Home Blog Page 23

Kitab (Suci) Itu Bernama ‘Principia Mathematica’

0
newton

Siapapun pernah mendengar (paling tidak sekali dalam hidupnya) nama Newton. Dia biasa diasosiasikan dengan hukum gerak yang diformulasikannya yaitu yang terkenal dengan Hukum Newton. Mendengar Newton berarti mengingat Fisika, suatu pelajaran yang sulit dan membosankan bagi sebagian besar siswa di Indonesia. Yang terakhir adalah mendengar Newton berarti memikirkan kisah Apel yang jatuh mengenainya ketika dia berfikir yang pada gilirannya membuat dia ‘menemukan gravitasi’.

Lebih dari itu sebenarnya banyak hal penting menandai periode hidup Newton baik bagi perkembangan Sains khususnya Fisika dan perkembangan manusia secara umum. Bisa dikatakan, revolusi sains dimulai oleh Newton dan karyanya yang tidak ia sadari kala itu akan mengubah pandangan dan peradaban manusia hingga saat ini.

Matematika dan Filsafat Alam

Sebelum Newton, tidak ada yang disebut dengan Fisika (dalam pengertian/pemahaman masa kini). Jika ditanya tentang apa itu Fisika, maka jawaban yang paling sederhana yang muncul di kepala kita adalah ilmu yang menjelaskan alam dengan menggunakan rumus matematika. Kata kunci dari pengertian kita itu adalah ilmu alam dan matematika. Sekarang, memisahkan keduanya merupakan hal yang mustahil. Tidak mungkin memiliki ilmu tentang alam tanpa matematika dan buat apa ada matematika tanpa ilmu alam.

Namun tidak begitu ketika zaman Newton dan sebelumnya. Matematika dan ilmu alam tidak berhubungan sama sekali (secara prinsipil). Ilmu alam dan Matematika berasal dari sumber yang sama, yaitu para pemikir kuno Yunani namun bercabang sungguh sangat berbeda. Matematika adalah cabang filosofi yang berhubungan dengan abstraksi berfikir yang disebut dengan logika. Logika berhubungan dengan pengambilan kesimpulan yang runtut menggunakan aturan yang tidak berlanggaran satu sama lain. Abstraksi logika yang dilakukan adalah kepada konsep bilangan dan geometri. Yang perlu digarisbawahi disini adalah kata konsep. Sebab bilangan dan geometri adalah objek yang tidak bebas di alam. Objek-objek ini hanya ada dalam dunia ide. Aturan-aturan objek ini (seperti penjumlahan, pengurangan, pembagian dan lain-lain) adalah konstruksi (peradaban) manusia. Dari sini kita bisa menarik dua sifat penting dari matematika. Yang pertama adalah konsep  dan yang kedua adalah hubungan antarkonsep (logika). Matematika terdiri dari konsep-konsep dasar yang tidak bisa direduksi lagi, bersifat (dipercaya) sebagai swabukti (self evident) yang disebut dengan aksioma. Dari sekelompok aksioma ini dapat diturunkan konsep baru menggunakan logika yang memiliki sifat yang lebih kompleks biasa disebut teorema dan begitu seterusnya hingga keseluruhan bagian/badan dari matematika itu terbentuk. Contoh sederhana geometri bidang datar atau biasa disebut dengan geometri Euclidean yang dikonstruksi oleh matematikawan Yunani Kuno Euclid (sekitar 300 Sebelum Masehi) menyatakan aksioma geometri bahwa garis lurus bisa ditarik menghubungkan dua titik. Jika ada tiga titik, maka bisa ditarik tiga garis diantara tiap dua titik dari tiga titik tersebut. Hasilnya adalah objek geometri baru yang disebut dengan segitiga. Euclid membangun teori geometrinya menggunakan lima aksioma dasar yang kemudian membentuk hampir semua pemahama matematika modern kita tentang ruang datar, seperti lingkaran, sudut segitiga, kubus, balok dan lain sebagainya. Dari contoh ini bisa dikatakan matematika itu bersifat induktif, yakni dari penyataan yang umum (aksioma), kemudian ke pernyataan yang lebih khusus sebagai konsekuensi dari aksioma-aksioma tadi. Keabsahan tiap pernyataan turunan ini diikat oleh logika.

Di sisi lain, ilmu alam merupakan bentuk filsafat yang disebut dengan filsafat alam. Filsafat alam berhubungan dengan konsepsi tentang alam. Kata kunci sekali lagi di sini adalah konsep. Konsep adalah sesuatu yang ‘dibangun’ oleh manusia (baik sadar maupun tidak) untuk mewakili suatu sifat, kejadian, pola dan lain-lain. Yang membedakan konsep dalam matematika dan filsafat alam adalah eksistensi objek yang dikonsepkan tersebut. Objek matematika tidak maujud di alam secara nyata – bisa diindrai, dicoba, dieksperimentasi dan lain-lain – karena yang paling penting dari matematika adalah kekonsistenan hubungan antar objek/konsep tersebut. Bagi filsafat alam, objek itu ‘harus’ maujud di alam, meskipun itu pun bukan benda/materi seperti panas, dingin, berat, ringan, cepat, lambat dan lain-lain. Yang penting adalah objek/sifat tadi bisa diindrai oleh manusia. Konsep-konsep yang mewakili objek alam ini kemudian akan dihubungkan satu sama lain, dicari pola-pola nya guna menemukan sesuatu yang lebih besar, lebih dalam yang dapat menjelaskannya. Dalam penghubungan konsep-konsep ini kadang digunakan metode filsafati yaitu dialektika. Dialektika secara sederhana adalah seni mendiskusikan atau menelisik kebenaran dari argumen/pendapat. Dialektika juga bisa berarti menelusuri pertentangan metafisis dan mencari penyelesaiannya. Untuk memberikan sense kepada pembaca, disajikan contoh filsafat alam sebagai berikut. Menurut Aristoteles, materi di Bumi tersusun atas empat unsur, yaitu udara, tanah, air dan api. Setiap materi ini pun bergerak cenderung menuruti unsur yang dominan di dalamnya. Sebagai contoh, mengapa batu dilempar ke atas jatuh ke bawah adalah karena unsur tanah pada batu lebih banyak dari unsur yang lain, sehingga gerakan alamiah batu adalah cenderung menuju ke tanah. Sedangkan asap didominasi oleh unsur angin, sehingga ketika bergerak, asap cenderung ke atas menuju udara. Kita lihat dari contoh ini, bahwa filsafat alam tidak memerlukan pembuktian matematis dari klaim-klaim argumen/konsep yang diajukan. Yang paling penting adalah keterkaitan argumen-argumen tersebut dengan metode dialektik sehingga dapat dijelaskan mengapa batu jatuh ke bawah dan asap terbang ke atas. Dari awal perkembangannya filsafat alam bersifat deduktif, yakni berasal dari premis-premis yang lokal yang memiliki pola/sifat yang sama kemudian pola/sifat ini diperumum menjadi hukum alam (law of nature).

Bom itu bernama Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (Prinsip Matematika Filsafat Alam)

Sebelum Newton datang, ada satu bagian yang menjadi ‘jembatan’ antara matematika dan filsafat alam. Hal itu adalah eksperimen. Eksperimen telah dikenal sejak zaman Yunani kuno. Eksperimen adalah kegiatan menyematkan nilai-nilai bilangan (bukan Matematika karena matematika adalah cara berfikir, dan bilangan hanyalah salah satu konstruksi matematika) dan satuan pada konsep-konsep filsafat alam untuk menelisik kebenaran dari pola-pola umum yang diklaim. Sebagai contoh pada zaman dahulu orang sudah bisa membedakan mana yang lebih berat batu atau kapas menggunakan bilangan yang didapat dari alat ukur sehingga mendapat kepastian bahwa batu lebih berat dari kapas. Eksperimentalis bisa mengumpulkan data percobaan kemudian melihat pola-pola yang ada. Setelah itu mereka dapat mengecek apakah pola-pola tersebut sesuai dengan narasi yang diklaim filsafat alam. Namun dalam masyarakat Yunani kuno, mayoritas filsuf alam tidak menggunakan eksperimen melainkan hanya narasi dialektis.

Ada dua konsep filsafat alam yang sudah diyakini sebagai kebenaran sejak 1000-2000 tahun sebelum Newton datang yang berasal dari Yunani kuno. Yang pertama adalah gaya merupakan penyebab gerakan dan Bumi adalah pusat rotasi benda langit lainnya termasuk Matahari. Terutama yang kedua dilegalisasi oleh lembaga keagamaan (gereja Katolik) sehingga kebenarannya tidak bisa diganggu gugat sebab dianggap sebagai kebenaran absolut dari Tuhan. Menentang hal ini berarti menentang Tuhan itu sendiri. Dan pada zaman itu, agama dan Tuhan adalah segala-galanya.

Namun goncangan akhirnya datang. Yang pertama dari Galileo Galilei yang menantang kebenaran umum tentang gaya sebagai penyebab gerakan. Berdasarkan eksperimen yang dilakukannya bertahun-tahun, dia menyimpulkan ada jenis gerakan yang tidak memerlukan gaya yakni gerakan dengan kecepatan tetap. Klaim lain yang dia ajukan adalah menentang teori unsur milik Aristoteles yang telah diyakini ribuan tahun kebenarannya. Menurutnya, kapas jatuh lebih lambat dari batu bukan karena kapas memiliki unsur udara lebih banyak dari batu melainkan karena ada yang menghambat gerakan kapas. Dia mengeluarkan klaim yang kontroversial bahwa jika hambatan pada gerakan setiap benda dihilangkan, maka semua benda akan jatuh dengan gerakan yang sama ke permukaan Bumi tidak peduli berapapun massanya. Klaim paling bahaya yang dilontarkan oleh Galileo adalah bahwa Bumi bukan pusat tata surya melainkan Matahari. Dia adalah corong bagi Kopernikus (penemu teori heliosentris – matahari pusat tata surya – seabad sebelumnya) dan juga Johannes Kepler (penemu tiga hukum gerakan planet yang berbasiskan heliosentris). Karena hal ini, Galileo ditahan sebagai tahanan rumah oleh otoritas Katolik hingga akhir hayatnya. Yang membuatnya tidak dihukum mati hanyalah posisi keluarganya yang merupakan bangsawan dan terikat erat dengan gereja Katolik.

Kesamaan dari ketiga tokoh tersebut adalah mereka mengetahui pola-pola alam tersebut namun tidak bisa menjelaskannya sebagai satu kesatuan. Hal ini seperti mengetahui bahwa warna pelangi itu merah, jingga, hijau, biru, nilai, ungu karena bisa dilakukan percobaan yang sama menggunakan primsa, namun tidak mengetahui mengapa warnanya selalu yang tujuh itu. Kenapa tidak ada warna hitam misalnya. Dan hal ini menjadi masalah, sebab filsafat alam yang diyakini saat itu yang telah berumun 2000 tahun lebih menyediakan penjelasan dari konsep-konsep yang ada. Jika anda adalah orang yang hidup pada zaman tersebut dan meyakini bahwa matahari adalah pusat tata surya, maka untuk masyarakat yang telah hidup selama 2000 tahun dengan Bumi menjadi pusat tata surya dan merupakan bukti kuasa Tuhan dalam kitabnya (menurut gereja Katolik), maka anda hanya akan seperti seorang penganut Bumi datar pada zaman ini. Semua orang akan memandang anda gila. Bukan karena anda salah. Melainkan anda tidak memiliki narasi yang menjelaskan kenapa anda berpendapat seperti itu.

Bom itu akhirnya datang pada tahun 1687 di Inggris dari karya seorang anak muda bernama Isaac Newton. Buku tersebut berjudul Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (Prinsip Matematika Filsafat Alam). Buku ini berisi hukum gerak  dan hukum universal gravitasi yang diajukan oleh Newton. Ada beberapa poin mengapa buku ini begitu penting dalam posisi sejarah umat manusia. Pertama adalah penyatuan filsafat alam dalam prinsip matematika. Newton menunjukkan bahwa bukan hal yang tidak mungkin untuk menjelaskan konsep-konsep filsafat alam menggunakan prinsip matematika. Kuncinya adalah menemukan konsep yang mewakili sifat abstrak dari konsep-konsep yang ada di filsafat alam yang kemudian dilogikakan menggunakan logika matematika. Hubungan antar konsep itu harus koheren dan konsisten seperti mengerjakan objek-objek matematis. Sebagai contoh adalah konsep momentum. Konsep ini benar-benar temuan Newton. Momentum hanyalah perkalian massa benda/sistem dengan kecepatannya. Yang ‘nyata’ di sini adalah kecepatan dan massa karena bisa diukur. Untuk memikirkan secara masuk akal momentum itu apa, yang paling dekat yang bisa kita fikirkan adalah ketika tumbukan dua benda. Momentum benda yang lebih besar akan mentransfer energi lebih banyak kepada benda yang ditumbuk yang memiliki momentum kecil. Itulah mengapa tidak ada kereta yang penyok sehabis menabrak sepeda motor. Namun, momentum itu sendiri „tidak“ memiliki makna fisis yang fundamental seperti panjang, massa dan lain-lain. Namun dengan konsep momentum ini, Newton berhasil menerangkan hukum geraknya. Hukum gerak yang pertama tentang kerangka acuan inersial yaitu bahwa pada sistem yang tidak ada gaya luar yang  bekerja, jika benda tersebut diam maka akan diam selamanya dan jika bergerak dengan kecepatan tetap akan bergerak dengan kecepatan tetap selamanya. Hukum ini berhasil menjelaskan dilema Galileo di atas. Hukum kedua menyatakan bahwa gaya  yang bekerja pada sistem merupakan perubahan momentum sistem terhadap waktu. Dari sini didapat kesimpulan bahwa gaya itu penyebab perubahan gerakan bukan penyebab gerak. Misal ada mobil bergerak  kemudian melambatkan gerakannya dengan mengerem. Maka gaya gesek ban dengan jalan akibat pengereman adalah penyebab perubahan kecepatan mobil tersebut. Dan hukum ketiga adalah bahwa setiap gaya yang diberikan suatu sistem ke sistem lain, akan ada gaya yang reaksi dari sistem itu kepada sistem pertama.

Jika kita perhatikan, Newton mendefinisikan suatu konsep yang bebas dari realitas fisis (namun disusun berdasar besaran fisis), kemudian menggunakan metode matematika untuk menarik hal-hal apa saja yang bisa dilakukan oleh konsep baru tersebut. Apa implikasi dari konsep tersebut dan keterkaitannya dengan konsep lain. Apa saja sifat/konsep baru yang dihasilkan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya ini adalah karakteristik dari matematika. Newton membuka peluang daya kreasi bagi ahli filsafat alam untuk tidak terikat pada konsep ‘duniawi’. Contoh lain adalah konsep gravitasi. Yaitu gaya tarik menarik yang ada pada setiap benda tidak peduli seberapa jauhnya dan tidak perlu bersentuhan. Hal ini disebut dengan interaksi berjarak (interaction at a distance).  Dengan satu konsep ini, Newton dapat menjelaskan hukum yang mengatur benda-benda langit temuan Kepler dan juga menjelaskan klaim Kopernikus dan Galileo bahwa Bumi lah yang mengitari Matahari.

 

[…] Rational Mechanics will be the science of motions resulting from any forces whatsoever, and of the forces required to produce any motions, accurately proposed and demonstrated […] And therefore we offer this work as mathematical principles of philosophy. For all the difficulty of philosophy seems to consist in this—from the phenomena of motions to investigate the forces of Nature, and then from these forces to demonstrate the other phenomena […]

[…] Mekanika rasional akan menjadi sains dari gerakan yang dihasilkan oleh gaya-gaya apapun, dan dari gaya-gaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan gerakan, secara akurat ditunjukkan […] dan oleh karenanya kami menawarkan karya ini sebagai prinsip matematika dari filsafat [alam]. Untuk semua kesulitan dalam filsafat [alam] seperti yang  termaktub dalam hal ini – dari fenomena gerakan untuk menyelidiki gaya-gaya alam, dan kemudian dari gaya-gaya ini digunakan untuk menunjukkan fenomena yang lain […] [1]

 

Yang kedua adalah buku ini menandai perubahan posisi manusia dari hanya sekedar pengamat menjadi pemain dalam orkes tunggal yang didominasi oleh peristiwa alam ini. Konsep-konsep yang diajukan selain harus runtut dan terikat dalam logika matematika juga memiliki kemampuan dalam memprediksi. Prediksi ini merupakan konsekuensi logis dari konsep-konsep yang saling berhubungan tadi. Sebagai contoh, adanya konsep gravitasi mengimplikasikan bahwa bentuk benda langit (planet, bintang) secara umum itu bola (bedakan dengan bentuk galaksi yang spiral yang sama-sama disebabkan oleh gravitasi – pembahasan di lain waktu – ). Prediksi dari hukum gerak Newton bisa dites secara langsung. Hukum-hukum gerak (mekanik) ini pada gilirannya digunakan untuk membangun alat-alat yang bersifat mekanis seperti mesin uap. Manusia pun akhirnya menyadari bahwa mereka memiliki daya cipta yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Ciptaan ini yang disebut dengan teknologi dan ada untuk memudahkan hidup manusia. Teknologi yang tentunya bukan hanya bekerja menurut kehendak alam melainkan teknologi yang bekerja memanfaatkan prinsip-prinsip di alam.

