More

    Tuhan di Sisa-sisa Wabah: Antara Korona, Sains, dan Agama

    Risalatul Hukmi
    Risalatul Hukmi
    Post-Nietzschean free thinker

    Artikel Terbaru

    Masa Depan Relasi Filsafat Ilmu-Teknologi

    Don Ihde pada tahun 2004 menyebarkan keraguan dan harapan. Dengan artikelnya yang berjudul “Telah sampaikah filsafat teknologi? Keadaan Terbaru”, Ihde mengevaluasi...

    Kemungkinan Peran Fenomenologi dalam Memecahkan Teka-teki Kuantum

    Steven French berpendapat bahwa pada jantung problem pengukuran kuantum terdapat kesalahpahaman yang fatal dalam memahami hubungan subjek-objek. Jika melihat lebih dekat pada...

    Memahami Kembali Manusia di Era Teknologi

    Keberadaan teknologi membawa manusia pada koin dari harapan yang diandaikan memiliki dua sisi. Satu sisi dapat berperan sebagai upaya membebaskan manusia...

    Tentang Spesialisasi dan Kesusah-teraksesannya Filsafat

    James Ladyman berargumen bahwa ketidakteraksesannya filsafat merupakan sesuatu yang bagus. Jika filsafat adalah sebuah kecintaan terhadap kebijaksanaan dan mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seharusnya kita (menjalani)...

    Pembalikan Tatanan Dependensi: Dari Ontologi Berorientasi Objek ke Ontologi Berorientasi Struktur

    Realisme struktural memiliki dua pilihan, yaitu dengan mengakui adanya sesuatu yang melampaui struktur—sebutlah X—di dunia, yang biar bagaimanapun kita tidak memiliki aksesibilitas untuk mengetahuinya...

    Wabah membuktikan sekali lagi bagaimana sains adalah satu-satunya pencapaian manusia yang dapat dipercaya sampai saat ini. Selain meruntuhkan kembali bayangan-bayangan kita tentang sistem ekonomi-politik yang ideal, wabah Covid-19 juga memaksa kita untuk kembali memikirkan ulang premis-premis dasar kita dalam berkeyakinan; apakah agama secara prinsip bertentangan dengan sains. Pertanyaan tersebut pada akhirnya juga mengantarkan kita pada pertanyaan yang lebih mendasar tentang modus eksistensi kita; apakah kita benar-benar memiliki kehendak bebas?

    Covid-19, tentu saja, bukanlah kasus pertama yang mempertemukan agama dan sains di persimpangan jalan. Sejarah konflik antara agama dan sains sudah dimulai sejak ratusan tahun lalu; bumi datar vs bumi bulat, geosentris vs helio sentris, kreasionisme vs evolusionisme, dan masih banyak kasus lainnya yang tak kalah pelik. Namun, dari semua konflik tersebut, pandemi adalah kasus paling krusial sebab ia gayut dengan eksistensi dan keselamatan manusia. Dalam hal inilah kita hanya butuh merumuskan satu pertanyaan; apakah agama dan sains dalam prinsipnya bertentangan? Pertanyaan tersebut pada akhirnya akan mengantarkan kita pada sebuah keputusan epistemik; mana yang lebih adekuat di antara keduanya.

    Russell, dalam bukunya Religion and Science (1974), mengatakan bahwa agama dan sains dalam prinsipnya memiliki kontradiksi fundamental. Menurut Russell, keduanya mendasarkan prinsip kebenarannya kepada asumsi epistemologis yang sama sekali berbeda; agama selalu berangkat dari klaim-klaim universal berdasarkan wahyu ataupun doktrin-doktrin metafisis lainnya yang kebenarannya bersifat absolut, sementara sains bertolak dari klaim-klaim partikular yang dibuktikan melalui eksperimen yang kebenarannya tentatif. Dari perbedaan prinsip itulah kita kemudian dapat mengatakan bahwa jika keduanya bertemu pada persoalan dengan objek material yang sama, maka keduanya tidak akan mungkin terhindar dari konflik.

    Dalam kerangka pemahaman tersebut, kita kemudian sampai pada persoalan apakah agama dan sains memiliki objek persoalan yang sama sehingga memungkinkan untuk saling tumpang-tindih? Jay Gould, dalam bukunya The Rocks of Ages: Science and Religion in the Fullness of Life (1999), mencoba menjawab persoalan tersebut dengan mengajukan Non Overlapping Magisteria Argumentation (NOMA). Gould dengan tegas menyatakan bahwa agama dan sains berada pada ranah yang berbeda sehingga tidak mungkin untuk diintegrasikan apalagi dipertentangkan. Argumen ini didasarkan pada premis bahwa agama tidak pernah berbicara tentang dunia material yang menjadi ranah sains; agama hanya berurusan dengan makna, nilai, dan tujuan dari eksistensi manusia.

