Saturday, November 27, 2021
Home Esai Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Sebagai posisi filosofis, misantropi mungkin lebih baik didefinisikan sebagai sebuah pengingkaran atas kemanusiaan, sebuah putusan moral negatif yang sangat kuat atas kemanusiaan secara keseluruhan.

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas personal. Dari ketiga hal tersebut, kata teman saya, kita hanya dapat memilih dua dan mengorbankan satu hal lainnya. Teman saya memilih kebahagiaan dan identitas personal karena keabadiaan dapat menghilangkan kebahagiaan personal. Singkatnya hidup secara normal dan kemudian mati. Tentu saja saya tidak setuju. Menurut saya kita dapat merengkuh kebahagiaan dalam keabadian dengan pertolongan dari entitas di luar manusia, misalnya teknologi dan zat-zat psikedelik. Pandangan semacam ini saya sadari di kemudian hari sebagai misantropi, bahwa kehidupan yang bertumpu pada kemanusiaan (semata) tidak dapat menghantarkan kita pada kehidupan yang ideal. Bahkan, lebih jauhnya, kemanusiaan itu sendiri merupakan sebuah kutukan yang dapat menghambat kita untuk mencapai idealitas. Berangkat dari hal tersebut dalam tulisan ini saya akan menawarkan beberapa bentuk kehidupan yang didasarkan pada perspektif misantropi.

Misantropi sering dimaknai sebagai term yang mengacu pada ketidaksukaan dan kebencian atas manusia. Sebagai posisi filosofis, misantropi mungkin lebih baik didefinisikan sebagai sebuah pengingkaran atas kemanusiaan, sebuah putusan moral negatif yang sangat kuat atas kemanusiaan secara keseluruhan. Pengingkaran ini tidak diasosiasikan dengan perasaan benci. Dengan pengertian ini misantropi dapat menjadi lebih kompleks dan tidak dependen pada emosi individual. Selain itu misantropi dapat menangkap fenomena moral lebih akurat dengan perspektif yang membutuhkan atensi moral. Singkatnya, misantropi adalah sebuah pertimbangan kritis pada kehidupan manusia. Berdasarkan pemahaman ini kita harus membuat distingsi antara misantropi dan misantrop.

Jika di atas misantropi didefinisikan sebagai posisi filosofis, misantrop dapat kita definisikan sebagai keyakinan individual yang menegaskan kebenciannya atas sesama manusia. Pada titik ini misantropi tidak dapat direduksi pada kebencian atas individu manusia. Maka dari itu misantropi secara filosofis cakupannya lebih luas dan tidak niscaya misantrop. Tidak semua dengan pemikiran misantropi adalah seorang misantrop. Bahkan, sebagaimana yang akan saya bahas, terdapat banyak cara yang berbeda untuk hidup dengan memegang teguh misantropi. Namun sebelum itu saya akan memberikan latar belakang pendek mengapa seseorang dapat merangkul misantropi.

Latar belakang utamanya adalah karena kemanusiaan memiliki banyak kegagalan yang serius. Kita dapat membuat daftar kegagalan manusia. Di sini saya hanya akan menulis dan membaginya ke dalam empat domain. Pertama adalah kegagalan dalam domain intelektual: manusia kerap memepertunjukkan ketidaktahuan (ignorance), kebodohan, irasionalitas, kurangnya kebijaksanaan, ketidakdewasaan, pikiran yang tertutup, bias, menipu diri, takhayul, dan kedangkalan. Yang kedua dalam domain psikologis: manusia sering terjebak dalam gejolak mental seperti kegelisahan (anxiety), ketakutan, iri, sentimentalitas, simpati atau perasaan kasihan yang salah tempat, watak budak, dan arogansi. Kemudian yang ketiga adalah domain moral: manusia sering bertindak buruk: berbohong, menipu, mencuri, membunuh, memperkosa, menyiksa, menghina, memeras, dan gagal untuk menunjukkan sikap dan emosi yang baik. Manusia juga memiliki banyak keburukan lainnya: kejam, egois, narsistik, dengki, arogan, dangkal, apatis, sombong, memanjakan diri sendiri, dan sebagainya. Dari ketiga domain tersebut kita dapat mengombinasikannya untuk membentuk sebuah gambaran umum manusia. Dan tentu saja kita dapat memperpanjang daftar kegagalan nilai-nilai kemanusiaan di atas.

Sifat-sifat kemanusiaan yang saya sebutkan di atas dapat ditemukan pada pendirian dan perilaku dari setiap individu, dan juga pada hampir semua institusi kita. Dalam setiap masyarakat, membentang hingga setiap lapisan kuasa, kemanusiaan dipenuhi dengan keburukan, kejahatan, dan kegagalan yang tercela dan patut disalahkan. Misalnya penindasan, rasisme, perang, kemiskinan, destruksi lingkungan, dan sebagainya. Dengan demikian menurut para penganut misantropi, kemanusiaan secara moral merupakan sesuatu yang buruk dan gagal. Lalu bagaimana kita dapat menghidupi hidup dengan misantropi?

