “terlatih atas rasa sakit”, lebih banyak memiliki pengalaman dengan cedera tubuh, kecelakaan, atau tato, ambang batas mereka untuk rasa sakit bisa jadi berada di luar batas. Artinya, orang-orang tersebut tidak lagi bermusuhan dengan rasa sakit. Pada gilirannya ketika kesakitan menghampiri tubuhnya, ia justru merasa senang dan lega.

Secara garis besar, teori kognitif umum merupakan proses mengidentifikasi makna, persepsi, interpretasi dan penilaian untuk mengevaluasi dengan sistematis sejauh mana seseorang secara objektif menandai situasi yang menimpa dirinya. Skema negatif dalam teori kognitif di atas terkait dengan skema gangguan kejiwaan yang mengandung informasi negatif tentang kegagalan, kehilangan dan berakhir dengan keputusasaan. Sehingga individu yang tertekan, secara kognitif lebih mementingkan pemrosesan informasi negatif. Dalam hal ini, skema kognitif negatif tidak selamanya aktif. Tergantung pada pengalaman seseorang dalam memproses informasi negatif atau positif atas situasi yang menimpa dirinya.

Paradigma kognitif dalam pembentukan awal skema negatif terhadap suatu gejala gangguan kejiwaan tertentu tidak terlalu dijelaskan secara detail. Akan tetapi, hal yang membedakan dalam paradigma kognitif adalah pikiran memiliki status kausal; pikiran dianggap menyebabkan fitur lainnya dari gangguan, seperti kesedihan[6]. Albert Bandura, teoris kognitif-behavior terkemuka, berargumentasi bahwa banyak terapi lainnya menghasilkan perbaikan dengan meningkatkan self-efficacy pada para klien, yaitu suatu keyakinan bahwa mereka dapat mencapai tujuan yang diinginkan[7]. Sehingga upaya terapi kognitif dianggap secara langsung dapat menghasilkan perbaikan emosi dan perilaku.

Suicidal Ideation dan Hilangnya Makna Hidup

Pada dasarnya, seseorang yang putus asa belum sepenuhnya menyerah pada dirinya sendiri, tetapi ia hampir melakukannya. Ibarat seseorang yang hampir tenggelam di tengah lautan lepas, dan siap mencoba apa saja untuk melarikan diri – ia berada di ambang jurang antara hidup dan mati. Dalam perilaku bunuh diri, seseorang yang terperangkap tanpa daya akan mengalami ketakutan yang terus menerus menghampirinya. Kondisi yang menyakitkan tersebut, sejauh seseorang dapat mengambil tindakan untuk menghindarinya maka bahaya atas perilaku negatif dapat dikuasai.

Dalam niatan bunuh diri, keputusasaan total bukanlah satu-satunya penyebab murni yang muncul dalam diri seseorang. Apabila itu mempengaruhi, hal tersebut adalah yang kompleks. Seseorang yang putus asa menganggap bahwa situasi yang menimpa dirinya sudah tidak dapat ditoleransi dan tidak memiliki jalan keluar di dunia ini[8]. Pengaruh yang tidak dapat ditoleransi tersebut mengganggu kemampuan kognitifnya – tidak dapat berpikir jernih[9]. Banyak upaya bunuh diri yang tidak lebih dari upaya sihir yang berakar dalam fantasi khayalan bahwa dalam kematian seseorang akan berada di tempat yang lebih baik[10].

Karena itu, keputusasaan sering menyebabkan seseorang mengalami ketidakberdayaan total. Apabila seseorang menilai tidak ada jalan keluar dan memutuskan untuk berhenti berharap, pada fase ini, ia telah kehilangan harapan dan menjadi sebab keputusasaan. Di titik inilah, seseorang tidak mampu mengatasi setiap situasi yang menimpa dirinya. Akibatnya, ia sering gagal memaknai setiap peristiwa dalam kehidupannya.

Apabila telah hilang makna tragedi dalam kehidupan seseorang, maka telah hilang makna nilai-nilai yang ada dalam dirinya. Hilangnya makna diri, menyebabkan hilangnya nilai dan martabat kemanusiaan seseorang. Pada fase ini, seseorang telah kehilangan kesadarannya sebagai manusia yang berharga. Kehilangan kesadaran terhadap keberadaan dirinya, membuat seseorang kehilangan sumber kualitas dirinya untuk memaknai antara “Aku”, “Dunia” dan “Dimensi-Nya”. Ia telah kehilangan kapasitas dirinya untuk menggambarkan simbol-simbol kehidupan sebagai titik pijak dalam menentukan dan menjalani hidup. Pada titik ini, makna hidup telah hilang dalam diri seseorang – yang kemudian ketika menghadapi  setiap masalah yang tidak bisa ditolerir, ia akan terdorong untuk melewati ambang pintu.

Kesadaran memaknai hidup adalah sebuah pengalaman berharga bagi seseorang. Terlebih jika karunia-karunia tersebut tercapai setelah seseorang berhasil melewati krisis-krisis batin dalam hidupnya – kecemasan, ketakutan, kegagalan dan keputusasaan sebagai akar penyakit pada diri manusia di abad 21 ini. Kita semua akan mencoba memahami secara singkat bagaimana penyakit mental sering menghampiri seseorang.

Gambar 1.2 skema pembatas antara zona nyaman dan bukan zona nyaman

Di dalam hidupnya, seseorang memiliki pilihan untuk memutuskan akan berada di zona nyaman atau bukan zona nyaman. Di antara kedua zona tersebut, terdapat dinding pembatas yang akan membuat seseorang banyak belajar dan mengalami hal-hal baru. Apabila seseorang berhasil melewati dinding pembatas tersebut, ia akan masuk ke dalam wilayah baru yang sebelumnya sama sekali tidak dikenal. Wilayah di mana seseorang akan menemui banyak rintangan, melakukan kesalahan, ketegangan, kecemasan, dan ketakutan.

Untuk berani keluar dari zona nyaman dan menghilangkan stres karena pilihan-pilihan, kunci utamanya adalah seseorang harus siap melakukan hal-hal yang telah diputuskan. Dalam fase ini, akan selalu ada perjuangan dalam pikiran, dan hanya bisa tercapai jika seseorang siap melakukannya. Apabila seseorang mulai terbiasa dengan kegagalan, ketakutan, dan kecemasan dalam hidupnya, ia akan mudah mengatasi stresor yang menumpuk dalam pikirannya. Sehingga reaksi emosional yang tercipta akan stabil dan mudah untuk diarahkan ke hal-hal positif.

Sejatinya, pikiran seseorang memberikan kekuatan yang luar biasa dalam mempengaruhi perasaan dan perilakunya. Perasaan cukup seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang telah dicapai dalam hidup. Tetapi terletak pada interpretasi seseorang yang menganggap bahwa yang dilakukannya berarti dan keberadaan dirinya adalah berharga. Karena apa artinya jika telah melakukan banyak pencapaian tapi dirinya tetap merasa kosong?

Upaya menghilangkan pikiran negatif dan mengimbanginya dengan pikiran alternatif itu perlu. Jangan mudah menyerah pada diri sendiri ketika terjerembab dalam rasa sakit yang mendalam. Seseorang perlu melindungi dirinya dari informasi yang tidak berguna dan berlebihan. Fungsinya agar seseorang tetap waras! Pada titik ini, seseorang hanya perlu mengenal dirinya lebih baik – menerima setiap kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirinya.

Catatan Akhir


[1] Hendin et. al dalam John T. Maltsberger, 2018, Traumatic Subjective Experiences Invite Suicide:153, Springer, Switzerland

[2] Davison C. Gerald dkk, 2006, Psikologi Abnormal: 74, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta

[3] Ibid. Hal: 74

[4] Ibid. Hal: 74

[5] Beck dalam Davison Gerald C dkk, 2006, Psikologi Abnormal: 74, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta

[6] Davison Gerald C dkk, 2006, Psikologi Abnormal: 77, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta

[7] Ibid. Hal : 78

[8] John T. Maltsberger, 2018, Traumatic Subjective Experiences Invite Suicide:154, Springer, Switzerland

[9] Ibid. Hal : 154

[10] Ibid. Hal : 154

Sumber gambar: psychologytoday.com

Seni Sedang Kehilangan Arah, Politik Harus Menangkapnya: Wawancara dengan Jacques Ranciere

0
ranciere

Jangkauan refleksi filsuf Perancis Jacques Rancière melingkupi sastra, film, pedagogi, historiografi, sejarah proletar dan filsafat. Dia menjadi kesohor ketika ikut nimbrung dalam Lire le capital (1965) bersama Althusser, tak lama setelah itu, ia menerbitkan kritik keras terhadap Althusser dalam La Leçon d’Althusser (1974). Rancière adalah Profesor Emeritus Filsafat di Universitas Paris VIII (St. Denis), hingga kini ia masih terus mengajar, sebagai profesor tamu di sejumlah universitas, termasuk Rutgers, Harvard, Johns Hopkins, dan Berkeley. Tema yang terus disampaikan dalam karya Rancière adalah menangkap hubungan antara politik dan estetika, dan berbagai maknanya dalam konteks yang berbeda. Banyak dari karyanya dapat dicirikan sebagai upaya untuk memikirkan kembali dan menumbangkan kategori-kategori, disiplin dan wacana politik/filsafat. Pada 30 Oktober 2007, terjemahan bahasa Belanda dari Le partage du sensible dan L’inconscient esthétique dipublikasikan di Amsterdam.[1] Pada kesempatan ini Sudeep Dasgupta* mewawancarai Rancière tentang pengalaman sensori, intrik antara seni dan politik, dan perannya sebagai suatu bentuk pengacauan tatanan (disturbance).

Momen pertama dalam karier intelektual Anda adalah perjumpaan Anda dengan Louis Althusser dan Marxisme, khususnya terkait gagasan bahwa filsafat memiliki fungsi yang kuat dalam mendefinisikan atau membedakan posisi sains dari ideologi; filsafat terkait erat dengan definisi sains yang ketat, definisi yang menghasilkan konsep. Anda membuat pengaruh besar dengan esai penting Anda tentang kritik pada Marx. Setelah itu, Anda berpaling dari cara berpikir khusus filsafat dan menekuni arsip sejarah, terutama untuk meneliti gerakan buruh abad ke-19 di Prancis. Apa yang memotivasi peralihan dari filsafat lalu menekuni arsip, yang mana bukanlah pilihan umum yang diambil para filsuf? Apa yang Anda harap temukan di sana? Bisakah Anda menghubungkannya dengan bagaimana karya Anda dikembangkan selanjutnya?

Saya bukan filsuf pertama yang memutuskan untuk menekuni arsip. Tentu saja sudah ada yang melakukan itu, contohnya Foucault. Dia melakukan sesuatu yang sangat mengejutkan untuk generasi saya; berkat dia pertama kalinya sejarah kegilaan muncul. Karya macam apa itu? Sebuah buku seorang filsuf dan semua pertanyaannya terkait kaum miskin, obat-obatan, dan rumah sakit jiwa. Sudah ada model semacam ini dan saya pikir bukanlah acuan yang buruk. Kedua, berkaitan dengan gerakan kiri ’68; adanya gerakan ini menjadi jelas bahwa ada yang salah dengan gagasan bahwa orang-orang dieksploitasi dan dikuasai karena mereka tidak tahu hukum eksploitasi dan dominasi; jadi sains ada di sana untuk memberi mereka pengetahuan akan apa yang ingin mereka ketahui. Ada semacam lingkaran setan: rakyat tidak dapat memahami tempat di mana mereka berada dalam sistem akibat hukum sistem yang menyembunyikan dirinya sendiri. Lingkaran itu semacam tautologi. Sains seharusnya membebaskan rakyat biasa dan memberi mereka pengetahuan untuk membebaskan diri mereka, tetapi sains malah menjelaskan soal apa yang seharusnya rakyat abaikan, yaitu, bahwa sains mampu menjelaskan kenyataan posisi mereka. Rakyat didominasi karena mereka bodoh dan mereka bodoh karena mereka didominasi (sistem, sains).

Jadi yang saya coba lakukan adalah mendapatkan ide berbeda tentang lingkaran setan itu. Pertama, tentu saja, saya memiliki semacam ide: mari kita pergi ke arsip untuk melihat realitas gerakan sosial, gerakan pekerja; mari kita cari sosiologi pekerja, gerakan pekerja, pemikiran pekerja dan emansipasi pekerja.

Tetapi yang tampak pada saya dalam penelitian ini adalah bahwa tidak mungkin membandingkan sesuatu seperti pemikiran ‘autentik’ pekerja dengan pemikiran Marxis. Mustahil untuk menyimpulkan gerakan buruh, sosialisme dan revolusi dari pengalaman hidup yang bersumber dalam budaya populer dan sebagainya. Kenapa tepatnya? Karena lingkaran setan itu tadi. Belum lama ini, Ruth Sonderegger menjelaskan mirip dengan cara Plato menguraikan segala sesuatu tentang kondisi pekerja.[2] Menurut Plato, pekerja harus mengurusi urusannya sendiri. Mereka tidak mampu melakukan hal lain selain urusan mereka sendiri karena dua alasan. Alasan pertama karena mereka tidak punya waktu. Kedua, mereka hanya memiliki kecakapan (aptitude) yang sesuai dengan apa yang mereka kerjakan saja, maka sama halnya dengan mengatakan bahwa mereka tidak memiliki kecakapan apapun di bidang lain. Mereka memiliki kecakapan untuk melakukan ini, berada di tempat ini, dan berada dalam ruang-waktu ini –yang tentu saja merupakan kebalikan dari pengucilan mereka. Yang menarik bagi saya, dan apa yang saya temukan, bahwa kemungkinan emansipasi pekerja adalah mengubah lingkaran setan menjadi semacam spiral dengan keluar dari identitas pekerja yang bukan hanya suatu kondisi tetapi dunia seluruhnya yang bisa dicerap (sensible), dunia yang penuh dominasi dan eksploitasi. Kemungkinan Itu adalah soal apa yang bisa dilihat, apa yang bisa dicerap. Lalu, apa arti dari distribusi dunia yang dapat dicerap itu? Dunia macam apa yang diberikan kepada Anda, dan bagaimana Anda memahami dunia indra (sensory) yang terberi itu? Apa yang saya coba lakukan adalah membangun suatu jenis subjektivitas baru dari kolektivitas mereka. Artinya berarti bahwa kaum proletar memiliki kemungkinan untuk melepaskan diri dari apa yang disebut identitas pekerja, budaya pekerja, dan tubuh pekerja itu. Emansipasi adalah tentang menciptakan tubuh baru bagi diri mereka sendiri, dunia baru yang hidup. Dan sudah jelas bahwa masalahnya bukan karena mereka menyangkal kondisi mereka, tetapi mereka menyangkal kondisinya karena mereka mampu melakukannya. Membayangkan melakukan seolah-olah mereka tidak dalam posisi itu.

