Soal Kesederhanaan Ontologis

Kesederhanaan ontologis bukanlah bentuk kekikiran, sehingga tidak punya implikasi terhadap kerobohan bangunan metafisika.

Risalatul Hukmi
Risalatul Hukmi
Mahasiswa doktoral di School of History and Philosophy of Science, University of Sydney.

Masalah serius yang seketika bisa ditemukan dalam tulisan “Kikir Ontologi Berimplikasi Kerobohan Bangunan Metafisika” adalah dua kata yang digunakan secara tidak hati-hati: “kikir” dan “implikasi”. Dua kata tersebut tampak bukan hanya sebagai polesan tajuk, tetapi juga menjadi logika dari keseluruhan argumentasi yang dibangun Arkhano dalam tulisannya.

Ringkasnya, tulisan tersebut dibangun di atas logika “jika p (kita kikir secara ontologis), maka q (merobohkan bangunan metafisika).” Sebab Arkhano tidak mendefinisikan kata “kikir” dalam argumennya, saya mengasumsikan kita sedang berbicara dalam pengertian bahasa sehari-hari (ordinary language). Untuk itu, jawaban ringkas saya, “sederhana atau efisien itu tidak sama dengan kikir.” Yang pertama itu “sesuai keperluan”, yang terakhir itu “enggan sekalipun perlu”.

Sampai di sini, inti argumen Arkhano gagal sebab p tidak terpenuhi, atau lebih tepatnya, tidak didefinisikan dengan baik. Sekalipun ia terpenuhi, pertanyaannya adalah “apakah ia punya implikasi terhadap kerobohan bangunan metafisika?” Saya pikir tidak.

Namun, tentu saja, saya tetap perlu memberikan pembelaan atas posisi saya dengan lebih memadai. Untuk itu, pertama-tama, yang perlu saya klarifikasi adalah bahwa sikap kesederhanaan ontologis yang saya bela bukanlah dogma anti-metafisika, melainkan prinsip kerja untuk menjaga bangunan metafisika tetap rasional, efisien, dan tidak runtuh oleh beban entitas yang tidak perlu. Dalam kerangka ini, saya akan merespons dalam tiga pokok besar: (1) soal pembedaan beingexistence dan peran teori deskripsi, (2) soal logika bebas dan komitmen ontologis, serta (3) soal posisi kesederhanaan ontologis sebagai prinsip metodologis.

Pembedaan yang redundan

Arkhano berargumen bahwa pembedaan antara being dan existence penting untuk menjelaskan proposisi tentang objek fiksi. Misalnya, ketika kita mengatakan “Sherlock Holmes tinggal di Baker Street 221B,” kita seolah menyatakan sesuatu yang benar, meskipun Sherlock Holmes tidak eksis. Arkhano menyimpulkan bahwa agar proposisi tersebut masuk akal, kita perlu menerima keberadaan entitas “subsisten” di luar ranah eksistensi aktual. Benar, inilah titik pijakan utama Meinongianisme.

Namun, di sinilah letak perbedaan prinsip antara posisi Meinongian dan Quinean yang saya adopsi. Pembedaan itu bukan tidak mungkin, tetapi tidak perlu. Sejak Russell memperkenalkan teori deskripsi (1905), proposisi semacam itu dapat dijelaskan tanpa harus memanggul beban ontologis tambahan. Ketika kita mengatakan “Sherlock Holmes tinggal di Baker Street 221B,” kita tidak sedang berbicara tentang entitas yang benar-benar ada, melainkan tentang deskripsi linguistik tertentu. Kalimat tersebut dapat dipahami sebagai “dalam cerita detektif Conan Doyle, terdapat tokoh bernama Sherlock Holmes yang diasosiasikan dengan alamat tersebut.” Tidak ada keharusan untuk menambah “Sherlock Holmes” sebagai entitas subsisten dalam inventaris dunia.

Pembedaan being/existence Meinong memang tampak elegan karena ia memberikan ruang bagi objek fiksi, objek non-eksis, dan bahkan objek kontradiktif. Namun, elegansi semacam ini bersifat kosmetik. Ia tidak menambah kemampuan teoritis yang tidak dapat diperoleh dengan kerangka deskriptif Russellian atau analisis semantik formal. Sebaliknya, ia justru memperbesar daftar ontologis tanpa justifikasi epistemik yang kuat. 

Dengan kata lain, being ala Meinong hanyalah cara lain untuk menduplikasi bahasa menjadi ontologi. Setiap deskripsi atau kemungkinan dijadikan entitas. Inilah yang Quine (1948) sebut sebagai “hutan liar Meinongian”, tempat di mana kalimat linguistik otomatis memproduksi entitas metafisik. Jika kita mengikuti cara berpikir ini, kita bisa jatuh pada sesat-pikir reifikasi (fallacy of reification) atau sesat-pikir ontologis (ontological fallacy); menganggap sesuatu eksis hanya karena kita bisa membahasakannya.

Soal logika bebas

Arkhano mengajukan “logika bebas” (free logic) sebagai alternatif untuk mengatasi keterbatasan logika klasik Quinean. Dengan memisahkan eksistensi dari kuantifikasi melalui inner domain dan outer domain, logika bebas memungkinkan kita mengafirmasi proposisi tentang objek non-eksis tanpa komitmen terhadap eksistensi aktual. Misalnya, kita dapat menyatakan “Pegasus tidak eksis” tanpa kontradiksi formal.

