Sunday, October 24, 2021
Home Translasi Membiarkan COVID-19 Menjadi Penyakit Generasi Muda

Membiarkan COVID-19 Menjadi Penyakit Generasi Muda

Diterjemahkan dari artikel Sarah Zhang, We Are Turning COVID-19 Into a Young Person’s.

Sebagaimana banyak orang tua sekarang ini, Jason Newland, seorang pediatrik (dokter anak—pen.) di Washington University St. Louis dan seorang ayah dari remaja berusia 19, 17, dan 15 tahun, kini tinggal di keluarga dengan jenis vaksinasi yang berbeda. Anaknya yang berusia 19 tahun mendapat jatah vaksin Johnson & Johnson (merk vaksin—pen.) dua pekan lalu, dan anaknya yang berusia 17 tahun mendapat jatah Pfizer, vaksin yang tersedia untuk usia mulai 16 tahun.

Anaknya yang berusia 15 tahun, tengah menunggu gilirannya, dan kini sedikit gelisah. “Dia mengeluh, ‘Ya ampun, coba lihat aku,’” Newland menirukannya padaku. “‘Kenapa gak bilang saja kalau aku sudah 16 tahun?’” Beberapa perusahaan farmasi menetapkan batas usia tertentu untuk fase uji klinis mereka, hanya dia sendiri di keluarganya yang belum bisa mendapatkan jatah vaksin COVID-19. Satu-satunya yang masih rentan. Dia seorang yang masih harus menjalani karantina dari teman-temannya bila sewaktu-waktu terjangkit.

Di Amerika Serikat sendiri, golongan dewasa telah bersiap-siap menikmati musim panas pascavaksinasi, sementara golongan anak-anak masih terombang-ambing dalam ketidakpastian jatah vaksinasi. Jatah Pfizer baru mulai akan didistribusikan untuk usia 12 sampai 15 tahun dalam beberapa pekan ke depan, tetapi mereka yang berusia lebih muda harus menunggu setidaknya sampai musim gugur atau sekitar awal tahun 2022 untuk memasuki fase uji klinis. Strategi “pembagian usia” ini penting dalam uji klinis, tetapi juga berarti periode membingungkan antara golongan dewasa yang tervaksin dan golongan anak yang belum tervaksin tak akan selesai dalam waktu dekat. Dan situasi pandemi akan mulai terlihat berbeda.

Bagaimana bedanya? Adanya vaksinasi telah mengubah lanskap risiko COVID-19 berdasarkan usia. Di Amerika Serikat sendiri, angka penerimaan rumah sakit telah merosot tajam untuk golongan dewasa di atas 70 tahun yang telah diprioritaskan untuk divaksinasi, sementara angka tersebut masih cukup stabil—atau bahkan sedikit melonjak—pada golongan lebih muda yang menjadi lebih rentan akhir-akhir ini. Kemungkinan tren ini akan terus berlanjut sampai vaksin telah menjangkau penuh golongan dewasa yang lebih muda dan yang ada di bawahnya. Selama musim panas, dapat dipastikan angka pertumbuhan kasus akan merosot tajam seiring vaksinasi massal yang dilakukan menekan penularan, sementara jumlah kasus di antara mereka yang belum tervaksinasi akan meningkat, karena hanya merekalah yang masih rentan. Tentu saja, kelompok yang belum tervaksinasi itu, akan dipenuhi oleh golongan anak. Berkat urutan dalam vaksinasi ini, COVID-19 akan mulai terlihat seperti penyakit generasi muda.

Artinya vaksinasi telah berhasil, tetapi di saat yang sama juga banyak warga Amerika akan berpikir ulang mengenai risiko COVID-19. Golongan dewasa yang tahun lalu sibuk memikirkan nasib orang tuanya kini mulai sibuk memikirkan nasib anak-anaknya. Tetapi tentu saja, risikonya tidaklah setara: anak-anak memiliki kemungkinan 8.700 kali lebih kecil untuk meninggal karena COVID-19 bila dibandingkan dengan mereka yang berusia di atas 85 tahun. Meski begitu “walau risikonya tidak begitu tinggi, kita akan tetap ekstra menjaga anak-anak kita,” ungkap Sandra Albrecht, seorang epidemiolog (ahli wabah—pen.) di Kolombia. “Karena itu sifat alamiah manusia.”.

