Antinomi.org – Gagasan Dawkins tentang Tuhan sebagai citra atau ‘delusi’ manusia bukanlah sesuatu yang baru. Ludwig Feuerbach, seorang pemikir Jerman sudah pernah menyatakan bahwa Tuhan bukanlah apa-apa selain manusia. Maksudnya, Tuhan hanyalah sekadar representasi dari manusia, tidak lebih, dan itulah yang kemudian mengantarkan Karl Marx, sebagai pembaca Feuerbach, mengatakan bahwa “agama itu candu”.

Kesimpulan yang sama juga diberikan oleh Richard Dawkins dalam buku ini. Melalui bukunya, Dawkins ingin mengatakan bahwa Tuhan tidak lebih dari sekedar hipotesis yang diajukan oleh manusia; politeisme, monoteisme. Argumen-argumen tentang keberadaan Tuhan, dengan demikian, hanyalah suatu upaya apologetis untuk mendukung kebenaran hipotesis tersebut.

Secara garis besar, buku ini dibangun dalam suatu kerangka teori evolusi Darwinian. Sehingga dapat disimpulkan, buku ini hanya ingin mengatakan bahwa Tuhan hanyalah bagian dari proses evolusi manusia menuju makhluk yang berkesadaran. Konsep Tuhan hanyalah suatu fase dari perkembangan evolusi kecerdasan manusia sebagai spesies yang masih akan selalu dalam proses evolusi.

Itulah mengapa dalam bagian-bagian terakhir, Richard Dawkins menggiring pembacanya ke dalam argumen-argumen moral yang sangat mungkin diwujudkan tanpa adanya Tuhan. Moralitas dengan berdasar pada keberadaan Tuhan, yang selama ini diajarkan oleh agama, hanyalah suatu fase perkembangan menuju moralitas tanpa Tuhan yang dapat diwujudkan melalui pemikiran rasional. Artinya dengan demikian, manakala proses evolusi kecerdasan manusia sudah sampai pada tahapan yang cukup mapan, manusia sudah tidak lagi membutuhkan Tuhan sebagai dasar tindakan yang baik. Manusia hanya perlu berpikir secara rasional atas apa saja yang akan dilakukan.

Melalui buku ini, Dawkins adalah salah satu pemikir yang berani di antara pemikir lain di abad ini. Mengingat Dawkins merupakan salah satu anggota Four Horsemen, yakni gerakan ateisme baru yang mencoba membuktikan ketiadaan Tuhan secara ilmiah, maka semangat yang diusung oleh Dawkins tentu adalah semangat rasionalisme. Gerakan ‘ateisme baru’ berkeyakinan bahwa suatu saat, semua hal akan dapat dijelaskan secara rasional.

Tentu, gagasan yang diusung oleh gerakan ‘ateisme baru’ tidak lepas dari banyak komentar dan kritikan tajam. Sebagai argument pembanding, buku The Dawkins Delusion cukup penting untuk dibaca setelah membaca buku Dawkins. Buku tersebut, ditulis oleh seorang teolog, Alister McGrath, dan seorang psikolog, Joanna Collicutt McGrath. Dengan hanya membaca judulnya, sudah jelas bahwa buku tersebut merupakan tanggapan atas buku The God Delusion yang ditulis Dawkins. Tentunya masing-masing memiliki dasar argumen yang kuat dalam membangun teorinya.[]

Spread the love