Judul dari tulisan saya sebelumnya adalah Tuhan di Sisa-sisa Wabah, yang artinya, atensi utama dari tulisan tersebut adalah bagaimana hubungan silang-sengkarut agama dan sains dalam kasus wabah hari ini memiliki konsekuensi terhadap konsepsi kita tentang Tuhan. Sayangnya, kritik yang dialamatkan oleh Gus Aziz, seorang Peneliti di CRCS UGM, dalam tulisannya berjudul Agama, Sains, dan Korona: Masalahnya di Mana? sama sekali tidak menyentuh persoalan tersebut. Dalam asumsi inilah kemudian saya dapat mengatakan bahwa kritik Gus Aziz salah sasaran, atau bahkan sama sekali tidak relevan.

Oleh sebab yang demikian, seharusnya, saya tidak merasa perlu untuk menanggapi balik kritik dari Gus Aziz. Selain karena salah sasaran, argumentasi yang diajukan oleh Gus Aziz juga sangat trivial dan pasaran, yakni menarik problem konsekuensial dari sebuah kasus terhadap bangunan konseptual ke dalam problem praktis. Kendatipun demikian, saya tetap merasa perlu untuk menanggapi balik sebagai bentuk tanggung jawab ilmiah saya kepada publik, atau anggap saja sebagai sebuah konfirmasi—atau arogansi intelektual?

Gus Aziz sebenarnya tidak perlu repot-repot menulis kritiknya jika argumentasi yang dipakai hanya sebatas argumen ‘orang-orang pasar’. Argumen yang dipakai dalam kritiknya, jika boleh diparafrase, demikian bunyinya: “Saya tidak merasa agama saya bertentangan dengan sains, kok. Saya percaya sains, dan saya tetap berdoa.”

Tepat dalam kalimat “saya percaya sains, dan saya tetap berdoa” atau “saya ikhtiar dan saya tawakal”—dalam bahasa yang digunakan Gus Aziz—lokus dari masalah sains dan agama dalam kasus wabah Korona itu dapat diperdebatkan, bukan pada perilaku yang tidak selaras antara umat beragama dengan anjuran sains yang dikampanyekan pemerintah. Namun saya tidak melihat Gus Aziz ingin mempersoalkan pernyataan tersebut karena barangkali menurutnya pernyataan semacam itu tidak bermasalah—mengingat ia seorang religius-muslim-moderat.

Alih-alih melihat lebih jauh konsekuensi-konsekuensi dari pernyataan semacam itu, Gus Aziz malah terjebak pada pembuktian tidak adanya pertentangan deskriptif dari sains tentang covid-19 dengan klaim-klaim agama—sependek itu? Perdebatan sains dan agama tidak hanya melulu pertentangan deskriptif seperti itu. Semisal, evolusionisme dan kreasionisme tidak hanya berbicara tentang perbedaan deskriptif dari agama dan sains tentang kemenjadian dunia dan juga manusia, melainkan juga konsekuensi-konsekuensinya terhadap konsep kita tentang Tuhan dan relasinya dengan dunia—sebaiknya Anda membaca lebih banyak lagi tentang perdebatan itu. Sebagaimana dikatakan oleh Dawkins, premis dasar dari agama tentang dunia itu sendiri sudah bertentangan dengan sains; agama percaya bahwa ada kekuatan supra-natural dibalik dunia ini, sementara sains hanya percaya pada hukum natural—Dawkins tetap menjadi relevan, kan?

Baiklah. Karena Gus Aziz lebih akrab dengan diskursus ilmu kalam atau teologi Islam dibanding teori-teori kafir dari pemikir Barat, saya akan menarik lokus perdebatan yang saya ajukan dalam tulisan saya sebelumnya ke dalam perdebatan yang lebih Islami, yakni perdebatan antara Jabbariyah (determinism) dan Qodariyah (indeterminism). Terdengar klasik? Ya, memang klasik. Namun, menurut saya, perdebatan tersebut masih sangat relevan dengan konteks laju perkembangan sains dan teknologi hari ini. Itulah mengapa pertanyaan penutup dari paragraf pertama saya berbunyi: “apakah kita benar-benar memiliki kehendak bebas?”. Sayangnya, Gus Aziz luput menangkap pertanyaan esensial tersebut—atau malah tidak membacanya?

Melihat dari argumentasi yang dipakai, saya yakin dan haqqul yaqin, dalam perdebatan tersebut Gus Aziz memilih jalan tengah—khas orang moderat, yakni meyakini bahwa kehendak bebas manusia dan kehendak Tuhan memiliki porsinya masing-masing. Dalam perdebatan teologi Islam, posisi semacam ini lebih dikenal dengan mazhab Asy’ariyah. Dalil yang digunakan adalah “manusia berencana, Tuhan yang menentukan.” Tapi bukankah pada akhirnya penentu akhir adalah Tuhan, dan rencana manusia kemudian menjadi tidak relevan? Mengapa kita tidak berdoa saja? Kemungkinan besar jawaban yang akan muncul adalah “Tuhan ingin melihat usaha kita.”—argumen sampah!

Di sinilah saya kira wabah covid-19 itu membuat perdebatan semacam itu tampak menjadi semakin nyata dengan adanya beragam respons dari umat beragama. Ada yang percaya bahwa kematian merupakan kuasa mutlak milik Tuhan sehingga mereka tetap bersikukuh untuk melakukan ibadah komunal, yang konsekuensinya jelas berbahaya menurut sains. Ada juga yang percaya bahwa kita harus tetap ikhtiar sebelum tawakal. Dan jelas, Gus Aziz menyatakan bahwa posisi yang terakhir itulah yang benar-benar merepresentasikan agama hanya karena ia merupakan pandangan mayoritas.

