Home Blog Page 17

Yuval Noah Harari: Dalam Perang Melawan Virus Korona, Umat Manusia Kekurangan Kepemimpinan

0
yuval noah harari

Banyak orang menyalahkan globalisasi atas merebaknya epidemi virus korona, dan menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk mencegah adanya epidemi lain yang serupa adalah dengan mende-globalisasi dunia, yakni dengan membangun tembok, membatasi perjalanan, mengurangi perdagangan. Meskipun demikian, karantina jangka-pendek penting untuk menghentikan epidemi, sementara isolasi jangka-panjang akan mengarah kepada kejatuhan ekonomi tanpa menawarkan proteksi nyata dalam melawan penyakit menular. Sebaliknya, pencegahan terhadap epidemi bukanlah segregasi, melainkan kooperasi.

Epidemi membunuh berjuta-juta manusia sebelum era globalisasi. Pada abad ke-14 di mana tidak ada pesawat dan kapal pesiar, dan Maut-Hitam (Black-Death) menyebar dari Asia Timur hingga Eropa Barat dalam waktu lebih dari seabad. Wabah tersebut membunuh kira-kira 75 juta sampai 200 juta orang – seperempat lebih populasi Eurasia. Di Inggris, 4 dari 10 orang meninggal. Kota Florence kehilangan 50.000 orang dari total 100.000 penduduk.

Pada Maret 1520, seorang pembawa cacar—Francisco de Eguia—tiba di Meksiko. Pada saat itu, Amerika Tengah tidak memiliki kereta api, bus ataupun keledai. Namun, pada Desember seorang pembawa epidemi cacar menghancurkan seluruh Amerika Tengah, yang menurut beberapa perkiraan membunuh hampir sepertiga dari populasi.

Pada 1918 sebuah flu yang sangat ganas berhasil menyebar ke ujung terjauh dunia hanya dalam beberapa bulan. Flu ganas tersebut menjangkiti setengah milyar manusia – lebih dari seperempat spesies manusia. Flu tersebut diperkirakan membunuh 5% dari populasi India. Di Pulau Tahiti terdapat 14% kematian. Sedangkan di Samoa terdapat 20% kematian. Keseluruhan pandemi telah membunuh 10 juta manusia –dan barangkali mencapai angka 100 juta korban– dalam waktu kurang dari setahun. Kematian tersebut melebihi kematian yang disebabkan oleh brutalitas Perang Dunia I yang berlangsung selama 4 tahun.

Sejak 1918, umat manusia menjadi semakin rentan terhadap epidemi, karena kombinasi antara pertumbuhan populasi dan transportasi yang semakin baik. Kota metropolis modern seperti Tokyo atau Kota Meksiko merupakan tempat-tempat berburu patogen (mikroorganisme parasit) yang jauh lebih kaya daripada Florence abad pertengahan, dan perkembangan jaringan transportasi global hari ini jauh lebih cepat daripada 1918. Virus bisa berpindah dari Paris ke Tokyo dan Kota Meksiko kurang dari 24 jam. Karena itu, kita telah menunggu untuk hidup di dalam neraka yang terjangkit dengan satu wabah mematikan setelah satu wabah lainnya.

Namun, baik insiden maupun dampak epidemi menurun secara dramatis. Meskipun terdapat wabah mengerikan seperti AIDS dan Ebola, pada abad 21 epidemi membunuh lebih sedikit manusia dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya sejak Zaman Batu. Hal ini dikarenakan pertahanan manusia melawan patogen-patogen bukankah isolasi, melainkan informasi. Kemanusiaan telah memenangkan peperangan melawan epidemi karena dalam  kompetisi kekuatan antara patogen dan para dokter, patogen bergantung kepada mutasi buta (blind mutations) sedangkan para dokter bergantung kepada analisis informasi ilmiah.

Memenangkan Perang atas Patogen

 

Ketika Maut-Hitam terjadi pada abad ke-14, masyarakat pada saat itu tidak mengerti apa penyebabnya dan apa yang harus dilakukan untuk menghentikan wabah tersebut. Hingga era modern, manusia biasanya menyalahkan penyakit sebagai wujud kemarahan para dewa, iblis jahat atau udara buruk, dan bahkan tak pernah mencurigai adanya bakteri dan virus. Masyarakat saat itu percaya kepada para malaikat dan orang-orang pintar, tetapi mereka tidak dapat membayangkan bahwa setiap tetesan air mungkin bermuatan pasukan predator pembunuh. Oleh karena itu, ketika Maut-Hitam atau cacar  mewabah, hal terbaik yang bisa dilakukan oleh otoritas ialah mengumpulkan massa untuk berdoa ke para dewa dan malaikat. Namun, tindakan tersebut tidaklah membantu. Ketika orang-orang berkumpul bersama untuk berdoa secara massal, justru tindakan tersebut menyebabkan orang-orang terinfeksi.

Selama beberapa abad terakhir, ilmuwan, dokter dan perawat mengumpulkan informasi dari seluruh dunia dan bersama-sama berusaha memahami mekanisme di balik kedua epidemi tersebut dan menemukan cara untuk menghadapinya. Teori evolusi menjelaskan kenapa dan bagaimana penyakit baru muncul dan penyakit lama menjadi lebih ganas. Genetika memungkinkan para ilmuwan untuk meneliti manual instruksi patogen itu sendiri. Ketika orang-orang abad pertengahan tidak mampu menemukan apa penyebab dari Maut-Hitam, hanya butuh 2 minggu bagi para ilmuwan untuk mengidentifikasi virus korona, urutan genomnya dan mengembangkan alat tes yang lebih handal untuk mengidentifikasi orang yang terinfeksi.

Ketika para ilmuwan berhasil memahami apa penyebab dari epidemi, hal ini memudahkan untuk menghadapinya. Vaksinasi, antibiotik, peningkatan kebersihan, dan infrastruktur kesehatan yang lebih baik memungkinkan manusia menang atas predator yang tidak terlihat ini. Pada 1967, penyakit cacar masih menularkan 15 juta orang dan menewaskan 2 juta orang. Pada dekade berikutnya, kampanye secara global untuk vaksinasi cacar berhasil dilakukan, tepatnya pada 1979 World Health Organization (WHO) mengumumkan bahwa kemanusiaan telah menang, dan penyakit cacar telah berhasil dientaskan. Pada 2019 tidak ada satu pun orang terinfeksi ataupun terbunuh oleh penyakit cacar.

Menjaga Perbatasan Kita

 

Apa pelajaran yang bisa kita dapatkan dari sejarah atas epidemi virus korona saat ini?

Pertama, sejarah epidemi menunjukkan bahwa kamu tidak bisa melindungi diri secara permanen dengan hanya menutup perbatasan. Hal ini mengingat bahwa epidemi tersebar secara cepat pada abad pertengahan, jauh sebelum era globalisasi. Bahkan jika kamu mengurangi  koneksi global/hubungan globalisasi seperti yang dilakukan Inggris pada 1348 — hal tersebut tidaklah cukup. Pada abad pertengahan, mengisolasi diri sebagai perlindungan tidak akan cukup. Kamu harus pergi ke Zaman Batu. Bisakah kamu melalukannya?

Kedua, sejarah menunjukkan perlindungan yang sesungguhnya datang dari saling berbagi informasi ilmiah yang handal, dan solidaritas global. Ketika salah satu negara terkena epidemi, negara tersebut harus bersedia dengan jujur membagi informasi tentang meningkatnya wabah secara tiba-tiba (outbreak) tanpa takut ekonominya akan runtuh — sementara negara lain harus mempercayai informasi tersebut dan harus bersedia mengulurkan tangan membantu daripada mengucilkan negara terdampak. Hari ini, Cina memberikan pelajaran penting tentang virus korona kepada seluruh negara, tetapi ini semua menuntut tingkat kepercayaan dan kerja sama internasional yang tinggi.

Kerja sama internasional dibutuhkan untuk melakukan langkah-langkah karantina yang efektif. Karantina dan mengunci rapat pintu keluar dan pintu masuk wilayah (lock-down) merupakan tindakan esensial untuk menghentikan penyebaran epidemi. Namun, ketika negara-negara tidak saling percaya satu sama lain dan tiap negara tidak peduli, pemerintah ragu untuk melakukan tindakan semacam itu. Jika kamu menemukan 100 virus korona di negaramu, akankah kamu mengunci rapat pintu keluar dan masuk seluruh kota dan wilayah untuk mencegah penyebaran penyakit? Sebagai besar kebijakan ini tergantung kepada apa yang kamu harapkan dari negara-negara lain. Mengunci pintu keluar dan masuk suatu wilayah bisa mengarahkan kepada kelumpuhan ekonomi. Namun, apabila kamu berpikir bahwa negara-negara lain akan memberikan pertolongan –maka kamu akan cenderung menerapkan kebijakan tegas ini. Akan tetapi, jika kamu berpikir bahwa negara-negara lain akan mengabaikan, kamu mungkin akan ragu untuk menerapkan kedua tindakan sampai semuanya terlambat

Barangkali hal terpenting yang masyarakat harus sadari tentang epidemi adalah bahwa tersebarnya epidemi ke suatu negara berarti membahayakan seluruh spesies manusia. Bahaya tersebut dikarenakan virus-virus berevolusi.  Ketika virus tersebut berpindah ke manusia, mulanya virus-virus tersebut kurang menyesuaikan diri pada tubuh manusia.   Ketika virus bereplikasi di dalam tubuh manusia, virus-virus tersebut sesekali mengalami mutasi. Kebanyakan mutasi tersebut tidak berbahaya. Namun setiap saat mutasi membuat virus lebih menular atau lebih tahan/kuat terhadap sistem imun manusia –dan jenis virus mutan ini dengan cepat akan menyebar dalam populasi manusia. Karena satu orang mungkin saja menjadi tempat triliunan partikel virus yang mengalami replikasi terus menerus, setiap orang yang terinfeksi memberikan kesempatan bagi triliunan virus untuk lebih beradaptasi lagi terhadap manusia. Setiap manusia yang membawa virus itu seperti mesin perjudian yang memberikan tiket loterai bagi triliunan virus –dan virus hanya perlu menarik satu tiket kemenangan untuk berkembang.

Ini semua bukan hanya spekulasi. Richar Preston dalam Crisis in the Red Zone menjelaskan secara tepat rantai peristiwa pada tahun 2014 tentang wabah Ebola. Wabah bermula ketika beberapa virus Ebola berpindah dari kelelawar ke manusia. Virus inilah yang membuat manusia sakit, akan tetapi virus tersebut masih beradaptasi di dalam kelelawar ketimbang tubuh manusia.. Yang membuat perubahan Ebola dari yang mulanya penyakit langka menjadi epidemi hebat ialah disebabkan oleh mutasi tunggal di dalam gen tunggal salah satu virus Ebola yang menginfeksi manusia, di suatu tempat di Makona, Afrika Barat. Mutasi tersebut memungkinkan strain mutan Ebola –yang disebut strain Makona—untuk terhubung ke transporter kolesterol dari sel manusia. Saat ini, aliha-alih kolesterol, transporter menarik Ebola ke dalam sel. Strain Makona yang baru ini empat kali lebih menular terhadap manusia.

Saat kamu membaca baris-baris paragraf ini, mutasi yang sama sedang terjadi di gen tunggal di dalam virus korona yang menginfeksi beberapa orang di Tehran, Milan atau Wuhan. Apabila mutasi ini benar terjadi,  ini merupakan ancaman langsung dan bukan hanya bagi warga Iran, Italia atau Cina, bahkan bagi kehidupanmu juga. Orang-orang seluruh dunia saling berbagi kesamaan hidup-dan-mati untuk tidak memberikan kesempatan bagi virus korona. Dengan demikian, kita butuh untuk melindungi setiap orang di tiap-tiap negara.

Pada tahun 1970-an kemanusiaan berhasil mengalahkan virus cacar karena seluruh manusia di setiap negara divaksinasi guna melawan virus tersebut. Apabila satu negara gagal mendapat vaksinasi atas populasi warganya, itu bisa membahayakan seluruh umat manusia, sebab selama virus cacar tersebut masih ada eksistensinya dan berevolusi di suatu tempat, virus tersebut bisa tersebar kembali di mana pun.

Dalam pertarungan melawan virus, kemanusiaan perlu menjaga gerbang perbatasan. Tetapi bukan perbatasan antar negara. Justru, penutupan tersebut dibutuhkan untuk menjaga perbatasan antara dunia manusia dan dunia-virus (virus-sphere). Planet bumi ini dipenuhi oleh banyak virus, dan virus-virus baru terus menerus berevolusi berdasarkan mutasi genetik. Perbatasan ini yang memisahkan dunia-virus dengan dunia-manusia berada di dalam dan tiap masing-masing tubuh manusia. Apabila sebuah virus berbahaya berupaya untuk memasuki batas ini di mana pun di dunia, maka seluruh spesies manusia berada dalam bahaya.

Selama beberapa abad terakhir, kemanusiaan telah memperkuat benteng perbatasan, yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Sistem kesehatan modern telah dibangun untuk membentengi perbatasan tersebut, dan para perawat, dokter dan ilmuwan merupakan pelindung yang menjaga perbatasan dan mengusir virus-virus penyusup yang mencoba melewati perbatasan. Namun, bagian perbatasan ini telah dibiarkan terbuka. Ada ratusan jutaan orang seluruh dunia yang tidak memiliki jaminan kesehatan dasar. Hal ini membahayakan kita semua. Kita masih memikirkan tentang kesehatan dalam pengertian nasional, tetapi dengan menyediakan kesehatan yang lebih baik bagi Iran dan Cina dapat menyelamatkan warga Israel dan Amerika dari epidemi. Kebenaran yang sederhana ini harus jelas bagi setiap orang, namun sayangnya hal ini luput bahkan dari orang penting di dunia.

Dunia Tanpa Pemimpin

 

Hari ini, kemanusiaan menghadapi sebuah krisis akut bukan hanya disebabkan oleh virus korona, tetapi juga karena kurangnya kepercayaan di antara manusia. Untuk mengalahkan epidemi, orang-orang perlu mempercayai ilmuwan, warganegara perlu percaya kepada otoritas publik, dan tiap negara perlu saling percaya. Selama beberapa tahun terakhir, politisi yang tidak bertanggung-jawab dengan sengaja telah menggerogoti kepercayaan kepada ilmu pengetahuan, otoritas publik dan kerjasama internasional. Sebagai akibatnya, kita sekarang menghadapi krisis kehilangan pemimpin global yang dapat menginspirasi, mengatur dan membiayai respons global yang terkoordinasi.

Selama epidemi Ebola pada 2014, Amerika Serikat bertindak sebagai pemimpin yang baik hati. Amerika Serikat juga hampir memiliki peran yang sama pada krisis keuangan 2008, ketika negara tersebut mendukung banyak negara-negara untuk mencegah krisis ekonomi global. Namun akhir-akhir ini Amerika Serikat telah melepaskan perannya sebagai pemimpin global. Administrasi Amerika Serikat saat ini memangkas dukungan untuk organisasi internasional seperti World Health Organization, dan memperjelas pada dunia bahwa Amerika Serikat tidak memiliki teman sejati. –Amerika Serikat hanya memiliki kepentingan. Ketika krisis virus korona korona muncul, Amerika Serikat hanya menjadi penonton, dan sejauh ini menahan diri untuk mengambil peran kepemimpinan. Bahkan jika Amerika Serikat tiba-tiba mengambil alih kepemimpinan, kepercayaan yang ada saat ini pada administrasi Amerika Serikat telah terkikis sedemikian rupa, dan hanya beberapa negara yang mau mengikutinya. Akankah kamu mengikuti pemimpin yang motonya itu sendiri “Me First?”

Kekosongan yang ditinggalkan oleh Amerika Serikat belum diisi oleh negara mana pun. Justru kebalikannya. Xenofobia, isolanionisme dan ketidakpercayaan saat ini merupakan karakteristik dari sistem internasional. Tanpa kepercayaan dan solidaritas global, kita tidak akan mampu menghentikan epidemi virus korona, dan kita akan melihat lebih banyak lagi epidemi lainnya di masa depan. Kendati demikian, setiap krisis juga merupakan kesempatan. Semoga saja epidemi sekarang ini membuat umat manusia sadar akan bahaya akut yang diperlihatkan oleh perpecahan global.

