More

    Sejarah Kerasukan: Bagaimana Manusia Memahami dan Menerima Dirinya

    Fajar N.
    Fajar N.
    Pembaca Darwin dan peneliti bioetika

    Artikel Terbaru

    Rekonstruksi Waktu dalam Pandangan Fisika Modern (Bagian 1)

    Tulisan ini memfokuskan pada ringkasan isi dari buku The Order of Time (Tatanan Waktu) karya Carlo Rovelli, seorang fisikawan teori terkenal...

    Masa Depan Relasi Filsafat Ilmu-Teknologi

    Don Ihde pada tahun 2004 menyebarkan keraguan dan harapan. Dengan artikelnya yang berjudul “Telah sampaikah filsafat teknologi? Keadaan Terbaru”, Ihde mengevaluasi...

    Kemungkinan Peran Fenomenologi dalam Memecahkan Teka-teki Kuantum

    Steven French berpendapat bahwa pada jantung problem pengukuran kuantum terdapat kesalahpahaman yang fatal dalam memahami hubungan subjek-objek. Jika melihat lebih dekat pada...

    Memahami Kembali Manusia di Era Teknologi

    Keberadaan teknologi membawa manusia pada koin dari harapan yang diandaikan memiliki dua sisi. Satu sisi dapat berperan sebagai upaya membebaskan manusia...

    Tentang Spesialisasi dan Kesusah-teraksesannya Filsafat

    James Ladyman berargumen bahwa ketidakteraksesannya filsafat merupakan sesuatu yang bagus. Jika filsafat adalah sebuah kecintaan terhadap kebijaksanaan dan mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seharusnya kita (menjalani)...

    Sejarah kerasukan adalah sejarah tentang bagaimana manusia menerjemahkan segala hal yang ada dalam dirinya. Keyakinan bahwa manusia dapat dirasuki oleh roh, iblis, dan jin dapat ditemukan di berbagai budaya di dunia. Fenomena dirasuki tersebut dapat terjadi baik melalui persetujuan diri maupun tanpa persetujuan diri medium (mereka yang akan dirasuki). Pada penalaran tersebut, fenomena dirasuki yang melalui tanpa persetujuan diri medium, dianggap sebagai roh, iblis, atau jin yang memiliki efek negatif bagi tubuh medium, baik berpengaruh ke psikologis, emosional, maupun fisik[1]. Hal yang dianggap sebagai fenomena kerasukan tersebut dalam sudut pandangan tradisional merupakan sesuatu yang perlu untuk disembuhkan, dan umumnya melalui proses terapi pengusiran roh, iblis, atau jin dari diri medium, baik melalui ritus-ritus keyakinan maupun ritus-ritus adat-tradisi.

    Pada fondasi keyakinan Islam, gejala-gejala yang terjadi pada diri manusia, seperti halusinasi, depresi, sukar tidur atau gangguan mental lainnya dianggap sebagai suatu serangan kekuatan dari luar diri manusia, yakni jin atau pun sihir yang dilakukan melalui perantara jin[2]. Dalam Islam, sihir merupakan tindakan atas suatu perjanjian dengan jin, yang akan mempengaruhi tubuh, jiwa, maupun pikiran seseorang, tanpa perlu untuk melakukan kontak fisik langsung atau bertemu dengannya[3]. Proses terapi pada pasien yang dianggap dirasuki oleh jin, dilakukan oleh seorang ustadz melalui terapi rukiahserta anjuran ritus-ritus tertentu[4].

