Kerinduan akan kampung halaman memang begitu amat niscaya. Terlepas dari persoalan politis di belakangnya, gerakan khilafah Islamiyah merupakan bentuk kegelisahan. Ada semacam kerinduan nostalgie dalam diri orang-orang yang merasa dilahirkan menjadi seorang muslim untuk ingin kembali ke masa-masa Islam dilahirkan. Banyak dari mereka menganggap bahwa dunia Islam dahulu amatlah damai, tentram, dan berjaya, atau singkat kata civitas dei. Persoalannya, kerinduan semacam ini bukanlah harga yang murah untuk dibayar. Gerakan untuk mendirikan negara Islam ‘kembali’ (artinya dahulu diasumsikan memang pernah ada negara Islam ) mengandaikan dua persoalan penting: Pertama, pijakan historis tentang idealitas masa lalu, yakni kebenaran asumsi historis kita tentang asal-usul Islam; kedua, kerangka perwujudan yang realistis, yakni tentang upaya-upaya yang diperlukan untuk mewujudkan hal itu sangatlah berisiko besar, jika bukan malah memicu perang terbesar yang pernah ada.

Dalam buku Discovering Islam: Making Sense of Muslim History and Society, Akbar S. Ahmed (2002: 1) menggambarkan bagaimana pandangan dunia terhadap Islam selalu mengarah pada brutalitas, fanatisme, kebencian dan kekacauan. Seperti orang-orang Palestina yang membajak penumpang pesawat Uganda (1976), orang-orang Iran yang merampas kedutaan asing (1980), orang Libya yang membunuh polisi wanita di London (1984), orang-orang Indonesia yang meledakkan candi Borobudur (1985), seluruh rentetan sejarah tersebut telah memberikan gambaran suram dari wajah dunia Islam yang selalu diidentikkan dengan separatisme, anarkisme dan terorisme.

Seperti halnya kemudian Hughes (2013: 2), dalam buku Muslim Identities: an Introduction to Islam, menjelaskan bagaimana peristiwa 11 September 2001 telah mengawali diskusi panjang di dunia Barat perihal apakah Islam mengajarkan terorisme? Hughes juga menambahkan bahwa peristiwa yang terjadi di World Trade Center (WTC) dan Pentagon beberapa tahun silam, telah memanggil banyak dari kalangan sarjana Islam untuk kembali mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya disebut dengan Islam, apakah jihad sama artinya dengan terorisme, apakah Islam adalah agama yang tidak memiliki toleransi? Terlepas dari banyaknya teori konspirasi yang berkembang atas segala persoalan yang terjadi antara dunia Barat dan dunia Islam, satu-satunya jalan untuk memperoleh konfirmasi atas segala tuduhan, stereotipe, ataupun prasangka-prasangka yang terburu-buru perihal Islam adalah dengan kembali lagi melihat realitas keberagamaan umat Islam itu sendiri.

Senyatanya, untuk melihat realitas keberagamaan umat Islam bukanlah sesuatu yang mudah. Usaha untuk mendapatkan penjelasan atas ’apa yang sebenarnya disebut Islam?’ akan selalu terbentur pada kemungkinan reduksionistik atas Islam itu sendiri. Demikian pula upaya atas konstruksi bahwa Islam adalah ’seperti ini’ seketika akan terbantahkan ketika ternyata ada Islam yang ’seperti itu’, yang dari masing-masing ’ini’ dan ’itu’ tentu sama-sama mendaku diri sebagai Islam. Dalam pemahaman semacam inilah kebutuhan akan penjelasan seperti apa Islam awal itu menjadi demikian penting, yakni tentang “seperti apakah sebenarnya Islam yang paling autentik?”.

Dalam buku Original Islam: Malik and the Madhhab of Madina, Dutton (2007: 1) menjelaskan bahwa untuk memahami Islam, persoalan awal yang cukup penting untuk dimengerti adalah bahwa ada dua pengertian tentang Islam yang dari masing-masing pengertian tersebut memiliki konsekuensi berbeda atas pemahaman tentang Islam secara menyeluruh. Pengertian pertama disebut dengan Islam asli (original Islam), yakni Islam yang didirikan oleh Muhammad dan diajarkan kepada para pengikutnya berdasarkan al-Qur’an sebagai wahyu yang diberikan oleh Tuhan kepada Muhammad. Kedua, Islam utama (primal Islam), yakni Islam yang diajarkan oleh Ibrahim dan nabi-nabi sebelumnya sebagai satu-satunya agama dari Tuhan. Dari dua pengertian yang diberikan oleh Dutton tersebut, Geaves dalam buku Islam Today (2010) kemudian membuat dua kerangka pemahaman atas asal-usul Islam yang jelas berbeda satu sama lain, yakni asal-usul mitos (myths of origin) dan asal-usul historis (historical origin).

