Home Blog Page 16

Setyo Wibowo: Platon Itu Pemikiran yang Berusaha Menggapai Horizon

0
setyo wibowo

Tujuh tahun silam, ketika buku pertamanya tentang Nietzsche, Gaya Filsafat Nietzsche, terbit, banyak yang menduga bahwa ia seorang Nietzschean. Dalam buku yang merupakan interpretasi mendalam atas ajaran-ajaran Nietzsche sekaligus catatan kritis atas buku St. Sunardi, Nietzsche yang lebih dulu terbit itu, ia mempertunjukkan keluasan pembacaannya atas filsuf Pembunuh Tuhan itu.

Namun kita mungkin meleset mengira ia seorang Nietzschean, karena ternyata baginya, Nietzsche hanya makin “meyakinkan saya bahwa saya harus kembali ke filsafat Yunani”. Ia pun membaca Platon. Seperti diakuinya di prolog Gaya Filsafat Nietzsche, “menjadi tidak jelas … apakah Nietzsche yang mendorong penulis memasuki Platon, ataukah Platon yang membuat aktivitas membaca Nietzsche makin menarik” (hlm. xxii).

Studinya tentang filsafat Yunani, dengan Platon dan Plotinos sebagai objek kajian, dituntaskannya dengan meraih gelar doktor di Sorbonne, Paris. Di bawah bimbingan dua Hellenis besar Prancis, Luc Brisson dan Monique Dixsaut, ia menulis disertasi tentang konsep jiwa manusia menurut Plotinos. Ia mengakui tertarik pada “filsafat manusia”. Sebuah tradisi pemikiran yang, kita ketahui, telah dirintis oleh—untuk menyebut beberapa nama—Nicolaus Driyarkara, Anton Bakker, dan Louis Leahy.

Akhir 2010 lalu, Romo Setyo (begitu ia biasa dipanggil) menerbitkan sebuah buku kecil tentang Platon, Areté: Hidup Sukses menurut Platon. Buku yang relatif ringan tapi padat ini dengan segera menarik minat para pembaca filsafat. Sejumlah diskusi di Jakarta muncul merespons penerbitan buku itu. Bagaimana ia menanggapi penerbitan buku Areté dan apa motivasi di balik penulisan buku itu? Juga bagaimana ia memutuskan kembali menggumuli Platon setelah menekuni Nietzsche?

Di ruang kerjanya di lantai empat gedung Pascasarjana STF Driyarkara, ia diwawancarai oleh Muhammad Al-Fayyadl tentang perjalanan studi filsafatnya, concern-nya, dan interpretasinya atas filsuf yang, untuk pertama kalinya dalam sejarah peristilahan filsafat di Indonesia, ia perkenalkan dengan ejaan baru (mengikuti tradisi filsafat Prancis) sebagai “Platon”.

Mungkin kita bisa berangkat terlebih dulu dari pribadi Romo sendiri sebagai orang yang menaruh “concern” dengan filsafat, dan nanti kita beralih ke tema dan problematisasi. Romo dikenal sepulang dari Prancis tahun 2007 sebagai ahli filsafat Yunani, dan cukup banyak menulis juga di media-media umum, media publik atau media massa, tentang tema-tema aktual tapi dari sudut pandang filsafat yang Romo geluti. Kira-kira apa yang Romo rasakan setelah lama tinggal di Prancis dan sekarang tinggal di Indonesia? Apa yang Romo rasakan dari kehidupan filsafat di Indonesia?

Kalau dari sudut filsafat, selama saya belajar di Prancis, saya seperti dimanjakan. Semua buku ada. Sejauh apa pun saya mencari sumber informasi, semua ada, jadi tinggal kita kuat-kuatan membacanya, baik sumber dalam arti buku, manuskrip, maupun orang-orang yang hidup—profesor, pembimbang, orang-orang luar yang datang memberi seminar. Menjelang pulang dari Prancis, saya sudah menyadari bahwa kalau saya pulang ke Indonesia nanti, tidak akan ada apa-apa. Pertama, di Prancis, sumber filsafat banyak. Kedua, di sana kita bekerja dalam tim. Jadi, filsafat bukan bidang mati. Kita bekerja dengan teamwork. Selama empat tahun saya masuk CNRS(Centre National de la Recherche Scientifique), semacam LIPI-nya Prancis, bagian Hellenisme akhir (hellenisme tardif), dan kami bekerja dalam tim. Saya mengenal orang-orangnya, katakanlah 10-12 peneliti inti, semua profesor yang memang kajiannya adalah Hellenisme akhir. Lalu, ada kami yang muda-muda, 4-5 orang yang sedang menulis disertasi. Seandainya saya orang Prancis, tentunya itu jalur yang sudah tepat untuk bisa menggantikan orang-orang ini untuk meneruskan pusat kajian mengenai Hellenisme akhir. Dan semua dibiayai negara. Jadi, kamu punya ruangan, punya komputer, punya segalanya. Itu penelitian. Seperti LIPI lah. Saya menyadari bahwa kalau saya pulang ke Indonesia, pertama, buku-buku tidak ada. Tentang Yunani. Kedua, saya akan sendirian. Tidak ada teman. Jadi ini menakutkan. Kalau di luar kita sudah masuk ke studi yang mendalam seperti itu, membayangkan kalau nanti kita tiba di Indonesia, tidak ada apa-apa, menakutkan.

Jadi, agak pesimis?

Ada pesimisme. Dari sudut pandang keilmuan, ada pesimisme. Tapi kemudian, bagaimanapun kan tanah air saya Indonesia. Saya tidak pernah berpikir hidup di luar negeri. Tidak pernah. Bagaimanapun saya akan pulang ke Indonesia. Saya akan enjoy di Indonesia, saya akan lebih merasa kerasan hidup di Indonesia. Lalu, apa yang bisa saya lakukan dengan situasi seperti itu? Maka saya mempersepsi diri saya, saya akan membantu sejauh mungkin orang-orang Indonesia supaya mempunyai akses terhadap teks-teks Yunani yang saya pelajari. Itu saja. Makanya, kalau saya punya ambisi dalam hidup ini, ya sudah, menerjemahkan satu per satu buku Platon. Atau mungkin nanti memperkenalkan Stoisisme, Neoplatonisme, sehingga kalau di Indonesia suatu saat—kita tidak tahu, karena filsafat bidang yang sangat minim, bidang yang kecil di sini—ada orang yang berminat mendalami Platon dan seterusnya, ada teks berbahasa Indonesia yang bisa diakses, dan dia bisa mulai dari situ sehingga berkembang sendiri. Jadi, berangkat dari memetakan situasi di Barat dan di Indonesia, saya lalu memposisikan diri seperti itu dengan “ambisi” yang, bagi saya, masuk akal-lah bagi saya di Indonesia.

Jadi, agar ada semacam tradisi riset tentang Hellenisme?

Karena begini. Sejauh saya ketahui di Prancis, Italia, juga Jerman, filsafat adalah bidang akademis yang memiliki ukuran-ukuran; ada bidang-bidang, tahapan-tahapan yang harus dijalani. Sama seperti santri di pesantren, dalam ilmu teologi Islam ada tahapan-tahapan untuk belajar sampai ke sufisme, misalnya. Nah, di Indonesia ini filsafat kan bidang yang sama sekali baru, masih sangat muda, dan kita belum punya tradisi apa-apa, terus terang ya. Kecuali mungkin filsafat Nusantara, kebijaksanaan lokal. Tapi filsafat Barat, kita tidak punya. Tidak punya tool, tidak punya langkah-langkahitu. Maka saya mengambil filsafat Yunani dengan pemikiran bahwa saya akan menyumbangkan di bidang yang belum dimasuki oleh orang Indonesia. Orang Indonesia lebih suka filsafat yang paling modern, yang postmodern, misalkan sekarang Slavoj Žižek atau Alain Badiou, produk paling akhir dari filsafat. Padahal saya tahu bahwa di Prancis, semodern apa pun orang, sepostmodern apa pun filsuf itu, dia selalu berawal dari Platon, itu adalah kurikulum basic di sana. Filsuf seperti Derrida pun awalnya harus membaca Platon, Aristoteles, Stoisisme. Itu menjadi kurikulum untuk ujian agrégation di sana. Dalam kurikulum itu selalu ada bagian tentang filsafat Yunani, bagian tentang filsafat Abad Pertengahan, bagian tentang filsafat modern. Jadi saya pikir, kalau orang Indonesia mau berfilsafat serius, seharusnya juga begitu. Ada tahapan-tahapansejarah yang harus dipahami—filsafat Yunani, Abad Pertengahan, modern. Maka mengingat bahwa kita memang tidak punya sarana, tidak punya apa-apa, ya saya akan memulai dari sana. Orang Indonesia sudah banyak menyumbangkan pemikiran dalam bidang modern, dalam bidang postmodern, ya sudah lah itu bukan concern saya; saya akan menyumbangkan bagian Yunani ini supaya kalau orang mau berpikir serius tentang filsafat, teks-teksnya ada.

Tadi sudah cukup lengkap dipaparkan secara umum perjalanan Romo, tapi mungkin ini sedikit lebih personal. Romo kan sudah mengenyam banyak pendidikan filsafat, dan sempat juga teologi. Bisa diceritakan detail pendidikan dari awal? Perkenalan dengan filsafat?

Perkenalan saya dengan filsafat tentu di STF Driyarkara ini. 1990-1994, saya studi S1 filsafat, waktu itu terus terang saya berminat kepada filsafat politik, ya karena Romo Magnis-lah. Pengaruh Romo Magnis. Mazhab Frankfurt dan seterusnya. Waktu itu postmodernisme sudah diajarkan di STF pada 1992 oleh Joao Inocencio Menesez dos Reis Piedade, seorang Romo Yesuit juga, saya kira dari sini postmodernisme masuk ke UI (Universitas Indonesia) dan orang-orang UI yang menangkap. 1996, saya berangkat ke Roma, studi teologi, 1996 sampai 1999. Di sana saya lebih banyak berkenalan dengan teks-teks klasik, karena rupanya teologi di Roma bukan teologi kontekstual, misalnya dialog antaragama, atau teologi inkulturasi, teologi budaya, atau teologi pembebasan. Tidak. Tapi lebih cenderung ke teks. Maka saya mengenal pentingnya tokoh-tokoh Yunani, pentingnya pemikir-pemikir Hellenisme. Tahun itu juga saya pergi ke Prancis sampai 2007 untuk belajar filsafat. 1999 sampai 2001 saya selesai Master. Untuk tesis master saya mengangkat Platon, lalu 2002 sampai 2007 saya mengangkat Plotinos untuk subjek disertasi.

Berarti total berapa tahun?

Totalnya berarti 4 tahun di STF, lalu 8 tahun di Prancis. 12 tahun saya belajar khusus filsafat.

Studi teologi, apakah itu bagian yang direncanakan? Atau?

Karena saya seorang Romo, maka studi teologi masuk dalam kurikulum pendidikan, yang wajib S1 di bidang filsafat dan S1 di bidang teologi. Untuk menjadi seorang Romo, cukup S1 filsafat dan S1 teologi. Tapi kemudian saya diminta untuk spesialisasi supaya saya menjadi pengajar untuk calon-calon Romo. Saya disuruh spesialisasi filsafat. Kebetulan bidang yang saya minati dan saya senangi. Lalu saya memperdalam filsafat.

Kalau dari produksi karya, Romo, kira-kira Romo menemukan alur karier filsafat dari karya yang mana? Romo telah menulis beberapa buku dan banyak karya tulis tentang subjek yang beragam. Kira-kira kalau diingat-ingat kembali, sejak kapan Romo menganggap bahwa itu karya yang paling filosofis? Dalam artian merupakan titik tolak pertama saya untuk berfilsafat?

Saya terus terang tidak bisa menjawab. Saya tidak tahu. Sewaktu menulis tentang Nietzsche, saya menikmatinya dari sudut pandang yang lain dari yang orang bicarakan tentang Nietzsche. Platon, saya tidak berani mengklaim bahwa saya punya pemikiran sendiri tentang Platon. Sekarang saya juga masih berusaha mengunyah, mencerna, sebetulnya Platon itu seperti apa dan bagaimana. Bagaimana pemahaman saya, saya masih berproses. Saya cukup mengalir. Tentu saya membaca Platon. Tapi tentu saya dipengaruhi oleh para penafsir. Misalnya oleh pembimbing saya, Luc Brisson, oleh caranya membaca Platon. Tapi juga oleh Monique Dixsaut. Kedua orang itu kan pemikir besar di Prancis. Dan saya tidak dapat mengatakan bahwa saya murid si ini atau murid si itu. Saya sedang membaca sendiri, mencerna, orang ini menafsir seperti apa, orang itu menafsir seperti apa. Jadi kalau disuruh mengatakan, belum, belum bisa. Mungkin nanti pelan-pelan. Mungkin dengan buku Areté, mulai kelihatan sedikit sudut pandang saya.

Tadi disebutkan dua nama itu. Mungkin bisa diceritakan hubungan Romo dengan mereka?

Luc Brisson dan Monique Dixsaut. Luc Brisson itu laki-laki, Monique Dixsaut itu perempuan. Mereka dua profesor besar di Paris, di Sorbonne. Dua-duanya ahli Platon. Monique Dixsaut ahli Platon dan Nietzsche. Luc Brisson lebih dan betul-betul klasik, ahli Platon dan Plotinos. Saya mengikuti kuliah-kuliah Monique Dixsaut di Sorbonne. Seorang yang sangat pandai, cemerlang, dan tulisan-tulisannya tentang Platon sangat merangsang kita untuk berpikir bahwa Platon ternyata tidak sesimpel yang dibicarakan selama ini. Platon itu pemikiran yang tidak pernah puas, yang selalu mencari, berusaha menggapai sebuah horizon. Jadi, sebuah peziarahan pemikiran. Yang namanya Idea itu adalah semacam postulat, horizon, di mana kita berusaha memikirkan segala sesuatunya dari hal kecil mengenai lukisan ranjang. Idea mengenai ranjang, sampai mengenai hal yang kompleks: pemikiran tentang jiwa manusia, tentang kosmos, tentang politik, dan tentu tentang “teologi”.

Tentang “Idea” kita bisa tunda dulu. Persisnya tentang pengaruh Luc Brisson dan Monique Dixsaut?

Nah, Monique Dixsaut, bagi saya, adalah orang yang banyak memberikan semacam dorongan psikologis supaya tidak pernah berhenti dengan Platon. “Terus coba berpikir. Karena ada sesuatu yang menarik di sini”. Jadi ini tidak simpel. Sementara Luc Brisson, pembimbing disertasi saya, orang yang lebih simpel. Dia membaca Platon lebih historis, “Platon itu kan orang Yunani, abad ke-4, jadi jangan ditafsir terlalu jauh, kita bicara konteks historisnya, ini mengenai apa, konteksnya apa”. Jadi, dia memberikan intuisi mengenai kesederhanaan, mengenai kejelasan, juga keterbatasan Platon sebagai pemikir yang dilingkupi zamannya. Saya kira, ini dua hal yang, bagi saya, bertentangan; saya selalu ditarik oleh dua hal itu. Satu sisi, berusaha mencari kejelasan, sisi lain, apa yang bisa kita pikirkan.

Jadi, di satu sisi, melampaui Platon dari zamannya, di sisi lain menghistoriskan Platon.

Ya. Tapi tetap menghormati konteks historisnya. Itu dua hal yang berbeda. Dan kedua orang itu, kalau ketemu di seminar, bertempur di situ. Berdebat tentang hal itu.

Jadi keduanya kontra?

Ya, kontra. Berlawanan. Di Prancis kan begitu (tertawa). Semua filsuf saling bertentangan.

Bisakah Romo bercerita tentang tradisi interpretasi filsafat Yunani di Prancis?

Ya itu tergantung. Mungkin untuk Platon, tentu tradisinya adalah dua tradisi besar itu. Jadi, pertama, tradisi historis-hermeneutis-kritis, mencoba mendekatkan kepada waktu dan sejarah dari para penulis itu. Satu lagi lebih filosofis. “Soal-soal seperti itu bahwa dia orang Yunani, baiklah, tapi yang penting bagaimana tafsirnya”. Tapi nantinya ada tradisi yang berbeda lagi, dari kelompok sastra Yunani. Platon itu kan filsuf. Kami di fakultas filsafat memperlakukannya sebagai filsuf. Tapi ada orang-orang dari kelompok kajian Yunani yang memperlakukan Platon sebagai karya sastra. Murni karya sastra. Jadi, paling tidak, ada tiga kubu yang berbicara tentang Platon.

Yang terakhir ini menolak tafsir filosofis?

Menolak tafsir filosofis.

Mereka menilainya cenderung mengada-ada?

Ya begitu. Mereka lihat teks apa adanya. Luc Brisson dan Monique Dixsaut mengajar di Université de Paris I, di Sorbonne, sementara kubu lainnya lagi di Ecole Pratiques des Hautes Études, satu kompleks juga dengan Sorbonne. Jadi, ada tiga cara berpikir. Sedangkan Plotinos, ada penafsir, misalnya Luc Brisson, yang tetap menafsirkan dari garis historis-kritis, tapi nantinya ada pula kubu Pierre Hadot yang menafsir Plotinos secara lebih spiritual, bahwa di Neoplatonisme terdapat tradisi-tradisi yang dekat dengan spiritualisme agama-agama. Di Italia, lain lagi. Misalnya kelompok Universitas Cattolica dari Milano, seperti Giovanni Reale, yang membaca Platon dengan esoterik. Mereka belajar dari Gadamer, Mazhab Tübingan. Mereka membaca Platon dari ajaran lisan Platon.

Porphyrius?

Bukan, Porphyrius sekretaris Plotinos. Mereka membaca doktrin-doktrin Platon melalui agrafa dogmata, ajaran-ajaran Platon yang tidak tertulis. Jadi lucu, mencari Platon dari ajaran yang tidak ada, karena kita kan tidak punya.

Eksegesisnya?

Tetap melakukan eksegesis, tapi atas dasar yang tidak ditulis oleh Platon. Lebih rumit lagi kan. Dan tradisi itu masih hidup. Saya tidak akrab dengan Inggris. Tapi paling tidak, kalau kita mendengarkan analis-analis Platon dari Amerika, yang ketularan Inggris, cara baca mereka analitik. Teks-teks Platon dijadikan proposisi-proposisi, matematika. Itu sama sekali tidak akrab buat saya.

Jadi cenderung lebih kering?

Sangat kering. Kalau kamu baca, kamu menjadi pusing. Padahal kalau kamu baca dialog Platon, menarik, itu kan dialog, omong-omong. (tertawa)

Kemarin saya tidak sengaja “browsing” di perpustakaan STF Driyarkara, Romo ternyata menulis skripsi tentang Jean-Jacques Rousseau. Tadi terkait dengan minat politik, jadi Romo mengulang S1 kembali di Prancis?

S2.

Licence?

Licence dan maîtrise. Ya, itu sistem Prancis. Jadi, S1 dengan hitungan kita yang menjalani S1 selama 4 tahun. Tapi di sana licence dan maîtrise.

Sekarang menjadi Master?

Ya, sekarang menjadi Master. Karena sistemnya sudah berbeda.

Untuk licence di Prancis tentang Maurice Marleau-Ponty?

Ya, untuk licence saya menulis tentang Marleau-Ponty.

Itu sepertinya kurang banyak diangkat. Bisa cerita sedikit tentang hal itu? Apa yang dikaji dari Marleau-Ponty?

Jadi repotnya begini. Waktu pertama kali datang ke Prancis, saya belajar karena, istilahnya, “ditugaskan”. Kalau mengikuti minat pribadi, saya ingin belajar politik dari dulu. Jadi sebetulnya minat saya, passion saya, di politik. Tapi ketika saya disuruh belajar filsafat oleh pimpinan, sudah diwanti-wanti. “Yang belajar filsafat politik di STF sudah banyak, jadi kamu ambil lain. Carilah misalnya ‘filsafat manusia’.” Karena saya disuruh begitu, saya putar otak. Saya mencari ‘filsafat manusia’ yang seperti apa. Karena setibanya di sana Prancis terkenal dengan fenomenologinya—Jean-Paul Sartre, Marleau-Ponty, lalu Derrida, Levinas, Ricoeur—maka saya ambil fenomenologi. Sebetulnya concern saya masih tetap tentang manusia. Memang sama sekali saya tidak mengaitkannya dengan politik. Tentang manusia. Tapi isi persisnya apa itu saya sudah lupa. Justru ketika saya masuk ke fenomenologi itulah saya akhirnya kembali ke Yunani. Soalnya, ketika saya belajar fenomenologi, kesan yang sampai sekarang melekat pada saya itu lelah. Belajar fenomenologi itu melelahkan, karena kita mesti mengikuti kata-kata yang aneh dari pengarangnya. Misalnya “ex-istence”, ex itu harus di-strip, berbeda dari existence dalam arti biasa. Tapi ini kan pembedaan-pembedaan yang arbitrer, sewenang-wenang. Lalu, kalau ada ”historik”, maka ada “historial”. Kata “historial” di Prancis semula tidak ada, tapi diada-adakan, dan berbeda dengan “historik”, tapi bedanya apa tidak jelas. Dan ketika akhirnya saya berusaha memahami fenomenologi Prancis, saya harus pergi ke Jerman. Semua kan dari Husserl dan Heidegger. Jadi, saya harus belajar bahasa Jerman, saya harus memahami bahwa sebetulnya omongan-omongan Prancis ini hanyalah terjemahan untuk kata-kata Jerman. Melelahkan, karena bahasa Prancis saja sudah memusingkan, kita masih harus mengecek ke bahasa Jerman. Saya sempat berpikir sewaktu menulis tentang Marleau-Ponty, apakah saya akan menghabiskan waktu saya seperti ini, mengutak-atik kata-kata yang tidak jelas seperti ini, di mana setiap pengarang—Derrida misalnya—menciptakan kata-kata yang sewenang-wenang. Lelah kita. Saya mau belajar lelah-lelah tapi untuk sesuatu yang berguna. Maka saat itu saya ambil kesimpulan, sudahlah saya balik ke Platon saja. (tertawa) Jadi saya nekat ambil Platon, menjalani filsafat manusianya Platon.

Dan apakah Nietzsche menjadi semacam pintu masuk untuk kembali ke filsafat Yunani?

Nietzsche hanya mendukung. Hanya makin meyakinkan saya bahwa saya harus kembali ke filsafat Yunani. Jadi, tahun pertama saya ikut kuliah fenomenologi tentang Heidegger, ikut seminar-seminar tentang Husserl dan seterusnya, saya amati. Kamu tahun sendiri kan, Heidegger dan Husserl itu susah dikunyah. Lalu saya masuk Platon. Saya menjadi lebih rileks. Lalu saya ikut kuliah-kuliah sampingan tentang Nietzsche.

Dari Paul Valadier?

Dari Paul Valadier. Jadi itu semacam waktu untuk bersenang-senang. Karena Nietzsche kan provokatif, frase-frasenya pendek-pendek, tajam, bernas. Nah membaca Nietzsche sambil mendengarkan interpretasi Paul Valadier, bagi saya, ini suatu rekreasi, menyenangkan. Kedua, makin meyakinkan saya betapa kalau ingin memahami para pemikir modern, kembalilah ke Yunani. Akarnya di sana.

Dan itu titik awal “pembalikan filsafat” Romo?

Ya. Makanya saya makin yakin, makin menikmati juga, dengan filsafat Yunani, meskipun sekali lagi, orang yang membahas Plotinos tidak banyak di Paris. Kami paling tidak hanya sekitar 4-5 orang, sementara mereka yang membahas Platon dan Aristoteles ratusan orang. Jadi, bidang saya ini kecil, tapi saya menikmati. Saya mengutak-atik itu sendirian selama hampir 5 tahun. Saya menikmati.

Kalau boleh tahu, sebelum pindah ke beberapa tema yang diangkat di Areté, kira-kira apa yang baru dan khas sebenarnya dari pendekatan Romo terhadap Platon dan Plotinos? Yang membedakannya dari peneliti atau penulis lain di Indonesia, misalnya?

Platon, saya kira saya belum berani mengatakannya secara jelas. Tapi kalau mau dicari perbedaannya dengan peneliti Indonesia yang lain, saya kira jelas. Banyak peneliti Indonesia menggunakan sumber-sumber ensiklopedis saja, sehingga penyimpulan-penyimpulan mereka tentang Platon dan Aristoteles itu sommaireSommaire itu apa? Terlalu cepat. Sommaire itu grambyangan, begitu.

Dan umum?

Terlalu umum. Atau hanya sampai pada level Master, jadi membahas filsafat klasik sampai pada level Master, dan belum pernah betul-betul bergulat dengan kekayaan tekstual filsafat Yunani yang memang bisa ditafsirkan dari berbagai macam sudut. Bagaimana posisi saya sendiri untuk Platon, saya belum bisa mengatakannya. Kecuali hanya meraba bahwa filsuf-filsuf Indonesia lainnya tidak begitu meyakinkan, kalau saya membaca tulisan-tulisan mereka tentang Platon.

Atau mungkin secara metodologis? Dan ini yang—saya dengar—diajarkan di STF. Metodologi atau cara mendekati Platon secara tekstual?

Dalam pengajaran, dan itu yang saya lakukan, ketika kamu mau menafsir seorang filsuf, kamu masuk ke teksnya. Itu yang juga diajarkan di Prancis. Jadi ketika kami belajar filsafat Yunani, profesor membagi-bagi teks Platon dan mengajak kami baca. Bahkan nanti ada travaux dirigés, semacam seminar sampingan, khusus untuk mendalami teks itu selama 2 jam. Selama 2 jam itu kami hanya membaca teks itu. Terjemahan Yunani-nya sudah benar atau belum ke bahasa Prancis-nya. Kenapa ditafsir begini dan seterusnya.

Masing-masing mahasiswa melakukannya?

Dosen yang menerjemahkan. Tapi kami diajari. Dengan mendengarkan dia menerjemahkan, kami diajari. “Oh begini, lalu menjadi paragraf seperti ini”. Jadi punya kepekaan lebih dengan teks. Sementara banyak di antara filsuf-filsuf Indonesia kurang berani masuk ke teks-teks yang sulit seperti itu. Itu sebabnya saya katakan sommaire.

Pembacaan tangan kesekian?