    Pasien yang dianggap dirasuki oleh jin diterapi melalui ritus-ritus tertentu dalam keyakinan Islam, seperti ajuran untuk taat melakukan ibadah serta membaca kita suci yang diyakini. Terapi melalui ritus-ritus tersebut dipercaya dapat menjauhkan jin dari diri manusia, meminta kesembuhan kepada Tuhan, serta memberikan perlindungan dari kekuatan negatif lain yang berasal dari luar diri manusia[5]. Sementara dalam kristinani, dalam literatur sejarah, dalam Perjanjian Baru surat Markus pasal 5 ayat 1 sampai 20 disebutkan bahwa, Kristus mengusir legiun iblis pada seorang manusia dan memulihkannya kembali pada jiwanya yang sehat[6]. Garis besar proses pengusiran dilakukan dengan tiga tahapan, yakni putusan atau menyalahkan iblis merasuki tubuh seseorang tanpa izin dari seseorang tersebut dan izin Kristus dengan tujuan yang baik, deliberasi atau membebaskan kembali secara utuh ke diri manusia tersebut dengan mengusir paksa sang iblis melalui pertolongan Kristus, dan terakhir adalah perayaan atau merayakan keberhasilan pengusiran iblis dengan mengagungkan kekuatan Kristus dan menghardik iblis atas segala upaya dan niat buruknya terhadap manusia[7].

    Kerasukan dan kesehatan mental

    Kerasukan menjadi hal lain jika dilihat melalui kacamata sains modern. Fenomena yang dianggap sebagai dirasuki oleh roh, iblis, atau jin tersebut, dalam psikiatri merupakan sebuah keadaan dari terganggunya kesadaran, identitas, atau pun laku seseorang pada waktu tertentu. Terganggunya kesadaran, identitas, atau pun laku seseorang dapat terjadi baik secara patologis maupun non-patologis. Bila dilihat dari sejarahnya, terdapat kaitan antara fenomena yang dianggap sebagai kerasukan roh, iblis, atau jin tersebut dengan gangguan kepribadian ganda (disociative identity disorder atau DID). Kaitan tersebut dapat dilihat pada keterangan Adam Crabtree yang menyatakan bahwa fenomena kesurupan iblis atau jin memiliki kecenderungan hubungan dengan gangguan kepribadian ganda dalam bukunya bertajuk “Multiple Man: Explorations in Possession and Multiple Personality” yang dipublikasikan pada tahun 1985. Akan tetapi yang perlu ditegaskan bahwa, dalam perlakuan tindakan terhadap penderita gangguan kepribadian ganda melalui terapi pengusiran roh, iblis, atau jin merupakan sebuah pseudoterapi[8] yang tidak bisa diuji keabsahan praktiknya serta dimungkinkan untuk menyakiti penderita gangguan kepribadian ganda[9]. Terlebih, tidak ada simtom yang jelas mengenai fenomena kesurupan iblis atau jin, atau pun cara mengenai metode pengusiran pasti yang dianggap sebagai iblis atau jin tersebut[10]. Keyakinan untuk mempercayai penderita gangguan kepribadian ganda sebagai suatu fenomena kerasukan iblis atau jin merupakan sesuatu yang tidak masuk akal, dan dianggap bahwa para pelaku praktik terapi tersebut gagal memahami adanya fenomena kepribadian ganda.

    Kegagalan untuk memahami fenomena kepribadian ganda sebagai praktisi terapi yang berkaitan dengan gangguan mental tentu akan sangat membahayakan penderita gangguan mental, dan konsep roh, iblis, atau jin yang merasuk dalam tubuh penderita harus dikeluarkan secara paksa sampai dianggap berhasil, bahkan melibatkan koersi atau pemaksaan dari penderita dan tentunya berakhir sebagai objek belaka[11]. Bahkan perihal stigma atau label yang dilekatkan oleh masyarakat pada mereka yang menderita gangguan kepribadian ganda sebagai sesuatu yang berbahaya dan agresif[12]. Oleh sebab pada penderita gangguan kepribadian ganda, tentu setiap kepribadian yang menetap dalam diri memiliki penalaran, laku, dan sifat yang berbeda-beda, sehingga mungkin akan sangat sulit untuk mendapatkan persetujuan dari tiap-tiap kepribadian, terlebih bila tindakan yang akan dilakukan dapat mengancam keberadaan kepribadian tersebut[13]. Terlebih dalam proses pengusiran roh, iblis, atau jin, tidak terdapat standar prosedural yang jelas dan dapat diuji efektivitasnya sehingga dapat diperoleh metode yang bisa ditangguhkan keabsahannya, baik antar praktisi terapi maupun ritus-ritus kepercayaan atau pun ritus-ritus adat-tradisi[14].

