More

    Teori Kemunculan Islam dan Kristen

    Diterjemahkan dari Artikel karya Francois de Blois berjudul “Islam in its Arabian Context” dalam buku “The Qur’an in Context”

    Rohmatul Izad
    Rohmatul Izad
    Kandidat Doktor Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

    Artikel Terbaru

    Jared Diamond: Bagaimana COVID-19 dapat mengubah dunia — menjadi lebih baik

    Saat ini, COVID-19 menghancurkan dunia. Dia sedang dalam proses menginfeksi banyak (mungkin bahkan sebagian besar) dari kita, membunuh beberapa, menutup hubungan...

    Teori Kemunculan Islam dan Kristen

    Pada dua sampai tiga dekade terakhir telah muncul madzhab baru dalam kajian Islam di Barat, banyak pengikut dari madzhab ini menyebut...

    Apakah Sains itu Agama?

    Adalah lumrah untuk menjadi apokaliptis mengenai ancaman terhadap kemanusiaan yang diakibatkan oleh virus AIDS, musibah “lembu gila” dan banyak lainnya, namun...

    Catatan Tentang Properti

    Properti (sifat) adalah sesuatu yang melekat pada objek. Dalam bukunya, John W. Carroll dan Ned Markosian (selanjutnya ditulis penulis) memulai pembahasan tentang...

    Socrates dan Martin Luther King: Pelajaran dalam Ketidaktaatan Sipil

    Pada pembukaan "Crito", sebuah dialog karya Plato, Socrates telah dipenjarakan. Dia tengah menunggu eksekusinya atas dugaan kejahatan karena merusak para pemuda...

    Pada dua sampai tiga dekade terakhir telah muncul madzhab baru dalam kajian Islam di Barat, banyak pengikut dari madzhab ini menyebut diri mereka sebagai ‘revisionis’. Dorongan utama dari aliran ini adalah untuk menentang validitas dari catatan muslim tradisional tentang lokasi dan waktu asal muasal Islam dengan melakukan kajian pada wilayah utara Arab (seperti Babilonia dan padang gurun Syiria), dan  pada kurun waktu yang lebih modern (mungkin akhir abad ke-8 atau abad ke-9). Dalam beberapa tahun terakhir pula, terdapat  kecenderungan  yang sangat kuat dari para revisionis ini  untuk menentang validitas tekstual Al-Qur’an dan merekonstruksikan ke sebuah versi yang seharusnya lebih tua dari kitab suci umat Muslim.

    Sejak awal, para tokoh ‘revisionis’ ini menyatakan bahwa mereka menaruh perhatian pada kemapanan tradisi ‘historis kritis’ pada studi kitab suci Kristen yang muncul sejak sekitar awal abad kesembilan belas. Namun, menurut saya, ada perbedaan mendasar antara konteks sejarah pada studi Perjanjian Baru di satu sisi, dan pada studi Al-Qur’an di sisi yang lain.

    Studi kritis-historis dari Perjanjian Baru menjadi fenomena penting dalam sejarah kekristenan, terutama Protestan. Hal ini karena studi kritis adalah kelanjutan logis dari Reformasi Kristen, sedangkan Reformasi ini dimulai dari penolakan terhadap komponen utama dari Kristen yang mengklaim Alkitab sebagai satu-satunya sumber doktrin kristen. Akan tetapi, Luther (Marthin Luther, pendiri Kristen Protestant Lutheran—penerj.) dan para pendiri Protestantisme membedakan antara buku-buku yang mereka temukan pada salinan Alkitab, dengan kitab ‘kanonik’ (kanonik:kitab otoritatif Kristen—penerj.) dan ‘deuterokanonika’ (kitab tambahan pada al kitab—penerj.) atau tulisan-tulisan ‘apokrif’ (catatan yang ditemukan setelah kanonik—penerj.), dan bahkan mempertanyakan otoritas kitab yang dijadikan sebagai tulisan ‘kanonik’, khususnya pada Kitab Wahyu.

    Oleh karenanya, adalah langkah logis ketika para Sarjana Kristen, sekitar akhir abad kedelapan belas, mulai menyelidiki berbagai macam sisi kemungkinan yang terdapat pada masing-masing kitab dari Perjanjian Baru. Tradisi kritik terhadap Perjanjian Baru adalah bagian dari sejarah kebudayaan barat dan tradisi ‘historis kritis’ adalah bagian penting dalam manifestasi de-Kristenisasi masyarakat Eropa.

