Home Blog Page 15

Tentang Pesimisme dan Pemikiran Schopenhauer

0
pesimismeschopenhauer

Pada abad ke-19, Arthur Schopenhauer, filsuf asal Jerman, yang disebut sebagai filsuf pesimis,  juga rival Hegel, tertarik untuk menemukan dan menjelaskan apa-apa yang menjadi aspek signifikan bagi pengalaman manusia. Ketertarikannya tersebut mengenai kondisi pengalaman manusia yang universal, di antaranya tentang cinta, seks, penderitaan, kematian, makna kehidupan, penebusan (redemption). Selain itu, ia juga mengeksplorasi fenomena yang menurutnya dihindari filsuf lain seperti, warna-warna, kejeniusan, homoseksualitas, humor, kegilaan, metafisika musik, status moral atas hewan, mistisisme, dst.

Menurut David E. Cartwright (2010), para filsuf Barat menganggap pemikiran Schopenhauer sebagai pemikiran Timur. Tidak salah juga, sebab ia banyak dipengaruhi oleh Hinduisme, Buddhisme, selain pengaruh pemikiran Barat seperti Plato,  Spinoza, Berkeley, dan Kant.

Beberapa komentar lain juga disematkan padanya. Ia disebut sebagai filsuf yang pesimis, misantropis, misoginis, sinis, irrasional. Dari mana asal mula itu semua? Kita bisa melihat dalam karya-karyanya. Namun, menurut penulis, hal tersebut sesuai dengan semangat zamannya. Kita juga bisa menginterpretasi ulang soal itu.

Meski demikian, pemikiran Arthur Schopenhauer ini perlu kita baca kembali. Entah itu karya utamanya, The World as Will and Representation, esai-esai lainnya ataupun buku berjudul Tentang Pesimisme yang diterjemahkan oleh Khoiril Maqin dari judul Parerga and Paraliponema. Sebabnya adalah karena dalam situasi seperti saat ini yang tak menentu, segenap harapan dan optimisme tak bisa dijadikan pegangan. Membacanya tak akan sia-sia, walaupun kehidupan tak pernah memiliki arti dalam dirinya, ia membeberkan ke-tak-masuk-akal-an dunia modern, mewartakan pesimisme dan mengusik seseorang yang terlalu nyaman (hal, ii) dengan segala kemapanan yang ada.

Eksistensi dan Pesimisme

Bagi Arthur Schopenhauer dunia dan kehidupan ini dipenuhi oleh penderitaan—frustasi, kebosanan (tedium), kesengsaraan. Apabila menurut orang-orang suci setiap kelahiran adalah sebuah berkah, menurut Schopenhauer adalah lebih baik tidak pernah dilahirkan sama sekali, alasannya karena dunia ini adalah yang terburuk dari semua dunia yang mungkin.

Persoalan mengenai nilai kebahagiaan, kesuksesan dalam pendidikan, pekerjaan, percintaan, merupakan pemberian makna atas kehidupan, keinginan yang hendak dicapai dengan optimisme oleh sebagian manusia. Namun, dalam perspektif Schopenhauer, hal-hal di atas tidak luput dari penderitaan. Sebab penderitaan secara umum adalah aturan main (hal, 1).

Kebahagiaan dan kepuasan selalu menyiratkan kekurangan, bahwa hasrat harus terpenuhi, beberapa kesakitan juga mesti diakhiri (hal, 2). Di sinilah letak absurditas Schopenhauer, maksudnya kita tahu bahwa hidup adalah pengulangan seperti mandi, makan, bercakap-cakap, menyendiri, mencintai-dicintai, munculnya rasa puas, rasa bahagia. Akan tetapi sepanjang kehidupan, hal-hal di atas tak pernah terpenuhi, justru melahirkan sesuatu yang baru dikehendaki yang terus berulang dengan penderitaan menyertainya.

Dengan kata lain, sepanjang hidupnya, begitu kata Schopenhauer, usaha yang dilakukan, kekhawatiran, kerja keras merupakan cara kerja yang ada selama manusia hidup di dalam dunia dengan sifat ke-dunia-an.

Pesimisme baginya, dan justru bukan optimisme, itu tidak bisa dihilangkan dari eksistensi manusia, sejak manusia merupakan makhluk hidup, terdiri dari hal-hal yang materi, manusia harus berusaha keras sebelum kematian datang. Menurutnya orang yang secara sadar berusaha dengan keras untuk memenuhi keinginannya, pastilah menderita (Christopher Janaway, 2002).

Dari sini kita bisa melihat bahwa kepuasan, kebahagiaan adalah suatu hal yang negatif. Hanya dengan sikap asketis atau seni, dan musik, maka manusia bisa menghindari segala keinginan dunia. Ia menyatakan bahwa setiap kondisi kesejahteraan, setiap perasaan puas, ialah negatif dalam karakternya; artinya, terlebih dahulu harus merdeka dari rasa sakit yang justru merupakan elemen positif dari eksistensi. Karena itu, kebahagiaan dari segala kehidupan harus diukur, bukan oleh kegembiraan dan kesenangannya, tetapi oleh sejauh mana ia telah bebas dari penderitaan—dari kejahatan positif. (Hal, 7)

Selain itu ia juga menyatakan bahwa nafsu merupakan asal mula dari kepedulian, harapan, ketakutan. Tidak heran untuk meningkatkan kesenangan, manusia dengan sukarela menambah dan memaksakan kebutuhannya, padahal dalam keadaan semula kebutuhan itu tak jauh lebih sulit untuk dipenuhi oleh binatang. (Hal, 8)

Selanjutnya ia juga menyatakan apabila segalanya mudah dicapai begitu saja, adakah nilai baginya? Apa yang akan dilakukan manusia kemudian hari apabila segalanya tersedia di depan mata? Inilah yang ditekankan oleh Schopenhauer bahwa setiap keinginan yang dihasrati, dan ketika hasrat tersebut terpenuhi, maka hasrat tersebut menjadi hasrat yang lain, dengan penderitaan atau kesulitan, suatu hal tersebut memiliki arti.

Apabila segalanya tersedia di depan mata, tanpa usaha dan penderitaan, barangkali manusia akan merasa bosan, menciptakan perang karena bosan, pembantaian, pembunuhan (hal, 4). Adalah sebuah kebenaran, bahwa kebutuhan dan kebosanan merupakan dua kutub kehidupan manusia (hal, 10).

Barangkali begitulah adanya kehidupan manusia nanti, jika merujuk kepada kitab, di alam sana. Namun, ini semua bukanlah gagasan Schopenhauer, ia justru merujuk secara tidak langsung, bahwa di sinilah jika dunia adalah surga dengan kemewahan dan kemudahan.

Bagi sebagian orang, gangguan-gangguan, pertanyaan eksistensial, seperti ini harus diacuhkan, sebab tidak umum, tak ada harapan bagi manusia-manusia optimis. Apabila semua orang telah terbiasa mendengar, membaca, memahami, dan menerapkan pesimisme, seperti yang Schopenhauer katakan, mungkin kita akan lebih bijaksana mengatur harapan, berhenti mengutuk sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan.

Hingga pada suatu ketika akan terdengar ungkapan “bahwa segala sesuatu sudah sebagaimana mestinya”. Masing-masing dari tiap manusia harus membayar, menebus hukuman dengan cara yang khas, alasannya adalah karena saudara se-penderita-an yang sama dan dialami oleh sesama manusia. Sebab hanya itu yang kita punya, dan hanya di sini kita bisa lebih merasa arti hidup (hal, 23.

Dalam buku ini, kita akan dapati penjelasan lebih lanjut dari apa yang dimaksud dengan ‘penderitaan dunia’, utamanya di bab 1. Bahwa adalah sia-sia bagi manusia untuk memberikan arti kepada dunia, kehidupan nanti, hanya bagi dirinya dan sesama manusia sajalah eksistensinya berarti. Sebabnya adalah kita telah dan selalu berada dalam Ruang dan Waktu yang tak terbatas, sementara manusia itu terbatas, di situlah kesia-siaan mewujud. Menurutnya manusia hanya berada di kondisi yang aktual, saat ini, eksistensinya lebih berarti saat ini ketimbang beberapa taun ke belakang.

Bayangkan kondisi Anda saat ini, lihatlah diri Anda, seberapa sering kita mengatakan bahwa waktu begitu cepat berlalu, tak terasa bahwa misalnya Anda telah melalui waktu lebih dari 10 tahun, berdasarkan hitungan manusia dan dari awal Anda dilahirkan. Bukankah melihat ke tahun-tahun tersebut seperti baru kemarin? Hal ini menurut Schopenhauer bisa menjadi penuntun manusia dengan kepercayaan bahwa kebijaksanaan terbesar adalah menjadikan kenikmatan saat ini sebagai tujuan tertinggi; karena itulah satu-satunya realitas, yang lain hanyalah permainan pikiran (hal, 27)

Begitu juga dengan eksistensi kita akan lenyap begitu saja, dan orang yang mengenal diri kita akan mengenal dalam kondisi ketika ia juga eksis masa kini dengan membawa memori-memori yang melekat padanya. Dengan kata lain, seluruh fondasi yang menjadi keberadaan kita adalah masa kini—masa kini yang cepat-berlalu (hal, 29). Manusia tidak bisa menghendaki Kehendak, sebab Kehendak adalah penguasa dan manusia tak akan pernah bisa memuaskan Kehendak, hanya menyisakan penderitaan.

Penulis sepakat bahwa hidup hanya menghadirkan sebagai tugas, sebagaimana Schopenhauer nyatakan, hanya untuk bertahan hidup. Di dalam eksistensi tidak ada inti, nilai intrinsik dalam dirinya. Apabila kehidupan—yang merupakan intisari keberadaan kita—memiliki nilai intrinsik positif, pastilah tidak akan ada kebosanan; eksistensi akan memuaskan kita dengan sendirinya (hal, 31).

Seperti setetes air yang terlihat melalui mikroskop, setetes air yang penuh dengan infusoria; atau setitik keju penuh dengan tungau yang tidak terlihat dengan mata telanjang. Betapa kita tertawa ketika mereka begitu semangatnya, dan bergumul satu sama lain dalam ruang yang begitu sempit! … Hanya di dalam mikroskoplah hidup kita terlihat begitu besar. Padahal kehidupan adalah titik yang tidak dapat dibagi lagi, ditarik dan diperbesar oleh lensa mahakuat Ruang dan Waktu (hal, 33).

Dalam buku tersebut ada beberapa bab lain yang patut untuk dibaca dan direnungkan. Misalnya topik mengenai bunuh diri. Menurut Schopenhauer tak ada penganut Monoteisme, kecuali Yahudi yang menganggap bahwa bunuh diri adalah tindakan kejahatan. Ia menelusuri asal usul kecaman terhadap bunuh diri, yang menurutnya merupakan bagian dari para guru agama menyebarkan bahwa bunuh diri adalah kesalahan, sebuah tindakan pengecut dan kejahatan.

Diikuti dengan sebuah bab keabadian: sebuah dialog yang dibuka dengan pertanyaan sang tokoh, “akan jadi apa saya setelah kematian nanti?”, jawaban dari tokoh lainnya mengajak kita berpikir bahwa bagaimana mungkin kita bisa menjawab sesuatu yang melampaui, batas-batas pengalaman, dan belum pernah kita rasakan, dengan harapan bahwa bahasa yang ada saat ini bisa memberikan jawaban.

Kemudian bab tentang pengamatan-pengamatan psikologis yang terdiri dari beragam pengatmaan yang dideskripsikan olehnya dan sedikitnya menyinggung bahwa manusia merasa nyaman berada dalam sebuah harapan. Tidak lupa tentang pendidikan juga ia singgung. Menurutnya seorang intelek itu bukan berangkat dan hasil dari penanaman ide, pemberian pelajaran yang sama. Melainkan, hanya melalui pengalaman sendiri untuk belajar segala hal, melakukan pengamatan sendiri dan merupakan metode alami.

Bab berikutnya penilaian Schopenhaeur tentang perempuan, sudah disebutkan di awal bahwa ia merupakan filsuf yang misoginis dan penerjemah juga memberikan alasan sang filsuf tersebut bahwa ia menganggap perempuan lebih rendah, tak mampu menjadi jenius, dan tentu saja ia juga mengatakan bahwa laki-laki tak pernah puas dengan satu wanita. Pembaca tentu saja boleh melewati bab ini dan melanjutkan pembacaan ke bagian tentang kebisingan, yakni tentang hubungan antara kebisingan dengan para pemikir dalam sejarah Jerman ada Kant, Goethe, dan Lichtenberg. Kemudian ditutup oleh bab tentang beberapa parabel yang tak bisa dilewatkan, sebab di dalamnya termuat cerita rekaan dan mengajarkan moral sebagaimana parabel pada umumnya.

Daftar Pustaka:

Christopher Janaway,  Schopenhauer – A Very Short Introduction, (England: Oxford University Press, 2002)

David E. Cartwright, Schopenhauer: A Biography, (United Kingdom: Cambridge Universitt Press, 2010)

Pengantar: Apa Sih Sebenarnya Pandemi Itu?

0

Kita sudah dijejali banyak informasi soal pandemi yang sedang terjadi saat ini. Mulai dari data, berita resmi, cerita orang-orang yang terdampak, hingga opini para intelektual. Akan tetapi, kita akhirnya berhadapan dengan sesuatu yang kita sendiri tak yakin dan harus bertanya lagi dan lagi: apa sih sebenarnya pandemi itu? Pada situasi ini, berita resmi yang biasa dianggap sebagai kebenaran telah jadi rumor, solusi sains jadi mentah, cerita orang-orang berlalu begitu saja, dan opini-opini yang lahir diperlakukan tak lebih dari esai singkat sarjana parno. Tidak tergoda mencari jawaban tunggal dan mempertimbangkan banyak hal yang memungkinkan terjadinya pandemi, seharusnya bukanlah persoalan sulit dan layak untuk diuji. Kita harus memilih  memercayai ilmu pengetahuan dan pakar kesehatan dibanding konspirasi tak berdasar.

Kita ingat satu fakta yang kemudian jadi lelucon di awal merebaknya virus ini di Indonesia: bermula dari teori temulawak berujung penggunaan masker dan rajin cuci tangan. Seolah bukanlah manusianya yang lugu, tapi si virus. “Oh ya, warga kampung ini rajin minum jamu, ayo kita serang orang lain saja!”. Zizek mendapat lelucon serupa dari temannya Dejan Kršić yang ia kutip dalam buku barunya Pandemic! (2020). Kali ini virus dalam versi paling polos: “Halo, teman!” “O, halo, profesor! Kenapa Anda memakai masker? Dua minggu yang lalu Anda menjelaskan bahwa tak sepenuhnya masker dapat melindungi diri dari virus? ” “Ya, saya tahu masker tak berguna, tetapi apakah virus mengetahuinya?” Hari ini, wabah virus korona membuat kita berhadapan dengan pengetahuan yang tak bisa kita sangkal: sains. Percaya pada sains tak akan membuat kita semakin lugu. Di tahap ini, bukan hanya perkara apa kata sains pada kita, tetapi minimal memahami bagaimana cara sains bekerja. Pemahaman ini memungkinkan manusia memiliki respons terbaik menghadapi situasi krisis.

Ambil contoh perilaku kita saat ini. Kita membasuh tangan dengan sabun dan air atau hand sanitizer apabila kita menyentuh permukaan benda-benda yang telah disentuh oleh orang lain. Berdasar usulan sains, begitulah cara paling aman dan efektif untuk mengurangi dan memperlambat penyebaran Covid-19. Semua rekomendasi ini, dan semua riset yang canggih, hanya mungkin karena sains yang datang sebelumnya. Di sini kita tidak sekadar mengikuti aturan, tapi juga sedang menjalankan (mungkin juga menghargai) temuan dalam perjalanan sains hingga sekarang. Inilah tahap pertama—Ethan Siegel, seorang Ph.D. ahli antrofisika menyebutkan ada tiga tahap—bagaimana sains bisa membantu kita.

Tahap kedua, dunia saat ini bergantung pada riset yang didorong oleh rasa ingin tahu, tidak serta merta karena proyek tanggap darurat atau gagah-gagahan. Para ahli virologi evolusioner, ahli ekologi penyakit, ahli biofisika, dan ilmuwan di banyak bidang penelitian lainnya memberi informasi pada dokter dan pembuat kebijakan, dan juga pada penelitian-penelitian termutakhir saat ini. Di bidang ilmu sosial, struktur antropologis dari kultur yang berbeda dan observasi para psikolog perilaku tentang bentuk-bentuk interaksi sangatlah penting untuk memahami bagaimana orang-orang merespons situasi pandemi. Selain itu, ada sesuatu yang lebih mendasar yang memungkinkan atau membatasi apa yang mungkin: sains dasar. Sains dasar adalah tahap ketiga bagaimana sains dapat menjawab persoalan kita. Bayangkan, kita sedang mencoba untuk menyingkap struktur molekuler atau urutan DNA dari patogen yang menular jika kita tidak memiliki teori atom sebagai fondasi.

Cara kerja sains menolong kita dari drama yang dengan vulgar menyajikan alam pikir pra-modern. Lanskap media berada pada pergulatan besar antara kebenaran dan kepalsuan, fakta dan informasi yang salah, berita benar dan berita palsu. Dalam drama ini, musuh-musuh kebenaran hadir. Kemudian para ahli terkepung oleh buzzer, kaum populis, dan influencer bayaran. Anda bisa bayangkan apa yang diharapkan oleh tangan-tangan seperti itu selain “dunia tanpa pakar”. Para ahli perlu merebut kembali kepercayaan publik—melalui pengecekan fakta yang lebih baik. Terang datang dari dunia kepastian, dunia para ahli yang penting untuk dimanfaatkan. Tetapi terang itu tidak memenuhi seluruh ruang yang gelap. Artinya kita  harus siap untuk meraba-raba dan bergerak untuk menerobos kegelapan.