Sebagai contoh nyata, epidemi ini bisa menjadi kesempatan emas bagi Uni Eropa untuk mendapatkan kembali dukungan yang telah hilang beberapa tahun belakangan ini. Jika anggota Uni Eropa yang lebih beruntung dengan cepat dan murah hati mengirimkan uang, peralatan dan tenaga medis untuk membantu rekan mereka yang paling terdampak, hal ini akan membuktikan bahwa nilai ideal Eropa lebih baik daripada perkataan-perkataannya. Namun, jika tiap negara dibiarkan berjuang sendirian, maka epidemi ini terdengar seperti lonceng kematian persatuan Uni Eropa.

Dalam situasi krisis ini, perjuangan yang krusial terjadi dalam kemanusiaan itu sendiri. Jika epidemi ini menghasilkan perpecahan yang lebih besar dan tiadanya rasa percaya di antara manusia, maka viruslah yang memenangkan ‘peperangan’ ini. Ketika manusia bertengkar –virus berlipat ganda. Sebaliknya, jika epidemi ini menghasilkan kerja sama global yang lebih erat, maka hal ini akan menjadi kemenangan bukan hanya atas virus korona, melainkan atas patogen-patogen di masa depan.

*Dialihbahasakan dari artikel Yuval Noah Harari berjudul In this moment of crisis, the crucial struggle takes place within humanity itself yang terbit di Time pada 20 Maret 2020.


**Sumber gambar: onedio.com

Yuval Noah Harari: Dunia setelah Virus Korona

0

Umat manusia saat ini sedang menghadapi sebuah krisis global. Barangkali krisis terbesar yang terjadi pada generasi kita. Keputusan yang dibuat oleh masyarakat dan pemerintah beberapa minggu berikutnya akan membentuk dunia beberapa tahun berikutnya. Mereka tidak hanya akan membentuk sistem kesehatan, tetapi juga ekonomi, politik, dan kebudayaan kita. Kita harus bergerak cepat dan penuh keyakinan. Kita juga harus memperhitungkan dampak jangka panjang dari tindakan yang diambil. Manakala kita mencoba memilih sebuah alternatif, kita seharusnya tidak hanya mempertanyakan bagaimana mengatasi ancaman yang terjadi saat ini, tetapi juga dunia apa yang ingin kita tinggali selepas badai berlalu. Ya, badai pasti akan berlalu, umat manusia akan bertahan, banyak dari kita akan tetap hidup — akan tetapi kita akan tinggal di sebuah dunia yang berbeda.

Banyak tindakan darurat jangka pendek akan dijadikan pengaturan hidup. Itu adalah watak alamiah dari kedaruratan. Mereka mempercepat sebuah proses sejarah. Keputusan yang pada waktu normal memerlukan pertimbangan bertahun-tahun dapat dirampungkan hanya dalam rentang hitungan jam. Teknologi yang belum layak uji dan bahkan berbahaya terpaksa dipergunakan, karena memilih untuk diam menyimpan risiko lebih besar. Seluruh negara dijadikan marmut percobaan dalam eksperimen sosial skala luas. Apa yang terjadi ketika orang-orang bekerja dari rumah dan berkomunikasi hanya dari jarak jauh? Apa yang terjadi ketika sekolah dan universitas beroperasi lewat daring? Pada waktu normal, jajaran pemerintah, pengusaha, dan pendidik tidak akan pernah setuju untuk menjalankan eksperimen tersebut. Tapi jelas ini bukanlah waktu normal. 

Dalam masa krisis seperti sekarang, kita dihadapkan dengan dua pilihan penting secara khusus. Pertama, antara pengawasan totaliter dan pemberdayaan sipil. Kedua, antara isolasi nasionalis dan solidaritas global. 

Pengawasan yang Sesungguhnya

Demi menghentikan epidemi, seluruh penduduk harus patuh pada panduan tertentu. Terdapat dua cara utama demi mencapai hal tersebut. Metode pertama adalah pemerintah harus memantau setiap orang, dan menghukum siapa saja yang melanggar ketentuan yang ditetapkan. Saat ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, teknologi memungkinkan pemantauan terhadap semua orang setiap saat. Lima puluh tahun silam, KGB tidak mampu mengikuti warga Soviet yang berjarak 240 m selama 24 jam, KGB juga tidak bisa berharap dapat memproses seluruh informasi yang terkumpul secara efektif. KGB mengandalkan agensi dan analis manusia, dan oleh karena itu tidak mungkin menempatkan agen manusia untuk mengawasi setiap gerak-gerik warganegara. Akan tetapi, pemerintah hari ini dapat mengandalkan sensor di mana-mana dan algoritma yang kuat ketimbang hantu berdarah daging.

Dalam pergulatan mereka melawan epidemi virus korona pemerintah telah mengerahkan banyak perangkat pengawasan termutakhir. China merupakan kasus yang layak diperhatikan. Dengan mengawasi secara seksama gawai setiap orang, mempergunakan ratusan juta kamera pengenal wajah, dan mewajibkan setiap orang untuk mengecek dan melaporkan temperatur tubuh dan kondisi medis mereka, otoritas China tak hanya dapat cepat mengidentifikasi mereka yang dicurigai terjangkit virus korona, tetapi juga melacak pergerakan mereka dan mengidentifikasi dengan siapa saja mereka bersentuhan. Berbagai aplikasi seluler memberikan peringatan terhadap warga terkait kedekatan jarak mereka dengan pasien terinfeksi.

Teknologi jenis ini tidak hanya terbatas di Asia Timur. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu baru-baru ini melimpahkan wewenang kepada Badan Pertahanan Israel untuk mengerahkan teknologi pengawasan yang pada biasanya dipergunakan demi menumpas teroris untuk melacak pasien virus korona. Saat tim kecil bersangkutan menolak untuk melimpahkan wewenang bertindak, Netanyahu menabraknya dengan “dekrit keadaan darurat”.

Anda mungkin berpendapat bahwa tidak ada yang baru dari semua ini. Dalam beberapa tahun belakangan pemerintah dan korporasi sudah menggunakan teknologi tercanggih yang pernah ada untuk melacak, memantau, dan memanipulasi orang banyak. Apabila kita tidak berhati-hati, epidemi akan menjadi sebuah babak baru dalam sejarah pengawasan umat manusia. Bukan hanya karena ia dapat melumrahkan penggunaan perangkat pengawasan massal dalam suatu negara yang selama ini menolak hal tersebut, melainkan juga karena ia menandai sebuah transisi dramatis dari pengawasan “di luar kulit” menuju pengawasan “di dalam kulit”

Hingga kini, saat jarimu menyentuh layar gawai dan menekan sebuah pranala, pemerintah ingin mengetahui secara seksama apa yang kamu tekan. Tetapi dengan virus korona, fokus perhatian berubah. Sekarang pemerintah ingin mengetahui temperatur jarimu sekaligus tekanan darah di balik kulit.  

Puding Keadaan Darurat

Salah satu persoalan yang kita hadapi saat ingin tahu di mana posisi kita berdasarkan pengawasan adalah tidak ada satu pun dari kita yang mengetahui bagaimana kita diawasi, dan apa yang akan terjadi pada tahun-tahun selanjutnya. Teknologi pengawasan berkembang dengan sangat cepat, dan apa yang tampak sebagai fiksi ilmiah pada 10 tahun lalu kini telah menjadi berita usang. Mari kita coba lakukan sebuah eksperimen pikiran: pertimbangkan sebuah hipotesis di mana pemerintah menuntut seluruh warganya untuk menggunakan gelang biometris yang memantau temperatur tubuh dan detak jantung selama 24 jam. Data yang dikumpulkan kemudian ditimbun dan dianalisis oleh algoritma pemerintah. Algoritma akan mengetahui bahwa kamu sakit bahkan sebelum kamu sendiri mengetahuinya, dan algoritma itu dapat mengetahui kamu habis dari mana saja, dan siapa saja yang kamu temui. Rantai infeksi dapat dengan segera dipangkas, dan bahkan dihentikan seutuhnya. Sistem seperti itu dapat menghentikan penyebaran epidemi dalam sehari. Terdengar indah, bukan?

Sisi buruknya ialah, tentu saja, ini akan memberi legitimasi untuk sistem pengawasan baru yang mengerikan. Jika kamu tahu, misalnya, bahwa saya lebih sering memencet pranala Fox News dibanding pranala CNN, maka itu akan memberitahumu tentang pandangan politik dan bahkan mungkin kepribadian saya. Tetapi jika kamu dapat memantau apa yang terjadi dengan temperatur tubuh, tekanan darah, dan detak jantung saya saat menyaksikan sebuah video klip, kamu dapat mempelajari apa yang membuat saya tertawa, menangis, dan bahkan marah, teramat marah. 

Penting untuk diingat bahwa kemarahan, kesenangan, kebosanan, dan cinta adalah fenomena biologis seperti halnya demam dan batuk. Teknologi yang mengenali batuk dapat juga digunakan untuk mengenali tawa. Apabila perusahaan dan pemerintah mulai memungut data biometris kita secara massal, mereka bisa lebih mengetahui diri kita daripada diri kita sendiri, dan mereka tidak hanya akan dapat menebak tetapi juga memanipulasi perasaan kita dan menjual apa saja yang kita inginkan — entah itu berupa produk maupun tokoh politik. Pemantauan biometris dapat membuat taktik retas data Cambridge Analytica terlihat seperti sesuatu dari Zaman Batu. Bayangkan Korea Utara di tahun 2030, di mana warganegara harus memakai gelang biometris selama 24 jam sehari. Jika kamu menyimak pidato dari Pemimpin Besar dan gelang tersebut memberikan isyarat kemarahan, kamu akan mampus seketika.

Tentu saja, kamu bisa menganggap pengawasan biometris sebagai tindakan sementara di masa keadaan darurat. Ia akan menghilang sesaat setelah keadaan darurat usai. Akan tetapi, tindakan sementara memiliki kebiasan buruk melampaui kondisi darurat, mengingat selalu akan ada kondisi darurat baru kelak. Negara asal saya Israel, misalnya, mendeklarasikan kondisi darurat saat Perang Kemerdekaan 1948, yang menjustifikasi serangkaian tindakan sementara mulai dari sensor pers dan penyitaan tanah hingga aturan khusus terkait pembuatan puding (saya tidak bergurau). Perang Kemerdekaan sudah lama dimenangkan, tapi Israel tidak pernah mendeklarasikan kondisi darurat berakhir, dan telah gagal menghapuskan banyak tindakan “sementara” pada 1948 (untungnya dekrit darurat puding telah dihapuskan pada tahun 2011). 

Bahkan apabila infeksi virus korona jatuh hingga titik nol, beberapa pemerintah yang haus data dapat berdalih mereka harus tetap menyimpan sistem pengawasan biometris itu sebab khawatir ada gelombang virus korona kedua, atau karena telah ada Ebola baru yang berkembang di bagian tengah Afrika, atau karena . . .  kamu mungkin sudah paham. Perang besar telah bergejolak beberapa tahun ini yang mengancam privasi kita. Krisis virus korona dapat menjadi titik kritis dari pertempuran. Saat seseorang dituntut untuk memilih antara privasi dan kesehatan, mereka umumnya akan memilih kesehatan.

Polisi Sabun

Meminta orang-orang untuk memilih antara privasi atau kesehatan sebenarnya merupakan akar dari permasalahan yang ada. Karena ini adalah opsi pilihan yang keliru. Kita bisa dan memang seharusnya menikmati privasi dan sekaligus kesehatan. Kita dapat memilih untuk melindungi kesehatan kita dan menghentikan epidemi virus korona dengan tidak melembagakan rezim pengawasan totaliter, namun dengan memberdayakan warga. Dalam beberapa pekan terakhir, beberapa usaha paling berhasil untuk menahan epidemi virus korona diorkestrasi oleh Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura. Sementara negara tersebut telah mempergunakan beberapa aplikasi pelacak, mereka jauh lebih menekankan pada pengujian secara luas, pelaporan yang jujur, dan tekad bulat untuk bekerjasama dengan publik yang terinformasi. 

Pematauan sentralistis dan hukuman yang keras bukanlah satu-satunya cara untuk membuat orang menjalankan isi pedoman yang bermanfaat. Saat orang-orang diberitahu tentang fakta ilmiah, dan ketika mereka mempercayai otoritas publik untuk memberitahu mereka tentang fakta tersebut, maka warga dapat bertindak secara tepat bahkan tanpa pantauan seorang Bung Besar. Masyarakat yang memiliki motivasi-diri dan tidak picik biasanya jauh lebih berdaya dan efektif dibanding masyarakat yang lugu yang didisiplinkan. 

Soal mencuci tangan dengan sabun, misalnya. Ini merupakan salah satu kemajuan terbesar manusia dalam hal kebersihan. Perilaku sederhana ini menyelamatkan jutaan umat manusia setiap tahun. Sementara kita menerimanya begitu saja, pada abad 19 para ilmuwan menemukan pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun. Pada masa sebelumnya, bahkan dokter dan suster melanjutkan operasi bedah dari satu pasien ke pasien lainnya tanpa mencuci tangan. Hari ini milyaran orang terbiasa mencuci tangan mereka, bukan karena mereka takut akan polisi sabun, tetapi karena mereka mengetahui faktanya. Saya mencuci tangan karena mengetahui tentang virus dan bakteri. Saya memahami bahwa organisme kecil ini dapat menyebabkan penyakit, dan saya tahu sabun dapat membersihkannya. 

Akan tetapi, untuk mencapai taraf kesukarelaan dan kerjasama seperti itu, kamu perlu rasa percaya. Orang-orang harus mempercayai ilmu pengetahuan, mempercayai otoritas publik, dan mempercayai media. Dalam beberapa tahun terakhir, politisi takbertanggungjawab telah dengan sengaja meremehkan ilmu pengetahuan, otoritas publik, dan media. Sekarang politisi yang takbertanggungjawab itu mungkin tergoda untuk memilih otoritarianisme, dengan dalih kamu tidak bisa mempercayai publik untuk bertindak dengan benar. 

Lumrahnya, kepercayaan yang sudah terkikis bertahun-tahun tidak dapat dikembalikan hanya dengan semalam. Tapi ini bukanlah kondisi normal. Dalam masa krisis, pikiran pun dapat berubah dengan cepat. Kamu bisa saja terlibat perdebatan pahit dengan saudara kandungmu, tetapi saat kondisi darurat muncul, kamu tiba-tiba menemukan mata air tersembunyi yang menyimpan rasa percaya dan persahabatan, dan kamu bergegas menolong satu sama lain. Ketimbang membangun rezim totaliter, belum terlambat untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap ilmu pengetahuan, otoritas publik, dan media. Kita juga harus menggunakan teknologi terbaru, namun teknologi ini haruslah memberdayakan khalayak luas. Saya mendukung pengukuran temperatur tubuh dan tekanan darah saya, tetapi data tersebut tidak boleh disalahgunakan untuk membangun pemerintahan mahadahsyat. Melainkan, data tersebut harus memungkinkan saya untuk mengambil pilihan pribadi yang bijak, dan juga untuk menjaga kebijakan pemerintah agar akuntabel. 

Jika saya bisa melacak kondisi medis dalam waktu 24 jam, saya dapat mempelajari apakah saya telah menjadi bahaya kesehatan bagi orang lain, dan juga memperhatikan kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan. Dan apabila saya bisa mengakses dan menganalisis statistik terpercaya tentang penyebaran virus korona, saya dapat menilai apakah pemerintah memang memberitahukan kebenaran dan apakah mereka mengambil kebijakan yang tepat untuk menangani epidemi. Di mana saja orang-orang memperbincangkan pengawasan, ingatlah baik-baik bahwa teknologi yang sama digunakan oleh pemerintah untuk memantau individu — tapi juga individu terhadap pemerintah. 

Epidemi virus korona adalah ujian besar kewarganegaraan. Beberapa hari ke depan, setiap dari kita harus memilih untuk memercayai ilmu pengetahuan dan pakar kesehatan dibanding konspirasi tidak berdasar dan politisi rakus. Apabila kita gagal membuat pilihan yang tepat, kita mungkin akan mengorbankan kebebasan kita yang paling berharga, dan berpikir bahwa itulah satu-satunya yang dapat menyelamatkan kesehatan kita.

Kita Butuh Rencana Global

Pilihan penting kedua yang harus kita hadapi adalah antara isolasi nasionalis dan solidaritas global. Epidemi itu sendiri dan sekaligus krisis ekonomi yang menyertainya adalah masalah global. keduanya bisa diselesaikan hanya dengan kerjasama global. 

