Saturday, November 27, 2021
Home Esai Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dalam khazanah filsafat, problem hubungan antara memori dan identitas, dan antara imortalitas dan kebahagiaan masih terjadi.

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya di Lake Powell (Colorado). Layaknya pendaki pada umumnya, Edelman pergi dengan menyusuri tepi sungai, berkemah, kemudian mengikuti trek tua, melihat-lihat canyon. Kemudian, selama perjalanan tersebut Edelman ini bertanya-tanya, bila dirinya bertemu dengan ceruk, apakah ceruk berikutnya ini dalam atau tidak dan apakah dirinya akan menyempatkan untuk berenang di sana atau tidak; apakah ada ikan minnownya atau tidak; apakah dirinya akan menemui bunga monkey di antara tebing-tebingnya atau tidak dan sebagainya.

Selama perjelanan tersebut, Edelman memikirkan beragam pertanyaan semacam itu, dan tentu dalam perjalanan tersebut pula dirinya mengalami beberapa hal yang dipikirkan tadi. Hal semacam itu adalah wajar untuk kita rasakan dan apa yang kita alami tersebut menjadi sebuah pengalaman tersendiri atau khusus bagi kita yang sifatnya adalah personal. Barangkali kita bisa menyempatkan diri untuk swafoto atau memotret keindahan yang terjadi dan dialami sebagai keping kenangan untuk dikenang. Akan tetapi, yang perlu disadari adalah, semua hal yang ada dalam keping kenangan tersebut bersifat personal, bila kita berbicara dalam konteks kedalamannya. Semisal, ketika kita pergi ke suatu tempat atau anggap satu pantai tertentu, yang mana dipenuhi oleh pasir pantai yang berwarna pink, kemudian ada kuda-kuda yang berlarian di belakangnya dengan percikan air di tepian yang jernih bersama dengan terumbu karang dan ikan-ikan kecil yang nampak menghiasi kejadian tersebut. Tentu semua detil itu adalah satu keutuhan fenomena yang barangkali indah bagi diri kita, sehingga membuat kita menyempatkan untuk memoretnya sebelum memilih untuk pulang. Kemudian sewaktu kita pulang dan membagikannya pada kerabat-kerabat kita, secara umum mereka dapat mengenali pemandangan indah yang ada di situ, namun tentang bagaimana detil suasana yang dirasakan oleh kita saat itu atau ketika kita berbicara mengenai keutuhannya, tentu ini tidak bisa dirasakan oleh mereka karena sifat kepersonalan tadi, dan hanya kita lah yang benar-benar mengetahuinya–anggap meski sekali pun potret tersebut berbentuk rekaman video.

Hal yang sama ini juga coba dipertanyakan oleh Edelman, kita tentu bisa memotret segala hal yang kita lalui, namun bagaimana dengan keseluruhan detil ingatannya yang bersifat personal ini dan dapat memelar dalam arti mengetahui dan merasakan sudut-sudut dan komponen yang ada, apakah bisa untuk kita merasakannya sekali lagi atau berulang kali di tempat yang sama? Atau, bisakah diterapkan di tempat lainnya? Baik, anggap peradaban yang kita tinggali sudah sangat maju, dan kita punya banyak waktu serta kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut untuk kesekian kalinya, dan kapasitas otak kita ini anggap tidak terbatas pada saat itu–anggap penyakit degeneratif seperti dementia sudah dikalahkan di tahap ini. Apakah mungkin untuk kita dapat merasakan hal yang sama? Apakah yang kita rasakan ini benar-benar otentik? Atau jangan-jangan, hal yang kita rasakan pada saat di pantai itu semua terjadi ketika kita tengah merasa melankolik karena sehabis diputusin oleh sang kekasih, sehingga merasa menjadi subjek yang paling tersakiti saat itu dan dunia harus tahu dengan kesedihan ini dengan menggebu-gebu menyairkan sumpah serapah pada angin pantai yang bersautan dan menuliskan sisa-sisa penyesalan di tepi pantai yang hanya untuk tersapu oleh derai ombak kemudian, dan ketika pulang merasa menjadi manusia yang paling bijaksana setelah ditempa getirnya kehidupan. Barangkali, ketika kita kembali mengunjungi pantai tersebut, kita tidak lagi dalam keadaan yang sama, anggap saat itu kita tengah bersama sang kekasih baru dan pada saat itu persona atau kepribadian kita sudah tidak lagi sama dengan sebelumnya. Ketika ini terjadi, pertanyaan besar yang coba diajukan adalah, dengan kesementaraan kesempatan yang kita miliki ini, yang justru dapat membuat semua itu menjadi spesial–klaimnya di sini–apakah kita sudi menukarnya dengan usia yang panjang? Akan tetapi, tetap ada harga yang harus dibayarkan, yakni sifat kepersonalan dengan segala kespesialannya tersebut hilang dalam arti menjadi tidak berarti karena dapat diulang terus menerus. Sederhananya, pergi menjalankan ziarah keagamaan ke tempat yang khusus seperti Yerusalem adalah pengalaman yang sangat berarti bagi yang mengimaninya, akan tetapi bila ziarah tersebut dapat dilakukan berulang kali bahkan hingga ratusan kali, tentu bisa saja mengikis kesakralan atau kepersonalan tersebut dapat terduksi dan menjadi tidak sespesial yang dibayangkan.

