More

    Covid-19 dan Dilema Seorang Dokter

    Fajar N.
    Fajar N.
    Pembaca Darwin dan peneliti bioetika

    Artikel Terbaru

    Masa Depan Relasi Filsafat Ilmu-Teknologi

    Don Ihde pada tahun 2004 menyebarkan keraguan dan harapan. Dengan artikelnya yang berjudul “Telah sampaikah filsafat teknologi? Keadaan Terbaru”, Ihde mengevaluasi...

    Kemungkinan Peran Fenomenologi dalam Memecahkan Teka-teki Kuantum

    Steven French berpendapat bahwa pada jantung problem pengukuran kuantum terdapat kesalahpahaman yang fatal dalam memahami hubungan subjek-objek. Jika melihat lebih dekat pada...

    Memahami Kembali Manusia di Era Teknologi

    Keberadaan teknologi membawa manusia pada koin dari harapan yang diandaikan memiliki dua sisi. Satu sisi dapat berperan sebagai upaya membebaskan manusia...

    Tentang Spesialisasi dan Kesusah-teraksesannya Filsafat

    James Ladyman berargumen bahwa ketidakteraksesannya filsafat merupakan sesuatu yang bagus. Jika filsafat adalah sebuah kecintaan terhadap kebijaksanaan dan mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seharusnya kita (menjalani)...

    Pembalikan Tatanan Dependensi: Dari Ontologi Berorientasi Objek ke Ontologi Berorientasi Struktur

    Realisme struktural memiliki dua pilihan, yaitu dengan mengakui adanya sesuatu yang melampaui struktur—sebutlah X—di dunia, yang biar bagaimanapun kita tidak memiliki aksesibilitas untuk mengetahuinya...

    Kehadiran Covid-19 menjadi masalah serius yang datang kepadaku tepat setelah ulang tahunku ke tujuh puluh dua pekan lalu. Aku baru saja merayakan pesta kecil-kecilan yang menyenangkan bersama keluarga dan kerabat—sementara, mungkin beberapa sudah terjangkit oleh virus. Kami saling bercanda untuk tidak berjabat tangan atau pun memeluk. Aku tidak menyukainya waktu itu, namun ternyata pesta tersebut bukan hanya merayakan hari ulang tahunku namun juga menjadi awal dari potensi besar sekelompok orang mengalami ancaman kematian akibat virus.

    Tidak ada hal yang baru dari pandemi, begitu juga tidak ada yang baru dari ingatan kita—khususnya mengenai kejadian-kejadian menyedihkan, baik yang menimpa kita maupun masyarakat secara utuh. Waktu pasti menyembuhkan, semua bisa berbicara seperti itu, namun hal itu juga dapat membuat kita menjadi rentan. Sebagian besar dari kita menderita akibat optimisme bawaan biologis yang percaya bahwa hal-hal buruk hanya terjadi pada diri orang lain dan bukan pada diri kita. Berbagai permasalahan muncul, termasuk mereka yang berkuasa juga merasakan kerentanan yang sama.

    Setelah penolakannya di awal-awal, Cina langsung bertindak cepat, berdasarkan ingatan yang masih basah, yang lebih mematikan namun lebih lamban menjangkit yakni virus korona Sars. Sementara di barat, sebagian besar dari kita—termasuk diriku, dan pastinya politisi-politisi kita (yang otaknya entah di mana) serta petinggi NHS—menenangkan kita dengan andai-andai bahwa apa yang terjadi di Cina tidak mungkin sampai ke sini dan bukan masalah berarti bagi kita, dan lagi pula itu hanya penyakit dari para lansia yang akan segera mengalami kematian. Tidak perlu panik! Tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa! (Dan tentu saja tidak perlu menyisihkan dana yang besar untuk baju pelindung kesehatan untuk para personel kesehatan.) Kini disadari betapa kelirunya kita.

