Saturday, November 27, 2021
Home Esai Pembebasan Filsafat Indonesia Hari Ini

Pembebasan Filsafat Indonesia Hari Ini

Hegemoni merupakan asal dari kemandekan dan pengekangan Filsafat Indonesia, dan letaknya di dalam ketidaksadaran kolektif kita.

*Artikel ini ditulis sebagai respon terhadap semua tulisan sebelumnya mengenai problematika Filsafat Indonesia.

Sebelum perdebatan ini terperosok terlalu dalam ke jurang semantik, saya hendak menyelamatkannya dengan sebuah tawaran dalam menyikapi polemik Filsafat Indonesia. Sebagai pembuka, saya ingin mengutarakan sebuah kecurigaan. Kecurigaan soal mengapa filsafat di Indonesia nampak mengalami stagnansi. Seolah-olah tiap kali diminta bicara soal apa itu Filsafat Indonesia, kita selalu merasa perlu merujuk pada penggalian nilai masa lalu, seolah-olah filsafat Indonesia selalu lah filsafat yang melihat kebelakang, seolah-olah filsafat Indonesia adalah filsafat para leluhur, filsafat yang retrospektif. Kecurigaan ini mengantarkan saya pada penelusuran atas asal usul istilah “Filsafat Indonesia”.

Berdasarkan Ferry Hidayat dalam Mempopulerkan Filsafat Indonesia ke Dunia yang dimuat dalam Majalah Ilmiah UPN ‘Veteran’ Jakarta Bina Widya tahun 2005, belum pernah ada yang benar-benar menuliskan tentang Filsafat Indonesia sampai salah seorang profesor emeritus filsafat di Universitas Indonesia, M. Nasroen, memutuskan untuk menulis Falsafah Indonesia (1967) yang berisi tentang kajian berbagai kebudayaan Indonesia dan menelusuri elemen-elemen filosofis yang terkandung di dalamnya. Buku tersebut semakin popular dan menarik minat para pegiat filsafat lainnya. Pada tahun-tahun berikutnya, Sunoto, pendiri Jurusan Filsafat Indonesia di UGM, menulis buku Menuju Filsafat Indonesia (1987), dengan menggunakan metode yang sama dengan Nasroen, berusaha menemukan apa itu filsafat Indonesia dengan melacak tradisi kebijaksanaan Jawa dan menawarkan penjelasan yang begitu rinci atas tradisi itu. Selain Sunoto, Budayawan UGM, R. Parmono, menulis Menggali Unsur-Unsur Filsafat Indonesia (1985), dan Jakob Soemardjo filsuf dari ITB menulis Mencari Sukma Indonesia (2003).

Secara ringkas, dijelaskan Hidayat, bagi mereka, filsafat Indonesia ialah

…kekayaan budaya bangsa kita sendiri… yang terkandung di dalam kebudayaan sendiri, …pemikiran-pemikiran…yang tersimpul di dalam norma budaya istiadat serta kebudayaan, …pemikiran primordial…. atau pola pikir landasan yang menstruktur seluruh kontruksi karya budaya….

Filsafat Indonesia buat mereka mempunyai misi untuk menggali, mengingat, dan menghidupkan-kembali nilai-nilai etnis yang asli, dengan personifikasi nilai-nilai luhur lokal sebagai ibu, dan manusia sebagai praktisinya sebagai bapak.

Keempat filsuf ini merupakan peletak pertama kajian filsafat Indonesia yang memberikan kontribusi dan pengaruh besar terhadap cara kita sekarang mengerti dan memandang Filsafat Indonesia. Dari sana kita memahami bahwasannya Filsafat Indonesia pertama kali dibahasan dengan metode yang retrospektif, dan sampai pada saat ini pun seringkali dibahasakan dengan cara retrospektif.

Sebenarnya metode esensialis ala M. Nasroen dkk. ini akan sangat berguna untuk keperluan kodifikasi kearifan dan filosofi hidup orang Indonesia, namun melihat situasi politik dan sosial kontemporer, menjadi perlu untuk dipertanyakan ulang apakah kerangka kerja semacam itu masih bisa dijadikan sandaran untuk mengakomodir kebutuhan atas pemecahan masalah-masalah filsafat di Indonesia hari ini.

Memang benar bahwa mungkin di satu periode tertentu, filosofi kuno para leluhur hidup di dalam sejarah Indonesia. Tetapi jika kita membiarkan diri terus terjebak pada masa lalu, maka tak akan ada ruang buat Filsafat Indonesia ber-evolusi dan bermetamorfosa. Filsafat Indonesia seperti kepompong, yang tak akan pernah jadi kupu-kupu karena ia selalu hidup dalam kerinduannya menjadi ulat.

