More

    Schopenhauer di Antara Kontradiksi: Sebuah Pengantar

    Artikel Terbaru

    Rekonstruksi Waktu dalam Pandangan Fisika Modern (Bagian 1)

    Tulisan ini memfokuskan pada ringkasan isi dari buku The Order of Time (Tatanan Waktu) karya Carlo Rovelli, seorang fisikawan teori terkenal...

    Masa Depan Relasi Filsafat Ilmu-Teknologi

    Don Ihde pada tahun 2004 menyebarkan keraguan dan harapan. Dengan artikelnya yang berjudul “Telah sampaikah filsafat teknologi? Keadaan Terbaru”, Ihde mengevaluasi...

    Kemungkinan Peran Fenomenologi dalam Memecahkan Teka-teki Kuantum

    Steven French berpendapat bahwa pada jantung problem pengukuran kuantum terdapat kesalahpahaman yang fatal dalam memahami hubungan subjek-objek. Jika melihat lebih dekat pada...

    Memahami Kembali Manusia di Era Teknologi

    Keberadaan teknologi membawa manusia pada koin dari harapan yang diandaikan memiliki dua sisi. Satu sisi dapat berperan sebagai upaya membebaskan manusia...

    Tentang Spesialisasi dan Kesusah-teraksesannya Filsafat

    James Ladyman berargumen bahwa ketidakteraksesannya filsafat merupakan sesuatu yang bagus. Jika filsafat adalah sebuah kecintaan terhadap kebijaksanaan dan mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seharusnya kita (menjalani)...

    Saat berdiri di hadapan teks klasik, kadang kita merasa takut sekaligus penasaran. Seperti ada sesuatu yang jauh sekali di balik lembar-lembar apak itu. Setelah kita dekati, membukanya beberapa menit, sambil mengingat pelajaran di masa lalu, yang entah darimana kita kemudian ingat sosok seperti Plato dan kekonyolan alegori guanya, atau yang lebih epik lagi, ingat potongan mitologi klasik Yunani seperti Dionisos yang dikandung di paha Zeus.

    Mungkin dulu kita tertawa dan terkejut, kenapa ada orang bisa-bisanya berpikir sekonyol itu! Lalu kita sedikit menganggapnya tak berguna. Selang beberapa waktu, mungkin bertahun-tahun kemudian, kita tak sengaja bertemu dan membaca kembali karya besar yang pernah kita sapa walau singkat. Dan perasaan kita pun berubah, seolah-olah ada kebaruan yang muncul dalam benak kita, yang dulu tak terpikirkan ketika membaca teks itu untuk pertama kalinya. Lalu kita mulai bersemangat. Kita berkomunikasi dengan cara berbeda dengan buku itu. Bahwa, sosok yang keluar gua adalah simbol posisi filsuf atau seniman yang sudah melihat realitas. Bahwa, Dionisos kemudian adalah lambang kemabukan dan sosoknya menjadi penting dalam pembacaan kontemporer, tak peduli bagaimana caranya ia bisa keluar dari paha bapaknya.

    Mungkin Anda pernah menganggap pemikiran Arthur Schopenhauer juga konyol, sama seperti menghadapi Plato atau mitologi klasik. Mungkin Anda juga sering mendengar namanya atau menemukan ulasan pemikiran filsuf Jerman ini di tengah-tengah buku tebal sejarah filsafat. Apapun alasan pertemuan Anda dengan Schopenhauer, inilah momen yang tepat untuk sekali lagi mendekatinya. Entah apa yang akan Anda temukan, bisa berupa kebaruan pembacaan, menyadari detil yang sempat terlewat, kedekatan refleksinya dengan kehidupan hari ini, atau gaya tulisannya yang tak lekang oleh waktu. Nama Schopenhauer cukup familiar bagi pegiat seni/sastra/filsafat dan jarang sekali orang melupakan sosoknya, karena ia penulis yang cukup peduli pada pembacanya. Schopenhauer membuat pembaca terhibur sekaligus berpikir berdasar pengalaman dan kemudian ia membantu mengabstraksikan pengamatan-pengamatan khusus yang mereka alami. Membaca Schopenhauer tak sia-sia, meskipun ia membeberkan ketakmasukakalan dunia modern, mewartakan pesimisme, menyampaikan banyak komedi kehidupan yang getir, membenci kepura-puraan kelas sosial tertentu, tapi cara dia membeberkan fenomena seolah mengajari seseorang berjalan nyaman di atas dunia yang becek di zaman modern ini, meski seringkali caranya mengganggu.