Pertama dan terutama, demi mengatasi virus kita harus berbagi informasi secara global. Itu adalah kelebihan besar umat manusia dibanding virus. Virus korona di China dan di AS tidak bisa bertukar siasat bagaimana untuk menginfeksi manusia. Tapi China dapat memberikan AS pelajaran berharga tentang virus korona dan bagaimana cara mengatasinya. Apa yang ditemukan oleh dokter Italia di Milan di pagi hari dapat menyelamatkan nyawa di Tehran sore harinya. Ketika pemerintah Inggris menghadapi keraguan tentang beberapa kebijakan, ia bisa meminta saran dari Korea yang telah menghadapi dilema serupa sebulan lalu. Tetapi agar semua ini bisa terjadi, kita memerlukan semangat kerjasama global dan rasa saling percaya. 

Negara harus berkenan untuk bertukar informasi dan berendah hati meminta saran, dan harus bisa mempercayai data dan wawasan yang diperoleh. Kita juga perlu usaha global untuk memproduksi dan mendistribusikan perlengkapan kesehatan, terutama perkakas pengujian dan mesin pernapasan. Ketimbang setiap negara bersikeras untuk menerapkannya di skala lokal dan menimbun peralatan yang dapat dimiliki, usaha global yang terkoordinasi mampu mempercepat produksi dan memastikan peralatan kesehatan terdistribusi secara adil. Seperti halnya negara menasionalisasi industri utama saat perang, perang kemanusiaan melawan virus korona mungkin mengharuskan kita untuk “memanusiakan” jalur produksi yang krusial. Negara kaya yang kasus virus koronanya lebih sedikit harus bersedia mengirim peralatan berguna kepada negara tertinggal yang memiliki lebih banyak kasus, mempercayai bahwa apabila hal yang sama menimpa mereka, negara lain akan datang memberikan bantuan. 

Kita mungkin juga memikirkan tentang usaha global serupa terkait tenaga medis. Negara yang kurang terinfeksi bisa mengirimkan tenaga medis kepada negara yang paling membutuhkan di dunia, baik untuk menolong mereka di saat-saat paling membutuhkan, atau untuk mendapat pengalaman berharga. Apabila fokus epidemi beralih, bantuan bisa datang dari arah sebaliknya. 

Kerjasama global juga diperlukan di garda ekonomi. Mengingat watak global dari ekonomi dan rantai pasokan, apabila setiap pemerintahan berlaku semaunya tanpa mempertimbangkan imbasnya terhadap yang lain, hasilnya adalah kekacauan dan krisis yang semakin dalam. Kita memerlukan recana gerak skala global, dan kita membutuhkan itu secepatnya. 

Kebutuhan lainnya adalah meraih kesepakatan global tentang lalu lintas perjalanan. Menunda keberangkatan internasional untuk sebulan akan berdampak pada kesulitan yang besar, dan menghambat perang melawan virus korona. Negara perlu bekerjasama demi memperbolehkan beberapa perjalanan penting untuk berlanjut melintasi batas: ilmuwan, dokter, jurnalis, politisi, dan orang penting. Ini bisa dicapai dengan mencapai kesepakatan global tentang penyaringan awal orang yang hendak bepergian dari negara asal mereka. Apabila kamu mengetahui hanya mereka yang lolos penyaringan dizinkan untuk pergi, kamu akan lebih bersedia menerima mereka yang datang di negaramu. 

Sayangnya, negara hari ini enggan melaksanakan ini. Ketidakmampuan kolektif telah mencengkeram komunitas internasional. Seperti tidak ada yang cukup dewasa di sini. Kita mungkin berharap pertemuan darurat pemimpin dunia sejak seminggu lalu menghasilkan rencana aksi bersama. Pemimpin G7 baru berhasil menyelenggarakan konferensi video hanya pada pekan ini, dan tidak menghasilkan rencana demikian. 

Pada krisis global sebelumnya — seperti krisis finansial 2008 dan epidemi Ebola tahun 2014 — AS berlagak berperan sebagai pemimpin dunia. Akan tetapi AS hari ini telah turun tahta dari pimpinan dunia. Sudah jelas mereka lebih mementingkan kebesaran Amerika dibanding masa depan manusia. 

Para jajaran mereka bahkan telah mencampakkan sekutu terdekatnya. Saat mereka melarang seluruh kedatangan dari UE, mereka merasa tidak perlu repot untuk memberikan keterangan lebih lanjut kepada UE — terlebih berkonsultasi dengan UE terkait tindakan itu. Mereka telah berskandal dengan Jerman dengan dugaan penawaran sebesar $1bn kepada perusahaan farmasi Jerman untuk membeli hak monopoli vaksin Covid-19 . Bahkan apabila jajaran hari ini mengubah taktik dan menghadirkan rencana aksi, hanya sedikit yang akan mengikuti pemimpin yang tidak bertanggungjawab, yang tidak pernah mengakui kesalahan, dan yang selalu berusaha meraup reputasi sambil mempersalahkan pihak lainnya. 

Apabila lubang yang ditinggal AS tidak diisi oleh negara lain, bukan hanya akan jauh lebih sulit menghadapi epidemi, tetapi juga warisan itu akan terus meracuni hubungan internasional tahun-tahun berikutnya . Akan tetapi setiap krisis juga adalah peluang. Kita harus berharap bahwa epidemi ini akan membuat umat manusia sadar bahaya akut dari perpecahan. 

Umat manusia harus membuat pilihan. Apakah kita akan berjalan menurun menuju perpecahan, atau apakah kita akan memilih jalur solidaritas global? Apabila kita memilih perpecahan, ini tidak hanya akan memperpanjang krisis, tapi juga mungkin akan melahirkan bencana yang lebih buruk di masa mendatang. Apabila kita memilih solidaritas global, itu akan menjadi kemenangan tak hanya terhadap virus korona, tapi juga terhadap seluruh epidemi dan krisis yang mungkin menimpa umat manusia di abad 21. 

*Yuval Noah Harari adalah penulis‘Sapiens’, ‘Homo Deus’ dan ‘21 Lessons for the 21st Century’

**Artikel ini adalah terjemahan dari tulisan Yuval Noah Harari di Financial Times berujudul “Yuval Noah Harari: the world after coronavirus”, edisi 20 Maret 2020. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia demi tujuan saling mengingatkan dan pendidikan.

***Sumber gambar: wsj.com

Sains Tak Sama dengan Saintisme: Itu Masalahnya

0
scientism

Tanggapan terhadap tanggapan balik Hukmi yang berjudul Masalahnya di Sini

Tulisan pertama Hukmi berisi dua poin utama: (1) pertentangan sains dan agama dalam isu wabah Covid-19 dan (2) isu kehendak bebas. Setengah dari isi tulisannya membahas yang pertama. Hukmi berpandangan isu korona adalah kasus pertentangan agama dan sains. Saya berkata tidak ada pertentangan di situ. Jadi, kritik saya tepat pada salah satu poin utama; tidak salah sasaran. Tentu saya tak usah mengulang lagi argumen dari tanggapan pertama. Melihat Hukmi tak mempersoalkan argumen saya (kecuali hanya menyebutnya sebagai argumen ‘pasaran’, padahal yang praktis itulah justru yang riil, sementara yang teoretis baru merupakan potensi), saya anggap Hukmi tak memandang argumen saya keliru, mungkin hanya kurang memuaskan dahaga dia saja yang lagi excited mendapat bahan baru buat menyerang agama.

Baiklah, langsung saja: dari tanggapannya terhadap tanggapan saya, tampak bahwa Hukmi mengira kritik saya salah sasaran karena paradigma yang dia pakai bukanlah sains an sich, melainkan saintisme (scientism), yakni paham yang menganggap sains bukan sekadar pembacaan terhadap data dari alam, melainkan juga bahwa sains adalah satu-satunya pandangan dunia yang valid. Syahadat saintisme adalah tidak ada realitas di luar alam fisik—tentu saja termasuk Tuhan. Persis inilah ideologi orang-orang seperti Dawkins dan para neo-ateis kontemporer.

Bagi Dawkins dan para pengikutnya (seperti Hukmi), evolusi kudu berkonsekuensi logis terhadap eliminasi (konsep) Tuhan. Karena saya bukan pengikut Dawkins, saya berpandangan, sebagaimana pandangan para evolusionis yang juga beragama, bahwa evolusi tidak niscaya menegasikan adanya Tuhan. Ketika Darwin menulis The Origins, tidak serta merta semua umat beragama menolaknya. Kreasionisme (dalam pengertian spesifik sebagai anti-evolusi) muncul awal-awal dari kelompok Protestan di Amerika, dan baru belakangan kemudian diimpor ke dunia Islam (dengan oknum utamanya Harun Yahya), dengan inti argumen yang serupa tapi tentu ayat-ayat yang membalutinya berbeda.

Ketika Copernicus (yang religius) menyatakan bumi mengelilingi matahari (yang datanya sama dengan yang dipakai Ptolemy, hanya paradigmanya berganti—Hukmi pernah dapat kuliah ini di CRCS), gereja Katolik tidak serta merta satu suara. Paus pada saat itu, yang kepadanya karya Copernicus didedikasikan, menyambutnya dengan baik. Malah, yang pertama keras menolak teori Copernicus adalah gereja Lutheran. [FYI, Luther termasuk yang diberi ucapan terima kasih di laman ‘About’-nya Antinomi, lho. Wekaweka.]

Kembali lagi: jadi yang bertentangan (atau, khusus dalam isu korona, lebih tepatnya: dipertentangkan Hukmi) adalah antara agama dan saintisme sebagai sesama worldview. Yang bertentangan bukan antara agama dan sains; yang pertama mengandung nilai etis, sementara yang kedua tidak niscaya demikian. Sains memberikan informasi tentang cara kerja alam. Etika (termasuk di dalamnya etika yang diinspirasi ajaran agama) menyampaikan apa yang seharusnya dilakukan menyikapi informasi dari sains itu.

Agama dan saintisme bersebarangan dalam soal pengakuan akan adanya Realitas yang melampaui realitas fisik. Iman akan adanya Yang Transenden itulah yang, meski melahirkan sikap etis yang boleh jadi serupa secara lahiriah, paradigma yang mendasarinya berbeda. Walakin, apa masalahnya dari menyikapi isu korona dengan menyertakan paradigma akan adanya Yang Transenden? Seperti yang saya sebut di tangggapan saya sebelumnya, sejauh menyangkut korona, yang riil dan praktis terjadi dan bermasalah adalah sebagian kecil pemimpin agama yang pasrah tanpa ikhtiar. Itu saja.

Di ranah teoretis, itu masalah Hukmi sendiri. Dia gelisah karena tak suka melihat ada ketegangan di level paradigmatis antara agama dan saintisme dalam menyikapi isu korona. Saya ingin menambahi ketegangan teoretis ini: ketika menyatakan bahwa kerumunan orang harus dijauhi karena potensi menyebarkan virus yang membahayakan kesehatan atau bahkan nyawa manusia, tentu butuh landasan etis. Umumnya Muslim yang paham fikih akan segera menyebut bahwa di antara tujuan agama ialah hifzhun-nafs, menjaga jiwa. Jadi jelas landasan etisnya. Nah, apa landasan etis Hukmi ketika menyatakan itu? Bukankah moralitas itu konstruksi sosial saja, Gus Hukmi? (Dia beneran gus lho, sementara saya… ah, siapalah hamba yang daif ini.)

Letak perbedaan saya dengan Gus Hukmi dalam saling tanggap tulisan ini ialah bahwa ‘sains’ dalam pikiran saya beda dengan yang dipikirkan dia. Gus Hukmi  mengangap sains dan saintisme bermakna sama belaka. Saya tidak demikian.

Maka dengan ini saya menantang Hukmi untuk menyebut seberapa banyak dari para saintis besar dunia yang berpaham saintisme itu, yakni yang dengan hakulyakin menyatakan bahwa alam fisik inilah satu-satunya alam yang ada dan menyangkal kemungkinan adanya Realitas Yang Transenden, Yang Supernatural, atau apapun istilahnya, yang melampui dunia materi. Kalau sebagian besar mereka demikian, saya tarik semua kritik saya, dan anggaplah invalid semua. Tentu saja ini tugas Hukmi, bukan saya dong. Kan dia direktur institut yang memang fokus utamanya adalah filsafat, sains, dan agama. Hehe.

Di sini filsafat sains adalah kunci. Apakah sains itu identik belaka dengan realitas yang ia deskripsikan atau ia pada hakikatnya adalah tafsir yang bertujuan menstrukturkan realitas? Semoga saya tak tampak terlalu bodoh ketika menyebut ironis kenyataan bahwa sebagian pengikut filsuf anti-fundasionalis yang menentang klaim bahwa bahasa adalah cermin realitas ternyata bisa berganti haluan begitu urusan tiba menyoal sains dan agama.

Demikian. Soal agama dan sains sementara sampai sini dulu. Sori ya, Hukmi, saya bukan pembeli argumen God of the Gap dan integrasi (atau ayatisasi) temuan sains dengan kitab suci. Jadi, kalau kamu pakai itu buat mengkritik saya, itu namanya falasi orang-orangan jerami.

Hal-hal lain

Sekarang soal kehendak bebas. Isu ini tidak saya sentuh di tanggapan pertama karena saya malas saja masuk ke dalam debat teknis teologis—persisnya malas kalau nanti malah menyeret diskusi agama dan sains ini ke debat akidah. Tidak menanggapi semua poinnya bukan kemudian berarti kritik salah sasaran. Info untuk Hukmi: posisinya bukan dua, tapi tiga—Jabbariyah, Qadariyah (di dalamnya ada Mu’tazilah), dan Asy’ariyyah. Dalam Asy’ariyah pun ada detail-detail yang berbeda antara pengikutnya, karena posisi pertengahan yang diambilnya, dalam tafsir Asya’irah (para pengikut al-Asy’ari), kadang bisa cenderung dekat ke Jabbariyah (menolak kehendak bebas), kadang ke Qadariyah (menyatakan ada kehendak bebas). Posisi yang biasanya dijelaskan dalam buku daras teologi Asy’ariyah adalah konsep kasb (lit. akuisisi)yakni Tuhan melimpahkan potensi untuk berbuat kepada manusia; manusia punya pilihan untuk menggunakan atau tidak menggunakan potensi itu, dan kuasa dan kehendak Tuhan bekerja simultan dengan ketika manusia menggunakan atau tidak menggunakan potensi untuk berbuat itu.

Bahasan kehendak bebas ini butuh tulisan tersendiri yang panjang, lebih-lebih kalau spesifik menyangkut akidah Islam. Cukuplah saya ulang yang sebut di tanggapan pertama, sebagaimana umumnya Asy’ariyah akan mengatakan: tawakal adalah perintah Tuhan, ikhtiar juga demikian.

Soal kehendak bebas, yang lebih cocok untuk Antinomi, agar berbeda dari kajian UIN, adalah apakah para saintis (lebih khusus lagi, neurologis, boleh juga memasukkan di dalamnya neo-ateis seperti Sam Harris) saat ini sepakat bahwa manusia benar-benar punya kehendak bebas? Ini sekali lagi tugas Hukmi, ya. Sudah baligh, kok!

Terakhir, mengikuti saran di pungkasan tanggapan Hukmi mengenai manusia yang mengendalikan kematian—ini maksudnya transhumanisme? Tenang, nanti agama akan meresponsnya. Sekarang ini saja sudah muncul beberapa organisasi keagamaan yang fokus menyambut era Manusia 2.0. Hukmi mungkin akan membayangkan agama akan punah di era itu. Saya membayangkan, sepanjang Manusia 2.0 itu masih memiliki karakter kesadaran yang sama persis dengan manusia saat ini, bukan hanya kognisi tapi juga afeksi (termasuk mencintai perempuan), kegelisahan untuk mencari makna hidup dan pikiran tentang apa sejatinya realitas dunia ini akan akan terus membayangi. Di sana agama-agama tradisional akan beradaptasi. Tentu saja ini prediksi. Hukmi boleh memprediksi, saya juga. Kebenarannya akan ditentukan nanti di masa depan.

Sambil menunggu era itu, saya sekarang mau tidur dulu ya. Semalam begadang.