Ensiklopedis, jadi mengambil dari dictionnaire ini, dictionnaire itu, dibaca, lalu diterjemahkan. Sedangkan untuk Plotinos, saya bisa lebih banyak bercerita tentang kekhasan pembacaan saya. Jadi, ini yang saya temukan. Sejak lama Plotinos dibaca sebagai eklektik. Dia mencampuradukkan Aristoteles dan Platon. Tapi mulai disadari sejak tahun 1988 sampai 1990-an oleh orang-orang Prancis bahwa Plotinos adalah filsuf yang memahami Platon, memahami Aristoteles, tapi membahasakannya dengan caranya sendiri. Memang bagi Plotinos, guru tertinggi itu Platon, dan Aristoteles adalah sarananya. Orang belajar tentang logika, sebelum masuk ke dialektika Platon. Nah, saya tidak membaca Plotinos sebagai seorang tokoh spiritual, tentu saja. Sama sekali tidak. Saya membaca Plotinos sungguh sebagai seorang intelektual, seorang filsuf Yunani yang benar-benar memahami Aristoteles, terutama dalam teorinya mengenai potentia-actus. Skema “emanasi”, atau lebih tepatnya skema “prosesi”, di mana Yang Satu menjadi NousNous menjadi jiwa, dan jiwa menjadi alam semesta—skema itu sering dipahami sebagai “emanasi”, semacam pendaran. Tapi modalitas pendaran itu bagaimana persisnya, ini kan jarang diangkat. Mengapa dari Yang Satu menjadi Intelek, mengapa dari Intelek menjadi jiwa, modalitas-modalitas itu tidak banyak diselidiki.

Nah, saya mencoba menelaah modalitas dari prosesi ini dan saya menemukan, tentu secara tidak sengaja—karena subjek saya sebetulnya adalah bagian jiwa manusia yang tidak turun ke dunia—bahwa sebetulnya, Plotinos menawarkan sebuah cara baca atas teori potentia-actus dari Aristoteles. Kita tahu, Aristoteles mengatakan bahwa sesuatu yang bersifat sempurna, energeia, dengan sendirinya akan memiliki aktivitasnya. Memang menjadi agak rumit kalau kita masuk ke potentia, karena potentia menjadi actus, actus menjadi potentia secunda, tapi potentia secunda ini menjadi actus lagi, actus kedua. Jadi ada dua actus: actus yang kesempurnaannya di level kedua dan actus pertama yang ada di level potentia.

Nah, apa yang merupakan distingsi logis dari Aristoteles itu sederhananya begini. Potentia itu seperti orang yang punya kemampuan belajar. Lalu potentia menjadi actus ketika kamu yang punya kemampuan belajar, belajar bahasa Inggris misalnya. Maka actualized. Jadi ketika kamu sudah belajar, kamu menjadi actus. Tapi ketika kamu sudah belajar dan kamu menjadi actuskan tidak setiap saat kamu berbahasa Inggris, ada kalanya kamu tidur. Nah, ketika kamu tidur, actus yang tadi itu menjadi potentia juga, yaitu potentia secunda, bukan potentia prima seperti yang awal. Nah, kalau kamu yang bisa berbahasa Inggris tidur, kemudian suatu ketika bangun, kamu kan tidak perlu belajar lagi. Supaya potentia menjadi actus, tidak perlu belajar lagi bahasa Inggris supaya bisa berbahasa Inggris kan? Dengan demikian, begitu kamu bangun, kamu exercise bahasa Inggris. Itu menjadi actus kedua. Jadi actus kedua itu memiliki, menyimpan di dalamnya, actus pertama, sebagai potentia secunda. Jadi, mengingat kemampuan yang berada di dalam kesempurnaan itu, tanpa berbuat apa-apa kamu sudah berbahasa Inggris. Nah, apa yang logis dari Aristoteles ini dipahami oleh Plotinos, lalu di-hypostasis-kan, dijadikan realitas. Jadi, Yang Satu itu adalah kesempurnaan. Karena dia adalah kesempurnaan, maka dia penuh potensi. Dari potensinya yang luar biasa itulah muncul Intelek. Dan ketika Intelek itu muncul, maka demikian pun, dia adalah kesempurnaan yang punya potensi. Itu modalitas dari prosesi Plotinos.

Yang Romo temukan?

Itu. Jadi, logic Aristoteles itu di-hypostasis-kan oleh Plotinos.

Di-hypostasis-kan dalam pengertian?

Menjadi realitas. Yang Satu menjadi Intelek, Intelek menjadi jiwa, jiwa menjadi manusia. Problemnya nanti pada level manusia. Dunia intelijibel itu kan sempurna. Maka, kesatuan antara potentia dan actus-nya begitu erat. Hanya bisa kita distingsikan dalam pikiran. Tapi di dunia indriawi ini—jadi, doktrin “dua dunia” itu benar pada Plotinos, tapi tidak pada Platon—manusia itu punya takdir sempurna, sama. Hanya persoalannya, karena kita ada di dunia indriawi, kita terbelah. Bagian kesempurnaan kita tinggal di Intelek. Jadi ada dua actus pada manusia. Hanya yang kita miliki di dalam jiwa kita ini adalah bagian yang secunda, bagian yang lemah. Sementara, kesempurnaan kita tidak turun ke dunia; ia ada di dunia itu. Dengan demikian, manusia secara aneh tersatukan semuanya di dalam bagian jiwanya yang tidak turun ke dunia. Itu nantinya diistilahkan oleh Carl Gustav Jung sebagai archetypeArchetype itu semacam “jiwa dunia”. Seperti server umum begitu ya, di mana masing-masing kita, sesuai dengan kemampuan kita, men-download milik kita masing-masing (tersenyum). Tapi ada server umum. Nantinya di pemikiran Arab hal itu sangat kuat, soal Intelek aktif-Intelek pasif.

Jadi menurut Romo, persoalan jiwa (psukhe) merupakan problem paling penting dalam filsafat Platon dan Plotinos?

Dalam filsafat Yunani, semua penting. Jadi, kajian antropologis pasti merupakan kajian etis, kajian politis, kajian kosmologis, dan kajian teologis.

Menyeluruh?

Menyeluruh. Begitulah filsafat Yunani. Maka, yang menguntungkan kalau saya belajar filsafat manusia pada Yunani, saya menjadi tahu, “oh etikanya begini, kosmologinya begini, teologinya begini”, sesuatu yang tidak saya temukan dalam filsafat modern. Filsafat modern kan sangat fragmentaris. Misalnya Derrida, susah mencari filsafat manusianya di mana. Etika mungkin dia bicarakan. Politik dia bicarakan. Tapi filsafat manusianya di mana? Antropologi filosofisnya?

Itu yang Romo cari dalam disertasi?

Ketika saya diminta mendalami filsafat manusia, yang saya cari manusianya. Mencari manusia, ya mencari jiwanya. Bagi orang Yunani, inti manusia kan jiwanya. Maka memoire maîtrise saya mengangkat tentang “jiwa mortal”, jiwa yang bisa mati, dalam pemikiran Platon. Ini menarik. Selama ini, Platon dianggap berbicara mengenai “jiwa immortal”, padahal Platon banyak bicara mengenai jiwa yang mortal, jiwa yang bisa mati. Lalu, disertasi saya menggarap bagian jiwa kita yang tidak turun ke dunia menurut Plotinos.

Kalau boleh tahu, untuk pembaca umum, dengan menerbitkan “Areté”, pertama-tama apa tujuan Romo sendiri dan korelasinya dengan studi Romo secara umum?

Saat itu saya memang ingin menulis. Sebetulnya, saya sudah mengajar 2-3 tahun tentang filsafat Yunani, tentang Platon; saya punya banyak “stok”. Tapi suatu ketika, penerbit Kanisius datang. “Romo, mbok bikin pengantar tentang Platon. Romo kan sudah mengajar”. Nah waktu itu saya tergugah. Mungkin saya bisa menulis sesuatu. Lalu saya ambil contoh buku Romo Magnis, Menjadi Manusia: Belajar dari Aristoteles, yang mengambil satu titik tertentu untuk membahasakan secara populer Aristoteles. Ya sudah, saya menulis seperti itu. Tapi lebih luas, kajiannya bukan hanya kajian etika, tapi lebih umum, mengenai jiwa manusia, mengenai filsafat, mengenai etika. Jadi, itu presentasi kurang lebih secara cepat, dan saya harap tidak ngawur. Banyak hal bisa didetailkan lagi. Tapi saya kira, secara umum kurang lebih pandangan saya tentang Platon sudah masuk di situ.

Mengapa dipilih tema “areté” (keutamaan)? Apa itu cukup merepresentasikan inti pemikiran Platon?

Saya kira iya. Jadi, Platon sebagai seorang pemikir, seorang filsuf, mencirikan manusia sebagai makhluk rasional. Makhluk rasional yang ingin selalu memahami dirinya, meskipun dia mengetahui batas-batas dari pemahaman itu. Rasio bukanlah yang tertinggi pada Platon, karena dia tahu bahwa eros lebih tinggi. Eros lebih ilahi daripada rasio yang murni manusiawi. Nah, ekspresi dari optimalnya pikiran ketika kita memakainya sungguh-sungguh untuk hidup di dunia ini, itulah areté, ketika kita berkeutamaan. Hanya, di Indonesia ini kan jika kita mendengar kata “keutamaan”, “oh itu bukan rasio, itu hidup baik, etika, hidup yang bajik, yang saleh”. Memang lama Platon ditafsir demikian, sehingga agama-agama gampang mengambil pemikiran Platon, karena Platon berbicara mengenai keutamaan keadilan, keutamaan keberanian, keutamaan ugahari (moderation), keutamaan kesalehan. Ya, memang Platon berbicara itu, saya tidak menolak. Hanya bagaimana kamu memahami itu. Apa yang kamu pahami dengan keadilan?; apakah keadilan hanya sekadar bersifat adil, baik-baik?; apa yang kamu pahami tentang keberanian?; apa yang kamu pahami mengenai kesalehan?. Kalau kita membaca teks Platon, semua itu didialektikkan. Didiskusikan, dicari tesis dan antitesisnya, hingga kita sampai pada pemahaman yang sangat rasional tentang apa itu keutamaan. Jadi itulah, tujuan Platon memang mengajak orang menjadi—seperti kata-katanya dalam Thaetetus—“menyerupai sedekat mungkin dengan yang ilahi”, lewat rasionya.

Dan di situ terletak titik temu dengan Plotinos, karena Plotinos berbicara tentang “divinization of soul”, “pengilahian jiwa”?

Saya kira, titik tolak semua filsafat Yunani dari situ. Jadi, ada semacam ambisi dari manusia untuk sampai kepada keilahian. Dan ini persis bertentangan dengan agama. Sebagai Romo, saat itu saya ditanya sewaktu ujian disertasi—mereka tahu saya Yesuit. “Lalu menurut kamu, Setyo, apa bedanya filsafat Yunani dengan Kristianisme?”. Nah, saya melihat bahwa perbedaan pokoknya di situ. Bahwa orang Yunani sangat percaya bahwa secara kodrati manusia, dengan usaha sendiri, dapat secara rasional mendekati, menyerupai keilahian. Itu optimisme orang Yunani. Optimisme yang gila-gilaan, menurut saya. Sebenarnya, kita sebagai orang beragama tidak begitu. Bagi kita orang beragama, apakah kita menjadi ilahi atau tidak, itu murni karena rahmat. Kita diberi wahyu. Wahyu inilah yang mengangkat kita sampai ke tataran derajat santo atau derajat ilahi. Tapi bukan murni usaha kita. Jadi itu yang saya katakan sewaktu défense, di situ perbedaan pokoknya. Memang, ada titik temu antara upaya rasional dan rahmat ini. Tapi kalau saya disuruh mencari perbedaannya, basically di sana. Perbedaan secara mendasar: di Yunani, manusia percaya pada rasionya. Agama, manusia percaya pada rahmat.

Jadi, konsep jiwa yang menjadi fokus perhatian Romo dari tesis sampai disertasi, bagi Romo, sesuatu yang menyeluruh dan menjadi titik masuk untuk, katakanlah, memperluas kajian ke wilayah-wilayah lain. Jadi, diasumsikan bahwa kalau ditemukan filsafat manusianya, maka akan ditemukan juga konsep-konsep yang lain?

Bisa seperti itu. Tapi juga bisa bolak-balik. Kalau kamu menemukan epistemologinya, berarti implikasinya tentang manusia begini. Kalau kamu menemukan manusianya, implikasi etikanya begini. Jadi, dalam filsafat Yunani semua kait-mengkait. Ini yang tidak saya temukan dalam filsafat modern, yang saya bilang tadi fragmentaris. Mungkin sampai Heidegger, kita masih bisa menemukan keutuhan cara berpikir begitu. Tapi pasca-Heidegger, sulit. Pemikirannya fragmentaris. Seperti Heidegger, misalnya, kalau kita mengerti gambarannya tentang metafisika, kita menjadi tahu gambarannya tentang manusia. Tidak ada manusia bagi Heidegger. Yang ada hanya Da-sein. Yang ada hanya being-there. Seperti being lainnya, hanya karena kekhususannya, ia punya akses kepada be. Jadi, tidak ada manusia, tidak ada subjek dalam pemikiran Heidegger. Pikiran juga tidak ada, logos dihapus.

Jadi, kurang lebih motivasi di balik Areté itu begitu, ingin mengafirmasi…?

Ya, mengaktualkan Platon. Bahwa Platon tidak sesederhana, tidak sesimpel yang kita baca dari pengantar-pengantar filsafat Yunani. Bahwa Platon juga bisa kita pakai untuk membaca situasi politik, misalnya. Di sana saya bicara, misalnya, kasus Bank Century, atau kehidupan sehari-hari. Bahwa oke, kamu boleh bilang itu filsafat kuno. Tapi filsafat kuno bukan berarti out of date. Karena banyak pemikiran kuno justru lebih bernas, lebih jelas, untuk membantu kita melihat realitas saat ini.

Kembali ke “Arete”, untuk membedah buku ini dari versi penulisnya langsung. Pertama, ini anak judulnya, “Hidup sukses menurut Platon”. Maksudnya bagaimana, Romo? Bukankah bisa menimbulkan misleading bahwa ini semacam buku motivasi?

Ya, bisa juga dipahami sebagai alat motivasi. Why not, kenapa tidak? Persoalannya, motivasi untuk apa? Tentu, kalau motivasinya untuk mencari uang yang banyak, mencari ketenaran, mencari istri yang banyak, itu adalah salah satu hidup sukses yang dikatakan Platon pada level epithumia saja. Tapi, kalau mau sukses sungguh-sungguh dalam arti optimal, yang adalah arete itu sendiri—jadi, arete sebenarnya adalah terjemahan dari optimalnya jiwa, optimalnya sesuatu—kalau kita mau sungguh sukses seperti Platon, jangan hanya berhenti dengan mengumpulkan harta benda, tapi juga kumpulkan nama baik, kumpulkan juga pemikiran. Jadi, boleh dipahami sebagai buku motivasi. Buku motivasi Platonisian. Agak subversif. (tertawa)

Tapi bukankah tetap dalam opini mainstream tentang motivasi? Era sekarang, motivasi diartikan sebagai etika individualistik…

Saya punya alibi, saya tidak akan ideologis, lalu tidak menggunakan istilah-istilah yang sudah kita beri label, semacam “tidak intelektual”, “tidak filosofis”… Bagi saya, baik-baik saja kita pakai judul seperti itu, kita pakai kata-kata seperti itu, asal kita bisa menjelaskannya. Jadi, kalau para motivator tertipu oleh judul itu, ya semoga dengan membacanya, mereka lalu tahu apa itu kesuksesan sebenarnya.

Di sini saya kira ada bagian yang kemudian menjadi bahasan Romo secara ekstensif di dalam tesis dan di disertasi, tentang jiwa. Selama ini—mungkin agak sedikit masuk ke sejarah filsafat itu sendiri—sering kali diasumsikan bahwa Platon filsuf yang anti-tubuh. Mungkin berangkat dari Platon dulu. Jadi, sebenarnya bagaimana Platon memandang dualisme jiwa dan tubuh?

Saya sudah menganalisis hal itu cukup teliti di buku hommage untuk Romo Sastrapratedja. Status soma. Memang stereotipe mengatakan begitu: tubuh adalah kuburan. Soma adalah sema, kuburan. Memang itu tertulis di teks Platon. Persoalannya kemudian, Platon sendiri di teks yang sama, di Kratylos kalau tidak salah, juga memberikan penjelasan bahwa selain kuburan, sema berarti “tanda”. Dengan demikian, sebenarnya tubuh itu tanda bagi jiwa. Jadi, tubuh adalah sesuatu yang menandakan jiwa macam apa yang menghuninya. Kalau tubuh kamu gembrot, jerawatan, itu menandakan jiwa macam apa yang menghuninya. Tapi kalau kamu harmonis, kelihatan sehat, teratur, tenang, tubuh kamu yang menampak ini menjadi tanda bagi jiwa apa yang menghuninya. Jadi, maksudnya dalam arti itu. Tubuh memang tidak punya status. Dia netral saja. Dia bisa menjadi kuburan kalau jiwa yang menghuni jiwa yang brangasan, jiwa yang isinya kejahatan, jiwa yang isinya menjelek-jelekkan orang; tubuh betul-betul menjadi kuburan. Menyedihkan. Dalam mitologi-mitologi reinkarnasi, Platon bercerita bahwa kalau seseorang itu pemarah, dia akan menjadi anjing, menjadi singa. Kalau seseorang itu baik-baik dan penurut, nanti dia akan reinkarnasi menjadi rayap, menjadi semut, hewan-hewan yang gampang taat. Mitos-mitos ini mau menceritakan bahwa ya, menurut saya, yang bernama “tubuh” itu hanya menandakan jiwa macam apa yang memenjarakan dirinya di situ.

Berarti tubuh tidak memiliki status ontologis? Dia sebenarnya berada dalam relasinya dengan jiwa? Yang punya status ontologis hanya jiwa? Tubuh hanya sebagai cerminan?

Jadi begini. Saya kira, secara umum kita bisa berbicara tingkat-tingkat status ontologis. Jadi, status ontologis yang paling tinggi bagi Platon tentu saja adalah idea. Status ontologis di bawahnya adalah matematika, angka-angka. Status ontologis di bawahnya lagi, jiwa. Setelah jiwa barulah tubuh; di bawah tubuh baru kita memiliki benda-benda indriawi: meja, kursi. Dan yang paling bawah tentu saja bayang-bayang, bayang-bayang dari benda-benda indriawi. Jadi, tubuh punya status ontologis, hanya lebih rendah. Barangkali itu yang lalu ditangkap sebagai dualisme, bahwa Platon meremehkan tubuh. Tapi saya kok tidak cenderung mengekstrapolasi peremehan tubuh ini, mengingat di teks lain, seperti di Timaeus atau bahkan di teks-teks awal yang disebut “teks-teks Sokratik”, Platon menunjukkan bahwa tubuh itu penting bagi jiwa. Tubuh itu penting, lebih-lebih di Timaeus. Tubuh itu baik, bukan hanya penting, baik bagi jiwa. Memang nanti pada Plotinos—saya kira sudah dimulai dengan Stoisisme—status ontologis yang saya katakan tadi itu bisa dibuat, tapi tidak jelas di Platon. Tidak ada penjelasan eksplisit mengenai tingkat-tingkat ontologis yang saya katakan. Tapi nantinya pada Plotinos, itu makin rigid, makin kaku. Jadi, bahwa ada yang bernama dunia sensibel-dunia intelijibel, bahwa tubuh itu betul-betul jelek, penjara, pada Plotinos iya. Nah, masalahnya, bertahun-tahun cara orang membaca Platon atas dasar Plotinos—kacamata Plotinian untuk membaca Platon. Dari sana orang membaca dualisme. Padahal kalau kita baca dialognya, itu tidak jelas. Dialog itu kan terbuka, ngomong seperti ini, ternyata dalam teks Yunani-nya “Oh ternyata bisa berarti begini, bisa berarti begitu”.

Dengan demikian, kalau dualisme yang diasumsikan sebagai konsep Platonian tentang jiwa dan tubuh itu sebenarnya tidak terlalu meyakinkan, landasan filsafat modern itu sendiri, katakanlah kalau kita mengambil titik berangkatnya dari Descartes, bisa dipertanyakan?

Itu bisa dirunut dari tafsir-tafsir Augustinus, tafsir-tafsir Neoplatonisme yang dianggap sebagai tafsir kanonik atas Platon. Jadi, bertitik tolak dari pertanyaan, dari pemikiran-pemikiran Kristiani, dari tafsir Neoplatonisme itulah, lalu semacam label-label dualisme Platon itu bisa ditengarai. Meskipun sebetulnya, kalau kita membaca Hegel, Heidegger, mereka tidak pernah bicara tentang dualisme dalam Platon. Saya juga tidak tahu siapa yang berbicara dualisme. Filsuf-filsuf besar, Derrida pun, tidak pernah berbicara secara gampangan tentang dualisme menurut Platon. Kalau dualisme pada Descartes, ya mereka bicara. Jadi, sebenarnya dualisme itu dimulai dengan Descartes, dengan jiwa dan res extensa. Jadi jiwa itu cogito, dan ada res extensa yang di luar pikiranku, semacam keluasan, semua yang memiliki dimensi.

Saya pernah membaca bahwa Descartes sangat dipengaruhi oleh Plotinos.

Saya tidak tahu…

Atau mungkin bahwa Plotinos mengantisipasi Descartes dalam soal distingsi antara tubuh dan jiwa?

Belum pernah membaca itu. Tapi kalau maksudnya, para pemikir Islam dan Thomas Aquinas dipengaruhi Plotinos, saya malah yakin. Banyak teolog besar bukan Aristotelian, bukan Platonisian, melainkan Neoplatonisian. Untuk Descartes, saya belum pernah membaca.

Jadi, dengan melihat dari visi Platonisian tentang hubungan antara jiwa dan tubuh yang sangat kaya itu, bagaimana Romo mengkritik filsafat kontemporer?

Filsafat kontemporer memang cenderung tidak membicarakan jiwa ya. Jadi, itu mungkin ekses dari, semacam préjugé dari, pikiran umum bahwa selama ini tubuh diremehkan, maka sekarang yang terjadi kebalikannya. Semacam tubuh dirayakan dan jiwa disingkirkan. Lalu orang mengambil Nietzsche. Tapi itu jatuh dalam ekstrem-ekstrem. Misalnya, menggunakan Nietzsche untuk perayaan tubuh. Ya, tubuh bagi Nietzsche itu jiwa, tubuh itu rasio. Yang bernama jiwa dan badan, rasio dan badan, ya satu dan sama. Mungkin bagi Nietzsche, sama, tubuh kan juga simptom, simptom untuk dianalisis. Sama dengan Platon, badan sebetulnya hanya tanda saja, untuk sesuatu yang lebih inti dalam diri kamu yang lalu disebut jiwa. Nah, dalam filsafat modern yang cenderung mengevakuasi, menghilangkan omongan tentang jiwa, orang lalu bicara mengenai korporalitas, mengenai dimensi kebertubuhan yang sama sekali tidak ragawi. Atau gampang saja, tubuh begitu saja, lalu kita merujuk pada literatur-literatur di mana seolah-olah kalau kamu mengikuti tubuh kamu, merayakan tubuh kamu, dengan dimensi seksualnya secara grafis, di situ semacam puncak hidup sudah terdapatkan. Nah itu kan ekstrem-ekstrem… Tapi, mengatakan prioritas bukan berarti bahwa yang lainnya itu non-eksisten. Semacam tidak ada. Itu terlekat pada kita. Itu bagian dari kita. Itu menjadi simptom. Menjadi tanda bagi kita yang membawa diri ini. Di filsafat kontemporer sekarang, sulit menemukan uraian tentang itu, mungkin karena jiwa sudah dievakuasi ke dalam problem psikologi. Makanya orang enggan memikirkan itu.

Kalau mungkin penjelasan Romo sudah dianggap cukup mewakili isi buku dari “Areté”, beserta motivasi besar di balik itu dalam konteks filsafat kontemporer yang dikritik tadi, lalu apa kira-kira nilai penting, relevansi mengaktualkan kembali visi Platon untuk saat ini? Apakah tujuannya lebih bersifat terapis saja, mengembalikan keterceraiberaian filsafat dari naluri kodratinya yang ilahiah itu, atau sebenarnya itu memang punya dimensi yang lebih luas, misalkan pada level sosial? Karena kan seperti ini Romo. Problem filsafat modern sudah sangat kompleks. Dan saya kira “philosophical turn” Romo ke filsafat Yunani itu langkah yang tidak terduga, khususnya bagi orang-orang yang menekuni filsafat modern. Kira-kira, dengan kembali ke filsafat Yunani itu, visi apa sebenarnya yang ingin Romo tawarkan melalui apresiasi atau telaah mendalam atas filsafat Yunani?

Kalau posisi saya, saya kira, lebih sederhana ya di Indonesia. Tadi pertama, filsafat Yunani belum terintrodusir secara cukup di Indonesia. Sewaktu saya menulis disertasi di Prancis, saya malu dengan teman-teman dari Jepang, dari Korea, karena mereka sudah punya terjemahan lengkap Platon dan Aristoteles dalam bahasa Jepang dan bahasa Korea. Sejak tahun 1950-an mereka sudah punya. Sebagai sesama bangsa Asia, waduh ini bagaimana, kok kita belum punya. Mereka sudah membawa bukunya, terjemahan lengkap Platon dalam bahasa Korea dan Jepang. Untuk Indonesia, mengapa kita tidak bisa mengejar ketertinggalan itu dengan bangsa Asia lainnya? Tentu banyak hal harus dikejar. Ketertinggalan dalam banyak hal. Tapi paling tidak, dalam bidang saya ini, kenapa saya tidak mengejar ketertinggalan ini? Lalu kedua, visi pragmatis lainnya, kalau saya melihat problem di Indonesia ini, politik kita, barangkali teman-teman dengan ilmu politik, dengan filsafat yang lebih canggih itu, bisa menerangi masalah Indonesia. Tapi kalau saya lihat, kita ini belum sampai pada level modern, belum sebetulnya. Dari segi infrastruktur, kita lihat. Kita memang punya gedung-gedung, punya apa segala macam. Tapi sejauh mana itu betul-betul gedung kita? Tadi saya bertemu dengan orang dari bank. Dia bercerita, sekarang hampir semua bank yang disebut nasional sudah dimiliki oleh orang luar negeri semua. Itu milik orang luar negeri. Milik orang Singapura, milik orang Malaysia, jadi kita tidak punya. Kita tidak punya bank. Dari segi mentalitas, juga sangat jelas, kita masih jauh dari modern. Banyak hal harus kita kejar, dan kalau saya ingin menawarkan sebuah visi bagaimana menafsir masyarakat, bagaimana kita mencoba berpikir secara serius, memikirkan manusia, memikirkan politik dengan etika, saya pikir kok Yunani dengan idealnya mengenai kalos kagathos, menjadi manusia yang elok dan baik, dalam arti harmonis jiwa badannya, maupun dalam arti baik, bukan baik-baik saja, tapi juga baik secara intelektual dan orientasinya kepada kebaikan. Nah, ini saya kira sesuatu yang kita butuhkan saat ini, ketika politik menjadi gila di Indonesia, menjadi menjijikkan. Duit. Semua duit. Korupsi itu penyakit yang sangat parah dalam politik kita.

