Saturday, November 27, 2021
Home Filsafat Panpsikisme dan Kesadaran

Panpsikisme dan Kesadaran

Artikel ini adalah ulasan atas buku Philip Goff yang berjudul "Galileo's Error: Foundations for a New Science of Consciousness."

I

Salah satu persoalan yang belum selesai dan terus dibicarakan dalam lingkup filsafat ialah kesadaran. Meski para psikolog dan neurosaintis telah memberikan jawaban masing-masing terkait kesadaran, bukan berarti pembahasan mengenai topik tersebut berhenti atau telah usai. Justru persoalan mengenai kesadaran menjadi sebuah pemantik lebih jauh. Karena membicarakan mengenai kesadaran, berarti kita akan selalu bersinggungan dengan manusia dan realitas di luar manusia.

Di samping itu, kita sedikit lebih paham mengenai bagaimana alam semesta terbentuk, ada berapa planet di luar bumi, bagaimana hukum fisika bekerja, serta bagaimana kira-kira bentuk manusia pra homo sapiens. Dari banyaknya hal-hal misterius pada zaman dahulu, kini kita bisa mendapatkan jawabannya.

Namun untuk persoalan kesadaran kita tidak begitu paham jika dibandingkan dengan realitas fisik atau fenomena seperti memahami petir di langit sebagai fenomena alam daripada sebagai bentuk kemarahan dewa Odin. Kendati misalnya di dalam otak manusia setidaknya ada 100 triliun neuron dan 700 triliun bagian sirkuit di sistem saraf perifer yang menghubungkan organ sensorik, seperti mendeteksi rasa sakit atau sentuhan, terhadap otak.

Melalui artikel “Is Consciousness Everywhere? Essays on Panpsychism”, Philip Goff mengatakan bahwa membicarakan kesadaran sebagai topik dari problem tubuh-jiwa merupakan suatu tantangan, terutama mengenai bagaimana memahami hubungan pikiran dengan realitas fisik karena kerap kali kita salah paham mengenai apa itu kesadaran. Persoalannya mengemuka dan mengalami kesulitan ialah persis ketika mencoba untuk merekonsiliasi aspek hal yang subjektif dan kualitatif dari kesadaran dengan apa yang biasa kita pahami mengenai hal yang objektif dan kuantitatif, yang keduanya merupakan salah satu cara kerja dari kerangka saintifik dalam mendefinisikan dunia-fisik.

Dalam sejarah filsafat ketika dihadapkan pada perbincangan mengenai kesadaran, maka kita akan segera diberi dua pilihan, (1) menjadi seorang materialis/fisikalis, yang berarti memberi penjelasan atas ‘kesadaran’ melalui sains (physical science), (2) atau menjadi seorang dualis, yang menganggap bahwa ‘kesadaran’ eksis di luar dunia fisik secara bersamaan.

Seorang materialis akan menjawab pertanyaan misalnya, “apa itu kesadaran atau pikiran?” dengan sederet penjelasan atas fenomena tersebut yang merupakan hasil dari reaksi kimia dari sistem saraf otak, tanpa adanya otak maka keduanya tidak ada. Pengalaman, perasaan, kenikmatan dan rasa sakit, sensasi ketika mengindera warna, mendengar suara, dan hidung mencium aroma merupakan pengalaman subjektif yang perlu dijelaskan sebagai reaksi kimia otak. Hal ini sama seperti ketika kita mengatakan apa itu air, terdiri dari apakah struktur air itu, dan seterusnya.

Beberapa argumen yang sering ditujukan kepada para materialis terkait kesadaran ialah misalnya bagaimana rasanya kita (manusia) bisa memahami, merasakan atau menjadi orang lain, kelelawar, hewan, maupun tumbuhan. Memang sains dapat menjelaskan bagaimana dunia secara objektif dan memberikan kita suatu cara untuk memahami suatu fenomena. Misalnya apakah dunia ini bulat, bagaimana proses terjadinya hujan, pada titik apa atau derajat berapa air dingin mendidih, dan seterusnya.

Tapi seorang materialis tidak bisa memahami ‘kesadaran’ sebagai orang pertama karena untuk menjadi ‘sadar’ perlu memilih atau menggunakan perspektif secara spesifik, dengan demikian untuk memahami suatu organisme lain hanya dapat dipahami berdasar dari perspektif organisme itu sendiri.

Sementara seorang dualis akan mengatakan bahwa realitas ada dua dan berbeda: akal-tak-menubuh (immaterial minds), dan hal-hal fisik (physical thing). Dualisme meletakan pikiran dan hal fisik saling bertolak belakang. Akal itu tidak memiliki bentuk materi, tak dapat diraba, dan tak memiliki ukuran. Bahkan kelima indra kita tak dapat mengetahui keberadaan dari akal tersebut. Lalu karakter apa saja yang dimiliki oleh akal (mind)? Menurut seorang dualis, akal lah yang menyebabkan kesadaran, berpikir dan merasa. Bukan otak.  Sebaliknya, entitas fisik yang biasa kita temukan di luar dari diri, tidak memiliki karakter mental seperti kesadaran, pikiran, dan perasaan.

