More

    Cuplikan Surat Cinta Para Filsuf

    Artikel Terbaru

    Masa Depan Relasi Filsafat Ilmu-Teknologi

    Don Ihde pada tahun 2004 menyebarkan keraguan dan harapan. Dengan artikelnya yang berjudul “Telah sampaikah filsafat teknologi? Keadaan Terbaru”, Ihde mengevaluasi...

    Kemungkinan Peran Fenomenologi dalam Memecahkan Teka-teki Kuantum

    Steven French berpendapat bahwa pada jantung problem pengukuran kuantum terdapat kesalahpahaman yang fatal dalam memahami hubungan subjek-objek. Jika melihat lebih dekat pada...

    Memahami Kembali Manusia di Era Teknologi

    Keberadaan teknologi membawa manusia pada koin dari harapan yang diandaikan memiliki dua sisi. Satu sisi dapat berperan sebagai upaya membebaskan manusia...

    Tentang Spesialisasi dan Kesusah-teraksesannya Filsafat

    James Ladyman berargumen bahwa ketidakteraksesannya filsafat merupakan sesuatu yang bagus. Jika filsafat adalah sebuah kecintaan terhadap kebijaksanaan dan mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seharusnya kita (menjalani)...

    Pembalikan Tatanan Dependensi: Dari Ontologi Berorientasi Objek ke Ontologi Berorientasi Struktur

    Realisme struktural memiliki dua pilihan, yaitu dengan mengakui adanya sesuatu yang melampaui struktur—sebutlah X—di dunia, yang biar bagaimanapun kita tidak memiliki aksesibilitas untuk mengetahuinya...

    Suatu hari, saya berpikir bahwa filsuf itu seorang arogan yang kelewat kesepian dan suka melabeli orang lain. Saya bayangkan mereka itu orang-orang yang tidak ikut bergosip di warung kopi. Sebaliknya, merekalah yang jadi omongan tetangga. Sekalinya mengirim surat cinta, atau surat putus, terbukalah kedoknya, mereka hanya orang biasa yang tekun berpikir, bahkan tentang orang miskin dan benda-benda luar angkasa. (Bukankah kita juga melakukan hal semacam itu?). Mungkin juga sebagian dari mereka ada yang berpikir seperti saya, “bagaimana jika meteor kecil jatuh menimpa rumah-rumah orang jahat yang gila kekuasaan? Bukankah urusannya akan mudah?”. Mungkin. Barusan saja saya membayangkan itu tidak akan terjadi dan itu bukan pertanyaan filsafat. Jika saja pertanyaan di liang lahat bukan “man robbuka?” melainkan “apa itu kenyataan?”, saya yakin mereka semua khusnul khatimah. Berikut saya terjemahkan parodi surat cinta para filsuf. Sisanya bisa Anda kembangkan sendiri. Bukankah sebagian dari Anda kehabisan candaan receh untuk membuat diri Anda terlihat lebih menarik di dalam chat room? Kelucuan-kelucuan dalam satu dekade terakhir yang Anda alami tentu telah mengasah cara menulis Anda. (Artikel asli berjudul “Excerpts from Philosophers’ Love Letters” ditulis oleh Julia Edelman untuk rubrik humor di New Yorker, November 2016).

    —–

    Satu hal yang kutahu bahwa aku tidak tahu apa-apa. Kita berjumpa beberapa kali di agora dan berbincang soal penghormatan kita untuk dewa-dewa, tapi aku tak tahu apapun tentangmu! Apakah kau seorang bidan selama ini? Apakah kau lebih mengejar keutamaan dibanding kemewahan material? Aku sangatlah lugu melihat banyak hal, tapi aku paham sesuatu soal seni mencinta: terlalu banyak bertanya hingga orang yang ditanya terlalu capek untuk membalas. Apakah aku harus teruskan ini? —Socrates

    *

    Sebelum kita bersua, aku terjebak jauh ke dalam sebuah gua, tanpa jalan pulang. Tapi kaulah cahayaku, dan menuntunku keluar dari kegelapan. Aku bakal gembira jika kita bisa lepas dari gua ini suatu saat nanti, lalu  merangkul diri kita yang tercerahkan ini selagi makan malam. Karibku Diogenes akan memainkan harpanya saat matahari mulai terbit nanti, barangkali kau tertarik bergabung. —Plato

