More

    Apa Itu Seni?

    Apa itu seni? Dan bagaimana kita dapat mengidentifikasi suatu objek sebagai sebuah karya seni?

    Moh. Gema
    Pembaca One Piece. Tertarik pada filsafat sains dan metafisika.

    Artikel Terbaru

    Apa Itu Seni?

    Berkaitan dengan kegiatan manusia, seni merupakan sebuah bentuk kegiatan yang kemunculannya berulang. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa setiap manusia menunjukan eviden...

    Jared Diamond: Bagaimana COVID-19 dapat mengubah dunia — menjadi lebih baik

    Saat ini, COVID-19 menghancurkan dunia. Dia sedang dalam proses menginfeksi banyak (mungkin bahkan sebagian besar) dari kita, membunuh beberapa, menutup hubungan...

    Teori Kemunculan Islam dan Kristen

    Pada dua sampai tiga dekade terakhir telah muncul madzhab baru dalam kajian Islam di Barat, banyak pengikut dari madzhab ini menyebut...

    Apakah Sains itu Agama?

    Adalah lumrah untuk menjadi apokaliptis mengenai ancaman terhadap kemanusiaan yang diakibatkan oleh virus AIDS, musibah “lembu gila” dan banyak lainnya, namun...

    Catatan Tentang Properti

    Properti (sifat) adalah sesuatu yang melekat pada objek. Dalam bukunya, John W. Carroll dan Ned Markosian (selanjutnya ditulis penulis) memulai pembahasan tentang...

    Berkaitan dengan kegiatan manusia, seni merupakan sebuah bentuk kegiatan yang kemunculannya berulang. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa setiap manusia menunjukan eviden sebagai aktivitas artistik. Tujuan filsafat seni adalah mengeksplorasi konsep yang membuat kreativitas dan pemikiran tentang seni mungkin. Beberapa konsep tersebut termasuk: konsep seni itu sendiri, begitu juga konsep representasi, ekspresi, bentuk artistik dan estetika. Dalam artikel ini saya tidak akan membahas semua konsep tersebut. Saya hanya akan membahas dimensi yang fundamental dari konsep seni itu sendiri yaitu, definisi dan identifikasi seni. Dengan demikian artikel ini berawal dari pertanyaan pendek, “apa itu seni? Dan bagaimana kita dapat mengidentifikasi suatu objek sebagai sebuah karya seni?”

    Untuk menganalisis konsep seni para filsuf seni biasanya menggunakan pendekatan standar, yaitu metode kondisi keniscayaan dan kecukupan alasan. Dengan pendekatan ini kita dapat menganalisis konsep seni dengan memecah konsep tersebut pada kondisi keniscayaan dan kecukup-alasan-nya. Pendekatan ini mungkin agak sedikit kontroversial, namun kita dapat mempraasumsikannya sebagai sebuah pendekatan yang praktibel dalam menganalisis suatu konsep.

    Para filsuf seni memulainya dengan memahami sebuah konsep sebagai sebuah kategori tertentu. Konsep ini diaplikasikan pada sebuah objek yang terklasifikasi sebagai sebuah elemen dari kategori tertentu. Kategorisasi mengikutsertakan penentuan kriteria atau kondisi yang dibutuhkan untuk menjadikannya sebagai anggota dari kategori tersebut. Lokusi yang dibutuhkan untuk memenuhi kondisi keniscayaan dan kecukupan-alasan adalah “jika dan hanya jika” di mana “hanya jika” sebagai kondisi keniscayaan dan “jika” sebagai kondisi kecukupan-alasan. Dengan ini kita dapat memformulasikannya sebagai berikut: y adalah x jika dan hanya jika y adalah P dan Q. Misalnya dalam teori representasionalisme, lukisan abstrak adalah seni jika dan hanya lukisan tersebut merepresentasikan perasaan tertentu dan terdapat kreator artistik yang mempraktikannya.

    Tidak lama ini usaha untuk mendefenisikan seni seperti teori institusional seni dan definisi historis atas seni telah terbukti tidak konklusif. Selain itu kedua pendefinisian tersebut tidak dapat kita gunakan sebagai petunjuk yang berguna untuk mengidentifikasi seni karena rekonstruksi yang dibuat tidak memuaskan.[1] Namun demikian kita masih dapat mengidentifikasi seni—khususnya dalam pengklasifikasian kandidatnya sebagai artwork—dengan konsensus tertentu. Jika memang begitu apakah kita harus berhenti mendefinisikan seni dan menyerahkannya pada konsensus masyarakat seni tertentu? Bagaimana jika usaha untuk mendefinisikan seni dapat dilakukan dengan metode yang tidak mengikutsertakan kondisi keniscayaan dan kecukupan alasan?