Entitas fisik hanya memiliki karakter yang bisa diteliti atau dipelajari via saintifik:  ukuran, bentuk, massa, dan seterusnya. Implikasinya maka tubuh dan akal meruapakan dua hal yang berbeda. Biasanya pemikiran tentang dualisme, beberapa bisa kita temukan dalam banyak kebudayaan dan agama yang membedakan hal-hal material dan imaterial. Tidak sedikit para filsuf dan saintis yang menolak dan membuang dualisme, naturalisme atau sebagainya. Alasannya bukan karena adanya hal inheren yang misterius seperti idea dalam akal dan bagaimana benda berinteraksi, melainkan karena sains menunjukkan kesalahan dari dualisme yang meletakkan akal yang tak bisa digapai dan diteliti oleh pendekatan saintifik.

II

Dalam bukunya “Galileo’s Error: Foundations for a New Science of Consciousness”, Philip Goff memberi alternatif ketiga bagi persoalan mengenai ‘kesadaran’ dan pemahaman terhadap realitas luar atau dunia fisik. Ia mengajukan alternatif ketiga yang ia sebut dengan panpsikisme (panpsycism). Di satu sisi, sebagaimana dipaham dalam dualisme, panpsikisme mengklaim jika kesadaran (consciousness) tidak dapat direduksi. Di sisi yang lain, sebagaimana seorang materialis, panpsikisme meyakini bahwa kesadaran tidak berada di luar alam, dengan kata lain kesadaran berada di dunia material.

Namun, panpsikisme lebih radikal bahwa kesadaran ‘ada di alam dan di mana-mana’ sejauh merupakan sifat/properti yang melekat tidak hanya pada manusia dan beberapa hewan, tetapi bahkan unsur/konstituen paling mendasar dari realitas fisik. Dengan demikian, panpsikisme meletakkan posisi alam diresapi oleh kesadaran, daripada melihat kesadaran sebagai fenomena yang akan terjadi pada tahap-tahap tertentu.

Poin utama bagi para panpskisme dalam meletakkan posisinya ialah penelitian atau observasi pemahaman kita atas dunia fisik itu sendiri. Semisal dalam memahami fenomena, seorang fisikalisme hanya memahami fenomena tersebut sebatas hubungan yang terjadi antar sifat-sifat benda, bukan nilai intrinsik yang ada pada alam: ‘what matter “does” rather than what it “is”’.

Sebenarnya permasalahan ini berangkat dari, menurut Goff, Galileo. Ia mengatakan bahwa matematika dapat menjadi bahasa alam atau sains. Dengan demikian, ketika kita menatap langit atau melihat fenomena yang terjadi di sekitar kita dan ingin memahaminya, pertama-tama kita perlu mempelajari dan memahaminya melalui bahasa matematika. Seperti segitiga sama sisi, lingkaran, dan istilah geometris lainnya. Tanpa bahasa matematika atau sains, sangat sulit bagi manusia untuk bisa melewati gelapnya dunia.

Galileo juga meletakkan fondasi bagi hal material atau objek yang sejatinya tidak memiliki kualitas sensorik. Semisal bahwa paprika tidak pedas, bunga tidak mengeluarkan bau sama sekali, objek-objek yang kita ketahui memiliki warna yang itu sebenarnya tidak memiliki warna. Ia mengajukan bahwa objek material itu hanya memiliki karakterisik: ukuran, bentuk, lokasi, dan gerak.

Sebab sebelum Galileo, para filsuf menganggap dunia sebagai apa yang mereka sebut dengan ‘kualitas-kualitas sensorik (sensory qualities)’ seperti warna, suara, rasa dan bau. Sangat sulit ketika hal-hal yang disebut sebagai bagian dari sifat kualitatif yang dibahasakan ke dalam istilah kuantitatif atau bahasa matematis.

Lebih lanjut dalam bukunya, Goff mengatakan bahwa sebenarnya ketika melihat objek lemon dengan ke-kuning-annya, rasanya yang asem, itu tidak melekat pada lemon itu sendiri, melainkan pada jiwa. Karena baginya, lemon itu tidak benar-benar kuning, melainkan ke-kuning-an hadir di jiwa masing-masing individu yang melihat lemon tersebut. Jiwa di sini ialah apa yang dimaksud oleh Goff sebagai bentuk pengalaman sadar manusia di dunia—Galileo memahami apa-apa yang merupakan kualitas sensorik dari objek-objek dunia—seperti lemon—menjadi bentuk dari kesadaran jiwa manusia.

Dengan kata lain, Galileo membedakan entitas menjadi dua. Pertama entitas sebagai objek material yang memiliki karakterisik matematis seperti ukuran, bentuk, lokasi dan gerak. Kedua, ada jiwa yang merasakan berbagai jenis bentuk kesadaran sensorik dalam merespon terhadap dunia. Dari sini sebenarnya Goff melihat dengan pembagian secara radikal yang dilakukan Galileo, khususnya bagi sains kealaman atau ilmu fisika sebagai penilaian lengkap terhadap dunia. Fisika/sains baginya dibatasi hanya untuk menjelaskan hal-hal material di dunia—murni dalam kalimat kuantitatif dan tidak mampu menjelaskan kualitas sensorik yang berada pada jiwa.