Dan Platon juga menyinggung tentang korupsi?

Platon tentu saja sangat jelas menunjukkan betapa uang memang berkuasa di zaman Athena, dengan sofisme, di mana para advokat, pengacara, intelektual, mengabdi kepada uang. Platon meng-counter masyarakat seperti itu dengan konsepnya tentang pendidikan, konsepnya tentang kalos kagathos, tentang culture, pendidikan manusia seperti apa, dan tentu di balik itu semua, sebuah keyakinan tertentu mengenai nasib manusia, mengenai arah dan tujuan manusia—menyerupai para dewa itu. Saya kira ini kan sesuatu yang kita butuhkan, karena kalau sekarang kita berbicara dengan filsafat modern, dengan segala macam, untuk melawan korupsi, susah. Kamu mau pakai Alain Badiou untuk membahas korupsi, tidak ada. Slavoj Žižek, atau Derrida tentang korupsi, tidak ada, malah nanti kamu repot. Dengan postmodernisme kamu malah menjustifikasi yang terjadi. Tidak ada subjek ya toh, etika, semua ditunda begitu kan. Nah, sebenarnya pada Platon ini kan kita menemukan semacam visi yang lebih cocok untuk masyarakat tradisional seperti kita ini. Kalau saya mau provokatif. (tertawa)

Atau mungkin masyarakat primitif?

Ya, pra-modern.

Apakah ketertarikan pada dimensi politik dari filsafat Platon itu kira-kira akan dikembangkan ke depan atau…?

Ya, pasti, pelan-pelan … Jadi sebenarnya saya berminat politik, tapi dulu konteksnya melawan rezim Soeharto. Dulu memang keras, dan memang kita gerah. Nah sekarang kan konteksnya berbeda. Kita berada dalam demokrasi, keterbukaan bebas. Memang ada risiko. Kita juga kecewa tentu saja dengan sikap politisi, sikap Presiden yang betul-betul tidak berbuat apa-apa, membiarkan semua. Tapi kita tidak bisa menjadi anti-demokrat dengan lalu bersikap…, ya semua itu harus dihadapi secara demokratis juga. Mungkin pada titik tertentu nanti, lewat menerjemahkan, lewat tulisan-tulisan, saya akan berusaha menyumbangkan tawaran-tawaran pemikiran apa yang bisa diberikan. Memang Platon dikenal sebagai anti-demokrat. Tapi saya kira tidak ada salahnya belajar dari cara berpikirnya supaya kita mengerti kenapa memang demokrasi punya aspek-aspeknya yang nggilani, aspek-aspeknya yang harus dihindari. Platon bisa membantu kita. Misalnya, demokrasi adalah tirani opini dan tirani uang. Platon sudah bicara itu. Lalu dari situ bisa dideskripsikan sebagai anti-demokrasi. Padahal kalau kita membaca soal itu—kekuasaan uang dan kekuasaan opini, penggalangan opini—kita bisa melihat bahwa ini memang bisa jadi kelemahan demokrasi, karena ketika itu terjadi dalam demokrasi, tidak ada kekuasaan absolut. Makanya pemimpin juga bisa dipahami kalau bingung menghadapi situasi seperti ini. Memang Platon tidak bisa memberikan resep.

Yang instan?

Tidak bisa. Resep Platon tidak demokratis, dengan filsuf-raja dan segala macamnya. Tapi yang bisa kita ambil, resep yang menarik misalnya, adalah bahwa Platon menekankan pendidikan, pentingnya pendidikan untuk membentuk semacam culture yang lebih cocok dengan filsafat, dengan pemikiran, yang memberi tempat kepada kalos kagathos.

Atau mungkin kalos kagathos itu menjadi “manusia terakhir”?

“Manusia terakhir”? Tapi kalau menurut Nietzsche, manusia terakhir itu manusia modern lhoKalos kagathos itu semacam ideal, itu ideal Yunani—Haryanto Cahyadi menyusun tesis tentang kalos kagathos—ideal Yunani yang mungkin mirip dengan ideal Jawa, bahwa manusia itu manusia utama, semacam ningrat. Orang yang tidak mudah heran, orang yang tidak mudah blereng, tidak mudah silau dengan harta kekayaan, tapi orang yang mendalam olah batinnya, orang yang punya cukup ilmu, orang yang ugahari, orang yang punya—saya katakan tadi—keningratan jiwa. Dalam Jawa kan ada begitu ya. Orang dihormati di desa bukan karena dia kaya raya, tapi karena dia punya kualitas. Orangnya sederhana, tapi berintegritas. Bisa jadi teladan. Kalos kagathos Yunani, idealnya begitu. Hanya kemudian dirusakkan oleh sofis, ketika kalos kagathos menjadi kesuksesan politik. Platon ingin mengubah itu, mengembalikan bahwa kalos kagathos harus punya keningratan jiwa, dan terutama lewat pemikiran. Lewat filsafat.

Ningrat? Apa itu tidak elitis?

Ini tidak bisa kita tolak. Paling tidak dengan Nietzsche dan Platon, juga Plotinos, pretensi elitisme dalam filsafat itu kuat. (tersenyum) Ini memang tidak mengenakkan ya, memang tidak semua orang berbakat filsafat itu betul juga. Secara natural. Maka Platon bicara mengenai natural philosophers, anak-anak yang secara alamiah berbakat menjadi filsuf.

Tapi lagi-lagi itu sebenarnya bukan bakat personalnya, tapi karena pendidikan.

Ya, tentu saja. Platon berkata, semakin bakat seseorang besar, kalau pendidikannya salah, kerugiannya semakin besar, bahayanya semakin basar. Tapi semakin bakatnya kecil, tidak masalah, tidak apa-apa, dia tidak berbahaya. Jadi kalau kamu tidak terlalu berbakat, kamu bersekolah di yang ecek-ecek tidak apa-apa. (tertawa) Itu yang ditulis Platon di Politeia.

Mungkin terakhir, Romo, setelah “Areté”, karya tulis Romo apa yang sedang disiapkan?

Yang sedang naik cetak itu Lakhes, terjemahan teks Platon tentang keberanian. Saya kira tahun ini terbit. Lalu setelah itu saya akan mulai dengan agak scolaire, introduktif, sederhana. Saya akan mulai dengan Pra-Sokratisme. Itu terbit dulu, suatu ketika mungkin ya Platon tapi lebih didaktis, lebih informatif. Terus nanti baru Aristoteles, Stoisisme, seterusnya. Jadi, panjang sebetulnya proyek ini. Tapi pokoknya saya akan berkonsentrasi ke Yunani.[]

___________________________

*Tulisan ini merupakan transkrip wawancara yang dilakukan oleh Muhammad Al-Fayyadl bersama Romo Setyo Wibowo pada tahun 2011. Dipublikasikan kembali atas seizin penulis dengan pertimbangan akan pentingnya diseminasi pemikiran dari ahli-ahli filsafat di Indonesia. Pertamakali dimuat di blog pribadi penulis: fayyadl.wordpress.com

**Sumber gambar: mediaparahyangan.com

Yuval Noah Harari: ‘Akankah virus korona mengubah sikap kita terhadap kematian? Justru sebaliknya’

0
yuval noah harari

Akankah pandemi virus korona menghempaskan kita kembali pada sikap tradisional dalam memahami peristiwa kematian atau justru memperkuat upaya kita untuk memperpanjang masa kehidupan?

Dunia modern telah dibentuk oleh sebuah kepercayaan bahwa manusia dapat mengelabui dan mengatasi kematian. Itu adalah cara pandang baru yang revolusioner. Kebanyakan dalam sejarahnya manusia mudah pasrah dan menyerah pada kematian. Bahkan hingga akhir-akhir abad modern, kebanyakan agama dan ideologi melihat kematian tidak hanya sebagai takdir yang tak terhindarkan tapi juga sebagai sumber makna yang utama dalam kehidupan. Momen paling penting dalam eksistensi manusia adalah ketika Anda mengembuskan napas yang terakhir. Sebab hanya setelah mengalami fase itu Anda akan mempelajari rahasia sejati sebuah kehidupan. Hanya setelah itu Anda akan mendapatkan keselamatan yang abadi atau justru siksaan yang tiada henti. Di dalam dunia tanpa kematian—dan untuk itu juga surga, neraka atau reinkarnasi—agama-agama seperti Kristen, Islam, dan Hindu akan kehilangan maknanya. Dalam sejarahnya, pikiran terbaik manusia paling banyak disibukkan oleh upaya pemberian makna terhadap kematian, alih-alih untuk mengalahkannya.

Epik Gilgamesh, mitos Orpheus dan Eurydice, Bibel, Qur’an, Weda, dan sejumlah buku-buku dan kisah-kisah suci lainnya dengan ulet menjelaskan kepada manusia yang menderita bahwa kita mati sebab Tuhan telah menetapkan demikian, atau Kosmos, atau Ibu Alam, dan kita lebih baik menerima takdir itu dengan segala kerendahan hati dan sikap yang bijak. Mungkin suatu hari nanti Tuhan akan menghapus kematian melalui sebuah kejadian metafisik yang agung seperti kedatangan kedua Kristus yang ditunggu-tunggu. Tapi, orkestrase cerita-cerita besar semacam itu (penj: dalam rangka mengkompensasi penderitaan manusia) jelas berada jauh dari biaya yang harus dibayar oleh nyawa manusia.

Selepas itu datanglah revolusi ilmu pengetahuan. Bagi para ilmuwan, kematian bukanlah ketetapan Tuhan—melainkan tidak lain semata-mata problem teknis. Manusia mati bukan karena Tuhan menghendaki demikian tapi lebih disebabkan karena sebuah kegagalan teknis. Jantung berhenti memompa darah. Kanker menyebabkan kerusakan pada liver. Virus-virus tumbuh di dalam paru-paru. Lalu siapa yang bertanggung jawab atas semua kesalahan teknis ini? Jantung berhenti memompa darah disebabkan karena kadar oksigen yang mencapai otot jantung tidak mencukupi. Sel-sel kanker menyebar pada liver karena sebuah kemungkinan mutasi genetik. Virus-virus berdiam di dalam paru-paru kita karena seseorang yang bersin di dalam bus. Tidak ada kausasi metafisik di dalam itu semua.

Ilmu pengetahuan percaya bahwa setiap kesalahan teknis mengandung solusi yang juga bersifat teknis. Kita tidak harus menunggu kedatangan Kristus untuk yang kedua kalinya hanya untuk mengatasi problem kematian. Sejumlah ilmuwan di dalam sebuah laboratorium dapat melakukannya. Jika dahulu kematian merupakan ladang spesialis bagi para pendeta dan teolog dalam jubah-jubah hitam mereka, maka sekarang ia menjadi cerita bagi orang-orang berjas putih di laboratorium. Jika ada jantung bermasalah, kita bisa menstimulasinya dengan menggunakan alat pacu jantung atau transplantasi jantung baru. Jika kanker menyerang, kita bisa melumpuhkannya dengan radiasi. Jika virus-virus berkembang di dalam paru-paru, kita bisa mengatasinya dengan vaksin-vaksin baru dalam ilmu kedokteran.

Benar bahwa pada saat ini kita belum bisa mengatasi semua problem-problem teknis yang ada. Tapi kita selalu bekerja dalam rangka itu. Pikiran-pikiran terbaik manusia tidak lagi dihabiskan untuk sebuah upaya pemberian makna bagi kematian. Namun, mereka jutsru sibuk mengupayakan perpanjangan bagi kehidupan. Mereka terus melakukan penelitian terkait sistem-sistem mikrobiologis, fisiologis, dan genetik yang menyebabkan penyakit dan usia tua serta mengembangkan model-model penanganan dan ilmu-lmu kedokteran yang baru dan revolusioner.

***

Dalam upaya mereka untuk memperpanjang usia kehidupan, manusia dapat dikatakan berhasil. Sepanjang dua abad terakhir, tingkat rata-rata harapan hidup manusia telah meningkat dari kurang dari 40 tahun hingga 72 tahun di seluruh dunia, dan bahkan hingga lebih dari 80 tahun di beberapa negara maju. Anak-anak khususnya telah berhasil terhindar dari ancaman kematian (penj: pada usia dini). Sampai pada abad ke-20, setidaknya sepertiga dari seluruh populasi anak tidak pernah mencapai usia dewasa. Mereka pada umumnya terpaksa harus menyerah pada penyakit anak seperti disentri, campak, dan cacar. Pada abad ke-17 di Inggris, sekitar 150 dari setiap 1000 anak yang baru lahir meninggal pada usia pertama mereka, dan hanya sekitar 700 yang berhasil mencapai usia 15. Hari ini, hanya lima dari 1000 bayi di Inggris meninggal pada usia pertama mereka, dan 993 mendapat kesempatan untuk merayakan ulang tahun mereka yang ke-15. Di dunia secara keseluruhan, angka kematian anak menurun pada angka kurang dari 5%.

Keberhasilan manusia dalam usaha mereka menyelamatkan dan memperpanjang masa kehidupan menyebabkan perubahan mendasar pada cara pandang mereka terhadap dunia. Sementara agama-agama tradisional sejak dulu memahami kehidupan setelah kematian sebagai sumber utama dalam memaknai kehidupan, mulai dari abad ke-18 ideologi-ideologi besar seperti liberalisme, sosialisme, dan feminisme kehilangan segala ketertarikan mereka pada model kehidupan eskatologis tersebut. Apa yang sesungguhnya akan terjadi pada seorang komunis setelah dia meninggal? Apa yang akan terjadi pada seorang kapitalis? Apa yang akan terjadi pada seorang feminis? Tidak ada gunanya mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam karya-karya Karl Marx, Adam Smith atau Simone de Beauvoir (penj: sebab Anda tidak akan menemukannya).

Satu-satunya ideologi modern yang masih memberikan peran sentral pada peristiwa kematian adalah nasionalisme. Pada momen-momen krisis dan mengharukan, nasionalisme menjanjikan kehidupan yang abadi di dalam memori kolektif mereka bagi siapa saja yang gugur demi menjaga kedaulatan tanah air. Meski demikian, janji tersebut menjadi kabur manakala mereka yang mengaku paling nasionalis sekalipun tidak benar-benar tahu dan paham apa yang hendak mereka maksud dengan itu semua. Bagaimana sebenarnya yang dimaksud dengan ‘hidup’ dalam memori? Jika suatu saat Anda meninggal, bagaimana Anda bisa tahu bahwa orang-orang akan mengingat Anda atau tidak? Woody Allen suatu waktu pernah ditanya apakah dia berharap untuk hidup selamanya dalam memori para penonton (penj: yang mengidolakannya). Allen menjawab: “Lebih baik saya hidup di apartemen saya.” Banyak agama-agama tradisional yang bahkan telah berubah haluan. Alih-alih menjanjikan surga di kehidupan setelah kematian, mereka mulai mengalihkan perhatian pada apa yang bisa mereka kerjakan di kehidupan saat ini.

Akankah pandemi yang sedang terjadi saat ini mengubah sikap dan cara pandang manusia terhadap kematian? Mungkin tidak. Justru sebaliknya. Covid-19 mungkin akan memaksa kita untuk menggandakan upaya kita untuk melindungi nyawa manusia. Reaksi kultural terhadap Covid-19 yang dominan saat ini bukanlah sikap pasrah—melainkan gabungan antara penyesalan dan harapan.

Ketika epidemi melanda masyarakat pra-modern seperti di Eropa pada Abad Pertengahan, orang-orang mulai khawatir pada hidup mereka dan dirundung oleh kematian orang-orang tercinta sementara reaksi kultural masyarakat tidak lain adalah kepasrahan. Psikologi mungkin akan menyebutnya sebagai ‘learned helplessness (kepasrahan yang dipelajari)’. Orang-orang terus meyakinkan diri bahwa itu adalah kehendak Tuhan—atau mungkin balasan Tuhan atas dosa-dosa yang mereka perbuat. “Tuhan mengetahui yang terbaik. Kita manusia yang jahat pantas mendapatkannya. Dan kamu akan lihat, ia akan memberikan yang terbaik pada akhirnya. Jangan khawatir, orang-orang baik akan mendapat balasan di surga. Dan jangan buang-buang waktu untuk mencari obat. Penyakit ini dikirim Tuhan untuk menghukum kita. Mereka yang berpikir manusia dapat mengatasi epidemi ini dengan menggunakan kecerdasan mereka sendiri hanya akan menambah dosa lain karena kesombongan dan kesalahan mereka sendiri. Siapa kita yang hendak menggagalkan rencana Tuhan?”

Sikap yang ditunjukkan hari ini justru berada pada kutub yang sebaliknya. Ketika bencana membunuh banyak orang—seperti kecelakaan kereta api, kebakaran hebat atau bahkan angin topan—kita cenderung melihatnya sebagai kegagalan manusia yang bisa dicegah, alih-alih sebagai hukuman Tuhan atau bencana alam yang tak terhindarkan. Jika perusahaan kereta api tidak menggelapkan anggaran keamanannya, jika perkotaan menerapkan aturan kebakaran yang lebih baik, dan jika pemerintah mengirimkan bala bantuan lebih cepat, orang-orang tersebut mungkin dapat diselamatkan. Pada abad ke-21, kematian massal selalu menjadi alasan otomatis bagi adanya penuntutan dan investigasi.

Demikian juga sikap kita terhadap wabah. Di saat para penceramah agama dengan cepat memaknai AIDS sebagai bentuk hukuman Tuhan untuk orang-orang gay, masyarakat modern justru mengabaikan pandangan semacam itu dan meletakkannya pada sisi-sisi yang fanatik, dan akhir-akhir ini secara umum kita melihat penyebaran AIDS, Ebola, dan epidemi lainnya yang belakangan terjadi sebagai kegagalan organisasional. Kita meyakini bahwa manusia modern memiliki pengetahuan dan seperangkat alat yang dibutuhkan untuk membendung wabah-wabah tersebut, dan jika penyakit menular tersebut tidak dapat lagi dikontrol, hal itu lebih-lebih disebabkan karena inkompetensi manusia sendiri, bukan karena murka Tuhan. Covid-19 dalam hal ini bukan sebuah pengecualian. Krisis masih jauh dari kata selesai, sementara upaya saling menyalahkan tampak baru saja dimulai. Negara-negara saling tuding satu sama lain. Politisi-politisi saling lempar tanggung jawab tak ubahnya melempar granat tanpa tuas.

Di samping kekacauan, terselip juga sejumlah harapan. Pahlawan kita bukanlah para pemuka agama yang memimpin pemakaman dan memaklumi bencana apa adanya. Pahlawan kita adalah para ahli medis yang berjuang untuk menyelamatkan kehidupan. Sementara itu, superhero kita adalah para ilmuwan yang bekerja di laboratorium. Seperti halnya penonton bioskop yang meyakini bahwa Spiderman dan Wonder Woman pada akhirnya akan mengalahkan orang-orang jahat dan menyelamatkan dunia, demikian juga dengan kita yang meyakini bahwa dalam beberapa bulan atau mungkin satu tahun ke depan, kerja-kerja laboratorium akan menemukan model penanganan Covid-19 yang efektif atau bahkan menghasilkan vaksinasi. Selanjutnya, kita akan menunjukkan pada virus keji ini siapa sebenarnya organisme alfa di planet ini! Pertanyaan bagi setiap orang dari Gedung Putih, melalui Wall Street hingga ke balkon Italia adalah: “Kapan vaksin siap?” Kapan. Bukan jika.

***

Ketika vaksin sudah siap dan pandemi berakhir, apa yang mungkin akan menjadi pelajaran utama bagi kemanusiaan? Dari sekian kemungkinan, salah satunya adalah bahwa kita perlu investasi lebih pada upaya untuk melindungi hidup manusia. Kita butuh lebih banyak rumah sakit, dokter, dan perawat. Kita butuh banyak persediaan alat bantu pernapasan, alat pelindung, dan peralatan uji coba. Kita perlu menganggarkan banyak uang untuk penelitian mengenai patogen-patogen aneh serta untuk pengembangan bentuk pelayanan yang baru. Kita tidak boleh lengah lagi.

Sebagian mungkin akan berpendapat bahwa hal tersebut adalah pelajaran yang keliru, dan bahwa krisis semestinya mengajarkan kita tentang kerendahhatian. Kita tidak seharusnya terlampau yakin akan kemampuan kita untuk menaklukkan kekuatan semesta. Kebanyakan pernyataan-pernyataan yang bertentangan semacam itu adalah sisa-sisa suara Abad Pertengahan yang mendakwahkan kerendahhatian sementara mengetahui 100% solusi yang paling tepat. Orang-orang fanatik tidak dapat membantu diri mereka sendiri—seorang pendeta yang memimpin studi Bibel mingguan untuk kabinet Donald Trump berpendapat bahwa epidemi ini juga merupakan hukuman Tuhan untuk homoseksualitas. Akan tetapi, bahkan mereka yang paling loyal dengan tradisi hari ini lebih mempercayai sains daripada teks-teks suci.

Gereja Katolik memerintahkan jemaatnya untuk menjauh dari gereja. Israel menutup sinagog-sinagognya. Republik Islam Iran menganjurkan rakyatnya untuk tidak mengunjungi masjid. Candi-candi dan semua sekte menunda seremoni keagamaan mereka. Dan semua disebabkan karena ilmuwan telah membuat perhitungan-perhitungan ilmiah dan merekomendasikan penutupan semua tempat suci tersebut.

Tentu tidak semua yang mengingatkan kita tentang bahaya kecongkakan di atas memimpikan untuk kembali ke Abad Pertengahan. Bahkan para ilmuwan juga sepakat bahwa kita semestinya bersikap realistis pada harapan-harapan yang kita bangun, dan bahwa kita tidak seharusnya menyandarkan kepercayaan buta pada kemampuan para dokter untuk melindungi kita dari beragam penyakit. Meskipun kekuatan kemanusiaan menjadi lebih kukuh, orang-orang secara individu masih harus menghadapi kenyataan akan kerapuhan mereka. Mungkin dalam satu atau dua abad ke depan ilmu pengetahuan akan mengembangkan kehidupan manusia tanpa batas, meskipun saat ini masih belum. Dengan kemungkinan pengecualian bagi bayi-bayi para miliarder yang masih dalam asuhan, kita semua akan mati pada saatnya nanti, dan kita akan kehilangan orang-orang yang kita cintai. Kita harus mengakui kefanaan kita.

Selama berabad-abad, orang-orang menggunakan agama sebagai mekanisme pertahanan, meyakini bahwa mereka akan hidup selamanya dalam kehidupan setelah kematian. Hari ini mereka beralih ke sains sebagai mekanisme pertahanan alternatif, mempercayai bahwa para dokter akan menyelamatkan mereka, dan bahwa mereka akan hidup selamanya di apartemen mereka. Kita memerlukan pendekatan yang seimbang di sini. Kita harus memberikan kepercayaan kepada ilmu pengetahuan untuk mengatasi epidemi, tapi kita juga tetap harus menanggung beban ketidakberdayaan saat berhadapan dengan keterbatasan dan kefanaan kita sendiri.

Krisis yang terjadi saat ini mungkin akan membuat banyak orang lebih sadar terhadap keterbatasan alamiah hidup dan pencapaian-pencapaian manusia. Meskipun demikian, peradaban modern kita mungkin sepenuhnya akan mengatakan yang sebaliknya. Setelah disadarkan akan kerapuhan mereka, manusia mungkin justru akan merespon dengan membangun benteng pertahanan yang lebih kuat lagi. Setelah krisis ini berakhir, saya tidak yakin kita akan melihat peningkatan anggaran yang signifikan pada jurusan-jurusan filsafat. Tapi saya berani bertaruh bahwa kita justru akan melihat peningkatan anggaran yang masif pada sekolah-sekolah kedokteran dan sistem kesehatan.

Dan mungkin itulah yang terbaik yang bisa kita harapkan sebagai manusia. Pemerintah bagaimanapun juga tidak begitu baik dalam berfilsafat. Sebab itu bukan wilayah mereka. Pemerintah harus benar-benar fokus pada pembangunan sistem kesehatan yang lebih baik. Terserah individu untuk berfilsafat secara lebih baik. Para dokter tidak dapat memecahkan teka-teki masa depan kehidupan kita. Tapi mereka dapat menyediakan kita lebih banyak waktu berlama-lama dengannya. Apa yang akan kita lakukan dengan waktu (penj: yang para dokter sediakan) adalah tergantung diri kita sendiri.

________________________________________

*Artikel ini adalah terjemahan dari tulisan Yuval Noah Harari di The Guardian berjudul “Yuval Noah Harari: Will coronavirus change our attitudes to death? Quite the opposite”, 20 April 2020

**Sumber gambar: euronews.com

Schopenhauer di Antara Kontradiksi: Sebuah Pengantar

0
pesimisme

Saat berdiri di hadapan teks klasik, kadang kita merasa takut sekaligus penasaran. Seperti ada sesuatu yang jauh sekali di balik lembar-lembar apak itu. Setelah kita dekati, membukanya beberapa menit, sambil mengingat pelajaran di masa lalu, yang entah darimana kita kemudian ingat sosok seperti Plato dan kekonyolan alegori guanya, atau yang lebih epik lagi, ingat potongan mitologi klasik Yunani seperti Dionisos yang dikandung di paha Zeus.

