Usulan Berfilsafat (di) Indonesia

Rangga Kala Mahaswa
Rangga Kala Mahaswa
Pembaca Antroposen

Philofest, sebuah festival filsafat yang pertama kali dilaksanakan pada 2020 dan diklaim terbesar di Indonesia, lahir sebagai buah dari keberanian para pengiat filsafat untuk membangun suatu ekosistem filsafat yang lebih baik di Indonesia. Beberapa hari acara tersebut berlangsung, tidak terasa kita semua terhubung melalui debat, tempat untuk saling mengenal antar komunitas, dan bahkan ada yang berlomba-lomba membuat meme Pak Warsono. Siapa itu Pak Warsono? Sejujurnya, beliau belum mengungkapkan identitasnya secara penuh, klaimnya hanya sebagai orang yang biasa-biasa saja namun membaca filsafat dan mengikuti perkembangan terkini filsafat di Indonesia. Selanjutnya, pada Minggu, 19 September 2021, yang ditetapkan sebagai hari Filsafat Indonesia, ada sebuah forum yang diberi nama Sarasehan Filsafat Indonesia dan menghadirkan beberapa tokoh, pemikir, serta pengiat filsafat. Mereka mengutarakan ide-ide konstruktif tentang seperti apa masa depan filsafat (di) Indonesia. Setelah itu, awal Oktober 2021, obrolan tentang status Filsafat Indonesia kian menarik bahkan sampai di pojok warung kopi (bagi mereka yang gemar berfilsafat).

Tujuan saya menulis esai ini adalah untuk mengenang kembali obrolan-obrolan kecil di pojok kanan live chat Zoom/Youtube dengan Pak Warsono tentang Filsafat Indonesia, namun juga tentunya saya berharap bisa memberikan usulan atas kerangka tata cara Berfilsafat di Indonesia. Ada beberapa usulan tentang Filsafat Indonesia sekarang mulai dari definisi, metode, sampai posisi Filsafat Indonesia dalam konstelasi filsafat dunia. Esai ini dari awal diklaim akan lebih banyak berisi usulan dan pertanyaan.

Pertama, ikhwal masalah pendefinisian Filsafat Indonesia. Ada sekelompok pandangan yang menganggap bahwa Filsafat Indonesia = Filsafat Nusantara. Hal ini penting karena Filsafat Indonesia tidak hanya sekedar membicarakan isu-isu filosofis kontemporer melainkan juga perlu untuk menggali jejak-jejak kebijaksanaan (Nusantara) di masa lalu. Mungkin ini terdengar romantisisme filosofis, filsafat di masa lampau yang penuh dengan nilai-nilai kebijaksanaan dibandingkan keterperangkapan filsafat yang didominasi oleh orientasi filafat modern (Barat). Bagi mereka itu bukan hal yang memalukan, sekalipun jika kita mau berintropeksi sejenak, maka masalah yang muncul adalah perihal metode atau pendekatan. Bagaimana Anda dapat menggali kembali jejak-jejak masa lampau tanpa berterima kasih pada kontribusi ilmu-ilmu lainnya, misalnya entrografi, antropologi,  ilmu budaya, sosiologi atau keilmuan lain yang relevan. Apakah tidak aneh jika tiba-tiba Anda mengklaim nilai-nilai (a, b, c, …) hanya berbasis pada pendekatan wawancara, refleksi, dan observasi selama waktu seminggu berada di tengah-tengah masyarakat adat X? Jika terdengar aneh, maka jangan-jangan ada arogansi dan tendensi bahwa filsafat (pada dirinya) bisa menyelesaikan banyak hal termasuk pencarian nilai-nilai masa lampau. Sudahkan tepat kita membaca tradisi di masa lalu dengan kerangka seperti ini apa adanya (terkadang meminjam pendekatan Barat). Semoga saja tidak termasuk upaya imperialisme pengetahuan.

