Deleuze dan Ruang

*Artikel ini merupakan tulisan yang penulis tulis pada tanggal 27 Mei 2017. Tidak ada aspek substansial yang diubah. Dengan dimuatnya tulisan ini penulis berharap dapat memantik diskusi dan refleksi kreatif tentang pemikiran Gilles Deleuze di tanah air kita tercinta, Indonesia.

Moh. Gema Maulana
Moh. Gema Maulana
Penulis adalah pengajar filsafat di UNNES yang memiliki minat fokus kajian dalam ranah metafisika dan filsafat sains

Kita mengenal kajian atas ruang dalam cabang matematika yang disebut geometri. Geometri dan matematika sama tuanya karena geometri adalah studi sistematis pertama dalam matematika. Studi geometri ini sudah dimulai sejak Thales, seseorang yang disebut-sebut sebagai filsuf pertama yang berasal dari Yunani. Dalam hal ini kajian tentang ruang berarti sama tuanya juga dengan filsafat itu sendiri. Maka dari itulah banyak filsuf matematika yang berpendapat bahwa matematika dan filsafat adalah ilmu yang sama tuanya, dan filsafat bukanlah mother of science (bukan induk dari matematika).

Dalam pemikiran Plato ruang dianggap sebagai tiruan (mimesis) dari dunia ide, sebaliknya, dalam pemikiran Aristoteles ruang terkonstitusi secara imanen. Dari dua pemikiran ini, dalam periode renaissance dua aliran filsafat muncul, yaitu empirisme yang dipelopori oleh Thomas Hobbes di Inggris (British) dan rasionalisme yang dipelopori oleh Rene Descartes di Prancis (continent). Empirisme adalah suatu aliran filsafat dalam cabang epistemologi yang beranggapan bahwa pengetahuan untuk mencapai kebenaran harus berangkat dari pengalaman empiris. Konsekuensi dari aliran empirisme ini adalah metode induktif yang berangkat dari fakta-fakta partikular. Kontras dengan empirisme, rasionalisme beranggapan bahwa untuk mencapai kebneran, subjek harus berangkat dari pengetahuan rasional semata sehingga berimplikasi pada konsekuensi dari aliran ini, yaitu deduktif.

Metode deduktif ini secara eksplisit bisa kita temui dalam pemikiran Descartes, terutama dalam teorinya tentang geometri. Descartes mempunyai asumsi metafisik dualisme bahwa realitas terbagi secara dualistik, yaitu realitas material dan realitas non-material. Dualisme ini dicontohkan Descartes dalam prototipe manusia: kita (manusia) terdiri dari jiwa dan tubuh. Jiwa adalah realitas non-material dan tubuh adalah realitas material yang ekstensif (memiliki kuantitas tertentu). Asumsi metafisik ini didasarkan pada โ€œmeditasinyaโ€ yang melahirkan selogan terkenal yaitu cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada). Selogan tersebut bukanlah selogan ontologis yang mencari esensi dari keberadaan dirinya. Selogan ini lebih bersifat epistemologis, yaitu untuk pendasaran metodis rasionalismenya. Pendasaran metodis ini memiliki konsekuensi bahwa manusia memiliki persepsi yang jelas dan terpilah-pilah yang terletak pada fakultas intelektual untuk mencapai kebenaran yang objektif.

Persepsi yang jelas dan terpilah-pilah bisa mencapai kebenaran objektif dengan pengetahuan rasional (deduktif-matematis) krena realitas material memiliki kuantitas tertentu (misalnya: panjang, lebar, tinggi, berat, dan sebagainya) yang bisa dikuantifikasi oleh manusia. Kuantifikasi ini dimediasi oleh representasi objek empiris ke dalam simbol-simbol logiko-matematis. Hal yang sama juga terjadi pada analisis raung. Geometri, sebagai studi matematika, mengkuantifikasi realitas material (objek empiris) dengan merepresentasikan kuantitasnya ke dalam simbol-simbol logiko-matematis.

Ketika ruang direpresentasikan melalui mediasi simbol-simbol logiko-matematis dan me rekonstruksinya ke dalam bentuk-bentuk kaku maka ruang yang kita alami akan kehilangan dinamikasitasnya. Geometri yang statis ini kita jumpai sejak Euclides (yang dianggap sebagai pencetus teori geometri secara sistematis) hingga periode kritisisme Immanuel Kant. Kant, sebagaimana Descartes, juga beranggapan bahwa pengetahuan matematika (termasuk geometri) adalah pengetahuan yang bersifat sintetis-apriori. Meskipun sebelumnya Leibniz, yang juga seorang rasionalis, berpendapat bahwa persepsi yang jelas dan terpilah-pilah bukan terdapat dalam fakultas intelektual tapi fakultas imajinasi โ€œcommon senseโ€.