Mungkin dulu kita tertawa dan terkejut, kenapa ada orang bisa-bisanya berpikir sekonyol itu! Lalu kita sedikit menganggapnya tak berguna. Selang beberapa waktu, mungkin bertahun-tahun kemudian, kita tak sengaja bertemu dan membaca kembali karya besar yang pernah kita sapa walau singkat. Dan perasaan kita pun berubah, seolah-olah ada kebaruan yang muncul dalam benak kita, yang dulu tak terpikirkan ketika membaca teks itu untuk pertama kalinya. Lalu kita mulai bersemangat. Kita berkomunikasi dengan cara berbeda dengan buku itu. Bahwa, sosok yang keluar gua adalah simbol posisi filsuf atau seniman yang sudah melihat realitas. Bahwa, Dionisos kemudian adalah lambang kemabukan dan sosoknya menjadi penting dalam pembacaan kontemporer, tak peduli bagaimana caranya ia bisa keluar dari paha bapaknya.

Mungkin Anda pernah menganggap pemikiran Arthur Schopenhauer juga konyol, sama seperti menghadapi Plato atau mitologi klasik. Mungkin Anda juga sering mendengar namanya atau menemukan ulasan pemikiran filsuf Jerman ini di tengah-tengah buku tebal sejarah filsafat. Apapun alasan pertemuan Anda dengan Schopenhauer, inilah momen yang tepat untuk sekali lagi mendekatinya. Entah apa yang akan Anda temukan, bisa berupa kebaruan pembacaan, menyadari detil yang sempat terlewat, kedekatan refleksinya dengan kehidupan hari ini, atau gaya tulisannya yang tak lekang oleh waktu. Nama Schopenhauer cukup familiar bagi pegiat seni/sastra/filsafat dan jarang sekali orang melupakan sosoknya, karena ia penulis yang cukup peduli pada pembacanya. Schopenhauer membuat pembaca terhibur sekaligus berpikir berdasar pengalaman dan kemudian ia membantu mengabstraksikan pengamatan-pengamatan khusus yang mereka alami. Membaca Schopenhauer tak sia-sia, meskipun ia membeberkan ketakmasukakalan dunia modern, mewartakan pesimisme, menyampaikan banyak komedi kehidupan yang getir, membenci kepura-puraan kelas sosial tertentu, tapi cara dia membeberkan fenomena seolah mengajari seseorang berjalan nyaman di atas dunia yang becek di zaman modern ini, meski seringkali caranya mengganggu.

Karya para filsuf jarang mencerminkan pengalaman hidup mereka dibanding karya para ilmuwan. Akan tetapi berbeda dengan seniman-filsuf seperti Kierkegaard dan Nietzsche, mereka mengeksplorasi hubungan intrinsik antara kehidupan dan karya mereka. Schopenhauer juga termasuk dalam kelompok ini, melalui karya tulisnya kita bisa lebih memahami filsafatnya sekaligus lebih memahami sosoknya. Ketika Schopenhauer mengekspresikan pandangan personalnya tentang dunia,  saat itu juga diselimuti dengan cerita kepribadian dirinya yang culas dan kadang-kadang mudah tersinggung.

Schopenhauer lebih senang bergaul dengan binatang (anjing pudel) daripada dengan manusia. Secara fisik ia tidak menarik dan secara sosial aneh, dia tak pernah berhasil mendapatkan seorang wanita yang dicintainya. Dia tidak pernah menikah. Dalam sebuah esai On Women (1851), dia mengatakan apabila wanita tertarik pada pria muda, kuat, tampan (tak diragukan lagi ini refleksi yang diambil dari pengalaman) adalah semacam truisme; tetapi alasan yang dia berikan juga menyangkut filsafatnya, bahwa fenomena tersebut adalah “ekspresi kehendak spesies yang tak disadari” yang selalu ingin memastikan “perkembangbiakan umat manusia yang sehat.”

Dalam Schopenhauer: A Biography (2010), David E. Cartwright  memberi ringkasan yang jelas dan singkat tentang karya utama Schopenhauer The World as Will and Idea. Ulasan Cartwright menjadi titik awal yang baik bagi pembaca baru. Bagi mereka yang sudah mulai tertarik menjelajahi pemikirannya, atau baru saja masuk ke belantara idealis Jerman, melalui kumpulan esai yang Anda pegang saat ini, Anda akan menemukan hal yang mencerahkan untuk berkenalan dengan pengarang yang keras kepala dan terkadang menjengkelkan. Bagi yang terbiasa membaca ekspresi satu pemikiran yang utuh, membaca karya Schopenhauer mungkin akan muncul pengalaman berbeda, karena di dalamnya bercampur aduk dengan ide-ide Plato, Kant dan Upanishad, yang bagi Schopenhauer adalah dasar  kebijaksanaan dan kebenaran. Seseorang mungkin akan membenci sisi misoginis Schopenhauer—dia melihat perempuan sebagai jenis kelamin yang lebih rendah, dan tak mampu menjadi jenius—karena pembelaannya pada mereka yang berpoligami atas dasar gagasan bahwa seorang pria membutuhkan banyak wanita dan tak bisa puas hanya dengan satu saja. Masing-masing dari kita sudah punya cara sendiri menghadapi teks misoginis dari abad 19 semacam itu.

Melalui The World As Will & Representation (1819), Schopenhauer menyajikan metafisika dua sisi. Meskipun terpengaruh banyak ide Kant, Schopenhauer menolak gagasan tentang dunia yang tak diketahui, thing in itself, yang bertanggung jawab untuk menginformasikan semua pengalaman inderawi kita, dan yang menjadi representasi dunia yang kita alami. Sebagai makhluk yang berdiri di Alam Semesta, kita dapat membayangkan diri kita dengan dua cara. Yang pertama, sesuai dengan ‘Kehendak’, ada di dalam kesadaran keadaan mental kita. Yang kedua, sesuai dengan ‘Representasi’, ketika kita mengalami diri kita sebagai objek fisik yang tunduk pada determinisme hukum alam. Schopenhauer menyimpulkan bahwa tak hanya diri kita sendiri tetapi segala sesuatu di Semesta memiliki aspek ganda ini, yang sebenarnya adalah dua sisi mata uang yang sama, karena Representasi hanyalah ‘objektifikasi’ dari Kehendak. Kehendak adalah sifat dari alam semesta sebagaimana adanya. Bagi Schopenhauer, ‘Kehendak’ adalah kekuatan pendorong dasar Semesta. Ada di dalam galaksi, batu (melalui gravitasi), pada tumbuhan, hewan, dan manusia. Secara keseluruhan, ‘Dunia sebagai Kehendak’ tiada habisnya, secara membabi buta berusaha menuju tempat yang tak tentu. Konsep Kehendak akan banyak dirujuk dalam beberapa esai-esainya, sekaligus dimaksudkan sebagai catatan tambahan.

Yang juga perlu kita catat sebagai pembaca kontemporer adalah, Schopenhauer, seorang filsuf awal abad ke-19 ini, memberikan banyak kontribusi penting pada metafisika, etika, dan estetika. Karyanya juga memuat teori evolusi dan psikologi. Meskipun hingga hari ini dan selama hidupnya, ia selalu dibayangi oleh pemikir besar sejamannya, Hegel. Di samping posisinya hampir tergerus Neo-kantian seperti Hegel, pemikiran Schopenhauer banyak mempengaruhi filsuf ataupun penulis setelahnya. Pandangan sosial/psikologis Schopenhauer, yang dikemukakan dalam kumpulan esai ini dan dalam koleksi yang lain, secara langsung diturunkan dari metafisikanya yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran Timur. Pesimismenya membentuk kontras menarik dan mungkin bisa kita pertanyakan, misal mulai dari kegembiraan yang jelas terlihat melalui semangat dan keanggunan prosanya.

Beberapa esai-esai yang diterjemahkan di sini merupakan bagian dari Parerga and Paralipomena (Lampiran dan Tambahan), koleksi refleksi filosofis Schopenhauer yang diterbitkan pada tahun 1851. Koleksi ini bukan sebagai ikhtisar atau pengantar, tapi sebagai bacaan tambahan bagi mereka yang pernah membaca dan sudah familiar dengan pemikirannya, terlepas dari itu, tetap menarik untuk dibaca walaupun kita belum pernah bersinggungan sama sekali. Parerga and Paralipomena dibagi menjadi dua jilid, pertama parerga dan setelah itu paralipomena. Parerga adalah enam esai panjang yang dimaksudkan sebagai pelengkap pemikiran Schopenhauer. Paralipomena, perenungan singkat yang terdiri dari materi yang belum ia tulis secara serius tapi sudah bisa dianggap sebagai pelengkap bagi parerga. Beberapa catatan kaki yang digunakan dalam koleksi ini merujuk ke karya utama Schopenhauer dan beberapa risalah lain atau ia sedang mengutip seorang tokoh penting.

Selain di ranah filsafat, pengaruh Schopenhauer sangat kuat di antara tokoh-tokoh sastra, yang meliputi penyair, penulis naskah drama, penulis esai, penulis novel dan sejarawan seperti Charles Baudelaire, Samuel Beckett, Thomas Bernhard, Jorge Luis Borges, Jacob Burckhardt, Joseph Conrad, André Gide, George Gissing, Franz Grillparzer, Karl Kraus, DH Lawrence, Joaquim Maria Machado de Assis, Stephane Mallarmé, Thomas Mann, Guy de Maupassant, Herman Melville, Robert Musil, Edgar Allan Poe, Marcel Proust, Leo Tolstoy, Ivan Turgenev, WB Yeats, dan Emile Zola. Secara umum, para penulis ini terinspirasi oleh pengertian Schopenhauer tentang absurditas dunia, baik ditafsirkan secara lebih nihilistik dan suram, maupun lebih ringan, absurdis, dan lucu. Mungkin kita bisa masuk dalam daftar penulis-penulis hebat itu.

Khoiril Maqin, 6 Maret 2020.

*Artikel ini merupakan pengantar penerjemah buku terbaru Antinomi berjudul Tentang Pesimisme, karya Arthur Schopenhauer.

Dalam Kabut Virus Korona, Tidak Ada Pakar

0
virologist

Sejak masa pemilihan yang diikuti oleh Donald Trump, media Amerika telah berinvestasi pada sebuah gagasan bahwa lanskap informasi modern ditentukan oleh pergulatan besar antara kebenaran dan kepalsuan, fakta dan informasi yang salah, berita benar dan berita palsu. Dalam drama ini, ada musuh-musuh dari kebenaran, dan kemudian ada para ahli yang semakin terkepung oleh buzzer, kaum populis, dan influencer bayaran. Para ahli perlu merebut kembali kepercayaan publik—baik melalui pengecekan fakta yang lebih baik atau regulasi Facebook yang lebih baik.

Hal ini selalu memunculkan keraguan dan kerangka kerja yang mementingkan diri sendiri, tetapi di masa pandemi virus korona ini semua itu menjadi tidak berguna sama sekali. Bukan karena ia salah mendiagnosis Trump: pemimpin kami ini, memang benar, seorang yang sombong dan tidak jujur, sebuah sekop sampah yang tidak bisa dijadikan teladan dalam presidensi modern, seorang pria dengan kapasitas kecil untuk menangani, bahkan untuk kebenaran yang sedikit kurang nyaman. Tidak seorang pun yang mengharapkan penilaian krisis yang jujur dan realistis dari presiden model ini; setiap orang yang berakal harus mencari kebenaran di tempat lain.

Tetapi begitu Anda mencari di tempat lain, dengan cepat menjadi sangat jelas bahwa tidak ada kesatuan bangunan kebenaran yang dapat dipercaya. Satu-satunya tempat Anda dapat menemukannya adalah dalam fiksi, khususnya film yang menceritakan tentang wabah ini, film karya Steven Soderbergh “Contagion”—di mana organisasi kesehatan bertindak profesional, mengagumkan, gesit, berbasis bukti, dengan cukup banyak pembengkokan aturan di sana-sini untuk membuat lompatan yang diperlukan demi mendapatkan vaksin. Sementara itu, internet isinya mengerikan, diciptakan oleh para blogger jahat menjajakan obat dukun. Hanya institusi yang bisa dipercaya; “pengetahuan”, di luar itu hanya akan membawa Anda ke kuburan.

Namun itu hanya terjadi dalam film; dalam kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Dalam pandemi korona ini, sebagian besar institusi yang kami [baca: institusi Amerika] asosiasikan dengan ahli kesehatan masyarakat dan otoritas medis terpercaya telah gagal, bahkan lebih gagal daripada Trump.

Pelaku terburuk dalam pandemi adalah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang tidak memihak “fakta” dan “sains” di awal-awal pandemi ini: Organisasi itu mengikuti imperatif politiknya sendiri dan berpihak pada Tiongkok, menerima penilaian yang salah dan penuh propaganda serta mengabaikan bukti penting karena bukti itu berasal dari Taiwan dan bukannya Beijing.

Tidak terlalu korup tetapi tidak juga kurang dalam menciptakan petaka dilakukan juga Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) serta Badan Administrasi Makanan dan Obat-obatan [FDA: semacam BPOM di Amerika] yang melakukan berbagai seri malpraktik pada waktu-waktu krusial, bulan Maret, dengan mengacaukan, menunda, dan menghambat pengembangan tes yang diperlukan. Baik otoritas medis Amerika dan internasional berbohong kepada Anda semua (atau, jika Anda ingin lebih lembut, kepada diri mereka sendiri) tentang kemujaraban dari masker. Dan para ahli kesehatan masyarakat di Inggris dengan percaya diri menggulirkan rencana rumit yang seharusnya sedikit lebih pintar daripada sekedar lockdown sederhana—kecuali bahwa ternyata mereka telah melewatkan beberapa fakta dasar tentang virus ini.

Kegagalan dan kecerobohan tidaklah universal; banyak dari otoritas kesehatan publik telah membebaskan diri mereka untuk lebih baik daripada penasihat Boris Johnson atau orang-orang WHO. Tetapi tidak ada pola yang pasti yang dapat dipercaya yang membuat orang berani mengatakan bahwa ‘orang luar’ salah dan berbahaya serta ‘orang dalam’ bisa dipercaya dan benar, dan memang sampai pertengahan Maret Anda sekalian lebih mempercayai peringatan dari akun Twitter anonim daripada pernyataan resmi dari petugas kesehatan masyarakat.

Bagian ini mencerminkan dekadensi dan ketidakmampuan lembaga-lembaga Barat (lembaga-lembaga Lingkar Pasifik membuktikan diri mereka jauh lebih dapat dipercaya), tetapi sebagian dari ini bukanlah melulu kesalahan lembaga mana pun. Pandemi ini adalah keadaan dan tantangan yang baru, pandemi di dunia yang terglobalisasi, dan cara kelembagaan untuk memperoleh informasi dan menindaklanjutinya—pendekatan birokrasi terhadap sains dan kebijakan—tidak akan pernah sepadan dengan masalah yang ditimbulkan virus korona.

Hal ini tidak berarti Anda harus mengabaikan ahli dan hanya memilih postingan acak dari bualan Twitter seolah-olah itu adalah Alkitab. Tetapi di bawah kondisi kabut dan ketidakpastian, kerja-kerja epidemiologi seringkali akan mencapai kebenaran lebih cepat dari pada pejabat resmi pemerintahan. Jika suatu Media dengan bodohnya memposting hal yang salah mengenai pandemi, yang lain akan ikut membuat alasan yang meyakinkan untuk menutupi jauh sebelum CDC bisa melakukannya. Jika satu nonscientist menawarkan beberapa proyeksi yang meragukan, yang lain mungkin tergoda untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi. Dan jika barisan argumen yang digunakan ngawur—seperti yang saya temukan minggu lalu, bahwa argumen anti-lockdown dari partai sayap kanan itu ngawur—maka hanya bisa dinilai berdasarkan argumen itu sendiri, bukannya ditolak karena tidak memenuhi kualifikasi sesuai CDC.

Para pakar resmi, dalam kondisi seperti ini, paling bisa dipercaya sejauh nasihat mereka sesuai dengan akal sehat semua orang. Pendekatan yang mendesak bagi sebagian besar ahli saat ini, misalnya, bukanlah beberapa pendekatan ilmu pengetahuan rumit yang tinggi untuk manajemen penyakit, tetapi metode pra-modern yang paling mendasar dari pengendalian penyakit, seperti yang dilakukan di Florentines abad ke-15 yang juga dilakukan penduduk New York abad ke-21—tutup  semuanya, karantina orang sakit dan berharaplah yang terbaik.

Sementara semakin spesifik dan terperinci yang para ahli dapatkan, semakin tidak stabil dan kacau situasi yang membuat pernyataan mereka jadi meragukan. Maka dari itu merupakan langkah yang baik bahwa kami memodelkan busur pandemi, tetapi itu tidak berarti salah satu model dapat dipercaya lebih dari lainnya. Ada baiknya kita mencoba mencari tahu bagaimana penyakit ini menyebar, tetapi sejauh ini tidak ada klaim tentang seberapa besar kemungkinan Anda akan tertular (dari udara, permukaan atau lainnya) atau siapa yang paling berisiko (apakah dari faktor virus itu sendiri atau riwayat penyakit seseorang) dapat dianggap sama sekali definitif. Sangat baik bahwa kami menghimbau untuk social distancing, tetapi semua aturan yang kami terapkan hanyalah perhitungan kasar.

Dan Anda tidak seharusnya melebih-lebihkan pernyataan sains yang resmi dalam situasi yang membutuhkan eksperimen dan adaptasi serta sejumlah pertaruhan. Meski begitu, Anda tetap harus lebih mempercayai Anthony Fauci daripada Donald Trump dalam hal manfaat potensial dari hydroxychloroquine. Tetapi urgensi krisis mengharuskan eksperimen berjalan lebih cepat dari kesimpulan ahli dan laju kepastian birokrasi. Jadi, jika Anda seorang dokter di garis depan yang berusaha agar pasien Anda tidak perlu menggunakan ventilator, tingkat kehati-hatian Dr. Fauci tidak bisa Anda terapkan, dan Anda tidak boleh menunggu uji coba kontrol tersamar ganda untuk bereksperimen dengan obat-obatan tanpa label yang diklaim dokter Spanyol dan China dapat membantu pasien.

Logika yang sama berlaku untuk semua pembuat kebijakan, kepada semua pembuat kebijakan tidak akan pernah ada satu cetak biru yang memberitahu Anda bagaimana dan kapan harus membuka kembali kota atau komunitas. Setiap satu pembukaan kembali akan menjadi sebuah eksperimen uniknya sendiri, dengan variabel-variabel penentu seperti iklim, kepadatan, usia, dan genetika yang hampir mustahil untuk dimodelkan, dan saran dari para epidemiolog tidak akan lagi berarti. Gubernur dan walikota harus bertindak seperti ilmuwan sendiri, bertindak dan bertindak kembali, beradaptasi dan bereksperimen, dengan penasihat ahli di sisi mereka meski tidak ada jawaban pasti sampai percobaan dimulai.

Dan logika yang sama juga berlaku untuk individu. Kebanyakan orang Amerika yang terkena virus korona, pada saat ini, bahkan tidak akan mendapatkan tes, apalagi perawatan medis atau pengawasan. Bahkan orang-orang yang mendapatkan tes akan memiliki alasan kuat untuk meragukan hasil negatifnya. Yang berarti bahwa mereka harus membuat keputusan penting yang tak terhitung jumlahnya—tentang apa yang harus ditanyakan kepada dokter mereka, situs web medis apa yang bisa dipercaya, bagaimana cara merawat pasangan, anak-anak, atau orang tua mereka, apakah harus pergi bekerja, dan kapan harus kembali bekerja—dalam konteks ini di mana satu-satunya ukuran sampel yang relevan adalah satu, diri mereka sendiri, dan di mana tidak ada saran yang dapat dianggap pasti secara medis.

Sebagai masyarakat, perjuangan kita melawan virus korona menyerupai pengalaman orang sakit yang menderita penyakit yang tidak diketahui dan atau disalahpahami oleh ilmu kedokteran. Sebelum jatuh sakit, orang ini membayangkan dunia sains sebagai ruangan yang stabil, dibangun dengan baik dan cukup penerangan, dengan lantai kokoh di bawahnya. Namun sekarang ubin lantai telah terlepas, pasien telah jatuh, dan di ruang bawah tanah gelap gulita, memunculkan bentuk-bentuk aneh, hal-hal yang mungkin dapat Anda rasakan tetapi tidak memungkinkan Anda melihatnya.

Masih ada beberapa cahaya yang datang dari atas, dari dunia kepastian, dunia para ahli yang penting untuk dimanfaatkan, untuk melihat apa yang bisa dilihat dalam cahaya. Tetapi lubang cahaya itu tidak memenuhi seluruh ruang bawah tanah, dan apa yang mereka lakukan bisa menjadi parsial dan menyesatkan. Jadi jika Anda ingin menemukan jalan keluar dan mencapai kesehatan dan keselamatan, Anda harus siap untuk meraba-raba, tersandung, membuat cahaya sendiri, dan kadang-kadang bergerak dengan perasaan atau naluri untuk menerobos kegelapan.

____________________________

*Artikel ini adalah terjemahan dari tulisan Ross Douthat di The New York Times berjudul “In the Fog of Coronavirus, There Are No Experts”, 7 April 2020

**sumber gambar: videohive.net

Tiga Cara Sains Membimbing Kita Melewati Pandemi Covid-19

0
virus korona

Per 6 April 2020, lebih dari 1,3 juta orang di seluruh dunia telah dinyatakan positif Covid-29, dengan lebih dari 74.000 orang meninggal dunia. Angka tersebut terus bertambah pada tingkat yang mengkhawatirkan, dengan lebih dari 70.000 kasus baru dan 5.000 kematian baru per hari. Meskipun demikian, terdapat titik terang yang tetap kokoh: kekuatan pengetahuan ilmiah kita yang akan membimbing kita melewati masa-masa sulit ini.

Kita tidak lagi hidup di zaman saat kita bersandar pada prasangka atau takhayul untuk memahami apa yang sedang terjadi. Kita tahu apa itu virus korona baru Covid-19. Kita tahu bagaimana virus ini menyebar melalui populasi manusia. Kita tahu cara melawannya, cara mengobatinya, dan cara meminimalisir angka kematian yang disebabkan olehnya. Bukan hanya perkara mendengarkan apa yang diwartakan oleh sains pada kita tentangnya, tetapi soal memahami 3 cara dunia saintifik yang telah memungkinkan manusia memiliki respons terbaik terhadapnya.

Scientists working on antiviral drugs, such as illustrated here, are only able to do so because of... [+] the enormous successes of fundamental scientific research and curiosity-driven research conducted beforehand in fields that underpin what's medically possible today.
Eksperimen pencarian obat antivirus, seperti digambarkan di sini, hanya mungkin dilakukan karena keberhasilan besar penelitian ilmiah fundamental dan penelitian yang didorong oleh rasa ingin tahu yang dilakukan sebelumnya di bidang yang mendukung apa yang mungkin secara medis saat ini.

(1) Perbatasan Modern

Hanya dalam beberapa minggu sejak kasus pertama dilaporkan, para ilmuwan tidak hanya telah mengidentifikasi virus mikroskopis yang bertanggung jawab atas penyakit ini, tetapi juga telah mengurutkan DNA-nya. Saat kasus baru mencapai angka ratusan, para ilmuwan telah memahami bagaimana virus ini ditularkan dari orang ke orang, dan telah mengkalkulasi seberapa menular penyakit ini sebenarnya.

Dan ketika baru beberapa lusin pertama orang yang meninggal karena penyakit ini, para ilmuwan dan tenaga medis profesional yang berada di garis depan telah menerbitkan laporan yang merinci pelbagai tahapan penyakit, dari yang tanpa gejala dan menular hingga ke pelbagai gejala dan komplikasi yang muncul dalam kasus yang paling parah. Ketika Januari telah usai, kita telah mengetahui “cara terbaik”—sebagai masyarakat kolektif—untuk meminimalisir kematian dan persebaran Covid-19.

The SARS virus (orange) has a crown-like structure, meaning that its part of the coronavirus family... [+] of diseases. The new virus, COVID-19, is another example of a coronavirus, and is currently the largest, most lethal new epidemic to hit planet Earth in more than a decade.
Virus SARS (oranye) memiliki struktur seperti mahkota, yang berarti bagian dari keluarga penyakit coronavirus. Virus baru, COVID-19, adalah contoh lain dari coronavirus, dan saat ini merupakan epidemi baru terbesar dan paling mematikan yang menghantam planet Bumi dalam lebih dari satu dekade.

Meskipun rekomendasi-rekomendasi tersebut tidak begitu dihiraukan, pengetahuan ilmiah dan medis kita terus menolong kita dalam melawan pandemi global yang sedang terjadi ini. Pemberian obat untuk Covid-19 telah berada dalam tahap percobaan, dengan pelbagai uji klinis yang sedang berlangsung dan sejumlah calon vaksin yang sedang dalam tahap pengembangan. Riset tentang terapi darah, termasuk plasma dari para pasien yang sembuh dari Covid-19, memberikan harapan untuk pengobatan dan kemungkinan penyembuhan.

Institusi medis, industri kesehatan, dan ratusan ribu sumber daya profesional sedang memaksimalkan pengetahuan dan sumber daya mereka untuk melawan pandemi global ini. Walau tak seorang pun bisa memprediksi cara mana yang akan terbukti paling berhasil paling awal, kita semua dapat berperan dengan mendengarkan dan menghormati saran dari para profesional yang memiliki pengetahuan yang diperlukan.

Kita semua harus tinggal di rumah saja jika urusan kita tidak begitu penting: yaitu, bukan penyedia makanan, penampungan, dan kebutuhan medis. Ketika kita harus keluar rumah, kita harus pastikan bahwa kita bersih, tidak melakukan kontak dekat dengan orang lain, keluar hanya jarak dekat dari rumah kita, dan tidak menyentuh muka kita.

Kita harus membasuh dengan sabun dan air dan atau hand sanitizer apabila kita menyentuh permukaan benda-benda (seperti gagang pintu, tas, wadah telur, dan lain sebagainya) yang telah disentuh oleh orang lain. Dan kita harus melakukan semua ini secara bersama-sama dengan penuh kerelaan. Inilah cara paling aman dan efektif untuk mengurangi dan memperlambat penyebaran Covid-19. Tetapi semua rekomendasi yang bermutu ini, dan semua riset yang canggih ini, hanya mungkin karena sains yang datang sebelumnya.