Kembali pada argumen Edelman, dikatakan bahwa kalau interaksi kita–dalam arti terikat kondisi manusia–ini terikat pada tiga atribut utama, yakni ada kehabagiaan atau yang kita pahami dengan perasaan, ada memori atau yang lekat dengan identitas kita, dan usia. Tentu, dengan kemajuan teknologi, kita bisa mengedepankan satu dari ketiga hal tersebut. Semisal, ingin mengedepankan kebahagiaan, sekarang sudah ada obatnya seperti prozac atau ketamin sebagai antidepresan. Atau, ingin mengedepankan memori, meski sekarang ini belum ada, namun yang cukup mendekati untuk dapat membuat kita tetap fokus dan mudah mengingat dapat dilalui dengan adderall atau ritalin. Atau lagi, ingin mengedepankan usia, meski sekarang ini juga belum ada, namun yang cukup mendekati dalam skala kecilnya adalah krim antipenuaan yang umum digunakan oleh kita saat ini, yang tanpa disadari menuju ke arah sana.

Sementara dalam khazanah filsafat, problem hubungan seperti antara memori dan identitas, dan antara imortalitas dan kebahagiaan masih terjadi. Sebagaimana yang terjadi pada problem antara imortalitas dan kebahagiaan, posisi yang cenderung diterima adalah bahwa imortalitas harus dijauhi karena bertentangan dengan kebahagiaan itu sendiri. Edelman mengutip pernyataan Christine Overall yang menyatakan bahwa mereka yang imortal dianggap memiliki kesempatan yang lebih untuk mengakses semua hal atau kemampuan yang dimiliki oleh otak dan tubuhnya, dan akan tiba sampai masanya otak dan tubuh mereka menjadi jenuh oleh karena semua hal telah dilakukan dan semua telah dirasakan, yang pada akhirnya justru usia yang panjang menjadi pembatas untuk kebahagiannya sendiri.

Memori sebagai Pembentuk Identitas yang Berlanjut

Edelman berposisi bahwa pengalaman subjektif lah yang membentuk fenomena kedirian–yang menjadikan kita sebagai kita. Dalam sudut pandang psikologi atau dalam maksud ini dinyatakan sebagai psikologis-reduksionis oleh Derek Parfit yang dikutip oleh Edelman, disebutkan bahwa jika perubahan–dalam artian proses yang terjadi–seseorang disebabkan oleh pengalaman dan memori atas pengalaman tersebut, yang sampai akhirnya menciptakan bentuk kepribadian kita yang lalu dan yang baru. Akumulasi memori ini memiliki peran yang signifikan dalam kedirian, yang tentu berbeda dengan fase kesekarangan yang bersifat sementara–yang terjadi dan dilalui pada saat ini, misalkan kita yang masih sekolah dengan keseluruhan kita sebagai diri. Problem yang ditemukan adalah, ketika kesempatan atas akumulasi ini terjadi terus menerus melalui pengandaian adanya imortalitas, yang tentu berimbas pada kepribadian yang berubah dan pada akhirnya kian menumpuk dan sulit untuk dikenali. Sementara itu, di sisi yang lain, terdapat pertanyaan lain, apakah usia yang panjang ini atau imortalitas menjadi sesuatu yang memang layak untuk diinginkan? Untuk beranjak pada pertanyaan semacam itu, kita dapat melihat terlebih dahulu hubungan antara kebahagiaan dan identitas yang berlanjut.

