Saturday, November 27, 2021
Home Esai Beberapa Persoalan Tentang Usaha Membangun Filsafat Indonesia

Beberapa Persoalan Tentang Usaha Membangun Filsafat Indonesia

Lagi pula kalau misalnya kita sadar bahwa filsafat yang beridentitas itu problematis (yakni Filsafat “Barat”) mengapa kita malah ingin membangun identitas filsafat kita sendiri yang bersifat fix; yang bahkan bisa tak kalah problematisnya?

Ada beberapa hal yang menurut saya perlu disoroti dalam perdebatan mengenai filsafat Indonesia. Saya merasa filsafat masih diandaikan memiliki sebuah identitas esensial. Identitas esensial dari filsafat ini kemudian melahirkan apa yang disebut dengan: filsafat Barat.

Kita bisa mulai dari klaim bahwa “…sebagian besar wacana berfilsafat di Indonesia masih sangat kental dengan filsafat Barat”, begitu ungkap Saras Dewi dalam tulisannya.  Pernyataan itu seolah mengandaikan terdapat identitas yang menempel pada diri filsafat itu sendiri. Meskipun saya sendiri bingung, yang dimaksud dengan Barat ini merujuk kepada apa sebenarnya?

Kalau merujuk kepada sebuah sistem berpikir, kita bisa bertanya, apakah yang kita maksud sebagai filsafat Barat benar-benar Barat? Kita tahu bahwa apa yang benar-benar kita anggap Barat, tidaklah benar-benar Barat. Bahkan hal ini bisa kita lacak jauh semenjak filsafat pertama kali muncul. Pada “awal mula” filsafat itu muncul, para filsuf yang berfilsafat dipengaruhi oleh berbagai kebudayaan dan pikiran-pikiran yang “non-Barat”. Bahkan filsuf-filsuf yang kemudian muncul pun demikian. Dalam arti itulah, kita tak bisa menyebut filsafat Barat sebagai benar-benar Barat.

Lalu yang menjadi persoalan selanjutnya adalah, apakah kita tidak curiga bahwa filsafat Barat yang telah kita terima dan kita praktikkan sebagai sebuah aktivitas filosofis itu tidak terkontaminasi oleh identitas kita sendiri? Bukankah pada akhirnya apa yang kita sebut sebagai filsafat Barat adalah “filsafat Barat” yang dipersepsikan oleh kita sendiri sebagai orang Indonesia? Dalam posisi itu juga kita mesti mengatakan, bahwa apa yang kita sebut sebagai filsafat Barat bukan benar-benar filsafat Barat.

Filsafat yang kita identifikasi sebagai filsafat Barat dengan demikian merupakan filsafat Indonesia itu sendiri. Dalam proses pembacaan, pemahaman dan penafsiran terhadap filsafat Barat, kita sudah selalu membawa nilai yang telah tercetak di dalam diri kita sendiri sebagai orang “Indonesia” (meski kita juga harus bertanya, apa yang membuat kita benar-benar disebut sebagai orang Indonesia?). Nilai yang tertanam di dalam diri kita itu kemudian menjadi sebuah kerangka pemahaman yang mengkategorisasi filsafat Barat. Ia seperti sebuah frame dalam menangkap filsafat Barat, sehingga filsafat Barat yang kita maknai adalah filsafat Barat yang sesuai dengan frame tersebut. Dalam arti itu, kita tak benar-benar tahu filsafat Barat yang sebenarnya itu sendiri apa, karena pemahaman kita selalu terkontaminasi oleh kerangka yang kita miliki.

Akan tetapi, kalau kita mengaggap bahwa filsafat telah terkontaminasi atau melekat dengan identitas Barat, kita juga harus curiga, apakah proyek filsafat yang akan kita bangun atau cari dan kita namai sebagai filsafat Indonesia tidak terpengaruh oleh filsafat Barat? Selama ini kita belajar dan mengenal filsafat sebagai “produk” Barat, maka secara tidak langsung mestinya kita terpengaruhi oleh kerangka filsafat tertentu, untuk membaca sebuah kehidupan dan kebudayaan, yang kemudian akan kita identifikasi sebagai sebuah filsafat Indonesia. Dalam arti ini, maka apa yang kita identifikasi sebagai filsafat Indonesia pada akhirnya, tak lebih dari “filsafat Barat” itu sendiri. Lalu dalam arti apa kita melabeli sistem berpikir, aktivitas filosofis dan penggalian kita terhadap kebudayaan dan segala hal yang ada di Indonesia sebagai filsafat Indonesia?

