More

    The Platform: Imaji Solidaritas Spontan

    Artikel Terbaru

    Rekonstruksi Waktu dalam Pandangan Fisika Modern (Bagian 1)

    Tulisan ini memfokuskan pada ringkasan isi dari buku The Order of Time (Tatanan Waktu) karya Carlo Rovelli, seorang fisikawan teori terkenal...

    Masa Depan Relasi Filsafat Ilmu-Teknologi

    Don Ihde pada tahun 2004 menyebarkan keraguan dan harapan. Dengan artikelnya yang berjudul “Telah sampaikah filsafat teknologi? Keadaan Terbaru”, Ihde mengevaluasi...

    Kemungkinan Peran Fenomenologi dalam Memecahkan Teka-teki Kuantum

    Steven French berpendapat bahwa pada jantung problem pengukuran kuantum terdapat kesalahpahaman yang fatal dalam memahami hubungan subjek-objek. Jika melihat lebih dekat pada...

    Memahami Kembali Manusia di Era Teknologi

    Keberadaan teknologi membawa manusia pada koin dari harapan yang diandaikan memiliki dua sisi. Satu sisi dapat berperan sebagai upaya membebaskan manusia...

    Tentang Spesialisasi dan Kesusah-teraksesannya Filsafat

    James Ladyman berargumen bahwa ketidakteraksesannya filsafat merupakan sesuatu yang bagus. Jika filsafat adalah sebuah kecintaan terhadap kebijaksanaan dan mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seharusnya kita (menjalani)...

    Seorang pria bernama Goreng (Ivan Massagué) terbangun di ruang no. 48 bersama dengan Trimagasi (Zorion Eguileor). Saat itulah, bangunan vertikal seperti penjara—The Hole menyimpan alegori kesenjangan kelas-sosial lewat bagaimana setiap orang memiliki kesempatan 1 × 24 jam hanya sekadar untuk menikmati makanan (dengan waktu terbatas) yang telah disediakan oleh pengelola. Makanan turun dari lantai 0 menuju lantai paling dasar.

    Goreng lalu berjalan untuk melihat sekeliling ruang dan menghitung setidaknya terdapat dua orang tiap ruangan. Ia memiliki alasan kuat mengapa dirinya secara sukarela mendaftarkan diri menjadi bagian dari ‘eksperimen sosial’ ini. Ia hanya ingin menghabiskan waktunya untuk menemukan ketenangan sekaligus kenikmatan saat membaca buku. Pengelola memberikan izin setiap volunter membawa satu barang kesayangannya, dan Goreng memilih Don Quixote karya Miguel de Cervantes.

     Apa yang dia mimpikan berbalik arah. Setiap satu bulan sekali, dua orang akan saling bertukar sekaligus menempati ruangan secara acak. Setiap makanan yang dihidangkan bergerak secara vertikal dari atas ke bawah. Goreng mengetahui alasan mengapa mereka yang berada di ruangan teratas memilih untuk menghabiskan porsi yang lebih banyak tanpa memikirkan kondisi mereka yang di bawah. Alasannya, mereka takut mati. Goreng mengamatinya berhari-hari sembari berpuasa karena merasa jijik sebab hidangan makanan yang sampai pada kamarnya telah berantakan dan rusak.

    Trimagasi memberikan penjelasan bahwa aturan di penjara ini adalah menjadi tamak dan rakus untuk sekadar bertahan hidup. Trimagasi juga tidak mengetahui kapan dirinya akan mati kelaparan kemudian hari. Saat itulah, Goreng berusaha menyiasatinya dengan menyembunyikan makanan kecil. Anehnya, penjara itu tidak mengizinkan siapa pun untuk menyembunyikan makanan. Jika itu terjadi maka ruang penjara itu akan menjadi sangat panas atau sangat dingin. Entah bagaimana caranya, tata cara makan menjadi aturan paling otoriter. Pengelola hanya memperhatikan persoalan hidangan. Tidak ada yang lain. Apa pun cara yang dilakukan oleh setiap orang bukan menjadi tanggung jawab pengelola, sekalipun adanya tindak kanibalisme.

    Alur cerita The Platform yang menawarkan sisi kelam, menjijikkan, dan sadis masih tetap mengutamakan ‘nilai’ tersembunyi tentang bagaimana seharusnya manusia bertindak di tengah-tengah kelaparan yang disebabkan oleh segelintir kelompok. Saya melihat, The Platform berusaha menjelaskan fase-fase krisis kepercayaan diri Goreng dalam menyikapi situasi ‘distopia’ yang dihadapinya. Awalnya, Goreng merupakan seorang yang sangat altruis dan optimis bahwa sistem yang ada dapat diubah menjadi lebih baik. Goreng berusaha bernegosiasi dengan setiap orang, meskipun hanya melalui suara—entah terdengar atau tidak dari lantai paling atas sampai terbawah.

