More

    Bintang ‘Abadi’ Bernama iPTF14hls

    Eko Firmansah
    Eko Firmansahhttp://antinomi.org
    Interested in the fields of science, engineering, history, psychology, and philosophy.

    Artikel Terbaru

    Beberapa Catatan Tak Tuntas Tentang Kegilaan

    Konsep kegilaan, atau penyakit mental, mengacu pada deviasi dari pemikiran, penalaran, perasaan, attitude, dan perbuatan normal, yang oleh subjeknya, atau orang...

    Rekonstruksi Waktu dalam Pandangan Fisika Modern (Bagian 1)

    Tulisan ini memfokuskan pada ringkasan isi dari buku The Order of Time (Tatanan Waktu) karya Carlo Rovelli, seorang fisikawan teori terkenal...

    Masa Depan Relasi Filsafat Ilmu-Teknologi

    Don Ihde pada tahun 2004 menyebarkan keraguan dan harapan. Dengan artikelnya yang berjudul “Telah sampaikah filsafat teknologi? Keadaan Terbaru”, Ihde mengevaluasi...

    Kemungkinan Peran Fenomenologi dalam Memecahkan Teka-teki Kuantum

    Steven French berpendapat bahwa pada jantung problem pengukuran kuantum terdapat kesalahpahaman yang fatal dalam memahami hubungan subjek-objek. Jika melihat lebih dekat pada...

    Memahami Kembali Manusia di Era Teknologi

    Keberadaan teknologi membawa manusia pada koin dari harapan yang diandaikan memiliki dua sisi. Satu sisi dapat berperan sebagai upaya membebaskan manusia...

    Dipimpin oleh Las Cumbres Observatory (LCO)[1], Tim astronom internasional telah memperoleh penemuan aneh yakni, yang dapat dikatakan sebagai, bintang ‘abadi’. Bintang yang diberi nama iPTF4hls tersebut enggan berhenti bersinar sampai saat ini.

    Ledakan sebuah bintang yang disebut dengan Supernova, telah diamati oleh ribuan orang dari seluruh penjuru dunia. Berdasarkan semua hasil tinjauan yang mereka lakukan, selalu diperoleh kesimpulan bahwa semua bintang mengalami fase kematian. Bintang-bintang yang kita lihat di malam hari, dengan mata telanjang bahkan, sebagian besar adalah bintang-bintang yang telah mengalami fase kematian.

    Bintang 'Abadi'
    Supernova. Sumber: https://r.hswstatic.com/u_0/w_480/gif/supernova-622×415.jpg

    Akan tetapi, dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature, 2017; 551 (7679): 210, tim riset yang tergabung dalam penelitian tersebut menemukan suatu hal yang berbeda dari yang biasa mereka temukan. Yakni penemuan bintang yang dapat dikatakan sebagai bintang yang luar biasa. Sebuah bintang yang meledak beberapa kali dalam kurun waktu lebih dari lima puluh tahun. Jelas bintang semacam ini berlawanan dengan teori yang sudah ada mengenai bencana kosmik[2]. Perlu diketahui bahwa data pengamatan yang mereka dapatkan juga mencakup data-data dari  Observatorium Keck di Maunakea, Hawaii.

    Spektrum yang didapatkan dari Keck Observatory menunjukkan bahwa supernova ini tidak seperti yang pernah mereka lihat sebelumnya. Mereka menemukan hampir 5 ribu supernova dalam dua dekade terakhir tetapi belum pernah menemui supernova semacam ini. Seperti dikatakan oleh Peter Nugent, Senior Scientist and Division Deputy for Science Engagement in the Computational Research Division at Lawrence Berkeley National Laboratory, yang turut menulis hasil penelitian ini. Spektrum tersebut memiliki kemiripan dengan ledakan supernova core-collapse[3] yang kaya akan hidrogen. Mereka tumbuh lebih terang dan meredup setidaknya lima kali lebih lambat, sehingga peristiwa yang biasanya berlangsung 100 hari sampai lebih dari dua tahun terjadi lebih lama.

    Pada saat melakukan pengamatan bintang ini, periset menggunakan Spektrometer Imaging Resolusi Rendah (LRIS)[4] pada teleskop Keck I untuk mendapatkan spektrum star’s host galaxy, dan Deep Imaging and Multi-Object Spectrograph (DEIMOS)[5] pada Keck II untuk mendapatkan spektrum resolusi tinggi dari bintang yang tidak biasa itu sendiri.

    Sebuah supernova, bernama iPTF14hls, telah ditemukan pada bulan September 2014 oleh Palomar Transient Factory. Pada awalnya, bintang tersebut tampak seperti supernova biasa. Tetapi beberapa bulan kemudian, astronom LCO melihat supernova tersebut tumbuh lebih cerah lagi setelah sempat memudar beberapa saat.

    Bintang 'Abadi'
    Sebuah gambar yang diambil oleh Palomar Observatory Sky Survey mengungkapkan kemungkinan ledakan di tahun 1954 di lokasi iPTF14hls (kiri), tidak terlihat pada gambar berikutnya yang diambil pada tahun 1993 (kanan). Supernova diketahui meledak hanya sekali, bersinar selama beberapa bulan dan kemudian memudar, namun iPTF14hls mengalami setidaknya 2 ledakan, terpisah 60 tahun. Sumber: http://en.es-static.us/upl/2017/11/iPTF14hls-location-e1510131827806.jpg

    Pada saat para astronom memeriksa kembali arsip data yang ada, mereka tercengang karena menemukan bukti adanya ledakan pada tahun 1954 di lokasi yang sama. Bintang ini, entah bagaimana caranya, mampu selamat dari ledakan tersebut dan meledak lagi pada tahun 2014.