*Artikel ini dimuat atas seizin dari penulis. Sumber asli: contingentbeing.wordpress.com

*Sumber gambar: exploringmormonthought.com

Masalahnya di Sini: Tuhan Hanyalah Konsep yang Suatu Hari Tidak Lagi Relevan

0

Judul dari tulisan saya sebelumnya adalah Tuhan di Sisa-sisa Wabah, yang artinya, atensi utama dari tulisan tersebut adalah bagaimana hubungan silang-sengkarut agama dan sains dalam kasus wabah hari ini memiliki konsekuensi terhadap konsepsi kita tentang Tuhan. Sayangnya, kritik yang dialamatkan oleh Gus Aziz, seorang Peneliti di CRCS UGM, dalam tulisannya berjudul Agama, Sains, dan Korona: Masalahnya di Mana? sama sekali tidak menyentuh persoalan tersebut. Dalam asumsi inilah kemudian saya dapat mengatakan bahwa kritik Gus Aziz salah sasaran, atau bahkan sama sekali tidak relevan.

Oleh sebab yang demikian, seharusnya, saya tidak merasa perlu untuk menanggapi balik kritik dari Gus Aziz. Selain karena salah sasaran, argumentasi yang diajukan oleh Gus Aziz juga sangat trivial dan pasaran, yakni menarik problem konsekuensial dari sebuah kasus terhadap bangunan konseptual ke dalam problem praktis. Kendatipun demikian, saya tetap merasa perlu untuk menanggapi balik sebagai bentuk tanggung jawab ilmiah saya kepada publik, atau anggap saja sebagai sebuah konfirmasi—atau arogansi intelektual?

Gus Aziz sebenarnya tidak perlu repot-repot menulis kritiknya jika argumentasi yang dipakai hanya sebatas argumen ‘orang-orang pasar’. Argumen yang dipakai dalam kritiknya, jika boleh diparafrase, demikian bunyinya: “Saya tidak merasa agama saya bertentangan dengan sains, kok. Saya percaya sains, dan saya tetap berdoa.”

Tepat dalam kalimat “saya percaya sains, dan saya tetap berdoa” atau “saya ikhtiar dan saya tawakal”—dalam bahasa yang digunakan Gus Aziz—lokus dari masalah sains dan agama dalam kasus wabah Korona itu dapat diperdebatkan, bukan pada perilaku yang tidak selaras antara umat beragama dengan anjuran sains yang dikampanyekan pemerintah. Namun saya tidak melihat Gus Aziz ingin mempersoalkan pernyataan tersebut karena barangkali menurutnya pernyataan semacam itu tidak bermasalah—mengingat ia seorang religius-muslim-moderat.

Alih-alih melihat lebih jauh konsekuensi-konsekuensi dari pernyataan semacam itu, Gus Aziz malah terjebak pada pembuktian tidak adanya pertentangan deskriptif dari sains tentang covid-19 dengan klaim-klaim agama—sependek itu? Perdebatan sains dan agama tidak hanya melulu pertentangan deskriptif seperti itu. Semisal, evolusionisme dan kreasionisme tidak hanya berbicara tentang perbedaan deskriptif dari agama dan sains tentang kemenjadian dunia dan juga manusia, melainkan juga konsekuensi-konsekuensinya terhadap konsep kita tentang Tuhan dan relasinya dengan dunia—sebaiknya Anda membaca lebih banyak lagi tentang perdebatan itu. Sebagaimana dikatakan oleh Dawkins, premis dasar dari agama tentang dunia itu sendiri sudah bertentangan dengan sains; agama percaya bahwa ada kekuatan supra-natural dibalik dunia ini, sementara sains hanya percaya pada hukum natural—Dawkins tetap menjadi relevan, kan?

Baiklah. Karena Gus Aziz lebih akrab dengan diskursus ilmu kalam atau teologi Islam dibanding teori-teori kafir dari pemikir Barat, saya akan menarik lokus perdebatan yang saya ajukan dalam tulisan saya sebelumnya ke dalam perdebatan yang lebih Islami, yakni perdebatan antara Jabbariyah (determinism) dan Qodariyah (indeterminism). Terdengar klasik? Ya, memang klasik. Namun, menurut saya, perdebatan tersebut masih sangat relevan dengan konteks laju perkembangan sains dan teknologi hari ini. Itulah mengapa pertanyaan penutup dari paragraf pertama saya berbunyi: “apakah kita benar-benar memiliki kehendak bebas?”. Sayangnya, Gus Aziz luput menangkap pertanyaan esensial tersebut—atau malah tidak membacanya?

Melihat dari argumentasi yang dipakai, saya yakin dan haqqul yaqin, dalam perdebatan tersebut Gus Aziz memilih jalan tengah—khas orang moderat, yakni meyakini bahwa kehendak bebas manusia dan kehendak Tuhan memiliki porsinya masing-masing. Dalam perdebatan teologi Islam, posisi semacam ini lebih dikenal dengan mazhab Asy’ariyah. Dalil yang digunakan adalah “manusia berencana, Tuhan yang menentukan.” Tapi bukankah pada akhirnya penentu akhir adalah Tuhan, dan rencana manusia kemudian menjadi tidak relevan? Mengapa kita tidak berdoa saja? Kemungkinan besar jawaban yang akan muncul adalah “Tuhan ingin melihat usaha kita.”—argumen sampah!

Di sinilah saya kira wabah covid-19 itu membuat perdebatan semacam itu tampak menjadi semakin nyata dengan adanya beragam respons dari umat beragama. Ada yang percaya bahwa kematian merupakan kuasa mutlak milik Tuhan sehingga mereka tetap bersikukuh untuk melakukan ibadah komunal, yang konsekuensinya jelas berbahaya menurut sains. Ada juga yang percaya bahwa kita harus tetap ikhtiar sebelum tawakal. Dan jelas, Gus Aziz menyatakan bahwa posisi yang terakhir itulah yang benar-benar merepresentasikan agama hanya karena ia merupakan pandangan mayoritas.

Sialnya, saya tidak pernah berbicara dan peduli tentang problem representasi; mana yang benar-benar mewakili suara umat beragama. Di sinilah kemudian tuduhan over-generalisasi tersebut salah alamat. Di bagian akhir dari tulisan saya dengan sub-judul ‘Yang tersisa dari Tuhan’ jelas hanya berisi pengajuan konsekuensi-konsekuensi dari perbedaan keyakinan dan sikap menyoal wabah terhadap bangunan konseptual kita tentang relasi Tuhan dan manusia.

Pertama, posisi Asy’ariyah, sebagaimana diwakili oleh orang-orang moderat, mengandaikan konsekuensi konseptual yang menempatkan Tuhan pada sisa-sisa usaha manusia—ini alasan mengapa judul artikel saya adalah Tuhan di Sisa-sisa Wabah. Artinya, kita hanya percaya kepada Tuhan karena keterbatasan pengetahuan yang kita miliki—istilah kerennya God of the gap. “Apa masalahnya jika kita hanya menempatkan Tuhan pada keterbatasan sains?” Jelas bermasalah. Secara teoretis—jangan dibenturkan dengan kenyataan sekarang karena ini hanya eksperimen kasus yang sifatnya prediktif—ketika kita dapat membongkar seluruh enigma realitas dan menentukan takdir kita sendiri, di mana kemudian kita menempatkan Tuhan? “Buktinya banyak hal yang belum dapat dijelaskan oleh sains.”—kan sudah saya bilang jangan dibenturkan, Bambang!

Posisi Asy’ariyah memberikan kemungkinan kepada sains untuk mengikis peran-peran Tuhan yang selama ini diyakini oleh manusia; azab, mukjizat, whatsoever. Kecuali, Anda menerima premis-premis dasar yang diajukan oleh Deisme—cari sendiri, sudah baligh juga! Namun konsekuensi yang harus Anda terima adalah Deisme akan menjadikan keberagamaan Anda menjadi tidak bermakna; sebanyak apa pun Anda berdoa, Tuhan sudah tidak ada urusan dengan dunia.

Kedua, posisi Jabbariyah, yang diwakili oleh para penyangkal sains—salah satunya Habib Luthfi, justru malah tidak memiliki masalah dengan konsep Tuhan. Wabah, bagi mereka, adalah bagian dari skenario Tuhan. Bagaimanapun kita menghindar, jika kita memang sudah ditakdirkan mati karena virus, kita akan tetap mati. Tuhan, dalam pengertian ini, adalah zat mutlak yang menguasai segalanya; hidup dan mati kita.

Jelas, problem dari Jabbariyah kemudian adalah tentang kehendak bebas manusia. Argumen klasik: bagaimana Anda menuntut pertanggungjawaban atas suatu tindakan yang dilakukan seseorang, jika ia tidak memiliki kehendak bebas?—klise, bukan? Ya, klise tapi memang itu problem yang tidak selesai dari Jabbariyah.

Singkatnya, yang ingin saya tegaskan adalah pada prinsipnya agama dan sains bagaimanapun tidak akan pernah kompatibel selain hanya dalam asumsi-asumsi etis. Dalam asumsi ontologis, sains menempatkan posisi Tuhan sebagai sesuatu yang kontingen (contingency), sementara agama menempatkan Tuhan sebagai sesuatu yang wajib (necessity). Dalam asumsi epistemologis, sains berangkat dari klaim partikular dengan metode eksperimen yang kebenarannya tentatif, sementara agama berangkat dari klaim universal yang kebenarannya absolut.

Pernyataan yang selalu muncul adalah “kan, itu hanya teori. Realitanya, tidak ada umat beragama yang merasa itu bertentangan.” Ya, karena mereka tidak paham!

Di sinilah teori-teori yang saya kutip, agar tampak lebih nggaya, menjadi relevan. Teori-teori tersebut memberikan kita bingkai untuk melihat bagaimana relasi agama dan sains sejauh ini diargumentasikan. Dan posisi saya jelas. Saya memilih argumen overlapping magisteria, sebab kenyataannya agama memiliki klaim tentang dunia material yang seharusnya menjadi ranah sains.

Posisi tersebut sebenarnya juga dipakai oleh hampir seluruh intelektual religius di Indonesia. Jika Anda menuliskan kata kunci agama dan sains di Google Scholar, semua paper yang muncul akan bernada sama: Integrasi ayat-ayat Al-Quran dengan temuan sains. Dalam argumentasinya, Gus Aziz, jelas berada dalam posisi ini juga—meskipun saya yakin tidak mungkin sebodoh orang-orang yang ota-atik gatuk ayat—atau sama juga? Namun, sekalipun dalam posisi yang sama, saya memilih pendekatan konflik, bukan integratif (otak-atik gatuk).

Sekadar saran: jika Gus Aziz ingin kritiknya lebih tajam dan tepat sasaran, Gus Aziz sebaiknya membuktikan bagaimana cara kerja Tuhan melalui hukum alam sehingga manusia mampu mengendalikan, atau menunda, atau menghindari, kematian melalui sains itu tidak bertentangan dengan kemahakuasaan (omnipotence) Tuhan. Ini problem logika klasik, namun belum terselesaikan. Satu-satunya penyelesaiannya adalah melalui argumen modal fallacy—silakan dipelajari sendiri!

Namun sebaiknya tidak usah. Logika membuat Anda sesat dan murtad! Astaghfirullah, mau masuk neraka?

*Sumber gambar: renegadetribune.com

Agama, Sains, dan Korona: Masalahnya di Mana?

0

Tulisan Direktur Antinomi Institute Risalatul Hukmi berjudul Tuhan di Sisa-sisa Wabah: Antara Korona, Sains, dan Agama (24/3) sebenarnya tidak perlu nggaya dengan mengutip Gould, Russell, Barbour, dan Dawkins segala, karena tidak benar-benar relevan. Sebelum meloncat membawa topik ini ke wacana hubungan antara agama dan sains, tulisan si Hukmi itu mengandaikan dua hal yang ia kira bisa diterima begitu saja, padahal tidak.

Pertama, tidak jelas, setidaknya dalam tulisan itu, di mana masalah riil pertentangan agama dan sains dalam persebaran wabah Covid-19Kedua, ketika menyebut agama dan sains, juga tak jelas rujukannya: apakah agama di situ mengacu pada satu tafsir keagamaan atau perilaku sebagian umat beragama; dan apakah sains di situ mengacu secara ketat hanya pada pembacaan terhadap data dari alam, atau melebar dengan juga mencakup sikap etis yang seharusnya diambil dalam menyikapi bacaan itu.

Jangan-jangan pertentangan itu hanya ada dalam imajinasi Hukmi, tapi riilnya tidak ada. Begini bila kita mau menguraikannya.

Sebagai pembacaan terhadap dunia material, sains mengatakan bahwa virus korona masuk melalui pernapasan dan merusak paru-paru. Tidak ada (ajaran) agama yang menentangnya. Sains mengatakan virus korona menyebar melalui kontak dengan orang yang positif Covid-19 dan akan teramplifikasi potensi persebarannya melalui kerumunan orang. Tidak ada (ajaran) agama yang menentangnya. Tidak ada klaim ekplisit di kitab-kitab suci sumber ajaran agama yang menentang itu. Satu contoh yang bisa disebut pertentangan itu ialah, misalnya, sains menyebut bumi ini bulat, tapi ada tafsir keagamaan yang menyebut bumi ini datar—nah, ini baru bisa disebut pertentangan, dan dalam kasus demikian mengutip Barbour, Russell, atau Dakwins bisa relevan. Tapi model pertentangan macam ini tidak ada dalam isu wabah Covid-19.

Pertentangan yang ada (dan ini yang tampaknya diandaikan oleh si Hukmi sebagai pertentangan antara agama dan sains) ialah kenyataan sebagian umat beragama yang tahu bahwa virus korona menyebar melalui kerumunan orang tapi tetap saja mereka bersikukuh menyelenggarakan acara perkumpulan orang banyak, dengan alasan bahwa kematian ada dalam kekuasaan Tuhan, bukan Covid-19.

Kenyataan itu tidak bisa dibaca sebagai pertentangan antara agama dan sains. Itu adalah kenyataan pertentangan antara satu tafsir keagamaan dan ‘sikap etis saintifik’, dengan syarat physical distancing valid disebut sebagai sikap etis dengan tambahan adjektif ‘saintifik’, yang tentu juga harus mengasumsikan bahwa pembacaan sains dalam dirinya inheren mengandung nilai etis. [Perhatikan berbagai qualifier yang saya berikan dalam uraian ini, agar tidak terjerumus dalam falasi.]

Karena hanya satu tafsir saja, ia tidak bisa disebut mewakili agama—dengan syarat bahwa agama di sini merujuk pada umat beragama (yang sebenarnya merupakan perujukan yang bermasalah).

Pun bahkan jika kita mengikuti alur pikir “agama = umat beragama”, dan lebih khusus lagi Islam (karena di bidang ini saya lumayan tahu), sebagian besar pemimpin Muslim saat ini menganjurkan untuk melakukan physical distancing itu, atau dengan kata lain mengikuti himbauan dari apa yang di atas kita sebut dengan ‘sikap etis saintifik’ (sekali lagi jika istilah ini valid).

Anjuran physical distancing itu (bahkan disertai dengan himbauan untuk sementara tidak salat berjemaah di masjid, termasuk Jumatan) muncul merentang dari Al-Azhar, Arab Saudi (yang menutup Masjidil Haram), hingga MUI. Anjuran ini muncul dari beragam kelompok, dari yang kerap disebut moderat, hingga konservatif, hatta tokoh pendukung khilafah. Sikap yang umum muncul dari tokoh-tokoh Muslim saat ini ialah “ikhtiar dan tawakal”, bukan tawakal saja. Sebagaimana tawakal adalah perintah Tuhan, ikhtiar juga perintah Tuhan. Simpel, saya kira.

Ironisnya, sikap melawan terhadap himbauan untuk physical distancing itu malah muncul dari tokoh yang kerap digolongkan ke dalam kelompok moderat. Tapi tetap, yang terakhir ini bukan suara mayoritas pemimpin umat beragama Islam, dan dengan demikian menjadikannya sebagai representasi agama (Islam) adalah bentuk overgeneralisasi, yang mana bukan merukapan sikap saintifik (dalam pengertian yang sebenarnya), tapi ironisnya diadopsi oleh beberapa orang yang mendaku dirinya mengampanyekan kebenaran sains.

Pun bahkan jika kita mau mengatribusikan tafsir keagamaan yang membuat orang bersikeras berkumpul di tengah pandemi itu pada agama itu sendiri, maka gerakan organisasi keagamaan arus utama yang menganjurkan untuk mematuhi dokter, bahkan bergerak nyata hingga ke tingkat kampung-kampung untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya virus korona serta melakukan penyemprotan disinfektan di tempat-tempat publik, juga mesti diatribusikan pada agama. Di sini tantangannya adalah memberikan penisbahan yang fair, yang juga merupakan sikap saintifik.