Selanjutnya, untuk masalah definisi, silakan untuk terbuka atau memilih untuk menetapkan pendefinisian seketat mungkin. Bagi saya, seandainya Pak Warsono turut menulis persoalan ini, dia akan memilih Filsafat Indonesia daripada Filsafat Nusantara. Bukan tidak mungkin untuk membaca Filsafat Nusantara secara komprehensif, tetapi jika menarik pada garis waktu historis persoalannya akan muncul demikian: Apakah batasan historis antara Filsafat Nusantara dengan Filsafat Indonesia? Jika Nusantara bahkan lini masanya sebelum kemerdekaan Indonesia maka ini akan menjadi trajektori yang luar biasa bagi para komunitas filsafat di Indonesia. Mereka harus berani membaca teks-teks kuno dan mempelajari budaya kuno, tentunya harus didampingi oleh mereka yang lebih ahli di bidang ini (seperti filologi, arkeologi, dan antropologi) dan bukan sekadar intepretasi reflektif (serampangan).

Istilah Filsafat Indonesia perlu untuk diperjelas acuannya, apakah hanya mengacu pada batasan geografis (letaknya di Indonesia) atau justru tidak terbatas pada batasan geografis tertentu. Jika yang kedua, maka filsafat yang dikembangkan oleh orang Indonesia di mana pun berada, baik di dalam maupun di luar wilayah geografis Indoensia, dapat masuk ke dalam kategori Filsafat Indonesia. Memilih Filsafat Indonesia akan memudahkan kita untuk merangkum lini masa perkembangan orientasi pemikiran, cabang, dan debat filsafat yang telah dan sedang berkembang di Indonesia. Apakah akan bermasalah? Tidak, jika dan hanya jika kemudian tidak selalu mengejar urusan pendefinisian (agaknya naif). Untuk urusan berfilsafat, di Indonesia sendiri ada banyak komunitas filsafat dengan ragam keunikan kajian mereka masing-masing, namun memang sejujurnya pembahasan tentang diskursus Filsafat Indonesia masih cukup langka. Mereka bukannya tidak mau, namun mungkin saja masih bingung sendiri (termasuk saya) ketika mendefinisikan Filsafat Indonesia. Artinya, usulan pertama tentang definisi Filsafat Indonesia masih terbuka untuk didiskusikan kembali.

Kedua, melihat klaim Filsafat Indonesia, ada juga kelompok pembaca filsafat yang masih setia memosisikan filsafat sebagai induk semua ilmu (the mother of all the sciences) yang berkembang hebat saat ini. Rasa overpride akan filsafat sebagai induk ilmu, apakah cukup relevan ketika membaca Filsafat Indonesia? Jika iya, di mana posisi Filsafat Indonesia sebagai induk ilmu dalam soal orientasi keilmuan (asli—indigenous knowledge) di Indonesia? Usulan pertanyaan ini terbuka untuk ditanggapi kemudian. Bagi saya, Filsafat Indonesia bukan induk ilmu. Yang harus dilakukan saat ini adalah mawas diri bahwa bisa jadi posisi Filsafat Indonsia ialah teman ilmu. Layaknya lingkar pertemanan, sudah sewajarnya untuk terbuka akan bidang-bidang ilmu lain, berani berdialog atau setidaknya membaca data serta hasil temuan mereka. Bukan malah mengklaim sebagai induk dari segala ilmu dan lalu diam sendiri sambil berusaha keras mendeklarasikan ide besar tentang dunia. Dunia seperti apa yang didambakan oleh Filsafat Indonesia jika hanya mengandalkan egoisme serta arogansi intelektual?