Kalau pun ada asumsi bahwa filsafat Indonesia perlu dibangun demi diciptakannya sebuah sistem filsafat yang cocok dengan kultur kita, kebiasaan kita, nilai-nilai kita dan lain semacamnya, kita pun perlu meragukan posisi ini, karena kita perlu bertanya juga: sebenarnya sejauh apa sih kecocokan itu bisa diukur? Apakah dalam bentuk solusi filosofis yang “lebih” bisa diterima, lebih mengena atau lebih nyaman digunakan oleh masyarakat kita? Atau sebuah sistem filsafat tertentu yang bisa menyelesaikan masalah khas orang Indonesia?

Bagi saya, jawaban apapun terhadap pertanyaan tersebut akan jatuh pada ukuran yang kabur juga. Karenapenerimaan dan kecocokan setiap orang juga bersifat relatif. Istilah cocok-cocokan atau tepat-tepatan kiranya tidak bisa diukur secara jelas.

Kita juga hanya perlu mengakui, selama ini pun toh kita cukup cocok-cocok saja atau tepat-tepat saja dengan filsafat yang kita anggap tidak Indonesia itu; baik sebagai bacaan sehari-hari, sebagai kajian akademis atau untuk menganalisis dan memberi solusi terhadap permasalahan yang kita hadapi.

Lalu tentang filsafat Indonesia yang diharapkan atau diandaikan bisa sangat tepat menyelesaikan masalah yang “asli” Indonesia atau sesuai konteks keindonesiaan pun perlu diragukan. Karena asumsi ini pun sulit kiranya untuk diukur. Kita bisa bertanya, kapan kita bisa menyebut suatu permasalahan yang khas itu sudah selesai? Apakah ada jaminan bahwa sistem filsafat khas Indonesia itu bisa menyelesaikan masalah yang khas Indonesia juga?

Lagi pula kalau misalnya kita sadar bahwa filsafat yang beridentitas itu problematis (yakni Filsafat “Barat”) mengapa kita malah ingin membangun identitas filsafat kita sendiri yang bersifat fix; yang bahkan bisa tak kalah problematisnya? Bagi saya, tak perlu ada identitas-identitas seperti itu. Filsafat hanya sekedar alat yang bisa kita gunakan untuk apapun. Dan sejauh ia merupakan alat, maka filsafat bisa kita pakai dan buang semau kita, tergantung dengan kebutuhan yang diperlukan, tanpa perlu repot untuk memikirkan identitasnya apa. Lagi pula kenapa kita mesti resah apabila menggunakan dan terpengaruh filsafat Barat? Apakah karena kita merasa inferior ketika menggunakan “produk” Barat? Atau apakah kita menjadi rendah ketika terpangaruh filsafat Barat? Atau karena filsafat Barat itu merugikan kita, seperti menghegemoni atau mendominasi? Kalau misalnya memang benar demikian, kita hanya perlu membuangnya. Selesai. Tak perlu kita pakai lagi. Kalau masih ada sisa-sisa pemikiran yang masih bisa kita gunakan, maka pakai selagi berguna. Singkatnya, kita hanya perlu melihat kegunaan dan kecocokannya dengan kita saja.

Bahkan, kita juga tahu bahwa filsafat yang Barat juga kadang tidak cocok dengan Barat itu sendiri, sampai akhirnya para filsuf Barat harus “repot-repot” pergi ke Timur atau non-Barat untuk mencari inspirasi atau kebijaksanaan baru. Lalu sampai di sini kita perlu bertanya, filsuf yang terpengaruh filsafat Timur itu apakah pikirannya masih bisa disebut filsafat Barat? Kalau kita mengutip filsuf yang terpangaruh filsafat Timur, siapakah yang sedang kita kutip? Filsafat Baratkah atau filsafat Timur?

Hal ini mirip saat kita menggunakan martil untuk memecahkan sebongkah batu raksasa. Dalam kondisi itu, kita hanya perlu martil yang cocok dan efektif untuk memecahkan batu, tanpa perlu merisaukan atau mempermasalahkan merek martilnya apa. Bahkan seringkali kita memang tak pernah peduli pada mereknya, yang penting ia berguna, selesai.

Raja Cahaya I
Penulis adalah mahasiswa Religious Studies Universitas Islam Negeri Bandung. Aktif di komunitas Sophia dan Lapar Institute.
RELATED ARTICLES

Panpsikisme dan Kesadaran

I Salah satu persoalan yang belum selesai dan terus dibicarakan dalam lingkup filsafat ialah kesadaran. Meski para psikolog...

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Panpsikisme dan Kesadaran

I Salah satu persoalan yang belum selesai dan terus dibicarakan dalam lingkup filsafat ialah kesadaran. Meski para psikolog...

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Filsuf di Tengah Teror Kedamaian Bersama

Di masa hidupku ini, kalau boleh jujur, kegagalan terbesar filsafat Indonesia mewujud dalam diri Martin Suryajaya. Yang berhenti sekedar pada menulis filsafat,...

Paperbook

Recent Comments

Stephanus Aswar Herwinarko on Usulan Berfilsafat (di) Indonesia