More

    Yuval Noah Harari: ‘Akankah virus korona mengubah sikap kita terhadap kematian? Justru sebaliknya’

    Artikel Terbaru

    Rekonstruksi Waktu dalam Pandangan Fisika Modern (Bagian 1)

    Tulisan ini memfokuskan pada ringkasan isi dari buku The Order of Time (Tatanan Waktu) karya Carlo Rovelli, seorang fisikawan teori terkenal...

    Masa Depan Relasi Filsafat Ilmu-Teknologi

    Don Ihde pada tahun 2004 menyebarkan keraguan dan harapan. Dengan artikelnya yang berjudul “Telah sampaikah filsafat teknologi? Keadaan Terbaru”, Ihde mengevaluasi...

    Kemungkinan Peran Fenomenologi dalam Memecahkan Teka-teki Kuantum

    Steven French berpendapat bahwa pada jantung problem pengukuran kuantum terdapat kesalahpahaman yang fatal dalam memahami hubungan subjek-objek. Jika melihat lebih dekat pada...

    Memahami Kembali Manusia di Era Teknologi

    Keberadaan teknologi membawa manusia pada koin dari harapan yang diandaikan memiliki dua sisi. Satu sisi dapat berperan sebagai upaya membebaskan manusia...

    Tentang Spesialisasi dan Kesusah-teraksesannya Filsafat

    James Ladyman berargumen bahwa ketidakteraksesannya filsafat merupakan sesuatu yang bagus. Jika filsafat adalah sebuah kecintaan terhadap kebijaksanaan dan mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seharusnya kita (menjalani)...

    Akankah pandemi virus korona menghempaskan kita kembali pada sikap tradisional dalam memahami peristiwa kematian atau justru memperkuat upaya kita untuk memperpanjang masa kehidupan?

    Dunia modern telah dibentuk oleh sebuah kepercayaan bahwa manusia dapat mengelabui dan mengatasi kematian. Itu adalah cara pandang baru yang revolusioner. Kebanyakan dalam sejarahnya manusia mudah pasrah dan menyerah pada kematian. Bahkan hingga akhir-akhir abad modern, kebanyakan agama dan ideologi melihat kematian tidak hanya sebagai takdir yang tak terhindarkan tapi juga sebagai sumber makna yang utama dalam kehidupan. Momen paling penting dalam eksistensi manusia adalah ketika Anda mengembuskan napas yang terakhir. Sebab hanya setelah mengalami fase itu Anda akan mempelajari rahasia sejati sebuah kehidupan. Hanya setelah itu Anda akan mendapatkan keselamatan yang abadi atau justru siksaan yang tiada henti. Di dalam dunia tanpa kematian—dan untuk itu juga surga, neraka atau reinkarnasi—agama-agama seperti Kristen, Islam, dan Hindu akan kehilangan maknanya. Dalam sejarahnya, pikiran terbaik manusia paling banyak disibukkan oleh upaya pemberian makna terhadap kematian, alih-alih untuk mengalahkannya.

    Epik Gilgamesh, mitos Orpheus dan Eurydice, Bibel, Qur’an, Weda, dan sejumlah buku-buku dan kisah-kisah suci lainnya dengan ulet menjelaskan kepada manusia yang menderita bahwa kita mati sebab Tuhan telah menetapkan demikian, atau Kosmos, atau Ibu Alam, dan kita lebih baik menerima takdir itu dengan segala kerendahan hati dan sikap yang bijak. Mungkin suatu hari nanti Tuhan akan menghapus kematian melalui sebuah kejadian metafisik yang agung seperti kedatangan kedua Kristus yang ditunggu-tunggu. Tapi, orkestrase cerita-cerita besar semacam itu (penj: dalam rangka mengkompensasi penderitaan manusia) jelas berada jauh dari biaya yang harus dibayar oleh nyawa manusia.