Beberapa bulan ke depan, para orang tua akan kembali menjalani kehidupan mereka seperti biasa, sementara anak-anak mereka masih harus memakai masker di dalam ruangan. “Rasanya aneh sekali untuk merasa terlindungi sementara anak-anak kita tidak merasakannya,” ungkap Jennifer Nuzzo, seorang ahli wabah di Johns Hopkins kepadaku. Meski begitu sekitar 30 juta keluarga masih memiliki anak yang begitu muda untuk dapat divaksinasi; di keluarga seperti ini, baik orang tua dan pengasuh, terutama anak-anak bungsu mereka, harus terus sigap menjalani dunia yang tidak berimbang ini.

Faktor risiko terbesar yang perlu dipertimbangkan untuk anak-anak yang belum tervaksinasi, berdasarkan keterangan ahli kepadaku, adalah seberapa banyak COVID-19 telah menyebar di masyarakat kita. Amerika Serikat saat ini menjalankan program vaksinasi dengan cukup baik, dan dengan datangnya sebagian imunitas kawanan akan memperlambat penularan virus corona. Pengaruh cuaca juga dapat mendorong penurunan angka kasus di musim panas. “Jika hanya ada sedikit virus yang beredar saat itu, risikonya juga menjadi cukup rendah,” ungkap Sean O’Leary, seorang dokter anak di Rumah Sakit Anak Kolorado.

Para ahli bersepakat mengenai ambang atas bagi pembatasan umum menyeluruh dapat mulai dilonggarkan ketika angka kasus telah mencapai 5.000 sampai 10.000 per harinya—kisaran angka di mana risiko COVID-19 dapat disandingkan secara kasar dengan risiko flu biasa. (Untuk konteksnya, angka rata-rata per tujuh hari kasus COVID-19 di Amerika Serikat sendiri mencapai titik terendahnya di angka 20.000 selama musim panas kemarin dan memuncak sampai 250.000 selama musim dingin; dan angka itu bertahan sampai 70.000.) Meski begitu tidak semua orang merasa tenang dengan tingkat risiko yang terbilang sama. Bahkan sebelum pandemi, O’Leary mengungkapkan, para orang tua yang memiliki anak dengan kondisi medis berisiko tinggi telah sangat berhati-hati, seperti bepergian saat musim flu tiba. Dan COVID-19 telah menjadi penguat alasan bagi keluarga tersebut untuk menjadi lebih waspada.

Meski begitu, gerak negara ini telah mengarah untuk membuka dirinya kembali. Beberapa negara bagian telah menyudahi peraturan pemakaian masker dan pembatasan umum COVID-19. Seberapa rendah kasus di Amerika Serikat tahun ini akan bergantung pada kecepatan kita dalam melakukan injeksi pada populasi yang sulit dijangkau, serta tetap mengawasi mereka yang masih belum tervaksinasi. Membiarkan semua kembali setelah setahun penuh pembatasan jarak memang cukup menggoda, tetapi seperti yang ditulis oleh kolegaku Katherine Wu, hari-hari pengabaian vaksin (vaccine cheat days—pen.) kian marak.

Keberadaan ragam varian juga dapat mempengaruhi jumlah kasus, tetapi tidak sepenuhnya jelas seberapa besar. belum lama ini, para ilmuwan di Inggris memperkirakan rantai (strain—pen.) B.1.1.7 mungkin untuk lebih menular secara tidak wajar pada golongan anak ketimbang golongan dewasa, tetapi pola tersebut tidak bertahan lama. Penyebabnya mungkin karena varian tersebut pertama terdeteksi setelah kegiatan belajar-mengajar di Inggris kembali dibuka pada musim gugur, berdasarkan keterangan Oliver Ratmann, seorang ahli statistik dari Imperial College London yang berhasil memodelkan implikasi varian pada anak. Kegiatan belajar-mengajar kemudian ditutup kembali dan perjalanan pola tersebut berubah selama liburan, yang memperumit pelacakan tren awal. Pola B.1.1.7 sebelumnya pada golongan anak mungkin hanya kebetulan muncul karena merekalah yang berpeluang untuk menularkannya saat itu, terutama karena sekolah-sekolah di Inggris tidak menaruh kewaspadaan tinggi, seperti aturan memakai masker, dibandingkan dengan banyak sekolah di Amerika Serikat. Bukti apakah varian ini menimbulkan penyakit yang lebih parah juga masih belum jelas.