    Sebaliknya, kritik dari para ‘revisionis’ modern terhadap Al-Qur’an tidaklah muncul dari masyarakat Islam, akan tetapi dari para akademis Barat. Oleh karena pengkajian ini tidak muncul dari masyarakat muslim itu sendiri, maka di Timur masih dianggap (mungkin benar atau salah) sebagai bagian dari kajian Barat yang ‘Kristen’, bahkan dari para Muslim modern, kajian ini masih dianggap sebagai kelanjutan dari permusuhan Kristen dan Yahudi terhadap Islam yang telah berlangsung lama, dari Perang Salib sampai imperialisme Eropa.

    Akan tetapi saya akan melakukan pendekatan terhadap pertanyaan ini dari sudut pandang yang berbeda, bukan dari konteks sosio-politik Al-Qur’an ala sarjana Barat akan  tetapi dari analisis kritis terhadap sejarah pengetahuan yang bersumber dari sejarah awal Kristen dan Islam.

    Kristen muncul dalam konteks sejarah dan geografis yang terdefinisikan dan dikenal dengan sangat baik, yaitu di provinsi Romawi di wilayah Palestina pada abad pertama Masehi. Sejarah politik, sosial, dan budaya Palestina Romawi didokumentasikan dengan baik dalam berbagai tulisan kontemporer baik oleh penulis pagan, Yahudi, dan Kristen; bahkan, wilayah ini menjadi objek kajian arkeologis yang diteliti secara intens dan mungkin tidak tertandingi oleh wilayah lain di belahan dunia.

    Berbeda dengan Kristen, catatan sumber tentang wilayah asal Islam tidak memiliki informasi sejarah yang benar-benar fokus. Meskipun begitu, daerah pinggiran utara dan barat daya dari Gurun Arab relatif terdokumentasikan dengan baik oleh sumber-sumber sejarah dan catatan arkeolog, akan tetapi kami tidak memiliki data yang baik tentang wilayah di tanah kelahiran Islam; yaitu  Mekah, Madinah, dan Ḥijāz, selain dari sumber-sumber Islam itu sendiri. Begitu juga, belum pernah ada penggalian arkeologis di wilayah Mekah atau Madinah. Dari sudut pandang sejarawan, Ḥijāz kuno itu seperti tanah kosong dalam peta. Ini memberikan arti bahwa penyelidikan Al-Qur’an dan tradisi  awal Islam terjadi dalam kekosongan sejarah.

    Di sisi lain, ada perbedaan yang sangat mendasar antara penggambaran Yesus dalam Perjanjian Baru dan penggambaran Muhammad dalam Al-Qur’an dan dalam tradisi awal Muslim.

    Maka saya akan mengulangi beberapa poin penting tentang Yesus dan Perjanjian Baru. Kitab-kitab Perjanjian Baru disusun pada waktu yang berbeda dan mengandung perbedaan yang mendasar baik dari segi konten naratif maupun konten teologisnya. Kanon Perjanjian Baru, yang kita kenal sekarang dengan keempat versi bukunya, sebagian sangat kontradiktif.  Injil, Kisah Para Rasul, Surat-surat Paulus dan Paulus palsu (Paulus palsu atau yang dalam redaksi asli ‘pseudo Pauline’ adalah istilah surat yang ditulis oleh murid murid Paulus namun dinisbatkan pada Paulus—penerj.), yang disebut sebagai Surat Katolik. Yang sangat jelas adalah Kitab Wahyu yang tidak muncul sebagai kanon resmi sampai menjelang akhir abad kedua.  

    Sekte Kristen paling kuno mengakui hanya ada satu versi Injil sebagai dasar otoritas, sedang Injil ini tidak sama dengan salah satu dari empat yang terkandung dalam Alkitab modern. Misalnya adalah kelompok yang disebut sebagai ‘Kristen Yahudi’, kelompok ini hanya menerima versi yang kita kenal sekarang sebagai Matius, kelompok Marcionites (pengikut Marsionisme—penerj.) menerima versi singkat dari kitab Lukas. Ada perbedaan tekstual yang sangat signifikan dalam manuskrip kuno Perjanjian Baru. Seluruh bagian bahkan hilang dalam beberapa salinan. Kitab Injil versi Markus memiliki dua varian akhir (keduanya memiliki kisah yang sangat berbeda tentang Kebangkitan), dan terdapat variasi perbedaan bacaan-bacaan yang signifikan di hampir setiap ayat Perjanjian Baru.

    Bagian tertua dari Perjanjian Baru, sekitar separuh dari tumpukan surat-surat Paulus yang otentik, hampir tidak mengandung informasi biografis tentang Yesus selain memberikan informasi bahwa dia disalibkan dan dibangkitkan, dan memang Paulus sendiri menyatakan kesangsiannya pada kesaksian para murid Yesus berkenaan dengan apa yang Yesus lakukan atau katakan ketika Yesus belum tersalibkan; Paulus mendeklarasikan bahwa satu-satunya Injil yang benar adalah yang dia sendiri terima dari Yesus Kristus yang dibangkitkan.