(2) Rasa ingin tahu sebagai fondasi

Pada hakikatnya, terdapat nilai untuk mengetahui sesuatu tentang segala aspek alam semesta. Kita tidak bisa mengetahui kapan suatu pengetahuan akan berguna dalam bidang aplikasi saintifik ataupun medis, tetapi semakin komprehensif kita mempelajari dunia, maka semakin baik kita ketika sedang mencari solusi atas persoalan yang tak terduga yang terjadi di masa depan.

Sehubungan dengan Covid-19, kita telah melihat hasil dari penelitian yang didorong oleh rasa ingin tahu (curiosity-driven). Riset tentang dinamika populasi kelelawar menghantarkan pada pemahaman tentang penularan penyakit dari strain penyakit hewan-ke-manusia, termasuk Covid-19. Proyek Genom Manusia (Human Genome Project), yang dimulai pada 1990 sebagai ikhtiar murni saintifik, menghantarkan pada pengurutan DNA secara luas sehingga memungkinkan kita untuk menentukan secara cepat bagaimana Covid-19 berevolusi dengan maksud untuk imunitas jangka panjang terhadapnya.

Mitochondria, which are some of the specialized organelles found inside eukaryotic cells, are... [+] themselves reminiscent of prokaryotic organisms. They even have their own DNA (in black dots), cluster together at discrete focus points. With many independent components, a eukaryotic cell can thrive under a variety of conditions that their simpler, prokaryotic counterparts cannot. But there are drawbacks to increased complexity, too.
Mitokondria, yang merupakan beberapa organel khusus yang ditemukan di dalam sel eukariotik, mengingatkan pada organisme prokariotik. Mereka bahkan memiliki DNA mereka sendiri (dalam titik-titik hitam), berkumpul bersama pada titik fokus yang terpisah. Dengan banyaknya komponen independen, sel eukariotik dapat tumbuh subur di bawah berbagai kondisi yang tidak dimiliki oleh rekan-rekan prokariotiknya yang lebih sederhana. Tetapi ada juga kelemahan untuk peningkatan kompleksitas.

Struktur sosial antropologis dari kultur yang berbeda dan observasi para psikolog perilaku (behavioural) tentang isolasi dan bentuk-bentuk interaksi saat ini sangatlah penting untuk memahami bagaimana orang-orang merespons langkah-langkah berat yang perlu kita ambil untuk melindungi diri kita sendiri dan orang lain.

Permodelan matematis dari pelbagai fungsi, beserta epidemiologi penyebaran penyakit dan psikologi sosial tentang perilaku manusia, merupakan fondasi yang penting yang memungkinkan lahirnya rekomendasi terbaik untuk tindakan-tindakan yang harus kita ambil hari ini.

Dan ilmu imunologi, yang dibangun pada beberapa abad lalu dengan mempelajari respons imun manusia terhadap pelbagai patogen—beserta pemahaman tentang dunia mikroskopis di mana konflik akut antara tubuh kita dan virus berlangsung—bersandar pada sebagian besar riset dasar yang manfaatnya di era modern tidak terbayangkan ketika penelitian tersebut pertama kali dilakukan.

Riset yang didorong oleh rasa ingin tahu dari para ahli virologi evolusioner, ahli ekologi penyakit, ahli biofisika, dan ilmuwan di banyak bidang penelitian lainnya tidak hanya memberi informasi pada dokter dan pembuat kebijakan, tetapi juga pada setiap bagian penelitian termutakhir yang berada di perbatasan saat ini. Faktanya adalah bahwa terdapat alam semesta di luar sana yang dapat dipelajari, dan pelajaran yang diperoleh dari penyelidikan terhadap satu aspek realitas seringkali memiliki aplikasi turunannya yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Tetapi kita tentu tidak tahu terhadap aplikasi turunan tersebut jika kita sejak awal tidak pernah melakukan riset-riset dasar. Kemajuan mutakhir yang kita perjuangkan hari ini dibangun di atas tulang punggung riset lintas disiplin yang digerakkan oleh rasa ingin tahu. Namun, terdapat sesuatu yang lebih mendasar yang memungkinkan atau membatasi apa yang mungkin: sains paling dasar.

(3) Sains Dasar

Inilah pengetahuan yang paling berpengaruh dalam semua sains: batas mendasar dari apa yang secara fisik mungkin. Para ilmuwan terus bekerja untuk menekan batas-batas dari apa yang diketahui, termasuk:

  • di perbatasan energi tingkat tinggi (high-energy), para ilmuwan sedang mencari jenis dan sifat materi dan energi yang baru,
  • di perbatasan suhu rendah (low-temperature), para ilmuwan sedang mencari fenomena fisik yang mungkin mendekati nol mutlak,
  • di perbatasan kehidupan yang berbasis pada unsur kimiawi (chemical-based life), para ilmuwan sedang mencari pelbagai cara supaya proses biokimia dapat berkembang dan memiliki peranan penting,
  • atau bahkan di perbatasan astrofisika, di mana rahasia baru tentang Alam Semesta dan keadaan ekstrim materi kerapkali ditemukan untuk pertama kalinya.

Dalam masa krisis, batas-batas penyelidikan tersebut seringkali diperlakukan sebagai sesuatu yang “sekali pakai”, tetapi membuangnya akan secara fundamental membatasi segala hal yang telah kita bangun di atasnya.

Bayangkan, kita sedang mencoba untuk menyingkap struktur molekuler atau urutan DNA dari patogen yang menular jika kita tidak memiliki teori atom sebagai fondasi kita.

Bayangkan, kita sedang berusaha menerapkan terapi neutron pada pasien kanker tanpa pemahaman yang berasal dari fisikawan tentang partikel berenergi tinggi.

Bayangkan, kita menggunakan Sinar-X (X-Ray) sebagai alat diagnosa, atau sebagai pemindai mikroskop elektron, tanpa pengetahuan tentang sifat gelombang-partikel dari fisika kuantum.

Inovasi-inovasi tersebut tidak hanya tidak mungkin ada tanpa adanya pengetahuan dasar tentang dunia, tetapi inovasi tersebut tidak dapat terbayangkan dari sudut pandang saintifik. Banyak intervensi medis yang paling berpengaruh hari ini berakar pada penemuan dasar yang ditemukan di tapal perbatasan dunia fisik, dari MRI hingga pemindai tomografi emisi positron (positron emission tomography, PET) hingga radioimmunoassay dan banyak lagi yang lainnya.

An fMRI of a human brain can show which areas of the brain are active at a given time, under... [+] different stimuli, or when thinking about different things. Although the reliability and the quality of this data, plus the interpretation of what that data means, is under heavy scrutiny, there are many uses of an MRI machine with undoubted medical benefits.
Sebuah fMRI otak manusia dapat menunjukkan area otak mana yang aktif pada waktu tertentu, di bawah rangsangan yang berbeda, atau ketika memikirkan hal-hal yang berbeda. Meskipun keandalan dan kualitas data ini, ditambah interpretasi dari arti data itu, masih dalam pengawasan ketat, ada banyak kegunaan mesin MRI dengan manfaat medis yang tidak diragukan lagi.

Jika kita ingin memiliki alat yang canggih untuk mengalahkan pelbagai tantangan yang dihadapi manusia tidak hanya hari ini, tetapi 50 sampai 100 tahun ke depan, saat ini adalah waktu yang tepat untuk menggandakan usaha kita. Investasi saintifik perlu dilakukan tidak hanya pada garis depan untuk menghadapi krisis saat ini, tetapi pada perbatasan yang luas yang didorong oleh rasa ingin tahu, termasuk pada tingkatan pengetahuan dasar. Hasilnya hanya akan datang dengan mendapatkan pengetahuan tersebut, yang tidak akan diperoleh dengan cara lain.

Virus korona baru COVID-19 memiliki dampak yang sangat besar terhadap dunia kita saat ini, meskipun demikian, respons kita dapat menunjukkan seberapa jauh kita telah mencapai sebuah peradaban. Seluruh Alam Semesta mengikuti aturan saintifik yang sama, dan semakin baik (dan lebih mendasar/fundamental) kita mempelajarinya, semakin siap kita menghadapi tantangan yang datang kepada kita. Investasi yang kita lakukan hari ini akan membawa kita pada pengetahuan esok hari, dan sebagai imbalannya, alat-alat dan teknik-teknik masa depan yang akan menghantarkan kita ke dunia yang lebih baik untuk semua manusia.

_______________________

*Artikel ini diterjemahkan dari tulisan Ethan Siegel berjudulThe 3 Ways Science Will Get Us Through The COVID-19 Pandemicyang terbit di Forbes.com pada 7 April 2020. Ethan Siegel adalah seorang Ph.D. yang ahli antrofisika, penulis dan komunikator sains. Dua bukunya yang telah terbit berjudul Treknology: The Science of Star Trek from Tricorders to Warp Drive dan Beyond the Galaxy: How humanity looked beyond our Milky Way and discovered the entire Universe.              

Akhir dari Virus Korona

0
akhir korona

Tiga bulan lalu, tidak ada yang tahu soal keberadaan SARS-CoV-2. Namun kini virus tersebut telah menyebar luas hampir ke seluruh penjuru negeri, dan telah menginfeksi setidaknya 446.000 orang yang mungkin sebagian kita kenal dan sebagiannya lagi tidak kita kenal. Kejadian tersebut tentunya menciderai sektor ekonomi dan sistem pelayanan kesehatan, serta membuat berbagai rumah sakit penuh dan tempat umum menjadi sepi. Kejadian itu juga memaksa memisahkan orang-orang dari lingkungan kerja dan lingkar perkawananannya. Ia telah mengacaukan kehidupan masyarakat modern dalam skal yang belum pernah disaksikan oleh kebanyakan orang yang hidup saat ini. Sebentar lagi, hampir semua orang di Amerika akan tahu siapa saja yang terinfeksi. Persis seperti Perang Dunia Kedua atau serangan 9/11, pandemi ini telah membekas pada jiwa orang-orang Amerika.

Pandemi global setingkat ini takterhindarkan. Beberapa tahun belakangan, ratusan ahli kesehatan telah menulis buku, laporan penelitian, dan opini koran atau majalah (op-eds) yang memperingatkan kemungkinkan terjadinya kejadian semacam ini. Bill Gates telah menyuarakannya secara luas, termasuk ke 18 juta pemirsanya di TED Talk[M1] . Sementara di tahun 2018, saya telah menuliskan sebuah cerita di The Atlantic yang menyatakan bahwa Amerika tidak siap dengan pandemi yang mungkin terjadi di masa mendatang. Tepat di bulan Oktober, Pusat Ketahanan Kesehatan Johns Hopkins mengadakan permainan pikiran dan berandai-andai dengan tawaran skenario bila sewaktu-waktu virus korona baru menyebar ke seluruh penjuru negeri. Lucunya itu benar terjadi. Tadinya hanya sekadar perandaian kini menjadi kenyataan. Pernyataan “Bagaimana jika?” sudah menjadi “Sekarang bagaimana?”.

Jadi, sekarang bagaimana? Di penghujung hari Rabu kemarin, yang seakan-akan terasa sudah lama terjadi, saya sempat berbincang tentang pandemi ini dengan seorang teman yang sedang hamil dan akan melahirkan beberapa hari lagi. Kami menyadari bahwa anaknya akan menjadi salah satu orang pertama dari sebuah generasi baru yang terlahir di kehidupan masyarakat yang telah banyak berubah karena COVID-19. Kami putuskan untuk menyebutnya sebagai Generasi C.

Kelak kita akan melihat, kehidupan Generasi C ini akan ditentukan oleh keputusan yang diambil dalam beberapa pekan mendatang, dan juga oleh dampak penderitaan yang mungkin kita lalui. Namun sebelum itu, penjelasan singkat. Berdasarkan Indeks Ketahanan Kesehatan Global, sebuah laporan yang menilai tiap negara berdasarkan kesiapan (dan penaggulangan) dalam menangani pandemi, Amerika Serikat mendapat angka 83,5—atau tertinggi di dunia. Amerika yang makmur, adidaya, dan maju sudah semestinya menjadi negara yang paling siap. Akan tetapi, khayalan itu harus pupus. Meski berbulan-bulan sebelumnya telah mendapat peringatan tentang penyebaran virus di negara lain, ketika Amerika dihantam langsung oleh COVID-19, ia pun harus bertekuk lutut.

“Mau bagaimana pun, virus (termasuk SARS-CoV-2) akan selalu menguji kesiapan dan ketahanan bahkan pada sistem kesehatan yang dapat dibilang begitu baik,” ucap Nahid Bhadelia, seorang ahli penyakit menular dari Fakultas Kesehatan Universitas Boston. Lebih mudah menular dan berbahaya dari flu musiman, virus korona baru ini juga cukup pandai bersembunyi, menjangkit dari satu inang ke inang lainnya selama beberapa hari sebelum memperlihatkan gejala yang jelas tampak. Agar dapat mengunci patogen semacam itu, sebuah negara harus mampu mengembangkan alat uji dan mempergunakannya untuk memilah mereka yang terjangkit, mengisolasinya, dan melacak yang memiliki kontak fisik dengannya. Itu langkah yang dilakukan oleh Korea Selatan, Singapura, dan Hong Kong yang menghasilkan efek baik yang luar biasa. Tentu saja itu bukan langkah yang dilakukan oleh Amerika Serikat.

Seperti yang dilaporkan teman saya Alexis Madrigal dan Robinson Meyer, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit telah mengembangkan dan membagikan alat uji di bulan Februari. Beberapa lab mandiri juga menciptakan solusi alternatif, tapi tentu saja terganjal oleh birokrasi FDA. Di bulan genting saat melonjaknya angka kasus di Amerika telah mencapai puluhan ribu, hanya beberapa ratus orang saja yang mendapatkan pengujian. Bahkan metode pengobatan terdepan sekelas Amerika bisa gagal dalam menciptakan alat diagnosa sederhana, itu sesuatu yang tidak pernah terbayangkan tentunya. “Saya tidak tahu simulasi yang telah saya atau orang lain lakukan dianggap pengujian yang gagal,” ucap Alexandra Phelan dari Universitas Georgetown, yang bekerja di bagian legal dan kebijakan terkait penyakit menular.

Kegagalan uji tersebut merupakan dosa awal dari kegagalan Amerika menangani pandemi, satu kesalahan yang berujung pada kacaunya upaya penanganan lanjutan. Bila negara mampu akurat melacak sebaran virus tersebut, berbagai rumah sakit pun akan mampu menjalankan penanganan pandemi dengan baik, seperti memusatkan pada alokasi ruang perawatan, memesan bekal suplai tambahan, menambah personel kerja, atau bahkan membuat bagian khusus yang menangani kasus COVID-19. Tapi kenyataannya tidak. Malah, sistem pelayanan kesehatan yang sudah hampir penuh, dan bahkan yang sebelumnya sudah sibuk menangani flu musiman, tiba-tiba dihadapkan pada virus yang menyebar dan menjangkit, tidak terdeteksi, ke seluruh elemen masyarakat. Akhirnya pun rumah sakit tidak bisa berbuat banyak. Alat keamanan pendukung, seperti masker, baju pelindung, dan sarung tangan mulai habis. Diikuti dengan tempat tidur yang akan penuh, dan juga ventilator yang semestinya dapat menyediakan suplai oksigen pada pasien yang paru-parunya telah dilanda hebat oleh virus tersebut.

Dengan sedikitnya ruangan yang bertambah di saat genting, sistem pelayanan kesahatan Amerika berjalan dengan asumsi negara bagian yang tidak terdampak dapat membantu yang terdampak bila dibutuhkan. Etika semacam itu tentu berfungsi untuk penanganan bencana lokal seperti badai atau pun kebakaran hutan, namun tidak semudah itu dengan pandemi yang kini telah menyebar di semua 50 negara bagian. Kerjasama membangun sebuah kompetisi; sebagian rumah sakit yang khawatir akhirnya membeli suplai dalam jumlah besar, seperti halnya masyarakat yang panik dan membeli tisu toilet dalam jumlah besar.

Terlebih dengan Gedung Putih yang kini sepi dengan ahli sains. Kantor persiapan (dan penanggulangan) pandemi yang sebelumnya bagian dari Dewan Keamanan Nasional, dibubarkan di tahun 2018. Tepat pada 28 Januari, Luciana Borio, yang merupakan bagian dari anggota kantor tersebut, mendesak pemerintah untuk “segera bertindak untuk mencegah epidemi di Amerika,” dan khususnya menjalin kerjasama dengan sektor swasta untuk dapat mengembangkan dengan cepat alat tes awal sederhana. Namun dengan ditutupnya kantor tersebut, akhirnya peringatan tersebut diterbitkan di Jurnal The Wall Street, ketimbang dibisikkan langsung di telinga presiden. Dengan pemberitahuan semacam itu, bukannya bertindak, (pemerintah) Amerika justru memilih tidak menggubris.

Tanpa kemudi, tidak berarah, lamban, dan tidak terkoordinasi dengan baik, Amerika telah keliru dalam menangani krisis COVID-19 menuju ke arah yang lebih buruk dari apa yang dikhawatirkan oleh ahli kesehatan. “Sangat buruk,” ucap Ron Klain, koordinator respon Amerika Serikat terhadap wabah penjangkitan ebola di Afrika barat di tahun 2014. “Melebihi bayangan yang kita duga,” ucap Lauren Sauer, yang bekerja di bagian persiapan (dan penanggulangan) bencana di Kedokteran Johns Hopkins. “Sebagai bagian dari masyarakat Amerika, saya gelisah,” ucap Seth Berkley, yang mengetuai Gavi, Aliansi Vaksin. “Amerika Serikat mungkin akan berakhir menjadi tempat merebaknya wabah terburuk di dunia yang terindustrialisasi”.

1. Bulan ke Depan

Setelah terperosok ke bekalang, akan sangat sulit—namun bukan mustahil—bagi Amerika Serikat untuk mengejar ketertinggalan. Bahkan, kini mulai terpahami rangkaian rencana ke depannya karena diketahui (penyakit) COVID-19 ini (proses berkembangnya) lamban dan menjadi penyakit untuk waktu yang lama. Mereka yang terinfeksi beberapa hari lalu akan mulai menunjukan gejala sekarang, walau mereka telah mengisolasi diri. Beberapa orang lainnya akan masuk ke bagian rawat intensif di awal April. Sampai akhir minggu ini, Amerika Serikat telah mengonfirmasi adanya 17.000 kasus, namun kemungkinan angka tepatnya ada di antara 60.000 sampai 245.000. Kenaikan jumlah angka mulai melonjak: sampai Rabu pagi, jumlah angka kasus resmi mencapai 54.000, dan kemungkinan angka tepatnya belum bisa diketahui. Para pelayan kesehatan mulai merasakan tanda-tanda mengkhawatirkan: peralatan yang menipis, lonjakan angka pasien, dan dokter serta perawat yang mulai ikut terjangkit.

Italia dan Spanyol telah terlebih dahulu memperlihatkan peringatan keras dampak ancaman ke depannya. Banyak rumah sakit kehabisan ruangan siap pakai, suplai, dan personel. Ketidakmampuan melayani atau menangani setiap orang, memaksa para dokter untuk melakukan hal yang tidak pernah terpikirkan: yakni memberikan perawatan pada pasien yang kemungkinan bertahannya tinggi, dan membiarkan sebagian pasien lainnya untuk mati. Tentu saja, Amerika Serikat memiliki jatah kasur pasien lebih sedikit per kapita dari Itali. Hasil penelitian yang diterbitkan oleh tim dari Kampus Imperial London menyimpulkan bahwa bila pandemi tetap dibiarkan (tidak tertangani), jatah kasur-kasur tersebut akan habis di penghujung April. Sementara di penghujung Juni, diperkirakan setiap kasur khusus yang diperuntukkan untuk kasus genting, hanya mampu menyediakan satu dari per lima belas pasien COVID-19 yang ada. Kemudian di akhir musim panas, pandemi tersebut diperkirakan akan membunuh sekitar 2,2 juta masyarakat Amerika, tidak termasuk mereka yang mati karena rumah sakit tidak mampu menangani kasus lainnya (di luar COVID-19) seperti serangan jantung, struk, dan kecelakaan. Seperti itulah skenario risiko kasus terburuknya. Untuk dapat mencegahnya, diperlukan empat langkah yang harus segera dilakukan.

Pertama dan yang paling penting adalah memproduksi masker, sarung tangan, dan alat pelindung personel lainnya secara cepat. Bila para pelayan kesehatan sakit, semua upaya penanganan berikutnya akan pupus. Sementara di beberapa tempat, persediaan telah menipis dan para dokter telah menggunakan kembali masker pada pasien, meminta donasi dari masyarakat, bahkan menjahit alat pelindung diri alternatif secara swadaya. Kelangkaan ini terjadi karena suplai medis kita hanya dibuat berdasar pesanan dan bergantung pada suplai internasional dari bisantin yang saat ini tengah berkurang dan mulai menurun. Provinsi Hubei di Cina, yang merupakan episentrum dari pandemi ini, juga merupakan pabrik pusat dari produksi masker kesehatan.

Di Amerika Serikat, Pasokan Strategis Nasional—termasuk penyimpanan nasional alat medis—telah disebar, khususnya di bagian negara yang paling terdampak. Jumlah pasokan tersebut tentu terbatas, namun setidaknya bisa mengulur waktu. Donald Trump seharusnya dapat menggunakan waktu tersebut untuk menjalankan Undang-undang Produksi Pertahanan, upaya (memberikan perintah dan) mengubah hasil produksi pabrik di Amerika menjadi alat kesehatan. Namun setelah memerintahkan undang-undang tersebut Rabu lalu, Trump gagal untuk menggunakannya, diketahui akibat dari lobi (politik) Menteri Dagang Amerika Serikat dan kepala perusahaan besar berpengaruh.

Sebagian pabrik telah melakukan sesuai semestinya, namun usaha mereka tetap tidak mampu mengejar dan bahkan (hasilnya) tersebar tidak merata. “Suatu hari, kita akan terbangun melihat kisah seorang dokter di kota X yang melakukan operasi dengan kain lap, dan kloset di kota Y dipenuhi oleh timbunan bekas masker,” ucap Ali Khan, wakil dari bagian Kesehatan Masyarakat di Pusat Kesehatan Universitas Nebraska. “Bantuan logistik dan suplai dalam jumlah banyak sekarang sangat diperlukan di semua negara bagian,” ucap Thomas Inglesby dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg. Hal tersebut tentu tidak dapat ditangani oleh tim kecil yang kurang berpengalaman seperti yang ada di Gedung Putih. Solusinya adalah, ungkap Inglesby, bekerja sama dengan Agensi Pertahanan Logistik—grup beranggotakan 26,000 orang yang mempersiapkan kebutuhan militer Amerika Serikat untuk operasi lintas laut dan telah berpengalaman membantu penanganan krisis kesehatan umum, seperti wabah penjangkitan Ebola (di tahun) 2014.

Agensi tersebut juga dapat menanggapi kebutuhan lanjutan: pemberian tes COVID-19 skala besar. Tes tersebut ternyata lamban terjadi karena lima kelangkaan: masker untuk melindungi personel yang mengadministrasi tes; alat swab nasofaring yang digunakan untuk mengambil sampel; alat ekstraksi untuk mengangkat materi genetik virus dari sampel; reagen kimia yang menjadi bagian dari alat tersebut; dan personel berpengalaman yang mampu menjalankan tes tersebut. Kelangkaan tersebut disebabkan, lagi-lagi, karena rantai suplai yang mengendur. Untuk ekstraksi reagen, Amerika Serikat bersandar pada tiga pabrik, yang menyediakan rendudansi bila salah satu di antaranya gagal—namun pada kenyataannya semuanya gagal di hadapan permintaan global yang melonjak tajam. Sementara, Lombardi, di Italia, wilayah paling terdampak di Eropa, merupakan salah satu tempat pabrik terbesar swab nasofaring.

Beberapa kelangkaan tersebut telah direspon. Kini FDA mulai mempercepat perizinan alat tes yang dilakukan oleh berbagai laboratorium swasta. Setidaknya sampai ada alat yang mampu memberikan hasil pasti kurang dari satu jam bagi dokter untuk dapat memastikan mengenai apakah pasien di hadapannya terinfeksi oleh COVID-19 atau tidak. Negara ini tengah “berusaha meningkatkan kapasitasnya setiap hari,” ucap Kelly Wroblewski dari Asosiasi Laboratorium Kesehatan Masyarakat.

Pada tanggal 6 Maret, Trump mengumumkan bahwa “siapa pun yang ingin dites dapat dites”. Nyatanya hal tersebut (dan masih) belum terbukti, dan juru bicara resmi segera memberikan pernyataan revisi perihal itu. Meski begitu, masyarakat yang panik telah berkerumun di berbagai rumah sakit, ingin melakukan tes yang sebenarnya tidak ada. “Orang-orang ingin dites meski mereka tidak menunjukkan gejala, atau bahkan mereka yang telah duduk bersebelahan dengan seseorang yang berbatuk,” ucap Popescu dari Universitas George Mason, yang bertugas menyiapkan rumah sakit untuk pandemi. Beberapa mungkin hanya terkena flu biasa, namun dokter tetap harus menggunakan masker untuk memeriksa, tentu kian mendorong pemakaian suplai yang terbatas. “Keadaan tersebut sungguh memusingkan sistem pelayanan kesehatan,” lanjut Popescu. Bahkan kini, dengan bertambahnya kapasitas, tes yang akan dilakukan mesti harus lebih selektif. Prioritas pertama, ungkap March Lipsitch dari Harvard, ditujukan pada personel pelayanan kesehatan dan pasien rawat inap, sehingga rumah sakit dapat segera memadamkan (mencegah) nyala api yang terjadi. Hanya kemudian, saat masa genting mereda, tes dapat dilakukan meluas. “Jadi bukan hanya sekadar: Ayo kita ikut tes!” ucap Inglesby.

Keadaan seperti itu tentu butuh waktu, bergantung pada bagaimana pandemi entah melonjak tajam melampaui kapasitas sistem kesehatan atau justru masih perlahan pada batas wajar. Tentu saja—dan termasuk nasib negara—kini ditentukan oleh langkah ketiga, yakni pemberian jarak sosial. Perandaiannya seperti ini: kini hanya ada dua kelompok orang Amerika. Kelompok A adalah semua personel kesehatan, baik yang merawat pasien, menjalankan tes, maupun yang memproduksi suplai. Kelompok B adalah semua elemen kecuali yang tergolong pada kelompok sebelumnya, dan tugas mereka adalah memberi waktu untuk kelompok A lebih lama. Kelompok B kini harus mampu “menekan laju kurva” dengan mengisolasikan diri secara fisik dari orang lain guna memutus rantai kontak penyebaran. Memberi jarak waktu penjangkitan COVID-19, guna mencegah gagalnya daya tampung pada sistem pelayanan kesehatan, justru terlihat sebagai langkah yang harus segera dilakukan, sebelum sampai benar-benar stabil, dan hal itu harus berjalan selama beberapa pekan.

