<< Baca artikel sebelumnya

Musuh terbesar filsafat adalah sejarah, sejauh dipahami sebagai sains tentang ’yang ada’ dan ’yang telah ada’ (Al-Fayyadl, 2016: 23). Sejarah berpotensi memberhalakan realitas yang kemudian dapat memberi legitimasi terhadap segala bentuk tindakan apapun. Itulah mengapa kemudian muncul sebuah adagium yang cukup populer dari dunia kepenulisan sejarah yang kurang lebih dinyatakan demikian, “history has been written by the victors”, yang artinya “sejarah telah dan selalu ditulis oleh para pemenang”. Melalui asumsi sejarah yang demikian, maka filsafat sejauh dimengerti sebagai suatu bentuk keraguan metodis (skeptical method) dalam artian filsafat Cartesian, harus selalu diposisikan dalam kerangka kecurigaan besar terhadap bentuk sejarah apapun yang dihadirkan oleh suatu subjek, entah itu individu, komunal, ataupun institusional.

Pada peralihan abad 20 dan 21, persoalan tersebut nampaknya hadir dalam perdebatan sejarah Islam awal yang diperbincangkan secara serius oleh para pemikir Islam maupun orientalis barat yang memiliki perhatian (concern) lebih pada ihwal Islam. Setidaknya ada dua alasan utama tentang mengapa kemudian sejarah Islam awal tersebut menjadi wacana yang sangat penting untuk didiskusikan kembali dalam porsi yang cukup besar. Pertama, sebagaimana diungkapkan oleh Mun’im Sirry (2015: 11) bahwa umumnya periode Islam awal selalu diidealkan sebagai generasi terbaik (khayr qurun) yang sering juga disebut dengan salaf as sholih, meskipun masih banyak yang berbeda pendapat tentang siapa atau sampai batas mana periode itu dapat dikatakan sebagai salaf as sholih, sebagian besar umat Islam bersepakat bahwa kehidupan pada periode tersebut merupakan standar ideal kehidupan Islam.

Tidak dapat dipungkiri memang, bahwa Islam sejauh dipahami sebagai jalan hidup (ad dîn) haruslah memiliki suatu standar nilai yang dapat dijadikan ukuran kehidupan yang lebih baik, sehingga penghadiran sejarah semacam itu dibutuhkan sebagai bentuk legitimasi atas nilai yang diyakini tersebut. Persoalannya, sudah benarkah pancang nilai yang dibentangkan tersebut? Dalam hal tiga generasi awal yang selalu dijadikan tolak ukur nilai hidup yang ideal sendiri, sampai saat ini masih menuai perdebatan panjang tentang kebenaran sejarahnya yang banyak dinilai memiliki kesan seperti dongeng tentang kota tuhan (civitas dei) yang pernah hadir di masa lalu (Wahid, 1981: 11). sehingga dari kesan tersebut, yang diperoleh dari pembacaan sejarah tentang Islam awal hanyalah semacam mitos, yang sebagian besar akan banyak ditemukan di beberapa periwayatan sejarah Muslim tradisional. Salah satu misalnya adalah seperti apa yang diriwayatkan oleh Ibn Ishaq bahwa:

Saat mengandung Rasulullah Shalallahu ’alaihi wa Sallam, ia (Aminah) melihat cahaya keluar dari perutnya yang dengannya dia bisa melihat istana-istana Bushra di wilayah Syam (Ishaq, 2012: 97).

Tentu riwayat tersebut hanyalah salah satu dari sekian banyak riwayat yang menjadi kerangka acuan penulisan sejarah Islam, yang kemudian mengartikan bahwa untuk menerima kebenaran sejarah semacam itu, hanya dibutuhkan satu faktor yang tidak lain adalah iman bahwa kejadian seperti itu memang bisa saja terjadi kepada orang-orang suci seperti Muhammad. Inilah yang kemudian mengantarkan beberapa sarjana modern seperti Goldziher, Schacht dan Wansbrough menganggap bahwa sumber-sumber muslim yang selama ini menjadi satu-satunya sumber sejarah terbentuknya Islam, sangatlah bermasalah (Donner, 1998: 10).

