Friday, September 17, 2021
Home Essai Ibn Sina, Metafisika Cinta, dan Moralitas Egoistis

Ibn Sina, Metafisika Cinta, dan Moralitas Egoistis

Ketika mendengar nama Ibn Sina, kita akan terpikir sosok dan karya. Sosok yang tergambar tentu: Jenius, ambisius, dan telaten. Karya yang terngiang tentu: besar-besar dan berjilid-jilid, mulai dari yang membahas ilmu eksak sampai ke mistisisme. Di antara sosok jenius yang direpresentasikan oleh karya besar-besar itu, kita menemukan remah-remah pemikiran Ibn Sina yang kurang terkenal; ialah mistisisme cinta yang ia tuangkan dalam kitab kecil berjudul Risālah fī Māhiyah al-‘Isyq (Tentang Cinta, Circa, 2021).

Ibn Sina menulis risalah ini atas permintaan muridnya bernama Al-Ma’shumi. Dilihat dalam bingkai alur pemikiran, dapat ditangkap bahwa risalah tersebut ditulis di masa akhir hidup Syekh Rais. Kenapa? Di masa awal perjalanan filosofisnya, arah pemikiran Ibn Sina lebih dekat dengan tradisi Aristotelian dibanding Neo-platonisme. Namun menjelang akhir hayatnya, kita disuguhi oleh Ibn Sina dengan hidangan tasawuf rasional khas Plotinus dan mistisisme tradisional khas Al-Hallaj. Di bagian akhir kitab al-Isyārāt wa at-Tanbīhāt, kecenderungan mistisisme itu akan terlihat jelas. Di sana Ibn Sina mengangkat tema tentang kebahagiaan (bahjah) jiwa berdasar pada tingkat penerimaannya atas sinaran Dzat yang Niscaya, yang ditempuh melalui (i) jalan penalaran yang lurus, dan (ii) laku asketis yang konsisten.

Risalah Tentang Cinta menempuh jalan lain yang sepenuhnya menantang. Alih-alih membeberkan jalan menuju cinta, Ibn Sina justru menunjukkan bahwa tak ada entitas apa pun yang bisa lepas dari genggaman cinta. Dengan kata lain, Ibn Sina ingin mengatakan bahwa cinta adalah keniscayaan itu sendiri. Tanpanya tak akan ada wujud, mulai dari wujud yang kasar, yaitu alam materi yang berisi benda mati dan makhluk hidup, sampai ke wujud ruhani yang tidak menghuni alam materi dan tidak pula dikondisikan oleh materialitas. Semuanya tercerabut menuju cintanya masing-masing. Inilah apa yang bisa kita sebut dengan metafisika cinta.

Metafisika Cinta

Premis Ibn Sina untuk menunjukkan adanya cinta dalam tiap entitas cukup sederhana. Segala sesuatu yang dideterminasi oleh suatu tujuan punya dua keadaan yang mengikat: (i) berjuang menuju kesempurnaannya, dan (ii) menghindar dari kekurangan identiknya. Kesempurnaan adalah timbangan pertama segala sesuatu bisa dikatakan memiliki cinta. Kesempurnaan secara ontologis adalah keberadaan entitas itu sendiri. Entitas yang mewujud selalu dipeluk oleh dorongan menuju kesempurnaannya, dan dorongan itu niscaya karena tak ada satu pun dari entitas itu yang tidak berusaha mewujud atau mengaktual dan mode aktualisasi diri itu adalah mode menuju kesempurnaannya sendiri. Kesempurnaan sebagai tujuan tidak mungkin tercapai tanpa adanya dorongan. Dorongan inilah yang disebut cinta (‘isyq) oleh Ibn Sina. Cinta dalam tiap entitas menuntun entitas tersebut menuju kesempurnaannya dengan jalan menghindar dari kekurangan identiknya. Apa itu kekurangan identiknya? Jawabannya: keburukan materialitas dan nihilitas. Tiap wujud selalu menghindar dari nihilitas dirinya sendiri. Substansi sederhana non-hayati, ambillah contoh, selalu mengganti formanya begitu ia kehilangan suatu forma. Tanpa forma, substansi akan nihil, hilang, tidak ada. Dengan demikian, tiap entitas pasti dikondisikan oleh cinta yang naluriah dan hasrat atau dorongan yang alamiah.

