More

    Memahami Kembali Manusia di Era Teknologi

    Kita akan menghadapi masa di mana kita harus mendefinisikan ulang pemahaman kita tentang manusia secara radikal

    Fajar N.
    Fajar N.
    Pembaca Darwin dan peneliti bioetika

    Artikel Terbaru

    Realisme dan Anti-realisme dalam Pemikiran Martin Heidegger

    Pemikiran Martin Heidegger masih terasa pengaruhnya hingga hari ini. Ketika perkembangan teknologi dan sains semakin maju, manusia terasing di dalam sistem...

    Where Is God in a Coronavirus World?

    This year's coronavirus pandemic has truly shaken the world's citizens both physically and mentally. People are required to self-isolate to prevent...

    Waktu: Jejaring Peristiwa dan Relasinya (Bagian 2)

    Penjelasan bagian pertama sedikit banyak telah “meruntuhkan” konsepsi waktu awam yang biasa kita kenal. Mulai dari keumuman, ketakgayutan, serta kesetangkupan (simetris)...

    Pengakuan Dunia-Kehidupan yang Sakramental: Pembunuhan Tuhan dan Ekonekrofilia

    Edmund Husserl, dalam fenomenologinya, memperkenalkan istilah “dunia-kehidupan”. Ia mempopulerkannya dengan istilah lebenswelt atau lifeworld (leben: hidup dan welt: dunia). Istilah ini...

    Beberapa Catatan Tak Tuntas Tentang Kegilaan

    Konsep kegilaan, atau penyakit mental, mengacu pada deviasi dari pemikiran, penalaran, perasaan, attitude, dan perbuatan normal, yang oleh subjeknya, atau orang...

    Keberadaan teknologi membawa manusia pada koin dari harapan yang diandaikan memiliki dua sisi. Satu sisi dapat berperan sebagai upaya membebaskan manusia dari belenggu ketidakberdayaan (seperti penyakit atau disabilitas), sementara di sisi lain teknologi juga membawa manusia pada kewaspadaan terhadapnya (seperti terkikisnya kedirian manusia, emosional, dan spontanitas). Kenyataan tersebut dapat dilihat serta dirasakan melalui bentuk implantasi teknologi dalam diri manusia seperti pil, alat prostetik, maupun alat monitoring. Bahkan beberapa teknologi melibatkan pengetahuan atas diri manusia seperti rekayasa genetik yang justru dapat mempertanyakan kembali apa dan siapa itu manusia. Kini disadari keberadaan salah satunya, nanobioteknologi—yang merupakan perkembangan dari nanoteknologi, justru semakin menghapus batas antara teknologi dan konsep atas manusia, atau antara sesuatu yang teknikal dan sesuatu yang hidup.

    Secara sederhana nanobioteknologi merupakan perpaduan antara bio dan nanoteknologi, sebuah disiplin yang ditujukan untuk menjembatani hubungan antara benda tak hidup dengan makhluk hidup dalam skala molekular. Kerangka dasar dari nanobioteknologi adalah bahwa bentuk kehidupan dimulai dari hal berskala nano, seperti protein atau pun DNA. Keberadaan nanobioteknologi dapat kita temukan pada ranah kesehatan, dan berpotensi dapat meningkatkan pemberian tindakan medis, seperti alat-alat diagnostik berskala nano maupun pembuatan alat pengirim obat berskala nano (robot nano) yang dapat mempermudah dan menjamin ketepatan suatu tindakan medis. Semangat bionanoteknologi dalam ranah kesehatan bukan lagi sekadar menyembuhkan dan memperbaiki (daya restoratif), namun juga membawa semangat meningkatkan (enhancement).

    Contoh-contoh sederhana dapat ditemukan pada bentuk nanoelektronik neuro-implan, semisal mata artifisial, yang ditujukan untuk mengembalikan (compensate) fungsi organ sensorik dan sistem syaraf. Namun di saat yang sama hal itu juga memiliki daya untuk meningkatkan kemampuan organ dan sistem syaraf tersebut bahkan meluaskan daya (perception) manusia (seperti meluaskan jarak pandang, supersensor seperti radar melalui infrared atau ultraviolet, serta kemampuan untuk merekam). Proses dan kemungkinan dari menjembatani antara organ artifisial dengan sistem syaraf itu merupakan suatu hal yang di luar dari ekspektasi manusia sebelumnya; bionanoteknologi (dan bioteknologi secara luas) hadir untuk menjawabnya. Tujuan akhir dari proses meningkatkan daya manusia salah satunya jelas adalah untuk membebaskan manusia dari belenggu kematian atau setidak-tidaknya adalah menunda kematian (seperti melalui usia, aus organ, dan penyakit), yang merupakan napas dari wacana transhumanisme.