Masalah aprioritas geometri ini adalah bahwa ia tidak bisa menjelaskan bagaimana transformasi ruang, karena ruang yang dianalisis secara apriori direkonstruksi berdasrkan titik-titik tertentu dan jarak dari relasi titik-titik tersebut dan ketika jarak dan posisi titik tersebut berubah rekonstruksi ruang itu akan menjadi kontradiktif. Kontradiksi ini disebabkan oleh presuposisi bahwa titik dan jarak relasi diantara titik secara pasti menghasilkan suatu bentuk tertentu yang sebelumnya sudah terklasifikasi.

Saya hendak merekonstruksi ruang berdasarkan analisis ontologi Deleuzian. Gilles Deleuze (1925-1995) adalah seorang filsuf kontemporer yang berasal dari Prancis. Banyak orang yang menggolongkan dia sebagai filsuf post-strukturalis, namun posisi dia dalam kartografi filsuf post-strukturalis ini mendapatkan posisi yang unik. Ketika pada tahuan 60-an hampir semua filsuf (mulai Levinas hingga Derida) berbicara tentang โ€œkritik atas metafisikaโ€ ataupun ketika para filsuf dengan garis Heideggerian berbicara tentang kematian filsafat, Deleuze justru berupaya mengkonstruksi ontologi dan meneruskan kinerja filsafat bahkan dalam artinya yang paling ketat (Deleuze, 1995: 138). Keunikan posisional inilah yang mendorong Badiou untuk menulis dengan nada salut bahwa,

Deleuze tetaplah berbeda dari seluruh blok opini filosofis yang menyusun panggung intelektual [Prancis] sejak tahun 60-an. Ia bukanlah seorang fenomenolog ataupun seorang strukturalis, bukan seorang Heideggerian ataupun pengimpor โ€˜filsafatโ€™ analitik Anglo-Amerika, bukan pula seorang neohumanis liberal (atau Neo-Kantian).

(BADIOU, 2000)

Ontologi Deleuze disebut Univositas yaitu kesatuan makna ada. Artinya meskipun ada diungkapan dengan berbagai diferensi (makna) namun ada tetap diungkapkan sebagai ada. Namun kita tidak boleh melupakan diversitas diferensi dari ada itu sendiri karena mereka (berbagai diferensi ada) ikut berproses dalam kemenjadiannya bersama ada. Proses produksi diferensi dalam kemenjadiannya bersama diproduksi oleh apa yang Deleuze disebut multiplisitas.

Konsep multiplisitas ini dimaksudkan Deleuze untuk menggantikan konsep esensi yang sudah ada sejak Plato (DeLanda, 2002: 9). Jika esensi mengandaikan sesuatu itu sebagai yang tetap dan tak berubah, multiplisitas mengandaikan bahwa ada (termasuk entitas apapun) itu secara natural terus-menerus berada dalam proses menjadi. Untuk menghindari jebakan pemikiran esensialisme di sini saya tidak akan mendefinisikan apa itu multiplisiti, saya hanya bisa menganalogikannya, bahwa multiplisiti itu seperti ruang kemungkinan. Ruang ini tentu saja tidak bersifat aktual, tetapi lebih sebagai ruang yang bersifat virtual.

Konsep lain, selain multiplisitas, yang membangun ontologi Deleuze adalah yang virtual dan virtualitas. Dengan ketiga konsep inilah (multiplisitas, virtual dan virtualitas) kita bisa mempresentasikan imanensi Deleuzian tanpa mengintrodusir kembali suatu transendensi tertentu.

Multiplisitas virtual yang di dalamnya terdapat singularitas (seperti atraktor) memproduksi diferensi dan mengaktualisasikan ruang dengan berbagai diversitas dan transformasinya (Bryant, 2008:169). Namun multiplisitas dan singularitas ini tidak pernah teraktualisasikan. Ketika ia akan mencapai titik aktual, ia selalu mengelak. Ia akan tetap sebagai yang virtual tapi real dan sangat berperan dalam aktualisasi tertentu, dalam rencana penelitian ini, termasuk ruang. Karena alasan inilah, bahwa multiplisitas mengandaikan sesuatu itu senantiasa dalam proses kemenjadian, tidak mencari statisitas universal seperti dalam pemikiran esensialisme, maka analisis ontologi Deleuzian atas waktu juga mengandaikan analisis atas ruang.