Berkait erat dengan apa yang diungkap oleh Ibn Sina di atas adalah dua hal berikut ini. Pertama, kendati Ibn Sina tidak menunjuk secara eksplisit ayat al-Quran, namun pendasaran logis dan metafisis atas cinta yang diangkatnya mencerminkan ayat ke-44 dalam surat Al-Isrā’: “Tak ada suatu apa pun kecuali ia bertasbih dengan memuji-Nya.” Segala sesuatu, baik yang ada di muka bumi maupun di langit, tak akan lepas dari aktivitas bertasibih, yakni menyucikan dzat Allah. Kita, sang manusia, tidak tahu bagaimana cara mereka bertasbih, tetapi kita dituntut untuk percaya bahwa mereka melakukan hal itu. Melalui Ibn Sina, afirmasi atas tasbih mereka didasarkan kepada cinta. Metafisika yang bernuansa mistisisme logis menunjukkan segala sesuatu berjuang menuju kesempurnaan. Apa itu kesempurnaannya? Mencapai dzat yang Maha Sempurna, dzat yang rela diimitasi oleh segala sesuatu.

Kedua, filsuf kontemporer Philip Goff belakangan ini mengangkat masalah filosofis-saintifik yang ia sebut sebagai panpsikisme. Panspsikesme adalah semacam doktrin mengenai kesadaran yang meluas. Tidak hanya manusia yang memiliki kesadaran, benda dan segala sesuatu juga memiliki kesadaran. Premisnya berbunyi: dalam konstruksi metafisis, postulat bahwa kesadaran ada dalam semua hal harus diterima jika kita ingin menyatakan bahwa ada makhluk yang berkesadaran. Ibn Sina tidak menyebut teori cintanya sebagai efek psikis. Tetapi barangkali doktrinnya akan mengarah ke sana jika ditinjau melalui sains modern. Kesadaran merupakan efek dari kondisi wujud. Tiap hal yang mewujud memiliki kesadarannya masing-masing, yang, jika boleh dikata: bertingkat. Tingkat kesadaran substansi kasar non-hayati berbeda dengan kesadaran substansi hayati, dan seterusnya. Panspsikisme modern tidak bisa membuktikan postulat metafisika kesadaran selain melalui argumen abduktif. Penalaran abduksi menyatakan bahwa kesimpulan bisa ditarik dari aksi ke fakta. Kenapa Tono selalu berangkat kerja sepuluh menit lebih awal dari biasanya? Karena hatinya sedang bahagia. Aksi yang terjadi terus menerus, yakni hati yang bahagia, dipakai untuk menyimpulkan fakta, yakni keberangkatan lebih awal. Dalam panpsikisme, abduksi dipakai untuk menunjukkan kesadaran yang meluas melalui makhluk yang berkesadaran, yakni manusia. Manusia adalah makhluk berkesadaran karena ia adalah bagian dari segala sesuatu yang memang memiliki kesadaran. Ditinjau melalui metafisika cinta Ibn Sina, penalaran soal kesadaran tidak berangkat dari abduksi, melainkan logika koherensi. Suatu penyimpulan akan dianggap benar jika premis-premisnya koheren satu sama lain. “Segala sesuatu senantitasa berjuang menuju kesempurnaannya. Dan segala sesuatu yang berjuang menuju kesempurnaannya pasti didorong oleh cinta alamiah. Kesimpulannya: segala sesuatu memiliki cinta alamiah.” Di tingkat metafisika, pembenaran berdasarkan korespondensi amat susah dicapai. Oleh sebab itu, cukuplah kita memakai pembenaran koherensi.

Berbanding lurus dengan hal di atas, kita harus meletakkan doktrin cinta Ibn Sina dalam bingkai mistisisme logis, bukan penalaran saintis. Mistisisme logis dapat membuat klaim tanpa merujuk ke fakta lapangan yang dapat teramati. Itulah sebabnya ketika berbicara entitas kasar-material, Ibn Sina mengandaikan metafisika Aristotelian soal forma dan materia. Sementara ketika berbicara soal entitas hidup dan berakal, ia mengandaikan ilmu jiwanya Plotinus dan mistisisme Hallajian. Jiwa manusia maupun bukan selalu mengarah kepada yang baik, yang indah, atau yang elok. Dan tiada dzat yang lebih elok dibanding Kebaikan Murni. Jiwa-jiwa itu selalu tersambung (ittishāl) dan bahkan menuju ke penyatuan (ittihād) terhadap Sang Kebaikan Murni itu.

