More

    Pengantar: Apa Sih Sebenarnya Pandemi Itu?

    Artikel Terbaru

    Rekonstruksi Waktu dalam Pandangan Fisika Modern (Bagian 1)

    Tulisan ini memfokuskan pada ringkasan isi dari buku The Order of Time (Tatanan Waktu) karya Carlo Rovelli, seorang fisikawan teori terkenal...

    Masa Depan Relasi Filsafat Ilmu-Teknologi

    Don Ihde pada tahun 2004 menyebarkan keraguan dan harapan. Dengan artikelnya yang berjudul “Telah sampaikah filsafat teknologi? Keadaan Terbaru”, Ihde mengevaluasi...

    Kemungkinan Peran Fenomenologi dalam Memecahkan Teka-teki Kuantum

    Steven French berpendapat bahwa pada jantung problem pengukuran kuantum terdapat kesalahpahaman yang fatal dalam memahami hubungan subjek-objek. Jika melihat lebih dekat pada...

    Memahami Kembali Manusia di Era Teknologi

    Keberadaan teknologi membawa manusia pada koin dari harapan yang diandaikan memiliki dua sisi. Satu sisi dapat berperan sebagai upaya membebaskan manusia...

    Tentang Spesialisasi dan Kesusah-teraksesannya Filsafat

    James Ladyman berargumen bahwa ketidakteraksesannya filsafat merupakan sesuatu yang bagus. Jika filsafat adalah sebuah kecintaan terhadap kebijaksanaan dan mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seharusnya kita (menjalani)...

    Kita sudah dijejali banyak informasi soal pandemi yang sedang terjadi saat ini. Mulai dari data, berita resmi, cerita orang-orang yang terdampak, hingga opini para intelektual. Akan tetapi, kita akhirnya berhadapan dengan sesuatu yang kita sendiri tak yakin dan harus bertanya lagi dan lagi: apa sih sebenarnya pandemi itu? Pada situasi ini, berita resmi yang biasa dianggap sebagai kebenaran telah jadi rumor, solusi sains jadi mentah, cerita orang-orang berlalu begitu saja, dan opini-opini yang lahir diperlakukan tak lebih dari esai singkat sarjana parno. Tidak tergoda mencari jawaban tunggal dan mempertimbangkan banyak hal yang memungkinkan terjadinya pandemi, seharusnya bukanlah persoalan sulit dan layak untuk diuji. Kita harus memilih  memercayai ilmu pengetahuan dan pakar kesehatan dibanding konspirasi tak berdasar.

    Kita ingat satu fakta yang kemudian jadi lelucon di awal merebaknya virus ini di Indonesia: bermula dari teori temulawak berujung penggunaan masker dan rajin cuci tangan. Seolah bukanlah manusianya yang lugu, tapi si virus. “Oh ya, warga kampung ini rajin minum jamu, ayo kita serang orang lain saja!”. Zizek mendapat lelucon serupa dari temannya Dejan Kršić yang ia kutip dalam buku barunya Pandemic! (2020). Kali ini virus dalam versi paling polos: “Halo, teman!” “O, halo, profesor! Kenapa Anda memakai masker? Dua minggu yang lalu Anda menjelaskan bahwa tak sepenuhnya masker dapat melindungi diri dari virus? ” “Ya, saya tahu masker tak berguna, tetapi apakah virus mengetahuinya?” Hari ini, wabah virus korona membuat kita berhadapan dengan pengetahuan yang tak bisa kita sangkal: sains. Percaya pada sains tak akan membuat kita semakin lugu. Di tahap ini, bukan hanya perkara apa kata sains pada kita, tetapi minimal memahami bagaimana cara sains bekerja. Pemahaman ini memungkinkan manusia memiliki respons terbaik menghadapi situasi krisis.

    Ambil contoh perilaku kita saat ini. Kita membasuh tangan dengan sabun dan air atau hand sanitizer apabila kita menyentuh permukaan benda-benda yang telah disentuh oleh orang lain. Berdasar usulan sains, begitulah cara paling aman dan efektif untuk mengurangi dan memperlambat penyebaran Covid-19. Semua rekomendasi ini, dan semua riset yang canggih, hanya mungkin karena sains yang datang sebelumnya. Di sini kita tidak sekadar mengikuti aturan, tapi juga sedang menjalankan (mungkin juga menghargai) temuan dalam perjalanan sains hingga sekarang. Inilah tahap pertama—Ethan Siegel, seorang Ph.D. ahli antrofisika menyebutkan ada tiga tahap—bagaimana sains bisa membantu kita.