Yang ketiga adalah buku ini menandai dimulainya era Fisika (terutama teori) sebagai wajah baru dari standar sains (modern) yang ada. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Principia memberikan arti istimewa bagi filsafat alam. Newton mengangkat para filsuf alam dari posisi sekedar berargumen menuju kepada berfikir runtut dalam naungan logika matematika. Hal ini merevolusi metode sains bekerja. Mengikat teori dan eksperimen selamanya. Bagaikan telur dan ayam, tidak bisa dikatakan mana yang lebih utama. Pra Newton, para eksperimentalis tahu pola-pola alam dan bisa memformulasikannya dalam persamaan matematis. Namun tidak memiliki kemampuan membuat narasi yang runtut dan bisa diterima oleh semua. Sebab kekurangan dari argumen filsafat adalah itu hanya masuk akal bagi sekelompok orang yang menggelutinya. Dengan mematematikakan filsafat alam, siapapun yang paham standar matematika pada zaman itu secara praktek bisa mempelajarinya. Para filsuf alam dapat membuat prediksi atau hipotesis yang dapat dibuktikan keabsahannya oleh para eksperimentalis. Inilah wajah sains yang baru. Wajah sains modern. Inilah yang disebut dengan Fisika itu sendiri. Hingga saat ini, fisika selalu dipelajari dan didalami dengan cara seperti ini. Fisikawan membaca alam dengan matematika. Kemudian menulis cerita alam yang mungkin menggunakan matematika pula. Manusia memiliki kekuatan yang sebelumnya hanya didominasi oleh Dewa dan Tuhan di atas sana. Dengan matematika, manusia bisa menatap langit malam dan melihat kerlipan objek-objek langit yang kemudian bisa ia analisis sifat fisisnya, apa yang terjadi di sana dan lain-lain. Manusia mungkin di Bumi, tapi di atas kertas dan dibalik goresan angka dan huruf itu terletak misteri alam semesta.

Yang terakhir adalah mendorong batas-batas pemahaman manusia. Mungkin hal ini yang paling tidak banyak disadari. Buku Principia Newton bukan hanya memulai sesuatu yang baru sama sekali, melainkan juga menyajikan daerah yang belum pernah terpikirkan oleh manusia sebelumnya dalam matematika. Newton menghabiskan sebelas tahun hidupnya dalam kesendirian dan keterasingan untuk mengembangkan matematika baru guna menjelaskan hukum geraknya bagi benda-benda dengan geometri yang tidak dapat diabaikan. Matematika ini bernama kalkulus (yang biasa dikenal masyarakat awam dengan integral dan turunan). Meskipun sebenarnya Newton secara bersamaan menemukan prinsip kalkulus dengan matematikawan Jerman Leibniz, namun Newton lah yang pertama kali secara langsung menerapkannya dalam filsafat alam. Langkah Newton ini kemudian selama berabad-abad menyebabkan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara matematika dan fisika. Semakin tinggi konsep fisis yang dibangun, semakin rumit konsep matematika yang dibutuhkan. Kadang fisikawan harus menemukan matematika sendiri, kadang matematikawan menemukannya untuk fisika atau kadang-kadang permasalah di fisika tersebut mempunyai padanan yang ekuivalen di matematika yang tidak disadari. Apapun itu, perlu disadari bahwa perkembangan matematika adalah kunci bagi Fisika. Dan perkembangan fisika berarti perkembangan teknologi. Artinya matematika yang merupakan cara/sistem berfikir yang berakar dari filsafat itu adalah fondasi dari semua capaian dalam 500 tahun terakhir ini.

Penutup

Sebagai orang yang bergelut dalam dunia fisika, saya bisa mengatakan bahwa tanpa revolusi radikal dari Newton dalam memahami alam, mungkin peradaban manusia tidak akan dapat mencapai taraf seperti sekarang ini. Tidak ada automatisasi mesin dan terobosan-terobosan dalam teknologi. Termasuk teknologi yang anda gunakan untuk membaca tulisan ini sekarang. Matematika dan Fisika terus berkembang tak terkendali saat ini. Begitu cepat dan tidak mungkin bisa dijelaskan secara sederhana kepada semua orang. Orang-orang yang bergelut dalam bidang ini pun hanya bisa memahami sebagian kecil dan menjadi ahli pada bagian itu saja. Namun meskipun demikian, perkembangan fisika dan matematika yang pesat tentunya adalah gerbang teknologi mutakhir masa depan. Sejauh mana manusia dapat melepaskan satu persatu keterikatan dirinya dengan kekuatan entitas adialami yang supranatural itu? Akankah fisika membuat manusia lepas dari kendali entitas tersebut? Semuanya kembali pada manusia sendiri. Sejauh mana mereka bisa melanggar batas bagi dirinya sendiri. Seperti Newton muda dulu melanggar batas yang dipasang umat manusia dengan karya Principianya lebih dari 400 tahun yang lalu. Dalam sense ini Newton bak nabi yang membawa umat manusia dari ‘masa kegelapan’ menuju masa yang ‘terang benderang’.

 

Referensi

[1]Kutipan kata Pengantar oleh Sir Isaac Newton pada edisi ke 3 buku berjudul Philosophiae Naturalis Principia Mathematica tahun 1726 yang diterjemahkan oleh Andrew Motte tahun 1729.

Agama Jadi Salah: Tanggapan untuk Haedar Nashir

0

NB: Tanggapan atas Tulisan Haedar Nashir berjudul ‘Agama Jadi Tersangka

Saya sebenarnya takut untuk menuliskan hal ini, apalagi mempublikasikannya kepada khalayak umum. Maklum saja, masyarakat tempat saya lahir dan dibesarkan, masih jauh dari kata berperadaban, sejauh kita mendefinisikan ‘beradab’ sebagai terberinya ruang untuk berpikir. Saya masih hidup dalam masyarakat yang ‘suka nggosip’, tapi tidak suka ‘digosipin’. Tapi, saya pikir, siapa sih yang mau repot-repot melaporkan saya dengan tuduhan penistaan, ‘wong’ saya tidak punya apa-apa, makan aja susah. Kalau ada yang melaporkan saya gara-gara tulisan ini, yasudah pak, mari tutup saja semua jurusan filsafat di perguruan tinggi Indonesia; sudah kerjaannya nggak jelas, bisanya cuma nyinyir sana-sini. Kita tidak butuh filsafat kan pak? Cuma buat makan aja masih rebutan, sok-sok mikirin Tuhan, mind-independent-world, moralitas, apalah-apalah. Baiklah pak, saya akan mulai serius!

Agama sebagai Moralitas

Benar, bahwa “secara normatif dan profetik agama dan umat beragama memang membawa misi Ilahi yang suci untuk membangun kehidupan serba bermoral dan rahmat bagi semesta alam, [lih. par. 8]” sebagaimana pula disampaikan dalam Islam, “innamaa bu’itstu liutammimaa makaarima al-akhlaaq (aku diutus untuk menyempurnakan akhlak).” Akan tetapi, pertanyaannya, apakah agama hanya persoalan akhlak, atau sebut saja, moralitas?

Richard Dawkins, seorang ilmuwan dan pegiat ateisme baru, dalam bukunya The God Delusion telah mengatakan bahwa seandainya agama hanya persoalan moralitas, kita tidak perlu beragama hanya untuk menjadi bermoral. Kata Dawkins, kita hanya perlu menggunakan akal kita dengan baik untuk sekedar menghargai satu sama lain, dan hidup berdampingan untuk membangun masyarakat yang lebih baik. Dan hal itu telah terbukti dengan beberapa survei yang pernah ada, bahwa negara-negara paling damai justru negara yang tidak terlalu sibuk atau bahkan tidak peduli dengan agama [cek saja di google!].

Dalam hal inilah saya berani berpandangan bahwa asumsi “fungsi agama dan peran pemeluk agama tetap kuat sebagai penyebar misi damai, toleran, inklusif, dan segala kebajikan yang utama [lih. Par. 10]” sama sekali tidaklah bermakna, jika bukan malah salah besar. Bahkan, jika kita bersedia untuk memikirkan kembali sejarah yang selama ini kita baca sedari kecil [di LKS-LKS yang serampangan] sampai dewasa [di buku-bukunya Fred Donner, Patricia Crone, Michael Cook, dkk], kita akan menemukan bahwa kelahiran Islam, sama sekali tidak mengusung hal yang demikian. Justru, hadirnya Islam malah diawali dengan persoalan teologis, yakni upaya penyadaran oleh [Nabi] Muhammad atas orang-orang yang dianggap musyrik bahwa mereka menyembah Tuhan yang salah (baca saja surat-surat Makkiyyah! Hampir seluruh persoalan yang tercatat adalah persoalan teologis; Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Kafirun, dst).

Dalam hal apa kita dapat berasumsi bahwa kemunculan agama [Islam] adalah suatu bentuk upaya perbaikan moral? Saya pikir, asumsi semacam ini tidak lebih disebabkan oleh dongeng-dongeng menggelikan yang sejak kecil kita yakini tentang zaman ‘jahiliyah’, bahwa orang-orang sebelum datangnya Islam, mereka hidup dalam barbarisme, tidak beradab, mengubur anak perempuan, inilah-itulah. Jelas, asumsi semacam itu sangatlah tidak berdasar, karena Makkah sebelum Islam datang, sudah merupakan pusat perdagangan Internasional. Bagaimana mungkin mereka tidak beradab?

Seandainya benar bahwa sebelum Islam datang, orang-orang Arab itu hidup dalam kegelapan, sebut saja jahiliyah, saya hanya bisa berkata, “Ya, berarti Islam memanglah produk Impor dari Arab. Islam diturunkan untuk orang Arab, bukan untuk seluruh umat manusia.” Mengapa demikian? Jauh ratusan tahun sebelum lahirnya Islam, Yunani telah melahirkan filsuf-filsuf dengan pemikiran cemerlang (Phytagoras, Heraklitos, Parmenides, Sokrates, Plato, Aristotel), yang bahkan sampai saat ini, seluruh pemikiran filsafat masih banyak merujuk ke sana; mulai ide tentang Tuhan, etika, dan ilmu pengetahuan. Logikanya, jika tujuan utama hidup kita hanyalah untuk hidup bermasyarakat dengan lebih baik, jelas bahwa memilih filsafat Yunani sebagai pegangan hidup adalah pilihan yang paling masuk akal daripada memilih agama [Islam].

Persoalannya, menurut saya, keputusan kita untuk memilih beragama, bukan didasari oleh penalaran semacam itu. Kita beragama tidak hanya melulu perkara etis, melainkan lebih besar ruang yang kita berikan untuk permasalahan teologis.

Agama sebagai dogma teologis: mengapa agama salah?

Dua tahun lalu, di acara Nurcholis Madjid Memorial Lecture yang diselenggakan oleh CRCS UGM dan PUSAD Paramadina, saya pernah mengajukan pertanyaan kepada Prof. Chaiwat Satha-Anand, seorang Gurubesar dari Universitas Thammasat, Thailand. Begini: “Saya kira semua orang sudah paham bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, dan itu persoalan etis. Dengan demikian, tanpa harus membaca buku pun, orang tahu bahwa satu-satunya jalan untuk menyelesaikan persoalan kekerasan agama adalah melalui pendekatan etis [tentu saja ini sifatnya hanya tautologis]. Akan tetapi, bukankah agama tidak selalu hanya perkara etis? Senyatanya, konflik antar agama yang terjadi selama ini, selalu merupakan perkara teologis, daripada etis. Pertanyaan saya, apakah agama itu untuk manusia, atau manusia untuk agama?” Beliau menjawab, “Sepertinya pertanyaan itu harus disegarkan kembali, bagaimana kita bisa memisahkan manusia dan agama?”

Sangat disayangkan, jawaban profesor tersebut tidak memuaskan bagi saya, entah beliau tidak paham dengan pertanyaan saya, atau memang tidak penting untuk dijawab.

Begini maksud pertanyaan saya, jika kita mengasumsikan bahwa agama itu untuk manusia, maka kita tidak dapat menghakimi pemahaman seseorang atas agama [bahkan pada mereka yang memilih untuk tidak beragama], sejauh ia tidak mengusik keberadaan orang lain dengan pemahamannya. Sebaliknya, jika manusia memang ada untuk agama, maka ada satu keharusan pada manusia untuk meyakini dan memeluk agama. Dan saya rasa, yang kedua merupakan jawaban yang lebih benar jika melihat keberagamaan saat ini.

Sebagaimana telah saya katakan, konflik agama yang sering terjadi justru selalu didasari persoalan teologis, bukan etis [singkirkan asumsi politis dsb. dalam hal ini, karena kita tidak membicarakan inti pokok masalah, melainkan cara suatu masalah itu dihadirkan]. Ada suatu keharusan mutlak dalam agama yang menuntut kita untuk meyakini sepenuh hati, yang dalam beberapa kasus, menuntut kita pula untuk membuang asumsi-asumsi etis. Misalnya, dalam agama [Islam khususnya], mengajarkan bahwa orang Nasrani dan Yahudi itu kafir, dan orang kafir harus diperangi. Ada pula ajaran, “orang yang mencaci maki Nabi harus dibunuh.” Masihkah kita dapat mengatakan bahwa agama hanya perkara etis?

Agar lebih jelas, begini saja: jika agama memang diturunkan oleh Tuhan demi kepentingan manusia agar dapat hidup dengan baik, saya kira, banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang harus kita buang, yakni ayat-ayat tentang surga-neraka, dosa-pahala, azab dan siksa. Logikanya [kalo ada yang menyalahkan saya pakai logika, tolong carikan apa yang kita miliki selain hanya logika], hanya Tuhan tolol yang mewahyukan kitab suci agar manusia dapat hidup dengan baik, tetapi malah menakut-nakuti manusia dengan neraka, dosa, siksaan, dan azab [siapa yang nggak kalang-kabut ditakut-takuti seperti itu, wajarlah kalo perang sana-sini demi kebenaran]. Dalam hal inilah agama [terutama agama monoteis], sejauh merupakan dogma teologis, menurut saya patut dipersalahkan. Bagaimana kita bisa hidup toleran, jika dalam ajaran agama saja diajarkan untuk berperang (lih. Al-Baqarah:216)?

Melukis posisi: Bagaimana seharusnya?

Saya sepenuhnya sadar jawaban apa yang akan saya dapatkan dari mereka yang sangat giat belajar agama: “Makanya mas, belajar ilmu tafsir yang bener, belajar Ulumul Quran, Ulumul Hadits, jangan belajar filsafat! Sesat mikirmu!”

Menurut saya, pemahaman agama saya sudah lebih dari cukup. Kalo perkara tafsir, saya kira para penafsir dahulu juga bisa salah dan juga punya kepentingan secara sosial dan politis ketika menafsirkan Al-Quran maupun Hadits. Terlepas dari bagaimana bentuk tafsirnya, kenyataan yang tak dapat kita nafikan adalah, ada banyak ayat di Al-Qur’an yang lebih teologis daripada etis. Kalau hanya ingin menafsirkan ayat-ayat penuh polemik itu dengan bahasa halus penuh toleran, kita tidak butuh Al-Qur’an. Banyak orang-orang yang tidak paham Al-Qur’an tapi lebih toleran.

Seandainya kita memang benar-benar tidak dapat membuang doktrin-doktrin teologis yang sering memicu masalah, karena sama saja itu menistakan kesucian Al-Qur’an, saran saya: yasudah berhentilah berdakwah, buang semua ajaran yang mengharuskan berdakwah, evangelikalisme, dan semua upaya untuk mempengaruhi orang lain agar mengikuti kita dalam hal keyakinan beragama. Toleransi tidak akan pernah terwujud selama kita masih mengurusi keyakinan orang lain. Atau, marilah kita percaya pada Karl Popper yang mengatakan bahwa toleransi itu paradoks dalam dirinya sendiri, karena ketika kita mengatakan bahwa orang lain itu tidak toleran, dengan demikian kita juga sama-sama tidak toleran karena memaksa orang lain untuk toleran pada kita![]

Mengapa Dunia Kita 3-dimensi?