    Setiap pandemi, para ahli, menyatakan hal berbeda. Hal yang mencengangkan dari Covid-19 ini adalah bahwa tidak hanya menjadi hal serius bagi para lansia dan pesakitan—“pasien dengan komorbiditas (penyakit lain yang menyertai—pen.)” sesuai jargonnya. Untuk beberapa hal yang belum diketahui penyebabnya, sebagian mereka pasien paruh baya juga mengalami ancara serius. Bahkan dengan adanya pengetahuan bahwa banyak orang bisa mengalami asimtomatik dan terjangkit lalu menjangkiti yang lain tanpa sadar—yang justru membuat penyakit ini sukar untuk ditekan.

    Pada mereka yang terjangkit, biasanya virus akan menyebabkan pneumoni setelah beberapa hari (gejala awal sukar untuk dibedakan antara demam biasa atau flu). Dahulu mungkin belum ada tindakan pengobatan untuk virus pneumoni, selain dari oksigen. Akan tetapi kini kita setidaknya dapat berusaha memperpanjang umurnya melalui mesin ventilator, yang menyuplai oksigen langsung ke paru-paru yang telah rusak. Bahkan dengan adanya ventilator, kematian bukan sesuatu yang tidak terhindarkan.

    Permasalahan ini adalah permasalahan antik—Covid-19 adalah pandemi terbaru dari garis turunan suatu virus. Ada banyak sekali contoh pandemi yang telah mengubah drastis sejarah. Namun kali ini ia juga berkembang (lebih modern—pen.). Sementara jumlah para lansia di dunia ini jauh lebih banyak.

    Dahulu, belum ada ventilator. Meski sekarang telah ada tentu pasien yang membutuhkan ventilator jauh lebih besar, walau angka kematian dari virus ini hanya di kisaran satu persen. (Perkiraan ini tidak pasti, karena kita tidak tahu berapa banyak kasus asimtomatis dalam suatu populasi atau seberapa banyak pasien di rumah sakit yang akan meninggal akibat ini.)

    Meski hanya satu persen kita berbicara tentang ribuan manusia—mungkin di seluruh dunia—yang akan meninggal tanpa bantuan ventilator, dan tanpa terkecuali baik para lansia maupun pesakitan. Terlebih, bukankah mereka para lansia dan pesakitan juga berhak mendapatkan tindakan pengobatan? Mungkin akan ada lonjakan pasien sampai setidaknya menyebabkan sistem pelayanan kesehatan lumpuh, seperti di kebanyakan negara—dan khususnya mereka yang mengalami pemangkasan dana pada NHS (pelayanan kesehatan nasional—pen.), dampak dari agenda politik bertahun-tahun—keberadaan ventilator, dan personel ahli yang diperlukan untuk menjalankannya, jumlahnya sangat sedikit.

    Interaksi sosial mempengaruhi laju penyebaran penjangkitan pandemi virus pernapasan. Pesatnya penjangkitan virus adalah bukti bahwa kita adalah makhluk paling bersosial. Virus menjangkit dari satu orang ke orang lainnya—baik dari sentuhan, gestur kasih sayang, cairan yang terbang di udara, dan pada permukaan yang kita sentuh. Sehingga jelas para politisi dan para penasehat ahli mengalami tawaran pilihan yang buruk.

    Bagaimana cara mengimbangi upaya membatasi interaksi sosial, dengan taruhan menghancurkan ekonomi, untuk menyelamatkan generasi baby boomer (generasi yang lahir antara tahun 1960 dan 1970—pen.), para personel pelayanan kesehatan dan mereka yang masih muda, untuk sebuah masa depan akan generasi berikutnya? Perlu diingat, bahwa hampir setiap anak yang ada di planet ini telah putus sekolah. Bila hal sama terjadi pada pelayanan kesehatan (ikut menjadi lumpuh—pen.), bukan hanya mereka yang terjangkit virus yang akan mengalami kematian namun juga mereka yang tengah mengalami penyakit berat, yang tidak lagi bisa mendapatkan pelayanan kesehatan seharusnya seperti sebelum pandemi terjadi.