    Tahap kedua, dunia saat ini bergantung pada riset yang didorong oleh rasa ingin tahu, tidak serta merta karena proyek tanggap darurat atau gagah-gagahan. Para ahli virologi evolusioner, ahli ekologi penyakit, ahli biofisika, dan ilmuwan di banyak bidang penelitian lainnya memberi informasi pada dokter dan pembuat kebijakan, dan juga pada penelitian-penelitian termutakhir saat ini. Di bidang ilmu sosial, struktur antropologis dari kultur yang berbeda dan observasi para psikolog perilaku tentang bentuk-bentuk interaksi sangatlah penting untuk memahami bagaimana orang-orang merespons situasi pandemi. Selain itu, ada sesuatu yang lebih mendasar yang memungkinkan atau membatasi apa yang mungkin: sains dasar. Sains dasar adalah tahap ketiga bagaimana sains dapat menjawab persoalan kita. Bayangkan, kita sedang mencoba untuk menyingkap struktur molekuler atau urutan DNA dari patogen yang menular jika kita tidak memiliki teori atom sebagai fondasi.

    Cara kerja sains menolong kita dari drama yang dengan vulgar menyajikan alam pikir pra-modern. Lanskap media berada pada pergulatan besar antara kebenaran dan kepalsuan, fakta dan informasi yang salah, berita benar dan berita palsu. Dalam drama ini, musuh-musuh kebenaran hadir. Kemudian para ahli terkepung oleh buzzer, kaum populis, dan influencer bayaran. Anda bisa bayangkan apa yang diharapkan oleh tangan-tangan seperti itu selain “dunia tanpa pakar”. Para ahli perlu merebut kembali kepercayaan publik—melalui pengecekan fakta yang lebih baik. Terang datang dari dunia kepastian, dunia para ahli yang penting untuk dimanfaatkan. Tetapi terang itu tidak memenuhi seluruh ruang yang gelap. Artinya kita  harus siap untuk meraba-raba dan bergerak untuk menerobos kegelapan.

    Mencomot isitilah “Sains yang Mengasyikkan” akan menarik di sini (tanpa konteks khusus pada Nietzsche, tapi saya comot dengan bangga). Bahwa membahagiakan bagi kita untuk semangat mencari kebenaran tanpa beban fondasi seperti ideologi atau agama tertentu. Pada poin ini, berpikir tentang sesuatu yang jauh, misalkan kehidupan setelah kematian, azab, dan lain sebagainya bukanlah waktu yang tepat. Yuval Noah Harari, punya sentimen khusus menggapi persoalan tersebut, “Selama berabad-abad, orang-orang menggunakan agama sebagai mekanisme pertahanan, meyakini bahwa mereka akan hidup selamanya dalam kehidupan setelah kematian. Hari ini mereka beralih ke sains sebagai mekanisme pertahanan alternatif, mempercayai bahwa para dokter akan menyelamatkan mereka, dan bahwa mereka akan hidup selamanya di apartemen mereka. Kita memerlukan pendekatan yang seimbang di sini. Kita harus memberikan kepercayaan kepada ilmu pengetahuan untuk mengatasi epidemi, tapi kita juga tetap harus menanggung beban ketidakberdayaan saat berhadapan dengan keterbatasan dan kefanaan kita sendiri.”

    Fakta bahwa di luar sana masih ada orang-orang bekerja di pasar, yang kerja mereka itu memastikan orang lain tetap bisa dengan aman berada dalam isolasi; fakta bahwa di luar sana, ada seorang dokter tua yang tetap ingin mengabdikan tenaganya, tak bisa membuat kita hanya berpikir jauh-jauh, bahkan ke kehidupan setelah kematian. Seorang dokter bedah, Henry Marsh, siap sedia untuk bekerja membantu pasien dan ribuan dokter-dokter lain di dunia, meskipun ia sadar para dokter tetap menghadapi dilema putusan tentang siapa yang akan bertahan hidup dan siapa yang akan meninggal. Gambaran dilema itu diperlihatkan oleh George Bernard Shaw dalam lakon di The Doctor’s Dilemma. Sebagai seorang dokter, Marsh mengatakan sesuatu yang tak bisa kita tolak, “Pengorbanan diri sendiri selalu menjadi bagian dari seorang dokter. Hal tersebut menjadi kebanggaan sekaligus penderitaan, dan itu mengapa, di antara semua, para dokter dan perawat seharusnya betul-betul dihargai. Sungguh jarang terjadi bila bukan karena krisis Covid-19 yang terjadi.”

