Saturday, November 27, 2021
Home Esai Kiat Menemukan Filsafat (di) Indonesia

Kiat Menemukan Filsafat (di) Indonesia

Wacana untuk merumuskan identitas Filsafat Indonesia menuai beragam tanggapan. Dari semua yang ikut berdebat, ada dua opsi yang saling berbantahan: menerima atau menolak esensialisme.

Tantangan berfilsafat di Indonesia semakin akut seiring waktu. Selain karena kurang berkembangnya disiplin kajian filsafat di tingkat akademis(i), minimnya integrasi penelitian antarpegiat komunitas juga menjadi hambatan progres berfilsafat (di) Indonesia. Masalah lain muncul ketika sebagian akademisi atau pegiat komunitas filsafat menolak tipikal Filsafat (di) Indonesia dengan distingsi tegas dengan gagasan filosofis lainnya, dalam kasus ini Filsafat (di) Barat. Pertanyaan teatrikal yang ditampilkan seperti apa esensi Filsafat (di) Indonesia memainkan peran utamanya.

Sampai tulisan ini dibuat, wacana untuk merumuskan identitas Filsafat Indonesia menuai beragam tanggapan. Dari semua yang ikut berdebat, ada dua opsi yang saling berbantahan: menerima atau menolak esensialisme. Menerima esensialisme berarti menelisik ihwal esensial dari seluruh struktur bangunan pengetahuan kearifan lokal. Sebaliknya, menolak esensialisme sama halnya tidak merekognisi adanya ihwal esensial dari Filsafat Indonesia itu sendiri. Meski penolakan ini sering dicederai oleh bias perspektif, terlepas dari masalah tersebut, saya akan menyebutnya sebagai nonesensialisme. Saya percaya bahwa mengafirmasi argumen pertama sama susahnya dengan mempertahankan argumen kedua.

Pesan moral dalam tulisan ini adalah bahwa menerima nonesensialisme tidak lantas menolak esensialisme.

Sebelum larut ke pembahasan, artikulasi “Filsafat Indonesia” perlu diinisiasi kembali. Saras Dewi dalam “Menjalin Filsafat Indonesia” mengategorisasi bahwa yang sistematis, rigorus dan akademis adalah tradisi pengetahuan yang formalistik, yang disebut absah. Ia kemudian mempertanyakan “Adakah Filsafat Indonesia dalam kerangka semacam ini?” Menjawab ‘iya’ pertanyaan ini jelas keliru. Namun, menjawab ‘tidak’ berarti mengakui bahwa pertanyaan itu tampak relevan.

Fakta bahwa pertanyaan Saras Dewi memanen apresiasi di publik menunjukkan bahwa agenda mencari identitas Filsafat (di) Indonesia masih jauh dari usai. Hingga kini, upaya tersebut mandek lantaran sulitnya mengooptasi indeks karakteristik yang kita kutip sebagai ‘Filsafat Indonesia’. Besar kemungkinan akar masalah ini berada pada masalah yang lain, yaitu ketiadaan alat untuk memeriksa serta memastikan batas ihwal yang disebut esensial. Kurangnya kemampuan ini memperkeruh perumusan Filsafat (di) Indonesia—taruh kata ia ‘ada’. Berangkat dari sumsi bahwa tipikal Filsafat Indonesia itu ‘ada’, penguatan metodologis menjadi syarat mutlak untuk pemeriksaan selanjutnya.

***

Mari kembali pada pertanyaan di atas: “Adakah Filsafat Indonesia semacam ini?” Jika menjawab ‘iya’, berarti kita harus memeriksa apa kelas realitas yang dirujuk “ini”. Jika “ini” merujuk pada kategori “sistematis, rigorus dan akademis”, maka apa saja yang memenuhi kategori ini disebut absah. Semisal, Filsafat Cina memenuhi kategori di atas, maka kita menyimpulkan bahwa Filsafat Cina absah disebut Filsafat. Jika cara yang sama berlaku pada Filsafat Indonesia, maka kita menyimpulkan dengan cara yang sama bahwa Filsafat Indonesia juga absah disebut Filsafat.

Pertanyaan Saras Dewi tampak keliru jika, semisal, diajukan pertanyaan lain “Apakah ada ‘Filsafat Indonesia’?” Kategori yang disebutkan di atas jelas tidak memberi tahu kita apa-apa, sebab jawaban atas pertanyaan Saras Dewi secara intuitif mendahului penetapan fitur distingtif untuk membedakan Filsafat (di) Cina dengan Filsafat (di) Indonesia. Makanya disebut keliru jika kita menjawab iya, sebab pertanyaan itu eksplisit mengandaikan pernyataan ontologis, yang dalam kasus ini memerlukan afirmasi atas eksistensi Filsafat Indonesia.

