More

    Yuval Noah Harari: Dunia setelah Virus Korona

    Ahmad Thariq
    Ahmad Thariqhttp://antinomi.org
    Kru redaktur Islam Bergerak. Penulis lepas, dan aktivis paruh waktu.

    Artikel Terbaru

    Realisme dan Anti-realisme dalam Pemikiran Martin Heidegger

    Pemikiran Martin Heidegger masih terasa pengaruhnya hingga hari ini. Ketika perkembangan teknologi dan sains semakin maju, manusia terasing di dalam sistem...

    Where Is God in a Coronavirus World?

    This year's coronavirus pandemic has truly shaken the world's citizens both physically and mentally. People are required to self-isolate to prevent...

    Waktu: Jejaring Peristiwa dan Relasinya (Bagian 2)

    Penjelasan bagian pertama sedikit banyak telah “meruntuhkan” konsepsi waktu awam yang biasa kita kenal. Mulai dari keumuman, ketakgayutan, serta kesetangkupan (simetris)...

    Pengakuan Dunia-Kehidupan yang Sakramental: Pembunuhan Tuhan dan Ekonekrofilia

    Edmund Husserl, dalam fenomenologinya, memperkenalkan istilah “dunia-kehidupan”. Ia mempopulerkannya dengan istilah lebenswelt atau lifeworld (leben: hidup dan welt: dunia). Istilah ini...

    Beberapa Catatan Tak Tuntas Tentang Kegilaan

    Konsep kegilaan, atau penyakit mental, mengacu pada deviasi dari pemikiran, penalaran, perasaan, attitude, dan perbuatan normal, yang oleh subjeknya, atau orang...

    Umat manusia saat ini sedang menghadapi sebuah krisis global. Barangkali krisis terbesar yang terjadi pada generasi kita. Keputusan yang dibuat oleh masyarakat dan pemerintah beberapa minggu berikutnya akan membentuk dunia beberapa tahun berikutnya. Mereka tidak hanya akan membentuk sistem kesehatan, tetapi juga ekonomi, politik, dan kebudayaan kita. Kita harus bergerak cepat dan penuh keyakinan. Kita juga harus memperhitungkan dampak jangka panjang dari tindakan yang diambil. Manakala kita mencoba memilih sebuah alternatif, kita seharusnya tidak hanya mempertanyakan bagaimana mengatasi ancaman yang terjadi saat ini, tetapi juga dunia apa yang ingin kita tinggali selepas badai berlalu. Ya, badai pasti akan berlalu, umat manusia akan bertahan, banyak dari kita akan tetap hidup — akan tetapi kita akan tinggal di sebuah dunia yang berbeda.

    Banyak tindakan darurat jangka pendek akan dijadikan pengaturan hidup. Itu adalah watak alamiah dari kedaruratan. Mereka mempercepat sebuah proses sejarah. Keputusan yang pada waktu normal memerlukan pertimbangan bertahun-tahun dapat dirampungkan hanya dalam rentang hitungan jam. Teknologi yang belum layak uji dan bahkan berbahaya terpaksa dipergunakan, karena memilih untuk diam menyimpan risiko lebih besar. Seluruh negara dijadikan marmut percobaan dalam eksperimen sosial skala luas. Apa yang terjadi ketika orang-orang bekerja dari rumah dan berkomunikasi hanya dari jarak jauh? Apa yang terjadi ketika sekolah dan universitas beroperasi lewat daring? Pada waktu normal, jajaran pemerintah, pengusaha, dan pendidik tidak akan pernah setuju untuk menjalankan eksperimen tersebut. Tapi jelas ini bukanlah waktu normal. 

    Dalam masa krisis seperti sekarang, kita dihadapkan dengan dua pilihan penting secara khusus. Pertama, antara pengawasan totaliter dan pemberdayaan sipil. Kedua, antara isolasi nasionalis dan solidaritas global. 