Selain itu, saya juga mempertimbangkan bagaimana relasi pemikiran Deleuze dengan sains. Tidak seperti filsuf-filsuf tradisi kontinental lainnya, sikap Deleuze terhadap sains tidak begitu sinis, bahkan dia mengafirmasi sains sebagai ilmu yang memiliki posisi sejajar dengan filsafat. Sains tidak membutuhkan filsafat untuk melaksanakan tugas-tugasnya, begitu juga sebaliknya, filsafat tidak membutuhkan sains untuk melaksanakan tugas-tugasnya. Namun kendati demikian, filsafat dan sains bisa menjalin relasi yang bisa saling membantu satu sama lain. Sebuah konsep filosofis dapat mengadopsi sejumlah fungtif dari sembarang fungsi yang mungkin (possible function) sebagai komponen-komponennya (Deleuze dan Guattari, 2008: 175). Karena kedekatan hubungan antara pemikiran Deleuze dan sains, saya juga hendak mengapropriasi chaos theory. Selain itu, ontologi formal yang dideklarasikan oleh Willard van Ormann Quine, berimplikasi pada pemikiran saya, bahwa ontologi tidak boleh mengabaikan fakta-fakta partikular yang telah ditemukan oleh sains (Berto, 2015: 5).

Ruang Intensif dan Ruang Ekstensif

Setidaknya ada dua jenis ruang yang relevan dengan identitas manusia. Sebagai organisme biologis dan sebagai agen sosial kita hidup dalam ruang yang dibatasi oleh alam secara natural dan juga dibatasi oleh batas ekstensif artifisial, yaitu dalam zona yang diperluas dalam ruang pada batas yang ditandai oleh demarkasi. Batas tersebut misalnya garis batas negara, kota, lingkungan, maupun ekosistem. Penghunian ruang ekstensif ini adalah bagaian dari apa yang didefinisikan oleh identitas sosial dan identitas biologis manusia. Kita bisa mendefinisikan ruang yang kita hidupi lebih dari definisi yang diberikan di atas. Definisi tersebut adalah zona intensitas, bukan hanya zona temperatur mendefinisikan ekosistem berbeda (dari hutan tropis hingga tundra dingin), tapi juga zona tekanan tinggi yang dieksplroasi oleh penyelam laut-dalam maupun zona dengan gravitasi rendah yang dieksplorasi oleh seorang astronot. Ruang yang lain ini juga dibatasi, tapi dengan batas yang berbeda, batas suatu zona ditandai oleh titik (point) kritis dari temperatur, tekanan, gravitasi, kedalaman, atau tensi. Konektivitas titik tersebut mendefinisikan transisi secara tiba-tiba dalam keadaan penguni zona ini. Meskipun peta cuaca yang bisa kita saksikan dalam beritas televisi telah membuat ruang intensif sangat jelas (zona tekanan rendah dan tekanan tinggi, permukaan panas dan permukaan dingin, mendefinisikan bentuk transisi temperatur) faktanya tetap membuat banyak filsuf sulit untuk berpikir tentang pertanyaan yang muncul dari distingsi antara ekstensivitas dan intensivitas ini.

Ontologi Deleuze didasarkan pada distingsi antara ruang intensif dan ekstensif ini (dan juga pada konsep ruang virtual dan ruang aktual). Konsep ini berasal dari termodinamika dimana konsep tersebut bukan didefinisikan sebagai sebuah distingsi antara ruang, tetapi distingsi antara magnitud atau kuantitas (yang kemudian bisa digunakan untuk mendefinisikan ruang). Kuantitas ekstensif (seperti volume, area, panjang, jumlah atau banyaknya energi atau entropi) adalah sesuatu yang dapat dijumlah, dikurangi, dikali, dan dibagi, sementara kuantitas intensif tidak. Contohnya jika 1 + 2 = volume air, maka 1 didapat dari dua kali lipat jumlah air. Tapi jika 1 + 2 dengan air pada suhu temperatur 45o dari temperatur yang satu, maka jumlahnya tidak didapat dari suhu temperatur permukaan air tersebut, dan suhu temperatur dari permukaan air tersebut tetap sama seperti suhu temperatur awal. Deleuze mendefinisikan kuantitas intensif ini sebagai sesuatu yang tak terbagi (indivisible), sebuah definisi yang bila disederhankan, mengekspresikan titik (point) sama: 1 buah galon air dengan suhu temperatur 90o bisa dipisahkan secara ekstensif, menghasilkan, misalnya, 2 buah galon dengan masing-masing isinya ยฝ galon, tetapi kedua bagian tersebut tidak akan memiliki setiap bagian temperatur.