Demikianlah. Untuk mengingatkan kembali, jika mau diperas dalam satu kalimat yang padat, pertentangan yang terjadi adalah: antara perilaku sebagian umat beragama yang didasari satu tafsir keagamaan (yang tidak merepresentasikan pandangan mayoritas) dengan nilai etis yang diandaikan oleh Hukmi sebagai sikap sains. 

Sampai di sini saja saya berharap inti tulisan ini sudah cukup jelas, dan tidak perlu berpanjang lebar. Di masa krisis ini, kita sebaiknya memperbanyak tertawa dan bercinta, untuk menjaga imun tubuh, bukannya malah berpolemik. Boleh jadi, anjuran untuk tertawa dan bercinta ini malah lebih ‘etis-saintifik’ ketimbang perilaku sebagian pengikut saintisme yang suka mengajak berpolemik, di tengah-tengah pandemi lagi. Astaghfirullah, orang kok kayak gitu. Hih!

*Artikel ini dimuat atas seizin dari penulis. Sumber asli: https://contingentbeing.wordpress.com

Sumber gambar: www.usnews.com

Tuhan di Sisa-sisa Wabah: Antara Korona, Sains, dan Agama

0
corona

Wabah membuktikan sekali lagi bagaimana sains adalah satu-satunya pencapaian manusia yang dapat dipercaya sampai saat ini. Selain meruntuhkan kembali bayangan-bayangan kita tentang sistem ekonomi-politik yang ideal, wabah Covid-19 juga memaksa kita untuk kembali memikirkan ulang premis-premis dasar kita dalam berkeyakinan; apakah agama secara prinsip bertentangan dengan sains. Pertanyaan tersebut pada akhirnya juga mengantarkan kita pada pertanyaan yang lebih mendasar tentang modus eksistensi kita; apakah kita benar-benar memiliki kehendak bebas?

Covid-19, tentu saja, bukanlah kasus pertama yang mempertemukan agama dan sains di persimpangan jalan. Sejarah konflik antara agama dan sains sudah dimulai sejak ratusan tahun lalu; bumi datar vs bumi bulat, geosentris vs helio sentris, kreasionisme vs evolusionisme, dan masih banyak kasus lainnya yang tak kalah pelik. Namun, dari semua konflik tersebut, pandemi adalah kasus paling krusial sebab ia gayut dengan eksistensi dan keselamatan manusia. Dalam hal inilah kita hanya butuh merumuskan satu pertanyaan; apakah agama dan sains dalam prinsipnya bertentangan? Pertanyaan tersebut pada akhirnya akan mengantarkan kita pada sebuah keputusan epistemik; mana yang lebih adekuat di antara keduanya.

Russell, dalam bukunya Religion and Science (1974), mengatakan bahwa agama dan sains dalam prinsipnya memiliki kontradiksi fundamental. Menurut Russell, keduanya mendasarkan prinsip kebenarannya kepada asumsi epistemologis yang sama sekali berbeda; agama selalu berangkat dari klaim-klaim universal berdasarkan wahyu ataupun doktrin-doktrin metafisis lainnya yang kebenarannya bersifat absolut, sementara sains bertolak dari klaim-klaim partikular yang dibuktikan melalui eksperimen yang kebenarannya tentatif. Dari perbedaan prinsip itulah kita kemudian dapat mengatakan bahwa jika keduanya bertemu pada persoalan dengan objek material yang sama, maka keduanya tidak akan mungkin terhindar dari konflik.

Dalam kerangka pemahaman tersebut, kita kemudian sampai pada persoalan apakah agama dan sains memiliki objek persoalan yang sama sehingga memungkinkan untuk saling tumpang-tindih? Jay Gould, dalam bukunya The Rocks of Ages: Science and Religion in the Fullness of Life (1999), mencoba menjawab persoalan tersebut dengan mengajukan Non Overlapping Magisteria Argumentation (NOMA). Gould dengan tegas menyatakan bahwa agama dan sains berada pada ranah yang berbeda sehingga tidak mungkin untuk diintegrasikan apalagi dipertentangkan. Argumen ini didasarkan pada premis bahwa agama tidak pernah berbicara tentang dunia material yang menjadi ranah sains; agama hanya berurusan dengan makna, nilai, dan tujuan dari eksistensi manusia.

Dalam pembagian tipologi relasi agama dan sains yang diberikan oleh Barbour dalam bukunya Religion in The Age of Science (1990), NOMA mengandaikan dua pendekatan yang berbeda; independensi dan dialog. Pendekatan yang pertama mengandaikan keberpisahan penuh, sementara yang kedua memberikan ruang dialog untuk saling memahami satu sama lain. Dalam tulisan-tulisan populer, kita dapat menemukan bentuk-bentuk argumentasi ini dalam bukunya Karen Armstrong, The Case for God  (2009), yang ditujukan untuk membantah argumen-argumen ateisme ilmiah yang diusung oleh Dawkins dan beberapa ilmuan lain.

Tentu saja, NOMA bukanlah argumentasi yang cukup memadahi, jika bukan malah sesat pikir. Dawkins dalam tulisannya berjudul When Religion Steps on Science’s Turf (1998) membuktikan secara argumentatif bahwa agama dalam dirinya selalu mengandaikan klaim tentang dunia material ketika ia meyakini adanya kekuatan supranatural yang berkuasa penuh atas alam semesta dan seisinya. Klaim semacam itu, menurut Dawkins, secara tidak langsung menegasikan klaim sains yang hanya mengakui hukum alam sebagai modus kerja satu-satunya di alam semesta. Artinya kemudian, agama dan sains tidak pernah berada dalam ranah yang benar-benar terpisah sehingga pendekatan independensi itu tidak mungkin; yang mungkin hanyalah konflik atau integratif.

Sains di Indonesia: sebuah paradoks

Wabah Covid-19 setidaknya menunjukkan pada kita wajah manusia Indonesia yang sebenarnya; penuh paradoks. Di satu sisi, kita dituntut oleh sebuah sistem masyarakat yang mengharuskan kita menjadi seorang yang religius, namun di sisi yang lain kita juga ingin mengejar ketertinggalan kita dalam perkembangan sains dan teknologi.

Hal tersebut, tentu saja, tampak tidak bertentangan sebab kita meyakini bahwa agama dan sains dapat berjalan berdampingan—entah karena struktur sosial kita yang cenderung menghindari konflik atau kita tidak benar-benar memahami prinsip mendasar antara keduanya. Bahkan, pemikir-pemikir kita—khususnya dari kalangan muslim—semuanya berlomba-lomba untuk mengajukan argumentasi paling rasional untuk menjustifikasi bahwa agama (Islam) tidak pernah bertentangan dengan sains modern. Kenyataan tersebut secara apik terdokumentasikan dalam penelitian Zainul Bahri (2018) yang memperlihatkan adanya sebuah kecenderungan ekspresif dari kalangan pemikir muslim untuk menunjukkan kembali identitas keagamaan mereka secara politis di tengah-tengah ancaman westernisasi. Tak ayal kemudian jika kajian tentang relasi agama dan sains di Indonesia seluruhnya didominasi oleh pendekatan integratif yang pada akhirnya tampak seperti fenomena pseudo-intelektual; seluruh penemuan sains sebisa mungkin selalu dicarikan legitimasi ayat, doktrin, norma, dan lainsebagainya.

Fenomena semacam itu, menurut saya, tidak lebih merupakan sebuah sindrom personalitas yang terbelah (split personality); perkembangan sains dan teknologi memaksa kita untuk sebisa mungkin merasionalkan ajaran-ajaran agama yang kita pegang teguh—yang sebenarnya sesat pikir. Permasalahannya jelas terletak pada ketidakmampuan kita untuk memahami premis-premis dasar yang kita gunakan dalam merespons sebuah persoalan: bahwa agama itu kebenaran mutlak, sementara sains sifatnya tentatif.

Hal itulah yang akhir-akhir ini kita temukan banyak bertebaran di media sosial terkait wabah Covid-19. Begitu banyak klaim-klaim religius kontraproduktif yang dilemparkan oleh para pemeluk agama—bahkan juga para pemimpin agama—untuk melegitimasi kebenaran ajaran mereka dan betapa mulianya agama mereka. Mereka tidak memahami bahwa kerangka berpikir semacam itu, yakni upaya untuk mengintegrasikan agama dan sains, suatu saat akan bermasalah sebab kebenaran sains sangatlah tentatif; tidak ada kebenaran akhir, yang ada hanyalah kebenaran terakhir. Boleh jadi saat ini sebuah ayat terbukti benar secara saintifik, namun bagaimana jika suatu saat ada penemuan sains yang mengatakan itu salah, jangkar kebenaran mana yang harus dipakai; ayat atau temuan sains?

Yang tersisa dari Tuhan

Pada akhirnya, jika kita melihat kembali pada kasus Covid-19, hal paling masuk akal yang dilakukan menurut paradigma integratif adalah dengan menuruti kaidah sains terlebih dahulu kemudian baru berpasrah diri kepada Tuhan[1]. Tampak tidak bermasalah? Secara prinsip, jelas tetap bermasalah. Kerangka berpikir yang demikian secara tidak langsung menempatkan Tuhan hanya pada sisa-sisa ketidakmampuan kita menyelesaikan persoalan (God of the gap). Hal tersebut semakin bermasalah ketika kita benar-benar mampu menentukan nasib kita sendiri melalui temuan sains dan bantuan teknologi; di mana kita kemudian menempatkan Tuhan?

Problem semacam itu hanya mungkin diselesaikan melalui argumentasi deisme yang meyakini bahwa Tuhan adalah seorang pembuat jam (the watchmaker). Deisme percaya bahwa ada Tuhan yang menciptakan alam semesta dan seisinya dengan sebuah ketetapan hukum—dan tugas sains adalah untuk memecahkan enigma tersebut. Namun, setelah penciptaan itu selesai, Tuhan tidak lagi ikut campur dalam seluruh proses kehidupan. Persoalannya, agama menjadi tidak lagi relevan dalam pemahaman semacam ini. Sebanyak apapun kita berdoa, bersujud, dan bersembahyang, Tuhan tidak akan pernah menjawab atau bahkan mendengarnya.

Namun, dari itu semua, yang lebih parah adalah kecenderungan untuk menyangkal temuan-temuan saintifik hanya untuk melegitimasi kebenaran eskatologis; bahwa kematian itu kuasa Tuhan[2]. Pandangan semacam ini jelas sangat bermasalah. Pertama, penyangkalan atas kehendak bebas mengandaikan bahwa moralitas hanyalah omong kosong karena manusia tidak dapat dituntut pertanggungjawaban atas tindakannya—karena semua adalah kehendak Tuhan. Kedua, keyakinan deterministik semacam itu sangat berbahaya di tengah-tengah pandemi seperti saat ini; keyakinan individu dalam menyangkal bahaya virus korona bisa berakibat fatal untuk orang lain yang tidak mengerti apa-apa.

Saya tidak hendak menyangkal bahwa agama juga memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh sains; dorongan psikologis yang membantu manusia mampu memaknai kehidupan, dalam kasus tertentu agama juga dapat menjadi modus komunikasi yang lebih efisien daripada sains. Namun, bukannya hal yang demikian itu menegaskan kembali bahwa kebodohan masih menjadi permasalahan penting? Juga, jika kita mengakui kekuatan psikologis yang dimiliki agama, bukannya hal tersebut menegaskan sekali lagi bahwa tuduhan Freud bahwa agama hanyalah problem neural itu benar; bahwa kita memiliki problem kesehatan mental yang akut, sehingga kita membutuhkan anti-depressan bernama agama?

Demikianlah kemudian, kita tidak seharusnya menggantungkan masa depan umat manusia kepada agama. Bahkan di tengah-tengah pandemi, kita tidak memiliki pilihan lain selain hanya percaya kepada otoritas sains; sekalipun ia tidak pernah dapat objektif dan bebas akan kepentingan, tapi itulah satu-satunya kebenaran yang manusia miliki sampai saat ini.

Referensi

Armstrong, Karen. 2009. The Case for God. New York: Alfred A. Knopf.

Bahri, Media Zainul. “Expressing Political and Religious Identity
Religion-Science Relations in Indonesian Muslim Thinkers 1970-2014” in Al Jami’ah: Journal of Islamic Studies. Vol. 56, no. 1 (2018).

Barbour, Ian G. 1990. Religion in An Age of Science: The Gifford Lectures 1989-1991 Vol. 1. California: HarperCollins.

Gould, Stephen Jay. 1999. Rocks of Ages: Science and Religion in the Fullness of Life. New York: Ballantine Books.

Russell, Bertrand. 1974. Religion and Science. New York: Oxford University Press.


[1] Model argumen seperti ini selalu dikaitkan dengan ajaran Islam (hadits) yang menceritakan bahwa Muhammad menyuruh sahabatnya mengikat untanya, baru berpasrah pada Tuhan.

[2] Kalian bisa melihat ceramah Habib Luthfi, seorang Mursyid besar Indonesia yang memiliki jutaan umat memberikan klaim yang sangat jauh dari kata bijak hanya untuk melegitimasi iman religiusnya.

Sumber gambar: foreignpolicy.com

Chantal Mouffe: Tantangan Populis

0
mouffe

Akhir-akhir ini, banyak suara yang mengingatkan kita tentang bahaya populisme yang digambarkan sebagai ‘penyimpangan demokrasi’. Dengan kemenangan Brexit di Inggris dan keberhasilan tidak terduga Trump di Amerika Serikat, celaan terhadap populisme semakin nyaring. Para penguasa tampaknya mulai khawatir terhadap potensi akan ketidakpuasan sosial yang sejauh ini mereka abaikan. Kita dihantaui dengan pernyataan-pernyataan yang menggelisahkan yang menuntut populisme harus dilenyapkan karena menjadi ancaman yang mematikan terhadap demokrasi. Mereka –para penguasa—percaya bahwa demonisasi terhadap populisme dan ketakutan terhadap kemungkinan kembalinya ‘fasisme’ dirasa cukup untuk mencegah berkembanganya partai-partai dan gerakan-gerakan yang mempertanyakan konsensus neoliberal.

Histeria anti-populis tersebut penting untuk dibahas dengan menguji hal-hal apa yang menopang kemunculan pelbagai gerakan yang disebut ‘populis’ tersebut. Hal ini sangat penting untuk mengemukakan analisis yang terang tentang kondisi demokrasi kita hari ini supaya terdapat gambaran cara memperkuat institusi-institusi demokrasi untuk melawan bahaya-bahaya demokrasi yang dikemukakan oleh para penguasa tersebut. Bahaya-bahaya tersebut memang nyata, tetapi bahaya tersebut merupakan hasil dari pengabaian yang dilakukan oleh partai-partai yang merepresentasikan diri mereka sebagai partai ‘demokratis’ dengan prinsip-prinsip kedaulatan rakyat dan kesetaraan yang bersifat konstitutif terhadap politik demokrasi. Dengan bangkitnya neoliberalisme, prinsip-prinsip tersebut diasingkan menjadi sekadar kategori mati (zombie category), dan oleh karenanya masyarakat kita hari ini memasuki era ‘post-demokrasi’.

 (1) Apa sebenarnya yang dimaksud dengan ‘post-demokrasi’? Mari mulai dengan menjernihkan makna ‘demokrasi’. Seperti yang telah diketahui, demokrasi, secara etimologis, berasal dari kata Yunani demos/kratos, yang berarti kekuasaan ada di tangan rakyat. Kekuasaan rakyat tidak dipraktekan pada tataran abstrak, tetapi melalui institusi-institusi tertentu. Ketika kita berbicara ‘demokrasi’ di Eropa, kita merujuk pada model demokrasi tertentu: model Barat hasil dari gambaran ideal demokrasi dalam konteks sejarah tertentu. Model ini –yang telah memperoleh banyak nama: demokrasi modern, demokrasi representatif, demokrasi parlementer, demokrasi konstitusional, demokrasi liberal, demokrasi pluralis— dicirikan oleh artikulasi dari dua tradisi berbeda. Pada satu sisi, tradisi liberalisme politik: penegakan hukum, pemisahan kekuasaan, dan pembelaan terhadap kebebasan individu; dan pada sisi lain berupa tradisi demokrasi yang berlandaskan pada ide kesetaraan dan kedaulatan rakyat. Berlawanan dengan pendapat umum, tidak ada hubungan yang penting antara dua tradisi tersebut, tetapi sekadar kebersamaan artikulasi dalam sejarah yang –seperti yang ditunjukkan oleh CB MacPherson—berlangsung pada abad ke-19 melalui perjuangan bersama antara para liberal dan para demokrat melawan rezim absolut.