    Selepas itu datanglah revolusi ilmu pengetahuan. Bagi para ilmuwan, kematian bukanlah ketetapan Tuhan—melainkan tidak lain semata-mata problem teknis. Manusia mati bukan karena Tuhan menghendaki demikian tapi lebih disebabkan karena sebuah kegagalan teknis. Jantung berhenti memompa darah. Kanker menyebabkan kerusakan pada liver. Virus-virus tumbuh di dalam paru-paru. Lalu siapa yang bertanggung jawab atas semua kesalahan teknis ini? Jantung berhenti memompa darah disebabkan karena kadar oksigen yang mencapai otot jantung tidak mencukupi. Sel-sel kanker menyebar pada liver karena sebuah kemungkinan mutasi genetik. Virus-virus berdiam di dalam paru-paru kita karena seseorang yang bersin di dalam bus. Tidak ada kausasi metafisik di dalam itu semua.

    Ilmu pengetahuan percaya bahwa setiap kesalahan teknis mengandung solusi yang juga bersifat teknis. Kita tidak harus menunggu kedatangan Kristus untuk yang kedua kalinya hanya untuk mengatasi problem kematian. Sejumlah ilmuwan di dalam sebuah laboratorium dapat melakukannya. Jika dahulu kematian merupakan ladang spesialis bagi para pendeta dan teolog dalam jubah-jubah hitam mereka, maka sekarang ia menjadi cerita bagi orang-orang berjas putih di laboratorium. Jika ada jantung bermasalah, kita bisa menstimulasinya dengan menggunakan alat pacu jantung atau transplantasi jantung baru. Jika kanker menyerang, kita bisa melumpuhkannya dengan radiasi. Jika virus-virus berkembang di dalam paru-paru, kita bisa mengatasinya dengan vaksin-vaksin baru dalam ilmu kedokteran.

    Benar bahwa pada saat ini kita belum bisa mengatasi semua problem-problem teknis yang ada. Tapi kita selalu bekerja dalam rangka itu. Pikiran-pikiran terbaik manusia tidak lagi dihabiskan untuk sebuah upaya pemberian makna bagi kematian. Namun, mereka jutsru sibuk mengupayakan perpanjangan bagi kehidupan. Mereka terus melakukan penelitian terkait sistem-sistem mikrobiologis, fisiologis, dan genetik yang menyebabkan penyakit dan usia tua serta mengembangkan model-model penanganan dan ilmu-lmu kedokteran yang baru dan revolusioner.

    ***

    Dalam upaya mereka untuk memperpanjang usia kehidupan, manusia dapat dikatakan berhasil. Sepanjang dua abad terakhir, tingkat rata-rata harapan hidup manusia telah meningkat dari kurang dari 40 tahun hingga 72 tahun di seluruh dunia, dan bahkan hingga lebih dari 80 tahun di beberapa negara maju. Anak-anak khususnya telah berhasil terhindar dari ancaman kematian (penj: pada usia dini). Sampai pada abad ke-20, setidaknya sepertiga dari seluruh populasi anak tidak pernah mencapai usia dewasa. Mereka pada umumnya terpaksa harus menyerah pada penyakit anak seperti disentri, campak, dan cacar. Pada abad ke-17 di Inggris, sekitar 150 dari setiap 1000 anak yang baru lahir meninggal pada usia pertama mereka, dan hanya sekitar 700 yang berhasil mencapai usia 15. Hari ini, hanya lima dari 1000 bayi di Inggris meninggal pada usia pertama mereka, dan 993 mendapat kesempatan untuk merayakan ulang tahun mereka yang ke-15. Di dunia secara keseluruhan, angka kematian anak menurun pada angka kurang dari 5%.