Menentukan Kebahagiaan dan Identitas yang Berlanjut

Ketika memasuki persoalan kebahagiaan, kita tidak lagi perlu mempertanyakan apakah kebahagiaan ini layak diinginkan atau tidak, pertanyaan yang lebih tepat adalah apa itu menjadi bahagia? Bila dihadapkan dengan pertanyaan seperti ini, tentu akan banyak sekali tawaran jawaban terhadapnya. Dalam posisi hedonis, yang memiliki titik fokus kesekarangan–dalam maksud here and now–tentu yang terkait apa yang kita rasakan, semisal bahagia adalah dengan menyelesaikan cicilan kredit pemilikan rumah, kemudian memiliki pasangan, dan lainnya yang sifatnya terus berproses (berganti dan berlanjut) dan dikejar untuk dipenuhi. Jadi posisinya di sini kebahagiaan adalah mengandaikan akumulasi dari pemenuhan atas bahagia yang sementara dan terus menerus. Sementara dalam posisi lain, seperti utilitarianis, yang memiliki titik fokus ke depan atau eudaimonic, kebahagiaan dapat dianggap sebagai ketika menjadi bermanfaat bagi diri dan yang lainnya. Sehingga dalam pengandaian ini, imortalitas selaras dengan tujuan tersebut, yakni dengan usia panjang kita dapat tetap memberikan manfaat bagi diri dan yang lainnya, dan perwujudan tersebut menjadi kebahagiaan. Akan tetapi ada satu ungkapan menarik yang dapat dijadikan kritik terhadapnya, yakni tidak ada hal yang dapat kita lakukan berulang dalam waktu yang lama, kecuali untuk hal-hal yang membosankan, lantas apakah hal tersebut masih dapat kita anggap sebagai kebahagiaan?

Kemudian dalam skema yang lain, imortalitas ini masih bisa dipertahankan dengan perandaian sederhana. Bentuk memikirkan hal ke depan atau berandai adalah hadiah yang kita dapatkan dari hasil menjawab tantangan evolusi–atau bila tidak berkenan dengan anggapan ini boleh diganti dengan berkat dari Tuhan jika dibandingkan dengan ciptaan-Nya yang lain. Proses berandai ini sangat mirip dengan proses komputasional, yang mana melibatkan coding sebagai identifikasi, assess sebagai memilah, selection sebagai memilih, elimination sebagai penghapusan, prediction sebagai tawaran dan lainnya. Semua hal tersebut terjadi karena adanya informasi, dan informasi ini berasal dari pengalaman kita dengan lingkungan–baik dalam maksud fisik maupun tidak. Keberagaman atas pengalaman dengan lingkungan tersebut tentunya membutuhkan upaya eksplorasi, dan eksplorasi di sini memiliki peran tersendiri. Prinsipnya, semakin besar kita berupaya untuk mengeksplorasi, maka semakin dalam hal-hal yang dapat kita identifikasi dan olah, yang tentunya menjadi lebih variatif. Bentuk perandaian sederhana ini masih bisa untuk mempertahankan posisi apakah imortalitas memang layak untuk diinginkan, tapi pertanyaan lainnya, apakah cukup?

Sayangnya tidak lah cukup, sejauh posisi yang Edelman berikan, kita tetap membutuhkan kebahagiaan. Melalui kebahagiaan lah yang dapat mendorong kita untuk melakukan upaya eksplorasi. Kebahagiaan dalam posisi hedonis (kesekarangan) dan utilitarianis (ke depan) pun hanya mungkin dicapai melalui proses yang bertahap dan begitu saja terjadi, sehingga semua ada prosesnya. Bila di hedonis, sesuatu menjadi tidak berarti ketika hal tersebut selalu ada dan tersedia (available), karena nilai (value) terhadap sesuatu tidak dapat bersifat konstan. Sesederhana kita menyatakan makan pizza itu enak, akan tetapi bila setiap hari–dalam arti pagi sampai malam–kita hanya disuguhkan dan makan pizza, apakah kita masih bisa menyatakan itu enak? Apakah keinginan kita untuk memakan pizza itu masih akan tetap ada? Perlu digarisbawahi, bahwa yang berperan atas kebahagiaan kita di sana itu adalah keinginan, baik itu bersifat kesekarangan maupun ke depan.