    Dalam pembagian tipologi relasi agama dan sains yang diberikan oleh Barbour dalam bukunya Religion in The Age of Science (1990), NOMA mengandaikan dua pendekatan yang berbeda; independensi dan dialog. Pendekatan yang pertama mengandaikan keberpisahan penuh, sementara yang kedua memberikan ruang dialog untuk saling memahami satu sama lain. Dalam tulisan-tulisan populer, kita dapat menemukan bentuk-bentuk argumentasi ini dalam bukunya Karen Armstrong, The Case for God  (2009), yang ditujukan untuk membantah argumen-argumen ateisme ilmiah yang diusung oleh Dawkins dan beberapa ilmuan lain.

    Tentu saja, NOMA bukanlah argumentasi yang cukup memadahi, jika bukan malah sesat pikir. Dawkins dalam tulisannya berjudul When Religion Steps on Science’s Turf (1998) membuktikan secara argumentatif bahwa agama dalam dirinya selalu mengandaikan klaim tentang dunia material ketika ia meyakini adanya kekuatan supranatural yang berkuasa penuh atas alam semesta dan seisinya. Klaim semacam itu, menurut Dawkins, secara tidak langsung menegasikan klaim sains yang hanya mengakui hukum alam sebagai modus kerja satu-satunya di alam semesta. Artinya kemudian, agama dan sains tidak pernah berada dalam ranah yang benar-benar terpisah sehingga pendekatan independensi itu tidak mungkin; yang mungkin hanyalah konflik atau integratif.

    Sains di Indonesia: sebuah paradoks

    Wabah Covid-19 setidaknya menunjukkan pada kita wajah manusia Indonesia yang sebenarnya; penuh paradoks. Di satu sisi, kita dituntut oleh sebuah sistem masyarakat yang mengharuskan kita menjadi seorang yang religius, namun di sisi yang lain kita juga ingin mengejar ketertinggalan kita dalam perkembangan sains dan teknologi.

    Hal tersebut, tentu saja, tampak tidak bertentangan sebab kita meyakini bahwa agama dan sains dapat berjalan berdampingan—entah karena struktur sosial kita yang cenderung menghindari konflik atau kita tidak benar-benar memahami prinsip mendasar antara keduanya. Bahkan, pemikir-pemikir kita—khususnya dari kalangan muslim—semuanya berlomba-lomba untuk mengajukan argumentasi paling rasional untuk menjustifikasi bahwa agama (Islam) tidak pernah bertentangan dengan sains modern. Kenyataan tersebut secara apik terdokumentasikan dalam penelitian Zainul Bahri (2018) yang memperlihatkan adanya sebuah kecenderungan ekspresif dari kalangan pemikir muslim untuk menunjukkan kembali identitas keagamaan mereka secara politis di tengah-tengah ancaman westernisasi. Tak ayal kemudian jika kajian tentang relasi agama dan sains di Indonesia seluruhnya didominasi oleh pendekatan integratif yang pada akhirnya tampak seperti fenomena pseudo-intelektual; seluruh penemuan sains sebisa mungkin selalu dicarikan legitimasi ayat, doktrin, norma, dan lainsebagainya.

    Fenomena semacam itu, menurut saya, tidak lebih merupakan sebuah sindrom personalitas yang terbelah (split personality); perkembangan sains dan teknologi memaksa kita untuk sebisa mungkin merasionalkan ajaran-ajaran agama yang kita pegang teguh—yang sebenarnya sesat pikir. Permasalahannya jelas terletak pada ketidakmampuan kita untuk memahami premis-premis dasar yang kita gunakan dalam merespons sebuah persoalan: bahwa agama itu kebenaran mutlak, sementara sains sifatnya tentatif.

    Hal itulah yang akhir-akhir ini kita temukan banyak bertebaran di media sosial terkait wabah Covid-19. Begitu banyak klaim-klaim religius kontraproduktif yang dilemparkan oleh para pemeluk agama—bahkan juga para pemimpin agama—untuk melegitimasi kebenaran ajaran mereka dan betapa mulianya agama mereka. Mereka tidak memahami bahwa kerangka berpikir semacam itu, yakni upaya untuk mengintegrasikan agama dan sains, suatu saat akan bermasalah sebab kebenaran sains sangatlah tentatif; tidak ada kebenaran akhir, yang ada hanyalah kebenaran terakhir. Boleh jadi saat ini sebuah ayat terbukti benar secara saintifik, namun bagaimana jika suatu saat ada penemuan sains yang mengatakan itu salah, jangkar kebenaran mana yang harus dipakai; ayat atau temuan sains?

