More

    Freemasonry dan Perkembangannya di Indonesia

    Eko Firmansah
    Eko Firmansahhttp://antinomi.org
    Interested in the fields of science, engineering, history, psychology, and philosophy.

    Artikel Terbaru

    Populisme Kiri: Sebuah Pengantar

    Akhir-akhir ini, ruang publik demokratik kita terkungkung dalam jurang cemoohan dan celaan—demonisasi—terhadap orang-orang atau kelompok yang disinyalir anti-demokratik. Mereka ialah orang-orang...

    Apa Arti Menjadi Pluralis Ilmiah?

    Apa yang akan kita lakukan jika kita berhadapan dengan dua atau lebih pandangan berbeda secara politik? Ada dua jawaban umum. Kita...

    Realisme dan Anti-realisme dalam Pemikiran Martin Heidegger

    Pemikiran Martin Heidegger masih terasa pengaruhnya hingga hari ini. Ketika perkembangan teknologi dan sains semakin maju, manusia terasing di dalam sistem...

    Where Is God in a Coronavirus World?

    This year's coronavirus pandemic has truly shaken the world's citizens both physically and mentally. People are required to self-isolate to prevent...

    Waktu: Jejaring Peristiwa dan Relasinya (Bagian 2)

    Penjelasan bagian pertama sedikit banyak telah “meruntuhkan” konsepsi waktu awam yang biasa kita kenal. Mulai dari keumuman, ketakgayutan, serta kesetangkupan (simetris)...

    Antinomi.org – Buku dengan judul Freemasonry di Indonesia: Jaringan zionis tertua yang mengendalikan nusantara, memiliki judul asli “Freemasonry in Indonesia” terbit pada tahun 1976, merupakan karya Paul W. van der Veur – seorang profesor di bidang ilmu politik Universitas Ohio. Diterjemahkan oleh Jagat Purbawati pada bulan Oktober 2012 di Yogyakarta dan diterbitkan oleh UFUK PRESS, beralamat di Jakarta Selatan, dengan jumlah halaman 153 halaman ditambah dengan halaman sampul hingga halaman pengantar dari penerjemah.
    Secara umum, buku ini merupakan buku yang mengungkapkan waktu, cara, dan perkembangan freemansonry di Indonesia. Lebih sederhananya dapat kita katakan bahwa buku ini adalah buku sejarah perkembangan jaringan zionis tertua yang masuk ke Indonesia hingga menguasai atau mengendalikan banyak hal di Indonesia. Memang, jaringan “semacam” ini tidak dapat dibuktikan secara ilmiah atau pun kalau bisa, akan sangat sulit untuk dilakukan. Bahkan beberapa orang berpendapat – secara tidak resmi, bahwa jaringan ini hanya merupakan “hoak” atau omong kosong bahkan dongeng yang menjadi semacam “orang-orangan sawah untuk menakuti burung pemakan padi” saja. Hal ini didasarkan pada, setidaknya, ketidakmunculan bentuk organisasi yang pergerakannya nyata dan mengatasnamakan misalnya “gerakan freemasonry” atau sangat sedikitnya buku-buku atau penelitian-penelitian baik di kalangan akademisi maupun praktisi yang menuliskan atau meneliti permasalahan semacam ini.
    Dimulai dengan kata pengantar dari penerjemah, pada buku ini diulas kembali tentang sejarah masyarakat-masyarakat tersembunyi (secret societies), salah satunya dari buku karya Dr. Th. Stevans. Kemudian pada pendahuluan dijelaskan keberadaan freemasonry di Indonesia dari tahun 1762-1961 atau sejak Radermacher hingga Soekanto. Pada bagian berikutnya, pendirian freemasonry di Indonesia dijabarkan cukup mendetail beserta dengan anggota-anggota yang terlibat di dalamnya, baik warga negara asli Indonesia (pribumi) maupun yang berasal dari keturunan atau asli warga Cina yang ada di Indonesia. Pada dua bagian terakhir, van der Veur menjelaskan kegiatan-kegiatan freemasonry hingga perkembangannya setelah perang dunia II berakhir, atau lebih tepatnya awal-awal kemerdekaan republik Indonesia pada tahun 1945, hingga tahun 1960an. Meskipun buku ini penjabaran masalahnya cukup singkat, tetapi bagi para peneliti, buku ini menyajikan informasi-informasi yang sangat penting pada bagian lampiran, seperti Ekstrak anggaran dasar freemasonry di bawah majelis Agung Grand Orient Nederland yang diadobsi pada tanggal 1 Maret 1917, Mason Indonesia dan Cina, dan Loji-Loji Mason dan Keanggotaannya.
    Secara umum buku ini cukup memberikan informasi menyeluruh tentang pergerakan freemasonsy di Indonesia dari awal, meskipun hanya sampai tahun 1960an. Namun untuk para peneliti di bidang kajian sejarah pergerakan freemasonry, buku ini baru merupakan tahap awal atau dapat dikatakan sebagai pintu masuk dari sebuah bangunan objek penelitian besar yang mungkin akan dapat dijangkau dalam waktu yang cukup lama. Tetapi, dengan beberapa referensi yang diberikan dan beberapa keterangan tambahan di dalam uraian, para peneliti atau yang tertarik untuk mengetahui lebih jauh, dapat menjadikan referensi-referensi tersebut sebagai bahan bacaan lanjutan. Sehingga nantinya dapat diperoleh pengetahuan yang utuh dan komprehensif terkait keberadaan dan pergerakan freemasonry di Indonesia dari awal hingga saat ini.

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here