Sebenarnya Deleuze tidak mendefinisikan intensif sebagai yang tak terbagi (indivisible), tetapi sebagai apa yang tidak bisa dibagi tanpa merubah naturnya. Definisi tersebut menyatakan bahwa titik kritis melakukan subdivisi sebuah garis intensif dari sebuah nilai, namun hanya oleh ditandainya permulaan dari perubahan keadaan secara tiba-tiba. Dalam hal ini Deleuze menekankan bahwa,

Apa yang signifikan dari jarak yang tak terbagi ini adalah transformasi secara terus-menerus dan tidak bisa dibagi atau ditransformasi tanpa elemen-elemennya mengubah keadaan naturalnya setiap waktu? Apa ini bukanlah karakter intensif dari tipe elemen-elemen multiplisitas dan relasinya di antara mereka? Seperti kecepatan atau sebuah temperatur, yang tidak tersusun dari kecepatan atau temperatur lain, tapi justru diselimuti dalam atau menyelimuti yang lain, saling menandai menandai sebuah perbuahan dalam natur. Prinsip metrik dari multiplisitas ini tidak bisa ditemukan pada sebuah puncak homogen tapi terletak di tempat lain, dalam daya yang bekerja di dalamnya, dalam fenomena psikis yang menghuninya . . .

(Deleuze, Guattari, 1987)

Dalam kutipan di atas Deleuze menggunakan terma โ€˜jarakโ€™ jika sebagai properti non-metrik, meskipun maknanya secara umum pasti mendenotasikan suatu metrik.

Walaupun demikian, bagaimanapun terma tersebut didefinsikan, signifikanasinya adalah bahwa ada alasan untuk kekurangan atau kebutuhan (lack) divisibilitas kuantitas intensif: ialah rata-rata objektif, dan bertendensi untuk mempertahankan nilai rata-rata yang sama pada divisi. Untuk dua kuantitas intensif untuk memproduksi sebuah perubahan, maka harus ada sebuah diferensi atau gradien, dalam derajat intensitasnya. Dan perubahan yang diproduksi oleh sebuah gradien temperatur (atau tekanan, densitas, kecepatan) tidak semudah seperti sebuah penjumlahan, tetapi kemunculan sebuah aliran sepontanitas atau gerakan yang akan bertendensi untuk membatalkan diferensi dalam intensitas kemudian mengembalikan keseimbangan dan nilai rata-rata. Meskipun demikian, Deleuze menekankan bahwa meskipun fakta bahwa ada pembatalan spontan diferensi yang menjelaskan indivisbilitas, signifikansi filosofis dari besaran intensif hanya bisa ditangkap terutama pada pembatalan ini (Buchanan, Lambert, 2005: 81). Kita bisa mempersingkat apa yang relefan secara filosofis dalam mendukung formulanya: diferensi intensif itu produktif. Bahkan, dimanapun kita menemukan batas ekstensif (contohnya kulit yang didefinisikan oleh batas ekstensif tubuh kita) selalu ada sebuah proses yang dibawa oleh diferensi intensif yang diproduksi oleh, seperti, beberapa buah batas (Contohnya proses embriologis yang dibuat oleh tubuh kita, dibawa oleh diferensi dalam konstentrasi kimiawi, di antara hal-hal yang lain) (Yates, 1987: 163).

Pendekatan untuk ruang intensif ini, sebagai situs yang hasilnya sebagai produksi diversitas ruang ekstensif, adalah kunci ontologi Deleuze. Dalam bukunya, yang menurut beberapa komentator Deleuze, paling penting, dia mengatakan

Diferensi bukanlah diversitas. Diversitas itu terberi, tapi diferensi adalah bahwa yang terberi itu terberi . . . Diferensi bukanlah fenomena tapi noumena yang dekat dengan fenomena . . . Semua fenomena mengacu pada sebuah inekualitas dari yang mengkondisikan fenomena tersebut . . . Semua yang terjadi dan semua yang hadir dikorelasikan dengan tatanan diferensi: diferensi tingkat, temperatur, tekanan, tensi, potensial, diferensi intensitas.