    Pengawasan yang Sesungguhnya

    Demi menghentikan epidemi, seluruh penduduk harus patuh pada panduan tertentu. Terdapat dua cara utama demi mencapai hal tersebut. Metode pertama adalah pemerintah harus memantau setiap orang, dan menghukum siapa saja yang melanggar ketentuan yang ditetapkan. Saat ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, teknologi memungkinkan pemantauan terhadap semua orang setiap saat. Lima puluh tahun silam, KGB tidak mampu mengikuti warga Soviet yang berjarak 240 m selama 24 jam, KGB juga tidak bisa berharap dapat memproses seluruh informasi yang terkumpul secara efektif. KGB mengandalkan agensi dan analis manusia, dan oleh karena itu tidak mungkin menempatkan agen manusia untuk mengawasi setiap gerak-gerik warganegara. Akan tetapi, pemerintah hari ini dapat mengandalkan sensor di mana-mana dan algoritma yang kuat ketimbang hantu berdarah daging.

    Dalam pergulatan mereka melawan epidemi virus korona pemerintah telah mengerahkan banyak perangkat pengawasan termutakhir. China merupakan kasus yang layak diperhatikan. Dengan mengawasi secara seksama gawai setiap orang, mempergunakan ratusan juta kamera pengenal wajah, dan mewajibkan setiap orang untuk mengecek dan melaporkan temperatur tubuh dan kondisi medis mereka, otoritas China tak hanya dapat cepat mengidentifikasi mereka yang dicurigai terjangkit virus korona, tetapi juga melacak pergerakan mereka dan mengidentifikasi dengan siapa saja mereka bersentuhan. Berbagai aplikasi seluler memberikan peringatan terhadap warga terkait kedekatan jarak mereka dengan pasien terinfeksi.

    Teknologi jenis ini tidak hanya terbatas di Asia Timur. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu baru-baru ini melimpahkan wewenang kepada Badan Pertahanan Israel untuk mengerahkan teknologi pengawasan yang pada biasanya dipergunakan demi menumpas teroris untuk melacak pasien virus korona. Saat tim kecil bersangkutan menolak untuk melimpahkan wewenang bertindak, Netanyahu menabraknya dengan “dekrit keadaan darurat”.

    Anda mungkin berpendapat bahwa tidak ada yang baru dari semua ini. Dalam beberapa tahun belakangan pemerintah dan korporasi sudah menggunakan teknologi tercanggih yang pernah ada untuk melacak, memantau, dan memanipulasi orang banyak. Apabila kita tidak berhati-hati, epidemi akan menjadi sebuah babak baru dalam sejarah pengawasan umat manusia. Bukan hanya karena ia dapat melumrahkan penggunaan perangkat pengawasan massal dalam suatu negara yang selama ini menolak hal tersebut, melainkan juga karena ia menandai sebuah transisi dramatis dari pengawasan “di luar kulit” menuju pengawasan “di dalam kulit”

    Hingga kini, saat jarimu menyentuh layar gawai dan menekan sebuah pranala, pemerintah ingin mengetahui secara seksama apa yang kamu tekan. Tetapi dengan virus korona, fokus perhatian berubah. Sekarang pemerintah ingin mengetahui temperatur jarimu sekaligus tekanan darah di balik kulit.  

    Puding Keadaan Darurat

    Salah satu persoalan yang kita hadapi saat ingin tahu di mana posisi kita berdasarkan pengawasan adalah tidak ada satu pun dari kita yang mengetahui bagaimana kita diawasi, dan apa yang akan terjadi pada tahun-tahun selanjutnya. Teknologi pengawasan berkembang dengan sangat cepat, dan apa yang tampak sebagai fiksi ilmiah pada 10 tahun lalu kini telah menjadi berita usang. Mari kita coba lakukan sebuah eksperimen pikiran: pertimbangkan sebuah hipotesis di mana pemerintah menuntut seluruh warganya untuk menggunakan gelang biometris yang memantau temperatur tubuh dan detak jantung selama 24 jam. Data yang dikumpulkan kemudian ditimbun dan dianalisis oleh algoritma pemerintah. Algoritma akan mengetahui bahwa kamu sakit bahkan sebelum kamu sendiri mengetahuinya, dan algoritma itu dapat mengetahui kamu habis dari mana saja, dan siapa saja yang kamu temui. Rantai infeksi dapat dengan segera dipangkas, dan bahkan dihentikan seutuhnya. Sistem seperti itu dapat menghentikan penyebaran epidemi dalam sehari. Terdengar indah, bukan?