    Akan tetapi terdapat permasalahan etis dalam pemaksaan terhadap konsep kepribadian ganda modern oleh praktisi psikoterapi terhadap pasien kepribadian ganda yang memiliki sudut pandang dan kerangka pemahaman berdasar keyakinan beragama serta kultural. Dengan menegasikan konsep kerasukan iblis atau jin dan memaksakan sudut pandang gangguan yang dialami pasien sebagai gangguan mental kepribadian ganda tentu juga bermasalah secara etis[15]. Dalam kerangka tersebut tentu tindakan pemaksaan yang dilakukan oleh praktisi psikoterapi dengan praktisi terapi pengusiran roh, iblis, atau jin menjadi sesuatu yang serupa.

    Suatu tindakan terapi agar dapat terjustifikasi secara etis diperlukan sebuah kesadaran untuk menerima nilai yang dibawa dalam sudut pandang pasien. Dalam kerangka penalaran tersebut tentu seorang praktisi terapi harus dapat menahan diri untuk mengintervensi dan mengubah sudut pandang pasien sesuai menjadi satu frekuensi atau satu pemahaman yang utuh dengan praktisi tersebut. Hal yang seharusnya dilakukan oleh praktisi terhadap pasien gangguan kepribadian ganda adalah untuk membuat pasien nyaman, membuka ruang dialog dengan pasien, dan membiarkan pasien mengeluarkan emotif yang membebaninya, serta menuntun pasien untuk dapat merefleksikan emotif tersebut kepada dirinya menuju arah yang lebih positif[16].

    Pengandaian sederhananya, bila keyakinan kristiani atau Islam telah melekat dalam diri pasien dan pasien mempercayai adanya konsep roh, iblis, atau jin, tindakan yang perlu untuk dilakukan adalah menggunakan dan memberdayakan keyakinan tersebut dalam terapi, seperti mempertanyakan bila pasien percaya adanya konsep entitas atau bentuk lain yang memiliki kuasa di atas roh, iblis, atau jin, semisal konsep Yesus Kristus, Allah, atau malaikat. Bila respon pasien adalah positif dan mempercayai adanya konsep entitas yang lebih berkuasa daripada konsep roh, iblis, atau jin, keberlanjutan tindakan yang perlu dilakukan adalah meminta pada konsep entitas yang lebih berkuasa tersebut dalam kerangka keyakinan pasien, untuk mengangkatnya dari diri pasien.

    Hal yang perlu digarisbawahi adalah seorang praktisi psikoterapi boleh saja bertahan dan tetap menjadi agnostik pada hal-hal spiritual di balik keyakinan pasien, namun kebergunaan serta kebermanfaatan dari upaya menerima atau rekognisi serta mendorong proses terapi ke hal yang positif bagi diri pasien melalui sisi keyakinan spiritualnya adalah hal yang tidak bisa dinafikan[17]. Terlebih bila itu dapat memberikan bermanfaat, akan sangat tidak masuk akal untuk menolak dan mengabaikannya hanya karena dianggap bertentangan dengan keyakinan atas hal-hal spiritual praktisi psikoterapi. Melalui stimulus tentang konsep positif tersebut melalui kesadaran diri untuk melawan, tentu diharapkan pasien dapat melawan konsep negatif dalam dirinya, bukan dengan koersi praktisi terapi[18]. Kerangka yang dipakai dalam penalaran tersebut adalah bahwa pilihan atas kata dan ucapan, terlebih berkaitan dengan fondasi keyakinan seseorang, dapat menjadi sebuah stimulus bagi seseorang untuk melakukan tindakan buruk seperti membunuh atau tindakan baik seperti memberikan rasa nyaman dan menguatkan[19].

    Pemberdayaan keyakinan pasien dalam terapi yang ditujukan untuk melawan konsep negatif dalam dirinya melalui stimulus tentang konsep positif tentu sangat diperlukan dalam menangani gejala gangguan mental secara umum dan gejala gangguan kepribadian secara khusus. Terlebih upaya untuk memahami latar kultural pasien juga menjadi sesuatu yang penting, sehingga dapat mengetahui mana stimulus yang dapat dipergunakan dan membangkitkan kepercayaan pasien menuju arah yang positif bagi tubuh dan dirinya[20].