Mencomot isitilah “Sains yang Mengasyikkan” akan menarik di sini (tanpa konteks khusus pada Nietzsche, tapi saya comot dengan bangga). Bahwa membahagiakan bagi kita untuk semangat mencari kebenaran tanpa beban fondasi seperti ideologi atau agama tertentu. Pada poin ini, berpikir tentang sesuatu yang jauh, misalkan kehidupan setelah kematian, azab, dan lain sebagainya bukanlah waktu yang tepat. Yuval Noah Harari, punya sentimen khusus menggapi persoalan tersebut, “Selama berabad-abad, orang-orang menggunakan agama sebagai mekanisme pertahanan, meyakini bahwa mereka akan hidup selamanya dalam kehidupan setelah kematian. Hari ini mereka beralih ke sains sebagai mekanisme pertahanan alternatif, mempercayai bahwa para dokter akan menyelamatkan mereka, dan bahwa mereka akan hidup selamanya di apartemen mereka. Kita memerlukan pendekatan yang seimbang di sini. Kita harus memberikan kepercayaan kepada ilmu pengetahuan untuk mengatasi epidemi, tapi kita juga tetap harus menanggung beban ketidakberdayaan saat berhadapan dengan keterbatasan dan kefanaan kita sendiri.”

Fakta bahwa di luar sana masih ada orang-orang bekerja di pasar, yang kerja mereka itu memastikan orang lain tetap bisa dengan aman berada dalam isolasi; fakta bahwa di luar sana, ada seorang dokter tua yang tetap ingin mengabdikan tenaganya, tak bisa membuat kita hanya berpikir jauh-jauh, bahkan ke kehidupan setelah kematian. Seorang dokter bedah, Henry Marsh, siap sedia untuk bekerja membantu pasien dan ribuan dokter-dokter lain di dunia, meskipun ia sadar para dokter tetap menghadapi dilema putusan tentang siapa yang akan bertahan hidup dan siapa yang akan meninggal. Gambaran dilema itu diperlihatkan oleh George Bernard Shaw dalam lakon di The Doctor’s Dilemma. Sebagai seorang dokter, Marsh mengatakan sesuatu yang tak bisa kita tolak, “Pengorbanan diri sendiri selalu menjadi bagian dari seorang dokter. Hal tersebut menjadi kebanggaan sekaligus penderitaan, dan itu mengapa, di antara semua, para dokter dan perawat seharusnya betul-betul dihargai. Sungguh jarang terjadi bila bukan karena krisis Covid-19 yang terjadi.”

Jika Harari menyebut bahwa Covid-19 memaksa kita untuk menggandakan upaya kita untuk melindungi manusia lain dan bukanlah sikap pasrah—melainkan gabungan antara penyesalan (menjauh dari eskatologi) dan harapan (mendekati sains)—Arundhati Roy menyebut pandemi ini memaksa manusia untuk putus dengan masa lalunya. Membayangkan dunianya yang baru. Pandemi adalah sebuah portal, sebuah pintu gerbang menuju dunia berikutnya. Dunia seperti apa? Kita mungkin akan berpikir sekeras Arundhati Roy. Sebagai seorang penulis, ia melihat bayangan dunia baru adalah kebalikan dari situasi krisis. Bentuk jelasnya seperti apa dunia baru itu, tidak ada yang tahu. Mungkin dunia tanpa krisis ekonomi, krisis politik, atau narsisisme politisi yang semakin kelihatan jelas dan menunjukkan kelemahannya di masa pandemi. Lebih dari itu, dunia tanpa kambing hitam. Dalam konteks India, media arus utama memasukkan cerita tentang Covid-19 ke dalam kampanye anti-Muslim. Sebuah organisasi Jamaah Tabligh, yang mengadakan pertemuan di Delhi sebelum karantina wilayah diumumkan, ternyata menjadi “penyebar utama”. Hal itu digunakan untuk menstigmatisasi kaum Muslim. Dalam konteks global, kita tahu skema serupa juga berlaku, banyak orang mulai memberi warna kulit pada virus. Wabah akhirnya juga berubah ke arah rasisme.

Ketakutan akan dampak virus corona melebihi dampak dari virus itu sendiri. Mulai dari sistem pengawasan digital, aturan negara yang masuk ke ranah privat, pemantauan ketat dan hukuman bagi yang melanggar, dan ketakutan dunia yang tak akan kembali seperti sedia kala. Perangkat seperti pengawasan ketat dan banjir himbauan menandakan hilangnya rasa kepercayaan satu sama lain. Kepercayaan pemerintah ke rakyat dan sebaliknya. Kesukarelaan dan kerjasama tak akan tumbuh dari kondisi tidak saling percaya seperti itu, bahkan dari aturan ketat. Kita harus tetap mengingat bahwa kehidupan telanjang kita, kehidupan sehari-hari bergulat dengan orang lain masih menyimpan rasa percaya dan persahabatan. Dalam situasi krisis, kita sering melihat saudara atau teman (meski dipenuhi konflik) dan bergegas menolong satu sama lain. Ketimbang membangun rezim totaliter, membangun kembali kepercayaan publik terhadap ilmu pengetahuan, otoritas publik, dan media masih mungkin sekali  kita lakukan.

Kepercayaan menjanjikan penanganan jangka panjang tidak hanya pada krisis saat ini, tapi juga di masa depan dan lingkup global. Kepercayaan yang diolah memungkinkan kita untuk membangun solidaritas.  Harari menyebutnya “solidaritas global” dengan beberapa poin kerjasama: seperti berbagi informasi secara global atau keterbukaan informasi antarnegara, kesepakatan ekonomi dan lalu lintas perjalanan. Zizek membawa istilah lain, menyebutnya sebagai komunisme global. Kita tidak perlu terganggu dengan istilah ini. Apa yang dimaksud Zizek bukanlah politik suatu negara, melainkan sebuah kerjasama. Komunisme dalam pengertian paling sederhana, koordinasi dan kolaborasi global. Solidaritas bentuk ini bukanlah solidaritas yang diidealkan di antara orang-orang. Sebaliknya, krisis pandemi menunjukkan bagaimana solidaritas dan kerja sama global demi kepentingan bertahan untuk semua dan kita masing-masing.

Banyak persoalan yang masih terbuka dan belum kita eksplor dalam seri ini. Misal soal perubahan makna kerja, bentuk-bentuk solidaritas dan wajah sains ke depan. Tapi setidaknya terbitan seri pandemi ini mengajak kita berpikir di masa krisis dan meninjau ulang ide-ide mereka. Selamat membaca!

*Tulisan ini merupakan pengantar dari buku Wabah, Sains, dan Politik (2020) yang dapat diunduh secara gratis di menu publikasi atau langsung melalui tautan berikut: antinomi.org/publikasi.

Pelajaran di Masa Pandemi Korona: Agama akan Selalu Hadir pada Ranah Publik dan Politik di Indonesia, dan Hal Tersebut Mungkin Bisa Menguntungkan Kita

0
pandemi agama

Pandemi Covid-19 yang sekarang terjadi ternyata menghasilkan banyak perdebatan. Salah satu perdebatan yang terjadi adalah tentang hadirnya ekspresi keagamaan di ranah publik, yang tanpa ada pandemi sekalipun sebenarnya sudah sering diperdebatkan. Perdebatan ini muncul karena beberapa pihak beranggapan bahwa agama (baik itu tafsiran maupun ekspresinya) di ranah publik menganggu bahkan menghambat penanganan pandemi Covid-19. Pendapat tersebut didukung salah satunya dengan bukti adanya klaster penyebaran Covid-19 akibat diadakannya acara keagamaan.

Saya pertama-tama tidak membantah adanya hal-hal merugikan akibat hadirnya ekspresi keagamaan pada ranah publik di Indonesia seperti terjadinya klaster penyebaran Covid-19 yang sudah saya sebut di atas, maupun intoleransi dan persekusi kalau kita berbicara di luar konteks pandemi. Hal-hal merugikan tersebut nyata adanya dan perlu diantisipasi agar bisa diminimalisir di masa depan, tetapi saya menolak kalau dikatakan bahwa semua ekspresi keagamaan pada ranah publik di Indonesia hanya menghasilkan kerugian. Pada praktinya, baik sebelum maupun sesudah pandemi melanda, banyak ekspresi keagamaan di ranah publik yang menguntungkan publik.

Hadirnya Agama pada Ranah Publik dan Politik di Indonesia: Sebuah Keniscayaan

Sebelum memaparkan praktik-praktik ekspresi keagamaan di ranah publik yang menguntungkan publik di  Indonesia, saya terlebih dahulu akan menjelaskan kenapa agama telah, sedang, dan akan terus hadir pada ranah publik dan politik di Indonesia. Jawaban paling masuk akal dari pertanyaan tersebut menurut saya adalah pertama-tama karena dorongan kebutuhan politik praktis.

Dorongan kebutuhan politik praktis bisa kita lihat misalnya dalam kontestasi politik elektoral seperti pemilihan kepala daerah, pemilihan legislatif, sampai pemilihan presiden. Banyak sekali, bahkan mungkin hampir semua, peserta kontestasi politik elektoral menggunakan narasi agama, menggenakan pakaian yang identik dengan agama tertentu, berkampanye dengan masuk dalam atau mengadakan acara keagamaan, atau menjanjikan program-program bernuansa agamis pada kelompok-kelompok agama agar para peserta kontestasi politik elektoral tersebut terpilih.

Patut dicatat bahwa hal-hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh pasa peserta kontestasi politik elektoral yang berasal dari partai/kelompok berbasis agama, tapi juga dilakukan oleh mereka yang berasal dari partai/kelompok yang tidak berbasis agama atau bahkan oleh individu-individu yang dalam kehidupan sehari-harinya bisa dikatakan jauh dari hal-hal berbau agama. Fakta lainnya adalah banyak peraturan daerah bernuansa keagamaan di berbagai daerah di Indonesia diinisiasi oleh para politisi dari partai-partai “sekuler”.

Selain dalam hal kontestasi politik elektoral, dorongan kebutuhan politik praktis untuk membawa agama ke ranah publik juga terwujud dalam upaya untuk terus melegitimasi sebuah rezim kekuasaan. Untuk menerangkan hal tersebut saya akan menggunakan contoh kasus hubungan Islam dan Negara di Indonesia dari era kolonial Hindia Belanda sampai sekarang[1].

Pada masa Hindia Belanda, pihak Belanda yang tentu saja kita ketahui tidak beragama Islam ternyata tetap mengurusi urusan agama Islam dengan mengalokasikan dana dari anggaran negaranya untuk mengurusi hal tersebut. Daniel Dhakidae bahkan mencatat bahwa salah satu kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang sangat penting adalah kebijakan di bidang agama, dan dari semua kebijakan agama yang terpenting adalah kebijakan politik terhadap Islam yang ia katakan sebagai “Islamic politicy” (Dhakidae, 2003). Impelementasi dari kebijakan politik agama pada masa kolonial Belanda adalah dibentuknya Kantor Urusan Pribumi (Kantoor Voor Inlandsche Zaken). Melalui kantor inilah semua kebijakan politik yang berkaitan dengan relasi sosial keagamaan dengan pribumi dikelola dengan sistematik dan modern, yang jejaknya dapat dilihat hingga saat ini.

Ketika kekuasaan di Indonesia berpindah ke tangan pemerintahan militer Jepang, mereka yang juga tidak beragama Islam ini pun meneruskan apa yang pemerintah kolonial Hindia Belanda lakukan. Salah satu kebijakan pemerintahan militer Jepang berkaitan dengan Islam yang cukup penting adalah pendirian kantor urusan agama (Shumubu) yang menjadi embrio Kementerian Agama dan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang kemudian bertransformasi menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Pasca kemerdekaan menurut Dhakidae (2003), baik Presiden Soekarno maupun Soeharto masih melanjutkan kebijakan pada bidang agama ala pemerintah kolonial Hindia Belanda. Bahkan Dhakidae menyebut Soekarno dan Soeharto sebagai “Hurgronjesian” karena seolah-olah mengikuti saran dari Christian Snouck Hurgronje dalam urusan Islam seperti pemerintah kolonial Hindia Belanda (Dhakidae, 2003).

Rezim Demokrasi Terpimpin Soekarno dan Orde Baru Soeharto memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada Islam agama dan mengambil tindakan tegas dan keras pada Islam politik sebagaimana saran Christian Snouck Hurgronje pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda dahulu. Meskipun bertindak keras terhadap Islam politik namun Sukarno dan Soeharto pun tetap membutuhkan Islam untuk menopang stabilitas rezim mereka masing-masing.

Soekarno misalnya, dalam konsepsinya tentang revolusi tetap menyertakan kelompok agama (Islam) sebagai salah satu kekuatan revolusioner di Indonesia selain kelompok Nasionalis dan Komunis. Konsepsi Islam yang dikehendaki oleh Soekarno untuk menopang rezimnya adalah Islam yang revolusioner atau dalam istilah Soekarno “Api Islam”. Sedangkan Soeharto, mendirikan Majelis Ulama Indonesia, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, serta Bank Syariah Muammalah sebagai usahanya untuk menarik simpati umat muslim.

Pasca Reformasi, tindakan membawa agama khususnya Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia ke ranah publik untuk melegitimasi dan menjaga stabilitas sebuah rezim masih dilakukan bahkan bisa dibilang lebih masif dengan adanya otonomi daerah yang memunculkan “perda-perda syariah”. Pada tingkat nasional, paling tidak sejak 2014, rezim yang berkuasa saat ini mempromosikan pemahaman yang ramah pada modal besar dan mau menyetujui semua pembangunan infrastruktur fisik yang dilakukan secara masif oleh rezim yang saat ini berkuasa.

Tindakan rezim yang sekarang berkuasa untuk membangun pemahaman Islam yang ramah pada modal besar, pembangunan infrastruktur, apapun kebijakan mereka lainnya salah satunya dapat kita lihat dari usaha-usaha untuk merangkul organisasi-organisasi Islam agar selalu mempromosikan Islam yang “damai”, “ramah”, dan “rahmatan lil alamin” (meskipun kenyataannya lebih sering pemahaman Islam yang direstui oleh rezim ini hanya damai, ramah, dan menjadi rahmat bagi para investor saja).

Agama-agama lainnya tentu saja tidak ketinggalan untuk dibawa-bawa ke ranah publik dan politik demi kebutuhan politik praktis dalam baik untuk kemenangan kontestasi elektoral maupun legitimasi kekuasaan. Kita bisa melihat itu pada agama Katolik, Protestan, dan Hindu di daerah-daerah yang mayoritas penduduknya menganut agama-agama tersebut.

Ekspresi Keagamaan pada Ranah Publik yang Menguntungkan Publik

Setelah menjelaskan bahwa agama akan selalu hadir di ranah publik karena alasan politis, saya akan coba memperlihatkan beberapa contoh ekspresi keagamaan pada ranah publik di Indonesia yang menguntungkan publik. Contoh akan dimulai dengan yang terjadi pada konteks pandemi Covid-19 dan akan berlanjut pada contoh yang terjadi di luar konteks tersebut.

Mark Woodward (2020) dalam esainya yang berjudul Religious Holidays in the Plague Year – Lessons from the Indonesian Muhammadiyah Movement, memuji Muhammadiyah karena tindakan organisasi keagamaan ini menyikapi wabah Covid-19. Menurutnya, Muhammadiyah sangat mendukung sains dan berbagai pendekatan rasional sebagai langkah menuju pemecahan masalah. Dalam hal ini, teologi Muhammadiyah mirip dengan teolog Protestan Jerman abad ke-19 Friedrich Schleiermacher yang menulis gagasan tentang “perjanjian abadi” antara sains dan agama.

Jika dilihat dari akar keislamannya maka bisa dilihat bahwa Muhammadiyah tidak pernah melupakan ajaran muslim modernis serupa yang dirumuskan oleh Muhammad Abduh pada awal abad ke-20 dan seringkali menjadi tema dalam berbagai khutbah Muhammadiyah. Muhammadiyah juga menjalankan jaringan yang luas melalui sekolah, universitas, klinik, dan rumah sakit. Dalam hal ini program sosial Muhammadiyah oleh Woodward dianggap mirip dengan yang ada di Gereja Katolik Roma di Amerika Serikat.

Pada 24 Maret, Muhammadiyah telah mengeluarkan sebuah fatwa untuk menunda Salat Jumat yang biasanya wajib. Muhammadiyah menganjurkan umat muslim untuk beribadah di rumah masing-masing. Pada 26 Maret, Muhammadiyah mengeluarkan siaran pers tentang petunjuk dalam melaksanakan ibadah (darurat) di bulan Ramadan (2020) yang terdiri dari empat poin dasar:

  • Salat malam khusus (tarawih) yang biasanya dilakukan di masjid dapat dilakukan di rumah. Acara keagamaan termasuk khotbah dan ceramah tidak perlu.
  • Puasa adalah wajib bagi umat Islam kecuali bagi mereka yang sakit. Orang sakit harus mengikuti peraturan syariah biasa untuk mengganti puasanya di kemudian hari.
  • Petugas kesehatan tidak diwajibkan berpuasa saat bertugas. Mereka harus mengikuti peraturan syariah biasa untuk menggantinya dengan puasa di kemudian hari.
  • Tidak perlu melakukan salat bersama pada Idul Fitri. Orang-orang tidak boleh terlibat dalam perayaan adat, termasuk ‘mudik’ yakni kembali ke kota dan desa asal mereka untuk mengunjungi kerabat di akhir bulan, pawai, dan berbagai perkumpulan.

Putusan ini tersebut menurut Woodward tidak hanya didasarkan pada pertimbangan kesehatan masyarakat saja. Tetapi Muhammadiyah juga menyertakan apa yang nampak sebagai pembenaran agama berdasarkan kutipan dari Alquran dan Hadis. Dari sini bisa kita lihat bahwa tafsiran dan ekspresi keagamaan Muhammadiyah membantu penanganan Covid-19 dan tentu saja tidak anti terhadap sains.