Dalam persoalan kebahagiaan yang lain, dari sisi evolusi juga disebutkan, bahwa spesies yang mudah bahagia cenderung rentan, dan berujung pada kepunahan dibanding sejenisnya yang tidak mudah bahagia, oleh karena salah satu faktornya adalah kurangnya kesigapan dengan sekitarnya, dan tentu ada harga yang harus dibayar untuk tetap berusia panjang. Akan tetapi, permasalahan lainnya, walau kita berusia panjang, masih ada tantangan lain yang perlu dihadapi, yakni kapasitas memori kita. Kapasitas memori ini terkait dengan sistem kognitif. Pada mamalia, kapasitas memori jangka panjang ini bergantung pada isocortex, dan isocortex ini dapat dikatakan sebagai tempat bersemayamnya kecerdasan, karena ia yang mengatur pesan-pesan yang diterima oleh penglihatan, pendengaran, reseptor tubuh, yang sampai akhirnya membuat kita bernalar, memutuskan, berbahasa dan lainnya. Isocortex tentu bersifat terbatas, karena dipengaruhi oleh keadaan organ, sehingga ia tidak lepas dari jeratan ancaman degeneratif yang membuat terus menurunnya fungsi seiring waktu. Andaikan ekspansi memori terjadi, anggap isocortex bisa terus diperbarui atau ada hal lain yang difungsikan untuk menopang agar tetap beroperasi.

Akan tetapi tawaran atas ekspansi memori tersebut tidak lah benar-benar dapat menjawab persoalan seutuhnya, karena perlu digarisbawahi bahwa dengan mekarnya atau meluasnya memori seseorang juga berimbas negative pada fungsi kognitifnya. Bayangkan, kapasitas memori kita besar, tetapi yang menjalarkan atau memproses memori adalah jaringan–sebagai kabelnya–dan semakin banyak jaringan yang berkerja, otomatis membuat kinerjanya juga menjadi semakin menurun, dan bayangkan lagi bila permasalahan ini dihadapkan pada memori berjangka kita–semua yang masuk dalam otak kita, oleh karena keterbatasannya akan diatur sedemikian rupa sehingga menciptakan memori berjangka. Bila keterbatasan kapasitas otak ini ditiadakan dan semua menjadi berjangka panjang justru menyebabkan kekacauan dalam diri kita dan menjadi beban tersendiri. Sesederhana ketika kita selesai makan, memori itu akan bertahan beberapa waktu dan menjadi memori jangka pendek. Andaikan proses kita makan menjadi memori jangka panjang, meski sudah berbulan lalu kita makan bakso, tentu kita masih akan ingat dengan detilnya, dan bayangkan apabila ini terjadi pada kejadian atau pengalaman yang traumatis–baik sedih, memalukan atau lainnya–yang bisa diakses dan dipanggil lagi dengan detil yang sama, kapan pun, dan di mana pun. Apakah kita masih akan bahagia dengan memori yang seperti itu?

Justru karena keterbatasan kapasitas memori kita ini, hal-hal yang kita alami dan yang dapat mempengaruhi kepribadian kita menjadi terbatas, sehingga beberapa menjadi bagian dari kepribadian, beberapa masuk ke dalam konsepsi, dan beberapa hilang ke dalam subskonsepsi. Sifatnya pun gradual, kita masih bisa memberi waktu untuk itu–dalam arti kita dapat memilahnya kita yang dulu dan yang sekarang–dan hal semacam itu masih kita bisa identifikasi karna keterbatasan usia tadi. Bayangkan bila umur manusia sekurang-kurangnya mencapai seribu tahun, ada berapa banyak perubahan kepribadian yang telah terjadi pada diri kita? Apakah kita masih dapat mengidentifikasinya?