0
Dunia kita 3-Dimensi
Sumber gambar: diedit dari http://secretmaze.com/

[latexpage]

Banyak sekali di antara kita yang, barang kali, tidak menyadari bahwa telah terjebak di ruang 3-dimensi (berdimensi 3) atau spatial 3-dimensi dengan tambahan 1-D temporal (waktu). Ruang yang menjebak kita ini sering disebut sebagai ruang berdimensi (3+1), oleh yang berkecimpung dalam bidang astrofisika dan kosmologi dengan salah satu pekerjaan mereka adalah memetakan alam semesta. Mungkin itu ungkapan yang kurang lebih tepat untuk menyatakan keadaan realistis kehidupan saat ini, meski Einstein mengatakan “reality is merely an illusion”. Secara kasat mata, hampir – atau bahkan semua – setiap benda yang kita lihat merupakan entitas tiga dimensi. Meja kursi untuk bekerja, tampilan mouse keyboard monitor komputer kita, hewan ternak dan peliharaan kesayangannya, bahkan kita – secara fisik – semua adalah wujud 3-dimensi. Begitu pula jika kita melihat bumi, dari ketinggian tertentu, planet-planet lain, matahari dan bintang-bintang lain, semua itu juga berwujud 3-dimensi. Atau bahkan giant supernova[1] dalam ruang mempunyai dimensi lebar, tinggi, dan kedalaman tertentu yang berarti juga 3-dimensi. Mengapa alam semesta ini memiliki bentuk atau berada di ruang berdimensi tiga (3-dimensi) atau (3+1-dimensi)?

Suatu pertanyaan yang tentu saja akan menggelitik telinga para pecinta alam dan para “penafsu” pengetahuan serta beberapa agamawan yang tidak terkungkung oleh doktrin sejarah masa lalu. Salah satu pertanyaan yang membutuhkan effort luar biasa besar untuk menjawabnya, itupun belum tentu benar sepenuhnya. Terdapat beberapa upaya yang telah dilakukan oleh pemikir-pemikir ulung dari kelompok “top rantai makanan” alam ini. Beberapa diantaranya adalah jawaban yang didasarkan pada hukum termodinamika dan teori superstring. Ditambah dengan kajian terakhir pada tahun 2017, kedua penjelasan tersebut kami sajikan dalam artikel sederhana ini.

Sekilas tentang Termodinamika dan superstring

Termodinamika merupakan pengetahuan tentang kaitan antara bahang, usaha, temperatur, dan energi yang mulai dikenal sejak tahun 1789 saat diperkenalkannya bahang sebagai bentuk lain sebuah energi. Kaitan keempatnya dikemas secara sederhana ke dalam empat hukum dasar termodinamika yakni hukum kenol hingga hukum ketiga termodinamika.

Konsep termodinamika diawali dengan keadaan termodinamika, kesetimbangan termodinamika, temperatur, usaha dan energi, dan total energi dalam.

Dunia kita 3-Dimensi
Menurut hukum kedua termodinamika; “Panas selalu mengalir dari benda bertemperatur tinggi ke benda bertemperatur lebih rendah.” Contoh sederhana dari ini adalah secangkir teh panas yang tertinggal di atas meja. Situasi ini tidak bertentangan dengan hukum pertama termodinamika. Karena energi yang hilang dari teh sama dengan energi yang diperoleh udara. Tetapi jika keadaan ini terjadi sebaliknya. Artinya, teh hangat terjadi karena mengambil energi dari lingkungan di sekitarnya. Kita tahu bahwa ini tidak akan terjadi, tetapi jika memang harus demikian, energi yang hilang saat kejadian ini berlangsung tidak akan bertentangan dengan hukum pertama lagi karena energi yang didapatkan teh akan sama besarnya.
(Sumber gambar: muhendisbeyinler.net/wp-content/uploads/2015/04/termodinamigin-2.-yasasi-entropi-nedir.jpg)

 

Sementara itu teori superstring atau didahului oleh munculnya teori string diawali pada tahun 1921 yakni bermula dari lahirnya teori Kaluza-Klein. Dalam teori ini dibahas tentang elektromagnetika yang dapat diturunkan dari gravitasi.

Dunia kita 3-Dimensi
Sebuah konstruksi untuk visualisasi komputer kurva-kurva kompleks oleh Jeff Bryant dan didasarkan pada konsep dari A.J. Hanson. (Sumber gambar: members.wolfram.com)

Selanjutnya tiga orang ahli teoritis bidang partikel secara independen menyadari bahwa teori ganda yang dikembangkan pada tahun 1968 untuk menggambarkan spektrum partikel juga menggambarkan mekanika kuantum dari senar osilasi (oscillating strings). Inilah menandai kelahiran resmi teori string.

Penelitian yang berkaitan dengan teori ini terus berlanjut, seperti pada tahun 1971 didapati adanya supersimetri. Puncak dari teori string adalah upaya diajukannya unified theory pada tahun 1974 yang memiliki goal akhir adalah menyatukan empat gaya fundamental yang teramati di alam.

Supersimetri yang ditambahkan pada gravitasi, membuat lahirnya supergravitasi pada tahun 1976. Kemajuan ini sangat penting untuk teori string, di mana gravitasi tidak dapat dipisahkan dari spektrum eksitasi. Dan kemudian teori string ditambah supersimetri menghasilkan spektrum eksitasi yang memiliki jumlah fermion dan boson yang sama, menunjukkan bahwa teori string dapat dibuat secara total supersimetris. Benda yang dihasilkan disebut superstring yang ditemukan pada tahun 1980.

Jawaban berdasarkan Hukum Termodinamika

Jawaban atas pertanyaan mengapa alam semesta merupakan entitas tiga dimensi atau empat dimensi – satu dimensi temporal (waktu) – dijelaskan melalui hukum pertama dan hukum kedua termodinamika.

Hukum pertama termodinamika menjelaskan berkaitan dengan alasan bahwa waktu memiliki satu dimensi (1-dimensi). Hukum tersebut menyatakan bahwa entropi[2] tidak dapat menurun atau berbalik. Dengan kata lain waktu dapat bergerak hanya satu arah saja.

Lalu bagaimana hukum kedua termodinamika menjawab entitas 3-dimensi?

Pada saat awal mula terjadinya alam semesta, jika penciptaan alam semesta berawal dari ledakan besar (Big Bang), maka pada titik ini tidak ada cara untuk menyatakan bahwa alam semesta 1-dimensi atau 99-dimensi. Hal ini dikarenakan alam semesta, yang terdiri dari materi dan energi, tidak memiliki arah yang jelas kemana keduanya akan dapat bergerak.

Dunia kita 3-Dimensi
Ledakan besar (Big Bang) adalah penjelasan utama tentang bagaimana alam semesta ini bermula. Secara singkat dan sederhana dapat dikatakan bahwa alam semesta, seperti yang kita ketahui saat ini, dimulai dengan sebuah singularitas kecil, lalu mengalami penggembungan selama 13,8 miliar tahun berikutnya ke kosmos seperti yang kita kenal sekarang.
(Sumber gambar: quantumdiaries.org/wp-content/uploads/2013/07/BigBang.jpeg)

 

Berdasarkan hukum kedua termodinamika yang menyatakan bahwa kalor (energi) mengalir secara spontan dari benda (keadaan) bertemperatur tinggi ke benda (keadaan) bertemperatur lebih rendah, tidak berlaku sebaliknya, kecuali pada kedua benda (keadaan) tersebut dilakukan pemaksaan dengan usaha luar. Dengan kata lain, kita tidak dapat memperoleh energi lebih besar dari yang kita telah lepaskan kecuali ada perlakuan secara khusus.

Pada kasus alam semesta (selalu mengembang) yang berarti telah menempati lebih banyak ruang, sementara di saat yang bersamaan, kita tahu bahwa energi memiliki sifat lestari. Atau dapat dikatakan bahwa pada saat alam semesta mengembang, akan ada kekurangan energi pada volume ruang. Hal ini juga berarti bahwa alam semesta telah bertransisi ke dalam keadaan ekspansi dan tidak mungkin memiliki temperatur yang sama seperti sebelumnya.

Setelah alam semesta mendingin, berarti harus terlibat dengan kuantitas termodinamika yang disebut dengan energi bebas Helmholtz, yakni semacam tekanan pada semua ruang. Dalam model ini, tekanan tersebut maksimal pada saat-saat setelah ledakan besar ketika hanya ada 3-dimensi. Karena alam semesta terus menerus mendingin sejak terjadinya ledakan besar, temperatur yang ada sangat rendah, sehingga tidak ada cukup energi yang dapat digunakan untuk memecahkan kepadatan energi bebas Helmholtz dan tidak ada cara untuk beralih ke ruang dengan dimensi yang lebih tinggi. Jadi, kita terjebak di ruang 3-dimensi sejak ledakan besar karena FISIKA.

Jika dalam termodinamika, alam semesta 3-dimensi ditinjau melalui hukum pertama dan kedua termodinamika, bagaimana dengan alam semesta 3-dimensi yang ditinjau melalui teori superstring?

Jawaban Teori Superstring

Selain dari hasil penelitian yang dilakukan melalui hukum termodinamika, terdapat juga hasil lain yang mencoba menjelaskan alam semesta 3-dimensi ini yakni melalui teori superstring. Jika kita melihat kembali hasil penemuan beberapa tahun ke belakang, tepatnya pada tahun 2012, yakni pengembangan model komputerisasi kelahiran alam semesta yang di dasarkan pada teori superstring. Hasil ini diprakarsai oleh tiga ilmuwan dari Jepang. Dari pemodelan tersebut, didapatkan bahwa alam semesta yang lahir dari Big Bang (ledakan besar) berdimensi sepuluh (10-D), namun hanya dimensi tiga saja yang sanggup bertahan hingga saat ini. Inilah alasan beberapa orang menyatakan bahwa ruang tiga dimensi tempat kita berada saat ini lahir dari sepuluh dimensi – sekali lagi, hanya berdasarkan asumsi dari teori superstring.

Dunia kita 3-Dimensi
Salah satu bentuk visualisasi 10-dimensi: kemungkinan takberhingga dapat terjadi
Sumber gambar: https://ultraculture.org/blog/2014/12/16/heres-visual-guide-10-dimensions-reality/

Lebih lanjut, teori superstring menyarankan bahwa empat interaksi fundamental antar partikel elementer – gaya elektromagnetik, interaksi lemah, interaksi kuat, dan gravitasi – digambarkan sebagai berbagai macam mode osilasi benang-benang yang sangat halus. Karena gravitasi merupakan salah satu dari gaya-gaya fundamental, teori superstring juga mencakup penjelasan teori relativitas umum. Permasalahan yang muncul adalah, pada teori superstring memprediksi adanya dimensi sepuluh (9+1-dimensi) yakni sembilan dimensi (9-dimensi) keruangan (spasial) dan satu dimensi (1-dimensi) temporal. Hal ini tentu saja merupakan suatu permasalahan yang rumit mengingat alam semesta kita berdimensi tiga (3-dimensi).

Masalah inilah yang kemudian diselesaikan oleh tiga peneliti berasal dari Jepang tersebut. Ketiganya masing-masing dari KEK, Shizuoka University, dan Osaka University. Mereka sukses membangun sebuah model kelahiran alam semesta didasarkan pada teori superstring.

Dengan menggunakan sebuah superkomputer, mereka menemukan bahwa pada awal kejadian Big Bang, alam semesta mempunyai 10-dimensi, yakni 9-dimensi keruangan (spasial) dan 1-dimensi temporal. Akan tetapi, hanya 3 dari dimensi keruangan yang mampu mengikuti ekspansi alam semesta dan dimensi temporal juga tetap bertahan.

Walaupun hasil ini hanya merupakan salah satu usulan dari pertanyaan mendasar tentang mengapa alam semesta memiliki 3-dimensi keruangan, tetapi ini setidaknya memberikan dukungan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di dunia astrofisika dan kosmologi.

Hal yang menarik dari kedua jawaban tersebut adalah baik dari kesimpulan yang dihasilkan oleh hukum termodinamika maupun teori superstring, sama-sama mampu menjelaskan secara gamblang alasan alam semesta 3-berdimensi. Tetapi rupanya, beberapa fisikawan atau ilmuan bidang lain tidak cukup terjawab rasa penasaran mereka. Mereka mencoba untuk menjelaskan asalan 3-dimensi alam semesta tersebut dengan pendekatan lainnya. Hal ini dapat kita lihat dari hasil penelitian paling terbaru untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Sebagai tambahan, – mungkin terbaru –  perlu menilik penjelasan lain mengenai mengapa alam semesta merupakan entitas 3-dimensi. Teori yang dikenal dengan out-of-box theory ini menjelaskan bahwa untaian benang kusut menjadi model yang menjelaskan entitas 3-dimensi alam semesta. Penjelasan ini dimuat dalam sebuah artikel dengan judul “Knotty inflation and the dimensionality of space time”, yang ditulis oleh Berera, dkk. di European Physical Journal C.

Mungkin suatu saat akan ada penjelasan lain melalui metode dan pendekatan yang berbeda mengenai entitas 3-dimensi alam ini. Tetapi apakah gejala alamiah musti harus dicari penjelasannya secara tepat atau kita terima saja segala sesuatunya? Mungkin ya, mungkin saja tidak.

Referensi:

  1. Julian Gonzalez-Ayala, F. Angulo-Brown. “Is the (3+1) nature of a thermodynamic necessity?” Cornell University Library. 15 February 2015.
  2. Amy Shira Teitel. Why do we live in three dimensions? 26 December 2016.
  3. Arjun, Berera, Roman V. Biuniy, Thomas W. Kephart, Heinrich Pas, Joao G. Rosa. “Knotty inflation and the dimensionality of spacetime. The European Physical Journal C, 2017; 77 (10).

Catatan akhir:

[1] Giant Supernova adalah sebuah peristiwa astronomi yang terjadi selama tahap evolusi terakhir sebuah bintang raksasa dari kehidupan bintang masif, yang kehancurannya ditandai oleh satu ledakan yang sangat besar.

[2] Entropi merupakan besaran termodinamika yang mengukur energi dalam sistem per satuan temperatur yang tak dapat digunakan untuk melakukan usaha.

Homo Deus: Manusia (yang menjadi) Tuhan

0
homo deus

Seperti yang telah dipaparkan pada tulisan sebelumnya, yang membuat Sapiens (manusia seperti anda dan saya) dapat bertahan hidup dan menempati posisi tertinggi dalam rantai makanan seperti sekarang ini adalah karena kemampuan daya pikir imajinatif untuk membuat narasi yang hidup dalam pikiran banyak Sapiens lainnya sehingga memudahkan dalam memobilisasi/bekerja sama untuk satu tujuan. Narasi imajinatif ini berubah-ubah dalam sejarah Sapiens, namun intinya selalu sama yaitu untuk mendorong batas-batas yang ada dari tujuan narasi tersebut. Seperti mitos tentang humanisme, yaitu pandangan yang memosisikan manusia pada pusat segala sesuatu, hanya ada untuk mendorong sejauh mana manusia memiliki tempat yang spesial dalam tata kosmos alam semesta ini.

Dalam sejarah Sapiens, ada tiga hal yang selalu membayangi eksistensi Sapiens: Perang, Penyakit dan Kelaparan (War, Plague, and Famine). Ketiganya membawa dampak yang sama yaitu kematian. Kematian telah menjadi ikon yang menakutkan sehingga sedikit banyak disadari atau tidak, kematian memiliki posisi yang istimewa dalam narasi imajinatif Sapiens. Kematian sebagai dinding yang tidak dapat ditembus adalah batas dari segala usaha Sapiens. Tak heran jika setiap agama menganjurkan untuk berdamai dengan kematian daripada melawannya. Manusia terbatas dan ditindas oleh kematian.

Perkembangan sains dalam kurun waktu lima abad terakhir ini telah mengubah posisi Sapiens dari sekedar penonton menjadi pemain dalam percaturan alam. Perlahan tapi pasti Sapiens bisa menghambat dan memberikan perlawan sengit kepada ketiga agen kematian tersebut. Penyakit yang umum menyerang dan bisa membunuh manusia dengan cepat di zaman dahulu, seperti kolera, pox, flu dan lain-lain, kini telah dan hampir bisa dimusnahkan. Perkembangan ilmu kedokteran yang pesat membuat penyakit yang lebih sulit disembuhkan seperti kanker atau AIDS bisa ditunda efek mematikannya dalam waktu yang relatif lama. Dengan mempertahankan tempo peningkatan ilmu kedokteran, mungkin satu atau dua abad lagi manusia bisa bebas dari penyakit tersebut.

Pola yang sama juga terlihat pada masalah pangan. Meskipun masih ada daerah di dunia ini yang mengalami kelaparan, namun dalam satu abad terakhir ini, peningkatan ketersediaan pangan untuk masyarakat dunia sebenarnya cukup pesat. Dengan sains, Sapiens telah mengembangkan tanaman rekayasa dan juga berbagai jenis hewan (domestikasi) yang memiliki sifat-sifat unggul untuk keperluan pangan manusia. Kedua hal tersebut menyebabkan populasi Sapiens naik eksponesisal dalam kurun waktu 50 tahun ini menjadi tujuh miliar. Perbubahan cara pandang Sapiens dari religius-imperialis kepada humanis–begitu pula dengan demokrasi dan kapitalis–telah membuat pendekatan kemanusiaan sebagai penyelesaian masalah sebagai pusat segala-galanya. Salah satunya adalah dibidang etika dan moral. Karena nyawa manusia itu begitu sakral dalam pandangan humanis, kita melihat betapa peranan narasi imajinatif HAM mengambil seluruh sendi kehidupan. Oleh karenanya kita melihat penurunan yang signifikan terhadap perang sejak perang dunia kedua yang berakhir tahun 1945 yang lalu.