    Sejumlah Pertimbangan Etis. . .

    Mengenai kewaspadaan manusia atas perkembangan dari bionanoteknologi, khususnya mengenai asumsi dari kaburnya batas antara manusia dan teknologi; implikasi serta relasinya terhadap kehidupan manusia, dapat dilihat melalui pendekatan etika spekulatif. Pendekatan etika spekulatif menggunakan kerangka penalaran “jika–maka”, yakni upaya mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi serta konsekuensi atas kemungkinan tersebut. Selain itu, pendekatan etika spekulatif menggunakan alat bantu (instrumen) berupa perandaian atas skenario. Skenario tersebut dilandaskan pada kenyataan riil dan diproyeksikan (melampaui kesekarangan) atas aspek serta elemen-elemen yang dapat memberikan pengaruh terhadapnya. Bentuk skenario tersebut diperlukan guna menelaah konflik serta ancaman yang ada. Telaah atas konflik serta ancaman tersebut tidak dapat digunakan sebagai argumentasi murni atas penolakan maupun penerimaan atas suatu tawaran bionanoteknologi, melainkan hanya dapat berperan sebagai etika reflektif terhadap pengetahuan dan penerapan bionanoteknologi serta konsekuensi yang mungkin timbul darinya.

    Yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa manusia bukanlah makhluk yang terbatas pada satu dimensi (perspektif). Manusia memiliki daya reflektif yang dapat digunakan sebagai katrol, sehingga keberadaan teknologi untuk dapat diterima pun harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait feasibility dan desirability: yakni apakah ia mungkin; apakah ia perlu; apakah ia dapat diterima; dan jika bisa diterima sejauh apa. Melalui upaya reflektif, manusia akan selalu berada dalam semangat optimis-skeptis, satu sisi manusia optimis terhadap perkembangan serta penerapan suatu keilmuan dan teknologi, namun di sisi lain manusia juga skeptis terhadapnya.

    Bentuk implantasi artefak ke dalam tubuh manusia memungkinkan manusia untuk dapat melakukan aktivitas yang sebelumnya mungkin terbatas, sehingga argumen ini dapat dipakai untuk menjawab kategori “perlu” tadi, karena ditujukan untuk membebaskan manusia. Tentu dengan catatan bahwa ia dapat memberikan rasa aman (safety) bagi pengunanya (semisal terkait dampak materi atau komponen untuk jangka panjang). Kemudian untuk menjawab kategori “dapat diterima”, adanya kemungkinan implantasi artefak dapat meluaskan hak otonomi manusia, yang sebelumnya terdapat stigma bahwa manusia tidak memiliki kontrol (terbatas) atas kediriannya maupun teknologi. Adanya perluasan hak otonomi manusia memungkinkan manusia untuk menimbang apakah dirinya (sebagai individu) adalah masih cacat (defect), sehingga mengatasi bentuk kecacatan tersebut adalah hak yang dapat dikejar melalui bionanoteknologi (sebagai bentuk keadilan distributif). Penting diingat juga bahwa bagi kebanyakan orang, kehidupan bermasyarakat merupakan sebuah kompetisi bagi tiap individu (dengan mengandaikan dunia yang penuh dengan ranking serta rating dan evaluasi terus-menerus), sehingga upaya-upaya yang dianggap dapat meningkatkan kemampuan serta kualitas dirinya, mendapat posisi penting yang perlu untuk dikejar.

    Beberapa Konsekuensi. . .