Mendesak masyarakat untuk sukarela berdiam di rumah saja tentu tidaklah mudah, dan tanpa adanya petunjuk yang jelas dari Gedung Putih, maka para walikota, gubernur, serta pemilik bisnis telah terpaksa mengambil langkah mandiri. Bahkan beberapa negara bagian melarang perkumpulan dalam skala besar serta menutup sekolah dan restoran. Setidaknya kini 21 negara bagian telah menjalankan program karantina, memaksa rakyatnya untuk tetap di rumah saja. Meski begitu masih banyak saja masyarakat yang tetap berkumpul di tempat umum.

Di masa seperti ini, saat kebaikan utama membutuhkan banyak pengorbanan, arahan yang jelas sangat diperlukan—khususnya langkah keempat yang diperlukan. Perihal pentingnya pemberian jarak sosial harus diberitahukan dan diyakinkan kepada masyarakat luas. Namun kenyataannya, Trump kian memperparah keadaan, dengan mengatakan Amerika “telah mampu menanganinya” yang tentu saja tidak benar, dan perihal kasus “yang beranjak turun menuju nol” yang tentu saja semakin melonjak naik. Di beberapa kasus, klaimnya atas proses tes yang dilakukan di berbagai tempat, kian memperparah krisis yang terjadi. Bahkan ia turut serta mendorong praktik pengobatan yang belum terbukti jelas.

Jauh dari ruang pers Gedung Putih, Trump tampaknya sering mendengar masukan Anthony Fauci, dari direktur Intitusi Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular. Fauci telah melaksanakan tugasnya memberikan saran pada setiap presiden sejak Ronald Reagan tentang epidemi baru yang terjadi, dan kini ia berada dalam regu khusus yang menangani COVID-19 yang tentu saja bertemu dengan Trump hampir setiap harinya. “Dia (Trump) punya gayanya sendiri, jadi percayakan saja,” ucap Fauci kepada saya, “tapi berbagai rekomendasi yang telah saya berikan sejauh ini, intinya, dia telah mendengar semuanya”.

Namun kini Trump terlihat ragu. Akhir-akhir ini, ia seolah memberi sinyal bila ia siap untuk menghentikan kebijakan pemberian jarak sosial demi melindungi sektor ekonomi. Para pakar dan pemimpin bisnis pun turut menggunakan retorika serupa, menyatakan bahwa orang yang rentan seperti lansia, harus dilindungi sementara orang yang tidak rentan diperbolehkan untuk tetap bekerja. Pemikiran semacam itu tentu menggiurkan, namun bisa jadi berbahaya. Pilihan semacam itu terlalu mengentengkan kemampuan kita dalam memahami risiko setiap orang, dan seolah-olah mengisolasi orang kelompok rentan dari kehidupan bermasyarakat. Bahkan menganggap remeh risiko dampak yang diberikan oleh virus pada kelompok di luar kategori rentan, dan akhirnya banyak rumah sakit mungkin kerepotan walau secara demografi hanya yang muda yang jatuh sakit.

Hasil analisis terbaru dari Universitas Pennsylvania memperkirakan bahwa walau pemberian jarak sosial dapat menekan angka pejangkitan sampai 95 persen, 960.000 masyarakat Amerika tetap masih membutuhkan perawatan intensif. Sementara hanya ada 180.000 ventilator di Amerika Serikat, terlebih, dokter paru dan personel rawat kritis yang ada hanya mencukupi untuk 100.000 pasien berventilasi. Namun mengabaikan pemberian jarak sosial adalah pilihan yang bodoh. Mengabaikannya sekarang, dengan keadaan alat uji dan alat pelindung yang minim, hanya akan berakhir sebagai bencana.

Bila Trump kembali pada (kebijakan serta putusan) seharusnya, bila masyarakat Amerika mematuhi pemberian jarak sosial, bila pengujian dapat dilakukan secara luas, dan bila saja masker dapat diproduksi masal, akan ada harapan untuk negara ini menghindari perkiraan risiko kasus terburuk dari COVID-19, dan setidaknya untuk sementara waktu bisa membuat pandemi yang terjadi dalam kontrol. Tidak ada yang tahu berapa lama (pandemi) ini terjadi, namun yang jelas tidaklah singkat. “Mungkin bisa sampai empat atau enam minggu bahkan bisa sampai lebih dari tiga bulan,” ucap Fauci, “namun saya sendiri tidak percaya diri pada perkiraan itu (yang berarti akan lebih lama)”.

2. Babak Akhir

Bahkan respon penanganan yang sempurna tidak akan mengakhiri pandemi. Selama virus tersebut masih ada di suatu tempat, tetap ada kemungkinan pelancong yang terjangkit dapat mematik nyala api di negara yang telah memadamkan kobaran api. Hal semacam ini telah terjadi di Cina, Singapura, dan negara-negara Asia lainnya yang dengan sigap menekan laju persebaran virus tersebut. Berdasarkan kondisi tersebut, terdapat tiga kemungkinan akhir: yang mustahil, yang berbahaya, dan yang berlarut-larut.

Pada (kemungkinan akhir) yang pertama, setiap negara mampu menekan penuh laju persebaran virus, seperti yang terjadi pada SARS di tahun 2003. Namun melihat bagaimana pandemi virus corona ini menyebar, dan seburuk apa penanganan banyak negara, kemungkinan dapat teratasi secara global tampak semakin kecil.

Pada (kemungkinan akhir) kedua, virus tersebut melakukan apa yang telah dilakukan oleh pandemi flu sebelumnya: membakar habis dunia dan meninggalkan mereka yang mengembangkan imun tetap bertahan dan suatu saat (virus tersebut) kesulitan menemukan inang yang layak (dijangkiti). Skenario imunitas kawanan ini adalah yang paling cepat dilakukan, dan sangat menggiurkan. Namun ia datang dengan harga yang mahal: SARS-CoV-2 lebih mudah menyebar dan lebih berbahaya daripada flu, dan hanya akan meninggalkan berjuta-juta mayat dan menjadi sejarah dari sistem kesehatan yang buruk. Inggris sebelumnya sempat untuk mempertimbangkan strategi imunitas kawanan ini, sebelum mereka mengetahui bayaran yang mahal dari hal tersebut. Kini Amerika Serikat pun turut mempertimbangkannya.

Pada (kemungkinan akhir) ketiga, dunia bermain permainan panjang seperti pukul-memukul tikus dengan virus, menekan laju penyebaran virus di semua wilayah sampai vaksin dapat diproduksi. Pilihan ini adalah yang paling baik, namun berlarut-larut dan paling menyulitkan.

Semua serba bergantung, misalnya, seperti pembuatan vaksin. Bila yang terjadi adalah pandemi flu, tentu akan lebih mudah. Kita telah berpengalaman membuat vaksin flu setiap tahunnya. Namun tidak ada vaksin sebelumnya untuk virus korona ini—sampai sekarang, kemungkinan virus ini menyebabkan penyakit terpantau cukup jarang (kecuali kelompok rentan)—sehingga para peneliti harus memulai dari nol. Langkah awal ini terjadi (pada kita) sangat cepat. Senin lalu, kemungkinan vaksin telah dibuat oleh Moderna dan Lembaga Kesehatan Nasional tengah menjalani uji klinis tahap awal. Terhitung hanya berjarak 63 hari sejak para peneliti mengurutkan virus gen tersebut untuk pertama kalinya dan para dokter mulai menyuntikkan kandidat vaksin pada lengan seseorang. “Sungguh sebuah rekor dunia,” ucap Fauci.

Mungkin hal tersebut adalah proses tercepat di antara langkah-langkah lama berikutnya. Uji coba tahap awal hanya sekadar memberitahu peneliti bahwa vaksin tersebut aman, dan kemungkinan ia dapat membantu menggerakkan sistem imun. Peneliti kemudian harus memeriksa kembali apakah ia dapat mencegah penjangkitan dari SARS-CoV-2. Mereka perlu untuk melakukan uji coba pada hewan dan dalam skala besar perlu untuk meyakinkan bahwa vaksin tersebut tidak punya risiko efek samping. Kemudian mereka harus menemukan ukuran dosis yang tepat, seberapa banyak suntikan yang setiap orang butuhkan, apakah vaksin tersebut berfungsi pada lansia, dan apakah bahan kimia lain dapat mempengaruhi proses kerjanya.

“Walau semua itu berhasil, belum bisa dipastikan akan mudah untuk memproduksinya dalam partai yang besar,” ucap Seth Berkley dari Gavi. Semua itu karena Moderna menggunakan pendekatan baru untuk mengembangkan vaksin. Vaksin sebelumnya bekerja dengan memberi tubuh virus yang tidak aktif atau yang terfragmentasi, yang memungkinkan sistem imun untuk mempersiapkan pertahanannya terlebih dahulu. Sebaliknya, vaksin Moderna berisikan potongan materi genetik dari SARS-CoV-2—yakni bagian RNAnya. Asumsinya adalah bahwa tubuh dapat menggunakan potongan tersebut untuk membangun virusnya sendiri, sehingga nantinya akan membentuk dasar dari persiapan sistem imun dalam tubuh. Pendekatan ini befungsi pada hewan, namun belum terbukti pada manusia. Di sisi lain, peneliti Prancis tengah berupaya memodifikasi vaksin campak yang ada dengan bagian dari virus korona yang baru. “Keuntungannya adalah bila ke depannya kita membutuhkan dosis dalam jumlah besar, banyak pabrik di dunia telah mengetahui cara (memproduksinya),” ucap Berkley. Strategi mana pun yang memberi hasil lebih cepat, Berkley dan yang lainnya memperkirakan masih membutuhkan waktu setidaknya 12 sampai 18 bulan untuk mengembangkan vaksin yang telah jelas terbukti, dan tentu masih butuh waktu tersendiri untuk memproduksinya, mengirimnya, dan menyuntikkannya pada lengan seseorang.

Sangat mungkin, virus korona baru ini akan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Amerika sampai satu tahun mendatang, atau bahkan lebih. Bila masa pemberian jarak sosial ini berhasil, pandemi mungkin akan tertekan sampai di titik cukup untuk kembali melakukan rutinitas seperti sebelumnya. Kantor-kantor bisa terpenuhi dan bar kembali ramai. Sekolah-sekolah kembali buka dan perkawanan dapat saling bertemu. Ketika keadaan sebelumnya kembali seperti biasa, begitu juga virus akan kembali (mengancam untuk menjangkit). Namun bukan berarti masyarakat harus tetap berada dalam masa pengurungan sampai tahun 2022. Namun “kita harus bersiap-siap melakukan beberapa periode pemberian jarak sosial,” ucap Stephen Kissler dari Harvard.

Banyak hal mengenai tahun mendatang, seperti frekuensi, durasi, dan waktu perubahan sosial, semua bergantung pada dua sifat dari virus, yang keduanya saat ini belum diketahui pasti. Pertama: musimnya. Virus korona lainnya (selain SARS-CoV-2) cenderung menjadi penjangkitan di musim dingin dan menghilang di musim panas. Pengetahuan ini mungkin juga terbukti pada SARS-CoV-2, namun variasi musim mungkin tidak cukup menahan laju penyebaran virus terutama di saat banyaknya inang (manusia) yang abai terhadap imunologis. “Banyak negara dunia tengah menantikan apakah—tentunya bila ada—musim panas memiliki pengaruh terhadap penjangkitan (virus) di belahan bumi bagian utara,” ucap Maia Majumder dari Sekolah Kesehatan Harvad dan Rumah Sakit Anak Boston.

Kedua: durasi imunitas. Ketika seseorang terjangkit oleh orang yang terinfeksi virus korona gejala ringan seperti flu, mereka akan imun sekurang-kurangnya sampai satu tahun. Sementara, sebagian yang terjangkit oleh virus SARS asli, yang mungkin jauh lebih parah, mereka akan tetap imun lebih lama. Sehingga timbul asumsi bahwa SARS-CoV-2 berada di tengah-tengah, mereka yang berhasil pulih mungkin akan terlindungi setidaknya untuk beberapa tahun mendatang. Untuk memastikan hal tersebut, para peneliti harus terlebih dahulu mengembangkan uji serologi yang akurat, guna mencari antibodi yang menghasilkan imunitas. Mereka juga perlu untuk membuktikan bahwa antibodi tersebut dapat mencegah seseorang dari penjangkitan serta paparan virus. Sehingga, masyarakat yang imun dapat kembali bekerja, menjaga mereka yang rentan, dan menjadi jangkar bagi perekonomian selama pemberian jarak sosial.

Sementara waktu para peneliti dapat menggunakan masa tersebut untuk mengembangkan obat antivirus—walau keberadaan obat semacam itu jarang ada yang benar efektif, dan (hampir biasanya) diikuti dengan efek samping dan ancaman resistensi (terhadap dosis). Rumah sakit pun dapat kembali memasok suplai cadangan. Alat uji dapat disebarluaskan segera sebelum virus kembali menjangkit. Tidak ada alasan lagi Amerika Serikat akan membiarkan SARS-CoV-2 tanpa terdeteksi, dan tidak ada lagi pemberian jarak sosial dilakukan secara luas dan sangat diupayakan keras seperti sekarang ini. Sebagaimana yang baru-baru ini ditulis oleh Aaron E. Carroll dan Ashish Jha, “Kita tetap dapat membuka sekolah dan bisnis seperti biasanya, (dan) menutup sesegera mungkin saat upaya penekanan itu gagal, dan kembali membukanya saat yang terjangkit telah teridentifikasi dan terisolasi. Daripada bermain bertahan, kita dapat bermain lebih menyerang”.

Baik melalui pilihan mengumpulkan sejumlah imunitas kawanan ataupun menanti panjang hadirnya vaksin, virus akan tetap menyebar dan semakin meluas. Akan sangat sulit sepertinya untuk menghilang sepenuhnya. Vaksin mungkin akan perlu untuk terus diperbarui seiring virus yang (terus) beradaptasi, dan masyarkat pun perlu mendapatkan vaksinasi berulang secara teratur, seperti yang sekarang dilakukan pada flu. Suatu hasil pemodelan menjelaskan bahwa virus tersebut kemungkinan akan merebak di berbagai penjuru dunia, (dan) menyebabkan epidemi setiap beberapa tahun sekali. “Akan tetapi cita-cita dan harapan saya adalah keparahan ini akan menurun, dan akan lebih sedikit perubahan sosial yang terjadi,” ucap Kissler. Di masa mendatang, COVID-19 mungkin akan menjadi flu seperti saat ini—yang hadir tiap musim dingin. Bahkan mungkin suatu saat akan menjadi suatu hal yang biasa saja sehingga walau pun ada vaksin, sebagian besar Gen C tidak berupaya untuk melakukannya (vaksinasi), dan melupakan betapa dramatisnya dunia mereka yang dibentuk oleh ketiadaan pengaruhnya.

3. Keadaan Setelahnya

Harga yang perlu dibayar menuju titik tertentu, dengan jumlah kematian yang seminimal mungkin, akan sangat mahal. Berdasar pada tulisan teman saya Annie Lowrey, bahwa ekonomi saat ini mengalami syok “begitu tiba-tiba dan lebih parah dari siapa pun yang pernah merasakannya”. Satu dari lima orang di Amerika Serikat telah kehilangan jam kerja bahkan pekerjaannya. Penginapan-penginapan sepi. Maskapai penerbangan terkurung di darat. Restoran-restoran dan kios-kios kecil tutup. Kesenjangan akan semakin melebar: masyarakat dengan pendapatan rendah akan menjadi orang paling terdampak dari pemberian jarak sosial, dan sangat dimungkinkan untuk memiliki kondisi kesehatan kronis yang meningkatkan ancaman risiko penjangkitan berat. Penyakit (ini) telah melumpuhkan kota-kota dan kehidupan bermasyarakat berulang kali, “namun tidak pernah terjadi di negara ini untuk waktu yang sangat lama, atau dampaknya seperti yang kita lihat sekarang ini,” ucap Elena Conis, seorang sejarawan kesehatan dari UC Berkeley. “Kita jauh lebih perkotaan dan metropolitan. Kita punya banyak orang yang sering berpergian jarak jauh dan tinggal jauh dari keluarga serta jauh dari tempat kerja”.

Setelah tingkat penjangkitan menyusut, pandemi lanjutan perihal kesehatan mental akan ganti mewabah. Dalam ketakutan dan ketidakpastian, banyak masyarakat terpaksa memutus kontak yang mungkin seharusnya dapat memberi rasa tenang dari sesama manusia. Peluk, jabat tangan, dan ritus sosial lainnya kini dibayangi oleh ancaman. Mereka yang menderita kecemasan atau gangguan obsesif-kompulsif sangat terdampak. Para lansia, yang telah disingkirkan dari kehidupan umum, kini diminta semakin mengambil jarak lebih jauh, memperdalam kesepian mereka. Orang-orang Asia mendapat penghinaan yang rasis, yang dipicu oleh seorang pemimpin negara yang bersikeras dengan memberi label virus korona baru ini sebagai “virus China”. Kejadian kekerasan domestik dan kekerasan anak semakin melonjak tajam seiring masyarakat dipaksa untuk berdiam saja di rumah yang bahkan tidak memberi rasa aman bagi diri mereka. Anak-anak, yang tubuhnya berhasil bertahan dari serangan virus, mungkin akan mengalami trauma mental sampai dewasa.

Setelah pandemi, mereka yang pulih dari COVID-19 mungkin akan dijauhi dan terstigma, seperti yang terjadi pada mereka yang pulih dari Ebola, SARS, dan HIV. Personel pelayan kesehatan pun butuh waktu untuk dapat pulih sepenuhnya: satu sampai dua tahun setelah SARS menerjang Toronto, mereka yang berjibaku dengan wabah masih kesulitan untuk tetap produktif dan sering mengalami kelelahan dan stres pascatrauma. Terlebih mereka yang mengalami proses karantina panjang akan menjadi bekas luka tersendiri dalam pengalamannya. “Teman saya di Wuhan menyatakan bahwa beberapa masyarakat di sana bahkan menolak untuk keluar rumah dan menderita agorafobia (atau rasa takut terhadap tempat yang mungkin dapat memberikan rasa panik serta stres),” ucap Steven Taylor dari Universitas Inggris Kolombia, yang menulis Psikologi Pandemi.

Namun, “juga ada kemungkinan untuk sebuah dunia yang lebih baik setelah melewati trauma ini,” ucap Richar Danzig dari Pusat Keamanan Baru Amerika. Masyarakat telah menemukan cara baru untuk tetap berkumpul, meski mereka harus tetap terpisah (dalam jarak). Pandangan mengenai kesehatan juga beralih menjadi lebih baik. Melonjaknya (kasus) HIV dan AIDS “sungguh mengubah (kebiasaan) laku seksual di kalangan remaja yang tengah beranjak menuju kematangan seksual di puncak epidemi,” ucap Conis. “Penggunaan kondom menjadi sesuatu yang lumrah. Uji untuk penyakit kelamin menular (atau STD) menjadi penting dilakukan”. Seperti halnya mencuci tangan selama 20 detik, kebiasaan yang bahkan bagi lingkungan rumah sakit sendiri sulit untuk benar diterapkan, “mungkin laku semacam itu menjadi suatu kebiasaan yang terjadi pada saat wabah dan kita pun tidak terlalu menyadarinya,” tambah Conis.

Pandemi juga dapat menjadi katalisator perubahan sosial. Masyarakat, sektor bisnis, dan institusi terasa begitu cepatnya mengadopsi dan menyerukan (anjuran) praktik-praktik yang sebelumnya begitu tidak begitu populer, seperti bekerja dari rumah, komunikasi konferensi yang dahulunya hanya mengakomodasi para penyandang disabilitas, perizinan cuti atas sakit yang diderita, dan pilihan perawatan anak yang lebih fleksibel. “Ini pertama kalinya dalam hidup saya mendengar seseorang berkata, ‘Kalau kamu sakit, lebih baik tetap di rumah,'” ucap Adia Benton, seorang antropolog dari Universitas Northwestern. Mungkin negara ini akan belajar bahwa persiapan (dan penanggulangan) bukan hanya menyoal masker, vaksin, dan alat tes, melainkan juga kebijakan pekerja yang lebih baik dan stabil serta kesetaraan (akses) sistem pelayanan kesehatan. Mungkin akan sangat baik bila personel pelayan kesehatan dan para ahli kesehatan masyarakat dapat menyusun sistem imunitas sosial Amerika, yang sebelumnya sistem semacam ini dianggap tidak berarti.

Aspek identitas (bangsa) Amerika pun mungkin perlu kembali dipikirkan setelah COVID-19. Banyak nilai-nilai negara yang justru berlawanan dengan proses penanganan sewaktu pandemi. Sikap individualisme, keleluasaan, serta kecenderungan bersikeras untuk melakukan apa pun yang diinginkan bahkan ketika tiba saatnya bisa menyelamatkan banyak nyawa dengan tetap tinggal di rumah, sebagian orang masih saja berkerumun di bars dan klub malam. Bertahun-tahun menelan pesan antiterorisme pascatragedi 9/11, masyarakat Amerika mungkin memutuskan untuk tidak hidup dalam ketakutan. Namun (sayangnya) SARS-CoV-2 tidak tertarik pada aksi teror, mereka hanya peduli pada sel yang ada dalam dirimu.

Menelan retorika kaum isolasionis bertahun-tahun juga memiliki konsekuensi tersendiri. Masyarakat yang melihat Cina sebagai suatu tempat yang jauh, tempat yang berbeda, dengan kelalawar sebagai sesuatu yang lumrah dikonsumsi serta bentuk otoritarianisme dapat diterima, telah gagal untuk memperkirakan bahwa mereka sendiri akan mengalaminya atau bahkan mereka tidak pernah siap. (Cara Cina merespon krisis ini mungkin bermasalah, namun hal itu untuk bahasan lain waktu). “Dengan kita menahan mereka masuk, dan kita pasti aman. Di saat kita memiliki tubuh politik yang terlalu mengadopsi ide-ide isolasionisme dan etnnonasionalisme, membuat kita menjadi sangat rentan ketika pandemi menyerang”.

Para veteran dari epidemi sebelumnya telah lama mengingatkan bahwa peradaban Amerika terjebak pada siklus kepanikan dan pengabaian. Hampir ketika wabah terjadi—anthrax, SARS, flu, Ebola—berbagai perhatian baru diberikan dan pendanaan dilakukan. Namun saat semua kembali mereda, ingatan mereka seolah-olah hilang dan pendanaan akan (penanganan kemungkinan) hal tersebut berkurang. Tradisi semacam ini melampaui administrasi merah dan biru. Di saat keadaan normal kembali, keberadaan (potensi) ketidaknormalan tiba-tiba menjadi sesuatu yang tidak terbayangkan. Akan tetapi masih ada harapan untuk beranggapan bahwa COVID-19 mungkin menjadi becana yang mengarah pada perubahan yang menyeluruh dan bertahan lama.

Epidemi hebat beberapa dekade terakhir tidak begitu berdampak pada Amerika Serikat (SARS, MERS, Ebola), atau yang lebih ringan dari yang diperkirakan sebelumnya (flu H1N1 di tahun 2009), bahkan yang terbatas pada kelompok masyarakat tertentu (Zika, HIV). Akan tetapi pandemi COVID-19 sungguh berbeda, ia benar-benar berisiko pada setiap orang, dan mampu mengubah rutinitas kehidupan yang dijalani. Dampak itu tidak hanya terbatas dari perbedaannya terhadap penyakit lain, namun juga dari tantangan sistemik lainnya di masa sekarang ini. Ketika suatu pemerintahan menjual narasi perubahan iklim, efeknya tidak akan terasa dalam waktu dekat, namun juga akan sulit untuk menjelaskannya (saat ini). Berbeda halnya saat presiden mengatakan bahwa setiap orang bisa mendapatkan akses alat uji, dan di hari berikutnya, ternyata tidak demikian. Pandemi benar-benar mendemokratisasi pangalaman. Orang-orang yang punya hak istimewa dan kekuasaan biasanya terlindungi dari krisis, tetapi sekarang mereka mesti menjalani masa karantina, terbukti positif, dan kehilangan orang yang dicintai. Para senator pun ikut jatuh sakit. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari pemangkasan dana untuk sektor kesehatan masyarakat, memecat para ahli, dan menelantarkan (kebutuhan) rumah sakit yang akhirnya bukan lagi sekadar menjadi kumpulan seruan amarah, tetapi juga menjadi paru-paru yang rusak.

Pascatragedi 9/11, seluruh dunia begitu menaruh perhatian pada upaya melawan terorisme. Namun dengan adanya COVID-19, perhatian tersebut mulai beralih ke persoalan kesehatan masyarakat. Kita akan melihat lonjakan pendanaan terkait virologi dan vaksinologi, gelombang besar siswa akan mendaftarkan diri di jurusan kesehatan masyarakat, dan sebagian lainnya memilih di urusan produksi suplai alat kesehatan. Pandemi akan menjadi agenda teratas di Pembahasan Perundingan PBB. Anthony Fauci menjadi nama tersendiri. “Orang awam yang semula dapat dengan mudah mengetahui pekerjaan polwan atau pemadam kebakaran akhirnya juga mengetahui apa yang dikerjakan epidemiologi,” ucap Monica Schoch-Spana, seorang antropolog kesehatan di Pusat Ketahanan Kesehatan Jonhns Hopkins.

Perubahan semacam itu, di dalam dirinya, mungkin dapat melindungi dunia dari ancaman penyakit yang takterhindarkan. “Negara yang telah melewati (wabah) SARS memiliki kesadaran umum akan epidemi yang nantinya menuntun mereka untuk bertindak,” ucap Ron Klain, mantan czar (penanganan wabah) Ebola. “Ungkapan yang paling sering terdengar di Amerika di masa seperti ini adalah, ‘Aku tidak pernah melihat (dan mengalami) suatu kejadian (sampai) seperti ini’. Namun ungkapan semacam itu tidak berlaku di Hong Kong.” Bagi Amerika Serikat, dan mayoritas negara di seluruh penjuru dunia, terlihat jelas apa yang dapat dihasilkan oleh pandemi.