Asumsi yang demikian setidaknya kemudian menjadi dasar alasan kedua mengapa wacana Islam awal cukup penting diperbincangkan kembali. Alasan tersebut adalah terkait dengan minimnya catatan sejarah Islam awal yang benar- benar ditulis sebagaimana apa yang terjadi, melainkan lebih mengarah pada penulisan sesuatu yang diinginkan untuk terjadi, sehingga menurut Mun’im Sirry (2015: 19) potret Islam yang ditulis tersebut sebenarnya lebih merefleksikan apa yang terjadi pada masa penulisan kitab-kitab sejarah muslim, daripada apa yang sesungguhnya terjadi di masa yang hendak diceritakan. Dengan demikian, asumsinya adalah bahwa sangatlah mungkin suatu periwayatan sejarah tentang Islam awal selalu diwarnai kepentingan-kepentingan tertentu.

Dari dua kerangka alasan tersebut, menjadi sangat wajar jika kemudian muncul pelbagai pertanyaan skeptis tentang kebenaran Islam yang diimani banyak umat muslim saat ini. Kecurigaan terbesar perihal ini adalah tentang pertanyaan apakah Islam yang ada saat ini benar-benar merupakan agama yang dibawa Muhammad? Asumsinya, jika pembacaan sejarah tentang Islam hanya dapat diperoleh dari riwayat-riwayat yang muncul jauh setelah Muhammad wafat, maka ada suatu kemungkinan bahwa Islam boleh jadi muncul pada saat-saat penulisan riwayat-riwayat tersebut. Karena sebagaimana diungkapkan oleh Armstrong (2012: 223), Muhammad tidak pernah berniat membangun sebuah agama baru yang universal, melainkan keyakinan kuno yang mengajarkan tentang keesaan Tuhan kepada kaum Quraisy. Armstrong bahkan dengan tegas menyatakan bahwa pada awalnya, Muhammad tidak pernah berpikir harus berdakwah kepada suku-suku Arab selain penduduk Makkah dan sekitarnya, apalagi untuk menjadikan ajarannya sebagai agama seluruh umat manusia. Dengan demikian, pertanyaannya adalah apa yang sebenarnya disebut dengan Islam yang hadir sampai saat ini?

Islam sejauh dipahami sebagai suatu doktrin keagamaan, menurut Othman (1981: 2) dan sebagaimana pula disepakati oleh banyak kesarjanaan Islam tradisional lainnya merupakan agama yang telah diajarkan sejak kenabian Ibrahim. Pengertian ini tidak lebih didasarkan pada pernyataan al-Qur’an (78: 22) bahwa manusia pertama yang dinyatakan sebagai ‘Muslim’ adalah Ibrahim. Artinya dengan demikian, agama Yahudi ataupun Nasrani sejauh dipahami sebagai agama Ibrahim (Abrahamic Religion), keduanya sebenarnya adalah Islam. Akan tetapi dalam pengertian lain yang dituturkan Donner (2010: 195) dalam bukunya Muhammad and the Believers: At the Origins of Islam, Islam tidak lebih dari gerakan suatu komunitas yang dipimpin oleh Muhammad, yakni gerakan Umat Beriman (Believers movement) yang meyakini keesaan Tuhan dan percaya dengan adanya hari akhir. Sedangkan menurut Donner, apa yang disebut Islam saat ini baru mulai terbentuk semenjak kekuasaan Dinasti Umayyah, yang artinya dengan demikian Islam yang ada saat ini baru terbentuk beberapa abad setelah kematian Muhammad.