Yang jelas, B.1.1.7 lebih mudah menular ketimbang virus semula pada semua golongan usia. Di beberapa tempat, hal tersebut dapat menjadi ujung dari meningkatnya jumlah kasus, tetapi faktor lain juga jelas memiliki peran. Contohnya, di Michigan memiliki banyak kasus B.1.1.7 dan tengah mengalami lonjakan mengerikan angka COVID-19, tetapi di Florida dengan kasus B.1.1.7 yang sama, justru tidak mengalami lonjakan. “Adanya varian tidak menjamin, tetapi juga tidak sepenuhnya dapat diabaikan,” ungkap Nuzzo. Tindakan pencegahan yang berhasil sebelumnya—seperti sirkulasi udara yang baik, masker, dan pembatasan jarak—masih berguna menghadapi B.1.1.7.

Mayoritas kekhawatiran ini dapat mengerucut ke sekolah, yang menjadi salah satu tempat utama mereka yang belum tervaksin—semisal anak-anak—berkumpul. Sebagaimana Amerika Serikat telah lihat, wabah di sekolah sangat mungkin terjadi, tetapi hal itu dapat diminimalisir dengan tindakan pencegahan. Ini berarti golongan anak, yang kemungkinan belum tervaksinasi sebelum musim gugur, masih harus memakai masker di dalam ruangan. Tidak dapat dipungkiri bahwa manfaat dari belajar-mengajar tatap muka cukup signifikan, berdasarkan penjelasan para ahli kepadaku, bahwa sekolah semestinya dapat dibuka meski golongan anak belum sempat mendapat jatah injeksinya.

Pertanyaan yang lebih rumit adalah apa yang dapat anak-anak lakukan di luar jam belajar seperti ketika istirahat, berolahraga, dan kegiatan ekstrakurikuler. Di Michigan sendiri, pemerintah telah menyatakan bahwa kegiatan olahraga sekolah dan berkerumun dalam olahraga—ketimbang berada di kelas—dapat mendorong peningkatan kasus di golongan remaja. Para orang tua dan anak-anak harus memutuskan risiko mana yang lebih layak untuk dipilih. Newland mengungkapkan bahwa putrinya yang berusia 15 tahun lebih memilih mengunjungi teman dekatnya dan berolahraga. Dan memutuskan untuk tetap mengikuti proses belajar-mengajar secara daring, walau risiko untuk tertular COVID-19 di sekolah telah cukup rendah, karena bila sampai terjangkit di sekolah membuatnya harus di karantina dan membatasi dirinya untuk berolahraga, yang merupakan hal penting baginya. Itulah pengorbanan yang mereka pilih, tetapi tentu saja mereka tidak akan membuat pilihan. Sebagaimana Newland ungkapkan, “Aku merasa lebih aman pada putriku yang lain, yang mendapat jatah vaksinasinya di usia 17 tahun.”.

Setidaknya nasib anak usia 15 tahun jelas terlihat; mereka akan mendapatkan jatah vaksin Pfizer sebentar lagi. Orang tua dari golongan anak yang lebih muda harus terbiasa dengan memilih banyak keputusan seperti ini lebih lama. Di dunia ganjil mereka saat ini, perayaan makan malam bersama dengan teman sebaya mereka bukan sebuah masalah, tetapi perayaan ulang tahun anak berusia 5 tahun jelas dapat menularkan virus. Ketika aku bertanya pada beberapa ahli mengenai perandaian pesta untuk anak-anak prasekolah yang belum tervaksinasi pada musim gugur ini, mereka menyarankan padaku untuk tetap berusaha mengurangi risiko yang mungkin, seperti membatasi kerumunan tetap kecil dan agar diadakan di luar ruangan. Saran seperti ini sebenarnya sulit untuk diberikan: Karena mereka tidak mengetahui pasti seperti apa kondisinya (perayaannya—pen.) dan seberapa banyak virus yang masih ada di sana. Ke depannya mungkin COVID-19 akan memudar sehingga orang-orang tidak akan menghabiskan setiap menit memikirkan virus ini lagi. Namun mungkin saja tidak.