Sains menempatkan Sapiens dalam posisi yang istimewa dewasa ini. Sapiens kini berada pada titik yang krusial. Bukan hanya sebagai pemain saja, Sapiens juga berada di batas dan akan menyeberang ke posisi perekayasa, pengontrol, pengendali. Secara tidak sadar, kekuatan yang Sapiens berikan/nisbahkan kepada entitas adialami yang mereka sebut Tuhan itu kini satu persatu mereka cabut dan ambil untuk diri mereka sendiri.

Hari akhir ke-aku-an

Narasi imajinatif humanis berpusat pada pentingnya diri (self) manusia. Sapiens memiliki hal unik yang tidak dimiliki oleh makhluk lain yang disebut kehendak bebas (free will). Menurut narasi ini, manusia memiliki kemampuan untuk mengambil dan menentukan pilihan yang tidak bersifat ditentukan (deterministic) maupun acak (random). Namun, sepertinya Sapiens perlu memikirkan tentang konsep kehendak ini kembali. Sebab sains memberikan jawaban yang berbeda tentang masalah ini. Di dalam sains segala sesuatu yang terjadi pada diri, selalu melalui proses yang terjadi di dalam otak. Ada proses biologis kompleks yang mendahului segala sesuatu yang dilakukan. Dengan demikian kita tidak pernah bebas pilihan. Ada impluls yang mendahalui diri untuk melakukan sesuatu. Impuls ini membuat kita melakukan sesuatu. Memberikan sensasi palsu dari kehendak bebas.

“I don’t choose my desires. I only feel them, and act accordingly” (YNH, 287)[1]

“Saya tidak memilih keinginan saya. Saya hanya merasakannya, dan berkelakuan sesuai dengannya”

Emosi, perasaan juga merupakan proses biokimia yang terjadi di otak. Sapiens menggangap emosi dan perasaan merupakan hal yang membuat Sapiens berbeda. Namun dari sudut pandang evolusi, emosi dan perasaan merupakan misteri sebab kedua hal ini tidak berdampak signifikan untuk sintasnya (survive) suatu Sapiens. Sains lebih jauh telah memasuki area untuk memanipulasi proses biokimia di otak. Tujuannya adalah untuk memudahkan usaha manusia mencapai keinginan tertentu. Jika dahulu, seseorang yang depresi diberikan petuah oleh ahli agama atau ahli psikologi, maka solusi sekarang adalah meminum obat yang memang menyerang proses biokimia yang terkait dengan depresi di otak. Depresi bisa dihentikan dan seketika itu pula, orang tersebut menjadi tidak depresi lagi. Hal ini membuka peluang bagi sains untuk memanipulasi emosi yang lain. Yang paling utama adalah rasa bahagia. Bukankah semua Sapiens mengagung-agungkan kebahagiaan? Dalam rentang masa depan yang bisa terlihat, produsen farmasi didunia akan menciptakan obat yang dapat menginduksi rasa bahagia. Sekali lagi atribut diri dari Sapiens bukanlah hal yang fundamental seperti yang diklaim humanis/liberalis.

Yang terakhir, ciri dari narasi humanis adalah semua Sapiens itu unik, berbeda atau individual. Artinya Sapiens itu unik karena memiliki ke-aku-an yang unik dan berbeda dari Sapiens lainnya. Apakah seperti itu? Ternyata tidak, sebab sains membuktikan bahwa satu Sapiens itu dividual. Ada dua “aku” yang mengontrol satu tubuh. Otak kanan dan otak kiri ternyata bekerja sendiri-sendiri. Mereka hanya dihubungkan dengan selaput kecil diantara keduanya. Otak kanan bertanggung jawab bagi bagian badan sebelah kiri, dan otak kiri bertanggung jawab pada bagian sebelah kanan. Lebih jauh, otak kanan bertanggung jawab pada pengalaman spasial dan otak kiri bertanggung jawab atas logika dan perkataan. Otak kiri bertanggung jawab dalam memberikan pikiran, narasi dan penjelasan. Tangan kiri yang dikendalikan otak kanan bisa bergerak sinkron dengan tangan kanan, karena informasi dari otak kanan diketahui oleh otak kiri melalui selaput tipis di antara keduanya. Apa jadinya ketika selaput tipis ini dihilangkan? Yang terjadi adalah pada satu tubuh, ada dua individu (dividual). Dalam satu eksperimen ditunjukkan bahwa pasien yang mengalami hal ini ditunjukkan dua gambar yang dibatasi oleh sekat sehingga mata sebelah kanan melihat gambar kanan dan mata kiri melihat gambar kiri. Ketika di tanya gambar apa yang disebelah kanan, pasien tersebut dapat menjawabnya, namun ketika di tanya gambar di sebelah kiri, pasien tersebut tidak bisa menjelaskannya. Malah ia membuat deskripsi yang tidak masuk akal. Namun ketika tangan kiri diberikan alat tulis, dan di tanya gambar apa yang dilihat di sebelah kiri, sembari mengatakan hal yang tidak masuk akal, tangan kirinya bergerak dan menggambarkan apa yang dia lihat. Ketika dia ditanya mengapa meggambar seperti itu, sekali lagi dia mengatakan hal yang tidak masuk akal.

Mengapa hal seperti ini bisa terjadi? Hal ini karena otak kiri lah yang bertanggung jawab atas kemampuan untuk berkomunikasi dan logika. Otak kiri adalah diri yang selalu berusaha menjelaskan (the narrating self) dan diri ini berbeda dengan diri yang selalu sadar (the experiencing self). Ketika anda mengalami kecelakaan. Anda mengalami setiap detik rasa sakit tersebut dengan sadar. Namun ketika anda berusaha menjelaskannya, diri anda yang satunya akan berusaha menutupi pengalaman rasa sakit anda sehingga anda akan kebingungan menjelaskannya. Bahkan anda lupa benar bagaimana sakitnya. Evolusi telah menggunakan trik ini selama jutaan tahun pada Sapiens perempuan. Melahirkan adalah proses yang sangat menyakitkan. Namun Sapiens perempuan bisa melahirkan lebih dari sekali. Hal ini karena ketika mereka berusaha mengingatnya, diri yang menjelaskan tadi akan menanamkan ingatan palsu (false memories) yang membuat Sapiens perempuan tersebut merasa pengalaman itu bukanlah pengalaman yang buruk.

Dengan runtuhnya fondasi dasar dari humanis yaitu manusia itu istimewa dan unik, sehingga berposisi unik dalam alam semesta apakah Sapiens akan berani meninggalkan humanis sama seperti ketika Sapiens meninggalkan agama, dan mendeklarasikan kematian Tuhan?

Kebangkitan Mesin

Sapiens mengembangkan sains. Sains melahirkan teknologi. Teknologi pada awalnya dikembangkan dengan motif humanis, untuk mempermudah manusia. Juga bagi para kapitalis, mesin dan teknologi ada untuk memaksimalkan produksi dan keuntungan. Teknologi/mesin mengambil posisi mengerjakan sesuatu yang tidak efisien dikerjakan oleh manusia. Namun sekarang, teknologi telah berada jauh dari kegunaan mereka sebelumnya. Sapiens selalu berfikir bahwa selalu ada batas bagi mesin. Bahwa Sapiens itu memliki hal yang tidak bisa dilakukan oleh mesin. Ketika pabrik-pabrik di masa lampau sebagian proses produksinya diambil mesin, Sapiens selalu menemukan peluang pekerjaan baru untuk dirinya. Namun sampai kapan Sapiens akan terus berlari dari kejaran mesin?

Dewasa ini, sains telah mengembangkan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dalam bentuk algoritma yang menyerupai manusia. Hal ini karena pada penjelasan sebelumnya dibuktikan bahwa Sapiens itu tidak lain adalah algoritma yang dibangun oleh seleksi alam selama jutaan tahun. Sapiens bukanlah algoritma yang baik sebab tidak ada satu agen yang mengontrol (ada dua -aku- dalam diri Sapiens) dan yang terakhir adalah Sapiens memiliki emosi dan perasaan serta faktor lingkungan yang banyak mengganggu pengambilan keputusannya. Jadi, apakah salah untuk membangun algoritma yang lebih baik dari Sapiens? Tentu saja tidak.

Algoritma yang bebas dari itu semua tentu bukan hanya tidak mustahil tapi akan lebih baik dari manusia itu sendiri. Sebagai contoh, algorithma yang dapat memetakan dan memahami proses yang terjadi di otak secara komprehensif, secara teori mampu memberikan saran yang lebih baik kepada Sapiens itu sendiri tentang hal apa yang baik untuk dirinya. Tentang keputusannya. Jika algoritma ini bisa bukan hanya memetakan dan mengambil kesimpulan melainkan mengolah dan memprediksi, maka tidak mungkin algoritma tersebut akan menentukan apa-apa yang penting dan tidak penting bagi tuannya. Hidup tuannya adalah kendalinya.

“… An algorithm that monitors each of the systems that comprise my body and my brain could know exactly who I am, how I feel and what I want. Once developed, such an algorithm could replace the voter, the customer and the beholder. Then the algorithm will know best, the algorithm will always be right, and beauty will be in the calculations of the algorithm.” (YNH, 334) [2]

“…Sebuah algoritma yang mengawasi setiap sistem dalam tubuh dan otakku bisa mengetahui aku dengan tepat, bagaimana perasaanku dan apa keinginanku. Sekali dikembangkan, algortima semacam itu dapat mengganti para pemilih, pelanggan dan pengagum (seni). Algortima akan mengetahui yang terbaik, algortima akan selalu benar dan keindahan akan ada pada hitungan algortima.”

Kata-kata di atas sudah cukup untuk memberikan gambaran apa yang sedang dan akan terjadi. Mungkin Sapiens benar, mereka selalu bisa menemukan hal yang tidak bisa dilakukan mesin. Namun sejauh mana Sapiens dapat berlari sebelum akhirnya mesin benar-benar seperti deskripsi di atas? Jawabannya adalah tidak lama. Coba anda lihat telepon pintar (smart phone) anda. Dan coba ketik sebuah pesan. Jika ada kata yang salah, maka akan ada pemberitahuan bagaimana tulisan yang benar. Anda tidak perlu tahu tulisan lengkap suatu kata. Pekerjaan itu diambil oleh telepon pintar anda.  Kemudian anda ingin mengirim pesan dalam Bahasa inggris, apakah anda perlu belajar Bahasa Inggris dahulu atau bertanya pada ahlinya? Anda lebih percaya pada Google Translate. Google Translate telah membuat ribuan lulusan Bahasa Inggris menjadi bingung dengan apa yang harus mereka lakukan. Kemudian anda buka aplikasi seperti prakiraan cuaca. Lengkap dengan data cuaca perjam. Secara tidak sadar anda menentukan jadwal anda sesuai dengan prediksi aplikasi tersebut. Anda siapkan payung jika memang akan hujan. Kapan aplikasi yang sama akan mengontrol apa yang anda makan, asupan gizi anda dan kesehatan anda? Tidak lama bukan?

Kemana Berjalan Setelah ini?: Tekno-Humanis dan Dataisme sebagai narasi imajinatif yang baru
Clothing-aiding-sports
http://medicalfuturist.com/wp-content/uploads/2016/11/Clothing-aiding-sports.jpg

Supremasi Sains seperti ini akan menempatkan Sapiens dalam percabangan. Setidaknya ada beberapa skenario yang mungkin bisa terjadi dalam waktu dekat ini. Dari segi perkembangan ilmu kedokteran dan obat-obatan–khususnya rekayasa genetika– , mimpi untuk mengalahkan kematian semakin dekat. Terutama pada bagian menghindari penuaan dan peremajaan sel. Sapiens bisa mati (misal karena kecelakaan), namun tidak karena sakit. Secara teori, Sapiens bisa hidup dalam waktu yang lama tanpa memikirkan penuaan. Skenario ini terutama memiliki konsekuensi yang lain, seperti pembentukan spesies Sapiens baru yang mewarisi sifat-sifat ’super’ yang sama sekali berebeda dengan Sapiens sekarang. Salah satu kunci dari Sapiens 2.0 ini adalah memancing revolusi kognitif kedua. Revolusi kognitif adalah kejadian yang diberikan oleh seleksi alam pada Sapiens yang menyebabkan Sapiens dapat membentuk narasi imajinatif dan berfikir. Tidak ada yang tahu bagaimana kapabilitas Sapiens 2.0 ketika revolusi kognitif kedua ini berhasil ditanamkan pada mereka. Bagi Sapiens hal ini seperti membayangkan segitiga bersegi empat. Mustahil. Selain itu, Sapiens 2.0 ini dihasilkan di lab dan diupgrade agar tidak membawa kekurangan Sapiens yang ada (penyakit, dan cacat lain). Ketika Sapiens 2.0 ini lahir, apa yang akan terjadi pada Sapiens? Apakah Sapiens 2.0 ini akan membabat habis Sapiens, seperti yang kita lakukan dalam waktu enam juta tahun yang lalu dengan menghabisi lima spesies manusia lainnya?

Skenario kedua adalah penyatuan Sapiens dan mesin. Tak bisa dipungkiri, mesin dan manusia sekarang lebih dekat dari sebelumnya. Lengan dan kaki buatan yang dikendalikan otak, implan jantung, implan otak hingga teknologi nano yang berenang dalam darah Sapiens untuk melakukan kerja adalah salah satu dari banyak contoh yang bisa kita lihat sekarang. Setengah Sapiens setengah robot hanya tinggal menunggu waktu. Kenapa tidak? Hal ini karena mesin bekerja lebih efisien dan dapat diganti sewaktu-waktu. Selain itu algoritma yang tidak memiliki efek samping buruk Sapiens seperti yang dijelaskan sebelumnya juga bisa diimplementasikan. Mimpi Sapiens untuk mengambil sebagian sifat Tuhan yang selalu mereka kagumi pertama kali bukan hanya sekedar mimpi.

Kedua skenario di atas masih menempatkan Sapiens pada pusat perkembangan kebudayaan. Sains ada untuk memperbaiki dan menaikkan derajat Sapiens. Ini disebut dengan tekno-humanisme (techno humanism). Sapiens hasil dari tekno-humanis akan mempertahankan sebagian sifat dan ciri dari Sapiens namun juga akan mengalami peningkatan kemampuan fisik dan mental sehingga memiliki sifat yang tidak dapat dibayangkan oleh Sapiens masa ini.

Sekenario ketiga adalah dataisme. Dataisme adalah pandangan bahwa penyusun fundamental alam semesta adalah informasi. Informasi hanya berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dan nilai dari suatu fenomena atau entitas ditentukan oleh kontribusinya pada proses pengolahan data. Dalam dataisme, tidak ada beda makhluk biologis dan mesin. Keduanya hanya merupakan algoritma yang ditentukan oleh hukum matematika. Bagi dataisme, segala proses hidup makhluk hidup baik itu Sapiens dan yang lain serta yang mereka hasilkan seperti Simfoni Beethoven, filsafat Nietzsche atau perang minyak Bush hanya merupakan pola-pola pada data/informasi yang mematuhi hukum yang sama. Algoritma makhluk biologis menurut para datais merupakan algoritma yang buruk dan harus segera diganti dengan algoritma elektronik seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Algoritma elektronik dapat bekerja secara efisien dan memproses data berkali-kali lipat serta memberikan penarikan kesimpulan yang relatif tepat tanpa terdistraksi oleh hal-hal seperti perasaan dan emosi.

Data mengalir dalam kecepatan yang tidak tertahankan dewasa ini. Dan Sapiens lelah tergopoh-gopoh dalam mengejar ketertinggalan dari teknologi. Setiap Sapiens kini tak bisa menggantungkan hidupnya pada pengetahuan yang ia ketahui sepuluh tahun yang lalu. Sebab pengetahuan sepuluh tahun yang lalu tersebut telah dikuasai oleh mesin. Sapiens harus beradaptasi. Namun menurut para datais, mesin akan mengejar dan meninggalkan Sapiens juga pada akhirnya. Dan yang perlu dilakukan Sapiens jika itu terjadi adalah masuk ke sistem dan menyerahkan pengolahan data pada mesin. Ini berarti Sapiens tidak bisa mempercayai dirinya sendiri. Sebab segala sesuatu kini hanyalah algoritma yang dilakukan lebih baik oleh mesin. Sapiens harus berkonsultasi dengan mesin untuk segala sesuatu. Dan Sapiens harus menerima bahwa mereka hanyalah algoritma cacat hasil kebetulan dan proses jutaan tahun hasil eliminasi acak seleksi alam. Dan tentu ini bukanlah cara yang bagus untuk membuat suatu algoritma. Dataisme memberikan prospek kepada Sapiens untuk tidak perlu menghawatirkan apapun. Sebab segala sesuatu telah dikerjakan algoritma elektronik. Lalu apa yang akan terjadi pada Sapiens? Bayangan orang-orang gemuk yang tidak melakukan apa pun di film Wall-E pun datang ke dalam pikiran.

