Thursday, June 23, 2022
Home Serial Filsafat Masalah Kejahatan bagi Ateis Bagian 1: Masalah Kejahatan Sistemik bagi Teis

Masalah Kejahatan bagi Ateis Bagian 1: Masalah Kejahatan Sistemik bagi Teis

Para akademisi kontemporer berbagi sentimen dengan Darwin terkait kekejaman alam.

  1. Pengantar

Ateis seringkali mengklaim bahwa masalah kejahatan merupakan argumen yang paling kuat melawan teisme. Bahkan, banyak dari mereka yang menolak teisme dan menganut ateisme persis karena teisme tidak dapat berhasil menjawab masalah ini. Namun, saya berpendapat bahwa masalah kejahatan bukan hanya masalah bagi kaum teis. Di dalam tulisan ini, saya mencoba menunjukkan bahwa ada beberapa versi masalah kejahatan—‘masalah eksistensial dari kejahatan sistemik’, demikian saya menyebutnya—yang berlaku baik untuk teisme maupun ateisme. Selain itu, saya berpendapat bahwa itu secara khusus ditujukan dengan sangat kuat terhadap ateisme karena kekurangan  yang serius yang ia miliki dibandingkan dengan teisme dalam menanggapi versi masalah ini.

Esai ini memiliki struktur sebagai berikut. Di Bagian 2, saya memperkenalkan ‘masalah kejahatan sistemik’. Masalah ini pada awalnya menimbulkan tantangan bagi teisme dengan menunjukkan bahwa tidak hanya peristiwa spesifik atau jenis peristiwa tertentu di dunia adalah jahat, tetapi juga bahwa seluruh sistem biologis yang menjadi dasar dari keberadaan manusia adalah jahat. Saya menjelaskan mengapa masalah ini lebih kuat daripada masalah standar kejahatan. Di Bagian 3, saya menjelaskan bahwa baik teis maupun ateis biasanya menganut ‘optimisme eksistensial’, yang menegaskan bahwa dunia pada umumnya baik dan bahwa kita harus bahagia dan bersyukur untuk hidup di dalamnya. Dalam Bagian 4, saya berpendapat bahwa, dengan menyertakan optimisme eksistensial ke dalam masalah kejahatan sistemik, kita dapat mengembangkan ‘masalah eksistensial kejahatan sistemik’, yang berlaku untuk teisme dan ateisme. Untuk menunjukkan kekuatan dari masalah itu, saya membandingkannya dengan ‘paradoks apologi’ dari Janna Thompson. Dalam Bagian 5, saya berpendapat bahwa masalah eksistensial kejahatan sistemik dapat dianggap sebagai versi masalah kejahatan terutama bagi ateis karena secara signifikan lebih kuat melawan ateisme daripada melawan teisme. Bagian 6 akan menyimpulkan keseluruhan diskusi.

  1. Masalah Kejahatan Sistemik bagi Teis

Alam di sekitar kita diatur oleh seleksi alam, yang melibatkan kompetisi untuk bertahan hidup. Selama kurang lebih empat miliar tahun, tak terhitung banyaknya organisme yang berkompetisi dan berjuang untuk bertahan hidup. Di dalam sistem yang kejam dan buta ini, yang lebih lemah tersingkirkan, dan bahkan yang bertahan pada akhirnya akan mati, seringkali secara menyakitkan dan menyedihkan. Fakta ini menimbulkan tantangan yang signifikan bagi teisme karena kejahatan dari sistem biologis tampaknya tidak sesuai dengan keberadaan Tuhan yang mahakuasa dan sempurna secara moral.[1] Seseorang mungkin mengklaim bahwa alam tidak bisa bersikap baik atau jahat karena sifat-sifat ini hanya berlaku bagi agen moral. Saya dapat mengesampingkan hal ini dengan mudah karena apa yang saya katakan dalam esai ini dapat dirumuskan tanpa menggunakan istilah ‘jahat’. Misalnya, kita dapat menggambarkan alam sebagai sistem yang melibatkan rasa sakit dan penderitaan yang intens dan tidak diinginkan daripada sistem yang jahat. Di sini, saya menggunakan istilah ‘baik’ dan ‘jahat’ hanya demi kemudahan.