Ada teks terkenal dari Kant, Critique of Judgment, yang mengatakan bahwa penilaian estetika meminta kita hanya untuk memahami bentuk. Ketika berdiri di depan sebuah istana, tidak masalah jika istana tersebut dibangun dari keringat orang-orang miskin; kita harus mengabaikan itu, kata Kant. Saya pikir Kant benar. Pada saat yang sama saya menemukan sebuah teks yang ditulis oleh seorang tukang, seorang pelapis lantai,[3] dan dia menjelaskan dengan tepat apa yang dia lihat ketika dia meletakkan lantai di sebuah rumah orang kaya. Dia memutuskan untuk memperoleh persepsi estetika tentang ruangan, atau tentang sebuah taman, dari berbagai perspektif. Jadi dia memutuskan untuk melakukan seolah-olah dia memiliki pandangan yang tidak syarat kepentingan, dan bisa mendapatkan penilaian estetika, terlepas dari kenyataan bahwa dia dibayar rendah, bahwa dia bekerja untuk bos, dan bahwa dia bekerja untuk orang kaya.

Bagi saya ini penting. Posisi itu mengingatkan saya pada pandangan saya tentang estetika –estetika yang tidak terlanjur menjadi sosiologi seni tetapi sebagai bentuk pengalaman. Artinya, pengalaman keterputusan. Seperti yang telah dikonsepsikan oleh Kant dan Schiller: ada sesuatu yang selalu lolos dari kondisi normal pengalaman sensorik. Itulah yang seharusnya dipertaruhkan dalam emansipasi: keluar dari cara-cara biasa yang disajikan pengalaman indrawi. Pemikiran ini penting bagi gagasan saya tentang politik, bukan tentang relasi kuasa tetapi tentang kerangka dunia sensorik itu sendiri.

Di mana Anda memosisikan karya Anda? Pertanyaan ini telah menjadi masalah bagi banyak orang selama ini: Siapa itu Rancière? Apakah dia seorang filsuf? Apakah dia seorang kritikus sastra? Buku Anda mencakup bidang dari pedagogi, penulisan sejarah, filsafat, sinema dan sastra. Anda telah menempati posisi dalam filsafat dan estetika. Namun Anda telah dengan sangat kuat menyatakan bahwa Anda bukan seorang filsuf politik, juga bukan sejarawan seni. Apakah Anda akan mengatakan bahwa, selama  dekade berselang, telah condong atau lebih dekat ke disiplin ilmu tertentu, bisakah Anda katakan intinya karya Anda justru mengkritik disiplin tersebut dan jika demikian, bagaimana itu bisa dijelaskan? Tema sentral seperti apa yang sedang diusung?

Anda tertarik pada suatu objek dan mencoba memahaminya. Misalnya, Anda mencoba memahami bagaimana orang dapat mengubah kerangka keberadaan yang terindra –seperti yang terjadi dalam proses emansipasi. Lalu Anda pergi ke arsip, untuk melihat dokumen tentang kondisi pekerja, pemikiran pekerja, dan sebagainya. Pada titik itu Anda seharusnya berada di bidangnya sejarawan. Sejarawan bertanya kepada Anda: apa metode sejarah yang Anda gunakan? Anda harus menerapkan metode sejarah. Pertanyaan saya menjadi: apa itu metode sejarah? Anda hanya mencoba memahami sesuatu; oleh karena itu Anda pergi ke materi (arsip) yang dapat membantu Anda memahami. Kemudian Anda mencoba memahaminya / membuatnya masuk akal. Metode macam apa ini? Anda menggunakan otak Anda. Anda mencoba menemukan sesuatu dan menggunakan otak Anda untuk memahaminya. Metode sejarah memang berarti; Saya tidak mengatakan itu tidak berarti apa-apa. Artinya Anda harus berada di bidang ini, karena objeknya adalah sejarah sosial.

Pikiran pekerja adalah bagian dari kehidupan pekerja, pengalaman pekerja, ekspresi dari pengalaman itu. Ada seorang sejarawan sosial terkemuka yang membahas kelas pekerja di Prancis, ia membuat daftar pustaka tentang literatur terkait pekerja. Dan kebetulan buku saya dimasukkan ke dalam sub kategori ‘kesadaran budaya dan agama pekerja’. Metode yang tepat dari para filsuf, sosiolog, kritikus sastra, sama dengan ajaran Platonis: Anda harus mengurus urusan Anda sendiri. Tetapi, tentu saja, jika saya melakukan urusan saya sendiri, itu berarti saya harus melepaskan objek saya. Objek saya adalah orang yang tidak ingin mempertahankan urusan mereka sendiri.

Dari sudut pandang saya, tidak ada yang benar-benar bidang disiplin. Batas-batas disiplin hanya berarti: Anda tidak seharusnya keluar dari bidang ini. Untuk memahami pertanyaan, saya hanya harus melangkah ke luar. Saya harus mengumpulkan hal-hal yang tidak berjalan bersamaan. Yaitu teks Plato tentang kurangnya waktu pekerja, dan teks pekerja pada abad ke-19 –ribuan tahun setelah Plato- yang membahas dengan tepat apa artinya tidak punya waktu. Jadi jika saya ingin mengerti, saya harus melewati batas disiplin ilmu. Penggambaran batas-batas semacam ini adalah wajah lain dari prosedur dalam / rekomendasi otoritatif (inner prescription).

Ada dua jalan berpikir. Ada jalan berpikirnya orang miskin, yang merupakan ekspresi dari kondisinya. Dan ada berpikirnya seorang pemikir, yang membuat daftar pustaka dan yang mengatur kategori. Dan pemikir ini tahu dia dapat mencakup totalitas dan memahami bahwa dalam totalitas ini terdapat beberapa manifestasi pemikiran. Tetapi pikiran hanyalah ekspresi dari suatu kondisi. Jadi pada dasarnya ketika karya saya tidak masuk suatu disiplin, maka ia masuk upaya untuk melanggar batas-batas disiplin. Karena batas hanya ada di sana untuk mengatakan Anda tidak boleh melintasi batas itu, dan untuk mengatakan: ada dua jenis pemikiran, dua jenis makhluk yang berpikir. Apa yang saya coba tunjukkan adalah hanya ada satu jenis pemikiran dan bahwa setiap orang menggunakan otaknya sendiri untuk mencoba memahami sesuatu.

Jadi disiplin adalah fiksi, dan fiksi tidak berarti hanya khayalan. Fiksi berarti semacam konstruksi suatu wilayah dengan populasi, dengan bentuk-bentuk representasi indra, dengan cara-cara yang dibuat masuk akal. Fiksi juga politik, atau meta-politik. Jika Anda berpikir tentang sosiologi, misalnya, dan cara Bourdieu ‘menemukan’ habitus dan sebagainya, mengingatkan kita pada fakta bahwa sosiologi bukanlah sejenis sains yang jatuh dari langit pada waktu tertentu. Sosiologi adalah politik. Ia muncul pada abad ke-19, yaitu, setelah revolusi, karena ada kekhawatiran besar pada saat itu bahwa orang tidak lagi berada di tempat mereka, bahwa tidak ada lagi representasi umum yang menyatukan orang, tidak ada monarki, tidak ada agama, tidak ada feodalitas . Karena itu kita harus menemukan bentuk baru agregasi masyarakat dan bentuk-bentuk baru pemikiran kolektif. Dan dalam kasus ini, tentu saja, bentuk-bentuk baru anomi dan klenik, suatu bentuk pemikiran modern tentang emansipasi, tentang menjadi berbeda dari diri sendiri, harus disingkirkan.

Bagian dari semakin pentingnya karya Anda dan sambutannya yang hangat dari dunia seni, telah menjadi kritik yang sangat kuat terhadap jenis teleologi tertentu, semacam narasi sejarah tertentu, yang berjalan dengan sangat cepat, misalnya: realisme, modernisme, postmodernisme. Anda juga sangat kritis terhadap seni kontemporer yang mengaku politis, sampai-sampai sangat kritis terhadap kapitalisme, misalnya, dan fakta lain bahwa kita semua terperangkap dalam budaya konsumsi, dan Anda berpendapat bahwa ketika seni terus melakukan penolakan terhadap kapitalisme dengan cara seperti ini ia akan menjadi saksi ketidakberdayaannya sendiri. Anda menolak narasi realisme / modernisme / postmodernisme ini, dan Anda telah mengangkat tiga rezim: rezim etis, representatif, dan estetis. Rezim estetika sangat penting bagi banyak argumen Anda di berbagai bidang. Jika ada masalah dengan realisme / modernisme / narasi postmodernisme, dapatkah kita melihat rezim etis, representatif dan estetis sebagai semacam narasi sejarah paralel? Singkatnya, apakah Anda menolak satu narasi dan digantikan yang lain, atau adakah sesuatu yang spesifik tentang ketiga rezim ini yang membuat kita memikirkan kembali bagaimana cara berpikir tentang hubungan kita dengan sejarah? Apa yang saya maksud khususnya terkait kategori ‘rezim estetis’.

Masalah pertama saya dengan narasi realisme / modernisme / postmodernisme adalah bahwa mereka tidak membantu kita untuk memahami apa yang terjadi dalam seni dan dalam pengalaman estetik selama dua abad terakhir. Ambil contoh kasus realisme –dan dalam pembicaraan Bram Ieven tentang sastra[4]– apa signifikansi dari novel realistik di abad ke-19? Pembicaraan ini sama sekali bukan semacam puncak representasi karena akan mewakili segalanya dalam berbagai macam cara. Pemikiran semacam ini adalah perpecahan dengan sebuah rezim di mana hanya beberapa hal yang bisa dan harus direpresentasikan dengan cara tertentu. Jadi arti realisme bukanlah semacam imitasi fanatik terhadap kenyataan. Sebaliknya, yang dimaksud dengan novel realistik adalah gangguan terhadap cara dominan di mana realitas direpresentasikan. Jika kita berpikir dengan cara realisme bahwa setiap subjek itu baik, berarti pada akhirnya tidak ada subjek –yang sangat dipahami oleh Flaubert- bahwa semua subjek adalah setara dan pada akhirnya tidak ada subjek sama sekali. Persoalan ini penting bagi para novelis realis, maupun untuk seni abstrak. Tidak ada subjek yang penting sama sekali. Jadi pertentangan antara realisme, modernisme, dan postmodernisme adalah imajinasi palsu. Kita benar-benar harus menyingkirkannya. Ambil contoh misalnya, ide modernisme sebagai otonomi seni. Secara historis modernisme adalah sebaliknya: modernisme adalah gagasan bahwa seni harus berkomitmen untuk kehidupan modern, gagasan bahwa seni harus menciptakan bentuk-bentuk kehidupan –tidak ada lagi lukisan dan simfoni, dan sebagainya.

Bukan berarti saya ingin mengganti konsep dengan konsep yang lebih baik. Apa yang buruk tentang kategori-kategori itu bagi saya adalah mereka bersandar pada gagasan tentang keharusan historis. Terkait tiga rezim, saya mencoba mendefinisikan tiga bentuk fungsi. Tetapi ini tidak berarti: tiga tahapan sejarah. Rezim estetika adalah rezim di mana semua bentuk-bentuk itu dapat koeksis. Pada saat yang sama, rezim estetika ditentukan oleh bentuk pengalaman estetika tertentu. Tetapi pada dasarnya, rezim ini koeksis satu sama lain. Mari kita tengok gagasan tentang yang klasik. Gagasan ini adalah penemuan modern; sebuah penemuan rezim estetik. Sebelumnya, kita memiliki perbedaan antara yang kuno dan modern. Gagasan ‘klasik’ adalah untuk kualifikasi ulang dan penulisan ulang sastra kuno di masa sekarang. Pada abad ketujuh belas atau kedelapan belas tidak ada yang pernah bermain Sophocles, atau Aeschylus. Mereka dipuji, tapi tidak dipentaskan. Dan sekarang keduanya dipentaskan.

Intinya adalah bahwa rezim estetika memungkinkan bentuk-bentuk lama untuk hidup berdampingan dengan bentuk-bentuk baru. Sangat menarik jika Anda berpikir tentang sinema. Apa yang dilakukan sinema di tahun 1920-an dan 1930-an, dan khususnya di Hollywood, adalah untuk menemukan kembali definisi genre, dan pemisahan-pemisahan kategori lama menghilang. Misalnya, lihat pengarahan dari produser Hollywood yang hebat: gagasan bahwa sebuah plot harus seperti ini. Gagasan tentang aksi dan plot adalah sama dengan ide di abad kedelapan belas tentang teater. Gagasan ini juga berarti bahwa rezim estetik adalah rezim ambivalensi. Pengalaman estetik adalah pengalaman yang ambivalen. Pengalaman estetika diatur sebagai semacam gangguan. Dalam Kant dan Schiller, misalnya, ada semacam pengalaman yang dibedakan dari koneksi pengalaman biasa. Pada saat yang sama, kita tahu, terputus dari susunan hierarkis indrawi, keterputusan ini menjadi dasar dari ide revolusi baru dan ide komunitas baru di mana orang-orang sama sebagai makhluk yang indrawi dan tidak hanya sebagai warga negara. Jadi rezim estetik memberi bentuk baru pada pemikiran etis. Jelas bahwa seni revolusioner adalah semacam keraguan antara gagasan pengalaman estetika dan seni yang seharusnya menciptakan bentuk kehidupan baru dan menekan dirinya sendiri. Jadi yang saya coba lakukan adalah mengganti konsep teleologis dan keharusan historis, dengan kategori yang membantu kita untuk memahami keterjeratan logika yang berbeda-beda.

Mari kita beralih ke masalah seni yang politis atau yang dipolitisir. Adakah kriteria atau dasar yang valid yang dapat kita gunakan untuk menilai apakah sebuah karya seni bersifat politis atau tidak? Atau apa  yang politik dari karya seni tertentu? Tanggapan Anda adalah: tidak ada kriteria, hanya pilihan. Tetapi dalam pembacaan Anda terkait sinema (dalam “The General Line” karya Eisenstein misalnya) Anda berbicara tentang narasi yang ingin menghasilkan makna tertentu tetapi selalu terganggu atau dengan cara tertentu digagalkan oleh elemen dalam karya seni yang tidak-menandakan, yang tidak bisa dengan cepat dianggap berasal dari suatu makna. Jadi ada semacam permainan antara makna dan materialitas dalam sebuah karya seni. Menghubungkan argumen Anda itu, yang telah Anda tunjukkan dalam literatur dan juga di sinema, dapatkah Anda mengatakan apakah itu akan, jika bukan sebuah fondasi, menjadi cara untuk menilai apakah karya seni itu politis atau tidak? Apakah itu akan mengarah ke sana dengan menyoroti aspek makna dan interupsi ini? Apakah itu terkait dengan politik dan estetika?

Pertama-tama, kita tidak bisa menyertakan pertanyaan dalam konsep politik seni. Apa yang efisien bukanlah seni dalam dirinya atau seni untuk seni; seni adalah bagian dari distribusi yang indrawi –bagian dari konfigurasi ulang pengalaman tertentu. Apa yang penting dalam kasus emansipasi pekerja adalah kemungkinan waktu luang dan kemampuan untuk melihat lukisan, lebih dari sekadar kata atau lukisan tertentu. Orang-orang tidak terbebaskan oleh lukisan revolusioner. Tetapi mereka dapat memperoleh jenis tubuh baru, pandangan baru di luar kemampuan berbagai jenis lukisan. Ada sesuatu yang salah dengan gagasan bahwa efek politik harus ditempatkan dalam karya seni itu sendiri atau, khususnya, ditempatkan dalam niat seniman. Apa yang terjadi dalam rezim estetik seni adalah bahwa seniman menciptakan objek yang lepas dari kehendak mereka. Terkadang itu menyangkal kehendak mereka. Ada karya demokratis yang dibuat justru oleh seniman yang sama sekali bukan seorang demokrat.