    Politisi ramai berbicara upaya “memerangi” virus. Namun perang pasti melibatkan taruhan nyawa. Apakah kita akan mengorbankan para lansia sekarang, demi pasien yang lebih muda yang memiliki ekspektasi kehidupan yang lebih jauh dari mereka? Dan kapan kita akan mulai melakukan aktivitas ekonomi lagi guna menghidupi generasi mendatang? Putusan tentang siapa yang akan bertahan hidup dan siapa yang akan meninggal berada dalam ambang krisis nyatanya dibebankan kepada para dokter yang merawat mereka—salah satu gambaran diperlihatkan oleh George Bernard Shaw, dalam konteks yang lain, beberapa tahun lalu dalam lakon di The Doctor’s Dilemma (Dilema Seorang Dokter—pen.).

    Semakin meningkatnya kasus, seharusnya juga semakin mampu membuat prediksi yang cukup akurat siapa yang lebih realistis untuk dilakukan perawatan intensif. Sir David King, mantan kepala penasehat ilmiah pemerintah, sepenuhnya benar mengatakan bahwa mereka yang berumur sembilan puluh tahun dengan gagal fungsi paru-paru akibat Covid-19 seharusnya tidak perlu untuk pergi ke rumah sakit. Namun ia telah dikritisi habis-habisan dengan menyatakan hal seperti itu—akan tetapi ini adalah sebuah medan tempur. Pengorbanan harus dilakukan.

    Kita memiliki sedikit sekali pilihan selain untuk menerapkan pilihan kejam dan buruk hitung-menghitung ala ultilitarian, terlebih bertentangan dengan konsep ideal kesucian (teramat berharga—pen.) sebuah kehidupan. Berapa lama lagi seorang pasien harus diupayakan bertahan hidup? Apakah mereka memiliki tanggungan hidup? Argumen bahwa bila mereka sangat dicintai saja tidak cukup untuk mempertahankan suatu tindakan pengobatan. Sebagai dokter kita selalu melakukan proses pemastian (seperti kemungkinan konsekuensi, latar belakang, pilihan, nilai nilai yang dianut atas suatu rekomendasi pilihan tindakan—pen.), secara terpisah—kalian tidak bisa meminta mengaturnya. Kolega ku sekarang tengah menghadapi membuat putusan yang jauh lebih banyak daripada biasanya. Aku tidak iri pada mereka. Dan, bahkan, tidak jarang ada peraturan tidak tertulis “siapa cepat, dia dapat”.

    Kini sudah ada peralihan besar kekayaan dari mereka yang muda ke mereka para lansia beberapa dekade terakhir di negara-negara maju (kaya—pen.). Donal Trump menyebutkan bahwa ekonomi Amerika Serikat akan kembali normal lagi mulai Paskah nanti dan akan tetapi beberapa tahun terakhir manfaat dari pertumbuhan ekonomi yang ada di Amerika Serikat dan Inggris semakin mengerucut dan mengecil. Bila pemberian jarak sosial dihentikan, apakah yang akan terjadi? Sungguh luar biasa melihat bagaimana Covid-19 telah mempertanyakan kembali hal mendasar setiap aspek dalam kehidupan kita—sementara putusan yang diambil saat perang justru begitu mudah. Menurut pendapat ku pribadi bahwa dengan pemberian jarak interaksi sosial berkepanjangan, dan ketika itu sudah selesai, harus ada upaya pembagiaan besar kekayaan di masyarakat, khususnya pada mereka yang masih muda dan terdampak.