    Sisi buruknya ialah, tentu saja, ini akan memberi legitimasi untuk sistem pengawasan baru yang mengerikan. Jika kamu tahu, misalnya, bahwa saya lebih sering memencet pranala Fox News dibanding pranala CNN, maka itu akan memberitahumu tentang pandangan politik dan bahkan mungkin kepribadian saya. Tetapi jika kamu dapat memantau apa yang terjadi dengan temperatur tubuh, tekanan darah, dan detak jantung saya saat menyaksikan sebuah video klip, kamu dapat mempelajari apa yang membuat saya tertawa, menangis, dan bahkan marah, teramat marah. 

    Penting untuk diingat bahwa kemarahan, kesenangan, kebosanan, dan cinta adalah fenomena biologis seperti halnya demam dan batuk. Teknologi yang mengenali batuk dapat juga digunakan untuk mengenali tawa. Apabila perusahaan dan pemerintah mulai memungut data biometris kita secara massal, mereka bisa lebih mengetahui diri kita daripada diri kita sendiri, dan mereka tidak hanya akan dapat menebak tetapi juga memanipulasi perasaan kita dan menjual apa saja yang kita inginkan — entah itu berupa produk maupun tokoh politik. Pemantauan biometris dapat membuat taktik retas data Cambridge Analytica terlihat seperti sesuatu dari Zaman Batu. Bayangkan Korea Utara di tahun 2030, di mana warganegara harus memakai gelang biometris selama 24 jam sehari. Jika kamu menyimak pidato dari Pemimpin Besar dan gelang tersebut memberikan isyarat kemarahan, kamu akan mampus seketika.

    Tentu saja, kamu bisa menganggap pengawasan biometris sebagai tindakan sementara di masa keadaan darurat. Ia akan menghilang sesaat setelah keadaan darurat usai. Akan tetapi, tindakan sementara memiliki kebiasan buruk melampaui kondisi darurat, mengingat selalu akan ada kondisi darurat baru kelak. Negara asal saya Israel, misalnya, mendeklarasikan kondisi darurat saat Perang Kemerdekaan 1948, yang menjustifikasi serangkaian tindakan sementara mulai dari sensor pers dan penyitaan tanah hingga aturan khusus terkait pembuatan puding (saya tidak bergurau). Perang Kemerdekaan sudah lama dimenangkan, tapi Israel tidak pernah mendeklarasikan kondisi darurat berakhir, dan telah gagal menghapuskan banyak tindakan “sementara” pada 1948 (untungnya dekrit darurat puding telah dihapuskan pada tahun 2011). 

    Bahkan apabila infeksi virus korona jatuh hingga titik nol, beberapa pemerintah yang haus data dapat berdalih mereka harus tetap menyimpan sistem pengawasan biometris itu sebab khawatir ada gelombang virus korona kedua, atau karena telah ada Ebola baru yang berkembang di bagian tengah Afrika, atau karena . . .  kamu mungkin sudah paham. Perang besar telah bergejolak beberapa tahun ini yang mengancam privasi kita. Krisis virus korona dapat menjadi titik kritis dari pertempuran. Saat seseorang dituntut untuk memilih antara privasi dan kesehatan, mereka umumnya akan memilih kesehatan.