Untuk menjawab pertanyaan Saras Dewi, dengan demikian, perlu terlebih dahulu menjawab pertanyaan lain, yaitu “Apakah ada tipikal filsafat (di) Indonesia?” Jika afirmatif, langkah selanjutnya ialah memeriksa apakah temuan filsafat tersebut memenuhi kategori di atas.[1] Setelah itu, yang terpenting dan menjadi pokok persoalan ialah menetapkan kriteria minimal yang mesti dipenuhi untuk membedakan Filsafat (di) Indonesia, Filsafat (di) Cina, Filsafat (di) Barat, dan gagasan filsafat lainnya. Sampai saat penetapan kriteria minimal tidak bisa lagi terpenuhi, besar dugaan bahwa (meta)filsafat pada dasarnya adalah kerja-kerja filosofis yang diidentifikasi dan dijelaskan di atas satu garis unifikasi yang berjalan melalui kompleksitas dimensi setiap kebudayaan.

Penguatan metodologis melalui skema terakhir ini akan menjadi perhatian kita selanjutnya. Menerima nonesensialisme tidak lantas menolak esensialisme. Terdapat opini yang coba dikembangkan, seolah esensialisme membatasi kerja-kerja filsafat, tidak sensitif terhadap perubahan, bahkan dalam bentuknya yang paling primordial, ia tidak lagi kompeten untuk problem kontemporer. Mengambil contoh kasus, Banin Diar Sukmono dan Syarif Maulana menilai bahwa upaya untuk merumuskan Filsafat Indonesia justru jatuh pada esensialisme “filsafat geografis”. Konsekuensinya, mengutip Syarif Maulana, “Filsafat Indonesia berpotensi menjadi klaim sepihak yang jangan-jangan hanya berbicara tentang filsafat tertentu saja”.

Pendapat tersebut, meski terdengar meyakinkan, membawa ragam kepentingan yang rentan untuk disalahpahami. Esensialisme dalam kasus serupa tidak terbatas pada sebagian properti dari objek-geografis—konsep, pengalaman, ide, atau gagasan, serta yang lainnya juga harus dihitung sebagai objek. Dari sini, ada dua doktrin utama esensialisme yang layak dibedakan, (i) klaim esensialitas soal properti unik objek-individual  dan (ii) properti esensial yang hanya berbicara soal karakteristik tertentu sebagai ihwal yang benar untuk objek tertentu. Dua doktrin ini berbeda pandangan mengenai karateristik objek-objek, (i) sebagai esensi individual dan (ii) sebagai esensi general.[2]

Tudingan bahwa Filsafat Indonesia jatuh pada esensialisme ‘filsafat geografis’ dicurigari bersumber dari doktrin (i). Namun, sejak konteks temuan Filsafat (di) Indonesia diasumsikan sebagai sesuatu yang bergerak dinamis dan progresif, kritik atas esensialisme dalam pengertian individual merupakan bias perspektif terhadap properti esensial yang dinilai mampu menentukan bagaimana tindak tanduk orang-orang di dalam satu objek-geografis tertentu, yaitu Indonesia. Kecurigaan filosofis terkait doktrin esensialisme semacam ini akan lebih cocok jika dialamatkan pada soal artikulasi kebudayaan.

Apakah sejauh ini kebudayaan, termasuk ekspresi berkesenian, sama artinya dengan Filsafat (di) Indonesia? Jika keduanya dianggap berbeda, apa yang membuat mereka berbeda dan bagaimana cara membedakannya? Well, setidaknya ada dua cara membedakannya. Pertama, keduanya bisa dilihat sebagai hubungan aksi-reaksi: filsafat muncul sebagai reaksi terhadap aksi kebudayaan tertentu. Konsekuensinya, filsafat bisa dikarakterisasi secara berbeda dari satu budaya dengan kebudayaan lainnya. Filsafat dalam pengertian ini dianggap sebagai bagian esensial dari setiap kebudayaan itu sendiri. Kedua, filsafat dan kebudayaan memiliki cakupan domain yang berbeda: kebudayaan hanya mencakup kondisi lokalitas tertentu, sementara filsafat bersifat global. Filsafat dalam pengertian terakhir ini relatif dianggap sebagai topik netral (meskipun tidak sepenuhnya).

Jika gagasan filsafat Indonesia dibangun berdasarkan karakteristik pertama, maka kritik atas esensialisme—menerima nonesensialisme berarti kritik atas esensi kebudayaan itu sendiri. Penalaran kita telah menunjukkan dua perbedaan pandangan di atas, dan keduanya tidak mesti dilihat saling berbantahan. Meneladani doktrin esensialisme (ii) berarti mengakomodasi dua perbedaan pandangan itu tetap bisa dilakukan. Sejak filsafat bersifat global, filsafat sebagai bagian esensial dari setiap kebudayaan tidak ‘prohibisi’ atau dilarang berbagi esensi general. Contoh representatif di dalam kasus ini ialah pertanyaan soal ‘apa itu kebenaran’ atau ‘what is truth’. Bagaimana gagasan pra-teoretis atau cara-menangkap-sesuatu berkenaan dengan truth itu diterima secara berbeda oleh tradisi Filsafat (di) Cina dan Filsafat (di) Barat.