Sialnya, saya tidak pernah berbicara dan peduli tentang problem representasi; mana yang benar-benar mewakili suara umat beragama. Di sinilah kemudian tuduhan over-generalisasi tersebut salah alamat. Di bagian akhir dari tulisan saya dengan sub-judul ‘Yang tersisa dari Tuhan’ jelas hanya berisi pengajuan konsekuensi-konsekuensi dari perbedaan keyakinan dan sikap menyoal wabah terhadap bangunan konseptual kita tentang relasi Tuhan dan manusia.

Pertama, posisi Asy’ariyah, sebagaimana diwakili oleh orang-orang moderat, mengandaikan konsekuensi konseptual yang menempatkan Tuhan pada sisa-sisa usaha manusia—ini alasan mengapa judul artikel saya adalah Tuhan di Sisa-sisa Wabah. Artinya, kita hanya percaya kepada Tuhan karena keterbatasan pengetahuan yang kita miliki—istilah kerennya God of the gap. “Apa masalahnya jika kita hanya menempatkan Tuhan pada keterbatasan sains?” Jelas bermasalah. Secara teoretis—jangan dibenturkan dengan kenyataan sekarang karena ini hanya eksperimen kasus yang sifatnya prediktif—ketika kita dapat membongkar seluruh enigma realitas dan menentukan takdir kita sendiri, di mana kemudian kita menempatkan Tuhan? “Buktinya banyak hal yang belum dapat dijelaskan oleh sains.”—kan sudah saya bilang jangan dibenturkan, Bambang!

Posisi Asy’ariyah memberikan kemungkinan kepada sains untuk mengikis peran-peran Tuhan yang selama ini diyakini oleh manusia; azab, mukjizat, whatsoever. Kecuali, Anda menerima premis-premis dasar yang diajukan oleh Deisme—cari sendiri, sudah baligh juga! Namun konsekuensi yang harus Anda terima adalah Deisme akan menjadikan keberagamaan Anda menjadi tidak bermakna; sebanyak apa pun Anda berdoa, Tuhan sudah tidak ada urusan dengan dunia.

Kedua, posisi Jabbariyah, yang diwakili oleh para penyangkal sains—salah satunya Habib Luthfi, justru malah tidak memiliki masalah dengan konsep Tuhan. Wabah, bagi mereka, adalah bagian dari skenario Tuhan. Bagaimanapun kita menghindar, jika kita memang sudah ditakdirkan mati karena virus, kita akan tetap mati. Tuhan, dalam pengertian ini, adalah zat mutlak yang menguasai segalanya; hidup dan mati kita.

Jelas, problem dari Jabbariyah kemudian adalah tentang kehendak bebas manusia. Argumen klasik: bagaimana Anda menuntut pertanggungjawaban atas suatu tindakan yang dilakukan seseorang, jika ia tidak memiliki kehendak bebas?—klise, bukan? Ya, klise tapi memang itu problem yang tidak selesai dari Jabbariyah.

Singkatnya, yang ingin saya tegaskan adalah pada prinsipnya agama dan sains bagaimanapun tidak akan pernah kompatibel selain hanya dalam asumsi-asumsi etis. Dalam asumsi ontologis, sains menempatkan posisi Tuhan sebagai sesuatu yang kontingen (contingency), sementara agama menempatkan Tuhan sebagai sesuatu yang wajib (necessity). Dalam asumsi epistemologis, sains berangkat dari klaim partikular dengan metode eksperimen yang kebenarannya tentatif, sementara agama berangkat dari klaim universal yang kebenarannya absolut.

Pernyataan yang selalu muncul adalah “kan, itu hanya teori. Realitanya, tidak ada umat beragama yang merasa itu bertentangan.” Ya, karena mereka tidak paham!

Di sinilah teori-teori yang saya kutip, agar tampak lebih nggaya, menjadi relevan. Teori-teori tersebut memberikan kita bingkai untuk melihat bagaimana relasi agama dan sains sejauh ini diargumentasikan. Dan posisi saya jelas. Saya memilih argumen overlapping magisteria, sebab kenyataannya agama memiliki klaim tentang dunia material yang seharusnya menjadi ranah sains.

Posisi tersebut sebenarnya juga dipakai oleh hampir seluruh intelektual religius di Indonesia. Jika Anda menuliskan kata kunci agama dan sains di Google Scholar, semua paper yang muncul akan bernada sama: Integrasi ayat-ayat Al-Quran dengan temuan sains. Dalam argumentasinya, Gus Aziz, jelas berada dalam posisi ini juga—meskipun saya yakin tidak mungkin sebodoh orang-orang yang ota-atik gatuk ayat—atau sama juga? Namun, sekalipun dalam posisi yang sama, saya memilih pendekatan konflik, bukan integratif (otak-atik gatuk).

Sekadar saran: jika Gus Aziz ingin kritiknya lebih tajam dan tepat sasaran, Gus Aziz sebaiknya membuktikan bagaimana cara kerja Tuhan melalui hukum alam sehingga manusia mampu mengendalikan, atau menunda, atau menghindari, kematian melalui sains itu tidak bertentangan dengan kemahakuasaan (omnipotence) Tuhan. Ini problem logika klasik, namun belum terselesaikan. Satu-satunya penyelesaiannya adalah melalui argumen modal fallacy—silakan dipelajari sendiri!

Namun sebaiknya tidak usah. Logika membuat Anda sesat dan murtad! Astaghfirullah, mau masuk neraka?

*Sumber gambar: renegadetribune.com