Ketiga, perihal relevansi Filsafat Indonesia. Seringkali saya mendengar bahwa Filsafat Indonesia harus memiliki kontribusi nyata serta relevansi kontekstual terhadap masalah-masalah aktual di Indonesia. Apakah itu salah? Sejauh benar-benar diwujudkan tidak menjadi masalah. Isunya kemudian adalah tawaran seperti apa yang akan diberikan oleh Filsafat Indonesia dalam menjamin klaim-klaim besar filosofisnya atas masalah aktual hari ini. Ambil saja contoh masalah kemanusiaan dan perubahan iklim global. Klaim kita bahwa filsafat pasti dapat menyelesaikan segala masalah yang ada itu terlampau naif. Namun, sebaiknya kita bertanya: filsafat dari mana dan siapa yang berbicara? Jika mengekor dengan kemapanan Filsafat Barat yang ratusan tahun telah berkembang yang juga berani menghadapi penolakan kultural-politik sebelumnya, maka kedua masalah besar itu bisa diselesaikan, dengan catatan meminjam kembali pendekatan mereka. Kembali lagi, sudahkah kita mencoba untuk membuka ruang kerja kolektif dan komunikasi ilmiah-filosofis dengan banyak perspektif Filsafat Non-Barat hari ini? Jika belum, maka sangat mungkin melalui kerja karya ilmiah-filosofis atau ikut dalam konferensi internasional filsafat merupakan bentuk dari keseriusan kerja Filsafat Indonesia. Semakin banyak bertatap muka dengan masalah dan isu-isu di luar zona nyaman kita, maka ada harapan besar untuk menjadikan Filsafat Indonesia tidak hanya sekadar filsafat-filsafat(an) yang hanya mengekor dengan kemegahan Filsafat Barat. Meskipun demikian, jika belum mampu, ada baiknya tetap rendah hati untuk mengakui masih (sering) meminjam serta belum mampu mandiri.  

Keempat, kejelasan metodologis Filsafat Indonesia. Filsafat Indonesia perlu memikirkan metode yang tepat dan jernih sehingga siapa pun yang ingin berfilsafat ala Indonesia dapat mengetahui arah dan tujuannya. Karena, di sisi lain, ada klaim yang menganggap bahwa Filsafat Indonesia dipenuhi teka-teki, tidak rasional, dan objeknya tidak jelas. Anehnya, klaim ini diakui sebagai sesuatu yang unik dan berbeda dari filsafat lainnya. Bagi saya, jika objeknya tidak jelas, mengapa Anda bisa berkata itu tidak rasional untuk dipikirkan ulang? Kita bisa berkaca pada Filsafat Zen yang beberapa klaim ontologisnya bertolak belakang dengan pandangan filsafat (Barat) pada umumnya. Filsafat Zen dapat dianggap sebagai filsafat dan itu tidak masalah. Artinya, Filsafat harus siap dikritisi kemudian. Apakah itu berarti klaim ini bisa diterima untuk Filsafat Indonesia yang diandaikan tidak memiliki kejelasan? Menurut saya, filsafat justru menjernihkan. Jika tidak jernih, berarti si filsuf ini yang terlalu terburu-buru untuk menerjemahkan konten atau objek yang diteliti tanpa membuka kemungkinan hasil temuan ilmu/filsafat lainnya. Ini semua bertujuan untuk menghindari klaim-klaim soal nilai-nilai hidup yang serampangan, pencaplokan ruang kajian ilmu lain, dan pemaksaan pandangan-pandangan lain sebagai kerangka penelitian tertentu.

Apakah relevan jika tiba-tiba Imperatif Kategoris Kant mengkaji pertunjukan Reog Ponorogo? Jika masih relevan, maka perlu ditunjukkan secara mendalam mengapa kita harus berterima kasih dengan kerangka pendekatan ala kemapanan Filsafat Barat. Tidak perlu malu untuk mengakui jika kita sendiri masih meminjam sana sini. Terkadang memang sulit untuk membicarakan dan mengakui kelemahan kita karena sudah berpuluh-puluh tahun metode atau pendekatan tersebut digunakan serta berkembang. Saya berharap bahwa Filsafat Indonesia tidak seperti orientasi imperialisme/kolonialisme via pendekatan Barat yang melihat local wisdom atau komunitas adat sebagai objek; yang eksotis nan indah untuk diteliti, karena dianggap sebagai kebaruan yang sebelumnya tidak pernah ditemukan di dunia modern. Usulan ini berarti ajakan untuk memikirkan kembali pertanyaan ‘dunia seperti apa yang memungkinkan Filsafat Indonesia itu ada?’