Beberapa penulis seperti Carl Schmitt mengafirmasi bahwa artikulasi tersebut –yang menjadi asal muasal dari demokrasi parlementer—menghasilkan rezim yang tidak mungkin berhasil karena liberalisme menyangkal demokrasi dan demokrasi menyangkal liberalisme; sementara penulis lain –dengan mengikuti Jürgen Habermas—mempertahankan co-orisinalitas prinsip kebebasan dan kesetaraan. Schmitt benar dalam menunjukkan adanya pertentangan antara kesetaraan ala liberal –yang mempostulatkan universalitas dan merujuk pada ‘kemanusiaan’–  dan kesetaraan ala demokrasi yang mensyaratkan pembentukan rakyat dan batas antara ‘kita’ dan ‘mereka’. Tetapi, saya kira Schmitt keliru dalam menggambarkan bahwa pertentangan/konflik dalam arti kontradiksi membawa demokrasi liberal yang pluralis kepada kehancuran dirinya sendiri.

Dalam The Democratic Paradox,[1] saya mengajukan konsep artikulasi dua tradisi tersebut –tentu saja keduanya tidak dapat direkonsiliasikan—dengan mode konfigurasi yang paradoksal sebagai lokus ketegangan yang menggambarkan orisinalitas demokrasi liberal dan menjamin karakter pluralistiknya. Logika demokrasi perihal pembentukan rakyat dan pembelaan atas laku kesetaraan merupakan hal yang penting untuk mendefinisikan demos (rakyat) dan menyingkirkan tendensi diskursus liberal untuk mengabstraksikan universalisme; tetapi artikulasinya dengan logika liberal memungkinkan kita untuk menantang bentuk-bentuk eksklusi yang melekat dalam praktek politik penentuan rakyat yang akan memerintah. Politik demokrasi liberal terdiri dari proses negosiasi –melalui konfigurasi hegemonik yang berbeda— atas ketegangan tersebut. Ketegangan ini, yang dalam istilah politik diekspresikan dengan batas antara kanan dan kiri, hanya dapat distabilkan sementara melalui negosiasi pragmatis antar pelbagai kekuatan politik. Negosiasi ini senantiasa membentuk hegemoni salah satu dari kekuatan politik tersebut. Dengan meninjau kembali sejarah demokrasi liberal yang pluralis, kita menemukan logika liberal berlaku pada suatu waktu, sementara pada waktu yang lain berlaku logika demokrasi. Meskipun begitu, dua logika tersebut tetap berada dalam ketegangan, dan kemungkinan negosiasi agonistik antara kanan dan kiri –khususnya pada rezim demokrasi-liberal—senantiasa terjadi.

 (2) Apabila situasi saat ini disebut sebagai situasi ‘post-demokrasi’, hal ini karena dalam beberapa tahun belakangan –dengan melemahnya nilai-nilai demokrasi sebagai konsekuensi dari berlakunya hegemoni neoliberal—ketegangan yang bersifat konstitutif terhadap demokrasi disingkirkan dan ruang agonistik di mana kepentingan masyarakat yang berbeda-beda dapat saling berkonfrontasi satu sama lain hilang. Dalam arena politik, evolusi ini dimanifestasikan melalui apa yang saya majukan dalam On the Political sebagai ‘post-politik’ yang merujuk pada kaburnya batas politik antara kanan dan kiri.[2] Dengan isitilah ini, maksud saya adalah konsensus yang dibangun antara partai kanan-moderat dan kiri-moderat tentang ide bahwa tidak ada alternatif atas globalisasi neoliberal. Di bawah dalih ‘modernisasi’ yang dibawa oleh globalisasi, partai-partai sosial-demokrat menerima diktat kapitalisme finansial dan batasan-batasan intervensi negara terhadap pelbagai kebijakan redistributif. Peran parlemen dan institusi yang memperkenankan warga negara untuk mempengaruhi keputusan-keputusan politik dikurangi secara drastis, dan kemungkinan warga negara untuk mengimplementasikan hak-hak demokratiknya telah dihilangkan. Pemilihan tidak lagi menawarkan kesempatan untuk memberikan alternatif melalui partai-partai tradisional ‘pemerintah/penguasa’. Politik telah menjadi sekadar isu teknis perihal cara mengelola tatanan kekuasaan, sebuah ranah yang diperuntukkan untuk para ahli saja. Satu-satunya yang diperbolehkan dalam kondisi post-politik adalah pertukaran/pergantian kekuasaan antara partai kanan-moderat dan kiri-moderat. Siapapun yang menolak ‘konsensus sebagai pusat’ dipersepsikan sebagai ‘ekstrimis’ dan digambarkan sebagai ‘populis’. Kedaulatan rakyat telah dianggap usang, dan demokrasi direduksi menjadi sekadar komponen liberal. Dengan begitu, salah satu pilar fundamental dari ide demokrasi dilemahkan: kekuasaan rakyat. Tentu saja, ‘demokrasi’ masih diimplementasikan, tetapi hanya pelaksanaan pemilihan umum dan pembelaan hak-hak asasi manusia.

Perubahan pada level politik tersebut terjadi dalam konteks mode baru pranata kapitalisme, di mana kapital finansial menempati posisi sentral. Dengan finansialisasi ekonomi, terdapat ekspansi besar-besaran pada sektor keuangan dengan mengorbankan ekonomi produktif. Di bawah efek gabungan dari de-industrialisasi, perubahan teknologi, dan proses relokasi ke negara di mana upah buruh lebih murah, banyak pekerjaan hilang. Kebijakan privatisasi dan deregulasi turut berkontribusi menciptakan situasi pengangguran endemik, dan para pekerja berada dalam kondisi yang semakin hari semakin sulit. Jika kita menambahkan efek kebijakan penghematan yang diperlakukan setelah krisis 2008, maka kita bisa memahami penyebab terjadinya kenaikan ketidaksetaraan secara signifikan yang kita saksikan di beberapa negara Eropa, terutama di bagian Selatan. Ketidaksetaraan ini tidak hanya berdampak pada kelas-pekerja, tetapi juga sebagian besar kelas menengah, yang telah memasuki proses pemiskinan dan prekarisasi. Partai-partai sosial-demokrat telah membersamai perkembangan ini, dan di banyak tempat partai tersebut memainkan peran penting dalam mengimplementasikan kebijakan neoliberal. Kondisi ini berkontribusi pada fakta bahwa pilar ideal demokrasi yang lain –pembelaan terhadap kesetaraan—telah disingkirkan dari diskursus demokrasi-liberal. Yang saat ini menguasai adalah visi liberal individualistik yang mengagungkan masyarakat konsumen dan kebebasan yang ditawarkan oleh pasar.

(3) Hasil dari hegemoni neoliberal adalah terbentuknya rezim oligarki, baik oligarki sosial-ekonomi maupun politik. Kondisi oligarkisasi masyarakat Eropa inilah yang menjadi asal muasal dari kesuksesan partai populis sayap-kanan. Pada kenyataannya, partai populis sayap-kanan ini menjadi satu-satunya pihak yang menggumamkan kondisi hari ini; berjanji membela rakyat melawan globalisasi dan mengembalikan kekuasaan rakyat yang telah dirampas oleh para elite. Dengan menerjemahkan persoalan-persoalan sosial ke ranah etik, di banyak negara partai populis sayap-kanan mengartikulasikan tuntutan-tuntutan rakyat –yang diabaikan oleh partai-partai moderat karena dinilai tidak sesuai dengan proyek neoliberal—dengan menggunakan retorika xenophobia. Partai-partai sosial-demokrat, yang menjadi tawanan dari dogma post-politik dan enggan mengakui kesalahan, menolak untuk mengakui bahwa segala tuntutan rakyat tersebut merupakan tuntutan demokrasi yang absah, yang mana membutuhkan jawaban progresif. Dengan demikian, partai moderat tersebut tidak mampu merengkuh hakikat dari tantangan populis.        

Untuk memahami tantangan populis tersebut, perlu kiranya menolak pandangan simplistik yang disebarluaskan oleh media, yang mencap populisme sebagai demagog murni. Perspektif yang analitis dimajukan oleh Ernesto Laclau yang menawarkan pada kita perangkat teoritik untuk menjawab persoalan tersebut. Laclau mendefinisikan populisme sebagai cara mengkontruksi yang-politis, yang terdiri dari pembentukan batas politik yang memisakan masyarakat menjadi dua kubu; mobilisasi rakyat (underdog) melawan ‘elite penguasa’. Hal ini berkaitan apabila hendak mengkonstruksi subjek kolektif aksi model baru –rakyat—yang dapat mengkonfigurasi ketidakadilan tatanan sosial. Populisme bukan ideologi, dan tidak dapat diatribusikan pada program tertentu serta bukanlah rezim politik. Populisme adalah cara berpolitik yang dapat mewujud dalam pelbagai bentuk sesuai dengan konteks waktu dan tepat, dan kompatibel dengan pelbagai bentuk institusi. Populisme merujuk pada dimensi kedaulatan rakyat dan pembentukan demos yang bersifat konstitutif terhadap demokrasi. Lebih tepatnya, dimensi yang dicampakkan oleh hegemoni neoliberal, dan oleh sebab itu, perjuangan melawan post-demokrasi mensyaratkan intervensi politik populis.

(4) ‘Momen populis’ yang kita saksikan saat ini menawarkan pada kita kesempatan untuk membangun kembali batas politik guna membangun kembali ketegangan agonistik yang sesuai dengan tipikal demokrasi. Bahkan, beberapa partai populis sayap-kanan telah mengimplementasikannya, yang mengindikasikan kemajuan populis sayap-kanan akhir-akhir ini. Kekuatan populisme sayap-kanan dapat dipetakan dengan tepat karena di banyak negara kekuatan tersebut mampu menarik sebuah batas dan mengkonstruksi rakyat untuk menerjemahkan secara politis pelbagai resistensi terhadap fenomena oligarkisasi yang disebabkan oleh hegemoni neoliberal. Daya tarik populisme sayap-kanan sangat menonjol dalam kelas-pekerja, tetapi juga tumbuh dalam kelas-menengah yang terpengaruh oleh struktur dominasi baru yang terhubung dengan globalisasi neoliberal.

Sayangnya, sejauh ini respon kekuatan progresif belumlah memadai. Kekuatan progresif terpengaruh oleh diskursus kekuatan kekuasaan yang mendiskualifikasi populisme demi mempertahankan dominasinya. Kekuatan progresif terus mengadvokasi dengan menggunakan strategi politik tradisional yang senyatanya tidak cocok dengan krisis legitimasi mendalam yang terjadi pada rezim demokrasi-liberal. Krisis ini merupakan pengejawantahan dari tuntutan-tuntutan rakyat yang heterogen, yang tidak bisa diformulasikan dengan pembelahan kanan/kiri seperti halnya konfigurasi secara tradisional. Tidak seperti karakteristik perjuangan pada era kapitalisme Fordist –ketika kelas-pekerja memperjuangkan kepentingan spesifiknya– di era kapitalisme neoliberal post-Fordist, resistensi telah banyak berkembang di luar proses produktif. Tuntutan tersebut tidak lagi sesuai dengan sektor sosial yang didefinsikan dalam istilah sosiologis dan oleh posisinya dalam struktur sosial. Banyak tuntutan yang menyentuh pertanyaan seputar kualitas hidup dan memiliki karakter transversal. Tuntutan yang berhubungan dengan perjuangan melawan seksisme, rasisme dan bentuk-bentuk dominasi yang lain menjadi semakin penting. Untuk mengartikulasikan keragaman dalam kehendak kolektif, batas tradisional antara kiri dan kanan tidak lagi berlaku. Untuk menyatukan perjuangan yang beragam ini butuh sinergi antara gerakan sosial dan partai dengan tujuan membentuk aliansi ‘rakyat’, dan untuk itu diperlukan batas yang dikonstruksikan dengan cara populis.

Hal tersebut bukan berarti oposisi kiri/kanan tidak lagi relevan, tetapi oposisi tersebut harus diartikulasikan dengan cara yang lain, yakni dengan mengacu pada suatu jenis populisme dan rantai kesamaan (ekuivalensi) melalui konstruksi atas identitas kolektif ‘rakyat’. Sebagai sebuah kategori politis, rakyat senantiasa dihasilkan melalui proses konstruksi diskursif, dan identitas ‘kita’ dapat terbentuk (terkonstruksi) dengan cara berbeda, tergantung pada elemen-elemen pembentuknya dan pada bagaimana identitas ‘mereka’, yang merupakan lawan rakyat/’kita’, didefinisikan. Di sinilah letak perbedaan antara populisme sayap-kanan –seperti ditunjukan oleh Marine Le Pen yang mengkonstruksi rakyat terbatas pada ‘pribumi’ (true nationals), dengan mengecualikan imigran yang dianggapnya sebagai ‘mereka’, yang selaras dengan kekuatan ‘anti-bangsa’ para elite—dan populisme sayap-kiri yang progresif. Di Prancis, populisme progresif direpresentasikan oleh gerakan Jean-Luc Mélenchon yang memiliki konsepsi ‘kita’ yang lebih luas meliputi para imigran, gerakan lingkungan dan kelompak LGBT, dan mendefinisikan ‘mereka’ sebagai rangkaian kekuatan politik yang mendukung ketidaksetaraan sosial. Pada kasus pertama, kita dihadapkan dengan populisme otoritarian yang tujuannya adalah membatasi demokrasi, sedangkan kasus yang kedua adalah populisme yang berkeinginan memperluas dan meradikalkan demokrasi.

(5) Sebagai tambahan perihal bagaimana rakyat dikonstruksikan, pertanyaan penting lainnya harus dikemukakan untuk membedakan pelbagai bentuk populisme: dengan cara seperti apa relasi antara rakyat dan mereka ‘yang berada dalam kekuasaan’ (penguasa) dikonsepsikan. Identitas kolektif selalu mensyaratkan distingsi kita/mereka, tetapi dalam medan politik, batas antara ‘kita’ dan ‘mereka’ mengindikasikan adanya antagonisme, yakni konflik yang tidak memiliki solusi rasional. Antagonisme tersebut dapat mewujud dalam bentuk-bentuk yang berbeda. Ada yang mewujud dalam bentuk konfrontasi teman/musuh yang mana tujuannya adalah untuk membasmi ‘mereka’ supaya dapat membangun tatanan baru secara radikal. Revolusi Prancis merupakan contoh dari populisme ‘antagonistik’ jenis ini. Di sisi lain, konfrontasi tersebut dapat mewujud dalam bentuk ‘agonistik’, di mana ‘mereka’ tidak dipandang sebagai musuh, tetapi sebagai adversari (lawan, friendly-enemy) yang sama-sama bertarung melalui cara-cara demokratis. Agar gerakan populis kompatibel dengan demokrasi pluralistik, konfrontasinya haruslah agonistik. Populisme agonistik tidak mendukung penolakan penuh atas keberadaan suatu institusi. Tujuan dari populisme agonistik bukanlah menghapus institusi demokrasi-liberal, melaikan melakukan disartikulasi unsur-unsur yang membentuk tatanan hegemonik dan mereartikulasikannya ke dalam hegemoni yang baru.

Populisme kiri yang cocok dengan situasi Eropa harus dikonsepsikan sebagai ‘reformisme radikal’ yang berjuang untuk memulihkan dan memperdalam demokrasi. Populisme kiri merupakan perjuangan yang menjalankan cara-cara ‘perang posisi’ dalam pelbagai institusi dengan tujuan mentransformasikan institusi tersebut. Sebuah perjuangan yang mensyaratkan perubahan institusional yang signifikan yang memperkenankan kehendak rakyat dapat diekspresikan, tetapi perubahan tersebut bukanlah penolakan radikal terhadap institusi-institusi demokratik. Persoalannya bukanlah mengakhiri demokrasi representatif, melainkan memperkuat institusi tersebut agar menjadi ruang suara rakyat. Hal semacam ini adalah bentuk ‘republikanisme plebeian’ yang menubuh dalam warisan demokrasi dari tradisi republik, yang pendahulunya adalah Machiavelli.