Pelajaran yang Amerika petik dari pengalaman ini adalah sulitnya untuk memprediksi, khususnya di saat alogaritma daring dan para penyiar hanya menyajikan berita yang (dianggap) sejalan dengan target bentukan audiens mereka. “Dinamika semacam itu akan sangat penting (diawasi) selama beberapa bulan mendatang,” ucap Ilan Goldenberg, seorang ahli kebijakan luar negeri di Pusat Keamanan Amerika Baru. “Peralihan (yang terjadi) pascatragedi Perang Dunia Kedua atau 9/11 bukan merupakan sebuah kumpulan ide yang baru,” tegasnya. “Ide itu telah ada, namun perdebatan akan menjadi lebih panjang selama beberapa bulan ke depan oleh sebab pengaruh dari kejadian yang terjadi (wabah) dan kemauan masyarakat Amerika untuk merima perubahan yang besar, dan masif.”

Satu hal yang mudah diterima oleh (masyarakat) dunia yang hampir negara-negara seluruh penjuru dunia percaya bahwa Amerika (bisa) menanggulangi COVID-19. Meski banyak kekeliruan (atau blunder) yang terjadi, dukungan atas Trump masih tinggi. Bayangkan saja bila ia berhasil mengkambinghitamkan permasalahan wabah pada China, menjadikannya sebagai penjahat dan Amerika sebagai pahlawan sakti-mandraguna. Pada periode kedua ia menjabat sebagai presiden, Amerika Serikat semakin mengurung diri dan (bahkan) menarik diri dari NATO serta aliansi internasional lainnya, membangun dinding nyata sekaligus kiasan, serta mencabut pendanaan di berbagai negara. Semakin Generasi C tumbuh dan berkembang, ancaman penyakit asing menggantikan ancaman komunis dan teroris sebagai bagian dari ancaman generasi baru.

Orang-orang juga bisa membayangkan sebuah masa depan ketika Amerika memetik pelajaran yang berbeda. Yakni hadirnya sebuah semangat komunal, yang ironisnya lahir dari proses pemberian jarak sosial, yang membuat orang semakin mengulurkan tangan ke luar, pada orang di sekitarnya baik di luar negaranya (secara internasional) maupun di dalam negaranya sendiri (domestik). Pemilu mendatang pada November tahun 2020 akan menjadi penolakan (besar-besaran) atas (agenda) politik “Mendahulukan (atau memprioritaskan) Amerika”. Landasan negara berpijak pada, sebagaimana yang terjadi pascatragedi Perang Dunia Kedua, peralihan dari isolasionisme menuju bentuk kerjasama internasional. Didukung oleh investasi yang stabil dan masuknya usulan cerdas, melalui melonjaknya personel pelayanan kesehatan, anak-anak Generasi C akan menulis esai tentang cita-citanya untuk menjadi ahli epidemiologi. Kesehatan masyarakat akan menjadi pusat dari kebijakan luar negeri. Amerika Serikat akan memimpin kerjasama global baru yang berfokus pada penyelesaian masalah seperti (acaman) pandemi dan perubahan iklim.

Kelak pada tahun 2030, SARS-CoV-3 muncul entah dari mana, dan segera dilumpuhkan hanya dalam kurun waktu sebulan.


*Diterjemahkan dari esai Ed Yong “How the Pandemic Will End” yang terbit di The Atlantic 25 Maret 2020. Ed Yong merupakan penulis tetap di The Atlantic dalam bidang Sains.

**Sumber gambar: scmp.com

Arundhati Roy: Pandemi adalah Sebuah Pintu Gerbang

0
pandemi portal

Siapa yang saat ini bisa menggunkan istilah “telah mewabah” tanpa sedikit pun merasa ngeri? Siapa yang bisa melihat apa pun—gagang pintu, sebuah kardus, sekeranjang sayur—tanpa membayangkannya dipenuhi oleh tumpukan sesuatu yang takterlihat, takmati, juga takhidup, yang memiliki alat pengisap yang menunggu untuk melekatkan dirinya pada paru-paru kita?

Siapa yang bisa berpikir untuk mencium orang asing, menaiki sebuah bis, atau membiarkan anaknya pergi ke sekolah tanpa merasakan ketakutan yang nyata? Siapa yang bisa memikirkan kesenangan seperti biasa tanpa mengkhawatirkan risikonya? Siapa di antara kita yang bukan ahli epidemiologi, virologi, statistik, dan nabi? Ilmuwan atau dokter mana yang tidak berdoa memohon sebuah keajaiban secara diam-diam? Kiai atau pendeta mana yang—setidaknya secara diam-diam—tidak patuh pada sains?

Dan bahkan ketika virus ini terus berkembang-biak, siapa yang tidak senang dengan gelombang suara burung di kota-kota, dengan merak yang menari-nari di persimpangan jalan, dan dengan langit yang mendadak sunyi?

Jumlah orang yang terkonfirmasi positif di seluruh dunia pada minggu ini sudah lebih dari satu juta. Lebih dari 50,000 orang meninggal dunia. Sejumlah proyeksi menyatakan bahwa jumlah itu akan bertambah menjadi ratusan ribu, atau mungkin lebih. Virus ini telah bergerak secara bebas di sepanjang jalur perdagangan dan modal internasional, dan penyakit mengerikan yang dibawanya telah membatasi pergerakan manusia di masing-masing negera, kota, dan rumah mereka.

Akan tetapi, tidak seperti aliran modal, virus ini mengupayakan perkembangbiakan, bukan keuntungan, dan, karenanya, pada tingkatan tertentu, ia membalik arah aliran itu secara serampangan. Ia telah mengejek kontrol imigrasi, biometrika, pengawasan digital, dan segala jenis analisis data, dan yang paling parah—sejauh ini—terjadi pada negara-negara paling kaya dan berkuasa di dunia, ia telah berhasil menghentikan mesin kapitalisme. Mungkin itu hanya sementara, tetapi setidaknya itu cukup bagi kita untuk menelaah bagian-bagiannya, menilai dan menentukan apakah kita ingin membantu memperbaiki mesin itu, atau berusaha mencari mesin yang lebih baik.

Para pemimpin kolot yang menangani pandemi ini sangat senang berbicara tentang perang. Mereka bahkan tidak menggunakan kata perang sebagai sebuah metafora, mereka menggunakannya secara harafiah. Akan tetapi, jika penanganan pandemi ini benar-benar merupakan sebuah perang, maka siapa yang lebih siap dibandingkan Amerika Serikat? Jika prajurit yang dibutuhkan untuk berada di garis depan melawan pandemi ini bukan masker dan sarung tangan, melainkam pistol, bom pintar, bom penghancur bunker, kapal selam, jet tempur, dan bom nuklir, apakah ada yang tidak akan bisa dipenuhi oleh Amerika Serikat?

Malam demi malam, dari berbagai belahan dunia, kita menonton siaran pers gubernur New York dengan pesona yang sulit dijelaskan. Kita mengikuti statistiknya, dan mendengar cerita-cerita tentang rumah sakit yang kewalahan di Amerika Serikat, tentang perawat yang bekerja melampaui batas tapi dibayar rendah dan harus membuat masker dari tempat sampah dan menggunakan jas hujan lama, serta mempertaruhkan segalanya demi membantu orang yang sakit. Tentang negara-negara yang dipaksa untuk saling menawar alat bantu pernapasan, tentang dilema para dokter soal pasien mana yang harus ditangani dan mana yang akan dibiarkan mati. Dan kita pun bergumam pada diri kita sendiri, “Ya, Tuhan! Ini Amerika, lho!”

Tragedi ini bersifat langsung, nyata, epik, dan terbentang di depan mata kita kota. Akan tetapi, ia bukan hal yang baru. Ia adalah rongsokan kereta yang telah anjlok dari relnya selama bertahun-tahun. Siapa yang tidak ingat dengan video “pembuangan pasien”—orang sakit, yang masih memakai gaun rumah sakit, dengan pantat telanjang, dibuang secara sembunyi-sembunyi ke sudut jalan? Pintu rumah sakit juga sering ditutup untuk warga Amerika Serikat yang kurang beruntung. Tidak menjadi soal seberapa sakit mereka atau seberapa menderita mereka.

Setidaknya itu tidak terjadi sampai sekarang—karena sekarang, di era virus, penyakit orang miskin dapat memengaruhi kesehatan masyarakat yang kaya. Akan tetapi, bahkan saat ini, Bernie Sanders, senator yang tanpa henti mengampanyekan layanan kesehatan untuk semua orang, dianggap aneh dalam upayanya untuk menuju Gedung Putih, bahkan oleh partainya sendiri.

Dan bagaimana dengan negara saya, negara miskin tapi kaya, yaitu India, yang terombang-ambing di antara feodalime dan fundamentalisme agama, antara kasta dan kapitalisme, yang dipimpin oleh kaum nasionalis Hindu yang ekstrem kanan?

Pada bulan Desember, ketika China sedang melawan merebaknya virus ini di Wuhan, pemerintah India sedang menghadapi sebuah pemberontakan massal oleh ratusan ribu warganya yang memprotes Undang-undang Kewarganegaraan Anti-Muslim yang sangat diakriminatif yamg baru saja disahkan di parlemen.

Kasus pertama Covid-19 di India dilaporkan pada tanggal 30 Januari, hanya beberapa hari setelah tamu kehormatan kita dalam acara Parade Hari Republik, yaitu perusak hutan Amazon dan penyangkal Covid Jair Bolsonaro, meninggalkan Delhi. Akan tetapi, ada begitu banyak hal yang perlu dilakukan pada bulan Februari agar virus ini bisa terakomodasi dalam jadwal kerja penguasa. Ada kunjungan kenegaraan dari Presiden Donald Trump yang dijadwalkan pada minggu terakhir bulan Februari. Dia terpikat dengan janji adanya 1 juta audien di gelanggang olahraga di negara bagian Gujarat. Semua itu memerlukan uang dan banyak waktu.

Figure 1: saat Donal Trump dan istrinya melakukan kunjungan kenegaraan ke India pada 24 Februari 2020 © eyevine

Kemudian ada pemilihan Majelis Legislatif Delhi yang Partai Bharatiya Janata terancam kalah kecuali ia menaikkan permainannya dengan memperlancar kampanye nasionalis Hindu yang kejam dan tanpa aturan, yang penuh dengan ancaman kekerasan fisik dan penembakan terhadap “para pengkhianat”

Partai tersebut ternyata kalah. Maka kemudian ada hukuman yang dijatuhkan kepada kaum Muslim Delhi, yang disalahkan karena penghinaan. Massa Hindu bersenjata yang suka main hakim sendiri (vigilante), yang disokong oleh polisi, menyerang kaum Muslim di lingkungan kelas pekerja di timur laut Delhi. Rumah, toko, masjid, dan sekolah dibakar. Kaum Muslim yang sudah menduga serangan itu menyerang balik. Lebih dari 50 orang, yang terdiri dari kaum Muslim dan beberapa umat Hindu, yang meninggal dunia.

Ribuan orang pindah ke kamp-kamp pengungsian yang ada di kuburan setempat. Mayat-mayat yang dimutilasi masih sedang ditarik keluar dari selokan-selokan yang kotor dan berbau busuk ketika para pejabat pemerintah mengadakan pertemuan pertama tentang Covid-19 dan ketika kebanyakan orang India mendengar untuk pertama kalinya keberadaan sesuatu yang disebut “penyanitasi tangan” (handsanitiser).

Pada bulan Maret juga sibuk. Dua minggu pertama dikhususkan untuk menjatuhkan pemerintahan Partai Kongres Nasional India di negara bagian India tengah Madhya Pradesh dan menerapkan pemerintahan Partai Bharatiya Janata di negara bagian tersebut. Pada 11 Maret, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) mendeklarasikan bahwa Covid-19 adalah pandemi. Dua hari kemudian, pada 13 Maret, Menteri Kesehatan mengatakan bahwa corona “bukanlah darurat kesehatan”.

Akhirnya, pada 19 Maret, Perdana Menteri India berbicara pada rakyat. Dia belum melakukan banyak pekerjaan rumah. Dia meniru Prancis dan Italia. Dia memberi tahu kita perlunya “penjarakan sosial” (yang mudah dipahami oleh masyarakat yang begitu mendalami praktik kasta) dan menyerukan adanya “jam malam” pada 22 Maret. Dia tidak mengatakan apa pun tentang apa yang akan dilakukan oleh pemerintahannya di masa krisis ini, tetapi dia hanya meminta rakyat untuk keluar ke balkonnya, dan membunyikan lonceng serta memukul panci untuk memberi hormat kepada petugas kesehatan.

Dia tidak menyebutkan bahwa, hingga pada saat itu, India masih mengekspor alat pelindung dan peralatan pernapasan, alih-alih menyimpannya untuk rumah sakit dan petugas kesehatan India.

Tidak mengherankan, permintaan Narendra Modi itu disambut dengan sangat antusias. Ada pawai menabuh panci, tarian dan arak-arakan komunitas. Tidak banyak “penjarakan sosial”. Di hari-hari berikutnya, para lelaki masuk ke dalam tempat kotoran sapi yang suci, dan pendukung Partai Bharatiya Janata mengadakan pesta minum kencing sapi. Tidak mau kalah, banyak organisasi Muslim menyatakan bahwa Tuhan Yang Mahakuasa merupakan jawaban terhadap virus ini dan mengajak orang yang beriman untuk berkumpul di masjid dalam jumlah yang banyak.

Figure 2: Perempuan-perempuan menabuh panci untuk menunjukkan dukungan pada layanan darurat penanganan virus corona.  © Atul Loke/Panos Pictures

Pada 24 Maret, pukul 8 malam, Modi muncul di TV lagi untuk mengumumkan bahwa, dari tengah malam dan seterusnya, semua wilayah India akan dikarantina (locked down). Pasar-pasar akan ditutup. Semua alat transportasi, baik transportasi umum maupun pribadi, dilarang beroperasi.

Dia mengatakan dia mengambil keputusan ini bukan hanya sebagai seorang Perdana Menteri, tetapi juga sebagai keluarga kita yang lebih tua. Siapa lagi yang bisa memutuskan, tanpa berkonsultasi dengan pemerintah negara bagian yang akan berhadapan langsung dengan dampak keputusan ini, bahwa sebuah negara yang terdiri dari 1.38 miliar orang harus mengarantina wilayahnya tanpa persiapan sama sekali dengan pemberitahuan empat jam sebelumnya? Metodenya jelas mengesankan bahwa Perdana Menteri India menganggap warganya sebagai kekuatan musuh yang perlu dihadang tiba-tiba, dibuat terkejut, dan tidak pernah dipercaya.

Wilayah kami pun dikarantina. Banyak para profesional kesehatan dan ahli epidemiologi yang memuji langkah ini. Barangkali secara teori mereka benar. Akan tetapi, tentu tak satu pun dari mereka yang bisa mendukung kurangnya perencanaan atau kesiapsiagaan yang bisa mendatangkan musibah yang mengubah karantina wilayah (lockdown) paling besar dan paling ketat di dunia ini menjadi hal yang sebenarnya tidak diinginkan.

Orang yang suka dengan kacamata telah menciptakan induk dari semua kacamata.

Begitu dunia terkejut melihatnya, India menyingkapkan dirinya dengan semua rasa malunya—ketidaksetaraan sosial dan ekonominya yang bersifat struktural dan kejam, serta ketidakpeduliannya yang takberperasaan terhadap penderitaan.

Karantina wilayah (lockdown) itu bekerja seperti percobaan kimia yang tiba-tiba membuat jelas beberapa hal yang tersembunyi. Ketika toko-toko, restoran-restoran, dan industri konstruksi dimatikan, ketika kaum kelas menengah dan orang-orang kaya mengurung diri di dalam wilayah yang terjaga keamanannya, maka kota-kota mulai mengusir warganya yang berasal dari kalangan kelas pekerja—yaitu para pekerja rantaunya—seperti pertumbuhan yang tidak diinginkan.

Banyak orang diusir oleh majikan dan tuannya, jutaan orang miskin yang kehausan dan kelaparan, muda dan tua, laki-laki, perempuan, anak-anak, orang sakit, orang buta, orang difabel, yang tidak punya tempat lain untuk dikunjungi, yang tidak menemukan transportasi publik, mulai melakukan perjalanan panjang menuju ke kampung halaman mereka. Mereka berjalan kaki selama berhari-hari, menuju ke Badaun, Agra, Azamgarh, Aligarh, Lucknow, Gorakhpur—yang jauhnya hingga ratusan kilometer. Beberapa orang mati di tengah jalan.

Mereka tahu bahwa jika mereka pulang ke rumahnya berpotensi mengalami kelaparan. Bahkan mungkin mereka juga tahu bahwa mereka bisa membawa virus yang dapat menginfeksi keluarga, orangtua, dan kakek-nenek mereka di rumah, tetapi mereka sangat membutuhkan sedikit keakraban, tempat tinggal, kehormatan, dan juga makanan, jika bukan malah butuh cinta.

Begitu mereka mulai berjalan, beberapa dipukul secara brutal dan dihinakan oleh anggota kepolisian, yang diberi tugas untuk melaksanakan jam malam secara ketat. Para pemuda dipaksa untuk jongkok dan melompat seperti kodok di jalan raya. Di luar kota Bareilly, sekelompok orang digiring bersama dan disemprot dengan semporatan kimia.

Beberapa hari kemudian, karena khawatir penduduk yang melarikan diri akan menyebarkan virus ke desa-desa, maka pemerintah menutup perbatasan negara bagian bahkan untuk para pejalan kaki. Orang-orang yang sudah berjalan kaki selama berhari-hari diberhentikan dan dipaksa untuk kembali ke kamp-kamp yang ada di kota yang baru saja mengusir mereka.

Di antara orang-orang yang sudah tua, peristiwa itu mengingatkan mereka pada perpindahan penduduk yang terjadi pada 1947, ketika India terpecah dan kemudian muncul Pakistan. Hanya saja, eksodus yang baru saja terjadi ini disebabkan oleh pembelahan kelas, bukan oleh agama. Meskipun begitu, mereka bukan orang India yang paling miskin. Mereka adalah orang yang (setidaknya sampai sekarang) memiliki pekerjaan di kota dan punya rumah sebagai tempat berpulang. Orang-orang yang tak punya kerja, tak punya rumah, dan putus harapan tetap berada di tempat mereka, di kota-kota dan juga di daerah-daerah pedalaman, tempat penderitaan yang mendalam telah tumbuh bahkan jauh sebelum tragedi ini terjadi. Selama hari-hari yang mengerikan ini, Menteri Dalam Negeri Amit Shah tetap takterlihat oleh publik.

Ketika perjalanan para pekerja itu dimulai di Delhi, saya menggunakan kartu pers dari sebuah majalah tempat saya sering mengirim tulisan untuk berkendara ke Ghazipur, yang ada di perbatasan antara Delhi dan Uttar Pradesh.

Adegan perjalanan itu sungguh biblikal. Atau mungkin tidak. Bibel tidak mungkin mengetahui hal-hal seperti itu. Karantina wilayah (lockdown) untuk menegakkan penjarakan sosial telah mengakibatkan hal yang sebaliknya—terjadi pemampatan fisikal dalam skala yang takterpikirkan. Bahkan ini terjadi di dalam kota-kota di India. Jalan raya mungkin saja lengang, tetapi orang miskin dikarantina di tempat-tempat yang sempit di permukiman yang kumuh dan di gubuk-gubuk yang reyot.

Setiap orang yang berjalan kaki yang saya ajak bicara juga khawatir dengan virus. Akan tetapi, virus itu tidak begitu nyata, tidak begitu hadir dalam kehidupan mereka dibandingkan pengangguran, kelaparan, dan kekerasan yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Dari semua orang yang saya ajak bicara di hari itu, termasuk sekelompok Muslim tukang jahit yang baru seminggu lalu selamat dari serangan anti-Muslim, ada kata-kata seorang lelaki yang membuat saya sangat terganggu. Dia adalah tukang kayu yang dipanggil Ramjeet, yang berencana untuk jalan kaki di sepanjang jalan menuju Gorakhpur di dekat perbatasan Nepal.

 “Mungkin ketika Modiji memutuskan untuk melakukan ini, tidak ada seorang pun yang memberi tahu dia tentang kami. Mungkin dia tidak tahu tentang kami,” katanya.

 “Kami” di situ berarti sekitar 460 juta orang.

Figure 3: para pekerja rantau berjalan kaki keluar dari Delhi dan berharap untuk bisa kembali ke kampung halaman mereka. © Rajat Gupta/EPA-EFE/Shutterstock

Pemerintah negara-negara bagian di India (seperti di Amerika Serikat) telah menunjukkan simpati dan pengertian yang lebih banyak di masa krisis ini. Serikat buruh, warga negara swasta, dan kolektif-kolektif yang lain mendistribusikan makanan dan ransum darurat. Pemerintah pusat lamban dalam menanggapi permintaan dana yang sangat dibutuhkan oleh mereka. Ternyata Dana Bantuan Nasional dari Perdana Menteri tidak memiliki uang tunai. Uang dari para simpatisan malah mengalir ke dana PM-CARES baru yang agak misterius. Makanan bungkusan dengan wajah Modi di atasnya mulai muncul.

Selain itu, sang perdana menteri juga membagikan video yoga nidra-nya. Dalam video itu, sesosok Modi yang berubah menjadi animasi dengan sebuah tubuh impian mendemonstrasikan asana yoga untuk membantu orang-orang mengatasi stres selama masa isolasi mandiri.

Narsisisme ini sangat mengganggu. Mungkin salah satu asananya merupakan asana pesanan di mana Modi meminta Perdana Menteri Prancis untuk mengizinkan kita mengingkari kesepakatan tentang jet tempur Rafale yang sangat menyusahkan dan mengizinkan kita menggunakan uang €7.8 miliar itu untuk tindakan darurat yang sangat dibutuhkan untuk menyokong beberapa juta orang yang kelaparan. Tentu Prancis akan mengerti.

Begitu karantina wilayah memasuki minggu kedua, rantai pasokan telah terputus, obat-obatan dan persediaan-persediaan penting juga sudah mulai habis. Ribuan sopir truk masih bermalas-malasan di jalan raya, dengan persediaan makanan dan air yang sedikit. Tanaman tegakan (standing crops), yang sudah siap dipanen, perlahan membusuk.

Krisis ekonomi terjadi di sini. Krisis politik juga sedang terjadi. Media arus utama memasukkan cerita tentang Covid ke dalam kampanyenya yang anti-Muslim. Sebuah organisasi yang dinamai Jamaah Tabligh, yang mengadakan pertemuan di Delhi sebelum karantina wilayah diumumkan, ternyata menjadi “penyebar utama” (super spreader). Hal itu digunakan untuk menstigmatisasi dan mendemonisasi kaum Muslim. Nada pemberitaan secara keseluruhan menunjukkan bahwa umat Muslim mengundang virus ini dan secara sengaja menyebarkannya sebagai salah satu bentuk jihad.

Krisis Covid masih akan datang. Atau mungkin tidak akan datang. Kita tidak tahu. Jika dan ketika krisis itu terjadi, kita bisa yakin ia akan ditangani, dengan semua prasangka agama, kasta, dan kelas yang umum berlaku.

Hari ini (2 April) di India, hampir 2000 kasus yang terkonfirmasi positif dan 58 meninggal dunia. Tentu itu angka yang tidak dapat dipercaya, yang didasarkan pada beberapa tes yang kurang memadai. Pendapat para ahli sangat beragam. Beberapa ahli memprediksi jutaan kasus. Beberapa ahli yang lain menganggap jumlah korban itu akan jauh lebih sedikit. Kita tidak pernah tahu bentuk nyata dari krisis ini, bahkan ketika ia mengenai kita sendiri. Yang kita tahu hanyalah bahwa pelarian di rumah sakit belum dimulai.

Rumah sakit dan klinik umum di India—yang tidak mampu mengatasi kematian hampir 1 juta anak-anak karena diare, malnutrisi, dan masalah-masalah kesehatan lain setiap tahunnya, dengan ratusan ribu pasien TBC (seperempat dari kasus di seluruh dunia), dengan penduduk penderita anemia dan malnutrisi yang sangat banyak yang rentan terhadap sejumlah penyakit ringan yang terbukti fatal bagi mereka—tidak akan mampu mengatasi krisis seperti yang dihadapi Eropa dan Amerika Serikat pada saat ini.

Semua layanan kesehatan sedikit banyak ditangguhkan karena beberapa rumah sakit telah dialihkan untuk menangani masalah virus ini. Pusat layanan trauma dari All India Institute of Medical Sciences (AIIMS) yang legendaris di Delhi itu ditutup, ratusan pasien kanker yang diketahui sebagai pengungsi kanker yang hidup di jalan-jalan di luar rumah sakit yang besar itu diusir seperti ternak.

Orang-orang akan jatuh sakit dan meninggal di rumahnya. Kita tidak pernah tahu cerita mereka. Mereka bahkan mungkin tidak tercatat sebagai statistik. Kita hanya bisa berharap penelitian yang menyatakan virus ini menyukai cuaca dingin itu benar (meskipun peneliti-peneliti lain telah meragukan hal ini). Tidak pernah ada orang yang merindukan secara tak masuk akal musim panas India yang sangat menyiksa dan membakar.

Hal apa yang telah terjadi pada kita? Virus, iya. Di dalam dan dari dirinya sendiri, virus itu tidak memiliki penjelasan moral. Akan tetapi, ia lebih dari sekadar sebuah virus. Beberapa orang percaya ia adalah cara Tuhan agar kita kembali berpikir dan bertindak secara benar. Beberapa orang yang lain menganggap ia adalah konspirasi China untuk mengambil alih kendali atas dunia.

Apa pun ia sebenarnya, virus corona telah membuat yang kuat menjadi bersujud dan telah menghentikan dunia yang tidak mungkin dilakukan oleh hal lainnya. Pikiran kita masih maju-mundur, rindu untuk kembali pada “normalitas”, mencoba untuk mempertautkan masa depan dengan masa lalu dan menolak mengakui adanya keterputusan. Akan tetapi, keterputusan itu sungguh ada. Dan di tengah-tengah keputusasaan yang mengerikan ini, ia memberi kita peluang untuk memikirkan ulang mesin kiamat yang telah kita buat untuk diri kita sendiri. Tidak ada yang lebih buruk daripada kembali pada normalitas.