    Karya para filsuf jarang mencerminkan pengalaman hidup mereka dibanding karya para ilmuwan. Akan tetapi berbeda dengan seniman-filsuf seperti Kierkegaard dan Nietzsche, mereka mengeksplorasi hubungan intrinsik antara kehidupan dan karya mereka. Schopenhauer juga termasuk dalam kelompok ini, melalui karya tulisnya kita bisa lebih memahami filsafatnya sekaligus lebih memahami sosoknya. Ketika Schopenhauer mengekspresikan pandangan personalnya tentang dunia,  saat itu juga diselimuti dengan cerita kepribadian dirinya yang culas dan kadang-kadang mudah tersinggung.

    Schopenhauer lebih senang bergaul dengan binatang (anjing pudel) daripada dengan manusia. Secara fisik ia tidak menarik dan secara sosial aneh, dia tak pernah berhasil mendapatkan seorang wanita yang dicintainya. Dia tidak pernah menikah. Dalam sebuah esai On Women (1851), dia mengatakan apabila wanita tertarik pada pria muda, kuat, tampan (tak diragukan lagi ini refleksi yang diambil dari pengalaman) adalah semacam truisme; tetapi alasan yang dia berikan juga menyangkut filsafatnya, bahwa fenomena tersebut adalah “ekspresi kehendak spesies yang tak disadari” yang selalu ingin memastikan “perkembangbiakan umat manusia yang sehat.”

    Dalam Schopenhauer: A Biography (2010), David E. Cartwright  memberi ringkasan yang jelas dan singkat tentang karya utama Schopenhauer The World as Will and Idea. Ulasan Cartwright menjadi titik awal yang baik bagi pembaca baru. Bagi mereka yang sudah mulai tertarik menjelajahi pemikirannya, atau baru saja masuk ke belantara idealis Jerman, melalui kumpulan esai yang Anda pegang saat ini, Anda akan menemukan hal yang mencerahkan untuk berkenalan dengan pengarang yang keras kepala dan terkadang menjengkelkan. Bagi yang terbiasa membaca ekspresi satu pemikiran yang utuh, membaca karya Schopenhauer mungkin akan muncul pengalaman berbeda, karena di dalamnya bercampur aduk dengan ide-ide Plato, Kant dan Upanishad, yang bagi Schopenhauer adalah dasar  kebijaksanaan dan kebenaran. Seseorang mungkin akan membenci sisi misoginis Schopenhauer—dia melihat perempuan sebagai jenis kelamin yang lebih rendah, dan tak mampu menjadi jenius—karena pembelaannya pada mereka yang berpoligami atas dasar gagasan bahwa seorang pria membutuhkan banyak wanita dan tak bisa puas hanya dengan satu saja. Masing-masing dari kita sudah punya cara sendiri menghadapi teks misoginis dari abad 19 semacam itu.

    Melalui The World As Will & Representation (1819), Schopenhauer menyajikan metafisika dua sisi. Meskipun terpengaruh banyak ide Kant, Schopenhauer menolak gagasan tentang dunia yang tak diketahui, thing in itself, yang bertanggung jawab untuk menginformasikan semua pengalaman inderawi kita, dan yang menjadi representasi dunia yang kita alami. Sebagai makhluk yang berdiri di Alam Semesta, kita dapat membayangkan diri kita dengan dua cara. Yang pertama, sesuai dengan ‘Kehendak’, ada di dalam kesadaran keadaan mental kita. Yang kedua, sesuai dengan ‘Representasi’, ketika kita mengalami diri kita sebagai objek fisik yang tunduk pada determinisme hukum alam. Schopenhauer menyimpulkan bahwa tak hanya diri kita sendiri tetapi segala sesuatu di Semesta memiliki aspek ganda ini, yang sebenarnya adalah dua sisi mata uang yang sama, karena Representasi hanyalah ‘objektifikasi’ dari Kehendak. Kehendak adalah sifat dari alam semesta sebagaimana adanya. Bagi Schopenhauer, ‘Kehendak’ adalah kekuatan pendorong dasar Semesta. Ada di dalam galaksi, batu (melalui gravitasi), pada tumbuhan, hewan, dan manusia. Secara keseluruhan, ‘Dunia sebagai Kehendak’ tiada habisnya, secara membabi buta berusaha menuju tempat yang tak tentu. Konsep Kehendak akan banyak dirujuk dalam beberapa esai-esainya, sekaligus dimaksudkan sebagai catatan tambahan.