Ekspresi keagamaan Muhammadiyah dalam menghadapi pandemi Covid-19 tidak berhenti pada hal-hal di atas saja. Pada tanggal 5 Maret 2020, resmi dibentuk “Muhammadiyah Covid-19 Command Center” untuk meningkatkan akselerasi program penanganan Covid-19. Jumlah Rumah Sakit yang disiapkan oleh Muhammadiyah bertambah, semula 15 Rumah Sakit bertambah menjadi 20 Rumah Sakit. Programnya meluas menjangkau sekolah, perguruan tinggi, dan komunitas untuk edukasi dan pencegahan.

Tak hanya Muhammadiyah, berbagai rumah sakit yang dimiliki oleh organisasi-organisasi keagamaan lain juga secara sigap membantu penanganan Covid-19. Tanpa mengecilkan peran pihak lain, saya kira kita tentu kita bisa sepakat bahwa tanpa bantuan organisasi-organisasi keagamaan yang memiliki rumah sakit seperti Rumah Sakit Bethesda dan Rumah Sakit Panti Rapih di Yogyakarta atau alat-alat kesehatan yang disumbang oleh organisasi keagamaan seperti Yayasan Buddha Tzu Chi kepada rumah sakit-rumah sakit milik pemerintah maka sekarang tentu saja pemerintah akan lebih kewalahan lagi menghadapi wabah ini.

Di luar konteks pandemi sekarang, kita bisa saksikan ekspresi keagamaan di ranah publik lain yang menguntungkan publik seperti ribuan sekolah yang didirikan oleh organisasi-organisasi keagamaan. Bayangkan saja berapa banyak orang yang kemudian mengenal sains bahkan menjadi saintis karena belajar di sekolah-sekolah yang didirikan oleh organisasi-organisasi keagamaan.

Hal tersebut jelas adalah kontribusi besar bagi publik oleh organisasi-organisasi yang menganut sebuah paham yang seringkali dipersepsikan sebagai anti-sains. Bahkan Anda bisa lihat bahwa siswa-siswi dari sekolah yang didirikan oleh organisasi-organisasi keagamaan seperti BPK Penabur atau Kolese Kanisius misalnya, mendominasi perolehan medali Olimpiade Sains Nasional dalam berbagai cabang dari SD-SMA dari tahun ke tahun. Mereka-mereka itu akan jadi saintis masa depan Indonesia.

Ada pula cerita tentang gerakan-gerakan pelestarian lingkungan hidup yang dimotori oleh kelompok agama. Misalnya, petani lokal di Kendeng, di Jawa Tengah, yang mempraktikkan ajaran Samin, sebuah agama tradisi Jawa yang digunakan sebagai alat memerangi kolonialisme Belanda pada akhir abad 19 dan 20, memprotes karena tanah suci mereka diambil alih perusahaan Belanda untuk penambangan semen. Ironisnya, justru ketika Indonesia sudah merdeka mereka tetap harus melanjutkan protes mereka karena kali ini pihak Negara Indonesia sendiri yang menambang di tanah suci mereka.

Agar Bisa Menguntungkan Publik, Objektifikasi adalah Keharusan: Sebuah Penutup

Ekspresi keagamaan di ranah publik yang menguntungkan publik ini menurut saya hanya bisa muncul jika umat beragama melakukan objektifikasi pada tafsir dan ekspresi keagamaannya. Objektifikasi adalah usaha untuk membuat ekspresi keagamaan para penganutnya menjadi bermanfaat untuk banyak orang termasuk mereka yang tidak menganut agama tersebut. Contoh-contoh praktiknya sudah saya sebutkan di atas.

Objektifikasi sendiri hanya akan mungkin terjadi jika para penganut agama bisa mengembangkan penafsiran agama yang individual menjadi penafsiran agama yang sosial struktural (Kuntowijoyo, 2017). Perlu diingat bahwa objektifikasi ini akan membawa keuntungan juga bagi para penganutnya. Manfaat yang pertama, objektifikasi akan membuat ajaran agama mereka dianggap masih relevan secara sosial.

Kedua, objektifikasi bisa mengurangi bentrokan dengan orang-orang yang tidak menganut ajaran agama yang sama dengan mereka. Ketiga, objektifikasi bisa mengurangi ketegangan antara agama dan sains karena dalam praktiknya objektifikasi ekspresi keagamaan di ranah publik agar bermanfaat bagi publik hanya akan efektif jika menggunakan sarana sains.

Paparan rinci tentang bagaimana mengobjetifikasikan tafsiran dan kemudian ekspresi keagamaan di ranah publik agar menguntungkan publik tentu saja perlu kajian lebih lanjut. Tapi sekarang kita tahu jika ada objektifikasi oleh para penganutnya, ekspresi keagamaan di ranah publik sangat mungkin bersifat inklusif dan menguntungkan banyak pihak.

 

Referensi

Dhakidae, Daniel. 2003. Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kuntowijoyo. 2017. Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Woodward, Mark. 2020. Religious Holidays in the Plague Year – Lessons from the Indonesian Muhammadiyah Movement.

[1] Paparan saya mengenai hal ini adalah paparan yang sama dengan tulisan saya di Indoprogress berjudul State Islam: Tentang Islam yang Direstui oleh Negara di Indonesia dengan beberapa modifikasi.

*Sumber gambar: cruxnow.com

Sains Memang Tidak Sempurna, Tapi Ia adalah Jenis Pengetahuan Terbaik yang Mungkin Kita Punya

0
Karl Popper

Goenawan Mohamad (GM), sang budayawan adiluhung itu, memang seorang peragu—walau mungkin ia jenis peragu yang syahdu. Kali ini ia ragu pada ilmu (science). Ia mengutip Popper, Husserl, dan Heidegger untuk mempertahankan keraguannya. Namun, sejauh mana keraguan GM pada sains itu dapat dipertahankan?

Ulil, yang juga dikenal sebagai tokoh liberal sebagaimana GM, mengungkapkan ketidaksukaannya pada saintisme—yang ia bedakan dari sains. Ia kagum pada sains, tapi jengkel dengan saintisme. Sebab, menurutnya, saintisme adalah sebuah “kepongahan saintifik” dan sains per se tidak meniscayakan saintisme. Namun, mungkinkah sains tanpa saintisme? Juga seberapa relevan kritiknya terhadap apa yang ia sebut “saintisme” itu?

***

Dalam tanggapannya untuk kritik AS Laksana, GM merasa perlu untuk mengutip Popper, karena pandangan Popper dianggap sebagai “caveat”, protes, terhadap sains. Benarkah? Tidak! Ini justru kembali membuktikan kebiasaan buruk GM dalam menulis esai: “cherry-picking” kutipan. Ia sengaja memilah-milih pernyataan pemikir-pemikir besar untuk mengonfirmasi pandangannya sendiri sembari menyembunyikan pernyataan lain dari pemikir yang sama. Itulah yang disebut sebagai “confirmation bias”.

Mari kita lihat bagaimana GM melakukan “confirmation bias”.

GM mencomot separuh paragraf dari kuliah Popper yang berjudul “Knowledge and the Shaping of Reality: The Search for a Better World”:

“Despite my admiration for scientific knowledge, I am not an adherent of scientism. For scientism dogmatically asserts the authority of scientific knowledge; whereas I do not believe in any authority and have always resisted dogmatism; and I continue to resist it, especially in science. I am opposed to the thesis that the scientist must believe in his theory…”

Potongan separuh paragraf itu sebenarnya punya konteks khusus, tetapi oleh GM digunakan untuk mengonfirmasi pandangannya sendiri yang berusaha memberi protes pada sains. Popper bukan jenis pemikir yang meragukan sains—sebagaimana GM. Paragraf yang dikutip GM itu sebenarnya bukan pandangan Popper tentang sains, melainkan hanya klarifikasi terhadap pernyataan sebelumnya yang, kata Popper, ”will doubtless lead to my being associated with ‘positivism’ or with ‘scientism’ once again”.

Apa pernyataan Popper sebelum paragraf tersebut? Ia menulis:

“We live in a time in which irrationalism has once more become fashionable. Consequently, I want to begin by declaring that I regard scientific knowledge as the best and most important kind of knowledge we have—though I am far from regarding it as the only one”.

Meskipun bukan satu-satunya, kata Popper, pengetahuan ilmiah merupakan jenis pengetahuan terbaik dan terpenting yang kita punya. Ini membuktikan bahwa potongan paragraf Popper yang dikutip GM itu—bahkan keseluruhan pemikiran Popper sendiri—tidak tepat dijadikan sebagai alat protes pada sains. Bahkan kriteria keterbantahan (falsifiabilty) dalam falsifikasionisme Popper sebenarnya merupakan lanjutan dari tradisi positivisme logis yang membuat demarkasi antara sains dan nonsains atau pseudosains. Artinya, baik Popper maupun kaum positivis logis sama-sama mengakui perlunya ada pembedaan tegas antara sains dan nonsains. Hanya saja kedua pihak itu mengajukan kriteria pembedaan yang berbeda: positivisme logis mengajukan kriteria keterbuktikan (verifiability); sementara Popper mengajukan kriteria keterbantahan (falsifiabilty). Jadi, alih-alih memprotes sains, falsifikasionisme Popper hanya mengkritik cara positivisme membedakan sains dan nonsains.

Itu kekeliruan pertama GM. Hal kedua yang membuat esai GM itu kurang berdasar adalah saat ia membuat proposisi implikatif:

“Ketika sains menjadi panglima — ketika masyarakat menonjolkan (“asserts”) otoritas pengetahuan ilmiah untuk menjelaskan pelbagai hal — sains akan terdorong mengedepankan kepastian, bukan masuk ke dalam proses pencarian kebenaran”

“Dalam posisi sebagai sumber utama, ilmu ini mau tak mau didorong “mengistirahatkan” prosesnya sendiri. Ia tak bisa berpanjang-panjang melakukan riset”.

Dua premis tersebut jelas merupakan klaim besar yang menuntut pembuktian: Benarkah ketika sains menjadi panglima, sains akan terdorong mengedepankan kepastian? Benarkah ketika ilmu dijadikan sebagai sumber utama, ilmu pasti berhenti berproses mencari kebenaran? Itu semua mungkin hanya benar dalam pikiran GM sendiri. Sebab apa yang membuat sains spesial, yang membuatnya layak dijadikan sumber utama memahami dunia alamiah, adalah adanya prinsip umum dalam komunitas ilmiah yang—oleh Lee McIntyre—disebut “scientific attitude”: bahwa ilmuwan mesti punya kesiapan untuk mengubah teorinya jika ada bukti empiris yang menyangkalnya. Dengan prinsip itu, alih-alih menjadi produk pengetahuan yang beku, sains tak lain adalah sebuah proses yang akan melahirkan “scientific progress”. Artinya, kita memercayai sains untuk menjadi panglima dalam memahami dunia alamiah bukan karena ia menjanjikan kepastian, melainkan karena ia bisa mengoreksi dirinya sendiri (self-correcting) di hadapan data-data baru yang terus bermunculan. Begitu sains tak lagi bisa mengoreksi dirinya sendiri, maka ia bukan lagi sains, tetapi sudah berubah menjadi dogma. Dengan demikian, secara epistemologis, tidak ada korelasi niscaya antara sains sebagai panglima dengan sains yang mencari kepastian. Sebab, semakin ia tidak pasti—dalam arti: terus memperbaiki diri—maka sains semakin layak kita percayai.

Satu-satunya kritik GM terhadap sains yang cukup berdasar adalah saat ia memanggil Husserl dan Heidegger. Namun, bagi saya, kritik Husserl terhadap sains itu juga sedikit problematik. Apa yang Husserl maksud sebagai “Krisis” dalam The Crisis of European Sciences and Transcendental Phenomenology adalah hilangnya kebermaknaan sains bagi dunia-kehidupan (Lebenswelt) yang secara langsung dialami oleh manusia. Karenanya, bagian pertama buku ini adalah “The Crisis of the Sciences as an Expression of the Radical Life-Crisis of European Humanity”. Dengan kata lain, apa yang disebut sebagai “krisis sains” di situ bukanlah krisis epistemologis yang terjadi pada sains itu sendiri, melainkan krisis kemanusiaan yang—kata Husserl—disebabkan oleh sains yang bekerja dengan fondasi matematika. Sains menjadi jauh dari dunia yang konkret, dunia yang kita hidupi bersama. Di situ sains menjadi sesuatu yang nirmanusia. Maka, untuk mengatasi krisis kemanusiaan yang disebabkannya, sains mesti mengubah fondasinya: dari matematika ke fenomenologi transendental. Sains seharusnya tidak berangkat dari kalkulasi matematis, tetapi dari pengalaman langsung manusia dalam dunia kehidupannya.

Tawaran itu, jika diterapkan pada bidang ilmu seperti antropologi dan etnografi, mungkin cukup besar signifikansinya. Namun, begitu diterapkan pada ilmu alam, ia justru akan menyulitkan ilmuwan untuk bekerja. Bagaimana cara ilmuwan untuk punya pengalaman langsung tentang virus, misalnya? Apakah ia perlu diinfeksi virus terlebih dahulu agar pengetahuannya tentang virus menjadi pengetahuan yang valid? Jika memang harus demikian, tidak akan ada lagi orang yang mau menjadi ahli virologi, kecuali mungkin tuan GM sendiri.

Kritik Heidegger terhadap sains—juga terhadap teknologi—bisa saya terima: bahwa dunia yang tampil melalui sains (juga melalui teknologi) adalah dunia yang telah mengalami pembingkaian (enframing). Pembingkaian inilah, kata Heidegger, yang menjadi esensi dari teknologi. Namun, pertanyaannya: memangnya ada jenis pengetahuan lain yang tidak membingkai atau—dalam istilah GM—“mereduksi” objeknya? Menghadapi pertanyaan ini, Heidegger di fase akhir pemikirannya kemudian melirik puisi. Di situlah kritik Heidegger terhadap sains pada akhirnya tidak menghasilkan apa-apa, selain hanya kata-kata penuh metafora.

***

Tulisan panjang Ulil, yang banyak menyebut nama ilmuwan dan filsuf (alias: name-dropping), sebenarnya hanya punya satu poin bahwa ia tidak suka dengan saintisme yang ia definisikan sebagai “pandangan yang melihat sains modern—terutama sains dalam pengertian ilmu-ilmu kealaman—sebagai model paradigmatik bagi pengetahuan manusia yang paling sempurna, karena memberikan dasar-dasar pengetahuan yang pasti dengan berbasis data-data empiris”. Selebihnya adalah otobiografi intelektual Ulil sendiri.

Saya tidak akan mengomentari perjalanan intelektual Ulil sebab ia memang tidak penting untuk polemik ini. Saya hanya akan menunjukkan satu kekeliruan dan satu kelemahan Ulil dalam mengungkapkan ketidaksukaannya pada saintisme.

Ulil keliru mendefinisikan saintisme. Dalam arti yang diberikan oleh kamus, “scientism” setidaknya punya dua pengertian: 1) methods and attitudes typical of or attributed to the natural scientist; dan 2) an exaggerated trust in the efficacy of the methods of natural science applied to all areas of investigation (as in philosophy, the social sciences, and the humanities).

Pengertian pertama merupakan pengertian asali dari saintisme. Dalam lingkup pengertian itu, Mario Bunge kemudian mendefinisikan saintisme sebagai “the thesis that all cognitive problems concerning the world are best tackled adopting the scientific approach, also called ‘the spirit of science’ and ‘the scientific attitude’.”

Semua persoalan pengetahuan tentang dunia sebaiknya diselesaikan dengan menggunakan pendekatan ilmiah atau “sikap ilmiah”. Itulah poin utama tesis saintisme yang muncul di tengah gerakan Pencerahan Prancis abad ke-18. Di dalam tesis ini, sama sekali tidak ada kepongahan seperti yang dituduhkan oleh Ulil; saintisme justru merupakan antitesis dari sikap keras kepala. Ilmuwan harus selalu tunduk pada bukti-bukti empiris yang ditemuinya, bukan pada keyakinan personal atau bahkan teori yang telah dirumuskannya. Dalam pengertian inilah, kata Bunge, “para ilmuwan mempraktikkan saintisme bahkan meskipun mereka tidak pernah mengenal kata itu”. Apakah salah jika ilmuwan alam menuntut orang yang menekuni bidang-bidang keilmuan lain seperti ilmu sosial untuk memiliki sikap ilmiah yang sama? Saya pikir, baik secara etis maupun epistemologis, tidak ada yang salah dalam tesis semacam itu.

Namun, belakangan istilah ‘saintisme’ digunakan dalam pengertian peyoratif seperti pada arti kedua yang diberikan oleh kamus. Ia menjadi semacam kartu joker (wild-card) yang bisa digunakan untuk mencemooh ilmuwan mana saja tanpa kriteria yang jelas. Begitu ada ilmuwan yang membeberkan temuan ilmiah yang bertentangan dengan keyakinan personal seseorang, maka kartu joker ini bisa dikeluarkan dengan menuduh ilmuwan tersebut mengidap penyakit saintisme.

Dalam pengertian peyoratif itulah, Ulil menyusun definisinya tentang saintisme. Namun, dalam pengertian peyoratifnya sekalipun, saintisme sebenarnya tak seremeh yang digambarkan Ulil sebagai “kepongahan saintifik”. Ia adalah sebentuk reduksionisme yang termanifestasi dalam naturalisme. Naturalisme, dalam dua varian utamanya, dibangun di atas dasar ontologis dan epistemologis yang rigid; sementara kritik Ulil terhadapnya hanyalah kritik etis yang tampak begitu lemah—jika bukan malah tidak punya dasar sama sekali, selain hanya dasar ketidaksukaan pribadi.

Kritik berdasarkan ketidaksukaan tidak pernah membuktikan apa pun tentang hal yang dikritiknya. Kita bisa tidak suka terhadap apa saja, tanpa membuktikan bahwa ia salah. Hukum gravitasi akan tetap sahih dan terus bekerja, betapa pun kita membencinya. Jika Ulil memang hendak mengkritik naturalisme, semestinya ia membangun kritik metodologis atau ontologis. Tanpa kritik semacam itu, kritiknya terhadap naturalisme hanya akan menjadi kritik yang tidak relevan dan juga takberdasar.