Asal-usul mitos (myths of origin), sebagaimana dijelaskan oleh Geaves (2010: 2), merupakan asal-usul yang dimaksudkan sebagai penjelas dari pengertian Islam utama (primal Islam), yakni asal-usul dalam bentuk kosmogoni dan teogoni yang digambarkan berdasarkan apa yang disampaikan oleh al-Qur’an tentang Islam sebagai agama satu-satunya yang diturunkan oleh Tuhan sejak manusia diciptakan. Dalam pengertian semacam ini, maka Islam lebih dipahami sebagai tradisi perennis yang diajarkan oleh Tuhan kepada manusia melalui rantai kenabian yang kemudian berkembang menjadi bermacam-macam nama agama, dengan beberapa kategori-kategori penyelewengan oleh manusia terhadap Islam yang sebenarnya.

Dalam hal inilah kemudian Islam dalam pengertian yang asli (Islam original) muncul melalui kenabian Muhammad, yang kemudian menjadi titik berangkat pemahaman asal-usul historis (historical origin), yakni asal-usul Islam yang digambarkan dengan latar kondisi jazirah Arab dengan tradisi pagan yang kuat saat kelahiran Muhammad. Hingga akhirnya Muhammad datang membawa agama hanif yang mengajarkan keesaan Tuhan (monotheism) yang sebenarnya juga telah banyak berkembang melalui tradisi Kristen dan Yahudi sebelumnya (Geaves, 2010: 5).

Dalam rangka memahami dari mana sebenarnya Islam yang hadir sampai saat ini, sebagaimana menjadi perbincangan hangat di kalangan sarjana modern, tentu hanya dapat dipahami melalui pengertian Islam yang asli (original Islam) dengan pendekatan asal-usul historis (historical origin). Mengapa demikian? Karena sebagaimana mitos yang menjadi kerangka pemahaman asal-usul dalam pengertian Islam utama (primal Islam), tidak ada jalan lain untuk membuktikan kebenarannya selain hanya dengan iman atau keyakinan saja, sedangkan kebenaran pemahaman Islam yang autentik, sebagaimana telah diperbincangkan sebelumnya, membutuhkan telaah historis untuk mencari konfirmasi kebenaran tersebut berdasarkan pada fakta sejarah.

Dalam pemahaman yang demikian, tetap saja telaah tersebut merupakan pekerjaan yang begitu berat. Dalam buku Islamic Thought/Pemikiran Islam (2014), Abdullah Saeed, seorang profesor Islamic Studies di Universitas Melbourne, telah memberi gambaran betapa perbincangan Islam merupakan belantara tak bertepi. Islam yang hadir saat ini, yang diuraikan oleh Saeed dengan begitu panjang, bukan lagi merupakan Islam dengan sistem kepercayaan yang sederhana, dalam artian mengimani enam rukun dan juga menjalankan lima rukun saja. Islam yang hadir sampai saat ini adalah Islam yang telah termanifestasi dalam setiap seluk beluk kehidupan manusia; sosial, budaya, politik, dan pengetahuan, sehingga melahirkan beragam bentuk keberagamaan, seperti teologi, fiqh, falsafah, seni dan lain sebagainya. Dengan demikian, untuk menelusuri kembali Islam yang autentik mengartikan suatu upaya pemisahan anasir-anasir yang telah memberi warna tersendiri dalam bentuk-bentuk ke-Islam-an tersebut.

Terlepas dari begitu beratnya upaya telaah asal-usul semacam itu, tetapi memang itulah yang hendak coba dilakukan oleh para kesarjanaan Islam modern. Melalui telaah historis, para ’kesarjanaan bentuk baru’ tersebut mencoba untuk kembali merekonstruksi narasi Islam pada periode-periode awal guna mencari tahu kapan dan seperti apa sebenarnya Islam pada saat awal pembentukannya, apakah sama seperti yang hadir saat ini, atau boleh jadi sama sekali berbeda? Dalam pertanyaan inilah kemudian perbincangan asal-usul Islam menjadi kajian cukup penting dalam diskursus kesarjanaan Islam modern.

Bersambung…

Referensi

 Ahmed, Akbar S. Discovering Islam: Making Sense of Muslim History and Society. New York: Routledge, 2002.

Dutton, Yasin. Original Islam: Malik and the Madhhab of Madina. New York: Routledge, 2007.

Geaves, Ron. Islam Today. New York: Continuum, 2010.

Hughes, Aaron W. Muslim Identities: an Introduction to Islam. New York: Columbia University Press, 2013.

Saeed, Abdullah. Islamic Thought: an Introduction. New York: Routledge, 2006.