Kedua, ada potensi politik di mana ada gangguan pada organisasi tertentu dari hubungan antara presentasi yang indrawi dan bentuk makna. Kita tahu bahwa ide ini diterapkan oleh seniman politik – seperti Eisenstein. Eisenstein memainkan permainan ganda: di satu sisi, Eisenstein bermain di kerasnya pengeditan dan pemotongan, pengorganisasian pengambilan gambar sebagai produksi makna. Dan pada saat yang sama, ia bermain pada sesuatu yang sangat berbeda. Ada semacam lirik dalam urutan The General Line yang jelas dipinjam dari tradisi lukisan Rusia. Mari kita melihat berulang kali pada seniman politik, yang bermain pada elemen yang mengganggu; Saya membayangkan tentang keterasingan di Brecht, tentu saja. Saya akan mengatakan keterasingan juga semacam permainan ganda, karena ada garis lurus semacam ini, Anda sebenarnya memilih sesuatu yang aneh; tetapi ketika Anda memilihnya, itu mengganggu pandangan yang indrawi.

Elemen yang mengganggu ini harus mengarah pada kesadaran bahwa ada sesuatu yang salah dengan tatanan sosial. Tetapi jelas tidak ada alasan untuk percaya bahwa gangguan sipil, sebagai akibatnya, akan mengarah pada kesadaran akan situasi politik dunia dan mobilisasi. Di satu sisi, pandangan Brecht tentang keterasingan bergantung pada teori alienasi Marxis; di sisi lain ia bergantung pada praktik surealis dan Dadais dengan unsur-unsur yang mengganggu. Tetapi dalam hal ini elemen yang mengganggu tidak mengarah pada bentuk khusus kesadaran atau mobilisasi. Politik unsur-unsur aneh ini selalu ambivalen karena makna dan penarikan makna. Ketika Anda melihat permainan ini, Anda dapat mendefinisikan politik estetika –menggunakan beberapa bentuk gangguan atau keanehan. Tetapi yang penting: Anda tidak dapat menentukan efeknya. Politik sastra, atau politik seni, tidak berorientasi pada konstitusi subjek-subjek politik. Politik seni jauh lebih berorientasi pada pembingkaian bidang subjektivitas sebagai ranah impersonal. Dengan cara tertentu, penafsiran politik dari ‘yang aneh’ dalam hal efek selalu semacam negosiasi. Seni sedang kehilangan arah. Dan politik harus menangkapnya. Masalahnya bukan apa yang harus dilakukan seniman untuk menjadi politis; pertanyaannya harus dibalik: apa yang subyek politik harus lakukan dengan seni?

Anda telah berbicara tentang konstitusi subjek sebagai bidang yang impersonal. Dalam buku-buku Anda, Anda telah membuat sangat jelas bahwa seseorang tidak dapat menempelkan sekumpulan kualitas tertentu kepada sekelompok orang, lebih tepatnya merupakan ‘rezim polis’. Tidak ada subjek revolusi yang ditentukan seperti saat dulu kala kita berbicara tentang kelas pekerja, dan sebagainya. Maka, dalam arti tertentu, teori Anda tentang subjek, yang akan terkait dengan praktik disensus, selalu dalam formasi dan hibrid. Hibriditas subjek menjadi sangat jelas dalam “The Nights of Labor”.[5] Pekerja-pekerja ini adalah pekerja, tetapi masalahnya mereka adalah sesuatu yang lain. Jadi, Anda telah mengembangkan teori tentang subjek sebagai yang hibrid, yang berubah-ubah, dan dengan cara mengembara- berkeliaran di tempat yang tidak boleh mereka jelajahi. Bagaimana Anda menghubungkan teori subjek ini dengan kebangkitan politik identitas, teori tentang identitas kita baik di dalam maupun di luar akademi? Salah satu bidangnya adalah studi postkolonial, di mana telah ada kritik yang sedang berlangsung tentang subjek terpadu dengan esensi tetap. Bagaimana perkembangan teori Anda tentang subjek di seluruh karya Anda berhubungan dengan beberapa cara-cara berpikir seperti ini?

Seperti yang mungkin Anda tahu, saya orang Prancis [tertawa]. Di Prancis tidak ada politik identitas, tidak ada studi postkolonial. Berarti saya tidak pernah harus menangani masalah-masalah sejenis yang sangat penting di negara lain. Topik itu diabaikan secara sistematis di Prancis. Jadi saya berurusan dengan pertanyaan tentang subjek tidak pernah merupakan upaya untuk mengatasi masalah politik identitas atau hibriditas, identitas pascakolonial dan sebagainya. Pada dasarnya saya tidak tertarik membuat teori tentang subjek. Ketika saya masih muda, pada masa Althusserianisme, ada pernyataan kuat tentang subjek yang terjerat atau terperangkap dalam tatanan simbolis dan kita akan tahu apa yang terjadi ketika subjek ingin keluar dari jebakan itu. Ketertarikan saya adalah mendefinisikan subjek dalam hal kapasitas dan bukan dalam hal ketidakmampuan. Dan juga saya tidak ingin mendefinisikan sifat subjek, tetapi proses subjektivitas. Ini tiga puluh tahun yang lalu; Saya ingin keluar dari deskripsi tertentu tentang identitas sosial seperti, misalnya, ide budaya populer, pemikiran pekerja, dan sebagainya. Apa yang saya coba definisikan adalah cara di mana setiap bentuk subjektivitas adalah bentuk dis-identifikasi. Tentu saja di sana Anda dapat melihat beberapa hubungan antara saya dengan identitas dan subjektivitas, dan masalah dalam studi postkolonial. Saya hanya mengambil perspektif yang berbeda. Tetapi saya tidak terlalu menyukai gagasan tentang hibriditas ini, karena tampaknya lebih merujuk pada konstitusi subjek daripada pada proses subjektivisasi.

Anda telah sangat kritis dalam banyak buku Anda tentang peralihan ke semacam politik yang direduksi menjadi negara, dan khususnya, tentang cara-cara di mana para ahli, filsuf, sosiolog, intelektual dan administrator lainnya menarik diri ke dalam sesuatu seperti aparatus negara yang kemudian mengklaim berfungsi sebagai demokrasi. Di sini, di Belanda, kami juga memiliki sejarah tertentu dari ‘partage du sensible’, yang merupakan ‘zuilensysteem’ atau yang disebut sistem pilar. Semua jenis kelompok mendapatkan ruang institusinya sendiri dan masyarakat terbagi rapi di antara semua komunitas ini. Sekitar akhir 1990-an yang mulai berantakan ketika diskusi seputar imigran mengemuka – khususnya imigran yang “tidak berpendidikan, lebih ke Muslim”. Ada serangan terhadap struktur masyarakat Belanda; serangan terhadap apa yang disebut elit di Den Haag. Hampir ada semacam upaya partisi ulang tentang apa arti masyarakat di sini. Sistem pilar buruk, elit salah; dan harus ada politik atas nama rakyat. Ada hal yang kabur dan tidak berbentuk yang disebut ‘rakyat’ tanpa subjek tetap. Mungkinkah perkembangan di Belanda ini dilihat sebagai contoh disensus? Dan apakah disensus memiliki kecenderungan politik? Bisakah Anda memikirkan ‘partage du sensible’ yang sayap kanan, atau yang tidak emansipatoris?

Saya sedang tidak berargumentasi untuk rakyat atau melawan elit. Saya berdebat tentang dua bentuk penataan komunitas. Logika polis versus logika politik tidak berarti elit adalah yang jahat dan rakyatnya baik. Apa yang saya coba bedakan bukanlah dua kategori populasi, tetapi dua fungsi logika. Logika polis adalah logika yang memisahkan kompetensi; bahwa ada kompetensi khusus untuk memerintah rakyat. Logika politik adalah logika kompetensi yang setara dari siapa pun. Jarang terjadi bahwa orang setuju dengan ide ini karena mereka berpikir bahwa ada bagian dari populasi yang jelas tidak kompeten dan harus dikesampingkan. Kita berada dalam situasi di mana ada semacam upaya oligarkis untuk menghapus panggung politik. Ketika tahap ini cenderung menghilang, Anda dapat melihat bentuk-bentuk organisasi baru yang aneh, atau restrukturisasi, dari komunitas dan hubungan antara yang sama dan yang lain, dan seterusnya. Bentuk ini terjadi di Prancis dengan berdirinya Le Pen. Apa dasar dari kesuksesan Le Pen? Justru kekosongan panggung politik: kemungkinan menghadirkan semacam karikatur atau penyimpangan politik atas nama rakyat. Tetapi pertanyaannya adalah: atas nama rakyat yang mana?

*Sudeep Dasgupta adalah Associate Professor di Department of Media and Culture, University of Amsterdam. Dia adalah editor buku Constellations of the Transnational: Modernity, Culture, Critique (Amsterdam / New York: Rodopi, 2007).

*Wawancara dalam Bahasa Inggris ditranskrip oleh Dirk Haen


[1] Rancière, J. (2007). Het esthetische denken. Amsterdam: Valiz

[2] Wawancara ini didahului oleh kuliah Ruth Sonderegger (University of Amsterdam).

[3]  Rancière, J. (1983) Louis-Gabriel Gauny. Le philosophe plébéien. (ed.) Paris / St. Denis, La Découverte/Presses universitaires de Vincennes.

[4] Wawancara ini juga didahuli oleh kuliah Bram Ieven (University of Leiden).

[5] Rancière, J. (1989) The Nights of Labor: The Workers’ Dream in Nineteenth-century France. Philadelphia: Temple University Press

Sumber gambar: autonomies.org

Sejarah Kerasukan: Bagaimana Manusia Memahami dan Menerima Dirinya

0
kerasukan

Sejarah kerasukan adalah sejarah tentang bagaimana manusia menerjemahkan segala hal yang ada dalam dirinya. Keyakinan bahwa manusia dapat dirasuki oleh roh, iblis, dan jin dapat ditemukan di berbagai budaya di dunia. Fenomena dirasuki tersebut dapat terjadi baik melalui persetujuan diri maupun tanpa persetujuan diri medium (mereka yang akan dirasuki). Pada penalaran tersebut, fenomena dirasuki yang melalui tanpa persetujuan diri medium, dianggap sebagai roh, iblis, atau jin yang memiliki efek negatif bagi tubuh medium, baik berpengaruh ke psikologis, emosional, maupun fisik[1]. Hal yang dianggap sebagai fenomena kerasukan tersebut dalam sudut pandangan tradisional merupakan sesuatu yang perlu untuk disembuhkan, dan umumnya melalui proses terapi pengusiran roh, iblis, atau jin dari diri medium, baik melalui ritus-ritus keyakinan maupun ritus-ritus adat-tradisi.

Pada fondasi keyakinan Islam, gejala-gejala yang terjadi pada diri manusia, seperti halusinasi, depresi, sukar tidur atau gangguan mental lainnya dianggap sebagai suatu serangan kekuatan dari luar diri manusia, yakni jin atau pun sihir yang dilakukan melalui perantara jin[2]. Dalam Islam, sihir merupakan tindakan atas suatu perjanjian dengan jin, yang akan mempengaruhi tubuh, jiwa, maupun pikiran seseorang, tanpa perlu untuk melakukan kontak fisik langsung atau bertemu dengannya[3]. Proses terapi pada pasien yang dianggap dirasuki oleh jin, dilakukan oleh seorang ustadz melalui terapi rukiahserta anjuran ritus-ritus tertentu[4].

Pasien yang dianggap dirasuki oleh jin diterapi melalui ritus-ritus tertentu dalam keyakinan Islam, seperti ajuran untuk taat melakukan ibadah serta membaca kita suci yang diyakini. Terapi melalui ritus-ritus tersebut dipercaya dapat menjauhkan jin dari diri manusia, meminta kesembuhan kepada Tuhan, serta memberikan perlindungan dari kekuatan negatif lain yang berasal dari luar diri manusia[5]. Sementara dalam kristinani, dalam literatur sejarah, dalam Perjanjian Baru surat Markus pasal 5 ayat 1 sampai 20 disebutkan bahwa, Kristus mengusir legiun iblis pada seorang manusia dan memulihkannya kembali pada jiwanya yang sehat[6]. Garis besar proses pengusiran dilakukan dengan tiga tahapan, yakni putusan atau menyalahkan iblis merasuki tubuh seseorang tanpa izin dari seseorang tersebut dan izin Kristus dengan tujuan yang baik, deliberasi atau membebaskan kembali secara utuh ke diri manusia tersebut dengan mengusir paksa sang iblis melalui pertolongan Kristus, dan terakhir adalah perayaan atau merayakan keberhasilan pengusiran iblis dengan mengagungkan kekuatan Kristus dan menghardik iblis atas segala upaya dan niat buruknya terhadap manusia[7].

Kerasukan dan kesehatan mental

Kerasukan menjadi hal lain jika dilihat melalui kacamata sains modern. Fenomena yang dianggap sebagai dirasuki oleh roh, iblis, atau jin tersebut, dalam psikiatri merupakan sebuah keadaan dari terganggunya kesadaran, identitas, atau pun laku seseorang pada waktu tertentu. Terganggunya kesadaran, identitas, atau pun laku seseorang dapat terjadi baik secara patologis maupun non-patologis. Bila dilihat dari sejarahnya, terdapat kaitan antara fenomena yang dianggap sebagai kerasukan roh, iblis, atau jin tersebut dengan gangguan kepribadian ganda (disociative identity disorder atau DID). Kaitan tersebut dapat dilihat pada keterangan Adam Crabtree yang menyatakan bahwa fenomena kesurupan iblis atau jin memiliki kecenderungan hubungan dengan gangguan kepribadian ganda dalam bukunya bertajuk “Multiple Man: Explorations in Possession and Multiple Personality” yang dipublikasikan pada tahun 1985. Akan tetapi yang perlu ditegaskan bahwa, dalam perlakuan tindakan terhadap penderita gangguan kepribadian ganda melalui terapi pengusiran roh, iblis, atau jin merupakan sebuah pseudoterapi[8] yang tidak bisa diuji keabsahan praktiknya serta dimungkinkan untuk menyakiti penderita gangguan kepribadian ganda[9]. Terlebih, tidak ada simtom yang jelas mengenai fenomena kesurupan iblis atau jin, atau pun cara mengenai metode pengusiran pasti yang dianggap sebagai iblis atau jin tersebut[10]. Keyakinan untuk mempercayai penderita gangguan kepribadian ganda sebagai suatu fenomena kerasukan iblis atau jin merupakan sesuatu yang tidak masuk akal, dan dianggap bahwa para pelaku praktik terapi tersebut gagal memahami adanya fenomena kepribadian ganda.