Moralitas Egoistis

Di tingkat kesadaran penuh, yakni kesadaran manusia, cinta yang disinggung oleh Ibn Sina adalah cinta dalam dua tahap: (i) cinta naluriah yang tanpa pilihan, dan (ii) cinta kondisional yang penuh pilihan. Manusia termasuk ke dalam fakultas hewan. Fakultas ini bekerja berdasarkan insting dan otomatisasi. Karena dorongan fakultas hewani, manusia memiliki hasrat untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Maka ia butuh makan, minum, dan berkembang biak. Dorongan untuk makan dan minum adalah dorongan manusia untuk mengabadikan dirinya sebagai individu. Dan ketika ia mendapati bahwa individu tidaklah abadi, maka dorongan untuk berkembang biak adalah pilihannya. Dorongan ini bertujuan untuk mengabadikan manusia sebagai spesies bukan individu.

Cinta manusia yang berdasarkan pilihan muncul dari fakultas rasional, yang oleh semua pakar filsafat klasik disebut sebagai pembeda antara manusia dengan spesies lainnya. Fakultas ini tidaklah dikondisikan oleh insting yang bekerja otomatis, melainkan dikondisikan oleh pilihan bebas. Pilihan bebas adalah postulat utama bagi adanya moralitas. Moralitas bukanlah dorongan insting manusia untuk melakukan A atau B yang pastinya, dalam metafisika cinta Ibn Sina, selalu mengarah kepada pemenuhan atas kesempurnaan materialnya. Lebih dari itu moralitas adalah kondisi di mana manusia bisa memilih untuk melakukan tindakan A atau meninggalkannya, beralih ke tindakan B atau sama sekali tidak beralih ke sana. Pilihan-pilihan inilah yang menjadikan manusia berbeda dari sekian hewan.

Moralitas yang secara implisit diusung oleh Ibn Sina dalam risalah Tentang Cinta, bagi saya, dapat digolongkan sebagai moralitas egoistis. Ayn Rand dalam bukunya The Virtue of Selfishness menyebut moralitas ini sebagai moralitas objektif (objective morality). Secara garis besar, moralitas jenis ini berhadap-hadapan dengan moralitas altruistis, yakni moralitas yang memandang nilai kebaikan dan kebajikan ada pada profit bagi orang lain. Sepanjang orang peduli dengan orang lain di atas kepentingan dirinya sendiri, sepanjang itulah orang itu disebut moralis; demikian moralitas altruis akan mengklaim. Moralis egoistis akan berkata sebaliknya, yakni kebaikan terletak pada skala prioritas yang disandarkan kepada pilihan bebas untuk menentukan tindakan. Rand meletakkan jiwa (kehidupan) sebagai timbangannya, dan Ibn Sina menambahkan kepuasan non-material sebagai beban neracanya.

Dalam mengafirmasi moralitas egoistis, Ibn Sina berangkat dari premis bahwa “dalam setiap ketentuan ilahi pasti terdapat kebaikan. Dan tiap kebaikan pasti bernilai (instrumental).” Tapi meskipun segala ketentuan itu pasti baik, manusia tidak bisa memilih sesuatu yang justru mengkhianati kebaikan yang ada di atasnya. Berarti kebaikan relatif bertingkat. Misalnya, berdonasi adalah baik. Tetapi mendonasikan seluruh harta bendanya sampai tidak bersisa, justru akan membahayakan kebaikan yang lebih tinggi, yakni kelangsungan jiwanya melalui ‘terjaganya kesehatan dan cukupnya properti’. Jadi, bagi moralis egoistis, jiwa adalah neraca utama di mana neraca yang lain semisal kebahagiaan orang lain harus diabaikan demi menjaga kelangsungan jiwa.