    Bila dibandingkan dengan sebagian besar OECD (Organisasi Kooperasi dan Pengembangan Ekonomi—pen.) negara maju lainnya, pelayanan kesehatan yang dibiayai oleh pajak di Inggris selalu mengalami pemangkasan, akibat agenda para politisi yang takut kehilangan suara simpatisan akibat menaikkan jumlah pajak. Dan di pemerintahan yang baru ini, terjadi sebuah sandiwara bahwa dengan “efisiensi manajemen” (memberhentikan anggota yang dianggap sudah tidak layak—pen.) seketika mampu menebus semua kekurangan investasi yang terjadi. Beberapa tahun terakhir ku di NHS meyakinkanku bahwa dampak utama dari hal tersebut adalah untuk menurunkan moral personel (pelayanan kesehatan—pen.) dan mengurangi produktivitas, khususnya para dokter senior.

    Krisis Covid-19 ini telah membuka, keadaan yang mengerikan, keadaan ketidakmemadai NHS, yang bukan hanya mempertaruhkan nyawa pasien, namun juga para dokter dan perawat. Walau kita tengah berada di awal dari pandemi, dua konsultan NHS dan satu perawat telah berada di ruang pelayanan intensif dengan ventilator (dan sepuluh persen dari pasien Covid-19 yang ada di rumah sakit di Lombardi adalah para personel pelayanan kesehatan).

    Aku hanya bisa berharap sesuatu yang baik datang setelah tragedi ini. Aku sangat percaya  prinsip NHS—kita akan segera melihat bagaimana sistem pelayanan kesehatan Amerika Serikat yang begitu lemah, sangat mahal dan komersil mampu mengatasi krisis ini. Aku membayangkan pengabaian politik terhadap NHS akan berlalu, seiring dengan menaiknya jumlah pajak.

    Memikirkan kembali ketidakacuhanku pada virus yang pertama kali muncul di Cina, aku sendiri tidak bisa menyalahkan pemerintah barat yang memilih melarikan diri dari membuat putusan yang sukar. Namun semua menjadi jelas pada awal Februari bahwa ancaman penjangkitan penyakit semakin membesar dan pemberlakuan tindakan keras di Cina berhasil meredamnya. Itali pun harus belajar dari pelajaran menyakitkan ini untuk kesekian kalinya.

    Sangat mudah untuk menjadi bijaksana pada hal yang telah berlalu, tapi dengan ketidaksiapan NHS, khususnya dalam PPE (alat pelindung diri—pen.), peraturan kebersihan yang tepat, khususnya di rumah sakit, dan alat uji virus yang harus selalu dipersiapkan guna keperluan mendatang. Akan selalu ada permintaan dari masyarakat untuk bertanggung jawab, namun saat ini pemerintah seharusnya berkonsentrasi untuk mengejar ketertinggalan. Untuk Amerika Serikat, dan upaya Trump mengabaikan virus ini, membandingkannya dengan flu biasa, meski telah sangat jelas lebih berbahaya (termasuk juga dukungannya terhadap gerakan anti-vaksin di waktu yang lalu)—aku benar-benar tidak habis pikir.

    Akhirnya aku berhenti dari NHS tahun lalu, namun beberapa hari kemarin mulai menghubungi mantan kolega ku untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi. Beberapa dari mereka telah sakit terjangkit oleh virus. Kolega ku menyebutkan suasana kacau di rumah sakit mereka—yakni kekurangan PPE dan tidak adanya panduan tepat untuk kebersihan. (Di Cina, lift-lift dipasang tusuk gigi sekali pakai untuk menekan tombol lift—karena virus tersebut dapat bertahan beberapa hari di permukaan.) Terbatasnya alat uji secara masif membuat sukar untuk mengetahui apakah pasien yang dirawat selain pneumonia telah terjakit atau tidak. Kemudian rumah sakit beralih menjadi inkubator dari virus, yang lalu menjangkiti banyak personel pelayanan kesehatan dan mungkin berasal dari para pasien termasuk mereka yang telah dibebaskan untuk pulang setelah dari rumah sakit. Kolega ku menceritakan merasa hal pahit seolah-olah seperti umpan, yang siap dikorbankan. Hanya kini, tengah menunggu giliran penyakit tersebut menjangkiti kami—sebuah mimpi buruk—ini adalah masalah yang perlu untuk ditangani.