    Keberhasilan manusia dalam usaha mereka menyelamatkan dan memperpanjang masa kehidupan menyebabkan perubahan mendasar pada cara pandang mereka terhadap dunia. Sementara agama-agama tradisional sejak dulu memahami kehidupan setelah kematian sebagai sumber utama dalam memaknai kehidupan, mulai dari abad ke-18 ideologi-ideologi besar seperti liberalisme, sosialisme, dan feminisme kehilangan segala ketertarikan mereka pada model kehidupan eskatologis tersebut. Apa yang sesungguhnya akan terjadi pada seorang komunis setelah dia meninggal? Apa yang akan terjadi pada seorang kapitalis? Apa yang akan terjadi pada seorang feminis? Tidak ada gunanya mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam karya-karya Karl Marx, Adam Smith atau Simone de Beauvoir (penj: sebab Anda tidak akan menemukannya).

    Satu-satunya ideologi modern yang masih memberikan peran sentral pada peristiwa kematian adalah nasionalisme. Pada momen-momen krisis dan mengharukan, nasionalisme menjanjikan kehidupan yang abadi di dalam memori kolektif mereka bagi siapa saja yang gugur demi menjaga kedaulatan tanah air. Meski demikian, janji tersebut menjadi kabur manakala mereka yang mengaku paling nasionalis sekalipun tidak benar-benar tahu dan paham apa yang hendak mereka maksud dengan itu semua. Bagaimana sebenarnya yang dimaksud dengan ‘hidup’ dalam memori? Jika suatu saat Anda meninggal, bagaimana Anda bisa tahu bahwa orang-orang akan mengingat Anda atau tidak? Woody Allen suatu waktu pernah ditanya apakah dia berharap untuk hidup selamanya dalam memori para penonton (penj: yang mengidolakannya). Allen menjawab: “Lebih baik saya hidup di apartemen saya.” Banyak agama-agama tradisional yang bahkan telah berubah haluan. Alih-alih menjanjikan surga di kehidupan setelah kematian, mereka mulai mengalihkan perhatian pada apa yang bisa mereka kerjakan di kehidupan saat ini.

    Akankah pandemi yang sedang terjadi saat ini mengubah sikap dan cara pandang manusia terhadap kematian? Mungkin tidak. Justru sebaliknya. Covid-19 mungkin akan memaksa kita untuk menggandakan upaya kita untuk melindungi nyawa manusia. Reaksi kultural terhadap Covid-19 yang dominan saat ini bukanlah sikap pasrah—melainkan gabungan antara penyesalan dan harapan.

    Ketika epidemi melanda masyarakat pra-modern seperti di Eropa pada Abad Pertengahan, orang-orang mulai khawatir pada hidup mereka dan dirundung oleh kematian orang-orang tercinta sementara reaksi kultural masyarakat tidak lain adalah kepasrahan. Psikologi mungkin akan menyebutnya sebagai ‘learned helplessness (kepasrahan yang dipelajari)’. Orang-orang terus meyakinkan diri bahwa itu adalah kehendak Tuhan—atau mungkin balasan Tuhan atas dosa-dosa yang mereka perbuat. “Tuhan mengetahui yang terbaik. Kita manusia yang jahat pantas mendapatkannya. Dan kamu akan lihat, ia akan memberikan yang terbaik pada akhirnya. Jangan khawatir, orang-orang baik akan mendapat balasan di surga. Dan jangan buang-buang waktu untuk mencari obat. Penyakit ini dikirim Tuhan untuk menghukum kita. Mereka yang berpikir manusia dapat mengatasi epidemi ini dengan menggunakan kecerdasan mereka sendiri hanya akan menambah dosa lain karena kesombongan dan kesalahan mereka sendiri. Siapa kita yang hendak menggagalkan rencana Tuhan?”

    Sikap yang ditunjukkan hari ini justru berada pada kutub yang sebaliknya. Ketika bencana membunuh banyak orang—seperti kecelakaan kereta api, kebakaran hebat atau bahkan angin topan—kita cenderung melihatnya sebagai kegagalan manusia yang bisa dicegah, alih-alih sebagai hukuman Tuhan atau bencana alam yang tak terhindarkan. Jika perusahaan kereta api tidak menggelapkan anggaran keamanannya, jika perkotaan menerapkan aturan kebakaran yang lebih baik, dan jika pemerintah mengirimkan bala bantuan lebih cepat, orang-orang tersebut mungkin dapat diselamatkan. Pada abad ke-21, kematian massal selalu menjadi alasan otomatis bagi adanya penuntutan dan investigasi.