Untuk membuat lebih sulit lagi, situasinya mungkin tidak akan sama di berbagai tempat di Amerika. Seperti, masyarakat pedesaan tercatat memiliki minat lebih rendah untuk mendapatkan jatah injeksi ketimbang masyarakat yang tinggal di kota atau pun pinggiran kota. Hal itu bisa saja disebabkan karena keraguan atas vaksin yang ada atau ketidaksetaraan akses terhadapnya, “Aku rasa ada banyak sekali perbedaan secara geografis,” ungkap Whitney Robinson, seorang ahli wabah di UNC Gillings School of Global Public Health. Virus ini mungkin dapat terus beredar di negara-negara yang golongan dewasanya masih belum tervaksinasi. Golongan dewasa tersebut, serta ditambah golongan anak yang belum memenuhi kriteria, dapat menjadi kumpulan kelompok rentan yang besar. Pada akhirnya, risiko terhadap golongan anak yang belum tervaksinasi akhir tahun ini bergantung pada tindakan yang akan kita ambil sekarang. Semakin cepat kita melakukan vaksinasi terhadap diri kita sendiri dan semakin baik kita dapat menekan angka kasus melalui tindakan lainnya, maka semakin aman situasi untuk mereka yang belum mendapat injeksi pada musim gugur ini. Kemudian, para orang tua, akhirnya dapat berhenti menyuruh anak-anak mereka melakukan hal-hal yang mereka sendiri tidak lakukan—sebagai mantan golongan anak, aku sangat setuju, itu benar-benar tidak adil.

*Diterjemahkan dari artikel Sarah Zhang berjudul “We Are Turning COVID-19 Into a Young Person’s”. The Atlantic, 2021.

**Photo by Taylor Brandon on Unsplash

Fajar N.
Pembaca Darwin dan bioetika
RELATED ARTICLES

Biopolitik Virus Corona: Paradoks Warisan Foucauldian Prancis

Para cendekiawan Prancis kerap menyatakan bahwa pandemi COVID-19 mempertunjukkan “biopolitik virus corona” (Zarka 2020, terjemahan penulis). “Biopolitik” Foucauldian adalah kritik terhadap...

Agamben: Wajah dan Kematian

Tampaknya dalam tatanan planet baru yang mulai terbentuk, dua hal, yang tampak tidak berhubungan satu sama lain, dirancang untuk sepenuhnya tersingkirkan: wajah...

Biosekuriti dan Politik

Apa yang mencolok dari reaksi terhadap kebijakan aparatus kedaruratan (the apparatuses of exception) yang telah diberlakukan di negara kita (dan tidak hanya...

1 Comment

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Posisi Penafsiran dalam Konstruksi “Esensi” Filsafat Indonesia

*Artikel ini adalah tanggapan atas artikelnya Muhammad Qatrunnada Ahnaf Tulisan saya yang berjudul Sebelum Menjalin atau Membangun Filsafat Indonesia...

Beberapa Persoalan Tentang Usaha Membangun Filsafat Indonesia

Ada beberapa hal yang menurut saya perlu disoroti dalam perdebatan mengenai filsafat Indonesia. Saya merasa filsafat masih diandaikan memiliki sebuah identitas esensial....

Pembebasan Filsafat Indonesia Hari Ini

*Artikel ini ditulis sebagai respon terhadap semua tulisan sebelumnya mengenai problematika Filsafat Indonesia. Sebelum perdebatan ini terperosok terlalu...

Sebuah Jalan Keluar dari Hegemoni Filsafat Barat

Ada hantu yang bergentayangan di dalam diskursus filsafat Indonesia. Hantu-hantu filosof leluhur Indonesia. Filsafat Indonesia dapat dibebaskan hanya setelah mumifikasi pemikiran leluhur...

Paperbook

Recent Comments

Stephanus Aswar Herwinarko on Usulan Berfilsafat (di) Indonesia