***

Catatan ini bukan untuk mengagung-agungkan sains. Sains tetap bukan sesuatu yang sempurna. Namun, ia adalah satu-satunya pengetahuan terbaik tentang dunia alamiah yang mungkin kita punya. Dan filsafat adalah cara paling tepat untuk melakukan evaluasi kritis terhadapnya.

_________________

*Tulisan ini pertamakali dimuat dalam akun facebook pribadi penulis 2 Juni 2020.

**Sumber gambar: economist.com

Christian Transhumanism: An Apologetic Endeavour?

0
christian transhumanism

One of the reasons why Christianity is almost always one step ahead of other world religions is the socio-historical fact that places Christianity vis á vis with the development of modern Western society. This fact is difficult to find in other religions that become the biggest number in developing countries, which are still struggling to overcome the basic human problems; Human rights, violence, discrimination, or even starvation. It is almost difficult to imagine the debate on evolutionism and religion growing in Indonesia other than only in small academic circles, which in some cases was too late from the original debate. We also hardly ever have a debate about whether the earth or the sun is the center of the solar system; it may be because we are not directly correlated with the issue. Thus at least we can then understand the important position of Christianity in the most recent debate of the century; between religion and transhumanism.

Transhumanism becomes one of the important issues not only because it is promoted by elite Silicon Valley figures, rather because of its provocative ideas which presuppose radical implications for the whole structure of human social life. The big idea promoted by transhumanism may seem simple, if not unrealistic. In short, transhumanism presupposes a life in which humans and technology are merged, or what is commonly called the age of ‘singularity.’ As stated by Elon Musk, we must merge with machines to surpass the existential threat of Artificial Intelligence (AI). Indeed, the consequences of this idea haunt all aspects of life; economic, political, cultural, and even religious. Hence, this article will only talk about the last one with the underlying reason that religion is the social aspect of human life that is the most difficult to adapt to the times.

The Origin of the Idea: Christian vs. Secular Transhumanism

The debate about the origin of terminology is perhaps the most cliché of a discourse; where do the terms modernism, post-modernism, secularism, etc. come from. The discourse on transhumanism also does not escape from such debate; occasionally associated with the term übermensch (superman, overman), which was conceived by Nietzsche, was frequently referred to in Teilhard’s writing in his book The Future of Mankind (1949), and often attributed to Julian Huxley who gave a rigid definition:

The human species can, if it wishes, transcend itself —not just sporadically, an individual here in one way, an individual there is another way, but in its entirety, as humanity. We need a name for this new belief. Perhaps transhumanism will serve: man remaining man, but transcending himself, by realizing new possibilities of and for his human nature. “I believe in transhumanism”: once there are enough people who can truly say that, the human species will be on the threshold of a new kind of existence, as different from ours as ours is from that of Peking man. It will at last be consciously fulfilling its real destiny (J. Huxley in Manzocco, 2019: 26-27).

Not only Nietzsche but also do Teilhard and Huxley believe that humans are states that must be surpassed. However, how to realize it? Of course, it is in this question that Julian Huxley is often regarded as the person to whom the term transhumanism deserves to be attributed. Apart from using the term literally, he also gave a fairly comprehensive definition of what he meant by ‘transhumanism.’ However, the very idea of ​​transhumanism itself actually can hardly be attributed to anyone. The same idea as promoted by transhumanism had begun to develop in the early 19th century through fictional works such as Frankenstein; or, The Modern Prometheus (1818), which tells of a figure who succeeded in conquering death through chemistry. Other more contemporary narratives can also be read in the short stories of Isaac Asimov, especially The Last Question (1956) which tells how humans managed to fuse with computers.

Of course, the idea of ​​such transhumanism, which presupposes humans and technology to fuse together, is the most commonly accepted idea. And those who claim to be transhumanists (H +) naturally follow this definition. However, some people say that it is an idea of ​​secular transhumanism, which presupposes an anti-religious association or even a new, anti-god religion because it proposes an idea of ​​salvation through immortality with the help of science and technology.

In such accusations, Turner proposes a thesis that Christianity and transhumanism have much in common in the sense that Christians are very aware of the techno-political crisis that impacts other crises; ecosystems, urban infrastructure, and the possibility of chemical and biological weapons. In light of that assumption, Turner proposes a new phrase ‘Christian transhumanism’ as a kind of solution—or may be an apologetic neologism.

Turner argues that the term ‘transhumanism’ was actually first used by the Italian poet, Dante (c. 1265-1321) in his book The Divine Comedy. Dante coined a new word, trasumanar (to go beyond the human), to describe the glorious transformation that humans will achieve in the eternal presence of God. This concept, as explained by Harrison and Wolyniak (in Turner, 2017: 37), can be traced further to the Pauline epistle. Furthermore, Turner states that such an understanding can also be found in several biblical writers who state that humans are destined to go beyond the forms and limits of current humanity — in 1 John 3: 2, 1 Cor 13.12 (Turner, 2017: 37 -38). By quoting Harrison and Wolyniak:

“Dante’s allusions to the biblical text are evident not merely from general context, but also from his mention of the ineffability of the experience and his questioning of whether it had taken place in bodily form or not—both of which are rehearsals of St Paul’s own speculation about the experience (Turner, 2017: 38).”

In light of that ‘ historical evidence’, Turner firmly states that transhumanism is actually a Christian concept at all. Reflecting on Dante’s invention, trasumanar, Turner proposed a new phrase so-called “Christian transhumanism.” Thus, what is the difference between Christian and secular transhumanism? Turner said that the difference does not lie in the use of technology, although conceptually, it is different; secular transhumanists use technology as the only tool to bring human enhancement, while Christian transhumanists go through the grace of God without rejecting technology. But the essential difference is not there; use of tools. According to Turner, the fundamental difference from Christian and secular transhumanists is in the goal; Christian transhumanist places the goal not on enhancement or expansion in themselves, but on personal openness to God’s transforming work (Turner, 2017: 42).

A Number of Debates. . .

The thesis put forward by Turner is merely a claim or apologetic-theological attempt to place Christianity on the same path as the transhumanism project. Such a position has actually also appeared in the writings of Micah Redding, executive director of the Christian Transhumanist Association (CTA), entitled ‘Christianity is Transhumanism.’ According to Redding,

In Jesus, we see the unification of the human and the divine, the embrace of both out physicality and our limitlessness. Jesus shows us that our world is not to be abandoned, but transformed; that life is not futile, but full of hope. In his bodily existence, he affirms our science, our technology, our medicine, our present reality and our future potential. And so every end in Christianity is the end of boundaries, the end of constraints, the end of limitations […] This is Christianity, and this is transhumanism.[1]

On its official website (christianshumanism.org), the CTA formulates five basic principles called The Christian Transhumanist Affirmation. First, we believe that God’s mission involves the transformation and renewal of creation. In other words, we are fully involved in God’s work; working against illness, hunger, oppression, injustice, and death. Second, we seek growth and progress along every dimension of our humanity, whether physical, mental, or spiritual. Third, we recognize science and technology as tangible expressions of our God-given impulse to explore and discover. Fourth, we are guided by Jesus’ greatest commands to “Love the Lord your God with all your heart, soul, mind, and strength … and love your neighbor as yourself.” Fifth, we believe that the intentional use of technology, coupled with the following Christ, will empower us to become more human across the scope of what it means to be creatures in the image of God.[2]

However, it is a truism that the pros and cons are always necessary. Many Christians and including theologians reject the idea of ​​transhumanism and affirmation of it. Quantitatively, we can read rough data about this in a research report conducted by Pew Research in 2016 on how the response of the people (Americans) regarding human enhancement technology. The results show that 60-65% of Americans who claim to be “highly religious” consider that technological development (gene editing 64%, brain chip 65% implant, and synthetic blood 60%) against the nature and crosses of a line we should not cross. In comparison, 28-36% of those with low religious commitment tend to be enthusiastic.[3]

The data at least shows that the majority of religious people, most of whom are Christians, have not been able to accept—if not oppose—the technological developments that transhumanism wants to realize. These rejections also come from theologians, one of whom is J.P. Bishop. In his analysis, which used Nietzsche’s concept of power ontology, Bishop stated emphatically that “the resurrected body of Christ is not Kurzweil’s silicon body of the singularity. The resurrected body of Christ is confounding to all humanisms, even the really smart transhumanist men and women who would wield power over those who lack it. The resurrected body of Christ will appear as folly to the power ontology of transhumanism […] The god of that mythology is the post-human idol, to which we as Christians cannot sacrifice and to which we cannot bend the knee (Bishop, 2018: 133).”

Some Consequences. . .

Assuming religion on the same altar with secular ideas is clearly not an easy task, if not impossible. [Secular] transhumanism obviously knows no boundaries held by a religion, including Christianity. Transhumanism doesn’t care about the existence of God and the soul or vice versa; instead tends to prove that the two entities did not exist at all, because ultimately humans can survive and be immortal with the help of technology. Assume that the mind uploading project is successful, then our mind is implanted in the body of a cyborg, so what do we call the soul all this time, is it not just a collection of information in our brain? Suppose that we can live forever through technology, then what is the meaning of heaven and hell, what is the sense of the day after death, the day of judgment?

We need to revise, or even abandon, many things if we want to affirm transhumanism as well as a religion at the same time. Religious people should change or dispose of many key concepts that have been believed to be the locus of faith in the face of the success of transhumanists in realizing their ideals. Even without affirmation, the achievements of transhumanism will become the greatest enemy of religion. In its worst case, there will be many conservative movements that emerge in the framework of thwarting these projects in order to maintain the truth of their beliefs.

Thus, what and where do religions need to place themselves? I argue that religion clearly has no places other than only for their psychological aspects. That is, we only need to discuss the religion and technological enhancements promoted by transhumanists in the relations of debate which are discussed in terms of psychological evaluations; are they really able to bring people out of suffering? Are they able to answer human anxieties?

It is precisely on those questions we can discuss religion, including Christianity, in the age of transhumanism. I still believe that as long as religions do not lose their psychological aspects, in the sense that one can rely their existential issues on religions, then religions will remain relevant in any condition. Or, perhaps, it is true that religion is solely about psychological issues? []

References 

Bishop, J. P. (2018). Nietzsche’s power ontology and transhumanism: Or why Christians cannot be transhumanists. In Christian Perspectives on Transhumanism and the Church (pp. 117-135). Palgrave Macmillan, Cham.

Cole-Turner, R. (2017). Christian Transhumanism. In Religion and Human Enhancement (pp. 35-47). Palgrave Macmillan, Cham.

Manzocco, R. (2019). Transhumanism: Engineering the Human Condition: History, Philosophy and Current Status. Springer.

End Notes

[1] http://hplusmagazine.com/2014/05/22/christianity-is-transhumanism/, accessed on 29th May 2020.

[2] https://www.christiantranshumanism.org/, accessed on 30th May 2020

[3] https://www.pewresearch.org/science/2016/07/26/u-s-public-wary-of-biomedical-technologies-to-enhance-human-abilities/, accessed on 30th May 2020

Featured images: christianitytoday.com

Richard Dawkins: Tentang Keajaiban dan Skala Probabilitas

0
dawkins bwm

Jadi, apa yang kita maksud dengan keajaiban (mukjizat)? Keajaiban adalah sesuatu yang terjadi secara sangat mengejutkan. Jika patung marmer Sang Perawan Maryam tiba-tiba melambaikan tangannya pada kita maka kita boleh menganggapnya sebagai keajaiban sebab pengalaman dan pengetahuan yang kita miliki mengatakan bahwa marmer tidak berbuat demikian. Saya baru saja mengatakan ‘Semoga saya disambar petir sekarang juga’. Jika petir benar-benar menyambar saya saat itu juga, maka ia boleh dianggap keajaiban. Namun sesungguhnya tidak satu pun dari dua kejadian ini dapat diklasifikasikan sebagai hal yang sepenuhnya mustahil (impossible) oleh sains. Paling jauh, keduanya hanya dapat diklasifikasikan sebagai hampir tidak mungkin (improbable), patung marmer yang melambai lebih tidak mungkin daripada sambaran petir. Petir memang menyambar orang, akan tetapi kemungkinannya (probability) sangat rendah dalam satu waktu (meskipun Guinness Book of Records menggambarkan kisah unik seorang pria dari Virginia yang dijuluki manusia penangkal petir setelah sembuh dari sambaran petirnya yang ketujuh dengan ekspresi muka yang bingung). Satu-satunya hal yang ajaib dalam cerita hipotetis saya tersebut adalah kejadian yang terjadi secara kebetulan (coincidence) antara saya yang disambar petir dengan ungkapan saya yang mengundang datangnya petir tersebut.

Coincidence adalah ketidakmungkinan yang multipel (multiplied improbability). Kemungkinan saya disambar petir sekali dalam hidup saya adalah 1 banding 10 juta berdasarkan perhitungan klasik. Kemungkinan saya berdoa untuk sambaran petir pada waktu tertentu juga sangat rendah. Saya sudah melakukannya selama 23.400.000 menit dalam hidup saya sejauh ini, dan saya ragu apakah akan melakukannya lagi, jadi saya sebut saja ia 25 juta. Untuk menghitung probabilitas yang rendah dari suatu keadaan yang terjadi secara kebetulan pada saat yang sama maka kita lipatgandakan dua probabilitas pada kejadian tersebut. Berdasarkan perhitungan kasar yang saya lakukan, hasilnya adalah 1 banding 250 triliun. Jika kejadian ajaib tersebut terjadi pada diri saya, maka saya akan memanggilnya mukjizat dan saya akan lebih berhati-hati dalam menjaga ucapan saya ke depan. Akan tetapi, meskipun tingkat kejanggalan dalam kejadian tersebut sangat tinggi, kita masih bisa menghitungnya. Secara literal, mereka tidak berarti nol [penj: nihil].

Dalam kasus patung marmer, gugusan molekul dalam marmer yang keras secara terus-menerus berdesak-desakan satu dengan yang lainnya ke arah yang acak. Peristiwa desak-desakan oleh molekul yang berbeda-beda tersebut menghalangi satu sama lain untuk keluar dari posisinya, sehingga tangan patung secara keseluruhan tetap tidak bergerak. Namun jika, dengan kebetulan [penj: kemungkinan] yang tipis, seluruh molekul pada saat yang sama bergerak ke arah yang sama, maka tangan itu akan bergerak. Jika mereka selanjutnya pada saat yang sama bergerak ke arah yang berkebalikan, maka tangan tersebut akan bergerak mundur. Pada saat itulah mungkin bagi patung marmer untuk melambai ke kita. Itu bisa saja terjadi. Kejanggalan dalam kejadian tersebut sulit jika dibayangkan namun tidak mustahil untuk dikalkulasi. Seorang kolega sesama fisikawan dengan baik hati menghitungnya untuk saya. Angka yang dihasilkan sangat banyak sementara usia alam semesta sejauh ini terlalu singkat untuk menuliskan seluruh angka nol-nya! Secara teroritis mungkin saja bagi sapi untuk melompat ke bulan dengan tingkat ketidakmungkinan yang juga sama besarnya. Kesimpulan untuk argumen ini adalah bahwa kemampuan kita untuk menghitung ketidakmungkinan yang menakjubkan tersebut jauh lebih besar dan rumit daripada kemampuan kita untuk membayangkannya sebagai hal yang masuk akal.

Mari sekarang kita lihat pada apa yang kita maksud dengan masuk akal (plausible). Apa yang kita bisa bayangkan sebagai masuk akal hanyalah bagian kecil di tengah spektrum yang jauh lebih luas dari apa yang sesungguhnya mungkin. Terkadang ia lebih kecil dari kenyataan sesungguhnya. Analogi yang tepat untuk kasus ini adalah cahaya. Mata kita dibangun [penj: bukan diciptakan lho yaa] untuk mengatasi bagian kecil dari frekuensi elektromagnetik (sesuatu yang kita sebut cahaya), suatu bagian di tengah spektrum antara gelombang radio yang panjang di ujung yang satu dan sinar X yang pendek di ujung yang satunya. Kita tidak dapat melihat sinar di luar bagian cahaya yang kecil tersebut, tapi kita dapat melakukan kalkulasi dan kita juga dapat menciptakan instrumen untuk mendeteksinya. Dengan cara yang sama, kita tahu bahwa skala ukuran dan waktu juga sangat luas pada kedua sisinya melampaui domain yang bisa kita visualisasi. Pikiran biasa kita tidak mampu mengatasi skala yang begitu luas yang menjadi garapan ilmu astronomi atau skala kecil yang menjadi garapan ilmu fisika, namun kita dapat menggambarkan skala-skala tersebut dengan simbol-simbol matematis. Pikiran kita tidak dapat membayangkan jangka waktu sesingkat picosecond, tapi kita dapat mengkalkulasinya, dan kita dapat menciptakan komputer yang mampu menyempurnakan kalkulasi-kalkulasi dalam picosecond. Pikiran kita tidak dapat membayangkan jangka waktu sepanjang jutaan tahun, apalagi ribuan juta tahun seperti yang diperhitungkan oleh para geolog secara rutin.

Seperti halnya mata kita yang dapat melihat sebatas bagian kecil dari frekuensi elektromagnetik setelah mata nenek moyang kita sebelumnya dilengkapi oleh seleksi alam untuk melihat, begitu juga dengan otak kita dibangun untuk mengatasi bagian kecil dari skala ukuran dan waktu. Tampaknya nenek moyang kita tidak memiliki kebutuhan untuk mengatasi ukuran dan waktu di luar bayangan sempit kita sehari-hari, sehingga otak kita tidak mengembangkan kapasitas untuk membayangkannya. Mungkin penting untuk mengetahui bahwa ukuran tubuh kita sendiri yang hanya beberapa kaki berada di tengah-tengah jenjang ukuran yang bisa kita bayangkan. Dan masa hidup kita yang hanya beberapa dekade berada di tengah-tengah rentang waktu yang bisa kita bayangkan.