    Bila semua hal itu diterima, ia akan berdampak pada banyak hal, khususnya kemungkinan beralihnya konsep serta pemahaman akan manusia itu sendiri sebagai organisme serta kehidupan bermasyarakat. Melalui implantasi artefak yang dapat berperan dan menjalankan sesuai fungsinya, manusia telah melampaui konsep “rational animals” (sebagai bagian dari entitas biologis), dan mungkin saja telah beralih menjadi “animal machines” atau “super-rational animal machines” (sebagai bagian dari perpaduan antara entitas biologis dan mesin). Contoh sederhana dari implantasi artefak adalah implant chip pada otak, yang ditujukan sebagai peningkatan daya dan memori otak manusia, dan kemungkinan untuk saling mentransfer memori dari satu manusia ke manusia lainnya. Bila hal tersebut terwujud, proses manusia menjadi “animal machines” telah benar-benar mengubah konsep kedirian manusia (self-concept) serta kematian itu sendiri, karena sangat mungkin kedirian manusia hanya dianggap sebagai barang-pakai yang bisa diproduksi kembali, sementara inti dari manusia adalah terletak pada memorinya yang dapat ditransfer dari satu tubuh ke tubuh lainnya, bahkan mungkin konsep reproduksi sudah tidak menjadi relevan bagi manusia karena telah mencapai keabadian. Pada kemungkinan lainnya, dapat berimplikasi pada kacaunya mengenai konsep identitas. Konsep identitas pada manusia merupakan sesuatu yang dianggap unik, karena melibatkan beragam faktor seperti fisik, sifat, dan memori yang hanya untuk dirinya (personal). Namun melalui upaya mentransfer memori, memungkinkan seseorang untuk mengakses memori ingatan seseorang yang lainnya (sebagai shared images). Sementara untuk implikasi yang paling ekstrem adalah potensi dari eksploitasi manusia (kontrol total) melalui daya shared images, yang sebelumnya mungkin dapat bermanfaat sebagai bentuk data kolektif serta upaya memantau kesehatan masyarakat, justru dapat beralih digunakan oleh pemerintah dan instansi lainnya demi tujuan tertentu.

    Konsekuensi lain terkait sosio-ekonomi, nanobioteknologi tentu bukan sebuah teknologi yang murah; ia hanya mungkin diakses oleh mereka yang memiliki sumber daya (aset maupun dana) yang besar. Ketidaksetaraan akses dapat berimplikasi pada terciptanya gap di masyarakat, orang-orang yang memiliki sumber daya mampu mengakses dan menikmati peningkatan kualitas hidup yang instan (seperti lebih pintar, produktif, atau kuat), sementara yang tidak memiliki sumber daya akan tetap seperti biasa dan tidak ada peningkatan apapun. Gap tersebut memiliki potensi terhadap bentuk eksploitasi terhadap mereka yang dianggap tidak setara, dan memicu pertanyaan mendasar: apakah ketidaksetaraan (akses dan sumber daya) merupakan hal yang dapat diterima secara moral?

    Tentu saja, bionanoteknologi memiliki potensi kebermanfaatan yang sangat besar bagi peningkatan kualitas hidup manusia. Namun yang menjadi masalah adalah sejauh apa hal tersebut diperkenankan oleh manusia, sehingga jelas untuk menjawab kategori “sejauh apa” diperlukan adanya batasan dalam koridor penerapan dan penggunaannya. Namun jawaban tersebut memicu pertanyaan lainnya; siapa yang berhak membuat batas tersebut? Pertanyaan tersebut tentu sangat sulit untuk dijawab karena akan melibatkan banyak argumentasi, norma, nilai, serta kekuasaan (seperti negara, institusi, komunitas ilmiah) dan diperlukan satu pemahaman yang utuh (mencapai konsensus) di antara ragam aspek tersebut. Kemudian, perlu untuk dipahami bahwa tradisi lama seperti pertimbangan etika (ethical inquiry) tidak akan membawa manusia pada penyelesaian masalah ini dengan jawaban yang proaktif, karena sudah dapat dipastikan penolakan adalah jawaban yang paling tersedia, sehingga diperlukan satu pendekatan baru yakni etika reflektif guna mengakses segala kemungkinan atas batasan yang diperlukan dalam proses pengembangan dan penerapannya. Penalaran tersebut disadari bahwa bionanoteknologi sebagai bagian dari perkembangan teknologi yang sudah ada tidak dapat dibendung, melainkan kita hanya dapat memberinya batas-batas atas pengembangan dan penerapan selanjutnya.

    Sumber Rujukan

    Grunwald, A., & Julliard, Y. (2007). Nanotechnology – Steps Towards Understanding Human Beings as Technology? NanoEthics, 1(2), 77–87. doi: 10.1007/s11569-007-0010-y.

    Ferrari, A., Coenen, C., & Grunwald, A. (2012). Visions and Ethics in Current Discourse on Human Enhancement. NanoEthics, 6(3), 215–229. doi: 10.1007/s11569-012-0155-1.

    Jotterand, F. (2008). Beyond Therapy and Enhancement: The Alteration of Human Nature. NanoEthics, 2(1), 15–23. doi: 10.1007/s11569-008-0025-z.

    gambar: nytimes.com

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here