Tentu, saya bersimpatik dan tidak punya masalah dengan “logika bebas”. Dalam hal ini, saya melihatnya sebagai cara lain untuk mengatasi masalah serupa yang ingin diselesaikan oleh Russell dan Quine. Toh, keduanya juga punya kesimpulan yang sama bahwa pembicaraan tentang objek non-eksis masih bermakna. Perbedaannya, “logika bebas” secara formal menyediakan kerangka yang lebih fleksibel untuk menangani istilah-istilah yang tidak punya rujukan (non-denoting), sementara Russell dan Quine cenderung mengandalkan teori deskripsi atau asumsi eksistensi implisit.

Namun, jika tujuannya adalah membela posisi meinongian, yakni memberikan semacam status ontologis bagi entitas fiksi, saya pikir “logika bebas” bukanlah alat yang tepat. Sebab, secara prinsip, logika bebas tidak mengharuskan—apalagi mempromosikan—komitmen ontologis terhadap entitas non-eksis. Ia hanya menata ulang struktur logis agar pernyataan tentang entitas tersebut dapat diformalkan tanpa kontradiksi, bukan untuk memvalidasi keberadaan mereka dalam ranah ontologi.

Dengan demikian, saya melihat “logika bebas” hanya sebagai alat metodologis: ia mempermudah pembicaraan tentang objek non-eksis dalam bahasa formal tanpa memaksa kita melakukan klaim ontologis tambahan. Dalam konteks ini, ia cukup membantu menjaga konsistensi logis dengan tetap mempertahankan intuisi linguistik dan semantik tanpa mengubah peta ontologi kita. Jadi, simpulannya, sikap saya terhadap logika bebas adalah positif, sebagai sarana formal, tetapi skeptis terhadap klaim ontologis yang kadang ingin dipaksakan dari pernyataan formal tersebut.

Kesederhanaan sebagai prinsip metodologis

Kritik Arkhano terhadap posisi saya berpangkal pada anggapan bahwa saya terlalu memuja kesederhanaan, sehingga saya bisa disebut “kikir” ontologis. Menurutnya, kesederhanaan hanyalah kriteria akhir dalam menilai teori metafisika, dan teori yang rumit bisa jadi lebih masuk akal jika daya penjelasnya lebih kuat. Ini argumen yang sah, tetapi keliru jika diarahkan pada posisi saya.

Saya tidak menempatkan kesederhanaan sebagai kriteria mutlak, melainkan sebagai prinsip metodologis pembatas inflasi ontologis. Dalam sains, kita tidak akan memasukkan entitas atau mekanisme tambahan kecuali ada fenomena yang tak dapat dijelaskan tanpanya. Hal yang sama berlaku dalam metafisika. Jika teori deskripsi Russell dan kerangka Quine—atau kerangka formal “logika bebas”, sebagaimana diusulkan Arkhano—sudah dapat menjelaskan proposisi fiksi dan kontradiksi, maka menambahkan entitas meinongian adalah hal yang tidak perlu. Boleh saja, tapi buat apa?

Kesederhanaan tidak berarti menolak teori rumit secara apriori. Jika teori rumit benar-benar memberi daya penjelas baru, maka ia layak dipertimbangkan. Namun, dalam kasus ini, beban tambahan yang dibawa oleh meinongianisme tidak disertai manfaat teoritis yang proporsional. Ia memperbesar “bangunan metafisika” tanpa fondasi epistemik yang kokoh.

Selain itu, kesederhanaan juga berperan menjaga konsistensi dan stabilitas teori. Semakin banyak entitas dan domain yang kita perkenalkan, semakin besar pula risiko kontradiksi, kebingungan semantik, atau kerancuan inferensial. Sekali lagi, metafisika bukan ajang untuk unjuk kelimpahan entitas, tetapi arena disiplin teoretis. Dengan begitu, kesederhanaan ontologis bukanlah bentuk kekikiran, sehingga tidak punya implikasi terhadap kerobohan bangunan metafisika.

Penutup

Jika boleh saya rangkum, argumen saya sederhana: “kesederhanaan itu berbeda dengan kekikiran. Seandainya pun demikian, ia tidak serta-merta berimplikasi terhadap kerobohan bangunan metafisika.” Klaim implikatif di sini, menurut saya, memiliki beban pembuktian yang berat. Benar bahwa ontologi adalah salah satu—untuk tidak mengatakan satu-satunya—fondasi dari metafisika, tapi jangan lupa bahwa ada logika dan integritas epistemik yang berperan memastikan apakah fondasi tersebut kuat atau rapuh. 

Dengan kata lain, kekokohan bangunan metafisika tidak hanya ditentukan oleh seberapa sederhana atau kompleks ontologinya, tetapi juga oleh ketepatan struktur logis yang mengikat konsep-konsep di dalamnya. Fondasi yang rumit sekalipun bisa runtuh jika tidak ditata dengan benar; sebaliknya, fondasi yang tampak sederhana bisa tetap kokoh bila memiliki struktur dan logika penataan yang baik. Oleh karena itu, dalam menilai kekuatan suatu bangunan metafisika, kita tidak bisa hanya menilai dari sedikit–banyaknya entitas ontologisnya, tetapi harus melihat keseluruhan struktur ontologi dan logika yang menatanya.

Risalatul Hukmi
Risalatul Hukmi
Mahasiswa doktoral di School of History and Philosophy of Science, University of Sydney.

Bacaan Lainnya