More

    Sapiens dan Imajinasi yang Belum Selesai

    Lalu Zam
    Lalu Zamhttp://antinomi.org
    Physics Alumnus of RWTH Aachen University Germany. Theorist and thinker in Philosophy of Science.

    Artikel Terbaru

    Beberapa Catatan Tak Tuntas Tentang Kegilaan

    Konsep kegilaan, atau penyakit mental, mengacu pada deviasi dari pemikiran, penalaran, perasaan, attitude, dan perbuatan normal, yang oleh subjeknya, atau orang...

    Rekonstruksi Waktu dalam Pandangan Fisika Modern (Bagian 1)

    Tulisan ini memfokuskan pada ringkasan isi dari buku The Order of Time (Tatanan Waktu) karya Carlo Rovelli, seorang fisikawan teori terkenal...

    Masa Depan Relasi Filsafat Ilmu-Teknologi

    Don Ihde pada tahun 2004 menyebarkan keraguan dan harapan. Dengan artikelnya yang berjudul “Telah sampaikah filsafat teknologi? Keadaan Terbaru”, Ihde mengevaluasi...

    Kemungkinan Peran Fenomenologi dalam Memecahkan Teka-teki Kuantum

    Steven French berpendapat bahwa pada jantung problem pengukuran kuantum terdapat kesalahpahaman yang fatal dalam memahami hubungan subjek-objek. Jika melihat lebih dekat pada...

    Memahami Kembali Manusia di Era Teknologi

    Keberadaan teknologi membawa manusia pada koin dari harapan yang diandaikan memiliki dua sisi. Satu sisi dapat berperan sebagai upaya membebaskan manusia...

    Manusia telah menghuni Bumi ini sekitar enam juta tahun yang lalu. Namun banyak yang tidak sadar bahwa ada enam spesies manusia berbeda yang menghuni Bumi pada masa tersebut. Sebut saja Homo Neanderthal yang mendiami daratan Eropa dan Homo Floresiensis yang menghuni pulau Timor. Namun, bukti evolusi menunjukkan hanya satu dari keenam jenis manusia tersebut yang berhasil menyintas (survive) hingga saat ini, yaitu Homo Sapiens: saya, anda dan kita semua ini.

    Apa yang menyebabkan Homo Sapiens bisa bertahan hingga saat ini namun tidak dengan spesies yang lainnya? Mengapa Homo Sapiens “terasa berbeda” dengan makhluk hidup lainnya? Apa saja faktor yang menyebabkan Homo Sapiens dapat mengembangkan apa yang ada sekarang ini? Dan bagaimana memandang sejarah Homo Sapiens secara logis dan apa adanya? Semua pertanyaan tersebut bisa anda temukan dalam buku Sapiens: A Brief History of Humankind (Sapiens: Sejarah Singkat tentang Manusia) karya Yuval Noah Harari. Pada tulisan ini saya akan mencoba mengemukakan beberapa poin dari buku tersebut yang bisa membuat anda tertarik untuk membacanya.

    Revolusi Pertama: Lahirnya Para Petani

    Dari sudut pandang evolusi ketika pertama kali spesies Sapiens hadir di Bumi, Sapiens bukanlah makhluk yang istimewa. Neanderthal memiliki postur yang jauh lebih kuat dan telah teradaptasi untuk memburuh hewan daripada Sapiens. Belum lagi predator-predator raksasa yang mendiami Bumi pada masa itu, Sapiens bukanlah spesies pada posisi teratas rantai makanan. Dari segi kecerdasan dan komunikasi, masih lebih banyak spesies yang mengembangkan pola komunikasi yang lebih tinggi dan efisien, semisal lumba-lumba dan kelelawar, daripada Sapiens. Akan tetapi, yang membuat Sapiens berbeda dari spesies yang lain adalah kemampuannya untuk berimajinasi, yakni kemampuan untuk membayangkan sesuatu yang tidak eksis secara langsung di alam.