    Dalam bagian narasi dari empat Injil kanonik (otoritatif—penerj.), Yesus secara eksklusif digambarkan sebagai mahluk adikodrati yang penuh dengan mukjizat dan sebagai konsekuensinya dia tidak dapat dianggap sebagai bagian dari sejarah (sosok mitologis—penerj.) atau tidak dianggap sebagai sosok biografis yang terdokumentasikan dalam pengertian yang sebenarnya.  Sementara ajaran yang dituliskan dalam Injil-Injil dan dinisbatkan pada Yesus, secara teologis bergantung pada doktrin Paulus. Oleh karenanya, hal ini tidak dapat dilihat sebagai ajaran yang berasal dari Jesus, tetapi mencerminkan posisi Yesus yang ditentukan dalam sejarah Kristen.

    Sekarang, mari kita lihat Muhammad dan Al-Qur’an. Tidak seperti  Perjanjian Baru, Al-Qur’an secara keseluruhan merupakan kitab yang konsisten baik gaya bahasa maupun konten teologisnya. Meskipun sekte Muslim yang masih bertahan seperti (Syiah, Khawarij, dan mereka yang dikenal sebagai Sunni) terpisah satu sama lain dalam satu dekade pasca kematian Muhammad, namun mereka semua setuju tentang isi aturan dari Al-Qur’an.

    Sebaliknya, sekte Kristen yang masih bertahan, semua sejak awal memisahkan diri dari Kekristenan kekaisaran Romawi, bahkan sebelum abad ke-4 Masehi, dan mereka memiliki versi kanon alkitab masing-masing; misalnya gereja Etiopia memiliki seluruh rangkaian kanon alkitab yang tidak terdapat pada Alkitab dari versi yang lain. Pada kanon Al-Qur’an, tidak ada perbedaan varian tekstual yang substantif.

    Perbedaan itu hanya seputar ‘varian bacaan’ (qirāʾāt) yang telah tercatat dalam tulisan-tulisan abad pertengahan tentang Ilmu Al-Qur’an yang menjelaskan varian grafis yaitu perbedaan ejaan pada satu text yang sama. Bahkan perbedaan bacaan ini tidak pernah menyentuh  perbedaan isi dari kitab Al-Qur’an. Hal ini sepenuhnya benar, bahkan dari potongan al-Qur’an kuno yang ditemukan di Sanʿāʾ, sejauh ini orang yang dipercaya untuk menganalisa potongan dua puluh tahun yang lalu itu sudah memperbolehkan potongan ini untuk diterbitkan daripada hanya diwacanakan dalam jurnalistik yang sensasional.

    Saya sudah menegaskan di manapun bahwa tidak adanya perbedaan tekstual yang signifikan dalam Al-Qur’an adalah hasil dari fakta bahwa Al-Qur’an ditransmisikan melalui tradisi oral kelisanan bukan melalui tradisi tulis. Hal ini sangat mirip dengan Veda, yang disusun jauh lebih awal dari Perjanjian Baru maupun Al-Qur’an dan diwariskan secara eksklusif, turun menurun dan berabad abad melalui tradisi lisan. Veda sendiri sebenarnya tidak memiliki varian tekstual.

    Hal ini berarti bahwa metodologi kritik tekstual dan kritik sumber, seperti yang sukses diterapkan pada Perjanjian Baru, tidak bisa serta merta diterapkan pada Al-Qur’an. Perbedaan sumber membutuhkan perbedaan metodologi. Diterimanaya tradisi lisan dalam pentransmisian Al-Quran juga berarti bahwa keinginan untuk penulisan ulang Al-Qur’an dengan mengubah tanda diakritik (tanda baca) tidak mungkin memberikan hasil yang bermanfaat. Saya sudah menekankan ini pada review saya tentang buku yang ditulis oleh penulis rahasia ‘Christoph Luxenberg’.