    Yang juga perlu kita catat sebagai pembaca kontemporer adalah, Schopenhauer, seorang filsuf awal abad ke-19 ini, memberikan banyak kontribusi penting pada metafisika, etika, dan estetika. Karyanya juga memuat teori evolusi dan psikologi. Meskipun hingga hari ini dan selama hidupnya, ia selalu dibayangi oleh pemikir besar sejamannya, Hegel. Di samping posisinya hampir tergerus Neo-kantian seperti Hegel, pemikiran Schopenhauer banyak mempengaruhi filsuf ataupun penulis setelahnya. Pandangan sosial/psikologis Schopenhauer, yang dikemukakan dalam kumpulan esai ini dan dalam koleksi yang lain, secara langsung diturunkan dari metafisikanya yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran Timur. Pesimismenya membentuk kontras menarik dan mungkin bisa kita pertanyakan, misal mulai dari kegembiraan yang jelas terlihat melalui semangat dan keanggunan prosanya.

    Beberapa esai-esai yang diterjemahkan di sini merupakan bagian dari Parerga and Paralipomena (Lampiran dan Tambahan), koleksi refleksi filosofis Schopenhauer yang diterbitkan pada tahun 1851. Koleksi ini bukan sebagai ikhtisar atau pengantar, tapi sebagai bacaan tambahan bagi mereka yang pernah membaca dan sudah familiar dengan pemikirannya, terlepas dari itu, tetap menarik untuk dibaca walaupun kita belum pernah bersinggungan sama sekali. Parerga and Paralipomena dibagi menjadi dua jilid, pertama parerga dan setelah itu paralipomena. Parerga adalah enam esai panjang yang dimaksudkan sebagai pelengkap pemikiran Schopenhauer. Paralipomena, perenungan singkat yang terdiri dari materi yang belum ia tulis secara serius tapi sudah bisa dianggap sebagai pelengkap bagi parerga. Beberapa catatan kaki yang digunakan dalam koleksi ini merujuk ke karya utama Schopenhauer dan beberapa risalah lain atau ia sedang mengutip seorang tokoh penting.

    Selain di ranah filsafat, pengaruh Schopenhauer sangat kuat di antara tokoh-tokoh sastra, yang meliputi penyair, penulis naskah drama, penulis esai, penulis novel dan sejarawan seperti Charles Baudelaire, Samuel Beckett, Thomas Bernhard, Jorge Luis Borges, Jacob Burckhardt, Joseph Conrad, André Gide, George Gissing, Franz Grillparzer, Karl Kraus, DH Lawrence, Joaquim Maria Machado de Assis, Stephane Mallarmé, Thomas Mann, Guy de Maupassant, Herman Melville, Robert Musil, Edgar Allan Poe, Marcel Proust, Leo Tolstoy, Ivan Turgenev, WB Yeats, dan Emile Zola. Secara umum, para penulis ini terinspirasi oleh pengertian Schopenhauer tentang absurditas dunia, baik ditafsirkan secara lebih nihilistik dan suram, maupun lebih ringan, absurdis, dan lucu. Mungkin kita bisa masuk dalam daftar penulis-penulis hebat itu.

    Khoiril Maqin, 6 Maret 2020.

    *Artikel ini merupakan pengantar penerjemah buku terbaru Antinomi berjudul Tentang Pesimisme, karya Arthur Schopenhauer.

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here