    Yang tersisa dari Tuhan

    Pada akhirnya, jika kita melihat kembali pada kasus Covid-19, hal paling masuk akal yang dilakukan menurut paradigma integratif adalah dengan menuruti kaidah sains terlebih dahulu kemudian baru berpasrah diri kepada Tuhan[1]. Tampak tidak bermasalah? Secara prinsip, jelas tetap bermasalah. Kerangka berpikir yang demikian secara tidak langsung menempatkan Tuhan hanya pada sisa-sisa ketidakmampuan kita menyelesaikan persoalan (God of the gap). Hal tersebut semakin bermasalah ketika kita benar-benar mampu menentukan nasib kita sendiri melalui temuan sains dan bantuan teknologi; di mana kita kemudian menempatkan Tuhan?

    Problem semacam itu hanya mungkin diselesaikan melalui argumentasi deisme yang meyakini bahwa Tuhan adalah seorang pembuat jam (the watchmaker). Deisme percaya bahwa ada Tuhan yang menciptakan alam semesta dan seisinya dengan sebuah ketetapan hukum—dan tugas sains adalah untuk memecahkan enigma tersebut. Namun, setelah penciptaan itu selesai, Tuhan tidak lagi ikut campur dalam seluruh proses kehidupan. Persoalannya, agama menjadi tidak lagi relevan dalam pemahaman semacam ini. Sebanyak apapun kita berdoa, bersujud, dan bersembahyang, Tuhan tidak akan pernah menjawab atau bahkan mendengarnya.

    Namun, dari itu semua, yang lebih parah adalah kecenderungan untuk menyangkal temuan-temuan saintifik hanya untuk melegitimasi kebenaran eskatologis; bahwa kematian itu kuasa Tuhan[2]. Pandangan semacam ini jelas sangat bermasalah. Pertama, penyangkalan atas kehendak bebas mengandaikan bahwa moralitas hanyalah omong kosong karena manusia tidak dapat dituntut pertanggungjawaban atas tindakannya—karena semua adalah kehendak Tuhan. Kedua, keyakinan deterministik semacam itu sangat berbahaya di tengah-tengah pandemi seperti saat ini; keyakinan individu dalam menyangkal bahaya virus korona bisa berakibat fatal untuk orang lain yang tidak mengerti apa-apa.

    Saya tidak hendak menyangkal bahwa agama juga memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh sains; dorongan psikologis yang membantu manusia mampu memaknai kehidupan, dalam kasus tertentu agama juga dapat menjadi modus komunikasi yang lebih efisien daripada sains. Namun, bukannya hal yang demikian itu menegaskan kembali bahwa kebodohan masih menjadi permasalahan penting? Juga, jika kita mengakui kekuatan psikologis yang dimiliki agama, bukannya hal tersebut menegaskan sekali lagi bahwa tuduhan Freud bahwa agama hanyalah problem neural itu benar; bahwa kita memiliki problem kesehatan mental yang akut, sehingga kita membutuhkan anti-depressan bernama agama?

    Demikianlah kemudian, kita tidak seharusnya menggantungkan masa depan umat manusia kepada agama. Bahkan di tengah-tengah pandemi, kita tidak memiliki pilihan lain selain hanya percaya kepada otoritas sains; sekalipun ia tidak pernah dapat objektif dan bebas akan kepentingan, tapi itulah satu-satunya kebenaran yang manusia miliki sampai saat ini.

    Referensi

    Armstrong, Karen. 2009. The Case for God. New York: Alfred A. Knopf.

    Bahri, Media Zainul. “Expressing Political and Religious Identity
    Religion-Science Relations in Indonesian Muslim Thinkers 1970-2014” in Al Jami’ah: Journal of Islamic Studies. Vol. 56, no. 1 (2018).

    Barbour, Ian G. 1990. Religion in An Age of Science: The Gifford Lectures 1989-1991 Vol. 1. California: HarperCollins.

    Gould, Stephen Jay. 1999. Rocks of Ages: Science and Religion in the Fullness of Life. New York: Ballantine Books.

    Russell, Bertrand. 1974. Religion and Science. New York: Oxford University Press.


    [1] Model argumen seperti ini selalu dikaitkan dengan ajaran Islam (hadits) yang menceritakan bahwa Muhammad menyuruh sahabatnya mengikat untanya, baru berpasrah pada Tuhan.

    [2] Kalian bisa melihat ceramah Habib Luthfi, seorang Mursyid besar Indonesia yang memiliki jutaan umat memberikan klaim yang sangat jauh dari kata bijak hanya untuk melegitimasi iman religiusnya.

    Sumber gambar: foreignpolicy.com

    Related articles

    1 Comment

    1. Deep argument that only some people would understand about this description saluteee for the author for this blog🙏

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here