    Neo-wittgenstenianism adalah salah satu usaha dalam melawan pendefinisian seni. Dalam pemhaman ini objek yang dinamakan seni terlalu besar untuk didefinisikan dengan satu definisi tertentu. Filsuf-filsuf dari pemahaman ini dipengaruhi oleh pemikiran Ludwig Wittgenstein dalam bukunya yang berjudul “Philosophical Investigations”. Menurut garis pemikiran ini kegagalan teori-teori seni dalam mendefinisikan seni bukan karena kekurangan imajinasi, intelejensi atau kecerdikan, melainkan karena terdapat alasan filosofis yang lebih dalam bahwa, secara niscaya seni tidak dapat didefinisikan.

    Teori-teori seni sebelumnya berusaha mendefinisikan seni dengan berdasarkan pada pendefenisian secara esensial, yaitu dengan mengikutsertakan keniscayaan dan kecukupan alasan. Para neo-wittgensteinis setuju bahwa kita perlu mengidentifikasi seni tapi bukan dengan bingkai definisi seni untuk kemudian mengaplikasikannya pada kasus-kasus partikular. Mengikuti Wittgenstein, mereka berpikir bahwa prosedur identifikasi seni dapat dilakukan dengan metode kemiripan (resemblances). Banyak konsep dalam sebuah bahasa tertentu kekurangan definisi dalam pengertian kondisi keniscayaan dan kecukupan-alasan tapi konsep tersebut dapat diaplikasikan pada basis kemiripan daripada sebuah formula tertentu, tidak terkecuali konsep seni.

    Sebelum membahas metode yang digunakan untuk mengidetifikasi seni saya akan meksplor lebih jauh alasan kenapa seni, pada alasan-alasan logis, tidak dapat didefnisikan. Morris Weitz, seorang neo-Wittgensteinian mengemukakan argumennya yang disebut “argument konsep terbuka” sebagai berikut[2]:

    “’Seni’ dalam dirinya sendiri adalah konsep yang terbuka. Kondisi (kasus) baru yang muncul secara konstan dan tidak diragukan lagi akan muncul bentuk seni yang baru, gerakan baru akan muncul, yang akan menuntut . . . keputusan apakah konsep seni dapat diperluas atau tidak. Mungkin estetikawan akan mendasarkan kondisi tertentu tapi bukan sesuatu yang niscaya dan cukup untuk mengaplikasikan konsep tersebut secara benar. . . . bahwa karakter seni yang ekspensif beserta petualangannya, perubahannya yang konstan, serta kreasi barunya membuat konsep seni mustahil secara logis untuk dapat memastikan setiap himpunan properti definisi”

    Apa yang ingin dikatakan oleh Weitz di atas adalah bahwa seni—kegiatan kesenian—selalu, paling tidak pada prinsipnya, terbuka pada perubahan revolusioner. Argumen Weitz ini mengimplikasikan bahwa seni tidak memerlukan keaslian untuk dinamakan sebagai seni. Meskipun demikian kegiatan kesenian—atau konsep kegiatan kesenian—demikian rupa harus dapat mengakomodasi kemungkinan perubahan secara permanen, baik itu ekspansi maupun kebaruan.[3] Dalam konsep seni yang demikian harus selalu ada ruang untuk seniman untuk melakukan sesuatu yang baru. Jika konsep seni ditutup dengan definisi yang di dalamnya inheren kondisi keniscayaan dan kecukupan maka akan tidak kompatibel dengan kegiatan kesenian yang secara konsisten membuka kemungkinan permanen dari kreativitas artistik.

    Kekeliruan filsafat seni dalam mendefinisikan seni adalah asumsi bahwa seni dapat didefinisikan dan merupakan sebuah konsep tertutup daripada konsep terbuka. Namun bukan berarti jika semua teori seni yang mendefinisikan seni gagal maka setiap usaha di masa depan akan gagal. Argumen Weitz tidak sesimpel argument induktif yang didasarkan pada kegagalan masa lalu. Argumennya adalah bahwa setiap usaha untuk mendefinisikan seni secara niscaya akan gagal karena seni merupakan konsep terbuka.