    Polisi Sabun

    Meminta orang-orang untuk memilih antara privasi atau kesehatan sebenarnya merupakan akar dari permasalahan yang ada. Karena ini adalah opsi pilihan yang keliru. Kita bisa dan memang seharusnya menikmati privasi dan sekaligus kesehatan. Kita dapat memilih untuk melindungi kesehatan kita dan menghentikan epidemi virus korona dengan tidak melembagakan rezim pengawasan totaliter, namun dengan memberdayakan warga. Dalam beberapa pekan terakhir, beberapa usaha paling berhasil untuk menahan epidemi virus korona diorkestrasi oleh Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura. Sementara negara tersebut telah mempergunakan beberapa aplikasi pelacak, mereka jauh lebih menekankan pada pengujian secara luas, pelaporan yang jujur, dan tekad bulat untuk bekerjasama dengan publik yang terinformasi. 

    Pematauan sentralistis dan hukuman yang keras bukanlah satu-satunya cara untuk membuat orang menjalankan isi pedoman yang bermanfaat. Saat orang-orang diberitahu tentang fakta ilmiah, dan ketika mereka mempercayai otoritas publik untuk memberitahu mereka tentang fakta tersebut, maka warga dapat bertindak secara tepat bahkan tanpa pantauan seorang Bung Besar. Masyarakat yang memiliki motivasi-diri dan tidak picik biasanya jauh lebih berdaya dan efektif dibanding masyarakat yang lugu yang didisiplinkan. 

    Soal mencuci tangan dengan sabun, misalnya. Ini merupakan salah satu kemajuan terbesar manusia dalam hal kebersihan. Perilaku sederhana ini menyelamatkan jutaan umat manusia setiap tahun. Sementara kita menerimanya begitu saja, pada abad 19 para ilmuwan menemukan pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun. Pada masa sebelumnya, bahkan dokter dan suster melanjutkan operasi bedah dari satu pasien ke pasien lainnya tanpa mencuci tangan. Hari ini milyaran orang terbiasa mencuci tangan mereka, bukan karena mereka takut akan polisi sabun, tetapi karena mereka mengetahui faktanya. Saya mencuci tangan karena mengetahui tentang virus dan bakteri. Saya memahami bahwa organisme kecil ini dapat menyebabkan penyakit, dan saya tahu sabun dapat membersihkannya. 

    Akan tetapi, untuk mencapai taraf kesukarelaan dan kerjasama seperti itu, kamu perlu rasa percaya. Orang-orang harus mempercayai ilmu pengetahuan, mempercayai otoritas publik, dan mempercayai media. Dalam beberapa tahun terakhir, politisi takbertanggungjawab telah dengan sengaja meremehkan ilmu pengetahuan, otoritas publik, dan media. Sekarang politisi yang takbertanggungjawab itu mungkin tergoda untuk memilih otoritarianisme, dengan dalih kamu tidak bisa mempercayai publik untuk bertindak dengan benar. 

    Lumrahnya, kepercayaan yang sudah terkikis bertahun-tahun tidak dapat dikembalikan hanya dengan semalam. Tapi ini bukanlah kondisi normal. Dalam masa krisis, pikiran pun dapat berubah dengan cepat. Kamu bisa saja terlibat perdebatan pahit dengan saudara kandungmu, tetapi saat kondisi darurat muncul, kamu tiba-tiba menemukan mata air tersembunyi yang menyimpan rasa percaya dan persahabatan, dan kamu bergegas menolong satu sama lain. Ketimbang membangun rezim totaliter, belum terlambat untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap ilmu pengetahuan, otoritas publik, dan media. Kita juga harus menggunakan teknologi terbaru, namun teknologi ini haruslah memberdayakan khalayak luas. Saya mendukung pengukuran temperatur tubuh dan tekanan darah saya, tetapi data tersebut tidak boleh disalahgunakan untuk membangun pemerintahan mahadahsyat. Melainkan, data tersebut harus memungkinkan saya untuk mengambil pilihan pribadi yang bijak, dan juga untuk menjaga kebijakan pemerintah agar akuntabel. 