Sehingga dalam posisi ini, Edelman menyatakan bahwa imortalitas tidak lah dapat menjamin kebahagiaan dan identitas yang berlanjut. Kalau pun ingin dipaksakan, semisal antara imortalitas dan indentitas yang berlanjut tetap berdampingan atau dalam arti statisfied dengan keadaan diri yang terus menerus berubah dalam satu masa hidup, tentu bisa saja, tapi hanya akan ada sedikit kebahagiaan yang kita bisa terima sebagai harga yang harus dibayar terhadapnya. Skema ini yang diungkapkan Edelman sebagai rufus trilema, yakni dalam tiga hal yang saling berkompetisi, hal yang paling baik sekali dan dimungkinkan adalah untuk mendapatkan dua hal saja dan sekurang-kurangnya adalah satu hal, namun kita tidak bisa untuk memperoleh ketiganya.

Mengandaikan Memilih dan Mengedepankan Identitas yang Berlanjut

Memilih posisi ini, berarti yang harus dibantah adalah bahwa identitas yang berlanjut tidak membutuhkan kapasitas memori, karena masa hidup kepribadian itu terus berganti dan yang kita dapat nikmati adalah kepribadian saat ini yang terjadi dengan kesekarangannya. Sehingga seberapa pun kapasitas memori yang ada bukan lagi menjadi masalah. Sementara yang kedua adalah, yang menjadi masalah seharusnya kompleksitas komputasionalnya, karena harus dapat menyokong banyak ingatan–anggap seperti beragam saluran kabel dalam satu operasi server besar. Sehingga tawarannya adalah, mau-tidak mau, upaya melupakan menjadi sesuatu yang penting bagi kehidupan kita bila tidak didukung dengan daya komputasionalnya. Dalam bentuk lain, anggap memori kita terbatas, maka konsekuensinya adalah kita harus dapat sering melupakan untuk setiap masa hidup kepribadian tersebut. Selelah apa kita dikutuk untuk harus terus melupakan?

Atau dalam bentuk lainnya, yang mengandaikan kemajuan teknologi dengan adanya virtual memori, dan otak kita hanya difungsikan untuk peran komputasional–anggap seperti leptop dan usb. Sehingga bila ada hal tertentu atau situasi tertentu, kita tinggal memanggil ingatan dari virtual memori tersebut layaknya usb. Akan tetapi problemnya adalah memori internal tidak dapat dipungkiri juga penting bagi kehidupan kita, karena naturalnya–term yang digunakan oleh Edelman–pengalaman kita lah yang diproses di sana, kecuali bila nantinya tersedia memori internal dan memori eksternal, yang dapat kita pindahkan dan panggil sesuka hati ketika menghadapi hal tertentu atau situasi tertentu. Keadaan seperti ini masih sangat sulit untuk kita bayangkan, yakni dapat menyimpan berbagai kepribadian dengan segala ingatan yang menyertainya dan memanggil kembali di waktu yang dikehendaki.

Mengandaikan Memilih dan Mengedepankan Kebahagiaan

Memilih posisi ini, berarti kita harus dapat membayangkan, kebahagiaan tetap membutuhkan kepribadian sebagai mediumnya, karena kebahagiaan tidak bisa abracadabra muncul di ruang hampa, sehingga dengan memilih kepribadian lah seseorang bisa dikatan sekurang-kurangnya bahagia. Tawaran ini berfungsi untuk mempertahankan keberadaan pergantian kepribadian lama dengan kepribadian yang baru, karena ada hal yang–kita rasakan–lebih baik bagi diri kita dalam kepribadian baru tersebut. Akan tetapi, kebahagiaan ini tidak dapat dipegang begitu saja, karena kebahagiaan itu sendiri tidak ada yang bersifat abadi, melainkan ia melekat dan melompat dari satu hal ke hal lainnya, dan itu menjelaskan mengapa kita bisa berproses, tidak lain untuk mengejar kebahagiaan itu sendiri. Sehingga, seakan-akan kita dituntut untuk terus membutuhkan dan melakukan eksplorasi atas pengalaman, dan dikutuk untuk terus mencari kebahagiaan yang sementara ini. Ironinya, imortalitas punya celah untuk menawarkan kebahagiaan yang dicari itu melalui teknologi di masa mendatang dengan sedikit pengaruh Buddhisme, bahwa kita bisa tetap hidup panjang dan melepas rantai kutukan tersebut, salah satunya dengan teknologi pelepasan kesadaran–yang mungkin untuk waktu yang sementara. Karena melalui kesadaran lah kita terjebak pada berbagai emosi atas pengalaman–seperti mantan yang pergi, mantan yang mendua, mantan yang menikah dan lainnya.