    Problem pendefinisian ini dapat kita lihat dalam usaha untuk mendefinisikan seni secara historis. Para filsuf mengemukakan teori seni pada waktu tertentu dalam sejarah. Kemudian para seniman kontemporer mempelajari teori tersebut dan membuat karya seni di luar definisi yang dikemukakan, misalnya Duchamp dengan karya seninya yang dinamakan Fountain. Berdasarkan teori seni ini karya Duchamp dipertanyakan status keseniannya. Tapi sejarah seni terus berlangsung dan Fountain menjadi karya seni yang agung dan menolak teori tersebut. Teori seni berusaha untuk menutup konsep seni tapi para seniman berusaha untuk melampaui penutupan tersebut dan akhirnya konsep seni lebih relevan dengan seniman daripada teori seni itu sendiri.[4] Hal demikian terjadi karena seni merupakan konsep yang terbuka.

    Jika seni memang tidak dapat didefinisikan bagaimana kemudian kita dapat mengidentifikasi karya seni? Neo-Wittgensteinian menguraikannya dengan mengacu pada analisis Wittgenstein tentang permainan. Dalam sebuah permainan terdapat sebuah aturan yang dimiliki oleh permainan tertentu dan tidak dimiliki oleh permainan lainnya. Tidak ada fitur yang perseptibel yang merepresentasikan kondisi keniscayaan yang dimiliki oleh semua permainan. Bagaimana kemudian kita dapat menentukan sesuatu sebagai aktivitas sebuah permainan?

    Kita melakukannya dengan mengelompokan sesuatu berdasarkan kemiripannya dalam beberapa hal signifikan yang kita anggap sebagai permainan secara paradigmatik: yaitu mengikutsertakan kompetisi tertentu, penilaian, giliran, lawan, waktu permainan, dan sebagainya. Sama halnya dengan permainan, neo-Wittgenstenian mengidentifikasi karya seni tidak berdasarkan definisi tetapi kemiripan karya seni secara paradigmatic.  Kita dapat memulainya dengan sesuatu yang semua orang setuju dianggap karya seni. Kemudian memeriksa status kesenian kandidat tersebut dan menentukan kemiripannnya dengan paradigma yang ada. Tidak ada korespondensi yang niscaya dan cukup. Yang ada hanyalah rumpun kemiripan paradigmatik.

    Ketika kita mengaplikasikan pendekatan rumpun kemiripan pada suatu objek apakah objek tersebut sebuah karya seni atau bukan, kita tidak hanya membandingkan sebuah karya baru dengan paradigma kita. Sebuah karya baru mirip dengan paradigma asli kita dalam pengertian ekspresivitas, bentuk, dan dimensi lainnya. Tidak ada satu himpunan pengakuan atau banyaknya korelasi antara sebuah karya baru dan paradigma yang ada yang harus dihasilkan sebelum kita mengkategorisasikannya sebagai sebuah seni, klasifikasi karya baru menjadi tidak dapat dibatasi.

    Metode rumpun  kemiripan memberikan kita ekslpanasi yang masuk akal tentang bagaimana kita mengaplikasikan suatu konsep daripada pendekatan definisional—karena setiap uasaha untuk merekonstruksi definisi yang relevan gagal—bahwa konsep seni lebih mirip seperti sebuah permainan daripada konsep segitiga sama sisi. Pendekatan ini kontras dengan pendekatan definisional yang mendasarkan dirinya pada properti umum yang didefinisikan secara esensial. Rumpun kemiripan menjelaskan bagaimana mungkin kita dapat menyortir sesuatu sebagai seni dari sesutau yang bukan seni. Maka dari itu pendekatan ini lebih berguna untuk mengidentifikasi seni karena kemiripan adalah sesuatu yang dapat kita akses daripada pendefinisian fitur dari seni secara esensial.


    [1] Lih. Noёl Carroll, 2002, Philosophy of Art: A Contemporary Introduction, Routledge, London, hal. 208-209, 249.

    [2] Seperti dikutip oleh ibid., hal. 210.

    [3] Ibid..

    [4] Lih. Tiziana Andina, 2012, The Philosophy of Art, diterjemahkan oleh Natalia Iacobelli, Bloomsbury, London, New York, hal. 107-115.

    Photo by Viktor Talashuk on Unsplash

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here