Klaim bahwa rasa sakit dan penderitaan di alam menyebabkan tantangan bagi teisme bukanlah hal baru. Bahkan, Charles Darwin sendiri mengungkapkan kebingungannya tentang kekejaman alam ketika ia memperkenalkan teori evolusi. Darwin mempertimbangkan masalah ini secara eksplisit mengenai Ichneumonidae, keluarga dari tawon parasit. Tawon ini melumpuhkan belalang dan ulat tanpa membunuh mereka. Mereka membawa mangsa ke dalam sarangnya dan menyimpan telur ke dalam tubuh mangsa mereka sedemikian rupa sehingga tukik dari tawon itu dapat memakan tubuh mangsa yang masih hidup. Darwin merasa sulit untuk mendamaikan kekejaman macam itu, yang hadir di alam, dengan pandangan dunia teistik. Dalam suratnya kepada Asa Gray tertanggal 22 Mei 1860 Darwin menulis:

“Sehubungan dengan pandangan teologis dari pertanyaan yang ada saat ini; ini selalu menyakitkan bagi saya.— saya bingung.— saya tidak memiliki niat untuk menulis secara ateistik. Tetapi saya harus mengakui kalau saya tidak dapat melihat, sejelas yang orang lain lakukan, & seperti yang saya ingin lakukan, bukti desain & kebaikan di sekitar kita. Sepertinya ada terlalu banyak kesengsaraan di dunia ini. Saya tidak dapat meyakinkan diri saya sendiri bahwa Tuhan yang Maha Pemurah dan Maha Kuasa akan dengan sengaja menciptakan Ichneumonidae dengan maksud untuk membiarkan mereka makan dari dalam tubuh ulat yang hidup, atau bahwa kucing harus bermain-main dengan tikus.”[2]

Seseorang mungkin mengklaim bahwa belalang dan ulat tidak menderita atau setidaknya penderitaan mereka minimal karena sistem kognitif dan sensorik mereka tidak cukup memungkinkan mereka untuk merasakannya. Bahkan jika itu benar, ada banyak contoh kekejaman di alam yang melibatkan hewan yang berkesadaran. Misalnya, seperti yang Darwin sebutkan dalam kutipan di atas, ada dan tidak terhitung banyaknya tikus yang terluka parah dan mati secara perlahan dan menyakitkan saat kucing bermain-main dengan mereka.

Dalam surat sebelumnya kepada J. D. Hooker tertanggal 13 Juli 1856, Darwin menulis, ”Betapa hebatnya buku yang mungkin ditulis oleh pendeta Iblis tentang karya alam yang kikuk, boros, blunder & mengerikan!”[3] Mungkin tidak berlebihan untuk membandingkan alam dengan kandang kecil di mana banyak hewan ditempatkan bersama sehingga mereka mati-matian berkelahi dan saling membunuh untuk sumber daya yang terbatas sampai segelintir yang bertahan hidup. Faktanya, teori evolusi Darwin diilhami oleh buku Thomas Malthus, An Essay on the Principle of Population (1798), di mana Malthus berpendapat bahwa populasi manusia akan berhenti tumbuh secara eksponensial setelah mencapai jumlah tertentu karena kecenderungan dari populasi untuk terus mereproduksi semakin banyak keturunan daripada yang mungkin dapat bertahan hidup dengan kondisi keterbatasan dari sumber daya akan menyebabkan perang, kelaparan dan penyakit, yang akan mengurangi ukuran populasi secara efektif. Darwin, kemudian, menerapkan wawasan Malthus ke ranah biologi yang lebih luas.

Para akademisi kontemporer berbagi sentimen dengan Darwin terkait kekejaman alam. Filsuf Holmes Rolston III, misalnya, menulis bahwa, “Sekalipun alam yang amoral tidak mengenal dosa, ada cukup banyak daftar kejahatan yang mungkin perlu ditebus oleh alam: predasi, parasitisme, keegoisan, keacakan, kebutaan, bencana, ketidakpedulian, pemborosan, pergulatan, penderitaan, kematian” (1994: 212). Demikian pula, dalam sebuah wawancara dengan Frank Miele, Richard Dawkins, salah satu pendukung teori evolusi kontemporer yang paling terkenal, mengatakan:

“[S]eleksi alam ada di luar sana dan ini adalah proses yang sangat tidak menyenangkan. Gigi dan cakar dari alam berwarna merah darah. Tapi saya tidak ingin hidup di dunia seperti itu. Saya ingin mengubah dunia tempat saya tinggal sedemikian rupa sehingga seleksi alam tidak lagi berlaku.” (Miele 1995)