III

Permasalahannya apa itu kesadaran jika hanya dipahami sebatas deskriptif, seperti kita memahami fenomena alam? Tentu saja kita tidak akan bisa paham kesadaran hanya berdasarkan pada pandangan dari luar diri. Goff setuju dengan filsuf Thomas Nagel, bahwa seberapa banyak buku biologis kita baca atau kita mempelajari neuropsikologi tentang misalnya kelelawar, atau bagaimana ketika kita berjumpa dengan alien, kita tidak akan pernah memahami kesadaran kelelawar itu sendiri karena respon dari organ kita masing-masing bakal berbeda. Hal inilah yang menjadi fakta pembatas bagi para materialisme ketika memahami kesadaran.

Goff mencatat ada dua hal yang menjadi karakter dari kesadaran: kualitatif (kesadaran melibatkan kualitas) dan subjektif (anda hanya bisa memahami kesadaran saya jika anda menggunakan perspektif milik saya). Dengan demikian sebenarnya sangat sulit bagi seorang materialis untuk tidak benar-benar menjelaskan realitas secara murni objektif. Menurut Goff, apabila seorang materialis kekeh mengatakan ada hal-hal yang subjektif maka sebenarnya ia membatalkan klaimnya sendiri.

Dalam klaimnya yang ia sebut sebagai “jalan ketiga” untuk memahami kesadaran, adalah Panpskisme yang percaya bahwa seluruh bagian yang ada di dunia ini memiliki kesadaran. Namun, bukan berarti baju yang kita kenakan sehari-hari juga memiliki kesadaran, karena Goff akan menolaknya. Kecuali jika kita mengatakan bahwa ketika membuat baju tersebut memang melibatkan banyak hal secara sadar, misalnya para buruh pembuat baju pada waktu tertentu. Selain itu, kesadaran memang merupakan hasil dari proses panjang dari evolusi dan merupakan hal yang rumit dan melibatkan emosi subtil dan kompleks serta pengalaman sensorik. Kesadaran tidak hadir begitu saja dalam bentuk sederhana.

Lebih jauh, Goff membandingkan bagaimana kesadaran yang ada pada kuda dengan manusia, bahwa kesadaran yang ada pada kuda sedikit lebih sederhana dibandingkan dengan manusia. Begitu juga dengan kesadaran yang dimiliki oleh ayam sedikit lebih sederhana daripada kesadaran yang dimiliki oleh kuda. Barangkali penyebab organisme makin sederhana dipengaruhi oleh beberapa perubahan yang ada pada kesadaran itu sendiri. Apa yang ditawarkan oleh panpsikisme bagi kita, menurut Goff, ialah bagaimana menggabungkan atau memasukkan kesadaran ke dalam kerangka saintifik kita dalam memandang dunia, sebuah cara untuk menghindari problem mendalam yang kerap diasosiakan dengan dualisme dan materialisme.

Dengan kata lain panpsikisme benar-benar menawarkan cara baru untuk kita, bukan hanya dalam keseharian memahami dunia, tapi juga terhadap alam, individu lain, dan juga alam semesta. Semisal pandangan panpsikisme terhadap alam semesta, yang berbeda dengan anggapan bahwa kita bisa mengeksplorasi alam dan menemukan apa-apa yang menjadi misteri atau rencana untuk membuat kehidupan baru di mars, dan sebagainya, bahwa alam semesta seperti kita; kita ada dan hidup di dalamnya. Mungkin terlihat utopis bahwa dunia akan lebih baik dengan merengkuh panpsikisme sebagai pandangan hidup, tapi sekali lagi tawaran yang dibawa dari ide-ide panpsikisme justru bisa meredefinisikan ulang kehidupan sosial dan sistem yang lebih baik untuk diterapkan padanya.

Pambudi Driya S.http://antinomi.org
Seorang pembaca sastra, sejarah, budaya, filsafat, agama
RELATED ARTICLES

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Filsuf di Tengah Teror Kedamaian Bersama

Di masa hidupku ini, kalau boleh jujur, kegagalan terbesar filsafat Indonesia mewujud dalam diri Martin Suryajaya. Yang berhenti sekedar pada menulis filsafat,...

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Panpsikisme dan Kesadaran

I Salah satu persoalan yang belum selesai dan terus dibicarakan dalam lingkup filsafat ialah kesadaran. Meski para psikolog...

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Filsuf di Tengah Teror Kedamaian Bersama

Di masa hidupku ini, kalau boleh jujur, kegagalan terbesar filsafat Indonesia mewujud dalam diri Martin Suryajaya. Yang berhenti sekedar pada menulis filsafat,...

Paperbook

Recent Comments

Stephanus Aswar Herwinarko on Usulan Berfilsafat (di) Indonesia