(Deleuze, 2001)

Secara tradisional distingsi antara dunia yang terberi dalam pengalaman atau fenomena yang menampak dan dunia yang eksisis dalam dirinya atau dunia yang ada tanpa peduli apakah ada interaksi manusia sebagai subjek observasi atupun tidak, berasal dari Kant. Dunia dalam dirinya ini adalah noumena atau das ding an sich. Sementara filsuf-filsuf kontemporer membuang konsep noumena, bahwa noumena itu tidak dan kalaupun tidak manusia tidak akan bisa mencapainya, secara jelas dalam kutipan di atas mengecualikan Deleuze. Dengan kata lain ontologi Deleuze adalah seorang realis. Meskipun demikian realisme Deleuze berbeda dengan realisme pada umumnya, yaitu esensialime, yang percaya bahwa adanya dunia yang independen dari kita (mind-independent world) adalah identitas yang memiliki sebuah esensi. Sementara bagi Deleuze, identitas apapun dari yang ada tidak dapat diterima begitu saja dan selalu membutuhkan eksplanasi proses historis yang memproduksinya (Smith, Somers-Hall, 2012: 221-222). Jika kita mengkarakterisasikan identitas material sebagai sesuatu yang didefinsikan oleh ekstensitas (tidak hanya oleh batas spasialnya tapi juga oleh jumlah materi dan energi yang terkandung di dalam batas tersebut) maka proses yang memproduksi sesuatu menjadi didefinsikan oleh intensitas. Artinya manusia (human beings) bukan hanya menghuni ruang ekstensif, manusia dalam dirinya sendiri adalah ruang ekstensif. Generalisasi ruang ini untuk mengintrodusir fenomena mental akan menyertakan pendefinisian intensitas psikologis (bukan hanya kesedihan, kebahagian, cinta, kebencian, tetapi juga kepercayaan dan hasrat yang datang dari intensitas yang berbeda) maupun korespondensi ekstensitas.

Meskipun Deleuze mengambil distingsi antara intensif dan ekstensif ini dari fisika, dalam kutipan di atas Deleuze mengatakan bahwa termodinamika abad sembilan belas tidak mampu memberikan fondasi bagi ontologinya. Mengapa? Karena cabang fisika tersebut menjadi terobsesi dengan keadaan keseimbangan akhir (didefinsikan oleh jumlah entropi, sebuah kuantitas ekstensif) dengan mengorbankan proses intensif pembawaan-diferensi, yang membuat keadaan tersebut muncul. Namun kekurangan termodinamika klasik ini sekarang telah diperbaiki, pembaharuan tersebut disebut โ€˜jauh-dari-keseimbangan-termodinamikโ€™ (far-from-equilibrium-thermodinamics), dan efek dari pembaharuan ini membuatnya menjadi interstan secara filosofis (Buchanan, Lambert, 2005: 82). Dalam sebuah kulit kacang, sementara keseimbangan termodinamik fokus pada apa yang terjadi sekali diferensi intensif telah dibatalkan, jauh-dari-keseimbangan-termodinamik mempelajari sistem yang secara kontinu dibalikan oleh sebuah aliran energi yang kuat atau materi, sebuah energi yang tidak mengizinkan diferensi dalam intensitas dibatalkan, yaitu sebuah aliran yang mempertahankan diferensi dari pembatalan dirinya. Artinya termodinamika berada dalam ranah penelitian sistem dalam sebuah zona intensitas yang lebih tinggi, dan hanya dalam zona inilah morfogenesis pembawaan-diferensi masuk ke dalam zonanya, dan materi menjadi sebuah agen aktif yang tidak membutuhkan bentuk dan beban dari luar dirinya, seperti dalam kasus esensialisme. Secara singkat hanya dalam zona intensitaslah kita bisa menyaksikan kelahiran dan pendefinisian-identitas batasnya.