Terakhir, pilihan Filsafat Indonesia. Saya menyadari bahwa Filsafat Indonesia di masa depan perlu memikirkan pilihan orientasi berfilsafatnya. Apakah memilih jalan tengah, barat, timur, utara, selatan, atau jalan yang terbuka? Cukup naif memang jika membuat Filsafat Indonesia ‘fixed’, karena pasti akan terbentur oleh banyak pendekatan filosofis ketika sudah berkembang. Saya mengusulkan bahwa mungkin Filsafat Indonesia perlu memilih jalan ‘untuk menjadi’ dengan jalan membuka kemungkinan dunia alternatif atas banyaknya dunia-dunia (kehidupan) lainnya yang ada di Indonesia. Jika mau merangkul banyaknya pemikiran filosofis di Indonesia, maka Filsafat Indonesia tidak hanya berhenti menjadi laporan-laporan penelitian tahunan. Namun, hal tersebut cukup memiliki risiko yang tinggi, misalnya apakah dunia-dunia yang lain seperti halnya bertutur kata pada tradisi lisan, tarian, tradisi lokal, dan teks dapat menjadi pertimbangan investigasi filosofis di masa depan? 

Seandaianya Filsafat Indonesia berani bergerak lebih maju, apakah kearifan lokal selalu ada di masa lalu? Apakah tidak sebaiknya kita mencoba kearifan lokal yang sedang ada dan berkembang di tengah-tengah hiruk-pikuk orientasi pembangunan di Indonesia? Bagaimana dengan kesadaran ‘lokal’ masyarakat digital hari ini saat merefleksikan pentingnya kesehatan publik atau isu krisis lingkungan mereka? Apakah tidak mungkin jika mereka diafirmasi? Apakah Filsafat Indonesia harus selalu meromantisasi dan memuja-muji dunia arif masa lalunya? Tidakkah mungkin ada kearifan yang sedang berkelindan dengan kita semua saat ini? Atau mungkin saja ada kecenderungan ketidakpercayaan akan orientasi nilai modern sehingga mewajibkan kita untuk menggali nilai-nilai masa lampau? Jika memang demikian, mengapa tidak sebaiknya membangun orientasi politik-ontologis seperti apa yang memungkinkan ragam dunia-kehidupan bisa diterima? Misalnya, soal padangan spekulatif tentang akhir dunia ini (the end of the world) karena status limbah akumulatif-antropogenik masyarakat Indonesia telah menyebabkan kerusakan ekologis, apakah kondisi ini patut untuk dipertimbangkan? Bagaimana dengan pandangan more-than-humans, yang masih memosisikan manusia dan alam secara simetris dan menganggap animisme/dinamisme sebagai landasan ontologis tentang dunia? Atau justru sebaliknya, dengan bersembunyi atau melempar masalah kepada keilmuan lain, alih-alih memikirkan dan menghadapi masalah riil yang ada di depan dengan justru kembali ke masa lalu?

Filsafat Indonesia memang patut untuk dipikirkan ulang jika memang kita merasa masih ada banyak lubang. Artinya, sebelum membicarakan masalah aktual dan masalah besar filsafat di dunia, perlu kita sejenak berdiskusi kembali dan memantapkan langkah perihal ‘dunia’ yang seperti apakah yang memungkinkan Filsafat Indonesia itu ada. Harapan saya, Filsafat Indonesia sudah seharusnya bukan sekadar kecentilan intelektual, perlombaan jargon, tips-trik kutip-mengutip dan pandang-memandang tanpa menawarkan kebaruan atau keragaman pemikiran apa pun di hutan hujan tropis filsafat.*

*Esai ini dibuat dengan tendensi penuh pertanyaan (ambigu), karena memang saya belajar banyak dengan Filsafat Indonesia yang penuh pertanyaan, bahkan untuk dirinya sendiri. Tetap Semangat!

Bacaan Lainnya