    Berbeda dengan cerita-cerita mukjizat yang secara kasat mata membentuk Injil Kristen, sīra (secara literal berarti perjalanan nabi, ex, sira nabawiyyah—penerj.) yang secara tradisional menjelaskan biografi Muhammad itu sangat ‘realistis’, dalam arti ia tidak memuat secara langsung dan terang-terangan tentang kemukjizatan nabi di depan publik, yaitu keajaiban yang disaksikan oleh khalayak ramai. Sīra, tentu saja, merekam kemukjizatan  nabi Muhammad yang menerima Al-Qur’an dari malaikat. Tapi dari pandangan positivis dan dengan sudut pandang yang skeptis, hal ini masih memungkinkan untuk diterima bahwa hal imajinatif pada zaman pra-modern dipercayai sebagai pengetahuan yang bersumber dari tuhan. Kita tidak ragu untuk percaya bahwa Joan of Arc (pahlawan revolusi perancis—penerj.) sepenuhnya percaya bahwa dia telah berbicara dengan malaikat atau William Blake (penyair—penerj.) sangat percaya bahwa dia melihat Nabi Yehezkiel duduk di bawah pohon di pedesaan Inggris. Oleh karenanya, kita tidak perlu ragu bahwa hal yang sama juga bisa terjadi pada Nabi Muhammad.

    Saya menyebutkan ini sebelum seorang teolog besar dan pengkaji Islam Wellhausen menyebutkan hal yang sama. Ini bukanlah hal yang luar biasa bahwa Wellhausen juga memiliki pandangan yang sama; yaitu menolak Injil Kristen sebagai sumber informasi biografis yang dapat dipercaya tentang Yesus. Sedangkan kenapa dia tidak ragu untuk menerima sīra sebagai catatan realistis dari perjalanan karir Muhammad? Apakah Wellhausen benar-benar ragu tentang kitab suci agamanya sendiri dan pada saat yang sama menjadi naïf dan tertipu tentang sumber dari agama lain? Apakah ada perbedaan lain selain sīra, saya tidak mengatakan benar bahwa ini ada, tetapi setidaknya secara psikologis ini masuk akal, sementara Injil bukanlah manifestasi dari catatan biografis Yesus melainkan sebuah dokumen keimanan? Kesimpulan saya adalah bahwa Yesus adalah sosok yang sisi biografisnya tidak tersentuh meski berada dalam konteks dokumentasi sejarah yang baik. Sedangkan Muhammad secara biografis adalah sosok yang masuk akal meski berada dalam kekosongan sejarah. 

    Kekosongan ini tidak dapat diisi saat ini. Tetapi, ini masih berandai-andai,  sambil menunggu untuk penemuan arkeologis atau epigrafi dari penggalian situs suci di Mekah dan Madina, yang paling  mungkin adalah mengekstrapolasi berbagai macam karakteristik masyarakat dan agama kuno di Arab Tengah dari data budaya Semit lainnya, khususnya dari peradaban yang relatif terdokumentasi dengan baik di barat daya Arabia dan pinggiran utara gurun Arab, dan membandingkan data ini dengan data yang terkandung dalam Al-Qur’an.

    Haji di Mekah, mengelilingi Kakbah, mencium hajar aswad, dan ritual yang berkaitan dengannya tidak memiliki kesesuaian dengan dasar pemikiran dogma monoteisme Islam; ritual ritual ini secara nyata adalah manifestatsi dari sisa sisa ritual pagan pada masa lalu.  Inti Ketidaksesuaian ini dalam konteks Islam diekspresikan dalam Hadits terkenal di mana khalifah ʿUmar menyapa Hajar Aswad dengan kata-kata: “Jika saya tidak melihat Nabi menciummu, maka aku tidak akan pernah menciummu”. Ini (sekali lagi, Wellhausen, menyetujuinya) “potongan tradisi paganisme” di jantung peradaban Islam memperlihatkan keparipurnaan Islam, dan sisi kearaban pendahulunya, yaitu pada tempat-tempat suci yang tidak dapat lagi diubah.

    Hal ini sangat berbeda dengan situasi di Perjanjian Lama, di mana Yahweh dipuja di dalam tempat suci yang berpindah-pindah, yang kemudian pada akhirnya dibawa ke tempat akhir yang ditentukan oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem, tetapi tidak ditentukan oleh orang Samaria di Nablus. Tuhan orang Israel adalah Tuhan yang nomaden, akan tetapi Tuhan dari anak-cucu Ismael berdiam selamanya pada satu tempat yang disakralkan. Hal ini dikuatkan oleh orang Arab Selatan yang dengan tegas menentang upaya para ‘revisionis’ untuk menempatkan asal-usul Islam di suatu tempat selain di Arab Tengah. Alkitab tidak “datang dari Arab,” tetapi Al-Qur’anlah “yang datang dari Arab”. Saya juga berharap untuk melanjutkan kajian ini dalam penelitian lebih lanjut, juga berkenaan dengan pertanyaan tentang monoteisme pada Arab Selatan kuno dan hal yang berkaitan dengan ‘Yahudi’ (sunat, Sabat, dll.) di Kristen Ethiopia.

    Photo by Fernando Jorge on Unsplash

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here