Secara historis, pandemi telah memaksa manusia untuk putus dengan masa lalunya dan membayangkan dunianya yang baru. Pandemi yang terjadi saat ini juga sama. Ia adalah sebuah portal, sebuah pintu gerbang di antara satu dunia dengan dunia berikutnya.

Kita bisa memilih untuk berjalan melaluinya, dengan tetap membawa sisa-sisa dari prasangka dan kebencian kita, keserakahan kita, bank data dan ide-ide lawas kita, sungai-sungai yang kering dan langit-langit yang penuh dengan asap. Atau kita bisa berjalan dengan enteng, dengan sedikit barang-barang bawaan, dan bersiap untuk membayangkan dunia yang lain. Dan siap berjuang untuk mewujudkannya.

____________________________________________________

*Ini adalah terjemahan atas esai Arundhati Roy yang terbit pertama kali dalam Bahasa Inggris di Financial Times. Arundhati Roy adalah penulis asal India yang memenangkan Man Booker Prize untuk novelnya The God of Small Thing (1997). Novel terbarunya berjudul The Ministry of Utmost Happiness (2017).

** Sumber gambar: www.ft.com

Terakhir tentang Agama dan Sains: Yang Riil Adalah Praktik

0
praktik agama

Ini adalah tanggapan terakhir saya untuk Hukmi dari serangkaian tulisan mengenai agama, sains, dan korona di situs web Antinomi. Tulisan terakhir Hukmi berjudul Saintisme dan Manusia Jerami. Semampu saya, saya meniatkan tulisan ini ringkas, padat, dan sejelas mungkin, dengan meminimalisasi ad hominem. Saya berharap tak ada lagi kesalahpahaman yang tidak substantif di sini. Saya mulai dari soal saintisme dulu, baru kemudian membahas kritik Hukmi mengenai kausasi-kausasi itu.

Satu. Puji Tuhan, Hukmi bukanlah pengikut saintisme. Ini kabar baik, sebab saintisme menyatakan sainslah satu-satunya penjelasan yang valid bagi segala hal. Di hadapan saintisme, filsafat (latar studi Hukmi), seperti agama dan bahkan juga ilmu-ilmu humaniora, telah dikikis otoritasnya. Misalnya, di bagian pembukaan buku The Grand Design (2010)Hawking menyatakan bahwa “filsafat mati”, karena ia tak lagi berguna dan cenderung gagap mengejar kemajuan sains untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental seperti apa watak sejati realitas dan apakah alam semesta memerlukan pencipta. Saya dengan senang hati menunggu elaborasi dari pernyataan Hukmi bahwa sains “tidak pernah dapat objektif dan bebas akan kepentingan”. Tentu saja Hukmi boleh menulisnya kapan saja, tidak harus hari-hari ini.

Dua. Benar seperti dikatakan Hukmi, di wacana umum istilah saintisme memiliki konotasi peyoratif. (Sesungguhnya ia tidak benar-benar peyoratif. Satu buku berjudul Every Thing Must Go: Metaphysics Naturalized (2007), yang mengajukan gagasan bahwa metafisika yang bisa menghasilkan pengetahuan objektif hanyalah metafisikan yang berdasar sains, memuat bab pertama dengan judul In Defence of Scientism.)

Saya tidak kekeh dengan istilah. Kalau dirasa peyoratif, ‘saintisme’ mau diganti dengan sebutan lain apapun boleh, yang penting maknanya tetap, yakni sains sebagai pandangan-dunia dan menjadi satu-satunya penjelasan valid bagi segala hal. Ketika Atkins dalam esainya Science as Truth (1995) menyebut sains memiliki “universal competence” untuk menjelaskan hal-hal yang secara tradisional menjadi medan kajian filsafat, agama, atau ilmu humaniora, ya itulah saintisme. Jika orang mendaku bahwa evolusilah satu-satunya penjelasan valid bagi asal muasal kehidupan dan meniscayakan eliminasi terhadap Tuhan (termasuk, seperti dikatakan Hukmi, Tuhan sebagai pencipta—bukankah ini juga pandangan Dawkins?), ya itu saintisme, sebab ia memonopoli wilayah yang tidak bisa dijawab dengan sains semata.

Ketiga. Masuk ke inti kritik Hukmi. Mungkin, ya, saya terlalu bodoh untuk bisa menangkap apa sebenarnya implikasi pembedaan ide dari praktik seperti yang dimaksud Hukmi dan apa pertentangan yang terjadi antara apa yang disebut Hukmi dengan ‘kausasi supranatural’ dan ‘kausasi natural’. Yang saya tangkap dari tulisan terakhir Hukmi ialah bahwa ia murni mengkritik ide, yakni nalar ontologis agama mengenai adanya kausasi supranatural.

Di sini saya cenderung pragmatis: sejauh ia tak menimbulkan masalah riil, ia tak masalah. Bagi saya, seperti saya sebut di tulisan sebelum ini, dan ini paradigma yang mendasari tulisan-tulisan saya: yang riil adalah praktik, sementara ide baru potensi. Ide baru menimbulkan masalah riil ketika sudah mengejawantah dalam praktik.

Tak ada masalah ketika orang berdoa (mengundang ‘kausasi supranatural’) agar Tuhan segera meredam wabah korona. Yang masalah adalah ketika berkerumun dan menguatkan potensi penyebaran virus korona. Kenyataan yang terakhir inipun tidak bisa disimpulkan merupakan akibat niscaya dari pandangan tentang adanya kausasi supranatural.

Lagipula—dan sekali lagi dengan paradigma dasar saya yang cenderung melihat pada yang praktis—antara apa yang Hukmi sebut dengan kausasi natural dan supranatural itu tak bisa seratus persen dipisahkan secara eksklusif. Ketika orang di rumah saja untuk mencegah penularan virus, sikap ini bisa mencakup nalar natural dan supranatural sekaligus. Ketika orang meyakini bahwa kausasi natural (di rumah saja) adalah modus atau cara kerja Tuhan (kausasi supranatural) untuk meredam penyebaran virus, orang itu sedang memakai dua nalar sekaligus.

Berbeda dengan Hukmi yang memisahkan keduanya (atau mungkin saya terlalu bodoh untuk bisa memahami “model argumentasi filsafat”?), saya menganggap adopsi terhadap kausasi natural adalah juga bagian dari agama, tentu jika tidak menegasikan kausasi supranatural itu. Dalam kerangka ini, aksi di rumah saja bisa dibaca sebagai ekspresi agama.

Karena itu, saya tetap merasa bahwa argumen saya di tanggapan pertama bukanlah argumen pasaran, sebab pertanyaanya yang saya ajukan di situ masih membayangi: masalah riilnya (dari adopsi terhadap nalar ontologis akan adanya kausasi supranatural) di mana?

Saya ingin menekankan satu hal ini, yang saya berharap bisa merangkum inti pendirian saya dari semua tulisan saya dalam rangkaian tanggapan dengan Hukmi ini: Keyakinan bahwa Tuhan adalah Kausa bagi segala sesuatu tidak serta merta mengimplikasikan penolakan pada kausasi natural.

Demikian. Sebagaimana saya sebut di muka, ini adalah tanggapan terakhir, Setelah ini, terlepas Hukmi mau menanggapi lagi atau tidak, silakan pembaca menilai sendiri.

*Artikel ini dimuat atas seizin dari penulis. Sumber asli: contingentbeing.wordpress.com

**Sumber gambar: saltandlighttv.org

Saintisme dan Manusia Jerami: Kritik tentang Nalar Ontologis

0
manusia jerami

Kritik Gus Aziz sedari awal keliru dalam dua hal. Pertama, ia membangun konstruksinya sendiri tentang pertentangan antara sains dan agama, yang sebenarnya tidak pernah saya maksudkan. Hal ini kemudian mengantarkannya pada falasi yang kedua, yakni menyeret bangunan argumentasi saya tentang sains ke dalam apa yang ia sebut dengan saintisme.

Baiklah. Saya akan mencoba memperjelas kembali argumentasi yang saya berikan terkait dengan relasi antara sains dan agama—saya capek sebenarnya memperjelas hal ini berulang kali, sebab tampaknya Gus Aziz tidak paham model argumentasi filsafat. Argumentasi yang saya ajukan dalam essai pertama tidak pernah berbicara tentang pertentangan vis-a-vis antara klaim sains dan klaim agama mengenai wabah Korona, sebagaimana diandaikan oleh Gus Aziz demikian:

Sebagai pembacaan terhadap dunia material, sains mengatakan bahwa virus korona masuk melalui pernapasan dan merusak paru-paru. Tidak ada (ajaran) agama yang menentangnya. Sains mengatakan virus korona menyebar melalui kontak dengan orang yang positif Covid-19 dan akan teramplifikasi potensi persebarannya melalui kerumunan orang. Tidak ada (ajaran) agama yang menentangnya. Tidak ada klaim ekplisit di kitab-kitab suci sumber ajaran agama yang menentang itu. Satu contoh yang bisa disebut pertentangan itu ialah, misalnya, sains menyebut bumi ini bulat, tapi ada tafsir keagamaan yang menyebut bumi ini datar—nah, ini baru bisa disebut pertentangan, dan dalam kasus demikian mengutip Barbour, Russell, atau Dakwins bisa relevan. Tapi model pertentangan macam ini tidak ada dalam isu wabah Covid-19.

(tanggapan pertama, paragraf 4)

Jelas bahwa argumentasi tersebut amatlah lugu, jika malah bukan bodoh. Argumentasi semacam itu hanya menunjukkan bahwa Gus Aziz sama sekali tidak memahami atau bahkan sekadar tahu inti perdebatan sains dan agama mengenai wabah. Problem utama dalam perdebatan antara sains dan agama mengenai wabah, kalau Gus Aziz tidak tahu, terletak pada perbedaan klaim ontologis perihal kausasi; sains melihatnya sebagai kausasi natural sementara agama melihatnya sebagai kausasi supranatural [saya menggunakan istilah supranatural untuk memperlawankannya dengan yang natural]—problem ini bisa dibaca lebih lanjut dalam bukunya Russell berjudul Religion and Science bab “Demonology and Medicine”. Jadi, perdebatan antara sains dan agama mengenai wabah itu sudah lama terjadi, bukan hasil imajinasi saya sendiri.

Nah, yang lucu adalah Gus Aziz kemudian menuduhkan pertentangan yang saya andaikan itu terletak pada kenyataan adanya sikap abai dari umat beragama terhadap himbauan physical-distancing. Logika yang saya pakai jelas tidak sesederhana itu. Begini; sikap etis itu selalu mengandaikan klaim ontologis dan epistemologis sekaligus. Misal, saya memilih berkumpul di masjid dan berdoa bersama karena saya yakin bahwa wabah ini datang dari Tuhan sebagai cobaan atau peringatan [kausasi supranatural—berdasar pada wahyu]; atau, saya memilih di rumah saja karena penularan virus terjadi dari manusia ke manusia tanpa peduli besaran pahala dan dosanya [kausasi natural—berdasar pada eksperimen]. Tepat pada klaim ontologis dan epistemologis itulah yang saya persoalkan, bukan pada sikap etis yang diambil—meskipun itu juga bermasalah.

Tampaknya, masalah utama Gus Aziz adalah tidak pernah bisa memisahkan antara ide dan praktik. Konsekuensinya, ketika saya menyebut istilah agama maka pengandaiannya akan selalu merujuk pada umat beragama—padahal Gus Aziz sadar perujukan ini bermasalah. Perujukan semacam itu jelas mendiskreditkan multidimensionalitas manusia. Ketika seseorang beragama, tidak melulu ia memakai nalar agamanya dalam segala hal. Di sinilah kemudian perbedaan sikap itu dimungkinkan terjadi di antara umat beragama itu sendiri, sebab ada intervensi nalar lain yang dipakai selain nalar [supranatural] agama; nalar politis, psikologis, atau saintifik.

Demikianlah kemudian menjadi jelas apa yang sebenarnya saya pertentangkan antara sains dan agama mengenai wabah, yakni nalar ontologisnya. Nalar ontologis ini tidak pernah gayut pada kenyataan faktual; apakah seseorang termasuk umat beragama atau tidak. Artinya, saya tidak peduli apakah yang membuat klaim itu seorang tokoh agama seperti Habib Luthfi atau seorang petani abangan yang mencangkul di sawah, selama klaim yang diberikan menggunakan nalar kausasi supranatural, saya menganggap itu klaim agama. Dan berlaku sebaliknya untuk nalar kausasi natural. Pertanyaan yang pasti muncul adalah mengapa kausasi supranatural identik dengan agama dan yang natural dengan sains, mengapa dua nalar itu harus dipisahkan? Butuh artikel lain untuk mengargumentasikan ini.

Ketidakmampuan memisahkan ide dan praktik ini juga mengantarkan Gus Aziz pada sebuah tulisan yang tergesa dan ngawur dengan judul Sains Tak Sama dengan Saintisme: Itu Masalahnya. Gus Aziz dengan repotnya membuktikan bahwa pertentangan sains dan agama dalam sejarahnya tidak pernah hitam-putih sebab dalam tubuh umat beragama sendiri juga terjadi perbedaan dalam menanggapi sebuah temuan saintifik. Jelas, pertentangan yang diandaikan oleh Gus Aziz melalui pembuktian historisnya itu adalah pertentangan antara otoritas keagamaan (Gereja) dan teori saintifik, bukan agama dan sains sebagai sebuah ide. Saya rasa kita cukup mafhum bahwa sebuah otoritas keagamaan tidak melulu menggunakan nalar agama dalam membuat klaim atau fatwa. Begitu juga dengan saintis, mereka tidak melulu menggunakan nalar sains mereka dalam segala hal; mereka bisa jatuh cinta seperti saya dan menangis seketika karena mendengar alunan musik—kalau saya memakai nalar sains dalam urusan percintaan, saya akan menganggap cinta saya ke pacar saya hanya reaksi kimia di otak saya; bisa diputusin saya nanti.

Di sinilah kemudian tuduhan Gus Aziz terhadap saya sebagai pengikut Dawkins keliru. Saya tidak pernah menyatakan bahwa evolusi kudu berkonsekuensi logis terhadap eliminasi (konsep) Tuhan—kecuali konsep Tuhan sebagai pencipta (plis jangan dibantah dengan interpretasi bahwa Tuhan menciptakan melalui hukum seleksi alam, akan jadi satu artikel lagi nanti). Ide utama saya adalah bahwa temuan-temuan sains dan teknologi seperti evolusi, hukum Newton, nanobiologi, epidemiologi dan sebagainya, memiliki implikasi besar terhadap bangunan konsep kita tentang Tuhan. Dulu sebelum hukum Newton lahir, Tuhan dipahami sebagai sesuatu yang selalu hadir dan berkuasa penuh dalam peristiwa-peristiwa dunia manusia; misalnya, Tuhan mengirimkan wabah kepada Firaun sebagai azab karena memperbudak bangsa Israel—mungkin jika dulu sudah ada epidemiolog, ceritanya akan berbeda. Kemudian konsep tersebut perlahan berubah menuju konsep Tuhan yang ditawarkan oleh para Deis, yakni alam memiliki mekanisme sendiri yang sudah bebas dari campur tangan Tuhan.

Perubahan-perubahan konsep semacam itu, menurut saya (plis jangan dibantah dengan “kan itu menurutmu”, bisa jadi panjang lagi nanti), menunjukkan bahwa Tuhan tidak lebih dari sekadar konsep yang kita atribusikan terhadap sesuatu yang tidak mampu kita jelaskan—kalau kata Nietzsche, Tuhan adalah bentuk dari kehendak kita yang selalu butuh kejelasan. Konsekuensinya, semakin banyak hal yang bisa dijelaskan oleh manusia melalui sains, maka ruang untuk Tuhan semakin sempit. Bukan tidak mungkin kan, jika suatu saat Tuhan tidak memiliki ruang lagi? Ya, mungkin skenario terburuknya hanya akan menjadi alternatif antidepresan bagi mereka yang gelisah mencari makna hidup seperti Gus Aziz.

Hal-hal Lain

Sekarang menyoal saintisme. Tuduhan bahwa saya berpaham saintisme jelas merupakan falasi manusia jerami. Istilah saintisme itu sendiri digunakan secara peyoratif oleh para agamawan untuk memperhadapkan sains dan agama dalam satu altar yang sama sehingga dapat dihakimi. Istilah tersebut dicomot dari kritik beberapa filsuf sains seperti Karl Popper terhadap kecenderungan absolutisme dalam sains. Jelas, saya tidak pernah mendasarkan argumentasi saya dalam pemahaman yang demikian. Berikut saya kutipkan kesimpulan saya di tulisan pertama:

Demikianlah kemudian, kita tidak seharusnya menggantungkan masa depan umat manusia kepada agama. Bahkan di tengah-tengah pandemi, kita tidak memiliki pilihan lain selain hanya percaya kepada otoritas sains; sekalipun ia tidak pernah dapat objektif dan bebas akan kepentingan, tapi itulah satu-satunya kebenaran yang manusia miliki sampai saat ini.

(Paragraf akhir tulisan pertama saya)

Pengakuan saya bahwa sains tidak pernah bisa objektif (saintisme menganggap sebaliknya) dengan jelas membatalkan tuduhan bahwa saya berpaham saintisme. Saya menolak menggantungkan masa depan umat manusia kepada agama dan memilih kebenaran sains tidak serta-merta mengartikan bahwa saya menerima sains sebagai satu-satunya pandangan hidup yang valid— maaf, saya bukan pembeli argumen science as the mirror of reality. Saya hanya menerima kebenaran pragmatis dari sains; bahwa ia benar sejauh ia berguna untuk kepentingan manusia. Tidak lebih dari itu.

Demikianlah kemudian tantangan yang diberikan oleh Gus Aziz untuk mencari para saintis yang berpaham saintisme jelas tantangan yang tidak berdasar. Bahkan Daniel Dennet, salah seorang neo-ateis kontemporer yang tergabung dalam lingkaran yang sama dengan Dawkins—yang dituduh oleh Gus Aziz sebagai penganut saintisme—menganggap bahwa istilah saintisme hanyalah sentimen orang-orang yang membenci para pencari fakta. Namun, jika memaksakan diri untuk mencari penganut saintisme, justru ia datang dari kubu yang berlawanan dengan Dawkins, yakni Mario Bunge (seorang fisikawan dan filsuf sains dari Argentina).

Sekali lagi, apakah Gus Aziz masih bersikukuh menuduh saya seorang penganut saintisme? Kenapa tidak sekalian saja pengikut Dajjal, biar kaffah iman Anda!

NB: Saya tidak ingin menanggapi lagi soal kehendak bebas, karena berkaitan dengan akidah. Saya tidak mau bertanggungjawab atas akidah orang lain.

*sumber gambar: exploringyourmind.com

The Platform: Imaji Solidaritas Spontan

0
the platform

Seorang pria bernama Goreng (Ivan Massagué) terbangun di ruang no. 48 bersama dengan Trimagasi (Zorion Eguileor). Saat itulah, bangunan vertikal seperti penjara—The Hole menyimpan alegori kesenjangan kelas-sosial lewat bagaimana setiap orang memiliki kesempatan 1 × 24 jam hanya sekadar untuk menikmati makanan (dengan waktu terbatas) yang telah disediakan oleh pengelola. Makanan turun dari lantai 0 menuju lantai paling dasar.

Goreng lalu berjalan untuk melihat sekeliling ruang dan menghitung setidaknya terdapat dua orang tiap ruangan. Ia memiliki alasan kuat mengapa dirinya secara sukarela mendaftarkan diri menjadi bagian dari ‘eksperimen sosial’ ini. Ia hanya ingin menghabiskan waktunya untuk menemukan ketenangan sekaligus kenikmatan saat membaca buku. Pengelola memberikan izin setiap volunter membawa satu barang kesayangannya, dan Goreng memilih Don Quixote karya Miguel de Cervantes.

 Apa yang dia mimpikan berbalik arah. Setiap satu bulan sekali, dua orang akan saling bertukar sekaligus menempati ruangan secara acak. Setiap makanan yang dihidangkan bergerak secara vertikal dari atas ke bawah. Goreng mengetahui alasan mengapa mereka yang berada di ruangan teratas memilih untuk menghabiskan porsi yang lebih banyak tanpa memikirkan kondisi mereka yang di bawah. Alasannya, mereka takut mati. Goreng mengamatinya berhari-hari sembari berpuasa karena merasa jijik sebab hidangan makanan yang sampai pada kamarnya telah berantakan dan rusak.

Trimagasi memberikan penjelasan bahwa aturan di penjara ini adalah menjadi tamak dan rakus untuk sekadar bertahan hidup. Trimagasi juga tidak mengetahui kapan dirinya akan mati kelaparan kemudian hari. Saat itulah, Goreng berusaha menyiasatinya dengan menyembunyikan makanan kecil. Anehnya, penjara itu tidak mengizinkan siapa pun untuk menyembunyikan makanan. Jika itu terjadi maka ruang penjara itu akan menjadi sangat panas atau sangat dingin. Entah bagaimana caranya, tata cara makan menjadi aturan paling otoriter. Pengelola hanya memperhatikan persoalan hidangan. Tidak ada yang lain. Apa pun cara yang dilakukan oleh setiap orang bukan menjadi tanggung jawab pengelola, sekalipun adanya tindak kanibalisme.

Alur cerita The Platform yang menawarkan sisi kelam, menjijikkan, dan sadis masih tetap mengutamakan ‘nilai’ tersembunyi tentang bagaimana seharusnya manusia bertindak di tengah-tengah kelaparan yang disebabkan oleh segelintir kelompok. Saya melihat, The Platform berusaha menjelaskan fase-fase krisis kepercayaan diri Goreng dalam menyikapi situasi ‘distopia’ yang dihadapinya. Awalnya, Goreng merupakan seorang yang sangat altruis dan optimis bahwa sistem yang ada dapat diubah menjadi lebih baik. Goreng berusaha bernegosiasi dengan setiap orang, meskipun hanya melalui suara—entah terdengar atau tidak dari lantai paling atas sampai terbawah.

Fase berikutnya, ketika Goreng sangat percaya dengan idealisme dibenturkan dengan keadaan yang sangat lapar. Goreng terpaksa memakan sisa-sisa makanan yang menjijikkan itu. Makanan yang tak berbentuk, diinjak-injak, dan akan membuatnya mual apabila masih memikirkan penampilan dan cita rasa makanan itu sendiri. Namun, itu semua berubah saat dirinya menjadi bahan makanan cadangan Trimagasi. Saat itulah, idealismenya runtuh seketika. Dirinya yang pasrah jika akan dicincang secara lembut untuk mengganjal isi perut Trimagasi. Baginya, apa yang dilakukannya adalah persilangan antara berkorban untuk orang lain, mati kelaparan, atau tetap menjadi seorang yang idealis. Pada puncaknya, Goreng sendirilah yang membunuh Trimagasi.

Tidak berhenti, bulan berikutnya, Goreng terbangun di lantai 202 bersama dengan Imoguiri (Antonia San Juan), seorang yang mewawancarai dirinya sesaat sebelum memasuki penjara vertikal. Fase Imoguiri, merupakan titik tolak Goreng menyadari adanya harapan untuk melakukan perubahan. Imoguiri dan Goreng sepakat untuk melakukan persuasi dan pendekatan secara halus agar semua orang mau berbagi makanan dan setiap orang harus mau mengatur porsi makanannya. Cita-cita itulah yang disebut dengan solidaritas spontan. Imoguiri meyakini bahwa lubang penjara ini akan melahirkan solidaritas spontan untuk umat manusia di masa depan.

Fase terakhir, Goreng saat dirinya menempati lantai 5, makanan yang masih layak ada di depan matanya. Bersama dengan Baharat (Emilio Buale Coka), Goreng menginginkan perubahan radikal. Mereka berdua kemudian mengatur seluruh distribusi makanan yang ada. Mereka membaginya sampai lantai terdasar. Meskipun, faktanya mereka melakukan tindakan kekerasan dan membunuh sebagian orang yang tidak patuh pada perintah mereka. Akhir cerita, Goreng menemukan kebenaran atas enigma penjara. Padahal, tidak banyak yang dijelaskan oleh film ini tentang siapa pengelola, apa alasan mendirikan bangunan ini, mengapa ada anak kecil, mengapa lantai dasarnya berjumlah 333, dan banyak pertanyaan yang disisakan.

Secara teoretis, konsep solidaritas spontan ala Goreng dapat menjadi rumit bila mengikuti Hierarki Kebutuhan Maslow. Bagaimana mungkin Goreng dapat memenuhi kebutuhan atas aktualisasi diri (tingkat keenam), jika tingkat dasar fisiologis dan rasa aman Goreng belum cukup terpenuhi? Pilihannya pada film itu ialah: Goreng menahan diri dengan memakan beberapa halaman bukunya, memakan atau dimakan sesamanya, mati bunuh diri, atau memilih mati kelaparan tanpa mengambil risiko apa pun. Goreng sangat mendambakan agar seluruh orang dalam penjara itu dapat berteriak ‘satu untuk semua dan semua untuk satu’. Persoalannya, bagaimana Goreng mampu mendistribusikan solidaritasnya untuk keberagaman pandangan setiap orang? Apakah solidaritas menyamaratakan setiap orang? Atau solidaritas adalah sekadar kepatuhan atas kuasa Goreng dan Baharat dalam mengatur distribusi makanan? Padahal, distribusi solidaritas itu sendiri belum terpenuhi.

Tidak heran, di tengah-tengah wabah global Covid-19, The Platform (Netflix) bisa dinikmati saat kalian semua sedang melakukan penjarakan fisik dan pembatasan sosial. Jika di film itu menggambarkan bagaimana distribusi makanan ‘yang ideal’ seharusnya dilakukan, hari ini, di seluruh dunia, masih memikirkan bagaimana seharusnya distribusi alat perlindungan diri atau dukungan kesehatan publik dapat berjalan dengan baik. Di samping itu, solidaritas spontan mungkin akan muncul saat krisis tiba seperti situasi saat ini. Setiap orang secara spontan (atau takut) berusaha berkomitmen untuk melakukan pencegahan penyebaran virus korona ini secara kolektif. Akan tetapi, entah sampai kapan ‘solidaritas spontan’ ini mampu bertahan, seandainya mereka lantas tidak dihadapkan dengan kelangkaan kebutuhan dasar, seperti halnya distribusi makanan untuk dirinya sendiri di tengah-tengah wabah ini.

*Sumber gambar: collider.com