Mengandaikan Memilih dan Mengedepankan Imortalitas

Sayangnya, Edelman dalam posisi ini nampak mengerdilkan imortalitas, karena dirinya justru mengambil sikap bahwa imortalitas sangat tidak mungkin untuk diraih, jadi mengapa kita sibuk berkutat pada pertanyaan yang hipotetis ini? Imortalitas sebagai posisi yang tidak pernah mati sebagai sesuatu yang mustahil, yang paling mungkin diraih adalah berumur panjang dengan berbagai macam menunda proses degeneratif atau keausan organ tubuh. Bisa saja tawaran lain muncul, yakni bagaimana bila kita beralih pada hal artifisial, seperti memori artifisial, tubuh artifisial dan lainnya? Akan tetapi, siapa yang dapat menjamin bahwa tidak adanya alterasi atau disrupsi antara reseptor di luar sana–dalam maksud lingkungan–dengan yang artifisial yang ada dalam diri kita?

Sementara problem terakhir adalah, sebenarnya apa yang kita cari dari kehidupan ini? Kita mungkin bisa terlalu terobsesi untuk tetap muda, segar, dan bugar yang tidak lain adalah supaya tetap berumur panjang atau bisa jadi belum benar-benar siap untuk mati dan meninggalkan yang kita miliki. Akan tetapi, bukan itu semua yang menjadi alasan kuat untuk kita tetap hidup abadi, karena nampaknya sebagian dari kita masih kukuh pada pendirian bahwa mengejar kehidupan yang abadi itu bentuk keegoisan diri, melawan kodrat, dan bahkan tidak bermoral–yang tentu saja dalam maksud lain menyalahi ajaran Agama sebagai kufur nikmat. Pada akhirnya, sebagaimana yang sudah-sudah, yang masih dapat kita kejar dalam kesementaraan ini tetap lah kesementaraan, baik itu kepribadian, kebahagiaan, maupun usia. Karena pada akhirnya yang abadi adalah bagaimana kita memaknai–kembali, lagi dan lagi, barangkali untuk kesekian kalinya–kehidupan ini melalui ketiga hal tersebut. Atau yang Edelman sampaikan adalah, hadiah terbaik yang manusia miliki bukan hidup itu sendiri, melainkan kematian, hanya dengan kematian–pada akhirnya–semua menjadi bermakna.

Daftar Pustaka

Edelman, S. (2018). Identity, Immortality, Happiness: Pick Two. Journal of Evolution and Technology, 28(1), 1-17.

Fajar N.
Pembaca Darwin dan bioetika
RELATED ARTICLES

Panpsikisme dan Kesadaran

I Salah satu persoalan yang belum selesai dan terus dibicarakan dalam lingkup filsafat ialah kesadaran. Meski para psikolog...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Filsuf di Tengah Teror Kedamaian Bersama

Di masa hidupku ini, kalau boleh jujur, kegagalan terbesar filsafat Indonesia mewujud dalam diri Martin Suryajaya. Yang berhenti sekedar pada menulis filsafat,...

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Panpsikisme dan Kesadaran

I Salah satu persoalan yang belum selesai dan terus dibicarakan dalam lingkup filsafat ialah kesadaran. Meski para psikolog...

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Filsuf di Tengah Teror Kedamaian Bersama

Di masa hidupku ini, kalau boleh jujur, kegagalan terbesar filsafat Indonesia mewujud dalam diri Martin Suryajaya. Yang berhenti sekedar pada menulis filsafat,...

Paperbook

Recent Comments

Stephanus Aswar Herwinarko on Usulan Berfilsafat (di) Indonesia