Konsep moralitas egoistis Ayn Rand disempurnakan oleh kecenderungan mistisisme Ibn Sina. Jika jiwa adalah neraca utama, maka neraca tambahannya adalah kepuasan non-material. “Jiwa rasional dan jiwa hewani,” kata Ibn Sina, “mencintai segala sesuatu yang memiliki keindahan.” Keindahan bisa berupa materialitas maupun spiritualitas. Jiwa rasional yang masih menyegalakan materi akan memandang keindahan sebatas yang material: paras yang elok, suara atau nada yang teratur, rasa yang lezat, dan seterusnya. Namun jiwa rasional yang sudah menyadari bahwa keindahan material bersifat sementara dan relatif, maka akan beranjak ke Objek Cinta Paling Awal (Tuhan). Kenapa? Karena, kata Ibn Sina: “Ia berdiri lebih kuat dan harmonis, lebih indah dan teratur.” Jiwa rasional yang sadar akan keindahan Objek Cinta Paling Awal ini tak akan sudi memalingkan wajahnya ke objek lain. “Tatkala jiwa rasional memeroleh suatu keindahan yang harmonis, maka ia akan menatapnya dengan mata terbelalak.”

Baik jiwa rasional yang masih terjebak pada keindahan materialitas maupun yang beranjak ke keindahan spiritualitas bertemu dalam satu ceruk, yakni ceruk kepuasan paling primordial dan individual. Moralitas egoistis memandang kepuasan pribadi sebagai timbangan utama. Pun jika akhirnya ia harus membagi kepuasan pribadinya itu kepada orang lain, ia harus sudah selesai dengan dirinya sendiri. Tonggak utama moralitas adalah pilihan bebas. Dan pilihan bebas bagi moralitas egoistis adalah kepuasan dirinya sendiri dalam memandang yang indah, yang elok, dan yang harmonis. Segala sesuatu yang dapat mengganggu keelokan dan keharmonisan adalah musuh utama moralitas jenis ini. Melalui moralitas ini kita didorong untuk mencintai diri sendiri dengan cara mencari kepuasan terhadap yang indah, bukan hanya sebatas keindahan materialitas namun juga keindahan spiritualitas. Baik Ayn Rand maupun Ibn Sina sesungguhnya telah memproklamirkan kapitalisme primordial: “Dirimu adalah apa yang kamu perbuat, dan kamu bertanggungjawab atas apa yang kamu perbuat.” Keduanya memimpikan keadaan yang barangkali utopis namun perlu: suatu masyarakat yang berisi individu yang telah selesai dengan dirinya sendiri karena mereka mencintai diri mereka sendiri.

M.S. Arifin
Lahir di Demak 25 Desember 1991. Seorang penyair, esais, penerjemah, pegiat literasi, dan penulis filsafat. Bukunya yang sudah terbit: Sembilan Mimpi Sebelum Masehi (antologi puisi, Basabasi, 2019), Mutu Manikam Filsafat Iluminasi (terjemahan karya Suhrawardi, Circa, 2019), dan Tentang Cinta (terjemahan karya Ibn Sina, Circa, 2021). Bisa dihubungi lewat: ms.arifin12@gmail.com.
RELATED ARTICLES

Mempertimbangkan Kembali Kemungkinan Monisme

            Dewasa ini monisme terkesan buruk karena dianggap meniadakan fakta lain selain satu fakta tertentu yang dianggap ada. Dalam filsafat akal budi...

Biosekuriti dan Politik

Apa yang mencolok dari reaksi terhadap kebijakan aparatus kedaruratan (the apparatuses of exception) yang telah diberlakukan di negara kita (dan tidak hanya...

Agamben: Requiem untuk Mahasiswa

Seperti yang sudah kita perkirakan, mereka memutuskan kuliah universitas akan digelar online mulai tahun depan. Apa yang jelas bagi pengamat, yakni apa...

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Mempertimbangkan Kembali Kemungkinan Monisme

            Dewasa ini monisme terkesan buruk karena dianggap meniadakan fakta lain selain satu fakta tertentu yang dianggap ada. Dalam filsafat akal budi...

Biosekuriti dan Politik

Apa yang mencolok dari reaksi terhadap kebijakan aparatus kedaruratan (the apparatuses of exception) yang telah diberlakukan di negara kita (dan tidak hanya...

Agamben: Requiem untuk Mahasiswa

Seperti yang sudah kita perkirakan, mereka memutuskan kuliah universitas akan digelar online mulai tahun depan. Apa yang jelas bagi pengamat, yakni apa...

Giorgio Agamben: Invensi Epidemi

Dihadapkan pada tindakan darurat yang buru-buru, irasional, dan sama sekali tidak berdasar terhadap dugaan epidemi virus corona, kita harus mulai dari deklarasi...

Paperbook

Recent Comments