Klaim dari Dawkins bahwa ia tidak ingin hidup di dunia yang diatur oleh seleksi alam adalah mencerahkan, karena itu menyadarkan kita dengan jelas bahwa ternyata alam sedemikian kejamnya. Bayangkan suatu masyarakat yang selalu melibatkan persaingan ekstrim antar anggotanya agar mereka dimampukan untuk bertahan hidup. Orang-orang dalam masyarakat ini terus-menerus berjuang untuk memperoleh sumber daya yang terbatas, menyerang dan membunuh satu sama lain untuk mencuri makanan dan barang-barang lainnya. Mereka yang bertahan hidup adalah orang-orang yang egois dan kuat secara fisik yang menaruh perhatian terutama terhadap kelangsungan hidup dari diri mereka sendiri. Mereka yang kurang beruntung, seperti orang-orang tua, orang-orang miskin dan orang-orang cacat, tidak memiliki harapan untuk bertahan hidup. Alam nampak sebanding dengan masyarakat semacam ini, di mana hanya sedikit dari mereka yang ingin hidup di dalamnya. Seseorang mungkin berpikir bahwa deskripsi macam ini terhadap alam cenderung berlebihan karena bahkan dalam kasus terburuk sekalipun, manusia tidak pernah hidup dalam permainan kejam untuk bertahan hidup dari makhluk buas macam itu. Bahkan jika klaim itu berlebihan adanya, masih perlu diakui kalau miliaran hewan berkesadaran lainnya telah hidup dan akan hidup dalam kondisi macam itu dan bahwa keberadaan manusia kita bergantung padanya. Selain itu, dari sudut pandang sejarah yang lebih besar, manusia adalah produk dari proses evolusi yang panjang, yang telah melibatkan serangkaian panjang persaingan yang penuh dengan kekerasan, kejam, dan tidak adil di antara nenek moyang kita.

Filsuf kontemporer, seperti Quentin Smith (1991) dan Paul Draper (1989, 2012), juga telah mengembangkan dan membela penggunaan seleksi alam sebagai argumen melawan teisme, dan filsuf teistik seperti Trent Dougherty (2014), Michael J. Murray (2008) dan Christopher Southgate (2008) mencoba menanggapinya. Tetapi saya ingin menekankan poin penting yang sering kali diabaikan oleh literatur-literatur yang ada. Yaitu bahwa, kekejaman alam memunculkan suatu bentuk masalah kejahatan yang secara fundamental berbeda dengan bentuk masalah lainnya. Masalah kejahatan secara umum berfokus pada peristiwa tertentu yang dianggap jahat (misalnya, Holocaust, Genosida Rwanda, tsunami Boxing Day di Asia Tenggara, dll.) atau jenis peristiwa tertentu (misalnya, perang, pembunuhan, pemerkosaan, gempa bumi, banjir, dll). Tetapi masalah yang dipertanyakan di dalam tulisan ini tidak hanya menunjukkan bahwa peristiwa tertentu atau jenis peristiwa tertentu adalah jahat, tetapi juga bahwa seluruh sistem biologis yang menjadi dasar dari alam pada dasarnya adalah jahat. Oleh karena itu, saya menyebutnya ‘masalah kejahatan sistemik’. Masalah kejahatan sistemik lebih kuat daripada masalah kejahatan standar karena, sekali lagi, ia berfokus pada sesuatu yang lebih mendasar daripada peristiwa atau jenis peristiwa tertentu yang dianggap jahat. Bahkan jika teodisi berhasil meruntuhkan masalah standar kejahatan dengan menjelaskan kejahatan dari peristiwa tertentu atau jenis peristiwa tertentu, kejahatan sistemik yang mendasarinya tetap ada.


*Artikel ini merupakan terjemahan dari tulisan yang berjudul “The Problem of Evil for Atheists” yang ditulis oleh Yujin Nagasawa di dalam buku kumpulan tulisan “The Problem of Evil: Eight Views in Dialogue” (2018).