    Tidak dapat dinafikan bahwa fondasi keyakinan seseorang terdapat dalam laku yang dijalani serta lingkungan ia berkembang, seperti ritus-ritus keyakinan serta ritus-ritus adat-tradisi, yang membentuk dan membangun pola penalarannya dalam bersikap[21]. Terlebih dengan memberdayakan keyakinan pasien dalam terapi melalui stimulus yang positif dapat memberikan rasa tenang dan dapat menurunkan kecemasan yang dialami oleh pasien akibat stresor atau faktor tertentu yang mengakibatkan tekanan dalam diri pasien. Sementara proses melawan konsep negatif dalam diri pasien melalui stimulus yang positif, pengalaman emosional tersebut akan membawa sebuah transformasi bagi diri pasien, seperti bagaimana ia akan lebih memaknai kehidupan yang dijalaninya, bahwa kecemasan yang dialami dapat terobati atau dilawan, serta bukan sesuatu yang melekat dan tidak dapat terobati[22].

    Daimonic side: yang niscaya dan yang tak dikehendaki

    Keberadaan kepribadian dalam penderita kepribadian ganda tidak dapat sepenuhnya dapat tersingkirkan. Oleh sebab kepribadian tersebut hadir dari tekanan emotif yang menumpuk atas suatu latar belakang tertentu di masa lalu, dan dimungkinkan hadir kembali saat tumpukan emotif tersebut terpicu atas suatu hal atau tindakan tertentu[23]. Terlebih dalam kesadaran setiap manusia dipercayai memiliki sisi yang disebut sebagai daimonic atau iblis, dan keberadaan hal tersebut dianggap natural sebagai bagian dalam diri manusia[24]. Segala tekanan emotif baik berupa rasa takut, fantasi liar, rasa bersalah, serta hasrat seksual tertentu yang pernah dipikirkannya dianggap berlawanan dengan kepribadian yang dimiliki akan disematkan dan terus ditekan, agar tidak mewujud dalam perilaku[25]. Banyak orang merasa takut dan tidak bisa menerima daimonic-nya sendiri, sehingga upaya menekan daimonic menjadi satu-satunya pilihan.

    Pada akhirnya dapat dipastikan bahwa daimonic yang terlalu menumpuk suatu saat akan terlepas dan mewujudkan diri, serta menimbulkan simtom-simtom gangguan mental akibat rasa takut dan malu yang tidak tertahankan seperti cemas, gelisah, dan sampai hadirnya kepribadian lain sebagai upaya melawan atau menutupi hal tersebut. Berdasar penalaran tersebut tentu sebuah terapi yang dianggap baik adalah untuk memahami kepribadian tersebut, serta menyelami latar belakang yang menyebabkan kepribadian tersebut hadir dalam diri. Melalui ruang dialog yang aman dan nyaman (yakni proses terapi tidak melakukan stimulus koersif dan pasien mampu menerima kepribadian yang hadir untuk berkomunikasi dan berinteraksi menuju arah yang dianggap lebih baik) antara pasien dan praktisi terapi, kepribadian yang hadir dapat diajak berkomunikasi dan bekerja sama untuk kebaikan diri pasien.

    Catatan Akhir


    [1] Lih. Sanford, Joel R., 2016, “Facing Our Demons: Psychiatric Perspectives on Exorcism Rituals” dalam The Hilltop Review: A Journal of Western Michigan University Graduate Student Research, Vol. 8, No. 2, hal. 87.

    [2] Lih. Razali, Zul A. dkk., 2018, “Complementing the Treatment of a Major Depressive Disorder Patient with Ruqyah Shar’iyyah Theraphy: A Malaysian Case Study” dalam Journal of Muslim Mental Health, Vol. 12, No. 2, hal. 49.

    [3] Lih. Ibid, hal. 49.

    [4] Lih. Ibid, hal. 50; Lih. Ahmad, Khadher dkk., 2016, “Pemahaman Terhadap Aspek Penggunaan Ruqyah dalam Rawatan Penyakit: Analisis Berasaskan Fiqh al-Hadith Imam Al-Bukhari” dalam Al-Bayan: Journal of Qur’an and Hadith Studies, Vol. 14, hal. 171.

