More

    Slavoj Žižek: Mimpi Saya tentang Wuhan

    Artikel Terbaru

    Rekonstruksi Waktu dalam Pandangan Fisika Modern (Bagian 1)

    Tulisan ini memfokuskan pada ringkasan isi dari buku The Order of Time (Tatanan Waktu) karya Carlo Rovelli, seorang fisikawan teori terkenal...

    Masa Depan Relasi Filsafat Ilmu-Teknologi

    Don Ihde pada tahun 2004 menyebarkan keraguan dan harapan. Dengan artikelnya yang berjudul “Telah sampaikah filsafat teknologi? Keadaan Terbaru”, Ihde mengevaluasi...

    Kemungkinan Peran Fenomenologi dalam Memecahkan Teka-teki Kuantum

    Steven French berpendapat bahwa pada jantung problem pengukuran kuantum terdapat kesalahpahaman yang fatal dalam memahami hubungan subjek-objek. Jika melihat lebih dekat pada...

    Memahami Kembali Manusia di Era Teknologi

    Keberadaan teknologi membawa manusia pada koin dari harapan yang diandaikan memiliki dua sisi. Satu sisi dapat berperan sebagai upaya membebaskan manusia...

    Tentang Spesialisasi dan Kesusah-teraksesannya Filsafat

    James Ladyman berargumen bahwa ketidakteraksesannya filsafat merupakan sesuatu yang bagus. Jika filsafat adalah sebuah kecintaan terhadap kebijaksanaan dan mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seharusnya kita (menjalani)...

    Sudah banyak yang menulis tentang epidemi virus corona—apa yang bisa saya tambahkan sebagai seorang pengamat non-spesialis dengan akses data yang sangat terbatas? Tapi, kita mungkin harus mengajukan beberapa pertanyaan di sini: kapan data berakhir dan kapan ideologi dimulai?

    Teka-teki pertama sangat  jelas: ada banyak epidemi yang jauh lebih buruk terjadi, tapi mengapa muncul obsesi seperti ini ketika ribuan orang meninggal setiap hari karena penyakit menular lainnya? Tidak perlu mengingat pandemi influenza yang terjadi pada 1918-1920, yang dikenal sebagai flu Spanyol dengan jumlah korban meninggal yang diperkirakan setidaknya 50 juta orang. Sekarang, influenza telah menginfeksi 15 juta orang Amerika: setidaknya 140.000 orang telah dirawat di rumah sakit dan lebih dari 8.200 orang tewas hanya pada musim ini.

    Paranoia rasis jelas bermain di sini–ingat semua fantasi tentang wanita tua Cina yang dekil di Wuhan yang sedang menguliti ular hidup dan menyesap sup kelelawar. Waktu itu, sebuah kota besar di Tiongkok mungkin termasuk salah satu tempat paling aman di dunia.

    Tetapi ada paradoks yang lebih dalam sedang berjalan: semakin banyak dunia terhubung, semakin banyak bencana lokal dapat memicu ketakutan global dan akhirnya berujung bencana. Pada Musim Semi 2010, awan letusan gunung berapi kecil di Islandia–sebuah gangguan kecil dalam mekanisme kompleks kehidupan di Bumi—menghentikan lalu lintas udara di sebagian besar Eropa–menjadi sebuah pengingat, bahwa dari semua aktivitas perubahan alam yang maha besar, manusia tetap hanya salah satu spesies yang hidup di planet Bumi.

    Dampak sosial-ekonomi yang sangat dahsyat dari ledakan kecil tersebut adalah perkembangan teknologi kita (perjalanan udara): seabad yang lalu, letusan seperti itu akan berlalu tanpa terasa. Perkembangan teknologi membuat kita lebih mandiri dari alam dan pada saat yang sama, pada tingkat yang berbeda, lebih bergantung pada kehendak alam. Dan hal yang sama berlaku untuk penyebaran virus corona: jika itu terjadi sebelum reformasi Deng Hsiao Ping, kita mungkin tidak akan pernah mendengarnya.

    Jadi bagaimana kita melawan virus jika virus itu berkembang biak sebagai bentuk kehidupan parasit yang aneh dan tak terlihat, sebuah entitas spektral yang tidak mati  (living dead) yang mekanisme dasarnya tetap tidak diketahui? Kurangnya pengetahuan inilah yang menyebabkan kepanikan: bagaimana jika virus akan bermutasi dengan cara yang takterduga dan memicu bencana global yang sebenarnya?

    Inilah paranoia pribadi saya: apakah alasan kepanikan yang diperlihatkan oleh pihak berwenang meskipun efek sebenarnya sampai sekarang relatif sederhana terletak pada kenyataan bahwa mereka tahu (atau, setidaknya, menduga) sesuatu tentang kemungkinan mutasi yang tidak ingin mereka beritahukan pada publik untuk menghindari kebingungan dan keresahan?

    Satu hal yang pasti: isolasi, tembok baru, dan karantina lebih lanjut itu akan sia-sia. Dibutuhkan solidaritas penuh tanpa syarat dan respons global yang terkoordinasi, bentuk baru dari apa yang dulu disebut Komunisme. Jika kita tidak mengarahkan upaya kita ke arah ini, maka Wuhan hari ini mungkin adalah citra kota masa depan kita.

    Banyak distopian telah membayangkan masa depan serupa: kita lebih banyak tinggal di rumah, bekerja di komputer, berkomunikasi melalui konferensi video, melakukan olehraga kebugaran dengan menggunakan mesin di sudut kantor rumah, sesekali bermasturbasi di depan layar yang menampilkan seks hardcore, dan memesan makanan dengan jasa pengiriman.