    Jika Harari menyebut bahwa Covid-19 memaksa kita untuk menggandakan upaya kita untuk melindungi manusia lain dan bukanlah sikap pasrah—melainkan gabungan antara penyesalan (menjauh dari eskatologi) dan harapan (mendekati sains)—Arundhati Roy menyebut pandemi ini memaksa manusia untuk putus dengan masa lalunya. Membayangkan dunianya yang baru. Pandemi adalah sebuah portal, sebuah pintu gerbang menuju dunia berikutnya. Dunia seperti apa? Kita mungkin akan berpikir sekeras Arundhati Roy. Sebagai seorang penulis, ia melihat bayangan dunia baru adalah kebalikan dari situasi krisis. Bentuk jelasnya seperti apa dunia baru itu, tidak ada yang tahu. Mungkin dunia tanpa krisis ekonomi, krisis politik, atau narsisisme politisi yang semakin kelihatan jelas dan menunjukkan kelemahannya di masa pandemi. Lebih dari itu, dunia tanpa kambing hitam. Dalam konteks India, media arus utama memasukkan cerita tentang Covid-19 ke dalam kampanye anti-Muslim. Sebuah organisasi Jamaah Tabligh, yang mengadakan pertemuan di Delhi sebelum karantina wilayah diumumkan, ternyata menjadi “penyebar utama”. Hal itu digunakan untuk menstigmatisasi kaum Muslim. Dalam konteks global, kita tahu skema serupa juga berlaku, banyak orang mulai memberi warna kulit pada virus. Wabah akhirnya juga berubah ke arah rasisme.

    Ketakutan akan dampak virus corona melebihi dampak dari virus itu sendiri. Mulai dari sistem pengawasan digital, aturan negara yang masuk ke ranah privat, pemantauan ketat dan hukuman bagi yang melanggar, dan ketakutan dunia yang tak akan kembali seperti sedia kala. Perangkat seperti pengawasan ketat dan banjir himbauan menandakan hilangnya rasa kepercayaan satu sama lain. Kepercayaan pemerintah ke rakyat dan sebaliknya. Kesukarelaan dan kerjasama tak akan tumbuh dari kondisi tidak saling percaya seperti itu, bahkan dari aturan ketat. Kita harus tetap mengingat bahwa kehidupan telanjang kita, kehidupan sehari-hari bergulat dengan orang lain masih menyimpan rasa percaya dan persahabatan. Dalam situasi krisis, kita sering melihat saudara atau teman (meski dipenuhi konflik) dan bergegas menolong satu sama lain. Ketimbang membangun rezim totaliter, membangun kembali kepercayaan publik terhadap ilmu pengetahuan, otoritas publik, dan media masih mungkin sekali  kita lakukan.

    Kepercayaan menjanjikan penanganan jangka panjang tidak hanya pada krisis saat ini, tapi juga di masa depan dan lingkup global. Kepercayaan yang diolah memungkinkan kita untuk membangun solidaritas.  Harari menyebutnya “solidaritas global” dengan beberapa poin kerjasama: seperti berbagi informasi secara global atau keterbukaan informasi antarnegara, kesepakatan ekonomi dan lalu lintas perjalanan. Zizek membawa istilah lain, menyebutnya sebagai komunisme global. Kita tidak perlu terganggu dengan istilah ini. Apa yang dimaksud Zizek bukanlah politik suatu negara, melainkan sebuah kerjasama. Komunisme dalam pengertian paling sederhana, koordinasi dan kolaborasi global. Solidaritas bentuk ini bukanlah solidaritas yang diidealkan di antara orang-orang. Sebaliknya, krisis pandemi menunjukkan bagaimana solidaritas dan kerja sama global demi kepentingan bertahan untuk semua dan kita masing-masing.

    Banyak persoalan yang masih terbuka dan belum kita eksplor dalam seri ini. Misal soal perubahan makna kerja, bentuk-bentuk solidaritas dan wajah sains ke depan. Tapi setidaknya terbitan seri pandemi ini mengajak kita berpikir di masa krisis dan meninjau ulang ide-ide mereka. Selamat membaca!

    *Tulisan ini merupakan pengantar dari buku Wabah, Sains, dan Politik (2020) yang dapat diunduh secara gratis di menu publikasi atau langsung melalui tautan berikut: antinomi.org/publikasi.

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here