Kita bisa mengatakan hal yang sama pada ketidakmungkinan dan keajaiban. Gambaran tentang skala ketidakmungkinan bisa kita analogikan dengan rentang ukuran dari atom ke galaksi atau dengan rentang waktu dari picosecond ke aeon. Sepanjang skala itu kita temukan titik-titik penting. Di ujung kiri jauh dari skala tersebut adalah kejadian-kejadian yang pasti, seperti kemungkinan bahwa matahari akan terbit besok – subjek taruhan setengah sen G. H. Hardy. Di dekat ujung kiri dari skala tersebut adalah hal-hal yang hanya sedikit tidak mungkin, seperti mendapatkan angka enam dari dua pasang dadu yang dilempar dengan sekali lemparan. Tingkat kejanggalan dari kejadian ini adalah 1 banding 36. 1 mengharapkan kita untuk melakukannya cukup sering. Pindah ke sisi kanan dari ujung spektrum, titik penting selanjutnya adalah pembagian yang sempurna dalam permainan kartu, di mana setiap orang dari empat pemain menerima kartu yang sepenuhnya sama. Tingkat kejanggalan dari kejadian ini adalah 2.235.197.406.895.366.368.301.559.999 banding 1. Kita sebut saja dealion, satuan unit ketidakmungkinannya. Jika sesuatu dengan tingkat ketidakmungkinan sebesar satu dealion diprediksi dan kemudian benar-benar terjadi, maka kita boleh menyebutnya keajaiban kecuali, dan ini yang lebih mungkin terjadi, kita menduga ada kecurangan. Namun itu bisa saja terjadi dengan pembagian yang adil, dan itu sangat jauh jauh jauh lebih mungkin terjadi dibandingkan lambaian patung marmer pada kita. Meskipun demikian, bahkan kejadian yang terakhir, sebagaimana sudah kita diskusikan, memiliki tempat dalam spektrum kejadian-kejadian yang mungkin saja terjadi. Ia tetap bisa diukur, meskipun satuan unit ketidakmungkinannya akan jauh lebih besar dari gigadelion. Antara satu lemparan dua angka enam pada dua dadu dan pembagian sempurna pada permainan kartu adalah rentetan kejadian-kejadian yang kurang lebih tidak mungkin namun terkadang tetap terjadi, termasuk seseorang yang disambar petir, memenangkan hadiah besar dalam undian sepak bola, memasukkan bola dengan satu kali pukulan pada permainan golf, dan lain sebagainya. Termasuk dalam rentang ini juga, kejadian-kejadian yang terjadi secara kebetulan yang mengundang perasan ngeri dan merinding, seperti memimpikan seseorang untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade dan setelah bangun keesokannya ia mendapati orang tersebut meninggal pada malam harinya. Kebetulan-kebetulan yang mengerikan ini menjadi sangat berkesan ketika ia terjadi pada kita atau salah satu teman kita, namun tingkat ketidakmungkinannya tetap dapat diukur hanya dengan picodelion.

Setelah membangun skala matematis tentang improbabilitas (ketidakmungkinan) dengan titik-titik penting di sepanjang skala tersebut, mari sekarang kita fokus pada titik-titik dalam skala tersebut yang bisa kita atasi dengan menggunakan pikiran dan pemahaman sederhana yang kita miliki. Ukuran lebar skala titik tersebut sama dengan rentang frekuensi elektromagnetik yang bisa dilihat oleh mata kita, mendekati ukuran dan masa usia yang bisa kita bayangkan. Dalam spektrum improbabilitas, titik tersebut hanya mencakup rentang yang pendek dari ujung kiri dekat (kemungkinan) ke [penj: ujung kanan dekat] keajaiban-keajaiban kecil, seperti satu kali pukulan golf atau mimpi yang menjadi kenyataan. Di luar rentang titik tersebut, ada rentang yang sangat luas dalam spektrum improbabilitas yang tetap dapat dihitung secara matematis.

Otak kita dibangun oleh seleksi alam untuk menaksir kemungkinan-kemungkinan dan risiko, persis seperti halnya mata kita yang dibangun untuk menaksir panjang gelombang elektromagnetik. Kita difasilitasi untuk melakukan kalkulasi-kalkulasi mental terhadap risiko dan kejanggalan di sepanjang spectrum improbabilitas yang berguna untuk kehidupan manusia. Ini berarti risiko-risiko kemungkinan, katakanlah, untuk diseruduk banteng jika kita memanahnya, disambar petir jika kita berlindung di bawah satu pohon saat hujan badai disertai petir, atau tenggelam jika kita mencoba menyelam untuk menyeberangi sebuah sungai. Risiko-risiko tersebut dapat diterima dan sepadan dengan masa hidup kita yang hanya beberapa dekade. Jika secara biologis kita mampu hidup selama satu juta tahun, dan menginginkan hidup selama itu, kita perlu menaksir risiko-risiko secara berbeda. Kita harus terbiasa untuk tidak menyeberangi jalan, misalnya, karena jika Anda menyeberangi jalan setiap hari selama setengah juta tahun Anda pasti akan pernah tertabrak.

Evolusi telah melengkapi otak kita dengan kesadaran subjektif akan risiko dan improbabilitas yang cocok untuk ciptaan dengan masa hidup kurang dari satu abad. Nenek-moyang kita senantiasa dituntut untuk mengambil keputusan-keputusan yang meliputi risiko dan probabilitas, dan untuk itu seleksi alam telah melengkapi otak kita dalam rangka menaksir kemungkinan-kemungkinan akan adanya kejadian dalam masa hidup kita yang singkat yang, jika memungkinkan, bisa kita perkirakan. Jika di suatu planet ada makhluk dengan masa hidup selama satu juta abad, titik risiko yang dapat ditaksir oleh mereka akan melebar jauh ke ujung kanan kontinum [penj: spectrum]. Mereka akan berharap untuk dapat terbiasa dengan pembagian kartu permainan yang sempurna dari waktu ke waktu, dan jarang bermasalah kalau-kalau kejadian itu kembali terjadi. Namun mereka bahkan akan tetap kebingungan jika sebuah patung marmer melambai kepada mereka, sebab mereka harus hidup triliunan abad lebih lama untuk melihat kejadian yang luar biasa ini.

 

*Tulisan ini diterjemahkan dari cuplikan tulisan Richard Dawkins dalam bukunya, The Blind Watchmaker.

Konspiritualitas: Tumpang-Tindih antara Era Baru dan Kepercayaan pada Konspirasi

0
conspiracy

Saya ingin berbicara tentang upaya membuat masuk akal ketika segala sesuatu mulai menjadi kacau.

Beberapa minggu terakhir, kita menyaksikan teori konspirasi yang berkembang di tengah kegelisahan kita dalam menghadapi kebijakan karantina wilayah.

Seorang presenter olahraga yang hijrah menjadi promotor teori konspirasi David Icke mendapat panggung pada April lalu ketika sosoknya muncul dalam sebuah video di kanal London Real dan berpendapat bahwa Covid-19 disebabkan oleh 5G (mungkin sebagai bagian dari konspirasi global yang dijalankan oleh orde rahasia para kadal (penj: penjahat) asing yang disebutkan berkali-kali oleh Icke). Video tersebut ditonton jutaan kali di YouTube dan LondonLive sebelum akhirnya YouTube dan Ofcom memutuskan untuk mencabutnya kembali.

Pada minggu yang sama, sebuah film dokumenter dengan judul Out of Shadows muncul, mengingatkan kembali pada teori konspirasi ‘Pizzagate’ pada tahun 2016 di mana sebuah orde rahasia yang beranggotakan beberapa tokoh Demokrat dan artis Holywood diyakini menjalankan lingkaran kelompok pedofil yang berpusat di dua restoran piza di Washington. Penonton film dokumenter tersebut mencapai dua juta orang dalam satu hari.

Kita juga mendengar teori konspirasi bahwa Covid-19 adalah bagian dari sebuah agenda besar yang dipimpin oleh Bill Gates dan World Health Organization (WHO) untuk membuat dunia terpaksa harus menerima vaksin mereka yang sudah ditanamkan chip pengawas di dalamnya. Para penggemar teori konspirasi seperti Alex Jones, pemilik situs InfoWars, sudah sekitar satu dekade menyatakan bahwa pembiyaan Gates yang sangat besar terhadap upaya penemuan vaksin sebenarnya adalah rencana para ahli genetika untuk mengurangi populasi dunia. Teori ini diterima dengan antusias dan disebarkan sepanjang minggu ini oleh seorang pengusaha anti-vaksin, Dr. Shiva yang mengaku memperoleh email. Sebuah saluran televisi yang mewawancarinya telah ditonton sebanyak enam juta kali dalam satu minggu.

Saat ini, dalam banyak hal sebenarnya fenomena ini dapat diprediksi. Pandemi ini sudah menyebabkan runtuhnya ilmu pengetahuan (penj: akal) dan kepastian. Kita tidak banyak tahu tentang virus tersebut serta cara terbaik untuk menanganinya, yang kita tahu adalah bahwa ia telah membunuh sebagian banyak dari kita dan kita pun mulai ketakutan. Hal ini terjadi kepada seluruh umat manusia di saat yang sama kita juga terkoneksi satu sama lain dengan kehadiran internet.

Hal ini memberikan kesempatan yang unik bagi kelompok pemikir dan kepercayaan pinggiran untuk merebut panggung. Sebagian mungkin akan tertarik—katakanlah pada Universal Basic Income (UBI)—namun sebagian yang lain mungkin akan mengabaikannya.

Saya agak terkejut melihat beberapa tokoh penting dalam komunitas saya—yaitu aliran spiritualitas Barat—ikut menyebarluaskan teori-teori konspirasi yang saya sebutkan di atas. Saya sebenarnya berharap komunitas saya dapat menjadi layanan bagi problem-problem kemanusiaan sepanjang masa-masa krisis ini, alih-alih tergoda untuk ikut-ikutan menyebarkan gagasan-gagasan buruk (khususnya konspirasi anti-vaksin, mengingat vaksin tampak masih menjadi satu-satunya harapan terbaik kita untuk keluar dari krisis ini tanpa harus menunggu 1% populasi meninggal karena virus tersebut).

Hal tersebut membuat saya kembali mempertanyakan nilai-nilai kebudayaan kami. Apakah spiritualitas, khususnya, memiliki kecenderungan pada cara berpikir konspiratif?

Istilah ‘Teori Konspirasi’

Sebagaimana sejumlah tokoh Era Baru (New Age) katakan minggu ini, ‘teori konspirasi’ adalah istilah pelarian. Ia dapat menjadi jalan keluar paling sederhana untuk menyimpulkan sebuah topik pembahasan tanpa perlu repot-repot memikirkannya.

Sesuatu yang disimplikasi semata-mata sebagai ‘teori konspirasi’ justru memiliki kemungkinan untuk menyimpan sesuatu di baliknya. UFO dan benda-benda angkasa, misalnya, dipahami hanya sebagai teori konspirasi, namun bagi saya bukan tidak mungkin bahwa memang ada kehidupan di planet lain dan bahwa sebagian dari makhluk hidup tersebut mungkin lebih cerdas dari kita.

Pandangan bahwa ada agenda di balik peristiwa pembunuhan JFK adalah ‘teori konspirasi’ lain yang menurut saya bahkan mungkin lebih dari sekadar teori. Penyalahgunaan anak dalam Gereja Katolik adalah skandal lain yang dapat dianggap teori konspirasi ketika kasus tersebut benar-benar merupakan sebuah konspirasi—seperti kasus penyalahgunaan yang sengaja ditutup-tutupi oleh Vatikan.

Meskipun demikian, seseorang tetap membutuhkan metode pemilah yang kuat dan kritis di ambang batas tanah rawa-rawa yang berkabut ini (penj: istilah metafor untuk menyebut bidang kajian yang tidak pasti). Ketika kita mempelajari kasus Pizzagate, kita tampak berada di alam bawah sadar pikiran yang magis dan berpol—kode dan simbol-simbol rahasia, orde tersembunyi para penjahat yang sangat kuat dan menyesatkan. Di sini kita berada di wilayahnya Dan Brown.

Karakter-karakter Kepribadian Penikmat Spiritualitas dan Pikiran Konspiratif

Saya bertanya-tanya sepanjang minggu ini, mengapa harus ada tumpang-tindih antara komunitas saya—spiritualitas Barat—dengan teori-teori konspirasi?

Pertama-tama saya berpikir bahwa ada karakter-karakter kepribadian tertentu yang membuat seseorang cenderung menjadi ‘spiritualis namun tidak religius’—pikiran yang bebas, ketidakpercayaan pada otoritas dan lembaga-lembaga, kecenderungan pada kepercayaan dan pengalaman-pengalaman yang tidak biasa, kecenderungan untuk memahami pola-pola dan korespondensi tersembunyi, dan ketertarikan pada paradigma-paradigma alternatif, khususnya kesehatan alternatif—yang juga pada saat yang sama dapat membuat seseorang tersebut condong pada teori-teori konspirasi.

Ada beberapa bukti untuk mendukung argumen tersebut. Sebuah artikel pada tahun 2018 oleh Hart dan Graether, dari Journal of Individual Differences, menemukan, dari dua kali survei terhadap 1200 orang, bahwa indikator terkuat sebuah pemikiran konspiratif adalah ‘schizotypy’, yaitu sebuah karakter kepribadian yang membuat seseorang cenderung pada kepercayaan-kepercayaan dan pengalaman-pengalaman yang tidak biasa, seperti kepercayaan pada telepati, kontrol pikiran, penggalian spiritual, makna personal yang tersembunyi di setiap kejadian dan lain sebagainya. (Penj: Berdasarkan survei tersebut) Orang-orang yang ‘spiritualis namun tidak religius’ cenderung memiliki tingkat personalitas schizotopis yang lebih tinggi dibanding mereka yang religius atau bahkan tidak religius (penj: dan tidak spiritualis).

Kita harus sedikit lebih hati-hati di sini sebab ada risiko terjebak pada tautologi. Definisi ilmiah ‘schizotopis’ pada dasarnya mencakup ‘kepemilikan pada keyakinan-keyakinan spiritual’, sehingga tidak mengherankan jika orang-orang spiritualis memiliki tingkat schizotypis yang tinggi. Jadi, artikel tersebut sebenarnya tidak sedang memberitahu kita apa-apa kecuali bahwa orang-orang yang memiliki keyakinan dan pengalaman spiritualis juga cenderung pada teori-teori konspirasi. Dan ini tidak berarti bahwa mereka salah atau sakit secara mental. Akan tetapi, ini dapat berarti bahwa mereka tidak memiliki level yang tinggi dalam keyakinan dan pikiran yang kritis (penj: sebagaimana mereka memiliki level yang tinggi dalam schizotopis).

Artikel berikut menemukan bahwa kegemaran pada spiritualitas dan pengobatan alternatif berkorelasi dengan sikap anti-vaksin, sementara artikel yang berikut menemukan bahwa baik sikap anti-vaksin maupun pro pengobatan alternatif memiliki kaitan erat dengan kegemaran berpikir magis. Anda dapat menjadi pro-vaksin dan berpikir spiritualis pada saat yang sama sekaligus—Larry Brilliant, seorang epidemiologis yang telah membantu membasmi cacar, mengaku mendapatkan misi dari guru (penj: pimpinan spiritual) Ram Dass, Neem Karoli Baba, sebagaimana dia sebutkan di video berikut.

Konspiritualitas

Akhirnya, ada dua artikel penting di dalam studi agama-agama. Pertama adalah artikel tahun 2011 oleh Ward dan Voas dari Journal of Contemporary Religion (ah, sayangnya berbayar) tentang apa yang mereka sebut sebagai fenomena baru yang mengejutkan yaitu ‘konspiritualitas’—campur-aduk antara spiritualitas Era Baru dan pemikiran konspiratif. Mereka mendeskripsikan ‘konspiritualitas’ sebagai:

Sebuah jaringan pergerakan yang berkembang secara pesat dan menawarkan sebuah ideologi yang didorong oleh kekecewaan politis serta popularitas sebuah pandangan hidup alternatif. Anggotanya adalah tokoh-tokoh dunia, memiliki sejumlah bestseller, radio dan stasiun televisi. Mereka menawarkan sebuah filosofi politik-spiritual yang luas dan berdasarkan pada dua keyakinan inti, yang pertama tradisional dan condong pada teori konspirasi sementara yang kedua berakar pada Era Baru: 1) adanya sebuah kelompok rahasia yang dengan senyap mengontrol, atau berupaya mengontrol, tatanan politik dan sosial dan 2) bahwa kemanusiaan sedang mengalami sebuah ‘pergeseran paradigma’ dalam kesadaran. Para pendukung gagasan ini meyakini bahwa cara terbaik untuk mengatasi ancaman ‘tatanan dunia baru’ yang totalitarian tersebut adalah dengan bertindak sesuai dengan sebuah gagasan ‘paradigma baru’ yang tercerahkan.

Artikel tahun 2015 oleh Egil Epsrem dan Asbjorn Dyrendal merespon artikel Ward dan Voas di atas dengan mengatakan bahwa ‘konspiritualitas’ bukanlah sebuah fenomena baru yang mengejutkan, melainkan justru lahir dari konteks historis sebuah tradisi klenik pada abad ke-19 dan 20. Mereka menjelaskan:

Budaya pengkultusan dibanjiri dengan lahirnya sistem-sistem kepercayaan yang menyimpang dan praktik-praktik ritual yang menyertainya. Terlebih lagi, aliran komunikasi dalam budaya tersebut cenderung terbuka dan mencair sehingga memungkinkan konten apapun mengalir dengan mudah melaluinya. Berkurangnya peran ortodoksi kelembagaan memungkinkan individu untuk “menjajaki segala macam pergerakan dan kepercayaan secara cepat” sehingga dengan mudah mampu menjadi jembatan bagi apapun yang muncul ke permukaan sebagai praktik-praktik dan wacana-wacana yang berbeda. Diskursus-diskursus politik, spiritual dan (pseudo) saintifik semuanya memiliki tempat di sini, dan mereka dengan mudah bercampur-aduk. Disatukan oleh posisi oposisional yang sama terhadap wacana ‘Pembangunan’ alih-alih oleh ajaran doktrinal yang sama, teori konspirasi mampu membangun narasi utama yang mengikat wacana-wacana tersebut secara bersamaan.