    Jika saya bisa melacak kondisi medis dalam waktu 24 jam, saya dapat mempelajari apakah saya telah menjadi bahaya kesehatan bagi orang lain, dan juga memperhatikan kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan. Dan apabila saya bisa mengakses dan menganalisis statistik terpercaya tentang penyebaran virus korona, saya dapat menilai apakah pemerintah memang memberitahukan kebenaran dan apakah mereka mengambil kebijakan yang tepat untuk menangani epidemi. Di mana saja orang-orang memperbincangkan pengawasan, ingatlah baik-baik bahwa teknologi yang sama digunakan oleh pemerintah untuk memantau individu — tapi juga individu terhadap pemerintah. 

    Epidemi virus korona adalah ujian besar kewarganegaraan. Beberapa hari ke depan, setiap dari kita harus memilih untuk memercayai ilmu pengetahuan dan pakar kesehatan dibanding konspirasi tidak berdasar dan politisi rakus. Apabila kita gagal membuat pilihan yang tepat, kita mungkin akan mengorbankan kebebasan kita yang paling berharga, dan berpikir bahwa itulah satu-satunya yang dapat menyelamatkan kesehatan kita.

    Kita Butuh Rencana Global

    Pilihan penting kedua yang harus kita hadapi adalah antara isolasi nasionalis dan solidaritas global. Epidemi itu sendiri dan sekaligus krisis ekonomi yang menyertainya adalah masalah global. keduanya bisa diselesaikan hanya dengan kerjasama global. 

    Pertama dan terutama, demi mengatasi virus kita harus berbagi informasi secara global. Itu adalah kelebihan besar umat manusia dibanding virus. Virus korona di China dan di AS tidak bisa bertukar siasat bagaimana untuk menginfeksi manusia. Tapi China dapat memberikan AS pelajaran berharga tentang virus korona dan bagaimana cara mengatasinya. Apa yang ditemukan oleh dokter Italia di Milan di pagi hari dapat menyelamatkan nyawa di Tehran sore harinya. Ketika pemerintah Inggris menghadapi keraguan tentang beberapa kebijakan, ia bisa meminta saran dari Korea yang telah menghadapi dilema serupa sebulan lalu. Tetapi agar semua ini bisa terjadi, kita memerlukan semangat kerjasama global dan rasa saling percaya. 

    Negara harus berkenan untuk bertukar informasi dan berendah hati meminta saran, dan harus bisa mempercayai data dan wawasan yang diperoleh. Kita juga perlu usaha global untuk memproduksi dan mendistribusikan perlengkapan kesehatan, terutama perkakas pengujian dan mesin pernapasan. Ketimbang setiap negara bersikeras untuk menerapkannya di skala lokal dan menimbun peralatan yang dapat dimiliki, usaha global yang terkoordinasi mampu mempercepat produksi dan memastikan peralatan kesehatan terdistribusi secara adil. Seperti halnya negara menasionalisasi industri utama saat perang, perang kemanusiaan melawan virus korona mungkin mengharuskan kita untuk “memanusiakan” jalur produksi yang krusial. Negara kaya yang kasus virus koronanya lebih sedikit harus bersedia mengirim peralatan berguna kepada negara tertinggal yang memiliki lebih banyak kasus, mempercayai bahwa apabila hal yang sama menimpa mereka, negara lain akan datang memberikan bantuan. 

    Kita mungkin juga memikirkan tentang usaha global serupa terkait tenaga medis. Negara yang kurang terinfeksi bisa mengirimkan tenaga medis kepada negara yang paling membutuhkan di dunia, baik untuk menolong mereka di saat-saat paling membutuhkan, atau untuk mendapat pengalaman berharga. Apabila fokus epidemi beralih, bantuan bisa datang dari arah sebaliknya. 

    Kerjasama global juga diperlukan di garda ekonomi. Mengingat watak global dari ekonomi dan rantai pasokan, apabila setiap pemerintahan berlaku semaunya tanpa mempertimbangkan imbasnya terhadap yang lain, hasilnya adalah kekacauan dan krisis yang semakin dalam. Kita memerlukan recana gerak skala global, dan kita membutuhkan itu secepatnya. 