    Para peneliti yang diwakili oleh Iair Arcavi, NASA Einstein postdoctoral fellow at LCO and the University of California Santa Barbara, mengatakan bahwa supernova ini mematahkan semua gagasan tentang bagaimana sebuah bintang seharusnya berperilaku. Hal ini merupakan teka-teki terbesar yang pernah dijumpai dalam hampir satu dekade selama mempelajari ledakan bintang.

    Pada penelitian ini tercatat bahwa bintang yang meledak tersebut setidaknya 50 kali lebih masif jika dibandingkan dengan matahari dan terdapat kemungkinan jauh lebih besar lagi. Supernova iPTF14hls disinyalir sebagai ledakan bintang paling besar yang pernah ada, yang pernah diamati oleh manusia. Ukuran ledakan ini dapat dijadikan alasan bahwa pemahaman konvensional astronom tentang kematian bintang mengalami kegagalan untuk menjelaskan kejadian ini.

    Supernova iPTF14hls mungkin merupakan contoh pertama dari “Pulsational Pair Instability Supernova.”

    Berdasarkan teori yang sudah ada, terdapat kemungkinan bahwa kejadian ini berasal dari bintang yang begitu besar dan panas sehingga menghasilkan antimateri di dalam intinya. Hal tersebut akan menyebabkan bintang menjadi tidak stabil, dan mengalami letusan terang berulang-ulang selama periode bertahun-tahun.

    Proses tersebut bahkan memungkinkan berulang selama beberapa dekade sebelum ledakan besar bintang tersebut terjadi dan runtuh ke lubang hitam.

    Sementara itu dikatakan oleh Andy Howell, leader of the LCO supernova group and co-author of the study, bahwa ledakan ini diperkirakan terjadi di awal-awal adanya alam semesta dan mestinya sudah punah pada saat ini, seperti menemukan seekor dinosaurus yang masih hidup sampai sekarang. Jika kita menemukan dinosaurus maka kita akan bertanya benarkah ini seekor dinosaurus?

    Memang, teori “Pulsational Pair Instability” mungkin tidak sepenuhnya menjelaskan semua data yang diperoleh untuk kejadian ini. Misalnya, energi yang dilepaskan oleh supernova lebih dari perkiraan teori yang telah disusun. Supernova semacam ini mungkin sesuatu yang sama sekali baru.

    Para astronom terus memantau iPTF14hls, yang tetap terang tiga tahun setelah ditemukan.

    Para peneliti pada awalnya berpikir bahwa kejadian ini benar-benar normal seperti biasanya dan tentu saja membosankan, namun tiba-tiba terjadi keanehan yakni bintang ini terus terang benderang, dan tidak berubah. Hal ini benar-benar merupakan salah satu kejadian yang membuat dahi berkerut.[]

    Referensi:

    1. https://lco.global/
    2. http://www.slate.com/blogs/bad_astronomy/2013/08/13/are_the_stars_you_see_in_the_sky_already_dead.html
    3. Iair Arcavi, D. Andrew Howell, Daniel Kasen, Lars Bildsten, Griffin Hosseinzadeh, Curtis McCully, Zheng Chuen Wong, Sarah Rebekah Katz, Avishay Gal-Yam, Jesper Sollerman, Francesco Taddia, Giorgos Leloudas, Christoffer Fremling, Peter E. Nugent, Assaf Horesh, Kunal Mooley, Clare Rumsey, S. Bradley Cenko, Melissa L. Graham, Daniel A. Perley, Ehud Nakar, Nir J. Shaviv, Omer Bromberg, Ken J. Shen, Eran O. Ofek, Yi Cao, Xiaofeng Wang, Fang Huang, Liming Rui, Tianmeng Zhang, Wenxiong Li, Zhitong Li, Jujia Zhang, Stefano Valenti, David Guevel, Benjamin Shappee, Christopher S. Kochanek, Thomas W.-S. Holoien, Alexei V. Filippenko, Rob Fender, Anders Nyholm, Ofer Yaron, Mansi M. Kasliwal, Mark Sullivan, Nadja Blagorodnova, Richard S. Walters, Ragnhild Lunnan, Danny Khazov, Igor Andreoni, Russ R. Laher, Nick Konidaris, Przemek Wozniak, Brian Bue. Energetic eruptions leading to a peculiar hydrogen-rich explosion of a massive star. Nature, 2017; 551 (7679): 210 DOI: 1038/nature24030
    4. https://www.sciencedaily.com/releases/2017/11/171108131839.htm
    5. http://en.wikipedia.org/wiki/Cosmic_catastrophe
    6. The Core-Collapse Supernova Explosion Mechanism (https://arxiv.org/abs/1702.06940)

    Catatan Akhir:

    [1] Las Cumbres Observatory (LCO) adalah yayasan swasta nirlaba yang gagas oleh seorang teknolog Wayne Rosing, yang terletak di Goleta, California.

    [2] Bencana Kosmik adalah eksperimen pemikiran di mana matahari lenyap. Pertanyaannya adalah apa yang kemudian akan terjadi pada bumi dan planet lain yang mengorbit matahari.

    [3] Supernova core-collapse adalah ledakan spektakuler yang menandai kematian bintang masif.

    [4] Low Resolution Imaging Spectrometer (LRIS) atau Spektrometer Imaging Resolusi Rendah adalah pencitraan gelombang tampak dan komisioning instrumen spektroskopi dilakukan pada tahun 1993 yang beroperasi pada fokus Cassegrain dari Keck I.

    [5] DEIMOS (DEep Imaging Multi-Object Spectrograph) adalah spektrometer pencitraan multi-celah dengan panjang gelombang tampak yang beroperasi pada fokus Nasmyth dari teleskop Keck II sejak tahun 2002.

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here