Dengan kata lain, budaya klenik adalah cawan petri bagi upaya mengembangbiakkan segala jenis keyakinan sinkretik dan menyimpang, sebagian berguna, sementara sebagian yang lain justru mematikan (tergantung paradigma yang kamu gunakan).

Globalisme Ekstatis Versus Konspirasi yang Paranoid

Izinkan saya menambahkan sesuatu pada topik yang sedang hangat ini dengan mengatakan bahwa teori konspiritualitas adalah sejenis pengalaman mistis atau ekstatis. Saya ingin membandingkan dua jenis pengalaman mistis.

Yang pertama adalah sejenis pengalaman mistis yang ekstrovert dan bereuforia: ‘Segala sesuatu itu terhubung. Saya secara spontan tertarik pada penolong dan sekutu, alam semesta membawa kita menuju sebuah transformasi yang klimaks dan luar biasa (Kegembiraan, Poin Omega, Pergeseran Paradigma), dan kita adalah para tentara Tuhan yang tercerahkan dan dipilih oleh Tuhan/Alam Semesta untuk merealisasikan fase perubahan yang sangat mulia ini dalam sejarah manusia.

Yang kedua adalah versi ‘buruk’ dan paranoid sebuah perjalanan yang sesungguhnya ‘baik’ dan bereuforia: ‘Segala sesuatu terhubung, ada orde rahasia yang sedang mengawasi saya, tapi saya bukan bagian darinya. Ia adalah orde setan yang jahat, dan ia sedang mencoba mengontrol saya dan semua orang. Mereka memiliki sebuah agenda besar yang saat ini mulai diwujudkan. Akan tetapi, mungkin saya, dan orang lain atau dua orang lain, dapat menyadari adanya agenda tersebut, dan membongkarnya, atau setidaknya bersembunyi darinya.

Jenis yang pertama adalah sebuah ekspansi ego yang bereuforia (saya adalah Tuhan! Saya adalah alam semesta yang terus berevolusi) dan yang kedua adalah jenis persekusi ego yang paranoid (alam semesta dikontrol oleh kekuatan setan yang jahat dan melawan saya).

Dalam pengertian keduanya, individu tersadar dari realitas yang tersembunyi ini. Namun, dalam pengertian yang pertama, mereka adalah sekelompok inisiator yang superpower dalam tatanan yang tersembunyi dan katalisator bagi sebuah transformasi Millennarian, sementara dalam pengertian yang kedua mereka adalah para pemberontak yang rentan dan tidak memiliki kekuatan dalam sebuah tatanan yang sangat kuat. (Millennarian di sini maksudnya adalah bahwa, seperti Robbie Williams, Anda meyakini datangnya milenium baru, yaitu Era Cinta).

Keduanya adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama, dua sisi dari satu permainan. Keduanya adalah contoh dari pemikiran bawah sadar yang mistis, schizotopis, dan magis. Di dalam keduanya, ego adalah bagian dari drama kosmik yang agung—pada yang pertama, mereka adalah pembaharu yang ditunjuk oleh Tuhan untuk sebuah Perubahan Sejarah/kelahiran kembali (penj: nilai-nilai) kemanusiaan, dan pada yang kedua, mereka adalah pahlawan pemberontak sebuah tatanan tersembunyi.

William James, bapak psikologi Amerika, menjelaskan poin ini di dalam The Varieties of Religious Experience, di mana dia menulis bahwa paranoia adalah sejenis mistisisme yang menyeramkan. Sejenis mistisisme kegamaan yang kacau-balau. Sebuah perasaan yang sama dari sebuah nilai yang tidak terlukiskan pada kejadian-kejadian terkecil, kalimat-kalimat dan teks yang sama yang datang dengan membawa makna-makna baru, suara-suara, visi-visi serta misi-misi yang sama, cengkeraman yang sama oleh kekuatan-kekuatan asing; pada saat inilah emosi menjadi pesimis: alih-alih pelipur lara kita justru menimbun kepedihan; makna-makna berubah menjadi menakutkan; dan kekuatan menjadi musuh bagi kehidupan.

Jika kita melihat sejarah klenik (saya merekomendasikan tulisan Gary Lachmann, Secret Teachers of the Western World, sebagai pengenalan), sejak Reformasi sudah ada orde-orde rahasia kelompok globalis yang ekstatis dan berorientasi politik-spiritual yang didesain untuk menyukseskan proyek transformasi global kaum Millennarian. Itulah yang dilakukan misalnya oleh anggota Renaissance, Rosicrucian, Mason, dan Illuminati—serdadu-serdadu Pencerahan adalah penyokong teori konspirasi. Begitu juga dengan HG Wells dan ‘Konspirasi Terbuka’-nya—dia sebenarnya adalah penulis rasional, tapi dia ikut mendakwahkan sejenis agama baru yang universal, beraliran cinta kasih namun mengandung unsur klenik. Demikian juga para teosuf seperti Annie Besant. Demikian juga para pelopor Era Baru pada tahun 60-an seperti Marylin Ferguson (penulis The Aquarian Conspiracy, salah satu buku best-seller pada tahun 80-an) dan Barbara Marx Hubbard, pegiat spiritulitas global yang evolusioner. Anda mungkin masih dapat menambah tokoh-tokoh kontemporer dalam daftar tersebut—para globalis estatik berpandangan spiritual-politik yang sedang merindukan datangnya zaman keemasan baru demi terciptanya keadilan dunia, filsafat perenial serta cinta yang multidimensional.

Para Millenarian yang bergagasan global cenderung optimis (kita akan menjadi Tuhan! Kita bisa hidup selamanya) dan terhubung dengan baik—mereka terhubung satu sama lain sesama Millenarian bergagasan global melalui think-tank, asosiasi, konferensi, jaringan, dan festival-festival. Barbara Marx Hubbard, seorang pegiat ‘spiritualitas evolusioner’ yang tidak kenal lelah, adalah salah satu contoh. Dia berpikir bahwa homo sapiens sedang mengalami fase perubahan menuju homo universalis tepat pada tanggal 12 Desember 2012, dan dia meyakini bahwa dirinya bersama kolega-koleganya adalah katalisator (penj: pembaharu) yang ditunjuk oleh Tuhan untuk mewujudkan transformasi Millennarian tersebut. Dia memiliki jaringan yang sangat luas dan menyebarkan gagasan-gagasannya melalui segala jenis organisasi dan jaringan seperti Committee for the Future dan Centre for Integral Wisdom. Tentu, berjejaring adalah bagian dari spiritualitasnya (dia menyebutnya ‘supra-sexing’).

Di sisi lain, Anda mendapati para pemikir konspirasi yang paranoid dan anti-globalis, seperti pemilik InfoWars, situs web penyebar teori konspirisi bersayap kanan, Alex Jones, dan seorang evangelis, Lee Keith, yang menganggap para globalis ekstatis sebagai kawanan penjahat rahasia yang sedang menarik benang merah kejadian-kejadian dunia. Para pemikir konspirasi yang paranoid dan anti-globalis tersebut melacak jaringan-jaringan inti di mana orang-orang seperti Barbara Marx Hubbard bekerja melaluinya. ‘Anda lihat’ kata mereka, ‘mereka semua saling mengenal satu sama lain melalui think-tank dan organisasi-organisasi informal.’

Jika kelompok yang satunya ekstatis, optimistik, sangat kuat, dan merupakan konspirator-konspirator dari dalam lingkaran, maka yang satunya lagi dipenuhi kebencian, pesimistik, paranoid, serta konspirator-konspirator yang tidak memiliki kekuatan. Kelompok yang satunya berpikir bahwa mereka adalah para elit yang sedang berevolusi menjadi spesies-spesies yang menyerupai Tuhan (lihat misalnya salah satu novel HG Wells, Men Like Gods), sementara kelompok yang satunya lagi berpikir bahwa kelompok elite asing ini ingin menjadi Tuhan untuk mengontrol semua orang (lihat misalnya salah satu buku Anthony Forwood, They Would Be Gods).

Gaya berpikir mereka dalam beberapa hal tampak mirip—schizotopis, magis, cenderung melihat pengaruh-pengaruh rahasia, jaringan tersembunyi, dan agenda besar. Lebih-lebih, keduanya terlihat lebay dalam memandang kemampuan para elite untuk mengontrol dunia. Sementara itu, mereka justru mengabaikan sikap acuh para elit lainnya yang menyebabkan kesemrawutan politik praktis. Keduanya berpikir bahwa para elite adalah super-manusia—baik dituntun oleh Tuhan (penj: kelompok pertama) atau dikontrol oleh setan (penj: kelompok kedua).

Saya berpikir bahwa mungkin saja untuk memiliki kecenderungan pada kedua jenis pemikiran magis tersebut sekaligus secara bersamaan, atau untuk mengaduk-aduk antara Millennarianisme esktatis-optimistik dengan pemikiran konspirasi yang paranoid. Dari ‘segala sesuatu itu terhubung dan saya adalah bagian sentral dari transformasi kosmik yang luar biasa ini’ menjadi ‘segala sesuatu itu terhubung dan saya akan dirugikan oleh adanya agenda global yang mengerikan ini.’ Saya kira orang seperti Robert Anton Wilson, misalnya, cenderung pada kedua jenis pemikiran tersebut.

Nilai yang Terkandung dalam Kedua Bentuk Konspiritualitas Tersebut

Sekarang mungkin kita akan menganggap kedua jenis pemikiran tersebut semata-mata sebagai omong kosong antusiasme keagamaan. Kedua-duanya. Saya juga memiliki kecenderungan yang kuat saat ini untuk melakukan hal yang sama, untuk sekonyong-konyong menyebut baik para pembaharu ekstatis maupun pemikir paranoid teori konspirasi sebagai omong kosong, dan (penj: alih-alih mempercayai teori-teori mereka) mencoba untuk berpikir serasional dan sewaras mungkin.

Namun, meski bagaimanapun, mungkin cara demikian bukanlah hal yang bijak. Faktanya, kedua jenis pemikiran magis tersebut tetap memiliki nilai.

Nilai yang terkandung dalam globalisme mistis adalah bahwa ia dapat mendorong kita pada hal-hal yang positif—globalisme estetik HG Wells telah menginspirasi penyusunan dokumen internasional seperti Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia oleh PBB misalnya. Anda membutuhkan sedikit optimisme kosmik untuk mencoba mengubah sesuatu.

Meskipun demikian, globalisme estetik juga dapat melahirkan penobatan diri (self-entitlement), sebuah keyakinan kuat bahwa Anda adalah pejuang kemanusiaan yang terpilih, dan bahwa sejarah dan Alam Semesta berpihak pada Anda. Hal tersebut jelas berbahaya. Ia dapat berakibat pada pemusatan hak dan kekuatan yang berlebihan, yang lahir utamanya melalui jaringan-jaringan non-formal dan non-demokratis.

Sementara itu, nilai yang terkandung dalam pemikiran konspirasi adalah bahwa ia dapat menjadi anjing pengawas bagi sebuah kekuatan (penj: kekuasaan). Kekuatan dapat sangat terkonsentrasi – Organisasi Kesehatan Dunia sangat bergantung pada pendanaan dari Bill Gates, dan (penj: untuk itu) Gates Foundation harus lebih transparan dan akuntabel, mengingat pengaruhnya yang luar biasa terhadap kesehatan masyarakat dunia.

Otoritas sains secara mengerikan terkadang bisa salah—banyak globalis ekstetis pada abad ke-20 mendukung kinerja para ahli genetika (termasuk HG Wells, Annie Besant, Julian Huxley, Alexis Carrel, dan Teillard de Chardin). Mereka meyakini bahwa dunia semestinya dijalankan oleh para ilmuwan elite yang tercerahkan secara spiritual dan berhak memutuskan siapa yang sudah terbebaskan dan siapa yang masih ‘sakit’ sehingga perlu disterilkan, dikurung, atau bahkan dimusnahkan. Tidak ada konspirasi tersembuyi dalam hal tersebut—mereka dengan bangga mendeklarasikan gagasan-gagasan mereka. Untuk itu, sekarang Anda dapat memahami mengapa anti-globalis menyimpan kecurigaan terhadap agenda tersembunyi para ahli genetika tersebut saat ini.

Menciptakan Keseimbangan antara Sokratis dan Ekstatis

Secara umum (dan sebagai kesimpulan), ada nilai dalam segala proses ‘mengetahui’ yang tidak rasional, seperti mimpi, intuisi, inspirasi, dan pengalaman-pengalaman mistis lainnya. Ia dapat menjadi sumber penting bagi kebajikan dan proses penyembuhan. Banyak penemuan-penemuan ilmiah yang luar biasa serta produk-produk kebudayaan berasal dari inspirasi ekstatis atau schizotopis, mulai dari Teori Gravitasi-nya Newton hingga Surga yang Hilang-nya Milton.

Saya sendiri condong pada jenis ‘schizotopi lunak’ ini, dan secara umum ia telah memperkaya hidup dan pekerjaan saya. Ada alasan mengapa pemikiran schizotopis ini bertahan selama beberapa milenium—terkadang ia memang sangat adaptif. Ia memiliki peran yang sangat penting dalam evolusi kebudayaan kita.

Meskipun demikian, penting untuk memberikan keseimbangan pada kemampuan untuk berpikir ekstatis/magis/mistis dan kemampuan untuk berpikir kritis. Itulah yang saya lakukan di dalam buku-buku saya: menyeimbangkan antara Sokratis dan Ekstatis, atau otak kiri dan otak kanan, jika Anda tertarik untuk melakukan hal tersebut.

Terlalu banyak berpikir Sokratis tanpa sedikit ekstase, maka Anda akan berakhir dengan pandangan dunia yang kering dan tidak mengandung inspirasi. Terlalu banyak ekstase tanpa berpikir kritis, maka Anda akan berakhir dengan delusi-delusi yang tidak sehat, yang kemudian Anda sebarkan dan membahayakan orang lain. Anda akan menjadi sangat yakin bahwa Andalah yang paling benar, sangat berambisi dengan pembunuhan-pembunuhan yang heroik, dan Anda mungkin akan menolak segala hal yang berguna dan menyebarkan hal-hal lain yang justru berbahaya.

Seseorang semestinya memang bebas untuk meyakini apapun, tapi dalam situasi seperti ini—di mana pandemi global melanda di zaman internet—keyakinan dan tindakan kita akan sangat berdampak terhadap orang lain. Kita harus berusaha untuk ekstra hati-hati tentang apapun yang kita yakini dan bagikan, sebagaimana juga perlu untuk menjaga kesehatan mental.

Ada banyak berita palsu di luar sana—kemarin saya mendapatkan kabar bahwa IMF telah menghapuskan hampir seluruh utang negara berkembang. Kabar tersebut dimuat di sebuah website, IMF2020.org (sebelum akhinya dicabut). Ia tampak sangat meyakinkan. Dan saya sangat berharap berita tersebut benar! Sehingga saya dapat ikut menyebarkan berita baik. Eh, ternyata palsu.

Kita dapat melakukan tes dasar (penj: dengan pertanyaan-pertanyaan berikut), sama seperti membasuh kedua tangan kita:

  • Apa sumbernya? Apakah ia media sebuah organisasi yang terpercaya? Apakah ia didukung oleh sumber-sumber lain yang juga terpercaya?
  • Sejauh mana kemungkinan bahwa itu adalah fakta? Semakin sedikit kemungkinan maka semakin besar beban bukti yang diperlukan.
  • Apakah ada sumber lain di luar sana yang menunjukkan bahwa itu berita bohong? Alih-alih mencari bukti yang mendukung keyakinan kita, bisakah kita mencari bukti yang justru bertentangan dengan keyakinan kita?
  • Bisakah kita secara emosional menerima bahwa keyakinan kita memiliki kemungkinan untuk salah?

Kita mungkin dapat menerapkan kesehatan mental tersebut pada diri kita, tetapi bagaimana seseorang dapat menerapkan komunikasi publik yang efektif untuk meng-counter pemikiran konspirasi? Hal tersebut tampak sangat sulit. Insting seseorang dapat semena-mena, seperti para Skeptis dan New Ateis, memanggil mereka yang berada di sisi lain dengan sebutan: ‘dungu, tolol, woo-woo, omong-kosong’, dan lain-lain. Ungkapan-ungkapan semacam itu mungkin tidak akan berguna.

Sebuah pendahuluan pada edisi khusus tentang isu-isu teori konspirasi di European Journal of Social Psychology mengatakan bahwa teori-teori konspirasi mengakar secara emosional dan memiliki faktor pendukung secara sosial—sehingga orang luar yang memanggilnya dengan sebutan apapun tidak akan berdampak apa-apa. Namun, sebagaimana deradikalisasi dan dekultusisasi, mungkin akan lebih efektif dengan mendekati salah satu orang dalam lalu mulai menentang keyakinan mereka dengan cara simpatik dan tidak mengandung ancaman. Itu adalah pekerjaan yang lamban ketika satu dari lima orang Inggris sudah menyatakan bahwa mereka mungkin tidak akan vaksin Covid-19, dan para penguasa mulai menyebarkan teori-teori tandingan tentang bagaimana virus tersebut muncul. Imunitas kita terhadap hal yang berbau omong-kosong mulai memudar.

_________________________

*Diterjemahkan dari tulisan Jules Evans berjudul ‘Conspirituality’ — the overlap between the New Age and conspiracy beliefs. 17 April 2020.

