More

    Kemungkinan Peran Fenomenologi dalam Memecahkan Teka-teki Kuantum

    Mengembalikan kesadaran pada tabel kuantum

    Moh. Gema
    Moh. Gema
    Pembaca One Piece. Tertarik pada filsafat sains dan metafisika.

    Artikel Terbaru

    Masa Depan Relasi Filsafat Ilmu-Teknologi

    Don Ihde pada tahun 2004 menyebarkan keraguan dan harapan. Dengan artikelnya yang berjudul “Telah sampaikah filsafat teknologi? Keadaan Terbaru”, Ihde mengevaluasi...

    Kemungkinan Peran Fenomenologi dalam Memecahkan Teka-teki Kuantum

    Steven French berpendapat bahwa pada jantung problem pengukuran kuantum terdapat kesalahpahaman yang fatal dalam memahami hubungan subjek-objek. Jika melihat lebih dekat pada...

    Memahami Kembali Manusia di Era Teknologi

    Keberadaan teknologi membawa manusia pada koin dari harapan yang diandaikan memiliki dua sisi. Satu sisi dapat berperan sebagai upaya membebaskan manusia...

    Tentang Spesialisasi dan Kesusah-teraksesannya Filsafat

    James Ladyman berargumen bahwa ketidakteraksesannya filsafat merupakan sesuatu yang bagus. Jika filsafat adalah sebuah kecintaan terhadap kebijaksanaan dan mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seharusnya kita (menjalani)...

    Pembalikan Tatanan Dependensi: Dari Ontologi Berorientasi Objek ke Ontologi Berorientasi Struktur

    Realisme struktural memiliki dua pilihan, yaitu dengan mengakui adanya sesuatu yang melampaui struktur—sebutlah X—di dunia, yang biar bagaimanapun kita tidak memiliki aksesibilitas untuk mengetahuinya...

    Steven French berpendapat bahwa pada jantung problem pengukuran kuantum terdapat kesalahpahaman yang fatal dalam memahami hubungan subjek-objek. Jika melihat lebih dekat pada usaha Fritz London dan Edmond Bauer dalam memahami teori kuantum maka kita dapat melihat kemungkinan keikutsertaan positif fenomenologi. French memahaminya sebagai sebuah arah baru dalam menjelaskan nasib kucingnya Schrӧdinger.

    Dari semua misteri yang diasosiasikan dengan fisika kuantum, dari belitan kuantum (quantum entanglement) hingga Asas Ketidakpastian, misteri yang mungkin paling fundamental adalah apa yang disebut ‘problem pengukuran’. Untuk memahami problem tersebut kita dapat melihatnya dalam eksperimen pikiran ‘Kucingnya Schrӧdinger’: dalam sebuah kotak terdapat seekor kucing dan sebuah sampel material radioaktif, bersamaan dengan alat perhitungan Geiger yang terkoneksi pada sebuah alat yang, jika dipicu, akan membunuh kucing tersebut (jika Anda tidak merasa nyaman dengan set-up eksperimen pikirantersebut, pikirkanlah untuk meletakan Schrӧdinger itu sendiri dalam kotak).

    Menurut teori kuantum kondisi dari eksperimen pikiran tersebut dapat digambarkan sebagai sebuah superposisi dari sampel-yang-tidak-meruntuhkan-alat-perhitungan-geiger-yang-tidak-memicu-hidupnya-sang-kucing dan sampel-yang-meruntuhkan-alat-perhitungan-geiger-yang-memicu-matinya-sang-kucing. Bagaimanapun, ketika kita membuka kotak tersebut, kita tanpa terkecuali mengamati kucing hidup atau kucing mati. Bagaimana kemudian kita memperhitungkan transisi dari superposisi pada kondisi definit apakah yang terdapat dalam kotak tersebut kucing-hidup atau kucing-mati?

    Sebuah pilihan untuk menekankan bahwa teori kuantum hanya dapat diaplikasikan pada dunia mikro dan bahwa objek makroskopik seperti alat perhitungan Geiger dan seekor kucing tidak seharusnya digambarkan sebagai sesuatu yang ada dalam kondisi superposisi kuantum. Hal tersebut memunculkan problem di mana kita harus membuat garis demarkasi antara dunia mikro dan dunia makro tapi disamping itu, teori kuantum juga sudah lama digunakan untuk menjelaskan fenomena makroskopik seperti perilaku ganjil material superfluida dan material superkonduksi. Secara alternative, maka, mungkin kita dapat memahami transisi tersebut dengan membuat sebuah distingsi antara system material dan kesadaran, seperti yang dianjurkan oleh salah seorang arsitek teori tersebut, yaitu John von Neumann.

    Bagaimana kita memahami transisi tersebut dari superposisi hingga kondisi definit kucing-hidup atau kucing-mati?