Namun sebelum itu saya harus memberi pengertian bahwa beberapa doktrin filsafat merupakan sesuatu yang abstrak dalam artian bahwa adopsi terhadap doktrin-doktrin tersebut tidak benar-benar mengubah perilaku praktis kita di dunia. Jika, misalnya, saya mengadopsi pandangan bahwa objek non-material eksis, hal tersebut tidak lantas mempengaruhi cara praktis saya dengan sesuatu atau berubah dengan cara apa pun bagaimana saya mengelola urusan hidup saya. Doktrin filsafat lainnya bahkan memiliki karakter yang lebih eksistensial, dapat membuat kita berubah dalam cara bagaimana kita berpikir, merasa, dan bertindak di dunia ini. Misantropi merupakan doktrin seperti doktrin-doktrin filsafat tersebut. Kita tidak dapat hidup sama seperti sebelumnya ketika doktrin misantropi telah terinternalisasi. Pengalaman kita atas dunia berubah. Aspek dalam dan disturbing dunia kini berada dalam pandangan kita yang tidak dapat dibatalkan (unseen). Maka dari itu Schopenhauer benar dalam mengkarakterisasikan misantropik dengan “melancholy mood”.

Seperti yang sudah saya sebutkan, dalam artikel ini saya akan menganjurkan bagaimana kita bisa menghidupi hidup dengan pendirian misantropi. Anjuran ini berbasis pada artikelnya Ian James Kidd yang berjudul “Varieties of Philosophical Misanthropy”. Saya akan memulainya dengan dua pendirian yang telah lama dibahas oleh Imanuel Kant.

Pertama adalah pendirian yang disebut oleh Kant sebagai musuh (enemy) umat manusia, yang dapat juga disebut misantropis positif. Pendirian ini dikarakterisasikan dalam artian “permusuhan”, kombinasi dari “ketidaksukaan” atas umat manusia dan “niat buruk” terhadapnya. Pendirian ini serupa dengan misantropi yang didefinisikan dalam kamus-kamus dan juga dipahami oleh common sense. Beberapa orang dengan pendirian ini mungkin akan melakukan tindakan kekerasan. Beberapa lainnya akan menunggu dan berharap, misalnya, akan ada meteor besar yang menabrak bumi dan melenyapkan umat manusia. Beberapa yang lainnya lagi akan bertindak ekstrem seperti mengurgenkan moralitas bunuh diri yang diprovokasi oleh pesimisme filosofis seperti Eduard von Hartman.

Yang kedua adalah pendirian misantropik yang oleh Kant sebut sebagai pelarian (fugutive) dari umat manusia atau juga disebut misantropis negatif. Beberapa misantropis dari pendirian ini memilih menjadi seorang pertapa yang menjauhkan dirinya dari semua manusia karena menurut mereka semua orang dapat melukai satu sama lain. Selain itu misantropis pelarian juga khawatir dengan risiko moral korupsi atas kehidupan manusia. Contoh konkretnya adalah monastic life dari seorang Buddhis.

Misantropi pelarian ini memiliki sebuah hasrat yang kuat untuk escape dari sebuah dunia yang mereka anggap korup dan merusak. Namun sialnya meskipun kita mengutuk apa yang oleh Montaigne sebut “sosialitas yang taktersosialisasikan” (unsociable sociability), kita masih makhluk sosial yang aktivitasnya, ketertarikannya, dan kebutuhannya secara tipikal untuk mendapatkan yang terbaik adalah dengan berbagi dalam kehidupan sosial. Beberapa misantropi pelarian lainnya juga dapat lari ke dalam tatanan religius. Kant juga menekankan bahwa beberapa lainnya mungkin lari ke lembah atau bukit yang terisolasi. Singkatnya ini adalah sebuah bentuk escapism.

Selain kedua pendirian di atas, Kant juga membahas pendirian misantropi lebih jauh, yaitu seseorang yang oleh Joseph Trullinger labeli sebagai ‘soliter berbudi luhur’ (virtuous solitary). Misantropis semacam ini mengadopsi ‘prinsip kesendirian’, yang secara periodik menarik diri dari dunia manusia yang menginspirasi frustasi dan kekecewaan moral untuk menikmati ‘sejenis isolasi-diri’ yang (menurut misantropis jenis ini) baik dan bermanfaat.

Pendirian-pendirian misantropi yang sudah saya bahas di atas berbasis pada pemikirannya Kant. Selanjutnya saya akan memaparkan pendirian misantropis yang tidak berbasis pada pemikiran Kant, yaitu yang disebut aktivis. Fitur pendirian aktivis ini dapat didefinisikan sebagai penyelesaian atas respons pada kengerian (dreadfulness) kita dengan menginisiasi atau berpartisipasi ke dalam proyek berskala luas yang diarahkan pada rektifikasi atas kondisi moral kolektif kita. Tentu saja proyek ini harus mengikutsertakan faktor moral dan kultural. Para aktivis menyeretnya pada sumber harapan dan eksploitasi moral atas sumber amelioratif yang eksis untuk berusaha mewujudkan ambisi mereka. Namun tentu saja sumber tersebut sangat dependen pada kultur tertentu.