**Sumber gambar: yougov.co.uk

Covid-19 dan Dilema Seorang Dokter

0
dilema dokter

Kehadiran Covid-19 menjadi masalah serius yang datang kepadaku tepat setelah ulang tahunku ke tujuh puluh dua pekan lalu. Aku baru saja merayakan pesta kecil-kecilan yang menyenangkan bersama keluarga dan kerabat—sementara, mungkin beberapa sudah terjangkit oleh virus. Kami saling bercanda untuk tidak berjabat tangan atau pun memeluk. Aku tidak menyukainya waktu itu, namun ternyata pesta tersebut bukan hanya merayakan hari ulang tahunku namun juga menjadi awal dari potensi besar sekelompok orang mengalami ancaman kematian akibat virus.

Tidak ada hal yang baru dari pandemi, begitu juga tidak ada yang baru dari ingatan kita—khususnya mengenai kejadian-kejadian menyedihkan, baik yang menimpa kita maupun masyarakat secara utuh. Waktu pasti menyembuhkan, semua bisa berbicara seperti itu, namun hal itu juga dapat membuat kita menjadi rentan. Sebagian besar dari kita menderita akibat optimisme bawaan biologis yang percaya bahwa hal-hal buruk hanya terjadi pada diri orang lain dan bukan pada diri kita. Berbagai permasalahan muncul, termasuk mereka yang berkuasa juga merasakan kerentanan yang sama.

Setelah penolakannya di awal-awal, Cina langsung bertindak cepat, berdasarkan ingatan yang masih basah, yang lebih mematikan namun lebih lamban menjangkit yakni virus korona Sars. Sementara di barat, sebagian besar dari kita—termasuk diriku, dan pastinya politisi-politisi kita (yang otaknya entah di mana) serta petinggi NHS—menenangkan kita dengan andai-andai bahwa apa yang terjadi di Cina tidak mungkin sampai ke sini dan bukan masalah berarti bagi kita, dan lagi pula itu hanya penyakit dari para lansia yang akan segera mengalami kematian. Tidak perlu panik! Tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa! (Dan tentu saja tidak perlu menyisihkan dana yang besar untuk baju pelindung kesehatan untuk para personel kesehatan.) Kini disadari betapa kelirunya kita.

Setiap pandemi, para ahli, menyatakan hal berbeda. Hal yang mencengangkan dari Covid-19 ini adalah bahwa tidak hanya menjadi hal serius bagi para lansia dan pesakitan—“pasien dengan komorbiditas (penyakit lain yang menyertai—pen.)” sesuai jargonnya. Untuk beberapa hal yang belum diketahui penyebabnya, sebagian mereka pasien paruh baya juga mengalami ancara serius. Bahkan dengan adanya pengetahuan bahwa banyak orang bisa mengalami asimtomatik dan terjangkit lalu menjangkiti yang lain tanpa sadar—yang justru membuat penyakit ini sukar untuk ditekan.

Pada mereka yang terjangkit, biasanya virus akan menyebabkan pneumoni setelah beberapa hari (gejala awal sukar untuk dibedakan antara demam biasa atau flu). Dahulu mungkin belum ada tindakan pengobatan untuk virus pneumoni, selain dari oksigen. Akan tetapi kini kita setidaknya dapat berusaha memperpanjang umurnya melalui mesin ventilator, yang menyuplai oksigen langsung ke paru-paru yang telah rusak. Bahkan dengan adanya ventilator, kematian bukan sesuatu yang tidak terhindarkan.

Permasalahan ini adalah permasalahan antik—Covid-19 adalah pandemi terbaru dari garis turunan suatu virus. Ada banyak sekali contoh pandemi yang telah mengubah drastis sejarah. Namun kali ini ia juga berkembang (lebih modern—pen.). Sementara jumlah para lansia di dunia ini jauh lebih banyak.

Dahulu, belum ada ventilator. Meski sekarang telah ada tentu pasien yang membutuhkan ventilator jauh lebih besar, walau angka kematian dari virus ini hanya di kisaran satu persen. (Perkiraan ini tidak pasti, karena kita tidak tahu berapa banyak kasus asimtomatis dalam suatu populasi atau seberapa banyak pasien di rumah sakit yang akan meninggal akibat ini.)

Meski hanya satu persen kita berbicara tentang ribuan manusia—mungkin di seluruh dunia—yang akan meninggal tanpa bantuan ventilator, dan tanpa terkecuali baik para lansia maupun pesakitan. Terlebih, bukankah mereka para lansia dan pesakitan juga berhak mendapatkan tindakan pengobatan? Mungkin akan ada lonjakan pasien sampai setidaknya menyebabkan sistem pelayanan kesehatan lumpuh, seperti di kebanyakan negara—dan khususnya mereka yang mengalami pemangkasan dana pada NHS (pelayanan kesehatan nasional—pen.), dampak dari agenda politik bertahun-tahun—keberadaan ventilator, dan personel ahli yang diperlukan untuk menjalankannya, jumlahnya sangat sedikit.

Interaksi sosial mempengaruhi laju penyebaran penjangkitan pandemi virus pernapasan. Pesatnya penjangkitan virus adalah bukti bahwa kita adalah makhluk paling bersosial. Virus menjangkit dari satu orang ke orang lainnya—baik dari sentuhan, gestur kasih sayang, cairan yang terbang di udara, dan pada permukaan yang kita sentuh. Sehingga jelas para politisi dan para penasehat ahli mengalami tawaran pilihan yang buruk.

Bagaimana cara mengimbangi upaya membatasi interaksi sosial, dengan taruhan menghancurkan ekonomi, untuk menyelamatkan generasi baby boomer (generasi yang lahir antara tahun 1960 dan 1970—pen.), para personel pelayanan kesehatan dan mereka yang masih muda, untuk sebuah masa depan akan generasi berikutnya? Perlu diingat, bahwa hampir setiap anak yang ada di planet ini telah putus sekolah. Bila hal sama terjadi pada pelayanan kesehatan (ikut menjadi lumpuh—pen.), bukan hanya mereka yang terjangkit virus yang akan mengalami kematian namun juga mereka yang tengah mengalami penyakit berat, yang tidak lagi bisa mendapatkan pelayanan kesehatan seharusnya seperti sebelum pandemi terjadi.

Politisi ramai berbicara upaya “memerangi” virus. Namun perang pasti melibatkan taruhan nyawa. Apakah kita akan mengorbankan para lansia sekarang, demi pasien yang lebih muda yang memiliki ekspektasi kehidupan yang lebih jauh dari mereka? Dan kapan kita akan mulai melakukan aktivitas ekonomi lagi guna menghidupi generasi mendatang? Putusan tentang siapa yang akan bertahan hidup dan siapa yang akan meninggal berada dalam ambang krisis nyatanya dibebankan kepada para dokter yang merawat mereka—salah satu gambaran diperlihatkan oleh George Bernard Shaw, dalam konteks yang lain, beberapa tahun lalu dalam lakon di The Doctor’s Dilemma (Dilema Seorang Dokter—pen.).

Semakin meningkatnya kasus, seharusnya juga semakin mampu membuat prediksi yang cukup akurat siapa yang lebih realistis untuk dilakukan perawatan intensif. Sir David King, mantan kepala penasehat ilmiah pemerintah, sepenuhnya benar mengatakan bahwa mereka yang berumur sembilan puluh tahun dengan gagal fungsi paru-paru akibat Covid-19 seharusnya tidak perlu untuk pergi ke rumah sakit. Namun ia telah dikritisi habis-habisan dengan menyatakan hal seperti itu—akan tetapi ini adalah sebuah medan tempur. Pengorbanan harus dilakukan.

Kita memiliki sedikit sekali pilihan selain untuk menerapkan pilihan kejam dan buruk hitung-menghitung ala ultilitarian, terlebih bertentangan dengan konsep ideal kesucian (teramat berharga—pen.) sebuah kehidupan. Berapa lama lagi seorang pasien harus diupayakan bertahan hidup? Apakah mereka memiliki tanggungan hidup? Argumen bahwa bila mereka sangat dicintai saja tidak cukup untuk mempertahankan suatu tindakan pengobatan. Sebagai dokter kita selalu melakukan proses pemastian (seperti kemungkinan konsekuensi, latar belakang, pilihan, nilai nilai yang dianut atas suatu rekomendasi pilihan tindakan—pen.), secara terpisah—kalian tidak bisa meminta mengaturnya. Kolega ku sekarang tengah menghadapi membuat putusan yang jauh lebih banyak daripada biasanya. Aku tidak iri pada mereka. Dan, bahkan, tidak jarang ada peraturan tidak tertulis “siapa cepat, dia dapat”.

Kini sudah ada peralihan besar kekayaan dari mereka yang muda ke mereka para lansia beberapa dekade terakhir di negara-negara maju (kaya—pen.). Donal Trump menyebutkan bahwa ekonomi Amerika Serikat akan kembali normal lagi mulai Paskah nanti dan akan tetapi beberapa tahun terakhir manfaat dari pertumbuhan ekonomi yang ada di Amerika Serikat dan Inggris semakin mengerucut dan mengecil. Bila pemberian jarak sosial dihentikan, apakah yang akan terjadi? Sungguh luar biasa melihat bagaimana Covid-19 telah mempertanyakan kembali hal mendasar setiap aspek dalam kehidupan kita—sementara putusan yang diambil saat perang justru begitu mudah. Menurut pendapat ku pribadi bahwa dengan pemberian jarak interaksi sosial berkepanjangan, dan ketika itu sudah selesai, harus ada upaya pembagiaan besar kekayaan di masyarakat, khususnya pada mereka yang masih muda dan terdampak.

Bila dibandingkan dengan sebagian besar OECD (Organisasi Kooperasi dan Pengembangan Ekonomi—pen.) negara maju lainnya, pelayanan kesehatan yang dibiayai oleh pajak di Inggris selalu mengalami pemangkasan, akibat agenda para politisi yang takut kehilangan suara simpatisan akibat menaikkan jumlah pajak. Dan di pemerintahan yang baru ini, terjadi sebuah sandiwara bahwa dengan “efisiensi manajemen” (memberhentikan anggota yang dianggap sudah tidak layak—pen.) seketika mampu menebus semua kekurangan investasi yang terjadi. Beberapa tahun terakhir ku di NHS meyakinkanku bahwa dampak utama dari hal tersebut adalah untuk menurunkan moral personel (pelayanan kesehatan—pen.) dan mengurangi produktivitas, khususnya para dokter senior.

Krisis Covid-19 ini telah membuka, keadaan yang mengerikan, keadaan ketidakmemadai NHS, yang bukan hanya mempertaruhkan nyawa pasien, namun juga para dokter dan perawat. Walau kita tengah berada di awal dari pandemi, dua konsultan NHS dan satu perawat telah berada di ruang pelayanan intensif dengan ventilator (dan sepuluh persen dari pasien Covid-19 yang ada di rumah sakit di Lombardi adalah para personel pelayanan kesehatan).

Aku hanya bisa berharap sesuatu yang baik datang setelah tragedi ini. Aku sangat percaya  prinsip NHS—kita akan segera melihat bagaimana sistem pelayanan kesehatan Amerika Serikat yang begitu lemah, sangat mahal dan komersil mampu mengatasi krisis ini. Aku membayangkan pengabaian politik terhadap NHS akan berlalu, seiring dengan menaiknya jumlah pajak.

Memikirkan kembali ketidakacuhanku pada virus yang pertama kali muncul di Cina, aku sendiri tidak bisa menyalahkan pemerintah barat yang memilih melarikan diri dari membuat putusan yang sukar. Namun semua menjadi jelas pada awal Februari bahwa ancaman penjangkitan penyakit semakin membesar dan pemberlakuan tindakan keras di Cina berhasil meredamnya. Itali pun harus belajar dari pelajaran menyakitkan ini untuk kesekian kalinya.

Sangat mudah untuk menjadi bijaksana pada hal yang telah berlalu, tapi dengan ketidaksiapan NHS, khususnya dalam PPE (alat pelindung diri—pen.), peraturan kebersihan yang tepat, khususnya di rumah sakit, dan alat uji virus yang harus selalu dipersiapkan guna keperluan mendatang. Akan selalu ada permintaan dari masyarakat untuk bertanggung jawab, namun saat ini pemerintah seharusnya berkonsentrasi untuk mengejar ketertinggalan. Untuk Amerika Serikat, dan upaya Trump mengabaikan virus ini, membandingkannya dengan flu biasa, meski telah sangat jelas lebih berbahaya (termasuk juga dukungannya terhadap gerakan anti-vaksin di waktu yang lalu)—aku benar-benar tidak habis pikir.

Akhirnya aku berhenti dari NHS tahun lalu, namun beberapa hari kemarin mulai menghubungi mantan kolega ku untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi. Beberapa dari mereka telah sakit terjangkit oleh virus. Kolega ku menyebutkan suasana kacau di rumah sakit mereka—yakni kekurangan PPE dan tidak adanya panduan tepat untuk kebersihan. (Di Cina, lift-lift dipasang tusuk gigi sekali pakai untuk menekan tombol lift—karena virus tersebut dapat bertahan beberapa hari di permukaan.) Terbatasnya alat uji secara masif membuat sukar untuk mengetahui apakah pasien yang dirawat selain pneumonia telah terjakit atau tidak. Kemudian rumah sakit beralih menjadi inkubator dari virus, yang lalu menjangkiti banyak personel pelayanan kesehatan dan mungkin berasal dari para pasien termasuk mereka yang telah dibebaskan untuk pulang setelah dari rumah sakit. Kolega ku menceritakan merasa hal pahit seolah-olah seperti umpan, yang siap dikorbankan. Hanya kini, tengah menunggu giliran penyakit tersebut menjangkiti kami—sebuah mimpi buruk—ini adalah masalah yang perlu untuk ditangani.

Istri ku berumur dua belas tahun lebih muda dari ku, namun setia mengonsumsi obat imunosupresan untuk suatu penyakit kronis, sehingga istri ku termasuk kategori rentan. Istri ku sangat mungkin terjangkit Covid-19—kemungkinan berasal dari pesta ulang tahun ku—dan tengah berada di fase awal penjangkitan. Di waktu kalian membaca artikel ini mungkin sudah menjadi jelas apa yang terjadi—apakah isteri ku menderita pneumoni yang mengancam atau tidak.

Seorang dokter biasanya selalu fatalistis (mengasumsikan yang terburuk—pen.) dan gelisah terhadap kesehatan keluarga mereka. Kita tahu bahwa hal buruk bisa saja terjadi—kami telah menyaksikan itu dalam pekerjaan kami setiap hari—namun tetap sesuatu yang buruk, secara umum, tidak lah sering terjadi. Setidaknya sampai kalian berumur lanjut, hanya itu. Ketika anggota keluarga kami jatuh sakit, kami harus bergulat dengan realisme pekerjaan dan gelisah yang diakibatkan dari banyaknya pengetahuan. Aku tidak memiliki banyak pilihan untuk memikirkan selain hal terburuk yang mungkin terjadi, mencernanya melalui perasaan, dan mencoba memikirkannya dari sudut pandang yang lain. Aku kira kalian bisa menyebutnya dengan sebutan “membayangkan bencana” namun, aku khawatir untuk mengatakan, bahwa Covid-19 ini adalah sebuah bencana, walau sebagian besar dari kita, meski aneh terdengar, akan bertahan hidup melaluinya.

Pembelian karena panik adalah sebuah reaksi yang terjadi atas bencana yang tengah terjadi. Beberapa hari lalu, aku sempat mengunjungi toko setempat. Meski pun aku memiliki suplai makanan yang cukup di rumah untuk beberapa hari, aku cukup sukar untuk melawan hasrat membeli sesuatu, membeli apa pun, untuk menjamin atas masa depan yang mungkin menakutkan. Dan virus ini tidak mengancam makanan atau bahkan tisu toilet kalian (akhirnya aku sadari aku lebih bahagia tanpa tisu toilet dan memilih langsung mandi setelahnya).

Setelah meredakan keinginan ku untuk membeli dengan membeli sekantung kentang, aku menjelajahi berberapa supermarket di sekitar, tanpa maksud yang jelas. Supermarket yang mentereng kehabisan gin dan tonik—nampaknya para peminum gin telah turun dari bukit Wimbledon seperti layaknya belalang. Sementara tidak satu pun tisu toilet kutemukan, dan bahkan hanya dalam beberapa hari saja buah serta sayur segar (mudah rusak—pen.)—parahnya—turut habis di berbagai rak.

Kita, benar-benar, seorang pemburu dan peramu secara alamiah, yang hidup dari tangan ke mulut, namun sekarang sudah dilengkapi dengan pendingin serta kulkas, dan beralih menjadi penimbun karena panik. Kini banyak supermarket memberlakukan jam khusus untuk para lansia—tetap saja kutemukan antrian yang panjang, saling berdekatan, menunggu supermarket setempat untuk buka, mungkin mereka tidak menyadari risiko yang mereka lakukan. Semua ini harus berubah.

Nampaknya hal serupa pertama kali terjadi di Itali. Layaknya gelembung spekulatif (daya jual-beli lebih tinggi dari nilai guna—pen.), pembelian karena panik hanya terjadi karena para pembeli yang panik. Kemudian ketika orang-orang mulai menyadarinya, pembelian itu tidak lah penting. Dan bahwa ada banyak hal yang lebih penting dari sekadar memikirkan tisu toilet—seperti kematian terhadap orang yang kalian sayangi.

Hari ini adalah musim semi yang indah di luar sana. Paduan suara kicau waktu terbit yang indah dari burung-burung di kebun pagi ini, dan bunga semak-semak mulai bermekaran. Meski angin dingin dari timur berhembus, para lebah mulai keluar dari sarangnya dan menari zigzag di bawah pancaran mentari. Walau ini adalah hari kerja, aku bisa mendengar suara anak tetangga ku begitu riang bermain di halaman mereka. Harus terpisah dari cucu ku adalah satu satu dampak menyakitkan dari Covid-19.

Aku cukup beruntung memiliki kebun dan bengkel—setidaknya cukup untuk membuatku tetap sibuk. Aku cukup beruntung telah pensiun dan tidak lagi menjadi bagian dari sirkus roda ekonomi, atau industri penerbangan, hiburan atau perhotelan. Taman setempat dekat dengan rumah ku masih buka dan aku masih bisa berlari sejauh tiga mil setiap harinya ketimbang berlari memutar yang membosankan. Aku merasa bahwa dengan menjaga tubuhku tetap bugar mampu membantuku melawan virus ini sekali pun aku terjangkit olehnya, walau tetap tidak ada fakta atas ini. Beberapa tetap meninggal karena penyakit ini meski orang tersebut bugar.

