Sunday, November 28, 2021
Home Esai Biosekuriti dan Politik

Biosekuriti dan Politik

Apakah masyarakat seperti sekarang masih dapat didefinisikan sebagai manusia, atau apakah hilangnya hubungan langsung, wajah, persahabatan, dan cinta dapat benar-benar dikompensasi oleh jaminan kesehatan yang abstrak dan mungkin sepenuhnya fiktif.

Apa yang mencolok dari reaksi terhadap kebijakan aparatus kedaruratan (the apparatuses of exception) yang telah diberlakukan di negara kita (dan tidak hanya di negara ini) adalah ketidakmampuan untuk mengamati kebijakan itu di luar konteks langsung yang tampaknya merupakan tempat operasinya. Jarang sekali ada orang yang mencoba menafsirkan kebijakan aparatus kedaruratan itu sebagai gejala dan tanda dari eksperimen yang lebih luas — seperti yang disyaratkan oleh setiap analisis politik yang serius — yang mempertaruhkan paradigma baru bagi pengaturan manusia dan benda-benda. 

Dalam sebuah buku yang sudah diterbitkan tujuh tahun lalu, yang sekarang layak dibaca ulang dengan cermat (Tempêtes microbiennes, Gallimard 2013), Patrick Zylberman menggambarkan proses jaminan kesehatan, yang sampai sekarang berada di pinggiran perhitungan politik, menjadi bagian penting dari strategi politik negara dan internasional. Yang menjadi persoalan tidak lain adalah penciptaan semacam “teror kesehatan” sebagai instrumen untuk mengatur apa yang disebut “skenario kasus terburuk.” Menurut logika skenario terburuk inilah pada tahun 2005 Organisasi Kesehatan Dunia mengumumkan “2 hingga 150 juta kematian akibat flu burung sedang mendekat,” dan menyarankan strategi politik yang belum siap diterima oleh negara-negara pada saat itu. 

Zylberman menunjukkan bahwa kebijakan aparatus yang diusulkan diartikulasikan dalam tiga poin: 1) mengonstruksi, berdasarkan kemungkinan risiko, skenario fiktif yang di dalamnya data disajikan sedemikian rupa untuk menggalakkan perilaku yang memungkinkan untuk mengatur situasi ekstrem ; 2) mengadopsi logika skenario terburuk sebagai rezim rasionalitas politik; 3) mengatur secara menyeluruh tubuh warga negara dengan cara memperkuat kepatuhan maksimum terhadap lembaga-lembaga pemerintah, sehingga menghasilkan semacam kewarganegaraan kewargaan yang sangat baik di mana semua kewajiban yang dipaksakan dianggap sebagai bukti altruisme dan warga negara tidak lagi memiliki hak atas kesehatan tetapi secara hukum diwajibkan untuk patuh pada protokol kesehatan (biosekuriti).

Apa yang dijelaskan Zylberman pada tahun 2013 kini telah terkonfirmasi. Jelas bahwa, terlepas dari situasi darurat, yang dikaitkan dengan virus tertentu yang di masa depan dapat digantikan oleh virus lain, pokok soalnya adalah desain paradigma pemerintahan yang pengaruhnya akan melebihi semua bentuk pemerintahan yang dikenal sejauh ini di dalam sejarah politik Barat. Jika, dalam tren besar penolakan terhadap ideologi dan keyakinan politik, alasan keamanan sudah memungkinkan warga negara untuk menerima pembatasan terhadap kebebasan mereka yang sebelumnya tidak mau mereka terima, maka biosekuriti telah menunjukkan dirinya mampu menghadirkan penghentian mutlak terhadap semua aktivitas politik dan semua hubungan sosial sebagai bentuk partisipasi masyarakat yang maksimal. Maka tidak heran jika melihat paradoks organisasi kiri, yang secara tradisional memiliki kebiasaan menuntut hak dan mencela pelanggaran konstitusi, kini menerima pembatasan kebebasan yang dibuat oleh dekrit menteri tanpa dasar hukum dan bahkan tak dapat dibayangkan akan diterapkan oleh fasisme.