    Namun, ada prospek emansipatoris takterduga yang tersembunyi dalam visi yang seperti mimpi buruk ini. Saya harus mengakui bahwa selama beberapa hari terakhir saya bermimpi mengunjungi Wuhan. Apakah jalanan yang setengah-ditinggalkan di sebuah megalopolis–pusat kota yang biasanya ramai tapi terlihat seperti kota hantu, toko-toko dengan pintu terbuka dan tidak ada pelanggan, hanya pejalan kaki atau mobil di sana-sini, orang-orang dengan masker putih–sama sekali tidak mencerminkan citra dunia non-konsumeris yang nyaman dengan dirinya sendiri?

    Keindahan melankolis dari jalan-jalan yang kosong di Shanghai atau Hong Kong mengingatkan saya pada beberapa film pasca-apokaliptik lama seperti On the Beach, yang menunjukkan sebuah kota dengan sebagian besar penduduknya dihancurkan–tidak ada penghancuran besar yang spektakuler, hanya dunia di luar sana yang tidak lagi siap sedia, menunggu kita, menatap pada kita dan hanya pada  kita. Bahkan masker putih yang dikenakan oleh beberapa orang yang berjalan di sekitarnya memberikan anonimitas yang ramah dan pembebasan dari tekanan sosial demi pengakuan.

    Banyak dari kita yang ingat kesimpulan terkenal dari manifes situasionis mahasiswa dari tahun 1966: «Vivre sans temps mort, jouir sans entraves» -to live without dead time, to enjoy without obstacles. Jika Freud dan Lacan telah mengajarkan kita sesuatu, maka itu adalah bahwa formula ini—yaitu perkara tertinggi dari perintah superego karena, seperti yang ditunjukkan dengan tepat oleh Lacan, superego pada dasarnya merupakan perintah positif untuk dinikmati, bukan tindakan negatif untuk melarang sesuatu—merupakan resep untuk menghadapi bencana: keinginan untuk mengisi setiap momen waktu yang diberikan pada kita dengan keterlibatan yang intens berakhir dengan kebosanan mencekik yang takterhindarkan.

    Waktu takproduktif–yaitu saat terjadi penarikan diri, saat terjadi apa yang oleh mistikus lama disebut Gelassenheit, pelepasan—sangat penting untuk revitalisasi pengalaman hidup kita. Mungkin orang dapat berharap bahwa salah satu konsekuensi yang tidak diinginkan dari karantina virus korona di kota-kota Cina adalah bahwa beberapa orang setidaknya akan menggunakan waktu takproduktif mereka untuk terbebas dari aktivitas yang padat dan memikirkan ke(tidak)masuk-akalan kesulitan mereka.

    Saya sepenuhnya sadar akan bahaya yang saya hadapi dalam mempublikasikan pemikiran saya ini –apakah saya terlihat tidak turut memikirkan cara baru menghubungkan para korban dengan beberapa wawasan otentik yang lebih dalam dari posisi eksternal saya yang aman dan dengan demikian secara sinis melegitimasi penderitaan mereka? Ketika seorang warga mengenakan masker di Wuhan berkeliling mencari obat-obatan atau makanan, pasti tidak ada pemikiran anti-konsumeris di benaknya, hanya panik, marah, dan takut. Harapan saya hanyalah bahwa peristiwa mengerikan dapat memiliki konsekuensi positif yang tidak terduga.

    Carlo Ginzburg mengusulkan gagasan bahwa merasa malu dengan negara sendiri, bukan malah mencintainya, mungkin merupakan tanda sebenarnya dari rasa memiliki terhadap negara tersebut. Beberapa orang Israel mungkin akan mengumpulkan keberanian untuk merasa malu atas tindakan Netanyahu dan politik Trump yang dilakukan atas nama mereka–tentu saja, bukan dalam arti rasa malu menjadi Yahudi, tetapi sebaliknya, merasa malu atas apa yang politik Israel lakukan di West Bank pada warisan Yahudi yang paling berharga. Beberapa orang Inggris mungkin harus mengumpulkan keberanian untuk merasa malu dengan mimpi ideologis yang membawa mereka pada Brexit.

    Tetapi bagi orang-orang Wuhan, ini bukan saatnya untuk merasa malu dan terstigmatisasi, tetapi ini waktu untuk mengumpulkan keberanian dan sabar bertahan dalam perjuangan mereka. Satu-satunya yang benar-benar malu di Tiongkok adalah mereka yang secara terbuka meremehkan epidemi sambil melindungi diri mereka sendiri, bertindak seperti para pejabat Soviet di sekitar Chernobyl yang secara terbuka menyatakan tidak ada bahaya saat mengevakuasi keluarga mereka sendiri, atau para manajer papan atas yang secara terbuka menyangkal pemanasan global tetapi sudah membeli rumah di Selandia Baru atau membangun bungker untuk bertahan hidup di Pegunungan Rocky.

    Kemarahan publik terhadap perilaku ganda seperti itu (yang sudah memaksa pihak berwenang untuk menjanjikan transparansi) mungkin akan melahirkan perkembangan politik positif lain yang tidak diinginkan di Tiongkok.

    Tetapi orang yang seharusnya benar-benar malu adalah kita semua di seluruh dunia yang berpikir tentang bagaimana cara mengkarantina orang Cina. [ ]

    *Terbit pertama di majalah WELT pada 22-01-2020.

    Sumber gambar: areomagazine.com/

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here