Sangat menjengkelkan melihat masih banyak orang tidak mematuhi peraturan memberi jarak dua meter pekan kemarin. Di saat awal krisis, Boris Johnson mengatakan bahwa kita kini hidup di masa “demokrasi liberal yang matang, dan dewasa”—seolah-olah beranggapan bahwa mantan rekan kita di Uni Eropa tidak begitu dewasa dan kita tidak perlu mengambil tindakan drastis seperti yang mereka lakukan. Namun nampaknya banyak yang sudah dewasa di sini di Inggris menganggap masa genting masih sebagai bagian dari hari libur. Terlebih telah banyak waktu yang terbuang bahkan sebelum pemerintah menyatakan perlunya pengurungan (lockdown). Dan mungkin hal tersebut tidak bisa membantu banyak.

Kate tinggal di Oxford, dan kita memutuskan untuk tinggal terpisah beberapa waktu sampai penyakitnya mereda. Kami saling merindukan satu sama lain dan menghabiskan banyak waktu berbincang melalui telepon. Sungguh luar biasa memikirkan bahwa kita berdua di antara ribuan juta orang, di seluruh dunia, yang hidupnya telah berubah, bahkan mungkin selamanya, hanya karena beberapa nanometer virus RNA saja dan kegagalan pemerintah kita menangani masalah ini dengan serius sampai semuanya dirasa terlambat.

Pengorbanan diri sendiri selalu menjadi bagian dari seorang dokter. Hal tersebut menjadi kebanggaan sekaligus penderitaan, dan itu mengapa, di antara semua, para dokter dan perawat seharusnya betul-betul dihargai. Sungguh jarang terjadi bila bukan karena krisis Covid-19 yang terjadi.

Pemerintah mengatakan masih ingin menarik kembali para dokter yang telah pensiun untuk bekerja. Mungkin karena umur ku, aku belum dihubungi kembali. Berdasarkan yang aku dengar dari kolega ku mengenai kondisi yang terjadi di rumah sakit London, pikiran untuk kembali bekerja menghantuiku dan keluarga ku menjadi gelisah, namun bila aku dipanggil kembali, aku akan siap.

__________________________

*Diterjemahkan dari Surgeon Henry Marsh: Covid-19 and the doctor’s dilemma. Dimuat pada tanggal 27 Maret 2020.

**Sumber gambar: medscape.com

Mengapa Orang Hindu Harus Mengatakan “Sadgati” dan Bukan “Beristirahat dengan Damai”?

0
kremasi

Konsep Hindu tentang hidup dan mati sangat berbeda dari agama-agama Abrahamik yang telah menggunakan ungkapan “Rest in Peace (RIP).” Agama-agama Abrahamik hanya memiliki konsep satu kehidupan, dan selanjutnya menjadi “akhirat” atau “surga” yang mereka namakan sebagai “kedamaian”. Itu sebabnya mereka menggunakan ungkapan “RIP.” Lalu mengapa orang Hindu harus mengatakan “Sadgati”? Karena konsep “RIP” ini tidak ada dalam Hinduisme. Tanpa memahami prinsip pokok Hindu ini, umat Hindu akan terus menerus mengatakan “RIP” tanpa berpikir, tidak menyadari bahwa apa yang mereka katakan sama sekali tidak memberikan ketenangan atau kedamaian kepada siapa pun.

Kematian Hanyalah Sebuah Pergantian Pakaian

Semua teks suci Hindu utama, termasuk Bhagavad Gita, Kathopanishad, Shiva Aagamas, Purana menegaskan kembali bahwa sesuai dengan hukum kosmik, jiva atma[i] atau kesadaran individu tidak dapat dihancurkan. Itu merupakan refleksi dari kesadaran kosmik atau paramatma[ii]. Ia terikat oleh karma[iii] dan maya[iv], dan melanjutkan perjalanannya dari satu janma[v] ke janma lainnya menuju pembebasan akhir—jivan mukti[vi], menjalani kehidupan yang terbebaskan, atau moksha, pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian, ketika ia kembali ke dalam kesadaran kosmik.

Kesadaran kosmik memanifestasikan sebanyak mungkin jiva untuk merayakan dirinya sendiri—“Ekoham Bahushyam,” seperti yang dikatakan dalam Veda dan Upanishad. Di dalam perjalanan, ia (jiva) mengalami delusi dan lupa, dan mulai mengalami penderitaan. Ini adalah ikatan yang dibutuhkan untuk bebas dari dirinya sendiri.

Jadi, kematian itu seperti pergantian baju untuk jiva atma. Ia bergerak dari satu tubuh dan pikiran ke tubuh lainnya, dan melanjutkan perjalanannya. Ia memiliki keadaan dan sumber daya yang sama dengan kehidupan sebelumnya maupun kehidupan yang selanjutnya.

वासांसि जीर्णानि यथा विहाय

नवानि गृह्णाति नरोऽपराणि |

तथा शरीराणि विहाय जीर्णा

न्यन्यानि संयाति नवानि देही || 2.22||

Bhagavad Gita, Bab 2, Ayat 22

“Seperti halnya seseorang mengenakan pakaian baru, dan membuka pakaian lama, begitu pula sang roh menerima badan-badan jasmani yang baru, dengan meninggalkan badan-badan lama yang tidak berguna.”

Jiva tidak kehilangan apapun dengan meninggalkan satu tubuh dan pergi ke yang berikutnya. Karma-nya juga akan ditransfer dari tubuh dan pikiran sebelumnya ke yang berikutnya. Bergantung pada bagaimana perkembangan jiva itu, dan seberapa banyak dharma dilakukan dalam kehidupan yang dia habiskan, jiva mengalami banyak hal, atau tidak ada penderitaan saat meninggalkan tubuh. Tapi ini tidak bisa dinilai oleh ilmu kedokteran karena tidak setara dengan “rasa sakit” dalam istilah medis. Ketika jiva meninggalkan satu tubuh, sekali lagi ia melewati semua pengalaman kuat janma itu. Ini menentukan seberapa mudah atau sulit bagian itu untuk jiva.

MENGAPA “SADGATI” DAN BUKAN RIP?

Ketika Anda mengatakan “Om Sadgati”, Anda berdoa kepada yang Ilahi untuk membimbing jiva atma menuju kesadaran yang lebih tinggi di kelahiran berikutnya. Apapun karma yang dapat dihancurkan untuk jiva dengan melakukan ritual terakhir dan berdoa untuk poornatva[vii] untuk jiva, itu harus dibebaskan dari itu. Inilah yang “Om Sadgati” implikasikan. Ini juga mengapa Bhagavad Gita bab 14 dan Kathopanishad dinyanyikan setelah seseorang meninggalkan tubuh, untuk mengingatkan jiva pada sifatnya yang sejati, yaitu bahwa ia adalah Yang Ilahi. Teks-teks ini mengungkapkan kebenaran paling penting tentang kehidupan dan kematian, dan sifat sejati jiva atma dan paramatma. Semakin banyak jiva mengingat bahwa ia adalah Yang Ilahi, semakin baik janma berikutnya yang dapat ia dapatkan.

TEORI SATU KEHIDUPAN ADALAH PERBUDAKAN TERBESAR

Jika jiva percaya bahwa ia hanya memiliki satu kehidupan untuk hidup, ia tetap terjebak dalam limbo[viii] itu untuk waktu yang lama. Ia yakin akan mendapatkan yang terbaik dengan tidak mengambil tubuh berikutnya, karena itulah yang telah dikatakan, sehingga ia tidak akan mengambil tubuh lain sama sekali. Itu tidak mengambil tubuh berikutnya, dan tetap dalam keadaan “preta.”[ix] Oleh karena itu, ketika Anda berharap seseorang “RIP,” pada dasarnya Anda menyiratkan bahwa mereka tetap terjebak dalam keadaan ini. Jika Anda seorang Hindu, ini sama sekali tidak mengharapkan seseorang mendapat tempat yang baik.

*Artikel ini adalah terjemahan dari tulisan Arti Agarwal di Hinduism News berjudul “Why Should Hindus Say “Sadgati” and Not “Rest in Peace”?”, 17 Agustus 2018.
** Sumber gambar: mokshdwar.org/


[i] Jiva atma berarti roh individual yang kekal.

[ii] Paramatma berarti roh yang utama, aspek Tuhan Yang Maha Esa yang berada di tempat-tempat tertentu, saksi dan pembimbing yang bersemayam di dalam hati setiap makhluk hidup dan menemani tiap-tiap roh yang terikat.

[iii] Karma adalah kegiatan material yang menyebabkan seseorang harus menerima reaksi sebagai akibatnya.

[iv] Maya berarti khayalan. Tenaga Tuhan Yang Maha Esa yang menyebabkan para makhluk hidup berkhayal sehingga mereka melupakan sifat rohaninya dan Tuhan.

[v] Janma artinya lahir ke bumi ini.

[vi] Jivan mukti adalah jiwa yang telah bebas dari kehidupan material.

[vii] Poornatva adalah manusia yang telah mencapai tingkat paripurna.

[viii] Limbo (bahasa Latin: limbus, artinya: tepi atau batas, merujuk pada “tepi” neraka), dalam teologi Gereja Katolik, adalah suatu gagasan spekulatif mengenai kondisi kehidupan setelah kematian bagi mereka yang meninggal karena dosa asalnya tanpa ditetapkan untuk masuk dalam kutukan neraka.

[ix] Preta adalah kondisi jiwa seseorang yang baru saja meninggal yang belum dilaksanakan upacara.

Pandemi Korona Sebagai Ancaman Bagi Penguasa Populis

0
trump

Penularan virus korona yang menyebar ke seluruh dunia menyingkap retakan-retakan besar sosial-ekonomi yang memang telah lama diabaikan oleh pemerintah. Sistem kesehatan yang dibiayai oleh pemerintah mengalami kegagalan karena membeludaknya jumlah pasien, jaring pengaman sosial yang sangat sedikit tidak dapat melindungi orang-orang yang membutuhkan, dan tidak adanya perlindungan yang layak bagi buruh menyebabkan ratusan juta orang menganggur dan kekurangan uang.

Pada saat yang sama, pandemi ini menyoroti persoalan inkompetensi dan lemahnya kepemimpinan dalam memerintah para elite di seluruh dunia. Sangat jelas bahwa banyak pemimpin politik pada awalnya meremehkan ancaman wabah di Cina dan memilih untuk meredam gejolak pasar alih-alih mempersiapkan negara masing-masing untuk menghadapi kondisi darurat. Negara-negara yang lain –seperti Korea Selatan, Taiwan, Jerman, dan di beberapa tempat lainnya—mengambil tindakan yang tepat dengan menjalin komunikasi yang transparan dengan publik dan melakukan pengendalian untuk mencegah bencana nasional.

Para penguasa populis tersebut memajukan agenda nasionalis, proteksionis, dan agenda berlandaskan kebencian untuk memanipulasi publik, sembari menyangkal kondisi darurat yang mendesak saat ini. Sikap penguasa populis ini terbukti dalam pengabaian mereka terhadap perubahan iklim dan krisis pengungsi dan dalam respons mereka terhadap pandemi virus korona yang saat ini sedang terjadi. Krisis kesehatan global ini membutuhkan kolaborasi, tanggung jawab, dan solidaritas global, yang berlawanan dengan segala sesuatu yang dipertahankan oleh para penguasa populis, dan krisis tersebut bergerak terlalu cepat bagi strategi retorika populis untuk bekerja.

Sebagai tanggapan, para penguasa populis menggandakan retorika rasisme dan berusaha melemahkan garis otoritas dan legitimasi tradisional yang diperlukan untuk memahami fakta-fakta yang ada. Instansi pemerintah, media, dan para akademisi yang kredibel dibutuhkan untuk meyakinkan publik perihal signifikansi dan implikasi dari adanya fakta-fakta yang sebenarnya tentang pandemi. Mereka semua –instansi pemerintah, media dan para akademisi– tanpa henti dikecam dan dipersoalkan oleh para politisi populis yang dengan mati-matian berusaha mengalihkan perhatian publik dari konsekuensi katastropik yang diakibatkan oleh kelambanan para penguasa populis.

Pada saat yang bersamaan, para pemimpin populis melakukan upaya yang sangat menyedihkan dengan berusaha memanfaatkan pandemi untuk mengkonsolidasikan kekuasaan dan/atau memastikan mereka terpilih kembali.

Di Hungaria, Perdana Menteri Victor Orban mendeklarasikan keadaan darurat pada 11 Maret. Kurang dari tiga minggu kemudian, Parlemen memberikan suara dalam sebuah undang-undang yang memungkinkan Victor Orban memerintah tanpa batas dengan dekrit atas nama memerangi virus korona. Tetapi kekuasaan tanpa batas ini jauh melampaui apa yang dibutuhkan dalam memerangi wabah seperti menetapkan hukuman penjara bagi siapa saja yang ditemukan menghalangi tindakan-tindakan anti-pandemi dan menyebarkan informasi palsu.

Orban jelas sedang berupaya menghalangi potensi kemarahan publik atas kesalahan penanganan krisis yang melonggarkan cengkeramannya pada kekuasaan. Sebelum pandemi pun, sistem kesehatan Hungaria berada dalam kondisi buruk; langkah-langkah kontroversial diambil untuk membebaskan tempat tidur bagi para pasien Covid-19 dan tidak memadainya persediaan alat pelindung dan perlengkapan bagi rumah sakit telah menambah keraguan pada strategi pemerintah Hungaria dalam menangani krisis. Juga, terdapat kritik terhadap pengeluaran pemerintah untuk sektor-sektor yang tidak penting, termasuk olahraga.

Di Brasil, Presiden Jair Bolsonaro dengan aktif menentang segala tindakan melawan pandemi. Dia menyatakan bahwa virus ini hanyalah “fantasi”, “pilek kecil,” dan seseorang “tidak akan merasakan apapun” jika ia terinfeksi. Bahkan lebih jauh lagi ia menghadiri demonstrasi menentang kebijakan karantina (lockdown) yang dikeluarkan oleh otoritas lokal. Dia tidak hanya menyerang media secara bertubi-tubi dan mempersoalkan saran dari para ilmuwan dan WHO, tetapi juga terlibat aktif memberikan informasi yang keliru.

Ketika 25 dari 27 gubernur di Brasil menandatangani surat bersama yang menuntut Bolsonaro untuk memberlakukan langkah-langkah ketat anti-wabah, dia menuduh para gubernur tersebut sebagai “perampas pekerjaan” yang ingin menyabotase pemilihan kembali dirinya yang akan berlangsung dalam dua setengah tahun mendatang. Alih-alih memimpin mengatasi pandemi ini, strategi penguasa Brazil ini justru menghasut publik untuk melawan para otoritas lokal dan menyalahkan mereka atas terjadinya krisis ekonomi yang menjulang, untuk menutupi kesalahan dirinya dalam menangani situasi ini dan kegagalan kebijakan-kebijakan sayap-kanan untuk membawa kemakmuran pada Brasil.

Sama halnya dengan Bolsonaro, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memfokuskan upayanya untuk memanipulasi opini publik alih-alih bekerja sama dengan otoritas-otoritas negara bagian untuk mengatasi krisis. Tetapi tidak seperti Bolsonaro, Trump telah menarik kembali klaimnya bahwa wabah virus korona bukan ancaman bagi Amerika Serikat.

Setelah menarik kembali klaimnya, Trump memfokuskan upayanya untuk menutupi fakta bahwa dirinya terlambat dalam merespons pandemi ini dan salah menangani pelbagai aspek krisis. Ketika para Demokrat dan wartawan menuduhnya mengacaukan keadaan, ia malah menyalahkan merebaknya wabah pada Cina, kurangnya tes yang dilakukan pada pemerintahan Obama dan kurangnya ketersediaan ventilator pada beberapa gubernur. Alih-alih fokus mengatasi pelbagai persoalan, ia malah menangguhkan semua imigrasi ke Amerika Serikat untuk melindungi pelbagai pekerjaan selama virus menyebar.

Dengan fokus pada pemilihan kembali di November, Trump mengambil alih tugas (briefing) harian perihal pandemi dari Wakil Presiden Mike Pence dan mengubahnya menjadi peluang kampanye, menggembar-gemborkan apa yang dia lakukan sebagai “prestasi” dari pemerintahannya alih-alih memberikan informasi pada publik tentang kondisi negara. Dia dan Partai Republik telah mendorong melalui pelbagai langkah dan paket untuk menyelamatkan (bail out) bisnis raksasa yang telah berdonasi pada kampanyenya dan dukungan bisnis raksasa tersebut sangat penting untuk pemilihan kembali dirinya di masa mendatang.

Orba, Bolsonaro, dan Trump hanyalah tiga contoh tren global dari penguasa populis yang salah memebrikan penanganan nasional terhadap pandemi ini. Pada akhirnya, krisis ini bukanlah semata-mata krisis kesehatan melainkan juga krisis pemerintahan nasional dan global. Cepat atau lambat, hal ini menjadi bukti lain dari kegagalan total populisme dalam memberikan apa pun selain retorika kosong dan penuh kebencian.

Para pemimpin populis tidak dapat memberikan solusi sosial dan ekonomi terhadap persoalan nasional dan global dan pandemi ini membuatnya semakin tampak. Mungkin tragedi ini akan menjadi jerami terakhir yang mematahkan punggung unta yang akan membawa kehancuran populisme di seluruh dunia.

________________________________

*Artikel ini diterjemahkan dari tulisan Santiago Zabala berjudul The coronavirus pandemic is a threat to populist strongmenyang terbit pada 21 April 2020 di ALJAZEERA. Santiago Zabala adalah Profesor Riset Filsafat ICREA di Universitas Pompeu Fabra, Barcelona.

**Sumber gambar: thetimes.co.uk