Kegagalan untuk memahami fenomena kepribadian ganda sebagai praktisi terapi yang berkaitan dengan gangguan mental tentu akan sangat membahayakan penderita gangguan mental, dan konsep roh, iblis, atau jin yang merasuk dalam tubuh penderita harus dikeluarkan secara paksa sampai dianggap berhasil, bahkan melibatkan koersi atau pemaksaan dari penderita dan tentunya berakhir sebagai objek belaka[11]. Bahkan perihal stigma atau label yang dilekatkan oleh masyarakat pada mereka yang menderita gangguan kepribadian ganda sebagai sesuatu yang berbahaya dan agresif[12]. Oleh sebab pada penderita gangguan kepribadian ganda, tentu setiap kepribadian yang menetap dalam diri memiliki penalaran, laku, dan sifat yang berbeda-beda, sehingga mungkin akan sangat sulit untuk mendapatkan persetujuan dari tiap-tiap kepribadian, terlebih bila tindakan yang akan dilakukan dapat mengancam keberadaan kepribadian tersebut[13]. Terlebih dalam proses pengusiran roh, iblis, atau jin, tidak terdapat standar prosedural yang jelas dan dapat diuji efektivitasnya sehingga dapat diperoleh metode yang bisa ditangguhkan keabsahannya, baik antar praktisi terapi maupun ritus-ritus kepercayaan atau pun ritus-ritus adat-tradisi[14].

Akan tetapi terdapat permasalahan etis dalam pemaksaan terhadap konsep kepribadian ganda modern oleh praktisi psikoterapi terhadap pasien kepribadian ganda yang memiliki sudut pandang dan kerangka pemahaman berdasar keyakinan beragama serta kultural. Dengan menegasikan konsep kerasukan iblis atau jin dan memaksakan sudut pandang gangguan yang dialami pasien sebagai gangguan mental kepribadian ganda tentu juga bermasalah secara etis[15]. Dalam kerangka tersebut tentu tindakan pemaksaan yang dilakukan oleh praktisi psikoterapi dengan praktisi terapi pengusiran roh, iblis, atau jin menjadi sesuatu yang serupa.

Suatu tindakan terapi agar dapat terjustifikasi secara etis diperlukan sebuah kesadaran untuk menerima nilai yang dibawa dalam sudut pandang pasien. Dalam kerangka penalaran tersebut tentu seorang praktisi terapi harus dapat menahan diri untuk mengintervensi dan mengubah sudut pandang pasien sesuai menjadi satu frekuensi atau satu pemahaman yang utuh dengan praktisi tersebut. Hal yang seharusnya dilakukan oleh praktisi terhadap pasien gangguan kepribadian ganda adalah untuk membuat pasien nyaman, membuka ruang dialog dengan pasien, dan membiarkan pasien mengeluarkan emotif yang membebaninya, serta menuntun pasien untuk dapat merefleksikan emotif tersebut kepada dirinya menuju arah yang lebih positif[16].

Pengandaian sederhananya, bila keyakinan kristiani atau Islam telah melekat dalam diri pasien dan pasien mempercayai adanya konsep roh, iblis, atau jin, tindakan yang perlu untuk dilakukan adalah menggunakan dan memberdayakan keyakinan tersebut dalam terapi, seperti mempertanyakan bila pasien percaya adanya konsep entitas atau bentuk lain yang memiliki kuasa di atas roh, iblis, atau jin, semisal konsep Yesus Kristus, Allah, atau malaikat. Bila respon pasien adalah positif dan mempercayai adanya konsep entitas yang lebih berkuasa daripada konsep roh, iblis, atau jin, keberlanjutan tindakan yang perlu dilakukan adalah meminta pada konsep entitas yang lebih berkuasa tersebut dalam kerangka keyakinan pasien, untuk mengangkatnya dari diri pasien.

Hal yang perlu digarisbawahi adalah seorang praktisi psikoterapi boleh saja bertahan dan tetap menjadi agnostik pada hal-hal spiritual di balik keyakinan pasien, namun kebergunaan serta kebermanfaatan dari upaya menerima atau rekognisi serta mendorong proses terapi ke hal yang positif bagi diri pasien melalui sisi keyakinan spiritualnya adalah hal yang tidak bisa dinafikan[17]. Terlebih bila itu dapat memberikan bermanfaat, akan sangat tidak masuk akal untuk menolak dan mengabaikannya hanya karena dianggap bertentangan dengan keyakinan atas hal-hal spiritual praktisi psikoterapi. Melalui stimulus tentang konsep positif tersebut melalui kesadaran diri untuk melawan, tentu diharapkan pasien dapat melawan konsep negatif dalam dirinya, bukan dengan koersi praktisi terapi[18]. Kerangka yang dipakai dalam penalaran tersebut adalah bahwa pilihan atas kata dan ucapan, terlebih berkaitan dengan fondasi keyakinan seseorang, dapat menjadi sebuah stimulus bagi seseorang untuk melakukan tindakan buruk seperti membunuh atau tindakan baik seperti memberikan rasa nyaman dan menguatkan[19].

Pemberdayaan keyakinan pasien dalam terapi yang ditujukan untuk melawan konsep negatif dalam dirinya melalui stimulus tentang konsep positif tentu sangat diperlukan dalam menangani gejala gangguan mental secara umum dan gejala gangguan kepribadian secara khusus. Terlebih upaya untuk memahami latar kultural pasien juga menjadi sesuatu yang penting, sehingga dapat mengetahui mana stimulus yang dapat dipergunakan dan membangkitkan kepercayaan pasien menuju arah yang positif bagi tubuh dan dirinya[20].

Tidak dapat dinafikan bahwa fondasi keyakinan seseorang terdapat dalam laku yang dijalani serta lingkungan ia berkembang, seperti ritus-ritus keyakinan serta ritus-ritus adat-tradisi, yang membentuk dan membangun pola penalarannya dalam bersikap[21]. Terlebih dengan memberdayakan keyakinan pasien dalam terapi melalui stimulus yang positif dapat memberikan rasa tenang dan dapat menurunkan kecemasan yang dialami oleh pasien akibat stresor atau faktor tertentu yang mengakibatkan tekanan dalam diri pasien. Sementara proses melawan konsep negatif dalam diri pasien melalui stimulus yang positif, pengalaman emosional tersebut akan membawa sebuah transformasi bagi diri pasien, seperti bagaimana ia akan lebih memaknai kehidupan yang dijalaninya, bahwa kecemasan yang dialami dapat terobati atau dilawan, serta bukan sesuatu yang melekat dan tidak dapat terobati[22].

Daimonic side: yang niscaya dan yang tak dikehendaki

Keberadaan kepribadian dalam penderita kepribadian ganda tidak dapat sepenuhnya dapat tersingkirkan. Oleh sebab kepribadian tersebut hadir dari tekanan emotif yang menumpuk atas suatu latar belakang tertentu di masa lalu, dan dimungkinkan hadir kembali saat tumpukan emotif tersebut terpicu atas suatu hal atau tindakan tertentu[23]. Terlebih dalam kesadaran setiap manusia dipercayai memiliki sisi yang disebut sebagai daimonic atau iblis, dan keberadaan hal tersebut dianggap natural sebagai bagian dalam diri manusia[24]. Segala tekanan emotif baik berupa rasa takut, fantasi liar, rasa bersalah, serta hasrat seksual tertentu yang pernah dipikirkannya dianggap berlawanan dengan kepribadian yang dimiliki akan disematkan dan terus ditekan, agar tidak mewujud dalam perilaku[25]. Banyak orang merasa takut dan tidak bisa menerima daimonic-nya sendiri, sehingga upaya menekan daimonic menjadi satu-satunya pilihan.

Pada akhirnya dapat dipastikan bahwa daimonic yang terlalu menumpuk suatu saat akan terlepas dan mewujudkan diri, serta menimbulkan simtom-simtom gangguan mental akibat rasa takut dan malu yang tidak tertahankan seperti cemas, gelisah, dan sampai hadirnya kepribadian lain sebagai upaya melawan atau menutupi hal tersebut. Berdasar penalaran tersebut tentu sebuah terapi yang dianggap baik adalah untuk memahami kepribadian tersebut, serta menyelami latar belakang yang menyebabkan kepribadian tersebut hadir dalam diri. Melalui ruang dialog yang aman dan nyaman (yakni proses terapi tidak melakukan stimulus koersif dan pasien mampu menerima kepribadian yang hadir untuk berkomunikasi dan berinteraksi menuju arah yang dianggap lebih baik) antara pasien dan praktisi terapi, kepribadian yang hadir dapat diajak berkomunikasi dan bekerja sama untuk kebaikan diri pasien.

Catatan Akhir


[1] Lih. Sanford, Joel R., 2016, “Facing Our Demons: Psychiatric Perspectives on Exorcism Rituals” dalam The Hilltop Review: A Journal of Western Michigan University Graduate Student Research, Vol. 8, No. 2, hal. 87.

[2] Lih. Razali, Zul A. dkk., 2018, “Complementing the Treatment of a Major Depressive Disorder Patient with Ruqyah Shar’iyyah Theraphy: A Malaysian Case Study” dalam Journal of Muslim Mental Health, Vol. 12, No. 2, hal. 49.

[3] Lih. Ibid, hal. 49.

[4] Lih. Ibid, hal. 50; Lih. Ahmad, Khadher dkk., 2016, “Pemahaman Terhadap Aspek Penggunaan Ruqyah dalam Rawatan Penyakit: Analisis Berasaskan Fiqh al-Hadith Imam Al-Bukhari” dalam Al-Bayan: Journal of Qur’an and Hadith Studies, Vol. 14, hal. 171.

[5] Lih. Ibid, hal. 171, 173-174.

[6] Dipahami sebagai “his right mind” dan diinterpretasikan dalam konteks keyakinan. Lih. Bull, Dennis L., 2001, “A Phenomenological Model of Therapeutic Exorcism for Dissociative identity Disorder” dalam Journal of Psychology and Theology, Vol. 29, No. 2, hal. 131.

[7] Lih. Kallendorf, Hilaire, 2005, “The Rhetoric of Exorcism” dalam A Journal of the History of Rhetoric, Vol. 23, No. 3, hal. 214-215.

[8] Dipahami sebagai “pseudotheraphy” dan diinterpretasikan sebagai tindakan terapi tanpa manfaat yang jelas, menyesatkan, atau bahkan mungkin sia-sia. Lih. Wulsin, Lawson R., 1985, “Psychotheraphy or Pseudotheraphy” dalam Jefferson Journal of Psychiatry, Vol. 3, No. 2, hal. 53.

[9] Lih. Bull, Dennis L., 2001, “A Phenomenological Model of Therapeutic Exorcism for Dissociative identity Disorder” dalam Journal of Psychology and Theology, Vol. 29, No. 2, hal. 132.

[10] Lih. Ibid, hal. 136.

[11] Lih. Ibid, hal. 132.

[12] Lih. Razali, Zul A. dkk., 2018, “Complementing the Treatment of a Major Depressive Disorder Patient with Ruqyah Shar’iyyah Theraphy: A Malaysian Case Study” dalam Journal of Muslim Mental Health, Vol. 12, No. 2, hal. 51.

[13] Lih. Bull, Dennis L., 2001, “A Phenomenological Model of Therapeutic Exorcism for Dissociative identity Disorder” dalam Journal of Psychology and Theology, Vol. 29, No. 2, hal. 137.

[14] Lih. Sanford, Joel R., 2016, “Facing Our Demons: Psychiatric Perspectives on Exorcism Rituals” dalam The Hilltop Review: A Journal of Western Michigan University Graduate Student Research, Vol. 8, No. 2, hal. 91.

[15] Lih. Bull, Dennis L., 2001, “A Phenomenological Model of Therapeutic Exorcism for Dissociative identity Disorder” dalam Journal of Psychology and Theology, Vol. 29, No. 2, hal. 134.

[16] Lih. Ibid, hal. 138.

[17] Lih. Sanford, Joel R., 2016, “Facing Our Demons: Psychiatric Perspectives on Exorcism Rituals” dalam The Hilltop Review: A Journal of Western Michigan University Graduate Student Research, Vol. 8, No. 2, hal. 92.

[18] Lih. Bull, Dennis L., 2001, “A Phenomenological Model of Therapeutic Exorcism for Dissociative identity Disorder” dalam Journal of Psychology and Theology, Vol. 29, No. 2, hal. 135.

[19] Lih. Kallendorf, Hilaire, 2005, “The Rhetoric of Exorcism” dalam A Journal of the History of Rhetoric, Vol. 23, No. 3, hal. 236.

[20] Lih. Razali, Zul A. dkk., 2018, “Complementing the Treatment of a Major Depressive Disorder Patient with Ruqyah Shar’iyyah Theraphy: A Malaysian Case Study” dalam Journal of Muslim Mental Health, Vol. 12, No. 2, hal. 50-51.

[21] Lih. Ibid, hal. 52.

[22] Lih. Qodariah, Siti, 2015, “Pengaruh Terapi Ruqyah Syari’iyyah Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan” dalam SCIENTICA, Vol. 2, No. 2, hal. 32.

[23] Lih. Gettis, Alan, “Psychotheraphy as Exorcism” dalam Journal of Religion and Health, Vol. 15, No. 3, hal. 189.

[24] Lih. Ibid, hal. 189.

[25] Lih. Ibid, hal. 189.

Sumber gambar: bookmyshow.com

World Religions in the Age of Transhumanism: A Comparative Study of Islam and Buddhism

0
transhumanism

The biggest challenge faced by religion in this century is the enhancement of science and technology which are increasingly narrowing the role and function of religion in human life. Today, for example, we trust Google’s weather forecast more than a rain handler (pawang) when organizing events; we trust nanotechnology more for cancer therapy than miracles; or even we prefer to go to the doctor to do the IVF program rather than pray continually as was done by Hajar, Abraham’s wife. These facts make studies in theology compete to offer answers that enable religion to be rationally maintained. Starting from the independence approach based on non-overlapping magisteria argumentation; that religion and science have a completely different realm, to the integrative approach which tries to affirm that science and religion can go hand in hand.

Such debates have actually taken place since the Copernican Revolution in the 16th century which ended the church’s creed with the marked collapse of the geocentrism view which was then replaced by heliocentrism. The religious authority—which was represented by the Church—was later shaken by Darwin’s theory of evolution which went against the doctrines of creationism which at that time were the main doctrines of Christianity. Today, the position of religion is again at stake in the enhancement of science and technology which was built underneath a large umbrella called transhumanism.

We can say that transhumanism is likely the culmination of human civilization, if it really can be realized. The big goal of transhumanism is how to create immortal humans by merging them with technology through genomics, pharmaceuticals, nanotechnology, robotics, artificial intelligence, and several numbers of prosthetic devices. It sounds exceedingly utopian and almost unbelievable, but it does make sense theoretically. We can easily find human organs that are replaced by robots (cyborgs) today; prosthetic arms, legs, eyes, etc. (Mercer, 2015: v). The project of mind uploading into the computer led by Elon Musk has also begun to find a bright spot. It is completely possible that we will be able to live forever, or at least much longer, even without a biological body.

With those in mind the eschatological doctrine of religion, especially world religions, then becomes very problematic. We have to question several concepts such as destiny, death (ajal), nirvana, heaven and hell, etc.; are those concepts still relevant? In short, to what extent can religion still be relevant if transhumanism is completely realized and reaches the singularity between human and technology? It is in these questions that this paper will be argued by taking a comparative study between Islam and Buddhism, both of which have fundamentally different concepts of theology and eschatology.

Transhumanism and Buddhism on overcoming Dukkha

One of the reasons why Buddhism became a religion which is quite important to propagate in the narrative of transhumanism is because of the basic teaching of Buddhism which teaches the four noble truths about Dukkha; the fact of dukkha, causes of dukkha, the end of dukkha, and the path to liberation from dukkha. In Buddhism, dukkha is a fundamental fact of life that cannot be denied because it is a facticity that humans have to embrace. Life is dukkha because we all are born in a factual world; limited, imperfect, sick, mortal, and unsatisfied (Hansen, 2008: 8).