Kesimpulan

Tulisan ini bukanlah ramalan tentang masa depan. Ini adalah prediksi tentang arah mana yang bisa diambil oleh Sapiens yang kini telah berada pada ambang batas humanisme. Mungkin terjadi, mungkin tidak. Dengan melihat masukan keadaan saat ini, kita dapat memetakan kemungkinan untuk masa depan. Jenis narasi imajinatif apalagi yang akan diikuti oleh Sapiens. Kunci dari semua ini adalah Sains. Sebab Sains telah memberikan daya cipta tak terbatas bagi Sapiens. Yang membatasi daya cipta Sapiens adalah imajinasi mereka sendiri. Nilai yang mereka buat, moral yang mereka susun adalah tembok tak nyata yang menghalangi Sapiens dari peluang-peluang yang ditawarkan Sains.

Semua skenario di atas memiliki sisi positif dan negatif untuk Sapiens. Sejarah itu tidak adil. Sebagian Sapiens akan menjadi korban. Sebab ketidakadilan adalah cara lain yang tidak disadari Sapiens untuk maju. Sebagian Sapiens akan menjadi Homo Deus (Deus: Tuhan), dan sisanya akan terkapar di lantai sejarah. Begitulah adanya. Dari dulu hingga masa depan. Tapi mimpi untuk mencapai hal yang baik untuk seluruh Sapiens tidak hilang. Karena satu hal yang tidak pernah berubah dari Sapiens adalah imajinasi.

Referensi

[1][2] Yuval Noah Harari, Homo Deus: A Brief History of Tomorrow. 2017. Harper Collins Publisher. New York.

Sains, Agama, dan Keyakinan

0
Sains, Agama, dan Keyakinan

Bagi sebagian orang, terkadang sains, agama, dan keyakinan merupakan masalah penting tersendiri di sepanjang perjalan kehidupannya. Berkeyakinan pada agama tertentu, dengan asumsi agama yang menyatakan bahwa ada ‘Tuhan’ di balik alam semesta, bisa jadi sama dengan berkeyakinan terhadap sains. Keduanya tampak berbeda atau bahkan sama sekali berbeda. Tetapi jika kita sedikit mau membuka diri berdasarkan kata “keyakinan” maka tidaklah beda antara keduanya. Baik keyakinan terhadap agama atau sains, masing-masing keduanya memiliki sebuah objek yang diyakini. Perbedaanya terletak pada masing-masing objek itu sendiri. Keyakinan terhadap agama memiliki objek yang tidak riil, sedangkan keyakinan terhadap sains adalah sebaliknya.

Ada banyak pandangan religius yang bukan produk dari cara akal sehat untuk melihat dunia. Perhatikan kisah Adam dan Hawa, atau kelahiran Kristus yang perawan, atau Muhammad naik ke surga dengan seekor kuda bersayap. Ini bukan produk bias bawaan. Mereka dipelajari, dan, yang lebih mengejutkan lagi, mereka dipelajari dengan cara yang khusus.

Datang untuk menerima narasi religius semacam itu tidak seperti belajar bahwa rumput itu hijau atau kompor bisa menjadi panas; Ini tidak seperti memilih stereotip atau peraturan kebiasaan atau sosial. Sebagai gantinya, narasi ini diperoleh melalui kesaksian orang lain, dari orang tua atau rekan kerja atau otoritas keagamaan. Menerima semuanya membutuhkan lompatan iman, tapi bukan lompatan iman teologis. Sebaliknya, sebuah lompatan dalam pengertian duniawi bahwa Anda harus mempercayai orang-orang yang bersaksi tentang kebenaran mereka.

Sebagian orang percaya bahwa keyakinan terhadap agama dapat secara langsung (berarti) yakin terhadap sains atau sebaliknya. Baik sains atau agama memiliki semacam mutualisme yang kompatibel satu sama lain. Ketika sains mampu menjawab beberapa hal tentang ‘pernyataan’ Tuhan, maka secara otomatis agama mengakomodasi temuan tersebut.

“Either half my colleagues are enormously stupid, or else the science of Darwinism is fully compatible with conventional religious beliefs—and equally compatible with atheism.” (Stephen Jay Gould)

Entah setengah kolega saya sangat bodoh, atau ilmu Darwinisme sepenuhnya kompatibel dengan kepercayaan agama konvensional – dan sama-sama kompatibel dengan ateisme.

More recently, there are many examples of exceptional scientists whose belief in God coexists productively with scientific endeavor. Think of Francis Collins, the former head of the Human Genome Project, Nobel Prize–winner Antony Hewish, or the prominent botanist Sir Ghillean Prance, who said, “All my studies in science . . . have confirmed my faith.”[4]

Baru-baru ini, ada banyak contoh ilmuwan luar biasa yang percaya pada Tuhan hidup berdampingan secara produktif dengan usaha ilmiah. Pikirkan Francis Collins, mantan kepala Proyek Genom Manusia, pemenang Hadiah Nobel Antony Hewish, atau ahli botani terkemuka Sir Ghillean Prance, yang mengatakan, “Semua studi saya dalam sains. . . telah mengkonfirmasi imanku.”

Tetapi tentu ada juga, atau bahkan banyak, orang yang percaya bahwa keyakinan terhadap sains dan agama, atau sains dan agama, tidak dapat disatukan dan benar-benar terpisah satu sama lain. Keduanya bersikeras untuk menyangkal satu sama lain dalam pandangan mereka masing-masing. Bisa jadi agama dan sains dan orang-orang yang mengikuti (yakin) terhadap keduanya, secara terpisah, menjadi musuh abadi yang tak mungkin untuk didamaikan hingga entah sampai kapan.

“Science and religion cannot be reconciled. . . . Religion has failed, and its failures should stand exposed. Science . . . should be acknowledged king.”[1]

“Ilmu pengetahuan (sains) dan agama tidak dapat direkonsiliasikan. . . . Agama telah gagal, dan kegagalannya harus tetap terbuka. Ilmu Pengetahuan. . . harus diakui raja.”

Steve Jones, profesor genetika di University College London dan seorang atheis, mengatakannya seperti ini:

“Science cannot answer the questions that philosophers or children ask: Why are we here? What is the point of being alive? How ought we to behave?”[3]

“Ilmu pengetahuan tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh para filsuf atau anak-anak: Mengapa kita ada di sini? Apa gunanya hidup? Bagaimana seharusnya kita berperilaku?

Meskipun spiritualitas (berkeyakinan terhadap) sains lebih baik daripada spiritualitas agama, seperti dikatakan Krauss, dikarenakan spiritualitas sains adalah sesuatu yang nyata sedangkan spiritualitas agama merupakan suatu bentuk delusi tetapi tetap saja spiritualitas agama lebih banyak diikuti. Walaupun ini terjadi hanya pada negara-negara dengan mayoritas Agama (tertentu). Lalu, mengapa demikian?

Lalu apa sebenarnya keyakinan beragama? Juga apa itu keyakinan sains? Benarkah keduanya berbeda? Atau mungkinkah keduanya dapat direkonsiliasikan atau setidaknya dianggap kosentris?

Keyakinan ‘Beragama’

Sains, Agama, dan Keyakinan
Sumber: https://www.linkedin.com/pulse/science-religion-art-activities-mind-heart-pamela-hope-deluca-price

Keyakinan [ber]agama adalah keyakinan terhadap agama-agama tertentu dengan segala konsekuensi yang harus dipatuhi dan menjalankan segala pernak-pernik yang ada di dalamnya serta menjadikan segala perintah dan aturan dalam setiap denyut nadi para pengikutnya. Jika seseorang telah meyakini sesuatu untuk menjadi bagian dari kehidupannya maka ia ‘seharusnya’ bergerak berdasarkan keyakinannya tersebut. Seperti seorang pecinta yang begitu dalam mencintai yang dicintainya, maka seperti itulah seharusnya berkeyakinan.

Doktrin keyakinan yang ditanamkan oleh orang tua atau setidaknya yang lebih tua dari dirinya  menjadi salah satu faktor utamanya. Ini dapat dikatakan semacam ‘warisan’ keyakinan beragama. Individu yang lahir dari keluarga dengan keyakinan beragama tertentu, sudah dapat dipastikan akan dididik berdasarkan atas keyakinan tersebut, terlepas berhasil atau pun tidak. Individu yang masih ‘kosong’ tentu akan sangat dapat menerima yang dikatakan atau dilakukan oleh kedua orang tuanya. Berlanjut pada masa anak-anak dan remaja, individu-individu akan terus mendapatkan asupan pengetahuan berdasarkan keyakinan beragama lebih dari sekadar dari orang tuanya melainkan juga dari para meraka yang lebih tua darinya di masing-masing komunitas-komunitas yang mereka ikuti. Inilah mengapa seorang remaja yang kemudian dilepas ke ‘alam bebas’ kehidupan akan pertama-tama menjadi sosok yang sangat agamis.

Kecemasan atas nasib individu-individu pada ‘esok hari’, mulai dari keselamatan secara fisik dan mental dan, sepertinya lebih-lebih, kecemasan terhadap finansial, yang tercakup dalam sebuah kata ‘takdir’, menjadi momok yang sangat menakutkan. Fakta bahwa kelahiran seorang anak manusia di muka bumi dari rahim seorang perempuan dengan nasib berbeda-beda menjadi awal dari kegelisahan tersebut. Seorang anak yang lahir dari keluarga mapan, secara ekonomi, strata sosial, dan setidaknya harmoni keluarga, tentu secara umum akan tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang siap menghadapi tantangan di masyarakat di kala dewasa. Sebaliknya, si malang yang lahir dari kekurangan atas segala hal terlebih adanya ketidakharmonisan dalam rumah tangga, akan menimbulkan bukan hanya kegelisahan tetapi juga kecemasan akan masa depan, traumatik kekerasan, kebimbangan sikap, keterpurukan mental, hilang kepercayaan diri, dan banyak hal buruk lainnya, yang tentu akan tampak si malang dewasa yang terkadang menutup diri, angkuh untuk aktualisasi, dan cenderung hanya memikirkan diri mereka sendiri. Dan ini wajar karena si malang merasa tidak memiliki siapapun di dunia ini kecuali dirinya sendiri. Itupun jika kepercayaan dirinya terasah dengan baik. Fakta-fakta ini, selanjutnya, akan membawa mereka pada tingkat keyakinan beragama yang berbeda yang bergantung pada doktrin orang tua, lingkungan, dan pengalaman yang mereka peroleh. Bagi si dewasa mapan, bisa jadi, sangat yakin dan percaya atas doktrin agama dengan keyakinan bahwa agama membawa kehidupan keluarganya menjadi mapan dan terus berlangsung hingga keturunan-keturunan berikutnya, meskipun tidak semua dan harus demikian. Sementara itu, bagi dewasa malang, bisa jadi, sangat yakin atas doktrin yang sama, terlebih apabila ia mendapatkan sesuatu yang di luar nalar yang sanggup dibayangkan olehnya.

Setelah kecemasan terhadap kebutuhan secara jasmani dan rohani dapat teratasi, kecemasan terhadap kepastian ‘setelah kematian’ menjadi salah satu penyebab kuatnya keyakinan terhadap agama. Kecemasan ini bermula ketika seorang mengetahui bahwa segala yang hidup itu pasti mati. (Terlepas dari keyakinan yang kuat bahwa kita bagian dari Sang Pencipta maka kematian bukanlah suatu kematian.) Mereka mulai bertanya kemana kita setelah mati? Tentu jasad ke tanah pekuburan dan lalu ruh (roh) kembali ke Sang Pencipta (bagi beberapa keyakinan beragama). Di tambah lagi, cerita mistis tentang ruh (sebagai entitas yang tidak riil) dan sejenisnya seperti jin, setan, genderuwo, pocong, tuyul, dll. membuat bertambah kuatnya kecemasan akan masa depan setelah mereka mati. Dorongan kuat semacam ini, yang kemudian oleh agama ‘dijadikan’ semacam pemantik atau alat untuk membawa mereka ke doktrin yang lebih kuat bahwa ada kehidupan setelah kematian.

Terlebih lagi realita terhadap ketidakmampuan manusia untuk menahan diri dari tindakan-tindakan buruk yang dilakukan selama hidupnya. Yang dalam keyakinan beragama memunculkan adanya balasan dari kejahatan yang pernah dilakukan (sekecil apapun itu). Balasan yang digambarkan sangat mengerikan seperti dibakar, dicambuk, atau secara umum disiksa setiap hari bahkan setiap detik setelah dunia ini berakhir menjadi momok tersediri bagi setiap individu. Sebaliknya, balasan baik yang digambarkan sebagai ‘aku mau aku dapat’ di kehidupan setelah akhir dunia, menjadi cita-cita yang sangat diburu oleh hampir setiap ‘pemimpi’ kehidupan ‘akhirat’. Meskipun semua itu baru sebatas ‘mimpi’ tetapi realita menunjukkan bahwa doktrin agama semacam itu sangatlah menarik perhatian.

Alasan lain terkait ‘kuatnya’ keyakinan beragama yang mungkin paling lemah adalah adanya komunal atas agama atau kelompok keyakinan yang menjamur di  masyarakat. Seorang individu, tentu saja, akan merasa lebih aman, nyaman, dan terlindungi apabila mereka bagian dari kelompok-kelompok tersebut. Tetapi, hal semacam ini juga menjadi salah satu faktor kuat seseorang memilih untuk berkeyakinan terhadap suatu agama.

Berdasarkan semua faktor-faktor tersebut, individu-individu akan sangat merasa ketakutan apabila tidak mengarah pada keyakinan agama tertentu. Jelas, apabila semua doktrin diterima dengan baik, setiap individu akan sangat kuat keyakinannya. Ketakutan mereka akan berubah menjadi sebuah kepasrahan yang kemudian menuju ke keyakinan terhadap, yang mereka anggap paling baik dan ‘logis’, agama tertentu.  Dan inilah alasan mengapa di negara-negara tertentu kekuatan keyakinan terhadap masing-masing agama sangat jelas di masyarakat.

Akan tetapi, doktrin dan kegaluan tersebut, sejatinya, tidaklah memengaruhi keseluruhan jiwa masing-masing individu. Hanya beberapa orang tertentu saja yang sangat terpengaruh akibat keduanya. Terlepas dari segelintir orang tersebut, kebanyakan dari mereka, doktrin dan kecemasan tersebut hanya menjadi semacam apologi untuk permasalahan-permasalahan hidup yang mereka hadapi. Oleh karena itu, sering akan kita temui, individu-individu yang sedang atau diawali dengan ‘kekalahan’ dan ‘keterhinaan’ dalam kehidupan mereka lah yang memiliki spiritualitas agama, meskipun ini kebanyakan bersifat sementara. Setelah ‘kemenangan’ dan ‘kemuliaan’ didapatkan, spiritualitas agama berangsur menghilang. Sementara itu, bagi individu-individu yang sedari awal  memiliki segala kemudahan hidup, kebanyakan mereka cenderung memiliki spiritualitas agama rendah.

Keadaan semacam ini bukanlah suatu hal yang aneh. Sifat materi manusia yang mendominasi dalam setiap lini dan perjalanan waktu sepanjang kehidupan adalah salah satu alasannya. Realitas yang bersifat materi dapat dibuktikan secara nyata baik secara sains berdasarkan kajian ilmiah, atau melalui panca indera yang langsung dapat dipelajari dari pengalaman oleh setiap individu. Terlebih lagi dunia akademis yang menuntut adanya pembuktian atas, bahkan, sebuah teorema matematis, menjadi faktor sangat besarnya pengaruh materialisme. Maka jelas bahwa pertanyaan-pertanyaan semacam “Dapatkah kita membuktikan keberadaan Tuhan?”, atau paling sederhana “Dapatkah kita membuktikan kebenaran dan keabsahan sebuah ‘kitab suci’?” sangat mungkin untuk dilontarkan. Maka di sinilah salah satu letak munculnya fase perubahan dari spiritualitas agama ke spiritualitas sains.

Keyakinan ‘Sains’

Keyakinan [terhadap] sains tidak jauh berbeda dengan keyakinan [ber]agama. Seperti yang telah diungkapkan di awal bahwa keduanya sama dan hanya objek-nya saja yang berbeda. Keyakinan sains merupakan keyakinan terhadap, salah satu atau banyak, cabang-cabang sains dengan semua metodologi berdasarkan logika-logika berpikir runtut untuk menjelaskan gejala alam yang ada. Ini merupakan bentuk cinta abadi yang lain. Seorang yang benar-benar menjadikan sains sebagai nafas kehidupannya. Hanya keyakinan yang semacam inilah yang kemudian menjadikan hasil-hasil temuan mengejutkan dunia didapatkan hingga saat ini. Akan tetapi, kecintaan [mabuk] terhadap sains tersebut terkadang, sering kali, menumbuhkan benih permusuhan terhadap agamawan.

Sains, Agama, dan Keyakinan
Sumber: http://bigthink.com/

“As science advances, there seems to be less and less for God to do. . . . Whatever it is we cannot explain lately is attributed to God. . . . And then, after a while, we explain it, and so that’s no longer God’s realm.”[2]

Seiring kemajuan ilmu pengetahuan, sepertinya tidak ada lagi yang harus dilakukan Tuhan. . . . Apa pun yang tidak bisa kita jelaskan akhir-akhir ini dikaitkan dengan Tuhan. . . . Dan kemudian, setelah beberapa saat, kami menjelaskannya, dan jadi bukan lagi wilayah Tuhan.