    Demikian juga sikap kita terhadap wabah. Di saat para penceramah agama dengan cepat memaknai AIDS sebagai bentuk hukuman Tuhan untuk orang-orang gay, masyarakat modern justru mengabaikan pandangan semacam itu dan meletakkannya pada sisi-sisi yang fanatik, dan akhir-akhir ini secara umum kita melihat penyebaran AIDS, Ebola, dan epidemi lainnya yang belakangan terjadi sebagai kegagalan organisasional. Kita meyakini bahwa manusia modern memiliki pengetahuan dan seperangkat alat yang dibutuhkan untuk membendung wabah-wabah tersebut, dan jika penyakit menular tersebut tidak dapat lagi dikontrol, hal itu lebih-lebih disebabkan karena inkompetensi manusia sendiri, bukan karena murka Tuhan. Covid-19 dalam hal ini bukan sebuah pengecualian. Krisis masih jauh dari kata selesai, sementara upaya saling menyalahkan tampak baru saja dimulai. Negara-negara saling tuding satu sama lain. Politisi-politisi saling lempar tanggung jawab tak ubahnya melempar granat tanpa tuas.

    Di samping kekacauan, terselip juga sejumlah harapan. Pahlawan kita bukanlah para pemuka agama yang memimpin pemakaman dan memaklumi bencana apa adanya. Pahlawan kita adalah para ahli medis yang berjuang untuk menyelamatkan kehidupan. Sementara itu, superhero kita adalah para ilmuwan yang bekerja di laboratorium. Seperti halnya penonton bioskop yang meyakini bahwa Spiderman dan Wonder Woman pada akhirnya akan mengalahkan orang-orang jahat dan menyelamatkan dunia, demikian juga dengan kita yang meyakini bahwa dalam beberapa bulan atau mungkin satu tahun ke depan, kerja-kerja laboratorium akan menemukan model penanganan Covid-19 yang efektif atau bahkan menghasilkan vaksinasi. Selanjutnya, kita akan menunjukkan pada virus keji ini siapa sebenarnya organisme alfa di planet ini! Pertanyaan bagi setiap orang dari Gedung Putih, melalui Wall Street hingga ke balkon Italia adalah: “Kapan vaksin siap?” Kapan. Bukan jika.

    ***

    Ketika vaksin sudah siap dan pandemi berakhir, apa yang mungkin akan menjadi pelajaran utama bagi kemanusiaan? Dari sekian kemungkinan, salah satunya adalah bahwa kita perlu investasi lebih pada upaya untuk melindungi hidup manusia. Kita butuh lebih banyak rumah sakit, dokter, dan perawat. Kita butuh banyak persediaan alat bantu pernapasan, alat pelindung, dan peralatan uji coba. Kita perlu menganggarkan banyak uang untuk penelitian mengenai patogen-patogen aneh serta untuk pengembangan bentuk pelayanan yang baru. Kita tidak boleh lengah lagi.

    Sebagian mungkin akan berpendapat bahwa hal tersebut adalah pelajaran yang keliru, dan bahwa krisis semestinya mengajarkan kita tentang kerendahhatian. Kita tidak seharusnya terlampau yakin akan kemampuan kita untuk menaklukkan kekuatan semesta. Kebanyakan pernyataan-pernyataan yang bertentangan semacam itu adalah sisa-sisa suara Abad Pertengahan yang mendakwahkan kerendahhatian sementara mengetahui 100% solusi yang paling tepat. Orang-orang fanatik tidak dapat membantu diri mereka sendiri—seorang pendeta yang memimpin studi Bibel mingguan untuk kabinet Donald Trump berpendapat bahwa epidemi ini juga merupakan hukuman Tuhan untuk homoseksualitas. Akan tetapi, bahkan mereka yang paling loyal dengan tradisi hari ini lebih mempercayai sains daripada teks-teks suci.