Para misantropi aktivis ini dapat mengambil inspirasi dari kehidupan seorang Kŏngzi (551-479 SM). Kŏngzi merupakan satu orang dari sedemikian banyak contoh yang memandang bahwa pendirian misantropis merupakan determinasi praktis atas respons terhadap kegagalan radikal kita sebagai manusia karena proyek ambisi ngotot dari restorasi moral. Jika hal tersebut lebih menyenangkan, realitasnya tentu saja berbeda. Kŏngzi mengulang-ulang suara dari sebuah perasaan frustrasi yang dalam, penyerahan diri, dan kesedihan yang terkoneksi langsung dengan kondisi dunia dan apa yang dia lihat terus meningkat, yaitu kegagalannya dalam proyek rektifikasi. Tentu saja dengan mengabaikan keluh-kesah ini berarti bahwa memperburam kesulitan moral dan eksistensial yang diperjuangkan.

Sederhananya adalah bahwa misantropi aktivis dapat melihat kehidupan Kŏngzi sebagai sesuatu yang diinterpretasikan dalam konteks, moral, kultural, dan kosmologis. Para aktivis dapat menarik dari sumber harapan moral dan mengeksploitasi sumber daya amelioratif yang ada untuk berusaha dan merealisasikan ambisi para aktivis misantropis ini. Namun sumber daya tersebut sangat dependen pada kultur.

Terakhir, pendirian misantropis yang akan saya tawarkan adalah pendirian quetist. Pendirian quetist ini berdiri sebagai oposisi polar dari aktivis misantropis. Seperti semua misantropis, quetist memandang eksistensi manusia sebagai sesuatu yang muncul dengan sesuatu yang buruk secara moral dan sistematis, yang penuh dengan kegagalan yang mengakar dari semua jenis kegagalan. Namun sikap mereka merupakan suatu penerimaan dan kepasrahan, dan mereka merespons dengan strategi-strategi tertentu untuk mengakomodasi kegagalan tersebut. Merekognisi bahwa beberapa kebutuhan tertentu hanya dapat dipenuhi dengan pendekatan kontinum dengan dunia manusia, misantropi jenis ini membudayakan quieter,  cara hidup yang tidak percaya diri memungkinkan mereka untuk hidup di dunia sembari di sisi lain meninggalkan ambisi yang semakin korup, tekanan dan strukturnya. Seorang quietist mungkin akan melatih keutamaan seperti ketidakberanian atau sifat malu-malu, kesopanan, sifat pendiam, yang melindungi mereka dari korupsi dunia manusia.

Seorang quietist mungkin akan peduli dan bertindak secara lokal atau personal. Mereka melakukan hal tersebut adalah untuk menunjukkan semacam kehati-hatian, kerendahhatian, kebijaksanaan, dan menahan diri dari kebisingan yang selamanya sibuk pada dunia manusia.

Quietist misantropis, seperti halnya pesimisme filosofis, berjuang untuk membudayakan apa yang oleh Joshua Foa Dienstag sebut “sebuah filsafat yang diiringi secara personal dan diadaptasi pada sebuah dunia yang tidak responsif.” Seorang quietist juga mungkin saja mengundurkan diri dari keterikatan skala besar dengan sebuah dunia yang mereka temukan secara moral tidak responsif, namun mereka tetap prihatin dan bersentuhan secara moral, meskipun dengan cara yang konsisten dengan sebuah pesimisme tentang prospek perbaikan.

Itulah beberapa tawaran untuk menghidupi hidup dengan misantropi. Biar bagaimanapun, selamat menjalani hidup, yang tidak dapat dipungkiri bahwa hidup ini tidak indah dan tidak hanya itu yang kita punya.

Moh. Gema
Tertarik pada filsafat sains dan metafisika.
RELATED ARTICLES

Panpsikisme dan Kesadaran

I Salah satu persoalan yang belum selesai dan terus dibicarakan dalam lingkup filsafat ialah kesadaran. Meski para psikolog...

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Filsuf di Tengah Teror Kedamaian Bersama

Di masa hidupku ini, kalau boleh jujur, kegagalan terbesar filsafat Indonesia mewujud dalam diri Martin Suryajaya. Yang berhenti sekedar pada menulis filsafat,...

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Panpsikisme dan Kesadaran

I Salah satu persoalan yang belum selesai dan terus dibicarakan dalam lingkup filsafat ialah kesadaran. Meski para psikolog...

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Filsuf di Tengah Teror Kedamaian Bersama

Di masa hidupku ini, kalau boleh jujur, kegagalan terbesar filsafat Indonesia mewujud dalam diri Martin Suryajaya. Yang berhenti sekedar pada menulis filsafat,...

Paperbook

Recent Comments

Stephanus Aswar Herwinarko on Usulan Berfilsafat (di) Indonesia