It is in the problem of dukkha that transhumanism gives concrete answers in a sense that it is based on the assumption of materialism. Transhumanism with all forms of enhanced technology is aimed at the same goal, namely to overcome existing dukkha due to the stretching of human desire and limitations. Pain that human suffers is diminishing with the help of technology that enables humans to transcend their biological limitations. It makes sense to suppose that when we can get rid of all sufferings with biomedical technology given by transhumanism then we do not need Buddhism any longer.

However, the answer given by transhumanism is not enough because there are two reasons that make dukkha exist; tanha (endless desire) and avijja (ignorance) (Hansen, 2008: 8). Transhumanism, I argue, only overcomes the last cause, namely dukkha caused by human ignorance that we can actually overcome all kinds of biological suffering with the help of science and technology. So far, transhumanism in all of its narratives has not provided answers on how to overcome dukkha caused by unlimited desire.

Buddhism clearly has the answer to how humans escape from dukkha through the Hasta Ariya Magha path, or the Eight Noble Paths; right view, right thought, right speech, right action, right livelihood, right effort, right mindfulness, and right concentration. The eight noble paths, in Buddhism, are considered to be able to bring humans into Nirvana, a condition in which dukkha ends because of the cessation of greed (lobha), hatred (dosa), and delusion (moha) (Hansen, 2008: 9).

Transhumanism and Islam on the concept of death

An American broadcaster, Larry King, once stated that the only reason religion still exists is death. If there is no death, religion is no longer needed (Trothen, et.al., 2017: 286). It is in this assumption that we can surely understand how the narrative of transhumanism with the ambition to overcome death can be the most problematic for the existence of religion. There are only two answers that can dismiss the problem: religion is not only a matter of after life or transhumanism is not possible to realize an immortal human.

So far, only the first answer can be examined because the transhumanism project has not yet been completed. Therefore, an important question that can be asked is whether religion is still relevant if there are no more deaths? In the basic foundations of Islamic teachings, the question is obviously very fundamental and substantial. Almost all Islamic teachings, from theology to even morality, are all based on their belief in the Day of Judgment; “Then Allah will punish him with the greatest punishment. Indeed, to Us is their return, then indeed upon Us is their account (Sura Al Ghasyiyah: 24-26)”. Then the question, what is the rest of the teachings of Islam based on?

If we want to try to accept the second answer in which the immortality offered by transhumanism is impossible, Islam is still confronted with the problem of litigation on the Day of Judgment. It is believed in Islam that humans will be resurrected after death with complete bodies so that their bodies can give the witness when humans live. The question is, what about cyborg humans, whose limbs can be replaced many times with robots, or what about organ transplants; who is responsible for the sins of organs transplanted from other humans?

The only way for Islam to remain relevant in the technological age is to radically interpret the concepts in Islamic teaching; heaven-hell, sin-reward, fate, death, etc. This is in line with what was stated by Aisha Y. Musa (Maher, et.al, 2009: 128) that when Radical Life Extension (RLE) and potential immortality comes true, we need to redefine all eschatological concepts in Islam radically.

What is left from religion?

Many predict that religion will no longer be relevant when humans are fully rational and science has given all the answers that religion cannot do. From classical thinkers like August Comte to new atheism figures; Sam Harris, Richard Dawkins, Daniel Dennet, they expressed the same thing optimistically that one day humans will leave religion. But in reality, after hundreds of years, Comte proposed his social postulate, there have not been any significant signs that religion has begun to be abandoned.

Thus, we come to the question of what science and technology cannot provide and can only be obtained from religion. If we agree with Larry King’s statement that the root of religion is fear of death and the days after, the logical consequence when immortality can be achieved by transhumanism then religion will no longer be relevant. However, as I have explained above about the second noble truth of Buddhism, namely tanha as a cause of human suffering in my consideration is an important key where Buddhism will remain relevant as long as desire is still inherent in human beings. The only offer given by transhumanism to overcome desires is through biomedicine which requires a person to take drugs such as analgesia to quell these desires. However, this has the potential to generate new desires, namely the desire to take the drug itself. That is why it is called endless desire.

From that point, I can firmly conclude that the important things from religions that make them remain relevant are the psychological spheres offered, namely the meaning of life which is actually full of dukkha; suffering, disappointment, etc. And this is a big problem for Islam, which most of its teachings are built on the foundation of ‘fear’ (taqwa) towards God, the last day and the day of retribution.

“You who believe! If you have fear of God, He will give you a criterion (by which to judge between right and wrong) and erase your bad actions from you and forgive you. God’s favor is indeed immense. ”

(Sura Al-Anfal:29).

Unlike Buddhism which can be said having no concept of divinity and the hereafter, Islam needs to radically redefine the entire foundation of its teachings in order to remain relevant in technological enhancement that can give the answers for those fears.

Apart from many things that must be redefined, Islam actually also has important teaching that makes it possible to remain always relevant, namely about tawakal. Tawakal means resting and relying fully on whatever happens to God. The teaching is almost in line with the condition of nirvana in Buddhism which is illustrated by the absence of greed and hatred because by being tawakal, the mind is conditioned to accept whatever happens. If Buddhism calls this state of mind as enlightenment, in Islam it is called nafsul mutmainnah (a soul illuminated by light).

That is what remains of religion, I argue, that would be still relevant when the singularity between human and technology comes true. As Karen Armstrong once stated in The Case for God, the task of religion should not overcome the problem of logos which is the realm of science. The task of religion is like art which gives meaning to a life filled with disappointment, despair, and suffering. Within such a framework of understanding, religion will always be relevant regardless of how science and technology are able to give humans unlimited abilities. Science and technology can never give a reason why life is meaningful to be lived.

References

Hansen, Upa. Sasanesena Seng. Ikhtisar Ajaran Buddha. Yogyakarta: Insight Vidyasena Production, 2008.

Maher, Derek F. and Calvin Mercer (ed.). Religion and the Implications of Radical Life Extension. Macmillan: Palgrave, 2009.

Mercer, Calvin and Tracy J. Trothen (ed.). Religion and Transhumanism: The Unknown Future of Human Enhancement. California: Praeger, 2015. Trothen, J. Tracy and Calvin Mercer (ed.). Religion and Human Enhancement: Death, Values, and Morality. Macmillan: Palgrave, 2017.

Featured image: interestingengineering.com

Demokrasi: Antara Persetujuan dan Perselisihan

0
disensus

Book review: Sri Indiyastutik. Disensus: Demokrasi sebagai Perselisihan Menurut Jacques Rancière. Buku Kompas, 2019.

Tak ada yang bisa menyangkal bahwa Indonesia saat ini adalah negara yang menerapkan sistem Demokrasi, terutama setelah satu masa otoritarianisme Orde Baru dilewati. Meskipun pada kenyataannya demokrasi seperti memasuki ruang buntu yang gelap dan masyarakat cenderung bosan dan apatis. Romo Setyo mengatakan bahwa meskipun kita telah 21 tahun berdemokrasi, namun karena absennya partai kiri yang diberangus pada masa Orde Baru, kini demokrasi hanya menjadi ajang pertarungan rebutan kuasa kaum oligarki, entah itu oligarki militer atau oligarki trah keluarga dan identitas serta agama. (hal, VIII) 

Padahal,  bisa kita lihat demokrasi yang keluar sebagai pemenang setelah masa perang dingin pada 1990 ini dinilai sebagai sistem yang ideal. Akan tetapi, kini demokrasi hanya menjadi ajang wacana partai kanan (kaum demokrat konservatif) versus partai kiri (kaum demokrat progresif). Sementara itu, di Indonesia sendiri kita tahu bahwa politik identitas sedang dan telah dimainkan oleh para politisi.Hal ini juga yang terjadi di seluruh dunia dan yang menjadi pertanyaannya kemudian apakah kita mengamini jalur ini yang jelas-jelas akan mematikan demokrasi? 

Kita bisa melihat itu semua memang sedang terjadi di Indonesia, dari mulai sentimen agama, etnis, ideologis, dan tawaran lainnya sebelum pilpres hingga pasca-pilpres dan kue kekuasaan itu kini terbagi-bagi. Hal inilah yang disebut oleh Romo Setyo Wibowo kendati mengusung nafas demokrasi, tapi pada praktiknya berpolitik oligarkis, yakni usaha untuk mengeraskan tatanan sosial dari gangguan.

Pada akhirnya apa yang mesti dilakukan setelah kini yang disebut-sebut sebagai partai/tokoh oposisi bergabung ke dalam satu barisan kekuasaan? Atau jangan-jangan memang tidak ada oposisi par excellence sehingga demos hanya dihitung sebagai angka statistik dan suaranya hanya didengar ketika kampanye berlangsung. Kemudian, masih mungkinkah kita membicarakan demokrasi dan politik yang diidealkan sebagai kebebasan individu dan kelompok untuk berbicara dan memiliki hak dan kesempatan yang sama dan setara, tidak ada yang lebih tinggi dari siapapun?

Pada titik itulah pemikiran Jacques Rancière menarik menemukan relevansinya untuk melihat fenomena demokrasi, politik, tatanan sosial, dan kesetaraan di Indonesia. Melalui buku Sri Indiyastutik, DisensusDemokrasi sebagai Perselisihan Menurut Jacques Rancière, penulis mencoba untuk menggali ide-ide dari filsuf asal Prancis tersebut.

Demokrasi Sebagai Disensus

Secara umum demokrasi dapat dipahami sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Pengertian tersebut diwujudkan dalam bentuk pemerintahan yang menganut sistem perwakilan; ada partai politik; lembaga pengawasan; tata aturan hukum untuk mengatur pemerintahan dan warga negara; ada rakyat pemberi mandat; dan ada juga demokrasi langsung dalam skala komunitas kecil. Sementara itu, Indiyastutik menulis, politik secara umum dipahami sebagai segala sesuatu yang terkait dengan upaya partai atau sekelompok orang untuk mempertahankan, merebut, dan mempengaruhi kekuasaan dan atau kebijakan negara. (hal, 26-27) 

Dari titik itulah Jacques Rancière mengkritisi empat persoalan: kesetaraan, demokrasi, politik, dan orang-orang yang menjadi bagian dari tatanan sosial, tetapi tidak dilihat sebagai bagian yang kemudian akan mengarahkan kepada ide filsuf tersebut tentang “kesetaraan pada setiap orang dengan semua orang.” Rancière menyuarakan demokrasi, meskipun menurutnya kehidupan sehari-hari kita ada di dalam tatanan sosial oligarkis. Tapi hal itulah yang justru memungkinkan politik ala Rancièredan demokrasi berlangsung. Sebab negara telah menyiapkan perangkat dan strategi tanpa harus khawatir stabilitas negara terancam.

Tatanan sosial itu sendiri memang telah dibentuk sedemikian rupa oleh penguasa untuk menertibkan masyarakatnya. KemudianRancière menegaskan bahwa seharusnya di dalam tatanan sosial apabila muncul ketidaksepakatan dalam kehidupan bernegara bukanlah sesuatu yang perlu dihindari dan tidak perlu dipaksakan untuk menjadi kesepakatan. Sebab, dalam pemikiran Rancière, tatanan sosial yang diidamkan sebagai bentuk keharmonisan dan keselarasan yang diinginkan oleh pemerintah terhadap rakyatnya melalui kesepakatan dari atas ke bawah, justru merupakan kemungkinan untuk memunculkan sebuah gangguan dan memungkinkan adanya suplemen baru dalam tatanan sosial dari bawah.

Hal ini juga sependapat dengan Majid Makki, bahwa gagasan Rancière tentang politik yang dilakukan oleh mereka yang tidak dihitung (demos) adalah untuk mendorong atau lebih tepatnya keberanian demos sebagai subjek universal untuk bertindak memverifikasi kesetaraan di dalam tatanan sosial yang telah mapan (hal, 39). Kita harus pahami bahwa demokrasi dalam pemikiran Rancière ialah berupa tindakan perselisihan antara demos dan tatanan sosial untuk menguji kesetaraan. Demokrasi adalah konsistensi tindakan perselisihan antara orang-orang yang tidak dihitung dan dilihat dalam tatanan sosial yang telah mapan. 

Dengan kata lain, tidak ada hierarki di dalam demokrasi, dari mulai kepakarannya, kekayaannya, dan keningratannya. Sebab ia harus diletakkan pertama-tama kesetaraan akal budi pada setiap orang dan semua orang untuk membuat perselisihan tanpa adanya kekerasan dalam rangka menguji kesetaraan dalam tatanan sosial (hal, 39). Kritiknya terhadap tatanan sosial tersebut ia tunjukkan kepada Platon karena ia adalah filsuf politik klasik yang unggul (hal, 41).

Selain kritiknya terhadap Platon, ia juga mengkritik Aristoteles dan Karl Marx. Sebab, ketiga model pemikiran filsafat politik tersebut masih berkutat dengan pembagian-pembagian tatanan sosial atau policing. Ketiganya bukan penjelasan tentang politik dalam pengertian Rancière sebagaimana politik adalah kemunculan demos yang selalu berupa perselisihan antara logika kesetaraan dan logika membagi-bagi. 

Rancière menegaskan bahwa di dalam demokrasi, politik sudah ada di dalamnya, tanpa menunggu penjelasan teoretis atau arkhe, asal-muasal untuk menentukan kelahirannya sebagai prinsip politik itu sendiri, sebab demos sudah ada di dalamnya, yaitu adanya ruang bagi orang-orang untuk menunjukkan dirinya dari yang semula tidak dihitung dan dianggap kemudian muncul ke permukaan dengan melakukan sebuah upaya kesetaraan verifikasi oleh “yang salah (demos)”; kesetaraan ini bersifat kontingen dapat terjadi di mana saja dan kapan saja dalam tatanan sosial dominan; tindakan politik yang dilakukan demosterjadi di tatanan sosial dengan mentransformasi tatanan sosial menjadi bentuk baru karena demos menjadi suplemen yang sebelum tidak tertangkap oleh indra; dan politik selalu khas, yakni tidak bersemayam pada satu identitas tertentu, tapi ia menengarai banyak identitas lain. (hal, 88-90) 

Emansipasi dan Subjektivasi

Rancière menegaskan bahwa politik selalu bersifat kontingen yang berarti dalam tatanan sosial dominan—dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Tidak semua peristiwa adalah pengujian kesetaraan atau tidak semua peristiwa adalah politik. Sebab politik selalu terjadi dalam sebuah hubungan antara bagian-bagian yang bertitik tolak pada kesetaraan, atau politik adalah sebuah simpul yang menghubungkan bagian-bagian. (hal, 94) 

Dalam pemikiran Rancière ini, kita akan temukan konsep kesetaraan yang merupakan struktur pra-anggapan dan titik tolak berpikir. Sebab kesetaraan ini menolak hierarki kemampuan berpikir dan kesetaraan ini perlu diverifikasi dalam tatanan sosial dominan melalui tindakan langsung oleh orang-orang kebanyakan yang ada di dalam tatanan tersebut, namun orang-orang tersebut tidak dianggap yang menurut istilah Ranciere orang-orang kebanyakan tersebut disebut demos atau “yang salah” (hal, 93).