    *

    Nampaknya bagiku lebih penting menghilangkan keraguan dan menentukan kepastian. Jadi aku harus bertanya: Ketika aku melirikmu saat kau menata jubah Ratu Christina dari Sweden itu, kau balas melirikku, apakah itu semacam lirikan kesemsem, ataukah kau memang punya sesuatu di matamu? Aku sangat maklum jika kau tak begitu ingin membalas. Lagi pula, ketakpastian adalah kepastian yang sesungguhnya. —Descartes

    *

    Aku harus mengakui, dukunganmu pada hak asasi perempuan memang menggugah. Itulah yang terlihat di matamu ketika kau mendesak bahwa perempuan harus terdidik. Juga caramu mengepalkan tangan ketika berteriak pada perempuan lain bahwa kita seharusnya tidak diperdagangkan seperti barang-barang. Dan senyummu itu. (Sejujurnya, begitu indah dengan gigimu yang rampak.) Haruskah kita berjumpa untuk protes di luar National Assembly saat fajar tiba? —Mary Wollstonecraft

    *

    Alam pikirmu seperti sebuah batu tulis yang masih kosong, kasihku, aku di sini untuk mewarnainya dengan pengetahuan. Kau hanya butuh sosok lelaki dewasa yang bisa memaknai diri lewat sebuah aliran kesadaran dan mampu bertahan dalam Wabah Besar. Aku telah melalui keduanya. Sekarang, aku takut cintamu merembet seperti penyakit menular, senyummu menjangkiti bagai lalat busuk. Maaf, wabah ini telah merasukiku. Bila kita mampu bertahan, aku berharap berjumpa denganmu lagi. —John Locke

    *

    Seiring waktu kau selesai membaca surat ini, kau akan menyadari bahwa di sana tak ada konsepsi diri. Tak ada “kau” dan “aku”. Yang ada hanya, segepok sensasi yang kita alami: hari di mana kita bertemu di luar rumah tinggal keluargaku di Berwickshire, caramu menangis tersedu-sedu ketika kau tahu aku seorang ateis, begitu jijiknya kau menatapku setelah tahu aku ini hina. Aku mencintaimu, dan momen-momen ini membentuk siapa kita sesungguhnya. Bisa saja aku menyelipkan “Hume” dalam kata humor, tapi ini bukan candaan. —David Hume

    *

    Sayangku Frank, tiba-tiba saja aku tenggelam karenamu. Bukan hanya karena visaku lekas basi tapi juga karena kau terlalu tampan untuk seorang Amerika. Objektivisme mengklaim bahwa kebahagiaan adalah tujuan moral hidup ini, dan aku begitu yakin dengan mengobjekkan dirimu akan membuat aku bahagia. Kehidupan yang kau jalani hasil perjuanganmu sendiri. Kau menghargai dan menghormati pencapaian. Tetaplah kau di sisi kasur di mana kau berada. Hanya itu yang kupinta. —Ayn Rand

    *

    Oh Émilie du Châtelet, kau layaknya mimpi!

    Aku harap kau suka pria tajam dengan kepercayaan diri rendah.

    Satu hal yang ku cintai lebih dari pemisahan gereja dan negara,

    Adalah pada akhirnya mengajakmu kencan.

    Lagakmu menimba ilmu fisika membuat hatiku lunglai;

    Ketika kau menerjemahkan “Principia Mathematica,” aku tak bisa berucap.

    Bersama, marilah merumuskan elemen-elemen api,

    Dan kemudian siapa tahu akan jadi nyata!

    Pemerintah Perancis bisa saja menekan pandanganku,

    Tapi kau akan tetap jadi lamunanku.

    Ijinkan aku belajar dari pikiranmu yang luar biasa,

    Dan sesekali melirik yang indah itu ke belakang. —Voltaire

    *

    Izinkan aku untuk mendeduksi penalaran mengapa kita harus bersama. Jika Aristoteles adalah seorang lelaki, dan semua lelaki menikmati hubungan seksual, maka Aristoteles pasti akan menikmati hubungan seksual. Sekarang, aku tahu apa yang kau pikirkan — kau takut aku memanfaatkanmu sebagai hiasan saja. Tapi kau tak bisa menyalahkanku jika pada akhirnya adalah kebahagiaan. Singkatnya aku akan menemuimu pada pukul sembilan. — Aristoteles