Krisis saat ini adalah karena institusi-institusi kita tidak cukup representatif, bukan karena fakta representasi itu sendiri. Solusinya tidak bisa dengan menghilangkan sistem representasi dan pembentukan demokrasi ‘langsung’, seperti klaim beberapa orang. Sebagaimana telah saya tekankan dalam Agonistics[3], dalam masyarakat demokratis yang mengakui adanya kemungkinan antagonisme, dan di mana pluralisme tidak dapat dikonsepsikan dengan cara yang harmonis dan anti-politik, institusi-institusi representatif –dalam mewujudkan pembelahan masyarakat—memainkan peran yang krusial karena institusi tersebut memperkenankan institusionalisasi atas dimensi konflik. Saat ini, peran tersebut hanya dapat dipenuhi melalui keberadaan sebuah konfrontasi agonistik. Persoalan utama dari post-demokrasi adalah absennya konfrontasi agonistik dan ketidakmampuan warga negara untuk memilih alternatif yang sebenarnya. Oleh sebab itu, persoalan batas sangatlah menentukan.

Saya yakin bahwa dalam beberapa tahun ke depan, poros utama dari konflik politik adalah antara populisme sayap-kanan dan populisme sayap-kiri, dan sangat penting bagi sektor-sektor progresif mengetahui pentingnya terlibat dalam perjuangan tersebut. Untuk merancang populisme kiri membutuhkan visualiasi politik dengan cara mengenali karakter partisannya. Kita harus memutus dominasi perspektif rasionalis dalam pemikiran politik demokrasi liberal dan mengenali pentingnya afeksi bersama (saya menyebutnya ‘renjana’, ‘passions’) dalam pembentukan identitas kolektif. Hal ini melalui konstruksi atas rakyat dengan wujud lain, yakni kehendak kolektif yang dihasilkan dari mobilisasi afeksi/renjana dalam rangka mempertahankan kesetaraan dan keadilan sosial. Cara seperti ini akan mungkin untuk melawan kebijakan-kebijakan xenophobik yang dimajukan oleh populisme sayap-kanan. Dengan menciptakan kembali batas-batas politik, ‘momen populis’ yang kita saksikan di Eropa mengarah ke ‘kembalinya‘yang-politis’. Suatu kekembalian yang membuka kemungkinan solusi otoritarian –melalui rezim yang memperlemah institusi-institusi demokrasi liberal—tetapi juga dapat membawa pada reafirmasi dan memperdalam nilai-nilai demokrasi. Semuanya akan tergantung pada jenis populisme yang muncul sebagai pemenang dari perjuangan melawan post-politik dan post-demokrasi.

* Diterjemahkan dari tulisan Chantal Mouffe ‘The Populist Challengeyang terbit di Open Democracy (5 Desember 2016)


[1] Chantal Mouffe, The Democratic Paradox, (London: Verso, 2000)

[2] Chantal Mouffe, On the Political, (Abigndon, 2005)

[3] Chantal Mouffe, Agonistics: Thinking The World Politically, (London: Verso, 2013)

Sumber gambar: conversations.e-flux.com

Slavoj Žižek: Komunisme global atau hukum rimba, virus korona memaksa kita untuk memilih

0

Seiring kepanikan atas penyebaran virus korona, kita harus membuat pilihan ultim—antara  memainkan logika paling brutal dari survival of the fittest atau semacam penciptaan kembali komunisme dengan koordinasi dan kolaborasi global.

Media kita tanpa henti mengulangi formula “Jangan panik!” Dan kemudian kita mendapatkan semua laporan yang tak bisa tidak tetap memicu kepanikan. Situasinya mirip dengan yang saya ingat dari masa muda saya di sebuah negara komunis: ketika pejabat pemerintah meyakinkan publik bahwa tak ada alasan untuk panik, kami semua menganggap jaminan ini sebagai tanda yang jelas bahwa mereka sendiri dalam kepanikan.

Terlalu mengkhawatirkan jika menghabiskan waktu dengan panik

Panik memiliki logikanya sendiri. Fakta bahwa di Inggris, karena kepanikan terhadap virus korona, bahkan tisu toilet ludes dari toko-toko itu mengingatkan saya pada insiden aneh terkait tisu toilet di masa muda saya di negara sosialis Yugoslavia. Tiba-tiba, desas-desus mulai beredar bahwa tak ada cukup tisu toilet di toko-toko. Pihak berwenang segera mengisukan kepastian bahwa di sana telah tersedia cukup tisu toilet untuk konsumsi normal, dan, yang mengejutkan, ini tak hanya benar tapi orang-orang kebanyakan bahkan percaya itu benar.

Namun, konsumen rata-rata beralasan dengan cara berikut: Saya tahu ada cukup tisu toilet dan rumor itu salah, tapi bagaimana jika beberapa orang menganggap serius rumor ini dan, dengan panik, akan mulai membeli cadangan tisu toilet secara berlebihan, bukankah situasi ini menyebabkan kondisi kekurangan tisu toilet yang sebenarnya? Jadi lebih baik saya bergegas dan memborong cadangan tisu itu untuk saya sendiri.

Bahkan tak perlu percaya bahwa beberapa orang menganggap serius desas-desus itu—cukup untuk mengandaikan bahwa ada yang percaya bahwa ada orang yang menganggap desas-desus itu serius—efeknya sama, yaitu kekurangan nyata tisu toilet di toko. Apakah hal serupa tak terjadi di Inggris (dan juga di California) hari ini?

Sisi lain yang aneh dari kepanikan berlebihan yang terus-menerus seperti ini adalah tiadanya kepanikan sama sekali di saat kepanikan itu sepenuhnya dibenarkan.  Dalam beberapa tahun terakhir, setelah epidemi SARS dan ebola, kita diberitahu berulang kali bahwa epidemi baru yang jauh lebih kuat hanya menunggu waktu, bahwa pertanyaannya bukan JIKA tetapi KAPAN akan terjadi. Meskipun secara rasional kita yakin akan kebenaran ramalan-ramalan mengerikan ini, kita entah bagaimana tidak menganggapnya serius dan enggan bertindak dan melakukan persiapan serius—satu-satunya wadah yang kita pikirkan adalah bayangan film apokaliptik seperti Contagion.

Apa yang dikatakan oleh perbandingan ini kepada kita adalah bahwa kepanikan bukanlah cara yang tepat untuk menghadapi ancaman nyata. Ketika kita bereaksi dengan panik, kita tak menganggap ancaman itu secara serius. Sebaliknya, kita meremehkannya. Pikirkan betapa konyolnya pembelian berlebihan gulungan tisu toilet: seolah-olah memiliki cukup tisu toilet akan berguna di tengah-tengah epidemi yang mematikan. Jadi apa yang akan menjadi reaksi yang sesuai untuk epidemi virus korona? Apa yang harus kita pelajari dan apa yang harus kita lakukan untuk menghadapinya dengan serius?

Yang saya maksud dengan komunisme

Ketika saya menyarankan bahwa epidemi virus korona dapat memberikan dorongan baru kehidupan menuju komunisme, klaim saya, seperti yang sudah saya duga, ditertawakan. Meskipun terlihat bahwa pendekatan kuat terhadap krisis oleh negara Tiongkok berhasil—setidaknya pendekatan itu bekerja jauh lebih baik daripada apa yang sekarang terjadi di Italia, logika otoriter komunis lama yang sedang berkuasa juga jelas menunjukkan keterbatasannya. Salah satunya adalah bahwa ketakutan membawa berita buruk kepada mereka yang berkuasa (dan kepada publik) melebihi hasil aktual—inilah rupanya alasan mengapa mereka yang pertama kali membagikan informasi tentang virus baru menurut laporan ia ditangkap, dan ada laporan lain bahwa hal serupa sedang terjadi sekarang ini.

“Tekanan untuk membuat Tiongkok kembali bekerja setelah penutupan virus korona membangkitkan kembali godaan lama: memalsukan data sehingga pejabat senior melihat apa yang ingin mereka lihat,” kata laporan Bloomberg. “Fenomena ini terjadi di provinsi Zhejiang, pusat industri di pantai timur, dalam bentuk penggunaan listrik. Setidaknya tiga kota di sana telah memberikan pabrik lokal target untuk memenuhi konsumsi daya karena mereka menggunakan data untuk menunjukkan kebangkitan dalam produksi, menurut orang yang akrab dengan masalah ini. Target itu mendorong beberapa bisnis untuk menjalankan mesin bahkan ketika pabrik mereka kosong, kata orang-orang.”

Kita juga bisa menebak apa yang akan terjadi ketika orang-orang yang berkuasa mencatat kecurangan ini: manajer lokal akan dituduh melakukan sabotase dan dihukum berat, sehingga mereproduksi lingkaran setan ketidakpercayaan … Seorang Julian Assange versi Cina akan dibutuhkan di sini untuk membeberkan kepada publik sisi tersembunyi bagaimana Cina mengatasi epidemi. Jadi jika bukan komunisme semacam ini yang ada dalam pikiran saya, lalu apa yang saya maksud dengan komunisme? Untuk memahaminya, cukup membaca deklarasi publik dari WHO—berikut ini adalah yang terbaru:

Kepala WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pekan lalu bahwa meskipun otoritas kesehatan masyarakat di seluruh dunia memiliki kemampuan untuk berhasil memerangi penyebaran virus, organisasi tersebut khawatir bahwa di beberapa negara tingkat komitmen politik tidak sesuai dengan tingkat ancaman. “Ini bukan latihan. Ini bukan waktunya untuk menyerah. Ini bukan waktunya untuk mencari-cari alasan. Ini adalah waktunya untuk minggir sebentar ke semua perhentian. Negara-negara telah merencanakan skenario seperti ini selama beberapa dekade. Sekarang saatnya untuk bertindak atas rencana itu,” kata Tedros. “Epidemi ini dapat dipukul mundur, tetapi hanya dengan pendekatan kolektif, terkoordinasi dan komprehensif yang melibatkan seluruh mesin pemerintahan.”

Orang mungkin menambahkan bahwa pendekatan komprehensif semacam itu harus menjangkau jauh melampaui mesin pemerintahan tunggal: harus mencakup mobilisasi lokal orang-orang di luar kendali negara serta koordinasi dan kolaborasi internasional yang kuat dan efisien.

Jika ribuan orang akan dirawat di rumah sakit karena masalah pernafasan, mesin pernafasan dalam jumlah yang sangat besar akan dibutuhkan, dan untuk mendapatkannya, negara harus secara langsung melakukan intervensi dengan cara yang sama seperti campur tangan dalam kondisi perang ketika ribuan senjata dibutuhkan, dan harus mengandalkan kerja sama negara lain. Seperti dalam kampanye militer, informasi harus dibagikan dan rencana dikoordinasikan sepenuhnya—inilah yang saya maksudkan dengan ‘komunisme’ yang dibutuhkan saat ini, atau, seperti yang dikatakan Will Hutton: “Saat ini, satu bentuk globalisasi pasar bebas yang tak diatur dengan kecenderungannya untuk menghadapi krisis dan pandemi tentu sedang sekarat. Namun bentuk lain yang sadar akan saling ketergantungan dan keunggulan tindakan kolektif berbasis bukti sedang lahir.”

Diperlukan koordinasi & kolaborasi global

Apa yang sekarang masih mendominasi adalah sikap “setiap negara untuk dirinya sendiri”: “Ada larangan nasional untuk ekspor produk-produk utama seperti pasokan medis, dibarengi dengan negara-negara mundur pada analisis mereka sendiri tentang krisis di tengah kekurangan lokal dan kondisi tak menentu, pendekatan primitif untuk pencegahan,” tulis Will Hutton dalam Guardian.

Epidemi virus korona tak hanya menandakan batas globalisasi pasar, ia juga menandakan batas yang lebih fatal dari populisme nasionalis yang menekankan kedaulatan negara penuh: biasanya berujung dengan klaim ‘Amerikalah (atau siapa pun) yang pertama!’ Karena Amerika dapat diselamatkan hanya melalui koordinasi dan kolaborasi global.

Saya bukan utopian di sini, saya tak mengimbau solidaritas yang diidealkan di antara orang-orang—sebaliknya, krisis saat ini menunjukkan dengan jelas bagaimana solidaritas dan kerja sama global demi kepentingan bertahan untuk semua dan kita masing-masing, adalah langkah rasional egois untuk dilakukan. Dan bukan hanya virus corona: China sendiri menderita flu babi raksasa beberapa bulan lalu, dan sekarang terancam oleh kemungkinan adanya wabah belalang. Plus, seperti yang dicatat Owen Jones, krisis iklim membunuh lebih banyak orang di seluruh dunia daripada virus korona, tetapi tak ada kepanikan mengenai hal ini.

Dari sudut pandang vitalis sinis, orang akan tergoda untuk melihat virus korona sebagai infeksi menguntungkan yang memungkinkan manusia untuk menyingkirkan mereka yang lapuk, lemah dan sakit, seperti mencabut ganja setengah busuk, dan dengan demikian berkontribusi terhadap kesehatan global.

Pendekatan komunis global yang saya anjurkan adalah satu-satunya cara bagi kita untuk benar-benar meninggalkan sudut pandang vitalis primitif. Tanda-tanda mengurangi solidaritas tanpa syarat sudah terlihat dalam perdebatan yang sedang berlangsung, seperti dalam catatan berikut tentang peran “tiga orang bijak” jika epidemi mengambil giliran yang lebih dahsyat di Inggris: “Pasien NHS dapat ditolak perawatan penyelamatan nyawa selama wabah virus korona parah di Inggris jika unit perawatan intensif berjuang mati-matian untuk mengatasinya, dokter senior telah memperingatkan. Di bawah apa yang disebut protokol ‘tiga orang bijak’, tiga konsultan senior di setiap rumah sakit akan dipaksa untuk membuat keputusan mengenai penjatahan perawatan seperti ventilator dan tempat tidur, jika rumah sakit dipenuhi pasien. ” Kriteria apa yang akan diandalkan oleh “tiga orang bijak”? Mengorbankan yang terlemah dan tertua? Dan apakah situasi ini tidak hanya membuka ruang untuk korupsi besar-besaran? Apakah prosedur seperti itu tidak mengindikasikan bahwa kita sedang bersiap untuk memberlakukan logika paling brutal tentang survival of the fittest? Jadi, sekali lagi, pilihan terakhir adalah: memilih logika brutal ini atau memilih semacam penciptaan kembali komunisme.

*Dialihbahasakan dari Slavoj Zizek: Global communism or the jungle law, coronavirus forces us to decide, diakses pada tgl 11 Maret 2020.

Sumber gambar: commons.wikimedia.org

Esai tentang Tiada

0
nothing

Parmenides, filsuf Yunani kuno yang hidup ribuan tahun lalu, punya slogan filosofis yang menyatakan ‘apa pun yang ada itu ada, dan apa yang tidak ada itu tidak mungkin ada’ (Whatever is is, and what is not cannot be). Martin Heidegger, filsuf yang hidup seabad yang lalu, dalam Pengantar Metafisika-nya, alih-alih menerima slogan Parmenides bahwa ‘yang tidak ada itu tidak mungkin ada’, malah mengatakan bahwa pertanyaan mendasar metafisika adalah ‘Mengapa yang ada itu adalah ada (beings) dan bukan tiada (nothing)?’. Dengan kata lain, ‘Mengapa tiada itu tidak ada?’. Pertanyaan ini tetap menjadi misteri yang sulit dipecahkan. Esai pendek ini mengulas bagaimana tiada, yang jarang diperhatikan dalam filsafat, justru menjadi persoalan rumit yang membingungkan. Selamat membaca!

***

Di dalam filsafat, hal yang selalu ditekankan adalah apa yang ada. Kita menyebut ini ontologi, yang berarti kajian tentang ada. Apa yang kurang dikaji adalah apa yang tidak ada.

Dapat dipahami mengapa kita fokus pada apa yang ada, mungkin karena efeknya yang lebih kelihatan. Namun, celah atau non-eksistensi juga dapat memiliki dampak yang sangat jelas pada kita dengan beragam cara. Bagaimanapun, kematian, yang sering dianggap seram dan menakutkan, hanyalah tiadanya keberadaan di dunia ini (kecuali kita percaya pada hantu). Kita juga terpengaruh dengan orang hidup yang tidak ada, objek yang tidak ada dalam kehidupan kita, dan pengetahuan yang tidak pernah kita punya.