Selain itu, Rancière juga setuju pada pernyataan Jacotot bahwa emansipasi hanya terjadi pada tingkat individu. Emansipasi adalah sebuah tindakan yang dapat ditularkan secara tidak terbatas dari invidu ke individu. Di dalam komunitas, emansipasi tidak dapat terjadi. Emansipasi tidak menghasilkan kebebasan individu-individu secara mutlak dan tidak hanya dimiliki oleh kelompok sebagai kebebasan yang kosong, sebab kebebasan tersebut selalu sudah terhubung atau berada dalam tatanan sosial dominan (hal, 107).

Lalu pertanyaannya bagaimana mungkin bisa jika tiap-tiap individu tidak tergabung dalam gerakan kolektif untuk menguji kesetaraan dalam tatanan sosial dominan?  Di sinilah subjektivasi politik Rancière masuk–yang merupakan gerakan kolektif dari orang-orang kebanyakan “Yang salah”. Rancière menarasikannya sebagai “komunisme akal budi” yang merupakan dampak dari emansipasi, sebuah kemampuan akal budi individu untuk berkelompok dengan orang-orang yang juga mengalami emansipasi. Kelompok tersebut selalu bersifat temporal, kemampuan tersebut tidak menjadi satu dan menetap dalam diri individu. Hal ini dikarenakan, menurutnya, “Kemampuan komunis tidak dapat diprivatisasi.” (hal, 107-108)

Dalam pemikiran Rancière, emansipasi adalah kesadaran diri atau kemampuan akal budinya yang setara pada setiap orang dengan semua orang. Emansipasi individu juga selalu tentang diri sebagai bagian dari individu yang lain, emansipasi tidak pernah terjadi pada diri untuk diri sendiri yang tunggal, melainkan bersama yang lain. Oleh sebab itu, emansipasi selalu memiliki kekuatannya untuk memunculkan subjek melalui gerakan kolektif di antara tatanan dominan masyarakat yang akan berdampak pada pembentukan tatanan-tatanan baru. (hal, 109) Indiyastutik menulis bahwa filsuf asal Prancis tersebut mengajak kita untuk berani berpetualang menguji diri dan terbuka pada kemungkinan terjadinya gerakan kolektif untuk menguji kesetaraan pada setiap orang dengan semua orang (hal, 118).

Penutup

Kendati kue kekuasaan di Indonesia telah dibagi-bagi melalui ‘demokrasi’, namun sejatinya itu bukanlah demokrasi yang dikatakan oleh Jacques Rancière, yakni demokrasi sebagai politik. Demokrasi itu bukan meleburkan perbedaan dalam satu bentuk tunggal. Ia merawat perbedaan dan tidak menghendaki perbedaan itu menghilang dan melampaui nasionalisme dan identitas. Sebab di dalam demokrasi, hal tersebut merupakan bentuk khusus dari manusia yang bersama-sama, dan artinya politik menjadi bersama-sama adalah berarti berada di antara: di antara identitas, di antara dunia.Pembagian kekuasaan tersebut tidak lain dan tidak bukan untuk menunjukkan tidak adanya kesetaraan dan hanya pihak dominanlah yang berhak mengatur dan membagi peran-peran masyarakat. Dalam hal ini Rancière menyebutnya sebagai demokrasi konsensus, yakni sebuah usaha menghilangkan subjektivasi politik yang dianggap persoalan bagi berjalannya harmoni antar bagian di dalam tatanan masyarakat dominan. Selanjutnya, ia menegaskan bahwa demokrasi konsensus merupakan bentuk kesepakatan antara individu-individu dengan kelompok melalui proses negosiasi untuk mendapatkan bagian dan peran mengatur tatanan dominan. 

Cuplikan Surat Putus Para Filsuf Kepada Pasangannya

0

Cuplikan ini mungkin bisa menjadi inspirasi untuk mengirim pesan kepada pasangan Anda. Bagi Anda para akademisi, sarjana filsafat atau seorang dosen dengan hubungan yang sedang diambang kehancuran. Saya tahu, memilih bergaul dengan buku-buku dan teori-teori daripada pasangan Anda sungguh sebuah posisi yang sulit. Di satu sisi, alienasi ini membentuk semacam moralitas maskulin dimana ilmu pengetahuan akan menyelamatkan Anda dari gertakan pasangan. Di sisi lain, Anda adalah bagian dari sejarah filsafat (ilmu pengetahuan) yang juga mengalami kerentanan. Filsuf-filsuf yang kita pelajari juga patah hati. Mereka memiliki kecemasan yang sama dengan kita. Berikut saya terjemahkan sebuah parodi cuplikan surat perpisahan para filsuf dengan pasangannya di sepanjang sejarah filsafat (Artikel asli berjudul “Excerpts from Philosophers’ Breakup Letters Throughout History” ditulis oleh Julia Edelman untuk rubrik humor di New Yorker, Juni 2015).

____

Sejauh hubungan ini berjalan, aku merasa benar-benar sengsara tak terkira. Aku tahu sekarang ternyata kau hanya menggunakanku murni sebagai alat saja hingga titik penghabisan. Apakah kau tahu bagaimana perasaanku? Sangatlah imperatif jika kau berkaca pada makna hukum universal, lalu berhenti melakukan ‘itu’ dengan lidahmu, seperti yang sudah-sudah. — Immanuel Kant

*

Apa yang sebenarnya kita lakukan ini? Hari-hari telah berlalu, kau tumbuh semakin terpinggir dari kerja-kerja susah payahmu. Kita sudah tidak bercinta lebih dari sebulan, bahkan setelah aku sembuh dari ruamku dulu, dan begitu yakin kita bakal merayakan dengan bercinta sampai puas. Aku menuntut keadilan dari masturbasi kotor gaya borjuis ini yang mereka sebut sebagai “sebuah hubungan.” — Karl Marx

*

Apa kau ingat hari itu, saat kita bersama bebek-bebek? Hari itu dingin sekali dan hujan pula, dan langit yang menganga mencoba mendekap takdir kita dengan tiupan angin. Kita bergegas berlindung di bawah tenda terdekat, lalu menemukan keluarga bebek bersarang bersama, aku ingat saat aku memandangimu dan berpikir, “Ini tidak bisa sirna begitu saja.” Tapi apa boleh buat? Dengarkan aku, perpisahan ini hanya seperti lebah yang mengabaikan bunga setelah penyerbukan usai, kau harus bergerak maju, atau meringkuk saja. Suatu hari nanti kau akan bertemu seorang pria, lalu ia akan bangkit seperti phoenix dari lahan yang terbakar, dan inilah harapan terbesarku, semoga ia tidak memberimu syphilis. — Friedrich Nietzsche

*

Sangat menyakitkan untuk mengakuinya, Socrates mengatakan yang sebenarnya tentangmu. Kau tidak mampu berpikir tentang siapapun kecuali dirimu sendiri. Kapan kau terakhir kali menengok kuliah-kuliahku di Academy? Aku kini telah tersesat dalam kondisi pelarian yang terlalu lama. Sekarang aku tahu kalau cinta itu tidaklah nyata. Kecantikanmu transenden, ya memang, tapi sayang sekali abstrak. Tinggalkan aku sendiri bergulat dengan dunia material ini. Enyahlah. — Plato

*

Aku minum, maka aku… mabuk. Ha ha! Aku kira bakal lebih mudah mengatakan ini kepadamu setelah habis gelas ke enam, tapi sayangnya, aku masih sangat berantakan. Oh, bagaimana duniaku menjadi lebih sempit ketika aku berpikir kamu tidak ada di sana, dan cih, tentu saja tidak, kamu tahu? Begini, aku akan mulai lagi. Filsafat itu seperti pohon, punya cabang-cabang yang menjulur ke depan, dan kamu hanya seperti semak belukar. Imut dan mungil, tapi tidak begitu berpengalaman dalam pemikiran rasionalis. Apa kau paham apa yang sebenarnya ingat ku katakan? — Rene Descartes

*

Kasihku yang manis, aku mengunjungi pameran Balzag beberapa waktu lalu dan sekonyong-konyong sadar apa yang telah aku lakukan. Aku sangat cinta padamu, tapi aku tetap memandang rendah dirimu. Aku mencoba memahami ini: aku berpikir dalam momen yang kecil dan singkat itu, seperti ketika bajing terburu-buru loncat ke jalanan atau seorang tunawisma yang mencoba onani di dalam semak-semak di les Tuileries. Mungkin saat ini sudah waktunya menemukan seseorang yang bisa kau ajak menggeluti minatmu dalam threesomes yang bermoral. — Jean-Paul Sartre

*

J.P, halah…kentut! — Simone de Beauvoir

*

Aku akan menguraikan hubungan kita ini dalam tiga tahap. Tahap pertama ditentukan oleh estetika. Aku berjalan menyusuri salah satu jalan berkelok favoritku di Kopenhagen, menyaksikan kau keluar dari kereta, dan aku harusnya menyambutmu. Tahap kedua dari keberadaan etis kita. Saat aku ingin melayangkan mataku pada bagian tersembunyi dari tubuhmu, aku lantas menyadari bahwa kau baru-baru ini mengumbar tubuh dan jiwamu kepada teman baikku, si Hans, dan aku tahu dia akan marah jika aku mencoba melakukan sesuatu yang tak terduga. Tahap ketiga dan terakhir adalah tahap religius. Aku tidak terlalu peduli pada Hans, bisa saja aku merayumu. Sayangnya, kita berdua telah melakukan dosa yang luar biasa, dan dengan karenanya kita harus segera mengakhiri hubungan tak bermoral tapi menggairahkan ini. Tuhan memberkati. — Søren Kierkegaard

*

Ucapkan selamat tinggal pada John Cocke

! —John Locke

Sumber gambar: mutualart.com

In the Name of Crisis: Defending Anthropocentrism as the Most Plausible Environmental Ethics

0

Almost all ecological discourse is always built in the construction of criticism of modernism that places man at the center. It is not surprising then that ecological thinking always departs from the critique of anthropocentrism, which is somehow always regarded as the root of the whole crisis of modern humans; environmental crisis, social crisis, and ecological crisis. It is undeniable that humans are important actors in an ecological crisis. But the question, is it possible to base ethical justifications to save the environment with anchors other than humans?

We must go back again to deconstruct the ontological structure from the crisis itself. From whom and for whom the attribute of crisis is actually in the ecological discourse to summarize all phenomena such as climate change, global warming, species extinction. Is the crisis attribution objectively attached to all these phenomena, or is it internally only valid for humans as bearers of the meaning of the crisis itself?

Two major arguments can justify these questions; realism and anti-realism. The main claims of realism explicitly state that there is a world that is independent of the mind and that we can objectively access that world. In this argument, a crisis can be justified ontologically as an objective fact even though no human being has given it value. Meanwhile, the opposite anti-realism argument states that there has never been an objective reality outside of what is sensible for humans. Crisis, therefore, is always correlated with human judgment, as the subject of values.

There is so much ecological literature actually that uses the word crisis in its title; The State and the Global Ecological Crisis (John Barry, 2005), The Real Environmental Crisis (Jack Hollander), and many others. However, no one talks about the semantic and ontological status of the crisis itself. Maybe Janet Roitman is the only one who has a concern with this through his book Anti-Crisis (2013). However, Roitman does not talk about ecology but only gives a semantic analysis of the word crisis, as a term that is quite crucial in many philosophical discourses.

In this paper I use semantic analysis to justify that the ecological crisis is entirely about humans; as the subject behind the crisis, the subject bearing the meaning of the word crisis, and the subject morally responsible for the crisis. I then use this justification to argue how anthropocentrism is the only plausible environmental ethics. I prove that conservation and movements to save the environment can only be justified through the ethics of anthropocentrism. I show that ecocentrism as alternative ethics which aims to justify humans as the main actors of the crisis is a fallacy and philosophically implausible.

Crisis and Semantic Problem

The word crisis so far has developed in an an sich meaning, which seems that need to be affirmed positively in its existence; environmental crisis, energy crisis, and especially ecological crisis. The word is always used as a diagnostic term to describe a specific historical condition impartially. Yet, does that the case really have a basic premise to be objectively justified as a crisis?

Hitherto, the word crisis has always been used to refer to a condition that is not as it should be. In other words, there is something wrong with a system that makes the system not run as it should. With this definition, a condition can then be justified positively as a crisis. However, this justification clearly requires a complete construction of knowledge about the system itself, namely the knowledge that the system really is what we thought from the beginning so that we can judge that something is wrong with the system.

In this assumption, Roitman, as quoted by Imbriano (2014, p.115), stated that the crisis is a term that is built in second-order observation, not an object of first-order observation. This means that the word ‘crisis’ is not a term that refers to an objective entity. A crisis is a propositional attitude about a condition that has certain criteria that make it then can be stated as a crisis. “The term crisis is,” Imbriano said,

“in fact, a category of knowledge, a transcendental placeholder, an a priori that both marks historical events and qualifies history as such and is therefore no a condition to be observed (loss of meaning, alienation, faulty knowledge); it is an observation that produces meaning. That is to say, it is a term that does not describe an objective reality, but instead serves to offer an interpretation of this reality.”

(Imbriano, 2014, p.115)

Crisis refers to the final condition of historical events measured by a patterned sequence, which means that it cannot be empirically confirmed and referred to an entity in itself. That is why a crisis is called a second-order observation because it requires a set of historical data which patterns can be analyzed and concluded to be a condition that carries the meaning of the crisis. Without that data, there will be no crisis. Shortly, crisis depends on the historical data so that it cannot be self-evident.

It has been clear that the crisis does not have any reference in objective reality. However, a crisis semantically can be justified as a self-reference term. In other words, it can refer to the term itself. In its semantic status, the word crisis can be juxtaposed with the word unicorn as a term, although ontologically the status is different. Unicorn does not have a reference in an objective entity, but as a word, it has a meaning which can refer to itself, namely an abstract entity constructed from the objective entity ‘horse’ and ‘horn’; unicorn is a horned horse.

That is the reason Janet Roitman (2013, p.11) elucidates that a crisis is a signifier for the gap between the real and what is portrayed as a physical, erroneous, or illogical abstraction of the real. The gap, according to Roitman, is a marker of dissonance between empirical history and philosophy of history. Why is that? Because the abstraction of a condition so that it can then be stated as a crisis always departs from historical empirical facts. Climate change, for example, is an empirical fact from a collection of historical data about climate that changes from time to time. The empirical facts of history are then abstracted and justified as a crisis, and the crisis presupposes further abstraction into a philosophy of history; teleological, deterministic, and cyclical history. In that sense, Roitman (2013, p.34) states that crisis is not an innocent term; crisis serves a philosophy of history. Meanwhile, the philosophy of history is always about human history, nothing else.

The point I want to argue here is that crisis is never self-evident, although semantically self-reference. A crisis is not a term that refers to objective observable reality. A crisis is a propositional attitude that always assumes intentional justification that intertwines the subject’s beliefs. It presupposes an ontological anchor that carries the meaning, an anchor that determines the criteria that must be met by the term crisis itself; global warming, climate change, species extinction, deforestation, etc. Therefore, the only plausible ontological anchor of the ecological crisis is none other than human; the only subject that has intentions, at least in the discourse of ecological crisis. Climate change may be an objective phenomenon; it really exists with some evidence of its historical changes. However, the facts about the changes do not then imply logically as a crisis. Those changes are only some of predetermined criteria that we create based on our intention; that this climate change will harm us, and we have to overcome it.