Maksud saya tidak lain mencurigai jangan-jangan kemandekan Filsafat Indonesia di era kontemporer berasal dari ketergantungan kolektif kita dalam memaknai, mengurai, dan mengartikulasikan filsafat di Indonesia dengan cara yang sama dengan metode yang retrospektif itu, tanpa pernah betul-betul disadari. Metode yang terlalu berfokus pada “back to our ancestor”, penggalian karakter ke-aku-an bangsa, pencarian atas esensi filosofis keIndonesiaan, dan seterusnya. Kerja kerja filsafat yang semacam ini bukan tidak membawa kebernilaian. Namun saya lihat narasi filsafat retrospektif ini sangat dominan dalam diskursus filsafat Indonesia. Ini yang perlu didekonstruksi secara keras.

Maka kritik revolusioner Banin menjadi penting untuk mendepak hegemoni metode berfilsafat retrospektif itu hingga jatuh tersungkur dari singgasananya. Kejengahan terhadap tradisi berfilsafat dengan penggalian makna filosofis dibalik artefak maupun pencarian untuk tujuan menemukan identitas “Filsafat Indonesia” terwakilkan melalui tulisan Banin. Ketimpangan metodis inilah yang pertama-tama perlu didestabilisasi untuk membebaskan filsafat Indonesia dari ketergantungan dan kemelekatannya terhadap bayang-bayang kebijaksanaan leluhur di masa lalu.

Sehingga poin dari segala perdebatan ini harusnya, mengerucut pada pentingnya upaya destabilisasi narasi retrospektif dari filsafat Indonesia yang selama ini nampak dominan. Itu kesimpulan pertama saya.

Namun saya tak mau terlalu terburu-buru. Saya pikir menggali filosofi kuno bisa tak terlalu jadi sia-sia jika dimaksudkan untuk tujuan-tujuan tertentu, misalnya untuk dibawa memecahkan masalah hari ini. Saya mengajak untuk tidak terlalu naif dan dogmatis, namun juga tidak terlalu sinistik, dalam menyikapi filosofi kuno para leluhur. Kita tentu tidak lupa bagaimana kecemerlangan filsuf besar, Hegel, tidak luput dari banyaknya pengaruh dan kontribusi kearifan kuno dari pak tua Heraklitos dari masa lampau. Ini yang mungkin dimaksud Sarasdewi sebagai pembacaan filosofi kuno dengan artikulasi kontemporer, dan menjadi perlu untuk digarisbawahi.

Yang jadi soal adalah penganggukan buta atas kearifan kuno dogmatis itu, tanpa ada relevansi kontemporernya sama sekali. Tentu metode yang terakhir ini tidak sulit untuk kita tinggalkan dan kubur dalam-dalam.

Perihal pernyataan Sarasdewi, “Gagasan Filsafat Indonesia mengendap di dalam ekspresi-ekspresi berkesenian: tarian, kidung, pahatan, yang brilian dan tidak saja indah, tapi juga memiliki kemanjuran sosial.” tidak perlu kita tuduh sebagai deklarasi esensialis. Saya ingin mengatakan bahwa ada banyak cara berfilsafat. Satu cara, misalnya dengan menuliskan langsung buah pikir itu ke dalam deret-deret silogisme. Cara yang popular di kancah filsafat mainstream. Namun, tidak hanya dengan cara itu, berfilsafat juga bisa dituangkan dalam medium seni. Di Barat, kita mengenal filsuf-filsuf yang berfilsafat dengan menulis cerita-cerita dialog seperti Plato dan menulis novel seperti Camus. Di Indonesia, dengan tarian, kidung, pahatan, dan seterusnya. Sarasdewi hendak menunjukkan itu. Banyak gagasan Filsafat orang Indonesia yang pernah ada, termediasi dalam keseniannya. Buah pikir filosofis di masa lalu diekspresikan ke dalam artefaknya. Dan dari sana dapat dilahirkan berbagai narasi-narasi baru.

Kita tidak harus keukeuh mempertahankan metode filsafat yg melihat kebelakang terus, namun juga tidak harus serta merta melemparnya ke tong sampah. Kedua posisi menawarkan dua cara berfilsafat yang sama pentingnya; filsafat yang retrospektif, sebagai inspirasi pijakan ke depan, juga filsafat yang berfokus pada kemajuan diskursus kontemporer. Keduanya bisa berjalan beriringan, saling terjalin. Yang satu harus didestabilisasi, yang satu lagi harus diberi ruang, diberikan dukungan, dan dikembangkan. Keduanya, harus dibuat berimbang.