    Istri ku berumur dua belas tahun lebih muda dari ku, namun setia mengonsumsi obat imunosupresan untuk suatu penyakit kronis, sehingga istri ku termasuk kategori rentan. Istri ku sangat mungkin terjangkit Covid-19—kemungkinan berasal dari pesta ulang tahun ku—dan tengah berada di fase awal penjangkitan. Di waktu kalian membaca artikel ini mungkin sudah menjadi jelas apa yang terjadi—apakah isteri ku menderita pneumoni yang mengancam atau tidak.

    Seorang dokter biasanya selalu fatalistis (mengasumsikan yang terburuk—pen.) dan gelisah terhadap kesehatan keluarga mereka. Kita tahu bahwa hal buruk bisa saja terjadi—kami telah menyaksikan itu dalam pekerjaan kami setiap hari—namun tetap sesuatu yang buruk, secara umum, tidak lah sering terjadi. Setidaknya sampai kalian berumur lanjut, hanya itu. Ketika anggota keluarga kami jatuh sakit, kami harus bergulat dengan realisme pekerjaan dan gelisah yang diakibatkan dari banyaknya pengetahuan. Aku tidak memiliki banyak pilihan untuk memikirkan selain hal terburuk yang mungkin terjadi, mencernanya melalui perasaan, dan mencoba memikirkannya dari sudut pandang yang lain. Aku kira kalian bisa menyebutnya dengan sebutan “membayangkan bencana” namun, aku khawatir untuk mengatakan, bahwa Covid-19 ini adalah sebuah bencana, walau sebagian besar dari kita, meski aneh terdengar, akan bertahan hidup melaluinya.

    Pembelian karena panik adalah sebuah reaksi yang terjadi atas bencana yang tengah terjadi. Beberapa hari lalu, aku sempat mengunjungi toko setempat. Meski pun aku memiliki suplai makanan yang cukup di rumah untuk beberapa hari, aku cukup sukar untuk melawan hasrat membeli sesuatu, membeli apa pun, untuk menjamin atas masa depan yang mungkin menakutkan. Dan virus ini tidak mengancam makanan atau bahkan tisu toilet kalian (akhirnya aku sadari aku lebih bahagia tanpa tisu toilet dan memilih langsung mandi setelahnya).

    Setelah meredakan keinginan ku untuk membeli dengan membeli sekantung kentang, aku menjelajahi berberapa supermarket di sekitar, tanpa maksud yang jelas. Supermarket yang mentereng kehabisan gin dan tonik—nampaknya para peminum gin telah turun dari bukit Wimbledon seperti layaknya belalang. Sementara tidak satu pun tisu toilet kutemukan, dan bahkan hanya dalam beberapa hari saja buah serta sayur segar (mudah rusak—pen.)—parahnya—turut habis di berbagai rak.

    Kita, benar-benar, seorang pemburu dan peramu secara alamiah, yang hidup dari tangan ke mulut, namun sekarang sudah dilengkapi dengan pendingin serta kulkas, dan beralih menjadi penimbun karena panik. Kini banyak supermarket memberlakukan jam khusus untuk para lansia—tetap saja kutemukan antrian yang panjang, saling berdekatan, menunggu supermarket setempat untuk buka, mungkin mereka tidak menyadari risiko yang mereka lakukan. Semua ini harus berubah.

    Nampaknya hal serupa pertama kali terjadi di Itali. Layaknya gelembung spekulatif (daya jual-beli lebih tinggi dari nilai guna—pen.), pembelian karena panik hanya terjadi karena para pembeli yang panik. Kemudian ketika orang-orang mulai menyadarinya, pembelian itu tidak lah penting. Dan bahwa ada banyak hal yang lebih penting dari sekadar memikirkan tisu toilet—seperti kematian terhadap orang yang kalian sayangi.

