More

    Cuplikan Surat Putus Para Filsuf Kepada Pasangannya

    Artikel Terbaru

    Realisme dan Anti-realisme dalam Pemikiran Martin Heidegger

    Pemikiran Martin Heidegger masih terasa pengaruhnya hingga hari ini. Ketika perkembangan teknologi dan sains semakin maju, manusia terasing di dalam sistem...

    Where Is God in a Coronavirus World?

    This year's coronavirus pandemic has truly shaken the world's citizens both physically and mentally. People are required to self-isolate to prevent...

    Waktu: Jejaring Peristiwa dan Relasinya (Bagian 2)

    Penjelasan bagian pertama sedikit banyak telah “meruntuhkan” konsepsi waktu awam yang biasa kita kenal. Mulai dari keumuman, ketakgayutan, serta kesetangkupan (simetris)...

    Pengakuan Dunia-Kehidupan yang Sakramental: Pembunuhan Tuhan dan Ekonekrofilia

    Edmund Husserl, dalam fenomenologinya, memperkenalkan istilah “dunia-kehidupan”. Ia mempopulerkannya dengan istilah lebenswelt atau lifeworld (leben: hidup dan welt: dunia). Istilah ini...

    Beberapa Catatan Tak Tuntas Tentang Kegilaan

    Konsep kegilaan, atau penyakit mental, mengacu pada deviasi dari pemikiran, penalaran, perasaan, attitude, dan perbuatan normal, yang oleh subjeknya, atau orang...

    Cuplikan ini mungkin bisa menjadi inspirasi untuk mengirim pesan kepada pasangan Anda. Bagi Anda para akademisi, sarjana filsafat atau seorang dosen dengan hubungan yang sedang diambang kehancuran. Saya tahu, memilih bergaul dengan buku-buku dan teori-teori daripada pasangan Anda sungguh sebuah posisi yang sulit. Di satu sisi, alienasi ini membentuk semacam moralitas maskulin dimana ilmu pengetahuan akan menyelamatkan Anda dari gertakan pasangan. Di sisi lain, Anda adalah bagian dari sejarah filsafat (ilmu pengetahuan) yang juga mengalami kerentanan. Filsuf-filsuf yang kita pelajari juga patah hati. Mereka memiliki kecemasan yang sama dengan kita. Berikut saya terjemahkan sebuah parodi cuplikan surat perpisahan para filsuf dengan pasangannya di sepanjang sejarah filsafat (Artikel asli berjudul “Excerpts from Philosophers’ Breakup Letters Throughout History” ditulis oleh Julia Edelman untuk rubrik humor di New Yorker, Juni 2015).

    ____

    Sejauh hubungan ini berjalan, aku merasa benar-benar sengsara tak terkira. Aku tahu sekarang ternyata kau hanya menggunakanku murni sebagai alat saja hingga titik penghabisan. Apakah kau tahu bagaimana perasaanku? Sangatlah imperatif jika kau berkaca pada makna hukum universal, lalu berhenti melakukan ‘itu’ dengan lidahmu, seperti yang sudah-sudah. — Immanuel Kant

    *

    Apa yang sebenarnya kita lakukan ini? Hari-hari telah berlalu, kau tumbuh semakin terpinggir dari kerja-kerja susah payahmu. Kita sudah tidak bercinta lebih dari sebulan, bahkan setelah aku sembuh dari ruamku dulu, dan begitu yakin kita bakal merayakan dengan bercinta sampai puas. Aku menuntut keadilan dari masturbasi kotor gaya borjuis ini yang mereka sebut sebagai “sebuah hubungan.” — Karl Marx

    *

    Apa kau ingat hari itu, saat kita bersama bebek-bebek? Hari itu dingin sekali dan hujan pula, dan langit yang menganga mencoba mendekap takdir kita dengan tiupan angin. Kita bergegas berlindung di bawah tenda terdekat, lalu menemukan keluarga bebek bersarang bersama, aku ingat saat aku memandangimu dan berpikir, “Ini tidak bisa sirna begitu saja.” Tapi apa boleh buat? Dengarkan aku, perpisahan ini hanya seperti lebah yang mengabaikan bunga setelah penyerbukan usai, kau harus bergerak maju, atau meringkuk saja. Suatu hari nanti kau akan bertemu seorang pria, lalu ia akan bangkit seperti phoenix dari lahan yang terbakar, dan inilah harapan terbesarku, semoga ia tidak memberimu syphilis. — Friedrich Nietzsche

    *

    Sangat menyakitkan untuk mengakuinya, Socrates mengatakan yang sebenarnya tentangmu. Kau tidak mampu berpikir tentang siapapun kecuali dirimu sendiri. Kapan kau terakhir kali menengok kuliah-kuliahku di Academy? Aku kini telah tersesat dalam kondisi pelarian yang terlalu lama. Sekarang aku tahu kalau cinta itu tidaklah nyata. Kecantikanmu transenden, ya memang, tapi sayang sekali abstrak. Tinggalkan aku sendiri bergulat dengan dunia material ini. Enyahlah. — Plato

    *

    Aku minum, maka aku… mabuk. Ha ha! Aku kira bakal lebih mudah mengatakan ini kepadamu setelah habis gelas ke enam, tapi sayangnya, aku masih sangat berantakan. Oh, bagaimana duniaku menjadi lebih sempit ketika aku berpikir kamu tidak ada di sana, dan cih, tentu saja tidak, kamu tahu? Begini, aku akan mulai lagi. Filsafat itu seperti pohon, punya cabang-cabang yang menjulur ke depan, dan kamu hanya seperti semak belukar. Imut dan mungil, tapi tidak begitu berpengalaman dalam pemikiran rasionalis. Apa kau paham apa yang sebenarnya ingat ku katakan? — Rene Descartes

    *

    Kasihku yang manis, aku mengunjungi pameran Balzag beberapa waktu lalu dan sekonyong-konyong sadar apa yang telah aku lakukan. Aku sangat cinta padamu, tapi aku tetap memandang rendah dirimu. Aku mencoba memahami ini: aku berpikir dalam momen yang kecil dan singkat itu, seperti ketika bajing terburu-buru loncat ke jalanan atau seorang tunawisma yang mencoba onani di dalam semak-semak di les Tuileries. Mungkin saat ini sudah waktunya menemukan seseorang yang bisa kau ajak menggeluti minatmu dalam threesomes yang bermoral. — Jean-Paul Sartre

    *

    J.P, halah…kentut! — Simone de Beauvoir

    *

    Aku akan menguraikan hubungan kita ini dalam tiga tahap. Tahap pertama ditentukan oleh estetika. Aku berjalan menyusuri salah satu jalan berkelok favoritku di Kopenhagen, menyaksikan kau keluar dari kereta, dan aku harusnya menyambutmu. Tahap kedua dari keberadaan etis kita. Saat aku ingin melayangkan mataku pada bagian tersembunyi dari tubuhmu, aku lantas menyadari bahwa kau baru-baru ini mengumbar tubuh dan jiwamu kepada teman baikku, si Hans, dan aku tahu dia akan marah jika aku mencoba melakukan sesuatu yang tak terduga. Tahap ketiga dan terakhir adalah tahap religius. Aku tidak terlalu peduli pada Hans, bisa saja aku merayumu. Sayangnya, kita berdua telah melakukan dosa yang luar biasa, dan dengan karenanya kita harus segera mengakhiri hubungan tak bermoral tapi menggairahkan ini. Tuhan memberkati. — Søren Kierkegaard

    *

    Ucapkan selamat tinggal pada John Cocke

    ! —John Locke

    Sumber gambar: mutualart.com

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here