Setelah perenungan lebih lanjut, tampaknya persoalan tiada ini aneh dan memunculkan banyak pertanyaan. Bagaimana bisa sesuatu yang tidak ada memiliki pengaruh pada kehidupan kita? Apakah tiada memiliki jenis keberadaannya sendiri? Dan bagaimana kita bisa mulai menyelidiki sesuatu yang kita tidak bisa berinteraksi langsung dengannya karena ia memang tidak ada? Ketika kita membuka sebuah kotak, dan kemudian berseru “Tidak ada apa pun di dalamnya”, apakah itu berbeda dari kekosongan atau ketiadaan yang riil? Mengapa ketiadaan menjadi konsep yang sulit dikonseptualisasikan oleh filsafat?

Mari kita menyelidiki sebuah kotak yang kita sebutkan sebelumnya, dan memikirkan sedikit apa yang ada di dalamnya. Ketika seseorang membukan sebuah kotak kosong, ia tidak benar-benar menemukan kotak itu kosong sama sekali, karena masih ada udara, cahaya, dan mungkin juga debu. Jadi kotak itu tidak benar-benar kosing. Akan tetapi, kata ‘kosong’ di sini digunakan dalam kaitannya dengan asumsi yang sudah ada sebelumnya. Kotak itu sebelumnya dianggap berisi sesuatu, bukan hanya ada untuk dirinya sendiri. Di dalamnya mungkin terdapat hadiah; peninggalan lama keluarga; pizza; atau mungkin kotak lainnya. Karena kotak itu memiliki tujuan memuat sesuatu di dalamnya, maka selalu ada harapan akan selalu ada sesuatu di dalam sebuah kotak. Oleh karena itu, situasi ketiadaan ini muncul dari harapan atau kebiasaan kita. Hal yang sama juga berlaku untuk pernyataan seperti “Tidak ada seorang pun di kursi ini”. Tetapi jika kita mengatakan, “Tidak ada seorang pun di dalam blender ini”, maka kita akan terlihat aneh. Ini karena kursi dipahami sebagai sesuatu yang menopang orang, sedangkan blender tidak.

Efek yang sama dari harapan dan ketidakhadiran yang terkait dengannya itu muncul Bersama dengan kematian. Kita jarang berduka cita pada orang yang mungkin hanya pernah kita temui; tetapi kita begitu sering berduka cita pada orang yang sangat kita kenali. Rasa sakit ini muncul dari harapan akan kehadiran tetapi ternyata kini harapan itu takterwujudkan. Bahkan orang yang tidak pernah mengalami kehadiran seseorang sekali pun masih bisa merasakan ketidakhadiran orang tersebut karena harapannya yang dikecewakan. Anak-anak yang kehilangan salah satu atau kedua orangtuanya saat masih bayi sering merasakan kekurangan karena pengaruh ide tentang keluarga yang lazim secara kultural. Sama seperti halnya kita memiliki ide kultural tentang kotak atau kursi, kita juga memiliki ide standard tentang sebuah keluarga inti, yang berisi dua orangtua, dan ketidakhadiran mereka dapat terasa banyak oleh orang tidak pernah mengetahui orangtuanya.

Jenis ketiadaan yang pertama ini saya sebut sebagai ‘ketiadaan perseptif’. Ketiadaan ini adalah penyangkalan terhadap harapan: mengharapkan adanya sesuatu tetapi harapan itu kemudian disangkal oleh realitas. Ketiadaan ini dibentuk oleh pikiran manusia tertentu, yang seringkali melalui perbandingan dengan konsep yang terbentuk secara sosial.

Ketiadaan murni, di sisi lain, tidak memuat apa pun sama sekali: tidak ada udara, tidak ada cahaya, tidak ada debu. Kita tidak dapat mengalaminya dengan indra, tetapi kita dapat memahaminya dengan pikiran. Jenis tiada absolut ini mungkin ada sebelum semesta ada. Atau bisakah sesuatu tidak muncul dari tiada? Dalam kasus ini, tiada murni berarti tidak pernah ada.

Jika kita bisa sejenak membicarakan tentang sebuah tempat yang sama sekali kosong, tempat itu tidak akan mengandung apa pun dalam bentuknya yang murni. Tetapi muncul pertanyaan: bisakah sebuah ruang tidak memuat apa pun; atau, jika ruang tersebut memang ada, bukankah ruang itu sendiri adalah satu bentuk keberadaan?

Pertanyaan ini mengingatkan kita pada sesuatu yang sangat membingungkan tentang tiada: ia tidak mungkin ada. Jika tiada itu ada, maka tiada itu akan menjadi sesuatu. Jadi tiada, menurut definisinya sendiri, memang tidak mungkin ‘ada’.

Apakah tiada absolut itu mungkin? Mungkin tidak. Mungkin kita membutuhkan sesuatu untuk mendefinisikan tiada; dan jika ada sesuatu, maka tidak ada tiada secara mutlak. Selain itu, jika tiada memang benar-benar ada, maka ia tidak mungkin didefinisikan. Dunia tidak mungkin menyadari ketiadaan ini. Hanya karena ada sebuah dunia yang dipenuhi dengan Ada, kita dapat membayangkan dunia yang kosong dan sepi. Ketiadaan muncul dari Kesesuatuan (Somethingness), maka: tanpa membandingkannya dengan ada, tiada itu tidak ada. Sekali lagi, tiada murni itu telah menunjukkan dirinya sebagai negasi.

Dunia yang tidak memuat apa-apa itu hanyalah kulit kosong, tetapi kita mungkin mengatakan bahwa kulit itu sendiri ada dan merupakan sesuatu. Dan bahkan seandainya tidak ada materi, tentu ruang masih ada, dan demikian juga waktu masih ada; dan itu semua bukan tiada.

Suatu hari mungkin kita bertemu dengan ruang murni, itulah ketiadaan yang menunggu untuk diisi. Mungkin, ketika ilmuwan menemukan cara untuk menerbangkan pesawat ruang angkasa ke lubang hitam secara aman, atau bisa menciptakan kekosongan murni, kita akan dipaksa untuk melihat langsung kekosongan itu. Tetapi bahkan jika itu benar-benar merupakan tiada, dengan memasuki ketiadaan itu, manusia akan merusaknya dengan mengisinya. Atau mungkin kita akan terserap olehnya dan semua jejak keberadaan kita yang tersisa akan dihapus.

Kematian, yang merupakan kekosongan utama bagi manusia, membuat kita gelisah karena alasan yang jelas: semua itu akan selamanya tereduksi menjadi sebuah ruang kosong yang hanya terasa oleh orang dicintai, dan bahkan ketidakhadiran itu akan terlupakan suatu saat nanti. Namun, janganlah kita menjauh dari pertanyaan-pertanyaan tentang ketiadaan, bahkan jika pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita pada tempat yang suram. Ketika kita sedikit lebih dekat dengan pertanyaan-pertanyaan besar, bahkan meskipun ia tampak kontradiktif, ketiadaan itu tampak di mana-mana. Dan jika kita ingin belajar bagaimana sesuatu muncul dari tiada, atau jika tiada memang pernah ada, kita pasti akan melihat dengan sedikit lebih dekat kekosongan yang mengerikan.

*Diterjemahkan dari esai Sophia Gottfried “An Essay on Nothing” yang terbit di Philosophy Now edisi 136 Februari/Maret 2020. Sophia Gottfried adalah ketua klub filsafat di Harker School, San Jose.

Slavoj Žižek: Mimpi Saya tentang Wuhan

0
zizek

Sudah banyak yang menulis tentang epidemi virus corona—apa yang bisa saya tambahkan sebagai seorang pengamat non-spesialis dengan akses data yang sangat terbatas? Tapi, kita mungkin harus mengajukan beberapa pertanyaan di sini: kapan data berakhir dan kapan ideologi dimulai?

Teka-teki pertama sangat  jelas: ada banyak epidemi yang jauh lebih buruk terjadi, tapi mengapa muncul obsesi seperti ini ketika ribuan orang meninggal setiap hari karena penyakit menular lainnya? Tidak perlu mengingat pandemi influenza yang terjadi pada 1918-1920, yang dikenal sebagai flu Spanyol dengan jumlah korban meninggal yang diperkirakan setidaknya 50 juta orang. Sekarang, influenza telah menginfeksi 15 juta orang Amerika: setidaknya 140.000 orang telah dirawat di rumah sakit dan lebih dari 8.200 orang tewas hanya pada musim ini.

Paranoia rasis jelas bermain di sini–ingat semua fantasi tentang wanita tua Cina yang dekil di Wuhan yang sedang menguliti ular hidup dan menyesap sup kelelawar. Waktu itu, sebuah kota besar di Tiongkok mungkin termasuk salah satu tempat paling aman di dunia.

Tetapi ada paradoks yang lebih dalam sedang berjalan: semakin banyak dunia terhubung, semakin banyak bencana lokal dapat memicu ketakutan global dan akhirnya berujung bencana. Pada Musim Semi 2010, awan letusan gunung berapi kecil di Islandia–sebuah gangguan kecil dalam mekanisme kompleks kehidupan di Bumi—menghentikan lalu lintas udara di sebagian besar Eropa–menjadi sebuah pengingat, bahwa dari semua aktivitas perubahan alam yang maha besar, manusia tetap hanya salah satu spesies yang hidup di planet Bumi.

Dampak sosial-ekonomi yang sangat dahsyat dari ledakan kecil tersebut adalah perkembangan teknologi kita (perjalanan udara): seabad yang lalu, letusan seperti itu akan berlalu tanpa terasa. Perkembangan teknologi membuat kita lebih mandiri dari alam dan pada saat yang sama, pada tingkat yang berbeda, lebih bergantung pada kehendak alam. Dan hal yang sama berlaku untuk penyebaran virus corona: jika itu terjadi sebelum reformasi Deng Hsiao Ping, kita mungkin tidak akan pernah mendengarnya.

Jadi bagaimana kita melawan virus jika virus itu berkembang biak sebagai bentuk kehidupan parasit yang aneh dan tak terlihat, sebuah entitas spektral yang tidak mati  (living dead) yang mekanisme dasarnya tetap tidak diketahui? Kurangnya pengetahuan inilah yang menyebabkan kepanikan: bagaimana jika virus akan bermutasi dengan cara yang takterduga dan memicu bencana global yang sebenarnya?

Inilah paranoia pribadi saya: apakah alasan kepanikan yang diperlihatkan oleh pihak berwenang meskipun efek sebenarnya sampai sekarang relatif sederhana terletak pada kenyataan bahwa mereka tahu (atau, setidaknya, menduga) sesuatu tentang kemungkinan mutasi yang tidak ingin mereka beritahukan pada publik untuk menghindari kebingungan dan keresahan?

Satu hal yang pasti: isolasi, tembok baru, dan karantina lebih lanjut itu akan sia-sia. Dibutuhkan solidaritas penuh tanpa syarat dan respons global yang terkoordinasi, bentuk baru dari apa yang dulu disebut Komunisme. Jika kita tidak mengarahkan upaya kita ke arah ini, maka Wuhan hari ini mungkin adalah citra kota masa depan kita.

Banyak distopian telah membayangkan masa depan serupa: kita lebih banyak tinggal di rumah, bekerja di komputer, berkomunikasi melalui konferensi video, melakukan olehraga kebugaran dengan menggunakan mesin di sudut kantor rumah, sesekali bermasturbasi di depan layar yang menampilkan seks hardcore, dan memesan makanan dengan jasa pengiriman.

Namun, ada prospek emansipatoris takterduga yang tersembunyi dalam visi yang seperti mimpi buruk ini. Saya harus mengakui bahwa selama beberapa hari terakhir saya bermimpi mengunjungi Wuhan. Apakah jalanan yang setengah-ditinggalkan di sebuah megalopolis–pusat kota yang biasanya ramai tapi terlihat seperti kota hantu, toko-toko dengan pintu terbuka dan tidak ada pelanggan, hanya pejalan kaki atau mobil di sana-sini, orang-orang dengan masker putih–sama sekali tidak mencerminkan citra dunia non-konsumeris yang nyaman dengan dirinya sendiri?

Keindahan melankolis dari jalan-jalan yang kosong di Shanghai atau Hong Kong mengingatkan saya pada beberapa film pasca-apokaliptik lama seperti On the Beach, yang menunjukkan sebuah kota dengan sebagian besar penduduknya dihancurkan–tidak ada penghancuran besar yang spektakuler, hanya dunia di luar sana yang tidak lagi siap sedia, menunggu kita, menatap pada kita dan hanya pada  kita. Bahkan masker putih yang dikenakan oleh beberapa orang yang berjalan di sekitarnya memberikan anonimitas yang ramah dan pembebasan dari tekanan sosial demi pengakuan.

Banyak dari kita yang ingat kesimpulan terkenal dari manifes situasionis mahasiswa dari tahun 1966: «Vivre sans temps mort, jouir sans entraves» -to live without dead time, to enjoy without obstacles. Jika Freud dan Lacan telah mengajarkan kita sesuatu, maka itu adalah bahwa formula ini—yaitu perkara tertinggi dari perintah superego karena, seperti yang ditunjukkan dengan tepat oleh Lacan, superego pada dasarnya merupakan perintah positif untuk dinikmati, bukan tindakan negatif untuk melarang sesuatu—merupakan resep untuk menghadapi bencana: keinginan untuk mengisi setiap momen waktu yang diberikan pada kita dengan keterlibatan yang intens berakhir dengan kebosanan mencekik yang takterhindarkan.

Waktu takproduktif–yaitu saat terjadi penarikan diri, saat terjadi apa yang oleh mistikus lama disebut Gelassenheit, pelepasan—sangat penting untuk revitalisasi pengalaman hidup kita. Mungkin orang dapat berharap bahwa salah satu konsekuensi yang tidak diinginkan dari karantina virus korona di kota-kota Cina adalah bahwa beberapa orang setidaknya akan menggunakan waktu takproduktif mereka untuk terbebas dari aktivitas yang padat dan memikirkan ke(tidak)masuk-akalan kesulitan mereka.

Saya sepenuhnya sadar akan bahaya yang saya hadapi dalam mempublikasikan pemikiran saya ini –apakah saya terlihat tidak turut memikirkan cara baru menghubungkan para korban dengan beberapa wawasan otentik yang lebih dalam dari posisi eksternal saya yang aman dan dengan demikian secara sinis melegitimasi penderitaan mereka? Ketika seorang warga mengenakan masker di Wuhan berkeliling mencari obat-obatan atau makanan, pasti tidak ada pemikiran anti-konsumeris di benaknya, hanya panik, marah, dan takut. Harapan saya hanyalah bahwa peristiwa mengerikan dapat memiliki konsekuensi positif yang tidak terduga.

Carlo Ginzburg mengusulkan gagasan bahwa merasa malu dengan negara sendiri, bukan malah mencintainya, mungkin merupakan tanda sebenarnya dari rasa memiliki terhadap negara tersebut. Beberapa orang Israel mungkin akan mengumpulkan keberanian untuk merasa malu atas tindakan Netanyahu dan politik Trump yang dilakukan atas nama mereka–tentu saja, bukan dalam arti rasa malu menjadi Yahudi, tetapi sebaliknya, merasa malu atas apa yang politik Israel lakukan di West Bank pada warisan Yahudi yang paling berharga. Beberapa orang Inggris mungkin harus mengumpulkan keberanian untuk merasa malu dengan mimpi ideologis yang membawa mereka pada Brexit.

Tetapi bagi orang-orang Wuhan, ini bukan saatnya untuk merasa malu dan terstigmatisasi, tetapi ini waktu untuk mengumpulkan keberanian dan sabar bertahan dalam perjuangan mereka. Satu-satunya yang benar-benar malu di Tiongkok adalah mereka yang secara terbuka meremehkan epidemi sambil melindungi diri mereka sendiri, bertindak seperti para pejabat Soviet di sekitar Chernobyl yang secara terbuka menyatakan tidak ada bahaya saat mengevakuasi keluarga mereka sendiri, atau para manajer papan atas yang secara terbuka menyangkal pemanasan global tetapi sudah membeli rumah di Selandia Baru atau membangun bungker untuk bertahan hidup di Pegunungan Rocky.

Kemarahan publik terhadap perilaku ganda seperti itu (yang sudah memaksa pihak berwenang untuk menjanjikan transparansi) mungkin akan melahirkan perkembangan politik positif lain yang tidak diinginkan di Tiongkok.

Tetapi orang yang seharusnya benar-benar malu adalah kita semua di seluruh dunia yang berpikir tentang bagaimana cara mengkarantina orang Cina. [ ]

*Terbit pertama di majalah WELT pada 22-01-2020.

Sumber gambar: areomagazine.com/