    Von Neumann sendiri tidak mengelaborasi lebih jauh peran kesadaran tapi problem tersebut gencar diperdebatkan pada awal tahun 1960 oleh fisikawan Eugene Wigner dan Henry Margenau di satu sisi, dan di sisi lain filsuf Hilary Putnam dan Abner Shimony.

    Wigner dan Margenau mempertahankan peran sentral kesadaran dalam memecahkan problem pengukuran, jika mengacu pada keseluruhan sebuah ‘buku kecil yang sangat bagus’ yang ditulis oleh Fritz London dan Edmond Bauer yang mereka ringkas ‘secara keseluruhan’ sebagai sebuah pandangan yang ditandai oleh von Neumann. Putnam dan Shimony, bagaimanapun, secara terpisah memperlakukan pandangan ini untuk meluluhkan analisis kritis, menunjukkan bahwa tidak hanya mengasumsikan dualisme tubuh-pikiran tapi juga meninggalkan sepenuhnya misteri bagaimana kesadaran dapat menjangkau kucing dalam kotak dan memproduksi hasil yang definitif dari sebuah superposisi kuantum.

    Kritik ini sangat telak maka, meski meningkatkan penjualan buku sains ‘populer’ yang mengklaim bahwa fisika kuantum mendemonstrasikan bagaimana segalanya subjektif, mayoritas filsuf fisika menjauhkan diri dari pandangan ini dan mulai mengarahkan perhatiannya pada beberapa alternatif lain, seperti yang sekarang banyak diketahui, yaitu interpretasi ‘Dunia Banyak’ (‘Many Worlds’ interpretation) (yang menurut pandangan ini dalam salah satu dunia kucing tersebut hidup dan dalam dunia lainnya mati).

    Seperti itulah kondisi dalam (filsafat) fisika sekarang, kecuali fakta bahwa ‘buku kecil’ London dan Bauer tidak mengasumsikan sebuah bentuk dualisme tubuh-pikiran atau menganjurkan bahwa biar bagaimanapun kesadaran menyebabkan superposisi kuantum kolaps pada kondisi definit. Kedua sisi dari perdebatan tersebut salah paham apa yang coba dikatakan oleh London dan Bauer tentang problem pengukuran. Dan jika kita menilik pemikiran Fritz London, mungkin yang paling terkenal adalah pemikirannya tentang superkonduktivitas dan superfluiditas yangdisebutkan di atas, dia memulainya dari karier akademiknya sebagai seorang pembelajar fenomenologi.

    Fenomenologi pertama kali diformulasikan oleh Edmund Husserl dan kemudian dikembangkan olehnya dan para pengikutnya pada dekade awal abad dua puluh. Sebuah karakterisasi singkat dan sederhana dipahami sebagai ‘sebuah penyelidikan pada struktur esensial kesadaran’ atau ‘memberi tanda kurung’ dunia ‘objektif’ sekitar kita sehingga kita dapat menyingkap dan membebaskan diri kita dari asumsi metafisik yang menyokong sikap natural kita tentang dunia. Hal itu tidak berarti skeptis tentang eksistensi dunia, atau menjauhi eksistensi dunia; tapi, Husserl menegaskan, kita harus mengorientasikan ulang sikap kita tentangnya. Untuk melakukannya, struktur tetap dari pengalaman menampakkan dirinya dan secara partikular kita akan sampai pada pemahaman yang hanya dapat kita akses melalui korelasi antara kesadaran dan dunia, atau subjek dan objek, maka dari itu pikiran dan dunia harus dipandang sebagai ‘batas konstitutif secara bersamaan’. Lebih jauhnya, korelasi inilah yang secara konseptual menjadi sentral, kita harus memahaminya sebagai hubungan yang terkonstitusi dengan hubungan kesadaran di satu ‘kutub’ dan dunia di kutub lainnya.

    Kedua sisi dari debat tersebut salah paham mengenai apa yang London dan Bauer ingin katakan tentang problem pengukuran.

    Fenomenologi telah dikembangkan sedemikian rupa sehingga banyak yang harus digali. Tapi meskipun kita hanya melihatnya melalui paparan singkat di atas, ‘buku kecilnya’ London dan Bauer muncul dalam cara yang berbeda dari situasi perdebatan di atas. Pertama, mekanika kuantum tidak hanya dapat kita anggap sebagai sebuah teori ilmiah tapi sebagai sebuah pengetahuan yang baru sama sekali, mengimplikasikan bagaimana kita memahami hubungan antara objek dan pengamat dari yang tersirat dalam ‘realisme naif’. Sifat dasar dari hubungan tersebut dapat kita lihat ketika kita sampai pada pengukuran, di mana ‘peran esensial yang dimainkan oleh kesadaran dari pengamat’ dalam transisi dari superposisi yang digambarkan oleh teori kuantum hingga hasil definit, seperti ‘kucing hidup’. Dan secara eksplisit peran ini tidak mengikutsertakan interaksi misterius antara pengamat dan sistemnya sendiri tapi mengikutsertakan kesadaran yang memisahkannya dari korelasi sebagai satu kesatuan dari kutub yang sama.  Pemisahan ini dipengaruhi oleh sebuah aksi yang dapat kita tunjuk pada ‘introspeksi’ yang mana sebuah kondisi mental yang definit, katakanlah, ‘Saya melihat seekor kucing hidup’ menghasilkan objek secara korelatif, sebagaimana kutub lainnya, ‘dibuat objektif’ oleh adanya kondisi definit yang diatributkan padanya.