    Hari ini adalah musim semi yang indah di luar sana. Paduan suara kicau waktu terbit yang indah dari burung-burung di kebun pagi ini, dan bunga semak-semak mulai bermekaran. Meski angin dingin dari timur berhembus, para lebah mulai keluar dari sarangnya dan menari zigzag di bawah pancaran mentari. Walau ini adalah hari kerja, aku bisa mendengar suara anak tetangga ku begitu riang bermain di halaman mereka. Harus terpisah dari cucu ku adalah satu satu dampak menyakitkan dari Covid-19.

    Aku cukup beruntung memiliki kebun dan bengkel—setidaknya cukup untuk membuatku tetap sibuk. Aku cukup beruntung telah pensiun dan tidak lagi menjadi bagian dari sirkus roda ekonomi, atau industri penerbangan, hiburan atau perhotelan. Taman setempat dekat dengan rumah ku masih buka dan aku masih bisa berlari sejauh tiga mil setiap harinya ketimbang berlari memutar yang membosankan. Aku merasa bahwa dengan menjaga tubuhku tetap bugar mampu membantuku melawan virus ini sekali pun aku terjangkit olehnya, walau tetap tidak ada fakta atas ini. Beberapa tetap meninggal karena penyakit ini meski orang tersebut bugar.

    Sangat menjengkelkan melihat masih banyak orang tidak mematuhi peraturan memberi jarak dua meter pekan kemarin. Di saat awal krisis, Boris Johnson mengatakan bahwa kita kini hidup di masa “demokrasi liberal yang matang, dan dewasa”—seolah-olah beranggapan bahwa mantan rekan kita di Uni Eropa tidak begitu dewasa dan kita tidak perlu mengambil tindakan drastis seperti yang mereka lakukan. Namun nampaknya banyak yang sudah dewasa di sini di Inggris menganggap masa genting masih sebagai bagian dari hari libur. Terlebih telah banyak waktu yang terbuang bahkan sebelum pemerintah menyatakan perlunya pengurungan (lockdown). Dan mungkin hal tersebut tidak bisa membantu banyak.

    Kate tinggal di Oxford, dan kita memutuskan untuk tinggal terpisah beberapa waktu sampai penyakitnya mereda. Kami saling merindukan satu sama lain dan menghabiskan banyak waktu berbincang melalui telepon. Sungguh luar biasa memikirkan bahwa kita berdua di antara ribuan juta orang, di seluruh dunia, yang hidupnya telah berubah, bahkan mungkin selamanya, hanya karena beberapa nanometer virus RNA saja dan kegagalan pemerintah kita menangani masalah ini dengan serius sampai semuanya dirasa terlambat.

    Pengorbanan diri sendiri selalu menjadi bagian dari seorang dokter. Hal tersebut menjadi kebanggaan sekaligus penderitaan, dan itu mengapa, di antara semua, para dokter dan perawat seharusnya betul-betul dihargai. Sungguh jarang terjadi bila bukan karena krisis Covid-19 yang terjadi.

    Pemerintah mengatakan masih ingin menarik kembali para dokter yang telah pensiun untuk bekerja. Mungkin karena umur ku, aku belum dihubungi kembali. Berdasarkan yang aku dengar dari kolega ku mengenai kondisi yang terjadi di rumah sakit London, pikiran untuk kembali bekerja menghantuiku dan keluarga ku menjadi gelisah, namun bila aku dipanggil kembali, aku akan siap.

    __________________________

    *Diterjemahkan dari Surgeon Henry Marsh: Covid-19 and the doctor’s dilemma. Dimuat pada tanggal 27 Maret 2020.

    **Sumber gambar: medscape.com

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here