    Gereja Katolik memerintahkan jemaatnya untuk menjauh dari gereja. Israel menutup sinagog-sinagognya. Republik Islam Iran menganjurkan rakyatnya untuk tidak mengunjungi masjid. Candi-candi dan semua sekte menunda seremoni keagamaan mereka. Dan semua disebabkan karena ilmuwan telah membuat perhitungan-perhitungan ilmiah dan merekomendasikan penutupan semua tempat suci tersebut.

    Tentu tidak semua yang mengingatkan kita tentang bahaya kecongkakan di atas memimpikan untuk kembali ke Abad Pertengahan. Bahkan para ilmuwan juga sepakat bahwa kita semestinya bersikap realistis pada harapan-harapan yang kita bangun, dan bahwa kita tidak seharusnya menyandarkan kepercayaan buta pada kemampuan para dokter untuk melindungi kita dari beragam penyakit. Meskipun kekuatan kemanusiaan menjadi lebih kukuh, orang-orang secara individu masih harus menghadapi kenyataan akan kerapuhan mereka. Mungkin dalam satu atau dua abad ke depan ilmu pengetahuan akan mengembangkan kehidupan manusia tanpa batas, meskipun saat ini masih belum. Dengan kemungkinan pengecualian bagi bayi-bayi para miliarder yang masih dalam asuhan, kita semua akan mati pada saatnya nanti, dan kita akan kehilangan orang-orang yang kita cintai. Kita harus mengakui kefanaan kita.

    Selama berabad-abad, orang-orang menggunakan agama sebagai mekanisme pertahanan, meyakini bahwa mereka akan hidup selamanya dalam kehidupan setelah kematian. Hari ini mereka beralih ke sains sebagai mekanisme pertahanan alternatif, mempercayai bahwa para dokter akan menyelamatkan mereka, dan bahwa mereka akan hidup selamanya di apartemen mereka. Kita memerlukan pendekatan yang seimbang di sini. Kita harus memberikan kepercayaan kepada ilmu pengetahuan untuk mengatasi epidemi, tapi kita juga tetap harus menanggung beban ketidakberdayaan saat berhadapan dengan keterbatasan dan kefanaan kita sendiri.

    Krisis yang terjadi saat ini mungkin akan membuat banyak orang lebih sadar terhadap keterbatasan alamiah hidup dan pencapaian-pencapaian manusia. Meskipun demikian, peradaban modern kita mungkin sepenuhnya akan mengatakan yang sebaliknya. Setelah disadarkan akan kerapuhan mereka, manusia mungkin justru akan merespon dengan membangun benteng pertahanan yang lebih kuat lagi. Setelah krisis ini berakhir, saya tidak yakin kita akan melihat peningkatan anggaran yang signifikan pada jurusan-jurusan filsafat. Tapi saya berani bertaruh bahwa kita justru akan melihat peningkatan anggaran yang masif pada sekolah-sekolah kedokteran dan sistem kesehatan.

    Dan mungkin itulah yang terbaik yang bisa kita harapkan sebagai manusia. Pemerintah bagaimanapun juga tidak begitu baik dalam berfilsafat. Sebab itu bukan wilayah mereka. Pemerintah harus benar-benar fokus pada pembangunan sistem kesehatan yang lebih baik. Terserah individu untuk berfilsafat secara lebih baik. Para dokter tidak dapat memecahkan teka-teki masa depan kehidupan kita. Tapi mereka dapat menyediakan kita lebih banyak waktu berlama-lama dengannya. Apa yang akan kita lakukan dengan waktu (penj: yang para dokter sediakan) adalah tergantung diri kita sendiri.

    ________________________________________

    *Artikel ini adalah terjemahan dari tulisan Yuval Noah Harari di The Guardian berjudul “Yuval Noah Harari: Will coronavirus change our attitudes to death? Quite the opposite”, 20 April 2020

    **Sumber gambar: euronews.com

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here