    Anda mungkin akan langsung khawatir bahwa pembicaraan dari ‘membuat objektif’ ini akan mereintrodusir elemen subjektivitas, tapi dalam hal ini London dan Bauer menolak objektivitas ‘klasik’ sebagai sesuatu yang tidak berguna dan harus kita ganti dengan sebuah konsepsi fenomenologis baru yang menganggap ‘dunia objektif’ harus dipahami sebagai ‘dunia objekif-yang-memiliki-makna-buat-kita’. Meskipun demikian, bagaimana kita dapat mempertahankan kondisi ketika kita membuka kotak yang disebutkan di atas dan melihat seekor kucing hidup (dan mungkin sangat marah), mengamati kita membuka kotak, dan juga mengamatinya? Dalam hal ini mekanika kuantum dapat membantu kita: jika aksi kita menetapkan persetujuan antara pengamat itu sendiri yang diperlakukan sebagai sebuah interaksi maka konsistensi-diri internal dari formalisme kuantum akan mempertahankan kedua hasil yang sama secara bersamaan.

    Sejauh ini terdapat contoh yang dapat direintrodusir dari sejarah ‘yang hilang’. Bagaimana kemudian pendekatan fenomenologis dapat tegap di antara interpretasi fisika kuantum ganda? Ambillah contoh pandangan ‘Dunia Banyak’ yang telah disebutkan di atas, menurut pandangan ini, kita ingat, ada di satu dunia yang mana kita membuka kotak kucing yang tersebut di atas dan yang kita amati adalah seekor kucing yang hidup dan di sisi lainnya, kita, atau rekan kita, melihat seekor kucing mati. Banyak yang menolak dengan keras pada inflasi dramatis dari dunia alternatif yang diikutsertakan dalam eksperimen pikiran ini tapi mula-mula Everett berpikir tentang elemen-elemen yang berbeda ini dalam pengertian relativisasi hasilnya: relatif pada satu cabang dari superposisi kita mengamati seekor ‘kucing hidup’ dan relatif pada cabang lainnya kita melihat ‘kucing mati’.

    Dalam gambaran ini, dunia adalah apa yang hanyalah sebagai korelasi kesadaran yang dialami, tapi kedua dunia tersebut sebagaimana yang kita alami dan kesadaran tersebut terkonstitusi oleh hubungannya yang inter-dependen.

    Dari waktu ke waktu cabang ini berubah secara gradual menjadi ‘dunia’ yang berbeda tapi inti dari ide ini menemukan ekspresinya baru-baru ini dalam interpretasi ‘relasional’ oleh fisikawan Carlo Rovelli terhadap gravitasi kuantum. Pendekatan ini menjadikan kondisi dari sebuah sistem tertentu relasional secara esensial dari dirinya; seperti kecepatan yang bukan merupakan properti yang dimiliki oleh sebuah sistem itu sendiri tapi relatif pada beberapa sistem lainnya, jadi kondisi ‘kucing hidup/mati’ bukan satu kondisi di mana kucing tersebut di dalamnya, dalam dan pada dirinya, tapi hanya dalam relasinya pada kondisi sistem lainnya yang diikutsertakan dalam interaksi pengukuran—dalam kasus ini pengamat. Interpretasi Rovelli jelas bertautan dengan ‘korelasional’ aspek dari sebuah pendirian fenomenologis, tapi apa yang kemudian ditawarkan adalah peran kesadaran sebagai sebuah ‘kutub’ fundamental dari relasinya Rovelli. ‘Kutub’ lainnya adalah sistem yang teramati dan begitulah dalam gambaran ini, dunia adalah apa yang hanya seperti korelat dari mengalami kesadaran, tapi baik dunia sebagai yang dialami dan sebagai kesadaran itu dikonstitusi oleh hubungan inter-dependennya.

    Tentu saja banyak yang akan merasa tidak nyaman dengan pandangan ini tapi apapun pendapat anda, interpretasi fenomenologis atas fisika kuantum patut untuk diselamatkan dari sejarah dan dapat dipertimbangkan manfaatnya. Paling tidak, fenomenologi menyediakan sebuah kesempatan baru untuk mengeksplorasi ketika sampai pada hubungan kita dengan beberapa fitur yang sangat mendalam (besar) dari alam semesta.

    *Artikel ini dialihbahasakan atas seizin penulis, Steven French, dan juga publisher, dari esainya yang berjudul “Phenomenology Solves Quantum Puzzles” di Institute of Art and Ideas.

    **Gambar: sci-news.com

    Related articles

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here