Sunday, November 28, 2021
Home Esai Giorgio Agamben: Invensi Epidemi

Giorgio Agamben: Invensi Epidemi

Jika ini adalah situasi yang sebenarnya, mengapa media dan pihak berwenang melakukan yang terbaik untuk menyebarkan keadaan panik, sehingga memprovokasi state of exception (situasi darurat) autentik dengan pembatasan serius pada pergerakan dan penghentian kehidupan sehari-hari di seluruh wilayah?

Dihadapkan pada tindakan darurat yang buru-buru, irasional, dan sama sekali tidak berdasar terhadap dugaan epidemi virus corona, kita harus mulai dari deklarasi National Research Council (CNR), yang tidak hanya menyatakan bahwa “tidak ada epidemi SARS-CoV2 di Italia. ”, tetapi juga “infeksi tersebut, menurut data epidemiologi yang tersedia saat ini dan berdasarkan puluhan ribu kasus, menyebabkan gejala ringan/sedang (semacam influenza) pada 80-90% kasus. Dalam 10-15% kasus pneumonia dapat berkembang, tetapi hanya satu dengan dampak yang tidak berbahaya di sebagian besar kasus. Diperkirakan hanya 4% pasien yang memerlukan terapi intensif”.

Jika ini adalah situasi yang sebenarnya, mengapa media dan pihak berwenang melakukan yang terbaik untuk menyebarkan keadaan panik, sehingga memprovokasi state of exception (situasi darurat) autentik dengan pembatasan serius pada pergerakan dan penghentian kehidupan sehari-hari di seluruh wilayah?

Dua faktor dapat membantu menjelaskan respons yang tidak proporsional seperti itu. Pertama dan terutama, lagi-lagi yang termanifestasi adalah kecenderungan untuk menggunakan state of exception sebagai paradigma normal bagi pemerintah. Keputusan legislatif yang segera disetujui oleh pemerintah “untuk alasan kebersihan dan keamanan publik” sebenarnya menghasilkan militerisasi autentik “kota-kota dan wilayah-wilayah dengan setidaknya satu orang yang dites positif dan yang sumber penularannya tidak diketahui, atau setidaknya ada satu kasus yang tidak berasal dari seseorang yang baru saja kembali dari daerah yang sudah terkena virus”. Definisi yang samar dan tidak pasti akan memungkinkan untuk memperluas state of exception dengan cepat ke semua wilayah, karena hampir tidak mungkin kasus seperti itu tidak akan muncul di tempat lain. 

Mari kita pertimbangkan batasan serius dari kebebasan yang terkandung dalam dekrit tersebut: a) larangan terhadap individu-individu yang meninggalkan kota atau wilayah yang terkena dampak; b) larangan terhadap siapa saja dari luar mengakses kota atau wilayah yang terkena dampak; c) penangguhan event atau inisiatif dalam bentuk apa pun dan segala bentuk pertemuan di tempat umum atau privat, termasuk yang bersifat budaya, rekreasi, olahraga dan keagamaan, termasuk ruang tertutup jika terbuka untuk umum; d) penutupan taman kanak-kanak, layanan penitipan anak dan sekolah dari semua tingkatan, serta kehadiran sekolah, kegiatan pendidikan tinggi dan kursus profesional, kecuali untuk pembelajaran jarak jauh; e) penutupan museum, lembaga dan ruang budaya lainnya untuk publik sebagaimana tercantum dalam pasal 101 kitab undang-undang warisan budaya, sesuai dengan Keputusan Legislatif 22 Januari 2004, no. 42. Semua peraturan tentang akses bebas ke lembaga dan ruang tersebut juga ditangguhkan; f) penangguhan semua perjalanan pendidikan baik di dalam Italia maupun ke luar negeri; g) penangguhan semua prosedur pemeriksaan umum dan semua kegiatan kantor-kantor publik, tanpa mengurangi penyediaan layanan-layanan penting dan utilitas publik; h) penegakan tindakan karantina dan pengawasan aktif terhadap individu yang memiliki kontak dekat dengan kasus infeksi yang sudah terkonfirmasi.

Reaksi tidak proporsional terhadap apa yang menurut CNR adalah sesuatu yang tidak terlalu berbeda dari flu biasa yang menyerang kita setiap tahun cukup mencolok. Tampaknya begitu terorisme telah habis sebagai alasan untuk melakukan tindakan darurat, invensi epidemi menawarkan dalih ideal untuk meningkatkannya melampaui berbagai batasan.

Faktor lainnya, yang tidak kalah mengganggu, adalah situasi ketakutan yang dalam beberapa tahun terakhir jelas telah menyebar di antara sanubari individu dan diterjemahkan menjadi kebutuhan autentik akan situasi-situasi kepanikan kolektif yang sekali lagi menguatkan epidemi menjadi dalih ideal. Oleh karena itu, dalam lingkaran setan yang tiada habisnya, pembatasan kebebasan yang diberlakukan oleh pemerintah diterima atas nama keinginan akan keselamatan yang sama-sama diciptakan oleh pemerintah yang sekarang campur tangan untuk memenuhinya.

26 Februari 2020

Giorgio Agamben


*Artikel ini diterjemahkan dari hasil terjemahan European Journal of Psychoanalysis terhadap versi aslinya L’invenzione di un’epidemia.

RELATED ARTICLES

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Filsuf di Tengah Teror Kedamaian Bersama

Di masa hidupku ini, kalau boleh jujur, kegagalan terbesar filsafat Indonesia mewujud dalam diri Martin Suryajaya. Yang berhenti sekedar pada menulis filsafat,...

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Panpsikisme dan Kesadaran

I Salah satu persoalan yang belum selesai dan terus dibicarakan dalam lingkup filsafat ialah kesadaran. Meski para psikolog...

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Filsuf di Tengah Teror Kedamaian Bersama

Di masa hidupku ini, kalau boleh jujur, kegagalan terbesar filsafat Indonesia mewujud dalam diri Martin Suryajaya. Yang berhenti sekedar pada menulis filsafat,...

Paperbook

Recent Comments

Stephanus Aswar Herwinarko on Usulan Berfilsafat (di) Indonesia