Tradisi klasik Filsafat (di) Cina tidak mengenal karakter tunggal soal ‘truth’. Mereka dominan menggunakan banyak karakter termasuk di antaranya empat karakter peribahasa dengan predikatif “shi-shi-qiu-shi”. Bahkan periode pra-Han, filsafat tradisional di Cina tidak mengenal karakter ‘truth’ yang berkaitan denganpertanyaan ‘What is the truth?’ seperti dalam perhatian tradisi filsafat di Barat. Sebaliknya, tradisi filsafat di Cina lebih konkret dan cenderung mengejar dao yang berkaitan dengan pertanyaan ‘Where is the Way?’.  Di Barat, truth adalah pengetahuan atas apa yang nyata dan apa yang merepresentasikan kenyataan tersebut. Sedangkan tradisi di Cina, pengetahuan bukan sesuatu yang abstrak, tetapi konkret; ia tidak representasional, tetapi performatif dan partisipatif; tidak diskursif, tetapi pengetahuan tentang jalan atau kind of know-how.

Pertanyaan tentang ‘truth’ di dalam tradisi Filsafat Barat erat kaitannya dengan penyataan ontologis atau metafisik, sementara tradisi Filsafat (di) Cina berasas eksistensial, mencari budi pekerti atau nilai luhur. Itulah mengapa filsafat sentensial (pembahasan konten-semantik) di Barat tumbuh berkembang, dan berbanding terbalik dengan tradisi filsafat di Cina. Itu terjadi karena perbedaan asas pokoknya. Asas inilah yang kita sebut indikator penetapan kriteria minimal untuk mengarakterisasi properti esensial bagi Filsafat (di) Indonesia.

Setelah melihat contoh di atas, selain menjadi parameter, penetapan kriteria minimal juga berfungsi sebagai ruang rekleksi. Artinya, kerja-kerja filsafat memiliki kepekaan terhadap friksi yang mungkin terjadi di dalam tubuh filsafat. Langkah yang sama bisa kita terapkan untuk mencari esensi filsafat di Indonesia, atau lebih tepatnya mencari gagasan pra-teoretis filsafat di indonesia. Dengan berangkat dari (meta)filsafat, kita bisa membangun filsafat tentang ‘filsafat indonesia’ itu sendiri. Sampai di sini, kita tidak perlu berbeda pendapat soal problem kontemporer.


[1] Apabila filsafat yang menjadi temuan pemeriksaan tidak memenuhi kategori yang telah disebutkan di atas, ia tetap bisa dipakai sebagai perkakas untuk penetapan kriteria minimal. Akan tetapi, jika penetapan kriteria minimal tidak bisa lagi dipenuhi, konsekuensinya, pernyataan ontologis tentang eksistensi “Filsafat Indonesia” yang mengendap di dalam ekspresi-ekspresi berkesenian besar kemungkinan tidak memiliki properti fundamental. Ringkas cerita, mengeliminasi variabel-variabel kebudayaan dari artikulasi Filsafat Indonesia turut serta membuka wawasan filosofis yang lebih luas, lebih tepatnya “Filsafat atas Filsafat Indonesia”, atau meta-filsafat. Oleh karena itu, gagasan pra-teoretis soal Filsafat Indonesia adalah kerja-kerja filosofis yang patut diberi perhatian ekstra.

[2] Esensi individual berpendapat bahwa beberapa atau semua objek memiliki karakteristik atau properti yang secara esensial membedakan satu objek dengan objek yang lain. Oleh sebab itu, karakteristik atau properti objek tersebut tidak mungkin dimiliki oleh objek-objek lainnya. Esensi general, di sisi lain, berpendapat bahwa objek yang berbeda tidak memiliki ‘prohibisi’ atau larangan berbagi esensi general yang sama. Kedua doktrin ini tidak saling berbantahan, namun dalam kasus tulisan ini, esensi general secara intuitif dilihat lebih natural. Doktrin esensi general tidak menutup mata terhadap adanya kemungkinan relasi esensial dari satu objek dengan dirinya sendiri, sementara objek-objek yang berbeda tidak berlaku demikian, dan begitupun sebaliknya. Merujuk pada catatan kaki pertama, esensi individual dilihat sebagai ‘kriteria maksimal’, sedangkan esensi general sebagai ‘kriteria minimal’.

Fitriadi K.http://antinomi.org
Pembaca logika dan filsafat analitik. Sedang menulis tentang Tarski.
RELATED ARTICLES

Panpsikisme dan Kesadaran

I Salah satu persoalan yang belum selesai dan terus dibicarakan dalam lingkup filsafat ialah kesadaran. Meski para psikolog...

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Panpsikisme dan Kesadaran

I Salah satu persoalan yang belum selesai dan terus dibicarakan dalam lingkup filsafat ialah kesadaran. Meski para psikolog...

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Filsuf di Tengah Teror Kedamaian Bersama

Di masa hidupku ini, kalau boleh jujur, kegagalan terbesar filsafat Indonesia mewujud dalam diri Martin Suryajaya. Yang berhenti sekedar pada menulis filsafat,...

Paperbook

Recent Comments

Stephanus Aswar Herwinarko on Usulan Berfilsafat (di) Indonesia