    [5] Lih. Ibid, hal. 171, 173-174.

    [6] Dipahami sebagai “his right mind” dan diinterpretasikan dalam konteks keyakinan. Lih. Bull, Dennis L., 2001, “A Phenomenological Model of Therapeutic Exorcism for Dissociative identity Disorder” dalam Journal of Psychology and Theology, Vol. 29, No. 2, hal. 131.

    [7] Lih. Kallendorf, Hilaire, 2005, “The Rhetoric of Exorcism” dalam A Journal of the History of Rhetoric, Vol. 23, No. 3, hal. 214-215.

    [8] Dipahami sebagai “pseudotheraphy” dan diinterpretasikan sebagai tindakan terapi tanpa manfaat yang jelas, menyesatkan, atau bahkan mungkin sia-sia. Lih. Wulsin, Lawson R., 1985, “Psychotheraphy or Pseudotheraphy” dalam Jefferson Journal of Psychiatry, Vol. 3, No. 2, hal. 53.

    [9] Lih. Bull, Dennis L., 2001, “A Phenomenological Model of Therapeutic Exorcism for Dissociative identity Disorder” dalam Journal of Psychology and Theology, Vol. 29, No. 2, hal. 132.

    [10] Lih. Ibid, hal. 136.

    [11] Lih. Ibid, hal. 132.

    [12] Lih. Razali, Zul A. dkk., 2018, “Complementing the Treatment of a Major Depressive Disorder Patient with Ruqyah Shar’iyyah Theraphy: A Malaysian Case Study” dalam Journal of Muslim Mental Health, Vol. 12, No. 2, hal. 51.

    [13] Lih. Bull, Dennis L., 2001, “A Phenomenological Model of Therapeutic Exorcism for Dissociative identity Disorder” dalam Journal of Psychology and Theology, Vol. 29, No. 2, hal. 137.

    [14] Lih. Sanford, Joel R., 2016, “Facing Our Demons: Psychiatric Perspectives on Exorcism Rituals” dalam The Hilltop Review: A Journal of Western Michigan University Graduate Student Research, Vol. 8, No. 2, hal. 91.

    [15] Lih. Bull, Dennis L., 2001, “A Phenomenological Model of Therapeutic Exorcism for Dissociative identity Disorder” dalam Journal of Psychology and Theology, Vol. 29, No. 2, hal. 134.

    [16] Lih. Ibid, hal. 138.

    [17] Lih. Sanford, Joel R., 2016, “Facing Our Demons: Psychiatric Perspectives on Exorcism Rituals” dalam The Hilltop Review: A Journal of Western Michigan University Graduate Student Research, Vol. 8, No. 2, hal. 92.

    [18] Lih. Bull, Dennis L., 2001, “A Phenomenological Model of Therapeutic Exorcism for Dissociative identity Disorder” dalam Journal of Psychology and Theology, Vol. 29, No. 2, hal. 135.

    [19] Lih. Kallendorf, Hilaire, 2005, “The Rhetoric of Exorcism” dalam A Journal of the History of Rhetoric, Vol. 23, No. 3, hal. 236.

    [20] Lih. Razali, Zul A. dkk., 2018, “Complementing the Treatment of a Major Depressive Disorder Patient with Ruqyah Shar’iyyah Theraphy: A Malaysian Case Study” dalam Journal of Muslim Mental Health, Vol. 12, No. 2, hal. 50-51.

    [21] Lih. Ibid, hal. 52.

    [22] Lih. Qodariah, Siti, 2015, “Pengaruh Terapi Ruqyah Syari’iyyah Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan” dalam SCIENTICA, Vol. 2, No. 2, hal. 32.

    [23] Lih. Gettis, Alan, “Psychotheraphy as Exorcism” dalam Journal of Religion and Health, Vol. 15, No. 3, hal. 189.

    [24] Lih. Ibid, hal. 189.

    [25] Lih. Ibid, hal. 189.

    Sumber gambar: bookmyshow.com

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here