    *

    Kita menghasrati makna, dan kita masih tak bisa merengkuhnya. Sebagai gantinya, kita terperangkap untuk menjalani kehidupan yang tragik, mencoba membuat dunia yang masuk akal di mana aku dipaksa menulis enam surat untukmu dalam sebaris saja. Ya, enam. Apakah kau paham? Aku menghasratimu, dan masih saja tak bisa mendekapmu. Kenapa yang Absurd begitu niat mengolokku? Apakah gara-gara ucapanku? Sungguh, kau bisa memberitahuku. Aku tak bisa menahan kebengisan ini begitu lama, keacuhan semesta yang bisu. Mungkin, sebuah balasan akan terasa menyenangkan. Tahukah kau? Aku bahkan sudah tak peduli lagi. Jangan pergi denganku lagi. Lagipula aku akan segera mati,dan hidup lebih baik jika tak ada artinya. Dengan cara itu aku tak akan pernah dikecewakan. —Albert Camus

    *

    Adalah penting untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kau ingin diperlakukan mereka. Dan yang tentu saja tidak aku harapkan untuk diriku sendiri adalah kencan yang mengecewakan. Bagaimana kita bisa menjalani hidup yang begitu penuh kasih ini dengan hanya pergi ke bar yang sama berulang kali? Inilah saatnya untuk berubah. Masa Keemasan berkencan belum berakhir. Tidak, ini baru saja dimulai. — Konfusius

    *

    Apakah lebih baik dicintai daripada ditakuti atau ditakuti daripada dicintai? Aku selalu merasa lebih aman untuk ditakuti, tetapi dengan kau sesuatu terasa berbeda. Aku menemukan diriku bisa percaya lagi, meskipun, bisakah kau benar-benar mempercayai seseorang? Ketidakjujuran dan tipu daya tentu saja berguna di ranah politik, tetapi aku ingin jujur ​​kepadamu. Mariku mulai dengan mengakui bahwa aku berteman dengan Leonardo da Vinci. Tapi aku berubah, aku janji. Lagipula ini sudah 1505. Tahun yang baru, aku juga baru! —Niccolò Machiavelli

    *

    Aku menatap foto lama kita, tetapi tidak bisa menerka-nerka. Kita berada di bar dan melihat ke kejauhan pada sesuatu — aku tidak ingat apa itu. Aku tahu itu sekitar lima puluh enam. Kau tersenyum dan memegang segelas anggur yang hampir kosong. Tanganmu dengan lembut ngaso di lenganku. Biasanya, aku tahu berbagai tanda. Anggur adalah penanda kita, tentu saja, dan yang ditandakan adalah cita-cita borjuis yang tidak memiliki harapan. Tapi apa artinya semua itu? Aku pikir kita cukup bersenang-senang. Namun kau tidak pernah menelepon. Mengapa? Aku pikir aku bisa menggunakan semiotika untuk memahami apakah ada yang keliru, tetapi ternyata aku harus banyak belajar. — Roland Barthes

    *

    Aku mencintaimu sejak kita masih kecil. Beberapa dari ingatan terindahku adalah kita bermain di jalanan Trier dan membaca liberalisme politik bersama secara sembunyi-sembunyi. Membayangkan kita berdua adalah rakyat pekerja dunia, bagaimana jika kita bersulang satu liter Krombacher nanti? —Karl Marx

    *

    Dear Lou,

    Di bawah ini kau akan menemukan sepuluh alasan mengapa aku percaya kita harus menikah:

    1. Aku tahu aku melamar kau dua kali sebelumnya dan kau menolak, tetapi aku yakin yang ketiga kalinya bakal mengesankan.
    2. Kau psikoanalis wanita pertama, yang sangat aku hormati.
    3. Kau akrab dengan Freud, jadi aku sudah tahu kau akan mudah bergaul dengan teman-temanku.
    4. Kau anak didik intelektual favoritku.
    5. Kau suka menulis tentang sifat erotis wanita dan bagaimana perbedaan seksual berlangsung lebih mendalam dibanding soal ekonomi. Aku sangat suka itu, dan juga menikmati segala sesuatu yang erotis.
    6. Kita berdua penggemar Ibsen.
    7. Baumu selalu wangi.
    8. Aku suka rasa ingin tahu kekanak-kanakanmu dan tingkahmu yang grusa-grusu.
    9. Kita berdua berbagi gairah mengkritik penalaran dan menolak kebenaran obyektif.
    10. Aku sangat kesepian.

    Friedrich Nietzsche

    Sumber gambar: belmont.libguides.com

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here