Ruang Virtual dan Ruang Aktual

Selain distingsi antara ruang intensif dan ruang ekstensif, konsep yang fundamental lainnya bagi ontologi realisme Deleuze, yaitu distingsi antara ruang virtual dan ruang aktual yang juga mendapatkan pencerahannya dari jauh-dari-keseimbangan termodinamik. Meskipun dalam keseimbangan termodinamik para saintis harus berhadap-hadapan bahwa, sebuah sistem terberi yang di mana diferensi intensif eksis, keadaan akhir keseimbangan yang di mana sistem bertendensi bagaimanapun sudah hadir terutama pada aktualisasinya. Yaitu, keadaan akhir sebagai akutalisasi aktraktor untuk prosesnya dan menjelaskan tendesinya dari diferensi intensif untuk membatalkan dirinya. Tapi apa status ontologis yang keadaan akhir memiliki prioritas pada kemunculannya menjadi eksistensi aktual? Beberapa filsuf pasti berpikir bahwa kategori kemungkinan adalah kategori ontologis yang dibutuhkan untuk mendeskripsikan status ini, tapi ini akan menjadi suatu kesalahan. Meskipun apa yang dikatakan oleh beberapa logikawan modal esensialis, yaitu kemungkinan bukanlah identitas yang independen dari pikiran, bahkan kemungkinan memiliki realitas psikologis (tidak ada satupun yang bisa menolak bahwa manusia sesungguhnya bisa menghibur dirinya dengan beberapa sekenario yang mungkin di dalam kepalanya). Keadaan aksi sebagai atraktor, dengan kata lain, memiliki sebuah kepastian objektif bahkan walaupun tidak aktual secara penuh, semenjak atraktor mengarahkan proses riil ke dalam sebuah hasil yang pasti, terutama ke dalam aktualisasi sebelumnya.

Pendekatan status ontologis dari aktraktor akan bisa mengatakan bahwa walaupun atraktor bukan kemungkinan kemungkinan atraktor melakukan aksi sebagai struktur sebuah ruang kemungkinan (Smith, Somers-Hall, 2012: 222). Dari semua kemungkinan yang ada hanya menghasil satu, atau sebah beberapa (a few), menjadi teraktualisasi secara regular, sebuah fakta yang menyuguhkan bahwa ruang kemungkinan menghasilkan batas yang sesungguhnya, atau dengan kata lain, bahwa ia memiliki struktur. Sementara kemungkinan membuat ruangini tidak riil (yang lainnya bahkan membuatnya menjadi murni psikologis) struktur ruang yang mungkin bisa dipertimbangkan riil dan independen dari pikiran secara sepenuhnya. Tapi jika realitas ini tidak aktual (secara definsi) lalu apa? Jawabannya adalah virtual. Virtual di sini bukan dalam artian realitas virual (seperti yang dicontohkan oleh simulasi komputer, atau bahkan sinema) tapi dalam artian sebuah virtualitas riil. Kontribusi termodinamika baru adalah bahwa hanya dalam zona intensitas virtualitas mengeksplorasi proses fisikal yang menunjukan repertoar penuh aktraktor. Sementara dalam sistem linier mendekati keseimbangan hanya atraktor keadaan-tunak (steady-state) yang ada, sistem non-linier jauh-dari-keseimbangan menunjukan atraktor keadaan-tunak, periodik, dan  kaotik (chaotic). Lebih jauh, daripada keseimbangan global tunggal dari teori klasik sekarang kita memiliki keseimbangan yang beragam, yang artinya hal itu adalah materi sejarah. Sementara dengan sebuah kemungkinan tunggal menghasilkan arah berbeda yang diikuti oleh sistem dalam jalan mereka yang bisa diabaikan, dengan kemungkinan beragam menghasilkan detil dari sejarah yang diikuti materi (ini adalah apa yang fisikawan sebut โ€˜dependensi jalanโ€™). Mengapa semua ini penting? Karena sekali pencapaian struktur ini muncul maka akan menjadi lebih sulit bagi para filsuf untuk mengabaikan pertanyaan ontologis yang muncul darinya.