Dalam sains, praktik ilmiah, yang meliputi pengamatan dan eksperimen; pengembangan hipotesis yang dapat difalsifikasi; pertanyaan yang tak henti-hentinya tentang pandangan terhadap semua gejala alam yang mapan, telah terbukti sangat unik dan menarik sekali dalam mengungkapkan struktur alam semesta yang mengejutkan, termasuk dalam kajian partikel sub-atomik, peran kuantum dalam teknologi, peran kuman dalam penyakit, penemuan sejumlah galaksi dan struktur jagad raya, serta dasar mental kehidupan manusia.

Keyakinan terhadap sains bermula dari bangunan logika kausalitas terhadap fenomena alam. Ini dimulai sejak individu mulai dapat mendengar dan berbicara bahkan. Seorang anak akan diajarkan untuk memahami sesuatu, misalnya api mampu membakar sesuatu atau makanlah makanan yang sehat maka kamu akan menjadi sehat. Atau cara berpikir logis lain yang diajarkan langsung oleh orang tua dan lingkungan.

Ketika memasuki dunia pendidikan, individu yang dilibatkan dalam dunia akademik akan mulai menerima ‘doktrin’ dari para guru-guru mereka. Tentu saja, dari para guru sains dan matematika yang mengajarkan logika klasik. Dari mulai yang sederhana hingga hal-hal rumit yang terkadang tidak mampu dijawab oleh guru itu sendiri. Bangunan logika yang mereka terima kemudian terus berkembang hingga ke perguruan tinggi, misalnya. Maka tentu, pada posisi ini, seorang individu akan sangat mapan logika berpikirnya.

Selain itu, doktrin keyakinan sains juga didapat dari dari pengalaman-pengalaman hidup setiap individu. Kejadian alam seperti proses petir pada saat musing penghujan, lahirnya kendaraan berbahan bakar dan listrik, atau sekedar mengapa ada siang dan malam, menjadikan mereka mau tidak mau menyusun kerangka berpikir runtut untuk menjawabnya.

Kekuatan bangunan logika yang telah ditanamkan sejak kecil tersebut, memungkinkan seorang individu akan meletakan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini pada bangunan sains. Mereka akan memutuskan segala sesuatu berdasarkan pengalaman [keyakinan] sains yang telah didapatkan. Alih-alih keyakinan [ber]agama yang telah didapatkan sejak kecil, semua akan mulai terhapus dengan sendirinya sejalan kegilaannya pada sains tersebut. Sehingga pada suatu ketika, akan terjadi ‘evolusi’ penuh dari keyakinan [ber]agama menuju keyakinan [terhadap] sains.

Simpulan

Saya pikir, secara umum, tidak ada seseorang yang benar-benar memiliki keyakinan terhadap satu hal tertentu, baik itu terhadap agama maupun terhadap sains. Setiap individu akan mempertimbangkan (mungkin untung rugi dan sebagainya) segala sesuatu yang menjadi keyakinannya berdasarkan latar belakang, pengalaman, dan masalah-masalah yang ia hadapi sebelum mengambil sebuah keputusan. Sangat wajar apabila [setiap] orang terus saja menyampaikan banyak pertanyaan-pertanyaan, meskipun hanya pada dirinya sendiri, hingga akhir kehidupannya. Dan oleh karena itu, tidak ada kepastian terhadap keyakinan seseorang kendati secara literal mereka mengatakan yakin terhadap ‘sesuatu’ tertentu. Segala sesuatu, termasuk keyakinan, bersifat ‘sementara’.

Referensi

[1] Quoted in John C. Lennox, God’s Undertaker: Has Science Buried God? (Oxford: Lion Hudson, 2009), 15.

[2] Peter Atkins, “The Limitless Power of Science,” in Nature’s Imagination: The Frontiers of Scientific Vision, ed. John Cornwell (Oxford: Oxford University Press, 1995), 125.

[3] Steve Jones, The Language of the Genes (London: Flamingo, 2000), xi.

[4] Carl Sagan, the Varieties of Scientific Experience: A Personal View of the Search for Gord (New York: Penguin Group, 2007), 64.

Bintang ‘Abadi’ Bernama iPTF14hls

0
Bintang 'Abadi'

Dipimpin oleh Las Cumbres Observatory (LCO)[1], Tim astronom internasional telah memperoleh penemuan aneh yakni, yang dapat dikatakan sebagai, bintang ‘abadi’. Bintang yang diberi nama iPTF4hls tersebut enggan berhenti bersinar sampai saat ini.

Ledakan sebuah bintang yang disebut dengan Supernova, telah diamati oleh ribuan orang dari seluruh penjuru dunia. Berdasarkan semua hasil tinjauan yang mereka lakukan, selalu diperoleh kesimpulan bahwa semua bintang mengalami fase kematian. Bintang-bintang yang kita lihat di malam hari, dengan mata telanjang bahkan, sebagian besar adalah bintang-bintang yang telah mengalami fase kematian.

Bintang 'Abadi'
Supernova. Sumber: https://r.hswstatic.com/u_0/w_480/gif/supernova-622×415.jpg

Akan tetapi, dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature, 2017; 551 (7679): 210, tim riset yang tergabung dalam penelitian tersebut menemukan suatu hal yang berbeda dari yang biasa mereka temukan. Yakni penemuan bintang yang dapat dikatakan sebagai bintang yang luar biasa. Sebuah bintang yang meledak beberapa kali dalam kurun waktu lebih dari lima puluh tahun. Jelas bintang semacam ini berlawanan dengan teori yang sudah ada mengenai bencana kosmik[2]. Perlu diketahui bahwa data pengamatan yang mereka dapatkan juga mencakup data-data dari  Observatorium Keck di Maunakea, Hawaii.

Spektrum yang didapatkan dari Keck Observatory menunjukkan bahwa supernova ini tidak seperti yang pernah mereka lihat sebelumnya. Mereka menemukan hampir 5 ribu supernova dalam dua dekade terakhir tetapi belum pernah menemui supernova semacam ini. Seperti dikatakan oleh Peter Nugent, Senior Scientist and Division Deputy for Science Engagement in the Computational Research Division at Lawrence Berkeley National Laboratory, yang turut menulis hasil penelitian ini. Spektrum tersebut memiliki kemiripan dengan ledakan supernova core-collapse[3] yang kaya akan hidrogen. Mereka tumbuh lebih terang dan meredup setidaknya lima kali lebih lambat, sehingga peristiwa yang biasanya berlangsung 100 hari sampai lebih dari dua tahun terjadi lebih lama.

Pada saat melakukan pengamatan bintang ini, periset menggunakan Spektrometer Imaging Resolusi Rendah (LRIS)[4] pada teleskop Keck I untuk mendapatkan spektrum star’s host galaxy, dan Deep Imaging and Multi-Object Spectrograph (DEIMOS)[5] pada Keck II untuk mendapatkan spektrum resolusi tinggi dari bintang yang tidak biasa itu sendiri.

Sebuah supernova, bernama iPTF14hls, telah ditemukan pada bulan September 2014 oleh Palomar Transient Factory. Pada awalnya, bintang tersebut tampak seperti supernova biasa. Tetapi beberapa bulan kemudian, astronom LCO melihat supernova tersebut tumbuh lebih cerah lagi setelah sempat memudar beberapa saat.

Bintang 'Abadi'
Sebuah gambar yang diambil oleh Palomar Observatory Sky Survey mengungkapkan kemungkinan ledakan di tahun 1954 di lokasi iPTF14hls (kiri), tidak terlihat pada gambar berikutnya yang diambil pada tahun 1993 (kanan). Supernova diketahui meledak hanya sekali, bersinar selama beberapa bulan dan kemudian memudar, namun iPTF14hls mengalami setidaknya 2 ledakan, terpisah 60 tahun. Sumber: http://en.es-static.us/upl/2017/11/iPTF14hls-location-e1510131827806.jpg

Pada saat para astronom memeriksa kembali arsip data yang ada, mereka tercengang karena menemukan bukti adanya ledakan pada tahun 1954 di lokasi yang sama. Bintang ini, entah bagaimana caranya, mampu selamat dari ledakan tersebut dan meledak lagi pada tahun 2014.

Para peneliti yang diwakili oleh Iair Arcavi, NASA Einstein postdoctoral fellow at LCO and the University of California Santa Barbara, mengatakan bahwa supernova ini mematahkan semua gagasan tentang bagaimana sebuah bintang seharusnya berperilaku. Hal ini merupakan teka-teki terbesar yang pernah dijumpai dalam hampir satu dekade selama mempelajari ledakan bintang.

Pada penelitian ini tercatat bahwa bintang yang meledak tersebut setidaknya 50 kali lebih masif jika dibandingkan dengan matahari dan terdapat kemungkinan jauh lebih besar lagi. Supernova iPTF14hls disinyalir sebagai ledakan bintang paling besar yang pernah ada, yang pernah diamati oleh manusia. Ukuran ledakan ini dapat dijadikan alasan bahwa pemahaman konvensional astronom tentang kematian bintang mengalami kegagalan untuk menjelaskan kejadian ini.

Supernova iPTF14hls mungkin merupakan contoh pertama dari “Pulsational Pair Instability Supernova.”

Berdasarkan teori yang sudah ada, terdapat kemungkinan bahwa kejadian ini berasal dari bintang yang begitu besar dan panas sehingga menghasilkan antimateri di dalam intinya. Hal tersebut akan menyebabkan bintang menjadi tidak stabil, dan mengalami letusan terang berulang-ulang selama periode bertahun-tahun.

Proses tersebut bahkan memungkinkan berulang selama beberapa dekade sebelum ledakan besar bintang tersebut terjadi dan runtuh ke lubang hitam.

Sementara itu dikatakan oleh Andy Howell, leader of the LCO supernova group and co-author of the study, bahwa ledakan ini diperkirakan terjadi di awal-awal adanya alam semesta dan mestinya sudah punah pada saat ini, seperti menemukan seekor dinosaurus yang masih hidup sampai sekarang. Jika kita menemukan dinosaurus maka kita akan bertanya benarkah ini seekor dinosaurus?

Memang, teori “Pulsational Pair Instability” mungkin tidak sepenuhnya menjelaskan semua data yang diperoleh untuk kejadian ini. Misalnya, energi yang dilepaskan oleh supernova lebih dari perkiraan teori yang telah disusun. Supernova semacam ini mungkin sesuatu yang sama sekali baru.

Para astronom terus memantau iPTF14hls, yang tetap terang tiga tahun setelah ditemukan.

Para peneliti pada awalnya berpikir bahwa kejadian ini benar-benar normal seperti biasanya dan tentu saja membosankan, namun tiba-tiba terjadi keanehan yakni bintang ini terus terang benderang, dan tidak berubah. Hal ini benar-benar merupakan salah satu kejadian yang membuat dahi berkerut.[]

Referensi:

  1. https://lco.global/
  2. http://www.slate.com/blogs/bad_astronomy/2013/08/13/are_the_stars_you_see_in_the_sky_already_dead.html
  3. Iair Arcavi, D. Andrew Howell, Daniel Kasen, Lars Bildsten, Griffin Hosseinzadeh, Curtis McCully, Zheng Chuen Wong, Sarah Rebekah Katz, Avishay Gal-Yam, Jesper Sollerman, Francesco Taddia, Giorgos Leloudas, Christoffer Fremling, Peter E. Nugent, Assaf Horesh, Kunal Mooley, Clare Rumsey, S. Bradley Cenko, Melissa L. Graham, Daniel A. Perley, Ehud Nakar, Nir J. Shaviv, Omer Bromberg, Ken J. Shen, Eran O. Ofek, Yi Cao, Xiaofeng Wang, Fang Huang, Liming Rui, Tianmeng Zhang, Wenxiong Li, Zhitong Li, Jujia Zhang, Stefano Valenti, David Guevel, Benjamin Shappee, Christopher S. Kochanek, Thomas W.-S. Holoien, Alexei V. Filippenko, Rob Fender, Anders Nyholm, Ofer Yaron, Mansi M. Kasliwal, Mark Sullivan, Nadja Blagorodnova, Richard S. Walters, Ragnhild Lunnan, Danny Khazov, Igor Andreoni, Russ R. Laher, Nick Konidaris, Przemek Wozniak, Brian Bue. Energetic eruptions leading to a peculiar hydrogen-rich explosion of a massive star. Nature, 2017; 551 (7679): 210 DOI: 1038/nature24030
  4. https://www.sciencedaily.com/releases/2017/11/171108131839.htm
  5. http://en.wikipedia.org/wiki/Cosmic_catastrophe
  6. The Core-Collapse Supernova Explosion Mechanism (https://arxiv.org/abs/1702.06940)

Catatan Akhir:

[1] Las Cumbres Observatory (LCO) adalah yayasan swasta nirlaba yang gagas oleh seorang teknolog Wayne Rosing, yang terletak di Goleta, California.

[2] Bencana Kosmik adalah eksperimen pemikiran di mana matahari lenyap. Pertanyaannya adalah apa yang kemudian akan terjadi pada bumi dan planet lain yang mengorbit matahari.

[3] Supernova core-collapse adalah ledakan spektakuler yang menandai kematian bintang masif.

[4] Low Resolution Imaging Spectrometer (LRIS) atau Spektrometer Imaging Resolusi Rendah adalah pencitraan gelombang tampak dan komisioning instrumen spektroskopi dilakukan pada tahun 1993 yang beroperasi pada fokus Cassegrain dari Keck I.

[5] DEIMOS (DEep Imaging Multi-Object Spectrograph) adalah spektrometer pencitraan multi-celah dengan panjang gelombang tampak yang beroperasi pada fokus Nasmyth dari teleskop Keck II sejak tahun 2002.

Sapiens dan Imajinasi yang Belum Selesai

0
Sapiens Review

Manusia telah menghuni Bumi ini sekitar enam juta tahun yang lalu. Namun banyak yang tidak sadar bahwa ada enam spesies manusia berbeda yang menghuni Bumi pada masa tersebut. Sebut saja Homo Neanderthal yang mendiami daratan Eropa dan Homo Floresiensis yang menghuni pulau Timor. Namun, bukti evolusi menunjukkan hanya satu dari keenam jenis manusia tersebut yang berhasil menyintas (survive) hingga saat ini, yaitu Homo Sapiens: saya, anda dan kita semua ini.

Apa yang menyebabkan Homo Sapiens bisa bertahan hingga saat ini namun tidak dengan spesies yang lainnya? Mengapa Homo Sapiens “terasa berbeda” dengan makhluk hidup lainnya? Apa saja faktor yang menyebabkan Homo Sapiens dapat mengembangkan apa yang ada sekarang ini? Dan bagaimana memandang sejarah Homo Sapiens secara logis dan apa adanya? Semua pertanyaan tersebut bisa anda temukan dalam buku Sapiens: A Brief History of Humankind (Sapiens: Sejarah Singkat tentang Manusia) karya Yuval Noah Harari. Pada tulisan ini saya akan mencoba mengemukakan beberapa poin dari buku tersebut yang bisa membuat anda tertarik untuk membacanya.

Revolusi Pertama: Lahirnya Para Petani

Dari sudut pandang evolusi ketika pertama kali spesies Sapiens hadir di Bumi, Sapiens bukanlah makhluk yang istimewa. Neanderthal memiliki postur yang jauh lebih kuat dan telah teradaptasi untuk memburuh hewan daripada Sapiens. Belum lagi predator-predator raksasa yang mendiami Bumi pada masa itu, Sapiens bukanlah spesies pada posisi teratas rantai makanan. Dari segi kecerdasan dan komunikasi, masih lebih banyak spesies yang mengembangkan pola komunikasi yang lebih tinggi dan efisien, semisal lumba-lumba dan kelelawar, daripada Sapiens. Akan tetapi, yang membuat Sapiens berbeda dari spesies yang lain adalah kemampuannya untuk berimajinasi, yakni kemampuan untuk membayangkan sesuatu yang tidak eksis secara langsung di alam.

Dari kemampuan inilah kemudian fiksi lahir. Dan yang paling esensial dari hal tersebut adalah keniscayaan bahwa banyak Sapiens dimungkinkan untuk memiliki fiksi yang sama, sehingga meskipun tidak saling mengenal, mereka bisa bekerja sama demi fiksi tersebut. Hal ini tidak ditemukan pada spesies lain, semisal Neanderthal. Neanderthal bisa memprediksi kemana arah panah akan jatuh, tapi tidak bisa membayangkan untuk membentuk kelompok pemanah yang bisa digunakan untuk menyerang dan bertahan. Tak heran, dalam kurun waktu enam juta tahun yang lalu hingga 70.000 tahun yang lalu, Sapiens menguasai Bumi dan memusnahkan lima spesies manusia lainnya.

