Sunday, November 28, 2021
Home Esai Agamben: Requiem untuk Mahasiswa

Agamben: Requiem untuk Mahasiswa

Bagian dari barbarisme teknologi yang saat ini kita jalani adalah pembatalan dari kehidupan pengalaman indrawi serta hilangnya tatapan, dipenjara secara permanen di sebuah layar spektral.

Seperti yang sudah kita perkirakan, mereka memutuskan kuliah universitas akan digelar online mulai tahun depan. Apa yang jelas bagi pengamat, yakni apa yang disebut pandemi akan digunakan sebagai dalih untuk meningkatkan penyebaran teknologi digital, segera terwujud.

Di sini kita tidak begitu tertarik pada keputusan transformasi pengajaran, di mana unsur kehadiran fisik (selalu begitu penting dalam hubungan antara mahasiswa dan dosen) menghilang secara definitif, seperti halnya hilangnya diskusi kelompok dalam seminar yang merupakan bagian paling hidup dari pengajaran. Bagian dari barbarisme teknologi yang saat ini kita jalani adalah pembatalan dari kehidupan pengalaman indrawi serta hilangnya tatapan, dipenjara secara permanen di sebuah layar spektral.

Jauh lebih menentukan dalam apa yang sedang terjadi adalah sesuatu yang, secara signifikan, tidak dibicarakan sama sekali: yaitu, akhir dari kemahasiswaan (studentato) sebagai suatu bentuk kehidupan. Universitas lahir di Eropa dari asosiasi mahasiswa—universitates—dan mereka berhutang nama pada pada asosiasi ini. Menjadi mahasiswa pertama-tama memerlukan suatu bentuk kehidupan di mana belajar dan mendengarkan kuliah tentu saja merupakan ciri-ciri yang menentukan, tetapi yang tidak kalah penting adalah perjumpaan dan pertukaran terus-menerus dengan para mahasiswa lain (scholarii), yang seringkali datang dari tempat-tempat jauh dan berkumpul bersama sesuai tempat asalnya di negara masing-masing (nationes). Bentuk kehidupan ini berevolusi dalam berbagai cara selama berabad-abad, tetapi, dari kaum pastur di Abad Pertengahan hingga gerakan mahasiswa abad kedua puluh, dimensi sosial dari fenomena tersebut tetap konstan. Siapa pun yang pernah mengajar di ruang kelas universitas tahu betul, tepat di depan mata, bagaimana persahabatan ditempa, dan sesuai dengan minat budaya dan politik mereka, kelompok studi dan penelitian kecil dibentuk, terus berlanjut bahkan setelah kelas berakhir.

Semua ini, yang telah berlangsung selama hampir sepuluh abad, sekarang telah berakhir untuk selamanya. Mahasiswa tidak akan lagi tinggal di kota tempat universitas mereka berada. Sebaliknya, mereka akan mendengarkan ceramah di kamar tertutup mereka dan terkadang terpisahkan ratusan kilometer dari teman yang sebelumnya sekelas. Kota-kota kecil yang dulunya kota universitas bergengsi akan menyaksikan komunitas mahasiswa, yang seringkali menjadi bagian paling hidup dari kota itu, menghilang dari jalanannya.

Dari setiap fenomena sosial yang mati dapat dikatakan bahwa, dalam arti tertentu, ia layak untuk diakhiri; sudah pasti bahwa universitas kita telah mencapai tingkat korupsi dan kedunguan spesialis sedemikian rupa sehingga tidak mungkin untuk meratapinya, dan alhasil bentuk kehidupan mahasiswa, juga sama-sama miskin. Dua poin berikut ini, bagaimanapun, harus tetap tegak:

  1. Profesor yang setuju—sebagaimana mereka lakukan secara berbondong-bondong—untuk tunduk pada kediktatoran telematika baru dan mengadakan kuliah hanya secara online adalah setara absolut dengan dosen universitas yang pada tahun 1931 bersumpah setia kepada rezim Fasis. Seperti yang terjadi saat itu, kemungkinan hanya lima belas dari seribu orang yang akan menolak, tetapi nama mereka pasti akan diingat bersamaan dengan lima belas orang yang tidak bersumpah. 
  2. Mahasiswa yang benar-benar mencintai belajar harus menolak untuk mendaftar di universitas yang mengikuti cara ini, dan seperti pada awal mula, menempatkan diri mereka di universitates baru, hanya dalam rangka menghadapi barbarisme teknologi, kata-kata masa lalu dapat tetap hidup dan melahirkan sesuatu seperti budaya baru—kalau saja akan benar-benar lahir.

23 Mei 2020

Giorgio Agamben
Artikel ini diterjemahkan dari hasil terjemahan D. Alan Dean terhadap versi aslinya Requiem per gli studenti.

RELATED ARTICLES

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Filsuf di Tengah Teror Kedamaian Bersama

Di masa hidupku ini, kalau boleh jujur, kegagalan terbesar filsafat Indonesia mewujud dalam diri Martin Suryajaya. Yang berhenti sekedar pada menulis filsafat,...

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Panpsikisme dan Kesadaran

I Salah satu persoalan yang belum selesai dan terus dibicarakan dalam lingkup filsafat ialah kesadaran. Meski para psikolog...

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Filsuf di Tengah Teror Kedamaian Bersama

Di masa hidupku ini, kalau boleh jujur, kegagalan terbesar filsafat Indonesia mewujud dalam diri Martin Suryajaya. Yang berhenti sekedar pada menulis filsafat,...

Paperbook

Recent Comments

Stephanus Aswar Herwinarko on Usulan Berfilsafat (di) Indonesia