Jelas – dan otoritas pemerintah sendiri tidak henti-hentinya mengingatkan kita akan hal itu – bahwa apa yang disebut “jaga jarak” (social distancing) akan menjadi model politik yang menunggu kita, dan bahwa (seperti yang diumumkan oleh perwakilan dari apa yang disebut “Satgas”, yang anggotanya jelas memiliki konflik kepentingan dengan peran yang seharusnya mereka jalankan) hal-hal baik yang hilang karena adanya jaga jarak ini akan diganti oleh perangkat teknologi digital yang di mana-mana menggantikan fisikalitas manusia, yang dengan demikian menjadi tersangka penularan (penularan politik, maksudnya). Kegiatan belajar-mengajar di kampus, seperti yang telah direkomendasikan MIUR, akan dilakukan secara daring mulai tahun depan; Anda tidak akan lagi mengenali diri Anda dengan melihat wajah Anda, yang mungkin ditutupi topeng, tetapi melalui perangkat digital yang mengenali bio-data yang dikumpulkan diserahkan secara wajib; dan setiap “kerumunan”, baik yang dibentuk untuk alasan politis atau hanya untuk kongko-kongko, akan terus dilarang.

Yang dipersoalkan adalah seluruh konsepsi tentang nasib masyarakat dari sebuah perspektif yang, dalam banyak hal, tampaknya telah mengadopsi gagasan apokaliptik tentang akhir dunia dari agama-agama yang sekarang sedang tenggelam. Setelah mengganti politik dengan ekonomi, kini untuk mengamankan pemerintahan pun, ini harus diintegrasikan dengan paradigma baru biosekuriti, di mana semua urgensi lainnya harus dikorbankan. Adalah sah untuk bertanya apakah masyarakat seperti itu masih dapat didefinisikan sebagai manusia, atau apakah hilangnya hubungan langsung, wajah, persahabatan, dan cinta dapat benar-benar dikompensasi oleh jaminan kesehatan yang abstrak dan mungkin sepenuhnya fiktif.

11 Mei 2020
Giorgio Agamben
Artikel ini diterjemahkan dari hasil terjemahan D. Alan Dean terhadap versi aslinya Biosicurezza e politica

Taufiqurrahmanhttp://antinomi.org
Head of Metaphysics and Mind at ZENO Centre for Logic and Metaphysics.
RELATED ARTICLES

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Filsuf di Tengah Teror Kedamaian Bersama

Di masa hidupku ini, kalau boleh jujur, kegagalan terbesar filsafat Indonesia mewujud dalam diri Martin Suryajaya. Yang berhenti sekedar pada menulis filsafat,...

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Panpsikisme dan Kesadaran

I Salah satu persoalan yang belum selesai dan terus dibicarakan dalam lingkup filsafat ialah kesadaran. Meski para psikolog...

Trilema Kebahagiaan, Identitas, dan Keabadian

Dimulai dengan pengisahan sederhana, ketika Shimon Edelman ini pergi ke Utah, tepatnya di Halls Creek dan menuju ke Waterpocket Fold, sampai akhirnya...

Menghidupi Hidup Sepenuhnya dengan Misantropi

Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja saya terlibat perbincangan dengan beberapa teman yang membahas artikel jurnal tentang keabadian, kebahagiaan, dan identitas...

Filsuf di Tengah Teror Kedamaian Bersama

Di masa hidupku ini, kalau boleh jujur, kegagalan terbesar filsafat Indonesia mewujud dalam diri Martin Suryajaya. Yang berhenti sekedar pada menulis filsafat,...

Paperbook

Recent Comments

Stephanus Aswar Herwinarko on Usulan Berfilsafat (di) Indonesia