[1]Di dalam esai ini, saya menggunakan istilah ‘kesesuaian’ dan ‘ketidaksesuaian’ dalam arti yang luas. Masalah kejahatan dapat dirumuskan dalam bentuk konsistensi logis antara keberadaan Tuhan dan keberadaan kejahatan (masalah logis kejahatan), atau dalam hal nilai evidensial dari kejahatan terhadap keberadaan Tuhan (masalah evidensial kejahatan). Ketika saya berbicara tentang kesesuaian dan ketidaksesuaian antara Tuhan dan kejahatan dalam esai ini, apa yang ada di dalam pikiran saya keduanya, masalah logis dan evidensial. Pembedaan antara kedua masalah itu tidak penting di sini karena apa yang saya katakan berlaku sama bagi keduanya.

[2]Teks lengkap lebih dari 7500 surat Charles Darwin, termasuk yang dikutip dalam esai ini, tersedia di situs web Darwin Correspondence Project (http://www.darwinproject.ac.uk).

[3]Lihat Draper (2012) untuk diskusi yang mendetail soal pandangan dari Darwin terhadap rasa sakit dan penderitaan di alam.


Referensi

Dougherty, Trent. 2014. The Problem of Animal Pain: A Theodicy For All Creatures Great and Small. Houndmills, Basingstoke: Palgrave Macmillan.

Draper, Paul. 1989. “Pain and Pleasure: An Evidential Problem for Theists,” Noûs 23: 331-50. Draper, Paul. 2012. “Darwin’s Argument from Evil,” in Yujin Nagasawa (ed.), Scientific Approaches to the Philosophy of Religion. Houndmills, Basingstoke: Palgrave Macmillan, 49-70.

Miele, Frank. 1995. “Darwin’s Dangerous Disciple: An Interview with Richard Dawkins,” Scepsis, https://scepsis.net/eng/articles/id_3.php/.

Murray, Michael J. 2008. Nature Red in Tooth and Claw: Theism and the Problem of Animal Suffering. Oxford: Oxford University Press.

Rolston III, Holmes. 1994. “Does Nature Need to be Redeemed?” Zygon 29: 205-29.

Southgate, Christopher. 2008. The Groaning of Creation: God, Evolution and the Problem of Evil. Louisville: Westminster John Knox Press.

Samuel Jonathan
Mahasiswa M.A University of Lucerne di studi Philosophy, Theology, and Religion dan pegiat filsafat agama
RELATED ARTICLES

Realisme ilmiah: Sebuah Pengantar Singkat

Terdapat perdebatan yang cukup klasik dalam filsafat di antara dua kubu yang bersebrangan. Perdebatan tersebut terjadi antara kubu realisme dan idealisme. Realisme...

Masalah Kejahatan bagi Ateis Bagian 3: Kekurangan Ateisme dalam Menanggapi Masalah Eksistensial Kejahatan Sistemik

Kekurangan Ateisme Bahkan jika sekalipun saya adalah satu-satunya orang di dunia aktual yang bahagia, paradoks apologi tetap mungkin...

Waktu yang Perspektival (Bagian 3)

Ini adalah kelanjutan tulisan lebih dari dua tahun lalu mengenai rekonstruksi konsep waktu yang dibahas oleh Carlo Rovelli dalam bukunya “The Order...

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Realisme ilmiah: Sebuah Pengantar Singkat

Terdapat perdebatan yang cukup klasik dalam filsafat di antara dua kubu yang bersebrangan. Perdebatan tersebut terjadi antara kubu realisme dan idealisme. Realisme...

Masalah Kejahatan bagi Ateis Bagian 3: Kekurangan Ateisme dalam Menanggapi Masalah Eksistensial Kejahatan Sistemik

Kekurangan Ateisme Bahkan jika sekalipun saya adalah satu-satunya orang di dunia aktual yang bahagia, paradoks apologi tetap mungkin...

Waktu yang Perspektival (Bagian 3)

Ini adalah kelanjutan tulisan lebih dari dua tahun lalu mengenai rekonstruksi konsep waktu yang dibahas oleh Carlo Rovelli dalam bukunya “The Order...

Masalah Kejahatan bagi Ateis Bagian 2: Kontradiksi antara Optimisme Eksistensial dengan Masalah Eksistensial dari Kejahatan Sistemik bagi Teis dan Ateis

Optimisme Eksistensial Mari kita kesampingkan masalah kejahatan sistemik untuk sementara dan mempertimbangkan apa yang saya sebut sebagai 'optimisme...

Paperbook

Recent Comments