In such an analytical understanding, we can state that the denial of climate change is implausible. There is no reason not to acknowledge climate change when it has been proven by statistical data historically, regardless of methodical problems in retrieving the data. The only thing we can deny is whether or not climate change is indicative of a crisis because basically a collection of natural phenomena which we then label as a crisis applies only to human interest. The crisis attribute is not inherently embedded in the phenomenon itself. It is always about humans.

Anti-realism and Internalism Argument

Giving a ‘crisis’ attribution to a natural phenomenon leads to an argument about whether the attribute is inherently contained in the phenomenon or is it just a value that we embed to then be morally justified. This problem clearly requires two justifications at the same time; ontological and epistemological. As it becomes an important topic in the ecological discourse, we need to justify whether a crisis is an objective entity or merely a human construction.

Ecocentrism is clearly built on a paradigm of realism ontology which believes that there is an objective value that is independent of human attribution. That is, an ecological crisis in the view of ecocentrism is an objective fact even though there is no assessment from the subject of natural phenomena, it can still be justified as a crisis in itself. In other words, global warming, climate change, etc. can be stated as a crisis without the existence of human beings as the cause or bearer of the consequences.

We cannot base crisis on other than humans, because all of the natural phenomena that we categorize as indications of crisis are only sensible for humans. In other words, it is human who creates certain criteria arbitrarily and particularly to declare a crisis condition. For example, we never take into account species extinctions that occurred long before humans as a crisis simply because apart from the lack of access to these data, we have no direct experience of these events. That is the significance of species extinctions that occur so that it can be justified as an indication of crisis always presupposes the human subject to be meaningful.

In that frame, we then arrive at the problem of ancestrality in the realism and anti-realism debates that once proposed by Quentin Meillasoux:

Consider the following ancestral statement: ‘Event Y occurred x number of years before the emergence of humans.’ The correlationist philosopher will in no way intervene in the content of this statement: he will no contest the claim that it is in fact event Y that occurred, nor will he contest the dating of this event. No – he will simply and – perhaps only to himself, but add it he will – something like a simple codicil, always the same one, which he will discretely append to the end of the phrase: event Y occurred x number of years before the emergence of humans—for humans (or even, for the human scientist).

(Meillasoux, 2008, p.30)

If we consider a crisis as an objective fact independent of human judgment, then it must have universal standards that apply to all circumstances. With these universal standards, we can say that if species extinctions, global warming, and climate change have really happened in the past, the crisis is not significant because the earth was once in a condition that could be worse than the crisis we faced today. Phenomena that we consider to be the current crisis become problematic because we are present in it and become part of the object of sufferers. Therefore, the crisis is again our problem as humans.

The anti-realist position, or correlationist in Meillasoux’s term, it is clear that the crisis that we attach to natural phenomena only applies to humans — or even the human scientist for the significance of the crisis itself depends on humans. That is why we have difficulty justifying all of the natural events that took place before the appearance of humans. This is because there is no subject of meaning when the event occurs. The meaningfulness only appears later after humans find historical data about these events. And again, meaningfulness also only applies to spatio-temporal at this time.

Epistemologically, the view of ecocentrism can be justified through the argument that externalism breaks away from human intervention. Externalism can provide a reasonable explanation for why an attribution of crisis can be justified despite ignoring and getting rid of the subject’s point of view. Accessibility is the key to the argument for externalism; that there are objective facts that can be accessed by humans. Facts about species extinction, global warming, etc. is an objective fact that does not require justified belief to affirm that it really exists. However, the argument of externalism cannot explain whether these facts can be objectively said as a crisis or not. In John Locke’s view, this falls to the question of primary and secondary qualities in the ontology debate. Locke’s argument is not exactly the same, but I will reargue it further.

The temperature in itself is a primary quality, while heat and cold are secondary qualities. John Locke emphatically states that knowledge which is accessible to humans is only limited to secondary quality; that the weather is hot lately. It means that we cannot access more than what is sensible for us. This was also affirmed by Kant in his division of the world of noumena and phenomena. Kant, as an anti-realist firmly believes that the knowledge we have is only limited to phenomena; it is the world of appearance that is sensible for humans.

I can firmly state the crisis as a secondary quality, or if we use the ontological construction of anti-realism, it is only tertiary because climate change and global warming are only qualities that are sensible to humans. Changes may be justifiably justified as primary qualities, but the ‘hot’ assessment of these changes is secondary quality as the only accessible one. Meanwhile, giving the attribute ‘crisis’ is a quality that is in a more abstract layer. That is no longer an ontological or epistemological justification, but axiological. And that justification cannot stand on an ontological foundation other than anti-realism; that the crisis only applies to humans as bearers of meaning and value.

Compare to ecocentrism, anthropocentrism has a clear ontological anchor as a value bearer. Humans are the only benchmark of world significance. Therefore:

Anthropocentrism considers humans to be the most important life form, and other forms of life to be important only to the extent that they affect humans or can be useful to humans. In an anthropocentric ethic, nature has moral consideration because degrading or preserving nature can in turn harm or benefit humans. For example, using this ethic it would be considered wrong to cut down the rainforests because they contain potential cures for human diseases.

(Kortenkamp and Moore, 2001, p.2)

Ecocentrism as ethics is thus philosophically unable to justify a crisis because it does not have an objective anchor on the criteria of the crisis itself. The only anchor that can be used as an argument is the preservation of living systems on earth; if it moves toward the brink of extinction it means it is in a crisis. However, this argument is feeble when faced with a proposition that extinction is part of the mechanism of life systems on earth itself. Ecocentrism will not be able to explain whether a crisis still exists in a condition where the earth has not been inhabited by organisms that in millions of years have evolved to give birth to humans — as the cause of the crisis. If we stick to the ecocentrism ethics, the most plausible thing is to let the natural mechanism work as it is; deforestation causes global warming, global warming causes climate change, climate change results in the extinction of organisms, the extinction of organisms causes starvation, starvation causes human extinction, human extinction provides space for the earth to breathe again, rebalance, then give birth to new organisms, evolve and give birth new humans—which might be much better.

If my view of ecocentrism is correct, then using it as a basis for environmental ethics to overcome ecological crises is a fallacy. Ecocentrism cannot provide legitimacy for us to act saving the environment because it does not have any correlation with human interests. Ecocentrism cannot provide an answer to the simple question “why do we have to preserve the forest?” Let’s say the answer that will appear with the consistency of thought is “because the forest is the lungs of the earth, if the lungs are damaged and destroyed then the earth will die.” The next question that will emerge is obviously about the significance of the death of the earth itself, and the most reasonable answer is human.

Deep Anthropocentrism: Religion, Science, and Environment

Proof that humans are the single most reasonable anchors of environmental ethics is obviously related to the role of religion in overcoming the ecological crisis. This is in line with what was conveyed by The Interfaith Rainforest Initiative (IRI), which was later quoted by Zainal in his paper on Laudato Si’ (McKim, 2020, p.38), “saving the forests requires saving people who live there—and vice versa.” Even though the statement has a tendency to give an equal position which can then be legitimized through ecocentrism, but humans remain the main anchor for saving the forest. I can state frankly that what is more appropriate is to save the forest means to save people without being bi-implicative because without humans the forest remains as it is.

However, anthropocentrism has difficulty in providing satisfactory answers about why we have to save animals from extinction, not throwing trash in the sea, protecting the forest, or even treating injured street dogs. Practically, such actions do not have any benefit for humans. Roughly speaking, there is no correlation between caring for street dogs and human interests. The only answer that anthropocentrism can give is that taking care and feeling pity for animals can give human satisfaction for their desire. It can fulfill human feelings and gain their happiness.

I can use Nietzsche’s argument on the will to power to justify this case. Well treating others is a part of the will that can give fulfillment for a lack-will. There is no an sich good behavior in this argumentation because every behavior will always correlate to human interests. Even when we consider animal rights to justify such a thing, we still use human standards; at least we suppose that animals should have rights because they are living beings like us.

That is the reason anthropocentrism is unconsciously always implemented in every environmental movement with its anthropomorphic narratives. Even in Laudato Si’: On Care for our Common Home, Pope Francis writes: “This sister [the Earth] now cries out to us because of the harm we have experienced from our irresponsible use and abuse of the foods with which God has endowed her (Bauman et al., 2017, p.30)”. The statement is clearly very anthropomorphic which implies ‘human, and all too human.’ And thus, it then makes sense to state that the role of religion, whether world religions or indigenous religions, can only be justified within the framework of anthropocentrism.

For example, the doctrine of humans as caliphs on earth in Islamic teachings clearly only applies within the framework of the interpretation of anthropocentrism. There is no space for ecocentrism and biocentrism in religion, only anthropocentrism or theocentrims. The former provides space for humans to be able to save life on earth, and the later sees all crises that occur as the will of God, which may be the signs of the last day which can then prove and justify the truth of religious faith.

Likewise, in the indigenous community, I believe that the construction of belief used also remains within the framework of anthropocentrism even though, academically, it is forced to be constructed within criteria that presuppose equality of beings: ethics, responsibility, and reciprocity. Humans are still humans with all their desires and needs to survive. Indigenous communities will continue to place humans above others in certain cases. For example, they would choose to kill a tiger rather than let their child be eaten by a hungry tiger. However, it is possible that indigenous people have a different understanding of anthropocentrism in greater depth, which is to look further at the relationship between one another, which I later call this understanding with deep anthropocentrism.

I use the term ‘deep anthropocentrism’ to distinguish it from ‘shallow anthropocentrism’ which so far has been translated into supervisory meaning so that it is closer to egocentrism; that is, everything is measured by the interests of the human ego. I use deep anthropocentrism to argue that all values ​​will always be centered and end in humans. Humans are alpha and omega of all value constructions; both ethical and epistemological. We can even further draw the construction of the goal of ecocentrism into the framework of anthropocentrism, meaning that the submission of ecocentrism as an ethical basis for environmental movements will lead to the final goal for the benefit of humans.

Such a fallacy that equates anthropocentrism and egocentrism becomes a cause why many ecological thinkers mostly blame anthropocentrism as a justification for corporate legitimacy to exploit nature. Almost all ecological thinkers always put anthropocentrism as a suspect for all the crises that occur. It leads them to build arbitrarily alternative theories as an ethical basis in ecological discourse. Aldo Leopold, for example, states that:

There is as yet no ethic dealing with man’s relation to land and to the animals and plants which grow upon it. . . The extension of ethics to this third element in human environment is. . .an evolutionary possibility and an ecological necessity.

(Leopold, 1949, pp. 238-9)

I think the effort to build an alternative ethical base is a redundancy, if not even fallacy. Because, however, the reasoning that is built — whether biocentrism, ecocentrism, or in Leopold’s term Land Ethics — will always lead to anthropocentrism. The reason is very simple, all the values we give to anything are always human biases; animal rights, environmental rights, co-creature success, whatsoever. This happens because the main claim of anthropocentrism is very broad scope, not only limited to survival issues and material matters. As stated by Donahue (2010, p.51-2), “Anthropocentrism is the view that only things are valuable in themselves are human beings; their desires, needs, and purposes; and the satisfaction of those.” But I am not in agreement with Donahue, which in his paper stated that “Gaia theory is true, then it is likely that anthropocentrism is false,” and I will refute it.

Donahue built his argument using the Moderate Kibosh Thesis which states that if Gaia theory is true, then anthropocentrism is wrong. The main claim underlying this proposition is that if humans are part of a system as stated in Gaia theory, then humans cannot be the center. Meaning that anthropocentrism doesn’t make sense. In consequence, the only way to refute Gaia theory is to prove that humans are not part of the system of life on earth. Donahue, in his conclusion, has invited a rebuttal to this proposition and invited him to be an open question. This most absurd rebuttal is proven by humans on earth, and the proof can be made by the development of space science and technology—Elon Musk will probably prove it?

It is precisely in that anticipation which Donahue proposed I put my argument to reject Gaia theory and ecocentrism. If the terraforming project is successfully realized, then not only ethically but also cosmologically, anthropocentrism will once again prove its truth and take over the trophy. Humans will always be the center of living systems wherever humans are because humans can create their own living systems with the help of terraforming science and technology. In other words, a crisis may not be significant anymore when such technology has been realized.

Conclusion

It has been proven that anthropocentrism is the only reasonable position in the discourse of ecological crisis. Semantically, a crisis cannot be a self-evident term because it requires a value-bearing subject to justify its truth. Therefore, a crisis is a propositional attitude, not a rigid signifier that refers to objective reality. This semantic proof leads further into the ontological assumption of anti-realism which states that objects in themselves are never accessible to humans. The position also proves that the claims of internalism are valid. We cannot affirm a crisis objectively without presenting the subject.

For further consideration, I have proven that anthropocentrism makes more sense than the entire ethical basis built by ecological thinkers. Moreover, if science can prove that terraforming can be realized through technological engineering, then there is no longer a chance to refute anthropocentrism than simply by drawing Gaia theory and ecocentrism to a broader scale; univercentrism. Because, wherever humans go, they will always be a part of the universe system.

Bibliography

Meillassoux, Quentin. After Finitude. Trans. Ray Brassier. New York: Continuum, 2008.

Moore, Colleen F. and Katherine V. Kortenkamp. “Ecocentrism and Antrhropocentrism: Moral Reasoning about Ecological Commons Dilemmas. Journal of Environmental Psychology. Madison: University of Wisconsin, 2001.

Donahue, Thomas J. “Anthropocentrism and the Argument from Gaia Theory. Ethics and the Environment , Vol. 15, No. 2 (Fall 2010), pp. 51-77. Indiana University Press.

Roitman, Janet. Anti-Crisis. Durham and London: Duke University Press, 2014.

Imbriano, Gennaro. “A Semantic Analysis of Crisis”. Contribution to the History of Concepts, Vol. 9, No. 2 (Winter 2014), pp. 114-118. Berghahn Books.

Mckim, Robert. Laudato Si’ and the Environment: Pope Francis’ Green Encyclical. London and New York: Routledge, 2020.

Bauman, et al. Grounding Religion: A Field Guide to the Study of Religion and Ecology. New York: Routledge, 2017.

Leopold, A. A Sand Country Almanac: With Essays on Conservation from Round River. New York: Oxford University Press, 1949.

Featured image: Aegis-strife.net

Mungkinkah Tenaga Medis Melakukan ‘White Lie’?

0

Seorang tenaga medis terikat dan berpegang pada kode etik[i] dan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Beberapa kewajiban yang dilekatkan pada seorang tenaga medis adalah hak atas informasi, hak untuk menolak treatment baik obat-obatan maupun tindakan serta konsekuensi dan dampak yang ditimbulkan dari putusan ini, hak atas privasi, hak atas kerahasiaan serta limitasi akses terhadap riwayat kesehatan yang terekam dalam institusi kesehatan, hak atas segala informasi bila obat-obatan dan tindakan yang akan diberikan merupakan bagian dari eksperimentasi-riset[ii], hak untuk memperoleh layanan kesehatan secara sungguh-sungguh. Tentu kode etik dan SOP tersebut dibentuk atas dasar kebaikan. Akan tetapi ada kalanya justru tindak kebaikan ini terhalang oleh berbenturan kebaikan lainnya, summum bonum atau kebaikan yang nilainya lebih tinggi[iii].