Saya rasa, bila dirumuskan letak kesepahaman dan perbedaan antara kedua posisi, perbedaannya itu yakni pembangunan, atau pencarian ke masa lalu. Namun sebenarnya ada semangat yang sama pada tulisan yang dituangkan Sarasdewi dan Banin. Bahwa keduanya sebenarnya berusaha membangun tetapi dengan jalan yang berbeda.

Tidak seperti banin yang terburu-buru menyikapi usaha memahami pemikiran kuno sebagai cocoklogi, sikap yang lebih ilmiah saya rasa ialah membuka ruang atas re-interpretasi filosofis dengan pemaknaan baru. Re-interpretasi ini berpotensi untuk dijadikan landasan konstruktif dalam melihat persoalan hari-hari ini.

Memahami Urgensi Pembangunan “Filsafat Indonesia”

Pada saat Vladimir Lenin berusaha merumuskan model strategi yang tepat bagi pergerakan kaum komunis Rusia, ia berangkat dari suatu pemikiran tentang ketertinggalan kondisi material objektif Rusia pada masa itu. Tidak seperti Prancis dan Inggris, Rusia merupakan negara di benua eropa yang masih bersistem feodal. Tak pernah terbayangkan oleh dunia bahwa salah satu bangsa pelopor yang akan melakukan revolusi kaum komunis adalah bangsa Rusia. Namun dalam pandangan Lenin, hal itu perlu dilakukan: Lenin memutuskan untuk merekayasa Hukum Gerak Sejarah dan melangkahi perkembangan masyarakat organik Rusia yang masih didominasi oleh petani, melakukan revolusi komunis kala kondisi material objektif masih feodalistik, lalu berupaya untuk “mendesain dari dalam” kapitalisme menuju kepada sosialisme, di bawah diktator para proletariat. Bagi Lenin, itulah satu-satunya cara yang perlu ditempuh dan dirasa cocok untuk mewujudkan cita-cita komunis di Uni Soviet.

Situasi yang kita hadapi saat ini di Filsafat Indonesia, saya rasa tepat pada tahapan yang semacam itu, serta perlu dipandang dan dimengerti dalam konteks yang demikian itu juga, guna merumuskan tujuan.

Adanya kebutuhan untuk merumuskan filsafat Indonesia menurut saya tidak lain merupakan gejala negara dunia ketiga. Corak bangsa jajahan, dari negara-negara kapitalis-imperialis yang mengekspor filsafatnya ke seluruh dunia, yang baru hendak membangun istana peradaban filsafat di atas puing-puing reruntuhan mereka. Rasa ketertinggalan dalam hal kebaharuan dan kemajuan pemikiran, dan kebutuhan atas pengakuan dunia ini yang mendorong urgensi pembangunan Filsafat Indonesia dari dalam oleh para pegiat filsafat dan para vanguardisnya.

Dalam Mendefinisikan Filsafat Indonesia

Jujur saja, dalam konteks perdebatan ini, bagi saya tidak terlalu penting untuk berkutat terlalu dalam pada definisi apa itu filsafat, maupun apa itu filsafat Indonesia. Kita punya terlalu banyak opsi. Filsafat Indonesia bisa jadi apa yang hendak dikatakan M. Nasroen dkk., bisa pula apa yang hendak dikatakan Banin. Persoalannya kemudian bukanlah apa itu filsafat Indonesia, melainkan kemana seharusnya arah gerak berfilsafat di Indonesia selanjutnya, untuk apa dan siapa.

Tidak akan ada habisnya jika berusaha memperbincangkan apa itu filsafat Indonesia (meskipun sebenarnya memperbincangkan filsafat secara umum memang tidak akan pernah ada habisnya). Untuk keluar dari lingkaran setan definitif-ketat itu, maka diskursus perlu berangkat dari telos, dan seharusnya difokuskan kepada telos saja. Keutamaan merumuskan tujuan Filsafat Indonesia mendahului pentingnya mendefinisikan apa itu Filsafat Indonesia. Senada dengan Anhaf, saya rasa definisi Filsafat Indonesia perlu ditunda. Ia akan muncul dengan sendirinya ketika kita sudah terlebih dulu jatuh bergumul di dalamnya. Identitas seorang anak akan terbentuk dan timbul sendiri ketika ia membiarkan dirinya berkembang dan menenggelamkan diri dalam berbagai kegiatan yang disukainya.