Untuk mengatasi isu ontologis ini, bagaimanapun, kita harus melampaui fisika dan masuk ke dalam matematika untuk mendefinisikan status ruang virtual. Distingsi matematis yang kita butuhkan yaitu antara ruang metrik dan ruang non-metrik, yaitu ruang dimana konsep โ€˜panjangโ€™ sangat fundamental dan ruang tidak. Secara matematis sebuah ruang didefinisikan oleh sebuah himpunan titik dan sebuah definisi dari relasi kedekatan di antara titik, dengan kata lain dari relasi yang mendefinisikan sebuah sub-himpunan titik yang terberi sebagai sebuah lingkungan sekitar. Jika kedekatan didefinisikan melalui sebuah panjang minimum (contohnya semua titik yang lebih sedikit dari sebuah jarak yang terberi dari pusat bentuk sebuah lingkungan) ruang dikatakan sebuah ruang metrik (apakah itu datar, seperti dalam geometri Eucledian, atau curva, seperti dalam geometri non-Eucledian). Jika beberapa kriteria lain menggunakan kata ruang sebagai non-metrik (seperti dalam geometri diferensial, geometri proyektif, atau topologis) (DeLanda, 2002: 19-20). Apa kriteria kedekatan lain yang bisa digunakan? Dalam geometri diferensial, contohnya, yang mengambil keuntungan fakta bahwa kalkulus beroperasi pada ekuasi yang mengekspresikan nilai perubahan dan operator tersebut (diferensiasi) memberikan hasil sebuah nilai instan untuk nilai perubahan tersebut. Titik yang membentuk sebuah ruang kemudian bisa didefinisikan tidak sebagai panjang yang rigit dari sebuah sistem koordinat yang fiks (seperti dalam kasus metrik) tapi oleh nilai instan dimana lengkungan (curvature) berbubah pada titik itu. Beberapa bagian ruang tidak akan berubah, bagian lain berubah secara lambat, dan perubahan yang lainnya cepat. Efek dari sebuah ruang diferensial ini adalah menjadi sebuah ranah rapiditas dan ranah kelambatan (slownesses), dan melalui relasi infintesimal ini kita bisa mesnpesifikasikan lingkungan tanpa menggunakan panjang yang rigid. Matematikawan merujuk beberapa ruang diferensial pada sebuah โ€˜manifolโ€™ (manifold) atau sebuah multiplisitas (DeLanda, 2002: 10-11).

Konsep multiplisitas ini bagi bagi Deleuze memiliki beberapa fitur penting. Ketika Gauss dan Riemmann mengintrodusir konsep ini pada paruh pertama abad sembilan belas, mereka melakukan revolusi atas cara bagaimana kita menyelesaikan problema spasial (beberapa dekade kemudian Einstein menggunakan penyelesaian-masalah [problem-solving] baru ini sebagai sumber, selanjutnya, melakukan revolusi atas pemikiran kita tentang ruangwaktu fisikal). Satu fitur dari revolusi ini adalah untuk membebaskan ide dimana sebuah ruang dari sebuah nomor dimensi yang terberi (misalnya, sebuah bidang datar dua-dimensi yang dilipat) harus disiratkan kedalam sebuah ruang satu dimensi lebih tinggi (sebuah kotak tiga-dimensi) agar penelitian atasnya dapat dilakukan. Kebutuhan akan dimensi ekstra muncul dari prosedur ketetapan koordinat Cartesian untuk semua titik dari bidang datar (melalui panjang yang rigid mengekspresikan jarak dari setiap titik pada satu dari tiga koordinat). Tapi jika bidang datar bisa diteliti hanya menggunakan informasi lokal (rapiditas atau kelambatan dimana lengkungan berubah pada titik yang terberi) kebutuhan untuk melekatkan ruang secara global dieliminasi. Menurut Deleuze ini juga mengeliminasi dimensi ekstra yang berrelasi dengan ruang yang diteliti sebagai sebuah dimensi transendental. Seperti yang dia katakan bahwa โ€œdalam semua kasus multiplisitas didefinisikan secara intrinsik, tanpa referensi eksternal atau jalan lain melalui sebuah ruang seragam dimana multiplisitas akan menjadi terbenamโ€ (Deleuze, 2001: 183). Karena itulah unitas selalu beroperasi dalam sebuah dimensi tambahan kosong dimana sistem ditentukan (Deleuze, Guattari, 1987: 8-9).

Pengeliminasian sebuah kemelekatan ruang secara global dan memandang semua ruang dalam term lokal secara murni sangat penting bagi Deleuze karena baginya ini bukan hanya isu formal dalam filsafat matematika tetapi juga sebuah isu ontologis yang  secara langsung membawanya pada status virtual. Struktur virtual dari ruang kemungkinan tidak boleh dibuat dengan mengintrodusir transendensi tetapi harus selalu dikonsepkan sebagai sesuatu yang imanen terhadap dunia material. Sebuah multiplisitas, seperti yang Deleuze katakan,

bagaimanapun banyaknya dimensi yang mungkin dimilikinya . . . tidak pernah sebuah dimensi suplemen di mana yang terjadi pada multiplisitas. Kesendirian ini membuat multiplisitas natural dan imanen.