    Kebutuhan lainnya adalah meraih kesepakatan global tentang lalu lintas perjalanan. Menunda keberangkatan internasional untuk sebulan akan berdampak pada kesulitan yang besar, dan menghambat perang melawan virus korona. Negara perlu bekerjasama demi memperbolehkan beberapa perjalanan penting untuk berlanjut melintasi batas: ilmuwan, dokter, jurnalis, politisi, dan orang penting. Ini bisa dicapai dengan mencapai kesepakatan global tentang penyaringan awal orang yang hendak bepergian dari negara asal mereka. Apabila kamu mengetahui hanya mereka yang lolos penyaringan dizinkan untuk pergi, kamu akan lebih bersedia menerima mereka yang datang di negaramu. 

    Sayangnya, negara hari ini enggan melaksanakan ini. Ketidakmampuan kolektif telah mencengkeram komunitas internasional. Seperti tidak ada yang cukup dewasa di sini. Kita mungkin berharap pertemuan darurat pemimpin dunia sejak seminggu lalu menghasilkan rencana aksi bersama. Pemimpin G7 baru berhasil menyelenggarakan konferensi video hanya pada pekan ini, dan tidak menghasilkan rencana demikian. 

    Pada krisis global sebelumnya — seperti krisis finansial 2008 dan epidemi Ebola tahun 2014 — AS berlagak berperan sebagai pemimpin dunia. Akan tetapi AS hari ini telah turun tahta dari pimpinan dunia. Sudah jelas mereka lebih mementingkan kebesaran Amerika dibanding masa depan manusia. 

    Para jajaran mereka bahkan telah mencampakkan sekutu terdekatnya. Saat mereka melarang seluruh kedatangan dari UE, mereka merasa tidak perlu repot untuk memberikan keterangan lebih lanjut kepada UE — terlebih berkonsultasi dengan UE terkait tindakan itu. Mereka telah berskandal dengan Jerman dengan dugaan penawaran sebesar $1bn kepada perusahaan farmasi Jerman untuk membeli hak monopoli vaksin Covid-19 . Bahkan apabila jajaran hari ini mengubah taktik dan menghadirkan rencana aksi, hanya sedikit yang akan mengikuti pemimpin yang tidak bertanggungjawab, yang tidak pernah mengakui kesalahan, dan yang selalu berusaha meraup reputasi sambil mempersalahkan pihak lainnya. 

    Apabila lubang yang ditinggal AS tidak diisi oleh negara lain, bukan hanya akan jauh lebih sulit menghadapi epidemi, tetapi juga warisan itu akan terus meracuni hubungan internasional tahun-tahun berikutnya . Akan tetapi setiap krisis juga adalah peluang. Kita harus berharap bahwa epidemi ini akan membuat umat manusia sadar bahaya akut dari perpecahan. 

    Umat manusia harus membuat pilihan. Apakah kita akan berjalan menurun menuju perpecahan, atau apakah kita akan memilih jalur solidaritas global? Apabila kita memilih perpecahan, ini tidak hanya akan memperpanjang krisis, tapi juga mungkin akan melahirkan bencana yang lebih buruk di masa mendatang. Apabila kita memilih solidaritas global, itu akan menjadi kemenangan tak hanya terhadap virus korona, tapi juga terhadap seluruh epidemi dan krisis yang mungkin menimpa umat manusia di abad 21. 

    *Yuval Noah Harari adalah penulis‘Sapiens’, ‘Homo Deus’ dan ‘21 Lessons for the 21st Century’

    **Artikel ini adalah terjemahan dari tulisan Yuval Noah Harari di Financial Times berujudul “Yuval Noah Harari: the world after coronavirus”, edisi 20 Maret 2020. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia demi tujuan saling mengingatkan dan pendidikan.

    ***Sumber gambar: wsj.com

    Related articles

    2 Comments

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here