Kemampuan untuk membentuk fiksi/mitos umum (common myths) di antara Sapiens, selain dapat memobilisasi massa dalam mencapai satu tujuan umum berlandaskan mitos tersebut, konsekuensi lain dari kemampuan ini adalah membangun masyarakat (society). Masyarakat ada setelah Sapiens mengalami revolusi yang pertama, yakni revolusi pertanian (agricultural revolution). Ketersediaan makanan dalam jumlah yang cukup dan dapat diperbaharui (tanaman agrikultur seperti padi dan gandum) membuat manusia bertahan lama di suatu tempat, serta dapat menghasilkan banyak keturunan yang relatif bisa berumur panjang. Dari sinilah kemudian muncul konsep kepemilikian properti (nyata maupun tidak), keluarga dan domestikasi hewan-hewan tertentu seperti sapi, ayam dan babi pertama kali dikembangkan.

Setelah cukup banyak Sapiens menempati teritori tertentu, kemungkinan untuk terjadi gesekan di antara mereka tentu merupakan hal yang tak dapat dihindari, sehingga kemudian pecah menjadi perang akibat perebutan lahan untuk bertani. Dari sinilah konsep masyarakat terbentuk. Pada awalnya, Sapiens yang bertani bersama dan percaya pada mitos yang sama, lebih mudah untuk membentuk satu masyarakat. Bangkitnya masyarakat menyebabkan adanya konsep pemimpin dan pada akhirnya setelah ribuan tahun menjadi kota atau kerajaan ataupun negara.

Pada ribuan tahun berikutnya lembar sejarah dihabiskan hanya untuk berperang demi menyebarkan atau memperluas mitos umum – yang paling jelas adalah agama/kepercayaan – yang dipercayai oleh masyarakat-masyarakat yang ada. Setidaknya ada tiga mitos umum yang telah menentukan arah sejarah manusia selama kurang lebih 5000 tahun ini. Mitos umum tersebut adalah uang, imperialisme, dan agama.

Revolusi Kedua: Sains dan Pencerahan

Uang adalah mitos yang paling penting. Nilai dari uang hanya ada dalam pikiran Sapiens yang menggunakan uang tersebut. Uang itu sendiri (bendanya) tidak bernilai apa-apa. Uang di sini juga mencakup apa saja yang dianggap bernilai oleh Sapiens untuk melakukan tukar menukar, seperti emas misalnya. Imperialisme tidak bisa dilepaskan dari uang/emas. Ekspansi besar-besaran dari zaman Romawi Kuno, Persia, Usmani ataupun Inggris tidak bisa dipungkiri selain untuk menyebarkan agama/kepercayaan juga untuk mencari keuntungan yang dapat dieksploitasi. Dan yang terakhir adalah agama. Saya rasa anda semua bisa mengetahui efek yang satu ini. Sebab lembar sejarah dipenuhi dengan bercak-bercak darah, ketika Sapiens meneriakkan mitos yang satu ini. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Tak bisa dipisahkan dan saling menguntungkan yang lainnya, sampai ketika revolusi kedua terjadi.

Revolusi kedua adalah revolusi sains. Revolusi sains tidak dapat dipungkiri lahir dari keterkaitan antara uang, imperialisme dan agama. Banyak penelitan dan penjelajahan (khususnya oleh bangsa Eropa) di masa lampau untuk memperluas pengaruh imperial atau untuk membuktikan kata-kata dari kitab suci. Revolusi sains mengangkat derajat Sapiens dari hanya pengamat, menjadi pemain dalam lalu lintas kosmos/alam. Penyakit kolera yang tidak bisa disembuhkan dan membunuh sebagian besar masyarakat Eropa pada masa lampau, jadi bukan masalah setelah sains menemukan penangkalnya. Ditemukannya mesin uap yang bisa digunakan untuk menggerakkan  benda menyebabkan perubahan peta politik dunia menuju kekuasaan Eropa. Sains menjadi jawaban dari permasalahan sehingga banyak yang meninggalkan mitos umum atau fiksi tentang agama.

Pada akhir abad 20 dan awal abad 21, mitos umum yang eksis dalam pikiran Sapiens adalah bank (kapitalisme), humanisme, dan demokrasi. Kapitalisme adalah kepercayaan pada investasi terus menenerus oleh pelaku ekonomi meskipun modalnya adalah keutungan yang belum eksis, yaitu masa depan. Humanisme adalah pandangan yang memposisikan Sapiens sebagai pusatnya. Nilai yang paling penting itu adalah nilai yang bermanfaat bagi Sapiens. Dan demokrasi adalah pandangan bahwa bahwa pendapat Sapiens itu berposisi sama dan itulah cara pengambilan keputusan terbaik. Semuanya dikembalikan kepada Sapiens. Secara singkat, kematian agama (dan juga Tuhan) – paling tidak di Eropa –  serta runtuhnya imperialisme menyebabkan Sapiens memposisikan dirinya sebagai pusat dari mitos umum yang baru pada ketiga nilai tersebut.

Sebenarnya, dalam keseluruhan sejarah eksistensinya, Sapiens hanya membentuk fiksi dan mitos umum untuk menggerakkan dan memobiliasasi Sapiens lainnya dalam jumlah besar untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, hal ini mungkin sebab Sapiens memiliki kemampuan untuk berimajinasi. Mitos umum yang ada hanya berganti dari suatu masa dan periode dalam pikiran Sapiens untuk mendorong batas yang dimilikinya saat itu. Sekarang Sapiens kembali berada pada batas fiksi yang ada. Perkembangan sains dan teknologi telah menggoyang fondasi fiksi humanisme (yang menjadi dasar kapitalisme dan demokrasi), sebab agen yang disebut manusia pun bukanlah sesuatu yang penting dalam tata kosmos alam semesta. Selain itu, eksistensi manusia pun terancam oleh berbagai macam terobosan yang mungkin tidak akan jauh di masa depan seperti, kecerdasan buatan (artificial intelligence), Sapiens super (yang tidak sakit/bebas dari semua penyakit bahkan kematian) dan integrasi antara mesin dan manusia (Cyborg) seperti penggunaan implan pada jantung atau lengan mekanik yang dikontrol langsung dari otak.

Mungkin dulu anda sering mendengar istilah “ikuti kata hatimu“ atau “kamu adalah pemegang kendali atas dirimu“ atau mungkin  “lakukan yang terbaik buat dirimu”. Namun sekarang semakin sering orang meminta pendapat pada smartphone nya. Ada banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk mengetahui berapa takaran kalori anda atau untuk mengecek kesehatan anda. Sekarang anda mungkin tidak peduli dengan semua aplikasi tersebut, tapi di masa depan anda mungkin tidak bisa melakukan apa-apa tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan smartphone anda. Jadi Sapiens, masih adakah jalan bagi fiksi yang engkau percayai untuk masa depan?[]

Geometri dalam Perilaku Sel Makhluk Hidup

0
Geometri dalam Perilaku Sel

Seperti yang kita ketahui bahwa geometri mempengaruhi sistem-sistem fisis dalam fisika seperti pada benda-benda terdeformasi[1] (lunak), geometri juga mempengaruhi cara sel mahluk hidup berperilaku. Hal ini diungkapkan oleh para periset University of Pennsylvania.

Geometri dalam Perilaku Sel
Dalam sekelompok sel induk manusia yang bercahaya, satu sel terbagi. Membran sel ditunjukkan dengan warna ungu, sedangkan DNA dalam nukleus pemisah berwarna biru. Serat putih yang menghubungkan nukleus adalah spindle, yang membantu pembelahan sel. Sumber: npr.org/assets/img/2016/11/29/alpha-tubulin

Nathan Bade, seorang mahasiswa pascasarjana di Departemen Teknik Kimia dan Biomolekuler di Sekolah Teknik dan Ilmu Terapan, mengatakan bahwa sel memiliki kerangka seperti kerangka manusia yang kaku. Nathan melanjutkan bahwa dengan asumsi tersebut, dia bersama dengan tim risetnya, ingin memahami bagaimana kerangka kaku tersebut akan merespon geometri yang dibentuk.

Para peneliti tersebut memusatkan perhatian mereka pada sel otot polos vaskular, otot yang mengacu pada jenis otot polos tertentu yang ditemukan di dalamnya dan menyusun sebagian besar dinding pembuluh darah. Sel otot vaskular merupakan jenis sel yang membentuk sebagian besar pembuluh darah besar pada mamalia. Menurut Nathan, para periset yang terlibat dalam kajian ini, mungkin mengharapkan sel tersebut mencoba menghindari pembengkokan. Namun, para periset menemukan bahwa pada permukaan silinder, kenyataannya sel membentuk kerangka yang sangat bengkok. Mereka juga mendapati bahwa, dengan memanipulasi kerangka sel, mereka dapat membuat rekapitulasi pola pelurusan kerangka yang terlihat di dalam vivo (in vivo)[2].

Hasil paling penting yang telah ditemukan oleh Nathan, dkk. adalah bahwa geometri sangat penting dalam hal perilaku sel. Selama ini, permasalahan terkait hubungan antara geometri dengan perilaku sel sedikit banyak diabaikan oleh para peneliti apabila dibandingkan dengan kekakuan (ciri fisis) dan faktor-faktor lingkungan penting lainnya.

Di bawah bimbingan Kathleen Stebe, Profesor Richer &Elizabeth Goodwin di Departemen Teknik Kimia dan Biomolekuler dan wakil dekan untuk penelitian dan inovasi; Randall Kamien, Profesor Vicki dan William Abrams bidang ilmu pengetahuan alam di jurusan Fisika dan Astronomi di School of Arts and Sciences dan Richard K. Assoin, profesor famakologi di Penn’s Perelman School of Medicine, Nathan mempimpin penelitian ini. Hasil penelitian mereka telah diterbitkan dalam Science Advance 2017.

Sebuah sel mamalia memiliki kemampuan untuk dapat tumbuh di permukaan dengan kekakuan (kekerasan) berbeda. Sel-sel tersebut juga memiliki cara bebeda-beda untuk mengatur perilakunya. Inilah yang memicu munculnya pertanyaan geometri: dapatkah sebuah sel melihat bentuk batasnya? Kajian yang dilakukan Nathan adalah kajian untuk permasalahan struktur silinder dengan alasan bahwa bentuk ini paling umum dalam biologi.

Untuk menyelidiki masalah ini, Nathan melapisi silinder dengan molekul-molekul yang membuat mereka mematuhi sel dan selanjutnya diamati dan mengumpulkan informasi tentang cara sel berperilaku saat mereka sedang tumbuh pada batas yang melengkung tersebut. Para peneliti menggunakan powerful confocal microscope yang memberi mereka informasi tentang sister tersebut secara 3-dimensi.

Para peneliti mampu memperlakukan stress fibers, sitoskeleton[3] aktif di dalam sel, sehingga dapat berpendar. Dengan memanfaatkan laser untuk mengumpulkan cahaya dari bagian sampel yang sangat kecil, powerful confocal microscope menghilangkan semua cahaya di luar fokus. Keadaan semacam ini menghasilkan gambar beresolusi tinggi dari sebuah piranti yang memungkinkan para periset melihat bahwa populasi stress fibers yang berada di atas sel sejajar terhadap populasi lain yang ada di bawahnya.

Geometri dalam Perilaku Sel
Sitoskeleton eukariota. Aktin digambarkan dengan warna merah dan mikrotubulus dengan warna hijau. Struktur berwarna biru ialah inti sel. Sumber: wikimedia.org/wikipedia/commons/0/09/FluorescentCells.jpg

Mereka mendapati bahwa ukuran silinder mempengaruhi respon sel-sel tersebut. Semakin besar silinder, yang menghasilkan geometri planar lebih sedikit, semakin sedikit stress fibers yang menyelaraskan. Karena silinder dengan ukuran lebih kecil memiliki kelengkungan yang lebih besar, maka stress fibers sejajar lebih kuat di sekitar mereka.

Salah satu anggota peneliti Stebe mengatakan bahwa satu populasi stress fibers sejajar sepanjang sumbu, dan yang lainnya membungkus (menyelimuti) silinder. Dikatakan juga bahwa terdapat pola yang sangat berbeda, tidak halus, sehingga muncul pertanyaan mengapa ini dapat terjadi.

Dengan menggunakan obat yang dirancang khusus untuk mengaktifkan Rho[4] di dalam sel dan membuat stress fibers lebih tebal dan berpotensi lebih kaku, para periset memutuskan untuk melihat apakah peningkatan kekuatan ini akan mengurangi stress fibers dari pembungkus di sekitar silinder. Tetapi, yang mengejutkan adalah para peneliti menemukan bahwa perlakuan ini benar-benar menghilangkan serat yang disejajarkan sepanjang sumbu dan menebalkan serat yang dibungkus.

Pengaturan ulang oleh para peneliti rupanya sangat mencolok. Peneliti menganggapnya sebagai sel-sel yang melakukan perhitungan matematis (kalkulus). Sel-sel tersebut mampu merespon kelengkungan yang mendasarinya. Dengan demikian, kelengkungan adalah isyarat yang memainkan peran yang sangat kuat baik dalam pengorganisasian sel itu sendiri maupun struktur mikro di dalam sel. Populasi stress fibers ini dapat dimanipulasi dengan menggunakan obat-obatan yang mengubah kekakuan, di antara yang lain. Dan, setelah manipulasi ini, stress fibers mempertahankan keberpihakan yang sangat kuat. Ini merupakan bukan argumen biasa untuk pembentukan pola dalam biologi.

Untuk menindaklanjuti hasil ini, tim melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap isyarat kelengkungan dan geometri dan batas yang lebih kompleks.

Hasil penelitian yang diperoleh ini merupakan hasil yang sangat menarik yang memicu banyak pertanyaan terbuka. Salah satunya adalah bagaimana memahami mekanistime secara rinci. Apa sebenarnya yang terjadi dengan sel tersebut sehingga menyebabkan satu populasi menjadi sangat “bengkok” dan lainnya sangat lurus? Selain itu, para peneliti juga saat ini sedang dalam proses membuat permukaan melengkung yang lebih kompleks untuk melihat bagaimana sel-sel tersebut merespon ketika menghadapi kelengkungan yang jauh lebih ekstrim.

Menurut Bade, penelitian ini telah menghasilkan temuan mendasar yang menyoroti bagaimana sel berinteraksi dengan lingkungan mereka, yang sangat penting dalam memahami sel terkait dengan apa yang dilakukannya di dalam tubuh manusia.

Penelitian dari University of Pennsylvania memberikan penjelasan bahwa untuk memahami cara sel-sel merasakan “kekakuan”, merupakan stimulus lingkungan dan bukan merupakan sinyal kimia terlarut. Dan ternyata, hasil ini sangat penting dalam mengatasi masalah kanker dan berbagai penyakit lainnya. Sehingga hasil penelitian yang dilakukan oleh Nathan yakni memahami cara sel merasakan dan merespon geometri juga merupakan temuan yang penting.

Para periset juga menunjukkan bahwa, pada tingkat yang paling mendasar, mereka dapat mengelompokkan struktur internal sel. Pola di struktur tersebut memiliki implikasi penting dalam perilaku pergerakan sel seperti migrasi dan proliferasi. Kemampuan sel-sel ini untuk membagi dan bermigrasi dengan cepat dapat dipengaruhi oleh geometri dan kelengkungan medan yang dilaluinya.

Salah satu anggota peneliti, Assoian, mengatakan bahwa berdasarkan kemampuan mengorganisir mendatangkan kemampuan untuk menginterogasi. Hal ini seharusnya merupakan peranti bagus yang memungkinkan peneliti dapat mengatur sel dan substruktur untuk interogasi lainnya. Pertanyaan lain yang menarik dari penelitian ini adalah ketika hendak membangun struktur dari sel, yakni apakah organisasi sel dan sub struktur ini dapat memberi respon-respon baru dalam sel yang identik? Akan sangat menarik apabila hasil ini mampu dieksploitasi untuk sel-sel dalam kasus penyembuhan luka, atau interaksi sel-batas untuk implan[5].

Hasil lain yang diperoleh dari penelitian ini, selain tentang wawasan baru tentang prinsip-prinsip dasar yang digunakan sel untuk menafsirkan geometri permukaan, adalah dapat dicapai pemahaman yang lebih mendalam mengenai sel otot polos dan sitoskeletmonnya berkontribusi pada pembentukan pembuluh darah selama pengembangan dan mungkin juga cara merombak pembuluh darah mereka pada penyakit vaskular[6]. Dan karena dianggap bahwa respon terhadap geometri ini tidak terbatas pada sel otot polos, penginderaan geometri menjadi batas baru dalam bidang biologi.

Penelitian ini didukung oleh Graduate Assistance in Areas of National Need Grant AQ15 P200A120246, National Science Foundation Grant DMR1262047, sebuah hibah Investigator Simons dari Yayasan Simons dan Lembaga Kesehatan Nasional memberikan HL119346 dan HL115553.[]

Catatan kaki:

[1] Dalam mekanika (fisika), setiap tubuh atau benda yang mengalami perubahan bentuk sebagian atau keseluruhan baik secara satu dimensi (panjang), luasan, volume (atau kombinasi antara dua di antaranya dan juga kombinasi keseluruhan) pada saat dikenai oleh gaya eksternal apa pun disebut dengan nama benda-benda terdeformasi. Benda-benda terdeformasi memiliki ciri khas bahwa gerak bagian-bagian tubuhnya dapat digambarkan sebagai penjumlahan translasi, rotasi, dan kontraksi dalam ruang 3-dimensi.