(Deleuze, Guattari, 1987).

Namun bagaimana objek geometri memiliki signifikasni ontologis? Dalam arti apa hal ini bisa diperlakukan sebagai struktur dari sebuah ruang kemungkinan? Jawabannya adalah bahwa multiplisitas atau manifol bisa digunakan untuk meneliti sisitem fisikal jika setiap dimensinya bisa memilikinya. Ruang keadaan yang mungkin ini merujuk pada apa yang disebut sebagai โ€˜ruang keadaanโ€™ (state space) atau โ€˜ruang faseโ€™ (phase space) (DeLanda, 2002: 14-15). Dan yang lebih penting, sementara titik dalam manifol merepresentasikan semua kemungkinan untuk sebuah sistem yang terberi, kepastian fitur topologis dari ruang ini merepresentasikan struktur invarian dari ruang itu. Invarian topologis ini adalah apa yang saya rujuk di atas sebagai atraktor. Sementara ruang keadaan pada dirinya sendiri adalah bukan apa-apa tapi representasi matematis (dan kemungkinan yang disimbolkan bukan realitas yang independen dari pikiran) invarian topologisnya (dimensinya, singularitasnya atau atraktor) bahkan bisa diinterpretasikan sebagai sesuatu yang sepenuhnya riil (DeLanda, 2002: 30-38).

Singkatnya, dunia akan terdiri dari sebuah ruang topologis (non-metric) yang mengandung semua pembatas yang mengorganisir proses fisikal, kimiawi, biologis, dan sosial yang memproduksi sistem aktual seperti planet, molekul, spesies, dan institusi, yang dihuni ruang metric dan ekstensif Eucledian. Ruang non-metrik dan metrik akan dikoneksikan melalui ruang intermediasi yang akan menjadi intensif. Maka dari itu, yang virtual, intensif, dan aktual mengkonstitusikan tiga permukaan realitas, dengan multiplisitas virtual yang membatasi dan membawa proses intensif yang selanjutnya akan menghasilkan entitas aktual yang spesifik. Gerakan oposisi dari aktual ke intensif, ke virtual juga, akan terjadi secara konstan, menjamin independensi dan imanensi multiplisitas. Itulah ruang virtual dan bagaimana ia diproduksi dan direproduksi.

Dalam dunia material ini manusia berpikir dari tipe yang berbeda akan mengikuti satu gerakan atau gerakan lainnya, saintis mengikuti jalan aktualisasi dari yang virtual dan fokus pada sesuatu yang aktual, maupun proses intensif dan filsuf mengikuti jalan gerak yang berlawanan, yaitu yang merekonstitusikan multiplisitas virtual (seperti peristiwa ideal) keluar dari entitas aktual dan memberinya konsistensi sebagai sebuah ruang.


Referensi

Badiou, Alain, 2000, Deleuze: The Clamour of Being, terj. Louise Burchill, University of Minnesota Press, Minneapolis.

Berto, Francesco dan Matteo Plebani, 2015, Ontologi and Metaontologi, London, Bloomsbury.

Bryant, Levi R., 2008, Difference and Giveness, Northwestern University Press, United States of America.

Buchanan, Ian dan Gregg Lambert, 2005, Deleuze and Space, Edinburgh University  Press, Edinburgh.

DeLanda, Manuel, 2002, Intensive Multiplicity and Virtual Philosophy, Continuum, London.

Deleuze, Gilles, 1995, Negotiations: 1972-1990, terj. Martin Joughin, Columbia University Press, New York.

____________, 2001, Pure Immanence: Essays on A Life, terj. Anne Boyman, Urzone, New York.

Deleuze, Gilles, Felix Guattari, 1987, A Thollsand Pletaus diterjemahkan oleh B. Massumi, University of Minnesota Press, Minneapolis.

____________, 2008, What is Philosophy?,terj. Muh. Indra Purnama.        Jalasutra, Yogyakarta.

Smith, Daniel W., Henry Somers-Hall (ed.), 2012, The Companion to Deleuze, Cambridge University Press, UK.

Yates, Eugene (ed.), 1987, The Emergence of Order, Plenum, New York.

Moh. Gema Maulana
Moh. Gema Maulana
Penulis adalah pengajar filsafat di UNNES yang memiliki minat fokus kajian dalam ranah metafisika dan filsafat sains

Bacaan Lainnya