Dengan demikian saya hendak berkata bahwasannya persoalan Filsafat Indonesia yang kita hadapi hari ini sebenarnya lebih merupakan problem pragmatis, bukan definitif. Kita mungkin tidak bisa bersepaham dalam definisi, tetapi kita bisa bersepaham dalam tujuan. Ada urgensi yang disebutkan di atas. Keinginan untuk membangun itu, maka mensyaratkan harus ada keteguhan tujuan, diikuti pula langkah-langkah untuk mencapai tujuan itu. Dalam pandangan saya langkah itu pertama-tama berupa destabilisasi dari hegemoni metode filsafat retrospektif, dari berbagai ­tekanan leluhur yang menghantui filsafat kita hari ini. Abraham perlu menghancurkan berhala-berhala agama pagan di zamannya, agar ia kemudian mampu menggantinya dengan alternatif solusi yang baru. Bangunan filosofis retrospektif itu pula lah yang, entah sudah menjadi atau baru akan menjadi sebuah fetish dan totem, perlu kita hancurkan.

Namun tidak hanya itu, hantu-hantu filsafat modern (barat) juga perlu diusir[1]. Kita bisa mulai memberi ruang dan dukungan, berfokus pada pemecahan masalah kontemporer, meninggalkan tradisi berfilsafat esensialis dan jika memungkinkan, memanfaatkan filosofi masa lampau untuk melangkah ke depan.

Ini yang saya maksud sebagai pembangunan dari dalam. Hasrat untuk menggali indentitas, sekaligus mengejar ketertinggalan terhadap kemajuan filsafat dari negara kolonial akan dapat diatasi dengan sendirinya ketika kita pertama-tama membebaskan filsafat Indonesia dari jerat-jerat hegemoni dua-arah yang mengukungnya.

Itulah garis besar dari tulisan ini: Hegemoni. Hegemoni itu merupakan asal dari kemandekan dan pengekangan, dan letaknya di dalam ketidaksadaran kolektif kita. Maka pembangunan Filsafat Indonesia pertama-tama dimulai dan disyarati dengan pembebasannya. Pembebasannya dari dalam dirinya sendiri; yakni dari hantu-hantu leluhurnya, maupun pembebasan dari luar dirinya; yakni dari hegemoni filsafat kolonial, dengan jalan dekolonisasi dalam arti luas.

“Filsafat Indonesia” baru dapat dikatakan bebas dari trauma masa lalunya atau sentimen tradisionalis yang mengikat kakinya untuk terbang, ketika ia sudah tidak lagi terlalu menghamba dan terjebak pada masa lalu untuk merumuskan jalan hidupnya ke depan, namun juga tidak bersikap arogan, penuh kebencian, dan sinistik terhadap masa lalunya.

Filsafat Indonesia baru akan dapat dikatakan bebas dari kolonisasi luar, juga ketika ia sudah tidak lagi terlalu mencontoh dan memuja Filsafat Barat, Filsafat Timur, Filsafat Arab dan seterusnya, namun juga tidak, atas nama dekolonisasi yang tendensius, mentah-mentah menolaknya.

Jika dan hanya jika trauma-trauma itu sudah berhasil dilampaui, era kemajuan “Filsafat Indonesia” akan dimulai.


[1] Lih. artikel saya sebelumnya.

B. A. Pamungkas
Seorang penulis lepas lulusan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Suka berdiskusi mengenai isu-isu filsafat dan memiliki ketertarikan besar di bidang sosiologi, ekonomi-politik, serta isu-isu kebudayaan.
RELATED ARTICLES

Panpsikisme dan Kesadaran

I Salah satu persoalan yang belum selesai dan terus dibicarakan dalam lingkup filsafat ialah kesadaran. Meski para psikolog...

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Panpsikisme dan Kesadaran

I Salah satu persoalan yang belum selesai dan terus dibicarakan dalam lingkup filsafat ialah kesadaran. Meski para psikolog...

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Filsuf di Tengah Teror Kedamaian Bersama

Di masa hidupku ini, kalau boleh jujur, kegagalan terbesar filsafat Indonesia mewujud dalam diri Martin Suryajaya. Yang berhenti sekedar pada menulis filsafat,...

Paperbook

Recent Comments

Stephanus Aswar Herwinarko on Usulan Berfilsafat (di) Indonesia