    Fase berikutnya, ketika Goreng sangat percaya dengan idealisme dibenturkan dengan keadaan yang sangat lapar. Goreng terpaksa memakan sisa-sisa makanan yang menjijikkan itu. Makanan yang tak berbentuk, diinjak-injak, dan akan membuatnya mual apabila masih memikirkan penampilan dan cita rasa makanan itu sendiri. Namun, itu semua berubah saat dirinya menjadi bahan makanan cadangan Trimagasi. Saat itulah, idealismenya runtuh seketika. Dirinya yang pasrah jika akan dicincang secara lembut untuk mengganjal isi perut Trimagasi. Baginya, apa yang dilakukannya adalah persilangan antara berkorban untuk orang lain, mati kelaparan, atau tetap menjadi seorang yang idealis. Pada puncaknya, Goreng sendirilah yang membunuh Trimagasi.

    Tidak berhenti, bulan berikutnya, Goreng terbangun di lantai 202 bersama dengan Imoguiri (Antonia San Juan), seorang yang mewawancarai dirinya sesaat sebelum memasuki penjara vertikal. Fase Imoguiri, merupakan titik tolak Goreng menyadari adanya harapan untuk melakukan perubahan. Imoguiri dan Goreng sepakat untuk melakukan persuasi dan pendekatan secara halus agar semua orang mau berbagi makanan dan setiap orang harus mau mengatur porsi makanannya. Cita-cita itulah yang disebut dengan solidaritas spontan. Imoguiri meyakini bahwa lubang penjara ini akan melahirkan solidaritas spontan untuk umat manusia di masa depan.

    Fase terakhir, Goreng saat dirinya menempati lantai 5, makanan yang masih layak ada di depan matanya. Bersama dengan Baharat (Emilio Buale Coka), Goreng menginginkan perubahan radikal. Mereka berdua kemudian mengatur seluruh distribusi makanan yang ada. Mereka membaginya sampai lantai terdasar. Meskipun, faktanya mereka melakukan tindakan kekerasan dan membunuh sebagian orang yang tidak patuh pada perintah mereka. Akhir cerita, Goreng menemukan kebenaran atas enigma penjara. Padahal, tidak banyak yang dijelaskan oleh film ini tentang siapa pengelola, apa alasan mendirikan bangunan ini, mengapa ada anak kecil, mengapa lantai dasarnya berjumlah 333, dan banyak pertanyaan yang disisakan.

    Secara teoretis, konsep solidaritas spontan ala Goreng dapat menjadi rumit bila mengikuti Hierarki Kebutuhan Maslow. Bagaimana mungkin Goreng dapat memenuhi kebutuhan atas aktualisasi diri (tingkat keenam), jika tingkat dasar fisiologis dan rasa aman Goreng belum cukup terpenuhi? Pilihannya pada film itu ialah: Goreng menahan diri dengan memakan beberapa halaman bukunya, memakan atau dimakan sesamanya, mati bunuh diri, atau memilih mati kelaparan tanpa mengambil risiko apa pun. Goreng sangat mendambakan agar seluruh orang dalam penjara itu dapat berteriak ‘satu untuk semua dan semua untuk satu’. Persoalannya, bagaimana Goreng mampu mendistribusikan solidaritasnya untuk keberagaman pandangan setiap orang? Apakah solidaritas menyamaratakan setiap orang? Atau solidaritas adalah sekadar kepatuhan atas kuasa Goreng dan Baharat dalam mengatur distribusi makanan? Padahal, distribusi solidaritas itu sendiri belum terpenuhi.

    Tidak heran, di tengah-tengah wabah global Covid-19, The Platform (Netflix) bisa dinikmati saat kalian semua sedang melakukan penjarakan fisik dan pembatasan sosial. Jika di film itu menggambarkan bagaimana distribusi makanan ‘yang ideal’ seharusnya dilakukan, hari ini, di seluruh dunia, masih memikirkan bagaimana seharusnya distribusi alat perlindungan diri atau dukungan kesehatan publik dapat berjalan dengan baik. Di samping itu, solidaritas spontan mungkin akan muncul saat krisis tiba seperti situasi saat ini. Setiap orang secara spontan (atau takut) berusaha berkomitmen untuk melakukan pencegahan penyebaran virus korona ini secara kolektif. Akan tetapi, entah sampai kapan ‘solidaritas spontan’ ini mampu bertahan, seandainya mereka lantas tidak dihadapkan dengan kelangkaan kebutuhan dasar, seperti halnya distribusi makanan untuk dirinya sendiri di tengah-tengah wabah ini.

    *Sumber gambar: collider.com

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here