Pada salah satu kewajiban yang dipegang oleh tenaga medis, khususnya seorang dokter adalah kewajiban untuk memberikan informasi sebenar-benarnya[iv] terhadap pasien. Semua hal yang berkaitan dengan pemeriksaan, pengobatan, tindakan yang melibatkan pasien, harus terlebih dulu diberitahukan kepada sang pasien serta pilihan-pilihan yang dimungkinkan kepadanya juga konsekuensi-konsekuensi atas pilihan tersebut sejelas-sejelasnya. Informasi hasil pemeriksaan ini juga menyangkut persentase atau angka kehidupan yang pasien miliki atas penyakitnya dan pengobatan maupun tindakan yang akan dilakukan. Kewajiban untuk memberikan informasi secara benar dan jelas ini tentu diberikan sebagai tanda pengakuan dan penghormatan atas otonomi yang dimiliki oleh setiap manusia. Akan tetapi hak atas informasi ini mulai terjadi di akhir-akhir ini saja, sebelumnya dunia medis belum mengenal adanya hak atas informasi. Semua tenaga medis, khususnya seorang dokter, sejak dahulu berpegang pada prinsip paternalisme[v], yakni semua putusan atas pasien merupakan putusan yang dianggap terbaik bagi seorang tenaga medis. Paternalisme seringkali dianggap sebagai upaya mengekang hak otonom seseorang. Akan tetapi argumentasi seperti itu tentu sangat sempit dan keliru untuk membantah sepenuhnya paternalisme.

Prinsip paternalisme ini bertahan lama, bahkan mungkin masih dipegang oleh tenaga-tenaga medis sampai saat ini, oleh karena didasarkan pada jangkar utilitarian. Dalam jangkar utilitarian tidak ada sesuatu tindakan baik atau pun salah, yang ada hanyalah nilai dari konsekuensi yang ditimbulkan dari tindakan tersebut berupa baik atau buruk. Sebagaimana dalam prinsip paternalisme, tindakan berbohong tidak dapat dikatakan salah, namun konsekuensi dari tindakan berbohong tersebut lah yang dapat dinilai bahwa itu baik atau buruk. Sehingga pertanyaan-pertanyaan seperti “haruskah dokter menjalankan kewajibannya untuk memberitahu kebenaran keadaan seorang penderita kanker pankreas dengan keadaan metastasis[vi] hati walau menyakitkan?”[vii], dapat tertolak dalam prinsip paternalisme ini. Oleh sebab itu, konsekuensi yang mungkin ditimbulkan dari kebenaran yang menyakitkan[viii] tersebut akan memperburuk keadaan sang pasien, terlebih bila pasien tersebut rentan pada depresi berat dan hilangnya semangat untuk melanjutkan hidup. Dengan demikian, tindakan yang diambil dalam prinsip paternalisme di sana adalah bentuk penahanan informasi[ix] seperti white lie dengan memfalsifikasi[x] diagnosa.

Terkadang yang perlu diingat adalah pekerjaan bukan sesuatu yang terbentuk secara singkat, tetapi ada dedikasi kehidupan di sana, oleh sebab itu bisa disebut sebagai life work. Jadi pengandaiannya adalah, seorang tukang perahu ketika membuat perahu itu sendiri, bukan merupakan hasil yang asal. Melainkan sebuah karya dari dedikasi kehidupannya yang dibuat sebaik mungkin, yang mana di dalamnya ada komitmen, rasa cinta, pengetahuan, keahlian, dan sebagainya. Semakin ditekuni, semakin dalam juga elemen-elemen itu terasah. Ketika pengandaian ini diterapkan pada tenaga medis, khususnya dalam melayani suffering, seharusnya, tenaga medis mampu melihat manusia secara utuh, khususnya perihal health. Terkadang makna health ini pun dipahami secara sempit, sebagai ketiadaan simtom penyakit yang mungkin terdeteksi. Jadi seakan-akan, bahwa manusia dianggap healthnya baik itu ketika tidak ditemukannya simtom atas suatu penyakit. Padahal kalau melihat suffering tadi, justru tidak terbatas pada sesuatu yang fisik, sehingga mental, emosional, dan spiritual juga saling berkelindan memengaruhi keadaan manusia itu sendiri. Dalam kasus pasien penderita kanker pankreas dengan keadaan metastasis[xi] hati tentu akan sangat membebani mental, emosional, dan mungkin spiritualnya.

Ketika melayani suffering ini, tenaga medis seharusnya juga menyadari betapa ketidakberdayaannya[xii] pasien yang datang pada mereka. Kemudian, sudah menjadi kewajiban bagi tenaga medis untuk tidak melakukanhal yang membahayakan dan melukai, karena pasien sendiri telah merasakan rasa sakit dan ketidakberdayaannya terhadap penyakit, disabilitas, atau bahkan dyingnya sendiri. Dalam narasi upaya memberitahu kebenaran yang menyakitkan juga masuk ke dalam upaya membahayakan dan melukai juga merebut hak otonom seseorang, yakni secara khusus terkait kebebasan dalam memaknai dan menjalani hidup, atas dasar argumentasi membuat pandangan hidup seseorang menjadi berubah. Perubahan tersebut diakibatkan oleh anggapan dan pemahaman bahwa seseorang tersebut menjalani hidup sebagai seorang penderita penyakit tertentu, sehingga ia tidak dapat menjalankan hidupnya secara maksimal[xiii]. Oleh sebab itu, rasa compassion seharusnya memainkan peran di sini, khususnya ketika seorang tenaga medis mampu mencegah tindakan-tindakan yang dapat membahayakan [xiv] dan bila hal itu berada dalam kekuasaannya; ketika seorang tenaga medis tidak mampu mencegah tindakan-tindakan yang dapat membahayakan, maka sudah menjadi kewajiban untuk membantu mengangkatnya[xv]; bila pun seorang tenaga medis sudah tidak mampu mengangkatnya, maka sudah menjadi kewajiban untuk menguranginya[xvi] dan memberikan rasa comfort baik secara fisik, mental, dan spiritual. Pada narasi white lie serta memfalsifikasi diagnosa menjadi justified, sebab hal tersebut masih berada dalam kekuasaannya untuk dapat mencegah atau setidaknya meminimalisir tindakan-tindakan yang dapat membahayakan sang pasien.

Selain itu, dalam konteks pasien juga telah menyerahkan dirinya kepada tenaga medis oleh sebab ketidakberdayaannya, dan meyakini bahwa tindakan yang dilakukan tenaga medis bisa bermanfaat bagi dirinya[xvii] dan tidak mungkin melukai atau menambah penderitaan yang telah dirasakan. Oleh sebab itu, lantas beban pertimbangan moral tenaga medis berada pada tanggung jawab akan ketaatan dan kesetiaan dalam melayani well-being[xviii] pasiennya. Dengan diserahkannya kepercayaan itu pula, pasien meyakini bahwa apa yang akan dilayani oleh sang tenaga medis itu semua demi well-beingnya. Pemberian kepercayaanini memungkinkan adanya ruang compromised[xix] terhadap tenaga medis, semisal perihal treatment seperti minum obat, tidak menggerakkan bagian tubuh tertentu, berpikir positif, tetap berdoa, dan sebagainya atas dasar untuk melindungi health sang pasien.

Pada skenario tersebut tentu ketika kepercayaannya telah dilimpahkan pada tenaga medis, maka seketika ruang compromised tersebut terbentuk, sehingga memungkinkan sang tenaga medis untuk melakukan tindakan-tindakan yang dirasa perlu untuk melayani pasien sebaik mungkin. Bila dengan mengungkapkan hal tertentu tersebut dapat merenggut kembali rasa kepercayaan yang telah dilimpahkan, semisal dalam kasus penderita kanker pankreas tadi adalah bentuk kebenaran yang menyakitkan, justru akan sangat membahayakan dan merugikan hubungan antara tenaga medis-pasien itu sendiri. Konsekuensinya yang mungkin terjadi adalah, pasien akan meninvoke hak untuk menolak pengobatan dan tindakan,bahkan right to die[xx] kepada tenaga medis. Jelas dalam frame ini, tenaga medis telah abai terhadap suffering yang dirasakan dan mungkin akan dirasakan oleh sang pasien. Karena faktanya tenaga medis telah melakukansesuatu yang membahayakan dan melukai, walau tidak secara fisik, namun tentu saja, pengertian health tidaklah terbatas pada fisik sebagaimana yang telah dipahami.

Lantas, di sini menimbulkan pertanyaan, apakah menjadi seorang tenaga medis berarti menjadi beku secara naluri dan nalar, bila hanya berpedoman pada kewajiban-mekanis layaknya sebuah mesin, tanpa memerhatikan aspek compassion, terlebih dalam upaya mengurangi suatu penderitaan dan melayani sebaik mungkinsekali pun keadaan itu  telah berada di luar kapasitas tenaga medis untuk mengobatinya[xxi]? Barangkali ada yang beranggapan bahwa seorang tenaga medis harus berlaku sesuai pada pedoman kode etik, sehingga tindakannya dapat dipertanggungjawabkan. Akan tetapi, apakah lantas tindakan tersebut seketika menjadi justified?

Perlu untuk dipahami, bahwa kode etik bukan sesuatu yang terlahir begitu saja setelah adanya ilmu medis-klinis, melainkan kode etik sudah jauh hadir terlebih dulu sebelum adanya ilmu medis-klinis. Perandaiannya, sebagaimana info consent itu lahir bukan karena setiap manusia, termasuk tenaga medis, menghormati hak otonomi setiap manusia, namun karena setiap manusia memiliki rasa compassion dan honesty terhadap sesama manusia. Didorong oleh kesadaran compassion dan honesty tersebut, manusia dapat memproyeksikan apa yang diharapkan oleh manusia lain di keadaan tersebut. Oleh sebab itu, kode etik seharusnya dipandang hanya sebagai guidelines, bukan sesuatu yang mengikat secara buta[xxii], dan memungkinkan prinsip paternalisme masuk di sana.

Tentu bila kode etik dipahami sebagai sesuatu yang mengikat secara buta agar tindakannya dapat dipertanggungjawabkan, seorang tenaga medis lalai untuk melihat kemajemukan yang ada dalam life worknya, bahwa setiap kasus yang dihadapi tidaklah sama. Seakan-akan memberi arti bahwa bila dalam kasusserupa semisal dua penderita kanker hati berat ketika diberikan tindakan dan pengobatan yang sama sesuai pada kode etik seperti menghormati hak otonom dan pemberian info consent, maka akan memberikan hasil yang serupa. Dua penderita kanker hati berat tersebut, tentu saja memiliki keadaan health yang berbeda, keadaan finansial yang berbeda, keadaan keluarga yang berbeda, dan sebagainya. Atas dasar tersebut, tentu kemajemukan tidak dapat ditolak dan berbagai varian yang hadir tidak mungkin diabaikan.

Sebagai seorang tenaga medis seharusnya dapat berpikir dan bertindak secara kritis-mandiri, dan tidak dikontrol dan tunduk menjadi objek dari otoritas. Kritis-mandiri di sini perlu untuk dipahami sebagai upaya tidak mudah berpuas diri dan mengevaluasi secara moral, selalu berupaya untuk mengerti keadaan dan lingkungan yang dihadapkan, selalu mampu memproyeksikan apa yang akan dan mungkin terjadi atas tindakan-tindakannya, serta tidak terikat dalam suatu dikte khusus yang mengekang naluri dan nalarnya sebagai seorang tenaga medis. Hal yang diharapkan dari proses ini adalah terbentuknya ruang dialog dan way to listening antara pasien dan tenaga medis, sehingga kelak tindakan-tindakan yang dilakukannya merupakan hasil yang didapatkan secara utuh dari proses berpikir secara kritis-mandiri, dengan mengerti dan memahami keadaan dan lingkungan yang dimiliki oleh pasien. Sehingga pertanyaan yang muncul dalam setiap kasus menjadi bagaimana seorang tenaga medis menghadapi kompleksitas pasiennya, dan tentu saja jawabannya tidak bisa strict maupun biner.

Referensi

Buchanan, Allen, 1978, “Medical Paternalism” Dalam Jurnal Philosophy & Public Affairs, Vol. 7 No. 4 (Summer), hal. 370-390. Ratanakul, Pinit, 2004, Bioethics and Buddhism, Mahidol University, Bangkok


[i] Dipahami di Indonesia tertuang pada dan didasarkan pada Patient Bill of Rights.

[ii] Dimaksudkan sebagai bentuk uji coba atas temuan baru, atau sisa hasil dari diri seperti darah, liur, kulit, air seni, sekresi, dan sebagainya akan dijadikan bahan riset atas metode pengobatan tertentu dan temuan baru.

[iii] Dipahami dalam perandaian memberitahukan diagnosa penyakit berat kepada pasien dengan keadaan tertentu, seperti rentan depresi dan lainnya.

[iv] Dipahami sebagai truth-telling.

[v] Dipahami secara sederhana sebagai bentuk “dokter tahu yang terbaik”.

[vi] Dipahami sebagai fase telah menyebar atau menjalar.

[vii] Perandaian kasus: seorang perempuan berumur lima puluh tahun didiagnosa menderita kanker pankreas dengan keadaan metastasis hati. Suaminya meminta kepada dokter agar untuk tidak memberitahu keadaan sebenarnya kepada sang istri, dengan alasan sang istri rentan depresi. Lantas dokter tersebut menjelaskan kepada sang istri bahwa rasa sakit yang dideritanya adalah hasil dari operasi yang dilakukannya dua tahun silam dan memberi pengobatan paliatif. Namun, rasa sakit yang dideritanya semakin menjadi seiring dengan memparahnya kanker yang semakin meluas, dan sang istri mulai menolak pengobatannya. Dokter tersebut pun menyarankan untuk melakukan pengobatan agresif dan memberikan injeksi berkala untuk meredakan nyeri, namun konsekuensinya sang isteri akan mengalami penurunan kesadaran. Di posisi tersebut, sang anak meminta kepada sang dokter agar ibunya dapat diberitahu keadaan sebenarnya kepada ibunya. Namun keluarga lainnya menolak, karena dianggap dapat berdampak berat pada psikologis sang ibu bila diberitahu, dan menginginkan sang ibu pergi dalam keadaan tenang dalam penyakit yang tidak diketahuinya.

[viii] Dipahami sebagai cold-truth.

[ix] Dipahami sebagai withhold information.

[x] Dipahami sebagai misinforming.

[xi] Dipahami sebagai fase telah menyebar atau menjalar.

[xii] Dipahami sebagai vulnerable dan dimaksudkan meliputi rasa weak, helpless, dan dependent

[xiii] Dipahami sebagai bentuk menjalan hidup to the fullest.

[xiv] Dimaksudkan meliputi ill health dan death.

[xv] Dimaksudkan meliputi cure the disease atau restore to health.

[xvi] Dimaksudkan meliputi relieve the suffering and care as best we can those beyond our capacity to cure.

[xvii] Dipahami sebagai bentuk dari prinsip paternalisme.

[xviii] Dipahami sebagai bentuk keseluruhan health, baik secara fisik, emosional, dan spiritual.

[xix] Dimaksudkan terhadap otonomi-kedirian yang dimiliki.

[xx] Dimaksudkan atas dasar upaya membiarkan dirinya sendiri mati karena rasa ketidakberdayaan dan keputusasaan yang mendalam.

[xxi] Dimaksudkan terhadap kasus penderita kanker pankreas dengan keadaan metastasis hati.

[xxii] Dimasudkan sebagai strict to follow agar bernilai benar.