    Dari kemampuan inilah kemudian fiksi lahir. Dan yang paling esensial dari hal tersebut adalah keniscayaan bahwa banyak Sapiens dimungkinkan untuk memiliki fiksi yang sama, sehingga meskipun tidak saling mengenal, mereka bisa bekerja sama demi fiksi tersebut. Hal ini tidak ditemukan pada spesies lain, semisal Neanderthal. Neanderthal bisa memprediksi kemana arah panah akan jatuh, tapi tidak bisa membayangkan untuk membentuk kelompok pemanah yang bisa digunakan untuk menyerang dan bertahan. Tak heran, dalam kurun waktu enam juta tahun yang lalu hingga 70.000 tahun yang lalu, Sapiens menguasai Bumi dan memusnahkan lima spesies manusia lainnya.

    Kemampuan untuk membentuk fiksi/mitos umum (common myths) di antara Sapiens, selain dapat memobilisasi massa dalam mencapai satu tujuan umum berlandaskan mitos tersebut, konsekuensi lain dari kemampuan ini adalah membangun masyarakat (society). Masyarakat ada setelah Sapiens mengalami revolusi yang pertama, yakni revolusi pertanian (agricultural revolution). Ketersediaan makanan dalam jumlah yang cukup dan dapat diperbaharui (tanaman agrikultur seperti padi dan gandum) membuat manusia bertahan lama di suatu tempat, serta dapat menghasilkan banyak keturunan yang relatif bisa berumur panjang. Dari sinilah kemudian muncul konsep kepemilikian properti (nyata maupun tidak), keluarga dan domestikasi hewan-hewan tertentu seperti sapi, ayam dan babi pertama kali dikembangkan.

    Setelah cukup banyak Sapiens menempati teritori tertentu, kemungkinan untuk terjadi gesekan di antara mereka tentu merupakan hal yang tak dapat dihindari, sehingga kemudian pecah menjadi perang akibat perebutan lahan untuk bertani. Dari sinilah konsep masyarakat terbentuk. Pada awalnya, Sapiens yang bertani bersama dan percaya pada mitos yang sama, lebih mudah untuk membentuk satu masyarakat. Bangkitnya masyarakat menyebabkan adanya konsep pemimpin dan pada akhirnya setelah ribuan tahun menjadi kota atau kerajaan ataupun negara.

    Pada ribuan tahun berikutnya lembar sejarah dihabiskan hanya untuk berperang demi menyebarkan atau memperluas mitos umum – yang paling jelas adalah agama/kepercayaan – yang dipercayai oleh masyarakat-masyarakat yang ada. Setidaknya ada tiga mitos umum yang telah menentukan arah sejarah manusia selama kurang lebih 5000 tahun ini. Mitos umum tersebut adalah uang, imperialisme, dan agama.

    Revolusi Kedua: Sains dan Pencerahan

    Uang adalah mitos yang paling penting. Nilai dari uang hanya ada dalam pikiran Sapiens yang menggunakan uang tersebut. Uang itu sendiri (bendanya) tidak bernilai apa-apa. Uang di sini juga mencakup apa saja yang dianggap bernilai oleh Sapiens untuk melakukan tukar menukar, seperti emas misalnya. Imperialisme tidak bisa dilepaskan dari uang/emas. Ekspansi besar-besaran dari zaman Romawi Kuno, Persia, Usmani ataupun Inggris tidak bisa dipungkiri selain untuk menyebarkan agama/kepercayaan juga untuk mencari keuntungan yang dapat dieksploitasi. Dan yang terakhir adalah agama. Saya rasa anda semua bisa mengetahui efek yang satu ini. Sebab lembar sejarah dipenuhi dengan bercak-bercak darah, ketika Sapiens meneriakkan mitos yang satu ini. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Tak bisa dipisahkan dan saling menguntungkan yang lainnya, sampai ketika revolusi kedua terjadi.