[2] Adalah efek berbagai entitas biologis yang diuji pada keseluruhan organisme hidup atau sel, biasanya hewan, termasuk manusia, dan tumbuhan, ketika bertentangan dengan ekstrak jaringan atau organisme mati.

[3] Sitoskeleton atau kerangka sel adalah jaring berkas-berkas protein yang menyusun sitoplasma dalam sel. Setelah lama dianggap hanya terdapat di sel eukariota, sitoskeleton ternyata juga dapat ditemukan pada sel prokariota. Dengan adanya sitoskeleton, sel dapat memiliki bentuk yang kokoh, berubah bentuk, mampu mengatur posisi organel, berenang, serta merayap di permukaan.

[4] Rho adalah istilah dalam penghentian transkirpsi (dalam biologi molekuler) atau terminator. Terdapat dua kategori yakni rho-independent dan rho-dependent.

[5] Implan adalah suatu peralatan medis yang dibuat untuk menggantikan struktur dan fungsi suatu bagian biologis.

[6] Penyakit Vaskular Perifer adalah penyakit yang ditandai dengan penyempitan pembuluh nadi di luar jantung dan otak, yang biasa disingkat menjadi PVP. Pembuluh darah yang biasanya terjangkit penyakit ini adalah pembuluh darah yang menyalurkan darah ke lengan, kaki, dan organ tubuh di bawah perut.

Referensi:

  1. Sommmerfeld, A. Mechanics of Deformable Bodies, 1950, Academic Press Inc. New York. page 1.
  2. https://denikrisna.wordpress.com/tag/biologi-molekuler/
  3. https://id.wikipedia.org/wiki/Implan
  4. https://www.docdoc.com
  5. Nathan D. Bade, Randall D. Kamien, Richard K. Assoian, Kathleen J. Stebe. Curvature and Rho activation differentially control the alignment of cells and stress fibers. Science Advances, 2017; 3 (9): e1700150

Dalam Cermin ‘Contact’: Sains dan Agama di Persimpangan Jalan

0
Sains dan Agama

Tidak sedikit dari hal yang seharusnya kita belum lupa, yakni tentang bagaimana sains mencoba mempermainkan keyakinan kita, mengombang-ambingkan pijakan kita akan suatu hal yang sudah lama menjadi tempat kita berdiri. Seharusnya kita masih sadar, bahwa sains tak lebih dari suatu fiksi lain tentang dunia, di mana segala pembuktiannya masih menjadi kebenaran terakhir, bukan suatu kebenaran akhir.

Sebagian dari kita pasti masih ingat tentang beberapa saat yang lalu, yakni ketika Edwin Aldrin menulis dalam akun twitternya, “it’s time to confess”. Bahwa apa-apa yang kita ketahui tentang misi Apollo ke Bulan, hanyalah angin sepoi kebohongan saja. Tetapi parahnya, kita sudah terlanjur mempercayainya dan begitu tergesa-gesa mencari penjelasan ‘religius’ untuk memperkuat iman dalam diri kita. Lantas menunjukkan apa (sih) sebenarnya hal-hal semacam itu? Selain hanya kebingungan teologis dalam diri kita, sehingga kita bertunggang-langgang dari satu pijakan demi pijakan untuk selalu memperkuatnya.

Baiklah, lupakan masa lalu yang menggelikan itu. Mari kita tengok lagi tentang apa-apa yang sampai saat ini masih menjadi ke-latah-an religius kita. Tahun 1997, Warner Bross merilis film hasil produksinya yang berjudul Contact. Saya kira film ini diinspirasi dari beberapa teori fisika abad 20 tentang wormhole, tentang kelengkungan ruang waktu, dan beberapa sains fiksi lain tentang perjalanan antar bintang (interstellar). Dan saya kira kembali, hal ini pula yang tidak jauh berbeda direkonstruksi ulang dalam film terbaru 2014 berjudul Interstellar. Dari kedua film tersebut, masih memiliki semangat sains yang sama, yakni tentang bagaimana kita dapat mencari kehidupan selain di bumi. Entah itu murni semangat sains, atau hanya sekedar ketakutan psikologis untuk menerima kenyataan bahwa kita adalah satu-satunya kehidupan.

Dari poin inilah saya rasa, bahwa kita harus menelaah kembali dasar filosofis agama dan sains itu bagaimana seharusnya ditempatkan. Bahwa jika memang benar asumsi tentang semangat sains dan agama sama-sama didasari oleh fakta psikologis bahwa kita takut menerima kenyataan bahwa kita sendirian di jagat raya, bahwa kita terasing dalam dunia yang tak terjelaskan ini, maka kita perlu memecahnya kembali pada soal-soal di mana seharusnya agama atau sains itu berperan sebagaimana mestinya, sehingga kasus-kasus antar agama dan sains tidak lagi menjadi kasus yang besar tapi tak bermakna apa-apa.

Perihal Iman: Probabilitas dan Absolutisme

Sebagaimana sejarah dominasi agama yang terwakili oleh gereja telah berubah semenjak Copernicus dan Galileo mempersoalkan Geosentrisme, hal ini menunjukkan suatu iman epistemik yang berbeda antara sains dan agama. Bahwa agama tidak perlu memiliki bukti empiris akan doktrin-doktrinnya, maka sains adalah hal lain, bukti adalah segalanya. Tetapi ada yang lebih mendasar dari hanya sekedar soal epistemik saja, yakni tentang keyakinan ontologis yang sebenarnya berkait-kelindan dengan iman epistemiknya.

Mengapa iman ontologis adalah hal yang paling penting untuk menelaah kembali persoalan agama dan sains? Ini tak lain adalah tentang konstruksi bangunan yang berbeda. Sebagaimana dikatakan oleh Neil deGrasse Tyson di awal-awal serial Cosmos: A Spacetime Odyssey, bahwa iman sains adalah skeptisisme metodis, sebagaimana memang telah diawali oleh bapak Modernisme kita Rene Descartes. Iman pada skeptisisme metodis mengartikan bahwa segala hal dalam sains perlu diragukan, diteliti kembali, mencari bukti, baru memberi dakuan. Tetapi lagi-lagi dakuan sains bukanlah dakuan dogmatis, teori-teori sains yang telah mengalami proses panjang dalam pembuktiannya, tetap saja membuka kritik, pembaharuan, atau bahkan penghancuran oleh teori yang lebih memadai. Sebagaimana pula itulah yang dikatakan oleh Karl Popper tentang falsifikasi, yang tak lain hal demikian mengartikan bahwa tidak ada kebenaran akhir dalam sains, yang ada hanya kebenaran terakhir.

Lantas bagaimana kemudian dengan agama? Apakah kita bersedia menerima iman yang sama sebagaimana yang diimani sains? Bahwa tidak ada kebenaran absolut, yang ada hanya probabilitas dengan aproksimasi yang mendekati kebenaran. Lantas dalam hal apa sebenarnya integrasi antara agama dan sains itu kita maksudkan?

Sudah jelas bahwa iman ontologis agama dibangun di atas fondasi kepastian akan kebenaran yang absolut, diiringi pula dengan iman epistemik yang sangat berbeda pula. Seandainya integrasi antara agama dan sains kita paksakan, yang terjadi adalah munculnya dilema dalam diri kita, apakah kita harus memberatkan agama, atau sebaliknya kita harus memberatkan sains? Dilema ini menurut saya adalah keniscayaan, bahwa ketika kita dihadapkan pada dua pertentangan perihal sesuatu antara agama dan sains, maka kita harus mengalahkan yang satu demi satu kebenaran yang lain. Misal saja, bukti bahwa matahari tidak berputar mengelilingi bumi (geosentrisme) sebagaimana diajarkan oleh Gereja dan juga Al-Qur’an, lantas apakah kita harus mengubur bukti itu demi kebenaran doktrin agama? Atau sebaliknya kita harus menghapus ayat dalam kitab suci itu demi kebenaran sains? Tapi kebanyakan dari kita selalu suka memilih jalan tengah, yakni menerima kedua-duanya dengan jalan menafsirkan kembali ayat itu dengan tafsiran yang sama sekali berbeda agar masih dapat relevan. Dan pada akhirnya kesimpulan dari itu semua adalah: “bahwa kita sebenarnya tidak pernah mau salah”.

Jalan Sunyi untuk Agama

Kita telah terbiasa berpikir bahwa agama harus menyediakan informasi bagi kita. Apakah Tuhan ada? Bagaimana dunia terbentuk? Tetapi, ini adalah penyimpangan modern. Agama tidak pernah seharusnya menyediakan jawaban atas pertanyaan yang berada dalam jangkauan akal manusia. Itu adalah peran logos. Tugas agama, sangat mirip dengan seni, adalah membantu kita hidup secara kreatif, damai, dan bahkan gembira dengan kenyataan-kenyataan yang tidak mudah dijelaskan dan masalah-masalah yang tidak bisa kita pecahkan: kematian, penderitaan, kesedihan, keputusasaan, dan kemarahan pada ketidakadilan dan kekejaman kehidupan (Armstrong, 2013:505).

Sebagaimana telah menjadi banyak perbincangan para pemikir perennialis, seperti Hoseein Nasr, Huston Smith, Karen Armstrong dan beberapa pemikir lain tentang gagalnya sains modern membawa peradaban manusia menjadi secemerlang yang dibayangkan, pemikiran-pemikiran tersebut setidaknya telah mengantar diskursus panjang bagaimana seharusnya sains itu berjalan beriringan dengan agama.

Nasr misalnya dalam Knowledge and Sacred, mengatakan dengan merujuk kembali pada apa yang telah diterangkan oleh Al-Qur’an, bahwa seluruh keberadaan realitas merupakan perwujudan dari Kun fayakun, yakni ‘jadi, maka jadilah!’. Pada awal ‘kemenjadian’ tersebut, menurut Nasr, yang ada secara serentak adalah wujud, pengetahuan, dan kebahagiaan (qudrah, hikmah, dan rahmah). Tiga hal yang hadir dalam permulaan tersebut saat ini lebih sering disebut sebagai realitas (Nasr, 1997:1). Dengan asumsi ontologis tersebut, Nasr berpendapat bahwa sains seharusnya tidak melupakan kebahagiaan sebagai wakil dari kesucian. Tetapi pertanyaannya adalah apakah sains linear dengan persoalan kebahagiaan? Sains adalah tentang objektivitas mutlak, sedangkan kebahagiaan adalah subjektivitas penuh. Pengandaian Nasr atas sains yang demikian masih sulit dibayangkan tentang bagaimana sains dapat berjalan diatas prinsip kebahagiaan.

Disinilah kutipan Armstrong di atas menjadi penting untuk menjawab persoalan yang diketengahkan Nasr. Bahwa perihal penderitaan, kekecewaan, dan berbagai macam keadaan psikis manusia yang membutuhkan obat berupa kebahagiaan adalah tugas agama, bukan sains. Dan sebaliknya berbagai bunga rampai tentang hal-hal yang itu merupakan soal logos adalah tugas sains. Dari sinilah kemungkinan besar jalan integrasi antara agama dan sains adalah independensi yang saling berkaitkelindan. Dimana segala kekecewaan saintifik, adalah tugas agama untuk menghapus segala kekecewaan tersebut. Dan pula tentang kebutuhan praktis manusia untuk keberlangsungan hidup, adalah tugas sains untuk menjawabnya.

Kesimpulan

Pada akhirnya, contact hanyalah upaya kecil yang tidak memberi jawaban apapun bagi hubungan integratif agama dan sains. Ketika di akhir drama tentang pengalaman tokoh utama yang tak terobservasi secara saintifik, hanya menunjukkan suatu fiksional psikologis saja, dan lagi-lagi itu tidak bermakna apapun dalam sains yang menuntut bukti. Hingga akhirnya pun sains harus tetap dengan sains, dan soal keyakinan religius pun tetap dengan keyakinannya. Hingga di titik akhir, agama dan sains pun tetap masih di persimpangan jalan saja. Semoga kita masih bahagia.[]

Referensi

Nasr, Hossein. Pengetahuan dan Kesucian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.

Armstrong, Karen. Masa Depan Tuhan: Sanggahan terhadap Fundamentalisme dan Ateisme, terj. Yuliani Liputo, Bandung: Mizan, 2013.

Teori Kuantum dalam Nanomagnets Levitate

0

Suatu penemuan yang cukup mengejutkan yakni pengaruh teori kuantum dalam nanomagnets levitate oleh beberapa fisikawan termasuk dari Max Planck Institute. Salah satu yang menarik dari penemuan ini berkaitan dengan teorema magnetik Earnshaw.

Sudah sejak pada tahun 1842, ahli matematika Inggris Samuel Earnshaw (1805-1888) – melalui teorema kemagnetannya (1) – membuktikan bahwa tidak ada konfigurasi stabil magnet permanen yang melayang. Jika satu magnet dilepas di atas yang lain, gangguan terkecil akan menyebabkan sistem bertabrakan. Bagian atas yang magnetis, suatu yang sangat populer, tidak mematuhi teorema Earnshaw: Bila diganggu, gerak kisi bagian atas menyebabkan koreksi dan stabilitas sistem terjaga.

Teori Kuantum dalam Nanomagnets Levitate
Sumber: scienceabc.com/wp-content/uploads/2015/07/maglev1.jpg

Para fisikawan yang berasal dari kelompok riset Oriol Romero-Isart di Institue for Teoretical Physics, Inssbruck University, dan Institute for Quantum Optics and Quantum Information, Austrian Academy of Sciences  bekerja sama dengan para periset yang berasal dari Max Planck Institute of Quantum Optics, Munich, telah mampu menunjukkan bahwa di dunia kuantum, nanopartikel non-gyrating kecil dapat berada dalam keadaan stabil di medan magnet. Para peneliti yang diwakili oleh Oriol, menyatakan bahwa sifat mekanika kuantum – banyak dikenal sekarang ini – yang  tidak dapat terlihat di dunia makroskopis namun sangat mempengaruhi benda berukuran nano, bertanggung jawab terhadap fenomena tersebut.

Albert Einstein dan seorang fisikawan Belanda Wander Johannes de Haas (1878-1960) menemukan pada tahun 1915 bahwa kemagnetan (daya tarik) adalah hasil dari prinsip mekanika kuantum yakni momentum sudut kuantum elektron, atau yang disebut spin elektron. Fisikawan dalam kelompok riset Oriol Romero-Isart sekarang telah menunjukkan bahwa electron spin memungkinkan levitasi stabil sebuah nanomagnet tunggal di medan magnet statis, yang seharusnya tidak mungkin terjadi apabila didasarkan pada teorema Earnshaw klasik.

Fisikawan teoritis melakukan analisis stabilitas komprehensif bergantung pada radius benda dan kekuatan medan magnet eksternal. Hasilnya menunjukkan bahwa, dengan tidak adanya disipasi, keadaan kesetimbangan akan muncul. Mekanisme ini bergantung pada efek gyromagnetic yakni setelah perubahan arah medan magnet, momentum sudut terjadi karena momen magnetik pasangan dengan putaran elektron. Seperti yang dikatakan Rusconi bahwa keadaan semacam ini menstabilkan levitasi magnetik nanomagnet, seperti dilansir pada Sciencedaily.

Selain itu, tim riset tersebut menunjukkan bahwa keadaan kesetimbangan nanomagnet yang melayang secara magnetis menunjukkan adanya keterikatan pada derajat kebebasannya.

Oriol Romero-Isart dan bersama tim risetnya sangat optimis bahwa nanomagnet levitated ini dapat segera diamati secara eksperimental. Mereka telah memberi keterangan sederhana berkaitan dengan bagaimana hal semacam ini dapat dicapai dalam kondisi realistis.

Nanomagnet diprediksi akan menjadi bidang penelitian eksperimental baru untuk para fisikawan. Studi tentang nanomagnet dalam kondisi tidak stabil dapat menyebabkan penemuan fenomena kuantum eksotis. Selain itu, setelah menggabungkan beberapa nanomagnet, magnet nano kuantum dapat disimulasikan dan dipelajari secara eksperimental. Lavitated nanomagnet juga diminati untuk penerapan keperluan teknis, misalnya untuk mengembangkan sensor dengan tingkat presisi yang sagat tinggi.

Penelitian ini didukung oleh Kementerian Ilmu Pengetahuan, Riset, dan Ekonomi Federal Austria (BMWFW) dan European Research Council (ERC).

Referensi:

  1. http://www.mathpages.com/home/kmath240/kmath240.htm
  2.  C. Rusconi, V. Pöchhacker, K. Kustura, J. I. Cirac, O. Romero-Isart. Quantum Spin Stabilized Magnetic Levitation. Physical Review Letters, 2017; 119 (16) DOI: 10.1103/PhysRevLett.119.167202
  3. http://math.ucr.edu/home/baez/physics/General/Levitation/levitation.html