Jelas bahwa apa yang dinyatakan oleh Othman merupakan pengertian yang dibangun dalam kerangka teologis, dan persoalannya adalah apakah Islam yang ada saat ini dapat dipahami hanya dalam kerangka demikian? Sedangkan, sebagian besar umat Islam sepakat bahwa Islam adalah agama yang sama sekali berbeda dengan agama Ibrahim (ahl al Kitab) sebelum-sebelumnya, karena jika memang sama, dengan demikian seorang Muslim diperbolehkan untuk berpindah-pindah agama selama masih dalam tiga agama Ibrahim tersebut. Celakanya tidak sesederhana itu, karena argumentasi yang sering muncul perihal mengapa seorang muslim tidak diperkenankan berpindah agama meskipun masih dalam rumpun Abrahamic religions adalah karena Kristen atau Yahudi yang ada saat ini telah diselewengkan oleh umat-umat terdahulu, sehingga ajaran-ajarannya pun sama sekali lain dengan apa yang diajarkan oleh Nabi pembawanya.

Perihal ketepatan pengertian dalam argumen semacam itu jelas bergantung pada kebenaran sejarah apakah memang benar penyelewengan itu terjadi, apakah Islam benar-benar merupakan penyempurna agama Ibrahim atau boleh jadi apa yang diajarkan oleh Muhammad tidak lain adalah agama Kristen dan Yahudi dalam versi berbeda, dan pertanyaan terbesarnya adalah jika agama-agama sebelumnya diasumsikan terdapat suatu penyelewengan sepeninggal para nabinya, apakah ada suatu jaminan bahwa penyelewengan tersebut tidak mungkin terjadi dalam ajaran yang dibawa Muhammad? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini pun sah untuk diajukan, karena sebagaimana telaah sejarah yang dilakukan oleh Donner, atau juga yang sebelumnya telah dilakukan Crone dan Michael Cook dalam buku Hagarism: The Making of the Islamic World, dari telaah yang berbeda dalam hal penggunaan tipologi pendekatan maupun kesimpulam akhir tersebut sama-sama sepakat bahwa Muhammad tidak pernah benar-benar membawakan agama bernama Islam yang dipahami sampai saat ini. Jika temuan tersebut diasumsikan benar, lantas persoalan besarnya kemudian adalah dari mana asal-usul Islam yang ada sampai saat ini?

Pertanyaan inilah yang kemudian mengantar historiografi Islam kepada perbincangan panjang tentang Islam awal yang banyak mempertanyakan keabsahan bentuk historiografi tradisional. Pertanyaan itupun dalam pembacaan Mun’im Sirry (2015: 56) kemudian melahirkan dua bentuk pemahaman historiografi Islam; tradisional dan modern (revisionis), yang dari kedua pemahaman itupun masing-masing memiliki klaim kebenaran sejarahnya sendiri. Sehingga pertanyaannya kemudian adalah mana yang lebih benar? Dan apa yang dapat menjamin kebenaran tersebut?

Bersambung…

Referensi

Al-Fayyadl, Muhammad. Filsafat Negasi. Yogyakarta: Aurora, 2016.

Armstrong, Karen. Sejarah Tuhan: Kisah 4000 Tahun Pencarian Tuhan dalam Agama-agama Manusia. Bandung: Mizan, 2012.

Crone, Patricia dan Michael A. Cook. Hagarism: The Making of the Islamic World. New York: Cambridge University Press, 1977.

Donner, Fred M. Muhammad and the Believers: At the Origins of Islam. London: The Belknap Press of Harvard University Press, 2010.

_____________. Narratives of Islamic Origins: The Beginnings of Islamic Historical Writing. New Jersey: The Darwin Press, 1998.

Ishaq, Ibn. Sirah Nabawiyah: Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah. Terjemahan H. Samson Rahman. Jakarta: Akbar Media, 2012.

Othman, Ali Isa. Manusia Menurut Al-Ghazali. Bandung: PUSTAKA, 1981.

Sirry, Mun’im. Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis. Bandung: Mizan, 2015.

Wahid, Abdurrahman. Muslim di Tengah Pergumulan. Jakarta: LEPPENAS, 1981.