    Revolusi kedua adalah revolusi sains. Revolusi sains tidak dapat dipungkiri lahir dari keterkaitan antara uang, imperialisme dan agama. Banyak penelitan dan penjelajahan (khususnya oleh bangsa Eropa) di masa lampau untuk memperluas pengaruh imperial atau untuk membuktikan kata-kata dari kitab suci. Revolusi sains mengangkat derajat Sapiens dari hanya pengamat, menjadi pemain dalam lalu lintas kosmos/alam. Penyakit kolera yang tidak bisa disembuhkan dan membunuh sebagian besar masyarakat Eropa pada masa lampau, jadi bukan masalah setelah sains menemukan penangkalnya. Ditemukannya mesin uap yang bisa digunakan untuk menggerakkan  benda menyebabkan perubahan peta politik dunia menuju kekuasaan Eropa. Sains menjadi jawaban dari permasalahan sehingga banyak yang meninggalkan mitos umum atau fiksi tentang agama.

    Pada akhir abad 20 dan awal abad 21, mitos umum yang eksis dalam pikiran Sapiens adalah bank (kapitalisme), humanisme, dan demokrasi. Kapitalisme adalah kepercayaan pada investasi terus menenerus oleh pelaku ekonomi meskipun modalnya adalah keutungan yang belum eksis, yaitu masa depan. Humanisme adalah pandangan yang memposisikan Sapiens sebagai pusatnya. Nilai yang paling penting itu adalah nilai yang bermanfaat bagi Sapiens. Dan demokrasi adalah pandangan bahwa bahwa pendapat Sapiens itu berposisi sama dan itulah cara pengambilan keputusan terbaik. Semuanya dikembalikan kepada Sapiens. Secara singkat, kematian agama (dan juga Tuhan) – paling tidak di Eropa –  serta runtuhnya imperialisme menyebabkan Sapiens memposisikan dirinya sebagai pusat dari mitos umum yang baru pada ketiga nilai tersebut.

    Sebenarnya, dalam keseluruhan sejarah eksistensinya, Sapiens hanya membentuk fiksi dan mitos umum untuk menggerakkan dan memobiliasasi Sapiens lainnya dalam jumlah besar untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, hal ini mungkin sebab Sapiens memiliki kemampuan untuk berimajinasi. Mitos umum yang ada hanya berganti dari suatu masa dan periode dalam pikiran Sapiens untuk mendorong batas yang dimilikinya saat itu. Sekarang Sapiens kembali berada pada batas fiksi yang ada. Perkembangan sains dan teknologi telah menggoyang fondasi fiksi humanisme (yang menjadi dasar kapitalisme dan demokrasi), sebab agen yang disebut manusia pun bukanlah sesuatu yang penting dalam tata kosmos alam semesta. Selain itu, eksistensi manusia pun terancam oleh berbagai macam terobosan yang mungkin tidak akan jauh di masa depan seperti, kecerdasan buatan (artificial intelligence), Sapiens super (yang tidak sakit/bebas dari semua penyakit bahkan kematian) dan integrasi antara mesin dan manusia (Cyborg) seperti penggunaan implan pada jantung atau lengan mekanik yang dikontrol langsung dari otak.

    Mungkin dulu anda sering mendengar istilah “ikuti kata hatimu“ atau “kamu adalah pemegang kendali atas dirimu“ atau mungkin  “lakukan yang terbaik buat dirimu”. Namun sekarang semakin sering orang meminta pendapat pada smartphone nya. Ada banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk mengetahui berapa takaran kalori anda atau untuk mengecek kesehatan anda. Sekarang anda mungkin tidak peduli dengan semua aplikasi tersebut, tapi di masa depan anda mungkin tidak bisa melakukan apa-apa tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan smartphone anda. Jadi Sapiens, masih adakah jalan bagi fiksi yang engkau percayai untuk masa depan?[]

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here